“Aida, kamu tunggu di sini sebentar ya? Ada orang yang harus aku temui.”
Aida terkejut mendengar ucapan Pak Sarmanto, apalagi saat ini lelaki tua itu nampak sedang fokus pada ponsel di genggamannya. Padahal tadi setelah menelpon seseorang, wajah pria itu nampak tenang ketika masuk mobil. Tak berselang lama, kini wajahnya terlihat serius lagi.
“Aku, nunggu disini Pak?”
Pak Sarmanto mengangguk, lalu menatap Aida. “Iya, tunggu disini, atau dimanapun, asalkan aman. Aku nggak lama kok, setelah ini pasti bakal ku jemput lagi.”
Aida tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi melihat raut serius di wajah sangar itu, Aida tahu ada sesuatu yang penting, yang dirinya tak boleh mengetahuinya. Masalahnya, ia takut jika harus menunggu disini sendirian. Ia ingin mendekat, ingin melihat tantenya, dan kalau bisa, menolongnya. Tapi dia sama sekali tak punya keberanian.
“Ta-tapi Pak… Aku…”
Pak Sarmanto menatap ke arah Aida, dan ia paham kalau gadis muda yang sudah ia hisap madu keperawanannya itu sedang ketakutan. Wajah sangar itupun tersenyum, yang sama sekali tidak menenangkan untuk Aida.
“Tenang aja, aku cuma mau ketemu si Lan kok, nggak lama.”
“Si Lan?”
Pak Sarmanto mengangguk. “Kamu lihat pria yang lagi jalan kesana itu?” Pak Sarmanto menunjuk ke arah seorang pria yang sedang berjalan santai ke arah rumah tantenya. Aida mengangguk.
“Dia itu namanya Sukirman, ketua RT disini. Nah, yang mau aku temuin itu namanya Sukirlan, adiknya si ketua RT. Mereka masih punya kakak lagi, namanya Sukirno,” Pak Sarmanto mencoba menjelaskan, meskipun Aida belum paham untuk apa ia lelaki itu menyebutkan nama-nama orang yang dia tidak kenali.
“Kalau ada yang berani ganggu kamu, bilang aja kamu disini dilindungi sama Pak Sarmanto, temannya keluarga Sukir. Kalau mereka dengar nama keluarga Sukir, pasti nggak akan ada yang berani nyentuh kamu. Mereka adalah keluarga yang paling disegani di tempat ini, atau bisa dibilang, tempat ini adalah wilayah kekuasaan mereka. Kalau ada yang berani berulah disini, resikonya sangat besar.”
Ucapan Pak Sarmanto tentu saja membuat Aida semakin takut. Ia bisa saja mengatakan hal itu jika ada yang menganggunya. Tapi dia sendiri belum pernah bertemu dengan keluarga Sukir itu, bagaimana jika nanti ada yang menganggunya, dan ternyata itu adalah keluarga Sukir?
Melihat Aida yang semakin ketakutan, Pak Sarmanto malah tertawa.
“Kamu ini, dibilangin jangan takut, malah ketakutan gitu. Gini, Aida. Memang, ketiga kakak beradik itu bajingan. Mereka suka nggak tahu diri kalau ngelihat cewek secantik dan semolek kamu. Tapi mereka juga nggak akan sembarangan. Apalagi kalau mereka tahu, kamu itu adalah punyaku. Kalau soal orang lain, tenang saja, nggak ada yang berani sama keluarga Sukir di tempat ini.”
Aida yang mendengar cerita itu merasa sedikit bergidik. Semenakutkan itukah keluarga Sukir? Apakah selama ini dirinya ternyata berada dalam bahaya karena sering datang ke wilayah ini untuk mengunjungi tantenya? Atau, apakah dia selama ini aman, karena dia adalah keponakan dari Nisa, yang tak lain adalah warga di daerah ini.
“Ya udah, kamu turun dulu ya Da. Nanti aku jemput kalau urusanku sudah selesai.”
“Ba-baik, Pak.”
Tanpa menunggu lama, Aida pun turun dari mobil, yang segera pergi meninggalkannya.
Gadis manis itu masih bingung, tapi ia beranikan diri untuk mengikuti perintah dari Pak Sarmanto. Ia juga berusaha untuk mempercayai kata-kata juragan lele itu, karena semenjak ia mengenalnya sampai saat ini, meskipun dia adalah seorang preman dan telah merenggut keperawanannya, namun Pak Sarmanto tak pernah berbohong kepadanya.
Kini perhatian Aida kembali ke arah rumah tantenya, Nisa. Disana, warga masih nampak ramai. Masih terdengar suara teriakan-teriakan yang cukup menakutkan bagi Aida. Ia yang berdiri cukup jauh saja bisa merasa setakut ini, apalagi saat ini tantenya yang menjadi sasaran kemarahan warga itu.
Aida tak bisa membayangkan dirinya ada di situasi seperti itu. Ia tahu tantenya jauh lebih kuat mental ketimbang dirinya, tapi dari sini saja jelas terlihat bagaimana Nisa begitu terpuruk diserang dengan kata-kata kasar oleh para warga, terutama ibu-ibu kompleks. Dari tempat ia berdiri sekarang, Aida hanya bisa melihat dan menunggu, sambil berharap keadaan akan membaik untuk tantenya. Ia tidak berani untuk mendekat, takut jika situasi berubah menjadi tak terkendali.
“Aaaaahhhhhhhh.”
Aida yang sempat melamun dikejutkan oleh suara teriakan yang tentu sangat familiar baginya. Itu suara Nisa. Kenapa tantenya teriak?
Astaga! Tante!
Aida terkejut melihat salah satu dari ibu-ibu yang sedang marah itu menarik paksa hijab yang dikenakan oleh Nisa dan dibuang begitu saja. Rambut Nisa yang indah itupun tersingkap untuk pertama kalinya di depan orang-orang yang masih memadati bagian depan rumah tantenya itu.
Gadis cantik itu semakin terkesiap ketika melihat ibu-ibu kompleks itu semakin bertingkah barbar. Terlihat salah satunya yang paling vokal memaki-maki Nisa, seolah ingin membakar amarah ibu-ibu lainnya untuk ikut menyerang Nisa.
Aida semakin takut dengan apa yang mungkin akan terjadi pada tantenya. Ia semakin takut untuk mendekat menolong sang tante. Tapi melihat bagaimana orang yang selama ini telah membantunya, memberinya pekerjaan, mengangkat dirinya dan ibunya dari keterpukuran, saat ini sedang begitu tersiksa untuk kesalahan yang Aida yakin tidak dilakukan sang tante, membuat kakinya tanpa bisa ia kendalikan melangkah ke arah rumah Nisa.
Langkahnya semakin cepat tatkala pakaian Nisa sudah semakin terangkat, memperlihatkan paha hingga perutnya. Aida sampai berlari kala daster yang dikenakan tantenya mulai dirobek di bagian dada dan pahanya. Nisa terlihat duduk menangis sambil menutupi tubuh telanjangnya sebisanya. Beberapa orang ibu-ibu masih terus mencemooh, sebagian lagi sedang merekam tubuh telanjang Nisa untuk semakin mempermalukan sang tante.
Aida sudah semakin dekat ketika melihat salah satu dari ibu-ibu kompleks itu nampak mendekat ke arah Nisa dengan emosi yang meluap, dan seperti hendak menampar Nisa. Aida berlari secepatnya sambil berteriak sekencang mungkin.
“Jangan sakiti Tantekuuuuuu!”
Aida langsung berdiri dengan merentangkan kedua tangannya tepat di antara Nisa dan ibu-ibu yang ingin menampar tantenya itu.
Nafasnya masih tersengal-sengal. Ada rasa takut juga yang sebenarnya masih ia rasakan. Namun ia benar-benar tak ingin orang yang selama ini menjadi penyelamatnya, diperlakukan dengan begini kasar dan memalukan.
“Ka-kalian punya bukti apa untuk menyakiti Tante Nisa, hah!? Apakah kalian sudah tahu dengan pasti foto dan video itu asli? Bukan hoax? Jangan main hakim sendiri! Aku mohon hentikan semua ini!”
Aida yang teringat perkataan Pak Sarmanto, bahwa ada kemungkinan tantenya dijebak, berusaha untuk meyakinkan para warga yang sedang marah, bahwa bisa jadi foto dan video ketelanjangan Nisa adalah hoax. Ia tak tahu darimana ia bisa mendapatkan keberanian seperti ini, yang jelas ia hanya ingin melindungi sang tante semampu yang ia bisa.
“Aish! Jangan dengarkan diaaaa! Dia kan keponakan Nisa! Jelas lah mau membantu Tante-nya!” salah satu ibu-ibu yang tengah emosi tiba-tiba saja mendorong Aida sampai gadis itu terjatuh.
Aduuuh…
Aida meringis kesakitan. Meskipun ia tahu itu adalah resiko menolong tantenya, namun ternyata apa yang dilakukan oleh ibu-ibu itu melebihi apa yang ia perkirakan. Ia tak siap menerima dorongan seperti itu tadi, sehingga tak mempersiapkan dirinya untuk terjatuh.
“AIDA!”
Aida melihat tantenya seperti hendak bangkit untuk menolongnya, namun di saat yang bersamaan ibu-ibu yang berada di dekatnya nampak semakin buas mendekatinya, ingin meneruskan niat mereka menelanjangi Nisa.
Aida tak berani melihat apa yang akan terjadi. Ia hanya bisa menutup mata, tak tega melihat kondisi tantenya yang hendak dikeroyok oleh ibu-ibu yang sudah tak terkendali lagi emosinya itu.
“Sttooppppp! Bapak dan Ibu!”
Tiba-tiba saja Aida dikejutkan oleh suara asing seorang perempuan. Sontak ia membuka matanya, menatap sosok perempuan muda yang hadir di depan Tante Nisa dan melindunginya.
Siapa dia?
“Mo-mohon jangan dilanjutkan! Jangan sampai anda-anda semua menghakimi seseorang tanpa ada bukti yang kuat! Bukankah seorang polisi pun harus mengumpulkan bukti yang valid sampai benar-benar tak terbantahkan agar bisa menghukum seorang penjahat? Kalau belum terbukti bersalah, tidak bisa dituduh bersalah! Saya mohon hentikan!”
Tak hanya perempuan muda itu, Aida juga melihat ada beberapa orang lagi yang datang dan berdiri berjajar melindungi Nisa. Meski tak mengenal mereka, namun Aida sangat bersyukur bantuan datang di saat yang sangat tepat.
Tak lama setelah itu nampak seorang wanita cantik yang berlari ke arah Nisa dan langsung menutupi ketelanjangan sang tante dengan daster yang tadi dipakai olehnya. Wanita itupun langsung memeluk tubuh Nisa, mengelus punggungnya untuk menenangkannya. Aida tahu siapa wanita itu, yang tak lain adalah salah satu sahabat sang Tante, yaitu Amy.
Aida ikut meneteskan air mata saat melihat sang tante nampak menumpahkan semua beban kesedihan dan rasa putus asanya dalam pelukan Amy. Nisa nampak menangis tersedu-sedu tanpa bisa ia tahan.
“Mbak ini benar, Bapak dan Ibu.”
Perhatian Aida kali ini teralih pada seorang pria yang ternyata sudah berdiri di tengah-tengah mereka. Seorang pria tampan yang juga dikenal oleh Aida, yang tak lain adalah Ge, suami dari Amy.
“Kita tidak bisa semena-mena berlaku tanpa bukti yang pasti dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan hanya gara-gara hoax, justru njenengan-njenengan yang nantinya kena pasal!” ucap Ge dengan mantap, membuat keramaian di depan rumah Nisa nampak mulai berkurang.
“Tapi mas Ge… Sudah jelas-jelas loh buktinya… Mas Ge sendiri juga liat kan?” seorang bapak-bapak nampak menjawab dan menapat dukungan dari mayoritas lelaki di situ.
“Oke, anggap saja seperti itu. Tapi kalian juga mesti tahu. Sekarang itu sudah zamannya AI! Bisa saja kan foto dan video itu dipermak di aplikasi AI?”
Perempuan muda berwajah ayu itu yang tadi membela Nisa, kembali bersuara.
Ah iya, benar juga ya. AI. Ini bisa jadi alasan buat bantuin Tante Nisa, batin Aida.
“Menggunakan AI itu bisa bikin kalian lakukan segampang memencet tombol di hape! Sudah gampang sekali sekarang! Jangan gegabah!”
Ge nampak mengangguk menyetujui ucapan perempuan muda itu, “Njenengan-njenengan tahu AI mboten? AI meniko singkatan, Bapak Ibu. Singkatan dari Artificial Intellegence, alisa kecerdasan buatan. Jadi gampangnya, AI itu program komputer yang dapat membantu kita membuat foto dan video tapi tidak asli, semua dibuat oleh komputer tapi seakan-akan asli. Tidak kelihatan seperti gambar, kelihatannya seperti asli. Nah, dengan menggunakan Ai, mudah sekali bagi kita untuk memfitnah orang dengan menukar wajah orang itu dengan wajah orang lain.”
Aida nampak lega saat melihat masa mulai ragu-ragu setelah mendengar penjelasan dari Ge. Ia bersyukur, ada Ge disaat seperti ini, dimana ia bisa menjelaskan dengan sederhana namun jelas sehingga para warga bisa memahami apa yang mereka maksudkan. Ia mulai mendengar bisikan demi bisikan yang penuh dengan keraguan.
Di saat itulah, muncul seorang pria yang berdiri di samping perempuan muda berwajah ayu itu. Ia tak lain adalah Sukirman, sang ketua RT.
“Lagipula seandainya mereka beneran berzina, apakah kalian bisa memastikan dimana mereka melakukannya?” ucap Pak Man yang membuat warga semakin terdiam.
Pria itu kemudian menunjuk rumah Haris dan Nisa, “Di rumah ini? Ada tidak satu orang pun yang sudah memeriksa apakah ranjang yang ada di dalam rumah Bu Nisa itu sama dengan ranjang yang ada di grup WA?”
Kembali kerumunan masa itu semakin terdiam. Beberapa orang bahkan saling berpandangan. Sebagian orang, yang tentu saja merupakan tetangga Nisa, pernah masuk ke dalam rumah itu, dan memang berbeda sekali suasana antara yang ada di video dan suasana di rumah Nisa.
“Coba Pak Irwan dan Pak Gunawan bisa memeriksa ke dalam rumah… Oh iya, Kak Nisa, bolehkan mereka masuk ke dalam untuk memastikannya?” tanya Ge dengan sopan kepada Nisa.
Wanita yang nampak masih terisak didalam pelukan istri Ge itu hanya bisa mengangguk lemah. Melihat itu, Pak Irwan dan Pak Gunawan pun bergegas masuk untuk memeriksa ranjang di dalam rumah Nisa. Tak lama kemudian mereka berdua keluar dan ditanyai oleh orang-orang yang sudah menunggu.
“Bagaimana? Apakah ada kemiripan?” tanya Pak Man.
Kedua bapak-bapak itupun menggelengkan kepala yang membuat kerumunan mulai heboh.
“Oke, sekarang perwakilan ibu-ibu deh, bisa memeriksa sendiri ke dalam,” ucap Pak Man.
Bu Juminten dan Bu Sarinem, dua orang ibu-ibu yang paling vokal dan paling emosian pun bergegas maju untuk mewakili para ibu-ibu untuk memeriksa ranjang di dalam. Setelah mereka memeriskanya, mereka keluar dengan raut wajah yang terlihat menyesal.
“Bagaimana Bu? mirip dengan yang ada di video?” tanya Pak Man dengan nada yang tegas, yang mendapatkan jawaban berupa gelengan kepala dari keduanya.
“Bapak dan Ibu mohon di dengarkan. Sekarang itu sudah tahun 2024. Nopo-nopo niku sampun maju pesat. Semuanya sudah sangat maju. Njenengan-njenengan niku seharusnya sudah tidak bisa dibodohi lagi oleh teknologi. Semua harus dicek ulang dengan seksama tanpa terprovokasi dengan mudah. Saya mohon dengan sangat kepada Bapak dan Ibu semua. Tolong, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Sebagai orang yang didapuk memimpin kawasan ini jujur saya tidak nyaman. Saya tidak mau kejadian ini terulang, entah kepada siapapun. Tolong kalau ada berita menyesatkan, silahkan crosscheck dulu. Jangan langsung main hakim sendiri. Tolong atur emosinya. Demi kenyamanan kita bersama dalam tinggal di cluster ini maupun di desa Growol dan Bawukan.”
“Sekarang saya mau kalian semua meminta maaf ke Bu Nisa juga kepada Mang Juki. Saya benar-benar kesal. Asli. Saya kecewa pada keputusan kalian yang main hakim sendiri. Bagaimana kalau hal ini terjadi pada diri kalian, istri-istri kalian, anak-anak kalian. Apa kalian puas dengan berbuat barbar begini? Apa kalian senang? Kalian juga pasti sedih kan?”
Ucapan panjang lebar dari Sukirman benar-benar membuat para warga terdiam. Ucapan yang masuk akal dan sulit sekali untuk dibantah.
Aida benar-benar lega, bahkan sempat terkesima dengan ucapan penuh wibawa yang keluar dari mulut ketua RT itu. Namun mengingat cerita yang ia dengarkan dari Pak Sarmanto mengenai Sukirman dan keluarganya, kembali tersadar untuk tak terlalu menaruh respek kepada pria paruh baya itu. Tapi bagaimanapun juga, ia tetap merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Sukriman.
Setelah kembali diminta oleh Pak Man, akhirnya satu persatu warga mulai meminta maaf, baik itu kepada Nisa maupun Mang Juki. Setelah itu para kerumunan pun membubarkan diri meninggalkan rumah Nisa untuk kembali ke rumah masing-masing.
“Silahkan dipakai baju kalian lagi,” ucap Sukirman penuh wibawa setelah keadaan sepi. Aida bisa melihat bagaimana pria itu meneguk ludah saat melihat kemolekan tubuh mulus tantenya yang berada tepat di depan matanya.
Bener kata Pak Sarmanto. Pak Man ini matanya jelalatan begitu. Untung aja Tante Nisa warga sini, kalau nggak bisa bahaya.
Bukan hanya Pak Man, tentu saja. Namun Aida juga bisa melihat Ge melakukan hal yang sama, matanya terfokus pada tubuh tantenya yang masih terbuka dan hanya ditutupi dengan daster alakadarnya saja. Meski tak sefrontal Pak Man yang jelas-jelas menatap Nisa, namun Aida bisa melihat sesekali Ge curi pandang menikmati tubuh molek tantenya.
Huh dasar, laki-laki semuanya sama aja!
Aida memang bersyukur dan berterima kasih. Tapi ia juga kesal pada kedua lelaki itu, yang tak mau melewatkan kesempatan dalam kesempitan untuk melihat dan melirik keindahan tubuh tantenya yang selama ini tersembunyi dalam balutan busana sopan dan tertutupnya.
Setelah kerumunan warga bubar, Aida melihat Pak Man sedang berbicara dengan Mang Juki. Ia tak tertarik untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah perempuan muda yang tadi ikut membela tantenya bersama teman-temannya. Ia mendekatinya, ingin berterima kasih sekaligus berkenalan dengan mereka.
“Mbak, terima kasih banyak, tadi sudah membantu membela tante saya,” ucap Aida pada perempuan muda itu.
“Iya Mbak, sama-sama.”
“Kalau boleh tahu, Mbak ini siapa? Saya sepertinya belum pernah lihat Mbak,” tanya Aida.
“Oh iya. Nama saya Ayu,” jawab Ayu sambil menyalami Aida. “Saya dan temen-teman ini mahasiswa yang mau KKP di desa Bawukan sini Mbak.”
“Oooh Mbak Ayu dan temen-temennya ini mahasiswa KKP? Nama saya Aida, Mbak. Keponakannya Tante Nisa.”
Ayu pun mengangguk.
“Saya sebenarnya nggak kenal sama Mbak Nisa, dan nggak bener-bener tahu apa yang terjadi. Tapi saya paling nggak bisa lihat seorang perempuan direndahkan seperti itu Da. Ya gimanapun kan kita juga perempuan, mana tega ngelihat perempuan lain dikayak gituin, apalagi belum bener-bener terbukti bersalah kan?”
Aida mengangguk.
“Iya. Ya tapi yang jelas, aku makasih banget sama Mbak Ayu dan teman-teman. Kalau tadi Mbak nggak datang tepat waktu, entah apa yang terjadi sama aku dan tante Nisa.”
“Iya Da, udah nggak apa-apa. Ya udah, kami bantuin bersih-bersih dulu ya, ini halaman berantakan banget,” ucap Ayu.
Aida hanya mengangguk. Ia sebenarnya juga ingin membantu, tapi ia ingin melihat kondisi tantenya terlebih dahulu.
Aida melihat saat ini Nisa masih berada di dalam pelukan Amy. Nisa nampak masih menangis, dan sedang ditenangkan oleh Amy dan Ge. Aida tak ingin mengganggu mereka, ia membiarkan pasangan suami istri itu menenangkan tantenya.
Tak lama kemudian, setelah Nisa mulai bisa ditenangkan oleh Amy dan Ge, pasangan suami istri itupun pamit. Begitu Amy dan Ge keluar melewati gerbang pagar rumah Nisa itulah, Aida mulai mendekati tantenya.
“Tante…”
Nisa menoleh padanya, memaksakan diri untuk tersenyum. Melihat senyuman terpaksa dari tantenya itu langsung meluluhkan pertahanan Aida. Ia yang sedari tadi berusaha untuk kuat, tak mampu lagi menahan tangisnya. Ia berhambur untuk memeluk tubuh tantenya.
“Maafin Aida, Tante. Aida tidak bisa berbuat apa-apa melihat Tante direndahkan oleh ibu-ibu brengsek tadi. Aida pengen membantu, tapi… tapi…”
Aida menumpahkan semua uneg-unegnya dengan penuh emosi. Ia benar-benar marah sekali hari ini. Pertama, ia marah karena mengira kalau keperawanan yang telah ia korbankan kepada Pak Sarmanto agar bisa melindungi Nisa, ternyata sia-sia karena sang tante malah berzina dengan pria lain.
Namun ia menjadi lebih marah lagi, setelah memahami bahwa tantenya ternyata tak lebih dari sekedar korban. Korban pemerkosaan, dan juga korban fitnah. Belum lagi, ketika dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Nisa direndahkan dengan begitu rendahnya oleh ibu-ibu yang berusaha untuk menghakimi tantenya itu.
Aida benar-benar marah.
“Sudah tidak apa-apa, Aida. Se-semuanya sudah selesai.”
Ucapan lembut dari Nisa secara ajaib bisa menenangkan amarah Aida. Ia menarik nafas panjang dan mempererat pelukan di tubuh tantenya.
“Anak-anakku! Bagaimana anak-anakku!?”
“Anak-anak aman di rumah depan… di rumah Mbak Yuna. Tante Nisa tidak usah khawatir. Mereka diselamatkan sama kakak-kakak KKP. Mereka tidak tahu kok apa yang tadi terjadi pada Tante.”
“Syukurlah kalau gitu, aku lega, Aida.”
Akhirnya Aida bisa sedikit tersenyum saat melihat tantenya bisa menarik nafas panjang. Masalah yang ia alami memang berat, sangat berat. Tapi setidaknya saat ini ia bisa memastikan kalau kedua anaknya berada dalam kondisi yang aman. Itu yang paling penting untuk saat ini.
“Iya. Tante tidak usah khawatir. Untuk saat ini, Tante sebaiknya istirahat dan tidak perlu berpikir macam-macam dulu. Tante full istirahat aja ya di rumah sampai om Haris pulang.”
Aida tak sempat membaca perubahan ekspresi dari tantenya. Ia yang merasa kalau tantenya sudah jauh lebih tenang, iapun meminta ijin untuk bergabung dengan Ayu dan teman-temannya untuk membersihkan bagian depan rumah Nisa. Disana ia lihat Pak RT masih berkomunikasi dengan beberapa orang. Dari sekilas yang ia dengar, Pak Man nampak memberi instruksi kepada orang-orang itu terkait dengan keamanan di dalam cluster.
Setelah beberapa saat membersihkan bagian depan rumah Nisa, halaman itu sudah nampak lebih mendingan ketimbang sebelumnya. Memang, masih banyak lagi yang harus dirapikan, tapi untuk saat ini sampah-sampah yang berserakan sudah dibereskan.
“Da, kami sudah selesai. Kebetulan juga setelah ini kami mau ke balai desa, ada beberapa hal yang harus kami urus disana. Kami pamit dulu ya.”
“Eh sebentar Kak. Mau ke balai desa? Aku, boleh ikut?”
“Ikut? Mau ada urusan disana?”
“Ng… Eh, iya. Boleh ya?”
Ayu pun mengangguk. Ia dan teman-temannya kemudian meminta ijin kepada Pak RT dan beberapa orang yang masih disana. Ia menunggu Aida sejenak yang sepertinya ingin minta ijin kepada tantenya, namun sepertinya sang tante sudah masuk ke dalam rumah dan bahkan rumahnya sudah dikunci.
.::..::..::..::..::.
Saat ini Aida duduk saling berhadapan dengan Ayu. Sementara itu teman-teman Ayu yang lain nampak sibuk wara-wiri mengurus beberapa keperluan mereka. Aida nampak melirik teman-teman Ayu, seperti ingin memastikan kalau mereka benar-benar sibuk dan tak sampai mendengar percakapan ia dengan Ayu.
“Tenang saja, mereka tidak akan mengganggu kita. Hihihi,” ucap Ayu yang sedikit menenangkan Aida yang sedang berkaca-kaca.
“Ti-tidak, hanya saja tidak enak kalau…” Aida nampak menjeda bicaranya, lalu menggeleng untuk mengalihkan pembicaraan, “Te-terima kasih, Kak. Kakak benar-benar hebat. Sangat pengertian sekali. Paham apa yang aku inginkan.”
“Kelihatan kok dari gerak-gerik kamu, Aida. Tenang saja, teman-temanku bakal sangat sibuk jadi tidak akan sempat duduk dengan kita.”
“Iya…” Aida merasa sedikit lega.
“Jadi? Kenapa kamu ke sini? Menunggu jemputan ke bawah? Kenapa tidak di tempat Tantemu saja?”
“Aku memang menunggu jemputan, Kak. Ada te-…teman yang akan datang setelah menyelesaikan urusannya dengan mas Lan. Entah apa yang mereka perbincangkan. Aku tidak ingin mengganggu Tante Nisa hari ini, mudah-mudahan dia bisa beristirahat setelah pagi tadi mendapatkan cobaan…”
“Mudah-mudahan yaa…”
Aida mengangguk. “A-aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan Kakak tadi pagi. Tanteku pasti merasa terbantu dengan pertolongan Kakak. Suasana begitu kacau dan…”
“Sama-sama,” ucap Ayu sambil menepuk pelan punggung tangan Aida. “Senang bisa membantu. Kasihan Tante kamu. Aku memang belum kenal dekat dengan Mbak Nisa, atau siapapun di tempat ini. Tapi aku merasa tidak ada satu wanita pun yang pantas diperlakukan seperti tadi pagi. Bersalah atau tidak, aku merasa yang dilakukan terhadap Mbak Nisa adalah pelecehan.”
Aida tertunduk lesu, bibirnya bergetar tak yakin, tapi kemudian ia bisa menjawab lirih, “Dia tidak bersalah…”
Ayu tersenyum menggenggam tangan Aida. “Tahu tidak? Aku setuju sama kamu, Aida. Entah bagaimana aku melihat sosok seperti Mbak Nisa sepertinya tidak akan melakukan hal semacam itu… walaupun, aku belum pernah mengenal dekat dirinya. Tapi terlihat kok dari auranya, wanita alim yang dijebak itu berbeda dengan wanita nakal yang bersalah.”
Aida tersenyum. Namun ia bisa menangkap nada keragu-raguan dari ucapan Ayu. Aida paham. Ia tidak menyalahkan Ayu. Bagaimanapun gadis cantik itu belum mengenal tantenya. Pertama kali melihat tantenya dalam kondisi seperti itu, tentu tidak mudah untuk meyakinkan diri bahwa Nisa adalah benar wanita baik-baik.
“Percayalah, Kak. Tante tidak akan melakukan hal semacam itu. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa ada orang yang sejahat itu menyebarkan berita hoax mengenai tante yang sangat aku sayangi. Tante adalah orang baik yang telah menyelamatkan aku dari keterpurukan karena keluarga aku broken home. Tante memberi aku pekerjaan dan menyekolahkan aku, memberikan aku dan teman-teman aku ilmu tata boga… aku tidak… aku tidak pernah berpikir Tante akan mengalami hal buruk semacam ini. Hoax ataupun tidak, reputasi Tante pasti hancur setelah ini.”
Aida nampak kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Perasaan emosi kembali menyeruak di dadanya. Dia benar-benar ingin tahu, siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Kalaupun tantenya memang benar-benar berzina, siapa yang tega menyebarkan foto dan videonya? Kalaupun tantenya dijebak, siapa bajingan yang tega menjebak dan memperkosa tantenya?
“Bagaimana kondisi Tantemu?” tanya Ayu, yang sepertinya mulai sedikit memahami kondisi Aida.
“Sudah agak tenang saat aku tinggal tadi.”
“Habis ini kesana lagi?”
Aida menggeleng, “Seperti yang aku bilang, aku nunggu jemputan. Setelah ini aku harus pulang. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di rumah, Kak. Aku punya banyak tugas termasuk membelikan obat untuk ibuku.”
“Oh gitu…”
Merasa pembicaraan mengenai Nisa dan kejadian yang menimpanya tadi pagi telah selesai, Aida merasa ini saatnya ia menyampaikan maksud sebenarnya kenapa ia bersikeras ikut rombongan Ayu ke balai desa. Ia pun mulai berbisik pada Ayu.
“Aku, tidak tahu penelitian apa yang Kakak dan teman-teman kerjakan di sini, tapi pastikan berhati-hati. Tempat ini bukanlah taman bunga, tempat ini tidak se-asri dan se-harum namanya. Aku tidak ingin menakut-nakuti. Tapi tempat ini sangat mengerikan untuk wanita seayu Mbak Ayu. Mbak lihat sendiri apa yang terjadi pada Tanteku. Mbak dan teman-teman harus ekstra hati-hati. Ada orang-orang jahat di tempat ini.”
Ayu terlihat terkejut, lalu kemudian menghela nafas panjang.
“Be-begitu ya?”
Aida mengangguk. “Terutama sekali berhati-hatilah terhadap keluarga Sukir. Keluarga mereka… terutama sekali dimulai dari Pak RT Sukirman, Pak Sukirno, dan adik mereka Mas Sukirlan. Ketiganya yang memegang tempat ini. Aku sedikit banyak tahu setelah mendapatkan informasi dari… dari… pacarku…”
Aida justru gugup dan gelagapan saat akan mengakhiri perkataannya. Ia hampir saja menyembut Pak Sarmanto, tapi ia tentu akan bingung jika ditanya siapa itu Pak Sarmanto. Akhirnya ia harus berbohong.
“Pacar? Pacar Aida penghuni kampung ini? Siapa namanya?”
Nah kan, ditanya. Aida merutuki kecerobohannya.
“Bu-bukan sih. Pak Sarma… ma-maksudku, pa-pacarku tidak tinggal di sini. Dia… err… pemerhati tempat ini, dia punya kepentingan di sini. Jadi aku banyak tahu mengenai bahayanya tempat ini. Tolong dipertimbangkan lagi jika tetap KKP di sini, Kak.”
Entah kenapa, Aida merasa dirinya harus memperingatkan Ayu meski ia baru mengenalnya hari ini. Mungkin, karena ingin membalas budi terhadap pertolongan yang diberikan oleh Ayu dan teman-temannya pada Nisa tadi pagi. Apalagi, dia melihat Ayu yang begitu cantik dan bertubuh indah. Mengingat cerita dari Pak Sarmanto, ia langsung paham bahaya yang mengancam gadis cantik itu.
“Yah, bagaimana ya… sepertinya tidak bisa, Aida. Kami sudah terlanjur mengajukan ijin dan melaluo banyak prosedur untuk bisa melakukan penelitian KKP di tempat ini. Akan sangat repot jika ijinnya ditangguhkan dan kami pindah ke tempat lain. Mudah-mudahan sih tidak terjadi apa-apa selama masa penelitian kami nanti.”
Aida agak kecewa, namun ia paham dengan yang dikatakan oleh Ayu. Urusan birokrasi, tentu akan sangat merepotkan.
“Amin. Mudah-mudahan ya, Kak. Tapi, kenapa Kakak sampai bela-belain mengerjakan KKP di sini?”
“Karena tempat ini menyediakan banyak peluang penelitian. Lokasinya indah, potensinya masih banyak yang belum tergali, dan orangnya ramah-ramah. Aku yakin kami akan bisa menghasilkan penelitian yang terbaik di kampus jika mampu mengumpulkan data-data penting dari tempat ini. Hihihi. Salah satu dosen pembimbing akademik kami yang mengusulkan.”
“Oh begitu. Tapi… kenapa terbaik? bukankah ada tempat KKP lain?” tanya Aida yang masih penasaran dengan alasan pemilihan tempat ini.
“Karena aku akan membuat penelitian terbaik mengenai Kembang Arum Asri, Desa Bawukan dan Desa Growol. Tempat ini sungguh menarik… bahkan berkesan mistis tidak sih?”
“Wah. Sepertinya kakak kompetitif juga ya? Selalu ingin yang terbaik.”
“Harus. Aku ingin memperoleh prestasi sebanyak-banyaknya supaya melapangkan jalanku untuk mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri. Aku ini mahasiswi yang lapar sertifikat, hihihi. Selama belum kenyang, hars berusaha terus dan terus. Kalau Maudi Ayunda bisa, maka aku juga harus bisa. Hihihi.”
“Wow… begitu ya, Kak.”
Ada kesan kagum yang muncul dari Aida setelah mendengarkan cerita Ayu yang begitu bersemangat, yakin dan berapi-api. Tapi, entah kenapa Aida merasa, bahwa ambisi Ayu bisa saja mendatangkan sesuatu yang tidak baik di masa mendatang. Tentu saja Aida tak sampai hati mengatakannya kepada Ayu. Takutnya ia dikira tidak mendukungnya. Takutnya ia dikira ingin mematahkan semangat Ayu.
Belum sempat Aida melanjutkan pertanyaannya, ia mendapatkan pesan dari Pak Sarmanto kalau lelaki itu telah menunggu di depan balai desa. Karena dia memang buru-buru ingin segera pulang, ia pun pamit kepada Ayu.
Kedua gadis cantik itu saling berpelukan. Ayu melepas kepergian Aida dengan perasaan lega. Ia masih bisa menyembunyikan apa yang terjadi pada dirinya dari Aida, gadis yang sepertinya tahu banyak tentang tempat ini. Namun Aida meninggalkan Ayu dengan kekhawatiran.
Semoga ini hanya perasaanku saja. Semoga semua baik-baik saja. Semoga Kak Ayu nggak kenapa-kenapa.
.::..::..::..::..::.
“Gimana, ada yang gangguin kamu nggak tadi?” tanya Pak Sarmanto, saat mobil sudah kembali berjalan.
Hujan yang turun deras mereka tembus dengan santai karena kepiawaian sopir pak Sarmanto yang sudah terbiasa dengan medan ini.
Aida sedikit merasa tenang, Ia menggelengkan kepala. “Nggak ada Pak. Tadi waktu Bapak tinggal, nggak lama saya ke tempat Tante Nisa.”
Aida pun kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi, sejak ia turun dari mobil Pak Sarmanto, sampai kemudian bagaimana chaos-nya suasana di depan rumah Nisa, hingga kemudian kerumunan bisa ditenangkan bahkan dipaksa meminta maaf kepada Nisa dan Mang Juki oleh Sukirman, hingga bagaimana ia berkenalan dan ngobrol dengan Ayu di balai desa.
Hampir semuanya diceritakan oleh Aida, namun ia tak menceritakan tentang peringatan yang ia berikan kepada Ayu. Entah kenapa, Aida merasa saat ini belum perlu, atau mungkin memang tidak perlu menceritakan hal itu kepada Pak Sarmanto.
“Bapak tadi ketemu sama Mas Sukirlan, ada apa Pak? Apa ini soal Tante Nisa?” tanya Aida setelah mengakhiri cerita panjangnya.
Pak Sarmanto mengangguk.
“Iya, kami membahas soal kejadian yang menimpa tantemu itu.”
Aida pun semakin penasaran dan tertarik untuk mengetahui apa yang kira-kira dibicarakan oleh Pak Sarmanto dan Sukirlan tadi.
“Jadi, gimana Pak? Apa sudah ada petunjuk? Apa yang sebenarnya terjadi sama Tante Nisa? Apa bener dia dijebak dan diperkosa? Siapa pelakuknya Pak? Apa sudah ketahuan?”
Pak Sarmanto tersenyum mendengar rentetan pertanyaan dari keponakan Nisa itu. Ia tentu paham tentang rasa ingin tahu dari gadis yang beberapa hari lalu ia perawani itu. Gadis yang telah mempertaruhkan kesucian yang ia jaga selama ini untuk melindungi tantenya, namun ternyata kini di luar perkiraan, tantenya justru menjadi mangsa dari serigala yang lainnya.
“Kami sudah tahu siapa pelakunya, dan sudah tahu apa motif dari si pelaku ini,” jawab Pak Sarmanto dengan tenang.
“Siapa Pak? Terus… terus, apa yang akan dilakukan sama si pelaku itu?”
Pak Sarmanto bisa merasakan kalau perlahan emosi Aida mulai naik. Dia benar-benar sangat penasaran dengan sosok pria yang begitu tega membuat tantenya seperti sekarang. Memperkosa saja sudah membuat Aida begitu marah, apalagi ini sampai mempermalukan sang tante, sampai-sampai rumahnya digeruduk oleh warga, bahkan Nisa sampai hampir ditelanjangi oleh orang-orang itu. Sungguh biadab kelakuan orang yang menjebak tantenya.
“Ada, salah satu warga di sana. Kamu tidak perlu tahu siapa dia, karena hari ini juga dia akan diurus oleh Sukirlan dan keluarganya. Apa yang dilakukan orang itu sudah di luar batas, dan itu tidak bisa mereka terima.”
Aida menahan nafas, ingin meledakkan amarahnya namun ia tak berani terhadap Pak Sarmanto. Ia sangat ingin bisa mengetahui, siapa sebenarnya orang yang telah mempermalukan tantenya. Ia ingin bisa turut serta memberi pelajaran pada pria biadab itu.
Fiuuuuuuuhhhh…
Aida menarik nafas dalam-dalam sebelum menghebuskannya dengan keras. Ia masih sangat marah, namun ia berusaha untuk menahannya di depan Pak Sarmanto. Meski ia tak perlu tahu, tapi ia tetap ingin balas dendam.
“Pak…”
“Kenapa, sayang?”
“Kalau aku nggak boleh tahu siapa pelakunya, apa aku boleh, minta sesuatu?”
Pak Sarmanto menoleh ke arah Aida. Ia tatap dalam-dalam mata gadis itu, dan ia tahu ada kemarahan besar disana. Lelaki itupun mengangguk.
“Kamu mau minta apa?”
“Aku mau minta, orang itu, si biadab itu, dihukum berat!”
“Hahaha… kamu tenang saja, Aida. Malam ini juga, akan menjadi malam terakhirnya bisa menghirup udara di dunia ini. Setelah malam ini, pria bajingan itu akan segera pindah alam,” jawab Pak Sarmanto.
Namun mendengar itu Aida menggelengkan kepalanya, membuat Pak Sarmanto mengerutkan dahi.
“Kenapa, Aida?”
“Terlalu mudah, kalau dia langsung dibunuh. Terlalu ringan buat dia, Pak.”
Entah untuk alasan apa, tapi mendengarkan Aida mengatakan itu dengan nada datar dan tatapan tajam penuh dendam, membuat Pak Sarmanto untuk sesaat merasakan sebuah kengerian. Sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. Berkali-kali ia terlibat konflik dengan preman-preman yang menjadi musuhnya, berkali-kali dia harus berurusan dengan pihak berwajib, berkali-kali ia menghadapi situasi yang mengancam keselamatannya, ia tak pernah merasa takut. Namun saat ini, merasakan amarah dari seorang perempuan muda yang sebenarnya sudah berada di dalam genggamannya, terbesit sebuah kengerian di hati Pak Sarmanto.
“Lalu, apa yang kamu inginkan?”
“Aku mau, setidaknya dia kehilangan 2 organ tubuhnya, Pak.”
Sekali lagi, ucapan Aida dengan nada datar itu dirasakan Pak Sarmanto dengan rasa kengerian yang membuatnya sedikit ngilu.
“Apa saja?” hanya itu pertanyaan yang bisa keluar dari mulut Pak Sarmanto.
“Pertama, orang itu telah memperkosa tanteku, telah merusak kesuciannya sebagai seorang wanita. Kedua, orang itu telah menyebarkan fitnah yang telah merusak reputasinya sebagai seorang istri yang setia dan ibu yang penyayang kepada anak-anaknya,” jawab Aida, sambil matanya tetap menatap tajam Pak Sarmanto. “Aku mau, penis dan lidah orang itu, dipotong!”
Gleg!
Pak Sarmanto, seorang kepala preman yang sudah malang melintang di dunia kriminal, yang sudah berkali-kali menyiksa orang, dan tak terhitung berapa nyawa yang melayang karena perintahnya, benar-benar merasa terintimidasi oleh permintaan seorang gadis muda. Gadis lugu yang penuh amarah dan dendam ini, nyatanya memiliki permintaan yang membuatnya merasa bergidik ngeri.
Namun sebagai seorang yang sudah kenyang pengalaman, Pak Sarmanto dengan cepat bisa mengendalikan dirinya. Dia pun tersenyum, bahkan sampai bertepuk tangan mendengar permintaan menakutkan dari Aida itu.
“Hahahaha… Kamu tenang saja, Aida. Aku akan minta Sukirlan melakukan apa yang kamu minta. Orang brengsek itu tidak akan mati hari ini, tapi dia akan merasakan penderitaan yang luar biasa malam ini, sampai dia sendiri yang akan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Hahahaha…”
Tak lama kemudian lelaki itupun mengambil hape dan menelpon Sukirlan. Aida bisa mendengar dengan jelas bagaimana Pak Sarmanto memberikan instruksi kepada Sukirlan, apa yang harus dilakukan kepada pelaku yang telah mempermalukan Tante Nisa. Aida juga bisa mendengar bagaimana tawa Sukirlan menanggapi permintaannya itu.
Kini Aida memalingkan wajahnya, menatap ke arah jendela. Ia melihat pemandangan indah yang mereka lewati. Pemandangan indah yang menyembunyikan fakta sebenarnya, tentang betapa kelam dan menakutkannya kawasan ini. Sekilas, ia tersenyum kecil.
Tante tenang saja. Malam ini, orang itu akan mendapatkan hukumannya. Dia nggak boleh mati dengan mudah. Dia harus mati dengan perlahan, dan penuh penderitaan.
.::..::..::..::..::.
Mobil sudah berlalu pergi. Pak Sarmanto telah meninggalkan Aida di depan kosnya.
Gadis itu tak kunjung masuk, dia masih berdiri terpaku di depan kosnya. Campur aduk perasaan yang berkecamuk di hatinya, berbagai hal ia rasakan saat ini. Amarahnya masih ada. Dendamnya belum hilang. Rasa iba kepada sang tante, tentunya masih sangat besar. Namun ada perasaan lega dan senang, ketika ia diberi kabar oleh Pak Sarmanto, kalau lelaki yang telah mempermalukan tantenya telah mendapatkan hukuman seperti yang ia minta.
Setelah tadi berkeliling untuk membeli beberapa kebutuhan, dalam perjalanan pulang tiba-tiba Pak Sarmanto memperlihatkan sebuah foto kepada Aida. Foto itu dikirim melalui aplikasi pesan singkat dengan caption, ‘tugas sudah dilaksanakan dengan baik, Bos.’
Saat melihat foto itu, seharusnya Aida merasa ngilu, atau minimal jijik. Tapi ia justru tersenyum karena apa yang dia inginkan ternyata benar-benar dituruti oleh Pak Sarmanto. Aida melihat ada 3 buah foto, yang memperlihatkan potongan alat kelamin pria, potongan lidah manusia, dan foto seorang pria tua yang tengah terkapar memegangi selangkangannya yang berlumuran darah, dengan mulut terbuka mengeluarkan darah.
Aida puas, pria yang menyakiti tantenya telah mendapatkan balasan yang tak kalah menyakitkan. Meski dia tak menyangka jika yang melakukan semua itu adalah seorang pria tua bangka, tapi dia tetap puas. Tak sedikitpun terbesit rasa kasihan dalam hatinya meski pria itu terlihat begitu menderita. Bahkan ia berpikir, kalau saja ia ada disana, ia juga ingin sekali menginjak-injak bagian pangkal paha lelaki brengsek itu.
Sesekali Aida bergidik, jika memikirkan mengapa dirinya bisa sekejam ini. Padahal ia sebenarnya adalah seorang gadis lugu, yang bahkan takut saat melihat darah. Saking takutnya, jika harus melakukan medical check up dan diambil sampel darahnya, dia bisa-bisa pingsan saking lemasnya. Namun berbagai peristiwa yang menimpa dirinya dan juga tantenya dalam beberapa hari ini, nampaknya mampu merubah dirinya menjadi sangat berbeda. 180 derajat.
Aida menarik nafas panjang. Akhirnya hari yang berat ini berakhir. Dia benar-benar pusing. Kepalanya serasa mau pecah. Semua yang dia alami hari ini benar-benar membuat fisik, pikiran dan mentalnya lelah. Ingin sekali rasanya segera menanggalkan semua pakaiannya, lalu merebahkan diri di kasur empuk kamar kosnya.
Drrttt… Drrttt… Drrttt…
Belum sempat melangkahkan kaki, hape yang ia taruh di dalam tasnya bergetar. Buru-buru Aida mengambilnya, takut ada sesuatu hal yang penting. Namun begitu melihat nama kontak yang menghubunginya, Aida kembali menarik nafas panjang, dan membiarkan saja telepon itu tanpa mengangkatnya.
Rizal yang menghubunginya.
Aida memejamkan mata yang mulai berkaca-kaca. Untuk beberapa waktu ini dia benar-benar melupakan kekasihnya itu. Hal-hal yang terjadi belakangan ini, telah membuatnya berpikir ulang untuk meneruskan hubungannya dengan Rizal. Pria yang selalu ia tolak ketika ingin melihat lebih banyak tubuh polosnya, namun pada akhirnya justru ia berikan tubuh itu sepenuhnya kepada seorang pria yang teramat jauh jika dibandingkan dengan Rizal.
Aida yakin, jika Rizal mengetahui apa yang terjadi, pemuda itupun pasti tanpa ragu akan melangkah pergi meninggalkannya, bahkan mungkin dengan perasaan jijik. Ia sudah kotor, sudah ternoda. Bagaimana mungkin Rizal masih akan mau menjadi kekasihnya?
Getaran hapenya akhirnya berhenti. Aida bisa melihat puluhan missed call dari sang kekasih. Ia tahu, saat ini pasti Rizal sedang bingung dan marah. Tapi dia benar-benar tidak memiliki keberanian untuk mengangkat telepon dari kekasihnya. Dia benar-benar tidak memiliki keberanian untuk bicara dengan Rizal. Rasanya dia benar-benar ingin pergi darinya, membiarkan Rizal bebas untuk bisa mendapatkan wanita lain, yang jauh lebih baik daripada dirinya.
Aida pun melangkahkan kaki masuk ke dalam kosnya. Kos yang begitu sepi karena sebagian besar penghuninya sedang pulang kampung, sebagian yang tersisa juga pergi entah kemana. Dia benar-benar ingin segera istirahat saja. Dia ingin secepatnya memejamkan mata, menutup hari yang berat ini dan melupakan sejenak semua yang sudah terjadi.
Namun, Aida terkejut ketika ia melihat ada sepasang sandal yang tergeletak di depan kamarnya. Ia mengenali sandal itu. Itu adalah milik Mira. Apakah Mira datang ke kosnya? Tapi, gadis itu sama sekali tak memberi kabar kepada Aida. Mira memang memiliki akses untuk bisa masuk ke dalam kosnya, karena ia tahu dimana Aida menyimpan kunci kamarnya. Beberapa kali juga Mira mampir ke kosnya untuk sekedar istirahat ataupun numpang mandi. Namun biasanya, Mira selalu menghubunginya, meminta ijin kepadanya.
Tumben kok Mira nggak ngabarin ya? Lagian, kok lampu kamar dimatiin, apa dia udah tidur? Tumben banget Mira jam segini udah tidur?
Semakin dekat Aida ke kamarnya, dia malah mendengar suara-suara yang membuat dadanya berbedar. Bulu kuduknya mulai berdiri. Bagaimanapun, Aida termasuk gadis yang cukup penakut, apalagi jika itu ada hubungannya dengan makhluk tak kasat mata. Mengingat kejadian aneh di toko kue kemarin, kini pikiran Aida mulai terganggu dengan bayangan-bayangan menyeramkan yang perlahan muncul di kepalanya.
Duuuh, suara apa itu? Kayak desahan. Kayak desisan. Suara orang bukan ya? Kalau suara orang, siapa orangnya? Ini kosan kan lagi sepi.
Aida perlahan melangkah hingga sampai di depan pintu kamarnya. Disini dia semakin jelas mendengar suara itu.
Dari kamarku? Apa, ini suara Mira? Tapi, dia lagi ngapain kok suaranya gini?
Dengan perlahan, Aida memberanikan diri membuka pintu kamar. Meskipun bayangan-bayangan seram masih berputar di kepalanya, tapi mengingat ada Mira di dalam kamarnya, dia merasa lebih tenang dan mulai bisa memaksakan keberaniannya untuk muncul perlahan.
Begitu pintu terbuka, suasana kamar jelas gelap gulita. Aida tak bisa melihat apapun, namun ia semakin yakin suara ini dari dalam kamarnya.
Hhhhhh… hhhhhh…
“Mila…?”
Hhhhhh… hhhhhh…
Klek…
Byaaaaar…
Lampu tiba-tiba menyala, membuat kamar Aida langsung terang benderang.
“Kejutaaaaan…”
Aida mematung. Mulutnya terbuka, menganga lebar tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Ia benar-benar terkejut, sampai tak bisa berkata apapun. Bahkan bergerak saja, dia merasa tubuhnya begitu kaku.
“Mi-Milaaa…?” ucapnya lirih.
“Masuk, Aida sayang.”
Suara serak yang begitu ia benci, memberikan perintah yang tak bisa ia tolak. Gadis muda yang sedang capek-capeknya itu, hanya bisa mengikuti perintah itu. Perlahan ia langkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya. Selangkah. Selangkah lagi. Hingga kemudian terdengar suara pintu kamar tertutup, bahkan terkunci.
Aida masih mencoba mencerna situasinya saat ini. Ia sudah berada di dalam kamar kosnya, tapi benar-benar tidak seperti yang ia harapkan sejak tadi.
Yang dia lihat saat ini, Mira, sahabatnya, rekan kerjanya di toko kue milik Haris dan Nisa, saat ini sedang terbaring tak berdaya di kasurnya. Bukan hanya sekedar terbaring, namun Mira saat ini sedang dalam kondisi tanpa busana sama sekali. Aida bisa melihat tubuh sahabatnya yang seharusnya mulus itu, sudah dipenuhi luka lebam, dan juga bercak-bercak cairan putih kental, yang tentunya ia tahu kalau itu adalah sperma.
Tak hanya itu, tubuh Mira saat ini sedang tersengal-sengal disetubuhi oleh seorang pria yang tidak dikenali oleh Aida. Mira nampak sudah sangat kepayahan. Entah sudah berapa lama gadis itu dipaksa melayani nafsu pria-pria bejat yang ada disitu.
Pria-pria?
Ya, benar.
Bukan hanya satu, atau dua. Di kamar ini ada 4 orang pria yang kondisinya juga sudah tidak memakai sehelai benangpun. Dari keempat pria itu, hanya 1 orang yang dikenali oleh Aida. Orang yang sudah dia hindari sejak lama, terutama sejak beberapa hari terakhir ini. Hamad Hartomo, alias Om Pong. Ayah tiri yang sangat ia benci, yang berkali-kali memerasnya, bahkan juga melecehkannya. Aida yakin, ketiga orang lainnya adalah teman-teman dari Om Pong. Entah mereka sama-sama supir angkot, atau teman mabuk, Aida tak tahu, tapi yang jelas mereka pasti adalah teman dari ayah tirinya itu.
“Aku sudah bilang sama kamu, Aida. Akan datang saatnya, tubuh kamu yang indah itu bakal aku nikmati. Akan datang waktunya, keperawananmu itu akan dijebol olehku, hahahaha…”
Bisikan Om Pong dari jarak dekat itu membuat Aida bisa dengan jelas mencium bau alkohol. Ia pun bisa melihat beberapa botol minuman yang berserakan di lantai kamarnya. Aida bergidik ngeri mendengar ucapan dari Om Pong. Meskipun dia sudah tidak perawan, tapi dia dengan sadar menyerahkan dirinya kepada Pak Sarmanto waktu itu. Kali ini, dia pasti akan dipaksa oleh ayah tirinya itu. Belum lagi, dengan ketiga pria lainnya.
“Tadinya aku nggak mau sejauh ini, tapi temenmu yang lonte itu tadi siang telah membuatku marah, jadi kami putuskan buat kasih hukuman ke dia, hahahaha…”
“Hahaha, gini dong Pong, sekali-sekali berguna kamu buat temen-temenmu. Biasanya cuma dateng numpang minum, numpang mabok, sekarang bisa kasih jatah 2 memek sekaligus, huahahahaha…”
“Kalian kan udah ngentotin lonte itu dari tadi, masa masih pengen anak tiriku ini? Kalau yang ini jatahku, hahahaha.”
“Buat kamu sendiri juga nggak habis Pong, wes tho dibagi-bagi sama temennya, hahahaha…”
Aida benar-benar bergidik mendengar obrolan itu. Melihat kondisi Mira yang bahkan sampai babak belur, ia benar-benar tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Tidak mungkin hanya sekedar diperkosa saja.
101AugsY_t.jpeg
“Kenapa? Heran lihat temenmu itu?” salah satu pria yang sedang duduk beristirahat seperti bisa membaca raut bingung dari Aida.
“Si lonte itu, tadi siang mukulin aku. Jadi waktu pulang dari toko, kami sekap dia, kami hajar dulu, baru kami entotin memeknya. Udah nggak perawan, tapi masih lumayan rapet, hahahaha…”
Aida hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan dari Om Pong. Dia benar-benar berada dalam situasi sulit saat ini. Ada 4 orang pria mabuk di dalam kamarnya yang sudah terkunci dari dalam. Para pria itu, tentu tidak akan melepaskannya begitu saja. Aida sudah tak bisa lari, tak bisa meminta tolong. Orang yang seharusnya bisa melindunginya, sudah pergi karena memang tak seorang pun yang menyadari adanya bahaya ini.
“Kalau kamu pengen, lonte itu nggak lebih menderita dari ini, lebih baik kamu nurut, Aida,” ucap Om Pong yang sekarang berdiri tepat di belakangnya.
“Aakhh…”
Aida terpekik saat tiba-tiba pria yang paling ia benci itu memeluk tubuhnya dari belakang. Bau alkohol yang begitu kuat membuat Aida benar-benar tak nyaman. Ditambah lagi, bau badan dari ayah tirinya yang entah kapan terakhir kali dia mandi, membuatnya semakin mual. Ingin sekali rasanya ia melawan, tapi melihat sebuah pisau menempel di leher Mira di saat ia masih diperkosa itu, membuatnya tak punya pilihan lain, selain diam.
Aida hanya bisa memejamkan mata saat tangan kasar Om Pong mulai meraba-raba tubuhnya. Tangan itu mulai melepas satu persatu kancing baju yang dikenakan oleh Aida. Apa yang dilakukan oleh Om Pong itu mendapat sambutan berupa tawa dan tepuk tangan dari teman-teman jahanamnya.
“Wuiiih, mantep juga body-nya anakmu itu Pong, nggak kalah sama si lonte ini, hahahaha.”
“Susunya lebih kecil, tapi kulitnya lebih putih anaknya si Pong, lebih mulus. Wah jadi ngaceng lagi ini, hahahaha…”
Ucapan demi ucapan yang melecehkan terus didengar oleh Aida. Apalagi saat ini dirinya hanya tinggal memakai beha dan celana dalam saja, karena aksi Om Pong menelanjanginya begitu lancar tanpa perlawanan sedikitpun. Jilbab, kemeja dan celana panjang yang dikenakan Aida sedari tadi, kini telah teronggok di lantai begitu saja.
“Aaaaaccchhh…”
Aida memekik keras kala sepasang buah dada mungilnya tiba-tiba diremas dengan begitu kencang oleh Om Pong. Bukan sekedar diremas, pria yang tak lain adalah ayah tirinya itu seperti menariknya dengan begitu gemas, membuat tubuh Aida bersingut kesakitan. Tangannya yang tadi hanya diam kini bergerak berusaha menahan tangan Om Pong, namun lelaki itu malah semakin keras meremas payudaranya.
“Aaaacckk… Pelaaaan Ooomm…”
“Halah diem aja kamu! Dari kemarin mau dikasih enak, ngelawan terus. Kamu itu perlu diajar tata krama yang bener, kayak temenmu si lonte Mira itu!”
Aida berusaha menahan sakit di bagian dadanya. Ia meringis, menggigit bibirnya sendiri, dan terus berusaha menarik tangan Om Pong. Aida lupa, kalau di kamar ini masih ada orang lain. Masih ada pria sange lain yang juga ingin untuk bisa menjamah tubuhnya. Ia baru menyadari ketika seseorang tiba-tiba saja menarik turun celana dalamnya, hingga terbuka lah area privat sang gadis cantik ini.
“Aaahh jangaaann…”
Tangan Aida berusaha menutupi area pangkal pahanya, namun itu kemudian menjadi kesempatan bagi Om Pong yang langsung memasukkan tangannya ke balik beha Aida. Gadis itu kebingungan diserang dari dua arah bersamaan seperti ini. Saat ini Om Pong sedang meremas buah dadanya, dan memelintir puting susunya, sedangkan di bawah sana teman Om Pong berusaha menciumi pangkal paha Aida.
“Stoopp… jangammppphhh…”
Belum selesai serangan yang diterima oleh Aida, ia sudah mendapatkan tambahan serangan lagi. Satu orang pria lain kini dengan rakus berusaha menciumi bibirnya. Aida mencoba bertahan sebisa mungkin. Ia menutup erat mulutnya, menghindari lumatan dari teman Om Pong yang lainnya.
Aida benar-benar tak bisa bergerak. Tubuhnya ditahan dari belakang oleh Om Pong yang sedang meremasi sepasang payudaranya, juga sambil menciumi dan menjilati bagian punggung dan tengkuknya. Di bawah sana seorang teman Om Pong masih terus berusaha membuka kakinya yang tertutup rapat, sambil sesekali meremasi bongkahan pantatnya yang kenyal. Orang terakhir, dengan begitu rakus melumat bibir, hidung dan sekujur wajah Aida.
Sesekali Aida membuka mata melihat bagaimana kondisi Mira, yang nampaknya benar-benar sudah kehabisan tenaga. Pria yang menyetubuhinya telah selesai, dan sedang duduk bersandar tembok. Aida bisa melihat organ intim Mira nampak terbuka dan lelehan sperma lelaki durjana itu perlahan mengalir keluar.
Aida marah. Benar-benar marah. Kenapa ini semua menimpa dirinya? Dia sudah merelakan keperawanannya untuk bisa melindungi tantenya, yang ternyata malah dijebak, diperkosa dan dipermalukan oleh orang lain. Kini, sahabatnya juga baru saja mengalami pemerkosaan. Dan dirinya, juga sedang mengalami pelecehan, dimana sebentar lagi iapun akan digilir oleh pria-pria tua durjana ini.
Aida terus memejamkan mata saat tubuhnya digerayangi oleh ketiga pria itu. Dia bahkan bisa merasakan tubuh bagian belakangnya terus menerus mendapatkan gesekan dari kelamin ayah tirinya. Tangannya pun dipaksa untuk menggenggam penis pria yang masih sibuk melumat dan menjilati wajahnya. Kakinya yang mulai lelah sedikit demi sedikit mulai terbuka dan membuat pria yang berada di bawah sana memasukkan tangannya, mengobel bibir vaginanya.
Pertahanan Aida perlahan mulai melemah. Satu orang gadis lemah seperti dirinya tentu saja akan kewalahan menghadapi 3 orang pria yang dikuasai oleh nafsu birahi mereka. Apalagi fisiknya memang sudah begitu lelah menghadapi peristiwa demi peristiwa hari ini. Dia yang hanya ingin istirahat, nyatanya masih harus menghadapi nafsu binatang para pria tua bajingan ini.
Pak Sarmanto… Tolong…
Dalam hatinya, dia berharap entah bagaimanapun caranya, Pak Sarmanto datang kembali ke kosnya untuk menyelamatkannya. Ia berharap lelaki itu memiliki firasat buruk tentang dirinya, merasa tak tenang hingga akhirnya memutuskan untuk kembali dan melihat keadaan, untuk kemudian bisa menjadi dewa penolongnya. Namun, itu semua tinggal harapan. Pak Sarmanto sudah tak mungkin kembali kesini. Dirinya sudah kalah. Tubuhnya sudah dibanting ke kasur, tergeletak tepat di samping Mira yang menatapnya dengan penuh kesedihan.
Om Pong menyeringai saat kedua temannya membantu dengan memegangi kedua tangan Aida. Meskipun gadis itu sudah nampak pasrah dan kelelahan, namun bagaimanapun seorang perawan seperti Aida harus dipegangi agar tidak terlalu melawan nantinya. Om Pong sendiri langsung membuka kaki Aida lebar-lebar dan menempatkan diri di tengah-tengahnya.
“Hehehe, sekarang saatnya buat ngejebol keperawanan kamu, Nduk. Aku udah nahan dari tadi, cuma sekali ngentotin si Mira, biar bisa puas ngentotin memek perawan kamu malam ini, hahahaha…”
Aida hanya diam memejamkan mata. Dia sudah tak peduli dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Bahkan, ia berharap agar bisa pingsan saja sehingga tak perlu mengetahui apa yang akan diperbuat oleh Om Pong dan teman-temannya itu kepadanya. Toh, dia sudah tak lagi perawan, jadi sudah tak perlu ada yang dipertahankan saat ini.
Om Pong sendiri terus menyeringai, betapa senangnya ia akhirnya gadis yang sudah ia incar sejak lama, akhirnya bisa ia nikmati juga tubuhnya. Pria itu menggesek-gesekkan penisnya yang sudah sangat tegang membelah bibir vagina Aida yang masih agak kering. Tapi, mana peduli Om Pong? Dia tak peduli lubang surgawi itu akan basah atau kering, yang penting dia bisa menjebol selaput dara anak tirinya itu.
“Mmppphhh…”
Aida memekik dan semakin kuat memejam saat kepala penis Om Pong menerobos masuk. Meski ia sudah diperawani oleh Pak Sarmanto, dan jelas penis Om Pong lebih kecil daripada milik Pak Sarmanto, tapi tetap saja lubang surgawi itu masih belum terbiasa dimasuki oleh benda asing.
“Ooohhh… sempit banget memekmu Nduk… ini lebih enak dari memeknya Mira, hahahaha…”
Aida hanya diam saja. Ia merasakan Om Pong masih menghentikan gerakannya, dan mulai meremas-remas payudaranya lagi. Kali ini, pria itu meremasnya dengan lebih lembut, juga memilin puting susunya tidak sekeras tadi. Bahkan tak lama kemudian, pria itu mulai menjilati bukit kembarnya itu, dan sesekali menghisap kulit putih mulusnya untuk meninggalkan bekas cupangan.
“Mmppphhh…”
Lagi-lagi Aida mengerang saat ia merasakan penis Om Pong masuk semakin dalam. Kali ini lelaki itu sudah tak lagi menjamah bagian dadanya. Nampaknya ayah tiri Aida itu sedang fokus untuk bisa menembus kegadisan anak tirinya.
“Tahan ya Nduk, ini bakal sakit sedikit, tapi habis itu pasti kerasa enak kok, hahahaha…”
Zleeeeeeeeebbbb…!!!
“Hengggkkkkhhhh…”
Mata Aida yang sejak tadi terpejam, mendadak terbuka membelalak saat Om Pong melesakkan penisnya membelah liang surgawinya. Ia merasakan sakit karena lubang itu memang masih kering. Perih.
“Ooooouuuuuggghhhh…”
Sementara itu Om Pong melenguh panjang merasakan betapa puasnya ia akhirnya bisa menembus lubang vagina anak tirinya. Lubang yang telah ia idam-idamkan semenjak pertama kali bertemu dengan anak tirinya itu. Lubang sempit yang akhirnya bisa ia jebol keperawa…
Eh…!?
Om Pong yang tadinya terlihat begitu puas, ekspresinya berubah. Ia seperti bingung. Ia memang sedikit mabuk, sedikit berada dalam pengaruh alkohol. Tapi otak pria itu ternyata masih cukup bisa bekerja. Ia merasakan, ia telah melewatkan sesuatu yang seharusnya ia dapatkan. Ia telah menunggu lama untuk ini, tapi sekarang, dia tidak merasakannya.
Kok, langsung tembus? Kok nggak ada… bentar bentar…
Om Pong bangkit untuk melihat ke arah selangkangannya yang telah menyatu dengan selangkangan Aida. Ia menarik penisnya perlahan. Ia tak melihat adanya sesuatu yang ia harapkan ada. Darah perawan Aida! Mana?
Saat kemudian menatap wajah Aida, Om Pong baru menyadari sesuatu. Anak tirinya itu tersenyum, mengejeknya.
“Bajingaaaan! Anak ini udah nggak perawan!!! Wuasyuuuuu!!!”
Plok… Plok… Plok…
“Aaacckkhh…”
Om Pong menghentakkan penisnya dengan keras, dan sangat kasar. Dia benar-benar kecewa, harapannya untuk bisa memerawani Aida ternyata gagal. Anak tirinya sudah diperawani oleh orang lain. Dia kembali menjadi orang yang gagal.
Aida yang sempat memekik kesakitan, kembali tersenyum mengejek ayah tirinya itu. Dia seperti sedang menertawakan kegagalan ayah tirinya, untuk kesekian kalinya.
“Aku… nggak akan pernah… relaa… kamu perawani…”
Ucap Aida yang terpotong-potong itu semakin membakar amarah dari Om Pong. Pria itu benar-benar merasa terhina. Bukan saja gagal mendapatkan keperawanan anak tirinya, dia kini bisa mendengarkan teman-teman kriminalnya mulai tertawa.
Jelas, mereka menertawakannya. Karena sudah sudah sejak awal ia koar-koar pada teman-temannya itu. Ia terus menerus mengatakan kalau suatu saat ia akan menjejalkan batang penis kebanggaannya itu untuk menjebol keperawanan Aida. Ia bahkan dengan begitu sombongnya mengatakan akan membiarkan teman-temannya ikut menikmati tubuh Aida setelah nantinya ia perawani.
Saat penisnya mulai menyeruak masuk tadi, dia sudah membayangkan betapa nikmatnya membuat anak tirinya itu berteriak kesakitan. Ia pun sudah membayangkan bagaimana teman-temannya akan bertepuk tangan atas keberhasilannya memerawani Aida di depan mereka. Namun kini, jangakan tepuk tangan, teman-teman kriminalnya itu justru sedang menertawakan kegagalannya.
Plaaak…!!!
Sebuah tamparan mendarat telak di pipi Aida, membuat kepala sang gadis tertoleh ke arah Mira, yang menatapnya dengan iba. Untuk sesaat tatapan dari kedua gadis muda yang tergeletak tak berdaya tanpa busana itu bertemu. Ada rasa saling iba yang bisa ditangkap oleh mereka berdua, namun kondisi saat ini membuat mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Plaaak…!!!
Sekali lagi tamparan keras mendarat di pipi Aida, membuat kepalanya tertoleh ke arah sebaliknya. Kali ini ia bisa melihat 2 orang pria yang tadi ikut menjamah tubuhnya, sedang menertawakan kegagalan Om Pong. Namun mereka berdua juga sedang mengocok penis mereka sendiri karena bernafsunya mereka pada tubuh mulus Aida.
Plaaak…!!!
Plaaak…!!!
Beberapa kali tamparan keras masih terus diberikan oleh kepada Aida yang kondisinya semakin lemas. Kepalanya mulai berkunang-kunang akibat ulah kasar ayah tirinya, belum lagi ditambah dengan rasa sakit dari pangkal pahanya yang sedang diperkosa dengan brutal oleh Om Pong. Saat ini Aida benar-benar berharap agar ia bisa pingsan saja. Terserah apa yang akan dilakukan oleh para pria di kamarnya ini, ia sudah tak peduli lagi. Kemarahannya yang sudah mencapai titik tertinggi, membuatnya tak lagi melakukan perlawanan apapun, tak lagi mengeluarkan suara apapun.
Braaaaakk…!!!
Tamparan keras dan perkosaan kasar Om Pong, serta tawa menghina dari teman-temannya mendadak terhenti saat pintu kamar Aida tiba-tiba jebol didobrak paksa oleh beberapa orang. Sekejap kemudian kegaduhan terjadi saat pria-pria berwajah sangar dengan tubuh besar penuh tatoo merangsek masuk dan mulai meringkus pria-pria tanpa busana di dalam kamar Aida.
“Bajingaaan!!!”
“Bangsaaaat!!!”
“Wuasyuuuuu!!!”
“Jancooooookkk!!!”
Seorang pemuda yang berwajah paling ‘mending’ dari gerombolan itu langsung berlari menghampiri Mira yang masih terkapar tak berdaya.
“Sa-sayang… kamu nggak…” ucapan pemuda itu terhenti saat melihat tubuh Mira yang penuh dengan bercak sperma dan luka lebam. Pemuda itu mengalihkan tatapan bengisnya ke arah Om Pong dan teman-temannya yang sudah diringkus.
“Hamad Hartomo, alias Om Pong! Ternyata besar juga nyalimu buat cari gara-gara sama kami!”
Pemuda itu menatap tajam ke arah Om Pong yang belum sepenuhnya bisa memahami apa yang terjadi. Ia masih terkejut ketika pintu kamar Aida jebol, lalu seseorang datang kepadanya dan langsung menarik tubuhnya yang masih memperkosa Aida, dan orang itu kini sudah mengunci kedua tangannya ke belakang. Penis durjananya yang tadi menggenjot Aida tanpa ampun, kini menciut seciut-ciutnya.
“Kamu, kalian, baru saja melakukan kesalahan besar!”
Belum sempat Om Pong maupun ketiga temannya menjawab ucapan pemuda itu, terdengar suara serak dari pintu kamar Aida. Sontak semua orang menatap ke arah pintu, dan betapa ketakutannya mereka ketika mengetahui siapa orang yang datang.
Meski tidak mengenal secara langsung, tapi reputasi sang pemimpin preman itu tentu sudah didengar oleh mereka yang hidupnya bersandingan dengan kriminalitas. Wajah sangar itu menatap mereka dengan dingin. Tatapan matanya begitu tajam membuat tubuh Om Pong dan teman-temannya bergetar penuh ketakutan.
Itu kan, Pak Sarmanto. Kenapa orang itu ada disini? Apa ini, ada hubungannya sama Mira? Siapa Mira ini yang sebenarnya?
Om Pong dan teman-temannya bertanya-tanya dalam hati, alasan apa yang membuat seorang bos preman di kota ini, bisa berada disini sekarang bahkan datang dengan penuh kemarahan. Om Pong melihat ke arah tangan pemuda yang tadi menghampiri Mira dan saat ini masih menatapnya dengan tajam, dan ia baru menyadari kalau disitu ada sebuah tato yang sudah sangat terkenal di kalangan kriminal kota itu. Tato kucing hitam.
Loh, cowok ini anak buahnya Pak Sarmanto? Jadi, pacarnya Mira itu anak buahnya Pak Sarmanto? Matih… mati aku…!
Kini, Om Pong baru memahami, kalau dirinya baru saja membuat kesalahan besar. Ia memang dendam pada Mira karena telah menghajarnya tadi siang. Karena itulah ia mengajak teman-temannya untuk menyergap dan menganiaya Mira, lalu memperkosanya. Ia memutuskan untuk memperkosa Mira di kosan Aida, supaya bisa nantinya memperkosa Aida sekalian. Tapi dia benar-benar tidak tahu, kalau Mira ternyata memiliki hubungan dengan orangnya Pak Sarmanto. Kalau saja ia tahu dari awal, ia tidak akan berani macam-macam dengan gadis itu.
Kini semua sudah terlambat. Bukan hanya sekedar pacarnya Mira, tapi bahkan Pak Sarmanto sendiri yang datang kesini. Hidupnya benar-benar akan berakhir hari ini.
“Aida, kamu mau bapak tirimu ini, diapakan?”
Loh, kok?
Om Pong, teman-temannya, bahkan Mira terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Pak Sarmanto. Pertanyaan dari bos preman itu bukannya diberikan kepada Mira, namun justru kepada Aida, padahal yang dianiaya dan diperkosa duluan adalah Mira.
“Sama seperti foto yang tadi Pak, yang dilakuin orang yang ngejebak tante Nisa. Saya mau penis dan lidah mereka dipotong dulu. Saya nggak mau, bajingan-bajingan itu mati begitu saja,” jawab Aida dengan dingin.
Mendengar ucapan itu dari Aida, membuat orang-orang yang ada di kamarnya merasakan aura yang mencekam. Dingin. Kejam. Tanpa ampun. Bagaimana gadis sepolos Aida bisa meminta hal yang begitu sadis?
Namun beda halnya dengan Pak Sarmanto. Bos preman itu justru tersenyum, melihat gadisnya kini telah menjadi pribadi yang berbeda. Sikap dingin tanpa emosi yang ditunjukkan oleh Aida saat ini, mengingatkannya pada dirinya di masa dulu, ketika ia begitu kejamnya mengeksekusi setiap musuh-musuhnya, hingga ia disebut sebagai seorang psikopat gila.
“Baiklah, seperti yang kamu minta. Kalian…” ucap Pak Sarmanto sambil menatap anak buahnya yang sedang memegangi Om Pong dan teman-temannya. “Urus bajingan-bajingan tua ini. Lakukan seperti apa yang diminta oleh Aida. Dan jangan lupa, kirim foto-fotonya!”
“Siap boss!”
“Tidaak…!”
“Ampuuuun…!”
“Tolooong…!”
Suara minta tolong dan minta ampun dari Om Pong dan teman-temannya hanya terdengar sesaat. Aida tak tahu apa yang terjadi sehingga suara itu sudah tak terdengar lagi, namun ia pun tidak peduli. Pada akhirnya, salah satu duri dalam hidupnya kini telah berhasil ia singkirkan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk ibunya. Kini mereka berdua tak perlu menderita lebih banyak lagi karena ulah Om Pong. Hanya tinggal dirinya saja nanti mencari alasan, kenapa ayah tirinya itu tak akan pernah kembali ke rumah ibunya.
“Rio, kamu urusin pacarmu dan Aida, bawa mereka ke rumah sakit secepatnya!” perintah Pak Sarmanto kepada pemuda yang adalah pacar dari Mira itu.
Pemuda itu bergerak cekatan menutupi tubuh Mira dan Aida dengan pakaian alakadarnya, yang penting tubuh telanjang mereka berdua tidak lagi terekspos. Dengan cepat pula ia memanggil supir dan membawa kedua gadis malang itu ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Pak Sarmanto masih tinggal disitu, tak langsung pergi. Ia mengamati kondisi kos-kosan Aida lebih seksama. Ia pun tersenyum mengangguk-anggukan kepala.
“Sepertinya, aku sudah dapat lokasi yang bagus buat memulai usaha disini. Tinggal cari tahu saja siapa pemilik kosan ini, dan siapa saja yang tinggal disini. Siapa tahu mereka bisa dimanfaatkan, jadi aku nggak perlu repot-repot untuk nyari lonte lagi buat ditaruh disini, hehehe.”
.::..::..::..::..::.
.:: BEBERAPA JAM KEMUDIAN
Aida dan Mira sudah terbaring di ranjang mereka masing-masing. Ruangan yang hanya terisi dua ranjang itu sepenuhnya bernuansa putih, terasa cukup nyaman untuk mereka bisa beristirahat. Selang infus juga telah terpasang di lengan kedua gadis malang itu.
“Da…”
Terdengar suara lirih Mira, memanggil Aida.
“Mir. Belum tidur?”
Aida yang kondisinya tidak separah Mira, sedikit mengangkat tubuhnya supaya terduduk dan melihat ke arah Mira. Kini wajah Mira sudah tak sepucat tadi. Ia sudah bisa tersenyum sambil menatap Aida. Ia pun menggelengkan kepalanya.
“Aku nggak bisa tidur.”
“Masih sakit-sakit ya, badan kamu?” tanya Aida.
Mira menggeleng, “Bukan. Kalau soal sakit di badan sih, udah biasa Da. Kamu tahu kan aku ikut karate, udah biasa kena pukul waktu sparing, hehehe.”
“Oooh… Terus, kenapa kok nggak bisa tidur?”
Mira nampak menghela nafas dan terdengar sedikit mendesah, “Aku, penasaran, gimana Pak Sarmanto bisa kenal kamu? Oke, istrinya memang pelanggan toko kita, tapi apa dia sekenal itu sama kamu?”
Aida tak langsung menjawab. Ia kembali merebahkan punggungnya, sambil menatap ke langit-langit kamar.
“Sebelum aku jawab, boleh aku tanya dulu ke kamu?” tanya Aida.
“Mau tanya apa?”
“Kamu, udah lama, pacaran sama Mas Rio?”
“Kalau kamu tanya pacaran, belum lama Da. Tapi kalau kenalnya, udah cukup lama.”
“Terus kamu juga tahu, kalau dia itu, anak buah Pak Sarmanto?”
Mira mengangguk, meskipun Aida tak bisa melihatnya. “Iya, aku tahu. Aku kenal dia sejak sebelum jadi anak buah Pak Sarmanto, sampai akhirnya dia gabung kesana, aku tahu semuanya Da. Kami perlu punya bekingan yang kuat,” jawab Mira.
Aida terkejut sampai menatap Mira, yang ternyata sedang menatapnya. “Bekingan? Maksudnya apa Mir? Bekingan buat apa?”
Mira tersenyum. “Da, aku nggak sebaik yang kamu kira. Aku punya banyak keluarga yang butuh dinafkahi, sedangkan aku nggak punya pendidikan tinggi dan keterampilan yang bagus. Aku diajak sama Mas Rio buat jualan narkoba. Dari situ, dikit-dikit aku bisa menghidupi keluargaku. Tapi, kami nggak bisa bergerak bebas, karena kami nggak punya bekingan yang kuat. Karena itulah, Mas Rio memutuskan untuk masuk ke kelompoknya Pak Sarmanto.”
“Na-narkoba!?”
Aida ternganga mendengar cerita Mira.
Dia sama sekali tak menyangka kalau gadis yang sudah ia anggap sebagai sahabat itu, ternyata memiliki usaha lain yang begitu berbahaya. Pengedar narkoba jika sampai tertangkap, hukumannya sangatlah berat.
Sedikit banyak, Aida memang mengetahui latar belakang keluarga Mira. Ayahnya sudah pergi entah kemana sejak lama, meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak. Ibu Mira hanyalah seorang buruh pabrik di kota kecil yang penghasilannya tak seberapa. Mira sebagai anak sulung punya tanggung jawab untuk memikul beban keluarganya.
Mira beruntung, karena salah satu saudara dari ayahnya, yang tak lain adalah Haris, bersedia untuk membantunya. Ia memberi pekerjaan Mira di toko kue milik Nisa. Dari situ perlahan kehidupan Mira mulai berubah. Namun sampai sebelum ini, Aida yang polos mengira kalau keadaan Mira yang membaik itu hanya berasal dari pekerjaannya di toko kue milik Nisa. Hal ini karena cukup sering baik Nisa maupun Haris memberikan bonus kepada mereka.
Kini Aida baru sadar, jika ia ingat-ingat lagi, memang belakangan ini Mira mulai banyak memakai barang-barang branded, beberapa kali mengganti hape dengan keluaran terbaru yang tentu saja harganya mahal. Pada akhirnya ia tahu darimana Mira mendapatkan uang, ternyata bukan hanya sekedar dari bekerja di toko kue milik Nisa.
“Tadi siang, waktu kamu pergi Om Pong datang ke toko nyariin kamu. Dia mabuk, teriak-teriak nggak jelas, jadi aku peringatin dia bahkan sampai aku hajar dia. Aku sebenarnya udah ngira kalau bisa saja sewaktu-waktu dia balas dendam ke aku, makanya aku sempat ngabari Mas Rio, kasih tau semuanya. Tapi hari ini Mas Rio harus mengantar barang ke kota sebelah, dan dia minta aku untuk hati-hati,” ucap Mira menceritakan apa yang terjadi setelah Aida pergi dari toko tadi siang.
Aida diam saja mendengarkan cerita Mira.
“Ternyata dugaanku benar. Waktu aku pulang dari toko, ternyata ada orang suruhan Om Pong ngikutin aku. Tadinya aku sempat bisa ngelawan, Da. Tapi ternyata mereka datang bertiga. Aku dikeroyok, jelas aku yang kalah. Habis itu aku dibawa ke tempat Om Pong, dihajar dan diperkosa sama dia dan teman-temannya. Aku nggak tahu gimana awalnya, tiba-tiba aku sadar udah ada di kosan kamu. Rasanya pengen ngingetin kamu, tapi aku nggak bisa.”
Aida menganggukkan kepala memahami cerita Mira. Jika ia berada di posisinya Mira, jangankan untuk mengambil hape dan minta tolong atau memberi kabar, bisa istirahat dari para pemerkosanya saja itu sudah bagus. Apalagi ia sudah melihat bagaimana kondisi Mira saat diperkosa di kamarnya. Sudah benar-benar tak berdaya dan tak bertenaga.
“Yaah, untungnya Mas Rio bisa nemuin kita di kosmu, jadi kita nggak perlu lebih lama disiksa sama bandot-bandot tua sialan itu.”
Aida mengamini ucapan Mira itu dengan anggukan.
“Tapi, yang membuatku bingung, kok bisa sampai Pak Sarmanto ikut datang, bahkan ternyata dia kenal sama kamu. Kalau aku tebak, dia nggak cuma sekedar kenal gitu aja sama kamu kan, Da?”
Aida memperbaiki posisinya. Ia kini duduk bersandar di ranjang rumah sakit itu. Dia menghela nafas panjang, sebelum akhirnya bercerita.
“Iya, Mir. Pak Sarmanto nggak cuma sekedar kenal gitu aja sama aku. Dia, sekarang, adalah orang yang memiliki kuasa atas hidupku,” jawab Aida, “aku… telah menjadi miliknya.”
Mira mengernyitkan dahinya. Sebenarnya, ia sudah tahu kemana arah pembicaraan Aida, karena ia cukup tahu seperti apa reputasi dari Pak Sarmanto. Dia hanya beruntung tak pernah diganggu oleh bos preman itu, karena dia adalah kekasih dari Rio, salah satu orang kepercayaan Pak Sarmanto. Namun Mira ingin mendengar alasan yang membuat Aida bisa jatuh dalam cengkraman bos lele itu.
“Beberapa hari yang lalu, semuanya juga berawal dari Om Pong. Waktu toko sedang sepi, dia datang dan mau memperkosa aku. Aku berhasil melawan dan lapor ke satpam. Pak Tarun dan anggotanya berhasil meringkus dia. Di situ aku pikir aku udah selamat, tapi ternyata justru Pak Tarun juga menyimpan nafsu dan nyaris memperkosa aku,” ujar Aida.
“Pak Tarun?!” Mira terkejut mendengar kalau kepala keamanan di daerah itu justru memiliki niat untuk memperkosa Aida juga. Dia memang tak terlalu kenal dekat dengan para satpam disana, termasuk Pak Tarun, namun melihat bagaimana selama ini lelaki itu cukup baik kepadanya, dia tak menyangka kalau ternyata Pak Tarun tak ubahnya seperti serigala mesum yang kurang ajar.
“Iya. Aku dikasih minum yang ternyata sudah ada obat tidurnya. Waktu aku balik ke toko, aku nggak sadarkan diri. Waktu aku terbangun, kondisinya, Pak Tarun sudah hampir memperkosaku, Mir. Aku berhasil menghindar, karena aku… aku…”
Aida nampak ragu untuk melanjutkan ceritanya.
“Kamu kenapa, Da?”
Aida kembali menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya.
“Aku tahu kalau ternyata yang diincar sama Pak Tarun itu, sebenarnya adalah Tante Nisa.”
“Hah? Tante Nisa?”
Aida mengangguk. “Iya. Dia bilang seperti itu, jelas banget. Akhirnya aku janjiin untuk bantuin dia agar bisa dapetin Tante Nisa, asal dia nggak perkosa aku. Dia mau, dia nggak sampai merawanin aku. Tapi, setelah itu aku bingung, Mir. Aku nggak mungkin menjebak Tante Nisa yang udah baik banget sama kita, terutama sama aku. Akhirnya aku ingat, kalau Pak Sarmanto pernah kasih kartu nama. Dengan segala pertimbangan, akhirnya aku datengi Pak Sarmanto.”
Mira menganggukkan kepala. Ia mulai paham bagaimana pada akhirnya jatuh ke dalam cengkraman pria tua pemimpin para preman seperti Pak Sarmanto.
“Yaaa, seperti yang kamu tahu, Mir. Nggak ada yang gratis di dunia ini. Aku yang minta bantuan ke Pak Sarmanto agar mau melindungi Tante Nisa dan aku dari Pak Tarun, harus membayarnya dengan mahal. Sangat mahal.”
Aida sedikit terisak, namun bisa mengendalikan dirinya.
“Aku serahkan keperawananku kepada Pak Sarmanto, yang artinya, mungkin kamu juga sudah tahu, kalau selamanya aku akan menjadi budak lelaki itu. Aku merelakan diriku, semua itu karena aku ingin membalas budi kepada Tante Nisa, Mir. Aku ingin menyelamatkannya dari ancaman bandot tua macam Pak Tarun itu.”
Mira memahami apa yang dirasakan oleh Aida. Memang benar, Nisa sudah begitu baik kepada mereka yang bekerja di toko kuenya. Sejak hari pertama Mira mengenal istri Haris itu, ia sudah tahu kalau Nisa adalah seorang wanita yang tulus dengan kebaikannya, sehingga ia pun bersyukur menjadi salah satu orang yang dipilih bekerja di tokonya. Semua yang bekerja disitu, mendapatkan upah bulanan yang bisa dibilang cukup tinggi, belum lagi bonus yang sering diberikan oleh Nisa maupun Haris. Sehingga wajar, jika Aida melihat adanya ancaman kepada Nisa dan dia ingin melindungi tantenya tersayang itu.
“Tapi, semua pengorbananku itu, bisa dibilang, hampir tidak ada gunanya, Mir.”
“Loh, tidak ada gunanya gimana, Da?”
Perlahan Aida mulai menceritakan mengenai kegelisahannya terhadap Nisa. Tentang bagaimana tantenya yang sulit dihubungi. Tentang bagaimana perubahan sikap dari Nisa ketika menelponnya. Dan puncaknya adalah peristiwa yang terjadi tadi siang ketika dirinya dengan Pak Sarmanto datang ke cluster tempat Nisa tinggal.
Aida menceritakan semua yang ia tahu mengenai apa yang terjadi kepada Nisa. Bagaimana para warga menggeruduk rumahnya, bagaimana para warga menelanjangi Nisa dan seorang pria yang diduga selingkuhan tantenya. Ia menceritakan dengan detail apa yang ia alami ketika menolong tantenya, dan bagaimana pada akhirnya Nisa bisa lepas dari amarah warga yang sebelumnya meluap tak terkendali itu.
Mira yang mendengar cerita Aida terdiam sampai terbengong-bengong. Ia sudah cukup tahu, bagaimana kondisi di kawasan tempat tinggal Om Haris dan Tante Nisa. Ia mendengar semua itu dari Rio, kekasihnya. Dia bahkan pernah mempertanyakan baik itu kepada Haris maupun kepada Nisa, kenapa masih saja mau tinggal disana? Kenapa tidak pindah ke tempat lain saja yang ‘lebih aman’? Hanya saja waktu itu memang ia tak berani untuk menceritakan potensi bahaya yang bisa muncul di daerah tempat tinggal Haris dan Nisa.
Saat ini, Aida malah menceritakan hal yang sudah ada di kepalanya sejak lama. Perihal rumah Nisa sampai digeruduk oleh warga, Mira memang baru sekali ini mendengarnya. Namun jika yang dibicarakan adalah bagaimana seorang wanita, bahkan yang sudah berkeluarga sekalipun, bisa dengan mudah menjadi korban dari nafsu bejat pria-pria yang tinggal disana.
Apalagi bagi seorang Nisa, yang memiliki atribut sempurna sebagai calon korban dari pria-pria hidung belang yang penuh dengan tipu muslihat di sana. Nisa sudah jelas sangat cantik, bahkan menjadi salah satu bidadari tercantik di daerah itu. Meski sudah memiliki 2 orang anak, namun keindahan tubuh Nisa masih terus terjaga sampai sekarang. Ditambah lagi kesopanan dan keanggunannya, siapa juga lelaki normal yang tidak ingin bisa menikmati tubuh istri Haris itu?
Pada akhirnya semua memang sudah terjadi. Nisa telah kehilangan kesuciannya sebagai seorang istri. Entah bagaimana semua berawal, yang jelas Nisa telah menjadi salah satu dari sekian perempuan cantik yang menjadi mangsa para lelaki hidung belang disana. Terlebih lagi, setelah mendengar cerita Aida, tak terbayangkan olehnya bagaimana kondisi Nisa saat ini. Bukan sekedar kesuciannya yang diacak-acak, namun citra baiknya juga telah tercemar.
“Kita doakan saja, semua yang terjadi pada Tante Nisa segera berakhir, semuanya cepat membaik, Tante Nisa dan Om Haris bisa hidup dengan tenang dan bahagia lagi, Aida.”
Aida tersenyum, mengangguk mengamini doa dari Mira. Dia memang berharap kondisi tantenya akan segerea membaik. Citra dirinya juga bisa diperbaiki lagi, dan kondisi rumah tangga Nisa bisa kembali utuh dan bahagia seperti dulu.
“Iya, Mira. Semoga saja, semua cobaan ini segera berlalu. Entah bagaimana akan berakhir, tapi aku berharap Tante Nisa bisa melewati ini dengan baik, dan semuanya akan berakhir dengan bahagia.”
Mereka hanya bisa berdoa, namun tak tahu jika pada saat yang bersamaan, Haris baru saja menceraikan istrinya dan mengusirnya dari rumah mereka.
Era kegelapan telah datang di lereng Gunung Mandiri.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *