Maya merasa nafasnya terengah-engah. Tubuhnya berkeringat, jantungnya berdebar, dan tangannya gemetar menahan rasa takut.
Dari balik batu besar tempatnya bersembunyi, ia bisa melihat seekor kijang yang tengah berlari sekuat tenaga, demi menghindari serangan seekor singa. Anehnya, Maya justru berharap singa tersebut bisa segera menerkam mangsanya, agar semua bisa lekas tuntas.
Tawa Maya sudah hampir pecah, kala melihat sang singa berhasil mendahului kijang buruannya, lalu membuatnya terjatuh. Sesaat lagi, singa tersebut pasti bisa menikmati santapan makan siang yang lezat dan memuaskan. Namun apa yang terjadi setelahnya, membuat Maya ketakutan setengah mati.
“Astaga... Bagaimana bisa?”
Dalam sekejap, kijang yang semula tampak lemah seperti pengecut, kini justru berubah wujud menjadi seekor serigala. Tak hanya itu, serigala tersebut juga mulai memamerkan taringnya yang tajam di hadapan sang singa, seperti ingin menunjukkan kalau ia adalah lawan sepadan yang tidak bisa dianggap sepele.
Serupa dengan Maya, singa tersebut seperti terpana dan tidak mampu bergerak saat sang serigala mulai menerjang dan melancarkan serangan. Dalam sekejap, singa itu berhasil diterkam dan dicabik-cabik tubuhnya, hingga lemah tidak berdaya. Kini, serigala tersebut tengah menindih tubuh hewan buas yang tadi mengejarnya, dan menahannya di tanah.
Maya ingin sekali menolong singa tersebut, tetapi tidak bisa. Kakinya seperti tertanam begitu dalam di tanah tempatnya berdiri, tanpa celah untuk bisa keluar. Sesaat, mata Maya saling bertatapan dengan sang serigala yang menoleh ke arahnya. Serigala tersebut menunjukkan taringnya yang kini telah berwarna kemerahan karena darah singa pemburu yang menempel.
Tiba-tiba…
“Astaghfirullah… mimpi apa aku sebenarnya?” Gumam Maya saat ia akhirnya membuka mata, dan menemukan dirinya baru saja terbangun dari mimpi buruk tersebut.
Dengan masih tersengal-sengal, perempuan itu menoleh ke samping, di mana anaknya masih tertidur pulas. Semalam, bocah bernama Athar tersebut memang sempat beberapa kali terbangun, meski kemudian langsung tidur kembali begitu mendapat asupan susu dari sang ibunda.
Cahaya mentari telah menembus dari sela-sela tirai jendela yang tertutup, penanda bahwa malam baru saja berlalu. Maya memandang tubuhnya yang masih tanpa busana, hanya tertutupi secarik selimut tebal. Daster motif kembang-kembang yang semalam sempat ia kenakan masih tergeletak begitu saja di lantai kamar.
Perempuan itu tersenyum saat mengingat apa yang baru saja terjadi tadi malam di kamar itu. Kamar yang seharusnya menjadi saksi kehidupan berkeluarga yang harmonis antara Maya dan suaminya, semalam justru menjadi arena pertarungan panas antara sang perempuan dengan pria tua yang berusia jauh di atasnya. Bila dibandingkan, ketampanan suaminya jelas beda kelas dengan pria tersebut.
Namun, semua hal itu seperti tidak menghalangi Maya dan sang pria untuk saling beradu birahi, entah hingga berapa jam lamanya.
Maya masih bisa merasakan bagaimana vaginanya terasa penuh saat kemaluan Pak Santo yang belum disunat menembus ke dalam. Di satu sisi, ia merasa kotor dan hina ketika tubuhnya tengah ditindih oleh pria tua tersebut. Kehormatannya sebagai seorang istri seperti ternodai saat tubuhnya terus menerus dijamah oleh lelaki yang tidak seharusnya diizinkan untuk melihat auratnya sekecil apa pun.
Namun di sisi lain, ada rasa nikmat yang tak bisa terungkapkan, seiring dengan genjotan pinggul Pak Santo yang begitu memabukkan. Meski awalnya pelan, pompaan sang pria di selangkangan Maya membuat rongga vaginanya seperti digaruk-garuk dengan kasar. Rasa sakit yang sempat muncul pun langsung berganti kenikmatan surgawi yang membuat Maya merasa melayang.
“Apakah Mas Ervan juga merasakan kenikmatan yang sama waktu ngentot sama perempuan lacur bernama Amy itu? Pasti nggak lah ya, kan penisnya Mas Ervan nggak sebesar punya Pak Santo,” gumam Maya.
Perempuan itu bahkan tidak menolak saat Pak Santo ingin menuntaskan libidonya di dalam liang senggama tersebut. Bahkan, Maya merasa sensasi yang sulit dilupakan ketika dinding rahimnya menerima semprotan bertubi-tubi dari pria tua tersebut. Semburan sperma yang lengket dan hangat itu seperti menggelitik ujung terdalam kemaluannya dengan nakal.
Meski tetap tidak banyak bicara, Maya sebenarnya juga berhasil mencapai klimaks pada saat yang sama, ditandai dengan tubuhnya yang menggeletar. Entah Pak Santo sempat mengetahuinya atau tidak, karena Maya tetap merasa malu untuk menunjukkan sikap binalnya.
Namun, Maya tidak berusaha berontak atau mengelak ketika Pak Santo kemudian lunglai kehabisan tenaga setelah seluruh gairah birahinya melesak keluar, dan langsung roboh menimpa Maya. Keduanya pun sempat berpelukan, dengan kondisi masih tanpa busana, sembari memulihkan kembali stamina mereka yang sudah terkuras habis.
.::..::..::..::..::.
Hanya butuh waktu tidak sampai 15 menit bagi Maya untuk merasakan bahwa tubuhnya yang baru saja mencapai klimaks, terasa sudah kembali bertenaga. Ia pun coba mengelus-elus batang penis Pak Santo tanpa menunggu perintah sang pria tua.
Hal itu pun membuat Pak Santo jadi terkejut. “Apa yang kamu lakukan, Dek Maya?”
Maya menoleh ke arah wajah Pak Santo dengan tatapan yang sayu. “Aku pengin elus. Boleh, Pak?”
“Boleh, Dek Maya. Kamu sudah mau lagi ya? Hihii… Sepertinya kontol saya memang sudah bikin kamu ketagihan ya?”
Seperti ingin menunjukkan rasa cintanya, Pak Santo mengelus-elus rambut Maya yang tergerai bebas. Usapan tersebut kemudian berlanjut ke bagian belakang telinga, hingga leher Maya.
Di bawah cahaya lampu yang remang-remang, seiring hari yang mulai memasuki malam, Pak Santo masih bisa melihat paras cantik sang ibu muda yang begitu menggoda. Tubuhnya pun terlihat sensual, tanpa secarik kain pun yang menutupi auratnya. Apalagi bila ditambah payudara besarnya yang bergoyang-goyang ke kiri dan kanan.
“Jawab dong, Dek Maya. Mau lagi atau nggak? Kalau kamu nggak mau, saya bisa pulang sekarang,” desak Pak Santo, sambil pura-pura akan bangkit dari ranjang.
Tanpa diduga, Maya justru menahan lengan pria tua tersebut. “J-jangan, Pak.”
“Jangan apa?”
Maya menundukkan kepalanya, suaranya terdengar parau, wajahnya memerah. Apa yang terdengar kemudian serasa bukan datang dari bibirnya, “Jangan pergi.”
Pak Santo tersenyum, “Memangnya kita mau ngapain di sini?”
“S-saya mau, Pak...”
“Mau apa, Dek Maya? Yang jelas dong. Hihii...” Ujar Pak Santo menggoda. Padahal, dalam hatinya ia sudah tidak sabar untuk masuk ke ronde kedua bersama ibu muda tersebut.
“Saya mau... ditindih lagi sama Pak Santo...”
“Yakin mau saya tindih lagi kayak tadi?”
Maya mengangguk.
“Duh, tapi bagaimana ya. Saya ini sedikit capek, maklum lah namanya juga orang tua. Saya pengen rebahan dulu, boleh kan? Hehee...”
Maya tidak tahu bagaimana seharusnya menanggapi kata-kata Pak Santo tersebut.
“Tapi, kalau Dek Maya memang sudah pengin banget. Sini naik sendiri ke atas tubuh saya,” lanjut Pak Santo sambil menepuk-nepuk pahanya yang sebelah kanan.
Meski awalnya merasa ragu, Maya pun menuruti permintaan Pak Santo untuk naik ke atas tubuhnya. Dengan posisi seperti itu, kemaluannya kini berada tepat di hadapan penis sang pria tua. Karenanya, batang besar milik Pak Santo jadi seperti bergesek-gesek dengan bibir vagina Maya, membuat ukurannya secara otomatis jadi makin mengembang.
Dari posisinya yang sedang terlentang di atas ranjang, Pak Santo tidak bisa memalingkan wajah dari pemandangan indah di hadapannya. Payudara Maya yang bulat layaknya buah melon, seperti menahan perhatiannya agar tidak berpindah ke mana-mana. Apalagi, saat Pak Santo coba menyentuhnya dengan tangan, sepasang buah dada tersebut terasa begitu halus dan kenyal. Putingnya yang membusung pun terasa begitu elastis saat ia sentil-sentil gemas.
Pak Santo kemudian menarik kepala Maya agar mendekat. Dengan cepat, ia kembali melumat bibir perempuan tersebut yang begitu ranum.
“Hmpppphhh...”
“Hmpppphhh...”
Lidah mereka pun beradu, diiringi dengan bertukarnya air liur di rongga mulut mereka. Bunyi kecipak yang terjadi akibat percumbuan tersebut seperti memenuhi ruangan kamar yang tidak terlalu lebar itu. Bila ada salah satu tetangga mereka yang mendadak masuk, ia pasti akan heran mengapa Maya mau saja memeluk tubuh keriput Pak Santo, dan saling berbalas kecup dengan pria tua tersebut.
Adegan tersebut justru mendorong gairah Maya yang sempat tenggelam setelah mencapai klimaks, kini kembali bangkit ke permukaan. Apalagi ketika ia merasakan payudaranya diremas-remas oleh Pak Santo dengan tempo yang konstan. Tanpa sadar, ia pun mulai merespon rangsangan tersebut dengan cara menggesek-gesekkan bibir vaginanya ke penis Pak Santo yang sudah tegak berdiri, tanpa perlu diminta.
“Hmmmppphhh... Bibir seorang ibu muda seperti kamu memang nggak ada duanya. Nggak kalah manis dengan air susu di tetek kamu yang tadi aku cobain, Dek Maya. Hihii...”
“Ngggggghhhh... Paaaaaakkkk...”
Birahi Maya semakin tak terbendung, yang ditandai dengan makin kencang desahan dan erangan yang terdengar dari mulutnya. Ia seperti tak mampu menahan desakan libido yang mendesak untuk keluar. Di tengah pergumulan tersebut, Maya sempat melirik ke arah buah hatinya yang masih tertidur di sisi ranjang yang lain.
“Makanya jangan berisik, Dek Maya. Biar Athar nggak sampai bangun, hihii... Pelan-pelan saja,” ujar Pak Santo yang menyadari arah pandangan Maya.
Namun bukannya membantu sang perempuan untuk menjaga syahwatnya agar tidak meledak-ledak, Pak Santo justru kembali menyelipkan batang kemaluannya ke dalam vagina wangi milik Maya. Dalam sekejap, ia kembali bisa merasakan jepitan liang senggama Maya yang begitu rapat, tak ubahnya seperti perawan tingting. Penisnya terasa seperti diremas-remas oleh dinding vagina wanita tersebut.
“Gilaaaaaa... Ternyata bukan wajah kamu saja yang bikin saya cepet konak, Dek Maya. Memek kamu yang sempit ini sepertinya bakal bikin saya cepet keluar juga... Aaaaahhh...”
“Nggggghhhh... Paaaaaakkk...”
Maya memejamkan matanya sambil meringis. Dalam diam, ia berusaha meresapi kenikmatan surgawi yang tengah ia rasakan. Ukuran penis Pak Santo yang begitu besar membuat liang vaginanya terasa penuh, serta membangkitkan setiap syaraf yang menempel di sana. Hal itu bahkan belum pernah ia rasakan sebelumnya bersama sang suami.
Rasa geli yang perlahan hilang, membuat Maya tergerak untuk menjemputnya. Karena itu, ia mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Dengan begitu, tubuhnya seperti tengah memompa penis Pak Santo yang berdiri tegak. Tak hanya itu, wanita tersebut pun coba memutar-mutar pinggulnya, seakan ingin mengarahkan ujung penis Pak Santo agar bisa menyentuh setiap sudut di rongga vagina miliknya.
Pak Santo menjawab gerakan tersebut dengan ikut memaju mundurkan pinggulnya seirama dengan goyangan tubuh Maya. Baru beberapa menit melakukan aktivitas birahi tersebut, keringat mulai mengucur di tubuh mereka berdua.
“Ahhh, Pak Santoooooo... Terusiiinn Paaaaakkk... Aku sukaaaaa...”
Maya mengulang kata-kata yang sempat ia dengar dari mulut Amy, saat tengah memergoki perempuan tersebut tengah menunggangi tubuh suaminya tadi siang. Dan saat ini, Maya justru tengah melakukan hal yang sama dengan Pak Santo.
“Kamu binal juga kalau di ranjang ya, Dek Maya... Benar-benar perempuan idaman, hihii...”
Pak Santo jelas tidak menyangka kalau Maya yang selama ini selalu berbusana dan berperilaku alim di hadapannya, ternyata punya sifat yang nakal saat tengah bersetubuh di kamar. Ia pun merasa beruntung telah berada di waktu dan tempat yang tepat, untuk bisa merasakan liang selangkangan ibu muda tersebut.
“Kontol kamu besar bangeett Paaaaakkk... Dalem banget masuknyaaa...”
Maya kembali mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan ucapan Amy di Pos Pemantauan Gunung Mandiri. Ia bahkan tidak menyangka kalau dirinya sanggup mengeluarkan kata-kata kotor seperti itu, yang tentu langsung membangkitkan gairah Pak Santo.
“Mulutmu terlihat makin menggairahkan waktu ngucapin “kontol” kayak tadi, Dek Maya. Hehee...”
“*************************************************************** memek aku yang sempit ini dengan sperma kamu Paaaaakkk...”
“Bener ya, Dek Maya? Mau kan saya tumpahin sperma saya di memek kamu semalam suntuk?”
“Mauuuuuuuuuu... Ahhh, hamilin aku Pak Santoooo... Aku sukaaaaaa...”
“Kalau sama saya, dijamin gak perlu lama Athar bakal langsung punya adek... Nggghhh...”
Maya sempat melirik ke arah anaknya yang masih memejamkan mata, sama sekali tidak terganggu dengan aktivitas birahi yang sedang berlangsung tepat di sampingnya.
Dalam hati, Maya jadi mempertanyakan apakah ia benar-benar mau mengandung anak dari pria tua berwajah buruk rupa seperti Pak Santo? Apakah ia rela dibuahi oleh penis yang belum disunat? Apakah ia rela mempunyai anak dari pria yang jelas-jelas berbeda iman dengan dia?
Namun memori akan persetubuhan yang dilakukan sang suami dengan perempuan bernama Amy, benar-benar membuyarkan semua pertanyaan tersebut. Ia telah memutuskan untuk pasrah, dan menikmati apa yang tengah ia rasakan saat ini.
“Enak mana memek aku dibanding perempuan-perempuan lain yang pernah Pak Santo entotiiinn... Ahhhh...”
“Memek kamu ini spesial banget, Dek Maya. Nggak ada duanya... Legit, sempit, menggugah selera... Hahaaa...”
“Padahal aku sudah punya anak satu ya Paaaakkk... Aaahhh...” Tanya Maya yang masih mengikuti setiap ucapan Amy kepada suaminya, saat mereka berdua tengah bermain cinta di Pos Pemantauan Gunung.
“Iya, Deeekkk... Tapi nggak tahu ya, setelah sering-sering ngentot sama saya, mohon maaf kalau memek kamu nanti jadi sedikit melebar... Hahaaa...”
Bayangan akan tubuhnya disetubuhi berkali-kali oleh Pak Santo sempat membuat Maya bergidik. Ia tidak bisa membayangkan kalau setiap hari vaginanya akan dimasuki oleh penis berkulup dengan ukuran besar seperti milik sang pria tua.
“Apakah nantinya aku akan jadi makin terbiasa dengan penis Pak Santo, dan tidak bisa lagi dipuaskan oleh penis yang lebih kecil seperti milik Mas Ervan?” batin Maya dalam hati.
Hanya beberapa saat setelah memikirkan hal tersebut, tubuh Maya langsung melenting ke atas, seiring lonjakan birahi yang melanda tubuhnya. Ia kembali mencapai klimaks yang rasa nikmatnya benar-benar luar biasa. Rasa lelah yang menerpa membuat tubuh Maya langsung jatuh merebah di atas Pak Santo, yang langsung menyambut dengan pelukan mesra.
.::..::..::..::..::.
Maya tengah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk buah hatinya yang asyik bermain sendiri di ruang tamu. Ia tampak sibuk membuat bubur kesukaan sang anak, yang sedikit ia tambahkan sayur-sayuran agar lebih sehat.
Namun, perhatian Maya tiba-tiba teralihkan oleh sebuah pesan WhatsApp yang baru saja masuk ke ponsel miliknya. Ternyata, pesan tersebut adalah broadcast message di sebuah grup yang isinya adalah para karyawan aktif maupun mantan karyawan di SMK tempat Maya dulu bekerja.
Telah berpulang guru kita, ayah kita, rekan kerja kita, Ronggo Sumardi bin Mardiun. Semoga amal ibadahnya diterima Yang Maha Kuasa.
Perempuan itu terkejut saat membaca berita tersebut, hingga sendok di tangannya hampir saja terjatuh. Kebenciannya yang luar biasa kepada sosok Pak Ronggo, memang sempat membuat pikiran untuk melenyapkan atasannya tersebut muncul di kepala Maya. Namun, ia tidak pernah membayangkan kalau hal tersebut akan benar-benar terjadi.
“Apakah ini karma karena Pak Ronggo telah coba memerkosa diriku, bahkan terus mengejarku setelah pindah ke Cluster ini?” batin Maya.
Karena penasaran dengan sebab kematian Pak Ronggo yang terkesan tiba-tiba, Maya pun menelepon salah satu mantan rekan kerjanya yang tadi baru saja mengirimkan pesan duka tersebut di grup.
“Selamat pagi, Bu Anggi?”
“Eh, selamat pagi, Maya. Ya ampun, apa kabar? Bagaimana kehidupan kamu di Gunung Mandiri, betah kan?”
“Alhamdulillah masih betah. Bu Anggi apa kabarnya? Sehat?”
“Sehat, alhamdulillah. Ada apa neh tiba-tiba telepon? Ada yang bisa saya bantu?”
“Itu, soal kabar yang Ibu bagikan di grup tentang Pak Ronggo.”
“Iya, Maya. Sedih banget ya. Kami di sini juga pada kaget.”
“Itu kejadiannya kapan ya, Bu?”
“Katanya sih kemarin.”
“Kok katanya? Memangnya nggak ada yang tahu ketika beliau meninggal?” Maya jadi teringat bahwa beberapa hari lalu ia sempat bertemu dengan Pak Ronggo, dan pria tersebut terlihat masih dalam keadaan sehat. Ia bahkan sempat ingin mengganggu Maya, sebelum kemudian dicegah oleh Pak Santo.
“Jadi begini ceritanya. Kemarin itu Pak Ronggo nggak masuk ke sekolah, dan ketika dihubungi ponselnya juga nggak aktif. Akhirnya saya suruh orang untuk coba mampir ke rumahnya. Eh, di sana katanya sudah banyak polisi yang berjaga.”
“Hah, kok sampai ada polisi segala?”
“Pas tanya-tanya, katanya rumah Pak Ronggo terbakar. Dia dan istrinya ikut meninggal di dalam. Makanya polisi datang untuk menyelidiki kasus tersebut.”
Jantung Maya seperti berhenti berdetak ketika mendengar penjelasan tersebut. Apa yang baru saja disampaikan Bu Anggi sama persis dengan penjelasan saat ia mendapat kabar kematian orang tua dan adiknya. Kemiripan dua kejadian tersebut tentu terkesan aneh untuk dianggap sebagai kebetulan.
“Maya... Maya... Kamu masih di sana kan?” Tanya Bu Anggi karena tiba-tiba Maya tidak menyahut kata-katanya.
“E-eh, iya masih Bu. Jadi, rumah Pak Ronggo terbakar sampai habis sekaligus penghuni di dalamnya ya, Bu?”
“Katanya sih begitu. Saya pagi ini coba lewat sebentar di sekitar rumah Pak Ronggo, masih ada beberapa polisi yang berjaga. Dan sepertinya memang sudah terbakar sampai habis.”
“Oh...”
“Tragis sekali ya, Maya.”
“Iya, tragis banget.”
“Eh, mohon maaf neh Maya. Saya ada urusan sebentar. Nanti kita sambung lagi. Nggak apa-apa kan?”
“Iya, Bu. Nggak apa-apa. Saya juga harus bikin makanan untuk Athar neh.”
“Hahaa, selamat menunaikan tugas sebagai ibu rumah tangga ya. Salam untuk Ervan juga.”
“Siap, Bu.”
“Assalamualaykum.”
“Waalaykumsalam.”
Setelah sambungan telepon diputus, Maya masih tidak bisa memalingkan pikirannya dari penjelasan Bu Anggi barusan. Masalahnya, satu-satunya hal yang menghubungkan dua kejadian yang mencabut nyawa keluarganya dan Pak Ronggo, ya hanya Maya seorang. Bagaimana mungkin keduanya punya kemiripan yang sulit apabila disebut kebetulan?
Maya pun coba menghubungi suaminya untuk menceritakan hal tersebut. Untungnya, panggilan telepon tersebut lekas diangkat.
“Pagi, Mas.”
“Pagi juga, Sayang.”
“Mas, tadi aku baru dapat kabar buruk.”
“Hah, kabar buruk apa?”
“Pak Ronggo... Pak Ronggo meninggal, Mas.”
“Pak Ronggo yang kepala sekolah SMK kamu dulu?”
“Iya, Mas. Pak Ronggo yang itu, memangnya yang mana lagi.”
“Innalillahi. Memangnya dia ada sakit apa, Sayang?”
“Nggak sakit. Katanya rumahnya kebakaran sampai habis.”
“Ya ampun... Tragis banget kematiannya. Terus, kamu mau ngelayat ke sana?”
“Hmm, nggak tahu Mas. Lagian kan rumahnya juga kebakaran, mungkin kondisinya masih berantakan. Tadi kata teman yang masih kerja di sana, banyak polisi yang berjaga juga.”
“Oh, iya sih. Sepertinya memang sudah prosedur kalau ada kebakaran seperti itu, Polisi pasti akan turun tangan untuk memeriksa apakah ada faktor kesengajaan atau tidak.”
“Ya, mungkin saja...” Kata-kata sang suami barusan membuat Maya kembali bertanya-tanya. Apakah memang ada unsur kesengajaan dari kejadian kebakaran tersebut?
“Kabari saja kalau kamu mau melayat ke sana. Nanti aku temani kalau bisa,” ujar Ervan lagi dari ujung sambungan telepon.
“Iya. Mas hari ini pulang?”
“Hmm, sepertinya kalau hari ini belum bisa, Maya. Masih ada yang harus aku pantau di sini.”
“Ya sudah...” jawab Maya dengan nada ketus.
“Kok ngomongnya kayak marah gitu. Aku kan ben...”
Maya tidak menunggu sang suami menyelesaikan kata-katanya, dan langsung menutup sambungan telepon tersebut. Pikirannya seperti kembali ke saat terakhir kali ia mengunjungi Pos Pemantauan tempat suaminya bekerja, dan melihat pria yang ia cintai tersebut tengah asyik masyuk dengan perempuan lain.
“Alasan saja kamu sibuk bekerja, Mas. Padahal aslinya sibuk ngentotin istri orang,” batin Maya.
Perempuan tersebut bahkan langsung melemparkan ponselnya ke atas sofa dengan raut wajah yang kesal.
“Memangnya cuma kamu saja yang bisa bermain gila, Mas Ervan. Aku juga bisa.”
.::..::..::..::..::.
Dengan langkah pasti, Maya kembali berjalan menuju sebuah rumah yang berjarak tidak jauh dari kediamannya. Berbagai emosi seperti bercampur aduk di dalam otaknya, mulai dari marah, dendam, ragu, hingga keinginan untuk mereguk kenikmatan seksual yang sempat ia rasakan di malam sebelumnya.
Tanpa sedikit pun menghentikan langkah, Maya mengusap-usap kepala seorang anak balita yang berada dalam gendongannya.
“Nanti kamu yang tenang ya, Nak. Jangan berisik. Akan lebih baik lagi kalau kamu tidur saja nanti. Bunda dan Pakdhe Santo mau ada urusan dulu,” ujarnya kepada sang anak, yang hanya bisa menatap mata sang ibu tanpa mengerti maksud kata-katanya.
Tak lama kemudian, Maya pun sampai di sebuah rumah yang pekarangannya nampak tidak terlalu terawat. Entah apa jadinya rumah itu dalam waktu beberapa bulan ke depan, mungkin akan terlihat seperti rumah hantu yang tidak berpenghuni.
Begitu berada tepat di depan pintu, ia pun langsung mengetuknya.
Tokk... Tokk... Tokk...
Tidak sampai sepuluh detik, pintu rumah tersebut terbuka. Terlihat seorang pria yang hanya mengenakan celana pendek membuka pintu tersebut, dan langsung tersenyum gembira melihat kedatangan Maya.
“Dek Maya...”
“Pak Santo...”
“Silakan masuk...”
“Iya, Pak...” jawab Maya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Sebelum menutup pintu, pria yang tengah bertelanjang dada tersebut tampak menoleh ke kiri dan kanan, seperti tengah mencari seseorang. Karena tidak kunjung menemukan yang dicari, ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetikkan sesuatu. Barulah setelah itu ia kembali menutup pintu dengan rasa tidak sabar yang sulit untuk dibendung.
.::..::..::..::..::.
Sementar itu, di sebuah rumah di Kampung Growol.
Semuanya kecuali Hendro dan Bu Indri yang berada di kamar masing-masing berkumpul di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga. Rumah Pak No ini memang bergaya rumah kampung biasa dengan ruang tamu yang sangat luas yang juga sekaligus merangkap menjadi ruang keluarga.
“Dingin-dingin seperti ini minum susu jahe, enak kali yah?” ucap Intan membuka pembicaraan. Sejak magrib hingga setelah isya tadi memang seluruh lereng gunung mandiri diguyur hujan lebat. Udara lereng pegunungan yang biasanya sudah cukup dingin itu malam ini terasa jauh lebih dingin.
“Cocok tuh Mbak, beli gih mas, Mbak Intan mau tuh,” balas Heni meminta kepada Rudi. Adik Hendro yang sama-sama perempuan itu tentu sangat peka terhadap apa yang dimau oleh kakak iparnya. Apalagi Intan adalah sosok kakak ipar yang sudah banyak berjasa kepada keluarganya.
“Iyaaa,” meskipun agak malas tapi Rudi langsung bangun. Ada dua perintah dari dua wanita yang dia segani. Pertama perintah dari istrinya sendiri. Yang kedua kode adalah kode dari Intan, sama seperti Heni sendiri, Rudi juga sangat menghormati sang kakak ipar.
“Eh, aku ga nyuruh loh ya Rud, istrimu sendiri yang nyuruh, hihihi.”
“Ga nyuruh tapi ngode.”
“Hehehe, duh jadi ga enak, apa aku temenin aja biar adil? Gimana? Biar sama-sama keluarnya? Boleh ga Hen aku nemenin suamimu?”
“Kenapa nggak boleh, Mbak? Sekalian aja biar dia ada yang jagain, bakalan mikir dua kali kalau matanya mau jelalatan,” ledek Heni.
“Oh gituuuu… jadi memang suka jelalatan yah matanya? Ga kaget sih, hihihi,” balas Intan menanggapi sambil melirik ke arah Rudi yang tidak berkutik menghadapi candaan dua wanita itu.
“Ah udah deh, mending aku jalan sendiri aja dari pada diledekin terus,” balas Rudi pura-pura kesal.
“Biar ga diledekin atau biar bisa sekalian cuci mata, Rud?” balas Intan kembali tidak mau kalah.
“Serba salah ah, udah aku jalan sendiri aja.”
“Jangan gitu ih, Mas. Siapa tau Mbak Intan juga pengen keluar nyari udara segar. Kamu itu bener-bener ga peka. Kemarin juga, kalau ga ditegasin, hampir aja mbak Intan pulang sendirian. Kan kasihan, Mas, ya Allah, kamu itu bener-bener…”
Rudi tidak meladeni kembali ucapan Heni, namun dari wajahnya terlihat betapa games dirinya dengan kedua wanita di depannya ini. Apalagi ketika melihat Intan tertawa geli melihat ekspresinya yang seolah terlihat tidak berdaya menghadapi istrinya sendiri. Bunga-bunga cinta seperti tumbuh bermekaran dari dalam hatinya. Padahal wanita yang membuat jantungnya berdebar itu adalah kakak iparnya sendiri.
Duh, itu kok ya mbak Intan itu makin hari makin cantik aja ya. Rasanya kok makin kesini makin bikin hati jadi dag dig dug. Mana malah nawarin diri buat nemenin lagi. Piye iki kalau makin kesini aku makin salah tingkah. Gini aja rasanya udah jedug-jedug di dalam. Gimana nanti kalau berduaan aja ya.
Intan sendiri mulai merasa kalau Rudi mulai memperhatikan dirinya. Sesekali kedua insan itu saling beradu pandang, lalu dalam sekejap membuang pandangan kembali. Layaknya anak SMA yang sedang kasmaran, dan malu ketika tidak sengaja saling beradu pandang.
Intan lalu melirik ke arah Pak No yang diam saja sejak tadi, melihat acara berita yang ditayangkan televisi. Bapak mertua dan menantu itu lalu saling menatap. Intan seperti meminta izin kepada sang bapak mertua, hingga beberapa saat kemudian sang Pria tua itu mengangguk pelan.
Intan menyunggingkan senyum.
.::..::..::..::..::.
Begitu kembali masuk ke dalam rumah, Pak Santo melihat Maya sudah duduk di atas sofa buluk yang ada di ruang tamu, yang ia pun sudah lupa kapan terakhir kali membersihkannya. Kain pembungkusnya sudah robek di sana-sini, menunjukkan busa berwarna kuning yang ada di baliknya.
Pria tua tersebut kemudian memilih untuk duduk di sofa lain yang posisinya berhadapan dengan Maya.
“Hmm, Dek Maya... Anuuu...”
Pak Santo merasa terkejut karena Maya ternyata tidak sedang duduk dalam kondisi biasa. Buah dadanya yang membusung telah keluar dari posisi yang seharusnya, karena perempuan muda itu ternyata tengah menyusui sang buah hati yang ada di gendongannya. Sesekali, sang bayi tampak melepaskan kulumannya, sehingga Pak Santo bisa melihat puting payudara Maya yang begitu menggoda.
“Anu kenapa Pak Santo?”
“Ituuu...” Pak Santo tidak bisa berkata apa-apa, dan hanya menggerakkan matanya ke arah lawan bicaranya tersebut. Meski begitu, Maya tampak langsung memahami maksud dari sang pria tua.
“Eh, iya. Maaf banget ya Pak Santo. Athar tiba-tiba haus, jadi harus segera aku beri susu,” jawab Maya dengan rona wajah yang sedikit memerah. “Nggak apa-apa kan?”
“I-iya... Nggak apa-apa kok Maya...” jawab Pak Santo sambil meneguk ludah. “Sebentar ya, saya ambilkan minum dulu, biar Mamanya Athar juga nggak merasa kehausan.”
“Terima kasih, Pak.”
Begitu sampai di dapur, Pak Santo langsung membuat teh ala kadarnya, dengan air hangat bekas ia membuat kopi beberapa jam sebelumnya. Senyum culas tampak tersungging di bibirnya.
“Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu inginkan dengan kedatanganmu ke sini, Maya. Hahaa... Mari kita buat hari ini semakin menyenangkan, untuk kamu dan untuk aku.”
Diam-diam, Pak Santo kembali memasukkan sebuah cairan ke dalam minuman yang akan ia suguhkan untuk Maya. Warnanya yang bening langsung tercampur sempurna dengan sajian teh yang berwarna kecoklatan. Tanpa menunggu lama, ia langsung membawanya ke ruang tamu dan menyajikannya di hadapan Maya.
“Silakan diminum Dek Maya, mumpung masih hangat,” ujar Pak Santo sambil melirik ke arah payudara Maya yang masih dalam kondisi terbuka. Kulitnya yang putih dan mulus begitu menggugah birahi setiap pria yang melihat.
“Terima kasih, Pak,” jawab sang perempuan muda sambil membungkukkan tubuhnya, yang membuat belahan dadanya sedikit tersingkap. Ujung jilbab yang seharusnya bisa menutup aurat tersebut justru disampirkan ke pundak, karena akan mengganggu proses menyusui sang buah hati apabila dibiarkan di posisinya semula.
Selama beberapa menit, keduanya hanya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing.
Pak Santo mulai tidak kuat mengendalikan birahinya, karena di hadapannya ada seorang ibu muda yang tengah duduk manis, dengan puting payudara yang tengah diemut-emut oleh sang buah hati. Ia bahkan tidak malu lagi untuk menatap tubuh Maya yang molek itu tanpa berpaling sedikit pun, meski tidak kunjung menunjukkan pergerakan untuk mendekat.
Sementara, Maya jelas tahu bahwa ia tengah diperhatikan oleh sang pria tua. Ia bahkan sengaja memposisikan tubuhnya agar terlihat seseksi mungkin, demi menahan pandangan Pak Santo agar terfokus ke arahnya.
Dalam hati, ia merasa canggung melihat bagian atas tubuh Pak Santo yang terbuka. Karenanya, bentuk dada yang cukup kekar milik sang pria tua, dengan keringat yang mulai membuat kulit kecoklatan tersebut menjadi lebih lembab, jelas membuat sang ibu muda tersebut semakin berdebar. Ia bahkan merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan sang pria tua terhadap dirinya.
“Wah, Athar ternyata sudah bobo ya,” ujar Maya saat melihat sang anak telah memejamkan mata mungilnya yang lucu.
“Ngantuk sekali sepertinya anakmu itu, Dek Maya,” tanggap Pak Santo.
“Sepertinya begitu. Hari ini dia bangun pagi-pagi sekali...”
“Mungkin dia terganggu akan keributan yang terjadi tadi malam?”
Maya tidak menjawab kata-kata Pak Santo, meski ia jelas mendengar ucapan tersebut. Ia justru memilih untuk membaringkan bayinya di atas sofa, tepat di samping tempatnya saat ini duduk. Setelah itu, ia kembali menutup kancing kemeja lengan panjang yang sebelumnya terbuka. Hal itu membuat Pak Santo tampak mendengus pelan, tanda kecewa.
“Terima kasih lho Pak Santo untuk tehnya. Rasa manisnya pas,” ujar Maya setelah meneguk suguhan dari sang pemilik rumah yang ada di atas meja.
“Yang pasti lebih manis Dek Maya, hahaa...”
“Ihh, Pak Santo bisa aja gombalnya.”
“Bukan gombal kok, Dek. Itu namanya kejujuran yang berasal dari hati.”
“Jangan suka main hati, Pak Santo. Nanti bisa kecewa.”
Pak Santo hanya tersenyum mendengarnya.
Di saat yang sama, Maya mulai merasakan suhu tubuhnya sedikit menghangat, seperti apa yang ia rasakan di hari sebelumnya saat tengah berduaan dengan Pak Santo. Ia pun menatap sosok pria tua yang tengah duduk di hadapannya. Pria tersebut masih menatapnya dengan tajam, tetapi tidak bergerak sesenti pun untuk mendekatinya.
“Apakah kehangatan ini muncul akibat tatapan Pak Santo yang begitu tajam? Atau karena aku melihat dadanya yang terbuka itu? Atau memang kehangatan ini secara otomatis hadir setiap kali aku berada di dekat dia?”
Entah karena dorongan dari mana, Maya tiba-tiba bangkit dari sofa yang ia tempati lalu bergerak mendekati Pak Santo. Setelah itu, ia memutuskan untuk duduk di sofa yang diduduki sang pria tua, tepat di sebelahnya, meninggalkan sang buah hati tertidur di sofa yang berbeda.
“A-Ada apa, Dek Maya? Kok tiba-tiba mendekat?” Tanya Pak Santo dengan nada suara yang sedikit bergetar.
“Boleh diam sebentar, Pak? Jangan bergerak,” jawab Maya dengan tatapan yang serius.
“Ada apa sih?”
“Diam sebentar, Pak!”
“Iya tapi...”
Plaaaakkkk.
“Kok pundak saya tiba-tiba dipukul?”
“Anu, tadi ada nyamuk Pak,” jawab Maya sambil menengadahkan tangannya yang tidak berisi apa-apa.
“Lalu nyamuknya sekarang mana?”
“Nggak tahu, mungkin sudah pergi.”
Mendengar jawaban itu, Pak Santo hanya tersenyum.
“Tapi kalau Dek Maya... Nggak akan pergi kan?”
“Ya nanti saya pasti pergi dong, Pak. Ini kan bukan rumah saya.”
“Lalu Dek Maya mau pergi ke mana?”
“Ya ke rumah saya...”
“Rumah Dek Maya sama suami Dek Maya yang itu?”
“Iya...”
“Yang kemarin baru saja melakukan ini kepada perempuan lain...”
Pak Santo mulai mengusap-usapkan tangan kirinya ke pipi Maya yang terasa begitu halus, lalu menyentuh bibirnya yang merah dan ranum. Kepalanya pun mendekat, hingga hampir tidak ada jarak tersisa di antara keduanya.
“He-hentikan Pak...” bisik Maya, yang tidak ditanggapi sama sekali oleh sang pria tua.
“Mas Ervan juga pasti melakukan hal ini kepada Mbak Amy. Iya kan, Dek Maya?”
Kali ini giliran tangan kanan Pak Santo yang menangkup bongkahan payudara yang menonjol di balik kemeja berwarna biru muda yang tengah dikenakan Maya. Tanpa menunggu aba-aba, pria tua tersebut pun langsung meremasnya dengan gerakan lembut.
“Ja-jangan Pak...” Maya masih berusaha untuk menolak.
“Dia pasti juga melakukan ini kepada Amy kan, Dek Maya...?”
Pak Santo menyentuhkan bibirnya ke bibir Maya, lalu mengeluarkan lidahnya yang kasar untuk mengusap bibir indah perempuan tersebut. Ia kemudian melumatnya, menghisapnya, seperti ingin segera mereguk sari-sari kenikmatan dari bibir manis itu.
Meski awalnya menunjukkan penolakan, sang perempuan tanpa sadar sudah memejamkan mata, membiarkan bibirnya yang indah itu diemut-emut oleh pria tua yang kulit hitamnya begitu kontras dengan kulit Maya yang putih tanpa cela. Maya bahkan sedikit membuka bibirnya, seperti membiarkan lidah Pak Santo untuk menerobos masuk ke dalam.
“Hmmpphh... benar kan apa yang saya bilang. Bibir dan mulutnya saja manis, apalagi bagian tubuh kamu yang lain, Dek Maya,” ujar Pak Santo lirih.
Sang pria tua memeluk tubuh Maya agar semakin merapat dan terus memainkan tangannya di payudara Maya yang membusung. Hal itu jelas membangkitkan gairah dari dalam tubuh perempuan muda itu, yang tubuhnya memang sudah menghangat sejak meminum teh yang diracik oleh Pak Santo.
“Nghhh, stop Pak... Hentikan...” ujar Maya sambil melepaskan kecupan Pak Santo di bibirnya.
“Kenapa kamu masih terus menolak, Dek Maya. Bukannya Dek Maya yang tadi mancing-mancing saya dengan pura-pura netekin Athar? Hehee...” jawab Pak Santo sambil mengarahkan bibirnya untuk mengecup leher Maya yang masih berbalut jilbab.
Hidung bandot tua tersebut kini mendusel-dusel di penutup kepala berwarna merah muda yang dikenakan Maya, hingga membuat pemiliknya mengeluarkan desahan panjang. Apalagi setelah itu Pak Santo menyusulnya dengan rabaan lembut di betis hingga paha Maya yang masih tertutup celana panjang.
“Pak Santo nakal bangeeeettt... Ngghhh...”
“Bukannya kamu yang lebih nakal? Hehee... Siapa coba yang datang ke rumah ini tanpa harus diundang terlebih dahulu?”
Pak Santo kembali melumat bibir mungil milik Maya dengan bibirnya yang tebal dan kasar. Perempuan tersebut seperti tidak menghiraukan bau nafas sang pria yang kurang sedap, bercampur dengan aroma kopi dan tembakau yang menyengat. Maya malah mulai berinisiatif untuk mengeluarkan lidahnya sendiri demi menjemput cumbuan demi cumbuan yang dilancarkan Pak Santo. Keduanya tampak sibuk mencampurkan air liur mereka satu sama lain.
Perlahan, Pak Santo mulai mengarahkan tangan kanannya untuk menjangkau kancing kemeja Maya, yang tadi sempat terbuka saat ia tengah menyusui sang buah hati. Dengan cekatan, Pak Santo melepas kancing tersebut satu per satu dari atas ke bawah, hingga tubuh bagian atas milik sang perempuan, kini terbuka lebar.
“Indah sekali tubuh kamu, Dek Maya...” ujar Pak Santo sambil menarik kemeja berwarna biru muda yang dikenakan Maya, lalu membiarkannya jatuh ke lantai.
Keindahan tubuh Maya jelas memancing gairah Pak Santo untuk bertindak lebih jauh, dengan langsung menyerbu leher Maya yang terbuka. Di saat yang sama, tangannya berusaha melepas kaitan bra berwarna putih yang dikenakan Maya. Begitu berhasil, ia sempat terpana melihat gumpalan daging yang besar dan montok, lengkap dengan putingnya yang kecoklatan, dari jarak yang begitu dekat.
“Susu Dek Maya besar banget, sepertinya saya nggak akan bosan-bosan untuk menyentuh dan...”
“hhngghh… dan apa Pak...?” desis Maya yang mulai kegelian begitu payudaranya diusap-usap oleh sang pria tua.
“Saya mau nenen juga sama Dek Maya, seperti Dek Athar tadi. Boleh kan? Hehee...” ujar Pak Santo sembari meremas-remas sepasang buah dada indah yang ada di hadapannya, membuat pemiliknya tidak bisa lagi menahan hawa nafsu yang membuncah.
Berbeda dengan remasannya di awal yang cenderung kasar, kali ini Pak Santo memainkan payudara Maya yang sudah terbuka dengan begitu lembut, seperti ingin menikmati semuanya secara perlahan. Ia elus-elus puting payudara Maya, lalu memencet-mencet ujungnya seperti tengah memainkan stick PlayStation.
Sedangkan Maya, hanya bisa menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil memejamkan mata. Ia terlihat begitu menikmati rangsangan bertubi-tubi yang dilancarkan Pak Santo kepadanya, tanpa peduli perbedaan status yang begitu jauh di antara keduanya.
“Bagaimana Dek Maya? Boleh kan kalau saya nenen sama toket kamu? Hihii...”
Maya hanya terdiam, menahan birahinya yang semakin meninggi.
“Boleh ya, Dek Maya? Please... Saya nggak akan mulai neh kalau Dek Maya nggak mengizinkan. Hehee...”
“I-Iya Paaaakk...”
“Iya apa, Dek Maya? Yang jelas dong. Hehee...”
“Iya Bapak boleh netek sama sayaaaa... Ngggghhh...”
“Nah gitu dong, kan jadi sama-sama enak. Hehee...”
Sambil terus memejamkan mata, Maya bisa merasakan sebuah benda yang basah dan kasar, menempel di ujung puting payudaranya. Pak Santo ternyata sudah menangkup puting tersebut dengan mulutnya dan siap untuk melumatnya.
“Ohhh, Pak Santoooo...”
“Kenapa, Dek Maya? Enak ya? Hahaa...”
“Emut-emut terus tetekku Paaakkk... Oooohhh...” desah Maya sambil menggigit bibirnya sendiri, demi menahan gejolak di dada.
“Enak mana diemut sama saya atau sama anak kamu, Dek Maya? Hehee...”
Maya menggeleng-geleng tanda ia enggan untuk menjawab. Ia tidak mau sedikit pun melibatkan sang buah hati dalam aktivitas mesum mereka. Sayangnya, Pak Santo terus saja memaksa.
“Enak mana, Sayang? Jawab doong...”
“Enak diemut Pak Santoooooo... Aaaaaahhhh...”
“Masa sih? Hahaa... Coba saya isep lebih kuat, beneran tambah enak gak? Hahaa...”
Sang pria tua tersenyum, sembari menambah intensitas kulumannya di payudara Maya. Ia mengemut-emut puting perempuan cantik tersebut, hingga sebagian isinya meluncur ke luar dan membasahi rongga mulutnya.
“Susu kamu benar-benar manis rasanya, Dek Maya. Sluuurrpphh...” ujar Pak Santo sambil menyeruput dan menelan setiap tetes air susu yang keluar dari buah dada sang wanita. “Bentuknya pun masih indah sekali, gempal dan padat. Beruntung sekali saya bisa merasakan toket seindah milikmu ini, Dek Maya.”
Diperlakukan seperti itu, Maya tidak sanggup lagi untuk berdiam diri. Perempuan tersebut mulai mengusapkan tangannya di dada Pak Santo yang sejak tadi memang tidak tertutup sehelai benang pun. Tetesan keringat mulai mengalir di sana, namun tidak sedikit pun memicu rasa jijik dari diri Maya. Perempuan tersebut bahkan seperti makin birahi saat bisa merasakan kelembaban kulit Pak Santo yang berwarna gelap.
“Kamu suka ya dengan bentuk dadaku ini? Bagus mana sama suami kamu yang tukang selingkuh itu? Hahaaa...”
Dalam hati, Maya merasakan kombinasi kemarahan dan hawa nafsu yang seperti tidak bisa ditahan untuk segera dilampiaskan. Karena itu, merasakan putingnya sendiri dipermainkan dengan mulut oleh Pak Santo, bahkan dihisap-hisap air susunya hingga keluar, Maya pun balas memutar-mutar puting dada Pak Santo dengan tidak kalah ganas.
“Ngghhhh... Saya suka sekali gaya kamu yang binal seperti ini, Dek Maya. Terus lanjutkan, jangan berhenti...”
Setelah beberapa menit saling bertukar rangsangan dan kecupan di atas sofa, Pak Santo merasa sudah tidak sabar untuk segera masuk ke menu utama. Ia langsung menggendong tubuh Maya yang tidak terasa berat sama sekali.
“Eh, Pak... Mau ngapain?” Pekik Maya sedikit kaget ketika tubuhnya diangkat ke atas.
“Masih perlu ditanya?”
“Tapi tadi kan...”
“Yang tadi ya cuma pemanasan tho, Dek Maya. Sekarang kita langsung masuk ke inti kebersamaan kita. Hahaa...”
Maya tidak bisa mungkir kalau ia sampai bergidik membayangkan apa yang akan terjadi di rumah tersebut setelah ini.
.::..::..::..::..::.
“Kamu memangnya sering nakal di luaran ya, Rud?”
Intan duduk dengan manis di salah satu bangku di depan sebuah warmindo yang ada di Kampung Growol. Bidadari dari Kampung Growol itu terlihat cantik dan anggun meskipun hanya mengenakan daster terusan semata kaki dengan cardigan di atasnya dan kerudung terusan yang membalut bagian kepala. Beberapa mata baik pengunjung dan pemilik warung sekilas mencuri-curi pandang ke arah sang bidadari yang seakan bagai oase di tengah gersangnya suasana.
Rudi hampir tersedak, “Hah? Gimana gimana?”
“Itu, celetukannya si Heni tadi, dia tadi bilang kan kalau kamu suka jelalatan kalau di luar.”
“Pffft. Heni dipercaya.”
“Aku sih lebih percaya Heni daripada kamu ya.”
“Ya terus ngapain dibahas, Mbak kalau awalnya aja udah tau ga bakal percaya?”
Melihat Rudi sewot, Intan menjadi geli dan mencoba mengalihkan perhatian. “Hihihi, ngomong-ngomong suasananya enak ya? Adem, tenang, rasanya bikin tentram. Sudah lama banget aku ga jalan-jalan malam begini, kangen rasanya.”
“Mas Hendro udah ada ya setahunan dari kecelakaan itu?”
“Iya Rud, sudah setahunan kayaknya.”
Intan lalu membuang pandangan ke arah luar. Beberapa tetes air hujan yang sebelumnya terperangkap di dedaunan mulai terbebas dan menemukan jalannya kembali menuju bumi. Apakah setelah ini giliran dirinya yang akan mendapatkan jalan menuju cita-citanya? Menuju tujuan akhirnya?
Rudi memandang kakak iparnya itu iba. Intan memang terlihat sangat cantik di mata Rudi, bahkan dengan tanpa riasan pun kakak iparnya itu masih terlihat sangat cantik. Akan tetapi yang tidak bisa ditutupi adalah sorot mata lelah yang keluar dari kedua bola mata Intan. Ya, ibu muda itu memang lelah. Lelah fisik dan lelah batin.
“Tapi, ada perkembangan kan ya sejauh ini?”
“Ga banyak Rud, meskipun aku masih berharap akan datang sebuah mukjizat, tapi semakin hari rasanya aku semakin pasrah saja.”
Intan lalu mengusap satu buliran air mata yang menembus benteng pertahanan dirinya. Ibu muda yang selalu berusaha kuat itu ternyata tidak sekuat kelihatannya. Akan selalu ada sisi rapuh di dalam kuatnya seorang ibu.
“Mbak…”
“Hehehe, ga apa-apa kok Rud, aku ga apa-apa, cewek mah udah biasa dikit-dikit nangis dikit-dikit nangis, memang seperti ini lah kami mengekspresikan perasaan, terima kasih ya sudah mau aku intilin beli susu jahe, lumayan bisa buat nostalgia kembali ke masa-masa mas Hendro masih sehat seperti dulu.”
“Ah ga perlu terima kasih lah, mulai sekarang mbak ga usah risau, kalau ada perlu apa-apa, panggil saja Rudi, Rudi pasti siap membantu.”
“Terima kasih banyak ya Rud,” balas Intan sambil menggenggam tangan Rudi. “Mbak itu sebenarnya juga kepikiran kedepannya akan seperti apa kalau mas Hendro ga ada perkembangan, bapak juga sudah tua, sudah sepuh, siapa lagi laki-laki yang bisa kami andalkan di rumah? Tidak ada, makanya mbak sebenarnya berharap banget kamu mau menerima tawaran mbak tadi buat kerja ikut mbak, terus kamu boyong Heni dan anak-anakmu ke sini, jadi kalau amit-amit kedepannya ada kejadian kaya ibu kemarin, kami ada yang bisa diandelin, yah mau yah Rud?” desak Intan pelan sambil menggoyang-goyangkan tengan Rudi.
Weleh, kalau tangan ku dipegang gini gimana aku bisa nolak, coeg! Asu kampret memang pesona iparnya Heni ini.
“Aku perlu ngomong dulu sama Heni kalau itu mbak, aku sih mau-mau saja, tapi ya aku juga bingung ga tau kenapa dari dulu Heni ga mau tinggal di Kampung Growol ini, nanti aku coba ngomong lagi,” balas Rudi yang mungkin karena terbawa suasana berusaha membalas genggaman tangan Intan.
Namun Intan bukan lah wanita polos lagi. Kali ini dia memainkan psikologis Rudi. Saat adik iparnya itu hendak menggenggam balik telapak tangannya, sang ibu muda justru menarik tangannya hingga terlepas. Baginya, laki-laki seperti Rudi harus dibuat penasaran terlebih dahulu supaya ke depannya bisa dia buat bertekuk lutut.
“Eh, ma-maaf Mbak, kebawa suasana,” ucap Rudi kikuk.
“Iya ga apa-apa, Mbak yang mulai tadi, Mbak yang melow duluan tadi. Tapi ingat ya Rud…”
“Ingat apa?”
“Aku ini ditugaskan Heni buat jagain kamu, jadi jangan harap kamu bisa kaya gitu tadi ke perempuan lain, kalau sampai aku tahu kamu seperti itu, ga ada ampun buat kamu Rud, hihihi.”
Tapi dasar Rudi, diancam seperti itu pikirannya justru melayang kemana-mana.
Eh apa? Maksudnya kalau macem-macemnya ke mbak Intan ga apa-apa ya? Atau kalau selama mbak Intan yang mulai, ga apa-apa juga aku tanggepin? Duh mikir gini aja udah bikin cenat cenut.
Sementara itu di sisi lain Intan memiliki pikiran lain.
Nikmati saja ya Rud flirting-flirting denganku. Kamu pasti senang kan bisa main api dengan kakak iparmu ini? Kamu pasti senang kan menjadikan aku jadi objek buruanmu? Nikmatin saja. Jiwa berburumu pasti meronta-ronta. Buru aku Rud. Terkam aku kalau bisa. Nikmati tubuhku. Jatuhlah ke delam pelukanku.
Setelah itu aku yang akan mengatur hidupmu.
Karena kamu adalah bidak di papan caturku
.
.::..::..::..::..::.
Di dalam sebuah kamar yang berukuran tidak terlalu besar, terlihat seorang perempuan muda berparas manis dengan hidungnya yang mancung, tengah berbaring sambil menahan hasrat seksual yang sewaktu-waktu siap untuk meledak. Tangannya meremas-remas bantal yang bisa ia gapai, sambil terus memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri. Tubuhnya sendiri sudah hampir terbuka semua, menyisakan secarik kain jilbab yang masih menutupi sebagian kepalanya, walau sudah dalam kondisi yang acak-acakan.
“Nggghhh... Pak Santoooooo...”
Desahan demi desahan terus keluar dari mulut perempuan tersebut, karena di saat yang bersamaan ia bisa merasakan bagaimana pahanya yang mulus di bawah sana, tengah diusap-usap oleh seorang pria tua yang hanya mengenakan celana pendek, dengan tubuh bagian atas yang terbuka. Usapan tersebut bahkan terus bergerak ke arah atas. Sambil menyeringai penuh arti, pria tersebut mulai mengusap-usap daerah selangkangan milik sang perempuan yang mulai tersingkap.
Tangan sang pria yang gelap dan kasar, tampak begitu kontras dengan paha perempuan tersebut yang putih mulus bagaikan pualam. Tanpa diperintah, tungkai kaki sang perempuan sedikit demi sedikit terus meregang keluar, seiring kian tingginya desakan birahi di dalam tubuhnya.
“Tubuhmu ini benar-benar sempurna, Dek Maya... Apalagi yang ini neh, hee... Pasti akan bikin semua pria jadi mabuk kepayang,” ujar Pak Santo sambil menowel-nowel bibir kemaluan Maya.
“Ngggghhh... Paaaaaakkk...”
Pak Santo menambah intensitas rangsangannya dengan mulai menyentuh kemaluan Maya dengan lidahnya. Jilatan tersebut bahkan terus menerobos masuk, hingga menembus bibir vagina sang perempuan. Akibatnya, tubuh Maya terasa sedikit bergetar, layaknya orang yang baru terkena setrum tegangan tinggi.
“Ohhhh... Paaaakkk...” desah sang wanita dengan binal.
Maya tampak tidak bisa menahan birahinya sendiri. Bukannya menghindar dari pria tua yang tidak seharusnya menyentuh tubuhnya itu, Maya justru merenggangkan pahanya agar terbuka lebih lebar, dan memberikan keleluasaan pada Pak Santo untuk terus memainkan kemaluannya.
“Ngghhhh... Bapaaaaakkkk...”
Perempuan tersebut bisa merasakan bagaimana lidah Pak Santo yang lembab, kasar, dan hangat bergerak-gerak liar di sekitar klitorisnya. Kian lama, ujung lidah tersebut bahkan bergerak kian jauh ke dalam. Ibu muda itu pun hilang kendali, hingga mengeluarkan jeritan dan erangan yang lebih kencang, seiring dengan tingginya nafsu birahi yang ia pendam.
“Aaaaahhhh... Pak Santtoooooo...”
Seperti tidak mau cepat kalah, Maya mulai menjulurkan tangannya untuk mengusap-usap selangkangan Pak Santo yang masih tertutup celana panjang. Meski masih dari balik celana, ia bisa merasakan bagaimana kemaluan sang pria sudah mengembang, tanda bahwa pemiliknya juga sudah mulai dilanda birahi. Maya jadi bertanya-tanya seberapa besar penis tersebut di kondisi maksimalnya.
“Besar ya, Dek Maya?”
Maya hanya mengangguk.
“Kamu suka yang besar-besar?”
“I-iya, Pak.”
“Kalau yang besar, hitam, dan belum disunat? Suka juga?”
“Sukaaa, nggghhh... Buka dong Paaakk... Masa aku doang yang telanjang sendirian?”
“Buka sendiri dong, hehee...”
“Bapak jahat... a-aku... maluu...”
“Malu atau mau? Hahaa...”
Pak Santo menahan tangan Maya agar tetap bertengger di kemaluannya. Karena itu, Maya bisa merasakan bagaimana batang keras itu berkedut-kedut di dalam genggamannya. Hal itu menjadikan dia makin penasaran dengan bentuk kemaluan yang ada di balik celana itu.
Karenanya, Maya lekas memelorotkan celana tersebut, dan langsung terkejut ketika pentungan besar itu meloncat keluar. Pak Santo ternyata tidak mengenakan apa-apa lagi di balik celana pendeknya, sehingga organ tubuh yang gagah dan tegak itu langsung terpampang. Bentuknya yang unik, besar dan berurat, membuat Maya tidak sabar dan langsung menyentuhnya.
“Hahaa... enak juga kalau punya gundik berjilbab yang alim seperti kamu, Maya. Begitu dikasih kontol, langsung hilang rasa malunya dan gak sabar buat pegang. Iya kan? Hahaa...”
Wajah Maya memerah karena malu, tetapi ia tidak kunjung melepaskan genggamannya. Penis tersebut terasa panjang dan kokoh, serta begitu unik karena kulupnya yang masih belum terbuka. Tangan sang perempuan yang mungil tampak begitu kontras dengan pentungan jumbo itu.
Perlahan, Maya mulai menggerakkan tangannya maju mundur, seperti tengah mengocok penis Pak Santo. Sang pria tampak menikmatinya, yang terbukti dari matanya yang sudah mulai merem melek. Pak Santo bahkan tampak kaget ketika tiba-tiba Maya mulai mendekatkan wajahnya ke selangkangan miliknya.
“Maya, apa yang mau kamu lakukan?”
Seperti ingin membalas perlakuan Pak Santo terhadap dirinya, Maya tidak menjawab. Ia justru menunjukkan apa yang ingin ia lakukan dengan aksi nyata. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya sendiri ke penis Pak Santo, hingga bau khas dari selangkangan sang pria bisa tercium jelas.
“Batang ini terasa begitu gemuk dan lebar. Bisa nggak ya masuk semuanya ke dalam mulutku yang kecil?” batin Maya.
“Ahhh, nikmat sekali Dek Maya... Sering ya ngemutin kontol cowok? Hahaa...”
Maya menggeleng. Ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena mulutnya sudah penuh dengan batang kemaluan Pak Santo yang bahkan belum masuk seluruhnya.
“Masa sih? Tapi kok emutannya gak jauh beda dengan perek-perek yang biasa saya pakai di pasar? Hahaa...”
Mendengar hal itu, Maya merasa sedikit terhina. Namun bukannya melepas kulumannya, ia justru menambah kuat intensitas sedotannya terhadap penis milik Pak Santo, membuat pria tua tersebut tambah menggelinjang.
Ruangan tersebut terasa semakin panas, di mana terjadi pergumulan antara dua insan berbeda status dan usia yang begitu jauh, namun seperti disatukan oleh keinginan untuk mencapai kepuasan birahi bersama-sama. Maya tampak sibuk memainkan penis Pak Santo di mulutnya, sedangkan sang pria tua juga asyik memainkan lidahnya di bibir kemaluan Maya.
“Aku sudah tidak tahan lagi Pak Santo...” ujar Maya pada akhirnya.
“Tidak tahan untuk apa, Dek Maya? Saya masih belum paham, hahaa...”
“Aku mau segera... anuuu...”
“Anu apa, Dek Maya? Hee... Yang jelas dong...”
“Aku mau Bapak entotin akuuuuuu !!”
���Hah? Yang benar? Memangnya Dek Maya ikhlas kalau saya entotin tubuh kamu yang indah ini? Memangnya nanti Mas Ervan nggak akan marah? Hihiii...”
“Iya Paaaaaakkk... Cepat entotin aku sekaraaaaaannnggg !!”
“Hmm, baiklah kalau itu permintaan kamu. Tapi kamu jangan menyesal ya, hahaa...”
Maya seperti tidak punya kekuatan lagi untuk menjawab kata-kata Pak Santo yang begitu cabul tersebut. Perempuan itu merasa gemas karena birahinya sudah begitu tinggi sampai ke ubun-ubun, tetapi Pak Santo terus saja menggodanya. Akhirnya, perempuan itu sendiri yang memutuskan untuk mengabaikan kehormatan dirinya dengan cara membuka selangkangannya lebar-lebar.
Pak Santo jelas mengetahui hal tersebut. Bahkan, ia memang sengaja membuat kondisi seperti itu, agar Maya mau kembali bertekuk lutut di hadapannya, seperti apa yang terjadi di malam sebelumnya. Perlahan, ia dekatkan kemaluannya ke arah selangkangan Maya dan menggesekkannya secara perlahan.
”Bagaimana rasanya Dek Maya? Jadi makin kepingin untuk kembali merasakan kontol besar saya? Hahaa...”
Nafas Maya tampak sudah begitu menderu. Ia pun memejamkan mata, menikmati detik-detik ketika vaginanya ditembus oleh penis yang tidak disunat milik Pak Santo. Walau ini bukan pertama kalinya mereka bermain cinta, tetapi penis Pak Santo yang memang berukuran cukup besar masih sedikit kesulitan untuk menembus liang senggama Maya.
”Duhh, sempit banget sih memek kamu Dek Maya. Bikin saya jadi makin geregetan saja. Nggghhh...”
Begitu akhirnya berhasil masuk, kepala penis Pak Santo yang tajam itu sedikit menggesek-gesek klitoris yang menggantung di rongga kemaluan Maya. Pria tua itu pun menggerakkan pinggulnya maju dan mundur, demi bisa menerobos pertahanan Maya yang perlahan kian jebol. Hal ini ditandai dengan liang senggamanya yang sudah begitu basah.
Perlahan tapi pasti, penis Pak Santo mulai meluncur masuk lebih dalam menerobos kemaluan Maya. Awalnya memang begitu lembut, tapi kemudian pria tua itu tiba-tiba menekan dengan kasar, hingga seluruh kemaluannya amblas ke dalam vagina Maya. Hal itu membuat sang perempuan tidak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak.
“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhh...”
“Hihiii... Kenapa Dek Maya? Kok teriaknya sampai kencang banget begitu? Suka ya dengan sodokan saya? Hahaa...”
“Sukaaaaaa... Aaaaaaahhhhhhhhhh...”
“Suka aja atau suka banget? Hehee...”
“Suka bangeeett Paaaakkk...”
Maya merasakan sensasi luar biasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia merasa dirinya yang suci, kini telah berubah menjadi perempuan binal yang terjebak dalam pusaran nafsu yang dalam. Penetrasi yang berkali-kali dilakukan Pak Santo bahkan sampai membuatnya mengejang selama beberapa detik.
”Aaaaahhh... Ahhhhhhhhhhh...”
Maya melolong tajam, tanda bahwa ia begitu menikmati persenggamaan yang tengah mereka lakukan.
”Ngggghhh... Aaaahhh... Pelan-pelan Paaaakkk...”
Pak Santo tampak tidak menghiraukan jeritan Maya, dan terus saja menggenjot tubuh ibu muda tersebut secara brutal. Hal itu memang membuat Maya tidak bisa bertahan untuk tidak mengerang, tetapi ia juga khawatir kalau suara berisik yang ia buat justru membuat anak semata wayangnya yang masih di luar kamar jadi terbangun.
”Pelan-pelan Paaaaakkk... Nanti Athar banguuuunnn...”
”Ya makanya kamu jangan kenceng-kenceng dong bikin suaranya, biasa saja, hahaa... Susah ya?”
”Nggak bisaaaaaaaa...”
”Sudah tubuhnya luar biasa seksi, berisik pula kalau lagi ngentot, hahaa... Kamu memang benar-benar istri idaman, Dek Maya.”
Lambat laun, Maya jadi semakin terbiasa dengan sodokan demi sodokan di kemaluannya. Ia bahkan justru merasa ada yang hampa di kemaluannya, apabila Pak Santo menarik penisnya keluar, meski kemudian dimasukkan kembali.
”Aaaahhh... Yesssss... Nikmat bangeeeeettt...”
”Kamu suka? Hahaha...”
“Sukaaaaaa...”
”Kalau suka, minta dong biar saya gerakin makin cepet, hihii...”
”Gerakin lebih cepet Paaaaakkk...”
“Yaaah, kurang seru kalau cuma segitu Dek Maya, hahaaa...”
Maya dalam hati merasa begitu sebal dengan tingkah pria tua tersebut. Ia ingin segera menjauh karena kekesalannya tersebut, tapi libidonya yang sudah hanmpir mencapai puncak menahannya untuk tetap berbaring di atas ranjang, sambil ditindih oleh sang tua bangka.
“Entotin aku lebih kenceng Paaaaakkk...”
“Naahh, gitu dooonngg... Kan saya jadi makin semangat, hahaaa...”
Maya benar-benar tidak berdaya untuk menahan dirinya agar tidak mengeluarkan rintihan, seiring dengan gesekan demi gesekan di dinding liang senggamanya, membuatnya lupa bahwa ia adalah seorang perempuan terhormat yang sudah mempunyai suami dan anak. Kepalanya kini hanya diisi dengan keinginan untuk mendapatkan kepuasan dari penis besar milik sang pria tua. Rasa geli dan nikmat yang ia rasakan, membuat tubuh Maya berkali-kali menggeliat seperti cacing kepanasan.
Payudaranya yang terbuka terguncang-guncang ke atas dan bawah, seiring gerakan tubuhnya naik turun. Sesekali, Pak Santo meraih buah dada tersebut dan menyedot isinya, seperti pelari marathon yang harus berkali-kali berhenti untuk menambah energi, sebelum kembali melanjutkan aktivitas larinya.
“Nggghhh... Nikmat sekali jepitan memek kamu, Dek Maya... Walau udah punya anak satu, tapi kok masih bisa sempit begini siiihhh ??”
“Aaahhhh... Pak Santooooo...”
“Empotannya itu lhooo... Bikin nggak tahan... Hahaa...”
“Aaaaaaaaahhhhh... Bapaaaaaakkk...”
Maya akhirnya mencapai puncak birahinya. Matanya terbelalak ke atas, seiring dengan semakin lembabnya rongga kemaluannya. Tubuhnya langsung lemas bagai tidak bertulang. Untungnya, Pak Santo seperti mengerti dan sedikit menurunkan intensitas genjotannya.
”Enak banget ya? Hehee...” sindir Pak Santo setelah kepuasan Maya tampak belum berakhir meski waktu sudah berlalu beberapa menit.
Maya hanya mengangguk, dan menarik wajah Pak Santo agar mendekat ke arahnya. Tanpa diduga oleh sang pria tua, Maya dengan inisiatifnya sendiri menyentuhkan bibirnya yang ranum ke bibir Pak Santo. Mereka pun larut dalam percumbuam yang mesra, bagaikan sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
Setelah beberapa menit, Pak Santo meminta Maya untuk membalik posisi mereka. Karena itu, sang pria kini berbaring di atas ranjang, sedangkan Maya menduduki kemaluan sang pria yang masih berdiri tegak. Perempuan tersebut tampak mengerti apa yang diinginkan Pak Santo, dan mulai menggesek-gesekkan ujung penis Pak Santo yang masih tertutup kulup, ke arah vaginanya sendiri.
”Ayo menari di atas kontolku, Dek Maya. Tunjukkan seberapa binal dirimu sesungguhnya, hahaa...”
Dalam hati, Maya sebenarnya merasa malu disebut seperti itu oleh Pak Santo. Namun ia juga tidak bisa mengurangi rasa penasaran, apakah ia benar-benar bisa menjadi begitu binal di hadapan pria tua tersebut.
”Apa mungkin suamiku sampai selingkuh dengan perempuan bernama Amy tersebut karena aku kurang memberikan kehangatan di ranjang setelah kami mempunyai anak? Kalau begitu, akan aku buktikan kalau aku juga tidak kalah liar, Mas.”
Perlahan, Maya mengangkat pinggulnya, lalu mengarahkan vaginanya tepat di atas penis Pak Santo. Ia turunkan tubuhnya secara perlahan ke batang besar yang sudah sangat tegang itu. Ia arahkan penis tersebut agar bisa masuk dengan sempurna ke dalam vaginanya.
Sedikit demi sedikit, Maya merasakan rongga vaginanya perlahan kembali penuh terisi. Hal ini pun disertai dengan hentakan demi hentakan yang terus menusuk, hingga batang tersebut masuk seluruhnya ke dalam.
“Oooooooohhhh... Pak Santoooooooo....”
Maya mengeluarkan desahan panjang saat tubuhnya menegang. Ia bahkan sampai harus mencengkram bahu Pak Santo agar tidak jatuh ke depan. Ia tak kuasa menahan jeritan birahinya, ketika penis Pak Santo kembali membelah bibir vaginanya.
“Nggghhhh... Dek Mayaaaaaaaaa...”
Maya merasa liang vaginanya seperti penuh. Awalnya ada rasa perih yang muncul, meski kemudian berangsur hilang dan berganti dengan rasa nikmat yang hakiki. Tanpa menunggu perintah, Maya pun langsung menaik turunkan tubuhnya di atas selangkangan Pak Santo.
Perempuan tersebut memacu penis tersebut dengan goyangan yang sensual, kadang cepat dan kadang lambat. Tubuhnya meliuk-liuk seperti penari striptease di atas batang kemaluan Pak Santo yang besar.
Desahan-desahan nikmat menandai keluar masuknya batang penis Pak Santo di dalam vagina Maya. Penis itu terasa menyodok semakin dalam bahkan sepertinya menyentuh dasar rahim sang perempuan. Maya berusaha sekuat tenaga agar sensasi tersebut tidak cepat berlalu.
Payudara Maya yang ujungnya sudah menegang, tampak terayun-ayun dengan indah di hadapan Pak Santo. Semakin kencang pria tersebut menyodok vagina Maya, semakin lentur pula gerakan payudara tersebut. Kesempatan tersebut dimanfaatkan Pak Santo yang langsung melumat ujung payudara tersebut dengan mulutnya. Hal tersebut membuat Maya menjerit semakin kencang.
“Aaaaaaahhhh...”
Entah sadar atau tidak, Maya justru melampiaskan birahinya dengan cara meremas-remas rambut Pak Santo.
”Ahhh... ahhh... ahhhh.... Terus Pak Santooo...”
“Iya Dek Mayaaaa... Kamu harus lihat gerakan tubuh kamu sekarang, seperti lonte murahan, hahaa...”
Hampir setengah jam lamanya mereka berdua memacu birahi masing-masing. Dan tiba-tiba...
“Sekarang kamu nungging ya Maya,” pinta Pak Santo tiba-tiba.
“Hah? Maksud Bapak?”
“Sudah, ikuti saja, hihii...”
Pak Santo kemudian memposisikan Maya hingga berada di posisi menungging, dengan kedua lututnya bertumpu di atas tempat tidur. Setelah itu, sang pria pun memposisikan dirinya sendiri tepat di belakang Maya.
Blessssss...
Pak Santo kembali menusuk vagina Maya dengan penisnya, tetapi kali ini dari arah belakang. Posisi tersebut membuat ujung kemaluan Pak Santo seperti merogoh jauh lebih dalam.
“Aaahhh... Aaaaahhhh... Aaaaahhhhhh...”
Maya terus mengeluarkan desahan, sambil meremas-remas seprai tempat tidur yang sudah begitu berantakan. Tubuhnya pun turut bergerak maju mundur, seiring dengan gerakan penis Pak Santo yang keluar masuk. Birahi Maya bahkan semakin memuncak kala Pak Santo turut meremas-remas payudaranya yang menggantung dari arah belakang.
Permainan birahi dari Pak Santo membuat Maya terhanyut. Gesekan yang terjadi antara rongga vaginanya dengan batang penis Pak Santo seperti menimbulkan getaran-getaran listrik yang membuat gila. Mata perempuan tersebut sudah merem melek menahan kenikmatan, yang bercampur aduk dengan desahan mereka berdua.
“Ahhh, enak sekali bisa ngentotin kamu dari belakang seperti ini, Dek Mayaa... Ngggghhh... Pantas saja Pak Ronggo bajingan itu sampai bela-belain untuk samperin kamu ke sini. Hihiii... Legitnya tubuhmu memang nggak ada bandingannya...”
“Ngggghhhh...”
“Sayang sekarang dia dan keluarganya sudah bersatu dengan tanah, lengkap dengan rumah dan seluruh hartanya hahaa... Biar tahu rasa sudah ganggu-ganggu ketentraman saya dan kamu.”
Kata-kata itu pun membuat Maya terheran-heran, karena tidak mungkin Pak Santo tahu kalau Pak Ronggo sudah mati. Atau jangan-jangan...?
“Ngggghhh... Pak Santo tahu dari mana kalau Pak Ronggo dan keluarganya sudah meninggal...”
“Ahh... Ehhh... Anuuu... Bukannya kamu yang tadi bilang sama saya?”
“Nggak, saya nggak bilang apa-apa soal itu. Saya yakin...”
Bukannya mengurangi intensitas sodokannya, Pak Santo malah mempercepat, membuat tubuh Maya sampai terhentak-hentak maju dan mundur. Perempuan tersebut sempat ingin berontak, tetapi sang pria tua mempunyai tenaga yang lebih besar, dan bisa menahan tanpa halangan yang berarti. Di sisi lain, kenikmatan birahi yang tengah dirasakan Maya membuat perempuan tersebut tidak mempunyai banyak tenaga untuk melawan.
“Sebenarnya apa yang Bapak lakukan?” Tanya Maya yang hampir mengeluarkan air matanya. Ia baru sadar apa arti mimpi yang baru ia alami tadi malam.
“Harusnya kamu sudah tahu kan kenapa? Hahaa...”
”Tapi itu artinya, Bapak juga yang... keluarga aku...”
”Seharusnya orang tua dan adik kamu itu tidak perlu mati. Namun adik kamu yang bernama Retno itu sempat berada di tempat yang salah, di waktu yang salah. Sewaktu dia bekerja di Jakarta, dia sempat melihat... sebut saja pembunuhan yang pernah aku lakukan di masa lalu. Hahaa...”
Maya ingin memberontak, tetapi Pak Santo menahan. Ia bahkan terus menggerakkan selangkangannya untuk menggenjot tubuh Maya agar perempuan tersebut larut dalam kenikmatan.
”Aku sebenarnya sudah tidak mau lagi melakukan pekerjaan kotor seperti itu, dan pindah ke sini. Eh, tiba-tiba aku bertemu lagi dengan adik kamu tersebut, yang mengancam untuk melaporkan ke polisi. Jadi, aku tidak punya pilihan lain, bukan?”
“Bajingaaaann... Nggghhh...”
“Saya dengar-dengar, kamu sempat mencari-cari orang yang membunuh keluarga kamu ya? Hahaa... Selamat, kamu telah menemukannya!”
Maya pun menangis, karena ia baru saja menyerahkan tubuhnya pada pembunuh keluarganya, yang seharusnya ia benci. Namun ia tak mampu mencegah Pak Santo untuk kembali menyemburkan spermanya di vagina Maya.
”Saya keluarin di dalam lagi ya seperti kemarin, hahaa...”
“Hentikan bangsaaaattt...”
”Yakin kamu mau saya berhenti? Kok memek kamu malah berdenyut-denyut seperti ini? Hihiii...”
“Anjiiiiiiinnngggg...”
“Kamu memang anjing betinaku Mayaaaa... Aku mau keluarin peju milikku di dalam memek kamuuu... Aaaahhhhh...”
Tak lama kemudian, ujung penis Pak Santo pun menyemburkan cairan putih nan kental yang menembus rongga kemaluan Maya. Sang perempuan pun merasakan sensasi yang luar biasa nikmat, hingga ia akhirnya pun turut mencapai puncak, untuk kedua kalinya hari itu. Keduanya sama-sama mengejang hebat, tanda bahwa mereka sudah sama-sama mencapai kepuasan.
“Anggap saja impas, Dek Maya. Saya sudah membunuh keluarga kamu, dan sekarang saya akan berikan anak yang akan keluar dari rahim kamu. Hahaa...” bisik Pak Santo.
Maya masih dalam keadaan lemas, saat ia mendengar pintu kamar seperti dibuka dari luar. Seorang pria tampak masuk ke dalam kamar tidur yang baru saja menjadi saksi persenggamaan antara dirinya dengan Pak Santo.
“Wah wah wah... Sedang ada pesta rupanya? Kok saya nggak diajak sih?” ujar pria tersebut.
Pria itu pun mendekati Maya yang masih lunglai tak bertenaga, lalu mengusap pipinya.
“Sepertinya bukan hanya air susumu saja yang manis. Tapi tubuhmu juga tidak kalah manisnya, hehee... Dan sebentar lagi, aku akan merasakannya.”
Maya yang masih terengah-engah karena orgasme yang baru saja ia rasakan, tidak bisa menjawab apa-apa. Padahal, ia masih heran akan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu kira saya tidak tahu kalau waktu kejadian di rumah saya waktu itu, kamu pura-pura tidur? Hahaa... Tapi tidak apa-apa, untung juga saya bisa merasakan netek sama kamu.”
“Tapi setelah itu, kamu langsung kasih tahu ke saya kan, Hamzah? Hahaa...”
“Yo jelas. Kita kan sudah konco dari lama tho, Santo? Hahaa... Eh ternyata memang ada hubungan khusus antara kamu dan Santo. Ya sekalian saja, hee...”
“Tapi kami tidak tahu apa-apa lho tentang perselingkuhan Mas Ervan dan Mbak Amy, itu sih kebetulan yang sangat menyenangkan, hahaa...”
“Ya sudah lah Santo, bosan ketawa mulu. Minggir kamu, gantian aku mau menggagahi tubuh mamanya Athar ini. Sudah nggak tahan aku...”
Maya begitu kaget ketika Pak Hamzah mengeluarkan kemaluannya yang meski sudah disunat, tetapi ukurannya sedikit lebih besar dari milik Pak Santo.
“Semoga muat ya, Sayang... Hahaaa,” ujar Pak Hamzah sambil mengusap-usapkan penis tersebut ke pipinya.
Maya menggelengkan kepala, air matanya mengalir dengan deras. Tidak saja ia ternyata berhubungan seks dengan orang yang telah membunuh keluarganya, kini ia juga akan diperkosa oleh pria tua yang sama menjijikkannya. Mereka semua telah bersekongkol! Maya terus menerus menolak kenyataan. Bukannya dia yang berhasil membalas dendam, kini dia justru terperangkap ke dalam lembah hina.
“Tidak… tidaaak… aku tidak mauuuuu!” Maya yang lemas mencoba kabur. Tapi tangannya sudah ditahan Pak Santo.
“Mau kemana Dek Maya? Sini lho. Hibur dulu Pak Hamzah.” Pria tua itu mengedipkan mata pada sang rekan yang langsung mengangguk dan menubruk tubuh indah Maya. Ibu muda itu menjerit. Tapi teriakannya langsung terhenti ketika bibirnya diemut oleh bibir Pak Hamzah yang sudah tidak tahan lagi.
“Hari ini… kamu sah menjadi pengantin kami, Dek Maya. Tubuhmu menjadi milik kami selamanya,” ujar Pak Santo sambil terkekeh.
Maya memejamkan mata. Ia menangis sejadi-jadinya. Suaminya dijebak. Ia dijebak. Mereka semua terjebak. Dendamnya telah berbalik menjadi pisau yang menghancurkannya sendiri. Dia terlalu menganggap remeh orang-orang berbahaya di tempat ini, dan ia terlambat menyadarinya.
Ia kalah oleh ambisinya sendiri.
Ia terlalu gegabah.
Ia kalah.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *