.:: PADA SUATU KETIKA
“Reva Dwi Adinda, maukah engkau menikah denganku? Maukah engkau menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku?”
Reva berdiri mematung.
Kedua telapak tangannya menyatu, menutup separuh wajah cantiknya. Dia tak percaya, hal ini terjadi juga. Jelas, dia memang sudah menantikannya. Namun ia benar-benar tak menyangka, Prima melakukannya saat ini. Di sini.
Reva dilamar.
Ya, benar. Gadis cantik bertubuh indah itu baru saja dilamar oleh sang kekasih. Sesuatu hal spesial yang meski tak pernah ia ungkap, namun dalam hati dan doanya selalu terucap. Ia menunggu dalam diam, tak ingin memaksa karena tahu sang kekasih tengah berjuang untuk memantaskan diri meminang dirinya.
Hanya saja, Reva benar-benar terkejut. Masih saja terkejut.
Bagaimana tidak? Dia tidak sedang dilamar di tempat yang sepi. Dia tidak dilamar di area yang lebih privat. Dia tidak dilamar dengan suasana romantis layaknya candle light dinner. Tapi, dia baru saja dilamar, di pernikahan kakaknya.
Ya, benar sekali. Reva baru saja dilamar, di resepsi pernikahan kakak kandungnya.
Reva jelas tak tahu kalau sang calon suami itu sudah minta ijin kepada kedua orang tuanya, juga kakak kandung dan kakak iparnya. Prima telah meminta ijin kepada mereka semua untuk melamar Reva. Sebuah skenario yang manis telah dirancang bersama, oleh Prima, kakak Reva dan calon suaminya saat itu.
Nantinya, akan ada acara lempar bunga oleh kedua mempelai. Mereka akan mengatur sedemikian rupa hingga Prima lah yang dapat menangkap bunga yang dilempar itu. Dan benar saja, saat tadi Prima telah menangkap bunga itu, segera ia menghampiri Reva lalu duduk bersimpuh di hadapannya. Prima memberikan bunga itu kepada Reva, dan sebelum sang dara sempat mengatakan apapun, Prima mengambil kotak kecil yang telah ia siapkan sebelumnya, dan disodorkan kepada Reva. Sebuah kotak kecil berisi cincin emas yang begitu indah.
Reva terbelalak melihat cincin itu. Ia tak menyangka cincin itu ternyata disiapkan untuknya.
Beberapa hari sebelumnya, Prima memang mengajak Reva pergi ke sebuah toko perhiasan. Ia mengatakan ingin membelikan cincin untuk adiknya di kampung. Ia mengajak Reva untuk memberi saran mana cincin yang bagus, juga untuk mengukurnya, karena menurut Prima, ukuran jari Dena sama dengan jari Reva.
Di sana, Reva memilihkan cincin yang menurutnya terbaik di toko itu. Harganya memang cukup mahal, tapi Prima mengatakan harga bukan masalah, karena itu adalah untuk orang yang ia sayangi. Bahkan saat itu, sebenarnya ada sedikit rasa iri yang muncul di hati Reva, karena ia juga menyukai cincin itu. Namun ia relakan, karena semua itu adalah untuk calon adik iparnya.
Namun ternyata, semua itu adalah rencana dari Prima, untuk bisa mendapatkan cincin yang paling pas dan paling disukai oleh Reva. Dan kini, cincin itu benar-benar telah berada di depan mata Reva. Semua yang dilakukan oleh Prima benar-benar membuat Reva speechless, meskipun Reva tahu, apa jawaban dari pertanyaan Prima tadi.
Sebelum menjawab, Reva melihat ke arah kedua orang tuanya. Bagaimanapun, dia hanya akan memberi jawaban berdasarkan dengan restu dari orang tuanya. Jika direstui, dengan senang hati ia akan menerima lamaran dari Prima. Namun jika kedua orang tuanya menolak, maka dengan berat hati ia harus menolak, meskipun dirinya sudah sangat jatuh cinta kepada lelaki yang telah dekat dengannya dalam beberapa tahun belakangan ini.
Rona bahagia langsung terpancar di wajahnya, kala kedua orang tua yang berdiri di samping kakaknya itu dengan kompak dan mantap menganggukkan kepala mereka. Keduanya merestui pemuda dari desa itu untuk menjadi suaminya. Bahkan, bukan hanya kedua orang tuanya, namun juga dengan kakak dan kakak iparnya. Bahkan ia sempat melihat ke arah teman-temannya, dan semuanya sama, menganggukan kepala seperti halnya kedua orang tuanya.
Reva sebenarnya sudah yakin kalau Prima pasti akan direstui. Kedua orang tuanya sudah lama kenal, dan tahu seperti apa pemuda desa yang tengah melamarnya itu. Meski berasal dari kampung, namun Prima adalah seorang pria yang pintar, baik hati, bertanggung jawab, serta ulet. Pemuda itu menyelesaikan kuliah yang dibiayai penuh oleh beasiswa tepat waktu dan dengan nilai yang sangat memuaskan, ia meraih summa cum laude dan menjadi lulusan terbaik angkatan mereka.
Selepas kuliah Prima bekerja di sebuah perusahaan yang bonafit di ibukota. Papa Reva cukup tahu bagaimana Prima bekerja keras hingga kini memiliki karir yang bagus, karena atasan Prima adalah sahabatnya sendiri. Dari situlah mereka thau bagaimana bertanggungjawabnya Prima terhadap pekerjaan, serta bagaimana uletnya ia dalam mengejar sesuatu yang telah ia targetkan. Sehingga tak ada keraguan sedikitpun dari kedua orang tua Reva untuk merestui pemuda dari kampung itu untuk masuk ke dalam keluarga mereka, menjadi suami dari putri kesayangan mereka.
“Iya, Mas Prima. Aku mau jadi istrimu, jadi ibu dari anak-anakmu.”
Suara riuh memenuhi gedung saat jawaban Reva terlontar dari mulutnya. Bibir tipis itu bergerak pelan dan begitu indah, seindah kata-kata yang keluar. Keluarga, sahabat dan rekan-rekan menyambut bahagia momen ini.
Tak terbayangkan betapa bahagianya perasaan Prima. Ia hanya butuh sebuah anggukan saja, namun Reva memberikan sebuah jawaban yang tegas di hadapan semua orang yang ada di gedung ini. Impiannya untuk memiliki pendamping hidup dengan spek bidadari, rasanya selangkah demi selangkah akan segera terwujud.
Memang hampir tak pernah terucap oleh Prima, bahwasanya ia sangat memuja kecantikan dari kekasihnya itu. Kecantikan yang sempurna, luar dalam. Secara fisik, wajahnya nan ayu dan manis, terbalut sempurna oleh keindahan akhlaknya. Tutur katanya yang sopan, menunjukkan betapa beradabnya dara cantik itu. Dan sebagai bonus untuk Prima, bayangan dari lekukan tubuh indah Reva yang begitu sempurna, adalah hal yang didambakan semua kaum adam di dunia ini.
Bohong jika Prima tak pernah punya khayalan mesum dari sang kekasih. Bohong jika Prima tak pernah punya keinginan untuk menjamah tubuh indah milik sang bidadari. Dia lelaki normal, tentu saja dia pernah membayangkan seperti apa tubuh indah Reva tanpa terbalut sehelai kainpun. Bahkan ia harus merelakan calon penerus-penerusnya berakhir di kamar mandi akibat tak tahan membayangkan tubuh telanjang sang kekasih.
Prima juga pernah, bahkan berkali-kali ingin menyentuh, menjamah tubuh indah itu. Ingin sekali ia tahu sehalus apa kulit tubuh kekasinya. Ia ingin sekali mengetahui sekenyal apa buah dada milik Reva. Ia juga ingin tahu seindah apa bukit kemaluan sang bidadari. Namun semua itu ia tahan, demi bisa merasakan itu semua dengan penuh keindahan setelah keduanya resmi menjadi sepasang suami istri, seperti halnya kakak reva dan suaminya yang kini tengah berdiri di pelaminan.
Bagaimanapun ceritanya nanti, kini akhirnya Prima bisa lega, setelah mendapatkan kepastian dari sang kekasih, juga dari semua keluarga Reva. Prima tahu, seberapa banyak lelaki yang harus ia kalahkan untuk bisa mendapatkan hati Reva. Prima tahu para lelaki itu memiliki segalanya yang lebih hebat dari dirinya. Lebih kaya, lebih pintar, lebih mapan, lebih tampan. Apapun itu, Prima bukanlah yang terbaik dari semua lelaki yang pernah mendekati Reva.
Namun beruntungnya ia, Reva tak melihat itu semua saat menentukan pilihan. Reva yang mengenal Prima sejak kuliah, tahu persis bagaimana karakter lelaki dari kampung itu. Ia sama sekali tak mempermasalahkan asal dari sang kekasih. Ia melihat bahwa Prima adalah seorang lelaki yang tangguh, bertanggung jawab. Ia yakin akan memiliki pemimpin, imam yang sempurna jika pilihannya adalah Prima.
Bahkan ketika Reva telah memilih Prima, dan kedua orang tua serta keluarga Reva telah menyetujui dan merestui pilihannya, tak berarti godaan berhenti untuk datang. Masih banyak lelaki yang berusaha untuk mendekati Reva, namun semua berakhir dengan kecewa. Reva tak bergeming akan pilihannya. Dia sudah terlanjur mantap. Dia hanya inginkan Prima saja.
Reva kini telah mantap memilih Prima. Ia telah mantap untuk menutup pintu hatinya kepada lelaki lain. Hatinya sudah terisi oleh Prima. Hanya Prima seorang. Ia telah berjanji kepada dirinya sendiri, untuk tidak akan membiarkan ada pria lain yang memasuki hatinya.
Hanya hatinya.
Ia tak tahu, apakah suatu saat nanti, akan ada pria selain Prima yang memasukinya. Bukan hatinya, tentu saja. Tapi…
.::..::..::..::..::.
.:: MASA SEKARANG
Reva menggelengkan kepalanya begitu cepat. Kenangan demi kenangan tentang indahnya hari saat ia dilamar oleh Prima, berkelebat cepat mengitari kepalanya. Bisa ia lihat kembali, bagaimana rona bahagia Prima saat itu. Bukan hanya Prima, namun juga kedua orang tuanya, kakak dan kakak iparnya, keluarganya, sahabat-sahabatnya, juga rekan-rekannya. Bahkan, ia saat ini bisa melihat rona kebahagiaan di wajahnya sendiri, saat menerima lamaran Prima.
Bahkan kilasan memori tentang hari-hari sebelumnya pun datang. Hari-hari dimana ia menjalani hubungannya dengan Prima, yang ia rasakan penuh dengan kebahagiaan. Saat pertama kali saling berkenalan. Saat pertama kali Prima menyatakan cintanya. Saat pertama kali jalan berdua. Saat pertama kali mereka bersentuhan. Saat pertama kali bahunya dirangkul oleh Prima. Saat pertama kali tubuhnya dipeluk dengan hangat oleh Prima. Saat pertama kali bibir tipisnya dicium dengan lembut oleh Prima. Semua hal romantis itu sekelebat datang menyapa, membuat air mata Reva turun begitu deras tanpa bisa ia kendalikan.
Tangis Reva kian menjadi, saat kenangan demi kenangan indah yang berkelebat itu perlahan memudar dari matanya, berganti dengan wajah ganjil seorang pria yang baru ia kenal beberapa hari lalu, yang tengah meringis penuh kenikmatan. Seorang pria yang telah menghancurkan semua harapan-harapan indah Reva.
Gadis cantik itu seperti baru terbangun, dari ketidaksadarannya. Reva seperti baru saja terbangun dari entah apapun itu yang menguasai dirinya semenjak tadi.
Kini ia bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuhnya telah terbuka bebas sebebas-bebasnya. Tak ada satupun kain yang kini menutupi tubuhnya. Hanya tinggal jilbabnya saja, yang itupun sudah berantakan hingga rambut indahnya terlihat keluar sebagian.
Tak hanya dirinya, namun lelaki berwajah ganjil yang ia lihat pun, juga sudah tak memakai pakaian sama sekali. Dia sudah telanjang bulat. Reva bisa melihat dengan jelas seperti apa bentuk tubuh Sukirlan. Wajah ganjil Sukirlan yang tadinya terlihat biasa-biasa saja oleh mata Reva, kini berubah menjadi wajah yang benar-benar menjijikkan.
Tak berhenti disitu, Reva melihat ke arah bawah. Ia bisa melihat dengan jelas dan sangat menyadari, bahwa batang penis perkasa milik Sukirlan, yang pernah ia lihat kemarin di toilet kios buahnya, kini tengah berada di dalam tempat yang tidak seharusnya.
Batang perkasa itulah, yang tadi sempat mengembalikan memori-memori indah saat ia dilamar oleh Prima, juga termasuk semua kenangan indah yang ia jalani bersama Prima, namun dengan sangat cepat pula menghancurkan semua kenangan-kenangan indah itu. Batang penis perkasa milik preman kampung inilah, yang telah mengambil segala hal yang telah dijaga dengan sangat baik oleh Reva selama ini.
“Ooohhh… asyuuu juancoooookkk… Iki enaaak coookk… Memekmuuuh bener-bener nikmat, Reva sayang…”
Erangan panjang Lan seperti palu gada yang memukul telak kepala Reva. Perasaannya kian hancur saat batang penis itu bergerak mundur, Reva bisa melihat permukaan kulitnya terhias cairan merah kental. Dia ingin menolaknya, dia ingin menyanggahnya. Dia menggelengkan kepala, tak ingin mempercayainya.
Tapi dia tahu, itu adalah pertanda bobolnya keperawanannya. Hancur seperti gelas-gelas kaca yang tak bisa disusun kembali selamanya.
Kenapa? Kenapa bisa seperti ini? Kenapa?
Plok… Plok… Plok…
Plok… Plok… Plok…
“Uugghh… inihh… beneran… nikmatthhh…”
Desahan demi desahan justru keluar duluan dari mulut Sukirlan. Sang juragan buah itu seperti tak bisa mengendalikan dirinya untuk menikmati tubuh Reva. Biasanya, dia akan bermain lembut saat baru memerawani gadis yang menjadi mangsanya. Dia selalu berhasil menaklukan gadis-gadis itu dan membuat mereka ikut menikmati permainannya. Tapi entah kenapa, kali ini Lan tak bisa melakukan itu.
Reva terlalu sempurna.
Wajahnya terlalu cantik. Tubuhnya terlalu indah. Dan keperawanannya terlalu nikmat untuk bisa dikalahkan oleh Sukirlan. Lelaki yang biasanya mudah menaklukan mangsanya itu, kini bahkan harus berjuang keras agar tak lepas kendali dan terlihat cupu oleh Reva. Ia harus bisa bertahan, untuk menaklukan Reva mbuh piye carane, entah bagaimanapun caranya.
Erangan Sukirlan berbanding terbalik dengan Reva yang begitu erat menutup mulutnya. Ia tak lagi peduli bagaimana sepasang buah dadanya bergerak naik turun dengan indahnya mengikuti goyangan si Lan. Ia tak menutupnya, hingga menjadi pemandangan yang begitu menarik untuk pria bajingan yang memperkosanya itu. Kedua tangannya kini tengah sibuk menutup erat mulutnya, berusaha untuk tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Semua yang Reva rasakan tergambar jelas dari air matanya yang turun tanpa henti. Kain jilbab yang sebagian masih menutupi kepalanya itu jadi terlihat basah. Beberapa kali matanya pun memejam erat, seperti menahan sakit yang teramat sangat. Pun ia tak ingin melihat senyum penuh kepuasan dan kenikmatan dari pria yang telah dengan lancang mendahului Prima menikmati tubuhnya.
“Jangan nangis gitu, sayang… uuh ini kan, kamu yang minta… uuugghhh jaaaan… uenaak pooll…”
Reva menggelengkan kepala saat mendengar ucapan Sukirlan.
Nggak!
Itu bukan aku! Aku nggak pernah minta! NGGAAAKKK!!!
Lan tersenyum. Ia tentu paham dengan maksud gelengan kepala Reva itu.
“Hehehe… tadi kamu yang minta, sayang. Kamu minta memekmu digaruk kan? Uuugghhh… masa kamu nggak ingat sihhh?”
Reva kembali menggeleng. Dia bukan tak percaya dengan ucapan Sukirlan, bukan juga karena tak ingat. Dia kini bisa mengingat apa yang tadi terjadi. Dia hanya tidak ingin mengakui bahwa itu adalah dirinya yang meminta.
“Maassshhh… sssssshhhhhh…”
“Kenapa, gadisku? Apa yang kamu mau?”
Percakapan beberapa saat lalu, tiba-tiba saja terdengar menggema dalam kepala Reva. Gadis cantik itu kembali menggelengkan kepala, berusaha untuk mengenyahkan ingatan itu dari kepalanya.
“Ga-Gateell… Sssshhhhh…”
“Mau digarukin?”
Reva kembali menggeleng.
Gelengan itu seperti ingin menjawab pertanyaan Sukirlan itu. Berbanding terbalik dengan yang sebenarnya terjadi, saat ia justru mengangguk dengan cepat.
“Maaaaasssshhhhh… aaaaaggghhhhh… Maaaaassshhhhhh…”
“Tenang… akan kubantu, sayang.”
“Uuuugghhhh… Maaaassshhhhhh…”
Tubuh Reva bergidik, menggigil geli. Ia tak percaya, mendesah dan mengerang untuk mengundang Sukirlan menyentuh dirinya, menyetubuhi dirinya. Lagi-lagi, kepalanya menggeleng.
“Aaaccckkkk Maaasssshhh… Sakiiiiittt…”
“Tahan sebentaaaaar…”
“Aaaaaaaarrrggghhhhh… Maaassshhh… Uuuuughhhhh…”
Kembali tubuh Reva menggigil, mengingat momen sepersekian detik saat kegadisannya akan direnggut oleh Sukirlan. Momen yang tidak ia lawan sama sekali, namun di saat bersamaan datanglah kilasan demi kilasan indah, yang dengan cepat pula menghilang begitu saja saat ujung penis pria kampung itu menghantam dinding rahimnya, memunculkan rasa sakit yang teramat sangat. Rasa sakit di tubuhnya, juga di hatinya.
Reva hanya bisa menangis kini. Ia menyesal sejadi-jadinya, kala ia justru membuka pahanya lebar-lebar saat Sukirlan memasukkan rudal perkasanya. Dia justru mempersilahkan pria yang bukan tunangannya itu, menghisap madu kenikmatan dari keperawanan yang telah ia jaga mati-matian selama ini.
Ia hanya bisa menyesal. Segalanya telah hancur. Semua yang ia pertahankan, yang sangat ingin ia serahkan kepada Prima saat nanti telah resmi menjadi suaminya, saat dirinya menyandang status sebagai nyonya Prima, kini justru telah dinikmati seutuhnya begitu saja oleh Sukirlan.
Plok… Plok… Plok…
Plok… Plok… Plok…
Penis besar dan panjang Sukirlan masih terus bekerja. Tanpa perlawanan batang perkasa itu menghujam setiap inci lubang kenikmatan Reva. Gadis ayu itu memejamkan mata dan menutup mulutnya erat-erat, berusaha sekuat tenaga untuk tak mengijinkan datangnya sensasi nikmat yang tadi sempat ia rasakan.
Ia masih merasakan sakit. Betapa tidak? Selaput daranya baru saja dikoyak oleh orang yang seharusnya tak berhak. Namun ia merasakan, perlahan rasa nikmat yang tadi datang dan sempat menghilang, perlahan mulai muncul kembali. Reva terus berusaha untuk menolak rasa itu kembali, mengingat siapa yang saat ini sedang menggumuli dirinya.
Melihat hal itu, Sukirlan tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu, Reva memang kesakitan, marah dan tak terima. Obat perangsang yang ia berikan sejak tadi, seharusnya dengan mudah menaklukan Reva tanpa perlawanan. Ia cukup heran, sekaligus takjub dengan perlawanan Reva. Tapi mau bagaimanapun, jelas semua sudah terlambat. Ia telah berhasil mengoyak kesucian sang dara. Dan Lan tahu, dari kerasnya Reva memejamkan mata dan menutup mulut, ada sesuatu yang sedang ditolak oleh sang bidadari.
Lan tahu persis apa itu.
“Aacchh… Gimana sayangku? Apa masih gatel memekmu?”
Pertanyaan Sukirlan dijawab dengan gelengan cepat oleh Reva, yang masih saja memejamkan matanya. Lan yang semakin bisa menguasai dirinya, mulai memainkan ritme sodokan penisnya di vagina Reva. Sesekali ia sodok dengan cepat namun dangkal, sesekali dengan lambat namun mentok sampai ke dalam.
Reva makin kesulitan melawan sensasi yang hadir. Ia masih terlalu hijau untuk hal ini. Ia tak tahu seberapa berpengalamannya si Lan dalam menaklukan gadis lugu seperti dirinya.
Sluuurrpphhh…
Sukirlan mulai menyentuh, mencium dan melumat bibir Reva yang masih tertutup rapat, di sela-sela genjotan penisnya. Pria buruk rupa itu mulai berbisik, “Aaahh sayangku… kamu nikmat banget… memekmu legit… enaak…”
“Mmmpphh… mmmpphhh…”
Reva berusaha untuk menghindari ciuman si Lan, tapi lelaki itu langsung memegang kepalanya hingga tak bisa bergerak lagi. Sang preman kampung mulai menjelajahi wajah cantik Reva dengan lidah kasarnya, membuat Reva semakin merasa jijik pada pria itu. Telinga Reva yang sudah tak tertutup jilbab pun mulai mendapat usapan basah dari lidah Sukirlan.
“Sssshhhh… Mmmpphhh…”
Lan seperti ingin bersorak ketika ia sempat mendengar sang bidadari mendesis, meskipun singkat. Rasa nikmat yang perlahan datang, mulai memporak porandakan pertahanan kuat yang dimiliki Reva.
Plok… Plok… Plok…
Sluuurrpphhh…
Plok… Plok… Plok…
Sluuurrpphhh…
“Mmmpphh… sssshhhh… mmmpphhh… Maasshhh…”
Kombinasi serangan atas bawah yang dilakukan oleh Sukirlan semakin sulit untuk dilawan oleh Reva. Sekeras apapun ia berusaha menutup erat mulutnya, serangan dari Sukirlan yang kian bertambah dengan memilin-milin puting susunya, membuatnya kini diselimuti perasaan geli nan nikmat, yang mulai menggantikan rasa sakit di vaginanya.
Nggak! Nggak boleh! Ini nggak boleh terjadi!
Aku nggak mau! Aku… Aaahhh… Ini… Nggak… Tapi… Ini… Aaaaaahhh…
Batinnya bergolak. Ia masih tak rela menikmati rasa yang ada. Tapi tubuhnya seperti punya pikiran dan keinginan sendiri, yang tak disadari oleh Reva membuat pinggulnya mulai ikut bergerak mengimbangi gerakan si Lan. Ketidakberdayaan ini membuat Reva kembali menangis merutuki dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya dikalahkan dan ditaklukan oleh Sukirlan.
“Aahh… mmpphhh… udaahhh… mmmpphhh…”
Di sela tangisan dan ketidakberdayaannya, Reva masih berusaha untuk membuat Sukirlan berhenti memperlakukan dirinya seperti ini. Meskipun Reva sadar kalau usahanya akan sia-sia. Dan benar saja, mendengar lenguhan dan desahan dari Reva membuat Sukirlan makin bernafsu untuk menggauli calon istri Prima ini. Mulutnya yang mulai terbuka tak disia-siakan oleh si Lan. Lelaki itu langsung melumat bibir Reva yang sedikit terbuka. Bibir atas dan bawah Reva bergantian dilumat, dan dihisap-hisap oleh Sukirlan.
Puas dengan bibir sang bidadari, mulut si Lan mulai bergeser ke samping, menemui telinga kiri milik Reva. Tanpa membuang waktu lelaki berwajah ganjil itu langsung mengecup daun telinga sang dara.
Cup…
“Aaaaassshhhhhh…”
Reva yang tak siap dengan serangan itu tanpa sadar mendesah panjang tepat di depan telinga si Lan. Terang saja hal itu seperti isyarat bagi sang pejantan untuk mengulangi, bahkan memberikan sentuhan yang jauh lebih dalam lagi di telinganya.
Cup…
Sluuurrpphhh…
“Sssshhhhhh aaaasssshhhh…”
Lagi, tanpa bisa ditahan sama sekali desahan Reva terdengar dengan begitu jelasnya. Sebuah ciuman dan hisapan yang dilakukan bahkan sampai membuat tubuh Reva menggelinjang. Geli yang ditimbulkan di telinganya, seperti menjalar ke seluruh tubuh, membuat semua bulu kuduknya makin meremang.
Sukirlan jadi tahu, ternyata telinga merupakan salah satu titik rangsang di tubuh Reva. Menyadari hal itu Lan berusaha mengulanginya, dan itu berhasil membuat Reva mendesah-desah kembali, membuat nafsu si Lan makin naik tak terkendali.
Reva yang ternyata juga menyadari hal itu, berusaha mengelak. Ia berusaha untuk menggerakkan kepalanya, menjauhkan telinganya dari mulut jahanam sang pejantan. Namun penolakannya tak berarti apa-apa, karena pelukan erat Sukirlan membuatnya tak bisa banyak bergerak. Kepalanya tetap berada di dekapan sang penjantan, dan telinganya pun tak luput dari kejaran mulut sang preman. Belum lagi, di bagian bawah sana pinggul Sukirlan masih bergerak maju mundur dengan tempo yang teratur, membuat Reva makin kewalahan menghadapi serangan si Lan.
“Mmpphh… aaaahhhh Maaasssshhh…”
Plok… Plok… Plok…
Sekali lagi serangan Sukirlan masuk telak di telinga Reva. Gadis itu semakin tak mampu menahan desahannya, karena jilatan itu dibarengi dengan sodokan penis Sukirlan yang tiba-tiba menghujam dengan kencang. Namun kemudian dicabut lagi dengan perlahan hingga menyisakan kepalanya saja, lalu kembali dihujam dengan kencang sambil bibir sang juragan buah monyong menghisap lubang telinga Reva dalam-dalam.
Plok… Plok… Plok…
Plok… Plok… Plok…
“Aaaaaaaaaahhhhhhh…”
Tubuh Reva menggelinjang tak karuan. Serangan demi serangan yang dilakukan oleh penjahat kelamin berpengalaman itu benar-benar membuat pertahanannya luluh lantak. Kenikmatan yang kini ia rasakan di sela rasa sakit di rongga kewanitaannya, terlalu kuat untuk dilawan oleh gadis yang baru mengenal kenikmatan birahi seperti dirinya ini.
“Aaahhhhh Maaasssshhh… Aaaahhh… Aaaahhh… Udaaahh…”
Reva terus mengerang tak karuan. Penolakannya terdengar di sela desahannya yang kian sering terdengar. Mendengar permohonan Reva bukannya membuat Sukirlan berhenti, ia malah makin intens menghujamkan penis perkasanya ke dalam vagina Reva. Juga mulut dan lidahnya tak lupa memberikan rangsangan di setiap bagian yang dilewati olehnya.
Sukirlan yang berpengalaman, tahu apa yang dirasakan oleh Reva. Terlebih saat kemudian tanpa disadari oleh sang dara, kedua tangannya mulai memeluk erat tubuh Sukirlan. Lelaki jahanam itu tersenyum lebar mendapati sang bidadari akan segera sampai pada gerbang kenikmatan pertamanya, dan betapa bangganya si Lan karena menyadari dirinyalah yang mengantarkan Reva mendapatkan kenikmatan itu, bukan si Prima.
“Aaahhh maaasss… A-akuuu… akhuuuu… akuuuuuhhh… Aaaaaaaaaaahhhhhhh…”
Tubuh Reva menggelinjang hebat dalam dekapan Sukirlan. Dinding vaginanya berkedut tak kalah hebat meremas-remas penis perkasa Sukirlan. Kedua tangannya mencengkram erat punggung Sukirlan.
Sakit? Tentu saja punggung si Lan sakit. Tapi itu tak ada apa-apanya ketimbang rasa nikmat yang dirasakan oleh penisnya, yang sedang dipijat-pijat oleh dinding vagina Reva yang sedang orgasme.
Lan menghentikan aktivitasnya. Ia lega pertahanannya tak ikut jebol bersamaan dengan Reva. Hampir, sebenarnya. Tapi ia masih bisa menahannya. Ia tak ingin secepat ini menikmati tubuh Reva. Ia ingin berlama-lama, dan sepertinya ia memang tak akan pernah bosan.
Sedangkan Reva, tubuhnya perlahan mulai lemas. Pelukan tangannya di tubuh Sukirlan perlahan mulai mengendur. Matanya masih terpejam, namun mulutnya terbuka lebar. Hidungnya kembang kempis saat udara keluar masuk dengan cepat melalui kedua lubangnya. Bahkan si Lan bisa melihat, tubuh Reva sesekali menggelinjang meskipun puncak orgasmenya sudah lewat. Sepertinya, apa yang ia rasakan saat ini memang benar-benar keterlaluan enaknya.
Setelah tak terasa hampir 5 menit Sukirlan memberikan waktu kepada Reva untuk menikmati orgasme pertamanya yang luar biasa, preman kampung itu mulai sedikit menggerakkan pinggulnya. Reva yang nafasnya berangsur normal, membuka mata menyadari kalau permainan ini belumlah selesai. Iapun bisa merasakan, penis besar Sukirlan masih berdiri dengan kokoh di dalam lubang vaginanya.
“Kita lanjut lagi, sayang. Hup…”
“Aahh… Maashh… Apa yang… Aaahhh…”
Tubuh Reva yang mungil terlihat begitu ringan diangkat oleh Sukirlan. Begitu tubuhnya terangkat dengan reflek Reva mengalungkan kedua tangannya di leher si Lan. Lelaki itu menggendong sang dara, dengan posisi kelamin yang masih menyatu. Penis panjang Sukirlan yang tiba-tiba menekan sampai ke dinding rahim Reva, membuat gadis itu mengerang dan menggelinjang.
“Aahh… Masshh… Mau apaahh…”
Diantara rasa nikmat dari vaginanya yang masih dikerjai oleh penis perkasa si Lan, Reva mulai khawatir saat Lan berjalan mendekat ke arah tempat Prima sedang tertidur. Ia tak tahu apa yang dipikirkan oleh Sukirlan, tapi Reva jelas khawatir calon suaminya akan terbangun dan melihat dirinya digendong oleh si Lan, dengan kondisi telanjang bulat, dan lubang vaginanya dipenuhsesaki oleh batang penis Sukirlan yang begitu besar dan panjang.
“Aahhh… Maasshhh… Jangan kesituuuh… Aaaahh… Aaahhh…”
Semakin dekat mereka dengan Prima, semakin besar kekhawatiran yang timbul di hati Reva, namun semakin kuat pula sensasi aneh yang muncul dari bagian pangkal pahanya itu. Kekhawatiran dan ketakutan Reva kalau calon suaminya terbangun dan melihat dirinya seperti itu, membuat dinding vaginanya menjepit lebih erat penis si lan yang ada di dalamnya.
“Uughh… Tenang ajaah, sayangkuuh… Prima udah tak kasih obat tidur… Aaahhh… Dia baru akan bangun besok pagiihh…”
Aaaaaaaahhhhhh…
Ada perasaan lega setelah Reva mendengar ucapan Sukirlan. Setidaknya, sang calon suami tidak perlu melihat dirinya dalam kondisi seperti ini. Tak perlu Prima melihat dirinya yang telanjang bulat, sedang disetubuhi oleh si Lan. Namun di satu sisi ia juga khawatir, karena sang kekasih dibuat tidur oleh Sukirlan menggunakan obat. Ia khawatir nantinya Prima akan kenapa-kenapa.
“Aaahhh… Maaashhhh…”
Sukirlan hanya tersenyum. Ia benar-benar menikmati momen ini, menyetubuhi seorang gadis lugu nan cantik jelita, dengan tubuh yang putih mulus, payudara bulat kencang sempurna, tepat di samping kekasihnya yang tertidur dan sadar kalau calon istrinya digarap pria lain. Semua sensasi ini benar-benar nikmat, hingga Sukirlan tak mampu lagi menahan dirinya. Reva pun demikian, yang mulai menggerakkan tubuhnya naik turun dengan cepat, seperti ingin menjemput sesuatu yang sudah ada di depan mata.
“Aaaahhh… Aaaahhh… Maashhh Laaannn… Aaaahhh… Akkhuuuuuhhh…”
“Oougghh… Revaaa… uedaaaan… memekmuuu… Aaahh nggak tahaaaaan…”
.::..::..::..::..::.
“A-Ampuun Mas Lan… Udah Mas… ampuni saya Maasshhh…”
Sukirlan duduk pongah menatap keji Sadikin yang masih terikat. Wajahnya babak belur, tubuhnya lemas tak bertenaga. Benar-benar menyedihkan.
Lebih menyedihkan lagi, karena ia tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan istrinya, yang saat ini tergolek tak sadarkan diri tak jauh dari tempatnya. Yeni bahkan terlihat begitu menyedihkan, dengan tubuh polosnya terekspos tanpa penutup, penuh dengan cairan putih kental para pemerkosanya, juga terlihat bekas-bekas merah di sekujur tubuhnya, tanda betapa kerasnya para pria itu memperlakukan istri Sadikin.
“Ampun, kamu bilang?!” gertak Sukirlan. “Saya itu sudah berbaik hati lho, menolong kamu, kasih pinjam kamu uang, yang katanya untuk biaya berobat anak kamu itu! Sudah saya kasih tugas yang enak, biar kamu bisa dapat uang dengan mudah, kok masih bisa-bisanya mau nusuk saya dari belakang?!”
Sadikin benar-benar ketakutan kali ini. Seolah nyawanya sudah benar-benar berada di ujung tanduk.
“Tak minta istrimu buat kerja di kiosku, itu bukan mau tak apa-apain! Itu buat jaminan aja, biar kalian nggak kabur! Aku udah punya target sendiri, Reva, yang jauh lebih cantik daripada istrimu itu! Tapi, bisa-bisanya kamu malah ngincer targetku, mau jatuhin aku!”
Sadikin masih sedikit beruntung, karena mood Sukirlan sedang baik. Bagaimana tidak, sang preman Kampung Bawukan itu baru saja mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia benar-benar berhasil merenggut kesucian bidadari incarannya, calon istri dari Prima, pria yang sejak dulu ia anggap sebagai saingannya. Kenikmatan paripurna yang ia peroleh dari tubuh dan tentunya kemaluan Reva, membuat dirinya sedang diliputi rasa bahagia yang teramat sangat.
Namun tetap saja ada hal yang harus ia selesaikan saat ini, yang tak lain adalah pengkhianatan Sadikin.
Sukirlan bukanlah orang yang bisa mentolerir adanya pengkhianatan. Dia adalah seorang bajingan, preman, begundal, apapun itulah namanya. Dia masih bisa memaafkan kesalahan anak buahnya kalau misal mereka gagal menjalankan tugas, atau salah sasaran, atau kegagalan-kegagalan remeh lainnya. Dia bisa memaklumi karena paham kalau tingkat kepintaran anak buahnya, tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Tapi untuk pengkhianatan, itu lain soal.
Sudah menjadi rahasia umum di kawasan ini, dengan pengaruh besarnya keluarga Sukirlan sejak dulu bisa bertindak apapun di Kampung Bawukan ini tanpa ada yang berani melawan. Sudah pernah ada kasus orang yang tiba-tiba hilang setelah berselisih dengan keluarga Sukirlan. Ada juga orang yang harus kehilangan tempat tinggal setelah dibakar habis oleh orang-orang dari keluarga Sukirlan. Dan semua itu tak pernah membuat satupun anggota keluarga, termasuk orang-orang yang dekat dengan mereka, tersentuh oleh hukum.
Hal inilah yang saat ini sedang sangat ditakutkan oleh Sadikin.
Dia sudah babak belur dihajar oleh para anak buah Sukirlan. Istrinya juga sudah habis-habisan diperkosa oleh mereka. Entah nasib buruk seperti apa lagi yang akan mereka terima, akibat dari niatnya mengkhianati Sukirlan.
Sadikin merutuki dirinya sendiri. Jika saja ia tak punya niat yang aneh-aneh. Jika saja ia manut pada apa yang disuruh oleh Sukirlan. Jika saja ia mau merelakan istrinya bekerja di kios buah Sukirlan, meskipun berpotensi sang istri akan mendapatkan pelecehan. Tapi setidaknya, hidupnya dan keluarga kecilnya masih akan bisa diselamatkan. Paling tidak, mereka masih bisa menjalani kehidupan yang normal di Kampung Bawukan.
Sekarang, Sadikin hanya bisa pasrah menerima kemarahan dari Sukirlan. Ia tahu, setelah ini tak akan ada tempat untuk dirinya dan keluarganya di Kampung Bawukan, Kampung Growol, atau dimananpun di kawasan lereng Gunung Mandiri ini. Kalau beruntung, dan mereka masih hidup sampai besok pagi, ia bertekad akan pindah sejauh-jauhnya dari tempat ini.
Kemana?
Belum tahu. Yang penting, pergi saja dulu. Sudah cukup penderitaan yang harus ia tanggung akibat kesalahan yang ia buat sendiri, yang sampai harus mengorbankan istrinya juga. Luka batin pastinya harus mereka tanggung. Tapi setidaknya, di tempat lain mereka akan punya waktu untuk menyembuhkan, dan berdamai dengan luka itu.
Tapi, jika tidak beruntung?
Mungkin ini adalah hari terakhir mereka bisa menghirup udara segar. Mungkin ini adalah hari terakhir mereka bisa melihat matahari yang sedang terbenam. Mungkin besok, mereka hanya tinggal kenangan saja, untuk beberapa orang yang masih mengenal mereka.
“Piye iki Ndos? Har? Set? Enake diapain orang ini?” tanya Sukirlan tiba-tiba kepada 2 anak buahnya.
Gandos, Kohar dan Seto yang sedang duduk santai kaget, bingung dan saling pandang. Tidak biasanya mereka ditanyai seperti ini. Tidak biasanya juragan mereka itu minta pendapat di saat seperti ini. Biasanya Sukirlan akan langsung memutuskan, dan para anak buah tinggal melaksanakan saja. Mereka itu eksekutor, kok malah disuruh mikir?
“Kok malah pada bengong? Heh! Ditakoni kok malah plonga plongo!”
“Ehh… A-Anu boss… Nganu… begini lho… anu…”
“Anu opo? Anune njaluk diapakne?”
Pertanyaan itu membuat ketiga anak buah Sukirlan tambah kebingungan. Kohar dan Gandos yang pernah punya pengalaman seperti ini sebelumnya, sebenarnya tadi sudah menebak kalau mereka harus mengeksekusi Sadikin dan istrinya. Hal yang sebenarnya enggan mereka lakukan. Sebajingan bajingannya mereka, melenyapkan nyawa adalah pilihan terakhir yang akan mereka ambil untuk menyingkirkan seseorang.
“Kalian masih pengen ngentot si Yeni nggak?”
Sekali lagi, ketiga anak buah Sukirlan saling pandang dengan wajah yang sama-sama bingung. Tapi mereka paham, kalau pertanyaan bosnya itu harus dijawab.
“I-iya bos. Kalau saya, saya masih pengen,” jawab Kohar ragu-ragu tapi jujur. Yeni kan seksi, siapa yang tidak mau nambah lagi? Gandos dan Seto saling berpandangan sebelum kemudian mengamini dengan menganggukkan kepala.
Jawaban dari Kohar itu membuat Sukirlan menganggukkan kepala, lalu menatap kembali ke arah Sadikin, yang terlihat pasrah menunggu vonis dijatuhkan.
“Sampeyan denger sendiri tho Mas Dikin? Mereka bertiga, masih pengen bisa ngentotin Mbak Yeni, istrinya sampeyan.”
Baik Sadikin, maupun ketiga anak buahnya terkejut mendengar ucapan Sukirlan. Preman penguasa Pager Jurang itu seperti sudah melunak dengan situasi yang terjadi. Entah dorongan darimana, hal ini membuat Sadikin cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Ia merasa, ada harapan untuk lolos dari vonis maut Sukirlan. Entah apapun yang harus ia jalani nantinya, entah apapun yang akan terjadi nantinya, tapi sepertinya ia masih punya harapan untuk hidup setelah hari ini.
“Apa sampeyan rela, kalau Mbak Yeni bisa dinikmati dengan bebas oleh mereka bertiga. Kapanpun. Dimanapun. Rela, Mas Dikin?”
Glek.
Terasa sulit sekali Sadikin menelan ludahnya. Dia berusaha untuk mencerna pertanyaan Sukirlan sebelum menjawabnya. Akan kemana arah dari pertanyaan itu? Apakah Sukirlan akan mengampuninya? Atau hanya istrinya yang akan diampuni, sedangkan dirinya tetap akan mati?
Seolah memahami kebingungan Sadikin, Sukirlan pun tersenyum.
“Kalau sampeyan rela, Mbak Yeni jadi pelayan kami, saya bisa mengampuni ulah Mas Dikin kali ini. Tapi, tentunya dengan syarat-syarat yang harus Mas Dikin lakukan.”
“A-Apa aja, syaratnya, Mas Lan?” dengan cepat Sadikit merespon, setelah mendengar kalau Sukirlan kemungkinan memaafkannya.
“Sekarang sih saya belum kepikiran ya, syaratnya apa saja. Tapi yang jelas, Mas Dikin dan Mbak Yeni harus tunduk sepenuhnya sama kami, terutama sama saya sih. Apapun yang kami perintahkan kalian harus melakukan tanpa ada penolakan. Itu syarat pertamanya, gimana?”
Syarat pertama saja sudah seperti memberikan hidup mereka sekeluarga untuk menjadi budak Sukirlan. Lalu, bagaimana dengan syarat-syarat lainnya? Tapi, rasanya hanya dengan menyanggupi hal ini, kesalahannya bisa diampuni oleh Sukirlan. Benar-benar tidak ada pilihan lain. Dia yang sudah sempat terpikirkan rencana untuk mempecundangi Sukirlan, nyatanya malah berakhir menjadi pecundang. Sadikin benar-benar tidak tahu, sampai sejauh mana kekuasaan Sukirlan, dan juga keluarga besarnya. Salah membuat keputusan, rasanya nasib keluarganya akan benar-benar habis. Berakhir.
Hal itu pulalah, yang pada akhirnya membuat Sadikin menganggukkan kepalanya perlahan. Sukirlan tersenyum senang. Pun dengan Kohar dan Gandos. Setidaknya saat ini mereka tak perlu lagi melumuri kedua tangan mereka dengan darah orang yang menjadi korban kekejaman Sukirlan.
“Ya sudah kalau begitu. Kohar, Gandos, anterin Mas Dikin dan istrinya pulang. Biarin Mbak Yeni istirahat dulu, jangan kalian pakai lagi habis ini, besok-besok lagi aja. Kalau masih pengen ngentot, pakai yang lain dulu aja.”
Kohar dan Gandos segera mengangguk dan melaksanakan tugas mereka. Kohar langsung mengangkat tubuh Yeni yang masih pingsan, sedangkan Gandos menarik paksa Sadikin untuk berdiri lalu menyeretnya keluar. Sukirlan masih bisa mendengar berkali-kali Sadikin mengucapkan terima kasih kepadanya, yang telah memberi kesempatan kedua, yang sepertinya belum pernah diberikan oleh Sukirlan kepada siapapun sebelumnya.
“Saya, ngapain bos?” tanya Seto.
Dalam benaknya, Seto memiliki harapan kalau bosnya itu akan berbaik hati memberi sedikit kesempatan baginya untuk mencicipi tubuh bidadari yang baru ditaklukan oleh Sukirlan. Meskipun mustahil, tapi ya, siapa tahu?
“Kamu bawa obat tidur itu kan? Masih ada?”
Seto mengangguk, “Masih bos.”
“Kasih lagi ke si Prima, buat dia tidur pulas sampai besok pagi. Setelah itu kamu pergi ke rumahnya, kasih tahu Pak Yus dan Bu Rum kalau Prima dan Reva lanjut acara di kota, bilang aja HP mereka lowbat, jadi nggak sempat ngabarin.”
“Oke bos, paham. Terus, habis itu?”
“Habis itu? Ya terserah kamu lah, mau pulang, mau kemana lagi, ya terserah kamu! Masa kayak gitu aja harus saya juga yang mikir?”
“Hehehe.”
Kecewa? Pastinya. Tapi memang angan-angan Seto terlalu tinggi.
Meskipun Sukirlan suka berbagi, tapi sepertinya hampir tidak mungkin hal itu akan berlaku juga pada Reva. Reva adalah bidadari surga yang terlalu sayang untuk dibagi. Kalaupun Seto ada di posisi Sukirlan, ia pasti juga akan selama mungkin menikmati keindahan sang bidadari.
Akhirnya dengan berusaha menyembunyikan kekecewaannya, Seto melangkah kearah Prima yang masih tertidur, akibat obat yang dicampurkan di minuman yang memang sudah disiapkan secara khusus untuknya. Seto mengeluarkan sebuah alat suntik kecil yang masih terbungkus rapi. Seperti sudah terbiasa melakukannya, dengan cepat ia buka dan ia tusukkan ujung tajam jarum suntik itu ke lengan Prima.
Setelahnya, ia angkat tubuh Prima untuk dibawa masuk ke dalam salah satu warung, dan dibiarkan saja terbaring di salah satu bangku. Seto tersenyum kasihan pada Prima.
Seharusnya kamu nggak perlu bawa tunanganmu pulang kesini Mas. Bahkan mungkin, seharusnya kamu nggak perlu pulang lagi kesini. Berurusan sama Sukirlan atau keluarganya adalah sebuah kesalahan besar. Kamu beruntung kalau nanti masih bisa nikah sama Reva, tapi percuma Mas, kamu cuma dapat sisanya. Kamu nggak tahu, apa yang bisa dilakukan Sukirlan setelah berhasil mendapatkan mangsa buruannya.
Setelah itu Seto langsung merapikan alat-alat fotonya, kemudian tanpa pamit pergi meninggalkan kawasan Pager Jurang. Ia baru akan kembali kesini besok, untuk menjemput bosnya, juga Prima dan Reva. Sebuah pekerjaan yang sudah beberapa kali ia jalani, sehingga tanpa perlu lagi diperintah ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Sementara itu Sukirlan dengan santainya berjalan ke salah satu warung. Ke bagian belakang warung itu, lebih tepatnya. Pintu masih tertutup, seperti saat ia tinggalkan tadi. Perlahan ia buka pintunya, terlihat seorang gadis nan cantik jelita, dengan tubuh yang mustahil gagal membuat pria manapun terpesona, menatap nanar kehadiran Sukirlan. Gadis itu, tak lagi menampakkan rona ketakutan. Ada tersirat rasa khawatir dari wajahnya, namun ia justru lebih terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.
“Udah bangun kamu sayang?” tanya Sukirlan, yang dijawab dengan anggukan lemah oleh Reva.
“Mas Prima mana, Mas?” tanya Reva.
“Ada, di sana. Udah dipindahkan ke dalam, biar nggak kedinginan,” jawab Sukirlan yang berjalan mendekati Reva sambil satu persatu pakaiannya ia lepas.
Glek.
Reva menelan ludah saat melihat tubuh Sukirlan, tubuh pejantan yang telah menggagahinya tadi, yang telah menaklukkan dirinya tadi, mulai terbuka sedikit demi sedikit.
“Ta-tapi… dia…” ucap Reva yang terputus karena saat ini sedang tidak fokus, karena pakaian terakhir Sukirlan telah terlepas.
“Sshh…” Sukirlan menempatkan telunjuknya di bibir Reva, membuat dara itu terdiam. Lan tersenyum dan berkacak pinggang tepat di depan wajah sang bidadari.
Kedua tangan Lan kemudian berkacak pinggang dengan pongahnya, seolah menunjukkan betapa berkuasa ia sekarang atas Reva. Hal itu kembali membuat Reva menelan ludah, terlebih batang kejantanan Sukirlan mulai bangun menantang dirinya.
“Tenang aja sayang. Dia cuma tidur kok. Aku jamin, dia akan baik-baik saja. Yang penting sekarang, kita bisa menikmati malam panjang ini berdua saja.”
Reva terdiam.
Lan mengelus-elus rambut dara jelita itu dan memindahkan rambutnya ke samping. Lalu memainkan tangannya untuk mengelus dagu dan pipi sang bidadari.
“Cantik sekali kamu.”
Reva masih diam, tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Namun begitu, perlahan mulutnya terbuka, menyambut kepala penis Sukirlan yang perlahan mulai membesar, sedikit demi sedikit, yang perlahan mendekatinya.
.::..::..::..::..::.
.:: HARI BERIKUTNYA
“Halo? Badalah! Kowe to, Lek? Wasyu! Opo sih? Isuk-isuk wes ngganggu wae!”
Sukirlan mendengus kesal karena istirahatnya terganggu.
Dia letih, setelah semalam memacu birahi dengan begitu menggelora bersama bidadari surga yang baru saja ia taklukan. Tak pernah Sukirlan sampai lepas kontrol seperti ini, sampai-sampai ia terkapar lemas di atas tubuh Reva yang sudah lebih dulu menyerah.
Pengalamannya sebagai penjahat kelamin kelas kakap, tak mampu membantunya menahan diri untuk berhenti menikmati tubuh Reva. Benar-benar telalu lezat untuk dilewatkan. Terlalu nikmat untuk berhenti. Sampai pada akhirnya, tubuhnya yang mencapai batas.
Baru saja ia mengantar Reva dan Prima yang masih linglung pulang. Dia tentu tahu Pak Yus dan Bu Rum sudah berangkat ke sawah. Juga dengan Dena yang sudah berangkat sekolah. Jadi, kondisinya sangat aman untuk mengantar Prima dan Reva tanpa mengundang banyak pertanyaan dari keluarga itu. Biar saja nanti, Reva sendiri yang memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan calon mertuanya, juga menjelaskan kepada Prima.
Baru saja ia memejamkan mata, HP nya menyala tanpa henti. Sebenarnya Sukirlan sedang tidak ingin mengangkat panggilan yang masuk itu. Dia benar-benar capek dan ingin istirahat. Staminanya benar-benar terkuras semalaman. Apalagi, rasanya ingin ia banting saja HP itu saat melihat nama kontak orang yang menghubunginya.
Lek Sobri.
“Hehehe, kamu udah lihat foto yang tak kirim belum Lan?”
“Foto? Foto apa?”
“Iku lho, lihaten dulu. Barusan tak kirim ke HP mu, ada foto sama videonya juga.”
“Halah opo sih? Aku belum buka HP Lek. Aku baru mau tidur ini. Capek. Kesel. Ngantuk aku lek!”
“Jam segini kok baru mau tidur? Habis darimana kamu? Ngentot mesti. Hahaha. Wes tho, deloken sek iku fotone.”
“Opo sih? Tinggal ngomong aja apa susahnya?”
“Wooo, angel e dikandani. Itu, foto telanjangnya Nisa. Kamu tahu Nisa kan? Yang punya toko kue itu, hehehe. Obatmu manjur tenan Lan, tak kasih ke Nisa kemarin, udah tak entotin memeknya yang legit itu. Jan, uenak tenan Lan, hehehe.”
“Hah? Opo? Ojo guyon sampeyan! Jangan bercanda!”
“Kandani og. Makane deloken iku ng HP mu…”
Sukirlan yang sudah benar-benar mengantuk, tiba-tiba seperti punya energi baru mendengar cerita dari Uwak Sobri. Dia ingat lelaki renta itu pernah membeli sebuah obat darinya dengan harga mahal, tapi saat itu dia memang tak bertanya akan diberikan kepada siapa obat itu. Ia pikir hanya salah satu warga Kampung Bawukan saja. Tak disangka tak dinyana, ternyata yang menjadi sasaran pria tua bangka itu adalah Nisa, sang kembang cluster.
Lan melihat ke ponselnya dan matanya terbelalak.
Jingaaaaaaaaan… Ini beneran Nisa? Wuasyuuu… Seksi ngene cooookk.
“Halo. Lek, ini beneran Nisa Lek?”
“Hehehehe, piye? Percaya tho sekarang?”
“Tapi kok itu, malah sama si Juki?”
“Nanti aja tak ceritain detailnya kayak gimana. Yang jelas sekarang aku mau ngikut warga nggerebek rumahnya si Nisa.”
“Loh, nggrebek gimana? Kok bisa warga tahu?”
“Hehehehe. Tadi pagi tak sebarin fotonya di grup RT. Orang-orang pada marah, ngamuk. Meskipun aku tahu, yang bapak-bapak pasti pada ngaceng lihat tubuh moleknya Nisa, hehehehe.”
“Wasyuuuu! Pekokmuuu! Kok bisa malah disebar di grup tho Lek?”
“Yo ndak papa tho? Makanya si Juki tak taruh disitu, jadi kan kesannya si Nisa lagi selingkuh sama dia. Banyangin aja, Nisa yang alim, ternyata aslinya lonte. Mana ngelontenya sama Juki si tukang serabutan lagi. Aku nggak sabar ngelihat betapa marahnya warga, hehehe. Kamu mau ikut nggak Lan?”
“Halaah, aneh-aneh aja tho Lek! Kenapa nggak dibagi ke aku dulu, kan aku bisa ikut ngentotin dia duluan. Kalau gini kan malah jadi susah nantinya!”
“Lho tenang aja. Kalau kamu mau ngerasain memeknya yang super legit itu, tinggal bilang sama aku. Lagian, palingan habis ini Sukirman bakalan dipanggil ke rumahnya Nisa. Aku yakin, masmu itu pasti juga akan cari-cari kesempatan. Ujung-ujungnya apa? Kamu juga bakal ikut ngerasain Lan, hehehehe.”
“Ah mbuh lah Lek, pusing aku.”
Sukirlan langsung menutup begitu saja panggilan dari Uwak Sobri, karena ia yakin lelaki renta itu juga sudah selesai memberinya informasi.
Rasa kantuk yang tadi ia rasakan teramat sangat, kini mulai memudar. Ia kembali membuka HP dan melihat foto yang dikirimkan oleh Uwak Sobri. Sukirlan menggeleng-gelengkan kepala, melihat keindahan tubuh Nisa.
Ia memang sudah lama tahu siapa itu Nisa. Bahkan sudah ada ketertarikan juga pada ibu 2 anak itu. Tapi sosok suaminya yang kerap memberikan ‘upeti’ baik kepada dirinya maupun kakaknya Sukirman, membuatnya jadi segan untuk mencari-cari kesempatan menggoda Nisa.
Ah, tapi aku udah punya Reva. Kalau mau dibanding-bandingkan, Reva nggak kalah sama Nisa. Apalagi Reva masih gadis, masih perawan. Tubuhnya bener-bener masih kencang. Memang sih, susunya masih kalah besar dibandingkan Nisa, tapi kan dengan kehandalan tangan Sukirlan si mekanik susu, nggak akan lama lagi susunya Reva juga bakal lebih montok kayak susunya Nisa itu, hehehehe.
Oh iya, aku ke rumah mas Man aja lah, siapa tahu nanti dapat jackpot, hehehe.
Rasa kantuk yang masih terasa tak menghalangi Sukirlan untuk bangkit. Ia menggeliat sebentar lalu memaksakan kakinya melangkah menuju rumah Sukirman, kakaknya yang menjabat sebagai ketua RT. Rumah mereka yang tak saling berjauhan membuat sebentar saja Sukirlan sudah sampai. Dari kejauhan, ia bisa melihat kakaknya itu nampak tersedak dan memuntahkan cendol yang ia minum.
Wahahahaha. Kenapa itu Mas Man? Pasti lagi lihat fotonya si Nisa.
Terlihat Sukirman tengah tersenyum dan menggumam sambil menatap HP. Semakin yakinlah Sukirlan kalau kakaknya itu sedang melihat dan menikmati foto telanjang Nisa.
“Mas Man! Woy! Mas!”
Lagi-lagi Sukirlan terkekeh melihat saudara tuanya itu nampak kaget dan meletakkan HP nya buru-buru, seperti tidak ingin ketahuan apa yang sedang dia lakukan.
“Walah, ga usah sok imut, Mas. Aku juga sudah lihat kok. Wkwkwkwk. Marai kepengen ya. Ga nyangka itu Mbak Nisa lonte juga. Hahahaha. Tahu gitu dari dulu aku ajak party di Pager Jurang. Suaminya pergi, istrinya mainan kontol tukang sendiri. Hihihi.”
“Ndasmu. Haris itu termasuk salah satu yang sering kasih kita jajan bulanan, hormat sedikit. Aku mau hati-hati menangani laporan warga yang seperti ini. Bagaimana tanggapan mereka, Lan? Mereka ngamuk liat berita ini?”
“Pasti dong. Mas mau panggil polisi atau gimana?”
Sukirman menggeleng. Tepat seperti dugaan Sukirlan, kakaknya tidak akan melibatkan pihak kepolisian dalam hal ini. Ia tahu, tentu saja kakaknya tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa mencuri-curi kesempatan mendekati Nisa. Siapa tahu, tak hanya sekedar membantu menyelesaikan masalah, tapi mungkin saja Sukirman mendapatkan kesempatan untuk melihat, bahkan menikmati tubuh molek milik Nisa. Lagipula, dengan begini Sukirlan bisa memastikan kalau tidak akan ada polisi yang terlibat dalam hal ini. Dengan begitu, dirinya masih akan berada pada posisi aman.
“Kita coba lihat kondisinya. Siapa tahu masih bisa terkendali. Sebentar lagi warga pasti menjemputku. Mau ikut kesana?”
Lan menggeleng, “Ga usah, Mas. Aku ngantuk. Urus dewe lah ya, aku arep turu wae,” jawab Lan sambil menyeruput kopi milik Sukirman. “Puaaaah. Paite koyo setan. Wes ya, Mas. Aku tidur dulu,” ucap Lan sambil masuk ke dalam. Ia masih sempat mendengar kakaknya mengumpat, tapi ia tak peduli.
Sebenarnya Sukirlan bukannya tidak mau. Tapi dia benar-benar capek, dan mengantuk. Dia sebenanrya juga penasaran dengan kondisi Nisa saat ini, tapi dia sudah cukup terpuaskan dengan semalaman bersama Reva. Sangat puas, malah. Sekarang, tinggal beristirahat saja.
.::..::..::..::..::.
Drrrrttt… Drrrrttt… Drrrrttt…
“Sssshhhh… Aaaaakkkkhh sopo sih iki! Dari tadi pengen tidur aja banyak amat yang gangguin. Aku ngantuk gaeeesss… aku pengen turuuuu…!!!”
Rasanya baru sebentar Sukirlan memejamkan mata, HP nya terus bergetar membuatnya sangat terganggu. Hampir saja benar-benar ia banting HP nya kalau tak sempat terbaca nama kontak yang menghubunginya.
Bos Lele.
Buru-buru Lan menekan tombol terima.
“Halo, Bos. Ada apa? Hehehehe. Baru bangun tidur ini.”
“Wedhus! Ditelpon ora diangkat-angkat! Darimana saja kamu?”
“Hehehehe. Selow dikit lah Bos. Baru tidur ini, semalam habis dapat mangsa baru Bos, hehehe. Mau nggak Bos?”
Sekedar basa-basi, Sukirlan menawarkan ‘mangsa’ barunya, yang tak lain adalah Reva. Meskipun ia tahu kalau kemungkinan besar pria yang merupakan bos preman itu akan mau saat ini pastilah sangat kecil, karena dia sendiri saja koleksi mangsanya jauh lebih banyak dari Sukirlan, dan lebih bening-bening.
“Halah… Mangsa baru mangsa baru. Alesanmu basi! Kalau sudah urusan sama memek, susah mau nyari kamu! Jingan! Ini ada urusan penting yang mesti kamu ketahui…”
“Hehehe, serius nih Bos nggak mau? Cakep lho, baru tak perawanin kemarin, hehehe.”
“Wes, itu kapan-kapan aja! aku lagi nggak minat yang begituan! Aku ada berita penting buat kamu, sekaligus kasih kamu peringatan!”
Lan mengernyitkan dahinya. Peringatan? Ada apa ini? Sepertinya orang ini benar-benar sedang marah.
“Emang ada apa sih, Bos?”
“Obat itu. Kamu masih punya stok?”
“Masih kok Bos, masih lumayan ini stoknya.”
“Oke. Untuk sementara tahan, jangan diedarin.”
“Oke. Tapi, emangnya ada apa sih Bos?”
“Kamu tahu kan, ada sesuatu yang terjadi di cluster Kembang Arum Asri di lereng Gunung Mandiri? Ada kehebohan di sana. Aku tertarik dengan itu jadinya aku datang. Ada sesuatu yang menurutku mencurigakan dari peristiwa ini.”
“Loh, Bos kok sampai tahu ada kejadian di cluster Kembang Arum Asri? Emang bos lagi ada di sana?”
“Iya, aku lagi di sini. Barusan aku lihat juga si Sukirman lewat mau ke rumah si Nisa yang ayu itu. Tidak apa-apa, kita biarkan saja dia mengamankan situasi untuk saat ini, toh memang itu tugas dia. Tapi yang pasti, kita tidak ingin ada keterlibatan polisi. Kalau ada mereka, bakal merembet kemana-mana urusannya.”
“Iya Bos.”
“Apalagi aku melihat ada sesuatu yang mencurigakan.”
“Mencurigakan? Apa yang mencurigakan Bos?”
Sukirlan mulai tertarik dengan informasi dari Sarmanto, orang yang selama ini menjadi tempat ia mengambil obat-obatan yang dia gunakan untuk menaklukkan para wanita.
“Iya. Aku lihat ada orang yang mencurigakan. Kalau menurut tebakanku, dia orang yang jadi dalang si Nisa digerebek. Aku juga tahu ada keterlibatan obat itu dalam peristiwa ini, pasti orang itu dapat obat itu dari kamu! Siapa lagi kalau bukan kamu! Satu-satunya dealer di sini kan kamu!”
Untuk kesekian kalinya Sukirlan harus mengakui kecerdasan Sarmanto dalam membaca situasi. Entah bagaimana ceritanya suplayer obat-obatannya itu bisa sampai di cluster Kembang Arum Asri, tapi analisanya sangat tajam. Dan dia sudah tahu, siapa orang yang dimaksud oleh Sarmanto.
“Maksud Bos, mungkin Lek Sobri. Dia tadi…”
“Iya siapalah namanya, aku nggak peduli. Yang penting, sekarang kamu tahan dulu stok yang masih ada, jangan diedarin dulu! Jangan sampai ada orang lain yang tahu peredaran obat itu sudah sampai di Lereng Gunung Mandiri. Wedhus pancene!”
“Baik Bos. Nanti akan saya peringatkan orang-orang yang beli obat di saya, untuk tiarap dulu. Bisa bahaya kalau sampai keberadaan obat-obat ini terendus pihak yang berwajib. Apalagi tempat ini nggak jauh dari obyek wisata, siapa tahu ada intel nggak jauh dari sini.”
“Betul sekali. Kemungkinan ada intel di daerah ini. Aku tidak tahu dia siapa dan aku tidak peduli juga dia yang mana. Yang penting namaku tidak disangkutpautkan dengan urusan apapun di tempat ini, apalagi yang ada urusannya dengan selangkangan kalian! Polisi bisa dengan mudah mengendus masalah obat ini gara-gara diekspos seperti ini dan aku tidak mau terlibat.”
“Jadi, menurut bos, kira-kira di tempat ini, atau di dekat sini, sudah mulai ada intel kepolisian?”
“Iya. Aku belum yakin, nanti aku cari informasi lagi. Makanya, untuk saat ini kamu tiarap dulu. Kasih tau semua anak buahmu untuk tidak gegabah, jangan gunakan dulu apa-apa sampai suasana aman. Beritahu semuanya tanpa terkecuali!”
“Baik Bos. Selain anak buah saya, pelanggan saya juga bakal saya peringatkan.”
“Iya. Ingat baik-baik dan jangan lengah! Apa yang barusan aku bicarakan ini masalah serius. Kenapa aku benar-benar menegaskan ke kamu, karena aku kenal kamu, Lan! Kamu itu bakal lengah kalau sudah ada cewek buka selangkangan lebar-lebar! Begitu ada memek kamu sering meleng dan tidak fokus. Kali ini kamu harus benar-benar serius, jangan macam-macam!”
Klik.
Tuutt… Tuutt… Tuutt…
Panggilan diputus secara sepihak oleh Sarmanto. Itu artinya dia tidak sedang bercanda.
Kini, rasa kantuk Sukirlan benar-benar sudah hilang, berganti dengan emosi yang membuncah. Ia kesal, benar-benar kesal. Bukan karena kata-kata dari Sarmanto, tapi karena keadaan saat ini ternyata sangat serius, jauh lebih serius daripada yang ia kira. Dan semua itu, berawal dari seseorang yang pekok selangit.
“Jingaaaaaaaaan… Ini gara-gara si Sobri! Wuasyuuuu! Ngapain pakai disebar di grup sih?!! Kan tinggal pakai fotonya buat ngancam Nisa, biar bisa ngentotin memeknya terus. Ngapain pakai bikin rusuh kayak gini sih!”
Lan memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing. Harus dia akui, dia memang tidak pintar dalam hal-hal seperti ini. Tadinya dia pikir ini hanya akan menjadi skandal di perumahan saja. Ia sama sekali tak berpikir jauh ke depan, tentang resiko besar yang bisa mereka terima akibat kelakuan si tua bangka Sobri itu.
Dengan amarah yang masih membara, ia membuka aplikasi pesannya, dan membuka salah satu grup yang berisikan para anak buahnya. Sebuah kalimat singkat, namun ia yakin semua anak buahnya paham kalau ini adalah hal yang urgent.
KUMPUL DI MARKAS, SEKARANG!
.::..::..::..::..::.
Sudah lewat tengah hari, tapi matahari masih terik sekali. Belakangan ini cuaca memang sedang panas-panasnya. Mandi di siang hari dengan guyuran air dingin terasa begitu segar di badan, tapi langsung hilang seketika saat semua pakaian selesai dikenakan. Rasanya langsung gerah lagi.
“Kok masih panas banget sih ini, perasaan kemarin nggak sepanas ini deh.”
Prima keluar dari kamarnya. Ia merasa sudah jauh lebih segar sekarang. Air di dalam bak mandi sampai ia habiskan sendiri, karena memang guyuran air itu membuat badannya terasa amat segar. Tapi sekarang dia sudah merasa gerah lagi, padahal pakaian yang ia kenakan saat ini hanyalah kaos oblong dan celana pendek saja.
Ia berjalan menghampiri calon istrinya yang sedang menyiapkan makan siang untuk mereka. Ia merasa perutnya benar-benar lapar. Prima sampai lupa kapan terakhir kali ia mengisi perutnya sampai bisa-bisanya selapar ini. Rasanya seperti abis puasa seharian saja.
Seandainya ia ingat, kalau terakhir dia makan adalah saat sarapan bersama keluarganya kemarin. Setelah itu, belum sempat makan siang ia sudah dibuat tertidur dengan sangat nyenyak oleh Sukirlan, bahkan hingga pagi ini. Hampir 24 jam. Wajar jika sekarang ia sangat kelaparan.
“Sudah selesai Mas, mandinya?” sapa Reva yang sudah duduk di tikar menunggu kedatangan sang calon suami.
Reva juga lapar, meski tak merasa selapar Prima. Ada hal lain yang membuat rasa laparnya teralihkan.
“Udah Dek, tapi ini udah gerah lagi. Hawane sumuk banget, panas banget ya dari tadi,” jawab Prima yang langsung duduk dan mengambil nasi. Tak lupa ia tambahkan beberapa lauk sederhana yang dimasak oleh Reva.
Memang tak banyak yang dihidangkan oleh calon istrinya, karena tidak banyak bahan yang tersedia di dapur. Mau belanja juga sudah terlalu siang. Akhirnya apa yang ada saja yang bisa diolah oleh Reva, dan jadilah menu makan siang dadakan ini. Meski begitu Prima terlihat begitu lahap. Selain karena sebenarnya masakan Reva memang enak, perut Prima sudah tak mau menunggu lagi untuk diisi.
Berbeda dengan Prima, Reva hanya mengambil sedikit. Secukupnya. Ia makanpun dengan santai, tak tergesa-gesa seperti Prima. Sesekali Reva tersenyum melihat sang calon suami yang sampai belepotan makannya, tapi ia juga tak ingin menghentikan apa yang dilakukan oleh Prima. Biar saja, biar calon suaminya itu kenyang dulu.
Saking lahapnya Prima makan, ia tak menyadari kalau mata calon istrinya masih terlihat sembab. Lelaki itu tak tahu kalau Reva menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis.
Keduanya diantar pulang oleh Sukirman dan Seto sekitar jam 8 tadi. Prima yang masih berada dalam pengaruh obat tidur terlihat seperti orang linglung, namun kemudian ia tertidur lagi. Sedangkan Reva langsung menuju ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya.
Gadis cantik itu menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali ia mengguyur badannya, berharap tubuhnya yang telah kotor itu bisa ia bersihkan lagi. Berkali-kali Reva membasuh lubang surgawinya, mengorek bagian dalamnya, berharap sperma Sukirlan yang sudah masuk entah berapa banyaknya, bisa ia keluarkan semuanya.
Reva tak tahu, tak menghitung, dalam semalaman itu berapa kali rahimnya disiram oleh cairan kental sang juragan buah. Reva tak ingin, tapi tak bisa menolak ketika penis besar nan panjang milik pejatannya menghujam begitu dalam dan melepaskan benih-benihnya dalam rahim sang bidadari.
Reva bergidik membayangkan, bagaimana dirinya akhirnya bisa menikmati permainan sang preman dengan penis monsternya itu. Meskipun membuat pangkal pahanya hingga kini terasa ngilu, bahkan untuk berjalan saja ia merasa sedikit kesakitan, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa semalam ini ia seperti telah diajari oleh si Lan, telah diperkenalkan oleh sang penjahat kelamin, tentang kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan.
“Dek… Dek…”
“Eh… I-Iya, kenapa Mas?”
Reva terkejut saat ternyata Prima sedang memanggilnya. Reva benar-benar malu pada dirinya sendiri, bisa-bisanya dia malah teringat betapa penis perkasa Sukirlan telah membuat dirinya terlena.
“Itu, lauknya boleh Mas minta nggak? Hehehe.”
Reva tersenyum lebar. “Oalaah, ya ambil aja tho Mas. Kalau kurang, mau digorengin lagi?”
“Emang masih ada tempenya?”
“Masih dikit sih, tapi sebenarnya itu aku sisain buat Dena, gimana Mas?”
“Eemm… Nanti Dena suruh beli makan di luar aja deh, hehehe.”
Reva menggelengkan kepalanya. Tapi sejurus kemudian dia mengangguk. “Ya udah, aku masakin lagi, Mas.”
“Makasih ya sayangku, hehehe.”
Reva yang memang sudah menyelesaikan makan siangnya yang hanya sedikit itu, mulai berdiri dan berjalan ke arah dapur. Lagi-lagi, karena saking sibuknya sang calon suami makan, Prima sama sekali tak memperhatikan gaya berjalan Reva, yang sedikit mengangkang itu.
Duh, rasanya masih gini aja, kayak masih ada yang mengganjal.
Sambil menggorengkan tempe untuk calon suaminya, berkali-kali Reva menatap Prima yang masih asyik makan. Ia bahkan sudah 3 kali mengambil nasi dari bakulnya. Tak heran jika lelaki itu meminta tambahan lauk, yang sebenarnya merupakan jatah untuk Dena, adiknya.
Terenyuh rasanya, hati Reva. Ia berusaha sangat keras untuk menahan tangisnya. Ia takut membayangkan, bagaimana jika nanti Prima tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia tak bisa membayangkan apa jadinya masa depan pernikahannya, apakah akan lanjut, atau batal, jika Prima tahu semuanya.
Reva takut, jika akhirnya Prima tak bisa menerimanya karena ia sudah tak suci lagi. Ia sudah tak bisa mempertahankan keperawanan, yang sejatinya akan ia berikan kepada Prima. Ia sudah tak bisa mempertahankan tubuhnya dari jamahan orang lain seperti Sukirlan. Ia takut akan apa yang terjadi, jika nantinya Prima tahu kalau rahimnya sudah berkali-kali diisi oleh sperma laknat milik si Lan.
Yang paling ia takutkan adalah...
Gimana nanti kalau Mas Prima tahu, kalau aku… kalau aku malah mulai menikmati… batang kejantanan besar Mas Lan?
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *