Search

CHAPTER 7 - AKU, DIA & DIRINYA

CHAPTER 7 - AKU, DIA & DIRINYA

KEESOKAN HARINYA

Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi, di dalam kantor bagian pengasuhan Haura tampak pusing memikirkan kondisi yang sebenarnya terjadi pada diri V. Ia tak menyangka kalau selama ini ada pribadi lain yang tinggal di dalam tubuh V. Haura pun merinding membayangkan saat dirinya bercinta dengan V.

“Siapa dia saat itu ? Apakah itu V ? Atau justru kepribadiannya yang lain ?” kata Haura sendirian.

Kala itu, kantor bagian pengasuhan sedang dalam keadaan sepi. Haura pun tak tahu dimana rekan kerja lainnya berada. Mungkin beberapa sedang mengajar di kelas atau mungkin beberapa sedang menikmati waktu istirahat mereka dengan membeli jajanan di kantin. Jadwal di pondok pesantren memang padat sehingga banyak dari para pengajar yang mengalah dengan mengorbankan waktu sarapan mereka untuk mengajar. Baru setelah waktu mengajar berakhir, mereka bisa mendapatkan jatah sarapan mereka di dapur umum atau kalau bosan mereka bisa membelinya di kantin terdekat.

Haura masih gelisah memikirkan itu semua. Pekerjaan di dalam komputernya pun berantakan tak karuan. Ia kesulitan untuk memasukan data itu ke dalam laporan bulanan. Haura menunduk sambil memegangi kepalanya yang pusing. Ia menghela nafas kemudian menghembuskannya. Ia menatap sekitar terutama ke arah meja yang biasa ditempati oleh V.

“Ada apa denganmu V ? Siapa sebenarnya kamu ini ?” tanya Haura penasaran.

Tak kuat dengan pikiran yang menganggu pekerjaannya, ia pun memutuskan untuk keluar berjalan - jalan sejenak sambil menghirup udara segar guna merefreskan kembali pikirannya.

DI LUAR KANTOR PENGASUHAN

Haura masih menunduk sambil memasukan tangan ke dalam saku blazernya. Pikirannya melayang entah kemana membuat para warga pesantren lainnya sungkan untuk menyapa ketika bertemu dengannya di jalan. Haura terus berjalan tanpa tahu kemana kakinya akan melangkah. Seolah ia telah dituntun oleh kakinya itu menuju suatu tempat.

Di setiap langkah kakinya, ia kembali teringat akan hari - hari yang sudah ia lalui bersama V. Tiba - tiba Haura tersenyum merasakan hatinya terobati oleh kehadirannya. Caranya dalam berbicara, pendekatannya dalam menyamankan hatinya, sentuhannya dalam membahagiakannya. Haura sangat bersyukur bisa bertemu dengannya di pondok pesantren ini. Seketika ia melihat ke arah taman bunga yang dulu sempat menjadi saksi bisu atas percumbuan dirinya dengan lelaki itu.

Haura melangkahkan kakinya ke sana, Kemudian ia mendudukkan dirinya di bangku itu sambil mengingat nuansa yang terjadi di malam itu. Haura tersenyum melihat ke arah langit lepas. Semuanya sangat gelap, Hanya lampu taman juga bintang - bintang di angkasa yang menemaninya menerangkan semua. Haura pun memegangi ujung jemari tangannya juga bibir manisnya.

“Sentuhan itu” katanya terbayang saat V mencumbunya dengan penuh gairah.

Tak sadar Haura memejamkan matanya sambil membayangkan sentuhan V waktu itu di bibirnya. Haura merasa hatinya seperti dipupuki sehingga membuatnya subur hingga benih - benih kebahagiaan pun mampu tumbuh lagi di dalam hatinya.

Aku mencintaimu Haura !

Seketika Haura tersadar saat mendengar suara yang berasal dari hatinya. Haura pun menghela nafasnya dan menyadari perbuatannya tadi.

“Apa sih yang sebenarnya terjadi padaku ? Kenapa aku begitu merindukannya ?” kata Haura menyadari kesalahannya.

Aku kan udah punya suami. Batin Haura sedikit menyesal.

Haura pun beranjak dari bangku taman itu untuk kembali ke dalam kantor bagiannya. Ia pun merenung memikirkan keadaan suaminya belakangan ini. Haura kembali menghela nafasnya merasa lelah memikirkan sikap suaminya yang begitu acuh padanya. Bagai di antartika, mungkin seperti itulah hati suaminya sekarang.

Kebetulan dalam perjalanan pulangnya, ia melihat sosok lelaki yang telah ia cari - cari selama ini. Seorang ustadz dengan wajah lumayan sedang berjalan sambil membawa absen kehadiran kelasnya. Sontak Haura berlari mendekati ustadz tersebut.

“Assalamualaikum ustadz Adit” sapa Haura.

“Walaikumsalam... Ehh ustadzah Haura yah” jawab Adit terkejut ketika Haura datang menyapanya.

“Hehehe iya ustadz.... Afwan ustadz... Antum sibuk ? Antum baru mau ngajar ke kelas yah ?” tanya Haura setelah melihat absen kelas yang sedang Adit bawa.

“Enggak kok Ustadzah... Kenapa yah ? Kebetulan ana baru selesai mengajar" jawab Adit yang membuat Haura sumringah.

“Wah kebetulan... Ada yang mau ana obrolkan ke antum ustadz... Ini tentang Ustadz Fikri” kata Haura yang membuat Adit penasaran.

“Tentang ustadz Fikri ? Ada apa memangnya ?” tanya Adit mulai curiga.

“Hehe gini ustadz... Ana agak heran dengan ustadz Fikri... Ana merasa kalau sifat ustadz Fikri itu berganti - ganti terus.... Entah itu karena moodnya atau mungkin karena alasan lain” kata Haura memancing pembicaraan.

“Maksud antum... Ustadz Fikri kadang berbicara gagap dan kadang berbicara lancar ?” kata Adit menangkap maksud Haura.

“Nah iya ustadz itu salah satunya” jawab Haura terkejut rupanya Adit juga tahu rahasia yang V miliki selama ini.

“Kalau gitu kita ke kantor ana aja yah ustadzah... Gak enak kalau kita mengobrol disini” kata Adit.

Naam ustadz” jawab Haura.

Dalam perjalanan menuju kantor bagian pengajaran, Haura menceritakan sedikit mengenai sikap V selama di bagian pengasuhan. Adit sebagai sahabat dekat V tampak serius dalam mendengarkan cerita dari ustadzah tercantik itu. Saat Haura berbicara, Adit tampak seperti mengingat sesuatu. Ia seperti berdiskusi dengan pikirannya sendiri.

Haruskah aku mengatakan hal ini pada ustadzah Haura ? Batin Adit dalam hati.

Tak berselang lama, Adit dan Haura pun tiba di dalam kantor bagian pengajaran. Keadaan sebenarnya cukup ramai disana, beberapa ustadz & ustadzah tampak sibuk berlalu lalang di dalam kantor bagian pengajaran. Beberapa ada yang sibuk mengembalikan absen kehadiran kelas dan beberapa ada yang sibuk untuk mengambil absen tersebut sebelum memulai mengajar.

Adit dan Haura duduk disalah satu kursi yang terhubung dengan meja panjang disana. Kebetulan meja tersebut biasa digunakan oleh staff bagian pengajaran untuk rapat atau sekedar diskusi ringan saja. Beberapa pengajar yang melihatnya tidak mencurigai mereka berdua karena pemandangan seperti ini sudah tampak biasa bagi mereka. Umumnya, apabila ada ustadz atau ustadzah yang sedang berbicara berdua dengan pengajar dari bagian pengajaran, Biasanya mereka cuma berkonsultasi atau mungkin meminta saran untuk mengatasi permasalahannya dalam mengajar di dalam kelas.

Keadaan yang ramai membuat Adit dan Haura tak perlu khawatir apabila obrolan mereka terdengar oleh pengajar lain.

“Tadi antum bilang kalau sikap ustadz Fikri suka berubah - rubah yah ustadzah ?” tanya Adit.

“Iya ustadz... Gak cuma sikapnya sih, pernah suatu ketika ustadzah Hanna membelikan jajanan gorengan untuk menemani kami dalam bekerja... Kadang ustadz Fikri menyukai gorengan tersebut dan kadang ustadz Fikri tidak menyukainya” kata Haura menjelaskan.

“Hmmm begitu” kata Adit menganalisa.

Ana jadi khawatir ustadz dengan kondisinya.... Apalagi pernah tiba - tiba ustadz Fikri merasakan sakit di perut dan kepalanya” kata Haura yang mengejutkan Adit.

“Beneran ? Itu pernah terjadi ?” tanya Adit terkejut.

“Iya ustadz” jawab Haura.

“Terus apa yang kalian lakukan disana ?” tanya Adit.

“Ustadz Rafi pernah membawanya langsung ke dokter” kata Haura bingung.

“Jadi kalian sudah membawanya ke dokter yah” kata Adit.

“Iya ustadz... Dua kali malah” kata Haura.

“Dua kali ? Apa katanya ?” tanya Adit.

“Ya gitu ustadz... Mungkin antum sudah mengetahuinya... Dokter Ani cuma baru menduga sih kalau ada gejala Kepribadian Ganda di tubuh ustadz Fikri” kata Haura yang membuat Adit diam tak menjawab.

“Ustadz ?” sapa Haura ketika melihat respon Adit hanya diam.

“Hmmm ya begitulah ustadzah... Sebenarnya ana udah tau kok kalau ada pribadi lain yang tinggal di dalam tubuhnya” kata Adit yang membuat Haura shock.

“Jadi itu beneran ?” kata Haura yang semakin mempercayainya.

“Iya itu beneran ustadzah” jawab Adit.

“Jadi selama ini ada dua kepribadian yang tinggal di dalam tubuh ustadz Fikri ?” tanya Haura.

Adit menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian ia mengangkat jari telunjuknya, jari manisnya dan juga jari tengahnya ke arah Haura.

“Bukan Cuma dua ustadzah... Tapi tiga” kata Adit yang membuat Haura makin shock.

“Tiii.... Tiiigaa ?” kata Haura tak menyangka.

“Hehe iya begitulah... Kaget yah ?” kata Adit.

“Ustadz... Boleh minta tolong dijelaskan kenapa ustadz Fikri bisa seperti itu ?” pinta Haura dengan sangat. Adit hanya tersenyum sambil membuka mulutnya pelan.

Antum pernah denger dia menyebut nama Fitri ?” tanya Adit yang membuat mata Haura terbuka lebar.

“Iya ustadz.... Ana pernah denger” jawab Haura.

“Sejujurnya ana pribadi kurang begitu tau siapa Fitri itu... Fikri pernah bilang kalau Fitri itu teman baiknya di sekolah” kata Adit.

“Loh ustadz... Bukannya kalian dekat ?” tanya Haura.

“Kami memang dekat ustadzah... Tapi kami cuma teman rumah.... Ana juga gak satu sekolah dengan ustadz Fikri” jawab Adit tersenyum.

“Ohhh begitu” jawab Haura memahami kenapa Adit tidak mengenal Fitri.

“Sebenarnya ustadz Fikri gak pernah cerita sih.... Apa yang ana ceritakan nanti murni dari pengamatan ana sendiri... Jadi kalau ada informasi yang kurang sesuai di kemudian hari tolong dimaklumi yah... Menurut pengamatan ana... Bisa jadi Fitri lah yang jadi pemicu utama kenapa ustadz Fikri seperti ini” kata Adit menjelaskan.

“Kok begitu ustadz ? Memangnya kenapa ?” tanya Haura penasaran.

“Sepertinya sosok Fitri itu begitu melekat di dalam pikirannya, ia seperti panutan dan sosok yang sangat berpengaruh bagi ustadz Fikri... Ustadz Fikri udah cerita belum kalau Fitri ini sudah meninggal ?” tanya Adit.

“Iya ustadz... Ustadz Fikri pernah cerita” jawab Haura.

“Sejujurnya ana belum pernah melihat seperti apa wajah dari Fitri itu... Kalau antum tahu tolong jaga dia yah... Jangan sampai sosok yang mirip Fitri itu kenapa - kenapa” kata Adit.

“Maksudnya ? Memangnya kenapa ?” tanya Haura khawatir.

“Bisa jadi tiap kali Ustadz Fikri teringat atau terbayang sosok Fitri, kepribadian yang lainnya akan datang menggantikan kepribadian pemalunya” kata Adit.

“Maksudnya ? Tiap kali bertemu sosok yang mirip Fitri maka kepribadian pemalunya akan hilang gitu ?” tanya Haura.

“Iya seperti itu”

Pantes aku jarang melihat sikapnya yang pemalu ! Batin Haura baru menyadari*.*

“Oh yah ustadz.... Tadi kan antum bilang kalau ada tiga kepribadian yang tinggal di dalam tubuh ustadz Fikri... Bisa minta tolong dijelaskan maksudnya !” pinta Haura.

“Ehhmmm... Jadi begini ustadzah... Sifat ustadz Fikri yang sebenarnya itu pemalu, dia juga kurang percaya diri membuat ia jarang mengobrol dengan orang lain sehingga membuatnya gagap ketika berbicara.... Sebut saja dia Fikri si pemalu... Itu yang pertama ! Sedangkan yang kedua ada sosok lain bernama V yang memiliki sifat pemberani, penuh percaya diri pokoknya kepribadian ini memiliki sifat yang bertolak belakang dengan kepribadian yang pertama. Entah dari mana nama V ini diberikan. Tapi sepertinya tiap kepribadian memiliki nama yang mencerminkan sifat kepribadiannya masing - masing. Ana menduga kalau nama V ini diambil dari kata Valor yang mencerminkan arti dari keberanian. Sedangkan yang ketiga . . . . “ Adit berhenti seperti agak ragu untuk membicarakannya.

“Yang ketiga kenapa ustadz ?” tanya Haura penasaran.

“Kepribadian ketiga dari ustadz Fikri juga bernama V yang memiliki sifat keras dan cenderung kasar bisa dibilang juga kalau kepribadian ini berdarah dingin” kata Adit dengan suara yang lirih takut membuat Haura merinding.

“Hahhh ? Maksudnya ustadz ?” tanya Haura terkejut.

“Hehe sepertinya huruf V dari namanya ini merepresentasikan kata Villain yang berarti Jahat. Ini murni pengamatan ana sendiri sih hehehe... Cuma ana gak bisa cerita lebih daripada ini” kata Adit khawatir kata - katanya justru membuat Fikri dijauhi.

Haura makin penasaran dengan cara Adit dalam menjelaskannya yang setengah - setengah.

“Gapapa ustadz... Ceritakan aja... Ustadz Fikri kan bagian dari pengasuhan juga... Kami pasti akan membantunya... Kalau antum begini ya gimana cara kami kalau mau membantunya” kata Haura mencoba membujuk Adit. Setelah berfikir cukup lama akhirnya Adit kembali membuka mulutnya.

“Yaudah deh tolong jaga dia yah... Ana akan memberi tahu antum rahasia dari kepribadian ustadz Fikri itu sendiri” kata Adit.

“Iya ustadz pasti ana akan menjaganya kok... Jadi gimana ?” tanya Haura penasaran.

“Sosok Valor yang merupakan kepribadian ustadz Fikri yang pemberani biasanya muncul apabila ia melihat sosok Fitri, kadang sosok V ini juga muncul ketika ia melihat seorang wanita yang tertimpa suatu masalah.... Bukan berarti sok pahlawan sih... Tapi V mempunyai hati yang baik sehingga selalu terdorong untuk membantu setiap wanita yang tertimpa suatu musibah” kata Adit yang membuat Haura mengernyitkan dahinya kurang menyukai sifat V yang selalu baik kepada setiap wanita.

“Sedangkan kepribadian Villain ini biasanya muncul ketika ia melihat sosok Fitri berada dalam keadaan bahaya” kata Adit.

“Dalam bahaya ?” tanya Haura. Ia pun teringat akan sosok V yang berbeda sewaktu Lutfi nyaris membahayakan dirinya di kantor pengasuhan kala itu. Haura pun mencoba untuk menahan diri untuk tidak menyembunyikan rasa terkejutnya ini.

“Memangnya apa yang akan ia lakukan ustadz kalau kepribadian Villain ini muncul ? Apakah ia akan memukul si pemberi bahaya itu ?” tanya Haura.

“Enggak Ra... Mungkin lebih daripada itu” kata Adit menggelengkan kepala.

“Hah maksudnya ?” tanya Haura.

“Pokoknya mengerikan Ra.... Ana gak bisa bilang.... Bahkan pribadi asli Fikri pun takut pada kepribadian Villain ini” kata Adit yang membuat Haura merinding penasaran.

“Kok kepribadian ustadz Fikri sampai takut juga ?” tanya Haura tak menyangka.

“Iya... Sebenarnya ustadz Fikri dan kepribadian lainnya saling mengenal tapi bukan sebagai satu tubuh... Melainkan sebagai seorang teman... Tiap kali kepribadian Fikri berganti maka Kerpibadian yang saat itu tinggal di dalam tubuhnya seperti melihat sosok yang mirip dengannya datang mendekat... Fikri selalu menyebutnya sebagai Teman

“Ohhh begitu yah” kata Haura merinding saat mengetahui hal yang sebenarnya.

Antum tau gak apa yang unik ?” tanya Adit tersenyum.

“Unik ? Enggak ustadz” jawab Haura.

“Setiap kepribadian selalu ingin dipanggil dengan nama V... Ana kurang begitu tahu kenapa alasannya tapi yang jelas kalau nama dari V ini dijejerkan maka akan menghasilkan nama yang unik” kata Adit.

“Maksudnya ustadz ? Ana belum begitu paham” jawab Haura.

Adit pun mengambil selembar kertas kemudian menulis huruf V tiga kali secara berurutan.

“VVV” kata Haura membacanya.

“Bukan tapi Fitri” kata Adit tersenyum.

“Hah ? Maksudnya ?” tanya Haura.

“Coba baca pake bahasa Inggris” kata Adit sambil menuliskan sesuatu untuk membantu Haura.

“V3... V-tri... Fitri... Paham gak ?” tanya Adit sambil tersenyum.

Haura pun tercengang hingga mulutnya terbuka lebar.

“Begitulah... Ana belum begitu tahu siapa sosok Fitri yang mungkin Fikri anggap mirip.... Kalau antum tahu tolong jaga sosok itu... Jangan sampai sosok Fitri itu terluka atau dalam bahaya... Karena kalau itu terjadi ana khawatir kalau kepribadian Villain akan bangkit lagi menguasai tubuhnya” kata Adit mewanti - wanti.

“Iya ustadz... Syukron nanti ana akan cari tahu... Ana pasti akan menjaganya kok” kata Haura memaksakan senyum.

Kebetulan bel pun berbunyi, tak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga satu jam pelajaran pun terlewat. Adit pun pamit karena ia memiliki jadwal mengajar lagi.

“Afwan yah ustadzah... Ana mau mengajar dulu... Kalau antum punya kabar tentang ustadz Fikri lagi bisa bicarakan ke ana yah... Sekali lagi tolong jaga sahabat ana juga sosok Fitri itu” kata Adit tersenyum.

“Iya ustadz... Syukron atas informasinya” jawab Haura ikut tersenyum.

Adit pun pergi melangkah meninggalkan Haura yang masih berada di dalam kantor bagian pengajaran. Hati Haura sedikit tercerahkan mengenai informasi yang baru di dapat dari Adit. Akan tetapi ia justru semakin khawatir mengenai kondisi V. Ia pun beranjak dari kursi tersebut untuk kembali ke kantor bagian pengasuhan.

Aku harus bisa jaga diri... Aku harus menjaga diri ! Batin Haura mengulangi kalimat tersebut karena khawatir sosok Villain itu akan kembali bangkit menguasai tubuh V kalau dirinya tidak dapat menjaga dirinya.

Diam - diam tanpa sepengetahuan Haura, terdapat sosok kekar berkulit hitam yang tertawa melihat Haura berjalan di depan gedung bangunan yang belum jadi.

“Sabar ustadzah Haura... Sebentar lagi kita akan bersenang - senang.... Kekekekkeke” katanya tertawa.


*-*-*-*


Disaat yang sama dan di tempat yang berbeda, Nada tengah melangkah menuju kelas untuk mengajar disana. Dalam perjalanannya saat melewati lorong kelas, ia banyak merenung memikirkan masalah yang tengah hinggap di tengah kebahagiannya bersama keluarga barunya. Ia mengalami dilema yang amat sangat antara harus menyetujui keinginan suaminya atau tidak. Haura tau kalau ia menyetujuinya berarti ia telah melakukan perbuatan yang salah, tapi kalau ia menolak terus, ia tak tahu sampai kapan dirinya harus marah - marahan dengan suaminya.

“Hmmm ana harus gimana nih ?” lirih Nada. Seketika ia teringat akan ucapan yang pernah V berikan padanya di sore itu.

Itu cuma saran aja... Yang jelas antum yang lebih tau harus bagaimana...

Ana yang lebih tau yah harus bagaimana ?” kata Nada kembali merenung.

Seketika ia menghela nafasnya kemudian mengambil sapu tangan di sakunya guna mengelap air mata yang tiba - tiba jatuh dari pelupuk matanya.

Ana sudah mengambil keputusan... Ana akan mengakhiri semua masalah ini” kata Nada berucap walau berat. Seketika ia sudah tiba di pintu kelas. Ekspresi wajahnya pun berubah. Walau sedang menghadapi masalah, ia mencoba untuk tersenyum dihadapan para santriwatinya yang sudah lama menunggu kehadirannya.

“Assalamualaikum wr wb” sapa Nada sambil memaksakan senyumnya.

Seisi kelas menjawab salam Nada dengan ramai. Suara dari para santriwati itu menenangkan hati Nada seketika. Ia sadar kalau dirinya selama ini tidak sendiri. Ia memiliki banyak teman yang siap membantunya ditengah masalah yang menganggu hidupnya.

Terima kasih kalian semua dan juga Rachel, Ustadzah Nisa dan Ustadz V ! batin Nada nyaris terharu ketika melihat para santriwatinya tersenyum dalam menjawab salamnya.

Sementara itu di luar kelas, seseorang tengah mengintip sambil menyaksikan keindahan paras cantik dari bidadari berhijab yang memiliki postur tinggi menjulang disana. Pria itu menggeleng - gelengkan kepalanya tak percaya dengan sosok Nada yang begitu sempurna. Tetapi saat melihat ekspresi wajahnya, pria itu penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada bidadari itu.

“Ustadzah Nada kenapa yah ? Apa mungkin sedih karena merindukan aku ? Huehuehuehue” katanya ngarep.


*-*-*-*


Sementara itu di dalam ruang ADM. Rendy dan Pak Heri tengah berbincang mengenai suatu permasalahan. Wajah Rendy tampak kebingungan namun dengan sabar pak Heri terus memotivasinya tanpa lelah demi mewujudkan rencana bersama. Pak Heri tersenyum sambil memegangi pundak Rendy. Kata - kata terus ia ucapkan demi meyakinkan hati Rendy yang tengah goyah karena sikap istrinya.

“Pak Ustadz... Jangan menyerah hanya karena Istri ustadz terus menolak... Ustadz harus tegas dong sebagai lelaki untuk mewujudkan impian ustadz !” kata Pak Heri.

“Iya saya tau pak... Sebenarnya di dalam lubuk hati saya... Saya juga mau mewujudkannya... Tapi saya gak sanggup lagi pak diem - dieman terus sama istri saya... Rasanya agak canggung kalau tiba - tiba kami mengungkit masalah itu lagi” kata Rendy bimbang.

“Gak usah khawatir pak ustadz... Ustadzah Nada seperti itu bukannya gak mau kok... Ia cuma ragu karena apa yang pak ustadz minta itu hal yang baru... Nanti kalau ia sudah melakukannya pasti akan ketagihan... Saya yakin kok” kata Pak Heri terus memotivasi.

“Ketagihan ?” kata Rendy tertarik.

“Iya pasti ustadzah Nada akan ketagihan melihat pak Ustadz cuma duduk ngeliatin dia disetubuhi oleh orang asing... Wakakkaka saya aja udah gak nahan bayangin itu semua terjadi” kata Pak Heri.

Gleekkkk !!!

Rendy pun menenggak ludah membayangkan kejadian itu andai terwujud.

“Gimana ? Ini soal perjuangan pak ustadz... Kalau pak Ustadz nyerah ya ustadz akan kalah ! Semua yang kita bicarakan selama ini akan terbuang percuma.... Impian dan fantasi pak ustadz demi melihat istri ustadz disetubuhi orang lain akan hilang begitu saja... Kan sayang kan ?” kata Pak Heri.

“Iya sih... Tapi pak . . . .. “ kata Rendy masih ragu.

“Haduhhh... Ingat gak apa yang pak ustadz bilang waktu itu ?” kata Pak Heri mengingatkan.

“Waktu itu ?” kata Rendy mencoba mengingatnya.

BEBERAPA BULAN YANG LALU

Langit tampak cerah menaungi bumi pesantren, angin yang bertiup membawakan kesegaran bagi para santri maupun pengajar. Beberapa santri yang duduk dibawah pohon yang rindang tersenyum dan berbicara sambil menikmati hawa sejuk yang menerpa tubuh mereka. Bahagia, rasanya seperti ada di dalam surga. Mereka amat menikmati kesejukan ini begitupula dengan apa yang terjadi di dalam kantor bagian administrasi.

Rendy sedang berjaga sendiri sambil mendengarkan sebuah lagu menggunakan headset yang terpasang di telinganya. Sebenarnya mendengarkan musik bukanlah tindakan yang dilarang selama tidak menyetelnya keras - keras. Begitulah yang saat ini Rendy lakukan. Sebagai ketua di bagian Administrasi, ia pun bebas untuk melakukan apapun tanpa perlu takut dimarahi.

Ia duduk di depan meja operator mengecek data para santri yang belum membayar SPP.

“Satu... Dua... Tiga... Wah masih banyak ternyata yang belum bayar... Padahal besok deadline terakhirnya” kata Rendy mengomentari.

Tak diduga terdengar suara mobil berhenti di depan halaman kantor Administrasi. Rendy yang mendengarnya langsung melepas headset itu kemudian berdiri sambil mengintip ke arah luar. Sesuai dugaan sebuah mobil pengantar paket itu berhenti untuk memberikan beberapa kiriman paket, surat bahkan uang jajan dari para wali santri untuk santri - santrinya. Lekas Rendy datang menghampiri untuk menyambut kuli tersebut.

“Selamat pagi pak... Baru dateng yah paketnya” kata Rendy berbasa - basi.

“Ohhh ustadz Rendy... Selamat pagi pak ustadz... Iya nih masih anget... Baru dikirim langsung dari kantor” kata Kuli tersebut.

“Hahahaha ada banyak gak pak Heri paketnya ?” tanya Rendy.

“Wahhh lumayan pak... Gak tau kenapa mereka ngirim sebanyak ini... Lagi sibuk yah pak ?” tanya Pak Heri sambil menurunkan satu persatu paket itu dengan hati - hati.

“Hahaha gak juga sih” kata Rendy membantu.

Satu persatu paket telah dipindah ke dalam kantor administrasi. Rendy dengan teliti memeriksa paket yang diterimanya. Sebisa mungkin ia ingin menghindari sebuah kesalahan yang mana akan merugikan si pengirim dan juga si penerima. Disela - sela pengecekan tersebut, mereka berdua mengobrol santai untuk mengurangi beban pekerjaan ditengah jadwal sibuk mereka. Pak Heri sudah lama mengenal Rendy karena itulah ia sampai berani mengobrol santai dengan ketua bagian administrasi tersebut.

“Lagi jaga sendiri yah pak ustadz ?” tanya Pak Heri.

“Wahh iya nih pak... Yang lain lagi pada ngajar” jawab Rendy sambil memeriksa kertas catatan tersebut.

“Wakakaka sayang banget yah... Padahal tadi waktu perjalanan kesini saya ngarep banget loh pengen ketemu ustadzah Nada” kata Pak Heri menyinggung istri Rendy.

“Hahahaha bisa aja pak Heri ini... Kenapa memangnya pak dengan istri saya ? Kok pengen ketemu ?” tanya Rendy.

“Haihhh pake nanya pak ustadz nih... Istri ustadz tuh udah terkenal loh sepantaran kuli pengantar paket seperti saya... Tiap kali pulang mengantar pasti mereka akan membicarakan kecantikan istri ustadz” kata Pak Heri.

“Wahhh beneran ? Hahahaha jadi malu saya” kata Rendy tampak bangga karena memiliki istri cantik seperti Nada.

“Iya beneran loh ustadz... Parasnya, senyumnya, sikapnya wahhh bener - bener mencerminkan bidadari loh pak ustadz.... Saya aja gak nyangka ada perempuan secantik dan sebaik ustadzah Nada di dunia ini.” kata Pak Heri memuji kecantikan istri Rendy.

“Hahahah terima kasih yah pak kalau gitu atas pujiannya... Sebenarnya sesuatu yang membuat saya terpikat untuk menikahinya ya karena senyumnya itu” kata Rendy tampak senang.

“Ohh begitu yah ? Bisa diceritain gak pak ustadz gimana bisa ketemu wanita secantik ustadzah Nada ?” tanya Pak Heri.

Tak sadar mereka berdua saling mengobrolkan kecantikan, keindahan bahkan kebaikan Nada. Walaupun semua paket sudah diperiksa mereka tak kunjung berhenti untuk membicarakan bidadari bertubuh jangkung itu. Dengan tinggi 170 cm dengan berat 50 kg. Siapa yang tak ingin membicarakan keindahannya ? Apalagi parasnya yang sempurna, kulit putih beningnya yang mempesona. Setiap lelaki tentu ingin memiliki istri secantik dan seindah Nada.

Tak terasa bel pergantian waktu mengajar sudah berbunyi, Pak Heri juga memiliki jadwal lain ditengah kesibukannya. Pak Heri pun undur diri ditengah kebahagiaannya bisa mengobrol bersama membahas kecantikan Nada.

“Oh iya pak ustadz... Terima kasih yah sudah menceritakan ustadzah Nada ke saya wakakakka... Ngomong - ngomong boleh minta nomor hape ustadz gak ? Biar kapan - kapan kita bisa melanjutkan obrolan seru ini tentang istri pak ustadz” pinta Pak Heri mupeng.

“Hahahah iya boleh - boleh... Ini nomor saya... Simpan yah” kata Rendy membacakan satu persatu nomornya.

“Oke sip udah disimpan... Saya permisi dulu yah pak” kata Pak Heri izin pergi.

“Iya pak... Hati - hati” kata Rendy tersenyum senang. Ia pun heran kenapa dirinya bisa sebahagia ini ketika menceritakan kebaikan istrinya. Ia makin bersyukur karena sudah memiliki istri secantik dan sebaik Nada.

MALAMNYA

Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam, tapi Rendy urung tidur karena begitu asyik mengobrolkan istrinya. Ya, mereka masih asyik membicarakan sesuatu tentang Nada yang nampaknya bakal berlanjut hingga tujuh hari tujuh malam. Mereka seolah tak kehabisan tema untuk membicarakan kesempurnaan Nada. Rendy bahkan sampai curhat mengenai istrinya yang kadang sulit untuk ia atur apalagi soal urusan sex yang menurut Nada sangat tabu. Permintaan Rendy yang aneh - aneh membuat Nada enggan untuk menurutinya. Rendy kecewa tapi ia hanya bisa bersabar karena ia tahu kalau permintaannya memang sulit untuk Nada wujudkan.

“Wakakakak... Ternyata ustadz Rendy sampai begitu yah... Gak nyangka saya” balas Pak Heri setelah mendengar sikap Rendy dalam berhubungan badan dengan istrinya.

“Hehehe begitulah pak... Punya istri cantik soalnya... Jadi suka bosan kalau melakukannya dengan cara biasa” balas Rendy.

“Nah iya betul tuh pak ustadz... Punya istri secantik ustadzah Nada kudu sering dieksplor lagi.... Bercinta itu bukan asal coblos mencoblos terus udah yah... Tapi juga harus ada seni biar hubungan diantara kalian makin terjaga dan harmoni” balas Pak Heri menasehati.

“Betul pak... Cuma pak Heri kayaknya yang mengerti perasaan saya” balas Rendy curhat.

“Oh yah ngomong - ngomong ustadzah Nadanya mana ? Apa udah tidur ?” balas Pak Heri.

“Iya pak... Ia sudah tidur disamping saya” balas Rendy.

“Masa ? Boleh lihat ?” balas Pak Heri yang mengejutkan Rendy.

“Ehhh sekarang ? Tapi istri saya sedang memakai pakaian terbuka pak” balas Rendy ragu.

“Justru itu saya pengen lihat wakakkakak... Pengen tahu gimana sexynya ustadzah Nada kalau gak berhijab” balas Pak Heri mupeng.

Rendy diam sejenak tak kunjung membalas pesan itu. Ia ragu tapi pikirannya mendorongnya untuk memfoto keadaan Nada sekarang. Rendy pun melihat sejenak ke arah Nada. Wajah cantik dengan rambut panjang yang tergerai ke belakang. Istrinya mengenakan daster tipis yang mana membuat belahannya terlihat. Rendy pun menenggak ludah. Entah kenapa ada dorongan di dalam jiwa untuk memamerkan keseksian istrinya. Walau sempat ragu, tangannya perlahan - lahan mengarahkan hapenya ke arah Nada.

Cekreekkk !!!

Rendy telah memfotonya dan mengirimkannya pada Pak Heri. Entah kenapa saat itu perasaan Rendy berubah jadi gugup. Ia begitu penasaran untuk membaca balasan pesan dari kuli pengantar paket itu.

“Widihhh gilee.... Sexy amat pak ustadz istrinya... Susunya agak ngintip tuh... Pasti bulat yah ? Teksturnya kenyal gak ustadz ?” balas Pak Heri dengan memberondong pertanyaan. Entah kenapa Rendy jadi terangsang menerima pertanyaan itu. Satu persatu Rendy membalas pertanyaan mesum tersebut.

“Pasti ustadzah Nada jago goyang yah pak ustadz diatas ranjang ?” tanya pak Heri kembali.

“Hahahaa iya pak... Jago banget saya aja sampai kewalahan” balas Rendy yang membuat birahi Heri meninggi.

“Terus... Terus bibirnya gimana ? Sedotannya mantap gak ustadz ?” tanya Pak Heri.

“Mantap dong pak... Nada itu paling jago soal urusan berciuman... Servisnya gak pernah meragukan lah pokoknya” balas Rendy.

“Wahhhh... Saya kok jadi pengen wakakakka.... Boleh difotoin lagi gak pak ustadz... Saya pengen lihat susunya” balas Pak Heri yang segera disetujui oleh Rendy.

Cekrekkk !

Sebuah foto kembali terkirim ke nomor pak Heri.

“Widihhh saya makin gak tahan pak... Boleh video call gak pak ustadz.... Saya pengen lihat secara langsung soalnya” pinta pak Heri.

Entah bisikan dari mana Rendy justru menyetujuinya. Layar video call pun aktif menampilkan keadan pak Heri yang sudah telanjang bulat sambil mengocok penisnya. Rendy terkejut tapi ia tak marah sama sekali yang membuat Rendy bingung akan dirinya sendiri.

“Wahhh... Wahhhh... Bisa diturunin dikit gak ustadz daster yang ustadzah Nada kenakan ?” pinta Pak Heri sambil terus mengocoknya.

Rendy menuruti sambil menenggak ludahnya. Sedikit demi sedikit bulatan indah itu sudah terlihat seluruhnya. Bahkan Rendy tak ragu untuk menyingkap dasternya naik hingga bulu - bulu halus disekitar kemaluannya terlihat.

“Widihhh... Ahhhh ahhhhhh.... Bisa di perbesar gak ustadz video memeknya” pinta Pak Heri mulai vulgar.

Rendy kembali menuruti. Melihat istrinya dilecehi secara online membuat birahi Rendy turut bangkit. Entah kenapa ia turut bernafsu melihat istrinya dilecehkan seperti ini.

Mata Pak Heri nyaris meloncat keluar sambil menatap wajah polos Nada yang tengah tertidur pulas. Dengan penuh semangat ia terus mengocok penisnya. Rendy pun bernafsu merekam setengah ketelanjangan istrinya sambil memegangi penisnya yang sudah mengeras.

Kebetulan Nada sedang mengangkang hingga bibir vaginanya yang pink itu terlihat. Pak Heri semakin bersemangat mengocok melihat penampilan Nada yang merangsang pikiran.

“Uhhh uhhh uhhh pak ustadz... Istrinya sexy amat... Ahhhhh” desah Pak Heri terus mengocoknya.

“Ohhh andai saya disana.... Saya pasti sudah meremas susunya... Nampar - nampar bokongnya dan menggenjot ustadzah Nada sampai membuatnya teriak - teriak” kata Pak Heri mengeluarkan fantasinya.

Rendy hanya diam mendengarkan kata - kata itu.

“Ohhh jadi pengen ngentotin Ustadzah Nada pake gaya nungging... Punggungnya yang mulus... Susunya yang gantung pasti mantap untuk ditusuk - tusuk !!” kata Pak Heri terus berfantasi.

“Ouhhh yahh... Ouhhh ouhhhhh ustadzah Nada” kata Pak Heri yang nampaknya nyaris mencapai klimaks.

Mata Rendy melotot melihat Pak Heri begitu bernafsu menatap keindahan istrinya. Rendy diam - diam menenggak ludah menonton istrinya terus dilecehkan secara online. Dua menit berlalu Pak Heri masih mengocoknya hingga membuat penisnya berdenyut - denyut sendiri.

“Ahhhhhhh ustadzahh... .Ahhh ahhhhh ustadzahhh... Ahhhhhhhh !!!” Pak Heri mencapai klimaks yang akhirnya menumpahkan semua spermanya ke sprei kasurnya sendiri. Rendy terkejut melihat begitu banyaknya sperma yang tumpah itu. Ia kemudian menatap ke wajah istrinya. Sekali lagi ia melihat ke arah tumpahan sperma itu. Ia pun membayangkan andai semua sperma itu tumpah di wajah istrinya.

“Ahhhh terima kasih yah pak... Saya puas... Hehehe sampaikan salam saya ke ustadzah Nada yah pakk.. Selamat malam !” kata Pak Heri menutup video call mereka.

Rendy segera melepas headset yang menyambung di hapenya. Kemudian ia menaruh hapenya itu ke meja kecil disamping ranjang tidurnya. Ia pun tiduran sambil menatap langit - langit kamar.

Kenapa aku bisa menikmati perbuatannya ?

Rendy bingung ketika tubuhnya terangsang melihat istrinya dilecehkan oleh orang lain. Diam - diam ia pun memeluk Nada yang tengah tertidur pulas. Satu tangannya lain mengeluarkan sesuatu dari dalam celananya. Ia memejamkan mata sambil mengocok penisnya sendiri.

“Ahhhh ahhhhh ahhhhhh dekkk.... Ahhhhhh !!!” kata Rendy membayangkan pak Heri ada disini tengah memperkosa istrinya.

KEESOKAN PAGINYA

Rendy tengah melamun di dalam kantor bagian adimistrasi memikirkan perbuatannya semalam. Ia masih bingung penasaran akan keanehan yang ia rasakan. Ia heran kenapa dirinya bisa menikmati ketika istrinya sedang dilecehi. Ia pun menggeleng - gelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan apa yang sudah terjadi.

“Lohhh kok ngelamun pak ustadz” kata seseorang tiba - tiba mengejutkan Rendy.

“Haihh pak Heri ngagetin aja” kata Rendy.

“Wakakkaka... Mikirin apa nih ? Pasti semalam yah ?” kata Pak Heri.

“Iya nih pak... Saya masih bingung dengan perasaan saya” kata Rendy.

“Bingung ? Kenapa ? Apa karena pak ustadz menikmatinya ?” kata Pak Heri yang membuat Rendy terkejut.

“Loh iya pak ? Kok tahu ?” tanya Rendy.

“Wakakakak... Apa pak ustadz selama ini khawatir ? Tenang aja itu normal kok... Itu namanya cuckold dimana setiap pasangan mempunyai fantasi melihat pasangannya disetubuhi oleh orang lain” kata Pak Heri menjelaskan.

“Maksudnya ? Saya masih normal gitu ?” kata Rendy merasa lega.

“Wakakakaka ya gak bisa dibilang normal juga sih tapi itu wajar... Wajar kalau pak ustadz seperti itu... Punya istri cantik cenderung membuat kita ingin memamerkannya ke orang - orang” kata Pak Heri.

“Ohh gitu” jawab Rendy.

“Coba pak ustadz... Beritahu istrimu biar kapan - kapan saya bisa menyetubuhinya... Wakakakak” kata Pak Heri mupeng yang membuat Rendy terkejut mendengar kata vulgar itu.

“Ehhhh gak yakin kalau soal itu saya pak” kata Rendy.

“Sssstttt Laki - laki itu berkata lewat aksi bukan lewat kata - kata... Bisikin aja ditelinganya penis saya unik loh bentuknya wakakkakakak” kata Pak Heri yang membuat Rendy kembali terangsang.

“Hehehe baiklah saya akan mencobanya nanti” kata Rendy yang membuat pak Heri tersenyum.

MASA SEKARANG

“Inget kan waktu itu ? Pak Ustadz sendiri yang bilang kalau mau mencobanya ? Kenapa sekarang malah menyerah sebelum berhasil ?” kata Pak Heri mengingatkan.

“Tapi kan saya gak tau kalau ternyata akan jadi serumit ini” kata Rendy.

Tiba - tiba dari arah luar ruangan terlihat samar - samar bayangan Nada mendekat. Sontak Rendy meminta Pak Heri bersembunyi di belakang meja operator. Tak berselang lama Nada pun datang menghampiri dengan ekspresi wajah sedih. Rendy yang melihatnya pun iba penasaran.

“Dek... Apa yang terjadi dek ? Kenapa wajah adek sedih begini ?” tanya Rendy datang memeluk Nada.

Nada tak menjawab. Ia hanya mendekat membiarkan suaminya memeluk tubuhnya yang lemah. Perlahan - lahan Nada mulai membalas pelukan dari suaminya. Ia mulai merasa nyaman membuat hatinya merasa tenang. Ia pun mulai mengangkat wajahnya guna menatap wajah tampan suaminya.

“Ini soal masalah itu mas... Adek gak sanggup lagi memikirkan hal itu” kata Nada dengan nada lirih. Air mata mulai menetes jatuh membasahi wajahnya.

“Dekkkk” kata Rendy mengusap punggung Nada guna meringankan deritanya. Rendy pun semakin iba melihat istrinya tersiksa oleh tekanan yang diberikan olehnya. Perasaan menyesal kian menguasai hatinya. Ia tak tega melihat istrinya menangis seperti ini.

“Yaudah dek... Kalau adek gak mau adek bisa melupakannya kok... Mas gak mau maksa adek tuk melakukannya... Mas gak mau membuat adek menderita lagi” kata Rendy dengan ekspresi wajah kecewa. Pak Heri yang bersembunyi turut kecewa mendengar sikap Rendy yang mengalah.

Nada kemudian tersenyum sambil menatap wajah suaminya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil membuka bibirnya pelan - pelan.

“Bukan begitu mas... Ini sebaliknya... Adek siap menuruti apa yang mas mau karena adek gak mau kita terlibat dalam persoalan ini terus menerus” kata Nada yang membuat Rendy sumringah.

“Beneran dek ?” kata Rendy merasa senang.

“Iya mas... Tapi sekali aja kan ? Janji ?” kata Nada walau masih berat hati.

“Iya kok dek... Mas janji” kata Rendy merasa lega akhirnya Nada mau menyetujuinya.

“Lalu siapa orang itu mas ?” kata Nada berkata malu - malu.

“Saya orangnya ustadzah” Tiba - tiba pak Heri muncul dari tempat persembunyiannya membuat Nada terkejut melihatnya.

“Iya dek.. Pak Heri orangnya” kata Rendy mengiyakan pendapat Pak Heri. Nada masih tak bisa berkata - kata, ia pun tak tahu harus bersikap seperti apa setelah melihat Pak Heri datang menghampiri.

Semakin Pak Heri mendekat membuat Nada mundur ketakutan. Pak Heri kemudian menggenggam jemari Nada, kemudian ia berlutut sambil mencium punggung tangannya.

“Terima kasih ustadzah sudah mau menyetujui keinginan kami berdua... Apa perlu kita pemanasan dulu agar kelak ketika hari H kita gak merasa gugup ?” kata Pak Heri.

Nada pun menatap Rendy dan hanya dijawab dengan anggukan olehnya. Bibir Nada pun bergetar merasa ragu dengan jawaban yang sudah tersimpan di hatinya.

“Bo... Booleh pak” kata Nada merasa tak nyaman.

“Kalau gitu malam ini disini yah... Kita akan pemanasan untuk menghilangkan kecanggungan diantara kita” kata Pak Heri kembali mengecup punggung tangan Nada. Nada pun menganggukan kepala menyetujui. Pak Heri yang melihatnya sumringah begitupula dengan Rendy.

Nada pun melihat Pak Heri mendekati suaminya untuk kembali mengobrol. Sedangkan Nada diam mematung di tempat. Walau lisannya sudah berkata ya tapi masih ada keraguan di dalam hatinya. Ia pun melihat ke arah luar sambil mencari seseorang yang ingin ia mintai pendapat.

Benarkah apa yang sudah ana lakukan ? V ???

MALAMNYA

Dikala masa muwajjah berlangsung, Nada masih bimbang dengan keputusannya. Ia memang sudah berkata setuju melalui lisannya tadi pagi. Akan tetapi hatinya masih belum menyetujui sepenuhnya. Akibatnya ia tak bisa fokus dalam menemani santriwatinya belajar. Kerap kali ia melamun menatap ke arah jendela mengamati bintang - bintang diangkasa. Kebetulan kelas Nada berada di lantai dua sehingga ia lebih mudah untuk melihat angkasa melalui kaca jendela kelasnya.

Para santriwati pun tahu bahwa ada beban pikiran yang mengganggu ustadzah cantiknya. Mereka jadi ragu untuk menanyakan sesuatu mengenai pelajaran yang belum mereka pahami. Seketika Nada melihat ke arah santriwatinya. Ia terkejut setelah melihat mereka kompak menatapnya dengan tatapan heran. Mereka heran melihat dirinya tidak seperti biasanya. Nada pun tersenyum sambil membuka bibirnya pelan - pelan.

"Antum semua ada apa ngeliatin ustadzah ?" Tanya Nada sambil tersenyum.

"Antum kenapa ustadzah... Gak kaya biasanya antum melamun" Tanya salah satu perwakilan santriwatinya.

"Hehe gak kok... Ustadzah biasa aja... Bener deh" Kata Nada agak terharu setelah mengetahui kalau santriwatinya selama ini memperhatikannya.

"Masa sih ustadzah ? Apa ustadzah mau istirahat dulu... Kami janji kok akan belajar dan gak tidur" Kata santriwati lainnya.

"Iya ustadzah... Kami juga gak bisa menuntut antum untuk menemani kami kalau antum sendiri punya masalah" Kata santriwati lainnya.

"Kalau antum memang kepikiran dan gak bisa bikin fokus muwajjah... Antum bisa menyelesaikan masalah antum dulu kok" Kata santriwati lainnya.

"Iya antum bisa selesaikan dulu kok" Kata mereka semua nyaris kompak.

Nada pun tersenyum sambil menitikan air matanya terharu. Ia tak menyangka bahwa ia memiliki santriwati yang pengertian seperti mereka. Nada pun tersenyum kemudian berdiri didepan mereka semua.

"Terima kasih yah kalian semua... Ustadzah memang akhir - akhir ini pusing kepikirannya sesuatu... Ustadzah mau minta izin yah gak nemenin kalian malam ini... Tapi janji jangan ada yang tidur loh... Semuanya harus belajar" Kata Nada tersenyum.

"Iya ustadzah... Kami gak akan tidur kok" Jawab mereka semua serempak.

Nada tersenyum, ia pun memberikan salam kemudian meninggalkan mereka semua untuk menuju kantor bagiannya tuk menemui pak Heri dan Rendy disana. Nada menoleh sejenak ke belakang, ia kembali tersenyum melihat mereka semua benar - benar belajar tanpa memejamkan mata.

Nada pun bertekad untuk mengakhiri masalah ini agar dirinya bisa mengalami situasi bahagia lagi seperti di awal pernikahannya.

Sebentar kemudian, Nada pun tiba di depan teras kantor bagian Administrasi. Nada gugup, kemudian ia mengetuk pintu sambil memegang gagang pintu tersebut.

Gak dikunci ?

"Assalamu'alaikum mas... Ini ana" Kata Nada setelah membuka pintu itu.

Saat melihat ke dalam, ia menemukan suaminya dan Pak Heri sedang duduk mengobrol di dalam. Nada tersenyum canggung terlebih saat melihat pak Heri tersenyum mesum menatapnya.

"Widihhh... Ustadzah Nada udah datang nih" Kata Pak Heri menatap mesum bidadari berhijab itu.

Pak Heri melihatnya sejenak. Matanya dari atas ke bawah bagai memunculkan sinar scan untuk memeriksa detil penampilannya.

Wajah manis, bibir tipis membuat pak Heri tak dapat berhenti memikirkan sesuatu yang erotis. Sebuah hijab biru melilit wajah Nada yang kecil. Kacamata yang menjadi ciri khasnya melekat menyempurnakan penampilannya. Sebuah gamis berwarna biru yang dipadukan dengan blazer baru membuat mata pak Heri terpaku. Berulang kali pria tua itu menggeleng - gelengkan kepalanya merasa tak percaya. Ia tak percaya bahwa sebentar lagi ia bisa merasakan nikmatnya kesempurnaan bidadari berhijab yang sedang berdiri dihadapannya.

Tanpa menunggu lama lagi, pak Heri langsung memintanya untuk duduk di pangkuannya. Dengan berat hati Nada mengikuti arahan dari pria tua itu. Langkahnya yang malu - malu membuat pak Heri semakin gemas ingin mencumbu. Jantung Rendy pun berdegup kencang melihat istrinya sebentar lagi akan segera digagahi. Ia tak marah justru ia penasaran melihat ekspresi wajah istrinya yang terkenal alim dan selalu menjaga diri.

"Wakakaka jadi gini yah rasanya punya selir cantik" Kata Pak Heri yang langsung memeluk tubuh ramping Nada dikala Nada duduk dipangkuannya. Wajah pak Heri mendekat untuk mengendus aromanya. Nada merasa risih melihat sikap Pak Heri yang menurutnya menjijikan. Sementara Rendy mulai mengeluarkan penisnya sambil mengurutnya pelan.

"Wakakak baunya harum... Pasti suka menjaga diri yah ustadzah" Kata Pak Heri yang tak dijawab oleh Nada.

Wajah pak Heri kembali mendekat, kali ini wajah Nada menjauh berusaha menolak. Mata Nada memejam dan kepalanya menggeleng - gelengkannya. Nada terus melawan yang membuat pak Heri semakin penasaran. Karena gemas Pak Heri memegangi bagian belakang kepala Nada. Tanpa menunggu lama ia langsung menghujam kan bibirnya untuk menyeruput bibir indah Nada yang sudah membuatnya penasaran.

"Uhhmmmpphhhhh" Desah mereka berdua.

Melihat istrinya mulai dicumbui membuat Rendy semakin konak mengeraskan penisnya. Ia melihat pak Heri begitu bernafsu mencumbui istrinya. Pak Heri cukup lama menempelkan bibirnya baru setelah satu menit berlalu ia melepaskannya. Nada sampai kehabisan nafas menerima cumbuan pria tua itu. Pak Heri pun terkekeh - kekeh menikmati cumbuan bibirnya.

"Wakakka sudah kuduga akan semanis ini rasanya" Kata Pak Heri tertawa.

Nada tak menjawab, ia hanya memandang wajah pak Heri dengan tatapan benci, ia mengernyitkan dahi seolah tak sudi paras indahnya dinodai oleh pria tua mesum ini. Kalau bukan karena rasa cintanya pada sang suami, sudah pasti ia bakal menolak mentah - mentah perbuatan kotor ini.

"Ahhhhhhhh" Desah Nada tiba - tiba dikala payudaranya diremas dengan keras.

Pak Hari benar - benar melampiaskan seluruh nafsunya pada Nada. Ia mencengkram kuat payudara Nada yang rupanya cukup besar hingga genggaman tangannya pun tak mampu. Sontak ia kembali mencumbui bibir Nada dengan penuh nafsu. Ia kembali menempelkan bibirnya kemudian menjulurkan lidahnya menjilati tiap senti bibir manis Nada.

"Uhhmmm uhhmmm Mmm" Berulang kali Nada ingin lepas menjauh tapi tangan Pak Heri menahan kepala belakang Nada. Melihat reaksi penolakan Nada membuat Rendy semakin cepat mengocoknya.

Nada pasrah dicumbu, bibirnya pun dilumat dengan penuh nafsu, la kewalahan menahan tiap serangan yang layangkan di mulutnya dari pria tua itu. Lidah Pak Heri mulai aktif menerjang. Berulang kali lidah Pak Heri menggeliat ingin masuk. Nada terus menahan agar rongga mulutnya tidak dinodai oleh lidah tua itu.

"Uhhmmmm Mmmppphhhh" Nada sekuat tenaga menahan bibirnya agar tetap mengatup.

Akan tetapi remasan yang cukup kuat dipayudaranya membuat Nada reflek berteriak membuka mulutnya. Pak Heri memanfaatkan langsung kesempatan ini untuk memagut bibir Nada. Lidahnya turut aktif menjilati lidah Nada. Lidah itu saling menggeliat saling bertempur dan saling melilit. Nada dapat merasakan aroma busuk dari nafasnya yang bau. Nada merasa jijik, ia tak nyaman dalam percumbuan ini. Ia pun membuka matanya, nampak suaminya dengan semangat mengocok penisnya sendiri. Entah kenapa ia jadi sedih melihat dirinya jadi objek seksual kedua pria ini. Hati Nada kembali berontak, ia masih belum sanggup menerima pelecehan ini.

Maafin adek massss !!!!

Reflek Nada memundurkan kepalanya karena jijik, kedua tangannya pun mendorong tubuh Pak Hari menjauh, seketika ia mulai mengayunkan tangannya hingga mengenai pipi Pak Heri dengan keras.

Plakkkkk !!!

Pak Heri membuka mata, ia terkejut dan menemukan Nada sudah banjir oleh air mata yang jatuh memenuhi wajahnya. Rendy tampak shock, ia ingin marah pada Nada karena merasa tidak enak pada pak Heri. Akan tetapi tatapan wajah Nada mengurungkan semuanya. Nada menangis membuat Rendy tak tega karena sudah melakukan semua ini hanya semata - mata demi hawa nafsunya.

"Maaf mas... Adek belum siap !!!" Kata Nada bergegas pergi menuju pintu keluar kemudian lekas berlari menjauh dari kantor administrasi.

"Nada tungguuu !!!" Kata Rendy hendak mengejarnya namun pak Heri menahannya.

"Sudah biarkan aja ustadz... Saya sudah menduganya kok bahwa akan sulit untuk menaklukan ustadzah secantik Nada... Biarkan dia berproses... Dia pasti shock sekarang... Tapi saya sudah cukup puas karena bisa menikmati bibirnya wakakakak" Kata Pak Heri tertantang.

"Maaf yah pak" Mata Rendy tidak enak.

"Dah gapapa namanya juga pemanasan kok.. Justru saya suka yang menolak seperti ini... Saya merasa tertantang untuk menaklukannya... Nanti pak ustadz hasut lagi yah pasti ia akan mau kok tuk melakukannya... Kita step by step dulu aja" Kata Pak Heri bangga setelah bisa memeluk Nada sambil merasakan bibir manisnya.


*-*-*-*


Beberapa menit sebelumnya di kompleks wilayah asrama pasangan.

Haura sedang duduk di kursi dekat meja riasnya sambil menatap ke arah cermin. Ia tersenyum memandangi pantulan bayangannya di cermin. Ia terlihat cantik bahkan cermin pun mengakui itu. Cermin itu terlihat lebih bersinar daripada saat sebelum Haura menggunakannya. Persiapan untuk menemani anak didiknya muwajjah telah selesai. Haura mengenakan hijab berwarna putih cerah yang ia padukan dengan gamis berwarna biru panjang yang menutupi hingga ke mata kakinya. Haura terlihat anggun dengan riasan tipis yang memperindah wajah cantiknya. Sebuah buku catatan dan beberapa buku materi ia masukan ke dalam tas. Sekali lagi, ia tersenyum sambil memandang ke arah cermin itu.

"Ayo kita berangkat Haura... Anak didikmu sudah menunggu" Kata Haura berbicara sendiri.

Saat ia membuka pintu rumahnya dan hendak mengambil alas kaki di rak sepatunya, seorang tamu tak terduga muncul di halaman rumahnya. Haura memicingkan matanya sejenak untuk melihat sosok itu yang tengah berdiri di balik gelapnya malam.

Maklum keadaan di kompleks ini sedang sepi karena seluruh penghuninya sedang pergi bermuwajjah bersama santri - santrinya. Lampu - lampu yang dinyalakan di sekitar kompleks itu tidak terlalu terang demi menghemat pengeluaran listrik dikala tidak ada penghuni yang tinggal di dalamnya.

"Assalamu'alaikum ustadzah Haura... Maaf mengganggu waktunya" Sapa orang itu.

"Walaikumsalam... Siapa ya... Ohhh pak Karjo... Ada apa yah pak ? Kok bapak kemari ?" Tanya Haura heran melihat tukang bangunan kepercayaannya berada di halaman rumahnya.

"Hehe ustadzah mau berangkat yah ? Boleh minta waktunya sebentar ?" Tanya pak Karjo terlihat gugup.

"Ohh iya gapapa pak... Silahkan duduk dulu" Jawab Haura. Sebenarnya ia sedang terburu - buru untuk menuju kelasnya demi menemani santriwatinya belajar. Tetapi ia merasa tidak enak pada tamunya. Apalagi rumahnya kan cukup jauh dari pondok. Ia tak dapat membayangkan kebutuhan mendesak apa yang membuat pak Karjo sampai rela pergi jauh - jauh dari rumahnya kesini.

"Iya ustadzah... Terima kasih" Jawab Pak Karjo sambil meletakan bokongnya di kursi.

Pak Karjo mengenakan pakaian santai dengan kaus oblong berkerah yang menutupi tubuh kekarnya. Sedangkan celana kolor berwarna hijau menutupi sebagian kakinya. Celananya itu tidak panjang dan tidak pula pendek. Celana berukuran 3/4 itu hanya mampu menutupi sebagian dari lututnya.

Haura ikut duduk di kursi teras rumahnya di hadapan pak Karjo. Haura mencoba menerka - nerka apa tujuan pak Karjo kemari. Seingatnya ia sudah menggaji pak Karjo bulan lalu, semua kebutuhan pak Karjo yang berkaitan dengan pembangunan gedung pun sudah ia turuti kemarin. Lama ia berfikir hingga dirinya tersadarkan oleh suara pak Karjo yang sedang berdehem.

"Ehheemm... Ustadzah... " Kata pak Karjo.

"Ehhh iya..." Jawab Haura tersadar.

"Hehe maaf ustadzah... Saya sudah mengganggu waktu ustadzah malam ini... Saya mau minta tolong ustadzah.... Saya gak tau lagi harus minta tolong ke siapa ? Saya sampai rela menunggangi motor tua saya kemari demi bisa bertemu dengan ustadzah" Kata Pak Karjo memelas. Sekilas Haura dapat melihat motor tua yang tadi dibicarakan oleh tukang bangunan itu terparkir di dekat halaman rumahnya.

"Tolong ustadzah... Saya sedang terdesak...." Kata pak Karjo tiba - tiba meneteskan air mata. Sontak Haura yang melihatnya terkejut dengan permohonan Pak Karjo yang sungguh - sungguh. Ia pun menduga kalau pak Karjo sedang dihadapkan dengan masalah yang serius.

"Pak... Yang sabar yah pak... Bapak ada apa ? Bisa bapak ceritakan masalah bapak ke aku ?" Kata Haura mengkasihani pak Karjo.

"Istri saya ustadzah.... Istri saya.... " Kata Pak Karjo terlihat berputus asa.

"Istri bapak kenapa pak ?" Tanya Haura.

"Tolong ustadzah... Istri saya kecelakaan... " Kata Pak Karjo menatap wajah Haura dengan tatapan keputusasaannya.

"Innalillahi... Beneran pak ? Terus kabarnya gimana ?" Tanya Haura.

"Untungnya sedang dalam perawatan ustadzah... Tapi masalahnya... Saya gak punya biaya untuk membayar perawatannnya... Kalau sampai besok pagi saya gak mampu membayarnya... ISTRI SAYA TERANCAM AKAN DIKELUARKAN DARI RUMAH SAKIT USTADZAH" Kata Pak Karjo berteriak dengan histeris.

"Astaghfirullah... Sabar pak sabar... " Kata Haura bersimpati dengan musibah yang menimpa pekerja bangunannya.

"Iya ustadzah... Saya sudah bersabar... Tapi saya kepikiran kondisi istri saya ustadzah" Kata Pak Karjo menundukan wajahnya karena tak kuat menahan tangisnya.

Haura pun bingung harus bagaimana. Ia melihat tetes demi tetes air mata jatuh membasahi lantai teras rumahnya. Haura pun berfikir mencari solusi dari permasalahan kuli kepercayaannya.

Aku masih punya tabungan simpanan gak yah ? Batin Haura mencoba mengingat - ngingat.

"Tunggu sini sebentar yah pak... Kayaknya aku punya beberapa untuk meringankan beban bapak" Kata Haura bangkit kemudian memasuki rumahnya untuk mencari sesuatu.

Pak Karjo yang masih terisak - isak melihat Haura sudah masuk ke dalam. Sesaat ia pun menyeringai sambil merogoh isi sakunya. Ia mengeluarkan obat tetes mata yang kembali ia teteskan ke matanya sebelum Haura kembali ke hadapannya.

"Dasar bodoh !!! Siapa juga yang peduli dengan istri tua sepertinya kalau bisa mendapatkan calon yang lebih muda dan lebih cantik sepertimu ustadzah... Kekekekek" Katanya lirih.

Seketika Haura kembali keluar yang membuat Pak Karjo kembali menangis sambil terisak - isak dihadapan Haura.

Haura kembali meletakan bokongnya yang semok diatas kursi teras rumahnya. Ia pun tersenyum memandang pak Karjo sambil menyerahkan amplop berisikan beberapa lembar uang berwarna merah.

"Ini pak... Semoga bisa meringankan beban bapak yah" Kata Haura sambil tersenyum.

Pak Karjo mengangkat kepalanya guna menerima amplop tersebut. Namun perhatiannya teralihkan oleh tatapan Haura yang begitu mempesona. Matanya yang indah, Aura wajahnya yang cerah, bibir tipisnya yang merah. Haura benar - benar terlihat mewah yang kehadirannya bagai sebuah anugerah.

Siapa yang tidak terpana oleh keindahan Haura yang luar biasa ? Dari atas ke bawah, semua terlihat sempurna. Haura bagai bidadari yang tak mungkin untuk ia miliki. Parasnya yang anggun berbeda dengan wajah Karjo yang mirip Kim Jong-Un. Penampilannya yang mengademkan hati berbeda dengan penampilan Karjo yang sudah tak mungkin terobati. Kacau, balau, ancur dan lebur. Perbedaan mereka bagai langit dan bumi atau mungkin malam dan pagi. Pokoknya mereka bagai magnet yang saling bertolak belakang. Andai salah satu dari keduanya berhadapan sudah pasti mereka akan berpaling karena ketidak cocokan yang terjadi di antara mereka.

Cukup lama Pak Karjo terbuai oleh keindahan paras bidadari berhijab di hadapannya, ia pun tersadar oleh suara Haura yang membangunkannya.

“Pak... Ini untuk bapak” kata Haura tersenyum.

“Ehhh iya kekeke... Makasih yah ustadzah” kata Pak Karjo menerima amplop itu.

Setelah Karjo menerima amplop itu, ia pun pamit untuk kembali pulang menemui istrinya yang "katanya" sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Haura pun lega bisa membantu pria paruh baya itu. Ia pun berbalik menuju pintu rumahnya untuk menutupnya sebelum berangkat ke kelas menemui santriwatinya.

“Semoga itu bisa memm..... Ehhmmmmmm” gumam Haura terkejut saat mulutnya tiba - tiba dibekap oleh seseorang saat hendak menutup pintu rumahnya. Haura mencoba berpaling untuk melihat siapa pelakunya. Tetapi cengkraman orang itu sangat kuat, Orang itu juga mendorong Haura masuk ke dalam rumahnya secara paksa. Tak berselang lama terdengar suara pintu yang terkunci dari dalam.


*-*-*-*


Sementara itu di kelas.

Kelas terdengar ramai oleh suara para santri dan juga santriwati yang sedang belajar di gedung yang berbeda. Suasana di kelas pun beragam. Beberapa santri yang rajin begitu fokus mempelajari isi buku materinya dan beberapa santri yang malas begitu fokus untuk mendapatkan waktu istirahatnya sambil memejamkan mata.

Beberapa wali kelas tampak sibuk membangunkan beberapa santrinya yang ketiduran, mulut mereka tak pernah berhenti untuk menjelaskan apa yang belum dipahami oleh santri - santrinya. Sementara itu, V sedang berkeliling untuk membangunkan para santriwati yang tertidur dikala belajar. Ya kebetulan V mendapatkan jadwal untuk mengelilingi kelas santriwati. V tampak sumringah tapi ia mencoba fokus pada pekerjaannya karena tidak ingin ditegur oleh Adit lagi seperti di malam sebelumnya.

Seketika, perhatiannya teralihkan pada sebuah kelas yang hening. Ia tak menemukan adanya pengajar yang menemani mereka belajar. Kakinya pun melangkah menuju ke dalam kelas untuk mencari tahu siapa pengajar yang belum datang ke kelas tersebut.

“Heyy bangun... Bangunnn ada ustadz keliling” kata beberapa santriwati yang melihat V datang.

“Ayo bangun... Kok malah tidur sih” kata V membangunkan mereka dengan lembut.

“Hehehe afwan ustadz... Kami ketiduran” kata salah satu dari mereka membangunkan.

Beberapa dari santriwati itu tampak senang ketika ada ustadz tampan yang masuk ke dalam kelasnya. Beberapa dari mereka bahkan sampai berharap kalau ustadz V lah yang akan menemani mereka belajar di malam ini.

“Oh yah ustadzah kalian kemana ? Kok belum datang ?” tanya V.

“Kurang tau ustadz... Biasanya kalau ada halangan sih kami selalu diberi tahu terlebih dahulu” kata perwakilan dari mereka.

“Ohh begitu... Siapa yah wali kelas kalian ?” tanya V lagi.

“Ustadzah Haura...” jawab semua serempak yang membuat V terkejut.

Haura ?

“Ohhh ustadzah Haura... Ya sudah kalian baca - baca lagi yah... Biar ustadz panggilkan sebentar” kata V bergegas keluar kelas yang membuat beberapa santriwati kecewa.

Haura ? Ada apa dengannya ? Perasaan tadi pagi gak ada masalah tuh ? Batin V penasaran.

V terus melangkah menuju rumah bidadari berhijab itu, entah kenapa makin lama perasaannya makin tidak enak. V merasa resah membuatnya mempercepat langkah kakinya untuk menjemput Haura di rumahnya.


*-*-*-*


Kembali ke rumah Haura.

“Ehmmmm ehmmmmmmm ehhmmmmm” Haura terus berteriak ketika tangan besar berkulit hitam itu membekap mulutnya dengan paksa.

Haura ketakutan tapi ia tak bisa berteriak untuk meminta tolong. Kaki - kakinya lemas tak menduga dengan apa yang sedang terjadi dengannya sekarang. Mata Haura terbuka lebar saat merasakan payudaranya diremas oleh seseorang.

“Ehmmmm Eevass... Annn” teriak Haura ketakutan meminta untuk dilepaskan.

“Kekekekeke” tiba - tiba terdengar suara tawa yang terdengar akrab di telinga Haura.

Suara itu ? Tawa itu ? Tidak mungkin !!!!

“Akhirnya waktu yang sudah lama saya tunggu - tunggu tiba... Kekekkee” kata Karjo sang pemilik tawa yang menyebalkan.

Pak Karjo ??? Apa yang sedang ia lakukan ??

Karjo mencengkram kuat payudara Haura. Ia tak menduga, ternyata dibalik gamis lebar yang dikenakan oleh Haura sekarang, tersembunyi sebuah bulatan kenyal berukuran besar yang menggantung di dada bidadari itu. Nafas Karjo memberat membayangkan rupa dibalik keindahan payudara Haura. Semakin lama ia membayangkan, semakin kuat pula lah remasannya yang membuat Haura merinding merasakan darahnya berdesir ke seluruh tubuhnya.

“Ehhmmm... Ehmmm ahhhhh... Evass... Annnn” teriak Haura ketakutan.

Seketika Haura dapat merasakan nafas Karjo yang bau itu terhirup oleh lubang hidungnya. Aromanya busuk membuat Haura merasa jijik dengannya. Haura menggeliat, ia mencoba lepas tapi cengkraman Karjo begitu kuat membuatnya tak dapat berbuat apa - apa selain berteriak.

Tiba - tiba tubuh Haura dibalikan oleh Karjo, Haura pun dapat melihat rupa dari pria menjijikan itu dihadapannya. Haura merasa muak melihatnya. Ia merasa kesal karena sudah bersimpati pada musibah yang sedang dirasakan oleh pria tua itu.

“Kekekeke... Selamat malam ustadzah Haura” kata Karjo menyeringai menatap wajah cantik Haura.

“Apa yang bapak lakukan !!! Lepaskan aku !! Lepaskan akuuuhmm.... Uhmmm” Haura terkejut ketika bibirnya tiba - tiba dicium oleh pria tua itu.

Karjo terkekeh - kekeh ketika bibirnya berhasil bertemu dengan bibir bidadari berhijab itu. Tanpa ampun Karjo mendorong bibirnya, membenamkannya dengan penuh nafsu ke bibir ustadzah berhijab itu. Cukup lama ia menempelkan bibirnya untuk merasakan nikmat dari sentuhan bibir bidadari itu. Haura sampai memejamkan mata saat merasakannya. Ia sungguh tidak rela kalau tubuh indahnya sampai dilecehkan oleh pria tua berwajah jelek dihadapannya.

Karjo kembali mencengkram payudara Haura ditengah percumbuannya. Saat mencumbunya, ia dapat merasakan betapa manisnya bibir Haura disana. Dengan penuh nafsu Karjo melumat bibir Haura, Ia memagut bibir atasnya kemudian mengirimkan liurnya ke mulut Haura. Karena masih kurang puas Karjo menarik tubuh Haura mendekat, tangannya memegangi sisi belakang kepala Haura untuk menahannya agar Haura tidak terdorong ke belakang akibat nafsu buasnya dalam mencumbunya. Lidah pria tua itu mulai beraksi memasuki mulut Haura.

Sambil melenguh lirih, Haura menerima cumbuan pria tua bertubuh kekar dan berkulit hitam itu. Tubuhnya berulang kali berontak tapi ia tak cukup kuat untuk bertindak. Sebaliknya ia pun dipaksa untuk membuka mulut membiarkan lidah Karjo bermain - main disana. Awalnya lidah Karjo menjilati bibir tipis Haura. Karjo dengan perlahan menikmati ayunan lidahnya dalam membasahi bibir Haura yang sudah mulai kering. Samar - samar ia merasakan rasa stroberi yang berasal dari bibirnya. Karjo tersenyum, ia merasa senang kalau lipgloss yang Haura oleskan tadi tak sengaja diperuntukan untuknya.

Kembali mereka berdua merapatkan mulut mereka. Bibir keduanya bertemu, saling mencumbu, saling memagut. Lidah Karjo tak bisa hanya diam ketika ada bibir indah yang sedang ia nikmati didepannya. Lidahnya kembali menyelinap masuk memaksa lidah Haura untuk bertemu. Keduanya bertarung dengan dahsyat. Lidah Karjo melilit lidah Haura. Ia pun merasakan liur yang ada di mulut Haura penuh. Benar saja, dari tepi mulut Haura, campuran liur mereka berdua jatuh membasahi lantai rumahnya.

“Uhmmmm ustadzahh.... Uhmmm ahhhh” desah Karjo.

“Uhmmmm evass... annnnn” teriak Haura pasrah.

Tangan Karjo tidak hanya diam sedari tadi. Sebaliknya tangan Karjo meremas - remas buah dada Haura dengan lembut. Awalnya lembut kemudian beralih menjadi kasar karena tak tahan dengan kenikmatannya. Puas meremas payudara kirinya, Karjo beralih ke payudara kanan Haura. Disini remasan Karjo semakin kencang membuat Haura berteriak karena merasakan sakit di payudaranya.

“Kekekekke sakit yah ustadzah ? Maaf saya terlalu bernafsu soalnya... Pindah yuk kita masuk ke kamar” kata Karjo tiba - tiba mengangkat tubuh ramping Haura dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadi Haura.

“Enggakkkk.... Pakkk tolonggg lepaskannn.... Ampuni aku pakkk tolonggg !!!” teriak Haura panik.

Karjo bagai berjalan di dalam rumahnya sendiri. Ia begitu hafal tata letak yang sempat ia pelajari di hari - hari sebelumnya. Ia pun tak perlu melihat - lihat lagi. Ia langsung bergerak memasuki kamar Haura dan melemparkannya ke atas ranjang dengan paksa.

“Aahhhhh... Apa yang bapak lakukan ? Pakkk ini aku pakk... Sadar pakkk... Tolong jangan lakukan !” pinta Haura terus memohon.

“Kekekkeke tau kok ustadzah... Karena itu lah saya sampai rela jauh - jauh dari rumah saya untuk bisa berduaan dengan ustadzah” kata Karjo yang mengejutkan Haura.

“Aahhhhh jangannnn !!” kata Haura tiba - tiba tubuhnya sudah ditindihi oleh pria tua kekar itu.

Haura masih tidak menyangka kalau ternyata Pak Karjo bisa sebejat ini. Kepercayaan yang sudah ia berikan sejak lama luntur seketika. Karjo hanya tertawa sambil terus mencumbunya dan meremasi payudara Haura yang tengah terbaring pasrah diatas ranjang tidurnya.

“Aahhhhh jangannn... Ahhhhh ahhhhh” kata Haura saat payudaranya terus diremasi dengan paksa.

“Kekekeke... Ustadzah ini harum yah... Saya gak nyangka kalau ngelonin ustadzah bisa seenak ini” kata Karjo terus melecehkan Haura.

Tak sadar air mata mulai menetes membasahi wajah Haura. Haura merasa kecewa dengan sikap Karjo padanya. Kebaikannya seolah tak dihargai olehnya. Haura menangis dan terus menangis sambil menerima cumbuan yang dilakukan oleh pria tua bejat itu.

“Uhmmmm uhmmmmmmm auhmmmm” desah Haura menutup mata.

“Nikmatnnya uhmmm.... Bibir ustadzahh... Auhmmm uhmmm” desah Karjo memagut bibir Haura. Nafsunya semakin menjadi saat bisa mencumbui sambil meremasi tubuh indah Haura di kamar pribadi yang biasa Haura tempati bersama sang suami. Kini suaminya telah pergi hanya ada ia dan Haura saja di dalam. Karjo semakin terkekeh - kekeh merasakan kepuasannya. Bibirnya pun mengapit bibir bawah Haura kemudian ia menghisapnya untuk merasakan kemenangan yang sedang ia dapatkan.

Haura bukannya pasrah menerimanya. Ia berulang kali berontak, ia berusaha untuk mendorong tubuh kekar itu. Ia terus menangis sambil menerima pelecehan yang Karjo lakukan.

Tolong !!! Tolongg !!! Batin Haura menangis masih menutup matanya.

“. . . . . . . . . . . . . .”

Mereka tak dapat berkata - kata. Alunan suara yang berasal dari desahan mereka berdua menjadi latar belakang musik yang mengisi tempat ini. Suara tawa yang Karjo ucapkan. Desahan penuh kepasrahan yang Haura rintihkan. Semuanya saling beradu, berkolaborasi menjadi satu.

Aku mencintaimu... Haura !!!

Tiba - tiba Haura teringat akan perkataan V di dalam kantor pengasuhan kala itu. Entah kenapa ia jadi memiliki kekuatan untuk melawan. Matanya lekas terbuka, dengan sekuat tenaga, Haura mengumpulkan energinya dan memusatkannya pada telapak tangannya. Ia pun mendorong Karjo hingga membuat pria tua itu terjatuh dari ranjang birahi mereka.

“Aarrghhhhhh... Sial !!!” kata Karjo saat terjatuh, kemudian ia melihat Haura berlari sekuat tenaga keluar dari kamar. Karjo bangkit, ia pun berlari berusaha mengejar Haura yang sedang kabur dari cengkramannya.

“Tolongg... Tolonn ehmmmmmm” Haura kembali tertangkap saat mulutnya kembali dibekap.

“Kekekkeke mau kabur yah ustadzah ? Mau kemana ? Sini aja yah temenin saya bermain” bisik Karjo sambil menurunkan paksa resleting yang berada di punggung Haura.

“Tidakk.... Jangannn,... Jangann pakkkk !” kata Haura saat Karjo berusaha menurunkan resleting gamisnya.

Perlahan tapi pasti, Karjo dapat melihat kulit punggung Haura yang berwarna putih bening. Karjo terpana kemudian mencumbu punggungnya membuat Haura sampai merinding merasakannya. Haura kembali berusaha kabur tapi tangan kekar Karjo sudah mendarat di payudaranya yang kali ini hanya tertutupi oleh branya saja.

“Aahhhhhhh pakkkk.... Jangannn... Ahhhh ahhhhhhh” desah Haura saat merasakan payudaranya diremas.

Gamis itu telah melorot hingga sampai ke pinggangnya. Kini tubuh bagian atas Haura hanya tertutupi oleh bra berwarna putihnya saja. Karjo pun tertawa sambil mencumbui punggung bening Haura sambil memberikan bekas disana. Ia terkekeh - kekeh apalagi saat ia menaruh dagunya di bahu Haura sambil melihat rupa dari payudara yang selama ini membuatnya penasaran.

“Kekekek sudah kuduga punyamu besar ustadzah” kata Karjo sambil meremasi payudara Haura.

“Ahhh jangann pakkk.... Tolongg lepaskan akuuu !” kata Haura berteriak pasrah.

“Kekeke oke ustadzah... Saya lepas yah branya” kata Karjo tiba - tiba sudah melepas kait bra yang Haura kenakan.

“Apa ? Ahhhhhhhhh” desah Haura berteriak saat kulit payudaranya disentuh langsung oleh tangan kasar Karjo.

Karjo puas setelah bra berukuran 34B itu jatuh ke lantai. Ia langsung meremasnya kembali. Memainkan putingnya yang berwarna pink juga mencumbui bahu Haura untuk membangkitkan birahinya.

“Aahhhh pakk... Ahhh jangann... Ahhhhh” desah Haura dengan penuh kepasrahan.

Payudara Haura diremas, putingnya dipelintir, bahu didekat lehernya pun dicumbu hingga membuat Haura tak menyangka kalau Karjo bisa sehebat ini dalam memainkan birahinya. Haura terus mendesah tak kuat dengan siksaan birahi ini.

Tiba - tiba tubuhnya dibalikan dan Karjo langsung menyusu di payudaranya.

“Ahhhhhh pakkkkkk.....” desah Haura memejam menatap langit - langit.

“Nyammm... Nyamm... slrrpppp... Uhmmmm.... Besarnya” kata Karjo ketika menyusu di payudara Haura.

“Pakkk ahhhh jangannn... Tolongg pakkk” desah Haura.

Dikala dua gunung kembar itu diremas oleh Karjo, mulut pria itu terbuka lebar hendak mencaplok pucuk dari keduanya. Karjo bergantian mengulum dua payudara itu. Pertamanya ia mencaplok sebelah kiri kemudian beralih ke kanan lalu berpindah ke kiri lagi lalu ke kanan lagi. Lidahnya pun bermain dengan menjilati putingnya. Karjo menjulurkan lidahnya kemudian ia dorong secara perlahan hingga menyentuh puting indah Haura. Haura sampai merinding geli merasakan rangsangan pria tua kekar itu.

Setelah puas menikmati kelezatan dua payudara sintal Haura, ia pun penasaran untuk merasakan servis dari mulut bidadari berhijab itu secara langsung.

“Kekekeke.... Duduk ustadzah.... Capek kan berdiri !” kata Karjo meminta Haura untuk berlutut.

Setelah itu Karjo langsung mengeluarkan penisnya yang membuat Haura bergidik ngeri. Hitam, besar dan perkasa. Ukurannya sangat besar hingga membuat Haura sampai berhenti menangis seketika karena melihat ukurannya yang menyeramkan.

“Kekekek indah kan ? Ayo sepong ustadzah... Sepong !” kata Karjo memaksa penisnya masuk ke dalam mulut kecil Haura,

“Enggakk pakk... Gak mauuuu !!!” teriak Haura sambil menggeleng - gelengkan kepalanya berontak. Tapi ujung penis itu sudah melekat di bibirnya. Gelengan yang Haura lakukan justru hanya merangsang penis Karjo yang perlahan makin membesar dihadapan wajah Haura.

"Hehhh berani melawan yah... Buka mulutnyaaaa !!!!" Kata pak Karjo mencubit hidung Haura hingga membuatnya nyaris kehabisan nafas. Haura terpaksa membuka mulutnya membiarkan benda seram itu masuk menerjang kerongkongannya.

“Aahhhhhh akhirnnyyaaa !!!” desah Karjo keenakan saat penisnya berhasil masuk ke dalam mulut Haura.

“Uhmmmm uhmmmmmm uhmmmm” desah Haura pasrah saat penis menjijikan itu keluar masuk di dalam mulutnya.

Haura semakin menangis tak kuat di lecehkan lagi. Mulutnya terasa sesak karena dipenuhi oleh penis hitam yang hiasi oleh urat - urat perkasa. Karjo hanya mampu memasuki - nya saja. Atau mungkin malah setengahnya ? Yang jelas Karjo sedang berbahagia dalam menusuk - nusukan pusakanya ke dalam mulut kecil Haura.

“Ayo ustadzah Haura... Masukin lebih dalam lagi... Ahhhh iya seperti itu... Ouhhh yahhh” kata Karjo keenakan.

“Uhmmmm uhmmmmm” desah Haura sambil menangis memejamkan mata menahan deritanya.

Karjo merasakan penisnya hangat dan terasa nikmat di dalam sana. Ia tak menduga kalau mulut Haura bisa selezat ini. Ia terus memejam tanpa mempedulikan suara tangis yang diucapkan oleh Haura. Pinggulnya terus bergerak maju kemudian mundur. Mulutnya terbuka menghasilkan suara desahan penuh kepuasan. Saking nikmatnya ia nyaris kelepasan yang membuatnya nyaris kehilangan kenikmatan yang lebih daripada ini.

"Uhhhh hampir aja.... Gillaaaa !!!! Mantaabbbb !!!" Desah Karjo sambil melepas penisnya.

"Uhhuukk.... Uhhukkk... Cukuppp pakkk... Ampunnn !!!" Kata Haura memelas.

“Ayo ustadzah... Saya gak kuat lagi... Ayo berdiri !” kata Karjo memaksa Haura berdiri.

“Ahhhh pakkk.... Sudah pakk.... Jangan lakukan ini lagi !!! Aku gak mau pak !!!” kata Haura menolak.

“Kekkekee terus kalau kamu gak mau salah siapa ?” kata Karjo mengarahkan posisi Haura menungging bertumpu pada dinding rumahnya. Karjo dengan paksa menurunkan gamis Haura hingga menyisakan celana dalam berwarna putihnya saja. Penisnya pun ia dekatkan. Sedangkan jemarinya mulai mencari sela - sela di celana dalam Haura untuk memasukan penisnya kesana.

“Ouuhhhhhhhhh pakkkkkkkk” kata Haura kembali menangis saat lubang vaginanya mulai tersentuh oleh ujung gundul Karjo.

“Ahhhh baru kesentuh aja udah seenak ini... Apalagi sampai masuk ?” kata Karjo.

“Pakkkkk tolongg pakkk... Jangan lakukan ini padaku !” Kata Haura memohon.

Tapi Karjo tak peduli. Sebaliknya ia semakin mendorong pinggulnya hingga penis itu semakin masuk ke dalam menembus liang senggamanya.

“Aahhh pakkkk... Tolongggg !!!” kata Haura berteriak kesakitan.

Ukurannya sangat besar membuat Haura menahan perih saat penis XL Karjo memaksa masuk menembus vagina bidadari berhijab itu. Haura terus merintih menahan perih sedangkan Karjo terus mendesah merasakan kenikmatan yang luar biasa.

“Ahhhhhh pakkkkkk... Ouuhhhhhhh” desah Haura tak menduga penis itu bisa memasuki vaginanya yang sempit.

“Hahhhh... Hahhhhh... Hahhhh” desah Haura menghela nafasnya karena kelelahan.

“Ehhhh ? Pakk... Tolonngg jangannn lakukkann... Ahhhh ahhhhhhh” desah Haura saat penis Karjo mulai bergerak keluar masuk di dalam vaginanya.

“Kekekke ouhhhh mantappnya... Ouhh yahhh” desah Karjo puas.

“Ahhh pakkkk hentikannn !!! Jangan pakk !!! Jangann !!!” desah Haura menangis.

Lubangnya sempit membuat Karjo dapat merasakan betapa kuatnya dinding vagina Haura dalam menjepit kemaluannya. Sentuhan di kulit pinggangnya yang mulus turut membuat birahi Karjo meningkat. Menatap tubuh indah Haura yang hanya tertutupi hijab, celana dalam dan kaus kakinya saja membuat Karjo semakin bersemangat dalam memangsa daging mentah dihadapannya. Karjo merasa puas merasakan buah dari hasil perencanaannya setelah sekian lama.

“Ahhh pakkk tolonggg... Jangan lakukan ini pakk... Aku mohon” kata Haura terus merintih.

“Kekekekeke ahhhhh ahhhhhhh ouhhh yahhhh” kata Karjo tak peduli.

Tubuh Haura melonjak - lonjak maju mundur tak karuan. Hentakan dahsyat yang Karjo lakukan membuat Haura semakin mendesah pasrah. Payudaranya bergoyang seirama. Haura menangis menahan rasa bersalah yang sudah menguasai hatinya. Penisnya yang sungguh keras dan besar membuat Haura terus berteriak tanpa henti.

“Aahhhhh pakkkk.... Pakkkk toloongg ahhhh” desah Haura.

Maju mundur maju mundur maju mundur. Karjo tak pernah bosan dalam menikmati tubuh indah Haura. Tangannya tak hanya berhenti memegangi pinggang rampingnya. Kadang tangannya turut hadir mengusap punggung Haura merasakan kemulusannya. Kadang jemarinya juga hinggap di payudara Haura untuk mencengkramnya kuat - kuat. Haura pun semakin berteriak merasakan kenikmatan yang mulai menjalar di tubuhnya.

“Aahhhh ahhhhh pakkkkk !!!” desah Haura.

Haura juga wanita biasa. Walau ia menolak tapi ia juga merasakan betapa nikmatnya persetubuhan terlarang ini. Bahkan ia merasa kenikmatannya nyaris mengimbangi persetubuhannya dengan V. Efek dari kurangnya nafkah batin yang suaminya berikan membuat Haura nyaris lupa diri. Ia nyaris hanyut dalam persenggamaan terlarang ini. Beruntung ia bisa mengontrol diri membuatnya terus berusaha untuk lepas walau sebenarnya ia menikmati hubungan terlarang ini.

“Pakkk jangann pakkkk Ahhhhhh” desah Haura.

“Jangan ? Bukannya ustadzah keenakan juga kan ? Tubuh ustadzah gak bisa berbohong loh ? Kekekkekeke” kata Karjo menertawakan tubuh Haura yang sudah mulai menikmati persetubuhannya.

Haura pun merasa malu tapi ia tak punya waktu untuk melakukan itu. Ia terus berontak walau sebenarnya pemberontakan itu hanya ada di hati. Tubuhnya diam membiarkan Karjo menikmati semuanya.

Kenapa ? Ayo Haura lawan !!! Batin Haura tak terima tubuhnya hanya diam menikmatinya.

“Aahhhh ahhhhh ahhhhh” Haura terkejut saat Karjo mempercepat sodokannya hingga membuatnya semakin pasrah menerima penis Karjo.

Tokkk tokkk tokkk !!!!

Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah pintu masuk. Sontak Haura terkejut begitupula Karjo. Tapi Karjo tidak berhenti, ia tetap menyodok Haura yang membuat Haura kebingungan dalam mengatur suaranya.

“Pakkkk... Ahhhh tolonggg hentikannn !!!” desah Haura dengan lirih.

Tokkk tokkkk tokkk !!!!

Lagi - lagi terdengar ketukan dari arah pintu masuk.

“Assalamulaikum Haura... Ini aku... V !!!” kata V yang membuat Haura panik di dalam.

V ? Ia kesini ? Batin Haura.

Seketika mulutnya reflek terbuka untuk berteriak meminta tolong kepadanya. Akan tetapi ia teringat akan petuah Adit saat berbicara dengannya tadi pagi.

Siapapun itu ? Tolong jaga Fitri ! Jangan biarkan dia kenapa - kenapa ! Ana gak mau melihat sisi lain V bangkit menguasai tubuhnya !

Haura mengurungkan niatnya untuk meminta tolong pada V. Sebaliknya ia terus diam hingga telapak tangannya menutup mulutnya menahan tiap sodokan yang Karjo layangkan di vaginanya.

“Aahhhh ahhhhh mantapppp ahhhhh” desah Karjo mempercepat sodokannya.

“Ehhmmm ehhmmmmmmmm pakkkk !!!” desah Haura menatap Karjo sambil mengggelengkan kepalanya.

Bukannya mempelankan goyangan pinggulnya. Karjo malah mempercepatnya. Haura jadi semakin terhempas dengan kuat ke depan dan belakang. Haura memejamkan matanya sambil meringis menahan suara. Haura bergoyang maju mundur. Lama - lama makin cepat. Ia pun merasakan adanya gelombang kuat yang akan keluar sebentar lagi.

“Pakk.... Jangannnn !!! Pakkkk !!!” desah Haura memohon.

“Kekekekek.... Ahhhhh ahhhhh ahhh” desah Karjo sambil memegangi pinggul Haura. Ia mempercepatnya hingga payudara Haura bergerak semakin cepat. Haura tak kuat lagi. Ia keenakan. Ia terlecehkan. Ia benar - benar tak kuat merasakan gelombang dahsyat yang memberontak keluar sebentar lagi.

“Ahhhh ahhhhhhh ahhhhhh Jangann.... Tungguu... Ahhh... Ahhhhhhhhhhhhhh !!!!” Haura melonglong panjang saat ia mendapatkan gelombang orgasmenya. Karjo terkejut, ia pun menarik keluar penisnya dan benar saja. Sebuah gelombang dahsyat menyemprot keluar hingga membasahi sisi lantai.

“Kekekeke ustadzah Haura binal juga... Semprotannya bisa sedahsyat ini” komen Karjo.

“Haura ? Kamu gapapa ?” kata V panik saat mendengar teriakan Haura dari dalam.

“Ahhhhhhhhhhh” kata Haura mulai melemas. Kakinya pun tak kuat menopang tubuhnya lagi. Ia ambruk ke lantai dan kesadarannya benar - benar didapatinya kembali. Rasa nikmat yang didapat dari orgasmenya membuatnya merem melek keenakan. Tubuhnya sesekali mengejang menerima semua kenikmatan itu.

“Kekekkeke puas kan ustadzah... Sekarang giliran saya yah ?” kata Karjo bersiap mengangkat tubuh Haura kembali untuk mendapatkan kepuasan darinya.

“Tungg... Tungguu pakk... Hahhh.. Hahhh.... Hahhh” kata Haura kelelahan.

“Tunggu sampai kapan ? Lebaran monyet ? Saya udah gak tahan ustadzah” kata Karjo yang sudah memberdirikan Haura dan melekatkan penisnya di tepi bibir vagina Haura.

“Tunggguuu pakkk... Tolongg... Biarkan aku hahh... Hahhh... Biaarkan akuu menerima tamuu itu” kata Haura meminta.

“Apa maksudmu ? Ustadzah mau kabur yah ? Mau meminta tolong orang itu ?” tanya Karjo mencurigainya.

“Enggak pak... Tolonggg... Aku gak mau membuat orang itu curiga dengan keadaanku” Kata Haura.

Hmmm bener juga ! Kalau dibiarkan bisa - bisa planningku untuk menikmati tubuh Haura sia - sia ! Batin Karjo berfikir.

“Yaudah buruan” kata Karjo mengalah.

“Haura !!! Kamu gapapa ??” tanya V sekali lagi dengan panik.

“Iyyaaa V !!” teriak Haura dengan lemas sambil mengambil gamisnya. Tiba - tiba Karjo datang mendekat melarangnya.

“Siapa bilang ustadzah boleh pake baju sewaktu menemuinya... Kalau mau nerima tamu ya terima apa adanya dengan apa yang ustadzah kenakan sekarang kekekkekee” kata Karjo tertawa.

“Apa ? Pakkk !!! Tolong” kata Haura.

“Gak mau ? Yaudah kita lanjutkan persetubuhan kita !” kata Karjo mendekat.

Haura menghela nafasnya, dengan terpaksa ia menuruti keinginan pria tua itu. Ia mendekati pintu rumahnya kemudian membukanya sedikit sambil melongokkan kepalanya menerima kehadiran V.

“Haura kamu gapapa ? Apa yang terjadi Haura ?” tanya V panik bergegas memasuki rumahnya. Buru - buru Haura menahannya. Ia memaksakan senyum sambil menjawab pertanyaan itu.

“Aku gapapa V... Aku Cuma sedikit pusing mungkin kecapekan” kata Haura bersikap sebiasa mungkin.

“Beneran ? Terus tadi kamu kenapa ? Kok berteriak ?” tanya V.

“Gapapa kok V bener... Tadi aku cuma mimpi buruk” jawab Haura berbohong.

“Haura . . . . .” kata V seolah tak percaya.

“Kamu gak percaya kata - kataku yah V ?” tanya Haura kembali memaksa senyum.

“Aku gapapa kok... Kalau gitu aku temani kamu yah” pinta V.

“Gak usah V... Aku cukup istirahat aja kok... Bener deh aku gak kenapa - kenapa” jawab Haura menenangkan kekhawatiran V.

Walau sedikit curiga, V akhirnya mempercayakan kata - kata Haura itu. Terlebih wajahnya terlihat lelah. Mungkin Haura memang benar - benar sakit dan butuh yang namanya istirahat.

Haura melebarkan matanya saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh liang senggamanya. Sesuatu itu terasa keras, berdiameter besar dan tengah menyundul - nyundul liang senggamanya yang membuat Haura panik. Haura melihat ke belakang sejenak dan ada Karjo disana yang tengah tersenyum mesum sambil mencengkram pinggang ramping Haura.

“Haura kamu kenapa ?” tanya V.

“Gakk... Gakkk kaahhhhh... Gapapaahhhh kok... Ahhhh” jawab Haura kesusahan saat Karjo sudah mulai kembali menyodokan penisnya ke vaginanya.

“Haura kamu beneran gapapa ?” tanya V curiga.

“Gapapahhhh.... Iyahhhhh.... Akuhhh ehmmm... Gapapaahhh kok V... Aku istirahat duluuhhh... yahhhh !!!” pinta Haura.

“Haura ?” kata V khawatir.

“Yasudah... Cepat sembuh yah... Selamat malam” kata V.

“Iyahhh... Malammhhh” kata Haura menutup pintunya.

V agak heran melihat gelagat Haura yang aneh. Ia pun berjalan keluar kembali ke kelas untuk mengabarkan kondisi Haura pada santriwatinya. Sesaat ketika ia melewati halaman rumah Haura. Ia melihat adanya sepeda motor tua yang terparkir disana.

“Motor tua siapa ini ?” tanya V.

KEMBALI KE RUMAH

“Ahhhhhh ahhhhhh ahhhhhhhhh pakkkk.... Apaahhh.... Yangghhhh..... Bapakkkkkk lakkukan tadii !!!” kata Haura marah saat Karjo melecehkannya di hadapan V.

“Kekekkeke nikmat bukan ? Andai tadi pak Hendra pasti lebih puas lagi bisa bercinta di depan suamimu” kata Karjo terus melecehkan Haura.

“Jangan pernahhhh... Sebut namahhh suamiku lagiihhhh ahhhhh” kata Haura.

Haura terhentak maju mundur dengan cepat. Tubuhnya yang indah sudah telanjang, tubuhnya menggelinjang, payudaranya bergoyang, Karjo merasa menang.

Karjo mengangkat tubuh Haura hingga berdiri membelakanginya kemudian tangan kanannya memeluk tubuh ramping Haura. Tangan kirinya meremas payudara Haura dan Bibirnya mendekat untuk mencumbui bibir manis Haura. Haura benar - benar dilecehkan oleh nafsu birahi Karjo.

Haura terus mendesah dan mendesah menerima paksaan Karjo yang semakin bernafsu. Karjo pun membawa Haura menuju ruang tamu. Karjo duduk di kursi itu dan Haura duduk dipangkuannya sambil menatap wajah jelek pria tua itu.

Haura memalingkan wajahnya saat dipaksa menatapnya. Karjo terkekeh - kekeh bisa melihat Haura sevulgar ini. Tanpa membuang waktu ia kembali menaik turunkan tubuh Haura yang membuat Haura semakin mendesah saat lubang vaginanya tertancap semakin dalam oleh penis besar hitam itu.

“Ahhhh ahhhhh ahhhhhhhh bapaaakkkk !!!!” teriak Haura.

“Kekekek yang keras ustadzahhh !!! Keluarkan semuaahh !!! Puaskan nafsumu denganku !” kata Karjo menyemangati.

“Ahhhh ahhhhh ahhhh” Haura bukan menurutinya tapi karena penis besar Karjo itulah yang membuat Haura tak sadar berteriak mendesah. Haura panik, Haura kalut ketika ia tak bisa mengontrol tubuhnya lagi.

Naik turun, naik turun, naik turun. Tubuh Haura terlihat indah dipandangan Karjo. Berulang kali lidah Karjo keluar menjilati bibirnya sendiri menatap keindahan Haura. Karjo pun mendekat, menyusu di putingnya dan menghisapnya kuat - kuat yang membuat Haura kewalahan.

“Ahhhhh ahhhhhh ahhhh pakkkkk toolloonggg !!”

Karjo tak kuat lagi, rasa nikmat yang dihasilkan sedari tadi mulai tak dapat ia kuasai. Penisnya semakin besar dan berdenyut - denyut di dalam. Haura yang merasakannya pun menatap wajah Karjo tak percaya.

“Kenapa ? Hahhh hahhhh... Iyahhh saya mau keluar... Saya keluarkan di dalam yah ustadzah ? Ahhhh ahhhhh” desah Karjo.

“Apa jangan pakkk !!! Tolongg jangan lakukan !” kata Haura panik tak mau dihamilii oleh pria jelek itu.

“Kekekekke kenapa jangan ? Ahhhh sukahhh... Sukahhh sayahhhh... Donggg !!!” kata Karjo tak kuat lagi.

“Pakkk tolonggg jangann !!!” kata Haura menangis. Ia tak mau mendapatkan anak dari pria tua jelek itu. Ia memohon, ia memikirkan cara bagaimana caranya agar pak Karjo mengurungkan niatnya untuk menghamilinya. Apalagi ia teringat kalau hari ini merupakan masa suburnya.

“Pakkkk jangannn... Tolonggg pakkk aku akan melakukann apa aja Ahhhhhh” kata Haura tak kepikiran apapun lagi.

“Apa aja ? Hahhh ahhhhh ahhhhh” kata Karjo terus menaik turunkan tubuh Haura.

“Iyyahhh pakkk Apapun itu tapi tolong jangan keluarkan di dalam !!!” kata Haura benar - benar panik.

“Kkekekekkeke baiklah” kata Karjo mencengkram kuat pinggang Haura dan menusukan penisnya lebih dalam ke vagina Haura.

“Ahhhhh pakkkk ahhhhh ahhhhhh ahhhh”

“Ouhhh ustadzahhhh.... Ouhhh yahhh ahhhh ahhh uhhhhhh” kata Karjo.

Penis Karjo semakin berdenyut, nafasnya turut memberat, tubuhnya bergetar merasakan gelombang nikmat yang akan segera keluar.

“Ahhhhh ahhhhhhh.... Iyahhhhh... Uhhhhhhhhh” Karjo menancapkan penisnya sedalam - dalamnya nyaris menyundul rahim Haura. Sesuai janji, bergegas ia mengeluarkan penisnya dari dalam membuat kaki Haura lemas hingga berlutut dihadapan Karjo. Haura tak kuat lagi. Ia sudah tak mampu menahan gelombang dahsyat ini.

“Ustadzahhh Hauraaa !!!!” desah Karjo diikuti oleh semprotan sperma yang mengenai wajah ayu Haura.

“Aahhhhhhh” teriak Haura terkejut saat wajahnya disirami oleh lelehan sperma yang masih hangat dan bertekstur kental.

“Ahhhh ahhhh mantappnyaa.... Ouhhh yahhhh” desah Karjo mengocok - ngocok penisnya mengeluarkan seluruh spermanya hingga tetes terakhir. Karjo bergidik nikmat hingga matanya merem melek merasakan kepuasannya. Akhirnya tetes terakhir pun keluar. Karjo membuka matanya, ia terkejut melihat wajah Haura begitu dipenuhi oleh lelehan spermanya.

“Kekekekke makin cantik kan ustadzah kalau gini” ejek Karjo yang membuat Haura bersedih.

Haura pun ambruk di lantai sambil menangis sesenggukan. Haura ternoda di dalam ruang tamu rumahnya. Wajahnya telah diselimuti oleh lelehan sperma pria tua jelek itu. Ia seperti mengenakan masker wajah yang dicampur oleh lelehan air mata. Haura menangis hingga tak mampu menatap pria bejat itu lagi.

“Kekekekkee sesuai janji... Ustadzah bakal mau melakukan apapun yang saya mau kan ?” kata Karjo puas merasakan kemenangannya.

Wajah Karjo pun mendekat membisikan sesuatu ke telinga Haura yang membuat Haura membuka mata lebar - lebar.

“Apa maksud bapak ? PERGGII !!! PERRGIII DARI SINI !!!” teriak Haura dengan penuh amarah. Haura menangis sesenggukan. Tangisannya semakin deras. Haura merasa sakit hati ketika kepercayaannya dikhianati. Entah, mungkin akan membutuhkan waktu lama agar hatinya terobati.

“Kekekkeke iya iyya saya akan pergi kok... Jangan lupakan apa yang saya pinta tadi yah !” kata Karjo berjalan santai keluar rumah Haura. Tepat sebelum itu ia mengeluarkan hapenya dan memfoto wajah belepotan Haura secara diam - diam.

“Kekekkee mimpi apa semalam bisa kesampean sekarang” kata Karjo sudah keluar dari rumahnya dan hendak menaiki motornya.

“Hahhh gimana yah prokernya Lutfi ? Bisa gak dia melakukan apa yang ia inginkan ? Hah bodo amat yang jelas aku udah puas bisa menikmati tubuh indahnya !!!” kata Karjo memacu motornya pulang untuk kembali ke rumahnya.


*-*-*-*


V masih merenung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Haura. Gelagatnya mencurigakan tapi ia tak bisa memikirkan hal yang tidak - tidak padanya. Tak diduga sebuah motor tua melintas disampingnya dari arah belakang. V heran, ia seperti akrab dengan motor itu. Sekilas ia dapat melihat wajah pengendaranya yang tersenyum ceria.

“Bukankan motor itu ? Siapa pria itu ? Kenapa ia memarkirkannya didepan rumah Haura ?” tanya V.

Entah kenapa rasa emosi mulai menguasai diri. V menggelengkan kepalanya saat pandangannya mulai terasa buram.

“Apa mungkin orang itu yang membuat Haura jadi sakit ?” kata V sambil menahan sakit di kepalanya.

“Sial kenapa mulai lagi !!!!” kata V berbicara sendiri. Ia menunduk dan menemukan adanya langkah kaki yang mendekat. Sontak V ketakutan yang membuatnya segera menaikan pandangannya.

“Jang... Janggann.... Jangan mendekat !!!” kata V saat melihat sesosok yang mirip dirinya datang mendekat.

Hanna yang kebetulan baru berangkat muwajjah terkejut melihat gelagat aneh V dari kejauhan. Tanpa menunggu lama, ia langsung berlari mendekati V.

“V ada apa ?” kata Hanna sudah berada di dekat V.

“App... Appaa... Enggg... Enggakk !!! PEERRGIIIII !!” kata V menatap ke depan melihat ke arah kegelapan malam.

“V kamu kenapa ?” tanya Hanna khawatir melihat gelagat aneh V.

Seketika V membaik. Ia memejamkan matanya cukup lama kemudian menggelengkannya sejenak.

“Hahhhhh... Hahhh.... Gapapa Hanna... Hahhh terima kasih yah” kata V terlihat ngos - ngosan.

“V kamu kenapa sih ? Siapa yang kamu suruh pergi ?” kata Hanna sambil melihat sekitar.

“Hahhhh hehehe.... Hahh.... Gapapa Hanna... Ada temanku tadi” kata V merasa lega sosok yang ia sebut temannya itu telah pergi.

“Teman ?” kata Hanna melihat sekitar dan tidak menemukan apa - apa. Seketika ia merinding mendengar apa yang V katakan. Belum sempat ia sembuh dari rasa terkejutnya, Hanna melihat Nada berlari cepat dari dalam kantor ADM. Hanna hanya diam menatap wajah Nada yang seperti dipenuhi oleh penyesalan.

Ada apa dengan Nada ?

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy