Search

BAGIAN 36

BAGIAN 36

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Amy memulai hari dengan rutinitas yang nyaris sama. Ketika ayam mulai berkokok ke arah ufuk yang mulai cerah, ibu muda berparas menawan itu langsung membuka mata dan membangunkan buah hatinya yang bernama Kevin.

Setelah itu, ia akan menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, sebelum kemudian bergegas menuju warung sayur Bi Jum guna menambah stok bahan makanan atau mempersiapkan lauk dan sayur untuk makan siang atau malam.

Namun, hari ini semua terasa sedikit berbeda. Warung sayur Bi Jum yang biasanya dipenuhi tawa dan obrolan ibu-ibu Kampung Growol dan Bawukan, terlihat sepi. Begitu melangkah masuk, Amy merasa kikuk karena Ia tidak bersama dua orang sahabatnya yang biasa menemani ke Warung Sayur Bi Jum itu, Nisa dan Shinta yang biasanya sudah terlebih dahulu datang ke warung itu sekarang tak lagi nampak.

Memang ada beberapa ibu-ibu yang sedang memilih sayuran, tapi tidak ada satu pun yang ia kenal. Mereka pun sibuk saling berbisik sendiri, seperti tengah membicarakan sebuah rahasia negara yang tidak boleh jatuh ke tangan musuh.

“Tadi Kak Nisa sama Shinta sudah datang ke sini, Bi?” tanya Amy pada perempuan tua pemilik warung sayur, yang tengah duduk bersila di dipan kesayangannya di pojok warung.

“Hmm, sepertinya belum. Baru Mbak Amy saja yang datang.”

Amy menghela napas, semakin penasaran. “Sepertinya, kemarin-kemarin mereka juga tiak datang ya, Bi?”

“Sudah beberapa hari mereka tidak datang ke sini. Saya pikir mereka sedang sibuk, atau mungkin bosan dengan barang jualan saya,” jawab Bi Jum.

“Bi Jum ini ngomong apa sih? Mana mungkin ada yang bosan dengan sayuran di sini yang segar-segar, sama seperti yang jual,” lanjut Amy berusaha mencairkan suasana, yang sukses membuat sang pemilik warung tersenyum.

Namun, dalam hati Amy masih bertanya-tanya di mana keberadaan kedua sahabatnya tersebut. Kalau Mbak Nisa mungkin ia masih bisa memahami, karena baru saja ada skandal besar yang terjadi pada perempuan yang sudah mempunyai dua anak tersebut. Tapi kalau Shinta, apa sibuknya temannya yang satu itu itu?

“Jangan-jangan dia masih pusing dengan suaminya yang terus mengejar-ngejar istri orang itu?” batin Amy.

Namun tiba-tiba, hatinya seperti tertusuk-tusuk duri tajam, ketika memikirkan hal tersebut. Apa bedanya Intan, yang menurut Shinta begitu getol mengejar-ngejar suaminya, dengan Amy sendiri? Bukankah dalam beberapa minggu terakhir, Amy juga telah melangkah terlalu jauh?

Ia tidak hanya berkhianat kepada janji pernikahannya dengan Mas Ge, tetapi juga telah menyerahkan tubuhnya, bukan kepada satu, melainkan dua pria yang sama-sama sudah memiliki istri.

Rasa bersalah pun menyergap Amy, menggulung seperti ombak yang menampar hati dan pikirannya.

“Bagaimana aku bisa turut menghujat Intan, kalau diriku sendiri juga sudah tenggelam dalam dosa yang lebih kelam?”

Ia masih ingat bagaimana dengan kesadaran penuh ia membiarkan liang senggamanya dimasuki oleh kemaluan milik Pak Man, pria yang bahkan sudah mempunyai dua orang istri, yang merupakan pemimpin lingkungan sekitar Cluster Kembang Arum Asri tempatnya tinggal.

Dilihat dari sisi mana pun, tidak seharusnya Amy menyerahkan tubuhnya kepada pria yang wajahnya saja sangat jauh dari kata tampan. Semuanya berawal dari kebodohannya sendiri yang salah mengirim foto sensual kepada pria tersebut, alih-alih kepada suaminya sendiri.

Tak selesai sampai di situ, Pak Man bahkan kembali datang ke rumahnya dengan sebuah permintaan aneh.

“Sebentar, sebentar! Bapak ingin saya berbuat apa? Menggoda Mas Ervan? Yang penghuni baru cluster ini?”

“Iya! Kurang jelas apa lagi sih perintah saya?”

“Bapak sudah gila!?”

“Gila piye toh, Nduk cah ayu?”

“Mas Ervan itu kan sudah punya istri, Pak. Sudah punya anak juga. Mau ditaruh mana muka saya menggoda suami orang!”

“Lha saya aja tergoda kok. Kita kan…”

“Itu beda cerita!”

“Ya sudah. Lalu kenapa kalau kamu menggoda Ervan? Saya kan cuma minta kamu untuk menggoda, Dek Amy. Bukan menyelingkuhi. Atau kamu justru maunya lebih dari itu? Hehee.”

“Yaelah. Bukan begitu, Pak. Pertanyaan saya juga sudah jelas kan? Buat apa saya harus melakukan itu? Apa untungnya buat saya?”

“Kamu tidak perlu tahu apa alasannya. Cukup lakukan saja, apa susahnya sih?”

“Kalau saya tidak mau, bagaimana?”

“Kalau kamu tidak mau, ya saya tidak tanggung jawab kalau nasibmu nanti akan seperti Nisa. Bisa habis reputasimu setelah digeruduk warga kampung karena menggoda suami orang. Kamu juga lihat sendiri kan betapa beringasnya orang kampung itu kalau sudah urusan perselingkuhan?”

“Tapi … Justru Bapak yang selalu menggoda saya kan?”

“Masa sih? Hahaa … Lagipula, masalahnya bukan soal siapa yang lebih dulu menggoda. Tapi soal siapa yang akan lebih dipercaya oleh warga kampung untuk tidak mereka serang beramai-ramai. Bukankah begitu, Dek Amy?” Tanya Pak Man sambil menyeringai penuh strategi. “Kamu harusnya banyak belajar dari kasus Nisa kemarin.”

Pria tua itu menatap Amy dengan tajam, seolah bisa melihat langkah-langkah yang akan diambil Amy, bahkan sebelum sang perempuan bisa memikirkannya. Ibarat sebuah permainan catur, Pak Man sudah menghitung langkah-langkah selanjutnya yang akan ia ambil sampai skak mat.

Kepala Amy, yang selalu buntu setiap menghadapi situasi genting, kembali tidak bisa berpikir dengan jernih. Otaknya seperti tertutup kabut yang gelap, membuat Amy tidak tahu harus berbuat apa. Ia punya beberapa opsi untuk keluar dari masalah ini, tapi tidak pernah punya keyakinan untuk melakukannya.

“Jadi, bagaimana Dek Amy. Setuju tho? Wong cuma menggoda saja, nggak lebih dari itu.”

“Tapi bagaimana caranya, Pak?”

“Wah, soal itu sih gampang. Apalagi buat kamu yang wajahnya aduhai seperti ini. Hahaa.” Pak Man mengangkat alisnya, dengan senyum licik tersungging di bibirnya. “Jadi kamu sudah setuju kan?”

“Iyaaaaa … Udah cepetan kasih tahu saya harus ngapain. Biar semua ini bisa cepat selesai dan saya bisa kembali ke kehidupan saya yang damai,” jawab Amy setengah frustasi.

Alih-alih langsung menjawab, Pak Man justru berpindah tempat duduk ke samping Amy. Dengan perlahan, ia menggerakkan tangannya untuk merangkul bahu ibu muda itu, membuat tubuh Amy seketika menegang.

“Pak Man itu sudah tua, jauh lebih tua dari usiaku saat ini. Namun entah mengapa tatapannya selalu saja bisa membuat hatiku meleleh. Bagaimana jadinya kalau perasaan ini tidak kunjung hilang, sementara aku masih mempunyai Mas Ge sebagai suamiku yang sah,” batin Amy. Tetapi kata-kata yang meluncur dari bibirnya jelas membuat kesan yang berbeda.

“Ngapain sih deket-deket, Pak? Duduk di sana saja kan bisa!” Amy merapatkan tubuhnya, mencoba menjaga jarak, meski Pak Man tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda mundur.

“Mbok ya jangan galak-galak tho … Saya tuh kangen sama tubuh kamu yang ranum ini, Dek Amy. Apalagi sama memek kamu yang legit,” bisik Pak Man sambil menggesek-gesekkan hidungnya di leher Amy yang masih berbalut jilbab.

“Isshhh … Jawab dulu. Jadi aku harus ngapain sama Mas Ervan?”

“Ini yang harus kamu lakukan, Dek Amy …” Pak Man pun menjelaskannya dengan nada berbisik, sambil terus mencumbu perempuan berparas putih bersih tersebut. Hal itu membuat Amy jadi sulit untuk berkonsentrasi.

“Ahhh, berhenti dulu sih, Pak. Kalau Mas Ervan nanti memaksa untuk melakukan lebih, ssshhh … Bagaimana Paaakkk?” ujar Amy yang berusaha mengingat-ingat arahan dari sang ketua RT, di tengah cumbuan yang begitu membangkitkan gairah tersebut.

“Justru akan jadi makin menarik. Kamu langsung saja lari keluar, atau teriak sekencang-kencangnya. Bilang kalau kamu mau diperkosa oleh dia. Beres kan? Saya akan standby di dekat lokasi kok.”

“Nggghhh … Saya jadi bingung, sebenarnya apa sih salah Mas Ervan itu? Sepertinya dia orang baik lho, Pak. Bukan tipe orang yang suka macam-macam. Ssshhhhh … Stop, Pak! Jangan dielus-elus begitu.”

“Kesalahan dia cuma satu. Berada di tempat dan waktu yang salah. Hahaaa …”

Setelah itu, praktis tidak ada lagi pembicaraan yang terdengar di seantero ruangan rumah yang biasa ditinggali oleh Amy dan suaminya tersebut. Obrolan antara Amy dan Pak Man langsung berganti dengan lenguhan dan rintihan kedua insan yang tidak seharusnya melakukan hubungan terlarang itu.

“Jadi mau beli apa, Mbak Amy? Sepertinya dari tadi cuma elus-elus terong jumbo itu saja?” teriakan Bi Jum seperti membangunkan Amy dari lamunannya. Ia pun tersadar di mana ia berada saat ini, meski pikirannya terus saja berkelana di tempat lain.

“Eh, maaf Bi Jum,” jawab Amy sambil meletakkan kembali terong berukuran besar yang tengah berada di genggamannya, kembali ke tempat semula.

“Nggak jadi dibeli terongnya, Mbak? Apa sudah punya yang lebih besar ya di rumah?” Lanjut Bi Jum setengah bercanda.

“Ihh, Bi Jum bisa saja. Boleh deh beli terongnya satu, sama kangkungnya satu ikat ya, Bi.”

Amy pun mengeluarkan sejumlah uang dari dompet dan menyerahkannya pada sang penjual sayur. Dalam hati, ia berniat untuk segera menghubungi sahabat-sahabatnya, Nisa dan Shinta, untuk mengetahui apa yang terjadi dengan mereka akhir-akhir ini.

.::..::..::..::..::.

“Paaaahhhh… Ada pakeeeeetttt…”

Suara Maya menggema dari ruang depan, memecah keheningan pagi yang belum sepenuhnya bangkit dari kantuk. Ia berdiri di ambang pintu, dasternya menjuntai longgar hingga mata kaki, jilbab tipis melingkari kepalanya—dikenakan sekadar untuk kesopanan menerima kurir. Jemarinya mencengkeram erat sebuah paket plastik hitam, masih hangat oleh matahari pagi.

“Iyaaa… Sebentaaaaarrr…”

Dari dalam kamar terdengar jawaban Ervan, suaminya, diselingi gemerisik pakaian yang sedang dikenakan. Tak lama, pintu kamar terbuka, dan dari baliknya muncul lelaki bertubuh tegap, dengan kemeja yang baru setengah dikancingkan dan rambut masih sedikit basah oleh air mandi.

Maya menyerahkan paket itu tanpa banyak basa-basi. “Ini, Mas. Ada kiriman buat kamu.”

Ervan menerima bungkusan itu dengan dahi sedikit berkerut. “Lho, kurirnya sudah pergi?”

“Ya iyalah. Masa disuruh nunggu? Kamu pikir ini COD apa?”

Ervan tertawa ringan, sembari mengibaskan kemejanya agar lebih rapi. “Hahaa… Ya nggak lah. Masa aku kelihatan kayak orang susah?”

Maya mendecak pelan, menyilangkan tangan di depan dada. Tatapannya tajam seperti pisau yang tak benar-benar ingin melukai, tetapi cukup untuk menggores. “Cangkemmu itu lho, Mas… Mulut itu bisa jadi berkah, bisa juga jadi bencana.”

“Iya, iya… Maaf, Sayang,” jawab Ervan, tersenyum seolah tak terjadi apa-apa, lalu melangkah ke ruang tamu sambil menggenggam paket itu seolah menyimpan rahasia kecil yang hanya ia yang tahu.

Maya mengikutinya diam-diam, duduk di sampingnya di sofa. Rasa penasarannya tumbuh, seperti bara yang dipantik angin.

“Paket apa sih itu, Mas?” tanyanya sambil menatap tajam bungkusan yang mulai dibuka dengan gerakan perlahan.

Ervan tidak segera menjawab. Ia membuka bungkus plastik itu dengan kehati-hatian seorang pria yang tak ingin mengundang kecurigaan. Tapi justru cara itulah yang menimbulkan kecurigaan.

“Ini, pakai gunting aja,” kata Maya sambil menyodorkan gunting dari dapur.

Ervan menerimanya dengan anggukan kecil. “Terima kasih, Sayang.”

“Yaa… Ayo, buka. Aku penasaran.”

Beberapa detik kemudian, bungkusan itu terbuka, menampakkan benda persegi panjang, tampak seperti bingkai foto. Namun dari ujung bawahnya menjulur kabel USB—tanda bahwa ini bukan benda biasa.

“Mas beli pigura baru? Mau dipasangin foto apa lagi? Bukannya rumah ini sudah penuh pajangan?” Maya menunjuk ke dinding ruang tamu yang nyaris tak menyisakan ruang kosong dari foto-foto keluarga: potret pernikahan mereka, perjalanan ke pantai bersama Athar, ulang tahun pertama anak mereka, hingga swafoto mereka berdua yang selalu tampak bahagia… di permukaan.

Ervan terkekeh. “Ini bukan pigura biasa, Sayang. Ini bingkai digital. Bisa muter banyak foto dari HP langsung.”

Ia menyambungkan perangkat ke ponselnya, dan sekejap kemudian layar menyala, menampilkan foto-foto keluarga mereka dalam tayangan bergantian. Wajah Athar tertawa, Maya memeluk bunga di taman, dan Ervan sendiri—semuanya bergulir lembut di layar, seolah menghidupkan kenangan dalam bingkai waktu.

“Wah… ya juga sih. Bagus,” ujar Maya, walau ada nada setengah enggan di balik suaranya. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya menyimpan sorot hati-hati.

“Sekali-kali, Sayang. Biar rumah makin hidup,” kata Ervan, matanya berbinar melihat perangkat barunya.

“Terus… Mau dipasang di mana?”

“Di sini aja,” ujar Ervan, sambil menaruh bingkai digital itu di rak dekat colokan listrik. Ia memasangnya dengan seksama, nyaris terlalu teliti, seperti seorang seniman menyusun lukisan rahasia.

Maya menatapnya dalam diam. Ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Sesuatu dalam cara suaminya memperlakukan bingkai itu… seperti menyimpan sesuatu lebih dari sekadar kenangan.

Ervan menoleh dan memandang istrinya yang kini tengah memungut plastik bekas bungkusan dan membuangnya ke tempat sampah. “Sudah, selesai. Bagus, kan?”

Maya mengangguk kecil. “Iya, bagus. Tapi Mas, ini sudah siang. Kamu nggak takut telat?”

Ervan melihat jam. “Oh iya. Tapi sebelum berangkat, aku mau sayang-sayangan dulu sama Athar.”

“Hussh… Anaknya masih tidur. Jangan ganggu,” tegur Maya.

Ervan tertawa pelan, lalu berbalik ke arah Maya. “Kalau begitu, Mas sayang-sayangan sama ibunya aja…”

Ia mendekat, merengkuh pinggang istrinya dan mencium keningnya dengan lembut. Tangannya terasa hangat. Bibirnya menggumam kata-kata manis yang sudah biasa Maya dengar—tetapi pagi ini, entah mengapa, terasa lebih seperti mantra yang menyamarkan kebenaran.

“Kamu tahu nggak, Sayang… tubuh kamu itu indah banget. Mas bersyukur banget bisa punya istri kayak kamu.”

Pipi Maya memerah, tapi ia menunduk sambil menahan senyum. “Issh… Gombal.”

“Serius, lho.”

“Kalau serius, jangan sering-sering tinggalin aku di rumah sendirian.”

Kalimat itu menggantung di udara. Ada luka yang tersembunyi di sana, seperti jendela kecil yang mengintipkan kesepian.

Ervan menelan ludah. “Maaf, Sayang… Tapi kerjaan Mas nggak bisa ditinggal.”

Maya tak menjawab. Ia hanya menatap Ervan lekat, seolah sedang membaca sesuatu yang tak tertulis di wajah suaminya.

“Mas pamit dulu ya,” ujar Ervan akhirnya.

“Hati-hati di jalan,” jawab Maya. “Dan jangan mampir-mampir. Apalagi godain cewek lain.”

Ucapan itu terdengar ringan, tapi di hati Ervan, seperti palu godam. Ia tersenyum hambar, melambaikan tangan, dan bergegas keluar rumah menuju mobilnya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Pintu tertutup. Maya berdiri di baliknya beberapa saat, mendengarkan langkah kaki suaminya menjauh. Lalu perlahan, ia kembali ke ruang tamu.

Matanya menatap bingkai digital yang kini masih menyala, memutar-mutar foto keluarga.

Namun bukan foto yang ia pikirkan.

Ia memandangi kabelnya… port USB-nya… dan senyum tipis muncul di bibirnya.
Ia tahu bagaimana cara menyimpan file tersembunyi dalam perangkat semacam itu. Ia tahu, karena ia sendiri juga menyimpan sesuatu—rahasia—yang tak pernah ia bagikan pada siapa pun.

Termasuk Ervan.

.::..::..::..::..::.

Sementara itu, di dalam mobil, Ervan memegang setir erat-erat. Pikiran Maya masih menggemakan kalimat terakhirnya.

"Jangan mampir-mampir."

Tapi benaknya terbang pada satu kejadian di pos jaga gunung tempatnya bekerja. Perempuan itu. Sentuhannya. Bisikannya. Dan bagaimana semuanya bisa hancur jika Maya tahu.

“Jangan sampai dia tahu. Jangan pernah,” bisiknya sendiri, seperti mantra untuk menahan badai.

Dua hati yang hidup bersama di bawah satu atap, masing-masing membawa rahasia seperti bara yang pelan-pelan membakar rumah dari dalam.

.::..::..::..::..::.

.:: BEBERAPA HARI SEBELUMNYA

Tokk... Tokk...

Layar monitor di hadapan Ervan Darmawan masih menyala, menampilkan grafik dan data mentah tentang aktivitas vulkanik yang ia pantau siang itu. Deretan angka dan garis yang bergerak seperti denyut jantung bumi tak mengizinkannya beranjak. Namun suara ketukan pelan di pintu pos, meski semula ia anggap sepele—seperti desir angin atau ranting yang tertiup—kian menegaskan eksistensinya. Lalu terdengar suara perempuan. Lembut, nyaris seperti bisikan dari alam bawah sadar yang ingin menggoda pikiran jernihnya.

“Permisi...”

Ervan menoleh. Pintu yang semula tertutup kini telah terbuka setengah, dan di ambangnya berdiri sosok yang membuat denyut nadi pria itu sedikit tersendat. Seorang perempuan muda dengan jilbab olahraga, wajahnya manis meski kini tertunduk lesu, napasnya memburu. Lengannya menopang lutut, tubuhnya sedikit membungkuk, seperti menahan beban yang tak hanya berasal dari kaki yang sakit, tapi juga dari sesuatu yang lebih dalam.

“Eh, Mbak Amy?” gumam Ervan kaget, buru-buru berdiri dari kursi.

Itulah Amira Nursyifa, istri dari Ghema Mahardika, tetangganya di Cluster Kembang Arum Asri. Tak ia sangka, perempuan yang biasanya hanya disapa sebatas basa-basi di lingkungan komplek kini hadir dalam wujud yang begitu dekat, nyata, dan rapuh di hadapannya.

“A-Anu… Tadi jogging, Mas. Tapi kaki saya terkilir. Boleh… saya duduk sebentar di sini?”

“Tentu, tentu boleh, Mbak! Mau saya bantu jalan?” ucap Ervan tergopoh, merasa janggal namun juga bertanggung jawab.

Amy sempat ragu. Tapi pada akhirnya, ia mengangguk. Perlahan, Ervan menyodorkan bahunya. Tangan perempuan itu melingkar ke lehernya, menautkan tubuh mereka dalam jarak yang nyaris lenyap. Ia bisa merasakan kehangatan yang menyusup dari kulit ke kulit, meski terhalang pakaian olahraga.

Langkah mereka menuju sofa terasa lambat, seolah waktu memperlambat dirinya sendiri demi menyerap setiap detik kebersamaan yang tak seharusnya terjadi. Napas mereka menyatu di udara yang kian terasa padat oleh hal-hal yang tak diucapkan.

Amy duduk perlahan di sofa, tubuhnya masih terasa gemetar. “Terima kasih, Mas Ervan. Maaf merepotkan…”

“Ah, nggak apa-apa, Mbak,” jawab Ervan cepat, seraya berpaling sejenak. “Saya ambilkan air, ya?”

Ia butuh waktu untuk menjernihkan pikirannya. Langkahnya ke dispenser terasa seperti jeda bagi jiwanya. Tapi Amy menatap punggungnya dari balik sofa, pandangan yang tak bisa dibaca hanya sebagai rasa terima kasih.

“Ini, Mbak. Airnya.”

Amy menerimanya. Tangannya bersentuhan dengan tangan Ervan sejenak. Sebuah senggolan kecil, tapi cukup untuk membakar rasa. Air di gelas itu langsung habis dalam beberapa tegukan. Bibir Amy terlihat basah, kulit wajahnya masih berkilat peluh. Ervan menelan ludah.

“Masih sakit, Mbak?” tanyanya pelan.

Amy mencoba menggerakkan pergelangan kakinya. Seketika ia meringis.

“Aduh! Aaaaahhh... Sakit banget!”

Tanpa pikir panjang, Ervan langsung berjongkok. Ia melepas sepatu Amy, lalu kaus kakinya, perlahan dan hati-hati seperti memperlakukan porselen halus. Tangannya menyentuh mata kaki perempuan itu—kulitnya hangat, urat-uratnya menegang. Amy menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa.

“Kalau saya pijat pelan-pelan, nggak apa?”

Amy mengangguk. “Boleh, Mas.”

Sentuhan itu pun dimulai. Sebuah pijatan sederhana, namun lambat laun mengandung sesuatu yang tak sederhana lagi. Ruang pos itu, yang biasanya dingin dan kaku oleh data-data seismik, kini seakan berubah menjadi ruangan yang menyimpan nafas dan desir. Desahan Amy mulai terdengar. Awalnya ringan. Lama-lama berubah menjadi nada yang lebih dalam. Ervan mulai merasa seperti tengah mendengarkan simfoni yang tak pernah ia harapkan.

“Enak, Mas. Terus, ya...”

Ervan mencoba tertawa. “Saya takut kebablasan, Mbak.”

Amy hanya tersenyum, tak menjawab. Sebaliknya, ia menyandarkan tubuh ke sisi sofa, membiarkan tubuhnya terbuka pada sentuhan lebih lanjut.

“Mas Ervan...” ucapnya pelan, nyaris seperti desahan angin sore. “Aku capek banget.”

Ervan menelan ludah. Tangannya naik, menjelajah sedikit lebih tinggi, menyusuri betis yang ramping hingga lutut yang masih terbungkus legging. Ia berhenti sejenak, menunggu penolakan—tapi tak ada.

Amy masih memejamkan mata, wajahnya mendongak seperti sedang menyerahkan tubuhnya pada tangan waktu. Tak ada satu pun kata, tapi Ervan bisa mendengar segala bentuk isyarat yang tertangkap di antara jarak dan napas. Jemarinya terus mengusap, kini bukan lagi menyembuhkan, tapi menyalakan.

Dalam batin, Ervan menjerit. “Apa yang kulakukan? Maya... Maafkan aku...” Tapi tubuhnya tak lagi bisa mundur. Kehadiran Amy di ruang ini, dengan tubuh yang menggoda, dengan aura kelelahan yang justru memancarkan sensualitas, terlalu kuat untuk ditepis oleh logika atau moral.

Amy membuka mata. Mereka saling menatap. Ada luka di tatapan itu, ada rasa sepi, dan ada permintaan. Bukan hanya untuk disentuh, tapi untuk didengar, dipahami, dan—mungkin—dibenarkan.

Ervan mendekat, duduk di sisi sofa. Wajah mereka kini tinggal sejengkal.

“Mas...” bisik Amy.

Dan ketika tangan Ervan menyentuh pipi perempuan itu, lembut dan penuh keraguan, Amy tak menolak. Ia justru mendekat. Tidak ada ciuman, belum. Tapi waktu seakan berhenti di antara jarak bibir mereka yang makin merapat, di antara dua manusia yang tahu bahwa ini salah, tapi diam-diam telah lama menginginkannya.

Di luar, angin berembus membawa aroma tanah dan kabut gunung. Di dalam, rahasia mulai menyatu dalam senyap, menyulut api yang tak akan pernah padam sepenuhnya.

Ervan tidak menemukan tanda-tanda penolakan dalam bahasa tubuh Amy. Perempuan itu masih membiarkan dirinya terbaring di sofa dengan dada yang naik-turun oleh napasnya yang tak teratur. Kerudungnya masih tersemat rapi, seakan menjadi penutup terakhir dari dunia luar yang barangkali sudah tak mereka kenal lagi.

Dorongan hasrat yang telah lama dipendam Ervan kini menggelegak. Ia menundukkan wajahnya perlahan ke leher Amy, dan mengecup kulit yang masih tertutup kain tipis. Aroma tubuh Amy menelusup ke indra penciumannya—paduan keringat, parfum ringan, dan kehangatan tubuh perempuan yang selama ini hanya ia pandang dari kejauhan. Kini, begitu dekat.

“Ngggghhhh, maaassssss …” suara Amy terdengar parau, antara rintihan dan pengakuan.

Ervan tidak menjawab. Ia terlalu tenggelam dalam dunia yang seakan telah lenyap dari segala logika. Kecupannya mengalir dari leher ke pipi, hingga akhirnya sampai ke bibir yang sudah lama menantikan sentuhan itu. Bibir Amy merekah, menyambut. Dan dalam sekejap, cumbuan mereka pun menjadi satu tarian sunyi yang penuh bara.

Desahan tertahan. Ciuman yang awalnya pelan berubah menjadi serakah. Lidah mereka bertaut, saling menjelajah, seolah ingin memahami seluruh luka dan keinginan yang tersembunyi di balik masing-masing tubuh.

“Hmmmpphh … Manis sekali bibir kamu, Mbak Amy,” gumam Ervan di sela napasnya yang kini berat.

Amy menatapnya dalam-dalam. “Lidah kamu juga... nakal sekali, Mas…”

Lalu tangan Ervan—yang semula masih berada di bahu—beralih ke bagian tubuh yang selama ini hanya bisa ia bayangkan diam-diam. Ia mulai menyusuri lekuk payudara Amy dari luar pakaian, mengelus perlahan dengan gemetar yang tak bisa disembunyikan. Tubuh Amy menegang, tapi bukan karena menolak—melainkan karena merespons. Nafasnya tercekat, dan mulutnya kembali mengeluarkan suara kecil.

“Aaaaahhhh, Mas Ervan… itu…” Ia menggigit bibir, berusaha menahan diri, tapi tak kuasa.

Ervan menatap wajah Amy, mencari persetujuan. Tapi mata perempuan itu justru memejam, seolah menyerahkan seluruh dirinya pada apa pun yang akan terjadi. Ia mulai mengusap dengan gerakan lebih berani, meremas pelan. Keringat mulai membasahi tubuh keduanya, namun hawa yang panas tak membuat mereka mundur. Justru semakin memanaskan gairah yang sulit dibendung.

“Lembut sekali kamu, Mbak…” desis Ervan, separuh kagum, separuh kehilangan kendali.

Amy hanya menunduk. “Mas Ervan… suka?” tanyanya lirih.

“Suka banget… Aku bahkan tak tahu kapan terakhir kali menyentuh sesuatu yang terasa... hidup seperti ini.”

Percakapan mereka berubah menjadi bisikan-bisikan yang tidak lagi rasional. Hanya sisa-sisa peradaban moral yang masih samar menyelimuti diri mereka.

Perlahan, mereka mulai melepaskan pakaian, satu demi satu. Kemeja Ervan, kaos dalam, celana panjang, hingga hanya tersisa tubuh yang telah dipenuhi semburat merah gairah. Amy, dengan gerakan tertahan dan malu-malu, ikut menanggalkan kaos olahraga dan legging yang sedari tadi menempel di tubuhnya. Bra dan celana dalamnya—berwarna krem dan lembut seperti kulitnya—turut tergeletak di lantai pos yang kini menjadi saksi.

Namun, ketika Amy hendak melepas jilbabnya, Ervan menahan tangan perempuan itu.

“Jangan… Tetap pakai. Entah kenapa, kamu terlihat... begitu indah dengan itu.”

Amy terdiam. Lalu tersenyum pelan. Ada sesuatu yang bergetar di hatinya, seperti kerinduan yang mendadak dipeluk oleh kalimat sederhana. Entah sudah berapa lama ia tak mendengar kata-kata yang membuatnya merasa seperti perempuan yang diinginkan, bukan sekadar istri, bukan sekadar ibu rumah tangga yang menunaikan rutinitas.

Ia menarik tubuh Ervan kembali, mengecup bibirnya, lalu membalikkan tubuh hingga kini ia berada di atas pria itu. Kerudungnya masih membingkai wajahnya, tetapi seluruh tubuhnya telah terbuka dalam kehangatan dan dosa yang mengendap.

“Mas Ervan… Ikuti aku, ya…” ucapnya pelan.

Tatapan Amy menurun, memandangi tubuh Ervan yang sepenuhnya telanjang. Ia tersenyum kecil, menyentuhnya dengan hati-hati, seolah tengah mengagumi sesuatu yang selama ini hanya bisa ia imajinasikan.

“Mas... ternyata kamu besar juga ya,” bisiknya.

Ervan sedikit tertawa gugup. “Ah, masa sih?”

Amy hanya menatapnya sambil mengusap batangnya perlahan. “Lebih besar dari suami saya…”

Desahan pelan terdengar, disertai denyut yang terasa kian keras di bawah. Amy lalu menggesekkan tubuhnya ke tubuh Ervan, membiarkan payudaranya menyentuh dada pria itu. Kontak kulit mereka membuat napas keduanya kembali tak beraturan.

Ervan mencoba mengangkat pinggul, mencoba menyatu. Tapi Amy masih bermain-main, menggoda, menahan, menunda. Seakan ingin membuat pria itu merasakan rasa haus yang tak kunjung diberi seteguk air.

“Ngghhhh… aku nggak tahan, Mbak Amy…”

Amy menatapnya dengan tatapan penuh gairah dan kelicikan manis. “Nggak tahan apa, Mas?”

“Mau… menyatu…”

Amy mengangguk, lalu menuntun dirinya perlahan. Saat tubuhnya perlahan merunduk, keduanya menyatu dalam sebuah gerakan yang nyaris tanpa suara. Hanya desahan lembut yang terdengar, dan mata yang sama-sama terpejam karena kenikmatan yang merambat perlahan, tanpa paksaan, tanpa keraguan.

“Aaaahhh… Mas Ervan…”

Ervan hanya bisa mengangguk, tangannya naik menyentuh payudara Amy yang berguncang pelan di hadapannya. Jilbabnya masih terpasang, dan di mata Ervan, tak ada pemandangan yang lebih menggoda daripada sosok Amy yang masih berbalut simbol kesederhanaan, namun tengah larut dalam hasrat yang membara.

Di luar, langit mulai mendung. Tapi di dalam, dua tubuh saling menyatu, dua jiwa saling mengisi kehampaan yang terlalu lama mereka sembunyikan dari dunia. Dan dalam senyap, mereka pun tahu: setelah ini, tak akan ada yang benar-benar sama lagi.

Tatapan Ervan tak bisa lepas dari tubuh Amy yang kini tersuguh begitu dekat, seolah dunia di luar telah lenyap, digantikan oleh detak jantung yang berpacu kencang. Kedua matanya berkelana, tak hanya pada keindahan tubuh Amy, tapi pada setiap makna yang tersimpan di balik kulit yang menghangat, pada setiap desahan yang bukan sekadar rintihan, melainkan gema dari kerinduan yang lama dipendam.

“Bentuknya… luar biasa,” ucap Ervan pelan, seolah takut kata-kata itu akan merusak keindahan yang ada. “Seperti buah ranum yang dipelihara dengan cinta… dan kini hadir di hadapanku.”

Amy tersenyum. Ada rona malu yang menari di pipinya, tapi juga ada sorot keberanian dalam matanya. Ia membalas pandangan itu, lalu mengusap batang tubuh Ervan dengan jemarinya yang gemetar namun mantap, seolah mencoba mengukur kekuatan, bukan hanya secara fisik—tapi juga sejauh mana batas moral yang siap mereka lewati malam ini.

“Mas juga… besar,” bisiknya, seakan sedang mengakui sesuatu yang lebih dalam. “Seperti takdir yang sudah lama menunggu untuk disambut…”

Ervan menahan napas, tubuhnya menegang. Ia merasa berada di antara keinginan dan ketakutan, antara imajinasi dan kenyataan yang kini tengah berlangsung. “Amy…” gumamnya, suaranya nyaris retak. “Apa yang sedang kita lakukan ini… salah, ya?”

Amy tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia membiarkan tubuh mereka kembali menyatu dalam gerakan yang pelan dan penuh makna. Ada air mata yang menggantung di ujung matanya, tapi bukan karena penyesalan. Mungkin karena ia tahu, sekali mereka menyelam lebih dalam, tak ada jalan untuk kembali seperti sebelumnya.

“Biarkan semuanya jadi rahasia…” katanya akhirnya. “Tak semua dosa perlu diumumkan ke dunia. Beberapa cukup kita kubur dalam napas yang saling menyesap ini.”

Gerakan tubuh mereka mulai berpadu seperti simfoni—tidak lagi sekadar cumbu, tetapi percakapan diam antara dua jiwa yang kelaparan. Setiap desahan bukan hanya ekspresi dari kenikmatan, tapi juga jeritan lirih dari batin yang kehausan akan pengakuan dan pelarian.

Amy menunduk, menyentuh wajah Ervan. “Kamu… menyentuhku dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar ragaku, tapi sesuatu yang lebih dalam… sesuatu yang bahkan suamiku pun sudah lama tak menyentuhnya.”

Ervan menggenggam pinggang Amy erat, lalu membisik, “Dan kamu membuatku lupa… kalau aku pernah dicintai dengan tulus oleh perempuan lain.”

Tubuh mereka saling mendorong, seirama. Tak ada lagi suara yang perlu dikatakan. Hanya bunyi napas, benturan tubuh, dan detak jantung yang menari bersama. Hawa ruangan terasa semakin tebal, seolah menggumpal oleh dosa dan kerinduan yang tak mampu diredam.

Namun saat hasrat mencapai puncaknya, Ervan sempat terdiam.

“Mbak…” suaranya goyah. “Apa aku boleh… menyerahkan semuanya di dalam dirimu?”

Amy tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menunduk dan mengecup kening pria itu, seperti memberi restu yang tak terucap. Dan dalam sekejap, tubuh Ervan menegang, lalu melepaskan seluruh beban yang selama ini tertahan dalam keheningan mereka.

Amy merasakan kehangatan mengalir di dalam dirinya, dan sesaat setelah itu, tubuh Ervan memeluknya dari belakang, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia temukan. Mereka terdiam beberapa menit, membiarkan waktu berputar tanpa arah.

Namun seperti badai yang selalu menyisakan ketenangan semu, Ervan pun bangkit, berjalan menuju kamar mandi. Sementara Amy, masih dalam diam, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia menatap layar sejenak—rekaman itu telah tersimpan. Tanpa banyak ekspresi, ia menghela napas panjang.

“Apakah aku melangkah terlalu jauh?” gumamnya pelan, seperti bertanya pada dirinya sendiri. “Apa Pak Man akan tetap memandangku sama… setelah semua ini?”

Ia memandangi ponsel itu sejenak, lalu tersenyum. Bukan senyum kemenangan, tapi senyum getir seorang perempuan yang tahu bahwa ia tengah menari di ujung tebing—antara kebebasan dan kehancuran.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy