Sore hari di dalam kantor bagian pengasuhan, Haura sedang melamun sambil menatap layar monitor ditengah pekerjaannya guna membuat laporan bulanan. Berbagai macam pikiran telah hadir di dalam benaknya. Kekhawatiran, ketakutan dan penyesalan menjadi salah tiga dari berbagai macam pikiran yang mendominasi di dalam benaknya. Ia khawatir, apakah hubungannya bersama suaminya akan tetap baik - baik saja setelah dirinya melakukan perbuatan itu kemarin. Ia takut membayangkan berbagai kemungkinan terburuk yang akan ia terima apabila suaminya tahu mengenai sikapnya belakangan ini. Perceraian ? Haura menggeleng - gelengkan kepala tak sanggup membayangkan hal buruk itu terjadi. Ia pun menyesal karena tidak mampu menahan diri untuk bercengkrama dengan ustadz baru bernama V itu yang perlahan mulai mencuri perhatiannya. Ia tak bisa melupakan V, Ia tak bisa menghapus wajah V dan diam - diam ia juga tak mau kehilangan V yang perlahan mulai mengancam keberadaan suami di hatinya.
Haura pun menoleh menatap wajah V yang terlihat begitu fokus disana. Wajahnya, senyumnya bahkan suaranya disaat bercinta dengan dirinya kemarin masih ia ingat dengan jelas. Bahkan bentuk tubuhnya disaat telanjang dan juga rupa dari kemaluannya yang tegak mempesona terbayang - bayang di dalam pikirannya. Buru - buru Haura menggelengkan kepala untuk menghapus bayangan indah itu. Ia pun melenguh sambil menghela nafasnya karena lelah.
“Hahhhh capek !” kata Haura merasakan tubuh dan pikirannya lelah karena berbagai cobaan yang menimpa dirinya dan keluarganya.
Andai mas Hendra gak berubah... Andai mas Hendra tidak memiliki masalah dengan kemaluannya... Sudah pasti aku tidak akan selelah ini !
Batin Haura berandai - andai. Ia mencoba untuk fokus kembali terutama saat melihat waktu yang sudah semakin sore. Seketika Haura kembali terbayang akan perbuatan nista yang telah ia lakukan kemarin. Ia memegangi bibirnya sambil merasakan pergerakan bibir V ketika sedang mencumbunya. Haura tersenyum kemudian menatap ke arah V secara diam - diam. Tiba - tiba Haura menjadi kesal karena lagi - lagi pikirannya dikuasai oleh bayang - bayang wajah V lagi.
Sadar Haura... Kamu bukan miliknya... Kamu milik suamimu !
Batin Haura sambil memukul kedua sisi kepalanya dengan pelan. Haura pun heran, Haura juga penasaran akan keinginan hatinya yang sebenarnya. Ia sempat kepikiran untuk menjauhi V agar dirinya bisa fokus membangun kembali kisah cintanya bersama suaminya. Akan tetapi ia ragu kalau dirinya bisa melakukannya. Karena untuk saat ini saja, ia sudah rindu untuk mengobrolkan sesuatu dengannya. Haura kembali melirik wajah V secara diam - diam.
V !!!!
Sore itu di kantor pengasuhan tidak hanya ada Haura dan V saja. Hanna dan juga Rafi pun turut hadir disana untuk mengerjakan tugas laporan masing - masing bagian. Hanna dengan tugas bendaharanya, V dengan tugas sekretarisnya juga Haura dan Rafi dengan tugas sebagai ketua dan wakil ketua. Bulan lalu mereka sudah menyelesaikannya dan melaporkannya kepada pak Kiyai Jamal. Bulan ini demi memudahkan mereka dalam menyelesaikan laporannya, mereka pun menyicil tugas mereka masing - masing agar tidak keteteran di akhir nanti.
“Oh yah V... Bisa tolong berikan berbagai surat keluar yang sudah antum buat ?” kata ustadz Rafi yang berusia jauh lebih tua dari V juga member lain di kantor pengasuhan.
“Oh iya sebentar” jawab V.
V membuka lacinya, mengeluarkan berbagai jenis surat yang sudah ia buat. Setelah menumpuknya dengan rapih, ia pun berjalan menuju ke meja Rafi yang tempatnya berada di ujung. Saat ia berjalan, V merasakan sesuatu yang aneh pada pandangannya. Tiba - tiba pandangannya menjadi remang - remang. Matanya kesulitan untuk fokus menatap benda yang ada di depan. Perutnya terasa ngilu dan kepalanya pusing tak karuan. Ia pun jatuh berlutut membuat lembaran surat yang sudah ia bawa jatuh berhamburan ke lantai. Dalam posisi demikian, ia mengerang menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya secara tiba - tiba.
“Aarrghhhhhhhhhh” rintih V yang menarik perhatian Rafi, Haura dan Hanna saat mendengarnya.
“V antum gapapa ?” kata Rafi bergegas mendekati.
“V kamu kenapa ?” kata Hanna. Haura hanya diam tak bisa berkata - kata karena khawatir melihat penderitaan V di wajahnya. Wajahnya jelas sedang menahan semua deritanya. Bintik - bintik keringat juga mulai keluar dari pori - pori wajahnya. Haura khawatir, ia panik tapi tubuhnya membeku tak bisa berbuat sesuatu.
V !!!!!
“Arrgghhhhh aduuhhhhhhhh !” rintih V sekali lagi.
“V bertahanlah... Apa yang sedang terjadi !” kata Rafi memegangi pundak V.
“V aduhhhh gimana ini ?” kata Hanna yang terlihat panik bergerak kesana kesini.
V memejamkan matanya sambil memegangi kepalanya dan perutnya. Samar - samar matanya melihat seseorang yang berjalan mendekati tubuhnya. V melotot. Seketika V diam tidak mengerang lagi. Matanya terbuka melihat ke sekeliling. Rafi diam terkejut begitupula Hanna yang berdiri di dekatnya dan terakhir Haura turut menatap kondisi V yang tiba - tiba tidak mengeluarkan suara lagi.
“Antum gapapa V ? Apa yang sebenarnya terjadi ?” tanya Rafi mencoba merangkul pundak V untuk membawanya kembali ke arah kursi duduknya.
“V kamu bikin kita khawatir aja deh” kata Hanna yang nyaris menangis.
Haura pun mendekat mencoba melihat keadaan V untuk mengetahui kondisinya terkini.
“Syukurlah antum baik - baik aja kan V ? Aku takut banget loh tadi melihat kamu begitu !” kata Haura khawatir.
“Inii... Iniii dimana ?” jawab V dengan suara yang agak tergagap.
“Kita di pengasuhan V... Tenang... Coba beritahu kami apa yang sebenarnya terjadi ?” tanya Rafi.
“Di pe... Peengasuhan ? Mem... Memm... Memangnya apa yang terjadi ?” jawab V yang membuat orang disekitarnya terkejut.
“Kita ke dokter yah... Mumpung belum terlalu sore !” pinta Rafi.
“Ehhh buu... buuuat apaa ? Akk... Akkkuu baik kok !” jawab V.
“V kami begitu khawatir dengan kondisimu... Tolong periksakan dirimu yah ke dokter” pinta Haura memohon.
Loh Fitri ?
“Kondisi kamu tadi aneh loh... Kamu seperti menahan sakit di perut juga kepala... Tolong diperiksa yah” pinta Hanna.
“Taa.... Tappiiii aku baaiik kok” kata V keukeuh dengan kondisinya.
“V tolong... Ini bukan demi antum aja tapi demi kita semua... Kami tak ingin hal buruk terjadi pada diri antum...Tolong yah... Nanti antum akan ana antar kesana” kata Rafi. Haura dan Hanna pun tersenyum menatap V untuk meyakinkannya. V melirik ke sekitar dan ia cukup lama dalam memandang wajah Haura. Akhirnya setelah diyakinkan oleh semuanya V pun mengangguk menyetujui ide itu.
“Yaudah kita langsung berangkat yah sebelum semakin sore” kata Rafi meminta V untuk bergegas.
“Kami pergi dulu yah... Wassalamualaikum” pamit Rafi juga V.
“Walaikumsalam” jawab Haura dan Hanna kompak. Mereka berdua khawatir, mereka berdua pun berharap semoga keadaan V baik - baik saja. Terutama Haura yang sangat mengkhawatirkan kondisi V yang terlihat berbeda dari hari - hari sebelumnya.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Rafi dan V berjalan bersama mendekati gerbang keluar pondok menuju ke arah rumah sakit terdekat. Kebetulan rumah sakit itu memiliki kerja sama dengan pihak pondok untuk menangani para santri ataupun pengajar yang memiliki keluhan di kesehatannya. Para santri dan pengajar akan mendapatkan biaya gratis tiap kali memeriksa kesana. Sebenanya gak gratis juga sih karena dalam list biaya pendaftaran ulang terdapat biaya kesehatan. Mau itu sakit atau tidak sakit selama satu semester ke depan para santri tetap wajib membayarnya. Jadi santri itu akan merugi kalau dalam satu semester kedepan mereka tidak memeriksakan kondisi kesehatannya ke rumah sakit.
“Ehmmm us... Ustadzz... Jaaarakk ke rumah sakkit nya jaa.. jauuh gak ?” tanya V.
“Jaraknya ? Enggak kok... Paling lima menit jalan kaki udah sampai” kata Rafi menjelaskan.
“Ohhh... Gii... gitu” jawab V.
Rafi heran menatap V. Ia pun berfikir kenapa cara bicara V menjadi gagap seperti ini. Sebelumnya tiap kali bertemu dengannya di kantor pengasuhan, cara bicara V tidak pernah seperti ini. V selalu tampak percaya diri. Wajahnya juga cerah yang membuatnya terlihat begitu sempurna. Tak jarang beberapa santriwati atau ustadzah muda yang belum menikah diam - diam mengidolakannya. Tetapi sekarang ? Rafi menggelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Baik kita sudah sampai” kata Rafi.
V hanya diam mengikuti langkah kaki Rafi kemanapun ia pergi. V tak banyak membuka mulutnya untuk berbicara. Dirinya hanya mengikuti langkahnya sambil melihat - lihat ke sekitar untuk menghafal rute perjalanannya.
Tepat saat itu dirinya sampai di suatu ruangan yang berada di lantai satu. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Rafi dan V memasuki ruang kerja dokter yang bernama Ani Lestari.
Bu Ani atau dokter Ani berusia 29 tahun, ia sudah menikah dan memiliki seorang anak yang masih kecil. Wajahnya kecil, berkulit putih, senyumnya juga manis dan ia memiliki bibir tipis yang berwarna merah natural yang sempurna. Posturnya tinggi dan ia juga ramping membuat beberapa santri putra sampai rela bolak - balik kesini hanya demi melihat kecantikan dokter Ani.
“Assalamualaikum dok” sapa Rafi.
“Walaikumsalam... Eh ustadz Rafi yah” jawab Dokter Ani tersenyum sambil mempersilahkan mereka berdua duduk di kursi yang disediakan di depan meja kerjanya.
"Jadi gimana ? Ada keluhan apa ?" Tanya Dokter Ani tersenyum.
“Iya terima kasih dok... Perkenalkan ini ustadz Fikri... Dia masih baru disini... Baru - baru ini saya melihat dirinya menahan perih di sekitar kepala dan perutnya mungkin Bu Dokter bisa membantu mengetahui penyebabnya” kata Rafi membantu Fikri menjelaskan.
“Hmmm begitu... Maaf sebelumnya boleh tau nama ustadz dulu ?” kata Dokter Ani sambil memegangi sebilah pulpen dan selembar berkas berisi daftar nama pasiennya.
“Saya Fiii... Fiikkk... Fikrii dok” jawab V.
“Ustadz Fikri boleh kasih tau siapa nama lengkapnya” tanya Dokter Ani dengan ramah.
“Ohh hehehhe... Nama... Nama saya Fik... Fikri Hazami dok” jawab V.
“Ehmmm begitu... Boleh diberi tahu sejak kapan ustadz Fikri mengalami gejala ini ?” tanya Bu dokter.
“Ge... Geejala ? Gejala apa yah dok ?” tanya Fikri yang membuat Rafi dan Dokter Ani heran.
“Gejala yang ustadz alami akhir - akhir ini” tanya Dokter Ani heran sambil menatap ustadz Rafi.
“Rasa sakit yang tadi antum alami loh V.... Antum lupa ?” tanya Rafi mencoba membantu V mengingatnya.
“Ta... Tappiii aku gakk... Gak ngerasa apa apa kok” kata V.
“Ohh hehe... Coba kalau gitu ustadz boleh berbaring dulu disini” kata Bu Dokter meminta V untuk berbaring di ranjang pasien. Bu dokter pun mengenakan stetoskopnya. Ia mendekat ke samping V untuk bersiap memeriksanya.
“Maaf yah ustadz... Boleh diangkat bajunya ?” tanya Dokter Ani meminta izin.
“Ohhh iya” jawab V bergegas mengangkat bajunya menampakan perutnya dan dadanya yang putih.
Dokter Ani terkesima seketika saat melihat bentuk tubuh V. Tidak kekar memang, tapi tidak terlalu kurus apalagi gemuk. Posturnya yang jangkung sempurna dengan proporsi tubuhnya, apalagi saat dirinya mencoba menatap wajah V.
“Maaf yah ustadz... Tahan sebentar... Coba tarik nafasnya” kata bu Dokter sambil menempelkan stetoskopnya ke tubuh V.
V pun menuruti permintaan Dokter Ani dikala dirinya diminta untuk menarik nafas. Juga saat jemari Bu Dokter menekan - nekan salah satu sudut perutnya untuk memeriksa apakah ada titik tertentu yang dirasakan sakit olehnya. Setelah pemeriksaan selesai, Bu Dokter terlihat heran dengan kondisi tubuh V. V pun diminta untuk duduk kembali disamping Rafi.
“Gimana dok ?” tanya Rafi khawatir.
“Sepertinya kondisi ustadz Fikri dalam keadaan baik kok ustadz... Gak ada masalah dalam perutnya juga tekanan darahnya normal” kata Dokter Ani.
“Loh beneran ? Tapi saya lihat sendiri tadi kalau . . . . .” pembicaraan Rafi terpotong oleh genggaman tangan V di tangannya. V terlihat tersenyum sambil menenangkan Rafi.
“Aakk.. Aakku baa.. baik kok” kata V yang membuat Rafi heran.
“Mungkin waktu itu ustadz Fikri kecapekan kali yah... Jangan terlalu banyak aktifitas dulu untuk tiga hari kedepan sama sering - sering minum air putih yah” kata Dokter Ani memberikan nasehat.
“Ii... Iyya dok... Terimaa... Ka... Kaasih” kata V merasa lega ketika tahu kalau kondisinya memang baik - baik saja.
Dalam perjalanan pulang ke pesantren, Rafi selalu menatap V sambil memikirkan sesuatu. Ia masih heran dan ia masih tidak memahami tentang keadaan V tadi. Semakin mencoba berfikir, semakin pusing pula kepalanya karena tidak mendapatkan jawabannya. Rafi pun heran mengenai apa yang sebenarnya terjadi tadi.
Semoga dirimu gak kenapa - kenapa V ! batin Rafi.
*-*-*-*
Malam hari di tengah keheningan yang melanda pondok pesantren, terdapat suara keramaian yang berasal dari salah satu rumah. Suara itu terdengar menggoda, suara itu terdengar bergairah, suara itu tercipta dari sodokan - sodokan nikmat yang dilakukan oleh lawannnya. Diatas ranjang, tampak seorang wanita bertubuh ramping tengah terbaring pasrah menerima tusukan dari seorang pria tua bertubuh tambun.
Wanita itu sudah bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja yang masih melilit kepalanya. Tampak kacamata masih melekat di wajahnya. Payudaranya yang bulat mendal - mendul menerima serangan pria itu yang masih cukup kuat. Sodokannya pun semakin dahsyat. Membuat wanita itu semakin mendesah pasrah penuh nikmat.
“Aahhhh ahhhh masss... Ahhhh pelannn masss !!!” desahnya sambil memejam.
“Ahhh ahhhh dekkk.... Punya adek rapet banget... Ouhhh yahhh sempitnya !!!” desah pria tua itu.
Kulitnya yang sudah berkeriput memegangi pinggangnya yang ramping. Matanya yang agak rabun menatap wajah cantik dari wanita muda yang terpaut cukup jauh dari usianya. Pria tua itu tak tahan ketika matanya terhipnotis oleh keindahan gerakan payudara disana. Ia pun mencengkram kedua payudaranya kuat - kuat membuat wanita itu semakin mendesah tak kuasa menahan nikmatnya.
“Aahhhh massss.... Ahhhhhhh adek gak tahan lagi masss.... Adekkkk ahhhhh ahhhh ahhhhhhh !!!” wanita itu terpuaskan hingga mendapatkan orgasmenya tak lama kemudian. Wanita itu mengejang, tubuhnya melonjak - lonjak, pria tua itu pun diam sejenak membiarkan wanitanya menikmati orgasmenya. Pria tua itu tersenyum kemudian menundukan tubuhnya guna mencumbui wanitanya.
“Auhmmmm uhhmmmm uhhmmmm” Mereka berdua saling mencumbu, bibir mereka saling memagut penuh nafsu, Mereka saling terpuaskan ketika tubuh mereka bergabung menjadi satu. Ah tidak ada yang lebih memuaskan selain mampu membantu wanita yang lebih muda berorgasme karena penetrasinya. Itulah yang saat ini dirasakan oleh pria tua itu. Ia sangat puas ketika istri mudanya bisa terpuaskan oleh permainannya di usianya yang sudah tak lagi muda.
“Aahhhhh... Tunggu massss !!!” desah wanita muda itu dikala pria tua itu kembali menggenjot vaginanya.
“Aahhh Dekk Raniaa.... Mas udah gak tahan lagi ngelihat aksi binal kamu di ranjanggg... Ahhhh ahhhh” desah pria tua itu yang tidak lain merupakan kiyai dari pondok pesantren ini.
“Ahhh iyya mass... Ouhhhh dalemmm bangettt ahhhh masss !!!” desah Rania tak kuasa lagi.
Kiyai Jamal mencengkram kuat pinggul ramping Rania. Ia mengatur nafasnya. Matanya fokus menatap wajah cantik istrinya.
1... 2.... 1... 2....
Kiyai Jamal mulai menggerakan pinggulnya maju mundur secara teratur. Dikala ia maju, ia mendorong pinggulnya hingga penis yang menancap di dalam vagina Rania semakin mentok hingga mengenai rahimnya. Dikala ia mundur, ia nyaris melepaskan penisnya hingga sebagian dari ujung gundulnya terlihat keluar dari bibir vagina Rania.
Rania blingsatan menerima permainan Kiyai Jamal yang sangat luar biasa. Di usianya yang senja, ia masih memiliki tubuh yang prima. Inilah rahasia yang ia miliki hingga mampu membuat Rania mendesah keenakan menerima sodokan Kiyai Jamal.
“Ahhhh ahhh masss.... Ouhhhhhhh” Rania semakin memejam hingga jemarinya mencengkram kuat sprei ranjangnya. Ia tak kuat lagi menahannya, Tubuhnya pun terangkat dan payudaranya semakin kencang bergoyang.
“Ahhh dekkk.... Mas gakk kuat lagi... Dekkk... Ouhhh... Dekkkkkkk aakkkhhhhhh !!!!!” desah Kiyai Jamal saat ia mendapatkan orgasmenya.
“Aaahhhhhhhhhhh” Rania turut berteriak saat merasakan rahimnya terisi oleh semprotan sperma suaminya yang keluar begitu banyak. Rania memejam, ia pun menikmati pengisian rahimnya oleh sperma suaminya. Lalu ia membuka matanya dan melihat suaminya itu tengah tersenyum menatapnya.
“Terima kasih yah dek... Mas suka dengan aksi binalmu diatas ranjang” kata Pak Kiyai Jamal memuji istri mudanya.
“Hihihihi... Bukan apa - apa mas... Ini bentuk pengabdian adek untuk mas” kata Rania tersenyum yang membuat Kiyai Jamal semakin cinta.
Kiyai Jamal kembali menundukan tubuhnya kemudian mencumbui bibir istrinya hingga puas. Ia melakukannya sambil mendorong - dorong pinggulnya menyelesaikan satu tetes dua tetes sperma yang masih menetes dari lubang kencingnya. Setelah puas, ia pun berbaring disamping tubuh istri mudanya. Rania tersenyum menatap suaminya.
“Mas tidur dulu yah... Mas besok aja mandinya... Mas besok sibuk harus keluar kota soalnya” kata Kiyai Jamal.
“Iya mas gapapa... adek paham kok...” kata Rania tersenyum.
Walau memiliki perbedaan usia yang cukup besar tak serta merta membuat cinta Rania luntur begitu saja. Sebaliknya semakin lama ia tinggal bersama suaminya, cinta itu semakin tumbuh berkembang hingga membuatnya tak sanggup untuk meninggalkannya. Begitu kah ?
Huffttt kok selesai sih !!!
Tampaknya tidak terlalu karena sebenarnya Rania masih belum cukup puas ketika hanya bertempur dengannya selama satu ronde. Jauh di dalam hatinya, tubuhnya masih menginginkannya lagi. Tapi ia menghela nafasnya untuk menyadarkan diri. Kiyai Jamal sudah tua dan tidak mungkin untuk menuruti nafsu besarnya.
“Huftt setidaknya aku masih bisa dapet O” katanya lirih.
Ia pun melihat jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Ia mulai beranjak dari ranjangnya untuk mandi membersihkan diri. Saat ia bangkit, ia merasakan adanya cairan yang mengalir keluar dari dalam liang senggamanya. Rania pun berhenti sejenak sambil mengambil tisu yang terletak di meja kecil samping ranjangnya.
“Iyuhhh banyak banget keluarnyaaa” kata Rania terpana.
Berulang kali ia membersihkan sperma yang keluar dari lubang senggamanya menggunakan tisu. Ia agak bergidik tiap kali merasakan cairan itu mengalir keluar. Rasanya geli membuat Rania berkali - kali merinding merasakannya.
Kemudian, ia mengambil handuk dari dalam lemari. Ia melilit tubuhnya yang masih telanjang bulat. Ia melepaskan hijabnya dan berjalan dengan santai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat air shower itu turun, ia memejam merasakan kesegarannya. Rasanya nikmat, airnya pun hangat. Ia benar - benar merasa rileks dari mandi wajibnya di malam ini. Setelah usai ia kembali berpakaian seperti biasa. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah satu pagi. Tapi ia belum mengantuk. Ia pun memutuskan untuk membaca buku sejenak sambil membuatkan susu untuk menemaninya malam ini.
Ia membuka pintu, dari dalam keluarlah wanita cantik dengan hijab berwarna cream. Parasnya manis, wajahnya bersinar terang, tampak bibirnya yang tipis begitu mempesona, kacamata yang melekat di wajahnya pun melengkapi penampilannya. Ia duduk di kursi teras rumahnya untuk membaca buku sejenak sembari menunggu dirinya mengantuk. Ia pun meletakan secangkir susu yang ia bawa menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya turut meletakan buku bacaannya. Ia pun memandang ke sekitar sejenak untuk menikmati ketenangan.
Rania merupakan wanita yang sangat menyukai ketenangan, tak jarang di tempat tenang seperti ini, ia selalu membuka buku untuk membaca suatu kisah dari novel yang ia beli di luar pesanten. Novel cinta merupakan novel favoritnya. Sebagai wanita ia sangat mudah tersentuh oleh sikap seorang pria. Dulu saat masih kecil, ia begitu mengharapkan akan ada lelaki tampan yang menjemputnya dan menjadikannya kekasih hatinya. Tapi siapa sangka diusianya yang sekarang, ia justru dinikahi oleh seorang pria tua bertubuh tambun. Rania pun tertawa saat membayangkannya.
Ia duduk dengan tenang sambil membaca buku itu. Jemarinya bergerak membalik halaman buku itu satu persatu. Kata demi kata telah ia baca membuat beberapa kisah yang tertulis disana hanyut memasuki jiwa. Ia begitu larut dalam cerita romantis yang sedang ia baca. Ia pun jadi kepikiran, kenapa ia mau dinikahi oleh Pak Kiyai Jamal ?
Ia pun menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi itu. Ia memejam mengingat masa - masa ketika dirinya masih menjadi ustadzah di bagian pengajaran. Ingatannya membawanya menuju pada salah satu ustadz yang sempat menjadi satu bagian dengannya. Rania tersenyum mengingat masa itu.
“Apa kabar antum sekarang ustadz ?”
Rania juga wanita normal, jauh di dalam lubuk hatinya ia begitu mengharapkan oleh kehadiran lelaki tampan yang akan menjemputnya menjadi kekasih hatinya. Kenyataan yang harus ia hadapi ketika dinikahi oleh lelaki tua bertubuh tambun kadang menggoreskan luka di hatinya. Ia pun tersenyum sedih mengingat dulu ia nyaris dinikahi oleh ustadz itu. Siapa sangka Kiyai Jamal malah menikungnya di detik terakhir. Rania tentu kecewa, begitu pula dengan ustadz itu. Tetapi dengan dewasa Rania mencoba untuk mengalah. Apalagi kedua orang tuanya sudah mengizinkannya. Ia pun dengan yakin memantapkan hati bahwa Kiyai Jamal adalah lelaki yang terbaik untuknya saat ini.
“Saat ini yah ?” kata Rania menghela nafasnya.
Waktu berlalu Rania mulai mengantuk. Ia pun membereskan apa yang ia bawa keluar untuk kembali membawanya ke dalam. Ia pun memasuki ruang tamu dan meletakan buku bacaannya disana. Ia pun memasuki ruang dapur dan meletakan cangkir kosongnya disana. Saat ia hendak kembali menuju kamar untuk beristirahat, ia menemukan anak tirinya terbangun di malam hari. Rania mengintip sejenak menatap wajah dari lelaki itu yang tampak sedih. Sebagai seorang ibu, Rania pun datang mendekat untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Anggaa... Kok belum tidur” tanya Rania.
“Ehh Umi hehehe... Udah kok mi... Cuma kebangun tadi” kata Angga.
Rania tersenyum kemudian mendekati anak tirinya. Ia dengan penuh kasih sayang membelai kepala Angga untuk menenangkannya. Ia sangat tahu kalau ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
“Ada apa ? Umi tahu kok ada yang sedang kamu sembunyikan” kata Rania tersenyum.
“Hehehe kok Umi tahu sih... Iya nih cuma kepikiran aja kok Mi...” kata Angga.
“Hihihih anak Umi... Mikirin apa hayoo ?” tanya Rania kepada putranya yang hanya berjarak 4 tahun saja dari usianya.
“Angga habis mimpi buruk Mi... Angga gak bisa tidur lagi setelah itu” kata Angga mulai bercerita.
“Mimpi apa sih nak ? Boleh diceritain ke umi ?” tanya Rania tersenyum.
“Heheheh soal Hanna mi” kata Angga malu - malu.
“Hanna ? Ustadzah Hanna maksudnya ?” tanya Rania mengingat - ngingat.
“Iyya Mi... Ustadzah Hanna yang bertempat di bagian pengasuhan” kata Angga.
“Hmmm... Anak Umi lagi galau tentang cinta rupanya ? Apa hayoo yang kamu mimpii tentang calon kamu itu ?” kata Rania menggodanya.
“Hehehe Angga mimpi kalau Hanna menikah dengan lelaki lain Mi” kata Angga mencoba jujur.
“Ehhh beneran ?” kata Rania tak menduga.
“Hehehe iyya Mi... Makanya Angga jadi kepikiran gak bisa tidur lagi” kata Angga pada ibu tirinya. Rania paham kalau anak seusia Angga sedang mekar - mekarnya soal urusan cinta. Sebagai ibu yang baik Rania mencoba untuk menghiburnya untuk mengembalikan senyum yang pernah terhias di wajahnya.
“Angga... Itu cuma mimpi kok... Gak ada yang perlu kamu khawatirin... Umi paham loh apa yang kamu khawatirin saat ini...” kata Rania.
“Hehehe iyya Mi... Angga juga faham kok... Cuma Angga masih shock aja pas mimpi tadi” kata Angga.
“Kamu gak usah khawatir... Kamu itu pinter, kamu itu sholeh, kamu itu ganteng pasti Hanna gak akan mudah untuk berpaling darimu nak” kata Rania sambil mengusap kepala anaknya.
“Hehe iya Mi makasih yah” kata Angga.
“Cuman . . . . . “ kata Rania menambahkan yang membuat Angga menoleh menatapnya.
“Umi cuma bisa menasehati untuk tidak terlalu berharap padanya... Bagimu mungkin ia yang paling cantik, yang paling manis, yang paling sempurna lah pokoknya dibandingkan dengan wanita lain yang pernah kamu temui.... Tapi kita tidak pernah tau siapa jodoh kita nantinya... Siapa yang mengira coba kalau Umi akan menikah dengan Abi ?” kata Rania yang membuat Angga tertawa.
“Hahaha... Iya tau kok Mi.. Siapa yang mengira kalau wanita secantik Umi bisa jadi ibu Angga ? kata Angga memuji kecantikan ibu tirinya.
“Hihihi bisa aja kamu nak” kata Rania tersipu mendengar pujian ibunya.
Angga pun memeluk ibunya untuk berterima kasih karena telah membantunya. Sedetik kemudian ia pun mengarahkan wajahnya untuk mendekati wajah Rania. Bibirnya ia dekatkan untuk mencium bibir ibunya.
Cupppp !!!
Rania tampak kaget lalu tersenyum sambil menatap putra tirinya.
“Anak Umi mulai nakal lagi nih yah” kata Rania tersenyum yang membuat Angga ikut tersenyum.
“Hahahaha... Umi pasti masih bangun karena habis main sama Abi yah ? Umi mau main lagi gak bareng Angga ? Umi pasti merasa kurang kan setelah main sama Abi ?” kata Angga yang membuat Rania tersenyum malu.
“Tau aja kamu nak...” kata Rania tersenyum malu - malu.
“Kan Umi pernah bilang ke Angga waktu itu” kata Angga yang membuat Rania tersipu.
“Waktu itu ? Kapan ?” kata Rania malu - malu.
“Waktu itu Mi... Saat pertama kali Umi meminta Angga untuk meniduri Umi” kata Angga yang membuat wajah Rania memerah.
“Yaudah nemenin Angga ke kamar yuk” kata Angga menarik tangan Rania karena tak tahan.
“Ehh tunggu... Buru - buru amat sih Nak !” kata Rania tersipu.
Setelah memasuki kamar, mereka berdua langsung mengambil posisi. Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk mengatur semua. Mereka berdua pun duduk bersebelahan di tepi ranjang. Bibir mereka menyatu saling mencumbu. Bibir Angga terbuka memagut bibir ibu tirinya. Tangan kirinya sudah hinggap di payudara Rania. Ia meremasnya, mencengkramnya dan menikmati betapa kenyal dan bulatnya payudara yang dimiliki oleh ibu tirinya.
“Kamu kok makin jago sih nak ? Siapa yang ngajarin kamu menjadi pencium yang baik ?” tanya Rania sambil tersenyum ditengah percumbuannya.
“Auhmmmm uhhmmm... Uhmmm... Kan Umi yang udah ngajarin Angga begini” kata Angga yang membuat Rania kembali tersipu.
Mereka saling memejam menikmati percumbuan mereka. Nafas Angga pun memburu selagi bercumbu pada wanita cantik ini, dipeluknya tubuh Rania yang ramping, tangan satunya mulai menyelinap masuk untuk memainkan langsung payudara bulat ibunya. Angga dengan puas memainkan area dada Rania dengan meremasi dan menggenggamnya kuat.
“Aahhhhhh Anggaa..... Ahhhhhhh” kata Rania ketika lelaki tampan itu memainkan payudaranya yang bulat.
Mereka masih bercumbu tanpa pernah berhenti. Rania pun membuka matanya, ia tampak senang ketika lelaki tampan seperti Angga tengah mencumbui bibirnya.
“Kamu uhmmm.... Udah nafsu yahh... Auhmmm uhmmmmm” kata Rania ditengah percumbuannya.
“Auhhmmm uhmm... Iyya mi... Umi cantik bangett... Uhmmm... Angga jadi gak tahan sama Umi” kata Angga bernafsu terus mencumbu.
Rania tersenyum mendengarnya, diam - diam ia mulai menurunkan resleting yang ada di punggungnya. Angga pun diam sejenak saat sedikit demi sedikit ia dapat melihat kulit bening ibunya yang mulai terlihat. Mata Angga terbelalak ketika melihat belahan dada Rania yang sintal. Berulang kali ia kedapatan menenggak ludah hingga jakunnya bergerak. Setengah payudaranya pun nampak. Nafas Angga semakin berat saat melihatnya. Untuk kesekian kalinya, ia kembali terpana melihat payudara Rania yang begitu indah untuk dipandang.
“Ada apa Angga ? Kok diem ?” tanya Rania tersenyum saat melihat anak tirinya terpana melihat keindahan payudaranya.
Angga jadi terpaku tak bisa bergerak. Ia seperti terkena stun oleh serangan Rania. Nafas Angga semakin sesak, jantungnya semakin berdebar kencang, celana pendek yang dikenakannya terasa sempit karena kerasnya benda tumpul yang bersembunyi diantara selangkangannya.
Rania tersenyum, ia mengenggam tangan Angga dan menatap matanya dengan penuh keberanian. Jantung Angga semakin berdegup tak karuan. Tak pernah terbesit dalam bayangnya bahwa ia akan bercinta dengan ibu tirinya yang memiliki paras jelita.
“Kamu gak usah khawatir lagi yah nak ? Jangan takut kehilangan dia... Kalau dia bukan jodohmu... Umi siap kok buat gantiin dia” kata Rania sambil menatap mata Angga.
“Um.... Ummiii mau gantiin dia ? Jadi Isttrriii Angga ?” kata Angga gagap.
“Iyaahhhh... Kamu mau gak sayang ?” kata Rania mendekatkan wajahnya sambil mencolek dagu Angga.
“Ma... Mauuu Mii” kata Angga yang membuat Rania tersenyum.
“Kalau gitu... Ayooo jangan ragu” kata Rania sambil membimbing salah satu tangan Angga menuju payudaranya yang kenyal.
Nafas Angga memburu, tubuhnya menjadi tegang. Karena tak tahan ia kembali meremas payudara ibunya dengan penuh nafsu.
“Ouhhhhhh sayangggg” desah Rania.
Suara desahannya yang menggoda membuat tubuh Angga merinding saat mendengarnya. Angga seperti terhipnotis hingga tangan satunya terpanggil untuk meremasi payudara lainnya yang menganggur.
“Aahhhh iyyahhh... Seperti itu sayang.... Remas susu Umi... Ouhhhh” desah Rania yang membuat Angga semakin bernafsu.
Angga sudah hanyut oleh nafsu birahinya, otaknya telah dikendalikan oleh pikiran kotor yang diciptakan akibat godaan ibu tirinya. Wajah Angga kembali mendekat untuk mencumbui bibir Rania yang ranum.
“Ouhhhh... Uhmmmm Auhhmmmm” desah mereka berdua.
Mereka berciuman, mereka saling mencumbu dan saling memagut. Liur mereka yang bertemu saling menetes jatuh akibat dahsyatnya percumbuan mereka. Rania pasrah membiarkan anak tirinya memainkan payudaranya dan mencumbui bibirnya. Rania memejam merasakan nikmatnya rangsangan yang telah Angga berikan padanya.
“Ouhh Umii... Umii nakal yah udah buat Angga jadi begini” kata Angga ditengah percumbuannya.
“Ouhmmm uhmmm abis kamu ganteng sih Angga... Umi jadi gak tahan ingin dipuasi sama kamu... Umi jadi kangen untuk ngerasain kejantanan kamu lagi sayang” kata Rania menggodanya.
Bibir Angga semakin agresif dalam melumat bibir Rania, lidahnya turut aktif masuk ke dalam ingin bersilaturahmi. Tangannya dengan kasar mencengkram dan meremas payudaranya. Angga pun menurunkan gamis ibunya kembali hingga gamis itu turun ke pinggangnya. Saat jemari Angga bergerak untuk melepaskan branya, ia pun tersadar kalau selama ini ibunya tidak mengenakan bra sama sekali. Angga pun tersenyum sambil kembali mencumbui bibir ibunya.
“Umi nakalll yahhh.... Umi sengaja mau godain Angga yahh... Umi kok gak pake beha !” kata Angga mulai menurunkan cumbuannya untuk mengincar dada ibunya.
“Ahhhhhhh bukaaannn sayanggg... Umiii kannn ahhhhh... Umii mau tidur tadiiii” kata Rania keenakan saat dadanya dijilati dan dicumbui oleh Angga.
“Ehmm beneran ? sllrrpppp” desah Angga membuka mulutnya untuk menghisap dan menjilati puting Rania.
“Ahhhhhhhh Anggaaa !!!!” desah Rania.
Tangan kanan Angga meremas payudara kiri Rania, bibirnya turun menghisap puting susunya. Rania menjadi geli akibat rasa nikmat yang ia rasakan. Rania yang sudah bernafsu meminta Angga untuk melepas pakaiannya. Angga pun menuruti. Angga berdiri di hadapan Rania yang tengah duduk menanti di tepi ranjang tidur putranya.
Angga tersenyum menatap ibunya yang masih berhijab namun gamisnya sudah turun ke pinggangnya hingga memamerkan payudaranya. Ia melepas kausnya naik kemudian menurunkan celana pendeknya. Sebatang penis yang sudah mengeras mengacung tegak dihadapan wajah Rania. Rania terpana saat melihat keindahannya. Wajah putranya yang tampan, tubuh putranya yang kekar, kulit putranya yang bening ditambah dengan betapa besar dan kerasnya penis yang mengacung tegak disana membuat Rania tersenyum menatap wajah putranya.
“Makin gede aja sih punyamu sayang” kata Rania.
“Iya dong Mi... Abis keseringan dihisap sama Umi sih” kata Angga yang membuat Rania malu.
Rania pun berdiri, kemudian berjalan mendekati Angga. Bibir Rania terbuka untuk mencumbui bibir Angga. Jemarinya yang lentik tak tinggal diam dalam mengocok penis putranya.
“Auhmmmm udah keras banget lagi” puji Rania yang membuat Angga senang.
Rania mulai berjongkok dihadapan Angga. Mulut Rania mulai menganga memasukan penis kekar itu ke dalam mulutnya. Penisnya yang dihiasi oleh urat - urat syarat yang menonjol keluar membuat Rania semakin bergairah. Angga sampai merinding merasakan nikmatnya, penisnya terasa begitu hangat dan lembap ketika berada di dalam mulut manis Rania. Terlebih saat Rania mulai menggerakan kepalanya maju mundur. Bibir Rania mengatup seakan tengah mencekik penis Angga. Lidahnya di dalam bergerak aktif bagai seekor ular yang ingin melilit mangsanya.
“Aahhhhhh Umiiiiii !!!” desah Angga.
Sesekali Rania melepas kulumannya hanya untuk menjilati lubang kencingnya. Tangannya masih aktif mengocok batang penisnya terutama saat lidahnya mulai bergerak untuk menjilati sisi bawah penis putranya. Kemudian ia kembali memasukan penis yang semakin mengeras itu ke dalam mulutnya.
“Ohhhh Umiiii... Enakkk bangettt ahhhh” kata Angga mendesah.
Ukuran penis Angga yang cukup besar masih bisa ditelan seluruhnya oleh Rania. Angga pun sampai menggila tiap kali harus dikulum oleh nafsu buas ibunya. Ia pun melihat ke bawah. Ia menatap hidung Rania yang bersentuhan dengan rambut kemaluannya. Rania terlihat seperti membenamkan wajahnya demi mencaplok keseluruhan penisnya. Angga pun menggelengkan kepalanya tak bisa menjelaskan kenikmatan yang sedang ia rasakan.
Rania kembali berdiri sambil tersenyum menatap wajah Angga yang kelelahan. Angga seperti tak kuasa menahan kuluman Rania tadi. Rania kembali mencumbunya sejenak sebelum kedua tangannya bergerak untuk memelorotkan gamisnya sendiri.
“Umi tahu.. Kamu pasti sudah nungguin Umi telanjang kan ?” tanya Rania yang langsung disetujui oleh Angga.
“Hihihi.... Ini tubuh Umi buat kamu sayang” kata Rania setelah gamis itu melorot sepenuhnya.
Tubuhnya ramping, kulitnya pun bening, kepala Angga sampai pusing melihat rupa dari keindahan tubuh Rania. Saat ia melihat ke bawah, ia menenggak ludah ketika tubuh Rania hanya tertutupi oleh celana dalam berwarna kuning.
Angga langsung mendekat sambil mencumbuinya kembali. Angga bernafsu hingga ia tak peduli lagi dengan status yang ia miliki dengan Rania. Jemarinya gatal hingga memasuki celana dalam Rania. Ia mengocok bibir vagina Rania secara terus menerus. Atas bawah, atas bawah, jemarinya mengocok - ngocok vagina Rania hingga membuatnya semakin basah oleh genangan cairan cintanya.
“Auhmmmm sayang.... Ouhhh.. Auhmmmm... Uhmmm yahhh” desah Rania menikmati rangsangan Angga di tengah percumbuannya.
Cupp cuppp cuppp !
Angga telah melepas cumbuannya untuk mencupangi daerah bahu dan leher ibu tirinya yang sudah terbuka. Angga semakin bernafsu hingga tak sadar ia meninggalkan bekas memerah disana. Rania semakin mendesah hingga mulutnya terbuka lebar. Ia begitu keenakan menikmati pemanasan yang telah putranya berikan.
Angga pun mendorongnya hingga tubuh Rania terjatuh diatas ranjang tidurnya. Rania terbaring menatap Angga yang sudah siap mengambil posisi. Rania tersenyum begitupula Angga. Angga mendekat sambil mengocok penisnya yang makin lama makin membesar.
“Kamu udah gak tahan yah sayang ?” tanya Rania.
“Iya Mi... Umi nakal banget sihh... Angga masukin yah Mi” kata Angga setelah melebarkan kaki Rania.
“Uhhhhhhhhhhh” desah Rania ketika ujung gundul penis Angga baru menyentuh bibir vagina Rania.
Angga menggeseknya sejenak, atas bawah, atas bawah untuk merangsang cairan cinta Rania untuk keluar membasahi. Angga bernafsu menatap bibir vagina Rania yang berwarna pink. Vagina itu terlihat menggoda hingga membuat Angga tak sabar.
“Aaahhhhhhhh !!!” desah Rania saat ujung gundulnya mulai masuk membelah liang senggamanya.
“Ouhhhh nikmatnyaaaaa !!!!” desah Angga merasakan kehangatan dan kenikmatan yang tiada tara.
Angga mendorong pinggulnya pelan - pelan. Ia memejam menikmati cekikan vagina Rania yang tergolong sempit. Semakin ia mendorongnya, semakin nikmat lah apa yang dirasakan oleh penisnya. Rania tampak memejam dibawah sana. Ia begitu puas ketika batang penis anak tirinya bergerak masuk berpetualang di dalam vaginanya.
“Aaahhhh yahhhhh” kata Angga setelah menancapkan seluruhnya.
Angga pun menurunkan tubuhnya membuatnya berposisi seperti orang yang hendak melakukan push - up. Angga tersenyum menatap wajah ibu tirinya. Rania turut tersenyum. Sedikit demi sedikit Angga mulai menggerakan pinggulnya sambil menikmati keindahan wajah Rania disana.
Naik turun, naik turun, naik turun !!!
“Aahhhh sayanggg... Ahhhhh yahhhh... Ahhhhhh” desah Rania.
Angga tersenyum, sedikit demi sedikit ia mulai mempercepat Gerakan pinggulnya. Rasa nikmat yang mulai ia rasakan membuatnya tak tahan. Ia pun ambruk menindihi tubuh ibu tirinya. Bibir mereka kembali melekat. Tangan Rania memeluknya erat. Mereka bertempur dengan penuh nafsu setelah terbuai oleh hawa nafsu yang menjerat. Mereka tampak nekat tak peduli dengan hubungan mereka yang dekat.
Mereka bercumbu, pinggul mereka bergerak, Rania dibombardir oleh beribu tusukan Angga yang begitu kuat. Rania terpesona ditengah percumbuannya. Ia ingin mendesah tapi mulutnya terhalang oleh cumbuan Angga yang terlampau hebat. Mulut mereka lama saling melekat. Mereka tak ingin melepas percumbuan mereka. Rania nyaris kehabisan nafas setelah dilumat oleh bibir Angga.
“Hahhhh... Kamu ini yah.... Ahhhhhhh ahhhhh... Nakal banget udah bikin Umi begini” kata Rania tersenyum ditengah persetubuhannya.
“Ahhhh ahhhh... Kebalik kali Mi... Umi yang nakal karena ahhhhh... Udah bikin Angga nafsu karena aksi Umi yang binal” kata Angga ngos - ngosan membuat Rania tersipu.
Puas menindihi ibu tirinya, Angga meminta berganti posisi. Angga kini terbaring diatas ranjang tidurnya. Sementara Rania duduk dipangkuan Angga untuk bersiap - siap bergoyang.
“Udah siap sayang ?” kata Rania bertanya.
“Siap Umi” jawab Angga terpana menatap keindahan tubuh Rania dari bawah.
Angga memegangi pinggang ramping Rania. Rania tersenyum sambil menggerakan pinggulnya bergoyang. Salah satu tangannya bertumpu di perut Angga. Kemudian ia mulai bergoyang ke kiri, belakang, kanan dan depan secara berurutan. Wanita berhijab itu mendesah merasakan vaginanya teraduk - aduk oleh persneling besar putranya. Melihat wajah sayu Rania membuat Angga blingsatan tak karuan. Penisnya juga tak tahan ketika diaduk - aduk oleh goyangan Rania yang mantab !
“Ahhhh enakkk banget sayanggg... Umi sampai gak kuat... Ahhhhhhh” desah Rania terus mengaduk - ngaduk penis putranya.
“Aahhh iyyahh Mi... Angga juga gak tahan menerima goyangan Umi” kata Angga.
Rania mulai menaik turunkan tubuhnya dengan cepat. Hawa nafsu yang semakin bergairah membuatnya semakin bersemangat dalam menikmati penis putranya. Rania melonjak - lonjak diatas pangkuan Angga. Angga membuka mulutnya terpana akibat gerakan payudara Rania yang menggoda. Angga ingin meremasnya tapi tangannya tak sampai. Akibatnya ia hanya mengelus - ngelus paha Rania yang mantab sambil memeganginya agar tidak terjatuh.
Maklum Rania juga semakin terangsang hingga membuatnya ingin membiarkan penis Angga masuk menembus rahimnya, Dikala Rania naik Angga dapat melihat ujung gundul penisnya nyaris terlepas dari dalam vagina ibunya. Dikala Rania turun Angga dapat merasa penisnya menancap begitu dalam disana. Angga blingsatan begitu pula Rania. Rania semakin binal dalam menggoyang tubuhnya. Erangannya semakin menggoda. Desahannya pun semakin mantap membuat gelombang orgasmenya terpanggil untuk mendekat.
“Ahhhh sayanggg... Umiii mau keluarrrr... Ahhh ahhhh” desah Rania.
“Ahhhh Angga juga Mi... Goyangan Umi hebat bangett... Angga gak kuatttt” kata Angga.
Rania naik turun semakin cepat, begitupula Angga turut menggerakan pinggulnya.
Atas bawah , Atas bawah, Atas bawah. Angga memejamkan mata merasakan jepitan vagina ibunya yang semakin rapat. Angga tak kuat lagi. Ia pun mencengkram paha ibunya ketika gelombang orgasmenya mulai menyembur membasahi liang senggama ibunya.
“Aahhhh Ummiiiii !!!!!” desah Angga terpuaskan.
Tak berselang lama. Rania juga mendapatkan orgasmenya setelah liang senggamanya tersirami oleh semprotan hangat putranya.
“Aahhhhh ouhhhhh yahhhhhhh” desah Mereka berdua memejam menikmati orgasme masing - masing.
Rania pun ambruk menindihi tubuh Angga. Tubuh mereka berdua masih mengejang. Angga pun memeluk tubuh ibunya sambil mengeluarkan seluruh spermanya hingga tetes terakhir.
“Ouuhhh Umiiiii !!!” desah Angga sangat puas.
Mereka berdua pun kelelahan setelah menuntaskan syahwat mereka bersama. Sambil beristirahat mereka kembali berciuman untuk merayakan kemenangan mereka. Mereka menang karena menaklukan birahi masing - masing. Angga pun membalikan tubuh Rania. Angga diatas dan Rania dibawah. Ia mulai bangkit mengangkat tubuhnya sambil menatap keindahan tubuh Rania yang kelelahan.
“Hahhh... Umi binal banget sih... Hahhh.. Hahhhh” kata Angga ngos - ngosan.
“Hihihi terima kasih pujiannya Anggaa” kata Rania tersenyum yang membuat Angga semakin gemas.
Perlahan - lahan Angga mengeluarkan penisnya dari dalam vagina Rania. Saat penis itu keluar, sebuah cairan kental berwarna bening keluar dengan deras nyaris membasahi sprei ranjangnya. Beruntung, dengan sigap Angga mengangkat kaki Rania hingga mengurungkan spermanya untuk keluar dari dalam vagina Rania.
“Ehhh Angga apa yang kamu lakukan ?” tanya Rania.
“Heheheh.... Angga mau nyimpan sperma Angga di dalam biar gak keluar” kata Angga.
“Hahh maksudnya ? Angga mau Umi hamil ?” tanya Rania.
“Hehehe Angga pengen punya adek Mi” kata Angga yang membuat Rania tertawa.
“Hihihih dasar.... Iya deh... Umi akan jaga baik - baik” kata Rania yang membuat Angga senang mendengarnya.
Rania pun bangkit untuk berpamitan pada putra tercintanya. Ia mulai mengenakan gamis santainya kembali. Saat ia berjalan keluar ia merasakan sperma Angga mengalir keluar membasahi paha bagian dalamnya. Rania kembali bergidik nikmat sambil tangan kanannya bertumpu pada salah satu dinding ruangan. Angga pun tersenyum bisa kembali menikmati tubuh indah ibu tirinya.
Saat memasuki kamarnya, ia menemukan suami tercintanya masih tertidur dengan lelap. Dengan penuh kasih sayang, Rania mendekat untuk mengecup pipi keriput itu. Terlihat Kiyai Jamal tersenyum setelah menerimanya. Rania pun ikut tersenyum kemudian ia berkata dalam hati.
Memang pilihan untuk menikah denganmu merupakan pilihan terbaik mas... Karena itulah aku jadi bisa mengenal Angga dan bisa tidur dengannya
Rania pun melepas gamisnya serta hijabnya untuk bertelanjang bulat di kamar. Ia kembali mengenakan handuk untuk kembali mandi di malam ini. Jam sudah menunjukan pukul setengah dua pagi. Rania hanya tersenyum merasakan kehidupan dengan keluarga barunya.
Saat ia hendak keluar dari kamar, ia menemukan hapenya berdering. Tampaknya ada sebuah pesan masuk yang ia terima dari seseorang.
“Siapa yang mengirimi pesan selarut ini ?” tanya Rania.
Saat ia membuka layar kunci hapenya, ia pun tersenyum saat melihat ada nama Syifa disana.
*-*-*-*
Esoknya di pagi hari, sekitar pukul lima lebih sepuluh menit di dekat kantor bagian penggerak bahasa. Adit sedang menemui Rachel secara diam - diam. Walau orang - orang sudah tahu bahwa mereka akan segera menikah di bulan Syawwal nanti, tapi tetap saja status mereka saat ini masihlah belum menikah. Segala macam tindakan yang mengindikasikan pertemuan antar dua orang yang memiliki jenis kelamin berbeda akan dilarang. Walau sudah mengetahui hukuman pasti dari tindakan ilegal ini, tetapi tetap saja Adit dan Rachel tak mampu untuk membendung rasa rindu mereka untuk bertemu.
Pagi itu Adit mengenakan kaus berlengan pendek yang ia padukan dengan celana training panjang berwarna gelap. Ia juga mengenakan sepatu jogging berwarna abu - abu. Sedangkan Rachel ia mengenakan hijab berwarna hijau tua yang ia padukan dengan jaket tebal untuk melindungi dirinya dari hawa dingin yang menguasai pagi ini.
Mereka berdua mengobrol dengan santai. Gigi - gigi mereka pun terlihat dikala senyum terhias di wajah mereka ketika mendengarkan candaan dari pasangan mereka. Kadang obrolan mereka menjadi lebih serius ketika membahas mengenai masa depan mereka khusus nya setelah mereka berdua nanti menikah. Mereka malu - malu bahkan melempar pandangan dikala lawan bicara mereka mulai mengangkat wajahnya untuk menatap pasangan mereka.
"Nanti setelah kita menikah... Apa ada sesuatu yang kamu inginkan di keluarga kita ?" Tanya Adit.
"Sesuatu mas ?" Tanya Rachel belum menangkap apa yang Adit mau.
"Iya kamu ingin keluarga seperti apa ? Anak seperti apa ?" Tanya Adit menjelaskan.
"Ohhhh ahahaha.... Aku mah ikut mas aja... Aku akan manut menuruti apa yang mas mau" Kata Rachel tersenyum.
"Beneran ? Lalu apa masih ada cita - cita yang belum bisa kamu wujudkan sebelum kita menikah nanti ?" Tanya Adit.
"Ehmmm entahlah mas... Sepertinya tidak ada.. Pokoknya setelah aku menikah dengan mas nanti.. Aku akan pasrahkan semua hidup aku untuk mas.... Aku akan mengabdi untuk mas.... Aku akan membahagiakan mas dengan menuruti semua perkataan yang mas mau" Kata Rachel tersenyum yang membuat Adit tak tahan ingin menciumnya.
"Kamu ini... Bikin mas gemes aja" Kata Adit gemas.
"Ahahahah gak boleh mas... Belum halal" Kata Rachel menjulurkan lidahnya mengejek calon suaminya.
"Mulai nyebelin kamu yah dek... Mas jadi pengen nyubit kamu" Kata Adit semakin tak tahan.
"Aahhahah gak boleh pokoknya gak boleh" Jawab Rachel dengan suaranya yang kecil.
Huffttt jadi pengen cepet nikah deh biar bisa nyubit ukhty satu ini !
Tak terasa mentari mulai bersinar memberikan kehangatannya. Menit demi menit yang telah berlalu tak begitu terasa bagi dua sejoli ini ketika sedang bersama. Khawatir apabila diri mereka ketahuan oleh orang lain. Mereka pun berpisah dengan senyum lebar di wajah. Mereka tampak senang dengan pertemuan yang tergolong singkat.
"Makasih yah dek.... Jaga dirimu baik - baik" Kata Adit sebelum berpisah.
"Iya mas... Mas juga yah" Jawab Rachel tersenyum.
Adit juga tersenyum dalam perjalanan pulangnya menuju asrama. Ia merasa bahagia bisa bertemu dengan wanita secantik dan seindah dirinya. Adit tak sabar ingin segera menikahinya, membangun keluarga bersamanya dan beranak - pinak dengannya.
"Ahhh dek Rachel !" Kata Adit dalam perjalanan pulangnya.
Sementara Rachel, setelah melepas rasa rindunya dengan calon suaminya. Ia diam - diam berjalan ke arah belakang gedung kelas menuju area persawahan yang dimiliki oleh warga sekitar. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor bagian yang ia tempati. Kira - kira ia hanya perlu berjalan selama lima menit untuk menuju belakang gedung kelas ini. Terlihat pagar pembatas yang membentang mengelilingi pondok pesantren. Setelah berjalan sebentar ia pun menemukan adanya sebuah pintu gerbang yang dikunci oleh seseorang. Diam - diam Rachel mengeluarkan kunci dari dalam saku jaketnya untuk membuka gembok tersebut. Sebenarnya pintu itu diperuntukan bagi ustadz senior yang kebetulan memiliki lahan sawah di belakang. Pintu itu sering dilewati oleh para ustadz senior untuk memudahkan mereka ketika ingin membajak atau mamanen sawah mereka.
Setelah memasuki pintu tersebut, Rachel menutupnya secara hati - hati. Diam - diam ia berjalan ditengah kehangatan sinar mentari yang baru bersinar. Langkah demi langkah ia jalani melewati petak demi petak sawah untuk menuju sisi bagian tengah dari area persawahan yang luas. Ia pun menemukan adanya gubuk yang berdiri tegak disana. Ia pun menuju kesana lalu mendudukan dirinya di tepi gubuk tersebut sambil melihat area sekitar.
“Hahhhh indahnya” kata Rachel setelah melihat hijaunya pemandangan indah disekitarnya.
Ayo Rachel... Lakukan sekarang !
Suara hati itu kembali membisiki telinga Rachel. Rachel pun melihat sekitar. Keadaan sangatlah sepi. Tidak ada orang sama sekali. Mobil yang baru saja melewatinya melalui jalan terdekat terlihat kecil di pandangan Rachel. Itu membuktikan kalau jarak dari jalanan saja sangat jauh.
Rachel pun mengeluarkan hapenya, ia menyandarkannya pada tepi gubuk kemudian mengarahkan kamera depan menuju ke arahnya. Rachel tersenyum saat melihat wajah cantiknya di layar. Tanpa menunggu lama lagi. Rachel mulai menurunkan resleting jaketnya. Tampak kaus berlengan panjang yang tersembunyi di balik jaket itu terlihat. Ia dengan rapih melipat jaket itu kemudian menaruhnya di samping hapenya lalu ia kembali melihat sekitar untuk melakukan langkah selanjutnya.
Gleggggg !!!
Rachel menenggak ludah, ia sangat gugup dengan kondisi yang ada disekitarnya. Antara ragu tapi mau, ia semakin tertantang untuk melakukan aksinya. Sedikit demi sedikit perutnya yang berwarna putih bening itu terlihat, pusarnya pun terungkap, tetapi ia masih ragu hingga dirinya menurunkan kausnya itu kembali.
“Aduhhhh” kata Rachel gugup sambil melihat ke arah sekitar.
Ia kembali mengumpulkan keberaniannya. Sedikit demi sedikit, secara perlahan - lahan kaus yang dikenakannya sudah terangkat hingga melewati kepalanya. Rachel tersenyum malu merasakan hembusan angin yang menerpa kulit mulusnya. Rachel pun menutupi tubuhnya menggunakan tangan seadanya. Tubuhnya sudah setengah telanjang menyisakan bra nya saja yang masih menutupi payudaranya. Rachel tersenyum dengan nakal menghadap ke arah kamera yang sedang merekam keadaan dirinya. Kedua tangannya hinggap di payudaranya. Ia meremasnya pelan sambil mendekatkan tubuhnya agar kamera itu dapat melihat lebih jelas kenakalan yang sedang ia lakukan didalam gubuk sawah tersebut.
Kait bra sudah ia lepas, saat bra itu jatuh nampak kedua putingnya yang berwarna merah muda juga ukuran payudaranya yang berisi terlihat di dalam layar kamera itu. Nafas Rachel mulai berat, ia menikmati ketelanjangan dirinya. Berulang kali ia meremas payudaranya, berulang kali ia memainkan putingnya dan berulang kali pula ia memejam nikmat merasakan getaran yang merangsang seluruh jiwanya.
“Ahhhhhhhhh” desah Rachel diam - diam.
Turunkan celanamu Rachel... Ayo mumpung sepi !!!
Tanpa menunggu lama lagi, Rachel menurunkan celana training-nya secara sedikit demi sedikit. Pahanya berukuran mantap, celana dalam berwarna putihnya pun terungkap. Ia benar - benar telanjang menyisakan hijab beserta celana dalam putihnya saja.
Sambil menahan nafasnya yang berat, ia mengambil hape miliknya kemudian berjalan - jalan ditengah sawah merasakan kebebasan yang sedang dinikmatinya. Terlihat di layar kamera hapenya seorang wanita berhijab tengah berjalan - jalan ditengah sawah sambil menampilkan payudaranya yang indah. Tidak hanya payudaranya bahkan perut ratanya juga pusarnya yang menggoda turut ia tampilkan.
Rachel tak banyak berbicara saat itu. Ia hanya tersenyum puas merasakan apa yang sedang ia rasakan sekarang. Ia pun berjongkok kemudian melepas celana dalamnya.
“Uhhhhhhhh” desah Rachel saat merasakan vaginanya sudah sangat basah.
Cairan cintanya sudah meluap hingga membasahi sebagian sisi depan celana dalam miliknya. Rachel mengarahkan hapenya untuk memperlihatkan vaginanya yang basah. Tangan satunya yang menganggur ia dekatkan ke arah vaginanya untuk mengusap - ngusap titik sensitif itu hingga liang senggama miliknya menjadi semakin becek.
“Ahhh ahhhhhh... Lihatt... Ehmmm akuu udahh basahhh” kata Rachel bagai sedang ngevlog di tengah sawah.
Rachel keenakan hingga tak sadar matanya terpejam penuh nikmat. Jemarinya dibawah terus mengocok vaginanya. Terdengar suara cipratan air dari dalam liang senggamanya. Rachel mendesah keenakan. Ia merasa nikmat. Sebuah erangan yang menggoda pun terucap dari mulut manisnya.
“Ahhhh ahhhhhhh ahhhhhhh” desah Rachel.
Kamera hapenya terus merekam adegan nakalnya yang sangat menggoda. Rachel tak mengira kalau sifatnya yang narsistik ini bisa membawanya menjadi seperti ini. Sejak dulu, Rachel merupakan pecandu media sosial, ia sangat sering mengunggah foto dirinya khususnya mengenai foto selfie yang selalu menjadi gaya favoritnya. Semua bermula ketika ia hendak mengunggah foto selfienya, sebelum mengunggahnya Rachel terbiasa mengedit fotonya terlebih dahulu untuk mengatur komposisi cahaya, kontras dan lain sebagainya agar fotonya bisa terlihat lebih menarik. Kala itu ia cukup lama menatap foto dirinya. Ia pun terpana akan kecantikan wajahnya, keindahan matanya dan semua pesona yang melekat pada wajahnya sendiri. Sejak itu, ia mulai mengoleksi foto dirinya sendiri kemudian menguploadnya di media sosial hanya untuk mendapatkan pujian dari followernya yang hampir mencapai seratus ribu. Rasa narsis pada dirinya semakin menjadi, Ia mulai merekam kegiatan dirinya sendiri mulai dari kegiatannya di kamar, saat baca, makan, menonton film. Setelah merekamnya, ia pun menontonnya dari awal sampai akhir. Ia tak pernah bosan untuk menonton ulang kegiatan yang baru saja ia lakukan. Tak sengaja saat dirinya selesai mandi, penampilan tubuhnya yang indah itu terekam oleh kameranya sendiri. Saat Rachel menontonnya, ia merasakan adanya getaran kepuasan mengenai tubuhnya yang sempurna. Tak cukup sekali, ia mulai ketagihan merekam dirinya dikala tidak berpakaian. Ia sering melakukannya saat di rumah, kebiasaan ini pun terbawa hingga dirinya di pondok saat menjadi seorang ustadzah. Kegiatan di asrama pengajar putri yang selalu ramai membuat dirinya sering berjalan - jalan untuk mencari lokasi sepi untuk memuaskan hasrat narsistiknya yang sudah menjadi - jadi. Ruang kelas, ruang kantor bagian bahkan kamar mandi umum di dekat gedung kelas telah menjadi saksi bisu mengenai aksi nakalnya itu.
Kebiasaan buruknya pun bertambah. Seolah ketagihan, ia pun mulai mencari cara lain demi memuaskan sifat narsistiknya. Percobaan tidak memakai bra telah ia lakukan dan baru - baru ini ia berhasil memuaskan hasratnya saat mengajar di kelas tanpa mengenakan dalaman apapun bahkan ia tak mengenakan kemeja dibalik blazer yang menutupi keindahan tubuhnya. Walau kemejanya sempat hilang secara misterius, beruntung kemejanya bisa kembali lagi walau dengan cara yang mencurigakan.
Ia kini ingin memuaskan hasratnya lagi, Bertelanjang di ruangan terbuka ? Kenapa tidak ? Ia berhasil melakukannya sekarang, ia tengah merekam kenakalan dirinya ditengah sawah. Ia sungguh menikmatinya hingga mengabaikan keadaan sekitar. Ia mengocok vaginanya, menggesek - geseknya pelan hingga liang vaginanya semakin licin akibatnya terlapisi oleh cairan cintanya.
“Ahhhh ahhhhhh uuhhhhhhhh” desah Rachel sambil mengarahkan kameranya ke arah wajahnya yang telah sange berat.
Kenikmatan itu mulai memuncak, tubuhnya bergetar merasakan sesuatu yang akan segera meledak. Rachel merapatkan bibirnya, ia menahan suaranya saat gelombang orgasme bersiap memuncrat melalui lubang kencingnya.
Rachel pun merapatkan kaki - kakinya.
“Uhhhhh uhhhhh uhhhmmmm ahhhhhhhhhh” desah Rachel membuka mulutnya.
Crreettttt crettt creeetttt !!!
Cairan cintanya menyembur dengan deras mengairi tanaman padi yang tumbuh didepannya. Padi itu seolah terpupuki oleh cairan orgasme Rachel yang subur. Tubuh Rachel bergejolak, ia terlonjak - lonjak, getarannya sangat dahsyat hingga membuatnya tak dapat menguasai tubuhnya yang terasa ingin meledak.
“Aaahhhhhhhh” suara desahannya pun menggelora bagai gaung merambat ke seluruh area persawahan.
Beruntung genggamannya sangat kuat hingga hape miliknya tidak jatuh saat ia mendapatkan orgasme terdahsyatnya. Rachel beristirahat sejenak karena tubuhnya sangat lemas setelah mendapatkan orgasme terdahsyatnya. Nafas Rachel terengah - engah. Ia sangat kelelahan dengan banyaknya cairan yang keluar dari lubang kewanitaannya.
“Hahhhhhh hahhhhh hahhhhh” desah Rachel menghela nafasnya.
Setelah energinya terkumpul lagi, ia mulai beranjak menuju gubuk itu untuk mengenakan satu persatu pakaiannya kembali. Alih - alih memulainya dari pakaian dalam, ia justru meninggalkan dalamannya di dalam gubuk kayu itu. Ia langsung mengenakan celana training panjangnya baru disusul kemudian dengan kaus berlengan panjangnya. Setelah menaikan kembali resleting jaketnya, buru - buru ia berjalan pulang ke dalam area pondok dengan langkah kaki yang gontai. Ia tampak kesulitan hingga membuatnya terlihat seperti seorang akhwat yang mabuk berat.
“Hahhh hahhhh hahhhh... Untung gak ada yang lihat” kata Rachel tersenyum lega.
Ia pun melihat galeri hapenya. Nampak banyak video yang merekam kegiatan nakalnya di dalam pondok. Rachel memang mengoleksinya dan ia melakukannya untuk dirinya sendiri. Lebih tepatnya untuk memuaskan hasrat narsistiknya sendiri.
Setelah berjalan cukup jauh dari gubuk kayu tadi. Seorang pria tua yang mengenakan topi petani datang membawa perlengkapan tani seperti arit dan pupuk untuk berkerja di ladang miliknya. Tak sengaja saat dirinya sampai di gubuk kayu itu, ia menemukan satu set celana dalam beserta bra dari seorang wanita. Pikirannya langsung kotor terlebih saat ia melihat dari kejauhan terdapat seorang wanita berhijab yang tengah berjalan menuju area pondok.
“Apa mungkin ustadzah itu meninggalkan pakaiannya disini ?” kata petani tua itu.
Tanpa berpikir panjang, pria tua itu langsung menurunkan celananya dan mengocok penisnya menggunakan celana dalam yang baru saja Rachel tinggalkan.
“Aahhh ahhhh ustadzahhh !!!” desah pria tua itu.
*-*-*-*
Sementara itu di deretan asrama pengajar yang sudah memiliki pasangan, Haura sedang bersantai menikmati keindahan pagi di depan teras rumahnya. Ia sedang duduk menatap langit cerah di atas sana. Di depan mejanya terdapat secangkir teh hangat untuk menemani keadaan paginya. Selembar kertas ia pegang menggunakan tangan kirinya. Matanya sibuk membaca sebuah tulisan yang tercatat disana.
"Bunga Mawar berarti. . . . Bunga Mawar Putih berarti. . . . " Kata Haura menghafalkan tiap kata pada selembar kertas yang ia pegang.
Entah kenapa akhir - akhir ini Haura jadi tertarik mengenai sifat bunga beserta namanya. Tadi saja disaat matahari belum muncul ke permukaan, ia sempat mendatangi taman bunga hanya untuk mencari tahu nama dari bunga - bunga yang ada disana. Ia begitu terpukau oleh keindahannya dan juga filosofi yang ada di balik namanya.
Namun ketika ia terpikirkan oleh bunga otomatis pikirannya juga tertuju pada sosok V yang membuatnya jadi seperti ini. Haura buru - buru menenggak minumannya lagi. Ia pun merenung menyesalkan perbuatannya di hari itu. Diam - diam Haura menyentuh vaginanya dari luar celana training yang dikenakannya. Membayangkan penis V sudah pernah keluar masuk di dalam liang kewanitaannya membuat ia menyesal ingin menangis. Ia ingin meminta maaf kepada suaminya karena telah berselingkuh di belakangnya. Haura merasa ternoda, rasanya ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri yang sudah mengkhianati sang suami.
Akan tetapi ia juga khawatir mengenai kondisi V di kemarin sore. Entah kenapa tiba - tiba V merasakan sakit kepala, anehnya Ustadz Rafi yang telah menemani V berobat kemarin berkata bahwa kondisi V baik - baik saja. Setidaknya itulah yang dokter Ani katakan padanya kemarin.
"Huuffttttt" Desah Haura bingung dengan kondisi hatinya.
Hati Haura bergejolak, terkadang ia begitu takut apabila dirinya kembali berzina karena sudah terlalu nyaman dengan sikap V padanya. Namun dilain sisi ia tak bisa jauh darinya karena sudah terlalu nyaman dengannya. Ia rindu pada kehadirannya disampingnya, ia rindu mendengar kata - katanya dalam menaklukan hatinya bahkan ia rindu ingin merasakan sentuhan tangan dan bibirnya di tubuhnya.
"Astaghfirullah mikirin apa sih aku ini" Kata Haura menyadarkan dirinya.
Tak berselang lama, tampak dari kejauhan sosok kekar berkulit gelap yang sedang berjalan menuju rumahnya. Haura samar - samar melihat sosok itu. Tetapi Haura belum bisa mengenalinya karena jarak yang masih cukup jauh dari pandangannya. Haura pun diam mengamati. Lama sosok itu berjalan barulah ia menyadari kalau itu adalah pak Karjo, seorang tukang bangunan yang telah menjadi kepercayaan suaminya karena etos kerjanya.
Haura pun menjaga sikapnya, ia menutup cangkir teh yang baru saja ia habiskan kemudian merapihkan lembaran kertas yang sedang berserakan diatas meja di teras rumahnya.
"Assalamu'alaikum ustadzah hehehe" Sapa Pak Karjo.
"Walaikumsalam pak. . . " Jawab Haura tersenyum dalam menyambut kehadiran tamunya.
Manisssnyyaa ustadzah satu ini ! Batin Pak Karjo mengamati keindahan Haura dari atas ke bawah.
Kerudung gelap yang membalut kepalanya, kaus lengan panjang berwarna biru langit yang tidak ketat juga celana training yang memiliki warna serupa dengan kausnya membungkus kakinya yang jenjang.
Pak Karjo terpana menatap keindahan ukhty - ukhty satu ini. Walau Haura tidak mengenakan pakaian yang ketat hingga tubuhnya tidak tercetak begitu jelas tetapi tetap saja Pak Karjo bernafsu melihat wajahnya yang manis menggoda. Sebaliknya ia justru lebih bernafsu pada seorang akhwat yang berpakaian tertutup seperti ini. Ia semakin penasaran mengenai rupa yang tersembunyi didalamnya. Ia pun berandai - andai ketika wajahnya yang nafsuin itu mendesah - desah menerima sodokan penisnya. Suaranya yang menggelora membangkitkan hawa birahinya. Ia pun yakin kalau Haura ini sebenarnya merupakan ustadzah yang binal terlebih setelah ia mendengar kabar kalau suaminya merupakan penderita impoten akut. Haura pasti tersiksa buktinya ustadz baru itu aja bisa sukses mencumbunya.
Kalau orang baru sepertinya aja bisa mencumbunya kenapa orang lama sepertiku tidak ?
"Ada apa yah pak Karjo kemari ?" Tanya Haura mengejutkan kuli bangunan itu.
Pak Karjo tidak langsung menjawabnya, ia menatap wajah Haura sejenak guna menikmati keindahannya yang memukau. Kulit wajahnya yang cerah, bibir tipisnya yang kemerahan. Pak Karjo langsung tahu kalau Haura merupakan tipe wanita yang menjaga penampilannya. Matanya yang indah dengan bola matanya yang bersih membuat Pak Karjo semakin terpesona oleh ustadzah muda yang sedang berdiri dihadapannya.
"Pakkkk !!!" Sapa Haura menyadarkan pak Karjo dari lamunannya.
"Ehh ustadzah Haura hehehe... Maaf saya jadi melamun deh" Kata pak Karjo malu.
"Ahahaha bapak ini nanti kesambet loh... Mari duduk dulu" Ajak Haura dengan sopan.
"Iya... Terima kasih ustadzah kekekekeke" Jawab Pak Karjo.
Setelah mereka duduk, Haura memberikan segelas minuman kemasan yang sudah tersusun rapih di meja teras rumahnya. Hendra yang merupakan suaminya sengaja menghidangkan minuman tersebut untuk para tamu - tamunya yang berkunjung ke rumahnya.
"Terima kasih yah us" Kata pak Karjo yang langsung disambut senyuman oleh Haura.
Duhhhh sabar Karjo... Jangan terburu - buru... Inget rencana yang sudah kamu buat !
Pak Karjo menarik nafasnya untuk mengatur hawa nafsunya yang sudah memuncak. Penisnya saja sudah mengeras dan pikirannya sudah kemana - mana melanglang buana membayangkan berbagai pikiran kotor yang hadir di benaknya.
"Jadi gini us... Hehe.... Ustadz Hendranya ada ?" Tanya Pak Karjo berbasa - basi dahulu.
"Suami aku lagi pergi loh Pak... Ada keperluan apa yah ? Biar nanti aku sampaikan" Jawab Haura tersenyum dengan ramah.
Pas banget ! Batin Pak Karjo sambil mengatur nafasnya ketika kembali mendapatkan senyuman dari Haura.
"Ohh enggak... Cuma ini kok us... Saya ingin memberikan laporan kehadiran para pekerja aja yang hadir di pagi ini... Di bawahnya juga ada beberapa catatan yang kami butuhkan untuk mempermudah pekerjaan kami... Ustadzah punya beberapa gak ?" Kata Pak Karjo menyerahkan selembar kertas bertulisan catatan yang ia butuhkan.
"Ohh begitu... Memang tiap pagi suami aku menerima laporan ini juga yah ?" Tanya Haura sambil membaca catatan tersebut hingga membuat Pak Karjo berkeringat gugup.
"Ehhh anuu... Ya iyalah us... Kekekekeke" Tawa Pak Karjo dengan canggung.
"Cat ? Ahhh kebetulan suami aku kemarin baru beli cat tembok loh Pak..." Kata Haura teringat sesuatu.
"Oh iya ? Beneran ?" Tanya Pak Karjo merasa bejo.
"Iya ada 3 - 4 kaleng cat kalau gak salah... Apa mau bapak ambil langsung ?" Tanya Haura.
"Ohh boleh - boleh us" Kata pak Karjo tak menduganya.
Haura segera bangkit kemudian mengajak pak Karjo untuk masuk ke dalam rumahnya guna mengambil cat yang tersimpan di dalam.
"Mari pak ikut aku... Berat soalnya kalau aku yang bawa sendiri hehehe" Kata Haura tanpa curiga sama sekali.
Hehehe kebetulan nih ! Batin pak Karjo sambil menyeringai senang.
Setelah Haura membuka pintu rumahnya, mata pak Karjo langsung bekerja meng-scan segala tata letak ruang yang berada di dalam rumah. Mereka berdua masuk melewati ruang tamu. Interior meja, kursi bahkan korden yang menggantung di depan jendela telah pak Karjo ingat. Pak Karjo kembali menyeringai secara diam - diam dibelakang Haura sambil membayangkan rencana nanti kedepannya.
Mereka berdua sampai ruang santai dimana banyak foto - foto bingkai yang terpasang di dinding ruangan. Pak Karjo menatap lama salah satu foto yang terpasang di sana.
"Ngelihatin apa pak ?" Kata Haura yang membuat pak Karjo terkejut.
"Ehhh enggak us... Ustadzah cantik banget di foto itu" Kata pak Karjo merujuk pada foto pernikahan Haura dengan Hendra.
"Ahahhaha iyya dong... Namanya juga waktu penganten baru" Kata Haura tanpa mencurigai maksud dari kuli bangunan itu.
Mereka berdua semakin dalam memasuki rumah Haura hingga tiba di ruangan penyimpanan yang berada di samping dapur. Pak Karjo tak menyangka kalau dirinya bisa diajak memasuki rumah Haura hingga sedalam ini. Andai ia bukan orang yang dipercaya Haura, tidak mungkin baginya bisa diajak hingga tiba di ruangan sekarang. Awalnya ia hanya ingin melihat sekilas saja interior ruang tamunya. Namun siapa sangka dirinya justru diperlihatkan seisi rumah oleh bidadari cantik berhijab itu. Pak Karjo merasa beruntung, ia pun berusaha mengingat semua tata letak ruangan ini untuk memudahkan rencana kedepannya untuk dapat menikmati keindahan Haura secara matang.
"Ini pak cat temboknya ada di bawah sini... Aduh sebentar yah hehehe" Kata Haura sambil menungging ketika hendak mengambil kaleng cat yang tersimpan di dalam lemari penyimpanan bagian bawah.
Mata Karjo terbuka lebar saat melihat posisi Haura yang tengah menungging. Bongkahan pantat Haura semakin jelas terlihat, kausnya yang longgar sedikit mengungkap punggung Haura yang terlihat putih bening sempurna, Karjo pun menggeleng - gelengkan kepalanya saat melihat celana dalam Haura yang berwarna putih tersingkap disana.
Haura tak sadar dengan keadaan kausnya yang agak terangkat menampilkan sedikit punggungnya itu. Ia berusaha mengambil satu demi satu kaleng cat itu yang rupanya terhalang oleh benda lain yang membuatnya kesulitan untuk mengambil barang yang dibutuhkan oleh kuli bangunan tersebut.
Untuk pertama kalinya pak Karjo melihat aurat yang tersembunyi dibalik pakaian yang Haura kenakan. Nafsu Pak Karjo langsung naik seketika melihat pemandangan indah disana. Pak Karjo menurunkan celananya kemudian mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras sempurna. Ia mengocoknya sambil memelankan suara desahannya membayangkan tubuhnya ada disana sedang mendoggy ustadzah cantik itu.
"Ahhh ahhh ahhhh" Desah Pak Karjo lirih.
"Aduhh... Hehehe sebentar yah pak... Agak susah nih" Kata Haura tanpa tahu keadaan dibelakangnya.
Pantat Haura terlihat montok, pak Karjo jadi tak tahan dalam mengocok penisnya yang semakin liar menatapnya. Fantasinya yang selama ini hanya sekedar mengocok sambil membayangkan wajahnya saja kini meningkat menjadi mengocok tepat dibelakang tubuhnya yang sedang menungging.
Nafas Karjo berat ingin menghujami pantat akhwat yang terlihat nakal disana. Pak Karjo terasa seperti sedang digoda. ia semakin bersemangat dalam mengocoknya.
Tangan kanannya membetot batang penisnya, ia menggerakannya maju mundur maju mundur bahkan ia memajukannya hingga tiba di ujung gundulnya.
"Nah ini dia" Kata Haura membuat Pak Karjo panik.
Ia sadar bahwa waktunya tidak banyak untuk menikmati keindahan bokongnya. Pak Karjo mempercepat kocokannya. Nafasnya ia tahan sekuat mungkin untuk mengatur penisnya agar segera mendapatkan klimaksnya.
Maju mundur maju mundur !
Gawat !
Haura nyaris menarik keluar satu kaleng cat yang tersembunyi disana. Pak Karjo pun bertindak dengan membayangkan berbagai pikiran kotor yang sempat ia fantasikan dengan Haura.
Bercinta di kelas ? Bercinta di rumahnya ? Bercinta di hadapan suaminya ? Pak Karjo semakin bernafsu, tindakannya terbukti berhasil hingga ia dapat merasakan sebuah gelombang yang akan menyemprot keluar.
"Ahhh ahhhh ahhhh" Desah Pak Karjo lirih.
"Nah ini dia" Kata Haura setelah berhasil menarik keluar kaleng catnya.
"Arrghhhhhhhhhhhh uhhhh" Pak Karjo mengerang panjang ketika spermanya memuncrat cukup banyak hingga membasahi lantai rumah Haura. Beruntung ia masih bisa sadar dan segera menaikan celananya kembali kendati ia belum selesai menuntaskan orgasmenya.
"Ehhh bapak kenapa ?" Tanya Haura khawatir melihat pak Karjo merem melek dengan wajah yang mencurigakan.
"Ahhhh gapapah..... Ahhhh gapapa us hehehe" Kata pak Karjo setelah menuntaskan hajatnya.
"Beneran ? Yaudah deh ini yah pak catnya... Aku bantu bawain ke depan yah" Kata Haura membawa dua kaleng cat itu menyisakan dua kaleng lainnya yang akan dibawa oleh pak Karjo ke teras rumahnya.
Dikala Haura pergi, pak Karjo pun memejamkan matanya cukup lama. Ia tampak puas bisa mengocok penisnya sambil menatap bongkahan pantat indah yang sedang menungging disana. Setelah energi nya terkumpul, Pak Karjo pun membawa dua kaleng cat itu untuk menyusul Haura yang telah menunggunya di teras rumahnya.
"Ahhhh sial.... Nyaris saja.... Untung masih bisa menahan diri" Kata Pak Karjo bersyukur dirinya bisa menguasai diri dari pikiran kotor yang hendak memperkosa Haura tadi.
"Sebentar lagi... Aku akan menyetubuhimu Haura.... Aku janji padamu !!!" Kata pak Karjo menyeringai.
Sementara itu di teras rumahnya, Pak Karjo berpamitan sambil membawa 4 kaleng cat sekaligus. Haura pun kagum melihat pak Karjo bisa sekuat itu kemudian ia pun memaklumi setelah melihat otot - otot yang tersembunyi di balik kaus tipisnya. Haura pun memasuki rumahnya untuk bersiap - siap mengajar mengingat dirinya memiliki jadwal di jam pertama. Andai saat itu Haura lebih teliti, ia pasti akan curiga setelah melihat celana kolor yang dikenakan oleh kuli bangunan itu basah seperti tertumpahi oleh cairan sesuatu.
"Ahhhh pegelnya" Kata Haura sambil memutar pergelangan tangannya setelah mengangkat dua kaleng sekaligus.
Saat ia berjalan menuju kamar mandi, ia terpeleset saat melewati pintu di dekat ruang penyimpanan rumahnya. Haura heran, wajahnya pun mendekat untuk mengamati cairan aneh yang tergenang di lantai rumahnya.
"Apa ini ? Apa tadi catnya tumpah yah ?" Kata Haura bergegas mengelap nya tanpa mencurigainya lebih lanjut.
*-*-*-*
Siang hari di kantor bagian pengasuhan, Keadaan di kantor cukup ramai tidak seperti biasanya. Terlihat Hanna sedang menceramahi salah satu santriwatinya yang ketahuan melakukan pelanggaran ringan. Begitupula Haura yang mendapati salah satu santrinya tengah keluar dari pondok tanpa meminta izin terlebih dahulu. Haura tengah serius memarahinya hingga air mata jatuh dari pelupuk mata santri itu karena takut dirinya akan dikeluarkan dari pondok pesantren ini.
“Antum paham yah ? Lain kali jangan diulangi... Antum udah besar harus sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah... Untuk kali ini ustadzah maafkan tapi kalau antum ketahuan melanggar lagi, ustadzah gak akan segan untuk menghukum antum lebih berat lagi... Ingat ini peringatan buat antum yah !” kata Haura mencatatkan nama santri itu ke dalam buku hukuman.
“Naam ustadzah... Syukron !” kata santri itu bersyukur dirinya tidak jadi dikeluarkan.
Walau merasa senang, tapi ia juga merasa waswas setelah namanya dicatat ke dalam buku hukuman berat. Ia pun khawatir karena pelanggaran ini dirinya tidak bisa naik kelas atau bisa menjadi catatan penting yang nantinya akan diserahkan kepada kedua orang tuanya.
Santri itu pun keluar dari kantor pengasuhan dengan memasang wajah murung. Ia terlihat putus asa tapi sebagai lelaki ia telah siap menerima resiko dari perbuatannya. Hanna juga telah selesai menghukum santriwatinya itu. Berbeda dengan santri tadi, karena pelanggaran yang santriwati itu lakukan tergolong ringan maka ia hanya diberi hukuman berupa scout jump lima kali. Ringan tapi hukuman seperti itu sudah berdampak baginya karena rasa malu yang akan dialami apabila ia melakukannya lagi.
“Hahhhh ada - ada aja” kata Haura melenguh.
“Ahahahha capek juga yah Ra marah - marah” kata Hanna.
“Iya nih Han... Mana kebawa nafsu lagi jadi marah beneran” kata Haura tertawa.
“Ahahaha susah yah kalau cuma akting marah... Sekalinya liat santri yang melanggar bawaannya jadi marah beneran... Rasanya jiwa kita sebagai ustadzah udah melekat nih” kata Hanna.
“Ahahaha iyya jiwa untuk mengayomi dan menyayangi para santri gitu kan ? Iya gak sih ?” kata Haura tersenyum.
“Iyya dong” jawab Hanna. Mereka berdua pun tertawa setelah mengobrol ria menikmati waktu berdua di kantor pengasuhan ini.
“Assalamualaikum”
Tak berselang lama terdengar suara pintu diketuk juga suara sapaan salam dari seseorang yang terdengar akrab. Hanna dan Haura langsung menengok untuk melihat pemilik dari suara yang terdengar akrab tersebut.
“Walaikumsalam V... Gimana mengajarnya hari ini ?” tanya Hanna.
“Heheh ba.. baaik kok” jawab V gugup.
Sementara Haura hanya menjawab salamnya dari dalam hati, mulutnya diam dan matanya hanya memandang wajahnya sekilas sebelum memalingkannya lagi. V berjalan semakin dekat bahkan melewati meja yang ditempati Haura hingga tiba di tempat duduknya. Sekali - kali Haura hanya mampu meliriknya. Ia merasa dilema karena sejatinya ia sangat ingin mengajak ngobrol lelaki yang telah merenggut hatinya. Tetapi di lain sisi ia sangat khawatir kalau dirinya akan mengkhianati suaminya lagi. Berbagai macam pikiran hadir di dalam benaknya. Mereka pun bertempur untuk memenangkan kendali atas pikiran Haura guna menentukan sikapnya pada lelaki bertubuh jangkung itu.
Mulut Haura terbuka sambil menatap wajah V yang tengah sibuk menatap layar komputernya, akan tetapi tak terdengar satu pun suara yang berasal dari mulutnya. Lidah Haura kelu, ia pun ragu untuk mengucapkan sesuatu pada lelaki itu. Haura pun menghela nafasnya sambil menundukan pandangannya. Entah kenapa semua menjadi rumit. Andai bisa, ia ingin bertanya pada hatinya mengenai apa yang diinginkannya pada sosok V saat ini. Haruskah ia bersikap seperti biasanya atau menjaga jarak agar ia tidak mengalami kejadian yang tidak diinginkan lagi.
Ini sulit... Aku tidak tahu kenapa semuanya jadi rumit seperti ini !
“Arrgghhhhhh !!”
Tiba - tiba V kembali merintih sambil memegangi kepalanya. Sontak Hanna dan Haura yang berada di dekatnya panik. Haura yang berada paling dekat dengan V bergegas mendekatinya. Ia memegangi pundak V. Ia tak tahu harus berbuat apa. Begitu pula Hanna yang agak terlambat mendekat ke arah V.
“V kamu kenapa lagi ? Kamu gapapa kan ?” tanya Haura sambil melihat wajah V yang terlihat menahan perih.
“V tolong tahan sebentar... Aku akan cari bantuan yah” kata Hanna bergegas pergi.
V memegangi kepalanya, ia pun mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah kejauhan. Terlihat Hanna sedang berlari menjauhinya menuju ke arah pintu masuk. Semuanya tampak melambat. Bahkan ia dapat melihat pergerakan lalat yang tak begitu cepat berterbangan di dekat tempat sampah yang berada di sudut ruangan. Samar - samar dirinya melihat bayangan seseorang yang mirip dirinya mendekat. V membuka matanya lebar - lebar. Bayangan itu semakin dekat, bayangan itu menyentuh pundaknya. Sedikit demi sedikit bayangan itu mulai masuk ke dalam tubuhnya. V semakin mengerang, rintihannya semakin keras membuat Haura ketakutan mengenai apa yang akan terjadi pada rekan kerjanya itu. Sementara Hanna pun menoleh ke belakang khawatir dengan kondisi V ini.
Tiba - tiba . . . .
“Kalian kenapa ?” tanya V ketika melihat Haura dan Hanna sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Hahhh ? Antum gapapa kan V ?” tanya Hanna berjalan mendekat memeriksa keadaan V.
“V antum bikin ana takut aja tau gak !” kata Haura yang tiba - tiba memeluk V karena sangat khawatir dengan keadaannya.
“Tenang kalian kenapa sih ? ana baik - baik aja kok” kata V sambil tersenyum menatap wajah Haura yang tengah mengkhawatirkannya.
“Kita ke dokter yah ?” pinta Haura sambil menitikan air mata.
“Ke dokter untuk apa ?” tanya V.
“V tadi keadaan antum tuh bikin kita takut tau... Walau kemarin kata dokter keadaan antum baik - baik aja... Tapi sekarang kami ingin tau keadaan antum yang sebenarnya” kata Hanna cemas.
“Kemarin ? Kapan ana ke dokter ?” tanya V.
Haura dan Hanna pun saling menatap, ia semakin khawatir dengan kondisi V saat ini.
“Nanti aku jelaskan tapi tolong kita ke dokter yah sekarang” pinta Haura memohon.
“Ana apa aku nih sekarang ?” kata V tersenyum yang membuat Haura sebal.
“Ihhh V !!! Sekarang bukan waktunya becanda !!” kata Haura kesal.
“Yaudah deh... Bisa tunjukin arahnya kemana ? Aku gak tau soalnya” kata V.
Haura akhirnya pergi menemani diri V untuk kembali mengunjungi dokter Ani. Sementara Hanna menetap di kantor sambil mengkhawatirkan kondisi V.
“Ini aneh ? Bukannya kemarin ia pergi ke dokter bersama ustadz Rafi ? Kenapa ia tidak mengingatnya sekarang ? Semoga keadaan V baik - baik aja” kata Hanna.
Sementara itu Haura dan V sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. V di depan sedangkan Haura agak menjaga jarak di belakang. Mereka melakukan hal ini hingga diri mereka tiba di gerbang keluar pesantren.
Setelah dirasa keadaan cukup aman, jauh dari pengamatan warga pondok pesantren, Haura pun mendekat hingga berjalan bersebelahan dengan V. Haura masih khawatir hingga wajahnya terlihat cemas mengenai keadaan lelaki disebelahnya. V pun menyadari kemudian tersenyum sambil menatap Haura.
“Ada apa Haura... Kenapa wajahmu seperti itu sih ?” tanya V.
“Itu semua karena kamu V ! Kamu kenapa sih tadi teriak - teriak gitu... Bikin aku takut aja tau !” kata Haura.
“Lohh kapan ? Aku gak ngapa - ngapain kok tadi” kata V.
“Ihhh tuh kan ! Bikin makin khawatir aja” kata Haura.
Tiba - tiba V mengaitkan jemarinya pada jemari Haura. V menggenggam tangannya erat hingga membuat Haura menoleh menatap wajahnya.
“Ihhh lepasin ! Entar ketahuan orang tahu !” kata Haura.
“Hahaha maaf” kata V tersenyum yang membuat Haura ikut tersenyum secara diam - diam.
Dasar kamu V ! batin Haura sambil mengusap tangannya untuk merasakan sisa genggaman V yang masih terasa hangat.
Mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk rumah sakit. Mereka berdua pun bergegas mencari ruang prakter dokter Ani dengan menyusuri lorong demi lorong.
Tokkkk tokkk tokk !
“Assalamualaikum” sapa Haura.
“Walaikumsalam ehhh ustadzah Haura” kata dokter Ani tersenyum.
“Lohh ada ustadz...” Dokter Ani berhenti sejenak karena tak begitu ingat namanya, ia pun memeriksa satu persatu berkas pasien, setelah itu barulah ia teringat akan nama ustadz tersebut.
“Ustadz Fikri yah” kata Dokter Ani menyelesaikan kalimatnya.
“Hehehe iya dok” jawab Haura yang menemaninya.
“Silahkan duduk dulu... Ada apa nih ?” kata Dokter Ani menanyakan keluhan pasiennya.
“Ini dok... Masih sama seperti kemarin...” kata Haura sambil menoleh menatap V.
“Seperti kemarin ? Apa hari ini terjadi lagi ? tapi kemarin baik - baik aja loh” kata dokter Ani menyiapkan penanya untuk mencatat keluhan pasiennya itu.
“Iya dok... Tapi barusan ia teriak - teriak gitu loh dok... ana sampai khawatir tadi” kata Haura menjelaskan keadaan V tadi.
“Ohhh begitu... Maaf ustadz boleh diberi tahu apa yang ustadz tadi rasakan ?” tanya Dokter Ani.
“Tidak ada kok dok... Saya tidak merasakan apa - apa” kata V yang mengejutkan dokter Ani.
“Apa ada keluhan di kepala ? perut ?” tanya kembali dokter Ani.
“Tidak ada dok” jawab V. Ia pun baru menyadari kalau gaya bicara Fikri berbeda dari apa yang ia dengar saat bersama ustadz Rafi.
“Apa kemarin antum kemari bersama ustadz Rafi ?” tanya Dokter Ani out of topic secara tiba - tiba yang mengejutkan Haura.
“Setau saya... Ini kunjungan pertama saya kesini... Tapi rasanya kaya akrab... Saya seperti pernah melihat lingkungan ini sebelumnya” jawab V kembali mengejutkan Haura.
“Begitu yah ? Apa akhir - akhir ini ustadz sering banget merasakan hal seperti itu ?” Tanya Dokter Ani sekali lagi.
“Iya dok sering banget.... Akhir - akhir ini saya sering banget merasakan siklus seperti dejavu... Rasanya pernah merasakannya tapi entah kapan... Padahal itu merupakan kali pertama saya melakukannya... Contohnya seperti kemarin saat saya mengajar di suatu kelas... Saya kira itu kali pertama saya memasuki kelas itu nyatanya itu udah kedua kalinya.” Kata V yang membuat Haura terkejut mendengarnya.
“Ustadz kenal nama ustadzah di sebelah ustadz ?” tanya Dokter Ani lagi memastikan.
“Iya... Ustadzah Haura kan ?” jawab V.
“Lalu ustadz tau gak nama saya siapa ?” tanya dokter Ani.
“Hehehe maaf saya belum tau dok” jawab V.
“Kalau gitu perkenalkan... Saya dokter Ani... Nama ustadz siapa yah ?” tanya Dokter Ani.
“Saya V dok” jawab V.
“Boleh diberi tahu nama panjangnya ustadz ?” tanya Dokter Ani.
“Cuma V dok...” jawab V sambil tersenyum. Sontak Haura dan Dokter Ani terkejut mendengarnya.
“Ohh begitu... Kalau boleh tau ustadz kenal seseorang yang bernama Fikri Hazami ?” tanya Dokter Ani memancing.
“Ohh kenal kok dok” jawab V.
“Dia siapa yah ?” tanya Dokter Ani.
“Dia teman saya” jawab V sambil tersenyum.
Haura terkejut hingga tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar. Dokter Ani hanya tersenyum sambil mengangguk - ngangguk mencoba mendiagnosa keadaan pasiennya.
“Baik ustadz V...” kata Dokter Ani setelah selesai mendiagnosa keadaan V.
“Oh yah Ustadz boleh tunggu sebentar di luar ?” tanya Dokter Ani sopan.
“Iya dok baik” kata V bergegas keluar ruangan untuk menunggu disana.
Kini tersisa Haura saja yang sedang bersama Dokter Ani di ruangannya.
“Bagaimana dok ? apa yang sebenarnya terjadi padanya ?” tanya Haura cemas.
“Untuk sementara saya masih belum begitu paham yah ustadzah mengenai keadaan ustadz V saat ini... Tetapi menurut pemeriksaan saya tadi sepertinya ustadz V ini mempunyai gejala Dissociative Identity Disorder” kata Dokter Ani.
“Hah maksudnya dok ?” tanya Haura.
“Sebelum menjawabnya saya ingin bertanya dulu.... Apakah ustadzah Haura pernah merasa kalau ustadz V itu mempunyai sifat yang berbeda ?” tanya Dokter Ani.
“Sepertinya enggak dok... Sifatnya memang seperti itu... Gaya bicaranya juga seperti itu” kata Haura mengingat kedekatannya dengan V.
“Benarkah ? Dari awal ketemu ?” tanya Dokter Ani.
“Dari awal ? Hahhhhhhh !!!” kata Haura terkejut hingga kedua tangannya kembali menutupi mulutnya yang terbuka lebar.
“Iya dok seingatku dulu V orangnya pemalu... Aku juga baru inget kalau ustadzah Hanna pernah cerita kalau V itu punya sifat aneh... Katanya gak suka gorengan tapi tiba - tiba makan gorengan pernah juga bilang suka gorengan tapi pas dibeliin gak suka” kata Haura.
“Nah itu yang saya maksud.... Kemungkinan ada lebih dari satu kepribadian yang tinggal di dalam tubuh ustadz V” kata Dokter Ani.
“Hahh maksudnya ?” tanya Haura.
“Sepertinya ustadz V ini mengidap kepribadian ganda” jawab Dokter Ani yang mengejutkan Haura.
“Lalu gimana dok ? apa keadaan V akan baik - baik saja ? Gak berbahaya kan ?” tanya Haura khawatir.
“Tenang aja... Saya juga belum begitu kenal kepribadian yang ia miliki... Ini bukan sesuatu yang mudah untuk langsung mendiagnosanya... Butuh pemeriksaan lebih lanjut... Mungkin lain kali ustadzah bisa membawa ustadz V kemari agar bisa diperiksa lebih lanjut lagi” jawab Dokter Ani.
“Hmmm begitu... Kalau boleh tau orang - orang yang mengidap penyakit ini disebabkan karena apa Dok ?” tanya Haura penasaran.
“Bisa berbagai hal... Bisa karena tekanan di masa lalu... Kekerasan yang dialaminya sewaktu kecil... Atau bisa juga karena kehilangan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya” kata Dokter Ani yang membuat Haura teringat sesuatu.
Kehilangan ? Seseorang ??
Batin Haura kemudian menatap V yang sedang menunggunya di luar.
Mungkinkah itu karena... Fitri ???
“Baik dok terima kasih kalau gitu” kata Haura setelah mengetahui rahasia yang sebenarnya dari sifat V.
Sebelum Haura beranjak dari kursinya, jemari dokter Ani pun menahan tangan Haura.
“Antum sendiri baik - baik aja kan ustadzah ?” tanya Dokter Ani.
“Gak perlu khawatir dok... Saya baik - baik aja.. Saya rutin kok meminumnya” jawab Haura tersenyum kemudian berjalan keluar untuk menemui V.
Mereka berdua pun berjalan berdampingan untuk kembali ke pondok. Pikiran Haura pun kemana - mana. Ia tak menduga kalau V bisa mengidap penyakit yang misterius seperti ini. Ia resah, ia gelisah, ia pun ingin mengenal V lebih dalam lagi.
“Oh iya... Aku harus tanya ustadz Adit nih” lirih Haura.
“Apa ? Kamu ngomong apa Ra ?” tanya V disebelahnya.
“Hehe enggak kok V...” jawab Haura tersenyum menatap wajah V disebelahnya.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *