Pagi hari di dekat lapangan yang biasa digunakan oleh santri berolahraga, terdapat seorang ustadzah yang baru saja pulang setelah selesai mengajar. Ustadzah itu merenung menundukan pandangannya menatap ke arah jalan setapak yang sedang ia lewati. Ia masih terbayang oleh rasa penyesalan akibat perbuatannya kemarin. Ia pun memeluk tubuhnya sendiri akibat merinding ketika terpikirkan oleh perbuatannya kemarin.
“Kenapa aku sampai melakukan perbuatan itu sih ? Nisa !! Apa kamu lupa dengan tanggung jawabmu sebagai seorang istri !! Sadar Nisa !! Kamu sudah melanggar janjimu kepada suamimu !!!” lirih Nisa ketika berbicara dengan diri sendiri.
Nisa merasa lelah tiap kali memikirkan kesalahannya. Ia sangat menyesal hingga dirinya tak sanggup untuk menemui suaminya. Rasanya tiap kali bertemu suaminya, penyesalan itu semakin memuncak hingga membuatnya ingin menangis sambil berlutut kepadanya. Namun ia enggan untuk melakukannya karena tidak ingin membongkar perselingkuhannya sendiri bersama teman lamanya. Ia merasa takut apabila suaminya tahu, ia merasa takut saat membayangkan perceraian yang mungkin terjadi hingga membuatnya harus berpisah dengan putra kesayangannya yang bernama Aldi.
“Ustadzah !!!”
Dalam perjalanan pulangnya itu, Nisa dikejutkan oleh suara seseorang yang menyapanya. Nisa pun menolah dan mendapati adanya ustadz tampan yang mendatanginya dari arah belakang.
“Na’am” jawab Nisa sambil berusaha memaksakan senyum demi menyembunyikan rahasianya.
“Antum ustadzah Nisa kan yah ?” kata ustadz itu.
“Na’am... Antum siapa yah ?” tanya Nisa merasa belum pernah melihat ustadz itu.
“Ana V ustadzah... Antum ustadzah Nisa yang memproduksi roti di kantin itu kan yah ?” kata V.
“Ohhhh hehehe... Iya ana yang membuatnya ustadz” jawab Nisa merasa malu.
“Kebetulan ana penggemar roti buatan antum... Rasanya enak banget loh ustadzah... Manis, teksturnya lembut dan yang terpenting roti yang antum buat gak digoreng sehingga gak berminyak... Ana aja sampai ketagihan beli roti itu terus tiap kali ke kantin” kata V memuji roti buatan Nisa.
“Ohhh yah ? ahahah syukron yah ustadz... Terima kasih sudah menyukai roti buatan ana” kata Nisa merasa senang.
“Iya ustadzah sama - sama... Kalau gitu ana permisi dulu yah mau ngajar dulu di kelas... Wassalamualaikum” kata V lekas pergi menuju kelas yang akan ia ajar.
“Walaikumsalam ustadz” jawab Nisa tersenyum.
Nisa pun berbalik menatap kepergian V menuju gedung kelas yang akan ia ajar. Seketika hati Nisa membaik setelah menerima pujian dari ustadz baru itu. Nisa pun melanjutkan perjalanan pulangnya menuju rumah sambil tersenyum mengingat semua pujian yang diberikan oleh V tadi.
“Oh yah tadi siapa yah namanya ?” kata Nisa agak lupa dengan nama tak biasa yang dimiliki oleh ustadz tadi. Namun saat Nisa kembali berbalik ia tak menemukan ustadz itu. Nampaknya ustadz itu berjalan cepat karena terburu - buru menuju kelasnya. Nisa kembali tersenyum mencoba menghafal wajah ustadz baru tadi.
“Lain kali aku akan mencoba untuk menyapanya terlebih dahulu” kata Nisa tersenyum.
Setelah tiba di depan pintu rumahnya, ia pun berdiri disana bersiap untuk mengetuknya. Namun jemarinya ragu hingga membuatnya berhenti sejenak. Bidadari berhijab itu memegangi dadanya. Jantungnya berdebar lebih kencang daripada biasanya. Rasa penyesalan itu kembali datang memenuhi hatinya. Apalagi, ia juga merasa bersalah karena tidak segera mengangkat telpon yang berdering kemarin.
Namun belum sempat ia mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu oleh seorang pria yang memiliki paras sempurna dengan janggut yang menghiasi dagunya.
“Lohh Umi baru selesai ngajar yah ?” tanya Reynaldi.
“Hehe Iyya Bi” jawab Nisa sembari memaksakan senyumnya.
Reynaldi yang melihat reaksi wajah Nisa pun heran. Sebagai suami, ia pasti tahu ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. Namun belum sempat Reynaldi bertanya, Nisa sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumahnya.
“Umiiiiiiii !!!!” sapa seorang anak dengan suara polosnya sambil menghampiri ibunya.
“Dek Aldi sayangggg” kata Nisa langsung berjongkok kemudian memeluk Aldi dengan erat karena menyesali kesalahannya. Ia sangat takut untuk kehilangan putra yang sangat ia cintai.
Reynaldi pun diam sejenak melihat pemandangan itu. Seketika ia melupakan niatnya untuk bertanya pada istrinya. Ia merasa senang tiap kali istrinya menumpahkan seluruh cintanya pada buah hati mereka berdua.
“Umi kemarin darimana ? Aku kangen tau” kata Aldi yang membuat mata Nisa berkaca - kaca.
“Maafin Umi yah dek... Umi juga kangen Dedek kok... Umi sibuk kemarin nemenin sodara umi” kata Nisa meneteskan air mata tanpa sepengetahuan mereka berdua.
“Nemenin sodara umi ?” tanya Aldi ketika dipeluk oleh ibunya.
“Iya sayang... Maafin umi yah” kata Nisa masih menyesali perbuatannya.
“Tau gak ? Kemarin dek Aldi nungguin Umi loh sampai ketiduran di depan mainannya” kata Reynaldi datang menghampiri.
“Oh yah ?” kata Nisa sambil mengusap air matanya menyesali perjuangan buah hatinya dalam menanti kehadirannya. Ia pun teringat saat kemarin menemukan putranya sudah tertidur setelah pulang dari kosan Fandi.
“Umii... Umi tau gak ? kemarin Aku sama Abi main mobil - mobilan lohhh... Aku menang jauh ninggalin Abi di belakang... Terus Aku juga makannya lahap karena laper... Aku juga mandi tepat waktu loh tanpa disuruh sama Abi... Aku . . . . Aku . . . . dan Aku . . . . “ Aldi terus bercerita sambil menatap wajah ibunya mengenai keadaannya ketika jauh dari ibunya. Tak terasa semakin Aldi bercerita membuat Nisa semakin sedih hingga tak dapat menyembunyikan air mata itu lagi.
“Lohh Umi kok nangis ?” kata Aldi.
“Nangis ?” kata Reynaldi khawatir mengenai keadaan istrinya.
“Umi kenapa ? Kok nangis ?” kata Reynaldi langsung berjongkok memeluk tubuh Nisa dari samping.
“Gapapa Bi... Umi cuma terharu aja dengan sikap Aldi” kata Nisa ditengah tangisannya.
“Uluhh uluhh Umi... Kirain Abi ada sesuatu... Iya anak kita sudah besar dan itu karena sikap kita sebagai orang tua apalagi sikap Umi yang selalu memberi perhatian pada Aldi” kata Suaminya yang membuat Nisa semakin menangis menyesali perbuatannya.
Dalam tangisannya itu ketika masih dipeluk oleh suaminya tiba - tiba terdengar suara notifikasi berbunyi dari hapenya. Reynaldi yang sedang memeluknya pun kaget.
“Sebentar yah Bi” kata Nisa membuka tasnya untuk memeriksa pesan masuk yang ia terima.
Hay... Terima kasih yah senior atas waktunya kemarin... Komandan akan selalu mengingatnya waktu berharga yang telah kita habiskan bersama tuk bercinta. Batin Nisa membacanya yang membuatnya bergidik jijik. Bergegas ia menghapus pesan itu sebelum suaminya yang sedang ada disebelahnya tau.
“Dari siapa Mi ?” tanya Reynaldi penasaran.
“Dari saudara aku yang kemarin Bi” jawab Nisa memaksakan senyum.
“Umii... Umiii main yukkk” kata Aldi tiba - tiba menarik tangan ibunya untuk mengajaknya bermain bersama.
Lantas Nisa pergi mengikuti tarikan Aldi. Sementara Reynaldi dari kejauhan menatap heran dengan apa yang terjadi dengan diri Nisa. Ia merenung kemudian menggelengkan kepalanya mencoba membuang jauh kecurigaannya tersebut pada istrinya.
Bukannya kemarin Nisa sempet bilang ingin menjenguk saudaranya yah yang bernama Fandi. Tetapi setauku Nisa gak punya saudara lelaki bernama Fandi loh... Atau mungkin Fandi itu sepupu jauhnya kali yah.
Batin Reynaldi mencoba berpikir positif.
*-*-*-*
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Sementara itu di tempat yang berbeda, V baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya. Dalam perjalanan pulangnya menuju gedung pengasuhan, ia merasa lega karena berhasil mengatasi rasa gugupnya. Tak sengaja di suatu lorong di gedung kelas lantai tiga yang sepi, ia menemukan seorang ustadzah yang sedang berbicara dengan seorang pria tua. Ustadzah itu terlihat tidak nyaman sedangkan pria tua yang berada di hadapannya malah tertawa cengengesan tidak jelas. V pun merasa ada yang janggal disana. Kemudian matanya memicing mengarah ke wajah ustadzah tersebut. Rasanya ia kenal dengan wajah cantik disana. V mendekat sedikit untuk mencari tahu siapa ustadzah yang sedang berbicara itu.
“Bu... Bukannya itu ussstt... Usttadzah Rachel ? Akkhhh.... Kepalaku !” kata V dengan gagap. Kemudian tanpa diduga ia kembali merasakan ngilu disekitar kepala. Ia pun jatuh berlutut sambil memegangi kepala dan perutnya yang sakit.
“Tolong dijaga omongannya yah pak... Ini tempat umum... Banyak santri dan pengajar yang berlalu lalang disini... Gimana nanti kalau ada yang denger pak ?” kata Rachel memohon sambil berdiri dihadapan pria tua itu.
“Huehuehuehue... Tenang ustadzah gak ada orang lain kok disini selain kita berdua” kata pria tua itu yang memiliki nama Udin. Pak Udin semakin mendekat membuat Rachel mundur perlahan ketakutan.
“Pakkk... Tolonggg... Jangan pakkk... Jangan mendekat !!” kata Rachel panik melihat wajah Udin yang semakin bernafsu padanya.
“Huehuehue... Ayolah ustadzah... Saya udah gak tahan pengen ngejamah tubuh montok ustadzah lagi” kata Pak Udin mulai mengangkat kedua tangannya kemudian menggerakan jemarinya membuka - menutup sambil menatap dada Rachel yang terlihat membusung.
“Pakkk... Dijaga yah omongannya ! Jangan kurang ajar ! Itu gak sopan namanya !” kata Rachel jijik melihat sikap dan omongan pria tua berkumis itu.
“Huehuehuehue... Telanjang di tempat umum juga kurang sopan kan ustadzah Rachel” kata pak Udin yang membuat Rachel terdiam tak bisa menjawab.
“It... Ittuuu.. Ittuu” kata Rachel membuang pandangannya menatap ujung lorong di gedung kelas ini.
“Ayolah ustadzah... Saya cuma mau megang benda kenyal berukuran XL itu lagi kok” kata Pak Udin yang langsung menggerakan tangannya untuk mencengkram payudara Rachel yang masih tersembunyi di balik seragam mengajarnya.
Siapapunnn... Tolonggg !!! Batin Rachel sambil memejam. Rachel pun bersiap - siap tuk menerima cengkraman keras itu lagi. Namun . . . .
“Awwww... Awwww... Awwww sakit !!!” teriak Pak Udin yang membuat Rachel membuka mata penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa yang sedang bapak lakukan ?” tanya seorang ustadz yang mencengkram lengan pria berkumis itu kemudian memelintirnya ke belakang membuat Rachel lega dengan kehadiran penolongnya.
Sebentar kemudian V melepas cengkramannya kemudian mendorong pria tua berkumis itu hingga jatuh tersungkur ke lantai. Kumisnya yang tebal berubah menjadi kecoklatan karena baru saja menyapu debu yang bertebaran di lantai. Tanpa adanya kata, tanpa adanya ucapan dan tanpa adanya tindakan dari pria berkumis itu. Pak Udin langsung pergi menjauh sambil memberikan tatapan benci pada seseorang yang telah mengacaukan rencananya.
“Antum gapapa ?” tanyanya.
“I.. Iyyaa” kata Rachel terkejut dengan kehadiran ustadz tampan yang telah menolongnya. Rachel pun memperhatikan posturnya sejenak, kemudian menatap wajahnya barulah Rachel mengenali sosok yang pernah menyapanya di kantor bagian pengajaran saat itu.
“Siapa dia ?” tanya V.
“Hehehe biasa ustadz... Oknum gak jelas... Omong - omong antum ini temennya ustadz Adit kan yah ? Syukron yah ustadz udah nolongin ana tadi.
“Iya sama - sama... Hati - hati yah sama tindakan orang kurang ajar kaya tadi” kata V yang membuat Rachel mengangguk kemudian memberikan senyum padanya.
“Mau ana temenin sampai ke bawah ?” tanya V berniat melindunginya.
“Boleh ustadz” jawab Rachel tersenyum malu - malu. Mereka berdua pun berjalan bersama saling bersebelahan menuju ke lantai bawah gedung kelas ini.
“Oh iya nama antum siapa yah ? Afwan ana agak lupa” kata Rachel malu - malu mencoba menatap wajah V yang sedang berjalan di sebelahnya.
“Nama ana ? Panggil aja V” jawab V.
“V ? cuma V ?” kata Rachel merasa bukan itu yang ia dengar waktu dulu.
“Haha iya... Kalau gak salah nama antum Rachel kan yah ? Salam kenal yah ustadzah” kata V yang membuat Rachel terkejut.
“Hehe iyya nama ana Rachel... Ehhh bukannya kita udah pernah kenalan yah waktu itu di kantor pengajaran kok kenalan lagi ?” kata Rachel.
“Ohh iyakah ?” jawab V agak sedikit lupa.
“Hmmm mungkin karena pertemuan waktu itu singkat kali yah makanya agak - agak lupa dikit ahahaha” kata Rachel tertawa.
“Mungkin” jawab V sambil tersenyum.
Ubin demi ubin telah mereka lewati bersama, Tangga demi tangga telah mereka turuni berdua. Tak terasa selama perjalanan yang panjang itu mereka saling mengobrol mengakrabkan diri. Kadang tawa mereka saling tertukar ketika menikmati waktu kebersamaan yang baru pertama kali mereka lakukan. Rachel pun menatap wajah V yang masih bercerita mengenai kehidupan pribadinya. Rachel tersenyum tak menduga kalau kawannya Adit ini bisa seasyik ini sewaktu diajak ngobrol.
Tak terasa mereka berdua sudah tiba di lantai satu gedung kelas. Ketika mereka menemukan keramaian, mereka pun berpisah demi menghindari kecurigaan dari warga pesantren lainnya. Sebelum berpisah V pun berpesan pada Rachel untuk menjaga dirinya. Rachel pun tersenyum sambil mengiyakan kata - kata dari V. Rachel pun pergi menuju kantor bagiannya untuk beristirahat demi menanti jam mengajar lainnya.
“Ahhh beruntungnya Adit punya calon istri secantik dia” kata V memperhatikan tubuh semok Rachel yang perlahan mulai pergi menjauh darinya.
Sementara itu, Rachel telah tiba di teras kantor penggerak bahasa. Ia benar - benar bersyukur bisa menghindari tindakan nafsu liar pak Udin yang hendak melecehi tubuhnya kembali. Ia pun menyesal karena kemarin telah melakukan tindakan sembrono hingga mengundang syahwat birahi pak Udin kepadanya.
“Kenapa yah aku sampai kepikiran untuk telanjang lagi waktu itu ?” lirih Rachel menyesali perbuatannya.
Ia membuka pintu kantor bagiannya, lalu ia menjatuhkan bokong empuknya ke kursi duduk yang biasa ia tempat bersama pengajar penggerak bahasa lainnya.
“Oh yah ustadzah Nisa sama yang lainnya dimana yah ?” kata Rachel heran ketika melihat keadaan kantor yang benar - benar sepi .
Karena bosan ia pun membuka hape yang sempat ia tinggalkan di laci meja tempat duduknya untuk mengecek pesan masuk yang ia terima. Saat ia membuka pesan chatt itu. Ia terkejut hingga membuat hapenya terjatuh mengenai lantai ruangan.
“Astaghfirullah” kata Rachel sampai menyebut saat mendapatkan foto menjijikan itu lagi.
“Ustadzah Rachel saya tunggu sore ini di tempat yang sudah saya katakan di kelas tadi huehuehue” kata Rachel membaca pesan itu. Saat ia mengusap layarnya ke bawah, terpampanglah foto penis berwarna hitam yang berukuran mantab mengacung tegak disana. Buru - buru Rachel menghapus foto itu kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang ia duduki sambil mengusap keningnya yang agak sedikit berkeringat. Sesaat ia kembali menyesal hingga tak kuasa untuk menuruti semua permintaan pria tua berkumis itu.
SORENYA,
Rachel sudah tiba di belakang gedung kelas yang merupakan tempat perjanjian mereka berdua. Rachel gelisah sambil melipat kedua tangannya di dada. Berulang kali ia melihat ke sekitar menanti kehadiran pria tua yang memintanya untuk menunggu ditempat ini. Lama - lama Rachel kesal juga karena sang penjanji urung datang. Rachel melenguh kemudian menatap ke arah langit sore yang terlihat cerah.
“Mana sih pak tua itu !!!” kata Rachel saking kesalnya hingga menanggalkan rasa hormat padanya.
Tak berselang lama, pria tua menyebalkan yang baru saja digunjing oleh Rachel itu pun tiba. Ia berjalan mendekat sambil cengengesan menatap wajah Rachel yang membuat bidadari berhijab itu semakin kesal dibuatnya. Rachel memalingkan wajah membuang jauh - jauh pandangannya dari tatapan pria tua yang menyebalkan itu.
“Dah nunggu lama yah ustadzah ? Huehuehue maaf yah... Butuh persiapan extra soalnya” kata Pak Udin sambil memandangi dada Rachel yang terlihat begitu indah walau masih tertutupi kaus longgarnya. Pak Udin pun ngiler, karena tak tahan tangannya gemas ingin meremas payudara itu lagi.
“Jangan coba - coba yah pak !” kata Rachel buru - buru menepis tangan nakal Udin.
“Huehuehue pelit amat sih ustadzah !!! Kaya baru pertama kali aja !” kata Pak Udin yang justru membuat Rachel makin kesal.
“Cepat ada apa ? Apa yang bapak mau dari aku ?” kata Rachel tak ingin berlama - lama lagi di hadapan pria tua itu.
“Ahh ustadzah Rachel nih gak bisa diajak santai dikit... Gak nahan yah ingin enak - enak lagi bareng saya ? Huehuehue !!!” kata Pak Udin masih saja cengengesan. Kumisnya yang tebal itu pun bergetar tiap kali tawa terpampang di wajahnya.
“. . . . . . .” Rachel pun diam memalingkan wajah kembali karena Pak Udin terus membuang waktu berharganya disini.
“Huehuehuehue... Yaudah nih pakai baju ini terus ikuti perintah saya yah” kata Pak Udin memberikan sebuah kaus yang masih baru karena masih terbungkus plastik.
“Kaus ? Ini ?” kata Rachel merasa heran mencoba menerka - nerka kemauan pak Udin.
Rachel pun membukanya, akan tetapi saat ia menjembrengnya ia pun dibuat terkejut oleh ukurannya yang kecil.
“Pak.... Ini kekecilan pak ! Gak akan muat di tubuh aku !” kata Rachel memprotes.
“Huehuehue... Coba aja dulu !” kata Pak Udin memaksa.
Rachel lekas mengenakan kaus itu namun pak Udin justru menahannya sambil menggelengkan kepala.
“Siapa bilang ustadzah harus men-double-nya ? Pakai dong satu - satu !!!” kata pak Udin yang membuat Rachel terperangah.
“Tappp... Tappiii pak !!” kata Rachel membayangkan lekuk tubuhnya akan tercetak jelas kalau harus mengenakan kaus ketat ini.
“Kenapa ? Lekukmu akan terlihat ? Memang itu tujuannya !!! Buruan pake !” kata Pak Udin.
Rachel pasrah, ia perlahan mulai menaikan kausnya, namun ia malu karena masih ada pak Udin di hadapannya.
“Buka aja ! Lagipula saya udah pernah lihat kok... Udah pernah nyoba juga rasanya malah huehuehue” kata Pak Udin yang membuat Rachel kesal.
Rachel pun membuka kausnya. Hingga tubuhnya yang indah hanya terbalut bra berwarna putih itu terlihat. Pak Udin pun melotot dan bola matanya nyaris jatuh ke bawah saat melihat pemandangan indah disana. Bening, ramping dan dua buah dadanya yang tegak meruncing terpampang disana. Siapa sih sebenarnya Rachel ini ? Bidadari kah ? Batin pak Udin saat menatapnya.
Beruntung Rachel hanya mengenakan hijab simpel sehingga ia tak perlu melepas hijabnya terlebih dahulu untuk mengenakan kaus baru itu. Perlahan - lahan kaus ketat itu mulai dikenakan oleh sang ustadzah. Pak Udin pun menyeringai saat ustadzah Rachel kesulitan untuk memasukan kaus itu ke tubuh semlohaynya.
“Pak ini sempit gak muat !” kata Rachel.
“Paksa terus !” kata Pak Udin yang membuat Rachel tidak punya pilihan lain selain menurutinya.
Rachel pun memaksanya, dengan sedikit tenaga dan usaha akhirnya kaus itu berhasil membungkus tubuh montoknya. Rachel merasa tak nyaman, ia merasa sesak hingga membuat peredaran darah yang mengalir di dalam tubuhnya agak terhambat oleh kaus ketat itu. Ia juga tak terbiasa dengan pakaian yang membuat lekuk indahnya terlihat.
“Nah kan cocok buat ustadzah” puji pak Udin memandang pemandangan di hadapannya.
Pak Udin menyeringai mesum melihat kesempurnaan bidadari yang ada di hadapannya. Parasnya, lekuk tubuhnya, bulatan di dadanya. Ah mantap betul ini ! Bagai berdiri dibawah tower telkomsel. Sinyal yang pak Udin terima sangatlah kuat. Pentungan yang masih tersembunyi di bawah itupun menegak dan mengeras. Pak Udin sampai harus mengelusnya untuk menjinakannya sejenak agar tidak terburu - buru dalam mencicipi dara muda satu ini.
Pak Udin terus cengengesan yang membuat Rachel tak nyaman. Rachel pun menutupi tubuhnya walau sebenarnya ia masih berpakaian.
“Ngapain ditutupin ustadzah.... Orang masih pake baju juga !” kata pak Udin yang tak dijawab apapun oleh Rachel. Rachel hanya memandangnya sinis berharap cobaan ini segera berakhir.
“Sudah kan ? Sekarang biarkan aku pergi !” kata Rachel.
“Sudah ? Enak aja !!! Sekarang dengerin intruksi saya... Lihat gak para santri yang ada disana ?” kata Pak Udin menunjuk ke arah santri yang sedang berolahraga basket disana.
“Iya” jawab Rachel dengan singkat.
“Sekarang pergi kesana terus ajak ngobrol mereka selama lima menit... setelah itu kalau ustadzah ngerasa udah lima menit berlalu... Ustadzah bisa menoleh kesini untuk meminta kode dari saya... Kalau memang sudah lima menit maka saya akan memberikan kode dan barulah saat itu ustadzah bisa kembali ke tempat ini lagi” kata Pak Udin yang membuat Rachel terperangah.
“Kesana ? Pakai pakaian kaya gini ? Bapak udah gila yah ? Aku ini ustadzah pak !!! Gak mungkin aku mengenakan pakaian ini dihadapan mereka !!!!” kata Rachel marah.
“Ustadzah ? Ustadzah macam apa yang suka telanjang di kelas !” sekali lagi pak Udin mematikan lidah Rachel untuk berbicara. Ia tahu, ia tak memiliki pilihan lain. Ia pun tak ingin berlama - lama di tempat ini. Lagipula . . . .
Cuma lima menit kan yah ?
Batin Rachel sambil mengumpulkan keberaniannya.
“Cepet saya tunggu... Kalau ustadzah udah sampai kesana baru perhitungan waktu dimulai...” kata Pak Udin memegangi hapenya bersiap menyalakan aplikasi stopwatch nya. Rachel pun mengernyitkan dahinya dikala mendengar instruksi dari pria tua itu.
Rachel melenguh, kemudian ia memandang langit - langit sambil menarik nafasnya kuat - kuat. Setelah keberaniannya terkumpul, ia mulai melangkah mendekati para santri demi menuruti kemauan gila pria tua yang berkuasa atas dirinya.
“Huftt... Cuma lima menit kok Chel ! Kamu pasti bisa !!!” kata Rachel menyemangati diri sendiri.
Rachel pun melangkah secara perlahan karena masih dikuasai oleh rasa ketakutan. Tiap kali dirinya mendekat, rasa keraguan kembali muncul membuat pergerakannya terhambat. Berulang kali Rachel melihat ke belakang menatap pria tua itu berharap pak Udin mau meringankan instruksinya. Namun pak Udin hanya cengengesan sambil mengeluarkan hapenya merekam aksi dirinya yang sedang berjalan - jalan mengenakan pakaian ketat.
“Huffttt !!” kata Rachel sekali lagi menghela nafas.
Langkah demi langkah telah Rachel lalui, tiap kali Rachel melewati seorang santri, santri itu terdiam menatap pemandangan yang tak biasa dari sang ustadzah. Bahkan seorang santri ada yang sampai menepuk bahu temannya untuk mengajaknya menatap ustadzah yang sedang berjalan itu.
“Itu... Itu ustadzah Rachel kan ?” kata salah satu santri yang melihatnya sambil mengucek matanya.
“Hahhh... Beneran ? Tapi itu emang bener dia kan yah ?” kata santri lainnya menggelengkan kepala tak percaya.
Rachel menunduk tiap kali melangkahkan kakinya. Apalagi samar - samar ia agak mendengar komentar dari salah satu santri tadi. Rachel merasa sangat malu saat harus melakukan tindakan ini di tempat terbuka secara terang - terangan. Walau dirinya masih berpakaian tapi ia sangat yakin kalau orang - orang dapat melihat lekuk tubuhnya sekarang. Ia juga yakin kalau orang - orang pasti sedang menerka - nerka lekuk tubuhnya dikala kaus ketat ini terlepas dari tubuh indahnya.
Rachel menenggak ludah kemudian melihat sekitar. Tatapan para santri itu terlihat seperti serigala yang kelaparan. Ingin sekali Rachel menggerakan tangannya untuk menutupi lekuk tubuhnya. Tapi itu hanya akan membuat tindakannya semakin jelas. Ia pun pasrah membiarkan mata para santri itu berkeliaran menatap tubuhnya.
Sore itu Rachel hanya mengenakan kaus kecil bercorak polos berbahan tipis yang sangat pas dengan lekuk tubuhnya. Ukuran kaus yang terlalu kecil membuat lekuk tubuh indahnya tercetak dengan jelas hingga membuatnya menjadi hidangan yang lezat bagi mata para santri yang sedang berkumpul di lapangan olahraga. Mata mereka mengikuti gerak tubuh Rachel kemanapun ia melangkah. Buah dada Rachel yang terjepit oleh kaus ketat itu bergerak naik turun tiap kali Rachel berjalan. Seperti bola basket yang sedang dimainkan oleh santri di lapangan. Bola yang ada di dada Rachel juga bergerak naik turun mengikuti langkah empunya.
Entah Rachel lagi sial atau bagaimana, kebetulan karena cuaca yang sedang memasuki musim panas membuat Rachel terpaksa mengenakan bra berukuran tipis. Sialnya karena sempitnya kaus dan tipisnya bra yang ia kenakan, samar - samar santri - santri itu dapat melihat ujung puting payudara sang ustadzah. Rachel menyadari itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari pada biasanya. Berulang kali matanya melirik ke kiri dan ke kanan secara diam - diam mengamati tiap pandangan santri yang seolah ingin menelanjanginya. Rachel menenggak ludah. Ia gugup, ia ketakutan tapi entah datang darimana ia justru penasaran dengan tindakannya. Berawal dari paksaan namun berubah menjadi penasaran. Rachel kembali menarik nafasnya mencoba untuk menuntaskan kemauan pria tua itu yang sedang cengengesan merekam aksi nakalnya.
Kenapa tatapan mereka mendadak tajam semua ? Apa mereka terkejut dengan penampilanku ? Atau justru penasaran dengan isi dibalik kausku ?
Rachell !!! Kenapa malah sempet kepikiran gitu sih ! Kamu itu ustadzah ! Dan mereka itu santri - santrimu ! Jaga rasa penasaranmu itu Chel jangan sampai kepikiran hal itu lagi !
Batin Rachel ketika mendadak perasaan liarnya bangkit nyaris menguasai tubuhnya. Hatinya pun bergejolak begitu juga perasaannya. Rasanya, tangannya ingin bertindak dengan menaikan sedikit kaus yang ia kenakan agar kulit perutnya yang berwarna putih terlihat. Rachel merasa gawat karena gejolak batinnya semakin kuat. Rachel tau melalui lirikan yang ia lakukan secara diam - diam bahwa ada banyak santri yang sedang mencuri - curi pandang tuk menatap kemolekan tubuhnya. Mereka semua terpana, mereka semua terpesona dan mereka semua memiliki mata yang binar ketika menatap keindahan lekuk tubuh sang ustadzah ketika sedang mengenakan pakaian ketat. Reflek Rachel menarik nafasnya kuat - kuat yang justru membuat dadanya bergerak naik. Rachel terkejut ketika mendengar reaksi mereka yang saling berbisik memandangi dadanya itu.
Rachel tak berani mengangkat kepala. Ia benar - benar malu, ia benar - benar takut. Ia pun pasrah membiarkan sekawanan serigala itu berkumpul memandangi keindahan tubuhnya yang semlohay.
Sementara Pak Udin dari kejauhan masih cengengesan mengamati pergerakan sang ustadzah yang menjadi santapan mata para santri. Ia cengengesan sambil merekam semua pergerakan sang ustadzah dari awal.
“Huehuehue liat deh mata para santri disana... Kalian semua pada penasaran kan ? Tapi kenapa pada diam ? Kenapa gak ada yang berani megang ? Huehuehue” kata Pak Udin dari kejauhan.
Rachel sudah tiba di tepi lapangan basket berada. Tetapi, ia bingung memikirkan langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya untuk menuntaskan instruksi yang pak Udin berikan. Ia berfikir, kemudian ia terpikirkan suatu ide yang tiba - tiba terlintas di benaknya.
“Assalamualaikum” sapa Rachel membuat beberapa santri yang sedang bermain pun berhenti sejenak. Rachel gugup, lidahnya kelu, ia kesulitan untuk mengucapkan kata - kata yang sudah tersimpan di lisannya.
“Walaikumsalam Ustadza.... Dzzahhh” kata para santri itu terdiam sejenak sebelum menuntaskan jawaban salamnya.
Rachel diam mematung setelah mendengar jawaban dari para santri itu. Ia terlihat malu - malu yang justru membuat para santri itu gemas sambil menahan nafsu. Mereka semua terkejut, mereka semua terkesima atas keberanian ustadzahnya dalam mengenakan pakaian yang berpotensi menaikan birahi.
“Ehhmmmmm” kata Rachel malu - malu sambil meletakan kedua tangannya di depan kemudian menggerakan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Hatinya merasa berdebar tiap kali merasakan tatapan mereka yang semakin nanar. Ia juga gugup ketika menyadari kerumunan penonton yang semakin banyak dibelakangnya.
“Ustadzahhh bolehh ikut main ?” kata Rachel memberikan ucapan tak terduga.
“Ustadzah ??? Mau main juga ?” kata salah satu santri itu sambil melihat santri lainnya.
“Boo... Bolllehh kok ustadzahhh” kata santri lainnya sambil memberikan bola basket itu. Matanya membuka lebar - lebar saat menatap dada Rachel yang terlihat semakin besar ketika dirinya mendekat.
“Inn.... Innii ustadzahh bolanyaaa” kata santri itu gugup.
Dengan langkah malu - malu, Rachel mulai men-dribble bola itu. Awalnya ia cuma men-dribble bola di tempat, kemudian ia mencoba menampilkan kebolehannya dengan bergerak ke kiri dan ke kanan. Ia juga menunjukan skill nya dengan membawa bola itu maju menuju ke arah ring itu berada.
Setiap santri yang berada di lapangan terkesima menatap bola yang sedang di dribble sang ustadzah. Tetapi, bukan bola basket yang sedang ia pegang yang membuat para santri itu terkesima melainkan dua bola besar di dada yang selalu bergetar tiap kali sang ustadzah melangkah. Bayangkan ! Siapa manusia di dunia yang dapat mendribble 3 bola sekaligus dalam satu waktu ? Bahkan Michael Jordan sang legenda pun tidak sanggup.
Mereka semua masih melongo menatap bola - bola yang dimiliki ustadzahnya itu. Barulah mereka tersadar saat ustadzah Rachel memanggil mereka untuk memintanya mendekat.
“Gimana ? Kalian sudah lihat kebolehan ustadzah kan ? Mau tanding 1 vs 3 gak ? Ustadzah akan melawan 3 orang dari kalian dalam permainan three on three” kata Rachel membuat santri itu terkejut.
“Three on three ? Ustadzah sendirian melawan kita bertiga ?” tanya santri itu tak menduga.
“Iya... Berani gak ?” tantang Rachel yang sebenarnya juga gugup meladeni tatapan para santri yang berada di tepi lapangan.
Namun pikiran santri itu justru kemana - mana saat membayangkan mereka bertiga harus melawan ustadzah sendirian. Threesome ? Foursome atau apalah itu namanya. Batin salah satu dari mereka memikirkan ucapan yang Rachel berikan.
“Ehhemmm... Berani gak main basket bareng ustadzah ?” kata Rachel lagi menyadarkan mereka membuat mereka reflek menyetujui.
“Baik ustadzah... Kita pakai ring yang ada di utara yah.... Ana, Wahyu sama Bayu yang akan menjadi lawan ustadzah” kata Rio yang merupakan jagoan basket di pondok.
“Boleh” jawab Rachel tersenyum yang membuat jantung mereka bertiga berdebar.
“Kita main tujuh menit aja karena waktu berolahraga sudah mau habis... Ring berada di utara... Semua kontak fisik yang dilakukan ke lawan bisa dianggap pelanggaran... Paham yah ?” kata salah satu santri yang bertugas menjadi wasit di pertandingan persahabatan itu.
“Paham” kata ketiga santri itu juga ustadzah yang membuat mereka semua gugup termasuk sang pengadil lapangan.
Wasit itu melempar bola ke atas. Diluar dugaan Rachel langsung meloncat tinggi tuk merebut bola yang dilempar oleh wasit. Saat Rachel mendarat, mata para santri itu melotot nyaris jatuh dari tempatnya saat melihat getaran yang dihasilkan oleh pergerakan payudara Rachel. Reflek kedua santri lainnya menuju ke arah ring utara untuk bertahan sedangkan Wahyu yang berjanggut tebal menjaga pergerakan ustadzah agar tidak mendekat ke arah pertahanannya. Tangan Wahyu direntangkan menjaga pergerakan Rachel agar tidak kabur dari pengawasannya. Di luar dugaan Rachel meliuk - liuk melewati hadangan Wahyu walau harus mengorbankan tubuhnya ketika mengenai tangan santrinya. Wahyu terdiam, Wahyu tak menduga dan Wahyu tersenyum saat pergelangan tangannya terhantam getaran payudara ustadzahnya yang masih terbungkus dengan kencang.
“Woyy Wahyu jangan diem !!” Protes santri lainnya saat dilewati begitu saja oleh Rachel.
Rachel tersenyum, ia juga berlari menuju ring utara hingga membuat dua buah dadanya bergoyang tiap kali ia melangkah. Para santri yang ada disana terpana mengikuti pergerakan dada ustadzahnya. Begitupula dengan Rio dan Bayu yang sedang menjaga ring utara. Matanya seolah terkunci oleh pergerakan liar ustadzahnya. Alih - alih menjaga pergerakan Rachel. Mereka berdua justru kecolongan saat tiba - tiba Rachel melempar bola basket itu hingga masuk tepat ke dalam ring itu.
Sontak para supporter yang menonton pertandingan basket itu bersorak saat idola mereka mencetak angka disaat laga baru saja dimulai.
Rachel tersenyum, ia merasa senang karena bisa mencetak angka. Tetapi ia lebih senang lagi saat menikmati tatapan para santri itu ketika diam - diam memperhatikan tubuhnya. Lagi, rasa narsistik yang dimiliki oleh Rachel bangkit. Rasa yang membuat dirinya begitu suka untuk dilihat oleh orang lain. Rasa yang membuat dirinya secara suka rela membiarkan orang lain menikmati keindahan tubuhnya. Perlahan ia mulai terlupakan oleh paksaan pak Udin dan membiarkan tubuhnya menikmati semuanya.
Bola telah dipegang oleh Rio. Kini para santri bertugas untuk menyerang sedangkan Rachel bertugas untuk bertahan sendirian. Rachel merentangkan tangannya menghadang Rio yang berbadan kurus tapi memiliki postur jangkung. Rio pun melempar bola ke arah Wahyu yang berada di belakang Rachel. Reflek Rachel beralih untuk menghadang Wahyu. Kembali Wahyu terdiam saat melihat pergerakan dada ustadzahnya yang bergetar mengikuti langkah kakinya.
“Wahyu !!!!” teriak Bayu dan Rio kesal saat Rachel dengan mudahnya merebut bola yang dipegang oleh Wahyu.
“Maa.. Maaf !” kata Wahyu menggelengkan kepalanya tuk menyadarkan dirinya dari keindahan payudara Rachel.
Rachel tersenyum sehingga hati ketiga santri itu meleleh menatap keindahan senyumnya. Rachel kembali bergerak mendekati ring untuk menambah perolehan angkanya. Bayu yang berkulit hitam dengan penampakan gigi yang agak maju bertugas untuk menahan aksi ustadzahnya. Saat mengetahui postur Bayu yang besar, Rachel menyadari bahwa akan sulit baginya apabila berlari begitu saja memasuki kotak penalty lawan. Rachel berbarik membelakangi Bayu. Berulang kali ia mendribble di tempat sambil memikirkan sebuah strategi untuk menembus pertahanan batu bayu. Bayu yang tak ingin kecolongan pun mendekat. Sialnya ia tak menduga bahwa dirinya sudah terlalu dekat hingga penisnya yang sudah mengeras dibalik celana trainingnya tergesek oleh bongkahan pantat Rachel yang dikenal memiliki pantat sintal lagi sekel.
Alih - alih fokus memperhatikan bola. Ia justru fokus mengatur nafasnya sambil menggesek - gesekan pinggulnya ke kiri ke kanan ke arah bokong Rachel. Rachel tak menyadari perbuatan sengaja Bayu karena dirinya sedang fokus mengatur strategi. Kesempatan ini pun dimanfaatkan dengan betul oleh Bayu untuk memuaskan hasratnya dengan menggesek - gesek pinggulnya yang semakin dekat ke arah bokong ustadzahnya.
Sial, ketika sedang asyik - asyinya melakukan gesek - gesek berhadiah. Rachel justru lolos dari penjagaan Bayu membuat ustadzah cantik itu melesat jauh mendekati ring bola untuk mencetak angka. Rio sang pertahanan terakhir pun tak ingin kecolongan lagi. Rio berlari mendekati Rachel dan berniat untuk merebut bola itu dengan cara menamparnya.
“Apaaa” kata Rio terkejut saat tamparannya tidak mengenai bola basket tapi justru mengenai bola dada Rachel itu sendiri. Rio waswas saat dirinya menepuk payudara Rachel cukup keras sehingga membuat ustadzahnya berteriak dengan pelan yang teriakannya justru menaikan birahi tiap santri yang mendengarnya.
“Aaahhhh !!!”
Beruntung karena itu, bola yang dipegang Rachel pun terlepas membuat jala yang dimiliki oleh tim santri aman.
Rio merasa menyesal. Ia pun berniat untuk meminta maaf karena sudah menyentuh payudara ustadzahnya secara tak sengaja. Namun reaksi yang Rachel berikan membuat Rio mengurungkan niatnya. Rio terhenyak saat melihat ustadzahnya sedang memegangi dada kiri yang tadi sempat disentuh olehnya. Kaus yang Rachel kenakan sudah basah akibat air keringat yang keluar. Akibatnya kaus berbahan tipis itu semakin mencetak lekuk tubuh Rachel dengan jelas. Samar - samar ketiga santri yang bertanding di tim santri itu melihat kulit mulus Rachel yang tersembunyi di balik kaus semi transparan itu.
Rachel terkejut saat buah dada kirinya tersentuh oleh salah satu santrinya. Seketika ia kembali tersadar setelah terbuai oleh rasa narsistiknya. Rachel mencoba memperhatikan kausnya yang perlahan semakin transparan. Rachel tak menduga bahwa kaus pemberikan pak Udin ini semakin transparan ketika berbaur dengan keringatnya sendiri. Rachel panik, ia mencoba mencari pak Udin untuk meminta kode darinya.
Pak Udin pun ditemukan, rupanya ia sedang menyelinap diantara para santri sambil merekam aksi liarnya bermain bola basket dengan pakaian yang menantang. Berulang kali Rachel menatap pak Udin tapi pak Udin tak peduli membuat Rachel tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan permainannya.
Rachel kembali memegang bola, ia berupaya untuk menambah skor untuk menyelesaikan pertandingan. Tetapi ia kehilangan keberanian untuk melangkah saat keringat semakin membasahi tubuhnya. Berulang kali Rachel hanya memegang bola tanpa berani mendribblenya sambil menutupi tubuhnya yang terlihat semakin jelas di balik kaus yang ia kenakan.
Sorakan dan tatapan para santri dari arah pinggir lapangan membuat jantung Rachel berdebar semakin kencang. Apalagi posisi Rachel saat ini sedang berada di dekat kerumunan penonton. Sehingga santri yang kebetulan ada di samping Rachel itu dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh sang ustadzah dari sisi samping.
“Hahhh” Rachel terkejut saat bola sudah berpindah akibat di rebut oleh Bayu. Kulitnya yang gelap itu berhasil merebut bola dari tangan ustadzahnya. Reflek karena terkejut Rachel berlari menuju ring guna berpindah ke posisi bertahan menahan serangan para santri yang berniat untuk menyamakan skor pertandingan.
Lagi - lagi gerakan yang indah dari payudara Rachel menyihir pandangan setiap santri yang melihatnya. Rachel tak sempat memikirkan apa yang penonton itu lihat karena ia berfokus menjaga bola agar tidak masuk ke dalam ring penjagaannya. Berulang kali Bayu mengoper ke Wahyu kemudian ke Rio kemudian ke Bayu lagi semata - mata hanya ingin melihat getaran yang dihasilkan melalui payudara Rachel saat berlari. Terlebih mereka bertiga sudah dapat melihat dengan jelas rupa dari keindahan tubuh Rachel dibalik kaus tipis itu.
Rachel kesal ketika bola hanya berpindah dari kiri ke kanan kemudian ke belakang tanpa bisa ia rebut. Ia kembali menatap ke arah pak Udin memintanya untuk menyudahi aksinya. Beruntung peluit yang ditiup oleh sang wasit secara resmi mengakhiri pertandingan yang tidak memiliki keseimbangan itu. Rachel menang membuat para penontong yang mendukungnya pun bersorak senang.
Rachel berjalan dengan malu - malu sambil berupaya menutupi tubuhnya secara berhati - hati. Ketiga santri yang tadi bermain dengannya pun menghampiri untuk mengucapkan selamat atas kemenangan ustadzahnya. Rachel hanya tersenyum menerima ucapan selamat itu. Buru - buru ia pergi menjauh ke arah belakang kelas demi menemui pria tua itu lagi yang rupanya sudah lebih dulu pergi kesana.
Saat Rachel berlari menuju belakang gedung kelas, diam - diam Bayu yang memiliki kulit gelap memperhatikan ustadzahnya yang berlari menuju tempat yang tidak biasa.
Kenapa ustadzah berlari kesana ?
Rachel dengan kesal berlari ke arah pak Udin karena sudah dipermalukan dengan memaksanya bermain basket dengan pakaian yang setipis ini. Ia pun sampai di belakang gedung kelas itu. Kemudian mendekati pak Udin untuk mengeluarkan uneg - unegnya yang selama ini tertahan di dalam tubuhnya.
“Pakkk.... Kenapa bapak gak lekas memberikan kode itu padaku ? Kenapa bapak malah membiarkan aku bermain dengan santri - santri itu ?” kata Rachel kesal.
“Huehuehue... Soalnya saya liatin kayaknya ustadzah lagi asyik bermain sih tadi... Lagipula gak ada yang nyuruh ustadzah buat main dengan mereka kan ?” kata Pak Udin yang membuat Rachel terdiam.
“Tapiii.... Tapppiiii !!” kata Rachel ingin protes.
“Tapi apa ustadzah ? Saya perhatikan ustadzah juga menikmati pertandingan itu kan ? Jujur saya tadi juga menikmatinya kok apalagi lekuk tubuh ustadzah yang sllrrppppppp” katanya diakhiri dengan sapuan lidah di bibirnya sendiri.
Rachel melangkah mundur ketika pak Udin berjalan mendekat. Ia pun sadar kalau tadi dirinya sempat dikuasai oleh rasa narsistiknya lagi. Rachel pun heran kenapa kadang dirinya bisa dikuasai oleh rasa narsistik itu lagi. Apakah karena kebiasaan atau justru karena kepribadian yang berbeda ?
“Toloonggg jangan mendekat pakkk !” kata Rachel panik.
“Toloongg ? Ada apa ustadzah sayang ? Gak ada yang mengancam kok disini” kata pak Udin langsung menggenggam tangan Rachel sambil memandangi tubuh ustadzah yang sudah setengah telanjang walau masih berpakaian.
“Sllrrppppp indahnya dua susu berukuran XL ini.... Saya gak mengira kalau kaus tipis berbahan murah ini bisa memberikan keindahan yang luar biasa” kata Pak Udin menatap payudara Rachel seolah ingin menelannya bulat - bulat.
“Jangannn pakkk... Jangannn lagii... Tolongggg !! Aku udah ngelakuin apa yang bapak mau jadi tolongg lepaskannn aku !” pinta Rachel sambil menjauhkan mukanya karena muak dengan wajah pak Udin yang dipenuhi oleh kumis tebal itu.
“Huehuehue sok - sokan nolak nih ustadzahhh... Saya coba lagi yahhh” kata Pak Udin sambil meremas buah dada kanan Rachel dengan keras.
“Aahhhhhhhhhh” desah Rachel merasakan darahnya berdesir mengitari tubuhnya.
Dengan sekejap pak Udin mendekat sambil melumat bibir tipis Rachel dengan nikmat. Rachel pun memejam sambil menahan nafasnya ketika hidungnya mencium aroma yang tak sedap dari badan pria tua itu.
“Hmmpphhhhh !!!” desah Rachel tertahan.
Tak tahan dengan suara erangannya yang merangsang birahi. Bibir pak Udin membuka hingga lidah itu keluar menjilati bibir mungil Rachel. Diolesnya bibir mungil itu dengan lidah kotornya, dijilatnya bibir mungil itu dengan lidah kotornya. Kemudian bibir Rachel dikecup. Bibirnya yang tebal mendorong bibir tipis Rachel dengan penuh nafsu hingga membuat kepala Rachel nyaris jatuh ke belakang. Beruntung tangan pak Udin dengan sigap memegangi punggung ustadzah cantik itu.
Pak Udin mencumbunya dengan penuh nafsu, dirasakannya sesenti demi sesenti bibir mungil itu. Pak Udin meluapkan semua nafsu yang tersimpan demi bibir yang menggiurkan disana. Tangan pak Udin mulai menyelinap masuk ke dalam kaus yang dikenakan oleh ustadzah montok itu. Kenyal, halus, mulus oh Pak Udin sadar bahwa ia sedang meremas benda bulat yang menjadi idaman seluruh pria di dunia. Ia pun memejam menikmati tiap cumbuannya sambil meremasi payudara kiri Rachel yang masih tertutupi oleh bra ketatnya.
“Uhhmmm... Auhhmmmmm... Uhhmmmm” desah Rachel tak nyaman saat menerima cumbuan ini.
“Ouhmmm ustadzahhh.... Auhmmm... Buka mulutmu... Julurkan lidahmuuu... Cepattt” perintah Pak Udin yang terpaksa dituruti oleh Rachel.
“Aahhhhhhhhhhh” desah Rachel saat lidahnya yang keluar dikulum habis oleh pria tua mesum dihadapannya. Rachel tak sanggup melihat hingga membuatnya hanya mengerang dan memejam membiarkan pria tua itu bermain dengan lidahnya.
Tangan pak Udin terus menggerayangi tubuh Rachel yang masih mengenakan kaus tipis dengan hijab simple segi empat. Sisi bawah tubuhnya yang mengenakan training panjang berukuran longgar juga menjadi sasaran empuk bagi pria mesum yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu birahi itu. Berulang kali tangannya berpindah untuk meremas - remas pantat Rachel yang enak di elus karena mulus. Teksturnya yang sintal membuat pak Udin seperti kesetanan dalam menikmati ustadzah muda yang sebentar lagi akan menikah.
“Apa yanngggg... Jangannn... Jangannn pakkkk Ahhhhhhhh” Rachel terkejut saat Pak Udin tiba - tiba mulai menarik kaus tipisnya naik ke atas. Rachel terus menolak tetapi Pak Udin terus memaksa untuk memperlihatkan payudara montok yang masih tertutupi oleh bra itu. Tenaga Rachel yang tak seberapa membuatnya harus mengalah membiarkan pria tua itu menang dengan meloloskan bra itu hingga payudaranya yang indah terlihat.
“Aahhhh pakkk hentikann !!! Jangan lakukan !!!” kata Rachel saat merasakan puting susunya dijilat dan dikecup oleh bibir tua itu.
Rachel menggeliat menahan rasa geli yang ia terima dari pria berkumis itu. Sapuan kumis yang diberikan pria itu di payudaranya membuat Rachel memejam sambil menahan rangsangannya. Rachel ingin mendesah tapi ia tetap menahannya karena tak mau membiarkan pak Udin senang dengan melihat sikapnya.
“EEhhmmmm Ouuhhhh pakkkk !” Rachel mendesah tak sanggup lagi tuk menahan kenikmatan ini. Tetapi sebagai seorang ustadzah ia tetap mencoba untuk menjaga sisa harga dirinya agar tidak jatuh sepenuhnya ke dalam perangkap nafsu dari yang pak Udin berikan.
“Saya tahu ustadzah masih perawan kan ? Uhmmmm.... Saya sebenarnya bisa aja tuk merenggut punyamu sekarangggg..,, Uhmmmm... Tetapiii” kata pak Udin ditengah percumbuannya.
“Saya juga tau kalau ustadzah sebentar lagi mau menikah... Iya kan ? Auuhmmmm... Saya punya pilihan buat ustadzah supaya ustadzah bisa menjaga perawan ustadzah itu hingga menikah nanti” Lanjut pak Udin yang membuat Rachel terhenyak.
“Hmppphhhh Apphhhaaaa ?” kata Rachel ketakutan khawatir ia tak bisa mempersembahkan keperawanannya untuk Adit.
“Tau Petting ? Saya mau ustadzah yang menggesek - gesekan memek ustadzah itu ke penis saya yang besar ini” kata pak Udin sambil mengocok penisnya yang rupanya sudah keluar entah dari kapan.
“Apphhaa.... Hmmppphhh ! Akuu... Uhmmm” kata Rachel tak terima dirinya dipermalukan oleh keinginan pria tua itu.
“Kalau gak mau ya biar saya coblos sekarang yah” kata Pak Udin tiba - tiba sudah memelorotkan sebagian dari celana training yang Rachel kenakan.
“Janggannn !!” kata Rachel berteriak setengah ketakutan.
“Huehuehuehue kalau gitu lakukan sekarang ! Telanjangi saya lalu rebahkan saya diatas tikar yang sudah saya siapkan dari tadi !” kata Pak Udin yang meminta dilayani.
Rachel hanya diam sambil mengernyitkan dahinya menatap tikar yang sudah disiapkan itu. Rachel menarik nafasnya kuat - kuat karena tidak ingin menunda waktu lebih lama lagi. Toh ia juga tidak bisa menolak. Rachel yang sudah memperlihatkan payudaranya itu mendekat guna mengangkat kaus lusuh yang pak Udin kenakan.
“Sepet amat sih ustadzah... Senyum dong huehuehue” kata Pak Udin membuat Rachel memaksakan senyumnya.
Kaus yang pak Udin kenakan perlahan - lahan mulai terangkat dari tubuh keriputnya. Rachel agak jijik saat menghirup aroma yang tak sedap dari tubuh tukang sapu itu. Kaus itu sudah terlepas kemudian giliran celana kolor pak Udin yang menjadi sasaran Rachel untuk menurunkannya. Saat ia berjongkok ia agar menjauhkan wajahnya dari penis menjijikan yang sudah mengacung tegak disana. Pak Udin hanya tertawa kemudian setelah celana kolor itu sudah terlepas hingga membuatnya bertelanjang bulat dihadapan ustadzah itu. Ia langsung memegangi kepala Rachel sambil menusukan penisnya agar bisa masuk ke dalam mulutnya.
“Hentikannn !!! Uhmmmm... ” Pinta Rachel menutup mulutnya rapat - rapat.
“Ouhhhh iyyahhh ustadzahhh... Tahan terusss... Ouhhh nikmatnya” kata Pak Udin saat merasakan ujung gundulnya terkena bibir manis sang ustadzah.
“Hentikannn !!” kata Rachel mendorong pak Udin menjauh karena tak ingin mulutnya dinodai oleh penis itu lagi.
“Huehuehue saya suka gak nahan kalau lihat bibir tipis itu lagi... Nafsuin soalnya !” kata Pak Udin sambil menjilati bibirnya sendiri. Rachel hanya diam sambil mengelap bibirnya menggunakan punggung tangannya.
Sesuai perintah, Rachel pun menidurkan tubuh polos pak Udin diatas tikar yang sudah terbentang di tempat terbuka. Rachel pun menurunkan celana trainingnya kemudian bersiap mengambil posisi untuk menindihi penis keriput yang sudah terbaring diatas perut tambunnya.
“Ouuhhhh ustadzahhhhhh !!!” desah pak Udin saat penis bagian bawahnya bersatu dengan jepitan vagina Rachel yang sudah basah akibat paksaan eksibnya dilapangan tadi.
“Eehhmmmmm” desah Rachel tak sadar saat kemaluannya mulai tersentuh menindihi penis keriput itu.
Pak Udin terkesima melihat pemandangan indah Rachel yang sudah tidak mengenakan apa - apa selain hijab simpelnya beserta kaus tipis yang sudah terangkat hingga payudaranya terlihat. Tubuhnya yang sintal, payudaranya yang ranum, serta kulit putih beningnya yang bersih. Ah pak Udin mimpi apa dirinya bisa merasakan jepitan memek hangat walau hanya melalui gesekan saja. Wajah imut Rachel yang diam - diam juga keenakan ketika merasakan gesekan penis pak Udin semakin melengkapi kepuasan yang pak Udin rasakan.
Pak Udin tersenyum kemudian meminta Rachel untuk menggerakan pinggulnya maju mundur. Rachel masih belum paham dengan maksud apa yang ingin pak Udin minta darinya. Ia pun asal melakukannya. Tangannya yang masih terbebas bertumpu di perut keriput pak Udin. Pinggulnya bergerak maju kemudian mundur kemudian maju lagi kemudian mundur lagi. Rachel melenguh tak menyangka saat bibir vaginanya terasa begitu nikmat saat tergesek oleh sisi penis bagian bawah pak Udin.
“Mmmppphhh... Mmmppphhh !!!” desah Rachel memejam menikmati suasana.
Pinggul Rachel terus bergerak bagaikan sebuah setrika yang sedang menghangatkan pakaian. Dikala pinggul Rachel maju, ia dapat merasakan bibir vaginanya menjepit penis Udin hingga tiba di ujung gundulnya. Dikala mundur ia dapat merasakan bibir vaginanya menjepit pangkal dari penis pak Udin. Akibatnya vagina Rachel semakin basah melembabkan sisi bagian bawah penis Pak Udin yang terlihat berkilauan.
Rachel hanya bisa mendesah, melenguh dan mengucap kata - kata yang tak jelas. Jelas Rachel sudah dikuasai oleh hawa nafsunya dan ini bukanlah tindakan yang biasa Rachel lakukan sebagai seorang ustadzah. Ustadzah mana yang mau menggesekan bibir vaginanya di penis pria tua berkumis seperti Udin ? Rachel jelas tidak akan bergerak tanpa adanya ancaman dari sang penakluk yang sudah memergokinya telanjang.
Tapi... Kenapa lama - lama enak sekali ? Kenapa rasanya jadi seperti ini ? Kenapa aku gak bisa berhenti ?
Rachel merasa heran dengan apa yang ia rasakan di tubuhnya. Ia mulai menikmati gesekan ini. Ia bingung membuatnya nyaris melupakan akal sehatnya. Ia bahkan lupa kalau dirinya adalah seorang ustadzah. Ia bahkan lupa kalau sebentar lagi dirinya akan menikah dengan seorang lelaki yang lebih layak dari pria tua dihadapannya.
Iniii... Kenapa ???
“Ouhhhh Ustadzahhhhh !! Aahhhhhhh !” Meski hanya digesek, tapi kalau gerakannya sekuat ini ya pak Udin bisa apa ? Ia benar - benar terkejut saat Rachel mulai mempercepat gesekannya. Gerakan petting saja bisa sedahsyat ini bagaimana kalau sampai masuk ? Pikir pak Udin di dalam hatinya.
Pak Udin mendesah merem melek saat menikmati gesekan lembut dari sela - sela kemaluan sang bidadari. Tak pernah menyangka dalam seumur hidupnya ia bisa merasakan sensasi sehebat ini. Pak Udin merasa bejo. Ia hanya berbaring sambil menikmati gerakan tubuh Rachel yang terlihat semakin menggoda dengan dua payudara bulat yang kadang mendekat kadang menjauh dari tatapannya.
Tak tahan, Pak Udin meminta Rachel untuk menunduk sambil membuka mulutnya kemudian mencaplok sisi kiri payudara itu. Sontak Rachel berteriak nikmat yang membuatnya semakin mempercepat gerakannya.
“Aahhhh ahhhhh pakk.... Ahhhhhh ahhh jangannn diigiiggiittt !!!” desah Rachel.
Pak Udin tak peduli, ia hanya diam menyusu di payudara Rachel. Ia benar - benar puas menikmati semua sensasi liar ini. Berulang kali Pak Udin ikut mendesah dalam hati seiring gerakan pinggul Rachel yang bergerak maju munudr secara membabi buta.
Terangsang ? Rachel jelas merasakannya. Rachel sudah melupakan semua status yang dimilikinya. Saat ini hanya ada satu yang terpikirkan olehnya yakni meluapkan nafsu yang sudah dibangkitkan oleh pria berkumis itu. Rachel mempercepat gerakan pinggulnya. Vaginanya menggesek - gesek penis licin itu. Ia sudah tak peduli lagi dengan harga diri yang dimilikinya sebagai seorang ustadzah.
Tiba - tiba mereka berdua mendengar suara pembicaraan dari ujung tepi kelas. Samar - samar mereka juga melihat adanya tiga bayangan yang mendekat dari ujung tepi kelas berada. Rachel yang mengenali suara itu pun panik. Ia mengenal suara itu yang tidak lain merupakan ketiga santri yang tadi sempat bermain dengannya.
“Yakin tadi Ustadzah Rachel berjalan kesini Bay ?” kata salah satu dari santri itu.
“Iya serius mau apa coba ustadzah Rachel berjalan kesini ?” kata Bayu.
Wahyu, Rio, Bayu !!!!
“Pakkk hentikannnn ada orang yang berjalan kesini !” bisik Rachel dengan pelan.
“Sllrpppp terus kenapa ? Biarin aja !” kata pak Udin yang membuat Rachel terkejut bukan main.
“Pakkk Tapiii... Ehhmmmmmm !” desah Rachel tertahan.
Pak Udin terus menyusu di payudara bulat itu. Pak Udin merasa bahwa puting yang sedang digigitnya mengeras dan mengencang hebat. Pak Udin menyeringai memahami bahwa Rachel akan segera keluar.
“Aahhhh ahhhhhhh pakkk... Ouhhhhhhhmmmm... Ahhh !” desah Rachel menahan semua desahannya agar tidak terdengar oleh ketiga santri yang semakin dekat itu.
Terlihat ketiga bayangan itu semakin besar menanadakan kehadiran mereka semakin dekat. Rachel terus melihatnya membuatnya semakin panik apabila aksinya bakal ketahuan oleh mereka.
Namun pak Udin seolah tak peduli dengan kehadiran mereka bertiga. Ia yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu justru mencengkram kuat pinggang ramping Rachel. Dengan sekuat tenaga tangannya itu memaksa tubuh indah Rachel untuk bergerak maju mundur lebih cepat. Rachel yang sudah kembali duduk tegak hanya diam sambil menutupi mulutnya menggunakan punggung tangannya.
“Eehhmmm ehhmmm” desah Rachel menahan erangannya sekuat tenaga.
Bayangan itu semakin membesar dan suara percakapan mereka pun semakin terdengar. Rachel tak tahu lagi. Ia benar - benar pasrah andaikata dirinya ketahuan. Ia sudah kalah. Apalagi saat gesekan yang ia terima dari penis pak Udin semakin nikmat.
“Pakkk Hentikkannnn... Ahhhhh... Tolonggg pakkk !!!” pinta Rachel sekali lagi dengan lirih.
Tubuhnya merinding, ia mengejang dan nafasnya terasa sesak ketika gelombang kejut itu akan datang menghampiri lubang kencingnya. Begitupula yang saat ini dirasakan oleh pak Udin. Keindahan yang Rachel miliki membuat gairah birahinya tak mampu menahannya lagi. Ia tak kuat, ia mulai bersiap - siap untuk melepaskan semua sperma yang terdorong naik akibat gesekan ustadzah berhijab itu.
“Mmmpphhhh... Ahhhh... ahhhhh... ahhhhhh” desah mereka berdua saling mendesah menikmati semuanya.
“Akhirnya... Ouhhhh yahh ouhhh... Ustadzahhh !!!! Ustadzahhhh !!!!”
TENGGG TENGGGG TENGGGG !!!
“Lohhh udah bunyi yah... Yaudah buru kita pulang yuk sebelum dihukum ustadz Tamir lagi !” kata salah satu dari ketiga santri itu mengajak balik karena waktu berolahraga sudah berakhir.
“Yahhh nanggung nih... Apa kita gak lihat dulu aja” kata Bayu merasa nanggung.
“Kalau mau lihat ya lihat sendiri aja... Kita udah kapok kena hukuman ustadz Tamir lagi !” kata Rio sambil berlari menjauh menuju asramanya disusul kemudian oleh Wahyu dan kemudian Bayu.
“Aahhhhhhhhh” Pak Udin mendesah dengan penuh nikmat saat ia mendapatkan orgasmenya. Beruntung suara lonceng yang keras membuat suara desahannya tersamarkan.
Crrootttt crrootttt crrootttt !!
Pak Udin mencapai klimaks ketika spermanya keluar mengenai perutnya sendiri. Pak Udin blingsatan hingga tatapannya naik menatap langit - langit menikmati semua ini. Rachel yang belum mendapatkan orgasmenya terus menggesek penis itu hingga membuat Pak Udin merinding merasakan rangsangan Rachel yang tiada henti.
“Aahhhhh pakkkk... Aaaaakkkhhhhhh !!!!”
Crrtttttt !!!! Crrrtttt !
Akhirnya Rachel pun mencapai klimaksnya. Rachel agak sedikit naik hingga cairan cintanya menyemprot membasahi perut dan dada Pak Udin yang membuatnya seperti seseorang yang sedang mandi.
“Ahhhh Ahhhh !” Rachel merem melek dan tubuhnya mengejang berkali - kali merasakan kenikmatan ini. Rachel pun jatuh ambruk ke dalam pelukan pak Udin. Ia tak peduli lagi dengan sosok pria tua dihadapannya. Ia hanya lelah dan ingin beristirahat sejenak menikmati sisa orgasme yang didapatinya.
“Ahhhh uuhmmpphhhh” Pak Udin mencumbu Rachel guna mengakhiri kemesumannya dengan ustadzah berhijab yang sudah kehilangan harga dirinya.
Perlahan - lahan Rachel mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Menyesal, malu dan ia tak tahu lagi kenapa tadi dirinya sempat mau menuruti semua kata - kata itu. Rachel benar - benar terjebak oleh jeratan nafsu birahinya. Rachel menangis dalam pelukan itu. Ia benar - benar lelah dan ingin beristirahat untuk meredakan rasa lelah di batinnya.
*-*-*-*
Keesokan harinya sekitar pukul sepuluh pagi, Hanna yang kebetulan tidak memiliki waktu mengajar memutuskan untuk mengunjungi rumah calon suaminya yang bernama Angga. Hanna rindu ingin bertemu dengan calon suaminya sekaligus membahas beberapa persiapan menjelang pernikahannya. Langkah demi langkah telah ia lalui hingga tak terasa ia pun sudah tiba di depan halaman rumahnya.
Jantung Hanna berdebar kencang karena merasa gugup untuk menemui pangeran hatinya. Tetapi bagaimana kalau yang menerima kedatangannya justru pak Kiyai Jamal yang merupakan calon mertuanya ? Memikirkan hal itu membuat Hanna semakin gugup dan mendadak ragu untuk mengetuk pintu rumahnya.
“Maju gak yah ? Maju gak yah ?” kata Hanna.
Kakinya melangkah maju tetapi kemudian ia kembali memundurkan langkah kakinya. Cukup lama ia menanti berdiri di bawah terik matahari membuatnya terlihat seperti seorang ustadzah yang sedang dihukum karena melanggar suatu kesalahan. Padahal ia hanya ragu. Tapi keraguan itu justru merugikan dirinya hingga tak sadar waktu terbuang begitu saja tanpa melakukan apapun.
Karena kepanasan dan ia juga bosan karena lelah dengan keraguan, ia pun mendekat menuju teras rumah kemudian menggerakan jemarinya naik untuk mengetuk pintu rumah calon suaminya.
Tokk tokkk tokkk !
“Assalamualaikum” sapa Hanna dengan suara lembutnya.
Hanna diam sejenak menanti jawaban dari dalam. Hanna sabar menanti akan tetapi akibat tak kunjung mendengar adanya jawaban, ia pun berniat untuk mengetuk pintu itu kembali. Namun sebelum ia kembali mengetuk pintu itu, ia mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah dalam.
“Iyya walaikumsalam” terdengar suara seorang wanita yang menjawab salam Hanna.
“Ehhh ustadzah Hanna yah” kata Rania dengan senang hati menyambut kedatangan tamunya sekaligus calon menantunya yang hanya berjarak sekitar enam tahun usia saja.
“Ustadzah Rania” sapa Hanna mencium punggung tangan ustadzah Rania kemudian memeluk tubuhnya yang ramping.
“Ada keperluan apa nih antum kesini ? Mau nyari ustadz Angga yah ?” tanya Rania menebak.
“Hehehe iya us... Ustadz Angganya ada ?” tanya Hanna dengan sopan.
“Yahh kayaknya masih ngajar loh ustadzah... Ustadz Angganya belum balik” jawab Rania yang membuat Hanna sedikit kecewa.
“Yahh begitu yah ustadzah” jawab Hanna. Rania pun tersenyum kemudian mencoba untuk menghibur calon menantunya.
“Oh yah hari-H menjelang pernikahan antum semakin dekat kan yah ? Gimana nih persiapan pernikahan antum dengan ustadz Angga ?” tanya Rania.
“Hehehe iya ustadzah tinggal beberapa bulan lagi... Nah itu ustadzah yang sebenarnya mau ana bahas dengannya... Tapi ustadz Angganya masih ngajar” jawab Hanna.
“Ohh begitu... Jadi untuk panggung, cathering dan sebagainya belum dibahas nih ?” tanya Rania yang sudah berpengalaman.
“Udah sih ustadzah tapi masih belum pasti mana yang cocok” jawab Hanna.
“Hmmm terus diri antum sendiri gimana ?” tanya Rania yang membuat Hanna terkejut.
“Ehhh diri ana ?” tanya Hanna.
“Iyya... Antum kan sebentar lagi bakal jadi menantu pak kiyai ... Apa persiapan yang sudah antum lakukan untuk memantaskan diri ?” tanya Rania yang justru membuat Hanna terbebani.
“Hehehe anu itu...” jawab Hanna kesulitan.
“Ahahahha tenang sayang... Ana gak bermaksud buat nakut - nakutin kok... Memang rasanya berat untuk menanggung beban amanah ini... Tapi kalau udah ngelakuin rasanya bakal biasa aja kok tapi ya jangan dianggap remeh juga yah... Antum harus punya bekal ilmu, akhlak dan lain sebagainya untuk membuktikan kepada santri dan warga pondok pesantren lainnya bahwa antum itu pantas tuk jadi menantu dari kiyai pondok pesantren ini” kata Rania mencoba menghibur Hanna.
“Hehehe terima kasih yah ustadzah... Iya kadang ana juga terbebani gitu kepikiran amanah yang harus ana emban... Kadang ana juga minder mikirin banyak kekurangan yang masih ana miliki” kata Hanna malu - malu.
“Ahahha iya tenang aja... Ustadz Angga kan udah memilih antum... Berarti ustadz Angga tahu dong ada sisi kelayakan dari diri antum sehingga ustadz Angga mau menikahi antum” kata Rania yang membuat Hanna tersenyum senang.
“Hhihihi terima kasih yah ustadzah” jawab Hanna tersenyum yang membuat Rania ikut tersenyum.
Rania membelai kepala Hanna dengan penuh kasih bagai seorang ibu. Hanna pun tersenyum merasakan kenyamanan menerima belaian kasih dari Rania. Dikala membelai kepala Hanna itulah, Rania jadi teringat akan masa - masa awal dulu ketika hendak dinikahi oleh Kiyai Jamal. Mulut Rania pun terbuka, Hanna menoleh menatap. Rania pun mulai bercerita mengenai pengalamannya di masa lalu.
“Dulu sewaktu ana masih jadi ustadzah di bagian pengajaran, ana sempat ngerasa sih kalau dulu Pak Kiyai sudah lama mengincar ana” kata Rania curhat.
“Oh yah ustadzah ? Gimana ceritanya ?” tanya Hanna tertarik.
“Hihihi... Pokoknya waktu itu Pak Kiyai kayak lebih sering memperhatikan bagian kami daripada kantor bagian yang lainnya... Ana masih inget dulu dan sempet bikin ana penasaran juga kenapa pak Kiyai kok jadi lebih sering mengunjungi kantor Pengajaran daripada kantor lainnya... Ia juga jadi perhatian menanyakan kabar tentang ustadzah dan ustadz yang ada disana” kata Rania mengenang.
“Oh iya ?” kata Hanna tersenyum.
“Tiap kali kami melaporkan laporan bulanan... Pasti pak Kiyai lebih detail dalam memeriksa laporan bagian kami... Pernah waktu itu ana ngobrol bareng ustadzah Nayla pas sempat masih disini... Katanya bagian antum dulu... Bagian pengasuhan cuma butuh waktu beberapa menit aja untuk melaporkan laporannya... Nah kami aja nyaris empat puluh lima menit loh... Udah kaya main bola aja kan ?” kata Rania.
“Wahhh lama banget itu ustadzah ?” kata Hanna tercengang.
“Iya kemudian terdengar sebuah rumor, apalagi waktu itu kan pak Kiyai baru aja ditinggal istrinya yah yang sudah tiada... Ada rumor kalau Pak Kiyai sedang mencari istri baru... Sontak kami semua jadi ngerasa... Jangan - jangan istri yang sedang pak Kiyai cari ada diantara kami lagi !” kata Rania yang membuat Hanna tertawa.
“Oh yah ? Ahahahaha... Memang waktu itu siapa aja yah ustadzah yang jadi bagian pengajaran ?” tanya Hanna.
“Ada ana, Ustadzah Rahmah, Ustadzah Syifa sama Ustadz Imron” jawab Rania.
“Wahh iya jadi keinget... Dulu kan antum kaya punya genk kan yah ? Apa namanya ? Genk pengajaran ? Ahahaha... Pokoknya sewaktu antum, ustadzah Syifa sama ustadzah Rahmah lewat banyak ustadz sama santri yang melongo karena terpana sama kecantikan kalian” puji Hanna yang membuat Rania tersenyum malu.
“Ahahaha jadi keinget masa itu... Iya pokoknya waktu itu genk kami terkenal banget padahal kami gak ada niatan seperti itu loh ... Tiba - tiba aja ada santriwati yang bilang ke ana kalau ana sama ustadzah Rahmah dan ustadzah Syifa udah kaya model terkenal ketika jalan bersama” kata Rania malu mengingat masa kejayaannya.
“Ahahaha tapi sekarang antum masih cantik kok” kata Hanna.
“Ahahaha syukron yah” jawab Rania tersipu.
“Terus - terus gimana ustadzah ceritanya... Lanjut dong” pinta Hanna.
“Oh iya kok jadi melebar sih tadi hehehe... Iya sewaktu kami mendengar ada rumor tentang pak Kiyai yang ingin mencari istri baru... Sontak kami jadi panas dingin waktu itu... Kami ngerasa kalau ada salah satu dari kami yang diincar oleh pak Kiyai” kata Rania.
“Teruss... Terussss” kata Hanna penasaran.
“Bahkan ustadzah Syifa yang notabene masih baru jadi kalang kabut loh... Tiap kali beliau kesini kami bertiga pura - pura sibuk... Saking pura - puranya cuma ustadz Imron aja yang meladeni pak Kiyai ngobrol karena kami saking takutnya” kata Rania yang membuat Hanna tertawa.
“Akhirnya setelah sekian waktu barulah diketahui rupanya ana yang selama ini yang diincar oleh pak Kiyai... Jujur sewaktu pak Kiyai main ke rumah rasanya nano - nano gitu... Gak nyangka... Pengin nolak tapi rasanya gimana” kata Rania berkata jujur.
“Pengen nolak ? Kok bisa sih us ?” tanya Hanna penasaran.
“Ya coba sewaktu itu antum berada di posisi ana... Bakal nerima apa nolak ?” tanya Rania.
“Nolak... Hihihih” jawab Hanna yang juga membuat Rania tertawa.
“Begitulah... Tapi karena paksaan dari orang tua akhirnya ana pun mengalah dan menuruti kemauannya tuk menjadi istri beliau hingga sekarang” kata Rania.
“Wuihhh menginspirasi sekali ustadzah ceritanya” kata Hanna.
“Ahahaha pokoknya untuk sekarang disiapkan mental dan bekal ilmunya aja yah karena tuk jadi menantu kiyai itu berat kudu berwawasan luas” kata Rania.
“Siap ustadzah... Ana akan menyiapkan semuanya” kata Hanna menjadi lebih bersemangat untuk mempersiapkan pernikahannya.
Setelah cukup lama mengobrol dengan calon mertuanya, Hanna akhirnya pergi tuk kembali ke kantor bagiannya karena Angga tak kunjung pulang ke rumah. Agak sedih sih rasanya tidak bisa bertemu calon suami. Tetapi ia juga bersyukur karena mendapatkan pengalaman berharga melalui cerita yang diberikan oleh calon mertuanya.
Dalam perjalanan pulangnya tak diduga ia bertemu dengan seorang santri yang dulu sempat menakutinya. Santri itu mengenakan kemeja juga celana kain longgar dengan kepala plontos yang menghiasi kepalanya. Santri itu mendatangi Hanna dengan memberikan sapaan terlebih dahulu.
“Assalamualaikum ustadzah” sapa santri itu.
“Ehhh Lutfi yah... Walaikumsalam” jawab Hanna tersenyum.
“Ehmmm hari ini... Ustadzah ada waktu kosong gak ?” tanya Lutfi.
“Hari ini ? Coba sebentar ustadzah pikir - pikir dulu” kata Hanna yang membuat Lutfi terpana melihat kecantikan ustadzahnya.
Bagaimana tidak ? Parasnya yang manis, dengan kulit mulusnya yang eksotis. Setiap lelaki yang melihatnya pasti tertarik untuk menjalin hubungan cinta dengannya. Apalagi hubungan cinta satu malam.
Oh indahnya ! batin Lutfi.
“Sore ini yah... Coba antum ke kantor ana... Nanti ana akan mengatur waktu untuk bisa belajar dengan antum” kata Hanna.
“Naam ustadzah... Nanti sore ana akan datang ke kantor antum... Wassalamualaikum” kata Lutfi bersemangat. Tanpa ba-bi-bu Lutfi langsung pergi begitu saja yang membuat Hanna memanggilnya kembali.
“Ehh Lutfi tunggu... Nanti mau belajar apa ? Biar ustadzah bisa menyiapkan materinya dulu” kata Hanna.
“Oh iya... Ehmmm materi Shorof aja ustadzah” jawab Lutfi.
“Oke deh... Ditunggu yah Lutfi” kata Hanna tersenyum.
“Siap ustadzah... Wassalamualaikum” kata Lutfi kembali berpamitan.
“Walaikumsalam” jawab Hanna tersenyum.
Lutfi menyeringai kemudian berbalik menatap raga Hanna yang terlihat semakin jauh.
“Muwehehehe... Shorof ? Tapi ana lebih suka pelajaran biologi ustadzah” kata Lutfi sambil memegangi batang kontolnya yang telah mengeras.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *