Search

CHAPTER 8.1 - AKIBAT CEROBOH

CHAPTER 8.1 - AKIBAT CEROBOH

Pagi menjelang siang di kantor bagian pengasuhan. Para penghuninya tampak sibuk dengan kegiatan yang mereka lakukan di depan komputer masing - masing. Sembari menunggu jadwal mengajar mereka tiba, Mereka menyicil laporan tugas agar kelak saat bulan berganti, mereka tidak keteteran dengan mepetnya waktu laporan dengan kekurangan yang belum mereka lengkapi.

Haura, Hanna, V dan Rafi. Mereka berempat berada di tempat duduknya masing - masing. Rafi melihat ke arah jam sejenak menyadari kalau sebentar lagi jam pelajaran akan segera berganti. Ia lekas meninggalkan komputer itu kemudian membuka buku catatannya guna mengingat semua materi itu kembali. Begitu pula Hanna yang kebetulan memiliki jam mengajar yang sama dengan Rafi. Mereka berdua cukup sibuk dengan membaca catatan materi hingga tak terasa bel tanda pergantian jam mengajar pun berbunyi.

Ana duluan yah mau ngajar” kata Rafi pamit.

“Iya ustadz” jawab Haura. V hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala menatap kepergian Rafi. Tak berselang lama Hanna turut pamit untuk pergi menuju kelasnya guna mengajar pelajaran.

Kini tersisalah Haura dan V yang menetap di dalam kantor pengasuhan santri. Ditengah keadaan yang kian sepi, Haura menunduk menatap ke bawah ketika teringat kejadian pemerkosaan yang kemarin ia alami. Haura masih shock dengan tindakan tak terduga oleh pria tua yang telah ia percayai. Rasanya air mata penyesalan ingin menetes jatuh membasahi wajahnya. Tapi ia enggan menangis karena khawatir V yang berada di sebelahnya akan mengetahui kesedihannya. Ia tahu kalau hatinya tengah menderita. Ia sangat butuh seseorang untuk membangkitkan moralnya kembali. Tapi ia tak ingin V yang membantunya karena khawatir V akan mengetahui kejadian yang sebenarnya ia alami. Ia hanya tak mau kepribadian yang telah Adit katakan sewaktu itu bangkit menguasai tubuhnya. Ia hanya tak mau karena tindakan dari kepribadiannya itulah yang membuatnya harus berpisah dari diri V saat ini.

Ditengah kesedihan itu, Haura terkejut ketika ada seseorang yang mengusap punggungnya. Reflek Haura mengangkat kepalanya sambil memasang ekspresi wajah ketakutan karena trauma yang masih ia alami. Tetapi, ketika melihat wajah pria itu, hatinya lekas membaik ketika mengetahui rupanya V lah yang telah membantunya dalam memberikan kenyamanan padanya.

V !!!

“Haura... Kamu masih sakit yah ?” tanya V mengkhawatirkan keadaannya.

“Hehehe udah baikan kok V” jawab Haura memaksakan senyum.

“Begitu... Syukurlah !” kata V tersenyum yang membuat hati Haura membaik.

“Oh iya... Obatnya udah diminum ?” Lanjut V mengkhawatirkannya.

“Udah kok V” jawab Haura.

“Jangan capek - capek yah kalau bekerja... Kalau dirasa udah lelah istirahat aja... Jangan memaksakan diri !” kata V terus memberikannya perhatian yang membuat Haura tersenyum senang.

“Iyya V... Syukron yah perhatiannya” jawab Haura tersenyum yang membuat V ikut tersenyum.

Lekas V kembali ke kursinya meninggalkan rasa penyesalan di hati Haura. Ia kembali teringat akan kejadian pemerkosaannya dan mulai berandai - andai di dalam hati.

Andai waktu itu aku langsung pergi... Aku pasti tidak akan mengalami kejadian buruk ini !

Diam - diam Haura mengambil tisu untuk mengelap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

Terima kasih karena sudah baik padaku selama ini ! V !!!

Haura tersenyum ditengah tangisan air matanya yang jatuh secara diam - diam*.*


*-*-*-*


Pada saat yang sama di sebuah lorong gedung kelas. Seorang ustadzah cantik bertubuh montok dengan kulit putih bening yang dimiliki tengah melangkah sambil menenteng buku absen menuju ruang kelas yang akan ia ajar.

Dalam perjalanannya, ia merenung memikirkan misteri yang selama ini masih menganggu pikirannya. Ia masih bingung, ia masih bimbang, ia masih penasaran bagaimana kemeja yang saat ini ia kenakan bisa menghilang. Ustadzah itu menatap kemeja yang ia pakai. Nama Rachel Olivia Putri tertulis disana. Aroma kemeja itu sudah harum tidak seperti saat kemeja itu ditemukan kembali olehnya. Sebenarnya ia agak jijik ketika harus mengenakan kemeja ini kembali. Akan tetapi karena kemeja ini merupakan hadiah dari pondok karena sudah menjadi pengajar di pondok pesantren juga karena stok kemeja yang mulai menipis di almari membuatnya terpaksa untuk mengenakan kemeja ini kembali.

"Pagi ustadzahh !!!"

Disaat merenung itu, Rachel dikejutkan oleh hadirnya suara yang menyapanya dari belakang. Reflek Rachel memegangi dadanya yang besar sambil menatap ke sumber suara itu berasal.

Astaghfirullah pak... Ngagetin aja !” kata Rachel menatap pria tua itu.

“Huehuehuehue... Habis mikirin apa sih ustadzah kok ngelamun gitu” goda pria tua itu sok akrab.

“Hehehe ada deh pak” kata Rachel buru - buru pergi karena tak ingin membiarkan para santrinya menunggu.

Pria tua yang sedang memegangi sapu itu tersenyum setelah menyadari pakaian yang sedang Rachel kenakan. Dari posisinya sekarang ia dapat melihat keindahan sisi belakang tubuh Rachel. Postur tinggi, body semlohay, bokong bahenol. Ah pria itu kembali mupeng ingin merasakan kenikmatannya. Ia pun terkekeh - kekeh untuk mengatur siasat bagaimana caranya untuk dapat menidurinya.


*-*-*-*


Di lantai bawah gedung kelas Syifa baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya. Ia tersenyum dalam perjalanan pulangnya menuju kantor bagian pengajaran. Ustadzah yang masih satu bagian dengan ustadz Adit itu tampak bahagia karena kelas yang baru saja ia ajar merupakan kelas yang ditempati oleh Salwa, salah satu santriwati favoritnya.

Berulang kali saat mengajar tadi, matanya mencuri - curi pandang ke arah wajah Salwa yang manis lagi lucu. Selama mengajar tadi, ia nyaris tak tahan untuk mengecupi wajah cantiknya. Beruntung ia masih mampu menahan nafsunya.

“Assalamualaikum ustadzah Syifa !!” sapa seseorang yang membuat Syifa menoleh.

“Walaikumsalam... Ehh ustadzah Nisa” jawab Syifa.

Nisa lekas pergi sambil tersenyum setelah menyapa rekan sesama ustadzah yang masih satu angkatan dengannya. Saat Nisa pergi, Syifa terus meliriknya hingga sosok Nisa menghilang dari pandangannya. Syifa kembali menoleh menatap jalanan untuk kembali menuju kantor bagiannya. Syifa mengernyitkan dahinya sambil mengingat sosok Nisa di benaknya. Entah kenapa Syifa masih benci kepadanya walau sebenarnya ia tahu itu bukan kesalahannya. Syifa menggelengkan kepalanya sejenak untuk membuang pemikiran itu. Ia pun menghela nafasnya kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantor bagian pengajaran.


*-*-*-*


Beberapa menit kemudian di kelas,

“Sekian yang dapat ustadzah sampaikan di pagi hari ini... Apabila ada kata yang salah ustadzah mohon maaf... Wassalamualaikum wr wb” kata Rachel.

“Walaikumsalam wr wb” jawab para santri - santrinya.

“Iya silahkan kalian boleh pulang ke asrama masing - masing” kata Rachel setelah menyadari para santrinya hanya duduk diam menanti dirinya pergi terlebih dahulu.

Lekas para santri itu pun pergi setelah mendapatkan aba - aba dari ustadzahnya. Perlahan kelas itu mulai kosong menyisakan ustadzah Rachel saja yang masih menetap di dalam ruangan ini. Rachel ingin menyendiri sejenak memikirkan misteri yang masih membuatnya penasaran.

“Siapa pelakunya yah ? Apa orang itu menyadari perbuatanku ?” lirih Rachel yang masih ketakutan apabila aksi nakalnya ketahuan.

Pagi menjelang siang itu, Rachel mengenakan seragam mengajarnya yang terdiri dari rok panjang juga kemeja yang tersembunyi dibalik blazer berwarna birunya. Untuk atasannya ia mengenakan hijab yang memiliki warna selaras dengan blazer dan juga roknya. Ia terlihat cantik dengan riasan tipis yang menghiasi wajahnya. Bibirnya yang kemerah mudaan karena lipgloss yang ia kenakan menambah kesan anggun pada penampilannya. Beberapa pengajar dan juga beberapa pria yang sempat ditemuinya di jalan diam terpana menatap keindahan wajah dari seorang ustadzah yang sebentar lagi akan segera menikah.

Rachel menatap ke arah pintu masuk. Ia baru menyadari kalau kelas ini merupakan kelas yang sama disaat dirinya kehilangan kemeja di waktu itu. Rachel pun melangkah mendekati pintu kelas. Ia melihat ke ujung lorong mengamati siapa saja kemungkinan yang dapat mengambil kemejanya. Ia pun terfikirkan oleh dua kemungkinan.

Mungkinkah santri kelas sebelah ? Atau mungkin para pekerja yang bertugas membersihkan kelas ?

Rachel masih ragu kalau dua kemungkinan itu merupakan salah satu dari jawaban yang sedang ia cari. Ia pun teringat kalau tidak salah pengajar yang mengisi kelas di sampingnya merupakan ustadzah Nada yang notabene merupakan sahabat karibnya. Ia pun teringat kalau kelas yang ia ajar lebih dulu selesai dari kelas yang ustadzah Nada ajar.

Apa mungkin para pekerja yang menjadi pelakunya ?

Rachel terus membatin memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Tapi ia ragu karena seingatnya ia tak melihat satupun para pekerja yang berada di dekatnya di waktu itu. Rachel kembali ke dalam kelas untuk duduk di kursi guru yang berada di dekat papan tulis. Siku Rachel bertumpu di meja guru. Tangannya menompa kepalanya yang berat karena terpikirkan misteri itu. Semakin memikirkannya, ia semakin pusing karena tak kunjung menemukan jawaban dari misteri yang ingin ia sudahi.

Seketika ia menyadari keadaan kelas yang kian sepi. Rachel melihat seisi kelas juga ke arah jendela untuk mengamati keadaan lorong. Sepi tiada seorang pun disini selain diri sendiri. Rachel menenggak ludah teringat akan kebiasaan yang sering ia lakukan.

Diam - diam Rachel melepas blazer itu kemudian menaruhnya di sandaran kursi kelas. Lalu ia melangkah menuju pintu sambil memegangi kancing kemejanya. Ia semakin erat memegangi kancing itu karena gatal ingin melepasnya dari tempatnya.

Gak ada orang !

Rachel kembali mendekati meja guru sambil melepas satu persatu kancing kemejanya. Jantung Rachel pun berdebar memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Bagaimana kalau ada orang lain yang tiba - tiba datang yah ?

Walau sebenarnya ia masih takut apabila ketahuan, akan tetapi rasa penasarannya semakin tertantang ketika memikirkan berbagai kemungkinan itu terjadi. Kancing atas sudah terlepas disusul kemudian oleh tiga kancing berurutan dibawahnya. Kulitnya yang bening sudah mulai terlihat dari belahan kemeja yang agak sedikit terbuka.

Ia takut untuk melanjutkan kegiatannya. Walau kelas sudah sepi karena para santri sudah pulang ke asramanya. Tetap saja ada rasa dag dig dug yang menguasai hati Rachel.

“Aku buka aja ah sebelum ada orang” Lirih Rachel memulai kembali melepas kancing kemeja yang ia kenakan.

Rachel menenggak ludah sembari menutupi sebagian tubuhnya yang sudah mulai terbuka. Seluruh kancing itu sudah terlepas. Pusar Rachel kini terlihat di pusat perutnya. Rachel kembali menenggak ludah sambil perlahan - lahan melepas kemeja yang ia kenakan.

Hawa dingin berhembus menerpa kulit mulusnya. Diam - diam ia mulai melipat kemeja itu dan menaruhnya diatas meja guru. Ia sudah telanjang menyisakan bra beserta rok panjang yang masih melekat di tubuhnya. Payudaranya yang besar masih terbungkus bra berukuran 34C itu. Ia pun melepasnya hingga payudara itu menggantung bebas nyaris jatuh dari dadanya. Rachel memejamkan mata sambil meremas payudaranya sejenak menikmati kebebasan yang kembali ia peroleh.

Ia menyesal karena tidak membawa hape untuk merekam ketelanjangan dirinya di dalam kelas. Ia pun pergi menuju sudut kelas untuk bersandar pada dinding. Ia memejam meremasi payudaranya sendiri ditengah keadaan yang kian sepi. Sedikit demi sedikit rok itu mulai turun setelah Rachel melepaskan kait hak serta resleting yang berada di belakang bokongnya.

Pahanya mulai terlihat, ukurannya mantab, warnanya putih bening dan kulitnya bertekstur mulus. Ustadzah bertubuh montok itu kembali telanjang menyisakan celana dalamnya saja. Sambil bersandar pada dinding kelas, wanita berhijab itu memejam meremasi payudaranya. Ia merinding merasakan kebebasan yang ia terima di dalam ruang kelas ini.

Tiap kali jemarinya meremas, darah yang berada di dalam tubuhnya berdesir membawa kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar Rachel melenguh mengeluarkan suara yang dapat membangkitkan birahi para pria apabila mendengarnya. Namun Rachel tak peduli karena ia sudah yakin kalau ia sedang sendiri di dalam gedung ini.

"Aahhhhhhhhh" Desah Rachel menikmati ketelanjangan dirinya.

Dikala jemari tangannya meremasi payudaranya, jemari kirinya mulai masuk menjamahi lubang vaginanya. Tatkala jemarinya menyentuh lubang vagina itu, ia langsung mendesah kaget bagai tersengat aliran listrik yang kecil.

"Ehmmmm... Sudah basah yah ?" Kata Rachel terkejut dengan dirinya sendiri.

Karena semakin terangsang, ia mulai menurunkan celana dalamnya hingga jatuh begitu saja di lantai. Rachel resmi telanjang menyisakan hijab lebarnya saja beserta stocking serta sepatu pantofel di kakinya.

"Ouhhhh nikmatnyaaahhh" Kata Rachel semakin menikmati aksi solonya.

Ia agak merentangkan kakinya supaya jemarinya bisa bergerak bebas di dalam lubang kenikmatannya. Dengan berhati - hati Rachel mengorek - ngorek dinding vaginanya sendiri. Selaput lendir yang melapisi vaginanya semakin membanjir. Rachel semakin keenakan hingga pinggulnya bergoyang kesana kemari akibat tersengat kenikmatan ini.

"Ouhhhh... Uhhmmmmm" Kata Rachel sambil memejamkan matanya sedari tadi.

Payudaranya gatal ingin diremas oleh jemarinya yang gemas. Ia kembali meremasnya sambil memainkan puting susunya. Mulutnya terbuka mengeluarkan berbagai suara yang merangsang birahi pria. Rachel keenakan, pinggulnya bergoyang, ia tak tahu lagi bagaimana cara untuk mengungkapkan kenikmatan ini.

"Ouhhhh yahhh uhhhmmmm aahhhhh ennakkk... "Desah Rachel semakin binal.

"Ouhhhhh eennakkkk... Ouhhhh.... Rasannyaa nikmm...”

“Ehhmmmmmm" Rachel terkejut.

Matanya langsung terbuka dikala ada tangan yang membekap mulutnya. Bola matanya bergerak menatap kearah wajah yang tengah tersenyum mesum menikmati ketelanjangannya. Pria tua itu menatap sekujur tubuh Rachel mulai dari bawah ke atas. Pria tua itu menjilati bibirnya sendiri ketika menemukan mangsa empuk yang sedang bersenang - senang di dalam ruang kelas yang kian sepi.

"Huehuehuehue... Hayoo ustadzah Rachel lagi ngapain yah di dalam kelas ?" Kata pria tua itu kembali menjilati bibirnya sendiri.

"Ehhmmm ehmmmm ehmmmm" Kata Rachel ketakutan ketika aksinya ketahuan.

"Jadi apa yang kukira selama ini ternyata bener yah huehuehue... Gak nyangka ustadzah secantik kamu suka telanjang di dalam kelas" Kata Pria tua itu sambil mencemol susu Rachel.

"Ehmmmm... Ehhmmmmm" Kata Rachel berusaha lepas dari dekapan tangannya dengan cara menggeleng - gelengkan kepalanya. Sentuhan kulit tangan Udin yang kasar dikala menyentuh payudara mulusnya membuat Rachel merinding ketakutan.

Rachel terus berusaha untuk membuka mulutnya agar bisa memohon untuk dilepaskan dari cengkraman pria tua itu. Namun dekapan tangan pria tua yang sehari - hari bekerja sebagai tukang bersih - bersih kelas itu masih terlampau kuat bagi Rachel. Pria bernama Udin itu tersenyum sambil mencolek - colek payudara Rachel ke atas bawah hingga membuatnya mendal - mendul.

"Mantap juga nih ustadzah susunya... Saya suka yang ukuran XL begini... Mana warnanya bening lagi... Bisa keluar gak yah susunya ?" Kata Pak Udin langsung meremasi kedua payudara Rachel sambil menyusu di salah satu dari dua puting itu.

"Ehmmmm aahhhhhh.... Pakkk.... Janggannnnn !!!!!" Desah Rachel yang membuat pak Udin terkejut lagi senang dengan suara desahannya.

"Sllrrpp uhhmm slrrppp" Pak Udin terus menyusu sambil meremasi payudara satunya yang menganggur.

Rachel terkejut, tapi ia takut. Rachel benar - benar kewalahan saat putingnya dijilati oleh pria tua mesum itu. Jilatan yang pak Udin layangkan di payudaranya semakin liar. Puting nya terasa basah dan ia agak sedikit merasa nyeri dikala pak Udin menggigitnya pelan.

"Ouhhhh pakkkk... Hentikannnn... Ahhhhhhh" Rachel terus bertahan dtengah rangsangan pria tua itu. Ia tak sanggup lagi membiarkan pria tua itu menikmati keindahan tubuhnya. Ia merasa jijik, ia tak memiliki waktu lagi tuk membiarkannya bersenang - senang dengan tubuhnya. Kemudian entah ia dapat kekuatan dari mana. Reflek Rachel menampar pria tua itu kemudian tangannya bergerak guna mendorongnya jauh.

Plakkkkk !!!

Suaranya terdengar keras hingga membuat pak Udin yang lagi enak - enak terbangun.

"Apa yang bapak lakukan ? Lepaskan aku pak !!!" Kata Rachel sambil menutupi ketelanjangan tubuhnya.

"Apa yang saya lakukan ? Pertanyaannya salah kali tuh ustadzah.... Harusnya apa yang sudah ustadzah lakukan disini ? Kok bisa telanjang ? Apa hawa disini panas yah sehingga membuat ustadzah gerah ? Huehuehue" Tawa pak Udin sambil memegangi pipinya yang perih.

"Ampunn pakkk tolonggg ampuni aku.... Biarkan aku pergi pakk... Aku menyesal !!" Kata Rachel panik.

"Menyesal ? Paling besok juga ngelakuin lagi kan ? Huehuehue..." Kata Pak Udin kembali mendekat membuat Rachel panik.

"Enggak pak aku janji... Tolong hentikan pak... Ini kali pertama aku melakukannya... Tolong pak ampuni aku... Aku kapok" Kata Rachel terus memohon.

"Kali pertama ? Terus waktu itu apa yang ustadzah lakukan pas kemeja ustadzah hilang ? Oh iya itu kan masih pake blazer yah huehuehue" Kata Pak Udin menertawakan kebohongan Rachel.

Apa ? Jadi pak Udin yang selama ini menyembunyikan kemejaku ? Batin Rachel membuka matanya lebar - lebar saat mengetahui kebenarannya.

"Itu... Itu.. " Kata Rachel tak bisa mengelak.

"Sudahhh uhmmmm... Tenang aja... Saya gak akan buka mulut kok selama ustadzah bisa nurut apa yang saya mau" Kata Pak Udin sambil mencumbui bibir tipis Rachel.

"Uhhmm enggakkk... Uhhmm lepasskannn pakk... Uhhmmm" Kata Rachel menolak ditengah cumbuan yang pak Udin layangkan. Tangannya berusaha mendorong tapi tenaganya tak sanggup.

"Uhhmmmm nikmatnyaa... Dara muda memang beda uhmmm... Ajib banget uhmmm rasanyaaahh" Kata Pak Udin mencumbui Rachel sambil meremasi payudara besarnya.

"Ampuunnn uhmmmm... Hentikan pakkk ahhhh... Lepaskan akuuhhhh" Desah Rachel terus menolak.

Pak Udin tak mendengarkan tiap permintaan yang Rachel lakukan untuk menghentikan cumbuannya. Sebaliknya tiap kali bibir tebalnya menyentuh bibir manis Rachel, ia semakin bersemangat untuk melakukan hal yang lebih daripada ini. Pak Udin membuka mulutnya kemudian mencaplok bibir manis Rachel. Dikala bibir Rachel berada di mulut pak Udin. Bibirnya dijilati oleh lidah Pak Udin di dalam. Pak Udin menghisapnya kuat - kuat kadang lidahnya juga bergerak untuk membuka paksa mulut Rachel yang masih terkunci rapat.

"Uhmmm mantappnyahh... Uhhmm ouhhmmm" Desah pak Udin terus mencumbuinya.

"Uhhhmmm uhhmm auhmmmm" Desah Rachel pasrah sambil memejamkan matanya. Rachel tak bisa bergerak karena tak kuat melawan nafsu pak Udin. Tubuhnya terus terpojok di dinding kelas menerima tiap rangsangan yang pak Udin berikan.

Jemari pak Udin tanpa henti memainkan puting Rachel yang berwarna merah hati. Kadang tangannya menggenggam mencengkram kuat seluruh payudaranya walau ia tahu tangannya tak mampu. Ukuran payudara Rachel yang besar membuat nafsu pak Udin kian sangar. Pak Udin semakin bergairah dalam mencumbui dan meremasi ustadzah berhijab yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab lebarnya saja.

"Ustadzahhh... Ouhhh... Kamu binall banget sihhh... Cantik cantikkk kok sangeann... Uhhmm... Ouhhhh manisnyaahhh" Desah Pak Udin terus menerus melumat bibir Rachel.

"Uhmmm amppuunn pakkk... Lepaskkann... Ahhhh ouhhhh pakkkkk" Desah Rachel tak kuasa menahannya lagi.

Tak terasa air mata mulai jatuh membasahi wajah ayunya. Ia sungguh tak rela apabila tubuh indahnya harus dilecehi oleh pria tua yang sehari - hari bekerja sebagai tukang bersih - bersih itu. Ditengah pelecehannya itu, seketika ia teringat akan wajah lelaki yang sebentar lagi akan menikahinya.

Mas adiittttt... Maafin aku mas !!! Batin Rachel menangis.

"Huehuehue ulluhhh uluhhh pake nangis segala sih ustadzah Rachel... Jadi gak tega deh... Pasti terlalu bahagia yah bisa dipuasin saya ? Huehuehue" Kata pak Udin mengejek Rachel.

Rachel tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala mencoba untuk lepas dari cumbuan pak Udin. Ia sudah tak tahan dengan aroma rokok yang berasal dari mulut tuanya.

"Ustadzah pasti penasaran kan sama tombak saya... Nih coba pegang deh" Kata Pak Udin menuntun paksa jemari Rachel ke arah penisnya.

"Enggakk... Akuu gakk mauuu... Lepaskan akuu pakkk... Tolongggg" Kata Rachel menahan tangannya dengan berderai air mata.

"Ah pake malu - malu nih ustadzah... Saya turunkan celana saya yah biar ustadzah bisa langsung lihat" Kata pak Udin tak tahu malu.

"Apa ? Enggak pakkk... Gakk mauuu... Gak mauuuu" Kata Rachel sambil memalingkan wajahnya.

Tak sengaja dikala mata Rachel terbuka ia menatap ukuran penis yang menggantung dibawah sana. Sontak Rachel takjub akan ukurannya yang sangat besar. Penis itu berwarna hitam, ukurannya pun mantab, disekelilingnya terhiasi oleh ukiran dari urat syaraf yang menjorok keluar. Rachel setengah menolak setengah melihat ketika melihat ukurannya yang luar biasa.

"Huehuehue... Diem kan jadinya... Ayo jangan maluuu sini sentuh" Kaya pak Udin.

"Ahhhhhh" Desah pak Udin dikala penisnya tersentuh jemari halus Rachel.

"Gakk mauuu... Tolong pakkk... Aku gakk mauuuhhmmmmmm" Rachel kembali dicumbu secara paksa oleh pria tua itu.

"Uhmmm uhmmm cuihhhh" Desah Pak Udin sambil meludahi mulut Rachel kemudian mendorong tubuh Rachel kebawah agar mau berlutut di hadapannya.

"Ehmmm cuuhhhhhh... Lepaskkannnn" Kata Rachel mengeluarkan ludah yang pak Udin transferkan ke mulutnya kemudian membuangnya ke lantai.

"Ahhh apa yang akan bapak lakukannn... Tolonggg pakkk ampuni aku.. Maafkan aku pakkk... Lepaskan akkuuu" Kata Rachel terus memohon di hadapan penis Pak Udin yang sudah mengacung tegak di hadapannya.

"Ahhhh hentikannn... Jorokkk pakkk... Hentikan ahhhh" Kata Rachel saat pinggul pak Udin bergerak maju hingga ujung gundul penisnya menubruk - nubruk pipi Rachel yang begitu empuk.

"Huehuehuehue nikmaattnyaa ouhhh yahhh" Kata Pak Udin.

"Apa ? Hentikannn pakkk... Ini jorokkkk... Aku gak mauuhhmmmmmm" Kata Rachel dikala mulutnya dijejali oleh penis besar pak Udin.

"Ouhhh yahhh terus begitu ustadzah... Tahan dulu... Ouhhh rasanya enak banget pas kena bibir ustadzah itu" Kata Pak Udin setengah memejam.

"Janggaan ahhllkkhhh... Ahhllkkhhhh" Kata Rachel saat penis itu berhasil memasuki rongga mulutnya.

"Ouhhh ussssss ini sih mantepp bangettt... Ouhhh hangatnyaa... Ouhhh teruss iyahhh" Kata Pak Udin merasakan penisnya begitu hangat didalam mulut Rachel. Pak Udin terus mendorong pinggulnya hingga penis itu semakin menyelinap masuk ke dalam mulut Rachel.

“Aalllkkhhh akkhhhhh Hennikkann !!” desah Rachel memejamkan mata saat mulutnya ditusuk oleh tombak pusaka itu.

Lama kelamaan pak Udin mulai bervariasi dalam memainkan mulut Rachel. Tidak hanya mendorongnya, ia kadang juga menarik pinggulnya hingga membuatnya seperti sedang menyenggamai mulut ustadzah berhijab itu.

Ssllrppp slllrpppp sllrppl !

Rachel terus memejam menahan derita yang dirasakan mulutnya ketika harus menahan gencaran penis Pak Udin yang keluar masuk disana.

"Ouhhhh Ustadzahhhh ouhhhhh" Desah pak Udin sambil merentangkan kakinya sedikit. Kedua tangannya memegangi kepala Rachel yang masih berhijab. Pinggulnya bergerak maju mundur semakin cepat. Awalnya ia menggerakannya pelan, makin lama ia makin mempercepat gerakannya. Pak Udin pun memejam merasakan kenikmatannya.

"Ouhhh ustadzahhh... Ouhhh mantapppp" Desah Pak Udin.

Rachel pasrah sambil berlutut di hadapan selangkangan pak Udin. Matanya terus memejam karena tak sanggup menatap hutan lebat yang berada di hadapan wajahnya. Hutan itu juga lembab menimbulkan aroma yang tak sedap. Ia pasrah bukan karena mengaku kalah. Tapi ia pasrah karena ia tak bisa melakukan apapun selain mendesah. Mulutnya pun penuh hingga liurnya berkumpul di tepi mulutnya. Sodokan yang pak Udin layangkan membuat liur itu perlahan keluar sedikit demi sedikit membasahi lantai ruang kelas. Liurnya bahkan ada yang menetes di payudara besarnya.

"Ouhhh ustadzahhh... Mantappp.. Ouhhh yahhh" Desah pak Udin menggerakan pinggulnya terus.

"Uhmmmm... Uhmmm... Uhhmmm... Uhhmmm" Desah Rachel memejamkan mata menangis. Seketika pikirannya mengantar alam sadarnya tuk mengingat kejadian yang sempat ia alami bersama calon suaminya.

Nanti setelah kita menikah... Apa ada sesuatu yang kamu inginkan di keluarga kita ?

Sesuatu mas ?

Iya kamu ingin keluarga seperti apa ? Anak seperti apa ?

Ohhhh ahahaha.... Aku mah ikut mas aja... Aku akan manut menuruti apa yang mas mau.

Beneran ? Lalu apa masih ada cita - cita yang belum bisa kamu wujudkan sebelum kita menikah nanti ?

Ehmmm entahlah mas... Sepertinya tidak ada.. Pokoknya setelah aku menikah dengan mas nanti.. Aku akan pasrahkan semua hidup aku untuk mas.... Aku akan mengabdi untuk mas.... Aku akan membahagiakan mas dengan menuruti semua perkataan yang mas mau.

Kamu ini... Bikin mas gemes aja.

Hihihihihi !!!

Rachel kembali terbayang saat pertemuan terakhir nya dengan Adit. Ia pun menyesal karena sudah bertindak bodoh hingga membuatnya harus menerima akibatnya. Rachel menangis tiada henti menerima sodokan pak Udin di mulutnya. Rachel pasrah, ia benar - benar menyesal atas perbuatannya cerobohnya.

"Ouhhh ustadzahhh sayanggg... Ouhhh mantapp kaliii" Kata pak Udin saat merasakan penisnya berdenyut nikmat.

"Uhhmmm uhmmmm uhhmmm" Desah Rachel terus memejamkan matanya karena tak sanggup menatap pemandangan buruk di hadapannya.

"Ouhhh ustadzahhh... Tahan terusss !! Rapetin mulutnya !!! Ouhhh manttappp ustadzahhh ouhhhh" Kata Pak Udin mempercepat sodokannya di mulut Rachel.

"Uhhhmmmmmm ehhmmmmmmmmm" Kata Rachel tak kuasa berteriak ketika pak Udin mempercepat gerakannya.

Pak Udin merinding, penisnya berdenyut semakin cepat, nafasnya pun sesak dan ia dapat merasa kalau ia sudah berada di ambang batasnya.

"Ahhh ahhh ustadzahhh.... Ahhh sialll... Ahhh kamprettt ahhhh ahhhhhhhhh !!!!" Desah Pak Udin saat mendapatkan klimaksnya.

Croottt croottt crroottt !!!!

Tubuh pak Udin mengejang dikala semprotan dahsyat mengalir keluar di dalam mulut Rachel. Saking nikmatnya, Pak Udin sampai kehilangan kesadaran hingga jemarinya menarik - narik hijab Rachel hingga berantakan.

Tubuh Pak Udin terhentak - hentak hingga menyisakan tetes terakhir di mulut Rachel. Saat klimaksnya berakhir. Ia mulai menarik keluar penisnya secara perlahan - lahan.

"Ouhhh ustadzahhhh !!! Mantappnyaaaa" Kata Pak Udin puas.

"Uhhhukkk uhuukkk... Uhukkk" Kata Rachel terbatuk - batuk hingga sperma yang terkumpul di mulutnya itu keluar membasahi lantai. Bahkan beberapa ada yang mengenai paha beserta payudaranya. Rachel pun ambruk bersandar pada dinding kelas dalam keadaan berantakan.

"Huehuehue" Pak Udin terkekeh - kekeh melihat Rachel dalam kondisi berlumuran sperma. Pak Udin puas, ia pun melukiskan sesuatu diwajah Rachel menggunakan tinta spermanya. Ia mengelap wajah Rachel menggunakan penisnya yang rupanya masih mengeluarkan sisa spermanya.

"Uhhukkk uhuukkk uhukkk" Rachel masih terbatuk - batuk hingga menangis di ruang kelas ini. Ia menyesal dan ia mengutuk perbuatan cerobohnya. Andai ia bisa lebih berhati - hati dikala melakukan aksi nekatnya. Andai ia bisa mengontrol hawa nafsunya sehingga dirinya tak perlu menuruti kebiasaan buruknya dan Andai ia langsung pulang selepas mengajar tadi bisa jadi ia tak perlu mengalami pelecehan ini. Kini nasi sudah menjadi bubur membuat semua perandaian ustadzah itu pun lenyap terkubur.

Pak Udin mendekat, ia berjongkok di hadapan Rachel sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Maaf yah ustadzah saya terlalu nafsu... Saya jadi gak bisa bersenang - senang dengan ini" Kata Pak Udin menyentuh vagina Rachel.

"Ahhhhhh" Desah Rachel menggelinjang.

"Huehuehue masih sange yah ? Tapi maaf saya sibuk... Besok lagi aja yahh" Kata Pak Udin terus melecehkan Rachel.

Rachel sedari tadi terus menunduk karena merasa malu dengan sikapnya itu. Tiba - tiba ia dikejutkan oleh cahaya flash yang rupanya berasal dari hape pak Udin.

Cekrekk !

Rachel terkejut membuatnya langsung mengangkat kepalanya menatap pak Udin.

Cekrekkk !

"Nah gini kan mantep dapet wajah ustadzah juga huehuehue... Besok - besok ustadzah harus nurut yah apa yang saya mau... Karena kalau gak, saya gak tau akan ada berapa orang yang dapat melihat foto ini" Kata Pak Udin menunjukan barang bukti.

Rachel mengeryitkan dahinya merasa sedih. Ia pun tak bisa berbuat apa - apa selain menyesali semuanya. Rachel menangis. Ia pun melihat pak Udin melangkah pergi sambil tertawa penuh arti.

Maafin aku mas... !!!

Rachel terus menangis hingga air mata itu jatuh membasahi wajah ayunya. Ia menangis sambil telanjang menyesali semua kecerobohan yang sudah ia lakukan.

Sementara itu di lorong kelas.

"Huehuehue gak nyangka kirain semua ustadzah tuh alim eh ternyata ada juga ustadzah yang binal " Kata Pak Udin tertawa menyusuri lorong kelas menuju ke bawah.

"Permata yang liar kaya gini harus sering dilatih nih... Ustadzah suka telanjang kan yah ? Kapan - kapan saya temenin yah ustadzah biar lebih aman pas telanjangnya huehuehueh" Kata pak Udin terus memandangi foto Rachel yang baru saja didapatkannya.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy