Hari masih terlalu pagi.
Suster yang piket pun bahkan belum masuk ke kamar untuk memeriksa mereka. Namun sepagi ini Aida sudah harus mendengar sebuah kabar buruk tentang orang yang selama ini ia coba lindungi bahkan ketika itu harus mengorbankan harga dirinya sendiri.
Kabar luar biasa mengerikan menimpa seseorang yang sudah ia sebagai malaikat dalam hidupnya, yang memberinya setitik cahaya untuk kehidupan yang lebih baik, sehingga menurutnya keselamatan orang itu pantas untuk dilindungi dengan harga mahal, semahal keperawanannya, meskipun ternyata itu sia-sia.
Aida melangkah keluar toilet dan tertatih. Badannya masih lemah dan ia pun masih sesekali pusing. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sang sahabat berdiri di tengah ruangan dan menatapnya dengan pandangan sayu dan lemah.
Dengan suara bergetar, Aida menyaksikan sahabatnya yang biasanya kuat itu tak kuasa menahan rasa, “Da, aku rasa, kamu harus tahu kabar ini.”
Begitulah ucapan Mira ketika Aida baru saja selesai dari toilet, sehabis bangun tidur tadi. Bukan dengan ucapannya sendiri, Mira memberikan hape nya kepada Aida, agar Aida bisa melihat dan membaca sendiri kabar buruk itu.
Mira cukup terkejut ketika melihat ekspresi datar Aida saat mengembalikan hapenya. Dia mengira jika Aida akan bereaksi histeris, entah itu berteriak atau menangis, atau hanya sekedar memperlihatkan wajah sedihnya.
Tapi di luar dugaan Mira, Aida hanya terdiam.
Kabar ini tak cukup untuk membuat Aida bersedih. Apakah Aida memang sudah tidak peduli lagi? Atau hatinya kini telah mengeras sehingga kabar seburuk itupun tak mampu menembus hatinya?
“Ka-Kamu, nggak apa-apa, Da?” tanya Mira untuk memastikan.
Aida justru tersenyum, “Emangnya, aku harus gimana, Mir?” tanya balik Aida, yang untuk kesekian kalinya membuat Mira merasakan kengerian dari gadis yang sebelumnya ia kenal sebagai gadis lugu dan polos ini.
“Kamu, udah baca semuanya?” tanya Mira, untuk memastikan lagi.
“Iya,” Aida mengangguk. “Setiap kata sudah aku baca semua, nggak ada yang terlewat,” lanjutnya dengan tersenyum sambil menatap lembut Mira.
Seharusnya Mira merasa lega atau baik-baik saja menerima tatapan lembut dari Aida itu, karena itulah yang sering ia rasakan selama mengenal Aida. Namun kini, Mira merasa takut. Kabar ini bukanlah kabar yang seharusnya bisa diterima dengan setenang ini oleh Aida, ia sudah bersiap-siap tadi jika Aida akan histeris saat mengetahui kabar itu. Namun ternyata, meski sudah membaca semuanya, Aida masih bisa setenang ini, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Mira kembali menatap layar ponselnya, membaca kembali setiap kata yang dituliskan oleh Haris di grup WA keluarga besarnya. Pesan itu ditulis begitu panjang lebar, setelah Harus mengeluarkan Nisa dari grup itu.
‘Selamat pagi semua. Mohon maaf jika ini mengganggu hari anda semua. Saya mengeluarkan Nisa dari grup ini, sekaligus ingin memberi tahu bahwa mulai saat ini saya telah menceraikan istri saya.
“Saya mendapatkan kabar bahwa Nisa telah berselingkuh ketika saya berada di luar kota. Kemarin saya pulang lebih awal untuk memastikan kebenaran kabar itu, dan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, disertai dengan seorang saksi yang merupakan ketua RT setempat, bahwa Nisa memang benar tengah berzina dengan pria lain di kamar kami, di ranjang kami.
Saya sampaikan kabar ini di grup agar semuanya mendapatkan informasi dari satu sumber yaitu saya sendiri, agar tidak terjadi kesimpangsiuran. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, silahkan bertanya secara pribadi ke saya.
Terakhir, saya menyarankan saudara semua untuk memblokir nomor Nisa, karena wanita itu sudah bukan lagi wanita yang kita kenal. Terima kasih
.’
Bahkan setelah membaca untuk kedua kalinya, tangan Mira masih bergetar. Meskipun Haris sudah berpesan agar bertanya secara pribadi kepadanya, namun berbagai balasan dan pertanyaan terus menerus masuk dari saudara-saudaranya. Ada yang tidak percaya, namun banyak yang kemudian menghujat Nisa. Dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi saudara-saudaranya jika Haris membeberkan yang terjadi dengan sejelas-jelasnya, apalagi jika ada tambahan foto sebagai bukti.
Mira kembali menatap Aida. Ia tahu kini Aida yang ada di sampingnya itu bukanlah Aida yang selama ini ia kenal. Aida sudah berubah. Dia bukan lagi gadis polos penakut yang selalu mengeluh dan sering minta tolong kepadanya.
Entah kenapa, Aida kini telah menjadi sosok yang begitu menakutkan, setidaknya bagi Mira sendiri. Aida terlihat sangat tenang dalam menghadapi situasi ini.
Kejadian yang menimpa mereka semalam yang untuk Mira sudah merupakan kejadian yang parah saja, ditanggapi dengan santai dan seutas senyum oleh Aida. Baru Mira tahu kalau sebelumnya Aida telah mengalami berbagai kejadian, dan telah melakukan sebuah pengorbanan besar yang pada akhirnya sia-sia belaka. Mira melihat Aida kini telah membeku hatinya, dan itulah yang membuat Aida kini begitu menakutkan di mata Mira.
“Eh… kenapa kamu ngelihatin aku segitunya, Mir?” tanya Aida sambil menatap Mira dengan tersenyum.
“Eeh… Eeng… Nggak Da… A-anu…”
Mira langsung gelagapan menjawab pertanyaan Aida yang sebenarnya hanyalah sebuah pertanyaan biasa. Bahkan Aida bertanya sambil tersenyum. Namun Mira yang sudah mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya itu, justru merasa ngeri melihat senyuman manis gadis cantik itu.
“Jujur aja Mir, aku juga kaget. Aku nggak nyangka kalau ternyata Om Haris pulang semalam dan langsung mergokin Tante Nisa. Tapi sebenarnya hal ini nggak akan terjadi, kalau Tante Nisa nggak ketangkap basah, kan?”
Mira mulai sedikit bisa menghilangkan ketakutannya setelah Aida mulai buka mulut dan bercerita dengan lancar, tak hanya sekedar menjawab pertanyaannya alakadarnya saja tadi.
“Aku masih cukup yakin, kalau apa yang dialami oleh Tante Nisa semalam bukanlah murni keinginannya. Semua ini masih ada hubungannya sama jebakan dari orang yang udah disiksa oleh Pak Sarmanto,” ucap Aida, masih dengan begitu tenangnya.
Mira masih diam, mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Mau tidak mau ia bertanya karena penasaran.
“Maksudnya, gimana ya Da?”
Lagi-lagi, dengan wajah tenang dan senyuman yang menghiasi wajah manisnya, Aida menatap Mira. Namun kali ini Mira sudah tidak setakut tadi. Memang, masih ada aura kengerian yang keluar dari senyuman yang terlihat polos itu, tapi Mira sudah lebih bisa menguasai dirinya.
“Sekarang, wanita bodoh mana yang masih saja berzina di malam hari setelah siangnya dia digeruduk sama warga? Sesange-sangenya Tante Nisa, aku yakin dia tidak akan segegabah itu. Aku lihat sendiri betapa dia menangis ketakutan waktu hampir dihakimi oleh ibu-ibu kompleks itu kemarin. Apa menurutmu, malam harinya dia akan dengan sukarela membukakan pintu rumahnya untuk pria lain masuk dan menikmati tubuhnya?”
Mira menganggukan kepalanya. Kini dia paham apa yang dimaksud oleh Aida. “Kecuali, dia dipaksa atau dijebak dengan obat perangsang?” tebak Mira.
Giliran Aida yang mengangguk. “Iya Mir. Apa yang dialami oleh Tante Nisa kemarin siang sangat membuatnya rapuh. Tapi kerapuhan itu nggak akan membuat Tante Nisa senekat itu, karena dia juga merasakan ketakutan yang luar biasa.”
“Terus, kalau udah kayak gini, gimana Da?” tanya Mira.
Aida terdiam sebentar.
“Om Haris udah membuat keputusan, apalagi dia lihat sendiri kalau Tante Nisa berzina sama lelaki lain. Itu udah nggak bisa diapa-apain Mir, nggak akan bisa diperbaiki. Talak sudah dijatuhkan. Om Haris sudah tahu apa yang akan terjadi setelah talak itu diucapkan.”
Mira kembali mengangguk. Meskipun secara hubungan keluarga, dia lebih dekat dengan Haris, namun kini pikirannya justru lebih tercurah kepada Nisa. Mira yang tahu bagaimana awal kejatuhan Nisa merasa kasihan kepada tantenya Aida itu. Sebagai sesama perempuan, ia tentunya punya empati yang begitu besar, apalagi ia tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa.
“Terus, setelah ini gimana nasib Tante Nisa ya?” ucap Mira lirih, namun Aida masih bisa mendengarnya.
“Tante Nisa akan sangat hancur saat ini, Mir. Tapi, nasibnya bisa jadi lebih parah lagi dari sekarang,” ucap Aida yang terdengar begitu datar tanpa ada emosi sedikitpun.
Mira yang mendengarnya tentu terkejut, dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah Aida.
“Maksudnya?”
Aida kembali tersenyum, “Kamu tahu kan, siapa dan bagaimana dia menjebak Tante Nisa?”
Dengan cepat Mira mengangguk.
“Menurutmu, darimana seorang tua bangka seperti si Sobri itu, bisa mendapatkan obat perangsang buat menjebak Tante Nisa? Nggak mungkin jatuh dari langit, kan?”
Mira terdiam. Kali ini tanpa dia bertanya kembali, dia sudah langsung paham apa yang dimaksud oleh Aida.
Mira cukup tahu sedikit banyak tentang kawasan tempat Haris dan Nisa tinggal. Disana memang sebuah wilayah perkampungan yang asri, apik, dan teduh. Kompleks tempat Haris dan Nisa tinggal yang masih berada di kawasan lereng Gunung Mandiri, terlihat begitu nyaman untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Namun di balik keasrian dan keindahan tempat itu, tersimpan sebuah rahasia besar yang begitu menakutkan, yang membuat dirinya sebagai seorang perempuan memilih untuk tidak pernah sekalipun mendekat ke kawasan itu.
Memang benar kata Aida, Mira cukup tahu kira-kira dari siapa Uwak Sobri bisa mendapatkan obat perangsang yang digunakan untuk menjebak Nisa. Meskipun tidak bisa menunjuk dengan pasti, tapi siapa-siapa saja orangnya, dia bisa mengira-ngira.
Jika saat ini Uwak Sobri telah disiksa, dan hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mati, itu tidak akan berpengaruh apapun terhadap apa yang ada di kawasan itu. Uwak Sobri hanyalah seorang pembeli, seorang pelanggan, ia hanyalah seujung kuku kotor yang saat ini sudah dipotong. Sama sekali tidak rugi membuang ujung kuku yang kotor, bahkan keseluruhan kuku dan jemarinya akan terlihat lebih bersih.
Nisa hanyalah korban dari ujung kuku yang kotor itu, dan setelah ujung kuku itu dibuang, saat ini masih ada kuku utuh, jari, dan bahkan tangan yang siap, atau bahkan mungkin sudah, menggenggam erat dan tidak akan pernah melepaskan Nisa. Jika tadinya Nisa hanya menjadi milik si ujung kuku itu, saat ini bisa jadi Nisa telah menjadi milik dari seluruh tangan yang menggenggamnya.
Gleg.
Membayangkan akan seperti apa nasib Nisa, membuat Mira merinding ketakutan. Dia merasa sedikit bersyukur karena tidak perlu ada di kawasan itu. Meskipun ia adalah pacar dari salah satu orang kepercayaan Pak Sarmanto, tapi siapa yang menjamin kalau sudah di sana?
“Seandainya saja aku lebih awal meminta pertolongan kepada Pak Sarmanto, mungkin nasib Tante Nisa tidak akan seburuk ini sekarang,” ucap Aida yang menyadarkan Mira dari lamunan.
“Tapi Da, kami kan minta tolongnya untuk melindungi Tante Nisa dari Pak Tarun. Kita mana tahu kalau ternyata di rumahnya sana ada yang mengincar Tante Nisa?” sanggah Mira, mencoba untuk membuat Aida tak lagi merasa bersalah.
“Aku tahu, tapi kalau aku bisa datang lebih awal, bisa minta perlindungan lebih awal, seharusnya apa yang terjadi ke Tante Nisa, bisa aja dicegah kan?”
Mira menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, aku jadi ingat. Itu Pak Tarun kemana ya? Kayaknya aku beberapa hari ini nggak lihat deh,” ucap Mira mencoba mengalihkan pembicaraan, karena lama-lama ia ngeri juga kalau terus membahas Nisa.
“Nggak tahu juga sih. Eh, tapi aku kok jadi pengen ke toko ya, hehehe. Kamu gimana Mir? Masih sakit? Masih lemes?” tiba-tiba Aida bertanya. “Ke toko yuk. Ada pesanan yang harus dikerjakan.”
“Hah? Serius kamu mau ke toko? Dengan kondisi kayak gini?”
Aida mengangguk.
“Aku udah nggak ngerasa sakit kok, aku baik-baik aja. Suasana hatiku juga lagi bagus nih. Gimana? Mau ikut ke toko nggak?”
Mira menggeleng. Bukan karena ia tak mau ikut ke toko. Tapi ia tak habis pikir, bagaimana bisa Aida mengatakan kalau suasana hatinya sedang bagus?
Padahal tadi malam mereka berdua mengalami pemerkosaan. Mira saja masih belum kuat berdiri dengan kokoh, kakinya masih bergetar hebat karena kejadian yang menimpa mereka berdua.
Belum lagi sebelumnya ia melihat langsung bagaimana Nisa terkena masalah besar. Belum lagi kejadian-kejadian lain yang seharusnya membuat gadis muda itu merasa kurang baik. Tapi ini, malah kayak nggak terjadi apa-apa.
Sepertinya… ada baut yang lepas
.::.::.::..::..::.
Ada pemandangan berbeda di rumah Pak Sukirno pagi itu.
Rumahnya yang biasanya sepi mendadak kedatangan tamu silih berganti. Tetangga terheran-heran karena satu dua mobil berhenti. Siapa mereka? Kenapa kemari?
Ada apa gerangan?
Pertama ada Pak Wing yang tanpa sepengetahuan Intan tiba-tiba datang berkunjung. Setelah perbincangannya dengan Intan kemarin, pria tua itu tidak sabar untuk segera bertemu dengan Pak No untuk mendiskusikan apa yang bisa dikongsikan. Jiwa bisnisnya meronta-ronta untuk segera membuat deal-deal berharga dengan keluarga preman itu.
“Duduk dulu, Pak. Monggo sambil diminum tehnya. Sebentar lagi Bapak Mertua saya akan keluar. Kebetulan beliau sedang mandi,” ucap Intan mempersilahkan Pak Wing duduk di teras rumah yang halamannya cukup asri itu.
Pak Wing pun mengangguk dan mengangkat cangkir teh yang sudah disediakan oleh Intan.
“Boleh saya bertanya, Pak?”
“Silakan.”
“Darimana Bapak tahu lokasi rumah saya? Memangnya Bapak pernah ke sini ya sebelumnya? Perasaan belum pernah deh. Atau… atau jangan-jangan sebelumnya pernah nguntitin aku ya?”
Pak Wing tersenyum sinis, “Kampung kecil begini apa susahnya. Tinggal nanya-nanya ke warga sekitar dan memanfaatkan Google Maps juga sampai. Lagipula, siapa juga yang gak kenal dengan Ibu Intan yang cantiknya paling tersohor seantero Kampung Growol?”
“Heleh, esuk-esuk kok udah ngegombal, masih pagi loh ini, Pak. Kerbau-kerbau tetangga aja belum pada dimandiin loh itu, Bapak mandiin dulu gih sana, habis itu baru balik lagi, ngegombal.”
“Apa sih? Apa hubungannya sama kerbau? Kok terus saya yang harus mandiin dulu?”
“Ga ada hubungannya sih, biar bapak ada kerjaan aja, hihihi.”
“Intaaaan… Intaaaan. Ada-ada aja kamu ini.”
“Eh, ada tamu rupanya,” sapa seseorang tidak lama setelah Intan mulai ngobrol ringan dengan Pak Wing.
Orang itu adalah Pak No, mertua Intan.
“Ehm, Bapak…” Intan merasa kikuk saat Pak No hadir di ruangan, “Kenalkan, ini Pak Wing. Atasan saya di kantor. Pak Wing, ini Pak No,” ucap Intan kepada kedua pria tua itu.
Jika kedua laki-laki itu sadar, sebenarnya ada sesuatu yang berbeda dengan intonasi suara Intan. Dua pria ini – terutama Pak No - adalah orang yang sebelumnya paling dibenci dan ditakuti oleh Intan. Jangankan untuk bercanda, ngobrol biasa pun sebelumnya dia tidak sudi. Tapi pagi ini suasananya sungguh berbeda. Intan yang sekarang adalah bagian dari kedua pria tua yang ada di depannya ini.
“Selamat datang di Growol, Pak Wing. Kedatangan tamu besar begini kok cuma disuguhi teh saja to, Nduk? Daharan-nya mana?”
“Sudah, Pak. Tidak perlu repot-repot. Hahahah. Perut saya memang besar, tapi saya sih orang biasa saja, tidak ada apa-apanya dibanding dengan Pak Sukirno yang tersohor di seluruh penjuru lereng Gunung Mandiri ini, hehehe.”
Pak No dan Pak Wing yang baru pertama kali bertemu itu pun bersalaman. Terlihat adu pandang yang sengit antara keduanya. Keduanya sama-sama memberikan sorot mata yang tajam. Sama-sama mengintimidasi, tidak ada yang menunduk karena sama-sama tak mau kalah. Jabatan tangan mereka pun sama kuatnya. Keduanya bertemu, seperti dua ekor singa yang saling mengaum ketika bertemu lawan sepadan.
“Bagaimana? Sudah sama-sama saling terpesona? Saking terpesona salamannya lama.”
Intan bercanda untuk menengahi kedua pria paruh baya itu. Dia berusaha mencairkan suasana agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan sebelum perang sesungguhnya dimulai. Dia mengenal perilaku keduanya - apalagi keduanya pernah menidurinya. Intan paham bagaimana menyiram ego mereka dengan ketenangan.
Meskipun suasana masih terasa kaku dan aneh, kedua pria tua itu pun saling melepas jabatan tangan masing-masing.
Sukirno melanjutkan percakapan yang sempat terhenti, “Pak Wing ini sepertinya andap-asor, sukanya merendah. Saya sering lho mendengar cerita tentang Pak Wing dari menantu saya.”
Pak No menekankan kata ‘menantu’ pada Pak Wing untuk menyadarkan sang bos bahwa mau bagaimanapun, Intan adalah keluarga dekatnya.
“Oh ya? Apa yang dia ceritakan? Mudah-mudahan yang baik-baik saja.”
“Hahahaha. Pak Wing ini pasti bos besar, punya bisnis dimana-mana, beda dengan saya yang hanya rakyat jelata ini.”
“Kadang jabatan itu semu pak, beda dengan orang yang kelihatannya biasa saja seperti Pak No ini sebenarnya adalah orang yang sangat berpengaruh, siapa yang tidak kenal dengan keluarga Sukir, penguasa wilayah lereng Gunung Mandiri?���
“Kalian berdua mau sampai kapan saling menggombalnya?”
Intan yang mulai gemas dengan kelakuan dua pria cabul itu menyela percakapan yang sepertinya tanpa ujung. Lucu sih, tapi kalau dibiarkan bisa jadi sampai magrib tidak selesai-selesai saling menyanjungnya. Kaya perempuan aja sukanya di sanjung-sanjung. Dasar bapak-bapak gila sanjungan.
Pak No dan Pak Wing lalu mengakhiri jabatan tangan mereka berdua. Suasana yang sempat menegang tadi pun akhirnya mulai mencair. Tidak ada lagi pandangan intimidasi.
“Maafkan kelakuan menantu saya yang tidak sopan ini, Pak. Mari, silahkan duduk. Loh, Nduk? Wes digawekno kopi toh? Mantap emang mantuku siji iki.”
“Ngomong-ngomong, Intan itu juga karyawan saya Pak, maafkan ya kalau juga tidak sopan, hahaha.”
“Hahaha, bisa saja bapak ini, jadi bagaimana, apa ada yang bisa saya bantu bapak jauh-jauh datang ke sini pasti tidak tanpa tujuan yang jelas kan? Pasti ada sesuatu kan? Kita langsung pada pokok masalah saja ya, saya orangnya tidak suka basa basi.”
Pret!! Tidak suka basa basi tapi intro dari perbincangan pagi ini isinya bacotan semua.
“Bisa dibilang ada tujuan yang jelas, bisa juga dibilang tidak. Yang pasti sih saya mau ngobrol santai aja. Yah paling tidak bisa menjalin silaturahmi.”
“Pak Wing ini bikin saya bingung, langsung saja lah pada topik utama.”
“Hehehe, saya sudah percayakan semuanya pada Intan, Intan pasti sudah menyampaikannya ke Pak No, jadi saya tidak perlu mengulang lagi, tinggal Pak No setuju tidak dengan apa yang sudah disampaikan menantu bapak yang cantik ini,” ucap Pak Wing sambil melirik ke arah Intan.
“Hahaha, ternyata kita memiliki pemikiran yang sama, menantuku iki memang sing pualing ayu se lereng Gunung Mandiri sini. Paling cuantik ini pak se lereng gunung mandiri sini. Terus rinciannya bagaimana? Saya ini cuma orang kampung biasa, cuma wong cilik, tidak paham kalau harus ikut ngurusi tetek-bengek nya.”
“Bapak tenang saja pak, untuk urusan itu serahkan semuanya kepadaku,” balas Intan masuk ke dalam percakapan. Namun tidak hanya itu saja, Intan lalu menggamit lengan bapak mertuanya itu dengan berani, seakan-akan lupa dulu pernah menganggapnya jijik.
“Jadi nanti aku yang akan mengurus semua legalitasnya. Seperti yang aku bicarakan ke bapak semalam, nanti kita akan hitung nilai pasar tanah itu, kita gabung dengan total biaya yang akan keluar untuk modal awal yang sebagian besar akan didukung oleh Pak Wing, aku sendiri juga akan menanamkan modal di sana, plus dengan peranku sebagai pengelola. Dari sana kita akan hitung berapa persen masing-masing proporsi saham yang akan diterima.”
“Saham ki opo?”
“Surat tanda kepemilikan terhadap perusahaan, pak.”
“Oalah, yowes, aku ikut saja. Aku percayakan semuanya kepadamu, nduk,” balas Pak No sambil tak lupa meremas-remas pantat bulat Intan sambil cengengesan. Kali ini Intan tak mengelak atau melarang. Yang penting asal Bapak senang.
Pak No mulai mempercayakan rencana besarnya ini kepada Intan. Bapak mertuanya itu mulai yakin kalau dirinya dengan Intan sekarang sudah berada di jalan yang sama setelah perubahan sikap yang ditujukan Intan semalam.
“Lha terus, njenengan tadi menyampaikan kalau ingin ikut serta menanamkan modal, apakah itu berasal dari harta yang kamu ambil dari Ardian?”
“Hehehe, ya menurut Bapak aku punya uang sebanyak itu kalau bukan dari pria itu dari mana lagi?”
“Sadis loh mantu ku ini sekarang Pak,” ucap Pak No kepada Pak Wing.
“Didikan siapa itu pak?”
“Didikan kita, hahaha.”
Ketiga orang itu tertawa bersama, termasuk Intan yang hanya tersipu. Ketiganya seperti sudah menyepakati sebuah MOU tidak tertulis terkait dengan konsep bisnis yang akan mereka jalankan. Saat ini mereka bertiga memang tertawa bersama.
Tapi bisnis hitam tetaplah bisnis hitam. Tidak ada yang pasti mana yang kawan sejati, mana yang lawan abadi. Intan yang mindset-nya kini sudah berubah tahu pasti tentang hal itu. Hukum rimba berlaku, makan atau dimakan.
Intan tidak lagi pusing dengan sentilan memojokkan dari para tetangga atau rekan kerja, dialah kini yang mengendalikan bidak di papan catur.
Ardian sudah jadi korban Intan, selanjutnya siapa yang akan dikorbankan oleh ibu muda jelita itu? Intan sudah tak lagi naif dalam menyikapi dunia yang kejam terhadapnya. Dia hanya ingin anak-anaknya kelak hidup dengan normal jauh dari apa yang dia alami saat ini. Dia hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Apapun pengorbanannya.
Bukan tidak mungkin yang selanjutnya adalah Pak Wing.
Bukan tidak mungkin juga yang selanjutnya adalah Pak No.
Atau justru sebaliknya, Intan sendiri sebenarnya hanya sebuah pion?
Tidak ada yang tahu.
.::..::..::..::..::.
Entah untuk ke berapa kalinya, Mira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana Aida menjalankan aktivitas di toko kue ini dengan riang seperti tak ada beban sama sekali. Sejak mereka diperbolehkan meninggalkan rumah sakit - atas desakan Pak Sarmanto, tentu saja - mereka langsung menuju ke toko kue ini.
Sesampainya di toko langsung saja Aida menuju ke dapur untuk membuat beberapa jenis kue yang bisa dieksekusi dengan waktu yang tidak banyak. Hasilnya? Sekarang mereka sudah bisa berjualan. Beberapa pelanggan telah berdatangan hingga terpaksa Mira kembali sibuk di dapur, sedangkan Aida terlihat menikmati sekali melayani para pelanggan itu.
Mereka berdua bekerja seperti biasa, seperti tak ada sedikitpun masalah yang sedang dihadapi oleh Nisa, sang Tante sekaligus pemilik toko kue ini.
Krieeeek.
“Assalamualaikum.”
“Waala…” Aida terdiam tak meneruskan jawabannya. Ia terlihat terpaku melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam toko kue ini.
Mira yang kebetulan sudah selesai di belakang dan segera menuju ke depan untuk menemani Aida melayani pelanggan, seketika heran saat wajah ceria Aida tiba-tiba menghilang begitu saja. Aida nampak tegang menatap ke arah pintu, dan ketika Mira ikut menatap pintu, iapun sama terkejutnya seperti Aida. Namun dengan cepat Mira menguasai diri dan segera menyambut pelanggannya itu.
“Waalaikumsalam, Bu Sarmanto. Mari masuk Bu,” ucap Mira dengan sopan.
Wanita yang tak lain adalah salah satu pelanggan besar toko kue Nisa ini adalah Bu Sarmanto, istri dari lelaki yang telah membuat Aida menyerahkan segalanya dan kehilangan segalanya.
Wajar, jika saat ini Aida merasa tak karuan. Ia yang bisa begitu tenang dan santai menanggapi situasi yang terjadi pada tantenya yang sudah sedemikian parah, kali ini tidak bisa mempertahankan ketenangannya itu. Ada perasaan bersalah, dan juga takut melihat istri dari Pak Sarmanto itu tepat di depannya.
Istri dari pria yang telah tidur dengannya.
Dia adalah duri di ranjang Pak Sarmanto dan istrinya. Apa yang akan dilakukan oleh Bu Sarmanto terhadapnya?
Aida masih terdiam di tempatnya saat Mira menemani Bu Sarmanto melihat-lihat kue yang masih tertata di etalase, yang saat ini jumlahnya tak seberapa banyak. Mira tampak dengan sopan dan berhati-hati menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Bu Sarmanto. Setelah beberapa saat, barulah Bu Sarmanto berjalan mendekati Aida yang berdiri di bagian kasir. Gadis itu terlihat semakin tegang saat jarak Bu Sarmanto dengannya semakin dekat.
“Kamu udah nggak kenapa kenapa kan, Nduk?” tanya Bu Sarmanto kepada Aida.
Tentu saja Aida kebingungan ditanya seperti itu. Bahkan Mira yang berdiri tak jauh dari Aida pun juga bingung dengan pertanyaan itu. Memang, Aida dan Mira baru saja keluar dari rumah sakit setelah pemerkosaan yang terjadi kepada mereka kemarin. Tapi, bagaimana Bu Sarmanto bisa tahu? Apakah ada anak buah Pak Sarmanto yang menceritakan kepadanya? Atau malah, Pak Sarmanto sendiri?
“Ii-iya, Bu. saya, nggak kenapa-kenapa,” jawab Aida.
“Soal pesananku kemarin itu, sepertinya dibatalin saja ya. Waktunya tinggal sedikit, dan sepertinya kalian belum akan bisa mengerjakannya.”
“Eeh… Ta-tapi Bu, kami akan usahakan kok. Ma-masih bisa, kami lembur. Iya kan Mir?” sahut Aida dengan gugupnya.
“Wes, nggak usah gugup gitu. Seng tenang wae, Nduk. Nanti biar tak cari ke tempat lain aja. aku tahu kondisi kalian sekarang seperti apa. Lebih baik kalian banyak-banyak istirahat, biar badannya cepat pulih.”
Ucapan Bu Sarmanto membuat Aida mengernyit. Mungkin memang wajahnya dan wajah Mira masih agak pucat, tapi mereka sudah berusaha sebisa mungkin untuk terlihat normal dan baik-baik saja. Bagaimana beliau bisa tahu kalau…
“Sekarang kalian bisa istirahat dengan tenang kok, udah nggak akan ada lagi yang berani macam-macam sama kamu, sama kamu juga. Sama kalian berdua,” ucap Bu Sarmanto sambil menunjuk Mira dan Aida bergantian.
Ucapan itu sontak langsung membuat Aida dan Mira reflek saling berpandangan satu sama lain. Mata mereka bertemu dan seolah-olah paham apa yang ada di kepala masing-masing. Apakah Bu Sarmanto tahu sesuatu?
“Ma-Maksudnya, Bu?” tanya Aida.
Melihat kebingungan kedua gadis muda nan cantik itu, Bu Sarmanto hanya tertawa geli. Hal itu semakin membuat Aida dan Mira kebingungan. Aida nampak semakin tegang dan takut, sementara Mira yang tadi berusaha untuk bersikap biasa saja kini juga mulai merasa takut.
“Bapak tirimu sudah dieksekusi, sesuai dengan permintaan kamu kan, cantik? Jadi, orang itu udah nggak akan bisa gangguin kamu lagi. Yaa, mungkin beberapa hari kita harus menghadiri pemakamannya,” lanjut Bu Sarmanto dengan begitu entengnya. “Hmm, saya suka banget roti keju ini. Rasanya tidak ada duanya. Meski sederhana dan kesannya biasa saja, begitu dirasakan, hmm… bener-bener roti keju paling uenaaak.”
Bu Sarmanto mengedipkan mata ke arah dua gadis yang kebingungan itu.
Glek.
E-eksekusi!?
Aida dan Mira sama-sama menelan ludah. Mereka jelas tahu siapa yang dimaksud oleh Bu Sarmanto. Dialah Hamad Hartomo, alias Om Pong. Pria yang tak lain adalah bapak tiri dari Aida yang kemarin menyiksa dan memperkosa Mira, lalu malamnya memperkosa Aida juga sebelum akhirnya digerebek oleh Pak Sarmanto dan anak buahnya. Om Pong dan teman-temannya semalam memang telah dibawa oleh anak buah Pak Sarmanto ke suatu tempat yang terpencil dan disiksa disana, persis seperti apa yang diinginkan oleh Aida.
Tapi pertanyaan besarnya, kok Bu Sarmanto bisa tahu?
“Mungkin ada yang kamu lewatin Nduk. Satu orang lagi pengganggu, juga sudah nggak akan pernah bisa ganggu kamu lagi,” ucap Bu Sarmanto. “Dia sudah dijinakkan.”
Aida dan Mira mengernyitkan dahi bersamaan. Namun Mira lebih cepat memahami maksud Bu Sarmanto.
“Mak-maksudnya, Pak Tarun, Bu?” tanya Mira.
Bu Sarmanto tersenyum dan mengangguk, “Betul Mira. Orang yang sudah melecehkan Aida, yang hampir memerawaninya, dan yang ternyata punya obsesi besar kepada Nisa. Sekarang, orang itu sudah tidak bekerja di sini lagi. Kami memindahkan dia – secara paksa tentunya - ke tempat lain. Dia tidak akan pernah bisa mengganggu kalian, terutama kamu, Aida.”
“Ta-tapi, kenapa… Eem, maksud saya… Itu…” Aida benar-benar kebingungan dengan hal ini. Dia bahkan belum mengatakan atau meminta apapun kepada Pak Sarmanto mengenai Pak Tarun semenjak dia menyerahkan dirinya. Dia hanya meminta perlindungan untuk Nisa dan untuk dirinya sendiri. Lalu bagaimana ceritanya Pak Tarun juga sudah dibereskan? Apalagi yang memberi tahunya saat ini adalah Bu Sarmanto, bukan malah suaminya?
“Kalian berdua tidak usah bingung, dan tidak usah terlalu memikirkan hal ini. Tapi untuk mengobati rasa penasaran kalian, aku akan cerita sedikit,” ucap Bu Sarmanto sambil berlalu ke arah sebuah kursi di salah satu sudut toko, kursi yang biasa dipakai oleh pelanggan yang menikmati roti disini.
Dengan sigap, Mira segera mengambilkan beberapa kue dan minuman kemudian menghidangkan di meja, di depan Bu Sarmanto. Begitupun Aida yang dengan cepat sudah berdiri tepat di depan istri juragan lele itu, bersebelahan dengan Mira.
“Aku suka dengan kalian berdua. Kalian baik, pintar, dan cekatan. Aku rasa, aku udah nggak perlu lagi cari orang kepercayaan untuk mengurus berbagai bisnisku nanti,” ucap Bu Sarmanto sambil menyeruput minuman yang dihidangkan oleh Mira.
Ucapan Bu Sarmanto lagi-lagi membuat Aida dan Mira saling bertatapan dengan bingung.
“Kalian mengenalku sebagai apa, Aida, Mira?” tanya Bu Sarmanto.
“Se-sebagai, istri Pak Sarmanto, Bu,” jawab Aida polos.
“Da!” tegur Mira sambil menyikut pelan lengan sahabatnya itu, hal yang membuat Bu Sarmanto tersenyum geli.
“Eeh… Aa-anu, maksud saya… Setahu saya, Bu Sarmanto itu aktif di partai Bu, kalau saya tidak salah dengar, Bu Sarmanto ini anggota DPRD, atau apa ya… Yaa, semacam itu, Bu,” ucap Aida yang terbata-bata.
Bu Sarmanto tersenyum mendengarnya. Ia pun mengangguk.
“Kamu nggak salah Aida. Aku memang anggota DPRD, dan aku adalah salah satu anggota aktif sebuah partai. Tapi lebih daripada itu, aku adalah salah satu dari sedikit orang yang punya pengaruh sangat besar di kota ini. Bisa dibilang, aku adalah salah satu orang yang bisa mengatur segala hal di kota ini,” ucap Bu Sarmanto, “kalau aku membalikkan tangan, aku bisa merubuhkan satu kawasan.”
Ucapan itu terdengar bernada santai, namun tentu saja isi ucapannya membuat tubuh Aida dan Mira bergidik ngeri. Terutama Mira, yang pernah mendengar dari pacarnya kalau di kota ini ada beberapa orang berpengaruh yang bisa menentukan arah dan kebijakan di kota, atau lebih sederhananya, bisa mengatur semua hal di kota ini. Ternyata, salah satunya saat ini sedang berada tepat di depan matanya.
“Semua yang dilakukan oleh suamiku selama ini, mulai dari premanisme sampai bisnis obat-obatan yang sudah kalian ketahui itu, bisa berjalan mulus karena pengaruh besarku dan keluargaku. Tanpa bantuanku, Sarmanto hanyalah seorang preman biasa,” tambah Bu Sarmanto yang membuat Aida dan Mira semakin merasa kecil di depan Bu Sarmanto. “Sarmanto itu kroco. Akulah udang di balik batunya.”
Aida dan Mira kian bergetar.
“Mata dan telingaku ada dimana-mana. Karena itulah aku tahu apa sejak Aida datang ke markas waktu itu, kamu sudah masuk dalam pengawasan kami, Nduk.”
Glek.
“Ja-jadi, Ibu sudah tahu, kalau saya… saya…”
“Iya,” Bu Sarmanto mengangguk, “Aku tahu kamu datang ke tempat Pak Sarmanto, dan kamu diperawani sama suamiku, kan?”
Terlihat sekali kalau tubuh Aida bergetar saking ketakutannya.
Dialah yang telah mendatangi Pak Sarmanto untuk menyerahkan diri sebagai syarat meminta perlindungan kepadanya. Ialah yang telah menyerahkan keperawanannya kepada Pak Sarmanto. Ialah yang telah memulai ini semua. Kini ia benar-benar ketakutan, terhadap seperti apa penilaian Bu Sarmanto terhadap dirinya. Ia ingat pernah melihat berita betapa seorang istri bisa mengamuk ke seorang pelakor yang merusak rumah tangganya. Di kesempatan lain ia pernah melihat berita seorang wanita menghajar habis-habisan wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Kini ia sedang berhadapan dengan Bu Sarmanto, seorang wanita yang ternyata jauh lebih menakutkan daripada Pak Sarmanto itu sendiri. Lalu, bagaimana nasibnya kini setelah Bu Sarmanto mengetahui apa yang telah terjadi?
“Maafkan saya buuuu! Saya terpaksa! Saya terpaksa melakukannya! Saya tidak bermaksud untuk… saya… saya…” Aida jatuh bersimpuh dan buru-buru memeluk lutut Bu Sarmanto. Ia sangat ketakutan, sangat khawatir, dan tidak tahu lagi harus meminta maaf.
Bu Sarmanto kembali tersenyum. ia menepuk pundak Aida.
“Kamu tidak perlu takut, Aida. Memang begitulah kelakuan suamiku, gemar sekali mencari daun muda, apalagi yang masih polos dan perawan seperti kamu ini,” ucap Bu Sarmanto. “Kalau aku tidak terima, maka seharusnya hari ini tidak akan bisa berdiri dengan kondisi baik-baik saja di depanku seperti ini. Kalau aku tidak terima, seharusnya kamu hanyalah tinggal nama saja,” lanjutnya.
Glek.
Kembali Aida menelan ludahnya, namun di saat yang bersamaan dia juga merasa begitu lega. Kengerian luar biasa membayangkan bisa seberapa kejamnya seorang Bu Sarmanto. Kelegaan karena Bu Sarmanto tidak menyimpan dendam ataupun kemarahan kepadanya.
“Karena itulah, aku sempat memikirkan bagaimana caranya untuk melindungi tantemu, Nduk. Tapi sayangnya aku terlambar gara-gara si tua bangka bodoh yang menjebak Nisa itu.”
Kali ini nampak terlihat sekilas ekspresi kekesalan Bu Sarmanto saat membahas tentang pria yang menjebak Nisa, yang tak lain adalah Uwak Sobri.
“Peristiwa malam kemarin berlangsung karena kelalaian dari suamiku yang melepaskan begitu saja pengawasan dan perlindungan terhadap kamu. Untungnya ada Rio, yang meskipun terlambat, tapi akhirnya dia menyadari apa yang sedang menimpa Mira, sehingga anak-anak masih sempat untuk menyelamatkan kalian.”
Deg!
Aida dan Mira benar-benar tak menyangka kalau Bu Sarmanto ternyata sudah mengetahui semuanya sampai sejauh itu.
“Lalu, so-soal Pak Tarun, itu gimana Bu?” Mira memberanikan diri untuk bertanya.
“Aah, satpam tua mesum itu? Dia bukan masalah besar. Setelah aku tahu apa yang dia lakukan kepada Aida, anak-anak langsung membawanya ke markas. Di sana, yaa, dia dikasih paham sama anak-anak. Kalian tidak perlu tahu detailnya seperti apa, yang jelas satpam tua itu tidak akan pernah muncul di hadapan kalian lagi.”
Fiuuuhh…
Ada rasa lega yang muncul di dada Aida dan Mira. Meskipun mereka sudah berada dalam pengawasan dan perlindungan dari Bu Sarmanto, tapi tetap saja ada peluang untuk terjadi sesuatu akibat kelengahan mereka, seperti yang terjadi kemarin baik itu kepada Mira maupun Aida. Untungnya Mira sempat mengabari pacarnya, sehingga tadi malam mereka masih bisa diselamatkan meskipun agak sedikit terlambat.
“…dan yang paling penting, yang membuat aku datang kesini sekarang, adalah karena ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua, terutama kamu, Aida,” ucap Bu Sarmanto yang membuat Aida dan Mira yang tadinya sudah merasa lega dan tenang, kini kembali merasa tegang.
“Akan sangat panjang untuk menjelaskan semuanya dari awal. Aku hanya akan menyampaikan poin-poin pentingnya saja, jadi tolong kalian perhatikan dengan baik, oke?”
Dengan cepat Aida dan Mira menganggukkan kepala.
“Pertama, selain bisnis obat-obatan yang sudah kalian ketahui, kami sedang membangun bisnis baru yang akan dijalankan di berbagai lokasi di kota ini, dan itu adalah bisnis prostitusi.”
Deg!
Mata Aida dan Mira terbelalak mendengar ucapan dari Bu Sarmanto.
Pro-Prostitusi?
“Ke-kenapa… Ibu…”
“Sex sells, sayang,” potong Bu Sarmanto saat Aida masih terbata. “Yang kedua… aku dan suamiku sudah memutuskan, untuk memilih kalian berdua yang nantinya akan mengelola salah satu lokasi bisnis prostitusi ini.”
DEG!
Aida dan Mira benar-benar tidak siap mendengarkan semua ini dari Bu Sarmanto. Apa yang dikatakan oleh wanita sosialita ini benar-benar tak pernah ada sedikitpun dalam benak mereka. Masuk ke dalam lingkaran Pak Sarmanto sudah merupakan langkah besar dalam hidup mereka. Lalu sekarang… sekarang mereka diminta untuk mengelola bisnis milik keluarga Bu Sarmanto?
Bukankah ini bukan lagi hanya di dalam lingkaran, tapi bisa jadi mendekati pusat lingkaran itu. Apalagi bisnis yang harus mereka kelola sudah jelas bukanlah bisnis yang legal.
“Kenapa, kami?” tanya Aida memberanikan diri.
Pertanyaan itu tak langsung dijawab. Namun Bu Sarmanto terlihat santai, sambil mencicipi kue yang disajikan oleh Mira tadi.
“Kalau Mira, karena dia sudah cukup lama menjadi bagian dari kami. Mungkin kamu tidak tahu, Mira, tapi sejak Rio gabung ke kelompok kami, sejak itu juga kamu mulai masuk ke dalam pengawasan kami. Dan sejauh ini kami puas, kamu orang yang bisa dipercaya, bisa jaga rahasia,” ucap Bu Sarmanto.
Mira hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia memang sudah mengetahui resiko dari pekerjaan yang dia lakukan bersama pacarnya. Begitupun saat pacarnya memutuskan untuk masuk ke kelompok Pak Sarmanto, dia sudah sangat paham dengan konsekuensi yang mungkin akan ia terima nantinya. Namun ia bertekad untuk bisa melewati itu semua, karena ia masih memiliki banyak tanggungan, keluarga yang harus dinafkahi.
“Sedangkan Aida, sebenarnya kamu nggak pernah masuk dalam radar kami sama sekali. Aku hanya mengenal kamu sebagai keponakan sekaligus karyawan Nisa, seorang gadis yang polos dan tidak tahu apa-apa.”
“Seperti yang ku katakan tadi, Kami baru mulai mengawasi sejak kedatanganmu ke markas suamiku. Dan aku harus terus terang sama kamu, Aida. Kami sangat terkejut, tapi kami senang karena secara tidak sengaja kamu memenuhi kriteria yang kami inginkan untuk memimpin bisnis ini,” lanjut Bu Sarmanto sambil tersenyum ke arah Aida.
“Kriteria?”
Bu Sarmanto mengangguk. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu toko, sedangkan Aida dan Mira mengikuti langkah ‘bos’ baru mereka itu.
“Iya. Seorang gadis muda yang lugu dan polos, sehingga tidak akan ada yang mengira kalau kamu adalah pemegang kendali dari bisnis itu. Tapi di saat yang bersamaan bisa sangat kejam dan tanpa belas kasihan, sebuah karakter yang sangat diperlukan untuk bisa menjalankan bisnis semacam ini dengan baik. Kamu, adalah perpaduan sempurna yang kami cari, Aida.”
Glek…
Aida kehabisan kata-kata untuk menjawab perkataan Bu Sarmanto. Tak pernah ia berpikir bahwa dia seperti itu. Meski harus ia akui bahwa apa yang dikatakan oleh Bu Sarmanto memang benar adanya, ketika ia begitu marah kepada Uwak Sobri dia hanya ingin lelaki yang telah menjebak tantenya itu disiksa separah mungkin, hingga lelaki itu lebih memilih untuk mati daripada hidup penuh dengan penderitaan.
Aida baru menyadari, bahwa ia sama sekali tak memiliki rasa iba, rasa bersalah atau menyesal. Ia bahkan merasa begitu puas. Hal yang sama ketika semua itu kembali terjadi kepada Om Pong dan teman-temannya yang mengalami nasib serupa seperti Uwak Sobri.
“Oh iya, dan satu lagi,” ucap Bu Sarmanto yang sudah mulai membuka pintu toko, bersiap untuk melangkah keluar. “Selain suami dan keluargaku, baru kalian berdualah yang mengetahui tentang identitas asliku ini. Aku harap, kalian bisa menjaga rahasia ini. Bisa?”
Mira dan Aida sama-sama mengangguk.
“Bagus. TTFN. Ta ta for now. Duh cah-cah ayu… kalian tidak tahu betapa hebatnya masa depan kalian di kota ini. Hahahaha…!”
Mira dan Aida sama-sama merasa ngeri. Mereka berpegangan tangan tanpa bicara. Keduanya paham, dalam dunia penuh tipu daya dan muslihat… mereka berdiri di sisi penjahat. Mereka berdiri di sisi antagonis utama.
Aida memejamkan mata, berbicara dengan benaknya sendiri.
Aida oh Aida. Ke dalam hal apa kau telah menjerumuskan dirimu sendiri? Tahukah kamu kelak kamu akan menyesali ini?
Aida membuka mata.
Kamu wanita jalang, Aida. Sekali menjadi hitam, selamanya akan jadi kelam.
.::..::..::..::..::.
Kembali ke rumah Pak Sukirno.
Tamu datang silih berganti. Ketika satu tamu pergi, tamu berikutnya hadir.
Saat Pak Wing hendak pamit, tamu yang kedua datang. Kali ini rombongan, tidak hanya satu orang, melainkan empat orang. Dua laki-laki tua dan dua wanita muda. Salah satu dari wanita itu langsung menghampiri Pak Wing dengan muka yang penuh amarah.
“Pak Wing! Saya minta pertanggungjawaban! Ini semua pasti gara-gara bapak kan? Bapak pasti ada ikut campur dengan masalah yang dialami oleh suami saya! Sebaiknya Bapak bersikap jujur dan mengaku, Pak! Kenapa Bapak bisa setega itu sih? Salah saya apa, Pak?” cecar wanita yang tak lain adalah Sabrina tersebut.
Pak No menutup mulutnya karena geli melihat Pak Wing tiba-tiba saja disemprot.
Pak Wing mendengus, “Kamu itu ngomong apa sih, Sab? Datang-datang ke rumah orang kok marah-marah? Ini rumah Pak Sukirno lho! Tidak sopan kamu! Ini yang menunjukkan kamu punya adab? Ckckck. Lagipula suamimu kenapa? Urusannya denganku apa?”
“Bapak tidak usah bohong! Bapak pasti ada di pihak wanit…” ungkapan amarah Sabrina terhenti ketika Pak Hasbi membisikan sesuatu kepada Sabrina.
“Eling, Mbak. Inget baik-baik. Kita ke sini itu mau nyari jalan damai, kita tidak punya kekuatan apa-apa sekarang, bayangkan itu Pak Wing dan Pak No sudah bergabung, kita punya apa? Ardian sudah kabur, suami mbak juga tidak bisa apa-apa, jangan menambah masalah. Diplomasinya susah meskipun kita bawa ini sampai ke ranah hukum sekalipun.”
Dalam hati Sabrina memendam rasa. Menurutnya apa yang disampaikan oleh pak Hasbi memang ada benarnya. Saat ini hukum masih memihak kepada yang punya kuasa. Sabrina pun mengamini dan mulai menahan amarahnya.
“Hehehe, sudah dengar sendiri kan? Posisi kalian itu sekarang seperti apa? Jangan macam-macam sama kami.” Pak Wing mengedipkan mata pada Intan. Sabrina yang melihat itu benar-benar geram, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Pak Wing pun menepuk pundak Sabrina, “Aku mau pergi dulu, ada urusan lain. Kalau ada apa-apa sampaikan saja kepada Intan, saat ini dia asistenku, kalau Intan bilang iya, maka aku juga iya, begitu juga sebaliknya. Paham?”
Sabrina tidak menjawab, hanya bisa menundukkan kepalanya. Pikirannya lalu melayang ke peristiwa beberapa hari yang lalu dimana dia dengan percaya diri melabrak wanita bernama Intan itu. Siapa sangka wanita yang selalu dianggap lemah dan tidak berdaya itu kini sedang berada di puncak kuasa.
Aku telah salah mencari musuh.
Pak Wing pun lalu meninggalkan rumah Pak No. Sekarang tinggal sang punya rumah, sang menantu, duo tua cabul Pak Hasbi dan Mbah Wier serta dua wanita jelita Sabrina dan Shinta.
Iya, kali ini Shinta memberanikan diri untuk bertandang ke rumah Intan.
Sebuah keajaiban. Melebihi ajaibnya seluruh keajaiban yang berada di dunia. Sebuah keajaiban yang tidak terbayangkan sebelumnya. Siapa yang akan menyangka Shinta sudi berkunjung ke rumah wanita yang selama ini selalu membuat hatinya terbakar cemburu? Rumah wanita yang selalu merebut perhatian suami tercintanya. Orang pintar pun mungkin tidak akan terbayang kejadian pagi ini.
“Bapak-bapak, boleh tinggalkan kami bertiga sebentar?” pinta Intan sebelum membisikkan sesuatu kepada Pak No. Intan seolah menjadi ratu saat ini. Ketiga pria tua itu lalu beranjak menuju pekarangan rumah Pak No. Intan sendiri lalu mengajak kedua wanita yang selama ini selalu mengintimidasinya itu masuk ke dalam rumah.
“Masuk mbak Shinta, Mbak Sabrina,” tawar Intan dengan halus. “Lebih enak ngobrol di dalam saja, tidak enak didengar tetangga.” lanjut Intan masih dengan suara yang halus. Ketiga wanita itupun masuk ke dalam rumah.
“Mbak Shinta dan Mbak Sabrina mau minum apa?” kembali Intan masih mencoba bersikap halus kepada kedua wanita itu saat mereka bertiga sudah berada di ruang tamu.
“Tidak usah repot-repot,” balas Shinta.
Intan tersenyum menatap kedua seterunya. Baik Shinta maupun Sabrina menatap ketus ke arah sang jelita.
“Baiklah, sepertinya Mbak-Mbak berdua ini buru-buru jadi kemungkinan kita langsung saja ya? Apa yang membuat mbak-mbak berdua datang kemari? Tumbenan loh ya, biasanya jangankan main, ketemu saya saja mbak-mbak berdua tidak sudi.”
Intan lalu ingat bagaimana Shinta menatapnya dengan ketus setiap kali ia belanja sayur di warung. Begitu juga dengan Sabrina yang pernah melabraknya sewaktu di kantor.
Lihat saja sekarang, dulu mungkin kalian berdua bisa seenak jidat dan berbuat seenaknya kepadaku, tapi kali ini, akan ku buat kalian memohon-mohon belas kasih dan akan ku buat kalian tidak punya malu sama sekali.
“Tidak usah basa-basi!” sekali lagi, Sabrina kembali menggertak.
Intan kembali tersenyum meski dalam hati ia tetap mengumpat.
Idih! Sudah tau tidak punya power masih sok-sokan galak.
“Lho, saya juga maunya begitu kok, Mbak. Tidak perlu berlama-lama karena saya banyak urusan. Jadi langsung saja disampaikan, kira-kira maksud kedatangan njenengan berdua kemari itu ada tujuan apa?” Intan merasa berada di atas angin, dia tampil tenang.
Shinta menyentuh lengan Sabrina. Kali ini dia yang akan maju.
“Perempuan sundal! Aku mau semua yang sudah kamu ambil dari Mas Ardian kamu kembalikan kepadaku! Kamu ini sudah edan atau gimana? Tidak punya hati!? Tega sekali kamu melakukan itu! Okelah kamu benci sama aku, tapi aku punya anak yang masih bayi! Kamu itu perempuan atau bukan? Kita ini sama-sama perempuan, sama-sama ibu, sama-sama punya anak yang masih kecil! Kenapa kamu sejahat kepadaku?”
Intan bengong dan melongo, “Mbak Shinta ini ngomong apa sih? Aku jahat apa sama mbak Shinta? Apa yang Mbak maksud?”
“Kembalikan semua surat-surat rumahku! Mobil, perhiasan, semuanya yang sudah kamu ambil. Semua yang sudah dihibahkan suamiku di atas meterai!”
“Oh, itu toh maksudnya. Memang semalam Mas Ardian tidak bilang apa-apa ke Mbak?”
“Bilang apa?”
“Ah, memang payah orang itu. Aku bilang - mbak Shinta salah kalau selama ini membenci aku, atau cemburu kepadaku. Ada atau tidak adanya perhatian dari mas Ardian, tidak ada sedikitpun niatku buat merebut suami Mbak yang aneh itu. Tidak sedikitpun mbak. Jadi yang harus Mbak salahkan itu ya suami mbak sendiri yang tidak bisa diam lihat istri orang. Tapi sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Mbak memusuhiku dan aku pun membalas. Mbak sudah salah memilih musuh, itu termasuk njenengan, mbak Sabrina. Njenengan itu tidak tahu apa-apa tapi sok ikut campur. Sekarang rasakan sendiri akibatnya.”
Shinta menggelegak penuh emosi, “Intan! Perempuan hina! Kamu benar-benar tega dengan kami berdua?”
“Kok dikatain melulu ya? Kalau saya sih tega ga tega lah, kalau ga tega yang ada aku yang terus-terusan ditindas. Kalau sudah tahu akibatnya seperti ini baru pada nyadar kan? Cemburu dan dengki itu memang sifat alamiah seseorang, tapi kalian juga harus bisa lebih realistis, cari tahu dulu fakta yang sebenarnya terjadi. Aku juga punya banyak masalah sendiri, jangan karena suamimu itu mendekati aku terus aku yang disalahkan! Aku tidak mau dan aku tidak sudi jadi wanita yang pasrah!”
“Kamu tega membiarkan aku dan anakku – seperti halnya mbak Sabrina dan anaknya tidak punya tempat tinggal? Kami tidak punya apa-apa lagi! Kamu tega membuang kami dan keluarga kami ke jalanan? Tega kamu!? TEGA!?”
Intan menyandarkan badan ke belakang, menyilangkan tangan, dan tersenyum sinis dengan pandangan dingin. “Hmm… tega ga ya?”
“Intan! Tolonglah! Jangan sekejam itu! Kalau kamu membenciku, setidaknya pikirkan anakku yang masih bayi!”
“Sebenarnya… njenengan berdua ini sudah sadar belum sih kesalahan kalian selama ini itu apa?” tanya Intan pelan sambil memajukan badannya sedikit. Mengintimidasi.
Sabrina dan Shinta pun saling pandang.
Suka atau tidak suka, sejak semalam mereka berdua sebenarnya mulai merasakan kalau apa yang mereka tuduhkan ke Intan itu tidak adil. Betul memang Intan mencuri perhatian dan kasih sayang Ardian, tapi apakah itu murni keinginan Intan?
Bahkan pertanyaan itu saja mereka tidak tahu jawabannya. Mereka juga tidak pernah mengklarifikasi hal tersebut kepada Intan. Cemburu buta dan perasaan benci telah menutup mata hati Shinta dan Sabrina. Sehingga apapun faktanya, dari sudut pandang mereka berdua yang salah tetaplah Intan. Apapun urusannya, yang salah tetaplah Intan. Mereka dibutakan oleh cemburu dan benci.
Mereka tahu itu.
Itu sebabnya tanpa diketahui orang lain, mereka berdua juga sudah menyiapkan plan B saat bertemu dengan Intan. Plan B-nya apa? Plan B-nya adalah mau tidak mau mengakui kesalahan dan menuruti kemauan Intan. Paling tidak demi kehidupan anak-anak mereka selanjutnya.
Shinta dan Sabrina pun menunduk dan mengangguk pelan. Malu? Pasti. Mereka merasa seperti maling celana dalam disidang di kelurahan.
“Bagus kalau paham. Sekarang begini saja, meskipun aku ini terlihat lemah dan rapuh, tapi aku selalu bekerja, selalu mencari cara membahagiakan anak-anakku, tidak mengemis seperti kalian sekarang. Sebenarnya aku punya banyak urusan, tapi akan aku spill salah satunya sekarang. Saat ini aku punya proyek besar yang sudah kusiapkan matang-matang. Kalau kalian berdua mau membantuku mewujudkannya, maka dapat kupastikan paling tidak kalian masih akan punya tempat tinggal untuk berteduh, pakaian untuk disandang, dan makanan untuk dihidangkan. Bagaimana?”
Shinta dan Sabrina saling bertatapan.
“Proyek apa itu?”
Intan lalu menjelaskan semuanya panjang kali lebar tanpa dikurangi dan tanpa ditambahi, dia ingin menjelaskan secara gamblang kepada kedua wanita berparas ayu di hadapannya. Sabrina dan Shinta selain takjub juga tak menyangka kalau perubahan Intan akan sedemikian drastisnya. Mereka tak menyangka Intan akan menjatuhkan diri mereka ke dalam jurang hitam yang sesat se-sesat-sesatnya.
“E-edan! Kamu bercanda kan? Kamu tidak serius kan?” Sabrina secara reflek menutup dadanya dengan tangan.
“Gila kamu Intan! Benar-benar sudah gila kamu! Tidak waras! Bisa-bisanya kamu sampai punya rencana bisnis seperti itu?” balas Shinta dengan kaget.
Ya bagaimana tidak kaget? Intan ingin menjadikan Shinta dan Sabrina sebagai ladies escort, seperti halnya yang akan ia lakukan.
“Tidak usah kaget begitu lah, mbak Shinta yang cantik. Kamu pikir aku tidak tahu skandal yang sudah kamu lakukan dengan Pak Hasbi dan Mbah Wier?”
Shinta terbelalak. “Ma-Maksud kamu apa? Ka-kamu…!?”
“Tidak usah berkelit Mbak, aku…sudah tahu semuanya kok. Termasuk juga dengan… ukuran kontol Pak Hasbi.” Intan mengedipkan mata kepada Shinta yang salah tingkah, “Tidak kusangka, ternyata kontol jumbo itu bisa muat ke dalam lubang sempitmu, Mbak. Tubuhmu mungil, tapi muat juga ya? Hahahaha. Oops, maaf membuka kartu kamu. Jadi ya daripada kamu melakukan itu secara gratisan untuk laki-laki tua macam Pak Hasbi - apa tidak lebih baik kamu manfaatkan saja tubuh indahmu itu untuk cari uang? Hehehe, aku jamin pasti akan banyak yang mengantri untuk bisa mendapatkan pelayanan darimu, Mbak. Kamu cantik, mungil, imut, dan menggemaskan…”
“Kurang ajar! Aku bukan seorang pelacur!!” Shinta berdiri dan hendak pergi dari ruang tamu Intan, “Mbak Sabrina! Kita pergi saja dari tempat ini! Mereka semua sudah gila! Mereka semua sudah…”
“Tapi Shin…” Sabrina gemetaran. “Bagaimana kita akan…”
Intan kembali menyilangkan tangan di depan dada, “Yakin mau pergi dari sini? Yakin nih tidak mau melakukan apapun demi masa depan anakmu yang masih bayi? Tadi mengemis, sekarang mau pergi. Silakan saja. Pintunya di sana.”
“Ka-kamu!” Wajah Shinta marah padam karena emosi. Dia mengambil gelas berisikan air minum yang entah milik siapa dan bersiap menyiramkannya ke wajah Intan.
Tapi Intan lebih cepat.
Dia sigap menangkap tangan Shinta yang lebih mungil darinya.
“Jangan sok hebat di rumah orang, Shinta. Kamu harus tahu kamu ini siapa dan berada di mana!” Kali ini Intan tidak mau lagi capek-capek memanggilnya Mbak. Intan ingin Shinta yang selama ini sok lebih kaya itu tahu diri. “Aku lelah kamu sepelekan. Aku capek. Terserah kalian berdua. Semua kukembalikan ke kalian berdua. Kalian yang mengemis kepadaku, bukan aku yang menunduk-nunduk di depan kalian. Aku tidak pernah melakukannya dan tidak pernah meminta suamimu untuk tunduk kepadaku.”
“Kau…!” Shinta geram, pergelangan tangannya dicengkeram oleh Intan.
Intan mendengus, ia mencibir, “Kalau kalian mau bergabung denganku, monggo. Aku dengan senang hati membantu kalian berdua dan membuka pintu pundi-pundi emas untuk wanita secantik dan seseksi kalian berdua. Tapi kalau kalian berseberangan denganku dan melawanku… silakan lihat sekeliling. Di sisiku ada Pak Wing, ada Pak No dan keluarga Sukir, ada Pak Hasbi, dan ada Mbah Wier. Aku cukup mengedipkan mata ke salah satu dari mereka sambil ya… mungkin dengan tambahan sedikit membuka pahaku ini, maka mereka semua pasti akan menurut kepadaku untuk melindungi dan memberikan jalan seluas tol.”
Tangan Shinta melemah, ia terisak. “Intan… kumohon… jangan paksa aku untuk…”
“Mbak… hidup memang keras. Aku tahu itu juga dari pengalaman dan kenyataan. Kita dihadapkan pada kelamnya kehidupan. Kalau tidak menindas, maka kita pasti yang akan ditindas. Jadilah singa di hutan penuh serigala. Selagi ada yang bisa dimanfaatkan, kenapa tidak?” ucap Intan sambil melepaskan tangan Shinta.
Shinta meletakkan gelas kembali ke meja. Sabrina ikut terdiam.
“Jika sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, Mbak berdua bisa meninggalkan rumah saya,” lanjut Intan sambil berjalan menuju pintu. Mau tidak mau Sabrina dan Shinta pun bangkit dan mengikuti, mereka keluar menuju teras rumah.
Di depan rumah, terlihat Pak No, Pak Hasbi, dan Mbah Wier sedang merokok bersama di bawah pohon yang tumbuh di pekarangan. Setelah melihat ketiga wanita itu sudah keluar kembali, para pria tua itu pun menghampiri.
“Bagaimana? Apa ada yang perlu dibicarakan lagi?” tanya Pak No.
“Tidak ada pak, semua sudah jelas kok, kita tinggal menunggu jawaban dari mereka berdua. Bukan begitu Shinta? Sabrina? Atau mungkin bisa dijawab sekarang juga? Sepertinya bapak-bapak ini sudah tidak sabar.” Intan tersenyum sambil berkacak pinggang di depan kedua ibu muda yang menunduk di hadapannya.
“A-aku…” Sabrina gelisah, menatap Intan dengan pandangan pasrah. Dia gugup dan meremas-remas
Shinta masih melelehkan air mata. “I-iya.” balasnya pelan.
Shinta dan Sabrina berjalan bergandengan tangan dengan ketakutan dari teras menuju pekarangan. Mereka berdua benar-benar tidak menyangka akan terjadi hal semacam ini. Sesuatu yang sangat tidak terbayangkan terjadi di hidup mereka. Dengan ketakutan mereka berhadapan dengan tiga laki-laki tua yang semuanya mendukung Intan.
Melihat Shinta dan Sabrina yang ketakutan melihat para pria tua, terlintas sebuah ide yang sangat gila dari menantu Pak No tersebut.
“Iya apa, Shinta?”
Shinta tidak menjawab, ia hanya terisak. Suaminya entah kemana, hidupnya hancur, dan ia merasa merana. Apa yang akan terjadi dengan hidupnya setelah ini?
“Shinta?”
Shinta masih belum menjawab. Tubuhnya bergetar karena ia menahan tangis, namun gagal. Air matanya leleh menuruni pipinya yang tirus dan mulus.
“JANGAN CENGENG! JAWAB!” bentak Intan dengan galak. “JAWAAAB!”
Sabrina dan Shinta sama-sama kaget dibentak oleh Intan dengan begitu kejamnya. Mereka berdua jadi sangat ketakutan. Saling memeluk, saling menguatkan, tapi tanpa daya menghadapi kekuatan besar di hadapan mereka.
“I-iya…” lirih Shinta menjawab.
“Iya apa?” tanya Intan kembali.
“Iya…”
“IYA APAAAA!? JAWABNYA YANG BENER!!”
Shinta dan Sabrina kembali sesunggukan, sekejam inikah Intan sekarang? Setelah saling pandang, berjuta perimbangan terlintas di kepala kedua wanita itu.
Sabrina yang pertama kali membuka percakapan kembali, tapi terdengar suaranya bergetar karena ketakutan, “A-apa tidak bisa kami diberikan waktu untuk berpikir? Sa-saya rasa ini sesuatu hal yang…”
“HAAIS KELAMAAN!” bentak Intan, tapi ia kemudian berpaling pada sang mertua sambil mengedipkan mata, “Bagaimana Pak, apa bisa kita memberikan waktu?”
“Hmm… sebenarnya tidak bisa. Kita butuh jawaban secepatnya. Itupun kalau memenuhi kriteria, kalau tidak ya mohon maaf. Tidak bisa.”
“Ma-Maksud bapak apa?” tanya Shinta dengan ketakutan.
“Mbak Shinta ini benar-benar tidak tahu, lugu, atau pura-pura tidak paham? Ya namanya pekerjaan seperti itu tentunya harus bisa menyenangkan pelanggan. Harus bisa memberikan kepuasan. Kalau pelanggan puas maka dia akan balik lagi, pengunjung balik lagi, maka usaha akan cuan. Ujung-ujungnya duit. Kami kaya, kamu pun dapat gajinya.”
Intan manggut-manggut dengan senyum sadisnya, “Ah, aku paham sekarang. Betul juga yang Bapak sampaikan.”
Shinta dan Sabrina menatap Intan dengan penuh rasa takut. Apa yang direncanakan wanita yang sudah sangat berubah ini?
“Begini saja deh. Shinta dan Sabrina yang cantik. Bapak mertuaku ini - yang sudah tua dan kulitnya keriput ini… entah kenapa sejak kemarin mengeluh badannya capek. Aku sebagai menantu sebenarnya ingin menghilangkan sedikit rasa pegal di tubuhnya. Tapi sayangnya aku sendiri juga lagi sibuk-sibuknya. Nah, sekarang bapak masuk kamar saja. Nanti kalau ada perempuan cantik jelita berkerudung dan mendesah manja yang masuk dan menawarkan mau menghilangkan pegel-pegelnya bapak, itu artinya perempuan itu setuju dengan tawaran kita. Pripun, Pak? Gimana?”
Pak No menyeringai. “Wes manut wae lah, ikut saja aku sama rencanamu, Nduk.”
Intan tersenyum puas. Bapak mertuanya itu lalu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Shinta dan Sabrina masih berdiri mematung. Tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. A-apakah itu artinya mereka berdua harus memuaskan Pak Sukirno?
Shinta dan Sabrina saling berpelukan dan menangis bersama. Sama-sama saling memecah rasa kalut, takut, marah, dan emosi mereka menjadi satu derita yang ditanggung bersama. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Melayani Pak Hasbi bukan berarti menjual diri. Apa yang akan terjadi jika kelak mereka harus merenggangkan kaki untuk laki-laki kampungan dan menjijikkan dari seluruh penjuru lereng Gunung Mandiri?
Sabrina melepaskan pelukan. “Maaf… aku tidak bisa, Shin… maaf.”
Sabrina melangkah pergi menuju ke mana Pak Sukirno berlalu.
“Mbak? Mbaaaak!?” Shinta hampir menjerit saat melihat Sabrina sudah bersiap mengikuti kemana Pak No berjalan.
“Shin… kalau misal kamu tidak sanggup, tidak usah memaksakan diri. Biar Mbak saja yang menjalani ini, tapi yang pasti mbak pasti akan tetap bersamamu. Mbak masih akan selalu bersamamu.”
“Mbak Sabrina? Mbaaaak!” Shinta menangis dan meraung, menggelengkan kepala tak percaya.
“Shin, sudah jangan menangis.” Sabrina melangkah pergi.
Shinta terengah-engah menahan rasa, “Kalau Mbak Sabrina masuk, aku juga masuk!”
Sabrina terdiam dan menatap sang adik ipar. Ia menggelengkan kepala, mulutnya berucap jangan tapi ia terpatung tak bisa menghalangi niat Shinta. Shinta berjalan untuk sejajar dengan Sabrina.
“Shin… kamu yakin?”
Shinta mengangguk.
Kedua wanita itu pun masuk ke dalam rumah ke tempat dimana Pak No berada. Intan kembali tersenyum dengan sangat puas. Satu lagi tahapan dari rencana besarnya berjalan dengan mulus. Ide dadakannya untuk memanfaatkan Shinta dan Sabrina ternyata tidak salah. Kedua wanita itu pasti sedang rapuh-rapuhnya, dan untuk meruntuhkan mental dari keduanya pasti sangatlah mudah dan tidak butuh tenaga yang keras. Ambisinya pasti akan segera terwujud.
“Mbak Intan, sstthh!!”
Tiba-tiba Intan mendengar namanya namanya dipanggil. Rupanya suara itu berasal dari Pak Hasbi.
“Nggih, Pak, ada apa ya?”
“Pak No kan bakalan dapat enak-enak, terus kami berdua bagaimana? masa dibiarin nganggur gini? hehehe.”
Intan geleng kepala, “Emang Bapak mau ngapain?”
“Ya… siapa tau bisa dapat yang enak-enak juga dari… Mbak Intan mungkin, hehehe.”
“Hadeh, siapa bapak? Hihihi, maaf ya, Pak, saya capek mau istirahat, suami saya sudah menunggu di kamar. Bapak-bapak tunggu saja sampai bapak mertua saya selesai, hehehe.”
“Oalah, nasib!!” Pak Hasbi menepuk jidatnya sendiri.
Intan pun lalu masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu terlebih dahulu. Setelah pintu tertutup dan ibu muda itu membalikkan badan dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Berbagai macam pikiran dan rencana sudah penuh berada di dalam kepalanya.
Tenang saja pak Hasbi, kalau sudah waktunya bapak pasti juga akan dapat merasakan jepitan memekku. Tapi bukan sekarang yah. Belum waktunya. Biarkan bapak penasaran dulu dengan tubuhku ini. Hihihi.
Intan tersenyum puas.
.::..::..::..::..::.
“Bagaimana? Sudah semua?”
Aida dan Mira menganggukkan kepala. Mereka sudah memastikan kalau toko kue ini dalam keadaan tertutup rapat. Lampu-lampu kecuali bagian depan sudah dimatikan semua. Alat-alat listrik dan kompor juga sudah dipastikan aman. Mereka pun bersiap pulang, meski sebenarnya ini belum terlalu larut, dan belum jam tutup toko juga sebenarnya.
Beberapa orang yang sedang berada di kawasan ruko itu, baik pemilik dan pegawai ruko-ruko sebelah, para pengunjungnya, sampai ke para sekuriti yang bertugas disana, semua mengarahkan pandangannya ke depan Nisa Cakes, toko kue milik Nisa. Bukan karena keberadaan Aida dan Mira yang mengundang perhatian mereka, namun tak lain adalah adanya Pak Sarmanto disitu.
Kalau Aida dan Mira, tentu bukanlah sosok asing karena memang setiap harinya bekerja di toko kue itu. Namun berbagai pertanyaan muncul di benak orang-orang ini ketika melihat Pak Sarmanto.
Kenapa mereka bertanya-tanya?
Apalagi kalau bukan karena pamor Pak Sarmanto. Hampir semua orang disitu, meskipun tidak kenal dengannya, namun paling tidak tahu reputasi menakutkan pria tua itu. Dia bukan orang yang lurus-lurus saja. Apa yang dia lakukan di Nisa Cakes bersama dengan dua wanita muda jelita itu? Kenapa bos preman itu ada di toko Nisa? Jelas terlihat kalau pria itu tidak sedang membeli kue.
Berbagai macam spekulasi mulai memenuhi otak mereka.
Apakah toko milik Nisa itu telah membuat masalah dengan Pak Sarmanto? Lantaran beberapa orang sempat melihat Bu Sarmanto keluar dari toko ini tadi siang.
Atau mungkin - justru Aida dan Mira lah yang membuat masalah dengan Pak Sarmanto? Tapi kalaupun benar, kenapa Pak Sarmanto sendiri yang menjemput mereka? Bukankah hal yang mudah bagi Pak Sarmanto untuk menyuruh anak buahnya? Masalah sebesar apa yang telah dibuat oleh Aida dan Mira sampai-sampai membuat Pak Sarmanto turun langsung kesini?
Atau malah jangan-jangan, Aida dan Mira itu adalah bagian dari kelompok Pak Sarmanto? Tapi kalau benar, apa yang mereka kerjakan di kelompok itu? Bukankah anak buah Pak Sarmanto isinya preman-preman semua?
Meskipun memiliki banyak pertanyaan di kepala mereka, namun tak satupun yang berani menghampiri dan menanyakannya langsung. Ya jelas lah, siapa juga yang mau cari gara-gara dengan Pak Sarmanto? Pada akhirnya mata mereka hanya terus mengikuti ketika Pak Sarmanto membawa kedua gadis muda nan cantik itu masuk ke dalam mobilnya.
“Orang-orang pada ngelihatin kita deh,” keluh Mira yang sudah duduk di dalam mobil.
“Bukan kita, Mir. Tapi mereka ngelihatin Pak Sarmanto,” sahut Aida tenang, dia sudah mulai terbiasa dengan perlakuan orang-orang di luar sana yang menatapnya dengan pandangan miring tiap kali ia jalan bareng pria tua ini.
“Hahaha, masa sih?” tanya Pak Sarmanto berbasa-basi.
Tentu saja bos lele itu mengetahui kalau mereka tadi sudah menjadi pusat perhatian orang-orang di kawasan ruko itu. Tapi dia tak terlalu ambil pusing, tak terlalu mempedulikan mereka selama tak ada yang mengganggunya, maupun mengganggu kedua gadis cantik yang kini sudah berada di dalam mobil mewahnya.
Mira saat ini duduk di bangku belakang, sedangkan Aida duduk di sampingnya, bangku bagian tengah. Mira yang tadi sempat mengeluh, kini sedang mengagumi interior mobil mewah milik Pak Sarmanto. Baru kali ini ia menaiki mobil yang harganya lebih dari 1 M itu. Semua itu tak lepas dari pengamatan Pak Sarmanto.
“Kenapa Mir? Kamu kayak nggak pernah naik mobil mewah gini?”
“Eh, I-Iya Pak, saya memang belum pernah naik mobil kayak gini.”
Wajah Mira memerah karena malu.
“Kita mau kemana Pak?” tanya Aida memotong percakapan antara Pak Sarmanto dan Mira.
Mira agak terkejut dan takut ketika tiba-tiba Aida memotong pembicaraannya. Dia takut Pak Sarmanto tersinggung. Memang, sebenarnya iapun penasaran, kenapa masih sesore ini Pak Sarmanto sudah menjemput mereka. Bu Sarmanto memang sempat berpesan kalau mereka akan dijemput, tapi tadinya baik itu Mira maupun Aida mengira kalau mereka akan dijemput agak malam, saat waktunya jam tutup toko.
“Tadi Ibu sudah jelasin kan, soal bisnis baru kami?” tanya balik Pak Sarmanto, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Aida.
Perkataan Pak Sarmanto yang diucapkan dengan tenang, membuat Mira sedikit lega. Dia sempat ketakutan karena memang belum mengetahui sedekat apa hubungan antara Pak Sarmanto dan Aida. Yang ia tahu bahwa Aida sudah menyerahkan tubuhnya kepada Pak Sarmanto. Lebih jauh dari itu, Mira belum benar-benar mengetahuinya.
“Kita akan ke tempat itu, tempat yang akan dijadikan lokalisasi terselubung, yang akan kalian berdua kelola nantinya,” ucap Pak Sarmanto.
Aida menganggukkan kepala. Dia menarik napas dalam-dalam. Tubuh, pikiran, dan nasibnya sudah ada di tangan Pak Sarmanto. Ini bukan saatnya menolak. Kalau dia mengelola tempat itu, siapa tahu kelak dia bisa menyelamatkan beberapa di antara mereka.
“Da?”
Mira mulai bertanya-tanya dengan sikap Aida yang kini lebih berani saat menghadapi Pak Sarmanto. Apakah Aida benar-benar sudah pasrah menjadi gundik sang kepala preman?
“Apa yang nantinya harus kami lakukan Pak?” tanya Aida lagi. “Apa yang harus kami kelola?”
“Yah semuanya. Kalian berdua akan mengelola di semua aspeknya. Anggap saja kalian adalah direktur perusahaan, jadi harus memikirkan bagaimana bisa memenuhi target. Penuhi prinsip ekonomi, mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil mungkin, hahahaha.” jawab Pak Sarmanto sambil berkelakar tak lucu.
Aida dan Mira terdiam. Mereka masih belum paham, karena memang mereka tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman soal perusahaan. Mengetahui hal itu Pak Sarmanto tersenyum geli. Itu salahnya, karena mengambil perumpamaan yang malah membuat kedua gadis itu bingung.
“Seorang direktur itu, harus memikirkan perusahaannya mulai dari hulu sampai hilir. Dia harus memikirkan produk apa saja yang akan dijual oleh perusahaannya. Dia harus berpikir bagaimana mempromosikan produk mereka. Dia harus berpikir bagaimana cara menjual produknya dengan efektif dan efisien. Dia harus berpikir bagaimana caranya menjaga pelanggan yang sudah didapat tidak kabur, dan bagaimana mendapatkan pelanggan baru.”
Aida dan Mira menganggukkan kepala, mulai memahami maksud dari Pak Sarmanto. Tapi mereka juga bingung, karena bisnis yang akan mereka jalankan bukanlah di bidang barang, namun di bidang jasa.
Aida tiba-tiba saja menoleh ke arah Pak Sarmanto.
“Kita ini mau berbisnis prostitusi kan? Mau membuka lokalisasi kan?”
Pak Sarmanto tersenyum mendengar pertanyaan Aida. Bukan pertanyaannya yang membuatnya tersenyum, tapi ketika Aida mengucapkan kata ‘kita’, artinya dia sudah menyatakan diri bahwa dia bersedia masuk ke dalam pusat lingkaran ini. Pak Sarmanto pun mengangguk menjawab pertanyaan itu.
“Terus, kalau harus mengelola dari awal, apa itu artinya kami juga yang harus mencari pelac-… teman-teman untuk berjualan di tempatnya nanti?”
Deg!
Pertanyaan yang keluar dari mulut Aida itu membuat Mira terkejut bukan main. Bukan soal pilihan kata yang terlontar, namun karena ia juga baru menyadari, jika diminta untuk mengelola sebuah lokalisasi dari awal sampai akhir, artinya tugas mencari wanita-wanita yang akan mengisi lokalisasi itu, tugas mereka juga? Mereka akan menjadi katalis pengkhianat bagi harapan gadis-gadis muda untuk menjual diri di kawasan merah!? Dosa macam apa yang akan jatuh ke pangkuan mereka?
“Hahaha, ya itu adalah salah satu tugas kalian. Tapi bukan berarti kalian yang harus turun tangan langsung. Kalian cukup menunjuk cewek-cewek yang kira-kira bisa menarik banyak pelanggan, nanti urusan gimana mereka bisa masuk ke lokalisasi, biar aku bantu.”
“Terus, kalau ada apa-apa… misalnya pelac… maksud saya…”
“Sebut saja lonte. Kamu germo, mereka lonte.”
Aida meneguk ludah. Dia tidak akan pernah terbiasa dengan istilah vulgar semacam itu, tapi dia harus melakukannya, ”lon… lontenya bikin ulah, atau nggak pelanggannya yang bikin ulah, kami harus gimana?” tanya Aida lagi.
“Nah, itu jadi tugas kamu untuk memutuskan, Aida. Hukuman apa yang akan diberikan kepada mereka yang membuat ulah. Baik itu pelanggan, barang dagangan kita, atau bahkan orang kita sendiri. Kamu sudah punya pengalaman kan, memutuskan hukuman untuk si Sobri dan bapak tirimu?”
Percakapan itu membuat Mira yang duduk di bangku belakang merasa bergidik ngeri. Ia memang tahu kehidupannya akan sangat keras jika benar-benar masuk begitu dalam ke kelompok Pak Sarmanto. Tapi dia tak menyangka bahwa apa yang harus mereka jalani akan seperti ini. Tapi, tentu saja sudah tidak ada kata mundur lagi. Dia sudah terlanjur masuk ke dalamnya, maka dia harus mendukung Aida untuk melakukan tugas dari Pak Sarmanto dengan baik.
“Kita sudah sampai,” ucap Pak Sarmanto.
Memang, percakapan tadi membuat Aida dan Mira tidak sadar dan tidak memperhatikan jalan. Namun saat pintu mobil terbuka, betapa terkejutnya Aida dan Mira.
“Di… di sini Pak?” tanya Aida.
“Betul. Lokasi yang sangat bagus, bukan?”
Mira dan Aida saling berpandangan. Tidak salah nih!?
“Ta-tapi Pak, ini kan kosan saya?!” Aida benar-benar terkejut.
Tanpa menjawabnya Pak Sarmanto pun turun dari mobil. Ia kemudian berdiri di depan gerbang kosan itu. Aida dan Mira mengikutinya dari belakang. Mereka berdua masih tak habis pikir, kenapa Pak Sarmanto memilih kos-kosan Aida ini untuk menjadi tempat mereka menjalankan bisnis lokalisasi. Mereka sempat berpikir, bahwa lokasinya akan berada jauh di luar kota.
“Di sini, lokasinya strategis. Tidak berada di pusat kota, tapi tidak juga di pinggiran. Lokasinya dekat dengan kampus, dimana banyak mahasiswi-mahasiswi yang berpotensi untuk menjadi barang dagangan kita. Jadi, lokasi ini adalah lokasi yang sempurna, Aida.”
“Tapi Pak, kosan ini kan punya…”
“Sudah menjadi punya kamu, sayang,” potong Pak Sarmanto.
“Hah? Maksudnya?”
“Aku sudah membeli, aah bukan… maksudku, istriku sudah membeli kos-kosan ini, dan sertifikatnya sudah diatasnamakan dirimu, Aida Denisa. Jadi, tempat ini sekarang sudah menjadi milik kamu.”
Aida ternganga mendengar ucapan Pak Sarmanto. Bahkan Mira yang berada di dekat mereka pun juga hampir tak percaya. Jika saja ia tak bertemu dan mendengarkan cerita Bu Sarmanto tadi siang, cerita dari Pak Sarmanto ini akan sangat sulit untuk bisa ia percayai.
“…dan di dalam sana,” ucap Pak Sarmanto. “Apakah kalian bisa mendengar suara musik yang indah?”
Aida dan Mira bingung, namun berusaha untuk mendengarkan suara apapun yang muncul dari dalam kosan itu. Pak Sarmanto membuka sedikit pintu gerbang, sehingga secara sayup-sayup Aida dan Mira mulai bisa mendengar suara yang keluar dari dalam kosan.
“Ii-ini… ini suara…”
Aida dan Mira tak sanggup untuk melanjutkan ucapan mereka. Aida menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut, Mira terbelalak lebar. Mereka saling berpandangan, sama-sama terkejut saat mendengarkan suara yang ternyata kian nyaring terdengar.
Pak Sarmanto tersenyum, lalu mengangguk. Kemudian ia membuka pintu itu lebar-lebar, dan menarik tangan Aida dan Mira untuk masuk ke dalam.
“Itu suara teman-teman kos kamu, Aida. Mereka sedang direkrut oleh anak buahku. Merekalah orang-orang pertama, yang akan mengisi lokalisasi ini. Mereka lah lonte-lonte pertama, yang harus kamu jual.”
Aida tak bisa berkata apa-apa selain mengikuti tarikan tangan Pak Sarmanto, yang kemudian melewati satu persatu kamar yang pintunya terbuka lebar. Si cantik itu bisa melihat disana, setiap penghuni kamar kosnya yang mayoritas adalah gadis-gadis muda yang lugu dan polos, sedang mendesah, merintih, mengerang, ada juga yang masih berteriak dan menangis.
Kengerian macam apa ini!? Mereka adalah gadis-gadis biasa yang sehari-harinya bekerja ataupun kuliah! Bagaimana bisa mereka jatuh ke dalam dunia nista ini!?
Apakah… apakah ini semua salah Aida yang secara tidak langsung membawa Pak Sarmanto ke tempat ini dan memberikannya inspirasi untuk memanfaatkan kos-kosan Aida dan Mira sebagai ladang yang siap panen!?
“Kita akan tunggu beberapa hari lagi, sampai mereka jinak dan siap untuk menjadi pemuas nafsu para lelaki hidung belang di luar sana. Setelah matang, mereka akan menjadi sumber cuan baru untuk kita,” ucap Pak Sarmanto sebelum ia mengajak Aida dan Mira untuk memasuki sebuah kamar.
“P-Pak! Ini salah! Kita tidak bisa…” Mira tak kuasa melanjutkan kalimatnya setelah ia melihat ada apa di dalam kamar. “Mereka gadis yang… Astaga!!”
“Ini salahku. Semua salahku. Ini semua salahku. Aku yang bersalah. Aku yang… Aah!” Aida juga tak bisa menyelesaikan kalimatnya saat melihat ke dalam kamar yang sama, dia menggelengkan kepala dengan kencang. Aida melirik ke arah Pak Sarmanto. “Pak! Aku tidak mau! Aku tidak mauuuu! Bukan seperti ini janjinya!! Bukan seperti ini!!”
Pak Sarmanto hanya tersenyum, lalu mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.
“Mau tidak mau. Akan kupaksa kalian sampai mau. Sebelum mengelola tempat ini, banyak yang harus kalian pelajari dan itu akan kita mulai dari tahap ini. Kalian harus mulai terbiasa dan tahu bagaimana rasanya, supaya bisa mengajarkannya pada barang-barang dagangan kita nantinya.”
“Pak.. ini tidak ada dalam perjanjian kita! Ini tidak ada dalam…”
“Sudah, ikuti saja. Ini perintah istriku. Dia mulai cemburu sama kamu Aida… jadi aku harus mengirim bukti berupa video pada istriku kalau aku sudah melaksanakan perintahnya. Kamu juga harus mulai belajar, Mira.”
“Tidakkk! Tidak mauuuu!”
“Saatnya berlatih.”
Ada suara jeritan saat pintu akhirnya benar-benar tertutup.
.::..::..::..::..::.
Menjelang sore datang, sekitar pukul dua siang, rombongan tamu ketiga tiba di rumah Pak No. Rombongan inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh Pak No dan keluarga.
Apalagi kalau bukan pulangnya sang istri tercinta, bu Indri.
Dengan meminta bantuan tetangga, Bu Indri dijemput menggunakan mobil Ardian yang surat-suratnya sudah berada di tangan Intan - namun masih tetap berada di rumah Shinta.
Bu Indri tidak hanya pulang sendiri, melainkan turut datang juga bersama dengan Heni, Rudi, dan juga anak-anak mereka. Suasana bahagia dan haru menyelimuti mereka semua. Meskipun bu Indri dirawatnya tidak sampai seminggu, namun tetap saja seorang ibu sekaligus nenek adalah nyawa dan hati dari sebuah rumah. Jangankan seminggu, sehari pun pasti akan sangat kangen jika tidak ada sosok ibu di rumah.
“Le, kemarin katanya kamu nganterin Intan? Lha kok ndak mampir tu ngapain?” tanya Pak No kepada menantunya.
Mereka berdua saat ini sedang duduk-duduk di teras rumah sambil merokok. Tidak lupa kopi sebentar lagi akan datang karena mereka berdua tadi sudah minta dibuatkan oleh Heni.
“Hehehe, nggih, Pak. Sepurane. Mohon maaf. Hla nanti saya keburu malam sampai rumahnya. Soalnya semalam itu kebetulan saya dimintai tolong tetangga, lumayan buat tambahan.”
Selesai Rudi menjawab pertanyaan sang mertua, ternyata bertepatan dengan datangnya kopi pesanan mereka, Namun yang datang mengantar bukannya Heni, melainkan Intan.
“Lho? Heni kemana, Nduk? kok malah kamu yang nganter?”
“Andi lagi rewel tadi pak, ga bisa ditinggal. Makanya aku saja yang buatin, Bapak kangen ya dibuatin kopi sama anak ceweknya? Hihihi, buatanku juga sama enaknya kok.”
“Andi kenapa mbak?” Rudi menanyakan anaknya kepada Intan.
“Paling kecapekan jadi rewel dia. Dari siang belum tidur kan?”
“Oh iya, Mbak. Ya biasanya emang gitu, sih. Andi itu kalau udah ngantuk rewelnya ampun-ampunan. Merengek kenceng banget.”
“Semua anak juga begitu, Rud. Ga cuma Andi saja. Ngomong-ngomong tadi Bapak sama Rudi lagi bahas apa ya? Kok sekilas dengar namaku disebut?”
“Itu tadi aku nanyain dia kenapa kemarin ga mampir pas nganterin kamu, Nduk.”
“Oh iya itu. Kemarin aku juga sudah nyuruh dia mampir, Pak. Tapi dianya gka mau, takut kemalaman katanya.”
“Tadi bilangnya karena lagi ada kerjaan.”
“Iya, semalam ada kerjaan mendadak. Lumayan buat tambah-tambah, Mbak.”
“Kerjaan apa sih Rud malam-malam?”
“Biasa, Mbak. Ada juragan yang lagi bongkar angkut dagangan.”
“Oalaaaah. Eh, Pak. Si Rudi ini nanti suruh kerja sama aku aja bagaimana? Daripada ngasih kerjaan ke orang lain, mending kasih ke Rudi saja, lumayan biar dia ada penghasilan tetap juga.”
“Mau disuruh kerja apa dia?”
“Apa saja, masih muda ini, tenaganya pasti masih kuat.”
“Bentar-bentar, kerja sama mbak Intan? Kerja apa nih?”
“Panjang Rud jelasinnya, nanti aja kalau sudah mau jalan, intinya aku sama Bapak mau jalanin bisnis, dan tenaga mudamu itu kayaknya akan sangat berguna.”
“Oh gituuuu, yo udah. Ikut saja kalau begitu lah.”
Intan tersenyum sementara mertuanya manggut-manggut. Ia masih terus berpikir.
Rudi melongok ke arah rumah, “ngomong-ngomong, tadi si Andi mau tidur ga, Mbak?”
“Tau tuh, kamu lihatin sana, siapa tahu Heni butuh bantuan sesuatu,” suruh Intan pada suami adik iparnya itu.
“Iya deh, misi dulu ya pak, mbak.”
“Yo wes, kono. Ya udah, sana.”
Setelah Rudi masuk ke dalam, Intan lalu menggeser duduknya mendekat ke arah Pak No. Ibu muda itu pun membisikkan sesuatu kepada bapak mertuanya.
“Pak, tidak apa-apa kan kalau aku ngajak Rudi? Kasihan juga dia, kemarin waktu di rumah sakit ngobrol panjang lebar. Gak tega aku dengar kalau sampai sekarang dia gak punya penghasilan tetap. Kasihan Heni sama anaknya. Kalau dia kerja bareng kita, minimal ada pemasukan gitu. Ada bulanan yang bisa dikasih ke Heni.”
“Piye yo… sejujurnya aku tidak terlalu kenal dekat dengan anak itu, dulu pernah aku minta kerja bareng si Lan tapi dia tidak mau. Aku tidak tahu tidak maunya itu karena memang tidak mau atau karena ada alasan yang lain. Ya kamu coba dekati saja dulu, yang penting jangan sampai salah langkah saja, kamu harus tahu betul siapa yang akan kamu ajak bergabung, bisnis ini bukan bisnis sembarangan.”
“Nah, justru itu, sebenarnya tadi tuh aku juga mau bilang ke bapak untuk ijin mendekati suaminya Heni itu. Tapi tenang saja, bukan dekat dalam arti dengan perasaan, aku pasti masih akan menjaga perasaan Heni, aku hanya akan mencoba membuat Rudi tunduk kepadaku, itu saja.”
“Kamu ini memang… ya wes atur saja, aku yakin kamu pasti sudah paham, jalankan apa yang ingin kamu jalankan itu dengan serapi mungkin, intinya jangan sampai Heni sakit hati.”
Intan mengangguk dan tersenyum genit, “Gimana tadi dengan Shinta dan Sabrina, Pak?”
Pak No hanya tersenyum.
Intan mencibir, “Giliran begini aja tidak mau cerita.”
“Heheheh. Itu cerita untuk di lain waktu. Akan kuceritakan pada waktunya. Heheh.”
“Enak main bertiga?”
“Kamu mau?” Pak No memeluk pinggang ramping Intan.
Intan mencibir. Maaf pak, aku sudah pernah merasakannya, Bapak saja tidak tahu. hahaha.
Ia melepas tangan Pak No dan menggoyangkan pantatnya untuk menggoda sang mertua. Intan pun melangkah pergi. Dalam benak ibu muda itu, masih ada sisa petaka yang ia jatuhkan untuk Shinta dan Sabrina. Mereka pernah memberinya cibiran, cacian, dan makian, maka tidak semudah itu dilepaskan.
Intan tersenyum sinis menatap kejauhan.
Shinta. Sabrina. Hari ini masih belum apa-apa. Akan kubuat kalian benar-benar menderita.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *