Search

CHAPTER 5 - MAKNA BUNGA

CHAPTER 5 - MAKNA BUNGA

Pada hari Jum’at pagi, disaat pondok pesantren mendapatkan jatah liburnya. Banyak dari santri ataupun santriwati yang berbahagia merayakan hari libur mereka. Kebanyakan dari mereka memilih berolahraga yang merupakan satu - satunya hiburan yang bisa mereka lakukan di dalam area pondok. Beberapa ada yang memilih berjalan - jalan mengelilingi pondok sambil mengobrolkan sesuatu untuk saling mengakrabkan diri. Beberapa ada yang memilih menghabiskan waktu luang mereka menjelajahi satu demi satu kantin pondok untuk melakukan wisata kuliner pagi. Beberapa ada yang memilih berjalan - jalan keluar pondok untuk membeli kebutuhan yang tidak dapat mereka temukan di dalam area pondok.

Berjalan - jalan ke luar pondok bukanlah sesuatu tindakan yang dilarang selama mereka mendapatkan izin dari bagian pengasuhan. Biasanya penyebab mereka begitu ingin berjalan - jalan keluar area pondok hanya karena ingin melepas rasa penat yang mereka dapatkan di dalam pondok. Tidak ada alasan lain yang begitu mendesak bagi mereka. Maka dari itulah, pengajar dari bagian pengasuhan akan menyeleksi ketat para santri yang ingin meminta izin ke luar area pondok. Apabila mereka tidak memiliki alasan yang kuat, sudah pasti mereka tidak akan mendapatkan izin dari bagian pengasuhan. Apabila ada santri yang tetap nekat pergi keluar dari pondok tanpa mendapatkan izin maka sudah dipastikan hukuman berat telah menanti mereka selepas diri mereka kembali ke dalam area pondok lagi.

Tidak cuma santri, para pengajar juga dibolehkan untuk berjalan - jalan keluar dari pondok asal mereka dapat kembali sebelum waktu Jum'atan tiba. Waktu yang dimiliki oleh pengajar memang lebih sedikit ketimbang waktu yang dimiliki oleh santri. Kalau pengajar sudah harus kembali sebelum waktu Jum'atan dimulai maka para santri sudah harus kembali sebelum jam empat sore tepat. Apabila kedapatan telat sudah dipastikan hukuman botak akan mereka dapatkan. Lantas bagaimana dengan santriwati yang telat ? Sudah pasti mereka akan dipaksa mengenakan hijab bermotif aneh yang membuat mereka malu hingga jera selama dua pekan berturut - turut.

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Di sebuah caf=C3=A9 yang berada di pusat kota Jakarta, Seorang wanita berhijab tengah tertawa sambil bersenda gurau bersama sahabat lama yang sudah lama tak bertemu. Mereka saling mengobrol sambil sesekali meminum minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya.

Parasnya manis, kulitnya mulus berwarna bening mempesonakan tiap mata lelaki yang melihatnya. Gamis lebar berwarna biru yang ia padukan dengan hijab berwarna cerah menutupi sekujur tubuhnya dari ujung rambut hingga ke mata kaki. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu pendek. Tingginya sangat ideal bagi seorang wanita yang tinggal di negara Indonesia. Wanita berhijab itu bernama Haura. Pagi itu, ia meminta izin kepada rekan sesama pengajar di bagian pengasuhan untuk keluar pondok sejenak demi menemui kawan lamanya yang dulu sempat bersama - sama ketika masih menjadi santriwati.

Sebenarnya sebagai pengajar pondok ia boleh langsung pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Tapi karena ia diamanati di bagian pengasuhan, ia merasa tidak enak kepada rekan - rekannya karena seharusnya ia berada disana menemani pengajar lainnya untuk memberikan izin kepada santri dan santriwati yang memiliki alasan kuat demi memenuhi hajatnya keluar pondok. Untunglah para pengajar yang lain dapat memahaminya, maka dari itulah Haura merasa lega yang membuatnya berada di sini saat ini.

Anti apa kabar ? Denger - denger anti baru dikaruniai seorang bayi yah... Selamat yah” kata Haura tersenyum.

“Hihiihi syukron yah Ra, Iya nih baru dua bulan yang lalu ana dikaruniai seorang putra” kata kawannya itu.

“Oh iya siapa yah nama debaynya... Kok gak diajak kesini sih ?” kata Haura.

“Aduhh Haura... Kalau dibawa kesini tuh bakal repot... Apalagi dek Andi tuh aktif banget... Kalau misal nangis yang ada malah nyusahin ana nanti” kata kawannya.

“Oh yah kalau kabar anti gimana ? Udah punya debay juga kan ?” katanya lanjut.

Haura menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Ana belum dikasih, Rin”

“Ehhh maaf... Ana gak tau Ra... “ jawab Rina merasa tak enak.

“Ahahhaa gapapa kali Rin... Mungkin belum waktunya” kata Haura merasa iri pada Rina kawan lamanya.

Rina merupakan kawan lama Haura yang selalu bersama - sama disaat masih menjadi santriwati dulu. Iya, Rina berada di Angkatan yang sama dengan Haura. Tetapi karena nilai yang ia miliki biasa - biasa saja juga tanpa adanya ketrampilan yang menonjol, ia pun tidak diberi kesempatan untuk mengabdi di pondok ini. Berbeda dengan Haura yang diberikan kesempatan hingga mendapatkan jodohnya disana.

Walau demikian, mereka berdua masih kerap berhubungan walau tidak sesering sebelumnya karena masing - masing dari mereka sudah memiliki jadwal sibuknya. Haura menjadi pengajar di pondok pesantren sedangkan Rina menjadi wanita karier yang bekerja di sebuah kantor perusahaan.

“Sllrrpppp... Oh iya Rin... Kamu gapapa kan ? Denger - denger di sebuah berita kalau direktur perusahaanmu baru aja.... Iya kan ?” kata Haura agak ragu untuk memastikan kebenarannya setelah menyeruput minuman.

“Ohhh hehe iya... Baru beberapa hari yang lalu dia dibunuh di dalam ruang kerjanya Ra... (Baca : Hacker's Story) Tapi tenang aja kami semua gak kenapa - kenapa kok” kata Rina menenangkan kawannya.

“Beneran kan gapapa ? Ana khawatir tau pas baca beritanya.... Apalagi waktu itu nama perusahaannya kan mirip dengan nama perusahaan dimana anti bekerja... Dan ternyata emang beneran anti kerja disana... Tapi syukurlah anti gak kenapa - kenapa !” kata Haura khawatir.

“Heheheh iya ana gapapa kok” kata Rina terlihat senang. Haura yang melihatnya pun heran.

“Oh yah Rin... Aku mau nanya ? Kok kamu keliatan gak sedih yah walau baru kehilangan direktur perusahaanmu itu ?” tanya Haura.

“Ahahahahha untuk apa Ra... Justru mayoritas dari kami malah senang loh” kata Rina yang membuat Haura semakin heran.

“Loh kenapa ?” kata Haura penasaran.

“Pak Ade itu bukan orang yang baik - baik... Ia suka dzolim sama perbuatannya ya makanya gak heran malah banyak karyawannya yang senang ketika dirinya sudah tiada” kata Rina membuat Haura mulai paham alasan Rina tidak bersedih.

“Hmmm gitu” kata Haura kembali menyeruput minumannya.

“Waktu itu... Di pagi hari waktu kami sedang bekerja di kantor... Kami dikejutkan oleh teriakan seseorang... Kami lekas berbondong - bondong menuju asal suara tersebut yang rupanya berasal dari depan ruang kerja pak Ade....” Kata Rina.

Haura diam memperhatikan kisah yang sedang diceritakan oleh Rina.

“Pak Ade... Sudah tersungkur di lantai dalam posisi tengkurap... Wajahnya pucat... Dari mulutnya keluar busa putih yang banyak... Matanya pun membiru dan disamping mayatnya terdapat setangkai Bunga yang menjelaskan alasan kematiannya” kata Rina.

“Gllekkkkk.... Maksudnya ? Kok ada bunga ?” kata Haura semakin tertarik.

“Iya... Setelah diselidiki oleh polisi, Polisi menduga kalau pembunuh dari direktur perusahaan kami itu ialah seorang lelaki yang memiliki nama samaran Pembunuh Bunga... “ kata Rina.

“Pembunuh Bunga ?” kata Haura terkejut.

“Iya... Tiap kali dia membunuh korbannya... Ia selalu meninggalkan jejak pembunuhan berupa setangkai bunga yang merupakan alasan dari dia melakukannya.” Kata Rina.

“Alasan ? Maksudnya gimana Rin ?” kata Haura semakin tertarik.

“Bunga yang ditemukan disamping mayat Pak Ade itu merupakan Bunga Coriander.... Nih yang ini fotonya” kata Rina menunjukan foto bunga yang ia maksud.

“Ohh iya terus ?” kata Haura.

“Artinya hawa nafsu... Pak Ade dibunuh karena menyalahgunakan hawa nafsunya” kata Rina menjelaskan.

“Maksudnya ? memang itu yang dikatakan polisi ?” tanya Haura masih belum paham.

“Bukan sih... Itu berdasarkan pengamatan ana sendiri... Tapi ana yakin banget karena itulah alasan Pak Ade sampai dibunuh oleh Pembunuh Bunga” kata Rina.

“Pengamatan anti ? Kok bisa ?” tanya Haura.

“Iya ana kan tau makna dari semua jenis - jenis bunga” kata Rina.

“Tau ? Maksudnya anti paham makna dari setiap bunga gitu ?” tanya Haura antusias.

“Iya... Ana pernah diajarin dari rekan kerja ana soalnya... Memangnya kenapa ?” tanya balik Rina.

“Wah kebetulan... Beberapa hari yang lalu ada yang sempat memberikan bunga ini loh ke ana... (Baca : ACDP Chapter 2 : Ambisi) Anti paham gak maknanya ?” tanya Haura sambil membuka tasnya untuk menunjukan bunga yang telah ia bawa kemana - mana.

“Ini Rin...” kata Haura menunjukan bunganya.

“Ohh ini namanya Bunga Petunia... Kalau gak salah maknanya tuh bercabang” kata Rina.

“Bercabang ? Maksudnya ?” tanya Haura masih belum paham.

“Maksudnya bisa positif tapi bisa juga negatif... Tergantung dari situasi hubungan anti dengan seseorang yang memberikan bunga ini” kata Rina menjelaskan.

“Ohhh bisa gitu ? Terus artinya apa ?” tanyanya.

“Secara negatif bisa berarti orang itu dendam atau marah ke anti” kata Rina.

“Dendam ? Kok gitu ? Terus secara positifnya ?” tanya Haura merasa tidak enak.

“Secara positifnya berarti Kehadiran anti telah membuat orang itu nyaman” kata Rina yang membuat Haura tersenyum senang.

“Beneran itu artinya ?” tanya Haura tak dapat menyembunyikan senyumnya.

“Iya... Memang siapa orangnya Ra ?” tanya Rina.

“Hehehe ada deh” kata Haura yang membuat Rina sebal

“Ihhh nyebelin deh udah dikasih tau malah gitu” kata Rina memanyunkan bibirnya.

“Ahahahaha biarin... Tapi terima kasih yah udah ngejelasin” kata Haura yang membuat bibirnya tersenyum lebar.

“Iya deh sama - sama” kata Rina masih kesal.

Haura tersenyum sambil menggenggam erat setangkai bunga yang sudah mulai layu itu. Wajah dari seseorang yang memberikan bunga itu pun hadir di dalam benaknya. Hati Haura menjadi berdebar karena merasakan kebahagiaan yang tak terkira tetapi di lain sisi ia menjadi menyesal karena telah membiarkan hatinya disusupi oleh orang lain selain suaminya.

V siapa sebenarnya dirimu ? Apakah kamu ini seseorang yang datang untuk memberikan ujian atau justru kebahagiaan ?

Haura dilema terlebih saat dirinya mendengar sepatah kata yang pernah V ucapkan padanya di siang menjelang sore hari saat itu.

Aku mencintaimu... Haura !

Haura mengernyitkan dahinya merasakan dilema yang menyesakan hatinya. Haruskah ia senang dengan pengakuan yang telah V ucapkan ? Atau haruskah ia marah karena V telah menganggu kestabilan keluarganya.

“Haura ? Anti gapapa ?” tanya Rina yang mengamati raut wajah Haura.

“Ehhh gapapa kok Rin... Hehehe... Jam berapa yah sekarang ? Kayaknya ana harus cepet balik ke pondok deh” kata Haura mencari alasan.

“Ohh begitu yaudah deh... Terima kasih yah udah nyempetin waktu untuk bertemu” kata Rina senang.

“Iya sama - sama senang juga kok bisa ngobrol - ngobrol lagi bareng anti” kata Haura tersenyum.

Disaat mereka berdua hendak mengenakan helm masing - masing, Haura teringat sesuatu yang membuatnya harus meminta tolong pada Rina.

“Oh yah Rin... Anti bisa ajarin ana gak cara untuk mengetahui makna dari setiap bunga ?” kata Haura.

“Ohh bisa kok... Ana punya list-nya mulai dari foto bunga, nama bunga dan arti dari bunga itu sendiri” kata Rina.

“Oh yah ? Kebetulan dong... Boleh minta gak list-nya ?”

“Boleh... Nanti yah ana kirim lewat email” kata Rina tersenyum.

“Oke deh... Syukron yah Rin... Sampai jumpa lagi lain hari... Jaga diri yah !” kata Haura melambaikan tangan pada Rina.

“Iya !” mereka berdua pun berpisah untuk kembali ke tempat perjuangan masing - masing.

Jaga diri juga yah Ra ! Semoga diri kita tetap selalu dalam lindungan-Nya !

Batin Rina khawatir. Seketika Rina terkejut saat nada dering telponnya berbunyi.

"Siapa ini ? Hah Rizal ?" Katanya buru - buru mengangkat panggilan telpon itu.

"Assalamu'alaikum bu Rina... Maaf ibu bisa ke kantor polisi gak sekarang ? Polisi yang kemarin menangani kasus ini meminta kita berdua kemari bu untuk dimintai keterangan sebagai saksi" Kata Rizal. Rina merenung sesaat.

"Wakaikumsalam... Iya ibu akan kesana" Kata Rina sambil menghela nafasnya.

Sementara itu dalam perjalanan pulangnya ke pondok. Haura merasa gelisah karena perasaan yang campur aduk di dalam hatinya. Ia pun mempercepat laju motornya demi menemui seseorang yang telah membuatnya menjadi seperti ini.

“V... Aku ingin mengobrol denganmu !” katanya lirih.


*-*-*-*


Di sebuah kompleks asrama pasangan, Ustadzah Nisa sedang bersantai untuk menikmati waktu berharga bersama keluarga. Sambil tersenyum, ia bermain - main bersama putranya yang bernama Aldi. Sesekali matanya menatap ke arah dapur guna memperhatikan oven berisi kue yang akan ia jual ke bagian kantin pondok. Sebagai wanita yang hobi membuat kue, ia merupakan pemasok utama kue tersebut. Dalam sehari, ia bisa memasak empat sampai lima loyang sekaligus. Kecintaan Nisa dalam membuat kue membuatnya sampai meminta request ke pak kiyai Jamal untuk dibuatkan bangunan khusus sekaligus bagian baru yang rencananya akan diberi nama Nisa’s Bakery.

“Umi... Umi... Mobilnya jalan jauhhhh” kata Aldi menunjuk ke mainan mobil - mobilan yang ia dorong menggunakan tangannya.

“Ihh iyya... Sini dek... Buka mulutnya dulu biar mobilnya jalan lebih jauh.... Aaaaaaaaa” kata Nisa sambil mendekatkan sendok untuk menyuapi putranya.

“Aaauuhhmmm.... Umii... Umiii... Emang bisa lebih jauh ?” tanya Aldi menatap ibunya.

“Iya bisa dong... Bisa lebih kenceng juga” kata Nisa tersenyum.

“Oh iya ? Wusshhhhhhhh” kata Aldi sambil menggerakan mobil itu menggunakan tangannya.

Nisa pun tersenyum melihat kebahagiaan putranya. Baginya keluarga adalah yang utama. Ia telah berprinsip untuk mendahului keluarganya daripada hal apapun di kehidupannya. Rasa cintanya pada putranya Aldi juga pada suaminya Reynaldi membuat ia seringkali mengalah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Untuk pagi ini saja ia belum menyantap jatah sarapannya. Padahal ia sudah lebih dulu menyiapkan sarapan untuk suaminya yang sudah berangkat pergi menyopiri Kiyai Jamal untuk menghadiri pertemuan antar Kiyai Pondok Pesantren di suatu tempat di daerah Jakarta bagian selatan.

Maklum suaminya yang bernama Reynaldi merupakan ustadz yang mendapatan amanat di bagian Sekretariat membuat ia harus menemani pak kiyai Jamal kemanapun beliau pergi. Gampangnya mungkin tugas Ustadz Reynaldi lebih seperti ajudannya pak Kiyai Jamal.

Kembali ke rumah,

Kruwek kruwek kruwek !!!

Tak terasa perut Nisa berbunyi untuk meminta kebutuhan makanan yang harus disantapnya di pagi hari ini. Aldi yang mendengarnya pun menatap Nisa yang membuat wajah ibu dari satu anak itu memerah karena malu.

“Wuhh... Suara apa itu Mi ?” tanya Aldi dengan polosnya.

“Hehe Umi laper... Umi tinggal sebentar yah buat ngambil nasi” kata Nisa meminta izin.

“Heem...” kata Aldi mengangguk lalu kembali memainkan mobil - mobilannya.

Beruntung Aldi mengizinkan ibunya untuk mengisi perut laparnya. Nisa buru - buru menuju dapur sebelum dirinya dipanggil lagi oleh putranya untuk kembali menemaninya bermain. Ia pun membuka tudung saji di meja makanannya. Matanya menatap sekilas mengamati beberapa masakan yang sudah ia masak.

“Tempe goreng ? Sayur bening ? Sambel ? Ahhh pasti mantap !” kata Nisa tersenyum setelah memasakan hidangan favorit suaminya.

Tangannya bergegas mengambil piring kemudian menyendokan nasi dari dalam rice cooker berwarna silver. Lalu tangannya dengan sigap mengambil centong untuk mengambil kuah sayur bening yang akan ia campurkan langsung dengan nasi tersebut. Dua buah tempe goreng beserta satu sendok teh sambal terasi turut ia masukan ke dalam menu sarapannya. Lapar ? mungkin itu yang ibu dari satu anak ini rasakan. Energinya begitu terkuras guna mengurusi Aldi yang terbilang hyperaktif dalam beraktifitas. Ia mudah lapar apalagi kalau sedang mengalami banyak pikiran.

“Aduhhh... Oh iya lupa !” kata Nisa buru - buru meletakan piringnya kemudian pergi ke arah dapur guna memeriksa ovennya.

“Hufttttt untung gak gosong cookies nya” kata Nisa lega.

Sambil berhati - hati, ia mengenakan sarung tangan kemudian mengambil satu demi satu loyang tersebut dan menaruhnya diatas meja samping wastafel. Aromanya yang harum menarik perhatian si Aldi kecil untuk mendekat mencari sumber dari aroma sedap yang tercium oleh hidungnya.

“Umi... Ini bau apa ? Kok enak” tanya Aldi dengan wajah polosnya.

“Ini Kue buatannya umi sayang” kata Nisa tersenyum.

Karena penasaran Aldi mendekati kue tersebut guna mengambil salah satu kue yang ada di atasnya.

“Ehhh awas dek... Hati - hati jangan dipegang dulu masih panas !” kata Nisa khawatir.

“Panas ?” kata Aldi menatap wajah ibunya.

“Iya panas... sini biar umi yang ambilkan” kata Nisa berhati - hati meniup kue tersebut untuk diberikannya pada putra tercintanya.

“Auhmmmm” kata Aldi mengunyah - ngunyah kue tersebut.

“Hmmmm enak kuenya” kata Aldi tersenyum menatap ibunya.

Nisa pun tersenyum bahagia ketika mendapatkan pujian dari putra tercintanya. Rasanya sudah lebih dari cukup mendengar ketulusan putranya dalam memuji masakannya. Rasa lelah, letih dan penat yang ia rasakan terasa hilang begitu saja saat mendengar komentar putranya. Nisa pun buru - buru membereskan oven tersebut dan menaruhnya di wastafel tinggi agar kelak Aldi tidak dapat menyentuhnya karena penasaran mengotak - ngatik benda tersebut.

Saat itulah tiba - tiba terdengar suara notifikasi berbunyi dari hapenya.

“Siapa ? Mas Reynaldi kah ?” kata Nisa buru - buru mendekat untuk mengecek pesan tersebut.

Seketika ia langsung mengernyitkan dahi. Jemarinya bergerak untuk mencari tombol blokir untuk memblokir nomor asing tersebut. Walau ia tak menyimpan nomornya, ia sudah tahu pasti siapa orang dibalik pesan misterius yang selalu ia dapatkan akhir - akhir ini.

Senior... Tolong sebentar saja... Aku ingin bertemu denganmu... Aku rindu padamu Senior ! begitulah isi pesan tersebut sebelum Nisa memblokirnya.

“Kenapa sih mas Fandi ? Kenapa dia masih belum bisa move on dari aku ?” kata Nisa merasa heran.

“Tadi siapa Mi... Abi ngirim pesan yah ?” tanya Aldi penasaran.

“Bukan sayang... Cuma orang iseng” jawab Nisa memaksakan senyum sambil menatap wajah polos Aldi disana.

“Orang Iseng ?” tanya Aldi sebelum kembali menyantap kue itu lagi tanpa begitu peduli.

Nisa pun menarik nafasnya mencoba bersabar dari ujian yang sedang menimpa keluarganya terkhusus untuk dirinya.


*-*-*-*


Sore hari Nada memutuskan untuk keluar dari kantor bagiannya untuk berjalan - jalan menikmati keadaan di luar. Hatinya masih kesal karena paksaan suami untuk menuruti ide gilanya. Nada tak habis pikir sejak kapan suaminya menjadi seperti ini ? Apakah ia memang sudah seperti ini sejak dulu ? Nada pikir tidak, karena ia tahu betul bagaimana sikap suaminya bahkan sebelum resmi menikahinya. Lalu kenapa Rendy bisa menjadi seperti sekarang ?

Nada hanya menggeleng - gelengkan kepalanya tak tahu menahu jawaban dari pertanyaan itu. Ia menunduk sambil memasukan tangannya ke dalam saku blazernya. Ia benar - benar ingin menyendiri sampai suasana hatinya membaik.

“Pasti ada sesuatu hal yang membuat mas Rendy jadi seperti ini” kata Nada merenung.

Sesaat ketika ia mengangkat kepalanya. Ia melihat seseorang yang membuat hatinya terpanggil untuk mendatanginya. Buru - buru ia mendekat sambil mempercepat langkah kakinya. Tubuh tegap tinggi, rambut panjang yang tersisir rapih ke samping juga kulit putihnya yang bersih benar - benar membuat dirinya terlihat good looking.

“Ustadz V” sapa Nada dari belakang yang membuatnya terkejut.

“Ehh ustadzah Na... Naadda ?” kata V tergagap.

“Aahahaha iya bener... Masih inget nama ana rupanya” kata Nada tersenyum.

Ohhh Waauuww !

Antum lagi apa ? Mau kemana ?” tanya Nada sambil melihat outfit yang dikenakan oleh V.

Kaus gelap berlengan pendek, celana training panjang yang menutupi kakinya yang jenjang juga sepatu olahraga yang memiliki warna selaras dengan kaus dan celana training-nya. Nada mengangguk - ngangguk melihat selera pakaian yang dikenakan oleh V.

Ann... Annaa mau ke kantor us” jawab V.

“Ke Kantor ? Kok pakai pakaian santai kaya gini sih... Ngomong - ngomong bagus juga selera pakaiannya” puji Nada sambil berjalan berdua dengan V.

Walau berduaan di dalam pondok memang dilarang apalagi di tempat keramaian seperti ini. orang - orang yang melihat mereka berduaan segera memaklumi, karena Nada sudah resmi menikah dengan suaminya. Apabila Nada belum menikah jelas para warga pondok akan langsung mencurigainya. Tetapi apabila ada salah satu dari keduanya yang sudah menikah dan mereka terang - terangan berbicara sambil berduaan, sudah dipastikan kalau ada urusan penting yang sedang mereka bicarakan, yang membuat mereka terpaksa mengobrol di tengah keramaian seperti ini.

“Hehhe emm... emang gak boleeh yah ?” tanya V.

“Ehh antum kenapa ? Kok jadi gagap gitu pas ngomong ? Grogi yah ngobrol bareng ana ahahahha” kata Nada tertawa melihat cara bicara V yang menurutnya lucu.

“Tapp... Tapiii dari dulu ana biccaraanya begini kok” kata V kesulitan untuk mengatur kata - katanya.

“Hahhh ? Enggak ah kayaknya kemarin - kemarin waktu di kantor administrasi antum gak gitu tuh !” kata Nada heran.

“Ehhh masa ?” kata V terkejut.

“Apa antum emang gini yah ? Gak tau deh lupa hihihihi” kata Haura malu karena waktu itu kurang memperhatikan.

“Hehhe ana emmm... Emang gini kok... Oh yah antum kok gak... gak jaga kantor sih ? lagi istii... istirahat yah ?” tanya V yang membuat perhatian Nada teralihkan.

“Hehehe iya gitu lah V... Ana bosen di kantor terus... Ana mau menghirup udara segar sambil melihat keadaan santri di luar... Rasanya lebih fresh gitu kalau lihat aktifitas santri daripada di dalam kantor terus... Terus juga bla bla bla...” Nada terus berbicara sambil berjalan berdua disamping V.

Tiba - tiba . . . . .

“Arrghhhhhh” rintih V sambil memegangi kepalanya hingga membuatnya berlutut. Nada yang tak memperhatikan masih terus asyik mengoceh. Ia tak sadar kalau V sedang tertinggal di belakang sambil memegangi kepalanya.

“... Pokoknya lebih seru deh kalau melihat tawa mereka ketika sedang berolahraga... Loh ustadz... Antum dimana ?” tanya Nada saat menyadari V tidak ada di sampingnya. Saat ia menoleh ke belakang, ia melihat V tengah berlutut kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Ustadz !!!” kata Nada bergegas menghampiri. Saat ia sudah dekat, tiba - tiba V langsung berdiri menatap wajah Nada yang khawatir dengan keadaannya.

Antum kenapa ? Antum gapapa kan ?” tanya Nada.

Ana ? Ada apa memangnya ?” kata V dengan suara yang berbeda juga intonasi yang berbeda.

“Ahhh enggak kok” kata Nada terkejut melihat perubahan sikap V yang tiba - tiba.

“Oh yah... Antum mau minuman ? Nanti ana traktir deh” kata V tiba - tiba membangunkan Nada dari lamunannya.

“Bo.. bolehhh” kata Nada terbata - bata.

“Ke kantin yuk” ajak V yang langsung ditolak oleh Nada.

“Ehhh jangan disana ustadz... Banyak orang... Gak enak juga kalau kita minum bareng disana” kata Nada.

“Ehmmm... Kalau gitu mau ke taman bunga disana ? Antum tunggu disana aja gimana ? Nanti ana nyusul setelah membeli minumannya” kata V.

“Ehmm boleh deh” kata Nada masih bingung dengan perubahan sikap V yang tiba - tiba.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

Nada tengah menunggu sambil duduk di sebuah bangku taman disana. Matanya melihat - lihat ke arah hamparan bunga yang terbentang dihadapannya. Enam tahun lebih dirinya disini terhitung semenjak dirinya menjadi santriwati, ia baru menyadari bahwa pondok ini memiliki tempat indah yang tersembunyi. Ia tersenyum saat melihat ada seekor kupu - kupu yang hinggap disalah satu mahkota bunga dihadapannya. Ia pun datang mendekat untuk melihat proses penyerbukan dari kupu - kupu itu. Sayapnya berwarna ungu dengan pola indah yang tercetak disana. Nada pun terpesona oleh pemandangan yang ada disini.

“Assalamualaikum” sapa V yang sudah datang membawakan minuman untuknya juga untuk Nada.

“Walaikumsalam... Eh ustadz” jawab Nada menghampiri.

“Ini minumannya... Es teh gapapa kan ?” tanya V.

“Iya gapapa kok... syukron yah ustadz” jawab Nada tersenyum bergegas langsung meminumnya karena haus.

V ikut tersenyum sambil sesekali memperhatikan wajah Nada disampingnya.

Antum suka pemandangan disini ?” tanya V tiba - tiba.

“Heem suka banget... Ana baru tau kalau ada tempat seindah ini disini” jawab Nada tersenyum menatap wajah V.

“Begitu kah ?” tanya V merasa lega ketika Nada merasa senang.

Mereka berdua pun mengobrol mengakrabkan diri untuk mengetahui kepribadian masing - masing. Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun terlewati. Semakin lama mereka mengobrol semakin nyaman pula lah keadaan yang mereka miliki disini. Nada seolah hanyut dalam obrolan yang ia bicarakan dengan V. Wajah tampannya juga caranya dalam berbicara begitu mudah untuk membolak - balikan hati Nada yang sedang rapuh karena perbedaan pandangan dengan suami.

Terlihat wajah mereka begitu dekat ketika sedang menertawakan lelucon yang mereka bicarakan. Mereka seolah lupa dengan lingkungan yang ada di sekitar. Mereka lupa dengan diri mereka masing - masing. Nada seolah lupa kalau dirinya sudah resmi bersuami. V pun lupa dengan statusnya yang sedang bekerja di pondok ini.

V bersandar pada bangku taman sambil merentangkan lengannya ke samping membelakangi punggung Nada. Andai ada seseorang yang melihatnya dari belakang. Pasti orang itu sudah curiga kalau ada seorang ustadz yang sedang merangkul bahu seorang ustadzah di dalam lingkungan pondok ini.

“Ehmmm ustadz !” kata Nada ditengah tawa yang sedang mereka bicarakan.

“Iya ada apa ustadzah ?” jawab V sambil menatap wajah Nada begitu dekat yang membuat Nada tersipu dibuatnya.

“Ihh ustadz... Jangan dekat - dekat... Bau !” kata Nada becanda.

“Ahhh masa ?” kata V menghela nafas ke telapak tangannya untuk memeriksa aromanya. Nada pun tertawa melihat sikap V.

“Oh yah ustadz... Ana mau cerita boleh ?” tanya Nada setelah merasa nyaman dengan V.

“Cerita ? Iya boleh aja... Ada apa yah ?” tanya V.

“Ehmmm sebelumnya... Maaf... Ana boleh pinjam bahu antum ?” pinta Nada.

“Bahu ana ? Iya boleh kok” kata V. Nada langsung mendekat untuk menjatuhkan kepalanya di Pundak V. Reflek tangan V merangkul erat lengan Nada untuk mendekatkannya ke arahnya. Nada tersenyum sambil menatap V. V juga tersenyum sambil menatap wajah Nada.

Syukron ustadz” kata Nada merasa nyaman dipeluk oleh V.

“Ehmmm ustadz... Waktu itu ketika kita pertama kali bertemu di kantor administrasi... Antum pernah nanya ke ana kan tentang masalah yang ana miliki ?” tanya Nada.

“Ohh iya ana inget... Iya ana pernah bertanya ke antum” jawab V.

Ana mau cerita tentang itu ustadz... Hati ana lagi gelisah... Ana gak tau lagi mau cerita ke siapa ? Ana gak nyangka dengan sikap suami ana yang tiba - tiba berubah seperti itu ustadz” kata Nada menuangkan beban di hatinya.

“Memang kalau boleh tau suami antum kenapa ?” tanya V penasaran.

“Ada deh ustadz... Ana gak berani cerita lebih jauh dari ini... Yang jelas suami ana minta ana melakukan sesuatu yang aneh - aneh ustadz” kata Nada mendekatkan dirinya ke arah bahu V untuk mencari kenyaman darinya.

“Hmmm begitu ?” jawab V.

“Iya ustadz... Ana bingung... Ana jelas menolak keinginan suami ana itu... Tapi suami ana terus memaksa... Ana jadi gak nyaman ustadz tiap kali ketemu suami ana... Walau suami ana bilang permintaan itu yang pertama dan terakhir tapi ya tetep aja... Rasanya kesel banget... Pingin marah tapi itu bukan sikap yang tepat bagi seorang istri seperti ana” kata Nada tiba - tiba mulai menitikan air mata.

Antum hebat ustadzah... Ana respect terhadap sikap antum itu” kata V yang membuat Nada bingung.

“Kok gitu ustadz ?”

“Iya dong... Coba perhatikan, cuma ada berapa istri saja yang mau bersabar ditengah ujian yang sedang menimpanya... Alih - alih marah... Antum lebih memilih bersabar padahal kan antum tau kalau sikap antum lebih benar daripada suami antum” kata V membuat Nada tersenyum.

“Begitu yah ?” kata Nada mulai dapat tersenyum sambil mengusap air matanya menggunakan sapu tangan yang selalu ia simpan di dalam sakunya.

“Iya antum itu istri yang baik... Istri yang sholehah... Andai antum istri ana... Sudah pasti ana akan menyayangi antum setiap hari” kata V yang membuat Nada tertawa terbahak - bahak mendengarnya.

“Dasar ih gombal !” kata Nada tersenyum sambil bermanja - manja dalam pelukan V.

“Gapapa... Jangan di jadikan beban masalah... Itu bukan masalah berat kok ustadzah... Kuatkan diri antum... Ana yakin seorang wanita seperti antum pasti bisa melalui semua cobaan ini” kata V yang membuat hati Nada segera membaik.

“Terima kasih yah ustadz” kata Nada mulai tersenyum cerah.

“Oh yah ustadz... Maaf hehehe” kata Nada mulai kembali tegak setelah sekian lama bermanja - manja di dalam pelukan V.

“Iya gapapa kok... Sering - sering lebih baik” kata V yang membuat Nada tersipu.

“Ihh dasar ketagihan” kata Nada tertawa.

“Hahahahhahaha” tawa V.

“Oh yah ustadz... Menurut antum ana harus gimana ? Haruskah ana menuruti kemauannya ?” tanya Nada meminta pendapat.

“Itu terserah antum ustadzah... Antum yang lebih tau masalahnya tapi tadi antum sempat bilang kalau suami antum ingin melakukannya sekali aja kan ? Kalau memang setelah itu masalah cepat selesai kenapa gak dilakukan ?” jawab V.

“Begitu kah ?” kata Nada merenung.

“Itu cuma saran aja... Yang jelas antum yang lebih tau harus bagaimana” kata V yang membuat hati Nada sedikit tercerahkan.

“Iya deh ustadz terima kasih yah udah mau nemenin ana” kata Nada merasa malu.

“Iya sama - sama bukan masalah kok” jawab V.

“Yaudah deh ustadz... Ana mau pamit dulu... Soal tadi jangan bilang siapa - siapa yah... Ana gak mau terlibat masalah” kata Nada dengan suara lirih karena merasa malu telah melakukan perbuatan itu.

“Iya tenang aja... Aman kok” kata V yang membuat Nada tertawa.

“Yaudah ustadz... Ana permisi dulu wassala.....”

“Tunggu ustadzah” kata V memotong pembicaraan Nada.

Tangan V mendekat menuju ke arah wajah Nada. Nada menjadi tegang apalagi saat permukaan tangan V mulai menyentuh kulit wajahnya. Jantung Nada semakin berdebar kencang saat tangan V mengusap pipi di wajah halusnya.

“Maaf rambut antum tadi terlihat... Sekarang udah ana bereskan kok... Jaga diri antum yah” kata V sambil menepuk bahu Nada membuatnya tersipu malu.

“Syukron yah ustadz... Wassalamualaikum” kata Nada buru - buru pergi karena merasa canggung dengan situasi yang terjadi. Saat pergi ia tak mampu menghentikan senyumnya yang keluar begitu saja. Ia merasa senang, ia merasa bahagia dengan kehadiran V yang telah membantu persoalannya.

“Terima kasih yah... Ustadz V” kata Nada tak dapat menghentikan senyumnya.


*-*-*-*


V berjalan sambil menatap ke arah langit yang mulai menggelap. Saat ia melihat ke arah jam tangannya, rupanya waktu sudah menunjukan pukul lima kurang lima belas menit. Keadaan pondok sudah mulai sepi setelah para santri mulai menghentikan aktifitas berolahraganya. Mayoritas dari mereka telah kembali ke asrama untuk mandi membersihkan diri. Beberapa dari mereka sudah berganti pakaian dengan pakaian muslim mereka untuk bersiap - siap menuju masjid. Pengajar dari bagian Ta’mir pun mulai berdiri mendisiplinkan para santri agar tidak ada yang terlambat ke masjid.

Tak terasa V sudah hampir mendekati bagian pengasuhan, ia pun melihat Hanna tengah keluar untuk kembali ke asramanya untuk mandi bersiap - siap. Wajahnya terlihat lelah tetapi kecantikannya tetap terlihat membuat V terpesona seketika saat menatapnya.

“Ehhh Hanna... Ada siapa di dalem ?” tanya V.

“Ehhh V... Udah pada pulang semua sih tinggal ada Haura aja di dalem” jawab Hanna tersenyum.

“Ohhh gitu ?” kata V manggut - manggut.

“Mau ngapain V jam segini ke kantor ?” tanya Hanna penasaran.

Ana mau ngambil barang ana yang tertinggal Han” jawab V.

“Ohhh gitu... Jangan lama - lama yah... Udah jam segini nanti dimarahin kalau masih pakai pakaian santai gitu” kata Hanna menegurnya.

“Ohhh hahahha iyya maaf... Syukron yah Han” jawab V merasa tidak enak setelah melihat outfit yang masih dikenakannya.

“Huh dasar !” jawab Hanna tersenyum sambil melanjutkan perjalanannya pulang.

Tak terduga saat ia berjalan menuju asramanya, Hanna mengernyitkan dahi saat melihat seorang santri yang tengah berdiri menantinya disini. Hanna terlihat ketakutan terlebih setelah melihat sikapnya dulu yang telah ia tunjukan di dalam kantor bagian pengasuhan.

Hanna pun ragu untuk melanjutkan langkah kakinya.


*-*-*-*


V telah sampai di teras kantor bagian pengasuhan. Pintu yang sudah terbuka membuatnya dapat melihat keadaan di dalam sana. Haura tengah duduk di mejanya sambil mengetikan sesuatu di layar monitornya. Haura terlihat fokus hingga tak menyadari kehadiran V yang sedang memperhatikannya diam - diam dari arah pintu masuk.

Tokk tokk tokkkkk !

“Assalamualaikum” sapa V setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Walaikumsalam” jawab Haura sambil melirik menatap seseorang yang telah menyapanya sore ini.

Saat ia tahu bahwa V lah orang yang telah menyapanya, ia bergegas berdiri dari posisi duduknya, kemudian ia berlari mendekat menuju ke arah V untuk meminta maaf karena merasa tidak enak atas pertanyaannya kemarin. Ia merasa tidak enak karena telah membuat V teringat akan masa lalunya bersama Fitri.

“V... Maaf atas pertanyaanku kemarin” kata Haura dihadapan V.

“Hahahah iya gapapa kok... Aku baik - baik aja” jawab V sambil tersenyum menatap Haura yang membuatnya bergegas menundukan pandangannya karena malu.

Kemudian mereka berdua berjalan bersampingan ke arah tempat duduk mereka masing - masing. Haura yang memiliki tinggi sebahunya V melirik menatap wajah V. Haura merasa lega karena rupanya V baik - baik saja atas pertanyaannya kemarin.

“Oh iya V... Tau gak ? Ana lagi belajar tentang bunga loh” kata Haura untuk menghibur hati V agar perasaannya makin membaik.

Ana ? Mau pakai ana apa aku nih ? Suka ganti - ganti deh” jawab V yang membuat Haura tertawa malu.

“Ahahahha emang tadi aku bilang ana yah ? Boong ah aku gak ngerasa bilang gitu sih” jawab Haura tersenyum manis.

“Beneran ? Aku denger dengan jelas kalau tadi kamu ngomong pake kata ana... Dasar ustadzah gak konsisten” jawab V bercanda yang membuat Haura cemberut kesal.

“Nyebelin ihhh... Malah diejek gak konsisten” kata Haura merajuk.

“Ehhh hehehe... Ngambek nih aku minta maaf deh... Tadi cuma becanda kok” kata V menatap Haura yang tengah cemberut sambil menahan senyumnya.

“Hufttt lagian tadi lagi diajak ngobrol malah bilang gitu” kata Haura berbalik membelakangi V karena tak tahan untuk mengeluarkan senyumnya. Haura pun tersenyum membelakangi V.

“Maafin aku yah Ra... Aku gak tahan soalnya untuk menggodamu... Aku selalu suka untuk melihat senyummu yang manis itu” kata V yang tiba - tiba memeluk Haura sambil menggenggam tangannya yang berada di depan perutnya. Haura terkejut tapi ia merasa senang dengan sikap V dalam menyembuhkan rasa ngambeknya. Ia pun melirik ke belakang untuk menatap wajahnya.

“Iya deh kalau mulai nyebelin lagi awas aja yah... Ana bakal marah !” kata Haura kesal.

“Ehhem ehhemm... Tuh kan mulai lagi” kata V yang membuat Haura menyadari kesalahannya.

“Ahahhaha jangan diejek lagi... Iya kali ini aku ngaku salah” kata Haura buru - buru mengaku sebelum diejek lagi oleh V.

Haura tertawa begitu juga dengan V yang berada dibelakangnya.

“Oh yah tadi bilang kamu lagi belajar tentang bunga yah” tanya V sambil memeluk Haura.

“Iyya dong... Tadi aku juga pergi ke taman bunga untuk menebak - nebak nama dari bunga yang ada disana” kata Haura sambil memberanikan diri mengaitkan jemarinya dengan jemari V.

“Beneran ? Mau aku tes ?” kata V sambil tersenyum.

“Boleh aja” kata Haura sambil tertawa.

V pun melepaskan pelukannya pada Haura. V berjalan menuju ke tempat duduknya sambil menarik tangan Haura yang telah digenggam erat. Haura tersenyum sambil melihat ke arah genggaman tangannya. Haura merasa senang merasakan kebahagiaan yang sudah lama tak ia rasakan.

"Kebetulan tadi sewaktu kesini aku baru aja memetik bunga ini... Tau gak apa nama dan maknanya ?" Tanya V sambil menunjukan bunga tersebut.

Haura mencoba mengingat apa yang sudah ia pelajari, otaknya berpikir keras sebelum dirinya mendapatkan jawaban dari soal tersebut. Haura cemberut sambil menatap V sebal.

"Bunga Buttercup yah ?" Tanya Haura cemberut.

"Pinter" Jawab V Tersenyum.

"Maksudnya apa nunjukin bunga ini ke aku ? Kamu kira aku orangnya kekanak - kanakan yah ?" Jawab Haura yang membuat V tertawa.

"Hahahha bukan gitu Ra... Kamu memang mirip anak kecil soalnya... Karena hanya dengan melihatmu ada kebahagiaan yang aku rasakan... Gitu kan rasanya kalau kamu ngeliat anak kecil ?" Jawab V merasa senang setelah Haura mengetahui jawabannya.

"Dasar ada aja ngelesnya... Sekarang giliran aku nih... Tebak bunga apa ? Bunga ini paling cocok deh buat kamu V" Kata Haura setelah mengambil setangkai bunga dari dalam kantung kresek yang ia bawa.

"Bunga Quince ? Maksudnya aku perayu gitu ?" Jawab V yang membuat Haura tertawa.

"Ahahhah cocok kan ? Dasar tukang gombal" Jawab Haura tertawa saat mendengar jawaban V yang benar.

Mereka berdua pun tertawa setelah saling menebak nama - nama bunga beserta maknanya dengan benar. Mereka berdua menjadi semakin akrab setelah mengungkapkan perasaan mereka melalui bunga - bunga. Haura tersenyum sampai lupa waktu. Ia tak menyadari kalau keadaan langit di luar sana perlahan sudah berubah menjadi gelap.

“Oh iya V... Beberapa hari yang lalu... Aku menemukan ini loh di rumahku” kata Haura mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung kreseknya. V pun diam memperhatikan apa yang ingin Haura tunjukan padanya. Sebentar kemudian, V tersenyum saat melihatnya.

“Ini... Aku menemukannya di kursi teras rumahku... Kamu tau gak V siapa yang meninggalkannya disana ?” kata Haura tersenyum yang membuat V ikut tersenyum.

“Wahh cantiknya... Siapa sih yang meninggalkan bunga seindah ini di rumahmu ?” tanya V yang membuat Haura tertawa.

“Ahahahah gitu yah kamu V... Masih gak mau ngaku juga ?” tanya Haura tersenyum manis.

“Hahahhaa... Lohh memangnya apa ? Kenapa ? Ada apa ?” jawab V keukeuh tak ingin menjawabnya.

“Pokoknya siapapun dia... Orang itu sangatlah berarti dalam hidup ana... Walau kadang sifatnya nyebelin dan suka modus... Aku bahagia bisa bertemu dengannya” kata Haura mengungkapkan perasaannya yang membuat V tertawa dalam diamnya,

Lucu banget sih kamu Ra... Masih gak sadar mau bilang ana atau aku !

“Beneran ? Memangnya kenapa bisa begitu Ra” kata V tersenyum yang membuat jantung Haura berdebar semakin kencang.

“Ahahahah pokoknya gitu deh” kata Haura malu - malu untuk mengungkapkannya.

“Ehhh gimana sih ? Aku penasaran tau” kata V terus menggodanya.

“Ihhhh V ah... Ada deh pokoknya... Rahasia !” kata Haura tersenyum sambil mengeluarkan sikapnya yang malu - malu.

V tertawa bahagia ketika mampu bercengkrama dengan dara indah yang mampu memberikan energi kebahagiaan untuknya. Tiba - tiba Haura mengangkat tangannya, kemudian memberikan setangkai bunga itu untuknya.

“Pokoknya semua penjelasan dari jawaban soal ucapan aku tadi ada di bunga ini... Ini aku kembalikan bunga ini padamu... Kamu tahu kan maksud aku ? Maksud dari makna bunga Petunia ini ? Aku cuma bilang kalau . . . . . “

“Kamu telah membuat aku nyaman” kata V dan Haura berbarengan.

“Ehhh ahahahahahha” tawa Haura yang tak sadar ia bisa mengucapkan kata yang sama dengan V.

“Hahahahha kok bisa barengan sih” kata V yang membuat Haura tertawa bahagia bersamanya.

V hanya tersenyum sambil mengamati keindahan Haura dihadapannya. Haura mengenakan kemeja putih longgar yang ia padukan dengan rok panjang berwarna krem cerah. Ia pun melengkapi keindahannya dengan sebuah hijab krem bermotif yang membuat Haura terlihat sangat cantik di sore menjelang malam itu. Belum dengan senyumnya yang menyapa juga beningnya kulit wajah yang menentramkan hati V saat melihatnya. Semakin lama ia menatapnya, lisannya semakin tak tahan karena gatal ingin memuji kecantikannya.

Fitri !!!!

“Kamu cantik banget sih Ra sore ini” pujinya yang membuat Haura terdiam seketika terkejut.

“Ehhhh” jawab Haura sambil memberanikan diri menatap wajah V.

“Kamu juga terlihat dewasa dengan pakaian yang kamu kenakan saat ini” pujinya yang kali ini membuat Haura tersipu malu.

“Gombal ihhhh... Kumat lagi kan” jawab Haura memalingkan wajah sambil tersenyum malu - malu.

V tersenyum kemudian memegangi dagu Haura kemudian mengarahkannya untuk kembali menatapnya.

“Beneran Haura... Aku jujur dengan lisanku... Aku benar - benar mengakui kecantikan yang terlukis di wajahmu itu” kata V lalu merangkul pinggang Haura.

Haura terkejut dengan keberanian V. Saat Haura menatap mata V. Haura dapat merasakan ketulusan yang telah V ucapkan padanya. Haura merasa seperti terhipnotis. Mulutnya terbuka sambil menatap mata V yang memberikannya ketenangan.

Tiba - tiba wajah V semakin dekat hingga jarak yang memisahkan mereka hanya lima sentimeter saja. Haura masih terpesona oleh suasana yang telah V bangkitkan untuknya. Haura tersenyum seolah hanyut dalam sikap V dalam memuji hatinya. Mereka berdua tersenyum sambil menatap mata pasangan mereka masing - masing.

“Haura... Untuk sore ini... Boleh gak aku mencumbui dirimu lagi ?” pinta V sambil menatap wajah Haura.

Haura semakin tersenyum setelah mendengarkan kata - katanya. Tanpa sadar, Haura menganggukan kepalanya sambil memejamkan mata bersiap - siap untuk kembali menerima cumbuan dari rekan kerja barunya.

“Uhhmmmmmm auhmmmmm sllrrpppppp” Mereka berdua berciuman, bibir mereka saling melekat dengan jarak tubuh mereka yang semakin dekat. V semakin erat merangkul pinggang Haura. Sementara Haura sudah merangkulkan tangannya di leher V menerima tiap cumbuan darinya.

Haura melenguh mengeluarkan suara yang membangkitkan gairah V dalam mencumbunya. Haura terus bertahan ketika bibirnya dihujani ciuman dari rekan kerja barunya. Ciumannya yang semakin bernafsu membuat liur Haura menetes dari sela - sela bibirnya hingga jatuh membasahi lantai ruangan. Bibir tipis sang ustadzah itu terus beradu menerima serangan bertubi - tubi dari bibir kencang V yang semakin agresif.

Bibir V terbuka memagut bibir atas Haura yang terasa manis baginya. Lidahnya ia julurkan ketika memasuki rongga mulutnya. Lidah itu bergerak lincah bagai seekor belut yang berkelana memasuki goa. Belut itu mencoba bergerak ke atas dan ke bawah kadang ke kiri dan ke kanan untuk mencari pasangannya di dalam. Saat lidah itu bertemu jodohnya, mereka saling melilit, permukaan mereka semakin basah akibat pertempuran dahsyat diantara keduanya. Kadang ujung dari lidah itu berbenturan kemudian saling menggesek kemudian setelah itu lidah V menarik keluar lidah Haura untuk membawanya ke dalam mulutnya.

“Uhhmmmmmm” desah V dikala mulutnya menjepit lidah Haura yang semakin hanyut dalam buaian nafsu birahi.

Haura terkejut ketika dirinya mampu berciuman sepanas ini. Seumur hidupnya ia terbiasa berciuman hanya dengan saling mengecup tepi bibir masing - masing. Tetapi dengan ciumannya kali ini, ia merasa dirinya lebih sexy, lebih menarik dan lebih tertantang untuk memanjakan hasrat birahi yang selama ini terus bersembunyi di dalam diri.

Lama mereka berciuman, mereka semakin terangsang dengan kehangatan yang terjadi di dalam sini. Tangan V mulai turun mengusap punggung Haura. Rabaannya terus turun hingga tiba di bongkahan pantat Haura yang membuatnya mendesah nikmat merasakan usapan V di daerah terlarangnya.

“Aahhhhhhhh uhhmmmm” desah Haura ditengah cumbuannya. Haura merasa geli ketika tangan V begitu liar meremas - remas bongkahan pantatnya.

Tangan nakal V bergerak naik meraba punggung - punggung Haura. Haura merinding, ia sampai memejamkan matanya tak kuasa menahan nikmat yang sedang ia rasakan. Tak diduga, tangan itu akhirnya hinggap di daerah tersensitif Haura yang merupakan payudaranya.

“Aahhhhhhhh” desah Haura sambil membuka matanya terkejut.

Payudara kirinya diremas oleh tangan kanan V. V pun tersenyum sambil menatap Haura yang sudah tak ia cumbui lagi. Terlihat diwajahnya kalau Haura sedang menikmati remasan kuat di buah dadanya. Nafasnya terasa berat hingga membuatnya kembali memejam membiarkan V memainkan dua buah payudaranya yang besar.

“Aahhhhh V.... Ehmmmm ahhh ahhhh” desah Haura tak kuasa menahannya.

V tersenyum melihat ekspresi Haura yang begitu terangsang olehnya. Ia kembali mencumbuinya dan ia tak menduganya kalau Haura akan membalas cumbuannya tersebut.

“Sllrrpppp uhmmmm auuhhmmmm uuhhmmmmm” desah mereka berdua yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

V mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja yang Haura kenakan. Sedikit demi sedikit, V dapat melihat kulit beningnya yang tersembunyi di balik kemeja yang ia kenakan. Sebuah bra berwarna putih juga mulai terlihat disana. Saat belahan dadanya mulai terlihat, V terkejut setelah melihat ukurannya.

Bulatannya besar, bentuknya terlihat kenyal membuat V tak sabar untuk menurunkan cup bra yang menghalangi setengah dari keindahan disana.

“Wahhhhhh” kata V takjub saat melihat putingnya yang sudah mengacung tegak.

Tanpa berlama - lama, V menurunkan kepalanya untuk menyusu di puting Haura yang berwarna merah muda. Haura kembali memejamkan matanya sambil melihat langit - langit di atas. Haura mendesah penuh nikmat merasakan hisapan dan jilatan yang V layangkan di payudaranya. V mencaplok payudara Haura. Lidahnya bergerak liar dengan menjilati putingnya. Giginya pun ikut bermain dalam menggigitnya pelan. Haura mendesah, mengejang, merintih merasakan semua kenikmatan yang ia dapatkan dari V.

“Aahhhhhh V... Ahhhhhhhh ahhhhhh” desahnya tak kuasa menahan.

V pun menghentikan rangsangannya di payudara Haura. Ia kemudian menatap kembali wajah Haura yang terlihat kelelahan. V tersenyum kemudian membisikan sesuatu yang membuat Haura merasa malu ketika mendengarnya.

“Kamu terlihat semakin cantik ketika mengeluarkan suara sexymu Haura” bisik V.

V kemudian memegangi tangan Haura untuk menuntunnya menuju pusaka rahasianya. Haura melotot terkejut saat tangannya menyentuh sesuatu yang besar dan keras dibawah sana. V hanya tersenyum sambil mengangguk menatap Haura. V pun melepaskan genggamannya membiarkan bidadari berhijab itu meraba - raba penisnya yang masih tersembunyi di dalam celana training-nya.

Haura sudah tidak memikirkan apapun lagi. Dirinya begitu penasaran dengan apa yang sedang ia pegang dengan telapak tangannya. Sekali lagi Haura menatap V tak percaya dengan ukuran yang dimiliki oleh V.

“Mau lihat ?” tanya V tersenyum yang membuat Haura malu - malu menganggukan kepalanya.

V menurunkan celana training-nya juga celana dalamnya yang membuat penis miliknya keluar dengan gagah dan perkasa. Haura membuka mulutnya tak percaya. Ukurannya besar, panjang dengan urat - urat syaraf yang mengelilinginya. Ujung gundulnya juga nampak mempesona membuat Haura tak mampu untuk mengalihkan pandangannya dari benda yang membuatnya penasaran.

“Kamu boleh memegangnya kok Ra” kata V yang membuat Haura menggerakan tangannya malu - malu. Haura hanya bisa diam sambil sesekali menghembuskan nafasnya yang berat. Matanya terkunci oleh benda panjang itu. Tangannya bergerak sedikit demi sedikit karena masih ragu untuk melakukannya. V pun tersenyum menyadarinya, ia menggerakan pinggulnya maju hingga Haura tak sengaja menyentuh penis besar V.

“Ahhhhhh” desah V membuat gairah birahi Haura terpanggil setelah mendengarnya.

“Aku boleh . . . . .” tanya Haura yang masih terpesona akan ukurannya.

“Boleh kok” jawab V tersenyum.

Haura menggenggamnya erat, merasakan betapa kerasnya penis yang mengacung tegak dihadapannya. Tanpa sadar Haura menggerakan jemarinya pelan, Haura mengocoknya membuat v mendesah pelan merasakan jemari halus Haura dalam merangsang kelaminnya.

“Ahhhhh.... Ahhhhhhh... Ahhhhhh” desah V membuat Haura semakin bergairah dalam melakukannya.

Besar banget... Apa muat kalau benda sebesar ini masuk ke dalam kemaluanku ?

Haura berandai - andai dalam pikirannya. Tak sadar kocokannya semakin kuat hingga membuat V kewalahan dalam menerima rangsangan dari Haura.

V pun melepas kausnya hingga membuatnya bertelanjang bulat dihadapan Haura. Haura semakin terkesima oleh pemandangan indah dihadapannya. Wajah tampan V juga tubuhnya yang berkulit putih, rambut kemaluannya yang tidak begitu lebat ditambah penisnya yang sudah mengacung tegak membuat Haura kehilangan akal sehatnya. V pun tersenyum mendekati Haura kembali. Haura pasrah ketika didekati oleh pria tampan sepertinya. Haura kembali dicium, mata Haura memejam, tangan V menurunkan resleting dibelakang rok Haura. Rok itupun melorot menampilkan kaki panjangnya yang jenjang. Tanpa jeda, tangan V segera memasuki celana dalam Haura yang juga berwarna putih. Jemarinya menggesek bibir vaginanya. Sedikit demi sedikit vagina Haura pun basah merasakan rangsangan V. Mulut Haura jadi semakin terbuka membuat lidah V bebas berkeliaran di dalamnya. Haura telah terangsang. Tubuhnya semakin bernafsu. Ustadzah yang sehari - hari biasa mengenakan pakaian longgar itu telah dikuasai oleh birahinya sendiri. Kemejanya telah terbuka menampakan payudaranya yang semakin mengencang. Vaginanya semakin becek akibat perlakuan V dalam menggesek bibir vaginanya. Haura mendesah, ia mendesah mengeluarkan suaranya yang menggoda.

“Ahhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhhhh”desahnya sambil menggoyangkan pinggulnya karena tidak tahan.

V pun berjongkok sambil memelorotkan pertahanan terakhir yang menutupi vagina Haura. Saat ia menurunkannya V dapat melihat liang kewanitaan Haura yang berwarna merah muda. Haura pun malu sambil menutupi kemaluannya sendiri.

“Jangan diliat V... Aku malu !” kata Haura.

“Tenang Haura... Aku akan memberikanmu kenikmatan yang luar biasa” kata V sambil menyingkirkan tangan Haura dengan lembut.

“Aahhhhhhhhhh” desah Haura.

Lidah V keluar berpetualangan dalam menjilati bibir vagina Haura. Haura mendesah tak kuasa menahan nikmatnya. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembab tengah merangsang titik sensitifnya. Lidah V bergerak masuk menyusup ke dalam rongga vagina Haura. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina Haura. Haura mendesah, mengerang, merintih dengan penuh nikmat. Kedua tangannya pun memegangi kepala V yang semakin terbenam di vaginanya. Haura memejam, menutup matanya merasakan sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan.

“Ahhhhhh ahhhhhhhhhhhhh V.... Enakkk” kata Haura yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

V meludahi liang kewanitaan Haura, kemudian ia kembali menjilatinya, jemarinya ikut bergerak dalam mengorek - ngorek kemaluan Haura. Haura semakin terangsang membuatnya tak dapat berpikir jernih kembali.

“Semuanya sudah siap Haura... Siap untuk menuju tahap selanjutnya” kata V tersenyum setelah kembali berdiri menatap Haura yang kebingungan dengan maksud perkatannya.

Tanpa menunggu jawaban dari Haura. V mengangkat tubuh rampingnya kemudian meletakannya di tepi meja kerjanya. V melebarkan kaki Haura kemudian pinggulnya mendekat bersiap mengarahkan penisnya untuk memasuki lubang sempit diantara selangkangan bidadari berhijab itu.

Haura paham maksudnya, ia pun menatap wajah V. Ia pun merasa kalau perbuatannya sudah keterlaluan. Ia pun memohon pada V. Sambil menatap wajahnya Haura memohon untuk tidak melanjutkannya.

“V tolong ! Jangan lakukan !” pinta Haura. Tetapi semua terlambat karena V sudah lebih dahulu menggerakan pinggulnya untuk membenamkan penisnya masuk ke dalam vagina Haura.

“Aahhhhhhhhhhhhhhhhhhh” desah Haura ketika benda keras itu menusuk liang kenikmatannya.

Besar, keras, dalam.... Ouhhhhh kenapa rasanya enak banget !

“Ahhhhh ahhhhhh ahhhhh” desah Haura ketika pinggul V bergerak maju mundur menggesek dinding vaginanya yang sempit.

Haura mendesah menikmati semua perzinahan ini. Dalam posisi duduk ia dapat melihat benda keras itu bergerak keluar masuk vaginanya. Rasanya begitu nikmat membuat ia tak sadar lagi dengan perselingkuhan yang sedang ia lakukan bersama rekan kerja barunya.

V tersenyum sambil menikmati keindahan tubuh Haura yang sudah setengah telanjang. Haura pun merasa malu hingga tangannya reflek merapatkan kemeja yang masih melekat di tubuhnya. V tersenyum, ia pun memegangi tangan Haura dan memberikannya gestur agar tidak perlu malu. V pun mendorong tubuh Haura pelan - pelan hingga membuatnya terbaring diatas meja kerjanya.

Ukuran meja yang tidak terlalu tinggi membuat V tidak perlu untuk menaikinya untuk bisa melanjutkan persetubuhannya. V membuka kemeja Haura lebih lebar, ia juga melepas bra yang terkait di tubuhnya. V tersenyum menatap keindahan tubuh Haura sekali lagi. Haura malu - malu hingga tangannya menutupi payudara seadanya.

“Kamu sangat cantik Haura... Tubuhmu indah... Aku sangat suka dengan kesempurnaan yang kamu miliki” puji V membuat jantung Haura berdebar mendengarnya.

“Aahhhhhhh ahhhhhh” desah Haura ketika V kembali menggerakan pinggulnya maju mundur.

Haura mendesah begitupula V juga mendesah. Payudara Haura yang bergerak maju mundur semakin memperkuat hasrat V untuk segera menuntaskannya. Gerakan payudaranya yang indah membuat V tak tahan untuk segera meremasnya. V meremas payudara itu, mencengkramnya kuat juga mencubit putingnya pelan untuk menaikan birahi Haura.

"Ouhhhh V.... Enakkk ahhh... Ahhhhh" Desah Haura.

Haura menatap wajah V dengan tatapan sayu dari arah bawah. Tusukannya yang semakin dalam, kuat membuat Haura tak bisa berkata apapun lagi selain mendesah pasrah menerimanya.

V memegangi pinggul ramping Haura. Mempercepat gerakan pinggulnya saat menyadari ia sudah berada di ambang batasnya.

Haura juga demikian, untuk pertama kalinya dalam bersetubuh ia begitu merasakan kenikmatan yang amat sangat. Gesekan kuat yang ia terima di dinding vaginanya membuat Haura heran dengan sesuatu yang mengalir di dekat lubang kencingnya.

“Aahhhhh ahhhhhhh V.... Tungguuu.... Akuu mau pipissss” kata Haura mendesah.

“Aahhhh ahhhh iya gak usah khawatir... Keluarkan aja Haura... Keluarkan semuanya... Jangan ada yang ditahan !” kata V.

“Tappii..... Ahhhh tapiii.... Ahhh ahhhhhhhh” desah Haura yang sudah tak kuat lagi. Tepat saat V membenamkan penisnya hingga mentok ke ujung rahimnya. Sebuah gelombang dahsyat mengalir keluar dari dalam vagina Haura hingga menyemprot penis V yang masih menancap di vaginanya.

“Aahhhhhhhh akuuu keluaarrrrr !!!” desah Haura begitu dahsyat hingga tubuhnya terangkat naik merasakan kepuasannya.

“Aahhhhhhhh ahhhhhhhh” desah Haura tak henti - hentinya ketika merasakan sisa - sisa orgasmenya.

“Aaahhhhhhhhhh nikmatttnyaaaa !!” desah Haura merem melek merasakan kepuasan yang ia dapatkan. Tubuhnya terasa lemas, dan vaginanya terasa penuh oleh cairan cintanya.

Haura masih memejam mengatur pola nafasnya yang berat untuk menstabilkan kondisinya.

“Ehhhh” kata Haura saat merasakan penis V kembali bergerak menyetubuhinya.

Nafas V semakin berat ketika menatap wajah Haura yang baru saja mendapatkan orgasmenya. Gerakan pinggulnya semakin cepat, remasan di payudaranya pun semakin kuat. V merasa gemas melihat payudara itu bergoyang begitu cepat seolah menggodanya. V dapat merasakan penisnya semakin lancar ketika keluar masuk di dalam vaginanya. Vagina itu semakin basah setelah tersirami cairan cintanya. Desahan Haura pun semakin nyaring, birahi V semakin terpanggil, ia tak kuat lagi dalam menyetubuhi binor cantik yang sehari - hari terbiasa mengenakan hijab lebar dan pakaian longgar.

“Ahhhh Haurraaa.... Ahhhh ahhhh aku gak kuat lagi Raa !” kata V mendesah.

Plokkk plokkk plokkk !!!!

Suara benturan antar kelamin itu semakin kelas begitu pula dengan suara cipratan air yang terdengar dari rahim Haura. Haura kembali menatap V dengan pasrah. Ia tak menduga kalau bisa seenak ini dalam bersenggama. Ia pun menggerakan otot vaginanya berusaha menjepit penis itu lebih keras.

“Tungguuuu... Ahhhh ahhhhh ahhhhhhhh” desah Haura.

V sedang memasuki gigi tujuh. Sodokannya semakin cepat, dahsyat dan juga terasa nikmat. Haura sampai terdorong maju mundur dibawah sana. Payudaranya bergoyang cepat. Suaranya juga terdengar nikmat dan V mulai dapat merasakan gelombang dahsyat telah berkumpul di lubang kencingnya.

“Ahhhh ahhhh ahhhhhh Hauraaaaaaa !” desah V mencabut penis itu kemudian mengocoknya ke arah perut Haura hingga menumpahkan cairan spermanya disana.

Crootttt crroottt croottt !!!

“Ahhhhhhhhh !!!” desah V ketika menyemprotkan spermanya.

Sperma itu belepotan membasahi perut rata Haura, Sebagian ada yang mengenai payudaranya, dan Sebagian ada yang sampai terkena lehernya. V pun puas hingga membuatnya ambruk menungging memegangi meja kerja Haura. V puas juga Haura dibawah sana. V dapat melihat kesempurnaan tubuh Haura yang sudah bertelanjang bulat. Indah, sempurna dan mempesona. V senang bisa memuaskan hasrat birahinya pada bidadari cantik disana.

V pun tersenyum sambil menindihi tubuh Haura yang masih tergeletak lemas. Mereka sama - sama ngos - ngosan setelah bersama - sama melakukan olahraga berat. Wajahnya yang cantik terlihat sayu kelelahan. V pun kembali mencumbunya setelah mengucapkan terima kasih padanya.

“Terima kasih yah... Haura !” kata V.

“Uhmmmmm auhmmmmm uhmmm sllrrrppppppp” desah mereka berdua.

Tak terasa langit sudah berubah menjadi gelap seutuhnya. Lampu remang - remang yang menyala menemani mereka berdua di dalam kantor pengasuhan. V asyik mencumbui bibir Haura tanpa menyadari kalau ada air mata penyesalan yang menetes jatuh di pipi indahnya.

Haura menyesal karena telah terbuai oleh sikap V dalam menaklukan hatinya yang sedang lemah karena kurangnya cinta dari suaminya. Tidak hanya itu, ia juga menyesal karena telah membiarkan lelaki lain bercinta dengannya. Haura menangis sambil mengucapkan kata maaf dari dalam hati.

Maafkan adek, mas ! Adek berselingkuh dibelakang mas !!!

Batin Haura menyesali perbuatannya.

Di waktu maghrib itu, mereka kembali berciuman menuntaskan sisa hasrat birahi yang mereka miliki.


*-*-*-*


BEBERAPA MENIT YANG LALU DI LUAR KANTOR PENGASUHAN

Hanna mengernyitkan dahinya saat melihat seorang santri yang tengah berdiri menantinya disini. Hanna terlihat ketakutan terlebih setelah melihat sikapnya dulu yang telah ia tunjukan di dalam kantor bagian pengasuhan.

Hanna pun ragu untuk melanjutkan langkah kakinya. Namun saat Hanna sedang berbelok arah untuk mencari jalan lain untuk kembali ke asramanya. Santri itu menyapa Hanna dari kejauhan membuatnya tak enak untuk bergegas pergi menjauh dari santrinya.

"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapa Lutfi.

"Walaikumsalam" Jawab ustadzah Hanna setengah ketakutan.

"Uhhmm ustadzah... Ana akan buru - buru karena waktu kita sedikit hehe... Ana udah nunggu lama daritadi untuk menunggu ustadzah keluar dari dalam kantor... Ana daritadi menanti karena ingin meminta maaf atas sikap ana di pertemuan kita sebelumnya" Kata Lutfi yang mengejutkan diri Hanna.

"Ehh iya gapapa kok" Jawab ustadzah Hanna kebingungan.

"Ana akui perbuatan ana salah ustadzah.... Ana udah dikuasai oleh hawa nafsu... Ana juga capek waktu itu makanya ana gampang buat meledak - ledak... Sekali lagi maafin ana yah ustadzah" Kata Lutfi memohon dengan tulus.

"Iya gapapa... Ustadzah maafin tapi jangan diulangi lagi yah... Ustadzah hargai sikap antum karena sudah menyesal... Tapi untuk kedepannya dirubah yah sikapnya agar bisa lebih baik lagi" Kata Ustadzah Hanna tersenyum.

"Syukron yah ustadzah... Ehmmm untuk kedepannya ana cuma ngerasa sepertinya cuma antum yang begitu peduli sama ana... Boleh gak nanti ana belajar privat sama antum untuk nanya - nanya pelajaran yang belum ana pahami... Boleh gak ustadzah ?" Tanya Lutfi memohon.

"Boleh banget Lutfi... Nanti bilang aja yah kalau mau belajar... Nanti antum tinggal buat janji mau dimanapun pasti ustadzah akan dateng kok" Kata Hanna tersenyum yang membuat Lutfi senang.

"Beneran ? Syukron yah ustadzah... Ya nanti ana kabarin deh kalau mau belajar sama antum... Permisi ustadzah ana mau berangkat dulu wassalamualaikum" Sapa Lutfi setelah dirinya ditunggu oleh pengajar bagian Ta'mir untuk memintanya bergegas agar tidak terlambat.

Hanna tersenyum setelah melihat perubahan sikap Lutfi yang tiba - tiba. Ia pun merasa bersemangat demi membantu santrinya itu agar bisa lulus dari pondok pesantren ini.

Sementara itu dibelakang Hanna, Lutfi menyeringai tersenyum setelah menuntaskan langkah pertama dalam menjalankan rencananya bersama pak Karjo.

"Muwehehe belajar ? Apa itu belajar ?" Lirih Lutfi sambil melakukan scout jump karena dihukum oleh bagian Ta'mir karena terlambat.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy