Search

BAGIAN 27 UNTUK SEBUAH NAMA

BAGIAN 27 UNTUK SEBUAH NAMA

“Hoaahhhmm …”

Maya mengerjapkan mata sambil menguap, berusaha melepaskan rasa kantuk dari dalam tubuhnya setelah beristirahat sepanjang malam. Ia melirik ke arah samping, di mana suami dan anaknya masih tertidur pulas di atas ranjang yang sama. Dengan lembut, ia mengusap kening mereka dengan penuh rasa cinta.

“Kalau dilihat-lihat, wajah kalian benar-benar mirip ya,” gumamnya dengan suara tertahan, karena tidak ingin membuat kedua sosok yang sangat ia cintai tersebut bangun dari tidur. “Ya jelas lah, namanya juga Bapak dan Anak.”

Perempuan berparas cantik itu kemudian bangkit dari ranjang dan beranjak meninggalkan kamar dengan berjingkat-jingkat, agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa membangunkan keduanya. Setelah berhasil membuka pintu kamar, ia pun kembali menutupnya tanpa membuat suara sedikit pun.

Dara muda yang baru mempunyai satu anak itu kemudian melangkah menuju dapur sambil meregangkan sendi-sendi di tangannya yang terasa pegal. Dengan hanya secarik daster yang menutupi tubuhnya dari pundak hingga sebatas paha, postur Maya yang seksi pun jadi bisa terlihat jelas di pagi yang cerah ini. Rambut hitamnya yang panjang sepunggung seperti terkibas-kibas ke kiri dan kanan saat ia berjalan, sedangkan kakinya yang jenjang melangkah dengan gerakan seirama.

“Hari ini aku masak apa ya?” Ujarnya saat membuka kulkas, yang masih belum dipenuhi oleh banyak bahan makanan, mengingat baru beberapa hari keluarga muda itu pindah ke Cluster Kembang Arum Asri.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil beberapa butir telur dari dalam kulkas, sebelum memecahkan dan mengumpulkan isinya di sebuah mangkuk. Ia pun tak lupa memotong beberapa daun bawang dan seledri, lalu memasukkannya ke dalam adonan, beserta sejumput garam.

Setelah itu, barulah Maya meraih penggorengan dan minyak untuk memproses adonan tersebut menjadi santapan favorit sang suami di pagi hari. Namun belum sempat ia menyalakan kompor, tiba-tiba pintu kamar tidur yang tadi ia tinggalkan terbuka dengan kencang.

“Mayaaaa …” ujar sang suami setengah berteriak. Ia tampak panik dan menoleh ke kiri dan kanan demi mencari-cari istrinya, seperti orang kesetanan. “Maya sayaaanngg … Mayaaa … Di mana kamu?”

“Kenapa sih, Mas? Aku di sini lho, lagi mau masak sarapan.”

“Hah … Untunglah!”

Sembari menghembuskan nafas lega, Ervan pun mendekati istrinya yang tengah menyiapkan perlengkapan memasak di dapur, lalu memeluknya dari belakang.

“Aku pikir kamu pergi jalan-jalan lagi seperti kemarin,” ujar Ervan sambil mengecup pipi sang istri dari belakang.

“Aku kan sudah minta maaf sama kamu, Mas. Karena kemarin sempat membuat kamu khawatir. Lagian kalau pun pergi, paling cuma keliling cluster doank, dan nggak akan lebih jauh dari itu. Kamu kan tahu aku nggak bisa bawa mobil.”

“Iya sih.”

“Terus kenapa panik banget kayak begitu?”

“Aku cuma … habis mengalami mimpi buruk.”

“Mimpi buruk apa?”

“Aku mimpi kamu pergi meninggalkan aku, sambil bergandengan tangan dengan pria lain. Nggak hanya itu, kamu juga membawa Athar bersama kamu.”

“Hmm, cowoknya lebih ganteng nggak? Badannya lebih macho dan gagah?” Tanya Maya dengan nada bercanda, demi menggoda sang suami yang tampak masih shock dengan mimpinya tersebut.

“Ihh, aku tuh lagi serius, Sayang!”

“Hahaha, iya aku minta maaf lagi deh, Suamiku. Lagian kamu aneh-aneh saja, memangnya aku mau pergi sama siapa sih di mimpi Mas itu? Kita kenal orangnya?”

“Nah, kayaknya kita kenal pria tersebut, makanya aku kesel banget.”

“Siapa? Mantan aku waktu kuliah? Atau artis Korea yang biasa aku minta tolong kamu buat download variety show-nya?”

“Tuh kan bercanda lagi …”

“Hahaha. Ya habis siapa dong?”

“Masalahnya ketika bangun, aku malah lupa siapa orangnya.”

“Yahh … Penonton kecewa.”

Meski telah berusaha menanggapi dengan tidak terlalu serius agar sang suami tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati, tetapi mimpi tersebut sepertinya cukup membuat kesan negatif di kepala Ervan. Karena itu, Maya pun membalikkan tubuhnya untuk menghadap Ervan, lalu mengusapkan tangan di pipi pujaan hatinya tersebut. Setelah itu, ia menyunggingkan senyum termanis yang bisa ia buat.

“Mas Ervan tersayang …”

“I-iya Sayang …”

“Aku bersumpah kalau aku tidak akan meninggalkan kamu dan Athar.”

“Kamu janji?”

“Janji, Sayangkuu.”

“Sampai kapan pun?”

“Iyyyaaaaaaa … Ayo mau nanya apa lagi?”

“Nggak. Udah itu aja.”

Dengan gemas dan penuh rasa cinta, Ervan pun memeluk tubuh istrinya. Ia seperti ingin menunjukkan betapa ia tidak mau sedikit pun kehilangan kehadiran perempuan cantik itu dari sisinya.

“S-Sayang … Pelan-pelan dong peluknya, sakit neh,” ujar Maya menggerutu.

“Eh, i-iya … Maaf.”

“Ya sudah. Mendingan kamu bangunin Athar dulu sana, biar dia bisa sarapan. Aku mau masak dulu.”

“Masak apa tuh? Favorit aku bukan? Telur dadar pakai saos tomat?”

“Iya!”

“Asyiiiikkk …”

“Cepet sana bangunin anaknya.”

“Siap istriku yang manis,” jawab Ervan sambil bergegas kembali menuju kamar. Suasana hatinya kini sudah sedikit ceria berkat kata-kata sang istri barusan.

Begitu suaminya telah menghilang dari pandangan, Maya tampak menghembuskan nafas lega. Ia memang tidak berdusta saat mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan suaminya untuk pria lain. Namun prioritas hidupnya saat ini telah sedikit berubah, dari yang awalnya hanya untuk keluarga kecil yang tengah ia bangun, menjadi pengungkapan misteri terbunuhnya orang tua dan adiknya di daerah tempat ia tinggal saat ini.

“Maafkan aku, Mas Ervan, kalau dalam proses tersebut aku terpaksa melakukan hal-hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Namun semua itu murni hanya untuk mendapatkan jawaban akan kematian keluargaku yang benar-benar janggal, tidak lebih.”

Namun Maya juga merasa bahwa ia tidak bisa membohongi perasaannya, bahwa apa yang terjadi kemarin, ditambah peristiwa memalukan di rumah Pak Hamzah di hari sebelumnya, sudah sedikit membuat keteguhan hatinya goyah. Maya mulai merasakan ada sensasi unik yang muncul dari tubuhnya, dan ia tidak menyukai itu. Ia bertekad untuk menahan diri agar tidak kelewat batas, meski harus diakui hal tersebut tak mudah untuk dilakukan.

“Setelah berhasil menemukan jawaban terkait terbunuhnya orang tuaku dan Eno, hal itu pasti akan hilang dengan sendirinya. Aku yakin itu.”

Maya kemudian kembali fokus ke aktivitasnya memasak sarapan untuk suami dan anaknya. Kegiatan itu diawali dengan menyalakan kompor, dan meletakkan penggorengan yang sudah dilumuri minyak di atasnya.

Dengan gerakan perlahan, Maya mencelupkan ujung jari kelingkingnya ke dalam adonan telur yang baru saja ia buat, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa adonan tersebut memang sudah pas, tapi ada hal lain yang terasa kurang di hati Maya.

Ia pun mencelupkan kembali jarinya, tetapi kali ini justru jari tengahnya yang berukuran lebih besar. Setelah itu, ia kembali memasukkannya ke dalam mulut. Dan dengan penuh penghayatan, ia sedikit menghisapnya sambil memainkan lidahnya di ujung jari tersebut. Ada ingatan yang terpantik akibat kegiatan yang sebenarnya sangat normal itu.

“Ahhh … nikmat sekali Pak …”

.::..::..::..::..::.

Di hari sebelumnya, Maya memang sempat berjalan menyusuri daerah di sekitar kediaman barunya. Namun kali ini, ia coba mengambil rute terjauh yang pernah ia lewati.

Alasannya sederhana, ia hanya tidak ingin bertemu dengan Pak Hamzah setelah kejadian pelecehan yang sempat ia alami di hari sebelumnya. Apabila ia berjalan-jalan di sekitar lingkungan cluster, pasti akan sangat besar kemungkinan ia kembali bertemu dengan pria mesum itu, atau sang istri yang sama tidak warasnya.

Kali ini, Maya tidak membawa anak semata wayangnya seperti yang biasa ia lakukan. Saat akan meninggalkan rumah, ia melihat Athar sudah asyik tertidur di atas ranjang, dan ia tidak tega untuk membangunkan.

Sang suami yang diharapkan bisa menemaninya pun juga telah tertidur pulas di ranjang yang sama, setelah di hari sebelumnya kelelahan menjaga pos pemantauan di lereng Gunung Mandiri.

“Sepertinya tidak masalah kalau aku tinggalkan mereka berdua di rumah. Athar sudah besar, dan kalau butuh sesuatu pasti langsung menangis, dan ayahnya pasti akan langsung terbangun. Lagipula kalau hanya berdiam diri di rumah seperti ini, lama-lama aku akan merasa bosan.”

Berjalan kaki sendiri, membuat Maya lebih leluasa untuk berkeliling dengan cepat. Karena itu, tanpa sadar ia sudah cukup jauh meninggalkan wilayah cluster, dan masuk ke perkampungan yang berada di sekitar komplek perumahan tersebut. Hingga akhirnya, ia melewati sebuah rumah sederhana yang ditumbuhi beberapa tanaman di pekarangannya. Di depan rumah tersebut, terlihat seorang pria tua yang sedang duduk bersantai di atas dipan rotan.

Bagi orang lain, pemandangan tersebut adalah sesuatu yang biasa. Apalagi bagi penduduk asli kampung tersebut. Namun tidak untuk Maya, yang sebelum pergi tadi sempat melihat-lihat aplikasi chat di ponsel suaminya. Karena kejadian ribut-ribut yang berlangsung tadi pagi, sang suami jadi bisa bergabung dengan grup RT, dan membuat Maya jadi bisa melihat kontak semua penghuni lingkungan tersebut.

Maya langsung memperhatikan nama-nama yang sempat disebut oleh Pak Hamzah di hari sebelumnya, saat payudaranya dimainkan seenak jidat oleh pria tua tersebut. Dalam hati, ia memuji ingatannya yang luar biasa baik, meski dalam kondisi terdesak seperti kemarin.

“Oh, ternyata ini nomornya Pak RT Sukirman, yang sudah pernah aku temui saat pertama kali datang ke cluster ini. Narsis banget sih foto profilnya, pakai acara nyengir-nyengir segala,” ujar Maya sambil melihat-lihat profil penduduk RT lainnya yang ada di dalam grup.

Tangannya tiba-tiba berhenti bergerak di atas layar saat melihat profil kedua saudara kandung Pak RT yang bernama Sukirno dan Sukirlan. Ia pun memperhatikan betul wajah keduanya, demi bisa mengingatnya dengan baik.

Sebelumnya, ia juga memeriksa apakah ada penduduk desa lain yang namanya serupa dengan mereka, tetapi nyatanya nihil. Sosok bernama Sukirman, Sukirno, dan Sukirlan di lingkungan RT tersebut ya memang cuma tiga orang itu, tidak ada yang lain.

“Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru berjalan-jalan sebentar, aku sudah berhasil menemukan sosok pria yang memang hendak aku temui,” gumam Maya saat melewati rumah tersebut.

Dalam sekejap, ia berusaha menyusun strategi agar bisa mendekati sang pria tua, dan mendapatkan informasi yang ia inginkan. Awalnya ia ragu kalau strategi itu akan berhasil. Tetapi, tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?

Dengan langkah anggun yang tidak dibuat-buat, Maya memasuki pekarangan rumah tersebut yang begitu asri dengan cukup banyak tanaman. Sepertinya, istri sang bandot tua itu cukup rajin juga merawat rumah, tidak jauh berbeda dengan istri Pak Hamzah. Namun bukan artinya mereka berdua punya tingkat kewarasan yang sama.

Sebelum begitu dekat dengan sang pemilik rumah, Maya sempat melihat-lihat ke kiri dan kanan, berusaha mencari sosok yang mungkin bisa ia minta tolong apabila situasi sudah berada di luar kendali. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang terlihat di sekitar rumah tersebut.

“Kalau nanti dia macam-macam kepadaku seperti yang dilakukan Pak Hamzah kemarin, aku harus bagaimana ya? Ah, lihat nanti sajalah. Aku nanti pasti bisa kabur, entah bagaimana caranya.”

Awalnya, pria bernama Sukirno itu tidak begitu memperhatikan kedatangan Maya. Ia tengah asyik menghisap rokok sambil merenungkan sesuatu. Dan tidak ada hal lain yang bisa membuatnya begitu fokus seperti itu selain memikirkan cara untuk mendapatkan menantunya yang jelita.

Ia baru sadar akan kehadiran sang bidadari cantik ketika posisi mereka berdua sudah cukup berdekatan.

“Permisi, Pak.”

“Eh, iya. Mau cari siapa ya, Mbak?”

Dalam hati Sukirno bertanya-tanya, siapa perempuan bertubuh molek yang tiba-tiba datang ke rumahnya ini. Apakah ia teman anaknya yang bernama Hendro? Atau justru rekan kerja menantunya yang bernama Intan?

“Kalau dilihat-lihat, wajahnya sih masih lebih aduhai Intan. Tapi body-nya jelas lebih semok cewek ini. Bikin ngaceng aja neh sore-sore.”

“Mmm … Saya nggak lagi cari siapa-siapa kok. Kebetulan saya sedang jalan-jalan sore saja di sekitar sini dan …”

Maya sedikit menundukkan tubuhnya, dan memijat-mijat paha dan betisnya dengan lembut. Tanpa sadar, posisi seperti itu justru seperti menonjolkan bentuk tubuhnya yang begitu seksi di hadapan Sukirno, membuat nafas sang pria tua itu sedikit tertahan.

“Dan apa Mbak?”

“Dan kaki saya sedikit pegal, Pak. Lihat neh, sudah nggak kuat jalan. Boleh saya izin duduk sebentar di sini?”

Sukirno sempat menatap tajam ke arah Maya, mulai dari ujung kepala yang berbalut jilbab, hingga ujung kaki yang beralaskan sandal, menampakkan sedikit bagian kakinya yang berkulit putih bersih.

Wajah Maya tampak begitu manis dengan hidungnya yang mancung dan bibirnya yang meski belum dilapisi lipstik, tetap menampilkan rona yang begitu menggoda. Dagunya yang lancip seperti menambah indah parasnya, yang bertambah anggun dengan jilbab berbahan kain sebagai bingkai. Postur tubuhnya tinggi semampai, dengan bagian pinggul yang sedikit membesar membuat lengkungan indah seperti gitar Spanyol.

Pria tua itu berusaha mengenali perempuan cantik di hadapannya, barangkali mereka pernah bertemu sebelumnya. Namun gagal, ini jelas kali pertama dia bertemu dengan perempuan itu. Mustahil seorang Sukirno bisa melupakan momen pertemuan dengan dara jelita seperti sosok yang ada di depannya saat ini.

“Bagaimana, Pak? Boleh saya numpang istirahat sebentar?”

“Boleh, Mbak. Tapi …”

“Tapi apa, Pak?”

“Tapi cuma ada dipan ini saja. Nggak ada bangku lagi.”

Padahal itu hanya akal-akalan Sukirno saja. Mana mungkin ada rumah, sejelek apapun bentuknya, yang tidak mempunyai kursi lagi di dalamnya. Ia hanya malas untuk mengambilnya, atau punya strategi tersendiri untuk bisa berdekatan dengan perempuan manis tersebut.

“Hmm, nggak apa-apa kok. Boleh saya duduk di samping Bapak saja?”

“Boleh banget, Mbak. Hee …”

“Suwun, Pak. Terima kasih.”

Begitu bokongnya yang montok berhasil rebah di atas dipan rotan, Maya langsung menarik kepalanya ke kiri dan kanan, seperti sedang melakukan peregangan. Terdengar bunyi gemeretak dari sendi-sendi di lehernya yang sedikit kaku. Setelah itu, Maya pun memijat-mijat kedua pahanya, agar alasannya tadi terkesan cukup natural. Padahal, tidak ada judulnya kelelahan setelah jalan kaki beberapa kilometer bagi perempuan yang rajin jogging seperti Maya.

“Gleekk …”

Meski sudah coba ditahan, tetapi suara Sukirno yang baru saja meneguk air liurnya sendiri jelas sekali terdengar. Gerak-gerik Maya sebenarnya masih dalam kategori normal. Tetapi memang dasar otak Sukirno saja yang sudah dipenuhi pikiran mesum, sehingga gerakan seperti apa pun justru terlihat sensual dan menggairahkan.

“Nama Bapak Sukirno kan?”

“Leres. Betul, Mbak. Orang-orang sini sih biasa panggil saya Pak No.”

“Alhamdulillah kalau tebakan saya tepat. Salam kenal ya, Pak No.”

“Dari mana Mbak tahu nama saya? Kalau tidak salah, kita belum pernah bertemu kan?”

“Belum, Pak No. Kita memang belum pernah ketemu. Tapi siapa sih yang nggak kenal dengan keluarga Sukir, pengendali Desa Bawukan, Kampung Growol, dan Cluster Kembang Arum Asri, serta daerah-daerah di sekelilingnya?”

Maya sebenarnya tidak tahu persis seberapa kuat pengaruh kelompok yang disebut-sebut sebagai Keluarga Sukir itu. Ia hanya membeo perkataan Bu Mirna, istri Pak Hamzah, yang sempat mengatakan hal itu kemarin. Ia justru ingin mempelajari hal tersebut langsung dari salah satu tokoh utama, yang saat ini sedang bersama dengan dirinya.

Dipuji seperti itu, apalagi oleh seorang perempuan cantik seperti Maya, Pak No sontak merasa bangga. Egonya seperti terbang ke langit ketujuh, menuju surga harga diri yang tertinggi. Tanpa sadar, ia sedikit memperbaiki posisi duduknya agar terlihat lebih gagah.

“Ternyata sudah seterkenal itu ya pengaruh kami bertiga? Hahaa. Padahal saya merasa biasa-biasa saja lho.”

“Bapak ini merendah saja. Seantero kampung sini jelas sudah tahu, kalau tidak ada yang perlu ditakuti selain bapak-bapak bertiga.”

“Kamu sudah ketemu dengan Sukirman dan Sukirlan?”

“Sudah, Pak,” jawab Maya sedikit berbohong, karena ia tentu belum pernah sekali pun bertemu dengan Sukirlan.

“Menurut kamu bagaimana? Siapa yang paling bikin takut di antara kami bertiga? Hahaa.”

“Hmm, kalau boleh jujur sih. Menurut saya …”

Tiba-tiba Maya menghentikan kata-katanya.

“Kok berhenti, Mbak?”

“Maaf, Pak. Nggak jadi. Saya khawatir nanti dianggap menyinggung.”

“Kenapa harus khawatir? Bilang aja nggak apa-apa, Mbak.”

“Yakin, Pak?”

“Iya. Memangnya mau ngomong apa sih?”

“Menurut saya, wajar kalau orang-orang pada takut sama Pak Sukirman dan Pak Sukirlan, karena wajah mereka memang menyeramkan. Tapi kalau Pak No … kayaknya lebih cocok kalau dibilang wajahnya bikin deg-degan.”

“Lho, sama saja donk. Deg-degan sama takut?”

“Bukan deg-degan yang itu, Pak. Tapi yang lain … Deg-degan yang bikin geli dan hangat di sekujur tubuh sampai ke ubun-ubun.”

“Masa sih?”

Maya mengangguk malu-malu. Tak lupa, ia juga sedikit menggigit bibir bawahnya, seperti tengah menahan sebuah gejolak yang mulai muncul dari dalam tubuhnya.

“Kamu juga sekarang deg-degan donk?”

Maya kembali mengangguk.

“Kok bisa?”

“Menurut saya, meski … maaf neh … usia Bapak kan sudah tidak lagi muda. Tapi wajah Bapak masih kelihatan tampan. Tubuh Bapak juga masih gagah dan jantan.”

“Ah, Mbak ini bisa saja. Pasti lagi meledek. Kulit sudah keriput begini masa dibilang gagah.”

“Serius,” jawab Maya sambil memberanikan diri untuk mengusap lengan Pak No yang terbuka dengan tangannya yang lembut. Itu adalah pertama kalinya kulit mereka bersentuhan, seperti mengalirkan gelombang listrik yang menyetrum tubuh mereka berdua. “Kalau misalnya muka Bapak bikin takut, nggak mungkin kan saya berani datang ke sini dan duduk di samping Bapak.”

“Belum tahu saja kamu. Nanti kalau saya gigit baru tahu rasa. Hahaa.”

“Hmm … Saya mau kok kena gigitan Pak No.”

“Yakin? Gigitan saya tajam lho. Sekali kena, nggak ada yang bisa lepas. Yang ada malah bikin jadi ketagihan.”

“Ngghh … justru yang tajam itu yang lebih enak, Pak. Apalagi kalau nusuknya sampai dalam.”

“Sampai mentok ke ujung?”

“Hu-uh.”

“Sampai bikin basah juga, Mbak?”

“Jelas bikin basah, Pak.”

“...”

“Kan digigit, jadi pasti berdarah kan? Ya jadi basah. Hee.”

Mereka berdua pun sama-sama tertawa.

Perlahan tapi pasti, Pak No mulai merasa adanya ketertarikan yang spesial terhadap perempuan cantik yang berada di hadapannya ini. Berbeda dengan istrinya yang membosankan dan menantunya yang lebih suka marah-marah apabila digoda, Maya justru menanggapi candaan menjurus yang ia lontarkan, dengan balasan yang tidak kalah menantang. Hal itu seperti menghadirkan sensasi unik yang tidak pernah Pak No rasakan sebelumnya.

Mata Pak No mulai memperhatikan ke satu arah, ke satu bagian tubuh yang begitu menggodanya sejak tadi, yang ikut bergoyang-goyang pelan saat pemiliknya tertawa. Kaos lengan panjang Maya yang tidak terlalu longgar jelas tidak bisa menyembunyikan gunung kembar berukuran cukup besar di baliknya. Bila diperhatikan dengan seksama, Pak No bahkan bisa melihat kaitan bra yang tercetak di balik kaos tersebut.

“Kenapa bengong, Pak? Sedang mikirin sesuatu?” Tanya Maya, yang langsung membuyarkan lamunan Pak No.

“Eh … Nggak kok. Nggak lagi mikirin apa-apa.”

“Masa? Kirain lagi mikirin saya. Hehee.”

“Kalau iya, bagaimana?”

“Ya saya jadi malu, Pak.”

“Kamu penghuni baru ya di kampung sini?”

“Iya.”

“Kamu sudah menikah?”

“Sudah, Pak.”

“Sudah punya anak juga?”

“Sudah juga.”

“Berapa?”

“Satu.”

“Wah, ibu muda anak satu. Pasti lagi matang-matangnya neh.”

“Memangnya ayam, bisa matang? Hehee.”

“Ya kamu itu memang seperti ayam, Nduk. Malu-malu tapi mau. Aku yakin di balik sosok alim ini, tersembunyi gairah seksual yang mendalam. Hmm … pasti nikmat sekali kalau bisa merasakan tempikmu yang gurih, sambil meremas-remas susumu yang menggemaskan itu.”

“Ada alasan khusus kenapa pindah ke kampung sini?” Tanya Pak No lagi.

“Suami saya harus pindah tugas ke sekitar Gunung Mandiri. Karena itu, kami sekeluarga harus pindah ke sini.”

“Memang sebelumnya kamu tinggal di mana?”

“Di kota.”

“Pantas saja.”

“Pantas kenapa, Pak?”

“Pantas saja kalau wajah kamu cantik begini. Cuma perempuan kota yang wajahnya seputih dan sebening kamu.”

“Ini ceritanya Bapak lagi ngerayu?”

“Memangnya kamu mau kalau saya rayu?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

Maya mendekatkan posisi duduknya hingga tepat berada di sebelah Pak No. Paha mereka pun kini telah saling menempel satu sama lain. Setelah itu, ia membisikkan sesuatu di telinga pria tua tersebut.

“Tergantung seberapa kuat gigitan Bapak. Saya penasaran apa gigitan Bapak benar-benar bisa nusuk sampai dalam, bikin saya basah, dan bikin saya jadi ketagihan.”

Mendengar kata-kata tersebut, jantung Pak No langsung berdebar. Ia tidak pernah menyangka akan berada di posisi seperti ini seumur hidupnya, dibuat terangsang oleh seorang wanita hanya lewat kata-kata. Namun jangan sebut namanya Sukirno, apabila diperlakukan begini saja mentalnya langsung runtuh. Karena itu, ia pun balas membisikkan sesuatu di telinga Maya.

“Kalau kamu mau buktinya, rumah saya ini sekarang lagi kosong. Nanti saya tunjukkan bagaimana nikmatnya gigitan saya, yang pasti bisa bikin kamu basah sampai minta lagi … lagi … dan lagi …���

Maya langsung tersenyum malu-malu, hingga membuat pipinya jadi kemerahan.

“Ah, Pak No ini bercanda terus.”

“Eladalah … Aku ini serius lho. Hahaa.”

“Serius kosong rumahnya?”

“Iya.”

“Memang istri Bapak lagi ke mana?”

“Tadi baru pergi ke luar,” ucap Pak No bohong. Istrinya sedang sakit keras dan hanya bisa berbaring, kini pun tengah terlelap di dalam kamar, tidak bisa kemana-mana.

“Pulangnya masih lama?”

“Nggak tahu.”

“Males ah kalau gigitnya cuma sebentar. Hehee.”

“Memangnya mau berapa lama?”

“Yang pasti nggak sekali celup langsung selesai. Eh.”

“Kalau sama saya, cewek-cewek itu cukup digigit sebentar juga langsung basah lho.”

“Masa iya? Ingat lho, tadi Bapak sendiri yang bilang kalau cewek kota itu beda sama cewek kampung. Jangan-jangan justru Pak No yang basah duluan nanti habis gigit-gigit saya.”

“Nggak mungkin. Justru punyanya Mbak nanti yang malah kedut-kedut dan getar-getar.”

“Apanya tuh yang kedut-kedut dan getar-getar.”

“Tempikmu, Mbak. Hahaa.”

“Ihh, Pak No pornoooooo …” ujar Maya sambil memukul-mukul lembut lengan pria tua tersebut, yang hanya mengenakan kaos dan celana pendek.

Karena begitu dekatnya posisi mereka berdua, Pak No jadi bisa menghirup aroma parfum yang dikenakan Maya, meski sudah sedikit bercampur dengan keringat akibat perjalanan yang cukup jauh antara rumah mereka berdua. Namun, kombinasi tersebut justru seperti menjadi feromon yang membangkitkan nafsu birahi sang pria tua. Nafasnya mulai menderu akibat tubuhnya yang mulai hangat akan birahi.

“Tapi saya mau cerita sedikit. Apa Pak No mau dengar?” Tanya Maya.

“Boleh, cerita saja, Mbak.”

“Sebenarnya, saya sempat ragu ketika mendapat kabar kalau suami saya harus pindah ke sini.”

“Kenapa ragu? Di sini kan penghuninya baik-baik, suka membantu satu sama lain. Apabila Mbak butuh bantuan untuk dibikin basah, saya juga siap kok. Hahaa.”

“Ihh, saya lagi serius lho ini … Kenapa dibelokin ke situ terus sih?”

“Hahaa. Maaf … maaf … Jadi kenapa kamu sempat ragu untuk pindah ke sini?”

“Saya dengar, sempat ada kejadian sebuah rumah di kampung ini yang tiba-tiba terbakar habis, sehingga tiga orang anggota keluarga di dalamnya langsung tewas. Saya jadi takut kalau di daerah sini banyak kriminal.”

“Di sini memang banyak kriminal.”

Jawaban Pak No seperti membangkitkan rasa penasaran Maya. Ia tidak menyangka kalau pria tua tersebut akan menjawab dengan begitu jujur bahwa tempat di mana mereka berada sekarang memang bukanlah tempat yang aman.

“Yang benar, Pak?”

“Iya. Makanya kamu harus hati-hati.”

“Duh, saya jadi takut. Atau lebih baik saya minta suami pindah lagi saja ya?”

“Oh, ndak … ndak usah. Kamu tidak perlu khawatir. Selama kamu menjalin kedekatan dengan orang yang tepat, saya bisa jamin kamu akan aman di tempat ini.”

“Kalau saya bisa dekat dengan Pak No, bagaimana? Apakah Bapak bisa menjamin keamanan saya juga?”

“Oh jelas. Kalau sama saya, kamu bukan cuma akan dibikin aman, tapi juga dibikin nyaman.”

“Hehee … Mau banget kalau dibikin nyaman.”

Merasa mendapat persetujuan tersirat, Pak No mulai memberanikan diri untuk merangkul tubuh Maya dari arah belakang dan melabuhkan tangan di pinggang perempuan tersebut. Maya sebenarnya sudah coba menepis rangkulan itu, namun gagal.

Pak No bahkan terus melanjutkan aksinya dengan mendekatkan wajahnya ke leher Maya yang masih berbalut jilbab. Ia membaui tubuh sang bidadari cantik tersebut, layaknya pejantan yang sedang mencari betina favoritnya. Tak lupa, ia pun turut menyentuhkan hidungnya di pipi Maya yang begitu halus dan lembut karena rajin perawatan.

“Nghhh … stop Pak,” lirih Maya.

“Kenapa? Tadi katanya kamu mau dibikin nyaman?” Jawab Pak No tanpa mengendurkan sedikit pun aksinya.

“Saya masih keringetan, Pak. Habis jalan jauh kan tadi. Saya takut Bapak jadi ilfeel.”

“Nggak, kok. Saya malah suka bau keringat kamu, benar-benar menggoda.”

Maya akhirnya mengerahkan segenap tenaganya yang tersisa untuk menahan bahu Pak No dan mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh. Untungnya, kali ini dia berhasil.

“Tapi, saya masih punya pertanyaan, Pak.”

“Pertanyaan apa lagi sih?” jawab Pak No dengan nada kesal.

Ia nampak tidak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk melepaskan libidonya yang tertahan. Apalagi, sudah ada hidangan yang terlihat begitu manis tepat di depan matanya.

“Saya pernah dengar cerita, kalau keluarga yang meninggal di kebakaran rumah tersebut, katanya mereka punya hutang sama Pak No. Benar nggak sih?”

“Ngawur itu.”

“Masa sih?”

“Kamu memangnya dengar dari mana?”

“Biasa, Pak. Gosip ibu-ibu sini.”

“Kalau ada penduduk kampung yang kesulitan keuangan dan butuh berhutang, ya jelas mereka perginya ke Sukirman yang uangnya lebih banyak, bukan sama saya.”

“Oh, begitu.”

“Kalau datang ke saya, biasanya mereka bukan butuh uang, tapi butuh yang lain.”

“Apa tuh, Pak?”

“Butuh yang ini.”

Tiba-tiba Pak No memelorotkan celana pendeknya, yang ternyata tidak dilapisi oleh celana dalam lagi di baliknya. Akibatnya, batang kemaluannya yang berukuran besar langsung tegak menjulang. Uratnya yang besar terlihat menonjol di berbagai tempat, terlepas dari warna kulitnya yang gelap. Bulu-bulu halus berwarna hitam yang tumbuh di sekitar pangkalnya seperti membuat nuansa eksotis di sekitar pentungan raksasa tersebut.

“Glekk …” Kali ini giliran Maya yang harus meneguk air liurnya.

“Kok diam?”

“Hmm, nggak apa-apa Pak,” jawab Maya, tanpa sanggup memalingkan matanya dari menatap batang kemaluan yang berukuran jumbo itu.

“Kamu suka ya?”

“Suka apa, Pak?”

“Suka ini, yang lagi kamu pelototin.”

Bibir Maya bergetar. Ia seperti sedang menahan sesuatu, namun tidak mau mengakuinya.

“Suka nggak?” Tanya Pak No lagi.

Akhirnya Maya menyerah dan mengangguk pelan.

“Besar ya?”

“Besar banget.”

“Besar mana sama punya suami kamu?”

“Harus aku jawab, Pak?”

“Harus donk. Hahaa.”

“Besar punya Bapak.”

Kali ini Maya tidak berbohong. Ukuran panjang kemaluan suaminya memang jauh lebih kecil, bahkan tidak sampai setengah dari ukuran kemaluan Pak No. Apalagi kalau bicara tentang diameternya, lebih parah. Perempuan tersebut bahkan sedikit kaget, bagaimana bisa ada pria tua dengan ukuran kemaluan sebesar itu.

Namun belum selesai dengan rasa herannya, tangan Maya telah digapai oleh Pak No, dan diarahkan ke batang panjang yang berada tepat di tengah selangkangan pria tua tersebut. Dalam sekejap, perempuan itu pun bisa merasakan secara langsung betapa kerasnya penis milik sang pria tua, serta bagaimana bulu-bulu kemaluannya menggelitik kulitnya yang halus.

“Apa rasanya, Mbak?” Tanya Pak No sambil mengusap-usap mesra kepala Maya yang masih berbalut jilbab. Apabila ada orang lain yang melihat dari jauh, mungkin akan mengira keduanya adalah pasangan ayah dan anak yang sedang berbagi curahan hati.

“K-Keras, Pak … Hangat,” jawab Maya dengan nada suara yang sedikit bergetar.

“Apa jadinya kalau batang keras ini dipakai untuk tusuk-tusuk tempikmu?”

“Hmm …”

“Kok diam?”

“Nghhh … Takut nggak muat, Pak.”

“Belum pernah ngerasain yang sebesar ini sebelumnya?”

Maya menggeleng.

“Hahaa. Kalau dimasukin, bakal mentok sampai ujung?”

“I-Iya, Pak.”

“Bakal bikin kamu basah nggak?”

“Pasti, Pak.”

“Kalau begitu, coba kamu kasih pemanasan dulu.”

“Caranya?”

Pak No kemudian menarik kepala Maya agar menunduk dan mendekat ke arah selangkangannya. Bau area sekitar kemaluan laki-laki yang khas pun langsung menyeruak, menembus indra-indra penciuman di hidung Maya.

“Kamu isepin dulu kontolku, Cantik.”

“T-Tapi, Pak …”

“Coba dulu saja, nanti pasti ketagihan. Hahaa …”

Maya sebenarnya berusaha untuk menolak, karena jelas bukan ini yang dia inginkan dari Pak No. Namun tekanan dari tangan pria tua tersebut terasa begitu kuat, tak mampu dibendung oleh tenaga Maya yang tidak seberapa. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi sang ibu muda beranak satu tersebut, selain menuruti permintaan sang bandot tua.

“Cuppp.”

Maya mulai menempelkan bibirnya ke ujung kemaluan panjang milik Pak No, membuat pemiliknya kegelian. Kepala Maya kembali ditekan agar bibirnya kini bersentuhan dengan bagian batangnya yang tegang.

Awalnya Maya memang merasa jijik dengan bau daerah selangkangan Pak No yang begitu membuat mual, serta warna penisnya yang hitam. Namun entah kenapa, lama-lama perempuan tersebut jadi mulai terbiasa.

“Buka sedikit mulut kamu, Mbak. Nah iya gitu … Aaahhhh, nikmatnya bibir manis seorang ibu muda kayak kamu.”

Ini adalah pertama kalinya Maya merasakan mulutnya dimasuki oleh benda asing berujung tumpul milik seorang pria. Suaminya Ervan tidak pernah sama sekali memintanya untuk melakukan blow job, meski Maya mungkin tidak akan menolak memenuhi permintaan tersebut.

“Hmmmppphhh …”

Maya tampak kesulitan menghadapi tusukan benda panjang dan besar itu di dalam mulutnya. Ia bahkan hampir tersedak karena kesulitan bernafas. Rongga mulutnya kini telah begitu sesak akan batang kemaluan jumbo milik Pak No.

“Lama-lama kamu akan terbiasa, Cantik. Nah iya, mainkan lidah kamu begitu …”

Meski enggan untuk memberikan rangsangan tambahan, tetapi ukuran penis Pak No yang besar membuat tidak ada celah bagi lidah Maya untuk bergerak di dalam mulut. Akibatnya, hal itu justru memberikan sensasi menyenangkan bagi sang pria tua.

Tangan Pak No bahkan telah melanjutkan petualangannya ke arah dada Maya, di mana dua buah gunung kembar yang berukuran besar dan montok bermukim di sana. Tanpa menunggu lama, pria tersebut langsung meremas-remas bagian tubuh yang sudah menarik perhatiannya dari tadi itu.

“Toket kamu montok banget, sih …”

“Ngggghhh … Paaakkk …”

Maya tahu ini sudah kelewat batas. Sayangnya, dia tidak punya cara untuk menghentikannya.

“Krriiiinnggg …”

Tiba-tiba terdengar dering telepon yang berbunyi cukup nyaring. Getaran ponsel tersebut bahkan sampai menjalar lewat permukaan dipan rotan, hingga bisa dirasakan oleh Maya. Panggilan tersebut jelas tidak berasal dari ponsel miliknya yang selalu dalam kondisi silent.

“Krriiiinnggg …”

Pak No tampak enggan menggubris panggilan telepon tersebut. Namun karena tidak kunjung diangkat, bunyi dering telepon itu pun tak berhenti menyalak.

“Krriiiinnggg …”

Pada nada dering ketiga, barulah Pak No merasa terganggu.

“Haissshhh … siapa sih ini orang? Ganggu aja.”

Pak No sebenarnya ingin langsung menekan tombol reject, dan kembali fokus menjamah tubuh Maya. Namun ia urungkan rencana tersebut setelah melihat nama saudara kandungnya tertera di layar. Ia tahu persis, kalau baik Sukirman maupun Sukirlan tidak akan menghubunginya, apalagi langsung lewat telepon, apabila tidak ada keadaan darurat.

Dengan terpaksa, Pak No melepaskan kemaluannya dari mulut Maya, dan mengembalikan celananya ke posisi semula. Kemudian, ia bergerak menjauh, karena tidak mau obrolannya dengan sang penelepon bisa didengar oleh Maya.

“Kamu tunggu sini sebentar, jangan ke mana-mana.”

Maya hanya mengangguk, sambil mengusapkan jempolnya ke bibir, membersihkan air liurnya yang menempel di sana.

Begitu merasa posisinya sudah aman, barulah Pak No mengangkat panggilan telepon tersebut.

“Ono opo tho? Ada apa?”

“...”

“Ini soal yang tadi pagi?”

“...”

“Serius kita mau begitu?”

“...”

“Iya … iya … saya paham.”

“...”

“Baik, saya ke sana sekarang.”

Setelah menutup telepon, Pak No kembali ke dipan rotan tempatnya semula duduk. Namun, perempuan yang tadi bersamanya kini sudah menghilang, tidak tampak lagi batang hidungnya.

“Duh, dia malah pergi. Benar-benar mengganggu banget neh masalahnya si Sobri bajingan. Mana aku belum sempat menanyakan nama perempuan yang tadi,” gerutu Pak No sambil garuk-garuk kepala.

.::..::..::..::..::.

“Aku berangkat dulu ya, Sayang,” ujar sang suami yang sudah duduk di kursi pengemudi.

Mesin mobil sudah dipanaskan dan siap untuk berangkat. Namun ia tidak mau melewatkan kesempatan untuk berpamitan pada istrinya yang cantik, yang saat ini tengah menggendong anak semata wayang mereka di depan teras rumah.

Baru saja selesai menikmati sarapan yang dibuat oleh sang istri, pria tersebut mendapat pemberitahuan di ponsel miliknya, bahwa ada sebuah sinyal bahaya yang harus diperiksa di pos pemantauan. Karena itu, ia pun bergegas untuk bersiap kembali ke tempatnya biasa bekerja di lereng Gunung Mandiri, meski baru saja beberapa hari menikmati waktu istirahat di rumah.

“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”

“Kakak Athar juga jangan ngambek ya ditinggal Ayah.”

Sang anak tidak menjawab, dan hanya celingak-celinguk ke arah lain. Balita tersebut kelihatan masih sangat mengantuk setelah dibangunkan pagi-pagi.

“Kamu nggak ngambek lagi kan kayak kemarin? Aku benar-benar harus kembali ke pos pemantauan soalnya.”

“Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Aku nggak ngambek.”

“Kebetulan ada sinyal bahaya yang muncul dari sensor di gunung. Tapi aku harap itu bukan apa-apa. Cuma perkembangan biasa saja.”

“Aku paham kok, Mas. Aku mengerti kalau sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kamu untuk memeriksa setiap sinyal bahaya yang muncul.”

“Yakin nggak apa-apa aku tinggal sendirian?”

“Yakin, Mas Ervan sayang. Sudah sana berangkat.”

Tanggapan Maya yang terkesan seadanya, bahkan sedikit terasa mengusir, sebenarnya membuat Ervan merasa ragu. Ia kembali teringat bagaimana manjanya sang ibu muda tersebut, saat ia harus berangkat ke pos pemantauan Gunung Mandiri beberapa hari sebelumnya. Harus diakui, meski tingkah Maya saat itu terasa menjengkelkan, Ervan juga merasa tersanjung akan perhatian luar biasa dari sang istri.

Namun kini, tidak ada satu pun gelagat Maya untuk menahan kepergiannya. Sikap istrinya itu seperti berubah 180 derajat. Hal itu membuat Ervan berpikir apakah rasa sayang sang istri kepadanya sudah mulai berkurang? Atau ini adalah wujud pembalasannya setelah ditinggal pergi beberapa hari lalu?

Meski sudah beberapa tahun menjalin bahtera rumah tangga dengan perempuan cantik itu, Ervan tetap merasa ada sisi lain dari kepribadian Maya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Contohnya adalah senyuman Maya hari ini, semuanya terkesan berbeda, terkesan palsu. Hal itu jelas membuatnya khawatir.

Namun di sisi lain, ia harus tetap berangkat dan meninggalkan anak dan istrinya. Apabila ia menolak pergi, bisa jadi ia akan mendapat hukuman dari atasannya, dan kehilangan mata pencaharian untuk membahagiakan keluarganya. Seperti buah simalakama, bukan?

“Aku janji untuk segera pulang saat semua pemeriksaan telah selesai aku jalankan, dan berhasil aku laporkan ke kantor pusat.”

“Iya, Mas. Nanti kabari saja kalau mau pulang, biar aku bisa buatkan makanan kesukaan kamu.”

“Baiklah kalau begitu. Kamu jaga diri baik-baik di rumah ya, Maya. Aku berangkat dulu. Assalamualaykum.”

“Waalaykumsalam.”

Maya terus menatap kepergian sang suami, mulai sejak mobil yang ia kendarai mundur keluar dari teras rumah, hingga kemudian hilang dari pandangan saat berbelok di ujung jalan. Setelah itu, barulah Maya berbalik masuk ke dalam rumah.

Dengan langkah pasti, Maya langsung menuju kamar tidurnya. Ia kemudian membaringkan anaknya yang terlihat masih mengantuk di atas ranjang. Setelah itu, ia keloni balita tersebut hingga benar-benar tertidur. Agar tidak banyak bergerak, Maya pun tak lupa membuat benteng pertahanan dari bantal dan guling di sekitar Athar, agar ia tidak terguling dari atas ranjang.

“Kamu tidur yang pulas ya anak manis. Maafkan Mama karena sudah memberikan sesuatu di makanan kamu tadi pagi. Tapi Mama harus melakukan itu, demi menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Mbah Kakung, Mbah Putri, dan Tante kamu.”

Setelah yakin kalau anaknya sudah tertidur pulas, Maya kemudian bangkit dan menuju lemari pakaian. Dalam waktu sekejap, dasternya telah berganti dengan kemeja dan celana panjang. Sedangkan rambutnya yang sejak bangun masih tergerai bebas, kini telah tertutup oleh jilbab yang indah. Penampilan Maya pun langsung berubah dari seorang ibu rumah tangga biasa, menjadi seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Maya kemudian duduk di depan meja rias yang juga berada di kamar tidur tersebut, lalu mulai mengenakan make up di wajahnya, sesuatu yang belum pernah ia lakukan setelah pindah ke cluster ini. Ia pun tak lupa menyemprotkan parfum favoritnya, yang menambah aroma menarik dari tubuhnya yang sintal.

Setelah itu, ia pun menatap tajam ke arah cermin di hadapannya, mengagumi wajahnya sendiri yang memang cantik jelita.

“Hidupku tidak akan bisa tenang apabila aku belum bisa menemukan siapa sosok jahat yang harus bertanggung jawab di balik kematian keluargaku. Dan kini, tinggal selangkah lagi, aku akan menemukan jawabannya.”

Maya mengusap pipi tembamnya, yang kini sudah berwarna sedikit kemerahan. Alis di atas matanya pun telah terbentuk dengan paripurna. Apabila ada pria yang melihat, tak mungkin kalau mereka tidak akan tergoda.

“Tidak akan ada yang bisa menolak kecantikanku. Dan semuanya pasti akan memberikan informasi yang aku mau, dan memenuhi apa yang aku inginkan. Pasti.”

Perlahan, tangan Maya menggapai ke sebuah laci di meja rias tersebut, dan menariknya hingga terbuka. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dengan ukiran di bagian pangkalnya. Begitu sarung pisau tersebut ditarik, terlihat bilah besi yang mengkilap dan ujungnya yang tajam.

“Siapa pun yang terbukti telah membunuh keluargaku, pisau ini akan menjadi jembatan bagi mereka menuju neraka.”

Maya melirik ke arah ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Sebuah pesan ternyata baru saja masuk. Tanpa perlu melihat isinya, ia sudah tahu siapa pengirim pesan tersebut.

.::..::..::..::..::.

Di tempat lain, tepatnya di pos ronda Cluster Kembang Arum Asri, seorang pria paruh baya terlihat sedang duduk sendirian. Matanya celingak-celinguk ke salah satu jalan, seperti sedang menunggu seseorang. Sebuah sepeda motor yang ia kendarai untuk sampai di pos ronda tersebut, terparkir tepat di pinggir jalan.

“Duh, kenapa sih cewek itu minta bertemu di sini? Padahal nggak ada keperluan administrasi lagi yang perlu diselesaikan. Apa lagi sih yang mau ditanyain?” Gumam pria tersebut.

Setiap malam, pos ronda tersebut memang begitu ramai dengan para penghuni cluster yang asyik bermain catur, kartu remi, atau gaple. Namun pagi ini, situasi di sekitar pos ronda, yang memang berada di pojokan jalan, terlihat sepi. Kericuhan yang terjadi sehari sebelumnya mungkin merupakan salah satu alasan, mengapa para warga malas keluar rumah.

Seperti di tempat lain, pos ronda di Cluster Kembang Arum Asri terbuat dari batang dan anyaman bambu yang disusun sedemikian rupa, hingga membentuk sebuah bangunan semi permanen yang nyaman. Sebagai alas, ada sebuah dipan yang terbuat dari kayu, dengan posisi yang sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah. Para petugas ronda biasanya duduk bersila atau tidur-tiduran di atasnya.

Pria yang tengah berada di pos ronda tersebut sebenarnya sedang sangat kelelahan. Tanpa bisa dicegah, mulutnya menguap dengan lebar. Matanya juga telah begitu sayu, akibat kurang tidur semalam. Apabila tidak ada yang ditunggu, mungkin ia sudah langsung membaringkan tubuh di atas dipan, bukannya duduk-duduk di ujungnya seperti sekarang.

Ia masih teringat pesan singkat yang ia terima tadi pagi, dari seorang penghuni cluster yang tiba-tiba meminta untuk bertemu, dengan alasan ingin bicara tentang urusan administrasi kependudukan. Karena tidak ingin repot, pria tersebut pun langsung mengiyakan. Tak diduga, rasa kantuknya ternyata masih terasa sampai sekarang.

“Hooaaahhmm … Gara-gara kejadian semalam, aku jadi ngantuk berat hari ini. Dasar semprul memang Si Sobri. Bikin repot urusan semua orang saja.”

Untungnya, tak butuh waktu berapa lama bagi pria tersebut untuk menunggu.

Seorang perempuan mendadak terlihat berjalan dari arah rumahnya, menuju pos ronda yang jaraknya memang tidak begitu jauh. Wajahnya begitu cantik, apalagi dengan pakaian rapi yang ia kenakan hari ini, membuatnya tampak lebih anggun dari biasanya. Caranya berjalan yang begitu gemulai pun membuat jantung sang pria jadi bergemuruh.

“Uweeeedaaaannn … Uuuuaaayyuuuuu tenaaaaaaannnn. Beruntung sekali memang si Ervan itu bisa punya istri yang wajahnya cantik seperti ini.”

Saking terpananya pria tersebut, ia sampai tidak sadar kalau sang perempuan sudah berdiri tepat di hadapannya. Matanya masih melotot dan mulutnya masih terbuka lebar.

“Pak RT, kok bengong begitu? Kayak lagi kesambet.”

“E-Eh maaf Dek Maya. Saya hanya …”

“Hanya apa ayo?”

“Hanya ngantuk. Iya … semalam saya kurang tidur, jadi sedikit ngantuk.”

“Kok bisa sudah mau siang begini masih ngantuk. Habis ngapain coba sama istrinya semalam? Kelon-kelonan ya, Pak? Hehee.”

“Dek Maya ini bisa saja.”

“Memangnya semalam sampai berapa ronde mainnya, Pak?”

“Duh, jangan disebutin deh. Malu saya.”

“Malu kenapa? Karena terlalu banyak atau terlalu sedikit?”

“Masa iya terlalu sedikit, rugi donk. Kalau saya sebutkan, saya khawatir nanti Dek Maya nanti jadi iri. Kalau Dek Maya kepingin dan suaminya nggak bisa memenuhi, kan bisa gawat nanti. Hahaa … Hanya guyon ya Dek, jangan dibawa serius.”

“Hehee, iya Pak. Ngomong-ngomong, boleh saya duduk di samping Bapak? Pegal juga neh lama-lama berdiri.”

“Eh iya. Silakan duduk Dek. Maaf, jadi lupa menawarkan.”

“Santai, Pak.”

Begitu sang bidadari berparas menawan itu duduk di sampingnya, darah Pak RT yang mempunyai nama asli Sukirman alias Pak Man tersebut pun jadi berdesir. Ia tidak bisa tidak tergoda dengan bau harum yang menyeruak dari tubuh ibu muda tersebut. Apalagi dengan penampilannya saat ini yang begitu memukau.

“Wuuaanngii tenan Dek Maya ini. Jauh sekali dengan istri saya yang seringnya malah bau terasi. Pasti mahal ini parfumnya.”

“Pak RT sudah lama ya sampai di sini?”

“Nggak kok. Belum lama. Baru juga beberapa menit.”

“Maaf ya, karena saya datang terlambat, Bapak jadi harus menunggu.”

“Nggak apa-apa, Dek Maya. Lagipula, memang sudah tugas saya sebagai kepala lingkungan di sini untuk memenuhi semua permintaan warganya, hahaa. Asal jangan lupa …”

“Jangan lupa apa, Pak?”

“Jangan lupa nanti pilih saya sebagai Pak RT of the month, waktu Pak Lurah mengadakan survei keliling cluster. Oke?”

“Hehee … Beres kalau itu, Pak,” jawab Maya sambil memberikan hormat dengan cara menempelkan ujung jarinya ke kening.

“Nah, cocok kalau begitu. Oh iya, anaknya Dek Maya di mana? Kok tumben nggak dibawa? Namanya siapa? Avatar kan ya?”

“Namanya Athar, Pak. Kalau Avatar sih nama judul film.”

“Owalah, benar juga. Yang muka tokohnya ungu-ungu itu kan?”

“Betul, Pak.”

“Harap maklum ya Dek Maya, namanya orang kampung memang lidahnya suka belibet kalau ngomong.”

“Iya, Pak. Nggak apa-apa. Anak saya lagi main sama ayahnya di rumah,” jawab Maya.

Meski hal itu merupakan sebuah kebohongan, Pak Man tidak mungkin mengetahuinya bukan? Masa iya dia sampai memeriksa ke dalam rumah?

“Ooohhh …”

“Kalau rumah Pak RT? Jauh ya dari sini?”

“Tergantung, rumah yang mana dulu neh?”

“Saya jadi lupa kalau Pak RT istrinya sudah dua. Hehee …” jawab Maya sambil tertawa santai.

“Loh, tahu dari mana?”

“Kan Bapak sendiri yang bilang waktu pertama kali kita ketemu.”

“Masa? Wah, lali e. Kayaknya sudah mulai pikun. Hahaa …”

“Jadi, tadi datang dari rumah istri ke berapa, Pak?”

“Tadi dari rumah yang pertama. Ya, sekitar 10 menitan lah dari sini.”

“Istrinya nggak nanya Pak RT mau pergi ke mana?”

“Dia mah jarang nanya-nanya saya mau pergi ke mana. Lagipula, dia juga ada acara pengajian hari ini sama teman-temannya.”

“Oh, begitu.”

Pak Man mulai menaruh sedikit kecurigaan mengapa perempuan di hadapannya mengajak bertemu hari ini, dan justru menanyakan hal-hal remeh seperti tadi. Tidak mungkin kan kalau Maya mengajak bertemu hanya untuk bicara basa-basi. Biasanya para warga justru ingin cepat-cepat meminta stempel, agar urusan bisa cepat selesai.

Ia pun meningkatkan kewaspadaan, dan mulai mencecar Maya akan maksud sebenarnya dari pertemuan mereka ini.

“Jadi, ada urusan apa ya kalau boleh tahu, sehingga Dek Maya meminta saya untuk bertemu di sini? Bukankah urusan administrasi kepindahan Dek Maya sekeluarga ke cluster ini sudah selesai? Mas Ervan kan sudah memberikan semua dokumen kepada saya waktu itu.”

“Hmm, bagaimana ya ngomongnya. Sebenarnya saya tidak ingin bicara soal itu. Tapi soal yang lain, Pak.”

“Oh. Soal apa ya kalau boleh tahu? Dan kenapa kita nggak bertemu di rumah Dek Maya saja?”

“Anu …”

“Anu apa, Dek?”

“Errr, saya nggak enak kalau nanti obrolan kita didengar suami saya.”

“Lho, kenapa? Saya jadi penasaran, sebenarnya soal apa sih ini?”

“Ini soal mimpi saya semalam, Pak. Ada sesuatu yang aneh.”

“Aneh bagaimana? Waktu mimpi, apakah Dek Maya sedang tertidur.”

“Iya donk, Pak. Mana bisa mimpi sambil bangun?”

“Lah makanya, kalau Dek Maya mimpi sewaktu lagi tidur, artinya tidak aneh donk. Kalau mimpinya sambil bangun, apalagi sambil lari-lari, nah itu baru aneh. Hahaa.”

“Pak RT ini. Makanya kalau saya sedang bicara jangan dipotong terus, Pak.”

“Hahaa. Iya maaf, maaf. Jadi apa masalahnya?”

“Masalahnya …”

“Iya?”

“Masalahnya, semalam ada sosok Bapak di dalam mimpi saya itu.”

Pak Man pun terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Keningnya berkerut, karena ia mendadak bingung ke mana arah pembicaraan ini sebenarnya. Memimpikan seorang pria tua seperti dirinya tentu bukanlah sesuatu yang wajar. Tapi menjadi lebih tidak wajar lagi ketika Maya memutuskan untuk memberitahu dirinya secara langsung, dan justru merahasiakan hal itu dari suaminya.

“Pak RT? Pak? Kok diam?”

“Eh iya. Maaf. Saya hanya bingung.”

“Bingung kenapa, Pak?”

“Bingung saya lagi ngapain di mimpi Dek Maya. Jangan-jangan sedang nagih iuran RT ya? Dan sekarang kamu ingin bayar iuran, biar besok-besok tidak kebawa mimpi lagi? Hahaa. Iya kan?”

“Bukan itu, Pak.”

“Lalu?”

“Saya mimpi … Bapak menggauli saya semalam.”

“Meng … apa Dek? Menggauli? Sepertinya saya salah dengar ya,” tanya Pak Man berusaha memastikan.

“Pak RT nggak salah dengar kok. Dalam mimpi saya itu, Pak RT datang ke rumah saya, membimbing saya ke kamar tidur, setelah itu …”

“Setelah itu apa, Dek Maya?” Tanya Pak Man sambil berusaha mengatur deru nafasnya.

Ia tentu tidak pernah membayangkan akan ada bidadari cantik penghuni cluster yang sampai memimpikan dirinya secara sensual seperti itu di dalam tidur mereka. Kalau dirinya sendiri, sudah tidak terhitung lagi berapa kali memimpikan para perempuan cantik itu, bahkan sampai menjadikan mereka objek coli di kamar mandi.

“Setelah itu, Pak RT mulai merebahkan saya di atas ranjang, mengusap pipi saya, lalu melucuti pakaian saya satu per satu. Bapak melepas kancing kemeja saya dari atas ke bawah, lalu meloloskan celana panjang saya. Sehingga saya hanya tinggal mengenakan pakaian dalam dan jilbab saja.”

“Seperti pakaian yang Dek Maya pakai hari ini?”

“Beda donk, Pak.”

“Beda bagaimana?”

Maya tiba-tiba mendekatkan posisi duduknya hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara keduanya. Paha mereka kini saling bersentuhan satu sama lain.

Setelah itu, ia membisikkan sesuatu ke telinga Pak Man. Sesuatu yang membuat benda pusaka di selangkangan sang pimpinan RT jadi berdiri tegak.

“Kalau hari ini, saya sedang tidak mengenakan pakaian dalam.”

Mendengar itu, Pak Man berusaha fokus pada bagian payudara Maya yang begitu membusung. Awalnya ia memang tidak terlalu memperhatikan, karena warna kemeja yang sedikit gelap. Namun apabila diamati lebih cermat, terlihat ada sebuah daging mungil yang membuat pola unik di puncak buah dada perempuan tersebut. Hal itu menjadi tanda bahwa memang tidak ada lagi sehelai pakaian pun yang berada di balik kemejanya.

“Begoooooo! Kenapa dari tadi aku nggak merhatiin hal itu? Mimpi apa aku bisa ketiban rejeki nomplok kayak gini? Gak perlu susah-susah merkosa Mbak Nisa seperti yang dilakukan Uwak Sobri atau ngejar-ngejar Dek Amy seperti yang aku lakukan selama ini. Iki lho, Dek Maya malah seperti memberikan sendiri tubuhnya buat aku nikmati.”

Namun bukan Sukirman namanya kalau dia tidak bisa membalas kata-kata Maya dengan godaan yang tidak kalah binalnya. Pengalamannya yang sudah bertahun-tahun dalam menghadapi perempuan, tentu tidak bisa diremehkan begitu saja.

“Masa sih, Dek? Saya tidak percaya.”

“Hmm … Memangnya Pak RT nggak bisa lihat sendiri,” tanya Maya sambil membusungkan dadanya dengan sedikit malu-malu.

“Errr, bagaimana ya? Kalau Dek Maya bisa membuktikan bahwa dirimu benar-benar tidak pakai pakaian dalam, saya baru bisa percaya.”

“Membuktikan? Caranya?”

“Ya, Dek Maya buka saja kemejanya.”

“Di sini, Pak?”

“Mau di rumah Dek Maya saja? Boleh juga sih.”

“J-Jangan, Pak. Ada suami saya kalau di rumah.”

“Nah, jadi bagaimana enaknya?”

Maya tampak menoleh ke kiri dan kanan, berusaha memastikan bahwa tidak ada seorang pun warga cluster yang lewat dan bisa melihat apa yang akan terjadi di antara mereka berdua. Dengan suaminya saja, ia hanya mau membuka aurat di tempat tertutup, di mana tidak ada seorang pun yang bisa melihat mereka. Bukan di tempat terbuka seperti ini.

“Dek Maya nggak perlu khawatir. Kalau menjelang siang begini, nggak akan ada yang lewat Pos Ronda ini,” ujar Pak Man berusaha meyakinkan.

“Yakin, Pak?”

“Yakin banget. Kan saya sudah biasa nongkrong di sini.”

Pak Man tidak ingin terkesan memaksa sang ibu muda untuk melakukan apa yang ia mau, khawatir semuanya akan menjadi bumerang seperti apa yang terjadi pada Uwak Sobri semalam. Meski mempunyai otak mesum, ia bukanlah penjahat karbitan yang kerjanya memerkosa perempuan dengan paksaan, yang hanya bisa menuruti nafsu tanpa pandang bulu.

Bukankah justru Maya sendiri yang memulai semua ini? Karena itu, ia ingin Maya juga yang mengambil inisiatif, ke mana adegan ini akan berujung. Lagipula, kalau tidak berhasil mendapatkan Maya, sudah ada perempuan lain yang siap menjadi cadangan.

“Baiklah kalau begitu. Saya akan buktikan kepada Bapak.”

“Nah, kalau begitu kan jadi enak,” jawab Pak Man sambil mengeluarkan lidahnya guna memulas bibirnya yang kering. Matanya terlihat melotot ke arah sang perempuan yang tampak kebingungan itu.

Perlahan, Maya mulai melepas kancing kemejanya. Ia awali dengan yang posisinya paling atas, lalu dilanjutkan dengan kancing-kancing di bawahnya, hingga belahan dadanya mulai terlihat. Ia kemudian menyibakkan ujung jilbab yang ia kenakan dan menyampirkannya ke leher, sehingga payudaranya bisa terlihat jelas oleh Pak Man.

“Tuh, Pak RT sudah bisa lihat kan?”

“Hmm, kurang Dek.”

“Kurang bagaimana?”

“Tanggung kalau cuma sampai segitu. Coba lepas lagi semua kancingnya sampai bawah, biar lebih jelas terlihat.”

Maya terlihat ragu, tapi tidak juga bisa menahan diri untuk menghentikan semuanya. Ia sudah kepalang tanggung apabila berhenti di momen tersebut. Padahal, Pak Man bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Sang Ketua RT hanya memberikan perintah, dan istri Ervan itu seperti tidak punya kemampuan untuk menolaknya.

Akhirnya, perempuan muda itu pun melanjutkan aksinya dengan melepaskan seluruh kancing kemejanya, hingga memperlihatkan dengan jelas tubuh bagian atasnya yang putih bersih tanpa cela, lengkap dengan gunung kembar yang menggantung di sana. Daerah sekitar putingnya yang berwarna coklat muda, seperti menggoda Pak Man untuk segera menyentuhnya. Putingnya yang sudah mengeras pun seperti menarik perhatian sang pria tua untuk lekas memasukkannya ke dalam mulut dan menghisapnya kuat-kuat.

“Indah sekali tubuhmu, Dek Maya.”

“Masa sih, Pak? Lebih indah mana sama istri-istri Pak RT?”

“Lebih indah kamu …”

Kalau dibanding dua istri sahnya saat ini, Maya jelas lebih unggul kemana-mana. Namun apabila dibandingkan dengan Amy, yang juga merupakan salah satu buruan Pak Man, barulah sang pria tua mulai ragu menentukan pilihan.

Tak ingin terlalu lama membiarkan sang betina begitu saja, Pak Man langsung menarik kepala Maya, lalu mengecup bibirnya yang indah. Meski tidak mengenakan lipstik, bibir tersebut tetap tampak begitu sensual, sehingga memancing sang ketua RT untuk menikmatinya terlebih dahulu.

“Nggghh, Paaakkk …”

Maya mulai mengeluarkan desahan saat bibirnya dikulum dengan lembut oleh sang pria tua. Rasa nikmatnya mirip dengan apa yang ia rasakan dari sang suami. Hanya saja, ada aroma unik campuran tembakau, alkohol, dan air liur yang tercium di sana. Aroma yang tak mungkin ia hirup saat sedang bercumbu dengan suaminya yang sah.

“Manis sekali bibirmu ini, Dek Maya,” ujar Pak Man sambil mengusap-usap bagian belakang kepala sang perempuan dengan romantis.

“Nggghhhh … Pelan-pelaann Paaakkk …”

Diperlakukan seperti itu, gairah Maya mulai naik. Apalagi, semalam ia gagal mendapatkan ‘jatah’ persetubuhan yang ia inginkan dari sang suami. Ervan hanya memberi alasan bahwa ia sedang kelelahan setelah bekerja.

“Hmpphh … Indah sekali toketmu ini, Dek,” ujar Pak Man yang ternyata telah menangkupkan tangannya di buah dada indah milik Maya yang menggantung bebas.

Jemarinya bermain-main dengan lihai di ujung puting Maya, yang sebenarnya masih sedikit lembab setelah diemut-emut oleh sang anak beberapa jam sebelumnya. Hal itu mengingatkan Pak Man bahwa payudara itu bukanlah gentong kosong seperti milik kedua istrinya, melainkan sebuah penampungan air susu yang penuh terisi.

“Aku mau minta izin ya, Dek Maya.”

“Izin apa, Pak?”

“Aku ingin sedot-sedot susu kamu. Boleh?”

Maya memalingkan wajah, tanda bahwa ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Perempuan tersebut menggigit bibir bawahnya, seperti sedang menahan sebuah gejolak di dalam hatinya. Dadanya mulai naik turun dengan cepat, menandai nafasnya yang kian menderu.

“Bagaimana, Dek Maya. Boleh nggak saya nenen susu kamu, seperti yang biasa dilakukan Athar?”

“Tapi …”

“Sebentar saja. Saya ingin nyobain rasanya susu ibu muda seperti kamu, yang murni langsung dari sumbernya. Boleh kan?”

Dengan berat hati, Maya menggerakkan kepalanya ke atas dan bawah. Ia melakukannya sambil kembali melihat kondisi di sekitar Pos Ronda, khawatir ada yang tiba-tiba datang dan melihat aksi mesum mereka berdua. Apabila itu terjadi, mau ditaruh di mana mukanya? Jangan-jangan, dia bisa diarak juga seperti perempuan bernama Nisa yang baru saja dipermalukan kemarin.

Setelah mendapat persetujuan, Pak Man langsung menurunkan kepalanya ke arah payudara Maya yang sebelah kanan, lalu memasukkan putingnya yang menonjol ke dalam mulut. Setelah itu, ia langsung memanfaatkan lidahnya untuk menowel-nowel daging lembut itu. Ia kemudian menjepit puting tersebut dengan kedua bibirnya, dan mulai menghisapnya dengan kuat.

Tanpa harus menunggu lama, tetesan air susu berwarna putih mulai mengucur dari dalam payudara besar milik Maya. Cairan tersebut langsung membasahi kerongkongan Pak Man yang memang kebetulan sedang haus. Dalam hati, pria tersebut merasa luar biasa girang, bisa menikmati air susu seorang ibu muda berparas menawan seperti Maya.

VrTzJ2zz_t.png

“Nggghhhh … Pak RT!”

Merasakan isapan tersebut, Maya tidak bisa menahan gairahnya sendiri. Ia balas memeluk kepala Pak Man dan menjambak-jambak rambutnya yang sudah mulai dipenuhi uban. Ini memang bukan pertama kalinya ia memberikan air susu pada pria dewasa yang tidak seharusnya menikmatinya. Namun, bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? Dan karena pengalaman tersebut, Maya jadi lebih bisa menemukan kelezatannya.

“Air susumu enak banget, Dek Maya. Manis dan gurih. Pantes anakmu badannya lemu, karena pasti susumu ini sangat bergizi.”

“Nggghh, Pak …”

“Apa saya juga melakukan ini di dalam mimpimu itu, Dek Maya?”

“I-Iya, Pak.”

“Terus? Apa lagi yang saya lakukan?”

“Di dalam mimpi saya, Bapak bilang kalau Bapak menginginkan saya. Bapak ingin mencium saya, membelai tubuh saya dari ujung kaki sampai ujung kepala.”

“Seperti ini?” Tanya Pak Man sambil membelai lembut tubuh Maya dari atas hingga bawah, membuat perempuan tersebut kegelian.

“I-Iya, Pak.”

“Dan kamu juga menginginkan itu?”

Maya mengangguk pelan.

“Apa lagi yang kamu inginkan, Dek Maya?” Tanya Pak Man sambil terus mengulum puting payudara Maya, seperti ingin menguras isinya sampai habis. Walau ia tahu bahwa hal itu mustahil terjadi. Apabila habis, buah dada tersebut pasti akan kembali terisi dengan air susu yang manis nan gurih itu.

“Dalam mimpi saya, Bapak terlihat menjilati payudara saya dengan rakus, kemudian mengelus-elus paha saya, sampai ke tengah selangkangan saya.”

“Kamu sering membayangkan bersetubuh dengan pria yang lebih tua seperti saya?”

“N-Nggak pernah, Pak. Ini pertama kalinya.”

Pak Man kini mulai melepaskan kulumannya di payudara Maya, lalu memeluk tubuh perempuan tersebut. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang ibu muda, dan membisikkan sesuatu di sana.

“Apa yang Dek Maya rasakan saat ini?”

“Hmmpphh … Hangat, Pak.”

“Apa Mas Ervan pernah membuat Dek Maya merasakan kehangatan seperti ini?”

“N-Nggak pernah, Pak …”

Pak Man kemudian menarik tubuh Maya agar naik ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Karena itu, ia pun bisa dengan mudah untuk kembali memainkan kedua gunung kembar perempuan tersebut dari belakang. Ia mulai mengecup-ngecup leher Maya yang masih berbalut jilbab, berusaha mereguk aroma menggoda dari tubuh sang bidadari jelita.

Salah satu tangan Pak Man kini mulai bergerak ke bawah, merogoh isi di balik celana panjang yang dikenakan Maya, membuat perempuan tersebut menggelinjang. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, pria tua itu langsung mengusap-usap lapisan kulit nan sensitif yang tersembunyi di sana.

“Ngghhh … Geli banget, Pak …”

“Ternyata benar kata kamu tadi. Selain nggak pake beha, kamu juga nggak pakai celana dalam ya?”

Maya tidak sanggup menjawab. Ia hanya bisa menahan birahinya sendiri yang sudah begitu menggelegak saat liang senggamanya mulai disentuh oleh jari telunjuk Pak Man. Apalagi, ketika bulu-bulu halus di sekitar lubang vagina tersebut digesek-gesek oleh tangan sang pria yang kasar.

“Suami kamu pernah melakukan ini, Dek Maya? Mainin toket dan memek kamu secara bersamaan?”

Maya menggeleng.

“N-Nggak pernah, Pak.”

“Wah, sayang banget. Padahal enak lho. Iya kan? Enak kan Dek Maya, kalau memeknya saya elus-elus begini?”

“E-Enak Paaakk … Nggghhh …”

Maya kembali mengerang saat Pak Man mulai menyelipkan jari telunjuk ke dalam vaginanya, menggaruk dinding bagian depan yang sudah mulai berkedut-kedut liar. Meski belum masuk terlalu dalam, Maya sudah merasakan rasa nikmat yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Saya akan melakukan hal-hal nikmat yang tidak pernah diberikan suami kamu. Mau?”

“M-Mauuu Paaaakkk …”

“Suka dikobel-kobel begini memek kamu, Dek Maya?”

“S-Sukaa Paaakkk …”

“Boleh saya teruskan? Sampai Dek Maya merasakan kenikmatan yang sesungguhnya?”

“B-Bolleeehhh Paaakkk …”

Mereka berdua seperti larut dalam birahi mereka masing-masing. Selama beberapa menit, tidak ada suara yang terdengar dari mulut mereka, selain erangan dan desahan yang merupakan efek bergejolaknya birahi keduanya.

Jemari Pak Man terus bergerilya memainkan payudara dan vagina Maya, hingga keringat tampak mengalir di tubuh mereka berdua. Namun hal itu tidak mereka indahkan, mengingat gelombang birahi yang tengah bertubi-tubi melanda mereka.

“Apa yang kamu suka dari saya, Dek Maya?”

“Saya suka karena Bapak punya tubuh yang gagah, wajah Bapak juga ganteng.”

“Masa sih? Hahaa …”

“Saya juga percaya, kalau Bapak adalah orang baik. Nggghh …”

“Tahu dari mana kalau saya baik? Hahaa.”

“Saya pernah dengar cerita, ngghhh … Kalau di daerah sini pernah ada satu keluarga yang terbunuh karena musibah kebakaran, ahhhh … Tapi sebelum mereka meninggal, hmmpphh … Pak RT pernah membantu memberikan pinjaman uang kepada mereka, uhhhkkk …”

“Oh, maksud kamu Pak Budi dan Bu Sulastri? Memang malang sekali nasib mereka.”

“Jadi benar? Kalau Bapak pernah memberikan utang untuk mereka?”

“Iya, benar.”

“Ngghh …”

“Tapi semuanya sudah lunas tepat sebelum mereka meninggal.”

“Hah, yang benar Pak?”

“Iya. Katanya anak mereka yang bernama Retno punya pekerjaan freelance atau apa lah. Sehingga mereka bisa melunasi utang tepat pada waktunya.”

Kepala Maya seperti berputar-putar.

Di kondisi seperti sekarang, saat nafsunya telah diaduk-aduk oleh Maya, tidak ada alasan bagi Pak Man untuk berbohong bukan? Masalahnya, apabila yang dikatakan pria tua itu adalah sebuah kebenaran, maka tidak ada motif yang bisa menghubungkan Pak Man dengan kematian keluarganya yang mencurigakan. Apa yang Maya bayangkan selama ini, ternyata sama sekali tidak beralasan.

Namun di tengah kebingungan tersebut, Pak Man justru kembali menarik kepala Maya demi mengecup bibirnya yang ranum. Lewat jari telunjuknya yang masih berada di balik celana panjang Maya, ia bisa merasakan bagaimana kemaluan sang dara telah begitu lembab, dan siap untuk dimasuki oleh kejantanannya yang sudah menegak sejak tadi.

“Gilaaaaaa … Beberapa saat lagi, akhirnya aku bisa mendapatkan tempik indah ibu muda seperti Maya. Hahaha, beruntungnyaaaa … Enaknya dipake dengan gaya apa ya Si Maya ini? Misionaris? Woman on top? Atau langsung didoggy? Hahaa …”

Namun tiba-tiba, terdengar bunyi ponsel yang nyaring dari kantung celana Maya.

“Duh, siapa sih itu yang menelepon. Ganggu saja,” ujar Pak Man menggerutu.

“T-Tunggu sebentar, Pak.”

Momen tersebut dimanfaatkan Maya untuk melepaskan diri dari pelukan Pak Man, dan bangkit dari pangkuannya. Ia pun langsung menutup kembali kancing-kancing kemejanya yang terbuka. Setelah pakaiannya kembali rapi, barulah ia mengambil ponsel dari kantung celana, dan seperti berbicara dengan seseorang lewat ponsel tersebut.

“I-Iya Mas, aku sedang di luar sebentar. Mau beli sayuran.”

“...”

“Oh, Athar sudah bangun?”

“...”

“Iya, tunggu sebentar. Ini sudah mau pulang kok.”

“...”

“Iya, sabar ya. Ini sudah di jalan balik. Bye Sayang.”

Maya kembali memasukkan ponsel ke dalam sakunya, lalu berusaha menenangkan degup jantungnya yang menderu. Namun tidak jelas juga apakah ketegangan itu disebabkan oleh rasa kaget karena ponsel yang tiba-tiba berbunyi, atau birahi yang sudah mulai muncul ke permukaan.

“Suami kamu nyariin?”

“Iya, Pak. Saya izin pulang dulu. Permisi.”

“Lalu … ini …”

Belum sempat Pak Man menyelesaikan kata-katanya, Maya sudah keburu pergi meninggalkannya. Dan yang lebih parah lagi, ia meninggalkan pentungan daging Pak Man yang sudah ingin menyemprotkan isi di dalamnya, namun gagal.

“Sial. Aku harus segera mencari pelampiasan!”

.::..::..::..::..::.

Di perjalanan pulang dari Pos Ronda, Maya bersyukur karena rencananya berjalan dengan sempurna. Seperti belajar dari kesalahannya saat bertemu dengan Pak No di hari sebelumnya, perempuan itu telah memikirkan cara membuat ‘alat penolong darurat’ yang bisa membantunya menghentikan tingkah liar Pak Man saat ia goda. Karena apabila dibiarkan begitu saja, pasti sudah habis ia ditiduri oleh pria tua itu.

Masalahnya, ia tidak bisa melibatkan orang lain yang tidak tahu menahu akan rencananya, untuk menyelamatkan diri. Peristiwa di rumah Pak No memberinya ide. Akhirnya, Maya memutuskan untuk membuat alarm di ponsel yang menyerupai dering telepon, lalu disetel untuk menyala di waktu tertentu, di mana kemungkinan Maya telah berhasil mendapatkan informasi yang ia mau. Setelah itu, ia akan pura-pura menerima telepon dari suaminya, dan harus pergi saat itu juga. Padahal, jelas suaminya tidak tahu tentang semua rencana ini.

“Entah apa jadinya kalau alarm ini tidak berbunyi, dan Pak RT semakin beringas menjamah tubuhku ini. Hiiii...”

Sayangnya, Maya juga merasa kecewa karena penyelidikannya akan kasus yang menimpa orang tuanya, seperti menemui jalan buntu. Bila utang keluarganya kepada Pak RT sudah dilunasi, maka untuk apa keluarganya harus dibunuh?

Kenapa?

Ada urusan apa lagi yang sedemikian berat yang mengharuskan keluarganya dihabisi? Orang sekeji apa yang telah membunuh bapak dan ibunya? Berarti, pasti ada tokoh lain yang menjadi dalang semua tragedi itu. Namun, siapa dia?

Karena perasaan bimbang tersebut, Maya sampai tidak menyadari bahwa ada seorang pria yang sedang berdiri di teras rumahnya, menghalangi jalannya untuk kembali pulang.

“Apa kabar cantik?”

Suara berat dari seorang pria yang bertubuh besar tersebut mengagetkan Maya. Ia akhirnya menyadari keberadaan pria tersebut, dan langsung mematung di tempatnya berdiri.

“Pak Ronggo! Apa yang Bapak lakukan di sini?”

“Masih perlu bertanya? Sudah jelas kan untuk apa aku ke sini.”

Maya jelas tahu jawabannya. Tapi ia tidak mau mengatakan itu dengan mulutnya sendiri.

“Ya jelas untuk menemui pujaan hatiku yang tiba-tiba pergi meninggalkan aku, ke tempat antah berantah seperti ini. Apa kamu tidak ingin merasakan tubuhmu yang molek itu kembali dipeluk oleh tubuh kekarku ini lagi, Manis?”

“Bajingan kamu, Pak! Setelah melecehkanku di sekolah, sekarang berani-beraninya Bapak datang ke sini!?”

“Sudah kubilang kan? Ke ujung dunia pun kamu pergi, pasti akan bisa aku temukan. Kamu tidak akan bisa lari dariku, Maya. Kita ini berjodoh, kemana kamu pergi, di sana aku ada.”

Dalam hati, Maya sebenarnya ingin kabur saja dari pria tersebut, agar tubuh indahnya tidak lagi disentuh olehnya. Tapi masalahnya, anak semata wayangnya masih berada di dalam rumah. Dan suatu saat, ia pasti akan terbangun dan mencari Mamanya.

Karena itu, Maya memberanikan diri untuk maju menghadapi Pak Ronggo. Ia berniat untuk menembus hadangan pria bertubuh besar itu, dan langsung masuk ke dalam rumah. Setelah itu, ia bisa dengan mudah mengunci pintu dan bersembunyi di baliknya.

“Minggir, Pak. Saya mau lewat.”

“Eiittsss … Mau ke mana sih, Sayang?”

Dengan gerakan cepat, Pak Ronggo justru berhasil menarik tangan Maya, lalu menangkap tubuh perempuan tersebut hingga jatuh ke dalam pelukannya. Ia bahkan langsung mengarahkan tangannya untuk menggerayangi bagian-bagian tubuh Maya yang sensitif.

“Wah, kamu sedang tidak pakai celana dalam ya ternyata. Nakal juga kamu kalau di kampung seperti ini,” ujar Pak Ronggo saat meremas-remas bokong maya yang montok, dan menemukan bahwa tidak ada lagi kain yang melapisi di baliknya.

“Hentikan, Pak. Saya mohon,” rintih Maya.

Tanpa bisa dicegah oleh Maya, air mata telah mengalir melewati pipinya yang indah. Ia ingin melawan dengan sekuat tenaga dan pergi dari dekapan pria mesum yang sudah berkali-kali melecehkannya tersebut. Namun, dilihat dari mana pun, tidak akan ada kesempatan bagi Maya untuk melawan.

“Lebih baik kamu nikmati saja, Cantik. Pas sekali kan, aku datang mengunjungimu saat suami kamu sedang tidak ada. Mari kita nikmati malam ini berdua, aku akan memberikan kenikmatan yang tidak akan kamu lupa. Hahaa …”

Pak Ronggo baru saja akan menyorongkan bibirnya guna mengecup pipi Maya, saat tiba-tiba terdengar teriakan kencang dari arah luar pagar rumah.

“Hentikan! Jangan coba-coba menyakiti Dek Maya!”

Mendengar bentakan tersebut, Pak Ronggo naik pitam. Ia langsung melepaskan tubuh Maya dan menoleh ke arah asal suara.

“Bajingan tengik! Siapa kamu? Berani-beraninya ganggu orang lagi senang-senang!”

“Harusnya saya yang tanya, siapa kamu? Seenaknya masuk ke cluster ini dan mengganggu Dek Maya!”

“Saya mantan atasannya! Saya kekasihnya! Orang yang pernah memberikan kenikmatan padanya! Mau apa kamu?”

Maya menggelengkan kepala dengan cepat. Raut wajahnya seperti memohon Pak Santo untuk membantunya mengenyahkan pria mesum itu.

“Kamu lebih baik pergi! Atau saya panggilkan pak RT dan warga lain untuk mengusir kamu!”

“Berani kamu sama saya?”

“Siapa takut?”

“Oh, jadi kamu mau main kasar? Sini maju!”

“Tak patheni sisan kowe!”

Pak Santo langsung menghambur ke arah Pak Ronggo, dan langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi. Sayangnya, tubuh besar Pak Ronggo ternyata tidak mudah untuk dilumpuhkan. Beberapa pukulan justru bisa dilepaskan dan langsung menusuk ke pertahanan Pak Santo, membuatnya terjengkang ke belakang.

“Sialaaaannn…!”

“Maju sini bajingan!”

Kali ini, Pak Santo menggunakan strategi yang berbeda. Ia memanfaatkan gerakan cepat yang tidak mampu diikuti oleh Pak Ronggo dan tubuhnya yang besar. Ia berkali-kali bisa menghindar dari pukulan Pak Ronggo, dan berhasil menangkis serangannya.

“Rasakan ini babiiiiiiii …!”

Hingga datang sebuah momen di mana Pak Ronggo tampak lengah, dan Pak Santo berhasil melayangkan pukulan telak ke arah wajah lawannya, hingga membuat bunyi gemeretak.

“Buummm …”

Tubuh Pak Ronggo langsung terkapar ke lantai teras yang terbuat dari beton. Wajahnya memerah karena lebam. Namun yang lebih parah, harga dirinya telah terluka karena berhasil dijatuhkan oleh lawannya yang berukuran lebih kecil itu.

“Sialan kamu! Tunggu pembalasanku nanti!”

“Kamu yang lebih baik bersiap untuk menjemput ajal, Bajingan,” balas Pak Santo dengan percaya diri.

“Anjing!” Teriak Pak Ronggo sambil naik ke atas motor yang ia parkir di depan rumah Maya, lalu langsung tancap gas meninggalkan tempat tersebut.

Saat Pak Ronggo sudah hilang dari pandangan, Pak Santo langsung menghampiri Maya yang masih menangis sesenggukan. Kenangan saat ia pertama kali dilecehkan oleh mantan atasannya tersebut seperti kembali ke alam sadarnya.

Melihat Maya yang sedang terpuruk, Pak Santo memberanikan diri untuk mengusap-usapkan tangannya ke kepala Maya dengan lembut. Sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk mengusap-usap pundak sang ibu muda tersebut.

“Terima kasih ya, Pak Santo. Sudah membantu saya mengusir Pak Ronggo. Hikss …” ujar Maya.

“Sama-sama, Dek Maya. Kamu tenang saja. Dia sudah pergi kok. Kamu tidak apa-apa kan?”

Maya mengangguk.

“Saya tidak akan membiarkan dia kembali ke sini. Kalau perlu, saya akan sampaikan pada Pak RT untuk mengingatkan para petugas keamanan di pintu masuk cluster, agar tidak pernah membiarkan dia masuk lagi ke sini.”

“Sekali lagi, terima kasih Pak.”

Tanpa meminta izin, Maya langsung memeluk tubuh Pak Santo, persis apa yang ia lakukan saat pertama kali mereka bertemu, saat dirinya diganggu oleh anak buah Pak Ronggo. Perempuan tersebut merasakan kehangatan dan keamanan di dada Pak Santo yang empuk.

Di sisi lain, Pak Santo juga merasakan kenyamanan, meski dengan kesan yang berbeda. Gundukan buah dada Maya yang menempel di dadanya seperti memberikan sensasi kelezatan yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Namun, di dalam pelukan tersebut, pikirannya tetap tertuju pada pria tua yang baru saja ia usir pergi. Wajah pak Santo berubah menjadi sangat kejam, “aku harus melakukan sesuatu. Pria seperti itu sudah seharusnya dihabisi hingga terkubur di dalam tanah.”

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy