BEBERAPA MENIT SEBELUMNYA,
Nisa merasa lega setelah proses mengajarnya berjalan lancar. Dalam perjalanan pulangnya menuju rumah, ia dikejutkan oleh notifikasi hapenya yang berbunyi. Buru - buru Nisa merogoh saku blazernya untuk mengambil hape tersebut.
“Loh kok hape aku kebawa sih ?” kata Nisa baru sadar.
Nisa tidak langsung melihat pesan masuk itu, sebaliknya ia bergegas menuju rumah setelah mengecilkan suara notifikasi karena tidak etis apabila memainkan hape di tempat terbuka seperti ini.
Akhirnya Nisa tiba di rumah setelah berjalan cukup lama. Jarak yang jauh antara rumahnya dengan gedung kelas membuat keringat perlahan keluar dari wajahnya. Bulir - bulir itu pun turun membasahi wajah ayunya. Parasnya yang dewasa mempesonakan mata lelaki yang melihatnya. Ustadzah bertubuh mungil itu mengetuk pintu rumahnya dan disambut kemudian oleh pelukan dari suaminya.
“Assalamualaikum Bi... Umi pulang” sapa Nisa.
“Walaikumsalam sayang... Selamat datang yah... Muuuaahhhh... Makin cantik aja nih” jawab Reynaldi sambil mengecup kepala istrinya.
“Hihihi makasih yah Bi... Umi kan harus jadi bulan biar bisa sedap dipandang Abi terus” jawab Nisa yang membuat suaminya tersenyum senang.
“Umiii pulangggg... Umiii pulangggg” kata Aldi lantas mendatangi ibunya karena rindu akan kehadiran sosoknya.
“Sayang... Bawa apa ini ?” tanya Nisa setelah melihat sesuatu yang dipegang oleh putranya.
“Ini mobil kesukaan aku Mi” jawab Aldi dengan polos.
Nisa pun tersenyum kemudian memberikan ciuman yang hangat ke pipi putranya. Reynaldi tersenyum melihat kasih sayang yang diberikan istrinya untuk buah hatinya. Reynaldi menutup pintu. Nisa bersama putranya berjalan bersama sambil bergandengan tangan setelah diajak untuk bermain mainan bersama.
“Sayang... Umi capek... Biarin Umi istirahat dulu yah” kata Reynaldi setelah melihat wajah istrinya yang kelelahan.
“Yahhhhhhh” jawab Aldi kecewa.
“Gapapa Bi... Umi gak capek kok” kata Nisa tersenyum sambil menatap suaminya.
“Yeeeee kita bisa main kan Mi ?” tanya Aldi.
“Bisa... Ayoo kita main !!!” kata Nisa tersenyum membuat putranya bersemangat untuk bermain dengannya.
“Ayoooo !!! Wusshhhhh” kata Aldi memainkan mainan mobil - mobilannya.
Diam - diam Reynaldi menghampiri Nisa untuk duduk disebelahnya. Reynaldi pun memeluk Nisa kemudian kembali memberikan ciuman untuknya.
“Terima kasih yah udah mau mengalah demi menemani Aldi... Mau Abi buatkan minuman segar ?” kata Reynaldi.
“Boleh Bi” jawab Nisa tersenyum.
Reynaldi ikut tersenyum kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk istri tercintanya.
Nisa dan Aldi bermain bersama sembari menunggu suaminya datang membawa minuman. Tak sadar senyum terus menyapa dikala mereka bersama. Aldi terlihat bahagia ketika bermain bersama ibunya. Begitupula Nisa ketika melihat senyum yang mengembang di wajah putranya. Rasanya lega serasa hati menjadi lapang tanpa ada masalah yang datang. Nisa mendorong mainan mobil itu menjauh membuat Aldi tak mau mengalah. Ia turut mendorong mobilnya yang membuat mobil itu terjungkal hingga membuat Nisa tertawa.
Saat sedang asyik bermain, tiba - tiba ia kembali merasakan getaran yang bersumber dari saku blazernya.
“Oh iya tadi kan aku dapet pesan” kata Nisa baru ingat.
Dikala fokus Aldi teralihkan pada mainan mobilannya. Nisa membuka hape untuk membaca pesan masuk yang ia terima sedari tadi. Jemari Nisa menggesek layar hapenya untuk membuka kunci layarnya. Sebuah pesan langsung muncul yang ia tap untuk membukanya.
Senior Ak.......
Belum selesai ia membaca pesan tersebut, Nisa langsung menutupnya. Ia tak peduli karena ia sudah tahu siapa pemilik nomor itu beserta tujuannya.
“Ngapain sih masih hubungin aku terus ?” lirih Nisa.
“Ada apa sayang kok mukanya sepet gitu ?” tanya Reynaldi datang membawakan minuman segar untuk istrinya.
“Gapapa Bi... Hehehhe” kata Nisa buru - buru meminum minuman itu untuk mengurangi kecurigaan suaminya.
“Hmmm Haus yah” kata Reynaldi tersenyum yang membuat Nisa tersenyum malu.
Lagi - lagi hape itu bergetar yang getarannya sampai terdengar oleh suaminya.
“Ada pesan masuk tuh Mi... Kok gak dibaca ? Siapa tau penting” tanya Reynaldi.
“Biarin aja Bi... Paling dari operator” jawab Nisa.
Namun pesan itu terus berbunyi yang getarannya bagai vibrator yang mengganggu diri Nisa. Terpaksa Nisa membuka hape tersebut dan ia terkejut saat melihat foto yang terpampang disana. Sebuah tali berwarna coklat yang sudah menggantung di langit - langit ruangan nampak di foto itu. Nisa terkejut kemudian membaca setiap pesan yang sudah masuk di hapenya.
Senioor.... Kalau senior lebih memilih untuk menghindar dariku... Lebih baik aku bunuh diri saja karena dunia sudah tak penting lagi bagiku !!!
“Astaghfirullah mas Fandi !!!” Reflek Nisa berkata karena terkejut.
“Mas Fandi ? Siapa itu Mi ?” tanya suaminya curiga mendengar ucapan Nisa.
“Ehh enggak... Anu itu sodara Bi hehe...” jawab Nisa berbohong.
“Sayang ada apa ? Kamu kenapa ?” tanya Reynaldi khawatir melihat ekspresi wajah istrinya.
“Ini aduhh... Umi boleh pergi gak Bi ? Ini sodara Umi ehmmm... Kecelakaan bi... Umi mau menjenguknya boleh ?” tanya Nisa resah .
“Ohhh yaudah Mi... Iya gapapa kok” jawab Reynaldi.
“Yaudah titip Aldi yah Bi...” kata Nisa bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaian mengajarnya dengan pakaian sopan.
“Umii.... Umiii mau kemana ?” tanya Aldi melihat ibunya pergi terburu - buru.
“Umi mau ke rumah sakit sayang... Mau jenguk sodara yang sakit” kata Reynaldi.
“Sakit ? Sakit apa ?” tanya Aldi.
“Sakit habis kecelakaan sayang.... Tabrakan kaya gini... Booommmm !!” kata Reynaldi mengilustrasikan tabrakan dari dua mobil di depan Aldi.
Aldi pun terperangah.
“Aduhhh mas Fandiii kenapa sih ? Kenapa sampai kepikiran gitu coba ?” tanya Nisa panik di dalam kamarnya.
Setelah selesai berganti pakaian, Nisa segera pamit pada suaminya kemudian pergi menaiki motor guna menuju kos yang ditempati oleh Fandi. Nisa kembali membuka hapenya untuk membalas pesan tersebut.
“Iya aku akan kesana... Tolong jangan bertindak yang aneh - aneh mas !” balas Nisa khawatir.
“Iya... Aku tunggu” balas Fandi sambil memberikan emot senyum.
Nisa men-scroll isi pesan tersebut untuk mencari tahu alamat kos yang ditempati oleh Fandi. Seingatnya ia pernah dikirimi alamat tempat tinggalnya. Setelah dapat, ia langsung melajukan motornya karena khawatir lelaki itu akan bertindak berlebihan.
Tak lama kemudian Nisa sampai di halaman rumah kos yang tidak terlalu besar. Kos itu cukup luas tapi suasananya sepi. Perlahan - lahan Nisa mulai mendekat untuk menuju pintu kamar yang ditempati oleh Fandi. Wajah kekhawatirannya masih terlihat. Ia pun mengetuk pintu kamar guna menyapa lelaki disana.
"Assalamu'alaikum mas... Ini aku... Nisa" Kata Nisa.
Tak berselang lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Nisa merasa lega menyadari Fandi masih bernyawa. Tetapi hatinya menjadi gugup untuk bertemu teman lama yang merupakan tetangganya sejak kecil.
Pintu terbuka, seorang lelaki berkulit putih, bertubuh kurus, berwajah lusuh dengan penampilan yang berantakan keluar untuk menyambut tamu istimewanya.
"Astaghfirullah mas Fandi... Apa yang terjadi dengan mas ? Kenapa penampilan mas seperti ini ?" Kata Nisa terkejut dengan perubahan penampilannya.
"Senior ? Ini beneran kan ? Kamu terlihat semakin cantik" Kata Fandi tersenyum yang membuat Nisa sedih.
Pikiran Nisa melayang membawanya ke masa lalu ketika pertama kali bertemu dengan pria yang dulunya berwajah tampan dan berpenampilan menarik. Semakin Nisa mengingat, ia semakin sedih dengan perubahan yang terjadi dengannya sekarang.
22 TAHUN YANG LALU DARI SEKARANG,
Di pagi yang cerah dikala mentari bersinar terang, Nisa kecil melangkah dengan riang ketika bermain bersama teman - temannya. Nisa baru berusia enam tahun saat itu. Namun aura kecantikannya sudah terlihat. Kulitnya yang bening, bola matanya yang bersih juga sikapnya yang periang membuat orang - orang jatuh cinta pada kepolosannya yang lugu. Nisa berlarian kesana kemari di depan halaman rumahnya guna menikmati cerahnya cuaca yang sedang ia rasakan.
Nisa berasal dari keluarga yang mapan. Orang tuanya merupakan pebisnis, ia merupakan anak bungsu dari dua bersaudara yang berbeda tujuh tahun usia. Jaraknya cukup jauh memang, hal ini terbilang wajar mengingat kedua orang tua mereka lebih mementingkan bisnis usahanya daripada mengurusi anaknya.
Nisa kurang mendapatkan pengawasan dari kedua orang tuanya. Akibatnya ia lebih sering bermain dengan anak - anak lelaki yang berusia lebih tua darinya. Sikapnya pun berubah menjadi tomboy akibat pertemanan itu. Dikala teman - temannya main bola, Nisa pun ikut bermain sepakbola. Dikala teman - temannya bermain kejar - kejaran, Nisa pun ikut bermain kejar - kejaran. Tak jarang Nisa sampai berkelahi dengan temannya karena perbedaan pendapat yang dimilikinya.
Setiap pulang ke rumah di sore hari, Nisa seringkali dimarahi oleh ayahnya karena sering berkelahi dengan teman - temannya. Ayahnya kecewa karena Nisa gagal tumbuh menjadi wanita yang anggun seperti yang dulu sempat diimpikan olehnya juga istri tercintanya.
Nisa hanya cemberut sambil memalingkan muka tiap kali dimarahi. Rupanya tak cuma sifatnya yang berubah menjadi tomboy, wataknya pun mengeras bagai anak lelaki yang sulit untuk diatur. Terkadang ayahnya sampai lelah tiap kali memarahi Nisa karena kesulitan untuk menundukan egonya yang tinggi.
“Sabar yah sayang... Kita bisa kok bersama untuk mengurus Nisa” kata Ibu Nisa.
“Iya sayang... Mungkin ini salah kita juga kali yah karena kurang perhatian ke Nisa” kata Ayah Nisa memikirkan penyebab Nisa berubah.
“Gak usah khawatir sayang... Kita pasti bisa kok untuk mencari cara agar dapat merubah Nisa menjadi wanita yang anggun saat dewasa nanti” kata Ibu Nisa.
“Iya sayang... Mari kita berusaha” kata Ayah Nisa tersenyum.
Esok sorenya di sebuah pekarangan yang cukup luas, Nisa bersama teman - teman lelakinya bermain bersama memainkan permainan petak umpet.
“Aku hitung sampai sepuluh yang ketahuan jaga yah !” kata salah satu temannya.
“Satu . . . . .”
Beberapa anak lelaki yang ikut bermain mulai berlari mencari tempat bersembunyi begitupula Nisa yang tersenyum kemudian berlari kesana - kemari untuk mencari tempat bersembunyi.
“Ayo buruan lari cari tempat bersembunyi hihihihi” kata Nisa tertawa ketika bermain bersama mereka.
Nisa melihat ke kiri dan kanan untuk mencari tempat persembunyian. Pepohonan yang tinggi menjulang tampaknya bukan tempat terbaik untuk bersembunyi. Belakang rumah ? Sepertinya bukan juga. Ia pun berhenti sesaat sambil melihat sekitar karena kesulitan untuk menemukan tempat bersembunyi.
“Tujuh . . . . Delapan . . . . “ kata temannya yang masih berhitung.
“Aduhhh aku harus ngumpet dimana nih ?” kata Nisa kecil.
“Sepuluhhh !!! Nisa ketemu hahahhaa” kata temannya itu yang mengejutkan Nisa.
“Ihhh kok udah sepuluh ? Angka sembilan aja belum kesebut !!!” kata Nisa protes.
“Loh udah kok lagian ngapain juga cuma diem di tempat terbuka seperti itu” kata temannya.
“Udah ? Bukannya tadi habis delapan langsung sepuluh ?” kata Nisa nyolot karena kesal.
“Loh kok malah marah sih ? Kalau gak mau main bareng mending pergi aja deh !” kata temannya ikut kesal.
“Kamu tuh yang marah... Aku biasa aja kok” kata Nisa menyilangkan tangannya memalingkan muka.
“Dih nyebelin banget sih nih anak... Pergi sana ganggu aja !” kata temannya mendorong Nisa hingga terjatuh.
“Aduhhh...” kata Nisa memegangi tangannya yang terluka.
“Apa sih dorong - dorong dasar yah !” lanjut Nisa bangkit dari posisinya untuk membalas dorongan temannya.
Namun naas, kekuatan Nisa tak sebanding dengan kekuatan teman prianya. Alhasil Nisa kembali terjatuh yang membuat lututnya terluka hingga mengeluarkan sedikit darah.
“Aduhhhhh” kata Nisa memegangi lututnya.
“Dasar cengeng ! Pergi sana jangan ikut main bareng kita lagi ! Dasar anak cengeng” kata temannya terus mendorong Nisa yang sudah jatuh dalam posisi duduk di tanah.
“Ihhh lepasinn... Lepasinnn cuuihhhhh” kata Nisa meludahi wajah temannya karena jengkel.
“Ahh... Beraninya kamu ngeludah yah !” kata temannya marah.
Plakkkkk !!!!
Temannya itu pun menampar Nisa dengan keras hingga air mata tak sadar jatuh membasahi wajah Nisa. Keributan yang terdengar membuat teman - teman lainnya ikut keluar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Salah satu temannya pun mendekat setelah berlari dari kejauhan ketika melihat Nisa menangis dihadapan temannya tadi.
“Nisa... Kamu gapapa ? Apa yang kamu lakukan ke Nisa ?” tanya teman yang baru datang pada teman yang menampar Nisa.
“Cihhh tanya aja sendiri... Males ngeladenin anak cengeng yang mau menang sendiri” kata teman yang menampar Nisa.
“Apa katamu ? Cengeng... Aku bukan anak cengeng !!! Aku . . . .. “
Plakkkkk !!!
Diluar dugaan temannya kembali menampar Nisa yang membuat teman yang baru datang itu terkejut.
“Ahhhhh sakitttttt huhuhuhuhu” Nisa menangis semakin keras ketika menerima tamparan yang kedua kalinya.
Teman yang baru datang itu tak terima. Tanpa menunggu lama ia langsung mengepalkan tangannya untuk meninju pipi temannya yang telah menampar Nisa dua kali.
“Awwww sakitt !” tak terima ia membalas tinjuan temannya yang membela Nisa.
Adu jotos terjadi membuat teman - teman lainnya bergegas keluar untuk memisahkan perkelahian mereka berdua.
“Udah - udah jangan berantem.... Udah cukup” kata teman lainnya berusaha memisahkan mereka berdua.
“Beraninya yah kamu... Kalau sampai berani macam - macam lagi dengan Nisa awas !” kata teman yang baru membela Nisa.
“Cihhh siapa kamu sok belain Nisa ? Pacarnya yah ? Hahahha” kata temannya itu mengejeknya.
“Apa katamuuu ???” katanya nyaris meninju pipi orang itu kembali.
“Sudah Fan... Jangan diladenin... Mending kita pulang aja langit dah mau gelap !” kata teman lainnya menahan perkelahian yang nyaris berlanjut hingga petang.
“Hahaha sok kuat... Kena bogem mentah juga kan akhirnya” kata teman yang tadi menampar Nisa.
Mereka berdua pun dilerai oleh teman lainnya. Nampak wajah teman yang membela Nisa berantakan akibat menerima tinjuan dari temannya yang tadi menampar Nisa. Mereka sama - sama dipegangi oleh teman lainnya. Karena cuaca yang sudah semakin gelap teman yang tadi menampar Nisa pun pulang ke rumahnya. Beberapa temannya yang tadi ikut melerai turut bubar kembali ke rumah masing - masing.
“Aku mau disini dulu... Kalian duluan aja” kata teman yang membela Nisa.
Teman - teman yang tersisa di pekarangan itu pun bubar. Kini tersisalah Nisa sendiri bersama temannya yang telah membelanya tadi.
“Kamu gapapa kan Nis ? Wajahmu agak bengkak loh” kata temannya.
“Aku gapapa kok... Terima kasih yah udah bantu Mas” jawab Nisa dengan wajah sembab.
“Syukurlah kamu gapapa” kata temannya tersenyum.
“Kamu sendiri gimana mas ? Wajahmu juga bengkak loh... Apa gak sakit ?” tanya Nisa iba melihat wajah temannya yang sudah rela membelanya.
“Gapapa kok... Gak sakit ini” kata temannya.
“Oh yah lagipula udah sore nih... Kita pulang yuk” ajak temannya yang malah direspon Nisa dengan gelengan kepala.
“Aku gak mau pulang mas ! Pasti ayahku akan marah kalau ngeliat mukaku begini” kata Nisa sambil melipat kakinya kemudian memeluknya erat.
“Lohhh tapi udah hampir gelap loh Nis... Nanti kamu dicariin gimana ?” tanyanya.
“Birain daripada dimarahin !” tanya Nisa bersikeras.
Temannya pun bingung memikirkan cara untuk mengajak Nisa pulang. Dilain sisi ia juga takut kalau kedua orangtuanya akan mencarinya kalau ia tak kunjung pulang ketika langit sudah berubah menjadi warna oranye.
“Aku temenin deh... Aku janji kamu gak akan dimarahin oleh Ayah” kata temannya terpikirkan ide.
“Beneran bisa gitu ?” tanya Nisa tertarik.
“Iya bener kenapa gak dicoba aja ?” tanya temannya tersenyum yang membuat Nisa menyetujuinya.
“Yaudah ayokk” kata Nisa tersenyum.
Selama perjalanan pulang, mereka saling mengobrol terutama tentang perkelahian yang terjadi barusan. Nisa sangat senang karena temannya sudah mau membelanya saat berkelahi tadi. Dilain sisi temannya itu bangga karena dapat membantu seorang gadis yang sedang membutuhkan bantuannya.
“Tadi mas keren banget loh waktu berantem... Gimana caranya mas bisa melakukan gerakan meninju itu ?” tanya Nisa sambil mempraktekan gerakan tinjunya.
“Hahaha mau aku ajarin ?” tanya temannya.
“Mauuuuuuu” jawab Nisa antusias.
“Janganlah Nis... Perempuan tuh gak boleh berkelahi” kata temannya yang membuat Nisa kecewa.
“Yahhhh... Kenapa sih gak boleh mas ? Padahal kan keren bisa ngalahin orang yang sok kaya Irham tadi” kata Nisa.
“Kenapa ? Karena kamu perempuan Nis... Perempuan itu harus seperti bulan bukan seperti matahari” katanya yang membuat Nisa bingung.
“Bulan ? Matahari ? maksudnya ?” tanya Nisa kebingungan.
Namun belum sempat ia menjawabnya, mereka berdua sudah sampai di depan pagar rumah Nisa. Mereka berdua berhenti begitupula Nisa yang tak mau memasuki pagar pintu rumahnya.
“Ada apa Nis ? Apa mau aku anter sampai pintu rumah ?” tanya temannya ketika melihat kegelisahan diwajah Nisa.
“Heem” Nisa mengangguk khawatir kalau dia akan dimarahi kembali.
“Tenang... Aku udah bilang kan kalau kamu gak akan dimarahi ? Aku akan jaga kamu kok” kata temannya menggenggam erat tangan Nisa kemudian memeluknya untuk meredakan kekhawatirannya.
Nisa tersenyum.
Mereka berdua memasuki pagar rumah sambil berpegangan erat. Mereka akhirnya tiba di depan pintu rumah. Temannya itu mengetuk pintu hingga terdengar suara langkah kaki yang kian mendekat.
“Astaghfirullah Nisa... Kamu kenapa ?” tanya seorang wanita cantik yang melihat wajah putrinya bengkak. Wanita itu langsung datang memeluk Nisa karena tak tega melihat wajah buah hatinya.
“Nisa ??? Kamu berantem lagi yah ? Kamu . . . . .” seorang lelaki yang baru saja keluar dari pintu rumah itu hendak memarahi Nisa. Namun omongannya terputus ketika teman Nisa yang tadi membelanya berdiri di hadapannya untuk memasang badan.
“Tolong pak jangan marahi Nisa... Kalau bapak mau marah... Marahi aku aja yang gak bisa jaga Nisa” katanya yang membuat Nisa tersentuh.
“Kamu ? Kamu Fandi yah yang tinggal di sebelah rumah... Kamu juga kenapa ? Kenapa mukamu begitu ?” tanya Ayah Nisa terkejut melihat keadaan Fandi.
“Hehehe biasa pak anuu . . .. . “ kata Fandi terhenti bingung memikirkan alasannya.
“Tadi Nisa ditampar yah... Tapi Mas Fandi bantuin Nisa jadinya mereka berantem deh” kata Nisa menjelaskan.
“Hahh beneran ?” tanya Ayah terkejut.
“Hehehe iyya pak” kata Fandi menunduk.
“Terima kasih yah nak kalau begitu... Kamu mau masuk dulu gak biar kami rawat lukamu ?” kata Ayah Nisa ingin membalas budi.
“Gak usah pak... Aku mau pulang aja... Takut membuat ayah ibuku khawatir” kata Fandi.
“Permisi yah pak... Tolong jangan dimarahi Nisanya” kata Fandi pamit untuk pulang ke rumahnya.
“Iya terima kasih yah nak” kata Ayah Nisa berterima kasih pada sikap Fandi. Ayah pun menatap Nisa yang masih dipeluk oleh ibunya.
“Apa ? Ayah udah janji kan gak akan marahi aku ?” kata Nisa dengan polosnya.
Ayah Nisa pun tersenyum walau hatinya masih berat, ia pun mendekati Nisa sambil memegangi pundak kanannya.
“Iyya Ayah janji... Tapi tolong jangan berkelahi lagi yah” kata Ayah yang khawatir pada nasib Nisa kedepannya.
“Kenapa yah ? Bukannya berkelahi itu keren ?” kata Nisa.
“Nakkk... Lihat sini... Lihat ibu nak !” pinta Ibu pada Nisa.
“Ada apa Bu ?” tanya Nisa penasaran.
“Coba perhatikan wajah Ibu” kata Ayah yang membuat Nisa menoleh menatap wajah ayahnya kemudian kembali menatap kecantikan wajah ibunya. Ibu pun tersenyum ketika dipandang oleh putri cantiknya.
“Ibu cantik kan ? Wanita itu harus seperti itu... Wanita itu harus secantik bulan yang mana apabila kita melihatnya hati kita merasa tenang karena pancaran auranya yang menyejukan” kata Ayahnya membuat Ibu Nisa tersenyum malu menatap wajah suaminya ketika dipuji olehnya.
“Secantik Bulan ?” tanya Nisa.
“Iya karena hakekatnya wanita itu seperti itu... Wajahmu, senyummu dan parasmu yang kelak akan jadi pengobat lelah bagi suamimu ketika sudah besar dan menikah nanti” kata Ayah Nisa tersenyum.
Alih - alih paham Nisa justru kebingungan untuk memahami kata - kata Ayahnya yang cukup berat bagi anak seusianya.
“Hihihihi bingung yah sayang ? Nanti seiring berjalannya waktu pasti kamu akan paham kok” kata Ibunya mengecup pipi Nisa.
Mereka berdua pun memasuki rumah tepat setelah cahaya bulan muncul menyinari gelapnya malam.
“Kayaknya omongan Ayah terlalu cepet yah sayang ?” tanya Ayah Nisa kepada istrinya.
“Hihihi mungkin” jawab istrinya tersenyum yang membuat hati Ayah Nisa bahagia ketika melihat senyum manis istrinya.
Malam itu setelah Nisa mandi, Ibu Nisa merawat luka memar di wajah juga luka lecet yang ada di lutut. Terkadang Nisa berteriak kesakitan ketika lututnya ditetesi oleh obat merah. Ibu Nisa dengan sabar merawat luka putrinya sedangkan Ayah Nisa dengan khawatir melihat ke arah luar jendela guna memperhatikan keadaan rumah tetangganya. Ayah Nisa berdiri sambil menyilangkan tangannya menatap ke arah jendela yang belum tertutup oleh korden.
“Awww sakitttt buu.... Sakitttttttt huhuhuhhu” tangis seorang anak yang tinggal disebelah rumahnya.
“Lagian kamu bisa luka gini kenapa sih nak... Wajahmu sampai merah gini loh” kata Ibu Fandi khawatir.
“Hemmm nak Fandi” lirih Ayah Nisa setelah melihatnya dari kejauhan.
14 TAHUN YANG LALU DARI SEKARANG,
Beberapa tahun telah berlalu semenjak kejadian itu. Fandi semakin dekat dengan Nisa karena sering menghabiskan waktu bersama. Fandi juga sudah dikenal oleh kedua orang tua Nisa atas sikapnya karena telah membela putrinya di masa lalu.
Saat jam istirahat tiba di sebuah SMP swasta. Mereka berdua telah berjanji untuk bertemu di kantin sekolah. Fandi tampak gelisah karena tujuh menit berlalu Nisa tak kunjung tiba. Ia sudah memesan sebuah meja untuk ditempati oleh mereka berdua. Berulang kali dirinya melihat ke arah jam tangan yang terpasang di lengan kanannya. Sesaat ia menatap ke arah pintu masuk kantin kemudian menatap ke arah jam tangannya lagi. Semakin lama detik berlalu ia semakin gelisah menanti kehadiran Nisa. Ia pun menatap ke arah makanan yang sudah ia pesan. Ia khawatir makanannya menjadi kurang enak karena sudah dingin akibat terlalu lama menanti. Kadang tangannya mengibas - ngibaskan makanan tersebut untuk melindunginya dari serangan lalat yang ingin hinggap disana. Ia kembali menatap ke arah pintu masuk untuk mencari keberadaannya.
“Nisa kemana yah ? Kok gak dateng - dateng ?” kata Fandi.
Beruntung tak lama kemudian nampaklah seorang gadis cantik yang mengenakakan pakaian seragam dengan tambahan hijab untuk menutupi sebagian keindahan parasnya. Fandi tersenyum saat menatapnya. Tampak gadis itu berjalan malu - malu mendekati Fandi. Senyumnya yang manis dikala duduk mendekati Fandi membuat lelaki tampan itu bahagia akan kehadirannya.
“Maaf yah mas... Kelas aku baru keluar soalnya... Mas pasti udah nunggu lama yah ?” tanya Nisa memberanikan diri guna menatap wajah Fandi.
“Gapapa kok dek... Aku paham kok.... Aku cuma agak khawatir tadi... Tapi setelah melihatmu disini... Kekhawatiranku pun mereda” kata Fandi.
Nisa hanya tersenyum mendengar kata - kata dari teman baiknya.
“Ayo dimakan dulu dek.... Mumpung belum terlalu dingin... Suka gorengan kan ?” tanya Fandi.
“Suka mas... Suka banget malah hihihi” kata Nisa tertawa kemudian menyantap gorengan tempe mendoan tersebut.
“Hmmm enakkk mas” kata Nisa tersenyum.
“Baguslah kalau doyan... Makan yang banyak yah biar cepet tinggi” kata Fandi becanda.
“Ihhh maksudnya sekarang aku tuh pendek yah mas ?” jawab Nisa tersinggung.
“Hahaha bukan kok... Kan Gadis yang tinggi bisa tumbuh lebih tinggi lagi kalau suka menyantap banyak makanan” kata Fandi.
“Lagipula mau kamu tinggi apa enggak... Aku akan tetap ada disisimu kok” kata Fandi yang membuat Nisa tersenyum ceria.
“Eh tadi gimana ? ada cerita apa ?” kata Fandi mengajak ngobrol. Tangan kanannya memegangi garpu tengah menusuk tempe mendoan itu. Kemudian ia mengoleskannya pada saus bersiap untuk memakannya sambil mendengarkan cerita Nisa.
Nisa pun membuka mulutnya menceritakan banyak hal yang telah ia lalui di hari ini. Mulai sejak dirinya berangkat sekolah hingga tiba di kantin, ia ceritakan semua. Mulutnya bagai toa yang selalu terbuka mengeluarkan kata - kata. Mungkin penyanyi rap pun akan kalah apabila mendengar tutur kata Nisa yang jelas lagi lugas dikala bercerita. Setelah ia selesai bercerita disaat Fandi sedang tidak menatapnya, diam - diam Nisa menunduk sambil menggenggam tangannya erat. Ia seperti gelisah lagi bimbang dengan pikiran yang melanda benaknya. Kakinya pun ia luruskan hingga keluar dari meja. Ia menggetarkan kakinya untuk meringankan rasa gugup yang sedang menguasainya.
Nisa yang berusia satu tahun lebih muda dari Fandi terus bercerita. Walau mereka berada di angkatan yang sama tetapi mereka berada di kelas yang berbeda. Tapi itu tak serta merta membuat kedekatan mereka renggang. Sebaliknya dikala ada waktu luang, mereka selalu menyempatkan diri tuk bertemu hingga kelamaan Nisa pun mendapatkan kenyaman darinya.
Tak sengaja saat Nisa bercerita, terdapat seorang lelaki bertubuh gemuk yang melintas di sebelahnya. Lelaki itu kemudian terjatuh karena tersandung kaki Nisa membuat beberapa jajanan yang sudah dibelinya tumpah semua ke lantai. Nisa terkejut karena dirinya tak sengaja membuatnya terjatuh. Fandi pun panik saat melihat wajah pria gemuk itu dipenuhi oleh amarah yang memuncak.
“Berani - beraninya yah kamu melakukan itu padaku ? Kamu sengaja melakukannya kan ?” tuduh siswa gemuk yang terjatuh itu.
“Enggak mas... Aku gak sengaja” kata Nisa ketakutan.
“Gak sengaja ? Terus kenapa kakimu bisa diluar meja gitu... Bukannya kamu sengaja untuk menjatuhkan orang - orang yang lewat disampingmu ? Lihat jajanan yang baru aku beli tumpah semua... Siapa yang mau disalahkan kalau begitu ?” kata siswa itu.
“Sudah hentikan... Maafkan dia... Dia gak sengaja melakukannya” kata Fandi mendekati Nisa untuk membelanya.
“Siapa kamu ? Pacarnya yah ? Bisa apa kamu menghalangi jalanku... Minggir !!!!” kata siswa gendut itu mendorong Fandi hingga jatuh tersungkur ke lantai.
“Aahhhh tolongggg !” kata Nisa panik saat siswa gendut itu hendak menamparnya guna melampiaskan amarahnya.
Seisi kantin mendadak panik saat melihat perkelahian yang terjadi. Para siswa dan siswi yang sedang menyantap disana kebingungan untuk mencari cara untuk melerainya. Beberapa ada yang lari memanggil guru untuk meredakan amarah yang dimiliki oleh siswa gendut itu.
“Sudah kubilang jangan mendekat atau . . . . . .” kata Fandi belum selesai menyelesaikan kata - katanya.
Plakkkkkk !!!
Sebuah tinjuan yang cukup keras melayang ke pipi kiri Fandi yang membuat Nisa terkejut. Baru tak berselang lama seorang guru datang untuk melerai perkelahian itu.
“Mas.... Kamu gapapa ?” tanya Nisa khawatir. Ia mendatangi Fandi yang tersungkur di lantai sambil memegangi pipinya yang perih.
“Akuu... hehehe... Gapapa kok... Aduhhhh !!!” kata Fandi sedikit mengerang.
“Massss !!!” kata Nisa khawatir.
“Kamu gapapa ? Kita ke ruang UKS yah biar bisa dirawat disana ?” kata salah satu guru wanita yang datang kemari.
Fandi tersenyum sambil mengangguk, kemudian seorang siswa yang ada didekatnya diminta oleh guru wanita itu untuk merangkul Fandi menuju ke arah ruang UKS yang berjarak tak cukup jauh dari kantin tersebut.
“Tapi pakkk !!!! Dia sengaja melakukan itu ke aku.... Dia udah menumpahkan jajanan yang baru aku beli” kata siswa gendut itu ketika dibawa paksa oleh Pak Guru menuju ruangannya.
Nisa menoleh sesaat mendengar teriakan siswa gendut itu kemudian ia kembali menoleh menatap Fandi yang sedang dibopong oleh beberapa siswa yang membantunya. Nisa diam sejenak meratapi sikap Fandi kepadanya, ia merasa tidak enak karena Fandi sudah sering mengorbankan tubuhnya untuk melindunginya dari kekerasan yang nyaris ia dapatkan.
Maafin aku mas !!!! Batin Nisa mengejar Fandi untuk menamaninya ke UKS.
Bel petanda masuk kelas sudah berbunyi. Fandi pun tinggal sejenak dengan berbaring diatas ranjang ruang UKS. Ia tersenyum ketika menatap sosok bidadari yang duduk disampingnya menemani.
“Kok kamu gak masuk dek ? Udah bel loh” kata Fandi.
“Aku gak mau masuk mas... Aku mau nemenin Mas aja !” kata Nisa menggelengkan kepalanya.
“Hahaha terima kasih yah dek... Jadi gak enak” kata Fandi.
“Aku harusnya yang gak enak mas karena mas udah sering melindungi aku dengan mengorbankan tubuh mas itu” kata Nisa iba yang membuat Fandi tersenyum.
“Apapun akan kulakukan untuk melindungimu dek... Aku berjanji untuk merelakan tubuhku untuk menjagamu sampai kapanpun” kata Fandi yang membuat Nisa tersenyum sedih.
“Maafin aku yah mas... Suka ngerepotin mas terus dari dulu... Aku gak tau udah berapa kali mas ngelakuin ini untuk melindungi aku yang ceroboh” kata Nisa meratapi.
“Udah gak usah nangis dek... Apa yang aku lakuin juga karena keinginan aku sendiri kok... Aku udah bahagia hanya dengan melihatmu bahagia... Makanya jangan biarkan air mata itu menetes yah... Aku gak rela kalau wajah indahmu itu dibanjiri oleh air mata yang jatuh menetes” kata Fandi yang membuat Nisa terharu.
Jemari Nisa bergerak untuk mengelap air mata yang jatuh. Dikala Nisa berusaha untuk menahannya, air mata itu justru semakin deras membasahi wajah ayunya. Menyadari Nisa tengah menangis membuat Fandi bangkit dari posisi tidurnya guna memeluk tubuh Nisa yang sedang membutuhkan pertolongan kenyamanan.
“Cuppp cuppp cuppp Ada apa ? Kenapa malah nangis kejer sih ?” kata Fandi tersenyum sambil mengusap punggung Nisa dengan lembut.
“Maafin aku mas.... Aku sering ngerepotin... Aku juga cengeng karena sering menangis di depan mas” kata Nisa.
“Udah gapapa dek... Wajar kok kalau menangis... Menangis bukan berarti lemah, menangis berarti menandakan kalau kita masih punya hati... Cuma, tadi aku melarangmu karena aku gak tega untuk melihat air mata yang jatuh membasahi pipi indahmu” kata Fandi terus menenangkannya.
“Huhuhuhu terima kasih yah mas.... Mas udah kaya komandan yang selalu melindungi rakyat lemah sepertiku.... Mas juga hebat bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan buat aku... Aku bersyukur bisa kenal dengan mas yang hebat dalam segala hal” kata Nisa jujur dengan perasaannya.
“Komandan yah ? Hahahaha aku suka dengan kata itu” kata Fandi tertawa merasa senang dengan ungkapan Nisa.
“Senang ? Apa mas mau aku panggil Komandan aja setelah ini ? Gimana kalau Komandan Boom karena kata - kata dari mas suka bikin mood aku meledak jadi bangkit lagi hihihi” kata Nisa tertawa ditengah tangisannya.
“Komandan Boom ? Bagus juga... Aku suka dengan panggilan itu dek” kata Fandi tersenyum sambil menyeka air mata yang masih terjatuh.
“Terus aku juga gak mau dipanggil Dek lagi... Karena aku udah gede... Aku gak mau dipanggil kaya anak kecil lagi” kata Nisa sambil mengusap air matanya.
“Hmmm apa yah ? Gimana kalau senior ?” kata Fandi.
“Senior ?” tanya Nisa penasaran.
“Iya senior... Orang yang tingkatannya lebih tinggi dari kita gak peduli dia lebih muda atau tidak” kata Fandi mengusulkan ide.
“Wahhh bagus juga... Pokoknya panggil aku dengan Senior yah mulai detik ini !!!” kata Nisa sudah berhenti menangis.
“Siap Senior Nisa” kata Fandi yang membuat Nisa mulai tertawa.
“Hihihih makasih Komandan Boom” kata Nisa membuat Fandi tersenyum.
“Yaudah aku mau balik ke kelas yah... Komandan gapapa kan kalau ditinggal sendiri ?” kata Nisa khawatir.
“Ya Gapapa dong dek... Ehh Senior hehehe... Kan Komandan udah gede” kata Fandi yang membuat Nisa tertawa.
“Hihihi makasih yah... Cepat sembuh yah komandan biar bisa ngelindungi aku lagi” kata Nisa memeluk Fandi.
“Iya sama - sama senior” jawab Fandi membalas pelukan Nisa.
Saat mereka berpelukan Nisa mengernyitkan dahinya memikirkan persoalan yang kembali hadir di benaknya.
Sanggup gak yah aku mengatakannya ?
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
“Apa ? Setelah ini kamu mau masuk pondok ?” tanya Fandi beberapa hari setelah dinyatakan lulus dari jenjang SMP.
“Hehe begitulah... Sebenarnya dari dulu sih aku mau cerita... Tapi aku bingung gak tau cara mengatakannya ke komandan... Takut bikin komandan shock dan akhirnya ngeganggu sekolah komandan deh hehe” kata Nisa menjawab.
Fandi diam sejenak saat mendengar berita tersebut. Ia tampak bingung dengan respon yang harus ia tunjukan ke Nisa. Haruskah ia senang ? Ataukah sedih. Kalau Nisa mondok berarti Nisa akan lebih terjaga dan ia juga akan mendapatkan ilmu yang banyak tentang agama akan tetapi di lain sisi ia juga akan kehilangan waktu yang banyak untuk bertemu dengannya. Fandi masih diam memikirkan plus minus tentang keputusan Nisa yang nampaknya sudah bulat, sebulat tekadnya.
Langit sudah mulai berubah menjadi keoranyean. Dikala senja mulai menyapa, mereka berdua masih diam menikmati waktu bersama di taman bermain yang terletak tak jauh dari rumah mereka. Fandi duduk di ayunan tengah diam merenung, sedangkan Nisa juga duduk di ayunan di samping Fandi mengamati respon yang akan Fandi berikan. Nisa tersenyum kemudian bangkit dari posisi duduknya guna mendekati Fandi untuk berdiri dihadapannya hingga membuatnya terkejut.
“Tenang Komandan... Aku udah mengira kok pasti komandan akan bingung dengan jawaban yang komandan berikan... Keputusanku udah bulat... Aku akan menuruti keinginan Ayahku yang ingin agar aku tumbuh menjadi wanita yang sesuai dengan keinginannya dan satu - satunya cara ya dengan menjadi santriwati di pondok pesantren itu... Tenang kita masih bisa bertemu kok diwaktu aku libur” kata Nisa tersenyum menangkan hati Fandi.
“Iya aku tau kok... Itu keputusan yang baik dan mungkin keputusan yang berat juga bagiku untuk menerimanya... Senior tau kan kalau kita sudah lama tumbuh bersama... Rasanya agak aneh kalau aku harus sendiri untuk melalui jenjang SMA nanti... Tapi kalau ini semua demi kebaikanmu aku juga gak boleh egois dong” kata Fandi yang membuat Nisa tersenyum lega.
“Terima kasih yah komandan... Oh yah dan mungkin ini juga pertemuan kita yang terakhir sebelum diriku berangkat besok pagi” kata Nisa yang membuat Fandi terkejut.
“Hahhh... Besok udah berangkat ?” kata Fandi tak menyangka.
“Hehehe maaf yah komandan... Aku ndadak yah ngasih taunya ?” kata Nisa tersenyum.
“Enggak kok” kata Fandi ikut berdiri dihadapan Nisa.
Kini mereka berdua sama - sama berdiri saling menatap wajah masing - masing. Nisa pun malu membuat wajahnya menunduk menatap ke bawah.
“Ehmm sebenarnya” kata Fandi memegangi pundak Nisa yang membuatnya menatap wajah tampan Fandi.
“Ehhmm ada apa komandan” kata Nisa merapatkan bibirnya karena tiba - tiba ia merasa gugup.
“Ada yang ingin aku ceritakan ke kamu senior” kata Fandi.
“Cerita ? Apa Komandan ?” tanya Nisa yang membuat Fandi tersenyum malu.
Cupppp !!!
“Aku mencintaimu... Dari dulu semenjak kita bertemu”
Nisa terkejut ketika pipinya tiba - tiba dicium oleh Fandi. Namun bisikan yang ia dengar di telinganya membuatnya tersipu malu.
“Hanya itu yang ingin aku katakan... Aku hanya seorang lelaki yang tak tahu tentang apa yang akan terjadi di esok hari... Daripada mengikat kita dengan sebuah janji yang sulit untuk ditepati bagaimana kalau kita saling menjaga diri agar kelak ketika kita sudah siap nanti, kita bisa hidup bersama sehidup semati” kata Fandi yang membuat pipi Nisa memerah karena tersipu.
“Sebagai tambahannya... Aku punya hadiah spesial untukmu... Ini dariku !” kata Fandi memberikan sekuntum bunga berwarna ungu.
“Ini ?” tanya Nisa.
“Ini namanya bunga Amaranth Globe.... Konon bunga ini memiliki makna cinta yang tak tergantikan atau gampangnya cintaku padamu akan abadi Senior” kata Fandi yang membuat Nisa terharu melihat sikap Fandi untuknya.
Tak terasa air mata jatuh membasahi wajah Nisa. Tanpa mengeluarkan kata - kata. Nisa langsung datang memeluk Fandi sambil menumpahkan semua air matanya di kaus yang Fandi kenakan.
“Senior kenapa nangis lagi sih ?” kata Fandi membalas pelukan Nisa sambil mengusap punggungnya pelan.
“Terima kasih komandan... Komandan udah baik ke aku selama ini... Aku bersyukur bisa ketemu orang sebaik komandan...” kata Nisa menangis di pelukan Fandi.
“Seniorrr.... Aku gak sebaik itu kok... Aku masih banyak kekurangan terutama dalam hal menjagamu” kata Fandi terus mengusap punggung Nisa.
“Komandannnn !!!!! Huhuhuhuh !” kata Nisa tak dapat menghentikan tangisnya. Fandi hanya tertawa hingga tak sadar air matanya ikut jatuh karena tersentuh dengan air mata Nisa.
“Janji yah setelah aku keluar pondok kita akan bertemu lagi ?” kata Nisa menatap wajah Fandi dengan tatapan sembap.
“Iyyaa... Janji senior” kata Fandi.
“Makasihh komandannn !!!” kata Nisa tersenyum ditengah tangisnya yang membuat Fandi tersenyum menganggapnya lucu.
“Oh yah mengenai tadi aku gak perlu menjawabnya kan ?” kata Nisa malu - malu.
“Gak perlu... Biar waktu aja yang menjawabnya” kata Fandi bersikap bijak.
“Hihihi makasih yah komandan aku pamit dulu” kata Nisa melangkah pergi sambil mengusap lelehan air matanya yang masih jatuh. Fandi pun melambaikan tangan meratapi kepergian Nisa. Kemudian ia kembali duduk di ayunan sambil menatap pemandangan langit senja yang begitu indah.
Bisakah suatu hari kita bersama Senior ? Aku akan jadi mataharimu dan kamu akan menjadi bulanku... Disetiap tangismu, aku akan selalu mengeringkan air matamu dengan terikku... Juga dikala ada seseorang yang menganggumu, aku akan menyengat orang itu dengan terikku... Sebaliknya dikala aku lelah, capek dan penat wajahmu yang indah akan menjadi penenang untukku... Kamulah bulan yang selalu memancarkan keindahan yang juga menjadi penenang bagiku.
Batin Fandi dalam hati. Ia pun ikhlas membiarkan Nisa melanjutkan studynya ke pondok. Tetapi entah kenapa di dalam hatinya ada perasaan yang mengganjal seolah keputusan Nisa merupakan keputusan yang buruk baginya.
“Kamu juga mencintaiku kan Nis ? Air mata yang tadi kau tumpahkan... Bukankah itu berarti jawaban untuk ‘Ya’ ?” lirih Fandi merasa tidak enak.
4 TAHUN DARI SEKARANG,
Detik demi detik telah berlalu, menit demi menit telah terlewati, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun akhirnya telah Fandi lalui sendiri. Rasanya cukup sulit untuk melalui semua ini sendiri. Tetapi dengan segala tekad yang telah tertanam di dalam diri. Fandi berhasil melewati segala macam kesulitan yang membuatnya telah sampai di titik ini.
Fandi sudah berada di tahun keempat masa kuliah, skripsi pun usai ia kerjakan, ia juga sudah bisa mencari uang sendiri dengan kerja part-time yang ia lakukan disela - sela kuliahnya. Sedikit demi sedikit lama - lama akan menjadi bukit. Itulah yang Fandi lakukan hingga akhirnya ia memiliki cukup modal dan keberanian tentunya untuk melamar Nisa.
“Kalau gak salah sudah beberapa hari yang lalu Senior telah menyelesaikan studynya di pondok pesantren... Seharusnya hari ini ia ada di rumah kan ?” kata Fandi tersenyum dengan gugup. Ia tak mengira masa ini akhirnya datang juga kepadanya. Ia pun melihat ke arah kalender yang terpasang di dinding.
“Hari ini weekend... Dah lama juga aku gak pulang ke rumah... Haruskah aku menemuinya sekarang ?” kata Fandi yang lama kelamaan semakin gugup.
Ia pun membuka almari yang berada di dalam kamar kosnya. Beberapa pakaian yang ia butuhkan ia masukan ke dalam tas punggungnya. Ia menyiapkan berbagai barang yang ia butuhkan untuk pulang ke rumah sekaligus untuk menyiapkan diri untuk melamar gadis yang telah menjadi pujaan hatinya sejak lama.
“Oke semua persiapan siap... Mari kita pulang” kata Fandi.
Saat hendak berangkat pulang ke rumah, tiba - tiba ia mendapatkan pesan dari seseorang yang baru dikenalnya. Fandi melihatnya sejenak kemudian menghapus pesan tersebut sebelum ia membacanya.
Ia menyalakan motornya, helm pun telah ia kenakan di kepalanya. Kemudian ia menstarter motor itu dan melajukan motornya sambil menyiapkan kata - kata yang harus ia ucapkan dihadapan ayah Nisa.
“Jadi gini... Saya ingin melamar putri bapakkk... ahh enggak enggak itu kayaknya terlalu kaku” kata Fandi berlatih.
“Maaf pak... Maksud kedatangan saya kemari karena ingin meminta Nisa untuk menjadi istri saya... ahhh enggak enggak kayaknya gak ada perbedaan dari yang sebelumnya” kata Fandi terus berlatih.
Mulutnya terus bergerak menyiapkan kata - kata untuk meyakinkan Ayah Nisa agar mau merelakan putrinya untuk dinikahi olehnya.
“Hmmm gimana yah ?” kata Fandi mendadak kepalanya pening tak dapat memikirkan sesuatu hal.
Tak terasa ia pun tiba di halaman rumahnya. Ia segera memasuki rumah kemudian mengintip sejenak ke samping ke arah rumah Nisa melalui jendela rumahnya. Mendadak senyum mengembang di wajahnya dikala melihat Nisa tengah menyapu halaman rumahnya. Fandi menggelengkan kepalanya tak menyangka. Lama tak berjumpa Nisa semakin cantik dengan pakaian lebar yang dikenakannya. Kemeja longgar yang membungkus tubuhnya yang mungil, hijab syar’i yang membalut kepalanya yang kecil juga sebuah rok panjang yang menutupi kaki - kakinya yang jenjang.
“Tunggu... Kenapa pakaian Senior terlihat rapih kalau cuma mau menyapu halaman rumah ? Apa jangan - jangan hatinya terhubung denganku sehingga tau kalau aku akan datang untuk melamar dirinya” Fandi pun cekikikan membayangkan berbagai hal indah yang terbayang di benaknya.
Tak sengaja saat Fandi berhenti menatapnya, Nisa menatap ke arah rumah Fandi. Tatapannya sayuk, berulang kali pandangannya melihat ke sekitar guna mencari seseorang yang ingin ia temui.
“Komandan... Maaf...” kata Nisa menghela nafasnya kemudian memasuki rumah. Saat tiba di kamarnya, ia pun menatap ke arah bunga yang dulu sempat Fandi berikan kepadanya. Ia mengambil bung aitu lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN,
“Baiklah sekarang waktunya” kata Fandi memberanikan diri keluar.
Kemeja rapih, celana jeans yang tidak terlalu ketat telah membungkus tubuhnya. Tak lupa ia menyisir rambutnya dan menyemprotkan wewangian demi menemui pujaan hatinya. Ia percaya diri. Namun saat ia membuka pintu rumahnya, ia menemukan sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah Nisa.
Jantung Fandi terasa seperti berhenti berdetak, ia merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Ini... Ini gak mungkin kan ?” tanya Fandi panik.
Kaki Fandi melemas namun tekadnya yang kuat membuat ia memberanikan diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Beruntung pintu rumah Nisa terbuka. Dari arah ruang tamunya terlihat Nisa tertawa ketika berbincang dengan tamunya yang seorang pria juga mengenakan kemeja yang tampak rapih seperti dirinya. Disamping Nisa terdapat Ayahnya yang ikut tertawa mengikuti perbincangan itu. Fandi menggelengkan kepalanya kemudian berbalik badan sambil menyender ke dinding pagar rumah Nisa.
Tak terasa air mata jatuh membasahi wajahnya. Ia pun menyisir rambutnya ke belakang. Ia meremas rambutnya dan bibir nya bergetar tak sanggup untuk mengucapkan kata - kata.
“Innn... Innnii bohong kan... Senior ?” kata Fandi dengan suara bergetar.
Beberapa kendaraan lewat berlalu - lalang dihadapan Fandi. Sepeda motor, sepeda gowes, mobil bahkan pejalan kaki yang melewati Fandi sempat menolehnya sejenak dan memberikan tatapan iba kepadanya. Fandi mengabaikan rasa malunya karena kesedihan yang melanda hatinya lebih besar daripada segalanya. Fandi terus menangis untuk mengobati hatinya yang terluka.
Setelah membaik, ia pun beranjak berdiri untuk menatap Nisa kembali yang sedang tersenyum ceria di hadapan tamunya. Bergegas Fandi beranjak pergi menuju taman yang dulu sempat menjadi saksi bisu kebersamaannya dengan Nisa.
Saat Fandi pergi, Nisa menatap ke arah luar pintu rumahnya. Pandangannya bergerak ke arah sekitar merasa ada seseorang yang memperhatikannya.
“Ada apa nak ?” tanya Ayah ikut melihat keluar.
“Gak ada apa - apa kok Yah” jawab Nisa memaksakan senyum. Namun perasaannya tidak enak membuatnya kembali melihat ke arah luar pintu rumahnya.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN,
Fandi duduk di ayunan menanti kehadiran seseorang yang ia minta untuk datang kemari. Tatapannya kosong menatap ke bawah. Pikirannya juga kosong. Begitupula hatinya yang sudah ditinggali seseorang yang ia cinta. Tak berselang lama ia melihat sepatu yang kian mendekat ke arahnya. Fandi menaikan pandangannya. Nampak gadis cantik dengan hijab syar’i yang membungkus kepalanya berdiri di hadapannya.
“Senior” kata Fandi menyapa.
“Komandan” kata Nisa merasa tidak enak.
“Aku sudah mendengar kabarnya... Bahkan aku sudah melihat sendiri sosok lelaki itu... Selamat yah” kata Fandi terdengar tidak tulus.
“Maaf Komandan” kata Nisa dengan suara lirih menundukan kepalanya.
“Maaf ? Cuma itu yang kamu ucapkan pada lelaki yang sudah lama melindungimu... Menjagamu !” kata Fandi sambil menahan emosi.
“Iya... Cuma itu” kata Nisa sambil menahan perih di dada.
“Inikah balasan yang telah kamu berikan pada seseorang yang telah mengorbankan segalanya untukmu ? Masih ingetkan berapa luka memar yang kudapatkan hanya demi melindungimu ? Apa kamu lupa ? Atau kamu sengaja melupakannya demi menerima lelaki yang lebih mapan dariku ?” kata Fandi agak sedikit menaikan suaranya.
“Massss.... Tolll...” belum sempat Nisa menyelesaikan kalimatnya, Fandi telah memotongnya.
“Mas ? Bahkan kamu menanggalkan panggilan komandan itu untukku ? Bener - bener kamu yah !!!” kata Fandi tak mengira.
Nisa hanya terdiam sambil meneteskan air matanya.
“Aku sudah lama menantimu Senior... 4 tahun lebih aku berjuang dengan menunggumu... Menanti kamu menyelesaikan masa studymu di pondok tapi sekarang balasanmu apa ? Lagipula siapa dia ? Kenapa kamu sampai menerimanya ?” kata Fandi marah - marah.
“Dia.... Diaa ustadz seniorku di pondok” kata Nisa terbata - bata sambil mengelap air mata.
“Ustadz senior yah ? Jadi selama ini dibelakangku kamu berselingkuh dengan ustadz itu ? Apa kamu mengabaikan perasaanku selama ini ? Apa kamu lupa dengan ucapan pengakuan yang kukatakan tepat sebelum kamu berangkat ke pondok ? Aku mencintaimu Senior ! AKU MENCINTAIMU !!!! dan kamu lebih memilih lelaki yang baru kamu temui itu ? Wanita macam apa kamu ini ? Dasar wanitt . . . . . “
Plakkkkk !!!!
Fandi terkejut ketika pipinya ditampar dengan keras, ia pun terdiam dan ia menatap wajah Nisa yang sudah dibanjiri air mata. Seketika ia tersadar dari hawa nafsu yang sedari tadi menguasainya. Amarah yang tadi menguasai dirinya mulai mereda. Kini rasa penyesalan mulai terasa setelah ia meneriaki Nisa.
“Tahu apa kamu mas tentang aku ? Tahu apa kamu mas sampai berani meneriakiku ? TAHU APA KAMU MAS SAMPAI BERANI MENUDUHKU !!!!” kata Nisa berteriak yang membuat Fandi diam memandang ke bawah.
“4 tahun lebih aku menanti kapan mas datang ke rumahku. 4 tahun lebih aku selalu menjaga perasaan aku untuk mas. 4 tahun lebih bahkan saat tadi sebelum Ustadz Reynaldi datang ke rumah... Aku selalu melihat ke rumah mas berharap mas datang lebih dulu daripada ustadz Reynaldi. Lagipula mas inget kan kata - kata yang mas ucapkan sebelum aku ke pondok ?” tanya Nisa dengan mata berkaca - kaca.
“Kata - kata aku ?” kata Fandi mengingat.
Daripada mengikat kita dengan sebuah janji yang sulit untuk ditepati bagaimana kalau kita saling menjaga diri agar kelak ketika kita sudah siap nanti, kita bisa hidup bersama sehidup semati.
“Lagipula kita gak pernah berjanji untuk saling menanti bukan ? Mas juga bilang biarlah waktu yang menjawabnya kan ? Lalu kenapa mas malah marah kepadaku ? Kenapa mas juga bilang aku berselingkuh ? Berselingkuh apa mas ? Tahu gak selingkuh itu kata yang sensitif bagi wanita !” kata Nisa yang masih menangis.
“Seniorrr !!” sapa Fandi dengan lirih.
“Gak usah memanggilku dengan sebutan itu lagi... Apa kata mas dulu ? Matahari ? Bulan ? Matahari macam apa yang bisa membuat bulan menangis ? Kamu bukan matahariku mas ? Dan aku juga bukan bulanmu.... Maaf kalau memang mas kecewa... Tapi sekarang aku sudah menyetujui lamarannya... Sebentar lagi aku akan menjadi miliknya... Jadi tolong jangan ganggu aku lagi setelah ini... Setelah detik ini !” kata Nisa melangkah pergi.
“Senior tungguuu” kata Fandi mengejar berusaha memegangi tangan Nisa.
“Lepaskann !!!” kata Nisa segera terlepas dari cengkraman tangan Fandi.
“Sebegitukah kamu membenciku sekarang ? Bahkan untuk memegang tanganmu kamu merasa jijik padaku ?” tanya Fandi.
“Ini bukan masalah jijik atau enggak... Tapi mas bukan muhrim aku dan aku berhak menolak kalau ada lelaki yang berani memegangiku” kata Nisa menatap Fandi dengan tatapan benci.
“Begitukah ? Jadi sudah jelas yah kalau dari dulu kamu tidak pernah mencintaiku ?” tanya Fandi.
“Apa tadi omonganku kurang jelas mas ? Aku mencintaimu mas... Tapi itu dulu... Sebelum calon suamiku datang untuk menjemputku !!! Jujur, aku juga kecewa karena mas datang terlambat untuk menjemputku...” kata Nisa kemudian berlari menjauhi Fandi sambil mengusap air matanya.
“Tapi seniorrr !! Kenapa kamu gak menolaknya ? Kamu kan bisa menolak lamarannya !!” teriak Fandi yang membuat Nisa berhenti berlari. Nisa pun menoleh, wajahnya sembap karena dibanjiri air mata. Ia pun membuka mulutnya perlahan yang membuat Fandi menyesal karena tidak segera melakukannya.
“Aku milik orangtuaku mas ! Ketika orangtuaku sudah memberikan restu disitulah aku menjadi milik calon suami aku !” kata Nisa kembali berlari menjauhi Fandi.
Fandi terjatuh dalam posisi duduk ke tanah. Ia menyesali perbuatannya karena sudah memarahi Nisa dengan tuduhan yang tidak jelas. Ia juga menyesal andai waktu itu ia langsung datang ke rumahnya untuk melamar Nisa. Mungkin hasilnya akan sedikit berbeda. Fandi menundukan wajah di sela - sela lututnya yang ia tekuk naik. Tetesan demi tetesan air mata jatuh membasahi tanah yang ia duduki. Sebuah cincin yang ia simpan di saku celananya pun keluar menggelinding jatuh mengenai tanah.
Fandi merasa hidupnya hancur. Ia tak bisa melupakan Nisa dan itulah yang selalu ia fikirkan hingga ke masa sekarang.
MASA SEKARANG
“Apa kabar senior ? Lama kita tak bertemu” sapa Fandi dengan wajah sumringah ketika bertemu kembali dengan wanita pujaannya.
Nisa hanya diam saat duduk di dalam kamar kos Fandi. Ia menatap sekitar untuk melihat keadaan kos. Banyak barang berantakan yang tak tersusun rapih. Sampah - sampah makanan tak dibuang ke tempat yang semestinya. Keadaan Fandi pun tak berbeda jauh. Ia terlihat seperti seorang lelaki yang tak terurus. Nisa pun membuka mulutnya untuk mengomentari keadaan kos ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu Mas ? Kenapa mas jadi berantakan begini ?” tanya Nisa mengkhawatirkannya.
“Entahlah senior... Aku selalu memikirkanmu... Hanya itu satu - satunya yang terpikirkan olehku... Aku bahkan jarang makan karena aku tidak merasa lapar saat memikirkanmu” kata Fandi tersenyum yang membuat Nisa merasa iba.
“Kamu gak boleh seperti ini mas... Kamu gak boleh terikat padaku... Aku sudah menikah dan sebenarnya aku gak berhak untuk mengunjungimu sekarang... Kalau bukan karena sikap mas dulu aku gak akan sampai membohongi suamiku hanya untuk menemuimu mas...” kata Nisa iba.
“Apa aku berlebihan senior ? Tapi hanya kamulah wanitaku ? Aku sudah bilang kan melalui bunga itu dulu ? Cintaku akan abadi dan aku akan selalu mencintaimu sampai mati” kata Fandi.
“Masss tolonggg... Ada banyak wanita lain yang lebih cantik daripada aku... Kalau mas membuka hati pasti rasa terikat mas bisa terobati... Itu karena mas selalu menutup diri sampai lupa kalau jodoh itu sudah ditentukan sejak lahir” kata Nisa.
“Jadi maksudmu selama ini perjuanganku untuk meluluhkan hatimu percuma karena aku bukan jodohmu ?” kata Fandi.
“Mungkin” kata Nisa lirih.
“Hahahaha” kata Fandi malah tertawa yang membuat Nisa takut.
“Mas.... Istighfar !” kata Nisa khawatir dengan kesehatan mental Fandi.
“Hahaha aku masih normal kok Senior... Aku masih belum gila mungkin sebentar lagi akan seperti itu... Mungkin !” kata Fandi yang awalnya berbicara ceria kemudian diakhiri dengan nada lirih.
“Massss !!!” Kata Nisa semakin khawatir.
“Mas mending mandi dulu aja yah... Nanti aku bantu buat beres - beres dan menyiapkan sesuatu untuk mas” kata Nisa.
“Aku ? Mandi ? Buat apa juga hahahaha” kata Fandi kembali tertawa.
“Udah nurut sama aku... Atau aku akan pulang !” kata Nisa tegas yang langsung membuat Fandi terdiam menuruti.
“Yaudah... Aku mandi dulu kalau gitu” kata Fandi manut memasuki kamar mandi.
“Kenapa sih mas Fandi ini ?” kata Nisa setelah melihat Fandi memasuki kamar mandi.
Nisa pun menggulung lengan gamis berwarna cream yang ia kenakan. Sambil menghela nafas ia membersihkan satu demi satu sampah yang berseliweran di mana - mana. Ia juga merapihkan barang - barang yang tidak tertata rapih di kamar kos tersebut.
Saat ia membuka pintu yang menuju ruang tidurnya. Ia terkejut saat melihat adanya tali yang sempat ia lihat di foto tadi.
“Astaghfirullah mas Fandi !” kata Nisa bergegas mencari pisau untuk memotong tali itu kemudian membuangnya. Ia pun berjalan menuju lemari pakaian untuk memeriksanya. Ia terhenyak saat melihat pakaian yang dimasukan begitu saja tanpa dilipat terlebih dahulu. Ia pun mengeluarkan pakaian itu kemudian melipatnya satu demi satu.
Tak berselang lama Fandi keluar dari kamar mandi mengenakan kaus lecek berwarna putih juga celana pendek berwarna biru. Saat memasuki ruang tidurnya, Fandi terkagum saat melihat Nisa melipat satu demi satu pakaiannya. Ia tersenyum serasa melihat istri yang begitu perhatian kepadanya.
“Terima kasih senior !” kata Fandi. Nisa hanya tersenyum sejenak kemudian kembali melanjutkan melipat pakaiannya.
“Mulai sekarang... Jangan melakukan yang aneh - aneh lagi !” tegur Nisa setelah teringat akan tali itu.
“Maaf senior... Aku hanya putus asa arena kamu selalu menjauhiku belakangan ini” kata Fandi. Nisa pun menghela nafas sambil melanjutkan beres - beres pakaiannya.
“Kamu udah makan Mas ?” tanya Nisa.
“Belum... Mungkin dari kemarin pagi aku belum makan” kata Fandi.
Nisa pun terkejut kemudian membuka hapenya dan mengetikan sesuatu disana.
“Kamu ngapain senior ?” tanya Fandi.
“Beli makanan mas” kata Nisa. Fandi pun tersenyum melihatnya.
Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu dari arah luar yang membuat Nisa mendekati pintu tersebut. Setelahnya Nisa kembali datang menuju kamar Fandi sambil membawakan dua porsi nasi ayam yang sudah ia pesan.
“Ini dimakan yah Mas !” kata Nisa perhatian.
“Terima kasih yah senior” kata Fandi bergegas membuka nasi tersebut kemudian memakannya dengan lahap.
Nisa tersenyum melihat Fandi yang makan seperti orang kelaparan. Nisa begitu memaklumi tapi ia kembali iba setelah mengetahui keadaannya sekarang.
Menit demi menit, jam demi jam telah mereka lewati bersama. Nisa tampak sibuk dengan membantu Fandi merapihkan kamar kosnya yang berantakan. Fandi tersenyum ketika dapat kembali menikmati waktu bersama Nisa. Begitupula Nisa, ia merasa lega ketika dapat melihat senyum kembali di wajah Fandi.
Tak terasa senja sudah tiba menyapa mereka berdua. Saat melihat ke arah jam tangannya, Nisa terkejut saat mengetahui jam sudah menunjukan pukul lima sore. Nisa pun menatap Fandi, mulutnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu padanya.
“Mas... Sekarang udah jam lima sore... Aku pulang yah” kata Nisa.
“Apa ? Kok buru - buru senior... Tolong temani aku disini... Aku merasa tenang dengan kehadiranmu... Aku gak tau apa yang akan kulakukan kalau kamu pulang ke rumah sekarang” kata Fandi.
“Tapi mas... Pasti suami aku bakal nyariin... Aku juga punya anak yang harus aku urus mas” kata Nisa memberi alasan.
“Seniorrr tolonggg...” kata Fandi menitikan air mata. Nisa pun tersentuh saat melihat air mata yang Fandi keluarkan.
“Bertahun - tahun sudah aku tidak melihatmu... Tolong kali ini saja temani aku... Aku tahu mungkin aku tidak bisa menikahimu... Tapi tolong untuk kali ini saja... Aku ingin menjadi suamimu untuk hari ini saja” kata Fandi memohon.
Nisa diam tak dapat berbicara. Ia bingung, ia bimbang dengan situasi yang sedang ia hadapi. Hati kecilnya berkata kalau ia harus menolaknya karena sekarang ia sudah resmi menjadi istri Reynaldi. Tetapi di lain sisi ia tampak iba dengan kondisi Fandi saat ini, apalagi jauh di lubuk hatinya, ia masih mencintai Fandi yang sudah selalu melindunginya sejak ia masih kecil.
“Tolong yah senior... Untuk hari ini saja... Aku rindu padamu Senior” kata Fandi mendekap jemari Nisa yang ia biarkan.
Nisa menatap jemarinya yang sedang dipegang oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Kemudian ia menatap wajah Fandi yang tampak sembap berkaca - kaca. Kumisnya dan janggutnya yang tumbuh tak beraturan, kantung matanya yang merah juga rambutnya yang agak memanjang berantakan. Nisa jadi iba dan agak sulit untuk menolak permintaannya. Apalagi tubuhnya yang kurus hingga mendekati kulit yang membungkus tulang membuat Nisa semakin khawatir.
“Kalau aku menurutimu apa mas akan berhenti mengangguku dan kehidupanku ?” kata Nisa.
“Tentu... Aku akan melakukannya” kata Fandi tersenyum.
Nisa pun berfikir sejenak merenungi jawaban apa yang harus ia berikan pada seorang lelaki yang telah lama melindunginya sejak kecil.
“Kalau begitu baiklah... Untuk malam ini saja aku akan uhmmmpphhhhhh” kata Nisa terkejut saat bibirnya sudah dicumbu oleh lelaki kurus itu.
Pikiran Nisa kosong saat merasakan birahi Fandi dikala menikmati bibir tipisnya. Bibir lelaki kurus itu menekan keras bibir tipis Nisa dengan dorongan liar. Nisa dapat merasakan hembusan nafas Fandi yang hangat menerpa wajahnya. Nisa pun membuka matanya karena terkejut.
“Masss... Uhmmmm auhmmmm janggannn” kata Nisa.
Bukan ini yang kumaksud untuk menyetujui permintaanmu mas... Hentikan !!! aku tidak mau melakukan perzinahan ini !
Ketika ustadzah muda berparas jelita itu masih shock dengan serangan mendadak yang sudah Fandi layangkan kepadanya. Ia dapat merasakan gerakan lidah yang begitu lihai memaksa masuk dengan mendorong bibirnya yang tertutup rapat.
Sebuah remasan yang cukup kuat juga ia terima di payudaranya. Nisa mendesah merasakan kenikmatan yang menjalar ketika titik sensitifnya disentuh.
“Uhmmmm massss... Ahhhhhh” desah Nisa ditengah percumbuannya.
Fandi kemudian memasukan tangannya ke dalam rok gamis untuk mengelus paha Nisa dengan lembut. Usapannya perlahan naik ke arah selangkangannya. Kemudian sambil terus menciumnya, jemarinya itu menemukan celah di celana dalam yang Nisa kenakan. Fandi mendorong jemarinya hingga jemarinya itu berkeliaran menjelajah kemaluan Nisa yang agak sedikit basah.
“Ahhh masss... Tolonggg jangannnn.... Ahhhhhhh” desah Nisa bertahan sekuat hati untuk tidak melakukan perzinahan ini.
Seketika Nisa terlena oleh kenikmatan yang sedang menjalari tubuhnya, ia pun berdiam pasrah sambil merasakan cumbuan dan usapan jemari di bibir kemaluan. Seharusnya sebagai seorang ustadzah ia mampu untuk melawan semua pelecehan ini. Tapi di sore hari ini, ia tidak bisa melakukannya. Ia benar - benar terbuai oleh kebersamaan dengan teman lamanya. Apalagi saat jemari Fandi mulai bergerak masuk membelah liang senggamanya.
“Aahhhhh masss Fandiiiii” kata Nisa bergidik nikmat merasakan sensasinya.
Tubuh mungil sang bidadari terlonjak karena merasakan setruman kecil disana. Untuk pertama kalinya setelah menikah dengan suaminya ada seorang lelaki lain yang beruntung bisa merasakan kehangatannya.
Tanpa sadar Nisa membuka kakinya lebar - lebar hingga gamis yang dikenakannya pun terangkat naik membuat jemari Fandi yang satunya ikut bermain dengan mengelus kulit mulus Nisa di kakinya.
“Aahhhhh ahhhhhh tolongg jangannn masssss” desah Nisa sambil memejam berusaha terus menolak. Namun kenikmatan yang ia rasakan jauh lebih kuat daripada akal sehat yang dimilikinya.
Ia benar - benar lupa kalau dirinya sudah menikah, ia benar - benar lupa kalau dirinya sedang berzina dan ia benar - benar lupa kalau dirinya sedang berselingkuh dengan teman lama yang begitu mencintainya. Tiba - tiba terdengar suara ringtone hape berbunyi dari dalam tas slingbag yang ia bawa. Suaranya tidak asing karena suara ringtone inilah yang paling sering berbunyi di hapenya dan juga karena hanya ada satu nomor di hapenya yang memiliki ringtone khusus ini.
Abiii ? Astaghfirullah apa yang sudah aku lakukan ?
Dikala Nisa hendak bangkit karena tersadar akan perbuatan salah ini, Fandi sudah mengangkat rok gamis Nisa hingga sebagian perut dan buah dadanya yang tertutupi bra berwarna putih itu tersingkap.
“Aahhhhhh masss apa yanggg . . . . .” Nisa terkejut saat Fandi menarik paksa bra yang dikenakannya hingga terlepas. Belum juga Nisa hendak menutupi tubuhnya kembali dengan gamis yang tersingkap itu. Fandi buru - buru mendekatkan bibirnya untuk menyusu di payudara Nisa yang berbentuk bulat.
“Aahhhhhh masss jangannnn” desah Nisa merasakan gigitan Fandi yang ringan juga serangan lidahnya di putingnya yang berwarna merah muda.
Fandi mencium dan menghisap puting susu Nisa sebelah kiri kemudian kanan kemudian kiri lagi. Terus Fandi melancarkan serangan yang bertubi - tubi ke arah payudara Nisa hingga membuat bidadari berhijab itu mendesah tak karuan menerima rangsangannya.
“Massss ahhhh tolonnggg hentikannnhhh ehhmmmm” kata Nisa saat merasakan vaginanya kembali dirangsang dengan tusukan jemari Fandi yang keluar masuk disana.
Di dalam kamar kos itu tepat di samping ranjang tidur Fandi. Nisa terus mendesah menerima rangsangan dari teman lamanya. Nisa akhirnya mengalah untuk membiarkan pria yang sempat dicintainya itu menikmati keindahan tubuhnya yang semestinya hanya untuk suaminya saja.
Maafin Umi Bi... Umiii... Umiii uhhmmmm !!!
Batin Nisa saat mendengar suara ringtone itu terus berbunyi di dalam tasnya. Nisa benar - benar kalut tak bisa menolak rangsangan Fandi. Fandi pun mendorong tubuh Nisa hingga terlentang diatas tikar kamar kosnya. Perlahan - lahan Fandi menarik keluar celana dalam Nisa dari kakinya. Ia juga mengangkat gamis yang sedari tadi menghalangi keindahan Nisa hingga terlepas dari tubuhnya. Nisa sudah bertelanjang bulat dihadapan Fandi menyisakan hijab dan kaus kakinya saja. Fandi tersenyum diatas tubuh Nisa yang terlihat malu - malu dengan menutupi payudara dan vaginanya sebisa mungkin dengan tangannya.
“Kamu sangat cantik senior... Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk menjadi suamimu malam ini” kata Fandi menurunkan celananya hingga penis besar itu terpampang dihadapan Nisa.
“Besarrrnyaaa !!!” kata Nisa terkejut. Ukurannya nyaris dua kali lebih besar dari milik suaminya. Mungkin ukurannya nyaris 11 - 12 dengan lengan Nisa yang kecil. Nisa pun ketakutan namun Fandi sudah bersiap - siap dengan mencengkram kedua pinggang Nisa yang ramping.
“Masss... Jangannn... Jangannn !!” pinta Nisa memohon. Ia pun merasakan penis Fandi sudah terantuk - antuk di bibir vaginanya yang basah. Nisa mulai memejamkan mata sambil merapatkan bibir tipisnya saat ujung gundul penis itu mulai menembus liang vaginanya yang sempit.
“Uhhhh seniorrrr !!!” desah Fandi mulai merasakan nikmatnya.
Fandi menarik nafasnya kemudian mendorong pinggulnya agar penis besar miliknya bisa memasuki liang senggama Nisa seutuhnya. Namun tiap kali Fandi mendorong ia begitu kesulitan untuk memasuki liang senggama Nisa yang sempit. Semakin Fandi mendorongnya, Nisa hanya merintih menahan sakit merasakan ukuran penis Fandi yang besar.
“Hegghhhhhh !!!!” desah Fandi mendorong paksa pinggulnya hingga berhasil memasuki seluruh vaginanya.
“Aahhhhhhhhhhh !!” desah Nisa melonglong panjang bagai seekor serigala yang melihat purnama.
Nisa merasakan ngilu di vaginanya. Ia benar - benar merasa seperti vaginanya dimasuki oleh gagang pacul yang terbuat dari kayu yang kuat. Anehnya ia hanya sebentar merasakan rasa ngilu itu. Sebentar kemudian ia mulai menikmati tiap sedikit gerakan yang penis itu lakukan di dalam vaginanya.
Sepakat dengan Nisa, Fandi juga merasakan nikmatnya jepitan vagina sempit yang Nisa lekatkan di penisnya. Tiap kali Fandi begerak ia merasakan kehangatan dan kenikmatan seolah penisnya sedang dipijit oleh dinding vagina Nisa.
Fandi mendiamkan penisnya sejenak berharap vagina Nisa bisa beradaptasi terlebih dahulu dengan penis baru yang memasuki liang senggamanya. Sembari menunggu, Fandi mengusap kulit mulus Nisa di perut. Usapannya pun naik meremasi payudara Nisa yang berukuran besar dan kencang. Nisa tampak membuang muka tak berani menatap wajah Fandi. Kemudian jemari Fandi memegangi dagu Nisa untuk mengarahkan wajahnya agar mau menatapnya.
"Parasmu, bibirmu, lekuk tubuhmu. Aku tahu dari dulu bahwa kamu adalah wanita tercantik yang pernah kutemui" Puji Fandi yang membuat hati Nisa tersentuh.
Fandi perlahan menurunkan tubuhnya hingga menindihi tubuh rampingnya. Bibir Fandi kembali melekat di bibir Nisa, tangan kanannya memegangi pinggang Nisa sedangkan tangan kirinya meremas - remas payudara kanan Nisa. Ia terus melakukannya untuk memancing birahi Nisa agar keluar bersamanya.
Benar saja, perlahan nafsu Nisa mulai bangkit merasakan kenikmatan ini. Ia pun penasaran sekaligus heran bagaimana bisa Fandi begitu ahli dalam merangsang hawa nafsunya padahal ia belum menikah sama sekali. Dari mana ia mempelajari ini ?
"Uhmmm.... Uhmmmmm" Desah Nisa dikejutkan oleh gerakan pinggul Fandi yang mulai menumbuk - numbuk vaginanya.
Fandi mulai menggerakan pinggulnya maju mundur sambil menikmati bibir tipis Nisa. Gerakannya dimulai dengan perlahan untuk menikmati tiap jengkal dinding vagina yang menjepit penisnya. Lama - lama gerakan itu semakin kencang, semakin cepat, semakin tajam dan semakin kuat. Nafas Fandi berhembus menerpa wajah Nisa. Nisa pun merasakan kehangatan di wajahnya. Fandi mulai mengangkat kepalanya guna menikmati wajah indah Nisa ketika disetubuhi olehnya. Wajah Nisa benar - benar membuat Fandi semakin bergairah. Mata Nisa yang merem melek, bibirnya yang menutup rapat juga suara desahannya yang memompa gairah membuat Fandi semakin bersemangat dalam menghujami ustadzah pondok ini.
"Ahhh ahhh masss.... Ouhhhh masss ahhhhhh" Desah Nisa.
"Ahhh Senioorr... Uhmmm ouhhh sempittnyaaa... Nikmatnyaaa" Desah Fandi.
Nisa berfikir ketika disetubuhi oleh Fandi. Dengan gerakan stabil yang Fandi lesakkan di vaginanya. Apakah Fandi dapat menepati janjinya karena sudah mendapatkan kepuasan darinya ? Sebagai seorang ibu, Nisa dapat merasa kalau hati Fandi pasti sudah sedikit terobati dengan pertemuan dengannya apalagi dengan penjamahan yang dilakukan oleh Fandi di tubuhnya. Nisa benar - benar pasrah membiarkan lelaki kurus ini memuaskan nafsunya dengan menggenjot tubuhnya kuat - kuat.
"Ahhh... Ahhh mass... Ahhhh masss Fandiiii" Desah Nisa ditengah persetubuhannya.
"Iyya seniorrrr... Ouhh yahh... Ada apaa ?" Desah Fandi menjawab Nisa.
"Ahhh ahhh apaaa masss janjiiii uhmmm... Setelahhh ini mass bakal berhentiii ahhh mengirimi pesan ituu padakuhhhh" Desah Nisa ditengah hujaman Fandi di vaginanya.
"Ouhhh iyya seniorrr... Akuhhh ahhh pastii akan melakukannyaahhh" Desah Fandi.
Nisa pun mempercayakan omongan yang sudah Fandi katakan. Kemudian Fandi terkejut ketika lengan Nisa sudah bergantung di lehernya. Fandi kembali terkejut saat Nisa tiba - tiba menarik kepalanya mendekat ke bibir Nisa. Untuk ketiga kalinya, Fandi kembali terkejut saat bibir Nisa menangkap bibir Fandi kemudian melumatnya dengan penuh nafsu.
Fandi menghela nafasnya sambil memejamkan mata menikmati bibir tipis Nisa. Fandi bertanya - tanya, mimpi apa semalam bisa - bisa Nisa yang bergerak aktif dalam merangsang dirinya. Nisa turut memejam membiarkan bibirnya mencumbui lelaki lain. Entah ia dapat ide darimana, pikirnya kalau ia memberikan Fandi kepuasan, Fandi pasti tidak akan menganggu dirinya lagi.
Puas bercumbu, Fandi menghentikan gerakan pinggulnya. Nisa pun melepaskan cumbuannya dengan perlahan hingga ada liur yang melekat diantara bibir mereka seolah tak ingin terlepas. Nisa tersenyum yang membuat Fandi ikut tersenyum.
"Janji yah komandan setelah ini jangan ganggu Nisa lagi" Kata Nisa yang membuat Fandi senang bukan kepalang.
Kemudian, Nisa meminta Fandi untuk duduk di tepi ranjang tidurnya. Fandi pun bingung apa yang ingin Nisa lakukan padanya. Lalu ustadzah yang kini hanya mengenakan hijab syar'i dan kaus kaki itu berlutut di hadapan Fandi.
"Seniorrr apa yang akan kamu lakukan ?" Kata Fandi terkejut.
Nisa hanya tersenyum kemudian jemarinya mendekap batang penis Fandi yang telah berkilauan terkena cairan cintanya.
"Anggap aja ini permintaan maafku komandan" Jawab Nisa tersenyum kemudian mendekatkan mulutnya untuk mencium ujung gundul penis Fandi.
"Uhhhhhh" Fandi merinding hebat merasakan cumbuan yang Nisa layangkan dipenisnya.
Mulut Nisa mulai terbuka dan memasukan ujung gundul penis tersebut yang bentuknya lebih mirip kepala jamur. Dikala Nisa mengulum ujungnya, lidahnya didalam merangsang lubang kencing Fandi yang membuatnya merinding keenakan.
"Ahhhh Seniorrr.... Ahhhh yahhhh" Desah Fandi.
Entah Nisa kerasukan jin atau apa, Nisa membiarkan mulutnya sendiri dimasuki oleh penis lain. Walau sebenarnya ia merasa jijik tiap kali harus memasukan alat kelamin itu ke mulutnya, namun kebiasaan yang suaminya inginkan membuatnya semakin terbiasa. Ia pun semakin lihai, ia mengocok batangnya dikala mulutnya merangsang ujung gundul nya. Nisa pun melepas kulumannya kemudian menatap penis Fandi dengan penuh Nafsu. Fandi sampai menenggak ludah menatap kepiawaian Nisa dalam mengoral penisnya.
Nisa menjilati penis itu mulai dari ujungnya kemudian turun menjilati batangnya. Fandi merinding hingga membuatnya memejam dan jemarinya mencengkram kuat sprei ranjang tidurnya. Kemudian jilatannya semakin turun hingga mengenai sisi bawah penis Fandi. Jilatannya semakin liar hingga sampai ke kandung kemihnya. Baru setelah itu Nisa kembali mencaplok penis Fandi dan memasukan penisnya hingga menyentuh ujung kerongkongannya.
"Ouhhhh seniorrrr.... " Desah Fandi menikmati segalanya.
Sudah kuduga... Bercinta dengan Nisa lebih nikmat daripada bercinta dengan wanita manapun di dunia. Batin Fandi.
Nisa melepas kulumannya di penis Fandi. Kemudian ia berdiri mengangkat kaus yang menjadi satu - satunya pakaian yang masih menempel di tubuh kurus Fandi. Sambil tersenyum, jemari lentik Nisa memegangi batang kemaluan Fandi. Perlahan - lahan tubuh Nisa pun naik ke atas pangkuan Fandi yang masih duduk di tepi ranjangnya.
Cairan cinta yang sudah memenuhi vaginanya membuat Nisa tidak kesulitan lagi dalam membantu penis Fandi agar memasuki liang senggamanya.
"Uhhhhhhhhhh" Desah Nisa sambil memanyunkan bibirnya di hadapan Fandi.
"Uhhh seniorrr" Desah Fandi menikmati.
Kemudian jemari Nisa hinggap di bahu Fandi. Sedikit demi sedikit Nisa mulai menaik turunkan pinggulnya membuat penis itu semakin terjepit di dalam vaginanya.
"Ouhhhh komandannn... Besarrr bangettt punya komandan" Desah Nisa menatap wajah Fandi dengan penuh keberanian.
Nisa semakin mempercepat gerakan pinggulnya di pangkuan Fandi. Kadang ketika ia mengangkat pinggulnya, ia nyaris mengangkatnya hingga ujung gundul penis itu terlepas keluar dari dalam vaginanya. Saat ia menurunkan pinggulnya ia membiarkan penis itu menusuk hingga menyentuh rahimnya. Kenikmatan yang ia rasakan membuat Nisa tak peduli lagi dengan siapa ia bersenggama. Ia hanya ingin memuaskan hasratnya. Melampiaskan semua nafsu yang telah berkumpul di tubuhnya.
"Ahhhh ahhhh... Ahhh komandannn" Desah Nisa sambil menaik turunkan tubuhnya sambil menggantungkan lengan di leher Fandi.
"Ahhh ahhh ahhhh Seniorrr" Desah Fandi sambil menatap wajah sangek Nisa dihadapannya. Karena tak tahan Fandi memejamkan mata sambil mendekatkan bibirnya yang langsung disambut oleh Nisa dengan cumbuan.
"Uhhmmmm uhhmmm auhhmmm ouhhmmm" Desah mereka berdua dikala bercumbu dan memadu nafsu.
Nafsu yang sudah memuncak membuat mereka melupakan segala hal yang dimilikinya termasuk yang saat ini dialami oleh Nisa. Nisa telah melupakan statusnya sebagai istri seorang ustadz di pondok pesantren. Ia bahkan lupa kalau ia mempunyai seorang anak yang lucu bernama Aldi. Kenangan yang ia alami bersama Fandi juga sentuhan yang ia rasakan akibat kekarnya penis Fandi membuat ibu satu anak itu terlena.
"Ahhhh ahhhh komandannn... Aku mauuu... Ahhhh uhhhmmaah" Desah Nisa melepaskan cumbuannya.
"Ahhhh iyyahh seniorrr... Aku jugaa... Akuuu udahh gak tahannn" Desah Fandi.
Nisa menegakkan tubuhnya hingga dadanya membusung menghadap wajah Fandi. Fandi gemas melihat payudara itu mendal - mendul dihadapannya. Ia pun membuka mulutnya dan menggigit pentil Nisa yang sudah mengeras membuat ustadzah itu semakin bernafsu keenakan.
"Ahhhh komandannn... Ahhhh ahhhh ahhhh" Desah Nisa.
"Ahhhh seniorrr uhhmmmm" Desah Fandi menyeruput puting Nisa.
Nisa mempercepat goyangannya. Naik turun putar kanan putar kiri. Gerakan tak beraturan yang Nisa lakukan membuat penisnya seperti di aduk - aduk oleh liang sempit Nisa. Fandi semakin tak tahan. Jemarinya memeluk erat tubuh Nisa dan mendekatkannya hingga tubuh telanjang mereka bersentuhan.
"Ouhhh seniorrr... Ouhhh ouhhhhh SENNIOORRRR !!!!" desah Fandi dengan penuh nafsu dikala ia mendapatkan klimaksnya.
Crrotttt croottt croottt !!!
"Ahhhh KOMANDAANNNN !!!!" Nisa menjerit nikmat dikala vaginanya tersirami cairan cinta Fandi. Ia juga menjerit nikmat dikala ia mendapatkan orgasmenya beberapa detik kemudian. Tubuh Nisa mengejang, matanya merem melek penuh nikmat dan tubuhnya merinding merasakan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aahhhhhhhhhhhh" Desah Nisa.
Nisa lemas, Nisa puas dan Nisa kembali mendapatkan kesadarannya. Sambil memeluk tubuh kurus Fandi dalam pangkuannya, Nisa mulai tersadar atas perbuatan yang baru saja ia lakukan. Bayang - bayang penyesalan bergentayangan di alam pikirannya. Nisa tak menduga hanya karena air mata Fandi, ia sampai rela melakukan sejauh ini. Apakah ini tindakan yang pantas bagi seorang ustadzah yang sudah bersuami ? Tentu tidak. Apakah ini tindakan yang pantas hanya agar Fandi tidak menganggu hidupnya lagi. Tentu tidak. Entah bisikan dari mana ia sampai mau melakukan hal ini yang jelas kini tinggalah penyesalan yang ada di hati Nisa.
Apa yang sudah ku lakukan ? Ini jelas salah... Kenapa aku sampai melakukan sejauh ini ?
"Terima kasih yah senior... Aku senang bisa menjadi suamimu hari ini" Bisik Fandi di telinga Nisa yang membuatnya semakin sedih.
Sebentar kemudian suara ringtone itu kembali berbunyi yang membuat Nisa semakin sedih membayangkan suaminya tahu kalau ia telah berselingkuh dengan teman lamanya.
Maafin Umi Bi... !
Batin Nisa menangis dalam hati.
Sementara itu Fandi tampak kelelahan sambil memeluk tubuh seorang ustadzah yang sudah bertelanjang bulat. Ia bahagia karena bisa menumpahkan spermanya ke dalam rahim hangat sang ustadzah. Tidak hanya ustadzah, tapi ia adalah Nisa. Seorang wanita yang sudah dicintainya sejak lama.
Mungkin aku tidak bisa menjadi mataharimu... Tetapi percayalah kamu akan tetap menjadi bulanku !
Batin Fandi tersenyum.
Setelah itu Nisa segera mandi dan berpakaian seperti semula. Ia lekas pergi menjauh dari kosan ini demi menemui sang suami. Ia sangat menyesal membuatnya buru - buru membuka hape-nya untuk mengabarkan keadaannya sekarang.
"Maaf Bi... Ini Umi lagi di jalan kok" Balas Nisa. Ia pun mengenakan helmnya kemudian melajukan motornya untuk kembali ke dalam pondok pesantren.
SEMENTARA ITU DI DALAM KAMAR KOS
Fandi masih berbaring di atas ranjang kasurnya setelah mendapatkan kehangatan dari teman lamanya. Wajahnya tersenyum sambil memandangi langit - langit ruangan. Hatinya sangat bahagia hingga membuatnya sulit untuk dilukiskan dengan kata - kata.
"Hahhh Nisaaaaa" Katanya sambil memeluk guling di sebelahnya. Walau baru saja bertemu tetapi ia sudah merasa rindu. Sosok Nisa memang beda dan tidak ada duanya. Ia pun membandingkan perbedaan persetubuhannya dengan Nisa dan dengan seorang wanita dulu.
"Pasti beda jauhhhh" Kata Fandi merasa puas.
Tokkk tokkk tokkkk !!!!
Fandi terkejut ketika mendengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Iya sebentar !!!! Siapa sih ? Tumben ada tamu yang kesini" Kata Fandi lekas mengenakan celana pendeknya guna menemui seseorang yang mengetuk pintu kosnya.
Saat ia membuka pintu, ia bingung karena tidak menemukan seorangpun disana. Sebaliknya ia hanya menemukan sekuntum Bunga berwarna keunguan dengan corak putih di tepinya. Saat ia melihat ke sebelahnya, ia menemukan adanya secarik kertas yang tergeletak disana. Ia pun mengambil kertas itu kemudian membacanya dengan lirih.
Begonia ?
Ia lekas melihat sekitar, ia tak menemukan satu orang pun disana. Ia kemudian berjalan menuju gerbang kos dan menemukan seseorang yang melangkah pergi menjauh dari kosnya. Orang itu mengenakan jeans panjang dengan jaket hoodie yang menutupi sebagian kepalanya. Fandi merasa curiga dengan orang itu terlebih saat orang itu menoleh padanya, ia tak melihat adanya wajah karena tertutupi oleh sesuatu. Fandi mengernyitkan dahinya kemudian kembali memasuki kamarnya sambil membawa setangkai Bunga itu.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *