Kabut tebal menyelimuti kesadaran sang dara seperti selimut busuk yang bau, berat dan lengket. Tidak nyaman dan memusingkan. Mata Ayu terbuka perlahan, tapi bukannya segar setelah terlelap, dunia di sekitarnya justru bergoyang, buram, dan berputar-putar tak karuan. Ia tahu dirinya tidak sedang baik-baik saja.
Pandangan dara jelita itu tertumbuk pada langit-langit kayu yang retak, sobek, dan penuh sarang laba-laba. Dia tahu dia tidak berada di tempat seharusnya, namun otaknya tak bisa langsung mencerna di mana ia berada. Dia bahkan tidak tahu apa yang tengah dia rasakan. Napasnya berat, dadanya sesak, dan tubuhnya terasa seperti bukan miliknya sendiri.
Sakit menyebar ke seluruh tubuh. Ia mencoba menggerakkan tangan, rasanya kaku sekali, sendi-sendinya lemas. Lengan itu hanya terangkat sedikit sebelum jatuh kembali ke dipan kayu yang dingin dan berdebu. Kepalanya berdenyut hebat, seperti baru saja dipukul dengan batu.
Semuanya terasa berat dan menyakitkan.
“A-apa yang… kenapa aku…?”
Ayu merasakan semilir angin dingin dan perasaan yang hanya dirasakan oleh seseorang yang tidak mengenakan selembar benang pun di tubuhnya. Saat menengok ke samping, ia menatap lemari kayu kuno dengan cermin bulat dan buram di bagian depan pintunya. Ayu bisa memastikan tubuhnya telanjang, hanya ditutupi selembar sarung kusam yang dililit sembarangan di pinggang.
Lebih dari sekedar ketelanjangan, ada rasa aneh yang menyebar dari selangkangannya ke seluruh tubuhnya—bukan rasa sakit yang tajam, melainkan ketidaknyamanan yang asing, lengket, dan menjijikkan. Seperti jejak kehadiran yang tak diinginkan.
Hidungnya menangkap bau busuk keringat, rokok murahan, dan alkohol basi yang melekat di dinding ruangan sempit itu. Ia menoleh pelan, dan mendapati dirinya berada di sebuah pondok kayu kecil dengan cahaya redup dari lampu minyak di sudut. Di pojok ruangan, ada kasur tipis yang kotor, dan dinding-dindingnya dipenuhi coretan cabul dan paku karatan. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang, tapi tubuhnya masih terlalu lemah untuk bisa digerakkan dengan bebas.
Ayu menelan ludah, mencoba duduk, tapi tubuhnya goyah. Dunia di sekelilingnya masih bergerak, lantai yang ia injak seolah bergelombang. Sesaat ia mencoba berdiri sebelumnya akhirnya Ia terduduk kembali, lututnya gemetar hebat, dan peluh dingin mengalir dari pelipis ke tengkuk.
“Kenapa aku…?”
Lidahnya kering, tenggorokannya gatal dan pahit. Matanya memanas saat perlahan ingatan kabur mulai menembus kabut pikirannya. Kabut semu pengikat memory semalam akhirnya mulai terbuka.
Ayu ingat minum teh botol yang disuguhkan seorang perangkat desa. Ia ingat tawa dan suara para lelaki di rumah tempat mereka bermalam. Tapi… siapa mereka Ia tidak bisa mengingatnya. semuanya hanyalah bayangan kabur. Ada suara cekikikan, ada sentuhan yang dingin dan memaksa, dia menjerit, dia berteriak, dia kesakitan, lalu semuanya gelap.
Kegelapan itu ibarat satu lubang kosong besar di antara sore dan pagi, tanpa ada keterangan, dan menghembuskan rasa penasaran. Kini ia terbangun—dalam keadaan tak utuh, telanjang, sendirian, dengan tubuh yang terasa seperti baru saja dirusak oleh orang yang tidak berhak.
Tangis tercekat di tenggorokannya. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hanya serak lirih yang bahkan tak bisa menembus dinding pondok tempatnya berada. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar, menggigit bibir hingga nyaris berdarah, menahan ledakan rasa takut dan jijik yang membakar dari dalam. Tangannya menyentuh bekas lebam samar di lengan kanan—mungkin bekas suntikan, atau cengkeraman kasar. Ia tak tahu.
Perlahan, tubuhnya mulai terbiasa dengan gravitasi, dan ia memaksa diri untuk duduk lebih tegak. Sarung yang menutupi tubuhnya ia tarik lebih rapat, meski sia-sia. Tidak ada yang tersisa untuk diselamatkan, pikirnya. Harga diri, martabat, kemanusiaan—semuanya seperti telah dicuri saat ia tertidur paksa dalam pengaruh obat-obatan.
Ia mendengar suara samar dari luar—tawa laki-laki dengan suara parau, denting botol, dan alunan sumbang mungkin musik dangdut dari speaker kecil. Mereka belum tahu ia sudah terbangun. Itu satu-satunya keuntungan yang ia punya.
Dengan susah payah, Ayu mulai merangkak pelan menuju dinding, mencari apa pun yang bisa menopang tubuhnya. Lututnya lemah, telapak tangannya licin oleh keringat, tapi tekadnya menguat. Ada satu hal yang pasti, dia tidak akan tinggal di sini. Diaa tidak akan menjadi korban lagi. Dia harus meninggalkan tempat terkutuk ini.
Dalam hatinya, satu kalimat berulang terus menerus, menggema seperti mantra dalam kabut kesadaran yang masih tersisa.
Aku masih hidup. Aku masih hidup. Aku masih hidup. Papa! Mama! Aku masih hidup!
Ayu berdiri dengan susah payah, tangannya berpegangan pada dinding kayu yang kasar dan penuh serpihan. Tubuhnya masih limbung, tetapi langkahnya mulai menemukan keseimbangan meski pelan dan gemetar. Setiap desah napas yang lolos dari bibirnya ia tekan sekuat mungkin, takut terdengar oleh siapa pun di luar ruangan. Sarung kumal yang menutupi tubuhnya ia pegang erat-erat, seperti pegangan terakhir pada harga dirinya yang nyaris runtuh.
Ia membuka pintu perlahan. Sialnya engsel pintu itu berderit pelan, seperti lengkingan menghina yang menafikan usahanya untuk tetap senyap. Ayu menahan napas, berdiri kaku sejenak, memastikan tidak ada bayangan siapa pun di lorong kecil yang membelah rangkaian pondok itu.
Suara tawa dan denting botol terdengar lebih jelas sekarang, berasal dari ruangan utama di sisi kanan. Tapi di sisi kiri—di ujung lorong – pada tiga pintu yang tengah tertutup rapat, terdengar suara-suara lain mulai menyusup ke telinganya.
Ayu melangkah mendekat, jantungnya berdetak semakin cepat. Sebenarnya Ia tak ingin tahu, namun rasa penasaran membuatnya berani. Dengan perlahan, ia mendekat ke pintu pertama. Dari celah lubang yang tak tertutup sempurna, ia bisa melihat bayangan tubuh di ranjang kecil. Seorang perempuan muda, tubuhnya telanjang, tak sadarkan diri, dan di atasnya seorang pria dewasa tengah bergerak kasar, tanpa ampun. Tubuh si perempuan hanya terguncang pelan—pasrah, entah karena pingsan atau tak sanggup melawan lagi.
Ayu mundur satu langkah, tangannya menutup mulut menahan muntah. Tapi suara lain terdengar dari pintu sebelah—erangan yang lebih parau, campur aduk antara jeritan dan desahan yang dipaksa. Ia tahu suara itu bukan kenikmatan, tapi luka seorang wanita yang liang cintanya tengah dilumat. Ia mengintip lagi, dan kali ini ia melihat dua pria bergantian memperkosa seorang perempuan lain yang wajahnya tak begitu jelas dalam kegelapan. Rambutnya panjang, dan tangannya diikat ke kepala ranjang.
Tubuh Ayu membeku. Dunia berputar. Tenggorokannya tercekat. Mereka… perempuan-perempuan itu, entah siapa, entah temannya atau orang lain, sedang dihancurkan di balik pintu-pintu yang tak terkunci ini. Sama seperti dirinya. Dia akan bernasib sama seperti mereka jika tidak kabur secepatnya. Tangisnya nyaris pecah, tapi ia gigit bibir sekeras mungkin hingga nyaris berdarah.
Dalam hatinya, satu kesadaran muncul dengan tegas, seperti cambuk yang berulang kali menghantam kesadarannya, tempat ini neraka. Jika ia tidak lari sekarang, ia takkan pernah keluar, dia tidak akan bisa menyelamatkan mereka. Harapan satu-satunya adalah meninggalkan tempat ini dan mencari bala bantuan untuk menyelamatkan teman-temannya.
Dengan langkah pelan tapi pasti, Ayu berbalik, kembali menapaki lorong yang sunyi dan mencekam. Ia melirik ke arah ruangan utama—masih terdengar suara tawa, masih terdengar lagu dari speaker kecil murahan yang bergema pelan. Cahaya lampu minyak dari ruangan itu memantul samar di dinding. Mereka belum menyadari ada mangsa yang sadar jauh lebih cepat dari seharusnya.
Ayu menggenggam erat sarung di tubuhnya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai bergerak menuju pintu belakang yang terlihat samar di ujung lorong. Setiap langkahnya kini bukan lagi karena keberanian, tapi karena tak ada pilihan lain selain hidup.
Hidup atau hancur.
Di tengah lorong sempit yang remang dan bau apek itu, Ayu mendapati sebuah rak kayu tua di dekat pintu belakang. Rak itu dipenuhi barang-barang acak—botol kosong, bungkusan rokok, dan pakaian bekas yang tampaknya dibuang sembarangan. Tangannya yang gemetar menyibak tumpukan lusuh itu dengan cepat namun hati-hati, hingga matanya menangkap sehelai tanktop putih kusam dan sepotong celana pendek jeans yang tampak sempit dan lusuh.
Tanpa pikir panjang, Ayu mengambilnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa pun, lalu dengan tergesa menyarungkan tanktop ke tubuhnya yang masih lemah. Kainnya kasar, bau, dan terlalu ketat, membuat kulitnya terasa terjepit, tapi itu lebih baik daripada tak mengenakan apa-apa. Celana pendek itu ia tarik naik dengan susah payah—pinggangnya nyaris tak muat, dan bagian pahanya mencubit kulit, namun ia memaksa tetap mengenakannya.
“Yang penting tidak telanjang dan bisa lari…” bisiknya dalam hati, “siapapun pemilik pakaian ini, mudah-mudahan kamu baik-baik saja dan tidak berada dalam sekapan mereka.”
Pakaian itu terasa seperti baju anak remaja, tapi setidaknya kini ia punya sedikit perlindungan, sedikit rasa kendali atas tubuhnya yang semalam sepenuhnya direnggut paksa. Sambil menarik napas dalam-dalam, Ayu menyeka keringat dan air mata yang bercampur di wajahnya, menahan perih di sela-sela pahanya yang masih nyeri, lalu menatap pintu belakang pondok itu—satu-satunya jalur keluar dari tempat laknat ini.
Aku harus keluar dari sini. Harus… sekarang.
Ayu berdiri membeku di balik tirai pintu belakang, tubuhnya menempel pada dinding kayu yang dingin dan lembap. Napasnya ia tahan, dada naik turun dalam irama cepat namun teratur. Di luar sana, malam tampak lebih gelap dari malam manapun yang pernah Ia lihat – sejauh mata melihat hanyalah hamparan kebun luas terbentang diterangi samar cahaya bulan yang terselip di balik kabut tipis.
Perlahan-lahan matanya cukup terbiasa dengan kegelapan, ia melihat hutan di sudut batas penglihatan, nun jauh di balik kebun. Jalur ke hutan itu gelap dan mengerikan tapi… – itu dia! Ke sanalah ia harus pergi, ke sanalah ia harus sembunyi. Ke hutan yang gelap dan melindungi.
Ayu harus cepat. Ia tahu satu hal pasti, jika ia salah langkah, jika ia ketahuan, ia akan ditangkap dan mereka tak akan membiarkannya lolos lagi.
Ia mengintip sedikit, memajukan wajahnya melewati celah kecil. Halaman belakang pondok adalah tanah lapang berlumpur yang dipenuhi semak-semak pendek dan drum kosong. Di sudut jauh tampak sebuah motor tua diparkir, dan suara tawa dari depan pondok masih terdengar—itu berarti para penjaga masih sibuk minum atau mungkin… menikmati mangsa lainnya.
Tapi ada satu masalah besar—seorang pria duduk di bangku dekat pohon pisang, tepat di samping jalan setapak menuju hutan. Kepalanya tertunduk, entah tidur atau mabuk, namun senapan rakitan bersandar di bahunya. Ayu langsung mundur kembali ke balik dinding. Dadanya bergemuruh, peluh membanjiri punggungnya. Jalur langsung ke hutan ditutup. Ia harus cari jalan lain.
Ia melirik ke kiri. Terdapat pagar kayu lapuk yang memisahkan halaman belakang dengan area semak yang lebat. Tingginya hanya sekitar dada orang dewasa—bisa dipanjat, jika tubuhnya cukup kuat. Tapi pagar itu rentan bunyi, sering terdengar berderit tiap kali angin kencang berhembus. Satu derit saja, dan lelaki bersenjata itu bisa bangun.
Ayu berjongkok, menyusuri tepian rumah, melangkah perlahan dengan kaki telanjang yang mulai lecet. Setiap ranting ia singkirkan pelan, setiap daun diinjak dengan perlahan agar tak menimbulkan suara. Kakinya sempat tersandung batu, membuatnya terguncang, namun ia tahan erangan yang nyaris keluar. Tidak boleh bersuara. Tidak boleh.
Setelah beberapa meter merayap di balik semak, ia menemukan sebuah celah—lubang kecil di bawah pagar yang mungkin cukup untuk tubuhnya. Ia berlutut dan mulai menyelinap. Kayu kasar menggores kulit perut dan punggungnya, membuatnya meringis perih, tapi ia terus merayap, berusaha menekan tubuh sekecil mungkin. Ketika tubuh bagian atasnya berhasil lolos, ia mendengar sesuatu dari balik rumah.
Langkah kaki.
Ayu membeku, menahan napas. Langkah itu berat, malas, seperti orang mabuk. Langkah itu mendekat. Ayu tak berani menoleh atau mengintip. Ia hanya berharap orang itu segera mengalihkan perhatian dan berjalan ke arah lain. Karena ia akan segera ketahuan dan semua usahanya sia-sia jika orang itu mendekat. Ia hanya bisa berharap keajaiban.
Keajaiban yang ternyata datang.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti seumur hidup, langkah kaki itu terdengar menjauh ketika seseorang di kejauhan terdengar memanggil. Ayu menghela napas panjang. Ia kembali bergerak, menarik tubuhnya sepenuhnya ke sisi pagar. Dengan perlahan, sangat perlahan, ia menggulingkan dirinya di atas pagar. Sakit? Sangat. Tapi terpenjara dalam kemaksiatan di tempat jauh akan lebih menyakitkan. Dia harus kabur.
Begitu ia tiba di sisi lain pagar, Ayu menenggelamkan dirinya ke balik semak, gadis itu terguling ke tanah, dadanya naik turun dengan pedih seperti orang tenggelam di sungai yang baru saja mencuat ke permukaan. Ia kembali melihat ke arah kumpulan gubuk, memindai situasi.
Tidak ada yang berubah. Bagus.
Ia lalu menengok ke kanan kiri, di sekitarnya hanya gelap, semak berduri, dan pohon-pohon tinggi. Mengerikan dalam kondisi normal. Tapi justru ini yang ia butuhkan sekarang. Bayangan gelap akan menjadi pelindung dan tempat sembunyi. Tinggal mencari kesempatan untuk bisa lari ke hutan.
Kapan kesempatan itu? Sekarang.
Tanpa menoleh ke belakang, Ayu bangkit, dan mulai berlari pelan ke dalam hutan, menyusup di antara bayang pepohonan seperti hantu yang baru terlahir kembali. Di belakang sana, dunia gila masih membara, masih menganga seperti mulut iblis yang tak ada hentinya. Tapi Ayu ingin bebas, dia harus lari—meskipun jalur yang ia tempuh samar dan belum pasti—walau Ia harus merangkak berdarah-darah.
Tiba-tiba saja cahaya dari pondok-pondok nista itu bersinar. Suara teriakan pecah, menggema nyaring menembus keheningan malam.
“Ada satu yang kabur! Cari dia, sekarang!”
Langkah-langkah kaki bergegas terdengar menghentak tanah, bercampur dengan suara ranting patah dan gonggongan anjing dari kejauhan. Ayu berhenti berlari, menempelkan tubuhnya di balik pohon besar, menahan napas sekuat mungkin. Dadanya berdebar liar, seperti genderang di dalam dada yang bisa terdengar kapan saja oleh telinga musuh.
Obat di tubuhnya masih belum sepenuhnya hilang—kepalanya berdenyut, pandangannya sesekali buram, dan lututnya hampir tak kuat menopang tubuh. Tapi ketakutan membungkam semua rasa sakit. Ia tahu, jika tertangkap lagi, takkan ada kesempatan kedua.
Dari balik pohon, ia melirik kiri-kanan. Di depan sana terbentang ladang kosong yang dulunya kebun pisang, penuh semak tinggi dan gulma liar. Di sisi lain, ada jalan setapak berlumpur yang mengarah ke area kebun sayur dan jagung—terlihat dari bayangan rak tanaman dan parit kecil yang melintang. Ia memilih kebun sayur dan jagung. Jalurnya sempit, lembab, dan pasti licin, tapi bisa jadi satu-satunya tempat persembunyian yang cukup rimbun.
Ayu melangkah cepat menyusuri parit itu, tubuhnya mulai berat dan terhuyung, sesekali terjatuh karena lumpur. Pakaian tipis yang dikenakannya telah basah, tempelan tanah dan daun membalutnya seperti kulit baru. Nafasnya mulai tersengal, dan suhu tubuhnya turun karena dingin malam. Tapi ia terus maju, meraba-raba jalur seperti orang buta, matanya memicing karena kepala yang terasa berputar.
Dari kejauhan terdengar suara lelaki berteriak.
“Cek kebun belakang! Dia mungkin ke arah hutan!”
“Jangan biarkan dia lolos, cepetan goblok!”
Ayu merunduk, menyusup di antara batang kangkung dan selada yang teramat pendek dan berair. Aroma lumpur busuk dan pupuk menyengat, membuat perutnya mual. Tapi ia terus merayap, tubuhnya sudah penuh lumpur seperti bagian dari tanah. Saat sudah sampai di ujung, ia melompati pagar kayu kecil yang memisahkan petak-petak kebun, tapi tubuhnya goyah dan terguling di gundukan kompos. Ia menggertakkan gigi, menahan tangis yang ingin meledak karena jijik dan putus asa.
Langkah-langkah semakin dekat. Cahaya senter mulai terlihat menyisir ujung kebun. Ayu kembali bangkit, kakinya menjejak ke arah tumpukan karung pupuk yang disusun di bawah pohon jambu. Ia menyelinap ke belakang tumpukan itu, meringkuk dan menahan napas. Cahaya senter melintas hanya beberapa meter darinya, suara lelaki yang mengumpat terdengar jelas.
“Sialan, dia pasti nggak jauh! Cium tanahnya, basah semua! Cari jejak-jejak di tanah becek!”
Dalam keadaan genting itu, Ayu memejamkan mata. Kepalanya terasa berputar, jantungnya nyaris meledak. Ia tak tahu berapa lama bisa bertahan.
Langit di ufuk timur mulai memudar dari kelam ke abu-abu kebiruan—pertanda fajar menjelang. Ayu mendongak dari balik karung pupuk tempatnya bersembunyi, menyadari satu kenyataan yang menegangkan. Begitu matahari terbit sepenuhnya, bayangan akan hilang, gelap akan lenyap, dan dirinya akan terlihat jelas. Tak akan ada tempat sembunyi di ladang terbuka. Jika ia tidak bergerak sekarang, semuanya akan berakhir.
Dengan napas teratur, Ayu bangkit perlahan. Tubuhnya gemetar, separuh karena kedinginan, separuh lagi karena obat yang masih membekas. Ia melirik ke sekeliling—tidak ada senter, tidak ada langkah mendekat. Para pencari mungkin menyisir ke arah hutan dari sisi lain yang lebih landai. Ia harus memanfaatkan waktu ini, menit-menit terakhir sebelum terang matahari pagi menghancurkan peluangnya untuk lari.
Ia menunduk dan mulai bergerak ke arah barat, ke sisi ladang tempat deretan pondok-pondok kecil berdiri—bekas tempat tinggal para pekerja kebun atau gudang alat tani. Ia tahu, jika ia memotong langsung ke kebun jagung, ia bisa menuju tebing kecil di sisi luar desa—tempat yang pernah ia lihat saat masih mengikuti briefing KKP beberapa hari yang lalu. Dari sana, ada jalur setapak menurun ke arah sungai dan jalan provinsi. Tapi kebun jagung itu ada di balik deretan pondok… dan kemungkinan para penjaga masih ada di sana.
Dengan lutut bergetar dan dada sesak, Ayu mulai menyusup di antara pondok satu ke pondok lainnya. Ia berjalan membungkuk, merapat ke dinding, dan setiap kali mendengar suara—sekecil apa pun—ia langsung menempel seperti bayangan. Bau oli, karung kosong, dan tanah lembap memenuhi hidungnya. Di salah satu pondok, ia mendengar suara laki-laki sedang tertidur sambil mendengkur. Di pondok lain, seekor ayam terbang kecil dan hampir membuatnya menjerit. Tapi ia tetap fokus, tetap menunduk, tetap merayap seperti binatang yang tak ingin diburu.
Setelah beberapa menit menegangkan, Ayu sampai di ujung jalur pondok. Di depannya membentang kebun jagung—tanaman tinggi dan rapat yang bisa menyembunyikan tubuhnya dengan sempurna. Tapi ladang itu terbuka, dan dari sudut kiri terdengar suara dua penjaga sedang bercakap sambil berjalan perlahan, mereka sepertinya tidak tahu kejadian yang ada di pondok lain.
“Ada ramai-ramai apa sih di sana?” tanya penjaga yang satu sembari menunjuk curiga ke arah deretan pondok yang tiba-tiba saja penuh cahaya.
“Kurang tahu juga. Tidak ada kabar apa-apa di HT. Apa ada yang kabur? Mereka terlalu mabuk sampai lupa kasih kabar lewat HT.”
“Kalau memang ada yang kabur, kita mesti hati-hati. Bisa jadi dia lari ke sini.”
“Bener juga.”
Ayu mengernyit. Jika ia berlari sekarang, mereka akan melihatnya. Ia menggigit bibir, berpikir cepat. Lalu ia melihat gundukan pupuk kandang di sisi kanan, tak jauh dari parit kecil. Ia merunduk, lalu melempar batu ke arah gundukan itu.
Brkh!
Kedua penjaga langsung menoleh, salah satunya menyorotkan senter ke arah suara.
“Hrrnghh? Apaan tuh?!”
“Suaranya dari tumpukan itu. Kalau gak tikus ya kucing. Aku cek dulu.”
Cukup.
Ayu tidak mau menunggu lagi. Ia langsung lari secepat yang bisa dilakukan tubuh lelah dan setengah sakit itu lakukan, menembus deretan batang jagung yang tinggi, menginjak tanah becek dan basah. Daun yang kasar mencambuk wajah dan lengan Ayu, tapi ia terus melaju, menembus pematang sempit di antara tanaman, jalur yang tak ia ketahui sebelumnya tapi tiba-tiba saja terangkai jelas untuknya. Jagung-jagung itu tinggi, lembab, dan menyesatkan, tapi mereka menyembunyikannya, melindunginya, menjadi benteng pelindung alami.
Di belakang sana, suara mulai terdengar lagi—teriakan, langkah-langkah, dan peluit ditiup. Mereka tahu dia kabur. Mereka tahu dia melalui ladang dan kebun sayur, mereka tahu dia akan lari ke hutan. Tapi Ayu mencoba tak peduli. Matanya sudah menangkap landscape terjauh di penghujung ladang—sisi terakhir kebun yang langsung terhubung ke tebing curam di ujung desa.
Di sana, dia berharap bisa melepaskan diri dari cengkraman orang-orang terkutuk ini. Dia tahu harapan tinggal beberapa langkah lagi ke depan… dia tahu harapan teman-temannya juga ada di pundaknya. Pilihannya hanya dua, berhasil atau gagal.
Dan ia memilih harapan.
2
Beberapa hari yang lalu Ge pulang larut malam semalam.
Langkah kakinya berat, tapi bukan karena lelah ingin bersandar pada istrinya. Ia hanya menaruh tas di kursi, melepas sepatu tanpa menoleh padahal Amy berdiri di dekat pintu, menggendong Kevin yang baru saja terbangun, menunggunya.
“Mas, Kevin rewel terus malam ini,” ucapnya pelan.
Ge hanya menatap sekilas, “Ya diurus. Kamu kan ibunya.” Tanpa banyak menambahkan tambahan kata, Ge lantas melangkah untuk meraih handuk dan masuk kamar mandi.
Suara air shower menetes deras kemudian terdengar, menenggelamkan suara tangis kecil Kevin yang kembali pecah. Amy menepuk-nepuk punggung bayinya, mencoba menenangkan, sementara hatinya semakin tercekat. Di balik pintu kamar mandi, ada suaminya. Tapi entah kenapa, pria terdekat dengannya itu akhir-akhir ini justru terasa lebih jauh daripada orang asing sekalipun.
Selesai mandi, Ge berjalan ke ranjang, mengambil ponselnya, lalu rebahan tanpa melihat ke arah Amy. Ia scroll layar berjam-jam, sedangkan Amy masih berjuang menidurkan Kevin yang agak demam.
“Mas, bisa tolong ambilkan botol susu?” tanyanya setengah berbisik.
Ge menjulurkan tangan malas, menyerahkan tanpa kata. Amy ingin tersenyum, mengucapkan terima kasih, tapi senyumnya terasa mati di bibir.
Ketika Kevin akhirnya terlelap, Amy membaringkan sang buah hati di kamarnya sendiri. Ia menoleh pada Ge, berharap ada lirikan, ada ucapan menanyakan Kevin atau dirinya karena sudah berjaga sepanjang malam.
Tapi Ge hanya terbenam dalam cahaya layar ponselnya, wajahnya datar tanpa emosi. Amy merasa dirinya bagaikan kegelapan. Ada tapi tiada.
Siang hari, Amy sibuk dengan Kevin. Bermain, tertawa, mengasuh, membuatkan makan, dan susu menjadi ritme kesehariannya. Ia tahu anaknya adalah anugerah pembawa kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu terasa timpang, karena saat Kevin tertidur, ia mendapati dirinya duduk sendirian di ruang tamu. Tidak ada percakapan. Tidak ada pasangan yang merangkul, hanya dinding bisu dan suara kipas angin yang berputar kelelahan.
Malam berikutnya, Amy mencoba memulai percakapan.
“Mas, aku capek sekali, semalam Kevin demam.”
“Lalu?”
“Alhamdulillah sekarang sudah baikan.”
Ge menoleh sebentar, mengangguk singkat, lalu kembali ke laptopnya. Tidak ada tanya lebih lanjut, tidak ada kepedulian menyusul yang terpancar. Amy menelan kata-kata lain yang ingin keluar dari mulutnya dan memilih diam, karena berbicara sama artinya bercakap-cakap pada tembok.
Ketika Amy ingin istirahat dan menyerahkan Kevin pada Ge, sekadar agar ia merasakan beratnya tanggung jawab. Ge membawa Kevin ke rumah orangtuanya, memanfaatkan ibu dan adiknya untuk merawat bocah itu, bagus memang karena Kevin jadi kenal dengan nenek dan tantenya. Tapi Amy merasa Ge memberikan kekosongan karena tak melakukannya sendiri.
Saat malam-malam sepi datang, Amy biasanya terbaring bersama Kevin yang tertidur pulas. Putranya yang masih kecil itu menggenggam jarinya erat, seakan memberi harapan bahwa ia masih berarti bagi seseorang. Namun, setiap kali menoleh ke sisi ranjang dan melihat Ge membelakangi dirinya, tertidur tanpa sepatah kata pun, hatinya kembali hancur. Ia merasa seperti seorang janda di rumahnya sendiri.
Ada kalanya Amy mencoba membangkitkan kembali kehangatan. Ia memasakkan makanan kesukaan Ge, menyiapkan meja dengan rapi. Tapi ketika Ge pulang, ia hanya makan seperlunya, lalu berkata singkat, “Enak,” tanpa menatap mata Amy. Tidak ada percakapan tentang hari, tidak ada tawa, tidak ada pelukan. Seakan semua usahanya sia-sia.
Dan setiap kali Amy memeluk Kevin, menempelkan wajahnya di tubuh mungil itu, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Ia bersyukur memiliki anak yang menemaninya. Tapi di saat yang sama, ia sadar, anaknya tak bisa menggantikan pelukan seorang suami. Ia butuh Ge. Ia rindu Ge. Namun lelaki itu semakin hari semakin jauh, meninggalkannya tenggelam dalam kesepian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
---
Amy duduk di ruang tamu rumah mungilnya di Cluster Kembang Arum Asri, secangkir kopi hitam dingin di tangannya yang sejak tadi tak tersentuh. Matanya memandangi jalanan kompleks yang pagi itu tampak seperti biasa—anak-anak bersepeda, ibu-ibu membawa kantong sayur, dan petugas kebersihan kampung yang berdiri sambil menyeruput air kemasan setelah mengumpulkan sampah warga di gerobaknya.
Tapi di dalam kepala Amy, semuanya terasa ganjil. Ada yang tak beres. Sudah beberapa minggu ini, udara kompleks terasa… berbeda. Seperti bau anyir yang tak terdeteksi hidung, tapi mengganggu dada.
Sudah cukup lama sejak Nisa - sahabat dekatnya sejak tinggal di cluster ini, mendadak menghilang setelah ditalak sang suami. Rumahnya kosong, tokonya di kota tutup permanen, dan yang tersisa hanyalah bisik-bisik para tetangga yang tajam menusuk hati—tentang video mesum, tentang selera ibu muda pada laki-laki tua, dan perceraian sebuah pernikahan yang awalnya nampak baik-baik saja dan bahkan menjadi goals dalam kehidupan yang sempurna.
Amy masih menolak untuk percaya.
Tidak mungkin Kak Nisa yang ia kenal melakukannya. Kak Nisa yang lembut, baik hati, dan selalu menjaga diri adalah sosok paling anggun, cantik, perhatian, sopan, dan berhati-hati dalam bersikap. Bagaimana mungkin ia yang sudah nyaman dan mapan lantas bermain cinta dengan seorang laki-laki tua hidung belang?
Belum reda kabar tentang Nisa, badai lain menghampiri.
Shinta - sahabatnya yang lain juga tertimpa masalah. Shinta juga menghilang, meski bukan menghilang total seperti Nisa—Shinta masih ada di kawasan ini, tapi kini lebih jarang terlihat dan tak lagi berada di rumahnya sendiri yang disita oleh pelakor suaminya. Setahu Amy, Shinta kini tinggal dengan seorang lelaki tua di kampung sebelah, tak pernah lagi menyapa siapa pun, bahkan suaminya yang biasanya aktif di grup RT pun mulai menghilang, nyaris tak terlihat, sekalinya terlihat seperti orang linglung.
Benar-benar ada sesuatu yang aneh, janggal, bergelombang, dan masif terjadi di tempat ini… Amy mulai merasa semuanya saling terhubung secara tidak menyenangkan dan berbahaya.
Ia menyesap kopi, lalu mengeluarkan ponsel. Grup WhatsApp cluster yang biasanya ramai kini sepi dan penuh pesan yang dihapus. Terakhir, ada komentar pasif-agresif dari Bu Tanti soal ‘perempuan tak tahu malu yang merusak nama baik kompleks’. Amy menggulir layar, mencoba mencari petunjuk, tapi semua terasa seperti hal yang sengaja ditutup-tutupi. Ketakutan menyeruak. Pengamanan seusai kasus Nisa justru terasa bagaikan darurat militer, menegangkan.
Apa yang terjadi dengan kalian berdua, Kak Nisa dan Shinta? Apakah kalian juga mengalami kehancuran seperti halnya aku? Kenapa tiba-tiba kalian jatuh ke pelukan laki-laki tua? Apakah aku juga akan bernasib seperti kalian?
Batinnya gelisah, kenapa kehidupan mereka jadi seperti ini sekarang.
Amy berdiri dan menatap rumah-rumah di sekitarnya. Ia tahu ada sesuatu yang membusuk di balik fasad rumah-rumah cantik dan pagar bunga yang rapi. Kepalsuan yang berjajar, diam membusuk yang beranggapan semua baik-baik saja, menyesakkan dada. Bagaimana bisa mereka pura-pura hidup nyaman setelah menjerumuskan Nisa dan Shinta ke dalam neraka?
Ibu muda itu menghela napas dan melangkah ke dapur, meletakkan gelas kopinya di sink. Ia akan mencucinya kemudian, hari ini Ia ingin bermalas-malasan sejenak. Amy lantas masuk ke kamar tidur, hendak melakukan entah apa.
Wanita berparas ayu itu menatap cermin di meja rias kamar tidurnya. Pagi sudah menjelang tinggi, tapi matanya masih sembab dan rambutnya belum disisir sejak subuh. Ia mengenakan daster tipis berbunga yang seharusnya membuatnya tampak segar seperti biasanya—tapi kini, bayangan di cermin menunjukkan perempuan yang letih, kosong, dan diliputi kebimbangan yang membunuh mentalnya pelan-pelan.
Haruskah kita pindah dari sini, Mas Ge? Hawanya sudah tidak lagi nyaman.
Ge sang suami adalah lelaki cerdas dan berpendidikan. Dosen di universitas ternama, ramah, tenang, dan nyaris selalu benar dalam permainan logika. Tapi akhir-akhir ini, Ge berubah menjadi sosok yang jauh. Bukan kasar, tidak juga berselingkuh—hanya... absen. Kosong dan tak peduli. Fisiknya ada, tapi jiwanya seolah selalu sibuk di ruang kuliah, makalah, hape, dan laptop.
Amy sering bicara sendiri, makan sendiri, tidur duluan tanpa pelukan. Rumah mereka seperti hotel yang tanpa jiwa. Bersih, harum, dan rapi, tapi dingin tanpa nyawa.
Saat itulah…
Saat itulah muncul Pak Man di kehidupan Amy—ketua RT di Cluster Kembang Arum Asri, Kampung Bawukan, dan Kampung Growol. Jabatannya cuma RT tapi dia seperti RW, Lurah, Camat, Bupati, bahkan dewa di tempat ini.
Pak Man bukanlah pria tampan yang hadir di drama Korea. Pak Man adalah lelaki tua, gemuk, berkumis ala Chaplin, berkacamata jadul, dengan rambut tipis cenderung botak, dan bau minyak kayu putih diselingi napas berat. Wajahnya jauh dari rupawan, bahkan cenderung membuat orang ingin menoleh ke arah lain.
Tapi—ia selalu memperhatikan Amy. Selalu dan terlalu. Tatapannya selalu melekat, senyumnya terlalu sering, godaannya selalu muncul, dan pujiannya terlalu personal.
Pak Man terang-terangan menyukai Amy, bukan sebagai warga biasa, melainkan sebagai wanita mulia. Bahkan pernah, dengan nada rendah namun meyakinkan, berucap dalam sebuah kesempatan, “Kalau Dek Amy sudah terlalu sering dibiarkan sendiri… kenapa nggak jadi istri saya aja? Saya bisa membahagiakan Dek Amy, asal Dek Amy mau…”
Amy membeku saat itu. Antara geli, jijik, dan—anehnya—tersentuh. Ia tak pernah lagi dipuja dan dicintai seperti itu oleh Ge, tidak pernah lagi. Tak pernah lagi ada bunga yang dulu diberikan di taman kampus, tak pernah ada pujian yang hadir saat mereka berpegangan tangan di mall, tak ada ciuman mesra. Jangankan bermain cinta, sentuhan yang penuh hasrat pun tak ada.
Di tengah kehampaan itu, rayuan Pak Man terasa seperti oase. Busuk dan murahan—tapi tetap menyegarkan bagi hati yang kering. Amy pernah tidak membalas, tidak marah, tapi juga… tidak menjauh.
Namun semenjak melayaninya, semua berubah. Pak Man makin getol, “Kalau Dek Amy mau cerai, saya bisa membantu semua prosesnya. Termasuk urusan pengadilan agama, dan rumah baru. Saya bisa menyelamatkan Dek Amy dari kehidupan kosong yang selama ini dirasakan.”
Kata-kata ‘selamatkan’ itu bergema di kepala Amy.
Apakah dia perlu diselamatkan? Selamatkan dari apa? Siapa yang bilang dia perlu diselamatkan? Kenapa dia perlu diselamatkan? Diselamatkan dari rasa bosan? Dari kesepian?
Tapi… kenapa oleh Pak Man?
Sebelum menyadari apapun, Amy terlanjur terjebak ke dalam lingkaran setan. Dia jatuh ke pelukan sang RT bermulut manis tapi penuh siasat itu. Di balik senyum manis dan sikap lembutnya, Pak Man menyimpan rahasia busuk. Dia dan keluarganya adalah bagian dari jaringan gelap mafia di lereng Gunung Mandiri.
Amy duduk di pojok kamar yang sedikit gelap karena lampu tidak dinyalakan. Angin sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka menyentuh pelan kulit lehernya, membuatnya tersentuh helaian angin. Matanya tertuju pada layar ponsel yang kosong, hanya terpampang jam digital.
Suaminya seperti biasa, masih terkunci di ruang kerja, mengejar deadline jurnal atau sibuk dengan Zoom entah dengan siapa. Amy bahkan lupa kapan terakhir kali Ge menyentuh tangannya, atau memandang matanya lebih dari dua detik.
Di sela kehampaan itulah, kenangan akan Pak Man menyusup seperti asap di celah-celah hati. Lelaki itu, dengan tubuhnya yang tambun dan napas berat, justru terasa… nyaman dalam hidupnya. Pak Man penuh perhatian, ramah, hangat, dan gemar bercanda. Ia ingat betul bagaimana tangan Pak Man—kasar, besar, dan penuh kapalan—secara sengaja menyentuh punggung tangannya pada pertemuan warga akhir-akhir ini. Sentuhan itu terlalu lama untuk disebut tak sengaja. Tapi entah mengapa Amy tidak menarik tangannya. Ia membiarkan saja tangan Pak Man menangkup tangan dan menggandengnya diam-diam, di depan Ge yang tengah sibuk dengan warga lain di depan sana.
Amy kini malah merindukannya.
Ia membenci dirinya karena itu. Tapi ia tak bisa bohong. Setiap kali Pak Man menyapanya lewat pagar rumah sambil membawa senyum lelah dan suara serak-serak rendah, ada desir halus yang menggelitik perutnya. Tidak seperti Ge yang bicara datar dan kadang menjawab dengan “nanti” dan “aku sedang sibuk” sambil tetap menatap laptop, Pak Man memandang Amy seperti seorang lelaki memandang perempuan. Penuh hasrat, penuh nafsu, buas, kasar, da menjijikkan.
Tapi Amy merindukannya.
Terkadang, di saat sepi seperti ini, Amy menutup mata dan membayangkan… bagaimana jika ia tak lagi menunggu Ge yang sibuk? Bagaimana jika ia menerima tangan Pak Man yang begitu gigih menawarkan kenyamanan, perlindungan, bahkan cinta—meski dibalut tubuh yang jauh dari sempurna? Dia bahkan telah melakukan hal-hal terburuk dengan Pak Man dan melakukan apapun yang Pak Man minta.
Ia merasa ngeri akan pikirannya sendiri. Tapi rasa itu… nyata. Diam-diam Amy merasakan rasa yang berbeda dengan RT yang sudah punya dua istri itu.
Amy menyandarkan kepala di sofa dan menarik napas panjang. Dadanya sesak. Tubuhnya haus akan sentuhan, akan perhatian, akan kata-kata lembut yang tak lagi ia dapat dari lelaki yang sah di sisinya. Dan dari semua orang yang mungkin datang menggantikan—kenapa justru lelaki itu yang wajahnya kini mengendap dalam mimpinya?
Saat itu, untuk pertama kalinya, Amy mengirim pesan singkat yang bahkan membuat tangannya gemetar.
“Sedang apa, Mas? Saya baru bosan sendirian.”
Ia menatap pesan itu lama, lalu… menekannya. Kirim. Gila. Ia menghubungi laki-laki lain yang bukan suaminya dengan akrab, laki-laki yang tidak hanya pernah menidurinya, laki-laki ini selalu melecehkan dan membuatnya berbuat yang tidak-tidak.
Tidak lama kemudian, masuk satu pesan singkat. Balasan dari Pak Man. Buru-buru Amy memeriksanya.
“Baru saja saya memikirkan Dek Amy, ternyata Dek Amy yang duluan nyapa. Kita memang sehati ya, sayang?”
“Saya bosan tapi pusing, Pak. Pikiran saya kemana-mana.”
“Saya juga sedang bosan. Bosan dan rindu. Bosannya sih biasa saja, tapi rindunya ini loh, makin hari makin jadi. Kepengen sekali memeluk.”
“Bisa aja. Memangnya rindu ke siapa, Pak?”
“Ya ke Dek Amy lah. Siapa lagi yang bisa bikin hati seorang Pak Man berdebar kayak anak SMA kalau bukan Dek Amy yang ayu-nya bagaikan bidadari?”
“Bisa aja. Saya ini sudah emak-emak anak satu.”
“Hus. Jangan bilang begitu. Semakin bertambah usia, Dek Amy justru tambah cantik dan matang. Semakin matang, semakin memabukkan. Wajah dan tubuh Dek Amy yang menggemaskan bikin saya lupa umur lupa daratan. Pengennya deket terus.”
“Terusin aja merayunya. Bisa-bisa saya besar kepala.”
“Waduuuh. Kalau kepala Dek Amy membesar, biar saya yang elus sampai tenang dan kecil lagi. Hehehe. Kayak sewaktu Dek Amy menenangkan penis saya yang menegang karena terangsang keindahan tubuh Dek Amy.”
“Yaelah, Mas Man… mesum lagi, mesum lagi. Memangnya cuma itu aja yang ada di kepala? Seks?”
“Serius, loh. Dulu sewaktu lihat Dek Amy di pengajian pakai jilbab warna putih itu… duh, hati saya langsung dag-dig-dug. Dek Amy kayak bidadari yang turun ke RT kita, pengen banget saya curi selendangnya supaya bisa saya pinang jadi pasangan.”
“Gombal.”
“Habis bagaimana lagi? Saya kan nggak bohong. Dek Amy itu wanita paling mempesona yang pernah saya lihat. Bukan cuma cantik… tapi juga anggun, cerdas, dan penuh aura positif.”
“Males banget digombalin.”
“Kalau Dek Amy jadi salah tingkah gara-gara kejujuran saya, biar saya yang tuntun. Saya cuma mau Dek Amy bahagia. Kalau ada lelaki di rumah yang nggak peka… biar saya yang gantiin.”
“Apaan sih, Mas? Gak tahu lah, males. Bikin bingung.”
“Jangan bingung. Dengerin hati Dek Amy. Kalau hati Dek Amy bilang rindu sama saya… bilang saja. Nggak usah tahan.”
“Idih kepedean.”
“Buktinya ini WhatsApp saya duluan. Bilang kalau bosan dan sebagainya padahal ada suami sendiri di rumah. Kalau ini bukan rindu, apalagi namanya? Jadi Dek Amy rindu tidak sama saya?”
Amy meneguk ludah dan terhenti lama sebelum akhirnya menjawab lima menit kemudian.
“Rindu.”
“Nah. Saya juga, sayang. Rindu banget. Rindu suara Dek Amy, senyum Dek Amy, bahkan bau wangi Dek Amy kalau lewat depan saya.”
“Bisa aja, sukun goreng.”
“Katanya rindu. Biar nanti sukun goreng ini yang memeluk dan menghapus air mata Dek Amy yang sedang bosan. Dengan tangan ini. Tangan yang cuma ingin menyentuh Dek Amy … sepenuh dan setulus hati.”
“Udah ah, males digombalin terus.”
“Kalau Mas Ge pergi dan Ibu buka pintu… saya akan datang. Tapi Ibu siap nggak… kalau saya datang?”
Amy menatap layar ponselnya yang kini gelap, pesan terakhir dari Pak Man masih terngiang di benaknya.
Saya akan datang.
Tangan Amy gemetar sedikit. Nafasnya tak teratur, seolah-olah baru saja lari jarak jauh. Jantungnya berdetak tak karuan, bukan karena takut… tapi karena rasa yang tak pernah ia rasakan lagi sejak lama. Rasa diinginkan, diperhatikan, dicintai, dipuja, didambakan. Namun bersamaan dengan itu, perasaan bersalah mulai merayap dari balik dadanya. Bayangan Ge—suaminya—muncul dalam pikirannya. Lelaki yang kini entah sedang bekerja atau tidur di kursi kerjanya, tanpa tahu apa yang terjadi dengan istrinya yang hanya beberapa meter darinya.
Amy merasa seperti pengkhianat karena bercakap-cakap dengan pria lain, bahkan lebih dari itu, Amy sudah bermain api, bahkan tidur dengan laki-laki lain di luar sepengetahuan suaminya.
Tapi... apakah bisa disebut pengkhianat jika hatinya sudah lama diabaikan?
Amy memejamkan mata.
Ge masih suaminya.
Ia berjalan pelan menuju dapur, menyalakan kompor, dan merebus air untuk membuatkan kopi Ge. Ritual yang tetap ia lakukan meski lelaki itu tak lagi menoleh. Tangannya bergerak otomatis, menuangkan bubuk kopi favorit Ge, menambahkan dua sendok gula, mengaduk pelan. Aroma kopi yang hangat justru semakin menambah getir di hatinya.
Langkah kakinya menuju ruang kerja terasa berat. Amy mengetuk pintu dua kali, lalu membukanya sedikit. Ge masih duduk di depan layar, headphone menggantung di leher, matanya lelah namun tetap terpaku pada spreadsheet dan dokumen. Ia menoleh sebentar ketika melihat Amy datang.
“Kopinya,” kata Amy singkat, meletakkan cangkir di meja tanpa menunggu tanggapan.
Ge hanya mengangguk kecil. “Makasih.”
“Makanan sebentar lagi aku…”
“Sebentar lagi aku mau ke kampus, ada rapat. Tidak perlu menyiapkan makan.”
“Baik, Mas.”
Datar. Sepi. Tanpa senyum. Lalu kembali fokus ke layar. Tak ada pelukan. Tak ada tanya. Bahkan tak ada lirikan yang bertahan lebih dari satu detik.
Amy berdiri di sana, menatap punggung suaminya. Di sana lah laki-laki yang dulu membuatnya jatuh cinta, yang dulu tak bisa melepas genggamannya. Kini, hanya punggung diam yang menjawab semua pertanyaannya. Ia ingin memeluknya, mengatakan semua keresahannya, semua perasaannya. Tapi ia tahu, Ge tidak akan mendengarkan.
Tidak kemarin. Tidak hari ini. Mungkin tidak pernah lagi. Kemana dirimu yang dulu mengejar-ngejar aku, Mas?
Kembali ke ruang tengah, Amy duduk di sofa sambil memeluk lutut. Ia tahu apa yang ia rasakan pada Pak Man bukan cinta. Bukan pula keinginan sesungguhnya. Tapi Pak Man hadir di ruang kosong yang dibiarkan terbuka terlalu lama oleh Mas Ge. Dan Amy, seperti tanah kering yang haus, tak mampu menolak ketika ada seseorang yang datang membawa air—meski air itu kotor.
Air mata mengalir tanpa suara di pipinya. Ia ingin dimengerti. Ingin disentuh, dipeluk, ditatap dengan cinta. Bukan dibebani menjadi istri sempurna yang hanya menyediakan kopi dan diam saat dilupakan.
Tapi apakah jawabannya adalah laki-laki tua yang mesum itu? Amy sadar sesadar-sadarnya kalau ia berdiri di ambang bahaya. Tapi anehnya… justru di ambang itu, ia merasa hidup kembali.
Ketika Ge benar-benar pergi, Amy memeluk dirinya sendiri sepanjang hari di atas ranjang, malam makin larut, dan seluruh rumah tenggelam dalam sunyi. Ponselnya tergeletak di sisi bantal, layar masih menyala—menampilkan percakapan dengan Pak Man yang membuat jantungnya berdetak tak karuan. Jari-jarinya menggantung di atas tombol hapus chat, matanya basah menatapnya, penuh keraguan dan rasa bersalah yang menggumpal di dada.
Ia menarik napas panjang, lalu menekan tombol itu. Menghapus percakapan, menghapus semuanya, menghapus jejak kemesraan. Satu per satu, pesan-pesan itu lenyap dari layar. Tapi tidak dari pikirannya. Amy mengusap wajahnya kasar.
“Cukup, Amy,” gumamnya pelan. “Jangan main api.”
Ia tahu ini bukan soal Pak Man. Ini soal dirinya sendiri. Soal kekosongan yang ia biarkan membesar tanpa pernah ia obati. Ia tahu, mencintai bukan cuma soal siapa yang memberi perhatian, tapi soal pilihan. Dan malam ini, meski hatinya masih penuh retak, ia ingin memilih… setia. Kesetiaan itu terasa dingin, pahit, seperti menelan air es saat perut kosong. Amy menahan semuanya. Menahan perasaan pedih demi janji yang baru ia tanamkan pada dirinya sendiri.
Setiap kali ia melewati ruang kerja Ge, Amy selalu berhenti sejenak di depan pintu. Ge memang sudah pergi, tapi saat suaminya itu ada di rumah, Amy ingin mengetuk, ingin bicara, ingin berkata, “Aku butuh kamu. Aku kesepian.”
Tapi lidahnya kelu. Ia hanya berdiri, diam, memandang daun pintu yang seperti dinding antara dua dunia. Antara dirinya… dan lelaki yang secara sah masih menjadi miliknya.
Di ranjang, tubuhnya terbaring memunggungi lampu. Matanya terbuka, menatap kosong ke dinding. Meski chat sudah terhapus, getaran kata-kata Pak Man masih menempel di kulit. Bayangan tangan tua yang menjanjikan pelukan hangat menghantuinya, bercampur dengan rasa jijik dan rasa kasihan pada dirinya sendiri.
“Aku tidak seharusnya rindu pada orang seperti dia...” bisiknya. Tapi kerinduan itu nyata dan menakutkan.
Amy tak tahu apakah ia cukup kuat untuk terus memilih Ge yang dingin, atau apakah suatu hari ia akan kembali membuka pintu selebar-lebarnya dan memilih pergi pada godaan yang menjanjikan kehangatan—meski palsu. Tapi malam ini, ia memilih diam dan bertahan pada pernikahannya. Meski hatinya masih gemetar dalam kebimbangan.
Karena kadang, memilih setia bukan karena cinta… tapi karena takut kehilangan satu-satunya hal yang masih dianggap benar.
Amy masih ingin menjadi benar.
Pikiran Amy mengelayut kemana-mana.
Amy masih ingat jelas siang itu, saat matahari terik menyorot warung Bi Jum di ujung gang. Ia mampir untuk membeli beberapa bahan masakan. Tangannya sibuk memilih cabai merah, tapi sedikit ceroboh—kantong plastik yang ia pegang robek, membuat cabai-cabai itu berhamburan ke bawah.
“Aduh…” gumamnya panik.
“Waduh, Bu Amy… cantik-cantik kok ceroboh,” suara berat dengan tawa pendek terdengar di belakangnya.
Amy menoleh, dan mendapati Pak Man berdiri dengan tangan bersedekap di dada besar tambunnya, wajahnya berkeringat, senyum miring menghiasi bibir tebalnya. Kumis ala Chaplin-nya bergerak-gerak unik dan lucu.
Amy buru-buru jongkok, memungut cabai satu per satu. “Hehe, iya Pak, saya memang ceroboh orangnya,” jawabnya berusaha ramah, walau jantungnya agak berdegup karena tatapan pria itu terasa menusuk, bukan sekadar melihat.
Pak Man ikut jongkok, tangannya yang besar mengambil cabai lalu menyodorkannya. Namun jari-jarinya sengaja menyentuh lembut ujung jemari Amy. “Hati-hati ya, Bu. Tangan halus begini sayang kalau lecet. Suami njenengan pasti nggak rela kalau tangan istrinya sampai kotor dan lecet.”
Nada suaranya datar, tapi matanya penuh makna.
Amy tersentak kecil, menarik tangannya cepat-cepat. “Makasih, Pak. Saya bisa kok,” katanya kaku, lalu berdiri sambil merapikan plastik. Ia berusaha pura-pura sibuk memilih tomat agar tidak harus menatap wajah Pak Man.
Pak Man tidak menyerah. “Sendirian saja belanja? Mas Ge lagi sibuk terus ya sekarang?” tanyanya, nada seperti basa-basi, tapi ujungnya mengorek celah.
Amy tersenyum tipis, mencoba sopan. “Iya, suaminya kerja terus. Saya belanja sendiri aja nggak apa-apa.”
Pak Man mendekat setengah langkah, tubuh besar dan bau keringatnya membuat Amy ingin mundur. “Walah, kasihan to, istri cantik kayak njenengan ditinggal kerja terus. Kalau saya punya istri semanis ini, nggak bakal saya tinggal sendirian. Bisa-bisa tiap hari saya jagain, hehe.” Tawanya berat, sarat maksud terselubung.
Amy merasa wajahnya memanas, bukan karena tersanjung, tapi karena risih. Namun ia hanya bisa menunduk, mengambil wortel agar tangannya tetap sibuk. “Ah, jangan bercanda, Pak…” gumamnya, berharap percakapan berhenti.
Tapi Pak Man malah semakin lancar. “Bercanda gimana, Bu? Wong saya serius. Njenengan itu kayak bunga segar di kampung ini. Cantik, harum, bikin adem. Cuma sayang… kadang bunga malah nggak dipetik sama pemiliknya, malah dibiarkan layu sendirian.” Kalimatnya meluncur halus, tapi jelas sekali menjurus.
Amy menelan ludah, dadanya terasa sesak. “Pak, saya cuma mau beli sayur. Kalau sudah, saya pamit dulu.” Ia menunduk, memasukkan belanjaan ke tasnya dengan gerakan canggung.
Namun Pak Man mendekat lebih dekat, suaranya diturunkan nyaris seperti bisikan. “Halah, saya ngerti, Bu. Njenengan itu wanita baik. Tapi orang baik juga butuh diperhatiin, disayang, dimanja. Kalo nggak, bisa kesepian. Saya sering lihat njenengan jalan sendirian, matanya sayu. Saya bisa ngerti isi hati njenengan, lho.”
Amy membeku sesaat, matanya membulat karena kata-kata itu terasa menelanjangi isi kepalanya sendiri. Ia menggenggam erat tas belanja agar tangannya tak bergetar. “Pak… jangan ngomong sembarangan…”
Pak Man tersenyum lebar, matanya menyipit. “Hehe, iya, iya. Maaf kalau kepikiran aneh-aneh. Tapi kalau butuh apa-apa, jangan sungkan cari saya. Rumah saya terbuka. Saya Ketua RT, tanggung jawab saya kan jaga warganya. Termasuk jagain njenengan juga.” Kalimat terakhir keluar dengan tekanan yang membuat Amy semakin tak nyaman.
Amy buru-buru melangkah pergi, mengucapkan salam singkat pada Bi Jum. Namun sepanjang jalan pulang, wajahnya panas, pipinya bersemu, bukan karena senang, melainkan karena malu dan marah. Ia merasa disentuh tanpa benar-benar disentuh. Kata-kata Pak Man menempel di kepalanya, bagai noda yang sulit hilang.
Flashback itu kini menghantui Amy. Ibu muda itu dengan kecerobohannya, merasa entah bagaimana dirinya sudah menjadi incaran—meski ia tak pernah sekalipun menginginkannya.
Kadang Amy bertanya-tanya, apakah hanya dirinya saja yang merasa diganggu, ataukah orang lain juga menangkap gelagat mesum Pak Man. Namun setiap kali ia coba membicarakan hal itu pada Ge, suaminya hanya menanggapi sekilas—sekadar anggukan atau komentar dingin yang segera hilang ditelan layar laptopnya. Tak ada perhatian, tak ada perlindungan. Amy pun belajar menelan keresahan itu sendirian, meski hatinya semakin lama semakin getir.
Di tengah kesepian itu, ia tak pernah tahu bahwa Ge sendiri menyimpan kegelisahan lain—bukan soal Pak Man, bukan soal rumah tangga mereka, melainkan soal dirinya yang diam-diam larut dalam hasrat terpendam. Dunia Amy penuh bayangan ancaman dari luar, sementara dunia Ge dipenuhi rahasia gelap yang ia pelihara sendiri, rapat dan nyaris tak terendus.
Tanpa sepengetahuan Amy, laptop dan ponsel Ge menyimpan rahasia yang ia rawat rapi. Di folder tersembunyi, teronggok puluhan foto candid seorang perempuan—Khairunnisa Ramadhanti alias Nisa– sang dewi yang terbuang, sahabat Amy yang terlupakan. Foto-foto yang ia dapat entah dari grup WhatsApp RT, media sosial, atau diam-diam ia simpan setiap kali kesempatan datang. Ia mengumpulkan foto-foto Nisa.
Nisa adalah seorang wanita berwajah lembut dengan mata sendu, yang baru saja menjadi wanita paling berdosa di tempat ini. Suaminya telah mengusir dan menceraikannya talak tiga setelah menuduhnya berselingkuh. Padahal Ge tahu, ada intrik kotor yang menjebak ibu muda jelita itu. Tapi apa yang sudah terjadi tidak bisa dibalikkan dengan mudah, nama baik Nisa sudah terlanjur hancur, video mesumnya sudah tersebar.
Dan gilanya, justru di tengah keruntuhan itulah, Ge menemukan sosok rapuh Nisa justru semakin mempesona dan menggiurkan di matanya. Di balik layar laptopnya, Ge sering membuka foto-foto Nisa secara diam-diam, menatap lama setiap detail wajah dan tubuh Nisa. Senyum bibir tipis yang lembut, pandangan mata sayu, kerudung rapi dan apik, atau sekadar gaya duduknya yang anggun. Baginya, Nisa seperti representasi dari kelembutan feminin yang murni dan menarik yang selama ini tak pernah Ia temukan.
Apakah Nisa lebih cantik dari Amy? Tentu saja tidak.
Amy cantik, sangat cantik dan segar malah. Tapi bagi Ge, istrinya kini hanyalah rutinitas. Kopi yang selalu terhidang, balita yang selalu rewel, rumah yang selalu bersih. Semuanya terasa dingin, mekanis, autopilot. Tidak ada lagi getaran, adrenaline, gairah. Semua habis ditelan waktu dan tanggung jawab.
Sebaliknya, Nisa hadir dalam bayangannya seperti api kecil yang menggeliat. Perempuan yang rapuh, yang dipandang hina oleh lingkungannya, tapi justru menjadi objek fantasi Ge. Ada sensasi berbeda, seakan ia melihat seorang bidadari yang jatuh tercemar, dan justru di situlah daya tarik kemurnian yang ternoda.
Ia membayangkan bagaimana rasanya menyentuh kulit lembut Nisa, memeluk tubuh mungil itu dari belakang, mengelus dan meraba dada indahnya, mendengar suara serak-serak basahnya berbisik di telinga. Bayangan itu membuatnya betah berlama-lama di depan layar, meski Amy sedang tertidur di kamar sebelah.
Di ruang kerjanya, saat Amy mengetuk pintu membawa kopi, Ge kerap buru-buru menutup layar. Seolah tenggelam dalam angka-angka di spreadsheet, padahal yang barusan ia tatap adalah senyum teduh Nisa. Ada rasa bersalah, tapi selalu kalah dibandingkan candu yang tak mampu ia lepaskan.
Malam-malam panjang, ketika Amy tertidur lelap sambil memeluk Kevin, Ge selalu membuka lagi video mesum Nisa dan membuka foto-fotonya, membayangkan bahwa laki-laki yang sedang menyetubuhi Nisa adalah dirinya. Tangannya menggulir layar perlahan, seolah setiap sentuhan pada trackpad adalah sentuhan pada tubuh Nisa.
Dan di saat itu, kehadiran Amy seakan lenyap dari kesadarannya, dari hatinya, dari jiwanya. Dalam pikirannya, Ge bahkan berandai-andai, bagaimana jika pernikahannya bukan dengan Amy, tapi dengan Nisa? Bagaimana jika di saat-saat terakhir Nisa di cluster ini, ia yang menjadi penyelamat wanita itu dan sungguh-sungguh menikahinya? Bukan sekadar menjadi pengagum diam-diam?
Fantasi itu tumbuh liar, menjalar, menggantikan kenyataan pahit di rumah tangganya.
Sementara itu, Amy tidak tahu. Ia sibuk menahan kesepian, berjuang menjaga sisa-sisa cinta. Tidak pernah ia bayangkan, lelaki yang selama ini ia perjuangkan justru tengah tenggelam dalam dunia lain—dunia video mesum dan foto-foto seorang perempuan yang diam-diam menjadi wanita idaman seksualnya.
Ge duduk sendirian di ruang kerjanya, layar laptop menyala redup. Foto-foto mesum dan candid Nisa terpampang bergantian di depan mata—senyum lembut, tatapan mata sendu, kerudung yang jatuh anggun di bahunya. Semakin ia menatap, semakin dalam perasaan aneh itu menusuk. Kagum, rindu, sekaligus nafsu yang tak pernah ia bagi pada istrinya lagi.
Ge menatap layar laptopnya lama sekali, hingga wajah Nisa seolah hidup di hadapannya. Nafasnya teratur, tapi matanya menyala, dipenuhi sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan pada Amy. Bibirnya bergerak pelan, seolah berbisik kepada foto yang bisu.
“Nisa… tahukah kamu, betapa aku merindukan senyummu?”
Tangannya menyentuh layar, mengikuti lekuk wajah Nisa yang tertangkap kamera.
“Kecantikanmu klasik dan apik… manis dipadu anggun, lembut, syahdu, sendu, tapi temaram. Senyummu bagaikan nyala lampu di tempat gelap. Aku butuh itu. Aku… aku butuh kamu. Di mana kamu?”
Suaranya bergetar, separuh lirih, separuh penuh desakan.
Ia menunduk, seolah mendengarkan jawaban yang tak ada. “Aku tahu kamu sudah jauh, kamu juga sudah dijauhin semua orang, disalahin tanpa alasan. Aku mengerti rasanya tidak dipahami. Sama seperti aku sekarang. Amy memang hadir, tapi rasanya seperti tidak ada. Dia sudah berbeda. Ada sesuatu yang seakan-akan merenggut dan merebut kehadirannya dari sisiku... aku tidak tahu apakah itu laki-laki lain.”
Ge tersenyum tipis, senyum yang asing bahkan bagi dirinya sendiri.
“Kalau kamu mau menikah sama aku, Nisa… aku berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu. Aku akan menjagamu, menyayangimu, membuatmu menjadi wanita paling berharga. Kamu tidak akan ketakutan dan kesepian lagi. Kita berdua bisa saling menyembuhkan luka.”
Kursi berdecit ketika Ge menyandarkan tubuhnya, mata tetap terpaku pada layar, tetap pada sosok Nisa.
“Bayangkan, Nisa… kalau kita duduk berdua di sini. Aku bekerja, kamu menemani. Kamu menyiapkan kopi, mengelus pundakku, memijit lembut, tahu kalau aku bener-bener memperhatikan kamu. Aku akan menjadi laki-laki yang kamu butuhkan.”
Tangannya mengepal pelan, penuh dengan perasaan campur aduk.
“Aku tahu aku salah… aku tahu kamu cuma gambar. Tapi rasanya lebih nyata daripada tatapan kosong di rumah ini. Diam gambarmu lebih hangat daripada diamnya istriku.”
Suaranya lirih.
“Kamu pernah jadi istri sahabat dan tetanggaku, pernah jadi sahabat istriku, tapi aku ingin tidur denganmu. Ingin menjadi satu dan merengkuh indahnya dirimu. Aku ingin menyetubuhimu dengan lembut, Nisa. Aku ingin mengobati lukamu diperkosa laki-laki tua dengan tubuhku.”
Ge menutup mata, kepalanya tertunduk. Dalam khayalannya, ia mendengar suara Nisa membalas—suara lembut yang hanya ada di kepalanya. Dan itu cukup baginya malam itu. Cukup untuk membuatnya bertahan hidup, meski besok pagi ia akan kembali menatap istrinya dengan wajah datar, seolah tidak ada apa-apa.
Tangannya bergerak pelan, membuka celana dan mengeluarkan batang kejantanannya. Ia mencekiknya, dan menggerakkannya perlahan sembari menatap layar.
“Nisa… mmmhh… Nisaaaaa…”
Ge seolah ingin meraih Nisa keluar dari bingkai digital dan memeluknya, menciumnya, membuka bajunya, mengelus tubuh telanjangnya. Ia membayangkan suara lembut perempuan itu teramat dekat dengannya, membayangkan bagaimana seandainya Nisa duduk di kursi depan mejanya sekarang, menatapnya dengan mata yang tidak lelah seperti mata Amy, membuka kerudung dan pakaiannya, mempersembahkan tubuh indahnya untuk Ge seorang.
Dalam kesunyian yang pekat, Ge menutup matanya, membiarkan pikirannya liar. Nafasnya tersengal, cepat, bergelombang, tubuhnya tegang. Ia tenggelam dalam khayalan, menukar sosok nyata istrinya dengan bayangan seorang perempuan yang bahkan tidak pernah benar-benar dekat dengannya.
Tangannya semakin cepat bergerak seiring hasrat yang makin memuncak. Ia menginginkan Nisa, menginginkan mantan istri temannya, menginginkan sahabat istrinya, menginginkannya untuk dipeluk, untuk disayang, untuk dicium, untuk tidur bersama, untuk ditiduri, untuk ditelanjangi, untuk disentuh, untuk diremas, untuk dicium, untuk dijilat, untuk dibuka lebar-lebar pahanya, untuk dimasuki, lalu dimasuki lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi.
“Nisaaaa… Nisaaaaaaa… Nisaaaaaaaaa…”
Ge menggeram dan akhirnya menghela napas panjang.
Saat akhirnya tegang itu mereda dan bercak tumpah ke lantai, Ge terdiam lama. Jantungnya masih berdebar, wajahnya berkeringat. Ia menutup laptop buru-buru dan mengambil tissue untuk membersihkan bercak menggenang di bawah, seolah hendak menghapus bukti dosanya. Tapi ia tahu, yang ia lakukan tidak benar-benar bisa dihapus. Ada jejak di kepalanya—jejak yang lebih sulit hilang daripada file di komputer.
Ge menyandarkan tubuh di kursi, menatap kosong ke langit-langit. Perasaan bersalah mencuat, tapi hanya sebentar. Karena jauh lebih besar dari rasa bersalah itu adalah kenyataan getir: di rumah yang sama, ada istrinya yang masih setia, namun ia justru mencari kehangatan pada bayangan seorang wanita lain.
Wanita yang… entah berada di mana sekarang.
Ge berharap bisa kembali berjumpa.
3
Hujan mengguyur lereng Gunung Mandiri tanpa ampun. Langit kelabu menangkup rendah ke bawah, seolah ikut berduka atas jalur yang dijalani manusia-manusia yang patah semangat di bawahnya. Udara yang membeku menyebar ke seluruh daratan, bagaikan menusuk masuk sampai ke dalam sumsum, mencengkeram tulang-tulang yang rapuh.
Suara rintik yang menghantam atap bambu dan dedaunan terdengar seperti isak tangis langit, meratap pelan bersama jiwa-jiwa yang kehilangan segalanya.
Lereng Gunung Mandiri sedang tidak baik-baik saja.
Di tengah lanskap yang muram berdiri sebuah gubuk kecil yang nyaris menyerah pada usia. Atapnya bocor di banyak tempat, dinding anyaman bambunya tak lagi rapat, dan lantainya beralaskan tanah becek bercampur dedaunan mati. Di sudut ruangan yang paling kering—jika bisa disebut demikian—duduklah seorang perempuan yang tubuhnya meringkuk, mencoba menyatukan dirinya dengan kegelapan dan rasa dingin.
Nisa.
Dengan jilbab yang telah kusam dan belepotan lumpur, baju panjang yang basah menempel pada tubuhnya yang kini terlihat kurus, ia tampak seperti bayangan seseorang yang dulu pernah hidup dengan masa depan cerah.
Hijabnya robek di bagian ujung, menyisakan benang-benang terurai seperti hidupnya yang carut marut. Namun, meski terlihat kotor dan lesu, wajah itu tetap menyimpan jejak kecantikan yang tak bisa dilenyapkan oleh hina ataupun derita. Kulitnya yang pucat justru mempertegas lekuk-lekuk halus pada wajah tirusnya, dan mata indahnya—meski terlihat kosong—masih menyimpan bekas luka yang membuat siapa pun bisa menangis hanya dengan menatapnya.
Perutnya keroncongan, tetapi ia sudah tak peduli. Sejak kemarin ia belum makan apa pun, dan mulutnya terasa getir seperti menelan kabut. Hujan membasahi rambutnya, menetes ke leher, merambat hingga ke punggung, namun ia tetap diam. Seolah tubuhnya sudah menjadi bagian dari gubuk itu—diam, rusak, dan dilupakan. Ia bahkan tidak lagi tahu jam berapa sekarang, atau hari apa. Waktu telah kehilangan makna sejak Haris meneriakkan talak, sejak Cena dan Aboy menatapnya dengan kebingungan, sejak video terkutuk itu menyebar lebih cepat dari api gosip di grup WhatsApp perumahan.
Ia tak tahu apa yang lebih menyakitkan. Ditinggalkan, dihina, atau tak lagi dipercaya oleh siapapun. Dunia seperti berlomba menjatuhkannya dari tempat tertinggi yang pernah ia capai, lalu menginjak-injaknya sambil menonton dengan pandangan mata dingin.
Dulu ia disayang, dulu ia dipuja. Sekarang ia dicaci, sekarang ia dibenci. Dulu, ia punya rumah, usaha, dan keluarga. Sekarang, ia hanya punya selembar tubuh, nama, dan aib yang mengungkung selamanya.
Air mata bercampur hujan membasahi pipinya. Nisa menggigil hebat, dan sesekali bibirnya bergetar mencoba berdoa, tapi tak ada kata yang bisa keluar. Bahkan doa pun kini terasa terlalu mewah dan berat untuknya. Tubuhnya merapat pada dinding bambu, mencoba menghangatkan diri dari dingin yang tak hanya berasal dari udara, tapi dari hidup yang telah berubah menjadi neraka beku. Ia ingin tidur, tapi takut tak bangun lagi. Ia ingin mati, tapi takut Tuhan pun menolaknya.
Dan di tengah keterpurukan itu, hanya satu suara yang terus berdengung di dalam kepalanya—suara Haris yang penuh jijik:
“Kamu perempuan murahan, Nisa. Pergi dari sini.”
Ia menutup telinga, tapi suara itu terus bergema, bercampur dengan suara hujan yang semakin lebat, seperti dentuman genderang yang menandakan kekalahan terakhir seorang manusia. Di luar sana, angin mulai meraung, menggoyang pohon-pohon, dan air mengalir deras di bawah gubuk. Tapi Nisa tetap di sana, duduk menanti… entah apa.
Mungkin ajal. Mungkin keajaiban. Atau mungkin setetes harapan.
Nisa terisak dalam diam, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tetapi karena jijik terhadap dirinya sendiri—ia merasa kotor dan hina. Harga dirinya sudah dicabik-cabik sampai hancur oleh tangan keriput Wak Sobri, lelaki tua penjaga perumahan yang selama ini ia percaya dan kenal seperti keluarga sendiri; sosok yang dulu menyapanya ramah setiap pagi, sosok yang seharusya menjadi contoh dan dituakan, kini menjadi mimpi buruk yang membekas di tubuh dan ingatannya dengan luka yang tak bisa dibersihkan oleh air dari manapun.
Tangannya menggenggam lutut semakin erat, seakan ingin membungkus tubuhnya sendiri dari dunia yang kejam. Di balik kelopak matanya yang tertutup, Nisa masih bisa melihat bayangan wajah Wak Sobri yang menyeringai saat tubuhnya tak berdaya.
Obat perangsang itu membuatnya lumpuh, membuatnya tak mampu melawan birahi sendiri, sementara laki-laki itu merobek seluruh martabat yang selama ini ia jaga. Ia ingin menjerit, tapi tenggorokannya tercekat oleh rasa malu dan trauma yang terus-menerus menggerogoti pikiran seperti ingin hancur sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, bukan hanya tubuhnya yang dirusak, tapi juga namanya yang dicemarkan. Rekaman video dari malam laknat itu beredar seperti api di tumpukan jerami—tak bisa dipadamkan dan tak bisa dihentikan. Tidak ada yang percaya bahwa ia korban.
Tak satu pun.
Warga Kembang Arum Asri mencibirnya, sang suami Haris mencampakkannya, bahkan anak-anaknya kini telah jauh dari pelukannya. Ia merasa tubuh ini bukan lagi miliknya, jiwanya tercerabut, dan yang tersisa hanya cangkang kosong yang duduk menggigil di bawah atap bocor di lereng gunung yang asing.
Aku tak berhak hidup. Aku sudah kotor dan ternoda.
Dulu, sebelum semua musibah itu menimpanya, Nisa adalah gambaran sempurna seorang ibu muda. Berhijab rapi, wajahnya teduh, kulitnya cerah, tubuhnya mungil, dan cekatan. Setiap kali berjalan di jalan setapak perumahan Kembang Arum Asri, orang-orang selalu menoleh. Ada aura manis yang melekat padanya, sesuatu yang membuat orang betah berlama-lama memandang.
Tak hanya parasnya nan ayu, Nisa juga pandai bergaul. Suaranya serak-serak basah menggemaskan, sapanya tulus, dan ia selalu tersenyum ke mana pun pergi. Anak-anak kecil di perumahan sering memanggilnya “Bunda Kue” karena ia kerap membagikan donat atau kue basah sisa dari tokonya. Para ibu pun segan sekaligus kagum padanya, bagaimana tidak, Nisa amat rajin, lembut, pandai mengurus rumah, dan masih sempat berbisnis kecil di sela-sela kesibukannya.
“Waduh, Bu Nisa makin ayu saja. Rahasianya apa, ya?” tanya Bu Wati suatu pagi di pos ronda, saat Nisa lewat membawa kardus kue untuk dititipkan di warung.
“Ah, Bu, biasa saja,” jawab Nisa merendah, sambil tersenyum.
Para ibu tertawa kecil, tapi dalam hati mereka tahu, tak ada satu pun yang bisa menandingi pesona sederhana ibu muda itu.
Para pria di kompleks, baik tua maupun muda, sering terjebak mencuri pandang. Di warung kopi dekat pintu gerbang, bisikan nakal kerap terdengar. “Itu, si Nisa. Kalau lewat, rasanya adem, ya,” ujar Pak Hadi sambil terkekeh.
“Adem apaan, Pak? Ngaku sajalah, mata Pak Hadi itu nggak bisa lepas dari bu Nisa, memang cakep sih, Pak,” sahut kawannya, membuat tawa pecah.
Bahkan sang penjaga komplek, Uwak Sobri, yang kala itu masih disegani, sering berseloroh. “Bu Nisa kalau lewat depan rumah bikin saya semangat kerja, lho,” katanya sekali waktu. Nisa hanya tersenyum sopan, menganggap ucapan itu sekadar basa-basi ramah. Ia tidak pernah menyadari ada tatapan-tatapan lain yang menyimpan maksud berbeda. Sama sekali tak menyangka bahwa kelak memeknya akan dimasuki penis sang lelaki tua.
Para bapak yang sering rapat RT pun kadang melontarkan kalimat samar. “Kalau Bu Nisa bikin kue buat acara, rasanya enak terus. Bikin nagih,” kata Pak Surya.
“Ya, nagih kuenya apa orangnya?” timpal yang lain dengan tawa tertahan. Mereka saling sikut, pura-pura bercanda, meski dalam hati mereka tahu siapa yang mereka maksud.
Di mata para tetangga muda, Nisa adalah sosok ibu idaman. “Andai istriku kayak dia, ya… pintar masak, pintar dagang, cantik lagi,” ujar salah satu pria muda yang baru menikah, ketika nongkrong dengan kawannya. Mereka tertawa, tapi dalam tawa itu ada rasa iri yang samar.
Para janda di kompleks sering jadi bahan gosip di antara ibu-ibu, tapi Nisa tidak. Ia justru selalu dibicarakan dengan nada yang campur aduk, kagum sekaligus cemburu. “Bu Nisa itu mukanya polos, tapi entah kenapa kok menarik terus, ya,” bisik seorang ibu di acara pengajian.
“Ya namanya juga masih muda, Bu. Lha kita sudah rempong sama anak dan suami. Dia pintar jaga diri,” jawab yang lain, meski di balik kata-katanya terselip nada iri.
Tak jarang, Haris—suami Nisa—jadi bahan perbincangan juga. “Waduh, Pak Haris itu hoki banget, dapat istri macam Bu Nisa. Mungil, cantik, rajin pula,” ujar seorang bapak seusai rapat RT.
“Betul, betul. Kita ini kayaknya kurang beruntung,” sahut kawannya, lalu mereka tergelak bersama.
Setiap kali ada acara lingkungan, Nisa selalu jadi pusat perhatian. Saat bazar 17 Agustus, ia mengisi stan kue sendiri, mengenakan gamis sederhana. Anak-anak berlarian di sekelilingnya, ibu-ibu mampir membeli, sementara mata para lelaki sibuk memperhatikan cara Nisa melayani dengan sabar dan sopan. Senyumnya bagaikan cahaya, dan semua orang merasakan kehangatannya.
Namun, semakin banyak yang mengaguminya, semakin banyak pula bisikan-bisikan yang beredar. “Cantik-cantik, tapi jangan-jangan ada rahasia di baliknya,” ujar seorang ibu dengan nada sinis.
“Ya, siapa tahu. Namanya juga manusia. Terlalu sempurna itu biasanya ada aibnya,” balas yang lain, menutup dengan desisan. Gosip itu berkembang pelan, tanpa bukti, hanya karena rasa iri.
Haris, sang suami, sering tak sadar bahwa istrinya jadi buah bibir. Sibuk dengan pekerjaannya sebagai dosen, ia percaya penuh pada kesetiaan Nisa. Namun, bagi sebagian lelaki, kepercayaan itu tampak seperti kelengahan yang menggoda. “Pak Haris itu polos banget. Kalau aku punya istri secantik itu, nggak bakal aku tinggal sendirian di rumah,” komentar seorang pria, membuat teman-temannya mengangguk-angguk.
Nisa sendiri, dengan kecerobohannya, kadang menambah bahan gosip. Pernah suatu kali ia menjatuhkan belanjaan di depan warung, dan seorang pemuda buru-buru menolongnya. Senyum tulusnya dianggap lebih dari sekadar ramah. “Wah, lihat nggak tadi? Bu Nisa senyum ke aku. Aduh, nggak bisa tidur aku nanti malam,” canda pemuda itu di tongkrongan.
Meski begitu, di mata banyak orang, Nisa tetap menjadi kembang perumahan—cantik, sederhana, sekaligus berkharisma. Pesonanya membius, membuat para lelaki betah memendam khayalan, dan para perempuan sibuk menahan rasa iri atau cemburu. Ia tak pernah berniat menebar pesona; justru karena ketulusannya, ia tampak lebih cantik jelita.
Dan kini, kontras itu begitu pedih. Perempuan yang dulu dielu-elukan, dipuji, bahkan diam-diam diidamkan, kini hanya jadi bahan cemooh. Mulut-mulut yang dulu berdecak kagum, kini meludah hinaan. Dunia Nisa telah jungkir balik—dari “kembang perumahan” menjadi “perempuan buangan”. Dan luka di hatinya semakin dalam setiap kali ia mengingat betapa mudahnya kagum berubah menjadi hujat.
Pagi itu, warung Bu Jum masih ramai. Sayur-mayur baru saja diturunkan dari pikulan, aroma bawang merah dan daun seledri bercampur jadi satu. Bu Nur dan Bu Fitri duduk di bangku kayu, sambil memilah cabai. Dari kejauhan, tampak sosok Nisa berjalan, membawa keranjang belanja, langkahnya ringan, senyumnya menebar hangat ke siapa pun yang ia sapa.
“Assalamualaikum, Bu Nur, Bu Fitri,” sapa Nisa lembut, matanya teduh, wajahnya berseri meski hanya mengenakan gamis sederhana. Ia menunduk sopan sebelum masuk ke warung.
“Waalaikumsalam, Bu Nisa…” jawab Bu Nur cepat, matanya berbinar. Ia segera menepuk tangan Bu Fitri. “Aduh, lihat deh, Fit, cantik banget ya. Ibu muda satu ini kalau lewat kayak nyegerin suasana.”
Bu Fitri mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Nur. Padahal anaknya dua lho, tapi masih kelihatan kayak gadis. Kulitnya itu lho, mulus banget, glowing. Pantesan banyak yang ngefans diam-diam.”
Keduanya tertawa kecil, tapi nada kagumnya jelas tak bisa ditutupi.
Nisa sibuk memilih sayur di dalam warung, sementara Bu Jum berkomentar, “Bu Nisa ini kalau bikin kue, laris terus. Banyak tetangga pesen, anak-anak juga suka. Orang cantik, pintar dagang lagi. Lengkap sudah.” Kata-kata itu semakin menegaskan posisi Nisa sebagai kebanggaan lingkungan.
Tapi itu dulu.
Kini, suasananya lain. Warung Bu Jum tetap sama, sayur-mayurnya tetap segar, tapi setiap kali Nisa melintas, udara seakan menegang. Tubuh mungilnya kini tampak rapuh, wajahnya pucat, kerudungnya kusam. Ia masih menyapa sopan, “Assalamualaikum, Bu…” suaranya lirih, seolah takut didengar terlalu jelas.
Bu Nur hanya menjawab datar, “Waalaikumsalam,” tanpa senyum, matanya menghindar. Begitu Nisa masuk warung, ia segera berbisik ke Bu Fitri, suaranya rendah tapi penuh nada sinis. “Astaghfirullah, masih berani juga dia nongol ke sini. Mukanya tebal banget ya, Fit.”
Bu Fitri mendengus, menutup mulut dengan tangan seakan menahan tawa. “Iya, Bu Nur. Harusnya malu lah. Semua orang udah tahu aibnya. Rekaman itu kan udah beredar. Masih aja berani belanja kayak nggak ada apa-apa. Ih, jijik.”
Nisa pura-pura tak mendengar, meski telinganya panas. Ia tetap memilih sayur dengan tangan gemetar, ingin segera pulang. Namun Bu Jum hanya terdiam kaku, tak lagi menyambut hangat seperti dulu. Seakan seluruh dunia sudah berubah warna.
“Padahal dulu kita kagum banget sama dia, ya,” bisik Bu Nur lagi, kali ini dengan nada getir. “Cantik, alim, rajin… eh, ternyata busuk di dalam. Kasihan banget suaminya. Dosen seganteng Pak Haris, bisa jatuh hati pada istri yang kayak lonte.”
Bu Fitri menimpali cepat. “Betul, betul. Aku tuh dulu sampai iri sama dia, Nur. Tapi lihat sekarang… hancur, kan. Jadi pelajaran buat kita semua. Jangan sok-sokan suci, jangan terlalu dipuji, akhirnya kebongkar juga.”
Di sudut warung, Nisa mendengar sayup-sayup bisikan itu. Air matanya menumpuk di sudut mata, tapi ia tahan mati-matian. Ia membayar sayurnya cepat-cepat, menyelipkan uang ke meja Bu Jum, lalu melangkah pergi. Senyum yang dulu jadi cahaya perumahan, kini hanya sisa tipis di bibir yang bergetar.
Begitu Nisa pergi, Bu Nur menghela napas panjang. “Kasihan sih… tapi gimana ya, sudah terlanjur kotor. Orang kalau sudah jatuh, susah bangkit lagi.”
Bu Fitri mengangguk, mengibas-ngibaskan tangannya seolah menyingkirkan bayangan Nisa. “Iya, Bu Nur. Namanya bunga kalau sudah layu, siapa yang mau lagi?”
Mereka berdua kembali memilah cabai, seakan tak terjadi apa-apa. Tapi di udara warung itu, masih tersisa jejak kontras yang menyayat hati: dulu Nisa dipuja, kini ia dicemooh. Dan di setiap bisikan mereka, Nisa seakan terkubur semakin dalam.
Nisa lantas meninggalkan tempat itu – mungkin untuk selamanya. Ia melangkah pergi, tanpa tahu arah yang pasti.
Sampai akhirya terjebak di gubuk reyot di tengah hujan yang turun tanpa ampun membasuh bumi
Di tengah deras hujan yang tak kunjung reda, terdengar suara langkah tertatih mendekat, diiringi derit karung plastik yang diseret menyentuh tanah basah. Dari balik kabut tipis dan tirai hujan, muncul sosok seorang nenek tua dengan tubuh bungkuk dan pakaian yang sudah basah kuyup. Di punggungnya tergantung karung besar berisi botol plastik bekas dan kardus remuk—hasil memulung seharian yang tampaknya tak sepadan dengan tenaga yang ia habiskan. Meski tubuhnya renta dan napasnya terengah, wajahnya justru dihiasi senyum lembut, seolah lelah tak mampu mencuri seberkas pun harapan dari dalam dirinya.
Nenek itu melangkah mendekat ke gubuk reyot tempat Nisa berteduh. Dengan suara serak tapi ramah, ia menyapa, “Nduk... boleh Nenek numpang berteduh sebentar?”
Nisa menoleh perlahan, matanya masih sembab dan tubuhnya gemetar, namun tatapannya terpaku pada sosok perempuan tua yang berdiri di ambang pintu gubuk—tak membawa kemewahan, tak membawa jawaban, tapi entah mengapa kehadirannya membawa sedikit hangat yang tak bisa dijelaskan oleh logika.
Nenek itu melangkah masuk perlahan, menurunkan karung dari punggungnya dan meletakkannya di sudut gubuk. Ia menghela napas panjang, lalu duduk bersila di lantai tanah sambil mengusap lutut tuanya yang tampak pegal. Matanya melirik ke arah Nisa yang masih meringkuk diam di pojok ruangan.
“Aku Siti, Nduk,” ucapnya pelan namun penuh kehangatan. “Orang-orang memanggilku Nenek Siti. Rumah Nenek di atas sana, di lereng. Tapi kalau hujan deras begini, Nenek suka mampir istirahat dulu di gubuk ini. Gubuk ini sepertinya memang untuk beristirahat setelah lelah.”
Nisa hanya mengangguk pelan tanpa menatap langsung. Bibirnya terbuka sedikit, hasrat ingin menjawab, tapi hanya udara kosong yang keluar. Malunya masih menggantung, dan tubuhnya masih penuh ketakutan yang belum sembuh. Dia benar-benar trauma dengan semua orang yang menatapnya.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat, hanya diisi oleh suara hujan yang terus menetes dari sela atap dan gemuruh jauh dari langit. Hingga tiba-tiba, suara keras mengisi ruangan—kruuuukkkk—perut Nisa berbunyi nyaring, memecah kesunyian. Nisa spontan menunduk lebih dalam, pipinya memerah, malu bukan main. Tapi Nenek Siti hanya terkekeh kecil.
“Wah, perutmu protes, Nduk. Tunggu sebentar ya, Nenek masih punya ubi rebus di dalam daun pisang,” katanya sambil merogoh kantong kresek kecil dari karungnya. “Rezeki itu datangnya tidak ada orang yang tahu.”
Nenek Siti membuka bungkusan daun pisang yang sudah lembap oleh air hujan. Di dalamnya ada beberapa potong ubi rebus berwarna kuning pucat, mulai dingin karena menempuh jarak yang jauh. Sang Nenek menyodorkan sepotong pada Nisa dengan tangan keriput yang gemetar, namun tetap tegas dan penuh perhatian.
“Nih, makan dulu. Nenek tahu, perut lapar bikin hati tambah gelisah,” katanya sambil tersenyum, “kamu butuh makan. Kamu mau hidup kan? Makan.”
Nisa menatap ubi itu sejenak, ragu, lalu perlahan meraihnya. Tangannya kotor dan gemetar, tapi ia tak mampu menolak. Saat gigitan pertama menyentuh lidahnya, matanya memanas. Bukan karena rasa ubi yang luar biasa, tapi karena kehangatan yang tiba-tiba menyeruak di tengah beku dunianya. Makan di tangan orang asing, di tempat asing, saat tak punya apa-apa… adalah keajaiban kecil yang tak terduga.
“Te-terima kasih…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Nenek Siti tersenyum makin lebar. “Alhamdulillah kamu masih bisa bilang terimakasih. Banyak orang yang kenyang malah lupa cara bersyukur. Pertahankan terus, Nduk. Hidup boleh hancur, wajah lama-lama peyot, tapi semangat harus selalu menyala.”
Beberapa menit berlalu, hanya terdengar suara kunyahan pelan dan rintik hujan yang mulai mereda. Nenek Siti memandangi Nisa dengan mata lembut, penuh keingintahuan tapi tak menghakimi.
“Nduk,” ucapnya hati-hati. “Boleh Nenek tanya… kenapa kamu bisa ada di sini? Rumahmu di mana?”
Nisa terdiam. Matanya menatap lantai tanah yang becek. Nafasnya menggantung, berat. Pertanyaan sederhana itu seperti palu yang memukul dada. Ia ingin bicara, tapi mulutnya terkunci oleh malu, rasa sakit, dan trauma yang belum sembuh. Hanya kepala yang menggeleng pelan, tanpa kata.
Melihat itu, Nenek Siti tak menekan lebih jauh. Ia mengangguk paham dan menepuk lututnya pelan.
“Ya sudah, nggak apa-apa kalau belum siap cerita.”
Nisa menundukkan kepala.
“Nenek bukan siapa-siapa, tapi kalau kamu mau tinggal di rumah Nenek dulu, boleh. Nenek nggak butuh tahu masa lalu kamu. Nenek hanya ingin menolong saja. Kamu butuh tempat tinggal, kan? Nenek punya walau seadanya. Jangan khawatir.”
Nisa menatapnya. Mata mereka bertemu sejenak. Untuk pertama kalinya hari itu, Nisa merasa tidak dinilai buruk, tidak dicurigai, tidak dibenci. Hanya… diterima.
“Nenek cuma tanya satu hal, ya,” lanjut Nenek Siti sambil bangkit perlahan, membenarkan ikatannya yang longgar. “Kamu bisa masak?”
Pertanyaan itu membuat Nisa tertegun. Ia tak tahu kenapa ditanya begitu, tapi entah kenapa… ada harapan kecil yang perlahan menyala dari balik reruntuhan hatinya.
Nisa mengangguk.
Nisa menunduk dalam, menatap kedua tangannya yang kini menggenggam sisa ubi dengan erat. Tubuhnya mulai bergetar pelan, lalu makin hebat. Air matanya jatuh satu per satu, menetes ke tanah yang lembap, menyatu dengan sisa hujan. Isak kecil yang semula tertahan perlahan berubah menjadi tangis yang tak lagi bisa dikendalikan.
Tubuhnya membungkuk, seperti ingin mengecil dan lenyap melesak ke dalam dirinya sendiri. Suara tangisnya kini menggema di dalam gubuk kecil itu—sesak, pecah, dan penuh luka yang selama ini ia tahan. Tangis perempuan yang telah kehilangan segalanya. Tangis karena malu, karena trauma, karena merasa hancur dan tak berharga. Tangis karena ada seseorang yang, entah kenapa, tak peduli siapa dia, dan tetap menawarkan sepotong ubi serta tempat berteduh.
Nenek Siti tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat pelan, lalu duduk di samping Nisa, menepuk pelan punggung gadis itu dengan tangan keriputnya yang penuh kehangatan. Tak ada kalimat bijak yang diucapkan, karena ia tahu—saat luka masih basah, kata-kata hanya akan terasa seperti garam.
Nisa terus terisak. Nafasnya tersengal, dadanya sesak, dan hatinya runtuh berkali-kali. Tapi di sela sesaknya tangis, ada sedikit kelegaan yang mulai merambat. Seperti air sungai yang mulai mengalir setelah bendungan akhirnya jebol. Ia menangis untuk semua yang telah ia telan diam-diam. Untuk malam gelap itu. Untuk tatapan jijik Haris. Untuk anak-anaknya yang tak bisa ia peluk lagi. Untuk semua jari yang menunjuknya sebagai perempuan hina.
“Aku… aku nggak punya siapa-siapa lagi, Nek…” lirihnya di sela tangis. “Aku… nggak tahu harus ke mana…”
Nenek Siti menarik napas pelan, lalu mengusap kepala Nisa perlahan. “Sekarang kamu punya Nenek. Rumah Nenek memang kecil, tapi cukup buat dua orang saling bantu. Kamu ikut Nenek ya?”
Nisa mengangkat wajahnya, matanya bengkak dan merah. “Nek… yakin mau nolongin saya? Saya dibuang dan dihina banyak orang.”
“Oalah, cah ayu,” Nenek Siti tersenyum tipis. “Orang yang sudah punya segalanya tidak perlu ditolong karena mereka punya pilihan. Tapi orang-orang seperti kamu? Hidup ini tidak akan pernah jalan sesuai dengan keinginanmu kalau tidak kamu usahakan. Kamu bisa masak, nanti bisa belajar berkebun. Itu cukup. Yang lain, pelan-pelan aja. Orang yang mau bangkit jalannya pasti diterangi.”
Nisa mengangguk pelan, masih terisak, tapi kini tangisnya mulai mereda. Matanya yang sembab menatap Nenek Siti dengan campuran haru dan tak percaya, seolah masih belum yakin bahwa di dunia yang telah membuangnya, ada satu manusia yang memilih merangkulnya tanpa syarat. Anggukan itu bukan sekadar jawaban, tapi janji dalam diam—janji bahwa ia akan mencoba bertahan, mencoba bangkit, meski hatinya masih remuk dan kakinya masih goyah.
Nenek Siti tersenyum, lalu menepuk bahu Nisa dengan lembut. “Bagus, Nduk… itu tandanya kamu masih hidup dan tidak menyerah dengan keadaan. Selama masih hidup, masih ada harapan. Besok pagi kita mulai lagi, ya. Nenek ajari kamu menanam cabai, menanam sayur, memetik daun-daunan, dan sorenya kita masak bareng.”
Untuk pertama kalinya sejak dunia runtuh di hadapannya, Nisa merasa ada yang menanti di hari esok—bukan penghinaan, bukan kutukan, tapi mungkin… kehidupan yang baru.
“Ikut Nenek.”
Langkah kaki Nisa berat, tubuhnya masih lemah dan kurus. Jalan setapak yang dilalui menuju lereng Gunung Mandiri itu begitu curam dan licin setelah semalam diguyur hujan. Tanah liat menempel di telapak kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit bekas pemberian Nenek Siti. Nafasnya tersengal, keringat bercampur debu mengalir di pelipisnya. Namun sorot matanya—meski sayu—menyimpan nyala kecil: nyala bertahan.
Setelah menempuh perjalanan kaki menembus semak dan batu-batu menanjak, Nisa akhirnya sampai di sebuah dataran kecil yang sedikit lebih rata. Di hadapannya, berdiri sebuah gubuk reyot berdinding papan dan atap seng karatan. Tapi berbeda dengan kesan suram yang ia bayangkan… tempat itu terasa hidup. Halamannya dipenuhi tanaman sayuran dalam pot bekas ember cat, kaleng susu, dan karung bekas yang disusun rapi. Ada sawi, bayam, cabai, bahkan serai dan tomat.
Gubuk yang reyot itu – terasa indah.
Nisa berdiri di pinggir jalan setapak kecil yang berliku, menatap gubuk dengan kebun sederhana itu seperti menatap oasis. Di tengah derit hidupnya yang kelam, gubuk itu seperti harapan kecil yang tumbuh di balik reruntuhan. Jelas bukan rumah mewah, atau apapun yan gdulu pernah ia nikmati, tapi gubuk ini terasa lebih manusiawi, lebih jujur dan apa adanya.
Dari kejauhan, terdengar suara gemerisik. Nenek Siti tampak sedang duduk bersila di dekat tumpukan botol plastik dan kaleng bekas, memilah satu per satu sambil bersenandung kecil. Ia mengenakan kebaya lusuh dan kerudung pudar yang diikat seadanya. Wajahnya keriput, namun senyumnya lembut dan teduh—seolah seluruh beban dunia tidak pernah berhasil merobek harapannya.
Melihat Nisa berdiri mematung di tepi kebun, Nenek Siti segera berdiri pelan, menatapnya dengan senyum hangat.
“Nah, akhirnya nyampe juga, Nduk…” katanya pelan sambil menghampiri, tangannya masih memegang botol minuman energi yang penyok.
Nisa hampir tak sanggup membalas senyuman itu. Tenggorokannya tercekat oleh rasa haru dan lelah. Ia hanya bisa mengangguk kecil, lalu menunduk menahan air mata.
“Maaf, Nek… saya… saya lambat,” ucapnya lirih.
“Namanya juga nanjak, pasti capek. Yang penting nyampe, toh?” jawab Nenek Siti sambil menepuk bahu Nisa pelan, lalu menggamit lengan gadis itu menuju teras gubuk kecil mereka.
Dari dekat, gubuk itu tampak lebih bersahabat. Ada bangku panjang dari batang pohon kelapa, tikar pandan di atas lantai tanah, dan aroma wangi daun pisang segar dari dapur kecil di belakang. Seekor kucing kurus meringkuk di sudut halaman, dan suara gemericik air dari gentong bambu menambah kesan tenang pada tempat itu.
“Nek…” Nisa akhirnya bersuara setelah beberapa menit duduk di teras. “Boleh saya tinggal di sini… walau cuma sebentar?”
Nenek Siti menoleh dan tersenyum lagi, kali ini lebih lembut, nyaris seperti ibu yang menenangkan anaknya. “Kamu mau tinggal seminggu, sebulan, atau seumur hidup juga boleh, Nduk. Di sini nggak ada yang ngusir. Kita hidup bareng, nanem bareng, makan bareng. Nenek nggak punya banyak, tapi kamu bisa istirahat di sini.”
Dan di bawah langit yang baru, dengan napas yang masih berat, Nisa tahu—untuk pertama kalinya sejak hidupnya dihancurkan—ia bisa mencoba untuk memulai kembali. Meski dari gubuk reyot, dan dari tanah yang penuh lumpur. Tapi dari sinilah… ia akan belajar berdiri lagi.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *