Search

BAGIAN 34 RUMAH KITA

BAGIAN 34 RUMAH KITA

.:: APA YANG TERJADI SEBELUMNYA.

Ardian tiba di rumahnya tepat menjelang magrib. Kala itu, langit di ufuk barat terlihat sangat merah menyala, semerah amarahnya yang membara sore ini. Saking terkurasnya energinya karena amarahnya yang sangat membara, tubuh Ardian terlihat sangat lemas. Betapa tidak, hari ini dia mendapati kalau dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh orang yang selama ini dia bantu kapanpun dia bisa. Ya memang bantuannya tidak ikhlas sepenuh hati. Bantuannya penuh dengan pamrih. Ada sesuatu hal lain yang dia harapkan dari niat baiknya selama ini.

Yang semakin membuat Ardian hancur adalah harga dirinya yang seolah diinjak-injak oleh Intan. Setelah berhasil mengambil barang berharga miliknya, wanita itu ternyata terang-terangan menusuknya dari depan. Tidak berusaha mengelak, wanita yang berhasil ditidurinya itu mengaku memang merencanakan semua ini.

Ardian tersenyum getir. Kalau dipikir-pikir, bayaran dari apa yang dia kejar selama ini ternyata sangat mahal. Tidak sebanding malah. Hanya demi kepuasan sesaat Ardian sampai gelap mata mau dibodohi wanita seperti Intan. Dia memang baru saja mendapatkan kenikmatan duniawi dari Intan, akan tetapi sungguh sangat tidak sebanding apabila harus membandingkan hal tersebut dengan seluruh harta kekayaan yang dia miliki saat ini.

Apakah ini karma untukku? Apakah ini karma akibat dari aku yang menyia-nyiakan istri ku Shinta?

Ardian tidak langsung masuk ke dalam rumahnya, melainkan pria beranak satu ini duduk di lantai teras rumahnya. Bersandar pada tembok rumahnya, dan memeluk lututnya sendiri. Matanya kosong menatap ke depan. Pandangannya tertuju pada jalanan cluster depan rumahnya yang sepi.

Hingga beberapa saat Ardian masih tetap diam di kesendiriannya. Untungnya dari dalam rumah Shinta menyadari kepulangan suaminya setelah mendengar suara mobil yang masuk ke garasi rumahnya. Namun tentu saja Shinta heran kenapa Ardian tak kunjung masuk setelah sekian menit. Apalagi waktu yang sudah mendekati magrib, pamali bagi sebagian warga kampung untuk berada di luar rumah.

Shinta pun mengintip dari balik gorden yang sudah ditutupnya. Benar saja, dia mendapati Ardian yang terduduk lesuk. Buru-buru dia membuka pintu rumahnya.

“Bang? Ngapain kamu di situ? Ayo, masuk!” Shinta dengan terheran-heran memanggil sang suami, “Sudah mau maghrib. Pamali di luaran, nanti kesambet loh,”

Shinta hanya sedikit membuka pintu rumahnya, sehingga hanya wajahnya saja yang terlihat dari luar. Ardian tidak menjawab meskipun juga segera bangun dari duduknya. Masih dengan wajah lesu, suami Shinta itu masuk ke dalam rumah.

Tanpa menyapa Shinta. Pria itu lalu duduk di sofa ruang tamu.

“Kenapa lesu begitu, Bang? Pulang kerja kok langsung begitu? Ada masalah apa di kantor?” Shinta sungguh penasaran dan terheran-heran. Tidak seperti biasanya Ardian seperti ini, meski menghadapi masalah berat sekalipun, Ardian biasanya masih tersenyum dan tenang ketika sampai di rumah. Tapi kali ini ada yang berbeda darinya dan itu membuat Shinta sedikit merasa tegang.

Lagi-lagi Ardian tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepala.

“Kenapa sih kamu, Bang!? Aneh banget!” Shinta mulai tidak sabar.

Ardian menatap wajah istrinya yang jelita, semua ini adalah kesalahannya. Semua ini disebabkan oleh dia.

“Ma-maafkan aku, Mah,” kali ini Ardian mulai mengeluarkan suaranya. Suaranya pelan dan serak, seperti tidak pernah digunakan selama berbulan-bulan.

Shinta makin penasaran, nalurinya sebagai seorang perempuan mulai bekerja. Ia mencium adanya sesuatu yang tidak beres. Tidak mungkin bagi seorang suami meminta maaf bila tidak melakukan kesalahan yang di luar batas. Hanya saja, kesalahan apakah itu? Apakah kesalahan yang disengaja? Atau yang tidak disengaja? Seberapa besar dampaknya? Ardian tak akan seterpuruk ini jika tidak fatal.

“Asli, Bang. Kamu tuh ga jelas banget! Pulang-pulang udah kaya orang ga makan tujuh hari tujuh malam, lesu, lemes. Ditanya kenapa ga ngejawab, sekarang malah minta maaf. Aku jadi tidak sabar denger alasannya! Ayo bilang, ada apa sebenarnya, Bang?! Jangan bikin aku penasaran!”

Ardian tahu, tidak ada gunanya menyembunyikan apapun. Ia mulai membuka mulutnya dan bercerita. Semua kesialannya setelah berhubungan dengan Intan.

Betapa sedari pagi dia sudah rapi untuk menjalankan meeting yang sebenarnya adalah menemui Intan - wanita yang paling dibenci oleh Shinta, istrinya sendiri. Ardian juga bercerita tentang Intan yang kemungkinan memang sudah merencanakan ini bersama dengan mertuanya. Lalu terakhir, bagaimana surat-surat berharga hingga perhiasan dan harta mereka sudah berpindah tangan.

Shinta terbelalak.

Hanya satu yang bisa ia lakukan saat ini.

PLAAAAAAK!!

Amarah Shinta tak terbendung. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Ardian. Tidak butuh waktu lama bagi sang ibu muda itu untuk mempercayai semua perkataan Ardian. Meskipun beberapa saat kemudian, saat isak tangis mulai keluar dari mulutnya, sebuah kalimat klise yang kerap muncul dari mulut seorang perempuan keluar juga.

“Ka-kamu bohong kan, Bang? Ini semua ga bener kan? Kamu pasti sedang mau ngerjain aku kan? Kamu kan tahu kalau selama ini aku paling ga suka sama Intan! Mana mungkin kamu rela pagi-pagi bela-belain ketemu Intan hanya untuk menyerahkan semua kerja keras kita selama ini? Ini bohong kan, Bang!? Iya kan? Bang! Jawab dong! Jawab dong! Kamu bohong kan?”

Tangis Shinta pun meledak. Suaranya terdengar meraung seperti orang kesetanan. Dia bangkit untuk mendekat ke arah suaminya dan tangannya kembali melayang. Satu. Dua. Tiga.

PLAK!!

PLAK!!

PLAK!!

Tamparan bertubi yang dilayangkan Shinta mendarat dengan sempurna di wajah Ardian. Sang suami yang juga masih merasakan sakit karena dikhianati itu hanya pasrah menerima setiap tamparan yang diberikan oleh Shinta.

“KAMU! Sudah dari kapan tau aku memintamu untuk tidak dekat-dekat dengan Intan, sekarang begini kan akhirnya? Begini akibatnya kalau tidak mendengar kata-kata istri! Kamu mengabaikan perasaan seorang wanita, mengabaikan istrimu sendiri! Mengabaikan insting ibu dari anakmu! Perasaanku tajam, Bang. Sudah lama aku tidak suka kamu dekat dengan wanita itu! Sekarang!? Hancur semuanya! Kalau sudah begini, mau apa? Mau melawan? Kamu tidak tahu memang siapa mertua Intan itu? Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?”

Suasana lalu hening. Untungnya Shinta yang sempat menangis histeris teringat dengan anak semata wayangnya yang sedang tidur. Tentu saja dia tidak ingin belahan jiwanya itu terbangun karena suara tangisnya.

“Kenapa sih kamu selalu saja memikirkan pelacur itu? Capek aku, Bang! Apa yang masih kurang dari aku ini, Bang? Kenapa kamu sampai bertekuk lutut seperti itu ke Intan? Kamu kena pelet? Kamu diguna-guna? Aku sampai… aku sampai kehabisan kata-kata. Semua yang kukhawatirkan jadi kenyataan. Bodoh kamu! Goblok! Tolol! Hancur semuanya! Hancur!”

Masih hening. Ardian hanya bisa diam mendengar cercaan dari sang istri.

“Sakit, Bang. Sakit banget. Kamu pikir selama ini aku baik-baik saja? Aku tuh sakit, Bang. Tapi aku selalu berusaha untuk bertahan, demi apa? Demi keluarga kecil kita, demi janji suci kita dulu, demi anak! Tapi balasan dari kamu apa sekarang? Kamu bukan saja sudah nyakitin aku, tapi juga nyakitin anak kita, ngehancurin masa depannya, masa depannya, Bang! Masa depannya! Kamu tuh mikir ga sih? Haaaaa?! Mana tanggung jawabmu, Bang! Gara-gara wanita, kamu keblinger! Hancur semuanya.”

Masih tetap hening. Ardian seperti sudah tidak ada muka lagi di depan istrinya. Ia menunduk dengan kalah.

“Hanya demi kenikmatan sesaat, kamu rela dijadikan mainan sama perek itu, dijadikan monyet bloon. Kalau sudah begini sekarang bagaimana? Aku tanya mau bagaimana?! Mau tinggal di mana nanti kita? Mau makan apa? Tabungan kita? Sekolahnya Arga nanti? Tiga tahun empat tahun itu cepat, Bang. Mau dari nol lagi kita nyiapin masa depan untuk Arga? JAWAAAAB! JANGAN DIAM AJA!”

“Ta-tapi…”

Akhirnya sebuah kata terucap juga dari mulut Ardian.

“I-intan melakukan ini semua karena kesal dengan mamah yang terlalu cemburu dengan dia,” ucap Ardian membela diri.

“Lah, terus? Wanita mana yang tidak boleh cemburu saat tahu suaminya dekat dengan wanita lain? Kamu tuh bego atau emang kelewat kecantolnya sama pelet pelacur itu sih, Bang? Istighfar Bang! Istighfar.”

“Ya… siapa tahu kan, Intan melakukan itu karena sakit hati dengan sikap mamah?”

“Kok jadi bego sih kamu, Bang? Jadi, kamu justru nyalahin aku? Masih berani kamu belain si pelacur itu?! Serapet apa sih jepitan memek perempuan sundal itu sampai-sampai kamu mau membela dia mati-matian?”

“Heh, jangan asal ngomong ya, Ma!”

“Apa?! APAAAA!? Mau marah? Ayo marah! Kalau perlu bunuh aja sekalian aku sama Arga! Tidak ada gunanya lagi kami berdua hidup. Aku sudah tidak melihat lagi adanya figur seorang suami dan ayah yang baik yang seharusnya kami dapatkan dari kamu. Yang ada seorang pengecut bego yang memilih kalah demi memperjuangkan apa yang menjadi hak miliknya. Tolol banget!”

“Aku masih bisa bekerja dan menafkahi kalian.”

“Terus? Kamu pikir itu saja cukup? Kamu pikir aku diam saja itu tidak sadar dengan kelainan yang kamu miliki? Hah?”

“Kelainan?”

“Kalau bukan kelainan, lalu namanya apa seorang suami yang justru menikmati saat istrinya dijamah laki-laki lain? Hah?”

“Ka-kalau begitu kenapa Mama diam saja selama ini?”

“EDAN! Masih berani nanya begitu kamu, Bang? Kamu pikir kenapa?”

“Aku…”

Shinta geleng kepala, “Sekarang aku tanya sekali lagi! Serapet apa jepitan memek perempuan sundal itu? Sampai membuat kamu tergila-gila dengan dia? JAWAAAB!”

“Mah! Aku baru tadi pagi melakukan itu, kamu jangan berpikir macam-macam! Aku tidak seburuk yang kamu…”

“Ya Tuhaaaaaan! Sebodoh apa sih suami aku ini!? Yang begitu itu tidak buruk? Aduuuh!”

“MAH!”

“Apa? Apa? Mau apa? Mau mukul? Ayo mas, silahkan, pukul aja, bunuh aja aku sekalian!”

“Ya aku kan tadi sudah bilang aku masih akan tanggung jawab.”

“Udah itu aja? Laki-laki macam apa kamu ini? Cuih!”

PLAK!!

Kali ini giliran Ardian yang terpancing emosinya dan menampar wajah sang istri. Shinta yang sudah terlanjur sakit hatinya itu kini harus merasakan juga sakitnya kekerasan fisik yang dilakukan oleh suaminya. Karena tubuhnya mungil, Shinta terbanting ke lantai.

“Sudah aku bilang, jaga bicaramu, Ma. Begini-begini aku masih suami kamu! Jangan bikin kepalaku tambah pusing! Kamu pikir aku tidak pusing dengan kejadian ini? Aku tidak tahu harus bagaimana! Aku support dari kamu! Bukan makian dan cercaan!”

Shinta terdiam, ia meraba pipinya yang pedih, suaranya pelan terdengar, “Sekian tahun menikah, baru kali ini aku benar-benar tidak melihat suamiku Ardian seperti biasanya. Baru kali ini aku sadar kalau, ternyata selama ini aku salah menilai kamu.”

Ardian mengulurkan tangan untuk membantu Shinta, tapi istrinya itu menolak.

Shinta pun bangkit. Hati dan raganya sudah benar-benar hancur. Entah kemana dia akan lari, dia hanya tidak ingin berada di rumah ini untuk saat ini. Ibu muda itu berjalan menuju ke kamarnya tanpa melirik sedikit pun ke arah sang suami. Yang menjadi tujuan utamanya saat ini adalah mengambil buah hatinya tersebut dan pergi sejauh mungkin dari hadapan Ardian.

Shinta tahu, sang suami yang mungkin tidak akan lagi menjadi suaminya. Hanya tinggal menunggu waktu dia akan mengajukan gugatan cerai. Hatinya sudah mantap.

“Kamu mau kemana?” tanya Ardian saat berhasil menggapai lengan Shinta.

“Bukan urusanmu, tidak sudi lagi aku berada di dekat laki-laki bajingan brengsek dan banci sepertimu.”

PLAK!!

Sebuah tamparan kembali mendarat di wajah Shinta. Ibu muda itu menatap nanar Ardian dengan mata berkaca-kaca, “Sudah? Sudah segitu saja? Yang kiri belum dua kali. Yang kanan sudah.”

“Aku tidak bermaksud untuk…”

“Banci.”

“Ma…”

“Kalau bukan banci, lalu apa namanya laki-laki yang menampar istrinya sendiri?”

“ADUUUUUUH! Kamu itu benar-benar tidak bisa dibilangin ya? Aku juga sedang pusing, jadi jangan bikin tambah pusing! Aku pasti akan mencari jalan keluarnya, tapi untuk saat ini jangan memperkeruh keadaan, Ma! Tolong bantu aku menenangkan diri!”

“Tidak. Sudah cukup, Bang. Aku sudah muak, aku sudah tidak tahan lagi. Cukup. Selesai. Aku mau kembali ke orang tuaku. Aku rasa cukup sampai di sini saja kita menjalani rumah tangga ini,” ucap Shinta sambil berusaha melepas cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya, “berikan ini ke pelacur itu.”

Ardian yang merasa kesal karena omongannya tidak digubris. Belum lagi ancaman dari Shinta yang sepertinya akan pergi dari rumah. Semua tekaanan membuat emosinya tidak terkendali. Ardian itu sudah bersiap-siap untuk melayangkan sebuah tamparan kembali.

“Kamu ini benar-benar…”

Namun.

Tap!

Sebuah tangan menangkap pergelangan tangan Ardian. Karena tidak siap, hanya dengan sekali tarikan tubuh Ardian terseret ke belakang.

“Bajingan! Beraninya sama perempuan!”

Bugh!!

Ardian terkapar oleh satu pukulan di pundak.

“Berani-beraninya kamu main kasar sama Mbak Shinta? Kalau mau latihan tinju ayo tarung sama aku, dasar banci!”

Bugh!!

Sebuah bogem mentah mendarat sempurna di wajah Ardian. Ia terlempar ke belakang.

Dugh!!

Tidak lama berselang sebuah tendangan dengan lutut mendarat di perut suami dari Shinta tersebut. Telak. Benar-benar telak. Rasanya sampai ke ulu hati. Ardian terjatuh dan melenguh kesakitan.

“Pak Hasbi! Sudah pak, sudah, stop!”

Ya, pria yang telah menyelamatkan Shinta tersebut adalah pak Hasbi. Pak Hasbi yang diminta untuk menyudahi perkelahian itu pun menurut dan berhenti. Namun, Ardian yang merasa mendapat kesempatan untuk membalas justru mulai mengambil ancang-ancang untuk memberikan pukulan balasan.

Shinta yang menyadari hal tersebut sontak menahan Ardian juga. “Bang! Sudah!! Kamu benar-benar gila ya! Masih tidak mer-”

Belum selesai omongan Shinta, gerakan memukul Ardian tadi justru mengenai Shinta dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Pak Hasbi yang dari awal memang tidak terima kalau pujaan hatinya mendapatkan perlakuan kasar seperti itu kembali naik pitam. Ia menatap Ardian dengan nanar.

“Asuuuuuuuuu!”

Tidak ada ampun lagi. Benar-benar tidak ada ampun. Meskipun sudah berumur, kekuatan fisik dan pengalaman Pak Hasbi jauh di atas Ardian. Sangat tidak sebanding. Pak Hasbi pun mulai meluapkan kekesalannya.

Bugh!!

Bugh!!

Dugh!!

Dugh!!

Bugh!!

Bugh!!

Dugh!!

Dugh!

Bak seperti bola sepak, Ardian menjadi bulan-bulanan Pak Hasbi. Shinta yang ingin melerai kembali sampai berpikir dua kali saat melihat bagaimana beringasnya Pak Hasbi saat ini. Dia bagaikan seekor kuda yang teramat buas sedang mendesak lawannya dengan memojokkan dan menghabisinya.

Shinta meneteskan airmata, biar bagaimanapun, dia pernah punya kehidupan yang indah dan kenangan manis bersama sang suami. Kemalangan nasib Ardian sepertinya belum akan berakhir sampai di sini. Tapi sesaat kemudian Shinta tersadar. Tunggu sebentar, ini bukan kemalangan. Ini adalah karma dari perbuatannya sendiri.

Ardian sedang menuai buah dari keburukan yang dia tanam sendiri.

.::.::.::..::..::.

Dengan penuh perhatian Pak Hasbi membuatkan segelas teh manis hangat untuk Shinta. Ibu muda yang sedang terguncang jiwa dan raganya itu masih duduk termenung di ruang tamu saat si pria tua sudah kembali dengan teh manis buatannya. Tangannya bergetar dan air mata masih belum kering menetes.

“Diminum dulu, biar lebih tenang, dia sudah pergi,” ucap Pak Hasbi.

Dalam keadaan normal Shinta pasti akan marah dengan kalimat pria tua itu. Tapi saat ini kondisinya berbeda. Shinta sudah benar-benar habis kesabarannya. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk minta cerai ke suaminya tersebut. Hubungan mereka sudah tidak bisa lagi diperbaiki.

“Te-terima kasih, pak.”

Pak Hasbi mengangguk.

“Bapak, kok bisa tiba-tiba ke rumah tadi?”

“Hehe, ya sebenarnya saya datang mau menceritakan tentang pertemuan saya dengan Pak No sore tadi. Awalnya mau datang besok aja tapi entah kenapa firasat Bapak ga enak. Jadi langsung ke sini dan ternyata bener. Untung saja Bapak tadi langsung kesini, hehehe,” ucap Pak Hasbi berbohong.

“Makasih ya pak sekali lagi.” Shinta menghapus air matanya dengan tissue, “terus, apa hasilnya? Bukannya…”

“Bapak sudah mendengar semuanya. Maaf kalau Bapak tadi menguping di luar. Bapak pikir salama Mas Ardian gak bermain kasar, maka Bapak ga akan ikut campur urusan keluarga kalian, biarkan mbak Shinta selesaikan masalah keluarganya sendiri. Tapi… pas tadi Bapak tau mbak Shinta mulai dikasari, Bapak ga bisa tinggal diam.”

“Te-terima kasih.” Shinta menunduk.

“Sama-sama. Terkait dengan pak No, besok saja mungkin ya. Mbak Shinta pasti capek.”

“Iya pak saya capek, capek lahir batin, tapi ya sudah mendingan sih, untung ada Bapak, terima kasih sekali lagi.”

“Kalau misal sudah tenang, saya ijin pamit dulu kalau begitu,” ucap Pak Hasbi sambil membuat gesture ingin berpamitan.

Shinta menatap melas ke arah Pak Hasbi, “Ke-kenapa buru-buru?”

“Hehehe, kan sudah aman sekarang, Ardian pasti ga berani balik lagi.”

“Ta-tapi pak, apa boleh aku meminta sesuatu?”

“Apa tuh? Pasti boleh kalau sanggup mah, hehehe.”

“A-Apa boleh… apa boleh bapak menginap dulu semalam ini di sini? Aku butuh teman, Pak. Aku tidak tahu siapa lagi yang bisa aku percaya di tempat ini.”

Pak Hasbi menyeringai di dalam hatinya. Rencananya berjalan dengan sangat mulus. Tapi dia tidak ingin terlihat menginginkan itu.

“Boleh-boleh aja sih, tapi apa tidak apa-apa? Nanti kalau ada yang tahu bagaimana?”

“Pak, aku mohon, aku…”

“Baiklah-baiklah, Bapak temani malam ini.”

“Terima kasih pak.”

Tanpa diduga, Shinta menyenderkan kepalanya di pundak Pak Hasbi. Si pria tua kaget campur gembira tentunya.

“Mbak?”

“Ya, pak? Maaf ya pak, a-aku lelah, aku butuh sandaran.”

“Hehehe, i-iya paham, ta-tapi…”

“Tapi apa pak? Ga boleh ya?” balas Shinta sambil mengangkat kembali kepalanya.

“Bu-bukan itu, cuma, apa Mbak ga mencium bau apek Bapak? Hehehe, saya belum mandi dari pagi, hahaha.”

Tawa renyah pun pecah dari bibir manis Shinta. Ibu muda itu lalu memukul pelan bahu Pak Hasbi. “Ih, kirain kenapa. Bapak mau mandi dulu? Aku ambilin handuk kalau mau.”

“Mau aja sih, tapi sama aja kalau ga ganti baju mah.”

“Pakai bajunya Mas Ardian aja, aku siapin yah.”

“Ga apa-apa emang?”

“Memangnya kenapa? Dia kan sudah tidak berhak lagi datang ke sini.”

“Bukan gitu, takutnya malah ngerepotin.”

“Ngerepotin apanya juga, nyiapin baju doang.”

“Ya kan mbak masih capek.”

“Ya kan biar Bapak nyaman juga jagain aku malam ini.”

“Hmm…ya terserah mbak saja.”

“Oke, tunggu sebentar yah pak.”

Shinta pun bangkit dan meninggalkan Pak Hasbi. Saat Shinta sudah pergi, tanpa sepengetahuan ibu muda itu Pak Hasbi kembali menyeringai jahat. Wanita kalau emang lagi galau paling mudah diambil hatinya. Bakalan enak-enak lagi nih malam ini kayaknya.

Shinta tidak sadar ia telah membuka pintu untuk kehadiran seekor harimau.

.::.::.::..::..::.

Pak Hasbi tampak segar setelah selesai mandi. Dia terlihat mengenakan celana kolor dan kaos yang meskipun agak kebesaran tapi masih cukup pas di tubuhnya. Saat dia balik ke ruang tamu, dia melihat Shinta sedang menelepon seseorang. Karena tidak mau mengganggu di hanya duduk di seberang tempat Shinta duduk.

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Shinta selesai juga dengan telepon nya. Wajah Shinta tampak murung kembali. Air matanya kembali meleleh.

Dengan lembut Pak Hasbi datang dan menyentuh pundak sang ibu muda, “Kenapa?”

“Eh sudah selesai?” Shinta menghapus airmatanya dengan punggung tangan, ‘Enggak kok, Pak. Nggak ada apa-apa.”

“Kalau ada yang ingin diceritain, cerita aja. Mumpung Bapak ada di sini. Kalau bisa Bapak bantu, pasti Bapak akan bantu.”

“Hmm… sepertinya aku dan Mbak Sabrina sudah salah memilih musuh.”

“Sabrina? Sabrina itu kan…?”

“Iya, wanita yang kemarin ketemu sama Bapak juga.”

“Oooh ya. Kenapa dengan dia?”

“Tadi aku mau curhat ke dia tentang masalahku ini, tapi ternyata…”

“Apa?”

“Mbak Sabrina lagi ada masalah juga.”

“Masalah? Apa kaitannya dengan salah pilih musuh?”

“Aku nggak tau kebetulan atau tidak, tapi Mbak Sabrina saat ini sedang mendapatkan dua masalah. Dia tiba-tiba saja diberhentikan dari pekerjaannya. Kedua, suaminya juga tiba-tiba saja terkena masalah yang dia yakin bukan salah suaminya.”

“Kok saya tidak paham ya.”

“Hmm… Ardian, Mbak Sabrina, dan Intan itu bekerja di perusahaan yang sama. Sampai di sini paham kan ya? Nah, kemarin mbak Sabrina ada perselisihan sama Intan di kantornya. Berdasarkan cerita Mbak Sabrina, Intan itu selain ada main dengan Ardian juga punya kedekatan khusus dengan salah satu petinggi perusahaan.”

“Jadi maksud mbak?”

“Bisa saja ada kaitannya dengan dipecatnya Mbak Sabrina,” Shinta menghela napas panjang, “Ga tau lagi aku, Pak. Tadinya mau minta tolong ke dia, eh sekarang justru dia yang mau minta tolong aku.”

Pak Hasbi mengernyitkan dahi, “Dia mau minta tolong apa?”

“Mau minta tolong tinggal sementara di sini dan apa masih mungkin minta maaf ke Intan, untuk memperbaiki semua keadaan yang kacau dan carut marut. Tapi aku ga mau pak, aku masih sakit hati dengan pelacur itu. Dia telah mengambil semuanya dariku.”

“Oalaaah. Ya ya… Yah, begitulah hidup itu, Mbak. Kadang tidak sesuai dengan harapan. Terkadang berbuat benar itu tidak selamanya akan membuahkan hasil yang diinginkan. Contohnya Mbak ini, Mbak memang tidak salah sama sekali, tapi masalahnya Mbak dan Sabrina benar-benar salah memilih lawan. Dia bukan wanita lemah seperti yang terlihat. Meskipun kita berada di pihak yang benar, tidak selamanya kebenaran akan memihak kepada kita, karena seringnya kebenaran akan memihak pada pihak yang kuat. Sayangnya saat ini Intan dan keluarga Sukir berada di posisi yang sangat-sangat kuat.”

“Aku harus gimana ya pak? Aku sudah mantap untuk minta pisah sama mas Ardian. Tapi untuk saat ini aku tidak mungkin pulang ke rumah orang tua. Pasti akan kaget dan heboh semuanya.”

“Mbak tenang saja, nanti Bapak coba ngomong lagi ke Pak No, siapa tau ada jalan tengah, minimal untuk kelanjutan masa depan mbak Shinta dan Arga.”

“Makasih sekali lagi pak, kalau tidak ada Bapak, ga tau lagi aku harus mengadu ke siapa.”

Pak Hasbi pun membalik badan Shinta supaya mereka saling bertatapan.

“Tenang saja, selama saya bisa membantu pasti akan saya bantu.”

Pak Hasbi pun memberanikan diri untuk memeluk Shinta kembali. Dan tentu saja, tidak ada penolakan dari sang ibu muda. Justru sebaliknya, ibu muda yang cantik jelita itu membalas pelukan sang pria tua dan menyandarkan kepalanya pada dada Pak Hasbi.

Tenang, nyaman, dan tentram. Begitulah suasana yang dirasakan oleh Shinta saat ini. Entah kenapa saat ini pandangan sang ibu muda terhadap Pak Hasbi tidak seperti awal dulu saat mereka pertama kenal.

Shinta mengingat bagaimana dia dulu begitu membenci pria tua di sampingnya ini. Namun sekarang dia justru merasakan berada di tempat yang tepat saat dirinya bisa menyandarkan tubuh lemahnya pada sang lelaki tua.

Rasa benci karena takut dengan sikap mesum dari pria tua itu sudah tidak ada lagi. Sebagai gantinya, dia merasa dirinya terlindungi saat tubuh mungilnya didekap oleh pria tua tersebut. Setelah kejadian tadi dengan Ardian, aura kebapakan yang dimiliki oleh Pak Hasbi itu adalah satu hal yang paling dibutuhkan. Apalagi posisinya yang tinggal jauh baik dari orang tua maupun sanak saudara yang lain.

Shinta pun semakin merapatkan pelukannya. Meskipun seluruh pintu rumahnya tertutup rapat, namun dinginnya hawa dingin lereng pegunungan di malam hari mulai terasa menembus pakaian yang dia kenakan. Pelukannya pun terasa semakin nyaman. Bahkan sang ibu muda tidak peduli saat beberapa area sensitif tubuhnya menekan-nekan tubuh Pak Hasbi.

Shinta seolah tidak peduli ketika payudaranya yang indah dan juga pahanya yang mulus menekan dan menggesek-gesek dada dan kaki Pak Hasbi. Kedua tangan Shinta pun melingkar erat pada perut sang pria tua.

Berbeda dengan Shinta, Pak Hasbi yang memang seorang pria normal biasa mulai merasakan getaran-getaran sensual yang menjalar pada tubuhnya. Apalagi dengan wangi semerbak dari tubuh Shinta yang mulai menghanyutkan. Pak Hasbi sudah berusaha untuk menahan sekuat tenaga namun rasanya sangat berat. Jantungnya mulai berdebar. Dan tentu saja juga dengan kemaluannya yang mulai berontak di balik celana kolornya yang tidak menggunakan dalaman.

Gawat nih, bisa ga tahan kalau begini. Gimana mungkin aku ga ngaceng kalau begini?

Shinta yang tadinya tidak menyadari hal tersebut mulai merasakan juga. Dari kepalanya yang menyandar pada dada Pak Hasbi saja sudah terasa sekali detak jantung pria tua tersebut yang semakin kencang. Gerak-gerik Pak Hasbi yang awalnya natural juga semakin lama semakin kaku, menandakan ada sesuatu yang ditahan oleh pria tua tersebut.

Sebenarnya Shinta ingin segera menyudahi pelukan tersebut dan menjaga jarak dengan Pak Hasbi. Namun rasa nyaman yang diterimanya mengalahkan keinginan tersebut. Ada semacam magnet yang menahan agar dirinya tetap berada sedekat itu dengan si pria tua.

Namun ada hal yang kemudian membuat Shinta merasa kaget dan berada di posisi serba salah. Saat dia melirik ke bawah, dapat dengan jelas dia melihat celana kolor yang dikenakan Pak Hasbi membuat semacam tenda yang berdiri tegak. Berdiri tegak setegak dengan isi yang ada di dalamnya. Shinta baru sadar kalau dia tadi hanya memberi Pak Hasbi baju luaran saja, tanpa celana dalam. Ga mungkin juga Pak Hasbi mau memakai celana dalam Ardian. Tapi dia tidak menyangka kalau Pak Hasbi tidak mengenakan kembali celana dalamnya.

Mungkin sudah kotor kali ya, makanya tidak dipakai lagi. Duh, benda itu, kok aku harus ketemu sama itu lagi sih? Mana berduaan doang lagi. Aku harus gimana ya? Pak Hasbi pasti terangsang karena aku peluk begini. Kirain udah nolongin aku kayak tadi ga bakal kepengen lagi, ternyata sama aja. Tapi ya bukan salah Pak Hasbi juga sih. Laki-laki lain pasti juga akan terangsang juga kalau posisinya begini. Hufft!

“Oh iya sampai lupa, Bapak pasti belum makan kan?” ucap Shinta tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya. Pak Hasbi yang kaget pun lalu juga melepas pelukannya.

“Hehehe, iya, belum. Ada ya?”

“Hihihi, tau aja bapak ini kalau soal makanan, duh jadi inget, siapa yah dulu yang hampir memperkosa aku padahal udah baik-baik mau dimasakin?” goda Shinta.

“Hehehe, siapa ya itu? Ga tau diri banget?” balas Pak Hasbi pura-pura tidak tahu.

“Bukan bapak yang pasti, kalau bapak kan baik hati, suka menolong, suka melindungi, dan mengayomi, ya udah yuk pak makan dulu, aku ambilin yah, mau makan di sini atau di meja?”

“Di sini saja mbak, saya tidak biasa makan di meja.”

“Ok Sebentar yah pak, aku ambilin dulu.”

Shinta pun meninggalkan Pak Hasbi. Sedangkan Pak Hasbi sendiri menarik nafas lega. Sekilas ada ketakutan dari dirinya kalau Shinta sampai mengungkit masalah itu lagi dan membencinya kembali. Tentu akan sangat merepotkan kalau harus melakukan pendekatan dari awal terhadap sang ibu muda.

“Syukurlah ada rejeki makan masakan Mbak Shinta kembali, hehehe,” canda Pak Hasbi saat Shinta sudah kembali dengan sepiring nasi dan lauk serta segelas air putih.

“Halah, cuma seadanya kok pak, silahkan pak.”

“Mbak sudah makan?”

“Sudah tadi.”

“Yang benar? Kalau belum makan sama-sama aja.���

“Hehehe, belum sih sebenarnya, tapi nanti saja pak, belum lapar.”

“Belum lapar apa belum nafsu makan?”

“Belum nafsu…”

Pak Hasbi tahu, tentunya dengan semua kejadian tadi, Shinta tidak akan doyan makan. “Hehehe, ya udah Bapak makan dulu ya.”

“Iya pak, silahkan, aku sambil liatin Arga dulu ya pak, takutnya kebangun.”

“Boleh mbak, monggo.”

Pak Hasbi pun makan dengan lahap. Sedangkan Shinta pergi menuju kamarnya untuk melihat anaknya yang masih tertidur sejak magrib tadi. Biasanya kalau tidur malam begini suka terbangun dan minta asi.

.::.::.::..::..::.

.:: DI TEMPAT LAIN PADA WAKTU YANG BERSAMAAN

Seorang ibu muda dua anak yang baru saja selesai membersihkan diri menemui suaminya yang berada di kamar. Wanita itu tampil berbeda dari biasanya. Wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Intan itu berniat memberikan sebuah kejutan kepada suaminya.

Mas Hendro ternyata sudah ada kemajuan. Meskipun masih belum bisa berjalan seperti dulu, tapi ternyata itunya udah bisa berdiri, hihihi. Uh mas, kamu tau ga sih, sejak tau itu dari tadi sore aku jadi deg-degan terus tau. Kangen tau mas bisa manja-manjaan sama kamu. Kangen tau di grepe-grepe sama kamu terus akhirnya bisa memadu kasih seperti dulu.

“Hai, Mas sayang, hihihi,” sapa Intan dengan manja.

Hendro yang tadinya yang terbaring sontak kaget dengan kemunculan Intan. Belum lagi dengan apa yang dia lihat. Lebih tepatnya dengan busana yang istrinya itu kenakan. Sebuah baju yang sudah sangat lama tidak dia lihat menempel pada tubuh Intan. Sebuah lingerie tipis dan menerawang, dengan sepasang pakaian dalam yang terlihat di baliknya.

“Ha-hai ju-juga sayang, kamu kok…?”

Hendro tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Kaget campur senang. Sebuah perasaan yang juga sudah lama tidak dia rasakan.

“Hihihi, kenapa mas? Kaget yah?”

“Iya, kaget banget, kamu cantik sekali sayang, dan juga…”

“Juga apa mas?” tanya Intan sambil melirik genit.

“…dan juga seksi, hehehe.”

“Mas suka?”

“Suka sekali sayang,” balas Hendro sambil memberikan isyarat untuk mendekat.

Tentu saja Intan menurut. Sudah sangat lama Intan tidak mendapatkan tatapan mata terpesona seperti itu dari suaminya. Sudah lama Intan tidak merasakan bagaimana suaminya itu menginginkan tubuhnya. Sudah lama sekali Intan ingin bisa kembali memberikan pelayanan kenikmatan kepada sang suami. Tanpa terasa, baru diminta seperti itu saja membuat kemaluannya mulai berkedut.

“Mas?” ucap Intan lagi dengan manja.”

“Ya sayang?”

“Ehmm…mas…mau…nenen ga? Hihihi,” tanya Intan malu-malu. Biarpun sudah sekian tahun menikah, namun tetap saja masih ada sifat naluriah seorang perempuan yang masih malu-malu ketika menawarkan sesuatu yang bersifat sensual kepada sang suami.

Hendro tidak menjawab namun langsung memonyongkan bibirnya tanda siap untuk menghisap dan mengulum puting payudara Intan yang sudah mengeras.

Tanpa menunggu lama Intan langsung merebahkan tubuhnya di samping Hendro. Persis seperti ketika akan menyusui kedua anaknya dulu, Intan lalu mengeluarkan buah dada kirinya dan mengarahkan ke mulut sang suami. Lingerie yang dia kenakan memang memiliki belahan dada yang lebar sehingga tidak menyulitkan bagi sang ibu muda.

“Ahh…” Intan mendesis panjang.

Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik ribuan watt ketika untuk pertama kalinya area sensitifnya tersebut tersapu oleh lidah sang suami. Getaran-getaran nikmat menjalara keseluruh persendian tubuhnya.

Slurppss…!!

“Ahh…maassshhh…ahh…yaahh…”

Intan semakin mendesah tidak karuan. Dibelainya wajah dan rambut sang suami dengan penuh kasih. Momen intim seperti inilah yang dia tunggu-tunggu sejak lama. Momen kita dirinya mendapatkan kenikmatan dari orang yang semestinya.

Intan semakin melayang dengan permainan lidah sang suami. Bibir kemaluannya semakin lama semakin lembab dan basah. Intan semakin tidak tahan. Diraihnya tangan kiri Hendro lalu diarahkannya ke arah buah dadanya yang satu lagi. Tanpa disuruh sang suami langsung meremas dengan lembut gundukan daging kenyal yang menggoda tersebut.

“Ahh…iyaah… terus mas, terus… hisap yang kencang, hisap puting payudara istrimu ini mas…ahhh…”

Hendro tentu saja menuruti setiap perintah sang istri. Dirinya juga sudah merasa sangat lama tidak bercumbu seperti ini dengan Intan. Dirinya rindu akan setiap keindahan lekuk tubuh istrinya tersebut.

Intan lalu melirik ke bawah. Dirinya tersenyum manakala melihat celana kolor yang dikenakan suaminya itu mulai menggembung. Dia Pun tidak mau kalah dengan segera meraba area tersebut.

“Ahh…”

Giliran Hendro yang tersengal akibat sentuhan tersebut. Sang suami merasakan getaran yang kuat yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Dia pun dengan gemas lalu mengeluarkan payudara Intan yang kanan sehingga kedua bukit kembar milik istrinya tersebut mencuat keluar.

“Ahh…”

Intan mendesah saat tangan kiri Hendro memainkan puting payudaranya yang kanan. Gelombang birahi semakin kuat menerpa tubuh ibu muda tersebut saat merasakan kedua puting payudaranya mendapatkan rangsangan dari orang yang seharusnya.

“Ahh mas sudah mas, stop dulu bentar, hihihi,” pinta Intan.

“Kenapa sayang?”

“Hihihi, ga apa-apa mas, gantian yah mas.”

“Gantian apa?”

“Iya gantian, aku pengen…gantian ngisep lolipop, hihihi.”

“Oh, hehehe.”

Hendro pun melepaskan cengkramannya pada buah dada kanan Intan. Setelah terlepas Intan lalu bangkit dan bersimpuh di atas lutut sang suami. Tanpa meminta izin lagi Intan lalu memelorotkan celana dan celana dalam sang suami. Seketika batang kejantanan Hendro melompat keluar. Intan tersipu malu saat berhadapan langsung dengan benda yang sudah membuatnya hamil dua kali tersebut.

Dengan lirikan manja Intan lalu membungkukkan tubuhnya. Seperti gerakan slow motion, tubuh indah itu semakin lama semakin membungkuk hingga wajahnya yang cantik jelita tepat berada diatas kejantanan sang suami.

Sluurppss…

“Ahh…”

Hendro mendesah panjang saat Intan menjilat penisnya yang sudah tegang itu dari pangkal hingga ke lubang kencingnya. Desahannya semakin menjadi saat Intan melanjutkan aksi binalnya itu dengan memasukan batang kenikmatan itu ke dalam rongga mulutnya.

Intan menggoda suaminya dengan melirik ke atas. Suaminya tampak kepayahan dengan aksinya tersebut. Hendro terlihat merem melek menikmati sensasi yang dia rasakan.

Haaghh! Haaghh! Haaghh!

“Ahh ahh sayang enak sayang ahhh.”

Haaghh! Haaghh! Haaghh!

Intan semakin mempercepat kulumannya saat mengetahui sang suami yang kelimpungan merasakan kenikmatan yang dia berikan.

“Ahh, iyah sayang, terus ahh, terus…tapi ahh…stop dulu stop,” pinta Hendro.

“Eh, kenapa mas? Sakit yah? Kena gigi yah? Maaf mas.”

“Eng-enggak, enak banget kok.”

“Terus, kenapa minta berhenti?”

“Ahh ahhh…ka-kalau kamu perlakuin mas seperti itu terus…mas…bisa cepet keluar, hehehe.”

“Ohhh mau keluar, ya udah keluarin aja mas ga usah takut, kan keluarnya…di mulut istri sendiri, hihihi. Mas boleh kok, kalau mau nembakin sperma nya ke mulut aku, aku lanjut yah mas.”

Intan mencoba santai saja mendengar kalimat polos sang suami. Meski merasa agak kecewa karena daya tahan sang suami yang tidak terlalu lama, tapi dia tetap mencoba untuk menerima.

Mas Hendro pasti sudah sangat kepengen banget karena sudah lama tidak begituan.

Namun Hendro tetap melarang istrinya tersebut.

“Emang kamu ga pengen dimasukin?”

“Pengen sih mas, kirain mas mau dua ronde nanti, nembak di mulut aku, nembak juga di rahim aku, hihihi.”

“Hehehe, mau juga, tapi nanti saja, aku takut langsung loyo, hehehe.”

“Hihihi, iya mas, ya udah, aku masukin yah,” pinta Intan sambil mengerling manja.

Intan pun bangkit lagi. Masih dengan bersimpuh, dia lalu menaikan ujung bawah lingerie nya. Lalu dengan gerakan sensual sang ibu muda lalu menarik kebawah celana dalam tipisnya. Setelah terlepas dia lalu naik dan mengangkangi selangkangan sang suami.

“Aku masukin yah mas,” izin sang istri dengan manja. Hendro hanya mengangguk sambil membalas senyuman sang istri dengan lembut.

Intan meraih kejantanan suaminya yang basah akibat liurnya sendiri itu dan mengarahkannya ke liang senggamanya sendiri. Digesek-gesekkannya terlebih dahulu ujung benda tumpul tersebut ke bibir vaginannya yang sudah becek.

“Ahh…”

“Ahh…”

Sepasang insan suami istri tersebut mendesah bersama. Lalu dengan gerakan yang pasti, Intan menekan tubuhnya ke bawah hingga kejantanan sang suami amblas seluruhnya ke dalam liang surgawinya.

“Ahh mas…”

“Yah sayang…”

“Enak mass…”

“Iya sayang mas juga enak…”

“Ahh a-aku kangen sama mas, aku rindu sama mas, a-aku ahh ahh.”

Intan tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Tubuhnya tidak mampu gejolak yang ada. Rasa nikmat. Rasa rindu. Rasa haru. Semuanya campur aduk menjadi satu. Rasa bahagia yang sudah lama dia rindukan akhirnya kembali lagi.

Tubuh ibu muda cantik itu meliuk-liuk ke sana kemari. Tubuhnya menghentak-hentak seiring dengan kenikmatan yang dia rasakan. Payudaranya yang mencuat keluar itu mengayun dengan indah ke atas dan ke bawah. Intan semakin tak kuasa menahan gejolak puncak kenikmatannya.

Namun sayangnya apa yang diharapkan Intan tak berjalan sesuai kenyataan. Hendro yang sudah lama tidak melakukan hubungan seksual tersebut sudah berada di ujung kenikmatan. Bahkan hanya untuk menunggu sedikit lagi untuk bisa merengkuh kenikmatan itu bersama dengan sang istri pun tidak mampu.

“Ahhh ahhh…” Hendro mengerang kuat saat rudal kejantanannya menembak dengan deras rahim sang istri.

“Ahh…”

Intan sebenarnya kaget. Sedikit lagi. Hanya sedikit lagi. Namun karena rasa sayangnya kepada sang suami, Intan berakting seolah dirinya juga sudah mencapai klimaksnya. Ibu muda itu tidak ingin suaminya merasa lemah kembali sementara fisik sang suami sudah menunjukkan sedikit kemajuan. Intan ingin mental sang suami tetap terjaga.

“Ahhh…” desah Intan sekali lagi. “Te-terima kasih mas ahh, terima kasih udah bikin aku enak lagi, hihihi.”

Cup!

Lanjut Intan dengan mengecup bibir sang suami.

“Terima kasih juga sayang, terima kasih untuk terus mau bersama ku, terima kasih untuk terus mau berada di sisi ku.”

“Ssth!”

“Kenapa?”

“Salah tau.”

“Apa nya yang salah?”

“Bukan di sisi mas.”

“Bukan?”

“Iya bukan, harusnya itu, terima kasih karena udah mau berada di atas mas, hihihi.”

“Hahaha, kamu itu ya, tapi mas bahagia banget malam ini,” balas Hendro sambil meremas pelan payudara kiri Intan dan mencubit putingnya.

“Aww! Mas! Iseng banget sih? Hihihi.”

“Lagian bercanda terus.”

“Hehehe, pokoknya mas harus terus semangat ya, supaya cepat sembuh kembali seperti dulu, supaya nanti bisa…”

“Bisa apa?”

“Supaya nanti mas bisa gantian di atas lagi kaya dulu, hehehe.”

“Hahaha, aamiin, doakan semoga mas bisa nyodok-nyodok memekmu ini seperti dulu lagi,” balas Hendro vulgar.

“Aww…mau dong disodok-sodok mas lagi, nanti dari belakang juga ya mas nyodoknya, hihihi.”

“Iya sayang, aku sodok kamu dari depan dan belakang nanti, sampai kamu lemas, hahaha.”

“Uuhh pasti nikmat banget itu.”

Intan pun kemudian bangkit dan turun dari ranjang. Terlihat kemaluan Hendro yang mulai mengecil itu mengkilap karena cairan mereka berdua. Intan lalu mengambil selembar tisu basah dan mengelap kejantanan yang sudah mulai lembek itu.

Setelah bersih, dengan telaten Intan merapikan kembali pakaian yang dikenakan Hendro. Sang ibu muda lalu meminta izin untuk ke kamar mandi membersihkan lubang vaginanya yang masih becek akibat sperma sang suami.

Namun saat Intan baru keluar dari kamar dan baru saja menutup pintu, Intan tidak langsung menuju kamar mandi. Intan berdiri sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding di sebelah pintu kamarnya. Tanpa sadar kedua tangannya merabai area sensitifnya sendiri.

“Ahh…”

Intan kembali mendesah pelan. Dirinya yang belum mendapatkan orgasme itu dilanda gelombang birahi kembali.

“Ahh…”

Saat itu, tanpa sengaja dia melihat ke arah luar, dan mendengar suara televisi yang masih menyala. Hanya ada bapak mertuanya di rumah itu selain suami dan anak-anaknya yang sudah tidur terlebih dahulu sejak tadi.

Intan berada di ujung kebingungan. Membersihkan diri lalu tidur, atau mencoba peruntungan untuk bisa menuntaskan birahinya yang belum terpuaskan. Birahinya menuntut untuk dipuaskan, akan tetapi harga dirinya masih cukup tinggi untuk meminta hal tersebut secara terang-terangan. Meskipun dia sendiri yakin kalau harga diri nya saat ini sudah tidak ada sama sekali di depan bapak mertua.

Intan pun membulatkan tekad nya, untuk apa yang dia inginkan. Intan berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan area sensitifnya. Setelah itu dia balik ke kamar. Saat masuk ke kamar, dia mendapati sang suami sudah tertidur pulas. Sangat pulas dengan wajah penuh kepuasan. Intan tersenyum.

Maafkan aku mas.

Intan lalu keluar lagi, lalu berjalan menghampiri sang bapak mertua.

“Sudah?” tanya Pak No dengan santai.

Intan bingung. Dia lupa tidak mempersiapkan kalimat apa yang akan digunakan ketika berhadapan langsung dengan bapak mertuanya tersebut.

“Su-sudah apanya?”

“Sudah selesai dengan anak ku?”

“Selesai apanya, Pak?”

“Ya itu, dengan pakaianmu seperti itu, kalian abis ngapain kalau ga abis ngenthu?”

Ah, bodohnya diri ku. Bisa-bisanya aku lupa buat ganti baju. Padahal tadi sebelum ke depan sini mau ganti baju dulu. Huh!

Intan mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dia lupa untuk mengganti baju yang lebih sopan saat menghampiri serigala tua seperti Pak No ini.

“Terima kasih, sudah membuat anakku bahagia, apapun keadaannya,” lanjut Pak No.

Intan pun tertunduk malu. Dia tidak menyangka akan ketahuan oleh bapak mertuanya baru saja memadu kasih dengan suaminya. Namun tekadnya sudah bulat. Tidak ada jalan lagi untuk mundur. Getar-getar kenikmatan yang sempat tertunda itu membimbingnya untuk melakukan hal ini.

“Pak?”

“Ya?”

“Tidak jadi,” balas Intan pelan, seolah tidak ada apa-apa. Padahal dia berharap bapak mertuanya itu memaksanya untuk menemaninya malam ini.

“Kamu tidur dulu aja nduk, kamu pasti capek, baru pulang dari kemarin.”

“I-iya,” jawab Intan pelan. Ibu muda itu lalu berpikir keras, apa yang bisa dia jadikan alibi. Lalu dari kepalanya baru teringat sesuatu. “I-iya pak abis ini aku mau istirahat dulu, capek, tapi mau beresin gelas yang tadi sore dulu, biar rapi sekalian,” lanjut Intan berkilah. Tentu saja ibu muda itu sambil tetap menunjukkan ekspresi wajah yang datar seperti biasanya.

Intan pun dengan cuek berjalan keluar melewati Pak No. Meskipun terlihat cuek, namun dari dalam hatinya merasakan debaran gejolak sensasi yang bergelora. Intan lalu membuka pintu depan rumah mertuanya itu, namun karena dia sadar dengan pakaian yang dia kenakan, dia melihat keluar sebentar, memastikan tidak ada orang yang lewat. Sebenarnya dia ingin ganti baju dulu namun rasanya nanggung.

Setelah yakin tidak ada orang, Intan pun berjalan kembali menuju meja teras rumahnya. Di meja tersebutlah gelas kopi bekas bapak-bapak yang bertamu ke rumahnya itu tadi sore. Sekilas dia teringat kembali bagaimana gilanya pengalamannya sore tersebut. Begitu juga dengan bagaimana dirinya telah membuat orang yang selama ini selalu membantunya kapanpun dan dimanapun itu hatinya hancur berkeping.

Maafkan aku mas, tapi cukup sampai di sini saja peran mu untuk ku.

Tanpa disadari Intan yang tiba-tiba melamun tersebut, seekor tikus kecil melintas di hadapannya. Meskipun melamun, namun alam bawah sadarnya memberikan sinyal alarm bahaya datang.

“AAA!!”

Intan pun menjerit tertahan. Untungnya dia bisa segera mengendalikan diri. Meskipun panik, tapi dia buru-buru menutup mulutnya sendiri untuk mencegah teriakan yang semakin keras. Tentu saja dia tidak ingin membuat heboh tetangga kiri dan kanannya malam-malam seperti ini. Apalagi dengan busana yang dia kenakan seperti ini.

“Ada apa nduk?” tanya Pak No yang langsung sigap keluar melihat keadaan yang ada.

“I-itu pak, tadi ada tikus lewat?”

“Mana-mana?”

“Sudah pergi, Pak, curut, larinya cepat sekali.”

“Oalah, yaudah buruan ambil gelas nya dan masuk,” perintah Pak No. Intan pun lalu menuruti perintah sang bapak Mertua. Saat mereka berdua sudah berada di dalam ruang tamu kembali, Intan berhenti.

Entah kenapa, dia sendiri juga bingung kenapa dia berhenti. Ada yang ingin diucapkan, tapi dia tidak tahu itu apa. Ada yang ingin diucapkan, tapi dia sendiri tidak mengerti apa yang hendak diucapkan.

“Pak?”

“Ya?” jawab Pak No yang masih fokus melihat ke acara televisi yang di tontonnya.

“Ba-bapak, mau ngopi lagi? Mau aku buatkan?”

Pak No tidak langsung menjawab. Dia tersenyum sebentar ke arah sang menantu yang cantik jelita. Tentu saja Pak No yang sudah berpengalaman paham akan pertanyaan menantunya tersebut.

Hahaha, ternyata Hendro belum bisa memuaskan diri mu ya? Dan kamu sekarang sedang mencoba menggoda ku ya? Kita lihat, sudah sampai sejauh apa kebinalan mu nduk, cah ayu.

“Kopi terus, kamu mau aku tidak bisa tidur?”

“Ma-maaf pak, aku cuma nawarin aja, kalau tidak pengen yaudah, abis cuci gelas ini aku mau tidur,” balas Intan dengan santai. Namun sebenarnya ada rasa kecewa yang dia rasakan. Sebuah perasaan yang sangat aneh sebenarnya.

“Di dapur, di rak di atas kompor itu ada minuman botol, tolong ambilkan satu dan bawa kemari. sama gelasnya juga jangan lupa,” ucap Pak No tiba-tiba saat Intan sudah membalikkan badan. Dan tanpa diketahui oleh sang mertua, sebuah senyum tipis mengembang dari bibir manis sang menantu.

Tidak sampai lima belas menit kemudian Intan sudah kembali dengan barang pesanan dari Pak No. Ibu muda yang cantik jelita itu lalu duduk di sofa sebelah kiri dari tempat Pak No duduk.

“Dari pada ngopi, mending minum ini, bikin pikiran tenang, tidur pun nyenyak.”

Intan sebenarnya ingin mengiyakan saja kalimat Pak No, tapi langsung ditahannya begitu ingat minuman apa yang akan diminum oleh mertua nya tersebut. Dan mungkin olehnya juga. Karena entah kenapa, padahal tidak diminta, Intan malah membawa dua gelas dari dapur tadi.

“Dituang sekalian dong nduk, buat kamu juga, temani bapak minum ya.”

Intan pun menuruti perintah Pak No. Dengan telaten ibu muda yang tampil seksi itu menuangkan minuman haram tersebut ke dua gelas yang dibawanya tadi. Lingerie mini Intan tak mampu menutupi paha lulusnya. Pun begitu dengan belahan dadanya yang terekspos dengan sangat jelas.

“Monggo, pak,” ucap Intan mempersilahkan. Intan juga mengambil satu gelas lagi yang terisi minuman keras itu. Mereka berdua pun bersulang.

“Jadi, bagaimana hasil dari kepergian mu dua hari ini?” tanya Pak No membuka obrolan.

“Sesuai yang bapak perintahkan kemarin, tadi juga lihat sendiri kan hasilnya, Mas Ardian sampai ngamuk-ngamuk,” balas Intan setelah menenggak minuman yang masih terasa pahit untuknyanya itu. Dirinya berusaha untuk tenang meskipun getaran-getaran aneh mulai menjalar ke sekujur tubuhnya.

“Apa yang sudah kamu dapat dari pria tolol itu?”

“Semuanya.”

“Bagus. Lalu, Pak Wing?”

“Kalau Pak Wing, aku sudah mengajaknya untuk kongsian, dan dia menerima ajakan ku.”

“Luar biasa, kamu memang menantu ku yang paling pintar. Apa yang kamu rencanakan.”

“Ehmm…kalau boleh, aku mau menggarap tanah bapak yang terbengkalai itu.”

“Untuk?”

“Belum kepikiran sampai jauh, tapi mungkin tempat wisata, atau penginapan, daerah kita ini kan daerah pegunungan, udaranya masih sejuk, pasti akan dengan mudah untuk menarik wisatawan.”

“Itu saja?”

“Tentu tidak, aku sebenarnya tau bagaimana keluarga bapak menguasai tempat ini, ehmm…mungkin dengan sedikit bantuan atau perlindungan dari bapak, dari Lek Man dan dari Lek Lan juga, aku bisa mengendalikan bisnis ini kedepannya.”

“Bisnis apa itu?”

“Ehmm…mungkin bisnis penginapan yang…yang diselingi dengan bisnis…”

Intan tidak melanjutkan kalimatnya. Namun dengan gerakan perlahan Intan memperlihatkan gestur tubuh yang… yang sangat menggoda. Intan dengan perlahan meregangkan sedikit kedua pahanya. Tidak hanya sampai disitu, ibu muda itu lalu meraba selangkangannya sendiri yang masih tertutup celana dalam mini itu. Sedangkan tangan yang lain meraba salah satu payudaranya sendiri dengan lembut.

Pak No tersenyum melihat tingkah laku menantunya tersebut.

“Kamu sudah yakin dengan rencanamu itu? Sudah yakin dengan resiko yang mungkin muncul kedepannya?”

“Tentu saja yakin, bahkan kalau harus…ahh…”

Intan kembali tidak melanjutkan kalimatnya. Ibu muda itu mendesah pelan saat merasakan sensasi nikmat akibat dari rangsangannya pada tubuhnya sendiri.

“Memangnya kamu punya wanita yang bisa dimanfaatkan?”

“Ahh…kalau itu, bapak dan Lek Man sama Lek Lan pasti bisa bantu, tapi kalau untuk awalan, mungkin…ahh…”

Intan semakin berani merangsang dirinya sendiri di depan bapak mertuanya. Tangan kirinya bahkan sampai menyingkap sedikit kain penutup celah vaginannya itu. Pun begitu dengan tangannya yang satu lagi yang sampai berani mengeluarkan buah dadanya sendiri hingga salah satu puting payudaranya itu mencuat keluar. Ibu muda yang tengah dilanda birahi itu semakin blingsatan menahan gejolak sensasi gila yang dia rasakan.

“Mungkin apa?”

“Ehm…ahh…mungkin…kalau perlu, aku sendiri dulu yang akan turun tangan, ahh…apa bapak meragukan itu?”

“Hmm…gimana ya? Ragu ga ragu.”

“Ahh…bagaimana supaya bapak yakin? Bagaimana cara saya supaya bapak percaya?” tanya Intan yang semakin melebarkan kedua pahanya. Tidak hanya sampai disitu, Intan bahkan semakin berani menyusupkan jarinya sendiri ke sela-sela kemaluannya. Tangannya yang satu lagi juga tidak hanya membelai buah dadanya sendiri. Jemari lentik itu meremas dan memilin puting payudaranya sendiri.

“Aku tidak tau, mungkin kamu bisa membuktikannya dengan caramu sendiri.”

“Ahh…”

Intan pun bangkit. Rasanya sudah tidak tahan sendiri bagi dirinya. Ibu muda itu menghampiri sang bapak mertua. Intan lalu melangkahi kedua paha Pak No. Ibu muda itu kemudian mengeluarkan kedua buah dadanya sekaligus hingga menggantung indah di depan Pak No.

“Bayangkan, bapak jadi tamu penginapan nanti, dan aku jadi pelayan di sana, aku akan…”

Intan lalu menarik celana kolor yang dikenakan Pak No. Ibu muda itu lalu menggenggam dan meremas kejantanan sang mertua. Diurut dan di kocoknya pelan batang kenikmatan itu.

“Mungkin aku akan menawarkan tubuh ku ini, susu ku ini, dan memek ku ini untuk bapak nikmati, seperti ini.”

Intan lalu meludahi tangannya sendiri dan meratakannya di kemaluan Pak No. Ibu muda itu mengocok kembali batang berurat itu. Ibu muda itu juga menyodorkan payudaranya untuk dihisap dan dijilati oleh bapak mertuanya.

.::.::.::..::..::.

Sementara itu di tempat lain, setelah Shinta yakin anak semata wayangnya sudah kenyang dengan asinya dan tidur nyenyak kembali, Ibu muda itu keluar kamarnya. Namun Shinta tidak mendapati Pak Hasbi ada di ruang tamu. Mencari kedepan pun juga tidak ketemu. Shinta sempat berfikir pria tua itu pulang tanpa pamit kepadanya.

Pak Hasbi kemana? Kok ga ada ya?

Shinta pun mencari ke dalam. Saat di dapur, dia mendapati ternyata sang pria tua sedang merokok dengan santai di teras belakang rumahnya.

“Ngapain pak?”

“Ini?” Jawab Pak Hasbi sambil menunjukkan sebatang rokok yang sudah mau habis di tangannya.

“Oalah, kirain pulang tanpa pamit.”

“Ya ga lah, masa iya bapak ninggalin mbak Shinta, kan tadi sudah janji mau nemenin malam ini.”

“Hehehe, ya udah dilanjut saja ngerokoknya, aku boleh ikutan duduk di sini tidak pak?”

“Hehehe, iya soalnya ga enak kalau ngerokok di depan, takut ada yang lihat, silahkan saja mbak, kan ini rumah mbak Shinta sendiri.”

Shinta pun duduk di kursi sebelah pak Hasbi yang kebetulan ada dua. Shinta duduk sambil mengusap lengannya sendiri yang merasakan dinginnya udara malam lereng pegunungan itu.

“Pak?”

“Ya?”

“Sebenernya, aku mau cerita sesuatu.”

“Apa itu?”

“Mbak Sabrina.”

“Kenapa dengan mbak Sabrina?”

“Ternyata yang dialami oleh mbak Sabrina jauh lebih rumit.”

“Maksudnya gimana?”

“Tadi pas lagi di kamar, aku berkabar lagi dengan mbak Sabrina, masa katanya suaminya itu ditangkap polisi, terus rumah nya juga disita.”

“Weladalah… mesakno.”

“Iya makanya kasian banget pak, aku yang tadinya mau curhat malah dengerin dia curhat.”

“Kapan disitanya?”

“Sore tadi.”

“Waduh.”

“Ini mbak Sabrina dalam perjalanan ke sini.”

“Sendirian?”

“Iya.”

“Anak-anaknya?”

“Dititipin ke mertuanya katanya.”

“Oh, yang penting anak-anaknya ada yang urus.”

“Iya, tapi mbak Sabrina ada punya rencana lain juga.”

“Rencana apa?”

“Dia ngajak aku buat ketemu Intan.”

“Buat?”

“Ga tau, mau minta maaf kali, dia yakin semua masalah ini akarnya pasti dari si Intan itu.”

“Terus mbak mau?”

“Bingung pak, kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, tapi ya gengsi lah aku ketemu Intan.”

“Hmm…”

“Menurut bapak gimana?”

“Bapak juga bingung mbak, tapi kalau mau dicoba ya silahkan saja.”

“Bapak mau bantu ga?”

“Bantu apa?”

“Temenin aku sama mbak Sabrina ketemu Intan.”

“Bukan ga mau ya mbak, tapi bapak bisa bantu gimana kalau nemenin?”

“Ya mungkin bapak bisa bantu ngomong sama minta tolong ke Pak No itu.”

“Yah mbak, kalau minta tolong sama pak No mah pasti minta timbal balik, dan mbak tau sendiri orang macam apa dia itu.”

“Pak, mau ya pak bantuin…” rayu Shinta sambil menghadap ke Pak Hasbi. Wajah ayu Shinta terlihat semakin menggemaskan di mata pak Hasbi dengan ekspresi memelas seperti itu.

“Duh, kalau yang minta mbak Shinta seperti ini bapak ga bisa nolak, hehehe.”

“Ih bapak mah, lagi serius juga.”

“Iya bapak juga serius, tapi kalau lihat wajah cantik mbak yang memelas gini, siapa coba yang akan tega?”

“Ah bapak mah, godain mulu, awas loh kalau bohong!”

“Hehehe, udah lama ya kayaknya ga godain mbak Shinta.”

“Godain apa mesumin? Huh! Sebel tau inget tuh!”

“Masa sih mbak? Sebel nya kenapa?”

“Ya sebel lah. Memang bapak kira aku ga nahan kesel saat dulu bapak curi-curi kesempatan?”

“Hehehe.”

“Pura-pura tidur terus nempel-nempel.”

“Yang pas di mobil waktu ke puskesmas ya?”

“Yang mana lagi kalau bukan itu?”

“Salah suami mbak tuh, ngempanin istri secantik mbak ke saya.”

“I-iya juga sih.”

“Kalau ga ada mas Ardian, tidak mungkin saya bisa berada di sini malam ini.”

“Kalau bukan gara-gara pria brengsek itu, aku ga akan kehilangan segalanya, pak.”

“Jadiin pelajaran hidup saja mbak, mbak masih muda, jalan hidup masih panjang.”

“Iya.”

“Eh mbak, ngomong-ngomong, duh ga enak mau ngomongnya.”

“Apaan? Jangan bikin penasaran.”

“Hehehe, kalau udah ga ada mas Ardian, kita…udah ga bisa gituan lagi di depannya dong, hehehe, padahal seru loh yang itu, hahaha.”

“Iiihhh bapak mah, orang lagi kesusahan juga, malah mikir kesana, sebel ah.”

“Emang mbak ga pengen keseruan itu lagi?”

“Gak!”

“Masa sih?”

“Iya.”

“Yah…”

“Hihihi.”

“Kok malah ketawa?”

“Ga apa-apa, sekarang bapak yang memelas, week!”

“Ah mbak mah.”

“Bapak sebenarnya ikhlas ga sih mau bantuin? Kok pembicaraannya mengarah kesana?”

“Ya ikhlas-ikhlas aja sih, tapi kan siapa tau, ya siapa tau ya, mbak butuh kehangatan lagi di malam yang dingin ini, hehehe.”

“Idih! Najong deh. Kalimat bapak itu udah kaya ABG aja, hahaha.”

“Ehmm…”

“Bapak pasti akan memandang saya jadi perempuan yang gampangan. Huh! Sedih banget.”

“Ga mbak, ga kaya gitu, beneran deh. Duh, gimana ya jelasinnya.”

“Terus kenapa mikirnya kesana?”

“Ehmm…”

“Hihihi, becanda pak, ga usah tegang gitu kali.”

“Huft, kirain mbak beneran sedih dan marah ke saya.”

“Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi pak di sini, marah sama bapak makin bikin saya tidak punya siapa-siapa lagi. Oh iya pak?”

“Kenapa mbak?”

“Nggak, hihihi, kepikiran sesuatu tapi malu ngomongnya.”

“Halah, malu kenapa sih? ayo lanjut ceritanya.”

“Enggak, jadi dulu tuh aku sering ngomongin Pak Hasbi loh, hihihi.”

“Hah? Serius?”

“Iya, tapi jangan GR dulu, aku ngomongin nya juga tentang kemesuman bapak.”

“Walah…aib saya kebuka kemana-mana dong.”

“Makanya…jangan mesum mulu jadi orang.”

“Ceritanya ke siapa?”

“Ke…Mbak Sabrina, hehehe.”

“Apa? Kok dia biasa saja waktu itu ketemu saya?”

“Ya emang mau ngapain lagi?”

“Waduh waduh, terus nanti mbak Sabrina nya mau ke sini lagi, duh malu deh.”

“Emang bapak masih punya malu? hihihi.”

“Weladalah, mbak ini ngece terus.”

“Hihihi.”

“Terus, mbak cerita semuanya gitu?”

“Iya lah, ngapain ditutup-tutupi?”

“Termasuk…?”

“Iya semuanya, punya bapak segede kon-, eh segede anu kuda juga mbak Sabrina tau.”

“Astaga…”

“Kenapa astaga? Bukannya malah senang kalau benda pusakanya yang gede itu banyak yang tahu?”

“Hahaha, kaget aja mbak, terus respon mbak Sabrina gimana?”

“Bapak beneran pengen tau?”

“Iya-iya, penasaran.”

“Huh dasar! Jadi…pas mbak Sabrina kuceritakan tentang itu tuh…ya…orangnya penasaran sih.”

“Serius penasaran?”

“Iya…dih, pasti ke GR an ada yang penasaran sama barangnya.”

“Hahaha…”

“Pak Hasbi mau sesuatu ga?”

“Apa tuh?”

Shinta tidak langsung menjawab. Alih-alih menjawab ibu muda itu mendekatkan badannya ke si pria tua dan membisikan sesuatu.

“Hah? Serius Mbak Shinta mau ngajak saya melakukan itu?”

.::.::.::..::..::.

Sekitar pukul sembilan malam, sebuah mobil MPV berhenti di depan rumah Shinta. Dari mobil tersebut turun seorang wanita cantik berusia tiga puluhan yang masih tampak cantik. Bersama dengan dirinya, sebuah koper berukuran sedang ikut turun dari mobil juga. Wanita itu tampak sedikit kesusahan menurunkan koper yang sepertinya cukup berat itu, namun namun akhirnya berhasil juga. Setelah mengucapkan terima kasih, wanita itu masuk ke pekarangan rumah Shinta. Baru akan mengucapkan salam ternyata pintu sudah dibuka. Ternyata sang tuan rumah sudah tau kalau orang yang ditunggu-tunggu itu sudah tiba.

“Mba Sabri…AAA!!” ucap Shinta histeris di depan pintu. Sabrina pun juga langsung berlari kecil untuk menghampiri Shinta dan kedua wanita itu langsung berpelukan erat. “Mbak…hiks…”

“Iya say…hiks…”

Layaknya dua wanita yang sama-sama sedang memendam amarah yang tertahan, Shinta dan Sabrina langsung menangis tersedu.

“Sudah-sudah, nangisnya lanjut di dalam saja,” tiba-tiba terdengar suara dari pak Hasbi memberikan saran. Saran yang membuat Sabrina kaget karena tidak tahu kalau ada orang lain di rumah Shinta.

“Loh? Bapak kan? Pak…Hasbi ya? Kok bisa ada di sini?”

“Panjang mbak ceritanya, ya udah bener kata Pak Hasbi, masuk aja dulu yuk.”

Meskipun masih dengan hati yang penuh dengan pertanyaan, Sabrina menuruti ajakan Shinta. Mereka bertiga lalu masuk dan duduk di ruang tamu setelah Pak Hasbi menutup pintu.

“Mbak, anak-anak gimana kabarnya? Kenapa ga dibawa ke sini aja?”

“Aku ga mau nambah repot kamu, jadi ku titipin aja ke mertuanya, biarin aja, biar tau itu akibat dari ulah bapaknya.”

“Loh, kata mba Sabri tadi semua ini gara-gara…”

“Ya ga tau juga sih, bisa karena Intan itu, bisa jadi juga karena emang suami ku itu yang memang ga bener, ga tau lah, capek Shin mikirinnya.”

“Iya mbak, aku ngerti kok, sabarin aja ya mbak, aku juga sama kok nasib nya, lebih parah malah.”

“Lebih parah gimana? bukannya sama aja?”

“Tanya tuh sama Pak Hasbi, kalau bukan karena pertolongan Pak Hasbi, bukan cuma makan ati, tapi aku akan jadi korban KDRT.”

“Hah? KDRT?”

“Iya…”

Shinta pun menceritakan semuanya. Bagaimana Pak Hasbi tadi menghalangi suaminya itu melakukan kekerasan pada dirinya. Termasuk juga pada saat sang pria tua menghajar suaminya sampai babak belur.

“Waduh, jagoan juga ternyata bapak satu ini, salut loh, tua-tua tapi bisa menang lawan yang masih muda.”

“Duh, ini pujian atau ejekan ya?”

“Kok ejekan?���

“Lah itu bilang saya sudah tua.”

“Hihihi, memang bapak merasa masih muda?”

“Ya seenggaknya semangat saya masih muda, hahaha.”

“Jangan salah loh mbak, Pak Hasbi ini biar kata udah tua renta, tapi tenaganya masih kuat.”

“Oh gitu?”

“Iya gitu, oh iya, mbak mau ganti baju dulu ga?”

“Boleh deh, temenin yuk.”

Kedua perempuan itu pun masuk ke dalam kamar meninggalkan Pak Hasbi sendirian.

Uh, makin semok aja si Sabrina ini, muka sih masih kalah dikit sama Shinta, tapi kalau body kok ga nguati banget, bokonge kae nek tak culek seko mburi mestine mak nyus.

Pak Hasbi membatin karena gemas melihat kemolekan tubuh Sabrina. Buah dada sentosa, yang meskipun sudah terlihat sedikit kendor, namun masih sangat enak dipandang. Perutnya meskipun tidak terlalu ramping namun tidak tertutup lemak juga. Dan yang paling membuat Pak Hasbi tergoda tentu saja pantat berisi milik Sabrina yang membulat sempurna.

Setelah sekian menit berlalu, baik Shinta maupun Sabrina tak kunjung kembali lagi. Kedua perempuan cantik itu tak kunjung terlihat batang hidungnya. Hal tersebut membuat Pak Hasbi penasaran. Dia pun memberanikan diri untuk mengetuk kamar Shinta yang tertutup rapat.

Ketukan itu begitu pelan, karena Pak Hasbi tidak ingin membangunkan Arga, namun tetap terdengar oleh yang berada di dalam kamar karena sunyinya malam itu. Tidak lama berselang pintu pun terbuka. Namun yang membuat kaget Pak Hasbi adalah kenyataan bahwa kedua wanita itu ternyata menangis kembali.

Weladalah, dasar wedokan wedokan. Sithik-sithik nangis. Dilit-dilit nangis. Waduh, repot ini ngemong dua babon sekaligus.

“Masuk pak, ada apa?”

“Eh, eng-nggak, tadinya cuma mau bilang kalau udah ga ada lagi yang mau dibicarakan atau dibantu, bapak mau tidur, mau istirahat, pulihkan tenaga buat besok, gitu mbak, hehehe.”

“Ya-ya udah kalau bapak sudah mau tidur, selamat istirahat ya Pak Hasbi, oh iya, bentar, aku ambil bantal sama selimut ya, maaf ya pak ga ada kamar lagi di rumah ini, terpaksa tidur di sofa deh…” Shinta bangkit dari ranjang untuk mengambilkan apa yang dibutuhkan oleh sang pria tua.

“Hehehe, sudah biasa kok mbak, tenang saja, tapi, ini justru Bapak yang khawatir lho sama mbak-mbak ini, kirain tadi sudah sama-sama tenang, lah kok ini malah pada tangis-tangisan lagi.”

“Hehehe, ya beginilah pak namanya juga perempuan, jangankan masalah besar, melow dikit aja nangis, sudah biasa pak, nih pak, bantalnya,” balas Shinta sambil menyodorkan bantal dan selimut ke Pak Hasbi.

“Tapi beneran nih ga apa-apa saya tinggal?”

“Lah emangnya bapak mau nemenin? Bukannya tadi bilang sudah ngantuk? Benernya kasihan Bapak kalau harus nemenin lagi, Bapak kan belum istirahat sedari pagi,” tanya Shinta.

Dalam hati Pak Hasbi berteriak. Pria bego mana sih yang perlu dikasihani kalau harus nemenin dua bidadari seperti ini?

“Ya kalau diminta buat nemenin sih, Bapak pasti temani, siapa tau dengan kegantengan Bapak, bisa membuat mbak-mbak ini lebih tenang, hehehe.”

“Idih! Najong beneran sumpah. Udah ah, ga usah goda-goda. Beneran nih belum ngantuk? Ntar telat tidur dikit masuk angin lagi, minta kerokin lagi? hihihi.”

“Hahaha, jan ngece tenan lho mbak Shinta ini, beneran ga apa-apa.”

“Ya udah, masuk pak.”

Shinta pun membalikan badan dan berjalan kembali menuju ranjang empuknya. Ibu muda itu duduk kembali di samping Sabrina yang baru saja menghapus air matanya. Otak mesum pria tua yang bernama Hasbi itu langsung berpikir cepat dengan menutup pintu kamar tersebut sebelum mengekor dari belakang. Sang pria tua lalu duduk di kursi di depan meja rias milik Shinta.

“Sudah to. Mba Shinta, mbak Sabrina. Mosok mau nangis terus-terusan? Ya saya paham mungkin itu cara mbak-mbak berdua untuk saling melepaskan beban, tapi yo mau sampai kapan? Mbak Sabrina sudah ada di sini, mungkin ada baiknya saling menyemangati saja, dan mau gimana juga untuk besok, hidup masih panjang, masalah ga akan selesai hanya dengan menangis.” Pak Hasbi mencoba memberikan masukan, “Masalahnya memang berat tapi kita sama-sama berharap besok bisa diselesaikan dengan cara yang paling baik dan sama-sama menguntungkan. Eh, aduh, kok jadi malah pidato panjang lebar yo? hehehe, maap ya mbak, maklum cita-cita mau jadi ketua RT tapi siapa yang bisa menang sama Pak Man. hehehe”

“Hihihi, iya nih pak Hasbi ada-ada aja, aku sama mbak Sabrina sampi melongo dengerin Pak Hasbi ngoceh ga berhenti-berhenti.”

“Weladalah, dipadakake karo burung to masa? Jan…wuasem ki!”

“Hihihi, kami bercanda ya pak… iya kan mbak Sabrina?” tanya Shinta pada Sabrina yang baru bisa tersenyum ciut mendengar kalimat Pak Hasbi yang panjang dan lebar. Shinta pun semakin mendekatkan duduknya pada Sabrina. Ibu muda itu lalu memeluk tubuh sang mantan kakak ipar dengan erat. Wanita yang biasanya memberikan kekuatan kepadanya itu saat ini ternyata tidak lebih kuat dari dirinya sendiri.

“Iya pak, Shinta nya cuma bercanda, masa dianggap serius sih?”

“Hehehe, bapak juga cuma bercanda kok mbak, nah gitu dong, kalau senyum nya keluar gitu kan jadi tenang. Duh, tentrem pokoke kalau lihat mbak Shinta sama mbak Sabrina sama-sama tersenyum seperti ini.”

“Senyum gimana pak memang maksudnya? seperti ini? hiiii…” tanggap Shinta yang kemudian ibu muda itu lalu menempelkan pipi kanannya ke piki kiri sang mantan kakak ipar. Kepala Shinta saat ini menyandar pada pundak kiri Sabrina. Dia pun dengan isyarat tertentu yang langsung dimengerti oleh Sabrina, tersenyum bersama-sama dengan Sabrina. Kedua bidadari cantik itu tersenyum dengan manisnya kepada sang pria tua.

“Duh, mimpi opo to yo aku mambengi ki, kok ya bisa-bisanya sekarang ada dua bidadari yang tersenyum mesem buat Bapak, hehehe.”

“Mulai lagi deh, gitu tuh mbak, Pak Hasbi ini kerjaannya kalau ga minta makan, ya godain aku kayak gitu terus mbak, bener-bener deh,” protes Shinta masih dengan posisi yang sama dengan Sabrina.

“Kalau cuma minta makan sih masih okelah, tapi kalau nge-godain terus ya itu ga boleh ya pak,” balas Sabrina sambil seperti autopilot balas meremas lengan Shinta yang saat ini melingkar di perut nya. Dua perempuan cantik yang sama-sama berkulit putih dan halus itu saling menggenggam satu sama lain. Jari dan lengan mereka berdua saling sentuh dan bergesekan.

“Shin?” ucap Sabrina berbisik.

“Ya mbak?”

“Kamu, ga pakai bra ya? berasa banget tau kenyalnya.”

“Tadi itu mau ganti karena rembes asi, tapi ga sempet mbak.”

“Berani banget sih.”

“Biarin aja lah, itung-itung…”

“Apa? balas budi?”

“Hihihi, emang berasa banget ya kenyelnya?”

“Banget, ini nempel banget soalnya.”

“Kenyelan juga punya mbak kali, lebih montok, soalnya.”

“Makanya…”

“Apa?”

“Punya badan jangan kering-kering amat, ga semua laki-laki tuh suka perempuan yang kutilang, ada juga yang sukanya itu sedikit berisi.”

“Berisi seperti ini yah, mbak?” balas Shinta yang dengan cueknya lalu menangkupkan kedua telapak tangannya masing-masing ke sepasang buah dada sentosa milik Sabrina.

“AAWW!! Shin! Ih, malu tau ada Pak Hasbi,” jerit Sabrina.

Wanita itu tampak kaget dengan keisengan Shinta, berusaha untuk melepaskan diri juga, namun ternyata keinginan Shinta untuk mempertahankan posisi lebih kuat dari keinginan Sabrina.

“Biarin aja,” balas Shinta yang masih dengan cueknya. Ibu muda itu bahkan malah semakin iseng meremasi gundukan bukit kembar milik Sabrina tersebut. “Pak Hasbi sudah biasa meremas-remas kok. Jagonya malah. Iya kan, Pak?” lanjut Shinta.

“Eh, iya? apa? bapak ga denger, ini mbak berdua ngomongnya bisik-bisik.”

“Pokoknya iya aja ya, udah beres pokoknya.”

“Macam di pemerintahan aja mba, asal sama-sama senang.”

“Siapa bilang hanya di pemerintahan aja yang bisa senang, di sini kita juga bisa sama-sama senang kok,” balas Shinta sambil menempelkan bibirnya pada pipi kiri Sabrina. Ibu muda cantik itu lalu mengecup pipi Sabrina.

Tingkah laku Shinta tersebut membuat Sabrina sedikit gelisah, apalagi kalau bukan karena rangsangan yang diterima di sekitar payudaranya. Kenapa Shinta seperti ini sih? Kok tidak risih dengan kehadiran Pak Hasbi di depan mereka? Sabrina meneguk ludah.

“Ahh…Shin…ka-kamu ngapain sih?” geliat Sabrina tampak menggoda.

“Ngapain ya? hihihi, ga tau juga aku mba, sedih, bingung, takut, marah, campur aduk semuanya jadi satu, mbak pasti juga merasakannya kan, makanya aku jadi bingung aku ini sebenarnya kenapa.”

“Shin? Ahh…say…kamu ini kenapa sih? Uhh…aku ini cewek loh, sama kaya kamu, masa aku kamu grepe-grepe kaya gini?”

“Stthh…mbak brisik ih, hihihi. Rasanya gimana mbak?”

“Gimana apanya?”

“Ya ini, nenennya di grepe sama sesama cewek, sluurppss…” jelas Shinta yang diakhiri dengan menjulurkan lidahnya ke arah tepian bibir Sabrina. Hampir saja bibir Shinta itu masuk menjelajah ke rongga mulut Sabrina sebelum berhasil menghindar.

“HEH! Apaan sih Shin!?”

“Kenapa, Mbak? Apaan gimana? Mau yang begini aja?”

Tanpa bisa dikontrol lagi, Shinta dengan semakin gencar merangsang buah dada Sabrina. Bukan hanya meremas lagi, ibu muda itu mulai memilin dan memelintir puting payudara Sabrina yang meskipun dari luar pakaian namun cukup mudah karena sudah mengeras. Shinta pun juga tidak membiarkan tengkuk Sabrina yang jenjang dan terbuka itu lepas dari serangannya. Shinta mengendus dan menjilati tengkut milik Sabrina itu.

“Ahh…ahh…Shin geli ih, aww Shin, stop Shin, ampun, ahh…ahh…”

“Hihihi, ampun ga?”

“I-iya iya ampun Shin ampun.”

Shinta pun menghentikan cumbuannya. Dia sendiri juga bingung kenapa bisa dirinya sampai senekat itu melakukan cumbuan ke sesama wanita. Pikirannya memang benar-benar sedang kacau.

“Yah, kok berhenti? hehehe,” seloroh Pak Hasbi yang tanpa disadari oleh kedua wanita itu ternyata si pria tua sudah mulai terangsang melihat adegan live show dari sesama wanita yang meskipun hanya singkat tadi.

“Yee…bukannya ngelarang, malah protes kenapa berhenti!” protes Sabrina. Ibu muda itu bersungut-sungut pada sang pria tua.

“Lah, kenapa juga saya harus melarang mbak? kalau bisa dapnat tontonan panas seperti ini.’

“Ih, bapak mah aneh deh, apa bagusnya juga tontonan cewek sama cewek?” Sabrina mencibir mais.

“Ye ga percaya, kan yang nonton saya mbak.”

“Hmm…bener-bener aneh deh bapak ini.”

“Kita buktiin aja yuk, Mbak,” ucap Shinta.

“Apaan sih kamu! Buktiin gimana?”

“Ya kita buktikan, kita kasih tontonan yang lebih panas lagi seperti ini…”

“HAAAAAH!? Aaawww!!”

Sabrina kembali menjerit tertahan saat tubuhnya ditarik oleh Shinta hingga mereka berdua sama-sama terlentang di ranjang empuk tersebut. Tubuh semoknya mencoba berontak namun nafsu yang sudah menguasai Shinta membuatnya antara niat dan tidak niat melawan ulah adik iparnya itu.

“Slurppp…”

“Slurppp…”

“Slurppp…”

“Slurppp…”

“Slurppp…”

Sabrina akhirnya menyerah. Mantan kakak ipar dan adik ipar itu saling menghisap. Saling menjilat. Dan saling mencumbu. Gelora birahi saling berpacu memaksa masing-masing untuk saling mencumbu.

Begitu juga dengan pria tua yang berada satu ruangan dengan mereka berdua itu. Pak Hasbi mulai tidak tahan untuk ikut merangsang dirinya sendiri. Pria tua itu memelorotkan celana kolornya sendiri dan mengocok kontolnya yang sudah tegang itu dengan gagah.

Di atas ranjang, kini justru Sabrina yang memegang kendali dengan menindih Shinta. Wanita bertubuh sintal itu pada dasarnya memang yang lebih berpengalaman dari Shinta. Secara mindset terhadap seksual juga lebih terbuka daripada Shinta. Bahkan Sabrina sendiri yang pada awalnya meminta Shinta untuk tidak terlalu menganggap serius tingkah laku Pak Hasbi, dan menyikapinya dari sisi yang lain. Sehingga tidak heran ketika saat ini Sabrina sudah terpancing birahinya, justru dia sendiri yang memegang kendali atas tubuh Shinta.

“Mbak, ahh…sshh…ahh…”

“Yah, say…ahh…ahh…mbak ga nyangka ih…ternyata seru juga.”

“Ahh…iya mbak, ahh mbak inget ga yang dulu aku cerita soal…kon-tol jaran?”

“Kontol jaran? Pak Hasbi?” tanya balik Sabrina dengan penasaran. Namun kedua wanita itu masih tetap saling bergumul.

“Ahh iyah mbak ahh…kontol jaran Pak Hasbi ahh…uhh gede tau mbak…” balas Shinta sambil melirik ke arah belakang Sabrina.

“Masa sih say? Mana coba?” sabrina lalu menengok kebelakang. Sekonyong-konyong perempuan itu berteriak.

“Awhhh!” lalu menghadap Shinta kembali.

“Hah? Itu asli?”

“He’em.”

“Oh my God…gimana rasanya itu kalau masuk…”

“Yah…gitu deh, nano-nano, dan aku udah ngerasain tiga kali.”

“Ahhh…say…beruntung banget sih kamu, seandainya mbak juga bisa ngerasain,” bisik Sabrina pada Shinta.

“Ahh, siapa bilang mbak ga bisa ikut ngerasain?” tanya Shinta sambil meremas pantat bulat Sabrina sambil menyelipkan jarinya ke arah belahan pantat itu.

“Ahh…ahhh…”

Saat ini Sabrina mengenakan daster pendek selutut, layaknya pakaian ibu-ibu saat sedang di rumah, yang sudah kusut tidak karuan. Ujung daster itu sekarang bahkan sudah berada di tangan Shinta. Ibu muda itu dengan nakal semakin menyingkap daster yang dikenakan Sabrina semakin ke atas. Setelah itu, Shinta menyusupkan kedua tangannya masuk ke dalam celana dalam yang dikenakan oleh Sabrina.

“Pak Hasbi…” panggil Shinta dengan lembut dan manja. Saking lembutnya suara itu membuat Pak Hasbi semakin salah tingkah.

“Ahh yah, siap mbak Shinta?” Pak Hasbi menghentikan kocokannya namun tidak berusaha memasukan kembali pusaka nya tersebut.

“Bapak, dengar sendiri kan tadi? Mbak Sabrina, pengen ngerasain kontol jaran milik bapak nih, tolong bantuin mbak ku yang cantik ini yah pak, ahh…bantuin buat…sodokin memek sempitnya ini dengan kontol raksasa bapak, seperti yang bapak lakukan ke saya pak, ahh…buat mbak Sabrina teriak-teriak keenakan pak, ahhh…”

“Ahh Shin…ngebayangin kamu digenjot pak Hasbi aja udah bikin memek kedutan say…ahh…”

“Tuh kan pak, ahhh…udah ga tahan nih…sepertinya mbak Sabrina…”

Sabrina masih tetap dalam posisi menindih Shinta. Namun kondisinya sudah setengah telanjang dimana celana dalam nya sudah terlucuti. Jemari lentik Shinta dengan perhatian meregangkan bibir kemaluan Sabrina hingga semakin merekah. Liang senggama yang masih tampak rapat itu terlihat begitu menggoda.

Setelah mendapat kerlingan mata bersamaan dari Shinta dan Sabrina, Pak Hasbi pun bangkit dan maju ke depan. Sambil memegangi batang perkasa itu, pak Hasbi meludahi bibir kemaluan Sabrina. Ludah itu dia ratakan sebelum dia menempelkan ujung kepala gundul pusaka saktinya.

“Ahh…” Sabrina sejenak memejamkan mata ketika ia merasakan ujung gundul kemaluan sang lelaki tua mulai menyentuh bibir kemaluannya. Wanita cantik itu mulai khawatir. Apa yang akan dilakukan pak Hasbi? Apakah dia akan nekat memasukkannya ke memek Sabrina?

Pe-perasaan apa ini? Apa yang dilakukan laki-laki tua itu padaku? Kenapa aku justru menantikannya? Aku sudah menikah! Aku ini istri orang! Aku tidak boleh melakukan ini! Aku tidak mau! Aku tidak…

Blesssskgh!

Tiga perempat batang kejantanan Pak Hasbi melesak masuk tanpa aba-aba. Liang cinta Sabrina terdesak penis berukuran raksasa yang langsung membuatnya mekar melebar dengan terpaksa. Belum pernah kakak ipar Shinta itu mendapatkan sodokan di memek yang begitu hebatnya.

Sabrina melolong kencang ketika pak Hasbi mulai mendorong kontol jarannya itu menembus liang senggamanya. Sakitnya! Rasa sakit itu! Rasa sakitnya luar biasa! Tapi kenikmatan ini… kenikmatan ini juga luar biasa!

Tidak hanya karena itu saja, di bawah Sabrina, Shinta dengan telaten mengulum, menjilat, dan menghisap kedua puting payudara sang kakak ipar secara bergantian.

“Ahhh! Ahhhh! Aaaaaaah! Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!”

Sabrina melotot dan menjerit ketika batang kejantanan pak Hasbi kian melesak masuk. Shinta tersenyum melihat ekspresi perempuan cantik itu, ia pun meremas buah dada sang kakak ipar, dan memilin pentil susunya dengan buas.

Rasakan, Mbak. Rasakan. Kamu telah menjerumuskanku dalam kenikmatan sesat ini, Mbak. Sekarang giliranmu merasakannya. Jangan cuma omong kosong belaka, tapi jalanilah semuanya. Inilah balasan bagi kamu yang selama ini mengomporiku! Sekarang rasakan apa yang kurasakan. Kamu sudah merasakan penis pak Hasbi dan kamu tak akan pernah lagi terpuaskan oleh pria lain!

“Ahaaaaaaaaaaaaaaakkkghhh! Shintaaaaaaaaaaaaa!! Tolooong aku! Toloooong!! Ini sesaaaak bangeeeet! Ga muaaaaaaaat, Paaaaak! Lepasin! Sakit! Sakit!! Gak muaaaat! Toloooong! Shintaaaaaaaaaa!!”

Pak Hasbi memeluk Sabrina dari belakang. Ia tersenyum sembari meraba-raba seluruh tubuh indah ibu muda yang selama ini hanya pernah merasakan bermain cinta dengan suaminya itu.

“Mbak Sabrina…” Pak Hasbi meletakkan dagunya di pundak Sabrina, berbisik pelan dengan intimidatif, “…mulai sekarang, kamu akan meninggalkan keluargamu, meninggalkan suamimu yang sudah masuk bui. Kamu lepaskan semuanya, dan tinggal di desa ini.”

Pak Hasbi menusukkan penisnya perlahan-lahan. Sabrina menggelengkan kepala, tidak bisa, tidak muat, ia menangis, ia menjerit, ia meronta, tapi tak ada gunanya, tak ada hasilnya. Pria tua itu tetap melesakkan kemaluannya dalam-dalam.

“Hggggkhhhh! Lepaaassss… aku tidak sangguuuuuup! Toloooong! Tolooong!! Tolong aku Shin! Aku mohoooon!”

“Sepertinya kamu tidak mendengar ucapanku, Mbak. Aku bilang apa tadi?” penis pak Hasbi dilesakkan sedikit demi sedikit. Sabrina kian kelojotan. Tubuhnya bergetar hebat.

“A-aku dengar! Aku dengaaaaaaar! Lepaaaaass! Sudaaaaah! Sudaaah cukuuuup!”

“Jadi bagaimana? Apa jawabanmu?”

“Iyaaaaaa. Aku akan meninggalkan keluargaaakuuuuuu. Aku tinggal di sini! Aku tinggal bersamamuuuuuuuu…”

Pak Hasbi tersenyum dan mulai menggenjot lembut memek Sabrina.

Shinta memeluk Sabrina dari depan, sementara Pak Hasbi dari belakang. Buah dada Shinta dan Sabrina bertemu. Shinta menatap Pak Hasbi, lalu memajukan kepalanya. Ia dan pria tua itu berpagutan. Saling mencium, saling menebar hasrat. Entah apa yang terjadi hari ini, tapi rasanya, Shinta sangat butuh dipuaskan oleh laki-laki.

Laki-laki yang bukan Ardian.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy