.:: PADA SUATU KETIKA
“APA YANG SUDAH BAPAK LAKUKAN?”
Suara bentakan itu membuat tubuh Uwak Sobri bergetar. Dia memandang memelas ke arah seorang pria yang saat ini memandangnya dengan tatapan galak. Tanpa bisa ia kendalikan, langkah kakinya mundur beberapa langkah ke belakang.
“Ma-maafkan saya, Mas Haris. Saya tidak sengaja melakukannya. Ini tadi karena saya menghindar dari anak-anak yang tiba-tiba saja berlari ke jalan dan…”
“Ini mobil baru! Belum ada sebulan turun ke jalan, sekarang udah penyok aja! Makanya kalau jalan itu matanya dipake! Dasar picek!”
Haris geleng-geleng kepala sembari mengelus-elus bagian mobilnya yang menjorok ke dalam karena ditabrak oleh motor tua Uwak Sobri. Haris bergumam perlahan sambil menghela napas panjang, “Dasar aki-aki pengangguran. Sudah tidak ada gunanya, nyusahin pula.”
Meski gumaman itu pelan, Uwak Sobri mendengarnya, tapi tidak sekalipun pria tua itu bergerak karena takut Haris akan semakin murka. Dia merasa kalau memang ini semua salahnya. Pria tua itu menundukkan kepala, ia mencoba mencari-cari sesuatu di kantong celananya, tapi dompetnya tidak ada. Kalaupun ada, belum tentu ia bisa membayar reparasi mobil Haris.
Uwak Sobri tidak pernah merasa serendah ini.
“Sa-saya benar-benar minta maaf, Mas. Saya memang…”
“Lagipula kenapa sih Bapak pakai bawa-bawa motor segala? Usia sudah segini nekat naik motor itu Bapak mau kemana? Biasanya kan jalan kaki!? Sekarang gegayaan pakai motor mau jalan kemana sih!?” Haris tidak peduli Uwak Sobri mencoba meminta maaf.
“Udah ih, Abi. Marah-marah terus kasihan Uwak…” Nisa yang tadinya berada di dalam mobil keluar dan mendekati sang pria tua, “Uwak tidak apa-apa? Lain kali lebih hati-hati ya. Namanya malam minggu, jalanan kan ramai, apalagi ini di kaki gunung. Kalau seperti ini, takutnya kenapa-kenapa. Uwak ada yang sakit? Mau masuk ke ruko sebentar? Di Nisa Cakes ada obat merah dan obat urut…”
Lokasi tabrakan mobil Haris dan motor Uwak Sobri kebetulan memang dekat dengan ruko di mana Nisa Cakes berada. Haris yang berencana menjemput Nisa usai pulang kerja baru saja mengeluarkan mobil dari halaman parkir ruko dan hendak melaju ke jalan ketika tiba-tiba saja Uwak Sobri berteriak-teriak tanpa bisa mengendalikan motor dan menubruk mobil sang dosen suami Nisa.
Motor butut yang kini tergeletak di jalanan itu sendiri bukanlah motor Uwak Sobri. Motor itu dipinjam oleh Uwak Sobri pada Sukirlan, karena dia hendak membeli obat di Puskesmas kota. Uwak Sobri baru menyadari kalau rem motor sialan itu blong dan tidak bisa dikendalikan degan mudah. Meskipun lajunya pelan, ketika ada anak-anak berlari menyeberang jalan karena hendak mengejar layangan putus, motor itu tanpa sengaja justru ia gas dan hasil akhirnya akan berujung pada masuk bengkelnya mobil dan motor yang kini terhenti.
“Yaelaaaa, Umi. Orang seperti dia kenapa malah dia dikasih hati?” Haris benar-benar kesal. Sebenarnya ia adalah orang yang baik dan peduli pada orang sekitar, tapi sekali ini ia benar-benar marah karena mobil itu adalah pemberian terakhir dari almarhum ayahnya yang minggu kemarin wafat. Haris yang masih panas mendorong pundak Uwak Sobri, “mata taruh di mana mataaaaa!? Emang bisa benerin!?”
“Sa-saya akan usahakan walaupun…” Uwak Sobri mengeluarkan beberapa lembar uang yang sejatinya hendak ia gunakan untuk membeli obat, ia menghunjukkan uang itu ke depan Haris, “… walaupun yang saya punya tidak banyak, Mas. Saya bukan orang yang… ma-maksud saya, mungkin ini bisa dipakai untuk awal…”
Haris mengerutkan kening dengan galak. Berani-beraninya orang ini memberikannya uang yang paling banter hanya sampai dua ratus ribu itu. Dia pikir siapa Haris? Uwak Sobri benar-benar menampar perasaan suami Nisa itu.
“Apa!? Uang segini… Memangnya kamu pikir aku tidak punya duit? Tidak butuh duit kamu!!” Haris menampar tangan Uwak Sobri sehingga uang yang dikaret gelang itu jatuh ke aspal. Uwak Sobri memekik lirih karena tangannya sakit setelah ditampar Haris dan uangnya jatuh.
Nisa melotot dan buru-buru menahan sang suami, “Ih! Abi kok gitu sih!? Itu anak-anak lihat dari dalam mobil!”
“Tapi, Mi! Dia ini…!”
“Diam! Biar aku yang menyelesaikan!” Nisa buru-buru menunduk dan mengambil uang Uwak Sobri yang terjatuh di jalan. Dia melangkah dengan anggun ke arah orang tua yang ketakutan dan meletakkan uang itu ke dalam genggaman tangan Uwak Sobri, “Uwak. Kami tidak memerlukan ini. Saya yakin Uwak lebih memerlukannya. Sekarang Uwak tenang saja, kami yang akan menangani semuanya.”
Uwak Sobri berkaca-kaca menatap Nisa, “Sa-saya tidak tahu harus bagaimana lagi, Neng…”
“Sudah sudah…” tangan putih mulus Nisa menangkup tangan hitam Uwak Sobri. Tangan yang halus itu terasa begitu lembut dan menenangkan sang pria tua. “Uwak istirahat dulu, tenangkan diri. Tidak apa-apa, tidak begitu parah kok rusaknya.”
“Te-terima kasih, Neng.”
“Umi apaan sih!? Dia harus…” Haris masih belum tuntas melampiaskan kekesalannya pada Uwak Sobri, tapi sang istri keburu menghardik sebelum Haris selesai.
“Abi bisa diam tidak!? Dari tadi ngata-ngatain melulu! Udah kenapa sih! Ini orang tua lho!! Itu Abi dilihat anak-anak dari dalam mobil! Bukannya bikin contoh baik malah bikin ribut di jalan! Memangnya Abi tidak punya uang untuk benerin mobil?! Ada kan?! Awas rejekinya ntar diminta lagi kalau peliti! Iya memang mobilnya jadi cacat, tapi masih bisa dibenerin.”
Haris mendengus kesal.
Nisa menggandeng tangan Uwak Sobri ke arah motor. Pria tua itu kebingungan karena kondisi motor yang tidak baik-baik saja.
“Agak rusak ini, Uwak.”
“I-iya, Neng. Saya tidak tahu bagaimana saya nanti bisa…”
Nisa membuka tas jinjingnya dan mengeluarkan dompet. Ia mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada sang pria tua yang langsung terkejut. “Ini Uwak, buat benerin motor. Di depan sana kalau tidak salah ada bengkel. Perlu saya bantu membawa motornya ke sana?”
“Hah!? Ti-tidak! Saya bisa….” Uwak Sobri kebingungan menatap uang di tangan, “Sa-saya tidak bisa menerima ini, Neng! Saya tidak bisa! Saya yang menabrak! Saya yang bersalah, saya tidak…”
“Sst. Udah terima saja.” Nisa mengedipkan mata. Manis sekali. Membuat jantung Uwak Sobri berdebar lebih kencang.
Uwak Sobri terbengong-bengong. Nisa ini… tidak hanya cantik, dia juga sangat baik, sabar, hormat, menghargai orang lain, sopan, dan amat ramah. Dia seorang bidadari surga yang entah kenapa berjalan di atas bumi.
“Su-suatu saat nanti saya pasti akan membalasnya, Neng. Saya pasti akan mengusahakan uang Neng bisa saya kembalikan…”
“Sudah tidak usah. Abi, bisa minta tolong bantu bawa motor Uwak ke bengkel depan?”
Haris mendengus kembali, tapi ia mengangguk.
Sekali lagi Nisa tersenyum.
Amat manis.
.::..::..::..::..::.
.:: SEKARANG
“Hhhh… hhh… hhh…” napas Nisa sangat berat dan terengah-engah, nafsu luar biasa menembus angannya yang sudah tidak karuan. Dia hanya ingin merasakan kenikmatan. Dia harus merasakan kenikmatan. Kenikmatan apapun itu. Dia ingin kepuasan. Dia ingin di-entot. Dia ingin digenjot.
Sekarang. Dia gatal sekali. Bibir kemaluannya. Dinding kemaluannya. Bahkan tubuhnya panas sekali. Ada gairah yang meluap-luap. Ada birahi yang meledak-ledak. Dia tenggelam dalam sukma yang mendambakan permainan cinta menggelora.
Kenikmatan. Dia butuh kenikmatan. Dia butuh …
Nisa merentangkan kakinya lebih lebar lagi, dan memegangnya dengan erat di depan batang kejantanan Uwak Sobri yang kian kencang menegak.
“Hhhh… hhh… hhh… kkk… kkk… kkkontol… kkkontoool… masukkkaaaaaan...!! Masukkaaan, Uwaaaakk!!”
Sekali lagi, Uwak Sobri mengedipkan mata pada Juki. Ia menempatkan kontolnya yang kencang besar di bibir kewanitaan Nisa. Perlahan-lahan, ujung gundul milik pria tua itu ditekan ke dalam.
“Ahaaaaaaakghhhhh!!”
Kepala Nisa terlontar ke belakang karena merasakan sesuatu yang berbeda dan jauh lebih besar dari yang selama ini ia dapatkan. Ibu muda itu memejamkan mata dengan pasrah. Ia meremas-remas dadanya sendiri.
“Aku tidak maaauuuu… tidaaakkk maauuuuuu… jangaaaaann… kenapaaaaa… kenapaaa? Tolong akuuuu… tolong selamatkan akuuuuu… jangaaan… siaaapapunn tolong aku…! Uwaaakkk… ampuuuun…..! Ampuuuuuuun…! Jangaaaaaan!! Aku sudah menikaaaaah!! Aku ini istri mas Harisss!! Tolooooong… toloooooong..!! Ampuun! Ampuun!! Ampuun!”
Uwak Sobri kegirangan, Mang Juki kesetanan.
“Uwaaaaaaaaaak!! Bajingaaaan kaaau bangkai tua siaaalaaaan!!” Kepalan tangan Juki berdarah karena memukul-mukul tembok tanpa hasil. Ia merasa putus asa. “Aku akan berteriak dan memanggil orang kampung sini, Wak. Sampeyan akan diarak dan dikuliti hidup-hidup!!” Ancam Juki.
“Biarin saja! Asal sudah bisa ngentotin bidadari paling indah di tempat ini, aku puaaass! Hahahaha! Memek Nisa adalah dambaan kita semuaaaaa!! Hahahahahah!!”
Nisa menatap ke arah Juki dengan pandangan kosong. Tolong. Dia minta tolong. Selamatkan dia. Selamatkan dia. Nisa dalam bahaya besar. Dia hendak diperkosa Uwak Sobri.
“Sudah saatnya, Neng. Bersiaplah.” Uwak Sobri menarik pinggulnya, lalu mendorong kemaluannya ke depan dengan sekuat tenaga.
Jleeebbbbb!!!
“Aaaaaaaaahhhhhhh!!!”
Nisa menjerit. Rasanya sakit tapi memuaskan. Gesekan yang ia terima dari batang penis Uwak Sobri di dinding vaginanya benar-benar memuaskan rasa gatalnya. Ketika penis itu menusuk semakin dalam. Semakin nikmat pula apa yang Nisa rasakan. Dinding vaginanya berasa digaruk. Dinding vaginanya berasa ditusuk.
Namun, ukuran penis Uwak Sobri yang terlampau besar membuatnya tersangkut di dalam. Penis itu tidak masuk lebih dalam lagi. Penis itu tertahan oleh lubang vagina Nisa yang begitu sempit.
“Hahahaha! Udah mentok nih? Saya jadi ragu. Jangan-jangan kontol Haris hanya bisa segini ya? Kok sayang banget, Neng? Kayaknya memek sempitmu itu belum dijelajahi dengan baik. Eman banget. Tubuh semulus ini seharusnya dimanfaatkan. Siap-siap ya! Hennkgghhh!!!”
Pria tua berkeriput itu dengan cepat menarik penisnya keluar, namun sebelum penis itu terlepas seluruhnya dari dalam vagina Nisa. Ia dengan bergegas kembali menusuknya dengan menggunakan kekuatan extra.
“Apa? Paakkk. Jangaaaan… A-aku… Aaaaahhhhhhh!!!”
Jelas saya Nisa berteriak. Tusukan Uwak Sobri yang begitu kuat rasanya seperti akan merobek liang senggamanya. Namun, rasa gatal yang masih ia rasakan, ditambah dengan muncul derasnya cairan cinta yang bertugas sebagai pelicin di dalam vaginanya membuat ia merasakan kenikmatan yang tak dapat ia jelaskan.
Tanpa sadar ia memejam nikmat. Tanpa sadar ia meremas kedua payudaranya dengan kuat.
“Ahhh… ahhh… ahhh…”
“Hahahahah. Enak kan, sayang?”
Lagi, Uwak Sobri dengan bangga menggoda Mang Juki dengan lirikan nakalnya. Kepuasan yang Nisa rasakan membuat Uwak Sobri merasa bangga karena bisa menaklukan bidadari paling indah sekompleks cluster kembang arum asri itu.
Nisa yang anggun, sukses, manis, sopan, ramah, dan jadi dambaan semua pria itu… kini sudah berhasil ia entotin.
“Hentikan! Hentikan sialaaann!!! Hentikan sekarang juga!” Mang Juki membentak. Darahnya sudah naik. Rasanya ia ingin membunuh pria tua yang sudah bau tanah itu.
“Hentikan? Hentikan lambemu mlocot! Gimana je? Orang baru enak-enak. Iya gak sayang? Kamu mau kontol saya kan?”
Wak Sobri pun menggoda Nisa yang sudah berada dipuncak gairah. Ia menarik keluar penisnya. Kehampaan yang ada di dalam vaginanya membuat Nisa kembali merasa gatal. Ia kesal. Ia pun menatap Uwak Sobri dengan tatapan penuh nafsu.
“Haaakghhh! Haaakkghh! Aah… ahhhh… Ken-kenapa? Kenapa dicabut? Tolong… tolong… panas… gatal… tolong… masukin lagi! Aku butuh kontol Uwaaakk! Aku butuh kontol uwaaaakk! Masukkkaann!! Masukkaaannn!!!” Nisa sampai menggeliat. Jemarinya tak pernah berhenti dalam meremasi payudaranya sendiri.
“Oh kamu butuh ini? Ini apa namanyaa?” Tanya Uwak Sobri sambil mengocok penisnya yang sudah mulai basah terkena cairan cinta Nisa.
“Konttoolll. Konttolll! Masukkaan. Masukkaann.”
Kesadaran Nisa semakin hilang. Akal sehatnya lenyap. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah kepuasan. Ia butuh kontol. Yang ada di pikirannya hanyalan penis raksasa berwarna hitam dengan serabut putih yang berada di atas pangkal penis tersebut.
“Kalau begitu tersenyumlah. Buat tatapan menggoda seolah kamu membutuhkan kontol saya!” Ujar Uwak Sobri yang begitu ingin merendahkan bidadari cantik itu.
“Iyaaa. Akan aku lakukan. Seperti ini? Seperti ini?”
Tanpa ragu lagi. Nisa menuruti permintaan yang pria tua itu inginkan. Ia dengan penuh nafsu tersenyum. Ia kemudian memberikan tatapan yang menggoda. Tubuhnya pun ia tekuk sedikit dengan kedua tangan yang ia taruh di sisi kanan kiri tubuhnya. Terlihat jelas kalau dirinya begitu ingin ditusuk oleh penis raksasa itu.
Nafsunya yang sudah memuncak membuat kedua payudaranya mengencang dan membesar. Susu bulat Nisa pun terlihat semakin indah. Susu bulat Nisa terlihat semakin menggiurkan. Liur sampai hampir menetes dari bibir Uwak Sobri. Jemarinya gemas. Ia ingin sekali meremas gunung kembar yang ukurannya menyerupai buah melon itu. Ia pun menatap keindahan Nisa dengan seksama.
“Hahahaha. Sungguh indah sekali tubuhmu ini sayang? Saya sangat menyukainya. Terutama dua melonmu ini.” Uwak Sobri dengan sigap meremas susu bulat Nisa. Nisa menggeliat. Mulutnya membuka. Mengeluarkan desahan yang merangsang gairah.
“Aaaahhhh Uwaaaakkk. Uwwaaaakkkk!.”
“Hentikaaan! Hentikaaaaannnn!!” Mang Juki hanya bisa berteriak. Tak peduli berapa kali ia memukul teralis itu. Teralis itu tidak pernah hancur. Justru tangan Mang Juki yang remuk hingga mengeluarkan darah karena berkali-kali memukul teralis itu.
“Kamu indah sekali, cantik! Pantas semua pria menginginkanmu. Wangi sekali tubuhmu. Kesinilah kupeluk,” Uwak Sobri dengan penuh nafsu menindih tubuh indah sang ibu muda jelita. Meski dirinya sangat ingin menyetubuhi tubuh Indah Nisa dengan segera. Rasanya sangat disayangkan kalau dirinya hanya langsung menyetubuhinya. Tidak semudah dan secepat itu. Ia ingin menikmati keindahan tubuh Nisa dengan perlahan-lahan.
Hasilnya, ia pun kini menjilati leher jenjang Nisa sambil beberapa kali mengecupnya.
“Aaaahhh Uwak Sobrriii. Aaahhhh Uwaaakk. Aaahh iyaahhh. Terruuss Ouuuhhhh.” Nafsu Nisa kian memuncak. Gairahnya semakin menjadi setelah dirangsang oleh Uwak Sobri.
“Sssllrrppp nikmatnyaaa. Wangi sekali tubuhmu inii sayaangg. Susumu juga, kenyal sekali! Puas sekali rasanya bisa meremas susu bulatmu ini.”
“Aaaahh iyaaahhh. Terusss waaakkkk! Jangaaan berhenttiiii. Aku butuh ituuu. Yangg kuaaatttt!!!”
Nisa hanya bisa mendesah. Matanya sesekali membuka dan sesekali menutup. Cengkraman tangan Uwak Sobri yang begitu kuat benar-benar menaikkan gairahnya. Darahnya pun berdesir ke seluruh tubuhnya. Juga kecupan yang ia terima di tengkuk lehernya membuatnya semakin tak tahan lagi. Tanpa sadar tangan Nisa memeluk tubuh Uwak Sobri. Tangannya seolah berkata kalau dirinya tak ingin terlepas dari rangsangan pria tua yang memiliki banyak uban di kepalanya itu.
“Apa ? Bu Nisa!!! Sadarlah! Sadarlaaah! Apa yang ibu lakukan! Ingat! Ingat pak Haris Bu! Ibu itu sudah bersuamii!” Sebisa mungkin Mang Juki berusaha untuk menyadarkan Nisa dari godaan hawa nafsunya.
Wak Sobri menengok ke arah Mang Juki. Ia begitu terganggu oleh teriakan-teriakan yang pria kekar itu lakukan.
“Jangan dengarkan sayaaang… Kamu gak mau kenikmatan ini hilang begitu saja kan?” Bisik Uwak Sobri di telinga Nisa.
Nisa mengangguk pasrah. Ia bahkan menatap Uwak Sobri dengan tatapan penuh nafsu.
“Mau saya cium?” Tanya Uwak Sobri yang dengan segera dijawab oleh Nisa.
Bidadari paling cantik se-kompleks kembang arum asri itu bergegas mengangguk. Bagai serigala yang menemukan domba gemuk. Bibir Uwak Sobri dengan cepatnya nyerocos ke bibir manis ibu beranak dua itu.
“Mmppppphhhhh!!!”
Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling dorong. Saling sepong. Saling nyelonong. Lidah pria tua itu juga ikut bermain dengan menjilati tepi bibir atas Nisa. Lidahnya menyapu keseluruhan bibir manis itu. Kemudian lidahnya nyelonong masuk melewati sela-sela bibir Nisa yang terbuka tanpa permisi.
Di kala Uwak Sobri mengapit bibir atas Nisa. Lidahnya pun berkelana menggeliat menjelajahi rongga mulut Nisa. Ia menjepitnya, lalu menariknya dengan pelan, tak lupa ia juga mengirim ludah busuknya ke dalam mulut Nisa.
Bidadari cantik yang sudah bertelanjang bulat itu hanya bisa pasrah menerima semua tindakan pelecehan yang dilakukan oleh pria tua itu. Ia bahkan menelan ludah yang Uwak Sobri kirimkan. Uwak Sobri pun tersenyum. Ia semakin tak tahan untuk menggenjot tubuh ramping bidadari cantik itu.
“Sungguh binal sekali dirimu cantik. Kamu suka ludah saya ya? Nih telan cuiihhh!” Uwak Sobri mengangkat kepalanya hingga menjauh dari wajah ayu Nisa. Lalu dengan nakalnya, ia meludahi mulut Nisa yang terbuka hingga langsung masuk ke dalam mulutnya.
Gleg!
“Mmpphhh. Iyaahh paak. Aku sukaaa!”
“Apa, Bu Nisa! Sadarkan dirimu Bu! Hentikan! Jangan kotori dirimu lagi!” Mang Juki pasrah. Ia sedih melihat Nisa yang ia kenal telah sebinal ini.
“Kalau gitu sakan saya beri hadiah. Kamu pasti menanti ini kan?” Ujar Uwak Sobri yang kembali menempelkan ujung gundulnya ke bibir vagina Nisa yang sudah sangat basah.
“Aaaahhhh iyaahhh. Iyaahhh paakk. Masukkan. Masukkaaannn.” Nisa melebarkan kakinya tanpa sadar. Ia begitu terbuka dalam menyambut pejantan yang ingin memuasinya itu.
“Hahahha… Baik… Baik… Akan saya masukkan… Rasakaan ini, Hennkgghhhh!!!” Uwak Sobri langsung menusukkan batang penisnya kembali dengan satu kekuatan penuh. Sementara kedua tangannya mencengkram pinggang rampingnya.
“Aaaaahhhh iyaaaaahhhh!!!” Tubuh seksi Nisa terangkat. Wajahnya pun ia dongakkan ke belakang sambil memejam.
“Hahahaha… Indahnya… Tapi ini masih belum cukup… Rasanya masih belum mentok… Terima iniiii… Hennkggghhh!!!” Penisnya yang baru masuk setengahnya dirasa belum memenuhi keseluruhan rongga vagina Nisa. Uwak Sobri kembali menarik penisnya pelan sebelum menusuknya kuat-kuat.
“Aaaahhh bapaaaakkkk… Mmppphhhh.” Nisa terus saja memejam di kala kedua tangannya mendekap tangan keriput Uwak Sobri dipinggangnya.
Kini, tujuh puluh lima persen penis Uwak Sobri sudah masuk… namun… rasa puas yang pria tua itu miliki terasa belum tuntas kalau belum mementokkan keseluruhan penisnya ke dalam vagina Nisa. Padahal, panjang penisnya saja sampai delapan belas sentimeter. Sementara diameternya berukuran lima sentimeter. Terbayang kenikmatan yang Nisa dapatkan, terutama saat penis itu masuk seluruhnya ke dalam rongga vagina Nisa.
“Uwaaaaaaaaahhhh nikmatnyaaaaaaa!!! Enaaaaaaaaaak sekaaaali!!”
Uwak Sobri berteriak nikmat dikala ujung gundulnya menyundul ujung rahim bidadari cantik itu. Ia mendesak, mendorong, menyentak berulang, mementokkan ujung gundul batang kejantanannya ke dalam liang cinta sang ibu muda. Berulang-ulang kali sampai ujung gundulnya benar-benar menyentuh ujung yang terujung.
Uwak Sobri terengah-engah dan terhenti.
Nisa pun tergeletak tak berdaya. Tubuhnya lemas. Keringat membasahi sekujur tubuh bidadari cantik itu.
Mang Juki geram sekali menyaksikan wanita yang selama ini sangat ia dambakan dan puja itu diperkosa oleh seorang pria tua buruk rupa. Wajahnya pun menunduk. Ia tak sanggup menatap bidadari pujaannya dinodai sedemikian rupa oleh kakek binal tersebut.
“Hhh… hhhh… hhh…” Mata Nisa kabur. Baru ditusuk saja sudah senikmat ini. Ia tak membayangkan bagaimana kalau vaginanya bakal ditusuk secara terus menerus oleh penis yang bentuknya menyerupai pentungan satpam itu.
“Aaaaahhhh.” Nisa menjerit pelan dikala vaginanya merasakan adanya gesekan dari penis keras Uwak Sobri.
Mang Juki mengangkat kepalanya karena khawatir. Ia terkejut saat melihat pinggul Uwak Sobri sudah bergerak maju dan mundur.
“Hahahaha nikmat sayang? Kamu pikir udahan? Tentu saja belum selesai. Gimana kalau begini?” Pinggul Uwak Sobri makin lama makin bergerak cepat. Pinggulnya yang mulanya hanya bergerak maju dan mundur secara teratur. Kini mulai bergerak secara tak beraturan. Ada kalanya ia mendorong pinggulnya cukup lama hingga ujung gundulnya menyundul dinding rahim Nisa dengan kuat. Ada kalanya ia menarik mundur pinggulnya secara perlahan lalu menyundul rahim Nisa kembali dengan kuat.
Wak Sobri terus melakukannya selama hampir lima menit. Ia terus menggempur rahim Nisa tanpa pernah merasa lelah.
“Aaahhhh. Aaahhhh. Iyaaahhhh. Terusss Waakkk. Terusss.”
“Aaahhhh. Aaahhhhh nikmat sekaliii. Nikmat sekali rasanya memekmu ini sayaanggg.”
“Aaaahhhh yang keraass Waaakkk… Lagiiiii... Dorroonggg lagii… Lebih kencaaanggg!!!”
“Aaahhhh. Aaahhhhh. Hahahhaa. Yang sabar dong sayaangg. Saya pasti akan melakukannyaa. Lihat ini henkkgghhh!!!” kali ini Uwak Sobri melakukannya lagi dengan irama yang kencang namun teratur. Tubuh mungil Nisa tersengal-sengal naik turun, payudaranya berguncang erotis membuyar dan menyatu bagai riak air.
“Aaaahhhhh iyaahhh seperti itu… Teruss Waakkk… Terusss… Aahhhhh… Aaaaahhhhh.”
Tubuh telanjang Nisa terdorong maju dan mundur. Payudara Nisa juga bergoyang maju dan mundur. Cengkraman kuat yang dilakukan oleh Uwak Sobri di pinggang Nisa membuat pinggulnya bisa bergerak dengan kuat dengan begitu bebasnya.
Setiap hempasan yang pria tua itu lakukan memberikan kenikmatan yang baru pertama kali ini Nisa rasakan. Entah kenapa suaminya tak pernah memberinya kepuasan seperti ini. Selain itu, suaminya juga tak bisa memberinya penis yang besar dan sekuat penis Uwak Sobri. Nisa sampai merem melek. Bibirnya pun terus terbuka mengeluarkan desahan demi desahan yang merangsang birahi Uwak Sobri.
“Aaaaahhhhh… Aaahhhhh… Aku mau keluaaar… Aku mauu keluuaar Waaakkkk…” Desah Nisa yang sudah berada di ambang batas.
“Aaaahhhhh… Aaahhhhh… Saya juga… Taahaaan sebentar lagi sayaanggg… tahan sebentaaaar… Mari kita keluarkan bersama!”
Mang Juki yang mendengarnya merasa marah, Ia sangat tidak terima andai bidadari surganya bakal di-creampie oleh pejuh Uwak Sobri.
Brk. Brk. Brk.
Tangan Mang Juki terus memukul-mukul teralis. Tak peduli dengan darah yang terus keluar. Ia terus memukulnya sambil merintih memanggil nama bidadarinya. “Bu Nisaaaaa! Bu Nisaaaaaaaa!! Sadarlaaah!! Sadarlaaah!!”
“Aaahhhh… Aaahhhh… Aaahhhhh… Hahahha dasar menyedihkan!” Uwak Sobri hanya tertawa melihat wajah Mang Juki yang menurutnya terlihat pilu, bagai pungguk merindukan bulan. Ia pun kembali fokus menatap wajah ayu Nisa. Jepitan vagina Nisa yang begitu kuat di penisnya memberikan sensasi tersendiri dalam menyenggamai bidadari cantik ini.
“Aaahhh Uwaakkk… Uwaaakkkk… Aakkuuuuuuu…”
Pria tua berkeriput itu terus melaju menggempur vagina Nisa dengan penuh semangat. Hasrat yang semakin menggebu membuat pinggulnya bergerak semakin cepat dan cepat. Pinggulnya semakin menggempur dengan keras. Hingga berbunyi suara koplokan yang begitu bertenaga.
Plokkk… Plokkk… Plokkk…
“Aaahhh… Sayaaangggg… Sayaaangggg….”
Mereka berdua sudah berada diambang batas. Nafas keduanya sudah sesak. Keduanya sudah hampir mencapai klimaks.
“Aaaahhhh rasakaaannn iniiiiiii!!!” Tiba-tiba dengan satu hentakan yang kuat. Uwak Sobri menancapkan penisnya dalam-dalam di dalam rahim Nisa.
Jleeebbbbb!!!
“Aaahhhh Uwaaaakkkkkkk!!!”
Crrooottt… Croootttt… Crooottt….
Semprotan sperma dengan deras membanjiri rahim kehangatan Nisa. Rahimnya itu telah penuh. Rahimnya itu telah dibanjiri oleh lautan pejuh.
“Aakuuuu kelluuaaarrr!!!” Belum lagi ketika cairan cinta Nisa ikut keluar membanjiri rahimnya. Akibat muatan yang tidak muat. Beberapa ada yang sampai keluar melewati sela-sela sumpalan penis Uwak Sobri.
“Tidaaaakkkkkk!!!” Mang Juki tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bidadari surganya. Wanita yang sebenarnya diam-diam sangat ia kasihi. Wanita yang diam-diam ia cintai, wanita yang seakan adalah belahan jiwanya… telah ternoda oleh seorang lelaki tua. Laki-laki durjana yang telah memperkosa wanita yang dikaguminya.
Berulang kali Mang Juki menangis, harga dirinya hancur, ia tak sanggup menyelamatkan sang bidadari surga. Ia merasa sangat bersalah dan nista, ia tak sanggup berbuat apa-apa. Ia bahkan sampai menjedotkan kepalanya ke teralis rumah si pemerkosa itu. Ia marah sampai berteriak sekencang-kencangnya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa tidaaak mungkinn… Tidaaaaakkkkk!!!”
Betapa hancurnya hati Mang Juki setelah melihat pelecehan yang terjadi pada Nisa tepat di depan matanya. Sebagai seorang lelaki, ia merasa gagal dalam melindungi wanita pujaannya. Ia merasa kecewa. Ia meratapi kekalahannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sementara itu Nisa sudah terkapar tak berdaya setelah diberi kepuasan. Ia pingsan. Ia tak sadarkan diri dengan lelehan sperma yang keluar perlahan dari sela-sela rongga sempit vaginanya.
Ia pun tertidur seorang diri.
Seorang diri.
Ya, seorang diri.
Kemana Uwak Sobri pergi?
Tanpa disadari Mang Juki. Uwak Sobri menghilang tepat dihadapannya tanpa terdeteksi bagai ahli sulap. Tenggelam dalam nestapa, Mang Juki tak menyadari ada seseorang yang menyeringai sambil mengendap-ngendap mendekatinya.
Sebuah tongkat panjang berwarna hitam dipegangnya dengan kuat menggunakan tangan kanan. Ia terkekeh-kekeh melihat Mang Juki perkasa itu hanya bisa menangis sambil membenturkan kepalanya pada teralis rumahnya. Pria itu tua tapi kokoh.
Pria tua itu? Ya, pria tua itu.
Pria yang memegang tongkat yang biasa digunakan oleh satpam itu tidak lain tidak bukan adalah Uwak Sobri. Sang penghuni rumah contoh ini.
Uwak Sobri sempat mencibir dan menggelengkan kepala melihat kondisi Mang Juki. Dia tahu sekali ada beberapa wanita yang pernah jadi mangsa Mang Juki. Ya, dia juga bukan laki-laki suci. Playboy kampungan. Jadi laki-laki kok begini amat.
“Menyedihkan!”
Satu kata. Satu hantaman.
Bruk!
Sebuah pukulan dengan kuat mengenai kepala bagian belakang Mang Juki. Pandangan Mang Juki pun berkunang-kunang. Ia terbaring di samping kamar Uwak Sobri dalam posisi tengkurap. Kedua tangannya mencoba bangkit. Kedua kakinya mencoba untuk beridiri.
Bruk!
Lagi, sebuah hantaman kembali mengenai kepala bagian belakang Mang Juki.
Pria kekar berambut kriting mirip Ronaldinho itupun pingsan. Ia terkapar tak berdaya dengan luka di dahi serta jemari-jemarinya.
“Hahahaha… dibilangin ga percaya sih… Udah betul ikut saya menikmati Nisa bareng-bareng… Eh malah sok pengen menikmati Nisa sendiri… Dasar munafik! Pasti kamu diam-diam juga sange ngeliatin Nisa dientot sampai klojot-klojot kan? Makan tuh tongkat!” Ujar Uwak Sobri sambil membanting tongkat satpamnya ke lantai.
Ia lekas berjongkok, lalu memelorotkan celana Mang Juki.
“Nah kan ngaceng? Dasar munafik! Hahahaha.” Uwak Sobri pun melepas tuntas celana yang Mang Juki kenakan. Setelah itu ia kembali berdiri sambil menatap Nisa yang masih terbaring pingsan di atas ranjangnya.
Ingatannya terbersit pada sebuah peristiwa. Pada satu makian yang sangat menyakitkan hatinya. Jantung dan emosi Uwak Sobri berpacu. Suatu kejadian di dekat Nisa Cakes pada suatu waktu. Kejadian yang membuatnya trauma naik motor seorang diri. Bentakan seorang pria yang selalu ia ingat dan ia rekam dalam memorinya.
“Apa!? Uang segini… Memangnya kamu pikir aku tidak punya duit? Tidak butuh duit kamu!!”
Seketika pria tua itu tersenyum. Ia terpikirkan sebuah ide.
“Kamu itu bloon. Ditawari yang instan minta yang premium. Benernya kamu ga jauh beda, kamu juga pengen mencicipi memek binor ini kan? Munafik bangsat! Ini akibatnya kalau berani menganggu rencanaku. Hahahahha.”
Uwak Sobri menelanjangi tubuh Mang Juki. Ia lalu menarik kaki pria kekar itu melalui jalur belakang menuju ranjang tidurnya. Saat sampai di dalam, Uwak Sobri menggeletakkan tubuh polos mang Juki di lantai kamar tidurnya.
“Eh bentar-bentar…” Ada sesuatu yang tidak pas. Pria tua itu melirik lagi ke arah tubuh Juki dan mengamatinya, “Uasuuu…!! Dasar ngerepotin. Kalau ini mah kudu dibersihin dulu darahnya. Supaya tidak terlihat mencurigakan. Aseem emang kamuuu. Sudah pingsan aja masih bikin repot.”
Ia kemudian bergegas ke ruang tamu untuk mengambil kapas dan tisu untuk mengelap luka di jemari dan dahi Mang Juki. Ia bahkan ke kamar mandi untuk mengambil sebaskom air yang nantinya akan ia gunakan untuk membasuh luka Mang Juki dengan handuk yang ia miliki.
Setelah dirasa cukup pas dan tidak terlihat ada luka, Uwak Sobri mengelap sisa air di dahi dan jemari Mang Juki dengan handuk lain. Lalu secara berhati-hati ia tidurkan Mang Juki yang sudah bertelanjang bulat itu di sebelah Nisa yang masih pingsan.
Tidak hanya itu, ia bahkan memposisikan lengan Mang Juki seolah tengah menjadi bantalan kepala Nisa. Lalu tangan satunya ia taruh diatas payudara kanan Nisa. Sudah puas sampai di situ saja? Tentu saja tidak. Kurang dramatis. Uwak Sobri mengorek vagina Nisa untuk mengambil sisa sperma miliknya dan ia oleskan secara berhati-hati di ujung gundul penis mang Juki.
Agak geli sih rasanya saat menyentuh penis milik pria lain. Namun sengaja ia lakukan demi membuat konspirasi yang akan menggegerkan cluster Kembang Arum Asri dan desa-desa di sekitarnya.
Uwak Sobri melangkah ke sisi Nisa. Ia mengelus dahi ibu muda itu dan mengecup pipi lembutnya dengan penuh rasa sayang, “Hahahahah. Ini sempurna sekali. Sungguh sangat sempurna. Maafkan aku, Nisa… kamu memang baik padaku, tubuhmu juga nikmat sekali, memekmu rapat dan lezat. Tapi aku tidak akan pernah lupa penghinaan dari suamimu itu. Itu sebabnya, kamu yang harus menjadi tumbalnya. Suamimu harus diberi pelajaran dan satu-satunya hal yang bisa membuatnya hancur… adalah kehancuranmu.”
Uwak Sobri tertawa. Ia membayangkan kemenangannya sebentar lagi.
Tuttt. Tuttt. Tuttt.
Pria tua itu terkejut saat mendengar suara dering telpon berbunyi. Tubuhnya sampai hampir melompat.
“Kampret!! Apaan tuh?!” gerutu Uwak Sobri sembari mencari sumber suara. Ia khawatir suara itu dapat membangunkan Mang Juki dan Nisa yang tengah pingsan. Ia mencari-cari dan bergegas menuju sumber suara. Suara ini… ah… rupanya dari hape Nisa. Ia mengambil ponsel itu dan memandang layar hapenya. Di sana ia mendapati nama kontak Aida kesayangan tante Nisa tengah mencoba menghubungi.
“Apa sih ini? Alay banget. Hahahaha,” tawa Uwak Sobri yang lekas mematikan panggilan telepon tersebut.
Tak lupa, ia segera meraih ponsel yang ia miliki lalu memotret foto demi foto yang memperlihatkan seolah Mang Juki dan Nisa baru saja berzina lalu tertidur pulas karena saking lelahnya. Tak cukup dengan foto, pria tua itu lalu merekam sebuah video untuk mendukung langkah taktis rencana jahatnya.
Ia terkekeh sambil memberikan laporan.
“Lihat semuanya. Ditinggal suaminya ke luar kota, Bu Nisa yang selama ini kita kenal alim itu, memilih berzina dengan Mang Juki. Bayangkan! Mang Juki! Tukang serabutan yang sudah kita kenal sudah menikah dengan bu Winda! Edan bukan? Ternyata semua wanita sama aja ya. Gak peduli dengan hijab yang ia kenakan, kalau lagi sange ya sange. Beruntung sekali Mang Juki bisa mencicipi tubuh Nisa yang indah ini. Liat nih susunya, pinggangnya, oh ya rambutnya yang tergerai. Anjir liat memeknya, ada pejuh. Siapa lagi pemilik pejuh ini kalau bukan kontol laknat ini. Liat, masih ada sisa pejuhnya di sana. Ini sengaja gak saya bangunkan biar jadi bukti otentik. Kita harus sidang keduanya! Kalau perlu kita arak keliling karena sudah bikin malu perumahan kita. Setuju?”
Rekaman berakhir. Uwak Sobri tampak begitu puas. Sekali lagi ia mendekati wajah Nisa yang masih sangat cantik meski sedang tertidur pulas. Ia merapikan rambut Nisa yang tergerai indah dan sekali lagi mengecup pipinya yang menggemaskan.
“Maafkan aku, cantik. Tapi dirimu akan menjadi pion yang akan menyelamatkan aku dari tuduhan perkosaan. Kamu akan menjadi bintang besar dari fitnah yang baru saja kubuat. Terima kasih karena sudah rela menjadi korban. Terima kasih juga karena sudah mengijinkan aku mencicipi tubuh indahmu ini. Hahaha. Dulu kamu baik sekali padaku, bahkan sampai memberikan aku uang. Sekali lagi… terima kasih atas tubuhmu, Manis.”
Uwak Sobri pun mencumbu bibir Nisa karena saking gemasnya. Ia lalu meninggalkan keduanya sambil tertawa berjalan menuju keluar kamar.
“Tunggu kabar dariku ya, sayang… ini akan menjadi sangat mengejutkan. Sangat amat mengejutkan. Hahahahaha…”
.::..::..::..::..::.
.:: BEBERAPA JAM KEMUDIAN
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana sangat tenang dan sepi di cluster Kembang Arum Asri. Hanya terdengar pukulan kentongan di salah satu sudut desa yang memang biasanya bergantian ronda keliling. Baik Kampung Growol, Kampung Bawukan, maupun cluster Kembang Arum Asri punya kelompok rondanya masing-masing.
Di sebuah ranjang tidur yang cukup empuk. Seorang pria menggeliat lalu mengubah posisi tidurnya menjadi miring ke samping sambil memeluk guling yang ada di sebelahnya. Entah kenapa rasanya sangat nyaman malam ini. Guling itu begitu lembut dan halus. Teksturnya begitu mulus dan empuk, aromanya pun wangi. Apalagi saat merasakan gundukan kenyal saat tangannya ia gerakkan naik ke atas. Ia meremas gundukan yang kenyal itu beberapa kali.
Hmm? Apa ini? Guling macam apa yang mempunyai gundukan? Lucu juga gulingnya. Baru kali ini dia punya guling yang lucu seperti in… lho… tunggu sebentar… sepertinya ada salah.Sejak kapan dia bisa tidur di ranjang yang empuk dan punya guling yang halus!? Ah. Mimpi nih pasti. Tidak mungkin kenyataan. Masa iya nyata? Memang di mana dirinya kok sekarang bisa menikmati kenyamanan seperti ini?
Pasti ini mimpi.
Perlahan mata pria itu terbuka. Matanya berkedap-kedip sambil berusaha mengumpulkan nyawa. Awalnya cukup loading. Ia mencoba berpikir dan mencerna apa yang baru saja terjadi. Jam berapa ini?
Kenapa suasananya terasa asing dan…
“LOH!”
Pria tua berbadan kekar dengan rambut gondrong keriting itu terkejut hingga meninggikan suaranya. Bahkan wanita cantik yang tengah tertidur di sebelahnya pun ikut terbangun akibat suaranya.
Keduanya sama-sama terkejut dan terbelalak karena keduanya sama-sama telanjang bulat.
“AAAAHHH!.”
Wanita cantik yang bugil itu secara reflek menutupi tubuhnya menggunakan tangan seadanya. Tangan kanan menyilang di dada menutup pentil, tangan kiri menutup bagian selangkangan menutup bibir vagina. Wajahnya juga ia tolehkan ke samping membelakangi pria kekar itu. Ia merasa terkejut dan malu. Bagaimana bisa dirinya yang sudah bersuami tengah telanjang bulat di sebelah seorang pria beristri yang juga sama-sama sedang bertelanjang bulat!?
“A-apa yang Mang Juki lakukan!? Apa yang Mang Juki lakukaaaaaan!?”
“B-Bu Nisa! Sa-saya bisa jelaskan! Ini tidak seperti yang ibu kira! Saya…“
Mang Juki berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi. Seketika ia merasa perih di kepalanya. Pangkal jemarinya juga saki. Dengan mata setengah terbuka menahan perih, ia mencoba menatap kedua tangannya yang entah kenapa berwarna merah lebam.
Nisa juga diam-diam mulai mengingat-ngingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Tubuh telanjang bulat di ruangan yang tidak begitu asing. Seketika ia teringat. Perlahan demi perlahan ingatan mulai terangkai dipikirannya. Bagaikan sebuah puzzle. Ia mulai menyusun semuanya hingga dirinya betul-betul teringat kejadian semalam.
“…Wak Sobri.”
Mang Juki perlahan mulai mengingat kejadian semalam. Seketika ia sadar atas apa yang terjadi pada Nisa. Ia lekas menoleh. Ia terkejut mendapati Nisa sesunggukan di sebelahnya. Sepertinya ia juga sudah menyadari apa yang terjadi.
“Bu Nisa…? Bu Nisa tidak apa-apa?” Mang Juki mencoba serius, jujur hatinya teriris setelah mendapati wanita pujaannya menangis.
Nisa tak menjawab. Ibu muda jelita itu hanya meringkuk dan membungkuk. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia bahkan memiringkan tubuhnya membelakangi mang Juki. Betapa sedihnya ibu muda cantik itu saat ingat dirinya secara suka rela menyerahkan tubuhnya pada Uwak Sobri.
Entah apa yang terjadi sampai-sampai dirinya seperti itu. Ia merasa malu. Ia merasa sangat malu. Ia telah kotor, ia menjijikkan, ia ternoda, ia bukan istri dan ibu yang berharga lagi, ia sampah yang pantas dibuang di comberan. Deras air mata Nisa mengucur. Ia merasa sangat hina karena sudah melakukan perzinahan di luar batas kesadarannya itu.
Mang Juki kembali berpikir, ada satu hal yang janggal. Ia memang mengingat kalau semalam ia menonton Nisa diperkosa mang Juki. Tapi kenapa dirinya sekarang juga telanjang bulat? Kenapa juga ia terbangun di sebelah Nisa yang masih telanjang?
Mang Juki bertanya-tanya. Tapi rasa sakit dikepalanya membuat ia mengerang kecil sambil memegangi kepalanya. “Ah!”
Nisa menoleh ke belakang. Ia melihat Mang Juki meringkuk sambil memegang kepalanya yang sakit. Nalurinya sebagai seorang wanita yang cenderung mendahulukan orang lain ketimbang dirinya membuat ia bergegas bertanya.
“Ma-Mang Juki? Mamang kenapa?” Nisa bahkan bangkit ke posisi duduk setelah melihat rasa sakit yang begitu serius dari tukang serabutan itu.
“Ti-tidak tahu, Bu. Rasanya nyut-nyutan sekali. Tapi saya baik-baik saja kok.” Mang Juki buru-buru turun dari ranjang tidur Uwak Sobri. Saat itulah, tak sengaja mata Nisa menatap penis jumbo Mang Juki untuk kesekian kalinya, ukurannya yang begitu luar biasa selalu berhasil membuat Nisa takjub.
“Bu?”
“A-ah ya, Mang?” Nisa yang sesaat lupa menutup badannya buru-buru menyilangkan kembali tangan di dada dan selangkangan.
Saat Mang Juki hendak melangkah, Ia menyadari bahwa jendela teralis yang membuat tangan dan kepalanya terluka sudah dicopot dari sana. Ia memiringkan kepalanya dan terheran-heran. Pria berkulit gelap itu mengeluarkan kepalanya melalui jendela yang terbuka dan mengamati keluar, lalu melihat ke rumah, dan ke titik-titik gelap. Tangannya kemudian menyentuh sisi-sisi jendela.
Ini aneh. Bukankah kemarin teralis ini…?
Ah, tapi ini kesempatan yang pas buat kami untuk kabur. Ada baiknya keluar dari sini sebelum Sobri Bajingan itu kembali!
“Bu Nisa, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Si bajingan Sobri sepertinya sedang tidak ada di rumah. Entah kemana dia. Ayo kita pergi dari tempat terkutuk ini!” Ajak Mang Juki kepada bidadari surganya itu.
Nisa mengangguk, ia lantas menengok ke kanan kiri. Loh? Kok tidak ada?
“Ta-tapi Mang. Bajuku. Bajuku mana?” Nisa mondar-mondar mencari bajunya. Mang Juki pun baru tersadar kalau ia juga tidak mendapati bajunya ada di sekitarnya. Ada kemungkinan Uwak Sobri bajingan itu membuang baju mereka berdua.
“Sudah tidak ada waktu. Kita pergi sekarang!” Ajak Mang Juki yang khawatir andai Uwak Sobri keburu pulang sehingga membuat kesempatannya untuk kabur menipis.
“HAH? Kayak gini? Gak pake apa-apa?” Nisa terkejut. “Yang benar saja, Mang!”
“Ayo!! Kita tidak punya waktu lagi!” Mang Juki pun menarik lengan Nisa lalu berlari sekuat tenaga untuk menjauh dari rumah terkutuk itu.
Nisa yang berlari tanpa berpikir membuat dua bongkahan kenyal di dadanya meloncat-loncat dengan erotis. Tak lama, mereka sampai di gerbang depan. Mang Juki pun menggeser gerbang itu dengan berhati-hati agar suaranya tidak membangunkan Uwak Sobri atau warga desa lain yang menyadari ketelanjangannya dan Nisa saat ini.
Tanpa sempat menutup gerbang itu lagi. Ia pun berlari mengajak Nisa menjauh secepat mungkin. Tanpa disadari oleh mereka berdua. Sepasang mata memperhatikan mereka sedari tadi. Sesosok pria tua keriput dengan uban yang menghiasai kepala lonjongnya itu terkekeh-kekeh melihat tingkah laku mereka.
“Maang! Aduuuuh! Aku malu ini! Masa begini sih!? Maaaaang!” ujar Nisa yang baru pertama kali ini lari tanpa sehelai benang pun di jalanan cluster Kembang Arum Asri.
“Jangan banyak berpikir dan terus berlari! Ini demi keselamatan kita. Yang terpenting kita menjauh dulu dari bajingan tua itu!” ucap Mang Juki yang terus berlari sambil menarik tangan Nisa.
Tatapan mata Mang Juki lurus menatap ke depan, meski sesekali matanya melirik ke samping untuk melihat keindahan tubuh sang binor tersebut. Mang Juki toh juga laki-laki normal. Siapa sih yang tidak ingin melewati kesempatan? Siapa yang tidak tergiur dengan indahnya tubuh Nisa? Penisnya saja terus menegak. Dalam hati tentu dirinya sangat ingin menikmati tubuh sang ibu muda, tapi masa ya sekarang? Di saat mereka dalam bahaya? Dia brengsek tapi tidak sebrengsek itu. Dia bukan lelaki seperti itu. Keselamatan Nisa jelas yang utama. Ia tidak sudi melihat Nisa dilecehkan lagi oleh bajingan tua itu.
Beruntung jarak rumah Nisa dan rumah paling depan tidak jauh dan tak ada kendala dalam perjalanan karena mereka tak melewati gang pos ronda serta memilih melalui gang yang lebih sepi. Mang Juki hapal jalanan mana yang sepi di tengah malam dan mana yang tidak. Dia juga sering ronda dan keliling di sini.
Tak lama kemudian. Mereka berdua tiba di depan rumah Nisa. Dengan segera keduanya masuk ke dalam rumah yang tak dikunci.
“Oke kita aman disini. Seenggaknya Bu Nisa tidak bertemu dengan bajingan tua itu.” Bisik Mang Juki setelah mengunci pintu rumah Nisa dari dalam. “Di mana anak-anak?”
“Sa-sama… Yuna… sama… aku… aku tidak bisa… aku bukan seperti itu… itu bukan aku… aku tidak akan pernah…”
Mang Juki berbalik.
Saat ia berbalik, ia mendapati Nisa dengan mata yang berkaca-kaca tengah menatapnya dengan tatapan sedih. Rasa sakit, malu dan kecewa telah berkumpul menjadi satu di hati Nisa. Mang Juki pun bingung dengan tatapan itu. Ia lebih bingung lagi ketika tiba-tiba Nisa berlari ke arahnya lalu melemparkan tubuh seksinya untuk memeluk tubuh kekar mang Juki.
Tanpa banyak kata, Nisa memeluk sang pria tua. Nisa menangis. Air matanya mengucur deras membasahi dada bidang Mang Juki.
Mang Juki pun terdiam.
Kedua tangannya ia biarkan menggantung di sisi kanan kiri tubuhnya. Tatapannya kosong menatap ke arah depan. Ruangan yang gelap karena lampu ruangan tak dinyalakan. Sungguh ia juga bingung harus berbuat apa.
“A-aku takut, Mang,” suara serak Nisa tambah parau, tubuhnya bergetar hebat, gemetar. Antara ketakutan, kedinginan, juga merasakan kesedihan yang amat sangat, “A-aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Apa yang terjadi tadi… bukanlah aku. Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu… aku tidak akan suka rela melakukan perbuatan sehina dan seburuk itu… apalagi dengan laki-laki brengsek seperti dia!”
Mang Juki memejamkan mata, ia kembali dihantam oleh memori saat tubuh indah Nisa bergejolak disentak-sentak penis besar Uwak Sobri.
“A-aku takut, Mang… tolong aku… jauhkan aku dari orang itu… aku tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa… aku… aku…” saat Nisa berbicara dan berkeluh kesah, air matanya terus mengalir. Kata-katanya terus keluar, seakan ia menggunakan lisannya untuk berbicara dan mengosongkan beban di hatinya, “Aku sudah diperkosa, Mang… a-aku… aku… diperkosaaaaa… akuuuu diperkosaaaa… aku diperkosaaaaaaaaa…”
Nisa luruh ke bawah sambil sesunggukan dan memeluk kaki Mang Juki. Ia tersedu-sedu. Wanita yang biasanya anggun, tenang, dan keibuan itu kini hanyalah wanita lemah tak berdaya yang baru saja menjadi korban rudapaksa.
Selayaknya pria yang mengetahui isi hati wanita. Mang Juki tidak mengucapkan sepatah katapun selain mendengarkan keluh kesahnya. Ia sangat paham ketika wanita berbicara hingga menangis, dia butuh seseorang untuk mendengarkan.
Mang Juki mengangkat Nisa ke atas, dan membalas pelukan sang ibu muda itu. Ia memeluknya dengan erat hingga dirinya dapat merasakan tekanan dari dada bulat Nisa di tubuhnya. Rasa nyaman dan rasa aman yang Mang Juki berikan membuat Nisa terus saja mencurahkan semua keluh kesah sampai hatinya plong, semua rasa sakit, semua rasa pedih, semua rasa kecewa pada diri sendiri ditumpahkannya dengan tangisan yang kunjung usai.
Tapi Nisa merasa tenang.
Ia merasa tenang dengan kehadiran Mang Juki di sisinya.
“Kita tidak bisa melakukan apa-apa sebelumnya, ini semua perbuatan terkutuk Uwak Sobri. Bukan salah Bu Nisa – bidadari surgaku. Aku juga minta maaf tidak bisa membantu karena kelicikan bajingan tua itu.”
Nisa membenamkan kepalanya di dada Mang Juki.
“Sebaiknya kita berdua istirahat dulu malam ini karena sama-sama lelah.”
“Besok aku tidak mau bertemu siapapun,” suara Nisa terdengar bindeng karena masih terus menangis, “aku tidak mau. Aku tidak mau, Mang…”
Mang Juki paham trauma yang dihadapi Nisa membuatnya malu bertemu orang yang bahkan tidak paham masalah yang tengah dihadapi sang ibu muda itu.
“Tenang saja, selama Bu Nisa membutuhkan, saya akan di sini. Menjaga Bu Nisa. Saya tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Ibu. Sudah… kita sudah sama-sama di tempat aman dan semua sudah berlalu, saya tahu ibu pasti sangat lelah dan shock, sebaiknya istirahat dulu. Saya akan tetap berada di sisi Ibu. Saya akan melindungi Ibu,” Mang Juki mencoba menenangkan Nisa sebisanya.
Nisa menatap laki-laki berparas buruk rupa tapi berhati mulia baginya itu. Nisa saat ini membutuhkan sosok pelindung yang membuatnya perlahan merasa luluh.
“Kenapa…?”
“Karena ibu… adalah bidadari surgaku.”
Nisa menunduk. “A-aku istri orang, Mang. Aku…” Nisa tercekat, “Meski sudah ternoda, aku masih tetap istri sah Haris. Aku tidak…”
“Ssst… yang penting Ibu sekarang aman dan tenang. Saya akan melindungi Ibu. Tidak usah berpikir macam-macam. Saya akan selalu berada di sisi ibu.”
“Ma-Mang Juki akan tetap di sini kan? Tidak akan pergi kan? Tolong Mang, di sini saja dulu. Jangan kemana-mana… aku takut,” kata Nisa sambil mengangkat kepala dan menatap lelaki tua itu. “A-aku tidak akan bisa… kalau…”
“Iya saya akan di sini, Bidadari Surgaku. Saya akan selalu bersama Ibu dan menemani siang malam. Kapanpun dan dimanapun.”
Mang Juki hanyut dalam peran pelindung yang dibutuhkan Nisa. Keduanya sama sekali tidak peduli sama-sama tak memakai sehelai benangpun. Nisa menatap Mang Juki, pria tua itu menatap balik. Nisa memejamkan mata, Mang Juki menurunkan kepala dan nekat memberikan kecupan di kening Nisa.
Beruntung Nisa tidak marah. Ia malah lega karena ada sosok yang akan melindunginya dari ancaman teror Uwak Sobri.
“A-aku harus mandi. Aku ingin membersihkan diri,” bisik Nisa dengan lirih.
Mang Juki mengangguk, “saya akan berjaga di luar kamar mandi.”
Setelah merasa sama-sama membaik dan lebih tenang, mereka pun berhenti berpelukan. Mereka berdua berjalan menuju kamar mandi sembari bergandengan. Kebetulan ada dua handuk di jemuran yang ada di luar kamar mandi. Nisa memberikan satu pada Mang Juki dan mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri.
Nisa masuk ke kamar mandi.
Hampir satu jam lamanya ia di sana sementara Mang Juki duduk di luar dan terdiam. Ia tak bisa apa-apa mendengarkan tangisan dan raungan Nisa yang terdengar olehnya dari luar kamar mandi. Jeritan dan luapan rasa yang luar biasa dari sang ibu muda yang biasanya tenang. Ia bisa merasakan rasa sakit hati dan kecewa yang dialami Nisa. Ia tahu pedihnya rasa itu.
Mang Juki memeriksa tangannya yang berdarah. Ia juga sangat kecewa tidak berhasil melindungi Nisa. Bajingan tua busuk itu… Mang Juki akan membuat Uwak Sobri dikubur lebih cepat dari seharusnya! Ia menggemeretakkan gigi. Sudah tua bukannya tobat malah makin menjadi!
Satu jam lamanya Mang Juki menunggu sampai pintu terbuka dan Nisa sudah berselimutkan handuk. “Maaf lama, Mang.”
“Tidak apa-apa. Saya kan sudah janji akan menunggu di sini,” Tubuh Mang Juki gemetar.
“Ma-Mang Juki kedinginan?”
Pria tua itu tersenyum dan berdiri. Handuk kecil dari Nisa gagal melindungi tubuh kekar Mang Juki dan penisnya yang masih saja membesar.
Nisa menggandeng Mang Juki menuju kamarnya dan Haris. Ibu muda itu membuka lemari dan mengambil daster panjang yang longgar untuk menutupi tubuh seksinya. Ia sengaja tidak mengenakan kerudung meski ada tamu yang bukan suaminya di rumahnya.
“Ini, sementara pakai ini dulu ya, Mang. Ini punya mas Haris. Semoga ukurannya cocok.” Nisa pun memberikan kemeja kotak-kotak yang menurutnya berukuran paling besar. Sedangkan ia tak menemukan celana yang pas selain celana kolor pendek milik suaminya.
“Terima kasih, Bidadari Surgaku.” Mang Juki tersenyum sembari menerima pakaian itu.
Wajah Nisa tersipu setelah disenyumi oleh Mang Juki. “Aku tidak pantas mendapatkan julukan itu, Mang. Aku wanita kotor dan hina yang telah diperkosa. Aku yakin suamiku juga bakal jijik menyentuhku jika tahu aku sudah diperkosa…”
“Sst. Jangan berandai-andai. Sebaiknya istirahat dulu.” Mang Juki menunjuk ke arah pembaringan.
Nisa yang kelelahan mengangguk, karena sudah menangis seharian ia langsung berbaring di atas ranjang tidurnya. Ia memejamkan mata. Tak butuh waktu lama sebelum terdengar dengkuran yang lembut dan manis. Begitu lelahnya Nisa sehingga Ia langsung tertidur setelah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
Mang Juki yang masih terjaga berusaha mengancingkan kemejanya. Namun ternyata tidak pas. Ia takut bakal merobek pakaian milik suami Nisa tersebut. Bahkan celana kolornya saja hampir ngepress sehingga penisnya terasa begitu sesak di sana. Namun ini lebih baik daripada tidak berpakaian sama sekali.
Mang Juki menoleh ke samping. Ia mendapati Nisa sudah tertidur. Ia pun mengambil handuk dan berniat untuk mandi. Ada sofa empuk di ruang tamu, sepertinya nyaman untuk tidur dini hari ini.
Mang Juki melangkah perlahan.
“Mang?”
Belum juga beberapa langkah berjalan, ia mendengar suara Nisa memanggil. Ia menoleh ke belakang. Tapi terlihat Nisa masih lelap, rupanya ibu muda jelita itu tengah mengigau. Mang Juki pun mendekat dan mendapati Nisa menampakkan ekspresi ketakutan.
Mang Juki pun merasa kalau Nisa sedang bermimpi buruk. Pasti kejadian tadi terbawa hingga ke alam mimpinya.
Alih-alih mandi. Mang Juki pun mendekat bahkan menaiki ranjang tidur yang seharusnya hanya boleh ditempati oleh Nisa dan suaminya saja. Dengan rasa iba, Mang Juki berbaring di ranjang tidur tersebut. Ia bahkan memeluk Nisa lalu mencumbu keningnya sekali lagi.
“Tenanglah,” bisik Mang Juki setelah mencumbu kening Nisa, “saya akan selalu di sini.”
Nisa seketika tersenyum.
Wajahnya pun menjadi tenang, tidak seperti sebelumnya.
Pagi itu, keduanya terlelap sampai siang.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *