Matahari pagi masih malu-malu memancarkan sinarnya. Ibarat kehidupan yang baru akan dimulai, belum cukup kuat daya yang keluar untuk menembus tebalnya kabut pagi perkampungan di lereng Gunung Mandiri.
Shinta menggeliat pelan dari tidurnya. Tubuhnya masih mengenakan daster mini nya semalam. Pahanya yang putih mulus malu-malu mengintip dari dalam.
Uhh…
Shinta masih merasakan sedikit ngilu di sekitar selangkangannya setelah semalam menjadi bulan-bulanan Pak Hasbi.
Shinta lalu bangun dan duduk sebentar di tepian tempat tidurnya. Ardian sudah tidak ada di tempat tidur, suaminya itu pasti bangun terlebih dahulu untuk siap-siap berangkat ke kantor. Shinta meregangkan persendiannya sekali lagi. Dia kaget saat melihat jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Ya ampun aku kesiangan lagi. Huft, setiap habis dikerjain Pak Hasbi aku selalu bangun kesiangan. Tapi rasanya memang capek banget sih. Uhh, ini juga ngilunya masih terasa.
Shinta pun bangun dan beranjak dari tempat tidur. Sambil berjalan dia sambil mengikat rambutnya yang tadi sempat tergerai bebas. Shinta berjalan dengan bergegas karena tidak ingin perannya sebagai seorang istri yang menyiapkan segala keperluan suaminya hilang begitu saja pagi ini.
“Tumben ga bangunin aku bang?” tanya Shinta saat berada di ruang tamu. Dia melihat Ardian yang sudah rapi dengan baju kerjanya. Suaminya itu baru saja selesai mengenakan kaus kaki, tinggal memakai sepatu bisa langsung berangkat kerja.
Namun yang membuat Shinta heran bukanlah terkait dengan pertanyaannya itu. Yang membuat Shinta heran adalah ekspresi kaget yang dikeluarkan oleh Ardian. Meskipun sudah sangat disembunyikan, Shinta sadar betul kalau suaminya itu terlihat kaget mendapati keberadaannya saat ini.
Bang Ardian kenapa ya?
“Eh, i-iya tadi bangun duluan, mau bangunin mama tapi mamanya masih pules banget tidurnya, ya udah abang siap-siap duluan aja.”
“Terus, kok itu udah rapi aja, udah pakai kaus kaki juga, emang ga mau pamitan?”
“Nah, ini rencananya habis pakai kaus kaki mau ke kamar buat bangunin mama, gitu.”
“Oh gitu?”
“Iya.”
“Abang udah sarapan?”
“Udah tadi, ceplok telur, ya udah abang berangkat dulu ya, ada panggilan dadakan dari bos,” balas Ardian lalu bangun sembari mengambil kunci mobil dan tas kerjanya. Dia lalu menghampiri dan memeluk pinggang istri cantiknya itu.
“Sepagi ini bang?”
“Iya, dadakan pula, huft…kalau ga tuntutan kerja males banget,” balas Ardian masih dengan memeluk pinggang Shinta. Kepalanya lalu menunduk dan mengecup lembut kening sang istri.
“Love you mama cantik,” kecup Ardian sekali lagi.
“Love you juga abang ganteng,” balas Shinta.
Si abang kenapa ya? Kok kelihatan buru-buru banget? Makin kesini makin kesana aja. Ternyata yang dibilang Pak Hasbi ada benarnya juga. Bang Ardian punya kelainan. Bisa-bisanya tahu istrinya dinikmati laki-laki lain malah sange, onani sendiri lagi. Aku harus gimana ya? Masalah dengan si gatel Intan belum selesai, sekarang aku harus menghadapi masalah lain yang jauh lebih besar. Masalah seperti ini pasti ga akan dengan mudah selesai hanya dengan ngomong sekali dua kali dengan abang. Huft. Selesaikan satu-satu dulu deh. Masalah dengan Intan dulu yang harus diselesaikan.
Shinta pun melepas kepergian suaminya itu, dengan banyak pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalanya. Namun ketika suaminya itu baru saja membalikkan badan dan hendak berjalan keluar, tiba-tiba terdengar teriakan dari luar.
“Sayur…yur…sayur…”
Hah? Tukang sayur? Mbah Wier? Pagi amat?
Shinta membatin dalam hati. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba naluri seorang istrinya yang ingin menyenangkan hati sang suami muncul. Meskipun keinginan itu berlawanan dengan akal dan logika.
Kamu suka kalau aku dinakalin sama laki-laki lain kan bang? Lihat nih. Memangnya Intan saja yang bisa jadi perhatian kamu. Aku juga bisa Bang. Akan ku rebut kembali perhatian itu.
“Bang…”
“Ya?” Ardian menoleh kembali dan menghentikan langkahnya.
“Aku mau belanja sayuran.”
“Ya udah.”
“Panggilin dong Bang.”
“Bukannya biasanya suka berhenti tanpa dipanggil?”
“Panggil ke pekarangan aja, lagi males keluar, aku masih takut setelah kejadian rame-rame kemarin.”
“Oke.”
“Bang…” panggil Shinta lagi dengan manja.
“Apa lagi sayang?”
“Minta uang buat belanjanya…hihihi.”
“Lah kan uang bulanan udah?”
“Males ngambil ke kamar.”
“Males?”
Ardian langsung mikir. Males ke kamar? Berarti?
Apa maksudnya Shinta akan keluar rumah dengan baju seperti ini? Shinta akan belanja sayur tanpa ganti baju dulu? Serius? Daster ini kan mini banget. Dan itu, astaga, Shinta ga pakai bra, putingnya terlihat samar-samar. Apa aku sedang bermimpi? Tapi sepertinya ini kenyataan, bukan mimpi.
hfZJVRhv_t.jpg
Ardian meneguk ludah. Apakah ia akan mengijinkan istrinya yang molek keluar dengan pakaian yang seperti ini?
“Ya ampun, tinggal jalan ke kamar aja aja males,” balas Ardian agak malas tapi sambil mengambil dompet di saku celananya. Dia lalu mengambil satu lembar uang seratus ribu dan menyerahkannya ke istrinya tersebut.
“Hihihi.”
Meskipun terlihat malas, tapi yang tidak diketahui Shinta adalah jantung Ardian yang langsung berdebar kencang membayangkan istrinya tersebut bertemu tukang sayur dengan busana mini seperti ini.
Ardian lalu menuruti perintah Shinta. Setelah tukang sayur yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mbah Wier tersebut membawa gerobak sayurnya masuk ke pekarangan rumahnya, Shinta ikut keluar.
“Bang,” bisik Shinta.
“Ya?”
“Tungguin bentar yah, aku malu kalau berduaan dengan Mbah Wier dengan baju seperti ini.”
“Tadi bukannya ambil uang sekalian ganti baju.”
“Udah ih protes mulu, pokoknya tungguin, mobil juga belum dipanasin kan?”
“Iya iya, ya sudah abang tungguin.”
Ardian lalu mengambil sepatu dari rak sepatu dan memakainya. Sementara Shinta dengan canggung lalu menghampiri Mbah Wier.
“Tumbenan Mbah pagi-pagi banget udah keliling,” ucap Shinta basa-basi.
“Iya Mbah tumbenan, rajin bener,” tambah Ardian dari teras.
Mbah Wier yang biasa melihat Shinta selalu dengan pakaian tertutup kaget juga dengan pakaian Shinta pagi ini. Laki-laki tua yang tidak pernah berpikir macam-macam itu tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke arah dada dan paha Shinta yang terbuka.
“Hehehe, iya nih, biasanya emang dari pagi kok udah keliling, tapi biasanya ga kesini dulu, ke kampung growol dulu biasanya, baru keliling ke sini, ga tau kenapa hari ini pengen kesini dulu, eh emang rejeki langsung ada yang ngelarisin.”
“Oh gitu, tapi betul sih itu, kerja apa lagi dagang itu harus dari pagi-pagi buta, kata orang kalau kesiangan rezekinya bakal dipatok ayam.”
“Nah iya, buktinya pagi ini langsung laku.”
“Bawa sayuran apa aja Mbah?”
“Banyak bu Shinta, masih lengkap, ada bayam, kangkung, sawi, terong, masih segar-segar, tinggal pilih.”
“Iya nih masih seger-seger, dan juga ini, terongnya…juga besar-besar, hehehe.”
Tidak mau membuang-buang waktu, Shinta langsung melancarkan aksinya. Sambil berpura-pura memilih dan melihat-lihat sayuran yang ada, Shinta berjalan mendekat ke arah Mbah Wier. Tidak hanya sampai disitu, ibu muda itu sesekali juga menunggingkan tubuhnya, baik menghadap ke arah Mbah Wier maupun membelakanginya. Alhasil sesekali juga baik belahan dadanya maupun pangkal pahanya terlihat jelas oleh Mbah Wier.
Gleg!!
Mbah Wier menelan ludah.
Tontonan opo iki? Esuk-esuk wis disuguhi susu menuk-menuk. Susune bu Shinta pasti kenceng banget itu, kan masih nyusuin, duh pagi-pagi jadi pengen sarapan susu asi.
Shinta bertindak semakin jauh. Diambilnya salah satu terong yang ada di gerobak tukang sayur tersebut. Dengan gerakan sensual, dan dengan kedua tangannya Shinta memegangi terong jumbo tersebut dengan gerakan seperti mengurut dan mengocok pelan.
Uhh. Itu Shinta ngapain sih malah mainin terong nya begitu, kan itu kaya lagi ngocok kontol, mana Mbah Wier lihatinnya sampai melotot gitu lagi. Jangan-jangan Shinta udah ketagihan kontol aki-aki lagi. Fantasi yang selalu aku impi-impikan selama ini, bisa terjadi tanpa aku minta ke Shinta. Duh sial, harus pergi pagi lagi.
Shinta sendiri pura-pura tidak menyadari dirinya saat ini menjadi pusat perhatian dua laki-laki beda generasi yang ada di depannya ini. Dari ekor matanya dengan jelas dia bisa melihat bagaimana Mbah Wier tidak berkedip melihat polah tingkahnya yang menggairahkan itu. Disisi lain dia juga melihat bagaimana saat Ardian yang sudah selesai memakai sepatu bukannya langsung berangkat tapi malah justru berpura-pura memainkan smartphone nya.
Tau rasa kalian berdua, hihihi. Mupeng kan sekarang? Dan kamu bang, sudah seperti ini kamu ga merhatiin aku? Hihihi.
Sebenarnya Ardian belum mau meninggalkan momen menegangkan ini, sayangnya dia tetap harus berangkat pagi karena ada seseorang yang sudah menunggunya pagi ini. Dia pun bangkit dan menghampiri istrinya untuk berpamitan sekali lagi.
Ardian mengulurkan tangannya agar Shinta mencium tangannya sekali lagi. Namun saat selesai cium tangan, Shinta tidak langsung melepas genggaman tangan suaminya itu.
“Apa?” bisik Ardian bingung.
“Cium!” balas Shinta dengan gestur bibir tanpa suara.
“Hah?”
“Cium!”
Ardian agak bingung dengan kelakuan istrinya tersebut tapi tidak ambil pusing. Dia pun menurutinya.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di kening Shinta.
“Sini!” bisik Shinta sambil menunjuk pipinya.
Cup!
“Sini juga,” ucap Shinta lagi sambil menunjuk pipinya yang satu lagi.
Cup!
“Sini juga dong, hihihi,” kali ini Shinta benar-benar nekap. Dia menunjuk bibirnya sendiri.
“Hah?” Ardian bingung. Sejenak dia melirik ke arah Mbah Wier yang langsung membuang pandangan setelah ketahuan dari tadi memperhatikan tingkah laku pasangan suami istri tersebut.
Kali ini Ardian yang grogi sendiri dengan permintaan istrinya tersebut. Tapi karena memang dasar otaknya sudah tidak waras, suami Shinta tersebut menuruti permintaan sang istri.
Cup! Slurp!
Sebuah kecupan dan lumatan sekilas mereka lakukan berdua, di depan mata Mbah Wier.
“Romantis banget sih kalian berdua ini, jadi pengen cepet-cepet pulang, huehehe,” ucap Mbah Wier tiba-tiba. Meskipun awalnya sungkan tapi pria tua tersebut sepertinya sudah tidak tahan untuk memberikan komentar.
“Ops, iya sampai lupa kalau ada Mbah Wier, ih si abang nih, cium-cium, ada Mbah Wier kan bang, malu tau, hihihi,” balas Shinta tersipu.
“Lah? Kok aku? Tadi kan…”
“Ndak apa-apa to pak, bu, sama suami istri sendiri mah bebas mau ngapain aja, justru kalau bisa terus menjaga keharmonisan itu semakin bagus, biar tetap romantis terus.”
“Hihihi, betul itu Mbah, tapi ini si abang bener-bener deh, masa cium-cium bibir aku di depan Mbah, hihihi.”
“Nda apa-apa bu Shinta, kalau perlu anggep aja saya ini tidak ada, kalau perlu anggap saja saya ini sama aja kaya sayuran yang ada di gerobak ini, hahaha.”
“Hahaha, ya ga bisa gitu dong Mbah, itu namanya ga sopan, iya ga bang?”
“I-iya,” balas Ardian semakin gugup.
Bagaimana tidak gugup, saat dirinya masih mencerna apa maksud dari tingkah istrinya itu, tiba-tiba Shinta berbalik badan dan merapatkan tubuh indahnya ke tubuh Ardian. Tidak hanya sampai disitu, Shinta menarik kedua tangan Ardian agar memeluk tubuhnya dari belakang. Tidak hanya itu juga, sambil mengusap-usap lengan suaminya, Shinta mendesak-desakan lengan itu ke atas sehingga beberapa kali menekan buah dadanya yang tidak terbungkus bra itu
“Romantis yang Mbah maksud itu, apakah maksudnya seperti ini, Mbah?” tanya Shinta dengan menggoda.
Mata Mbah Wier semakin mendelik melihat manjanya Shinta pada sang suami. Apalagi setelah itu Shinta menarik kepala Ardian agar sang suami menyandarkan dagunya di pundak kanannya. Sehingga kedua pipi dari pasangan suami istri itu saling menempel.
“Duh jadi makin iri deh sama Pak Ardian, selain punya istri yang cantik menawan, tapi juga istri yang pintar menjaga keharmonisan.”
“Hihihi, makasih loh Mbah pujiannya, dengerin tuh Bang, abang harus bangga punya istri seperti mama, jadi kerjanya yang bener yah, dan jangan macam-macam di luar,” balas Shinta sambil dengan tanpa diduga-duga tangan kirinya bergerak ke arah selangkangan Ardian dan meremas kejantanan suaminya itu.
“Ahh…i-iya sayang, ya udah abang berangkat kerja dulu ya.”
“Iya bang, hati-hati ya.”
Shinta pun melepas pelukan suaminya. Ardian pun berangkat meskipun masih sambil menahan sange.
Setelah kepergian sang suami, Shinta pun kembali melihat-lihat sayuran kembali.
“Bu Shinta dan Pak Ardian selalu begitu ya sebelum berangkat kerja?”
“Eh, selalu begitu gimana?” tanya Shinta bingung.
“Ya itu tadi bu, ciuman dan pelukan dulu pas pamitan.”
“Oh itu, hihihi, ya kadang-kadang sih Mbah, tapi ya udah biasa sih begitu, emang kenapa Mbah?”
“Enggak apa-apa kok bu, seneng aja lihatnya, hehehe, saya suka kalau lihat pasangan tampak romantis seperti tadi.”
Iya saya senang lihat susu bu Shinta yang ketekan-tekan lengan suami mu bu, ya meskipun bikin sange tapi lumayan pemandangan gratis, hehehe.
“Ah Mbah bisa aja, yah namanya juga masih muda Mbah, kami nikah juga belum lama-lama amat, jadi ya masih anget Mbah, emang kalau Mbah Wier gimana?”
“Hahaha, boro-boro bu, ngeledek ya nanya gitu ke aki-aki seperti saya?”
“Eh, maaf, enggak ngeledek Mbah, ya siapa tau Mbah sama istrinya masih tetap romantis juga meski sudah jadi kakek nenek.”
“Ga lah Bu, sudah lewat masanya.”
“Oh gitu…”
Tidak lama setelah Ardian pergi, tiba-tiba datang seseorang.
“Weh, Wier, sampean ngapain pagi-pagi udah di sini?” tanya orang tersebut.
“Angon pitik, yo dagang lah Bi Hasbi, piye to? Apa ga liat po gerobak ku segede ini?” balas Mbah Wier.
Orang yang baru datang tersebut ternyata adalah Pak Hasbi.
“Yang perlu dipertanyakan itu sampeyan, Mbah. Ngapain isuk-isuk wes tekan kene? Pagi-pagi kok udah datang aja.”
“Weladalah, ya terserah dong aku mau kemana kapan aja. Sak karep ku to, awak-awak ku dewe, bebas arep nang ndi wae, iya ga Mba Shinta?”
“Eh, lah kok nanya ke saya, hehehe, ya semuanya bebas mau kemana saja Mbah, biarin aja Mbah Pak Hasbi mau kemana, hehehe.”
“Nah, kan, denger tuh Wier…”
“Yo yo, sak karepmu wae lah Bi.”
Shinta yang masih melihat-lihat sayuran yang ada tiba-tiba merasakan sensasi yang aneh.
Duh, kenapa ini? Kok aku jadi deg-deg an ya? Kalau cuma sama Mbah Wier sih aku masih bisa tenang. Paling tidak kalau hanya Mbah Wier, dia pasti tidak berani macam-macam. Palingan matanya doang yang jelalatan. Kalau ada Pak Hasbi kan beda ceritanya, aki-aki tua satu ini pasti akan berani melakukan macam-macam. Apa lagi dia suka nekat. Ih serem ih.
“Tapi aku tetep penasaran Bi, awak mu meh ngopo merene?”
“Jan dadi wong kok penasaran banget, jelasin Mba Shin,” balas Pak Hasbi sambil memberikan isyarat ke Shinta.
Kan bener, belum apa-apa udah kasih kode. Aku lagi yang disuruh nyari alasan. Huh! Sebel banget deh sama kamu Pak.
“Emh, itu anu, Bang Hendra minta Pak Hasbi buat ngecet ulang kamar sama dapur, Mbah, hihihi, iya nih Mbah Wier kepo bingit.”
“Tuh, rungok no dewe!”
“Oalah, yo wes nek ngunu…”
Mba Wier pun menyerah, meskipun sebenarnya ada banyak pertanyaan yang muncul di pikirannya.
“Sedang belanja, Mba Shin?”
“Iya, nih Pak, tapi masih bingung mau masak apa, padahal ini aja Mbah Wier udah dari tadi disini, tapi akunya belum selesai-selesai.”
“Memangnya, lagi pengan makan apa?”
“Nah itu dia, masih bingung Pak.”
“Hmm…masak yang besar-besar dan panjang-panjang aja Mba, hehehe.”
“Apa tuh, Pak?”
“Ya itu ada terong, kalau ga pare, hehehe, kebetulan saya lagi pengen makan terong nih.”
“Lak, kok sampeyan yang pengen Bi, memangnya kamu ikut makan? Hahaha, ada-ada aja kamu Bi.”
“Lah, piye to, ga denger kamu tadi penjelasan Mbak Shinta, aku diminta ngecat tembok, ya pasti seharian aku di sini, kaya ga tahu orang kerja di kampung gini gimana biasanya, mana mungkin aku ga di kasih makan?”
“Oh, iya juga ya.”
“Makanya, sirik terus sih pikirane.”
“Yo maap Bi…”
“Hihihi, iya Mbah Wier, nanti Pak Hasbi ikut makan kok, Mba Wier kalau mau ikut nyicipin masakan aku, boleh juga kok, hihihi.”
“Yo jangan lah Bu, masa saya ikut makan dagangan saya sendiri, lagian kalau siang biasanya saya sudah di rumah.”
“Gimana kalau Mba Shinta siapin sarapan buat kita berdua, aki-aki tua yang kurang perhatian ini.”
“Eh?”
Ih Pak Hasbi mah, tadi kan aku cuma basa-basi, malah di seriusin. Sebel banget jadinya. Huh!
“Emh…”
“Gimana Mba Shin? Kami ga nolak loh kalau disiapin sarapan sama salah satu kembang komplek cluster kembang arum sari ini, hehehe, betul ga Wier? Jangan diem bae!” ucap Pak Hasbi sambil memberikan kode kepada Shinta. Kode yang tidak bisa ditolak.
“Hehehe, ya betul itu, buat sekali ini aku setuju karo kowe, Bi.”
Huft! dua lawan satu, makin jadi ga bisa nolak deh. Ih sebel-sebel, tadi kan aku rencananya cuma mau godain abang pas ada Mbah Wier, ini malah keterusan, gara-gara Pak Hasbi sih ini, awas ya nanti kamu Pak. Mana dari tadi ngode mulu kaya gitu lagi.
“Hihihi, bapak-bapak berdua ini paling bisa ya kalau merayu, mudanya pasti playboy. Ya sudah deh, buat nyenengin bapak-bapak berdua, tapi sekali ini saja ya, aku buatin sarapan, tapi…enaknya sarapan apa ya?” tanya Shinta sambil menimbang-nimbang.
“Itu ada pisang tanduk, bikin pisang goreng aja Mba Shinta, saya suka pisang goreng, Mba Shinta suka Pisang ga?”
“Eh, emh…suka kok pak, aku juga suka pisang, hihihi.”
“Apa lagi kalau pisangnya gede-gede ya? hehehe.”
“Ih, apaan sih pak, mulai deh.”
“Iya, kamu itu loh Bi, menjurus terus bahasane.”
“Weladalah, menjurus piye toh? Lha wong cuma bahas pisang ini lho.”
“Sudah-sudah, kalau bapak-bapak berdua bertengkar terus, kapan saya masaknya? Atau ga usah jadi aja nih?” ancam Shinta dengan manja. Tiba-tiba dia merasakan kelucuan dari dua aki-aki bau tanah ini.
Hmm…hitung-hitung ngilangin bosen, ikutin aja deh maunya mereka. Emangnya cuma bang Ardian aja yang bisa centil sama Intan, aku juga bisa bang. Jangan main-main sama perempuan. Perempuan kalau sudah beraksi, dunia pasti akan hancur. Dan, bukan salahku kalau aku jadi seperti ini. Kamu sendiri bang yang menjerumuskan ku jadi wanita seperti ini. Benar kata Mbak Sabrina, ketika melawan tidak bisa, maka nikmati saja. Tidak ada bedanya aku berzina sekali dengan berzina berkali-kali. Bukan mau ku jadi seperti ini.
“Eh jangan dong…” balas Pak Hasbi dan Mbah Wier kompak.
“Ya udah, Mbah Wier, emh…aku beli pisang tanduknya deh buat dibikin pisang goreng, terus buat siang aku beli terongnya sama…apa ya? Goreng ayam aja deh, ayamnya seekor ya, potong sepuluh, sama bumbu jadinya jangan lupa, ini pisangnya aku bawa masuk dulu ya, itungnya nanti saja belakangan, oh iya, nanti tunggu di ruang tamu aja ya, emh…sama…gerbangnya boleh minta tolong ditutup aja ya, takutnya nanti pas bapak-bapak menikmati sarapan dari aku, ada yang mau beli lagi.”
“Siap Mba Shinta, laksanakan,” balas dua bapak-bapak itu dengan kompak. Mereka berdua lalu berebut menutup pintu pagar rumah Shinta.
“Biar aku saja mas Wier, sampeyan siapin saja pesanan belanjaan Mba Shinta tadi buat siang.”
“Yo…manut wae aku.”
“Hihihi,” Shinta tersenyum dengan polah tingkah kedua bapak-bapak itu. “Oh iya, kalau minumnya, bapak-bapak berdua mau apa? Kopi? Teh? Atau…” sengaja Shinta menghentikan kalimatnya. Dia ingin menguji keberanian Mbah Wier.
“Tuh Wier, ditanya tuh mau minum apa?”
“Emh…kopi saja Mba kalau tidak merepotkan.”
“Okay, kalau Pak Hasbi?”
“Yakin kamu Wier cuma minta kopi, kalau aku sih…mau minta SUSU, ada kan Mba Shin?”
“Hihihi, ada tuh susu kaleng nya Arga, hehehe.”
“Yah, susu kaleng, ga mau ah nanti Arga nyariin.”
“Hahaha, lagian minta yang aneh-aneh sih, makanya jangan menjurus terus.”
“Hihihi, mulai lagi deh debatnya, hihihi, ada kok SUSU yang lain, bapak-bapak tenang aja, pokoknya pagi ini saya siapin sarapan yang spesial buat bapak berdua,” ucap Shinta yang langsung masuk ke dalam rumah sambil membawa dua buah pisang tanduk yang berukuran cukup besar. Mbah Wier melongo tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Apakah maksud dari Shinta tadi SUSU yang lain itu adalah…ASI nya sendiri? Kemaluannya pun langsung mengembang.
Asik juga bermain-main sama aki-aki. Laki-laki mah semua sama saja. Ga yang baru puber, ga yang sudah bau tanah, ganjen nya sama saja.
.::..::..::..::..::.
Di saat Shinta masuk ke dalam rumah, Mbah Wier langsung menghampiri Pak Hasbi. Pak Hasbi yang merasakan firasat tidak enak hanya bisa cengar-cengir.
“Cocot mu kui ternyata njaluk disekolahkan lagi ya, tak jenggit jambangmu njalingi koe. Ra eling po sopo seng mben byar ngenehi kowe duit modal? Ora eling sopo seng ngewangi kowe bangun omah awal-awal ndhisik!?”
“Hehehe, sepurane to Mas Wier, tadi itu kan supaya menjaga wibawaku saja di depan Mba Shinta, ampun ya Mas, hehehe.”
“Oalah sontoloyo, jelas pasti ada apa-apa ini, wes, daripada aku cari tahu sendiri, mending awakmu cerita karo aku.”
“Hehehe, ya begitu lah Mas, Mas Wier kaya tidak tahu aku aja, hehehe, jadi gini…”
Pak Hasbi pun menceritakan semuanya kepada Mbah Wier. Mulai dari ketertarikannya kepada Shinta. Kenyataan yang mengejutkan tentang kelainan yang dimiliki oleh sang suami. Hingga dirinya yang sudah dua kali berhasil membolak-balik dan menyodok-nyodok tubuh ramping ibu muda beranak satu itu dengan kontol jarannya.
“Edyan! Dikira sudah tobat, tapi ternyata malah makin menjadi.”
“Ya gimana ya mas, kejahatan kan datang bukan hanya karena adanya niat dari pelaku, tapi juga karena adanya kesempatan.”
“Kamu mah emang dasar cari-cari kesempatan.”
“Hehehe, ya trus gimana? Mas Wier mau ikutan tidak?”
“Hmm…piye yo, bingung ki aku.”
“Halah, mbah…mbah…sok jual mahal, kae loh neng njero ono wedokan pengen dikenthu, sudah ayo ikut masuk saja.”
“Yo ayo, tapi awakmu ki wes krungu kabare sobri durung?”
“Uwes, ono sing ngabari mau bengi, lha piye? Urusane karo mbak Shinta opo?”
“Urusane opo lambemu kui lho, Shinta ki masuk cem-cemane keluargo ne Sukir ora? Mbok yo mikir!”
“Ga termasuk mas, aman sing siji iki.”
“Tenanan lho, aku wegah nek ono kedadean maneh.”
“Aman mas, wes tenangno pikirmu, pokoke esuk iki wayahe awak’e dewe golek sing sempit tur anget-anget, hehehe. Yang satu ini aman karena belum masuk inceran keluarga Sukir, sebelum jadi beneran, mending kita manfaatkan dulu.”
“Yo wes, percoyo aku.”
Dua pria tua itu pun lalu masuk ke dalam rumah dengan riang gembira.
.::..::..::..::..::.
.:: TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN
“Duh, maaf ya bapak-bapak, jadi nungguin lama, hehehe,” ucap Shinta saat datang dari dalam. Di tangannya sebuah nampan dengan sepiring pisang goreng dan dua gelas cangkir tersaji dengan manis.
“Ah, tidak lama kok Mbak Shin, menunggu seharian pun rasanya akan terobati kalau yang ditunggu wanita secantik Mbak Shinta,” balas Pak Hasbi.
“Mulai deh…gombalannya…saya tidak butuh gombalan bapak, sudah punya banyak tuh dibelakang, hihihi. Ngomong-ngomong, nih pisang gorengnya sudah matang, special buat Pak Hasbi dan Mbah Wier, sama ini aku buatin kopi juga.”
“Duh, jadi enak nih, dibuatin pisang goreng ditambah kopi lagi, iya ga Mas wier?”
“Hasbi dipanggil bapak, kok aku mbah to Bu Shinta?”
“Hihihi, ga apa-apa Mbah aja ahh.”
“Takut ga sopan ya Mbak Shinta? hahaha.”
“Iya, kayaknya Mbah Wier ini termasuk yang paling sepuh di kampung sini, hihihi.”
“Tahu dari mana?”
“Ya biasalah Mbah, ngerumpi nya ibu-ibu komplek kan suka ga jelas, hihihi.”
“Walah, jadi kita ini suka diomongin sama ibu-ibu komplek yang cantik-cantik ini?”
“Daripada bapak-bapak, kalau udah lihat yang cantik-cantik pasti ga inget sama yang di rumah, matanya langsung jelalatan, merasa jadi bujang lagi, huh! Syebel.”
“Memang sudah kodratnya begitu mbak, mau gimana lagi?”
“Iya-iya, ya sudah nih, silahkan bapak-bapak dicobain, tidak usah malu-malu.”
Baik Pak Hasbi dan Mbah Wier pun langsung menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Shinta.
“Enak ya Mas Wier, pisangnya.”
“Dagangannya siapa dulu, kualitas terjamin.”
“Yang goreng siapa dulu? Tapi gede-gede ya, ini sengaja ga Mba Shinta belah jadi dua?”
“Enggak, takut kelamaan tadi jadi biar cepet aja. Biar cepet kenyang.”
“Oh gitu. Tapi susah nih kalau sekali gigit, ga muat di mulut.”
“Ah, masa sih pak?”
“Ga percaya coba aja, sini aku suapin kalau ga percaya.”
“Hihihi, ga usah repot-repot pak, aku bisa nyuap sendiri kok.”
Shinta pun mengambil satu dan mencoba memakannya. Ternyata benar. Pisang itu cukup besar. Untuk satu gigitan penuh pisang itu tidak muat di mulut sang ibu muda.
Namun, ide gila tiba-tiba muncul di kepalanya.
Godain ah.
XhrkWoIX_t.jpg
Meskipun agak kesulitan, bukannya menggigit sebagian saja, Shinta malah berusaha memasukan seluruh bagian dari pisang goreng itu ke dalam mulutnya. Tidak hanya sampai di situ, Shinta mencoba memakan pisang goreng itu dengan gerakan sensual. Lebih tepatnya, seperti gerakan hendak mengulum sebuah batang kejantanan seorang pria dewasa.
Sontak mata Pak Hasbi dan Mbah Wier langsung melotot.
“Betul kan Mbak, gede?”
“Hihihi, ihah hih, hehehean hehata, sampai penuh banget di mulut aku pak.”
Yang lebih terlihat sensual lagi, Shinta bukannya langsung menggigit pisang goreng itu tapi malah mengeluarkannya lagi. Memasukkannya lagi dan mengeluarkannya. Begitu seterusnya sampai beberapa kali hingga membuat pisang goreng itu basah oleh liurnya sendiri. Tatapan matanya pun juga tidak biasa. Terlihat sayu dan pasrah seperti wanita yang dipaksa mengulum kemaluan pria.
“Sudah Mbak, tidak usah dipaksa, hehe.”
“Iya pak, hihihi.”
“Ngomong-ngomong Mbak Shinta suka pisang ya?”
“Sebenarnya ga terlalu sih, ini karena ada teman makannya aja jadi mau cobain.”
“Owh, pasti sukanya pisang yang lain, hahaha.”
“Hush! Saru kamu tuh Bi.”
“Hahaha, pisang yang lain tuh apaan pak? Pisang bukannya sama saja?”
“Ada lah pisang yang lain, yang berurat, ya ga Mas Wier?”
“Lambe mu itu loh Bi.”
“Hahaha, Pak Hasbi memang begitu Mbah, mulut nya suka jorok kalau ngomong.”
“Loh, jorok gimana to? Pisang berurat itu pisang yang bikin enak loh, mbak Shinta kalau nyobain pasti ketagihan, apalagi pisangnya Mbah Wier, pisang aki-aki itu sudah matang sempurna, rasanya bukan enak lagi, tapi wueeenak.”
“Bukannya yang sudah tua itu malah justru udah lembek yah pisangnya?”
“Wah sembarangan, kasih bukti Mas.”
“Hihihi.”
“Kamu saja Bi, ga ikut-ikutan aku.”
“Yakin?”
“Iya…”
“Tapi kayanya Mba Shinta penasaran dengan pisangnya Mas Wier deh, ya ga Mbak Shinta?”
“Emh…penasaran ga yaaah?” Balas Shinta menggoda.
“Udah, cobain aja Mbak Shinta, gak bakalan nolak dia.”
“Ga ah Pak, penasaran kan bukan berarti mau.”
“Itu loh mas, samperin lah, ga kasian apa sama Mbak Shinta yang penasaran?”
“Kamu itu loh, senengane maksa.”
Mbah Wier pun hendak bangkit untuk menghampiri Shinta. Namun ketika baru bangun, Shinta menolak kembali.
“Ih, apaan sih Mbah? Ga mau, hihihi, orang bercandaan doang juga.”
“Tuh Bi, kamu itu bikin aku jadi malu.”
“Tau tuh Mbah, Pak Hasbi itu emang nakal, nakaaal banget.”
“Halah, Mas Wier kui sing malu-malu, gini lho tak ajarin ngadepin perempuan seperti Mba Shinta.”
Pak Hasbi pun berdiri dan menghampiri Shinta.
“Eh, Pak Hasbi mau apa nih?”
Tanpa menggubris pertanyaan Shinta, dan tanpa basa basi, Pak Hasbi langsung melepas celananya sendiri.
“Bi! Kamu itu loh! Jangan kurang ajar!”
“Sudah, Mas Wier lihat saja dulu, ayo Mba Shin, sepong kontol ku,” perintah Pak Hasbi.
“Ih, apaan sih Pak, aku ga mau, Mbah Wier, tolongin aku dong,” rengek Shinta dengan manja.
“Bi, jangan sembarangan kamu!”
Sekarang ucapan Mbah Wier yang tidak digubris oleh Pak Hasbi. Pria tua itu lalu meraih jemari lentik sang ibu muda dan menggenggamkannya ke kemaluannya sendiri yang masih setengah tegang. Meskipun belum tegang sempurna, daging berurat itu sudah cukup besar untuk telapak tangan Shinta.
“Ahh, alus tenan memang tangan mu Mbak, ayo sambil diurut-urut.”
“Pak, jangan begini dong, aku ga mau…”
“Cepat lakukan!”
Dengan terpaksa Shinta menuruti paksaan dari Pak Hasbi. Ya meskipun sebenarnya terpaksa tidak terpaksa juga.
Ibu muda beranak satu itu pun mengurut dan mengocok-ngocok kontol Pak Hasbi.
“Tuh kan Mas, apa kata ku, perempuan seperti Mba Shinta itu cuma butuh sedikit paksaan, selanjutnya bakalan nurut dan menikmati.”
“Bohong itu Mbah, Pak Hasbi aja yang suka memaksa,” bantah Shinta. Tapi yang terlihat justru tangannya dengan sepenuh hati memberikan handjob dengan lembut ke kontol Pak Hasbi.
Mbah Wier yang terpana melihat pemandangan itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Ahh…sekarang kulum!”
“Mbah, ini aku dipaksa loh sama Pak Hasbi,” balas Shinta yang langsung membungkukkan badannya dan mengulum batang besar dan panjang itu.
Sama seperti pisang tanduk yang tadi dia kulum, kejantanan milik Pak Hasbi itu juga terasa penuh di mulut mungilnya. Butuh usaha keras agar bisa masuk. Itupun tidak sampai setengahnya yang bisa masuk. Lalu, tanpa diminta lagi pun Shinta mulai menjilati dan menghisap ujung kemaluan Pak Hasbi tersebut.
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
“Tuh kan Mas, apa saya bilang, Mbak Shinta ini udah nungguin dari tadi, Mas Wier ga percaya sih, aku duluan deh yang nyobain kuluman bibir Mbak Shinta yang lembut ini, hehehe.”
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
“Tuh lihat sendiri kan Mas, makin ganas, uhh…mantap banget Mas sepongannya, yakin Mas Wier ga mau ikutan ke sini? Bibir lonthe kaya punya Mbak Shinta ini bisa Mas Wier pakai juga kapan aja, hahaha.”
“Ahu huhan honhe ha haak!” protes Shinta disela-sela sepongannya. Tapi dia tidak menghentikan sepongannya pada kemaluan Pak Habi.
Mbah Wier pun tidak tahan. Kejantanannya ternyata sudah tegang dari tadi. Dia pun bangun dan ikut bergabung dengan Pak Hasbi.
“Hahaha, tidak tahan juga ya Mas Wier?”
“Diam kamu, bacot terus dari tadi.”
Mbah Wier lalu mendorong Pak Hasbi. Otomatis kontol raksasa itu lepas dari mulut Shinta. Sebagai gantinya Mbah Wier langsung menjejalkan kontolnya tegangnya ke mulut Shinta.
“Aww! Emhh…”
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
Meskipun tidak sebesar dan sepanjang milik Pak Hasbi, tapi pusaka milik Mbah Wier itu cukup besar juga dan di atas rata-rata. Yang pasti lebih besar dari milik suami Shinta.
Dasar aki-aki mesum. Tadi malu-malu, sekarang tidak tahan sendiri.
Shinta pun tidak malu lagi mengoral penis milik Mbah Wier.
Mimpi apa aku selama ini jadi perempuan seperti ini. Maafkan aku Bang. Paling kalau kamu melihat ini kamu bakalan sange Bang. Jangan salahin aku ya. Kamu sendiri yang bermain api dengan mengumpankan aku ke dua serigala ini.
Secara bergantian Shinta lalu mengoral dua penis raksasa di depannya itu. Sebentar ke Mbah Wier. Sebentar kemudian ke Pak Hasbi. Begitu seterusnya sampai dua batang perkasa itu basah oleh liur sang ibu muda.
“Mas, awak mu mau yang atas atau bawah?” tanya Pak Hasbi dengan tatapan penuh birahinya.
“Bapak-bapak mau apa? Aku jangan diperkosa, aku takut,” rengek Shinta sambil bertingkah seperti ketakutan. Ibu muda itu lalu mendekap kedua payudaranya sendiri dengan tangan kanannya, lalu menutupi selangkangannya dengan tangan kirinya.
“Kami mau sarapan yang lain Mbak.”
“Ahh…mau sarapan apa lagi pak? Kan itu aku sudah buatin pisang goreng dan kopi…”
“Kami mau susu, dan apem, haha, Mas mau yang mana?”
“Aku mau apemnya, kayanya gurih, hahaha.”
“Woke, Mas pegangin kakinya, aku tangannya.”
“Ahh…kalian mau apa?” tanya Shinta dengan ekspresi pasrahnya.
Baik Pak Hasbi dan Mbah Wier lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Shinta. Kedua pria tua itu lalu kompak menjagal kedua tangan dan kaki Shinta.
Pak Hasbi memaksa melepaskan bagian atas daster Shinta hingga kedua tangan ibu muda terlolisi. Bagian atas daster itu lalu di tarik ke bawah hingga perut. Otomatis buah dada indah Shinta sekarang tidak tertutup sehelai benang lagi.
Sedangkan di bawah, Mbah Wier menyingkap ujung daster Shinta hingga ke perut juga, membuat bagian bawah tubuh Shinta hanya tertutup sehelai celana dalam tipis. Mbah Wier lalu melucutinya juga sehingga bagian paling sensitif itu tidak tertutup lagi.
Shinta lalu berontak. Tapi tentu saja berontaknya tidak berarti sama sekali dibanding dengan tenaga dari kedua pria tua tersebut. Pak Hasbi merentangkan ke dua tangan Shinta ke atas. Sedangkan Mbah Wier membuka lebar-lebar paha Shinta.
“Mbah ahh…jangan…ahh…”
Para pria tua tentu saja tidak menggubrisnya. Yang ada hanya seringai birahi penuh kemenangan.
Kedua puting payudara dan vagina sang ibu muda lalu menjadi bulan-bulanan dua pria tua buruk rupa itu.
“Ahh…ahh…ampun Pak Mbah…ahh…ahh…”
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
Kini giliran Shinta yang mendapat serangan bertubi-tubi dari Pak Hasbi dan Mbah Wier. Keduanya dengan rakus mencaplok, menghisap, menggigit, menjilat dua area paling sensitif itu.
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
Slurp! Slurp!
“Ahh ahh ahh.”
Desahan Shinta menggema memenuhi seluruh sisi ruang tamu tersebut. Tubuhnya menggeliat kesana kemari.
Ahh ini kenapa enak sekali yah? Belum pernah aku merasakan sensasi seperti ini. Tapi, ini sama sekali tidak pantas. Tapi ini enak sekali. Haruskah aku pasrah dan menerima takdir seperti ini?
Pak Hasbi dan Mbah Wier. Keduanya sama sekali tidak menarik. Dari segi fisik. Tapi ini nikmat sekali. Bang Ardian tidak pernah membuat ku melayang-layang seperti ini.
“Ahh ahh ahh.”
Ahh aku tidak kuat. Ini rasanya buat aku melayang-layang. Aku tidak kuat. Aku…
“Aahhhhhhh…”
Shinta melolong panjang. Tubuhnya mengejang. Orgasmenya pun tiba. Cairan cintanya muncrat kemana-mana yang membasahi wajah Mbah Wier. Kedua pria tua itu lalu menghentikan aksinya. Memberikan waktu untuk sang ibu muda beristirahat. Di sela-sela waktu itu, Mbah Wier menarik ujung daster Shinta untuk membersihkan mukanya.
“Bapak-bapak mah sukanya main keroyokan, huh sebel deh…”
“Pindahin Mbah Shinta ke sofa panjang Bi.”
Dengan sekali angkat tubuh Shinta dibopong oleh sang pria tua. Ibu muda cantik yang masih lemas itu hanya bisa pasrah dengan perlakuan selanjutnya yang akan diterima.
“Monggo Mas, panjenengan ingkang miwiti.”
“Ayo garap bareng lagi.”
Kedua pria tua itu lalu memposisikan tubuh Shinta terlentang di sofa panjang dengan posisi miring. Tubuh Shinta sudah layaknya seperti boneka sex yang bisa diatur sesuka hati untuk kepuasan masing-masing.
Mbah Wier lalu mengangkat kaki kanan Shinta ke atas. Mbah-mbah yang mungkin seumuran dengan kakek Shinta itu lalu memposisikan diri diantara paha Shinta. Di sisi lain Pak Hasbi memposisikan selangkangannya di depan wajah sang ibu muda.
“Mbah…ahh…” desah manja Shinta saat ujung kejantanan Mbah Wier menempel pada liang senggamanya.
“Selain Mbak Nisa yang kemarin kena gerebek, ternyata ada Mbak Shinta yang doyan juga sama kontol aki-aki.”
“Eh, iya loh itu aku juga kaget Mas Wier, rupa-rupanya para ibu-ibu bidadari cluster sini sukanya sama yang sudah pengalaman, memang rasa itu ga bisa bohong, hahaha, gimana Mas, apa habis ini kita cari tahu ke Juki duduk perkaranya itu seperti apa?”
“Aku sudah tahu semuanya.”
“Emh…Mbah ahh…memang yang sebenarnya terjadi dengan Mbak Nisa dan Mang Juki itu gimana? Kejadian itu, ga beneran kan? Mba Nisa ga seperti yang dituduhkan, kan?”
Ah iya. Saking rumitnya masalah ku sendiri yang sedang aku hadapi, aku sampai lupa dengan masalah Mbak Nisa. Aku harus mengorek semua informasi dari Mbah Wier kalau memang dia tahu semuanya.
“Nanti aku kasih tahu, tapi kalau sekarang, aku mau menikmati dulu jepitan tempik mu ini, cah Ayu.”
“Apa kapan-kapan kita ajak Mbak Nisa nya sekalian Mas, buat main berempat sama kita.”
“Ahh…jangan Pak, jangan ajak-ajak Mbak Nisa, cukup aku saja.”
“Halah, kamu itu loh Mbak, enak-enak kok ga mau bagi-bagi, apa berlima saja sekalian sama siapa itu satu lagi? Amy ya? Sekalian sama sama Mbak Amy, pasti seru tuh Mas Wier.”
“Ahh…Pak Hasbi aku mohon jangan Pak. Mbah Wier, ayo cepat lakukan, Mbah!”
“Hehehe, sudah Bi jangan ditakut-takutin istri orang, kamu sodok mulut atasnya, aku yang bawah sini.”
“Siap, Mas Wier. Kita sodok tempik istri orang yang satu ini, hahaha.”
“Ahhh…ahh…hgghllockk…hhllockk…”
Desahan Shinta yang sempat menggema terhenti oleh kontol Pak Hasbi yang menyeruak masuk ke dalam mulutnya. Kedua pria tua itu kompak menghujamkan kejantanan masing-masing ke kedua mulut Shinta.
Maju mundur maju mundur.
Beriringan dengan harmonis.
Ahh! Ahh! Hhaaghh! Hhaaghh!
Ahh! Ahh! Hhaaghh! Hhaaghh!
Ahh! Ahh! Hhaaghh! Hhaaghh!
Shinta tak tahan untuk menahan desahan tapi mulutnya tersumpal oleh kontol jaran Pak Hasbi.
Plok! Plok! Plok!
Plok! Plok! Plok!
Plok! Plok! Plok!
“Ahh…rapet banget Bi, jempolan iki.”
Plok! Plok! Plok!
Plok! Plok! Plok!
Plok! Plok! Plok!
“Masih kaya Perawan kan Mas, bakalan nagih terus pokoknya, ga bakal bosen-bosen kalau disuguhi tempik berkelas seperti milik Mbak Shinta ini.
Ahh! Ahh! Hhaaghh! Hhaaghh!
Ahh! Ahh! Hhaaghh! Hhaaghh!
Ahh! Ahh! Hhaaghh! Hhaaghh!
Shinta sendiri semakin tenggelam dengan lautan birahinya sendiri. Istri Ardian itu bahkan malah tersanjung dengan pujian-pujian yang diberikan oleh dua pria tua di depannya.
Aahhhhhh…….
Orgasme yang kedua kali pun dia dapatkan. Sedangkan baik Pak Hasbi dan Mbah Wier belum ada tanda-tanda sedikitpun. Shinta paham akan hal itu. Meskipun dia merasakan tubuhnya sudah lemas. Vaginannya yang penuh sesak dan mulutnya yang pegal karena harus mangap lebar-lebar karena ukuran penis Pak Hasbi.
Namun tidak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah.
Entah akan sampai berapa kali dia nanti mendapatkan gelombang orgasme menghadapi dua pejantan tua itu.
.::..::..::..::..::.
“Pancen gendeng si Ardian ki,” umpat Mbah Wier saat mendengar langsung cerita dari Shinta dan Pak Hasbi. Dia merasa kesal terhadap suami dari Shinta itu, meskipun dia sendiri tadi ikut menikmati tubuh sang ibu muda.
Setelah bergumul hampir satu jam penuh, mereka bertiga duduk bersama kembali di ruang tamu rumah Shinta. Masing-masing juga sudah rapi dengan pakaian masing-masing. Pun begitu dengan Shinta yang sudah berganti baju dengan yang lebih sopan lagi. Dipangkuannya pun juga ada Arga yang sudah bangung. Untung saja tadi arga bangun pas setelah kedua pria tua itu mendapatkan kepuasan masing-masing.
“Bener to Mas, aku itu gak pernah bohong sama njenengan.”
“Terus rencana mu apa? Kamu sudah berjanji mau bantu Mbak Shinta kan? Jangan gegabah kamu. Jangan asal bertindak.”
“Hari ini aku mau nemuin Sukirno dulu, Mas.”
“Mau ngapain? Bukannya tadi bilang kamu disuruh ngecat rumah?”
“Target ku itu Intan Mas, tapi kan tadi Mas bilang jangan gegabah dan jangan buru-buru, makanya aku mau nemuin No dulu, apa bisa diomongin baik-baik supaya menantu perempuannya itu tidak mengganggu Ardian lagi. Kalau tidak bisa ya mau tidak mau Hasbi bertindak sendiri. Soal ngecat rumah itu kan tadi bisa-bisanya Mbak Shinta aja nyari alasan, hehehe.”
“Ih, aku lagi aku lagi yang kena. Masih tidak puas tadi bapak-bapak pada numpahin sperma di rahim dan mulut aku? Masih saja aku yang bilang nyari-nyari alasan. Huh!”
Plak!
Sebuah pukulan yang cukup keras melayang dari telapak tangan Mbah Wier ke kepala Pak Hasbi. Shinta yang tadi sempat sewot kembali tertawa melihat pria tua yang selalu mendominasi terhadap dirinya itu tidak berdaya bak piaraan yang menghadapi majikannya.
“Pancene sontoloyo sampeyan niki, kalau Mbak Shinta ga ngajak aku berarti kamu yang mau enak-enak sendiri. Yo wes, aku tak ikut ketemu No kalau begitu, awakmu wong loro kuwi nek misale ora ditengahi iso-iso malah do bacok-bacokan! Opo meneh mung goro-goro perkoro wedok’an! Jan ngisin-ngisini! Durung nek mengko si No ngajak bolo sedulure, si Man karo Lan, wes ajur awakmu siji lawan telu!”
Meskipun agak sedikit roaming, tapi Shinta paham dengan perkataan Mbah Wier barusan. Bergidik ngeri juga kalau misal benar akan terjadi konfrontasi antara Pak Hasbi dengan Pak No mertua Intan. Tapi disisi lain dia merasa terharu juga dengan keseriusan dan tekad Pak Hasbi untuk membantunya. Pria yang awalnya selalu membuatnya kesal karena ulah mesumnya itu lambat laun sekarang mulai mendapat sedikit tempat di hatinya.
Pak Hasbi ternyata benar-benar serius mau membantu aku. Aku jadi terharu. Apalagi kalau yang diucapkan oleh Mbah Wier tadi serius. Pak Hasbi mau mengambil resiko berurusan dengan Pak No demi menyelesaikan masalah ku. Sweet banget ga sih? Ih, kok aku malah jadi mikir kesana ya? Amit-amit!
Shinta menatap ke arah jauh.
.::..::..::..::..::.
Di tempat lain, di waktu yang hampir bersamaan, seorang pria baru saja memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah hotel. Ya, pria tersebut adalah Ardian. Dibela-belainnya pagi itu dirinya berangkat lebih pagi tidak lain dan tidak bukan karena Intan lah yang memintanya ke hotel tersebut.
Ardian memang sudah gelap matanya. Apapun akan dia lakukan selama yang meminta itu adalah Intan. Dengan semangat empat lima pria muda itu bergegas ke kamar yang sudah diinfokan oleh Intan sebelumnya. Tak sabar rasanya dia ingin segera menemui wanita yang sudah didekatinya sejak lama itu.
Jantung Ardian berdebar kencang saat dia sudah berada di depan pintu kamar Intan, layaknya laki-laki muda yang hendak apel ke gebetannya. Diketuknya pintu kamar itu pelan.
Cklek!
Pintu kamar pun terbuka. Ardian terpana dengan sosok perempuan yang berdiri di depannya. Ibu muda yang cantik rupawan salah satu kembang cluster arum sari itu menyambutnya dengan tampilan berbeda dari biasanya. Ardian tidak berkedip. Hal tersebut disadari oleh Intan yang membuatnya tersenyum.
Ada semacam kebanggan tersendiri yang dirasakan oleh sang ibu muda. Dia merasa bangga kecantikannya bisa menghipnotis laki-laki yang ada di depannya.
“Sudah lama sampainya, mas?” tanya Intan dengan lembut. Ardian yang masih terpana tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas mata pria beranak satu itu memandang tubuh indah Intan. Seakan tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat oleh mata kepalanya sendiri itu.
“Mas?” sapa Intan kembali sambil melambaikan tangannya.
“Eh, i-iya, iya baru sampai kok tadi langsung dari parkiran, hehe,” balas Ardian malu-malu.
“Oh, kirain udah dari tadi, yuk masuk dulu mas, maaf ya dadakan.”
“Ah, ga apa-apa kok.”
Mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar bersama. Lagi-lagi Ardian dibuat terpana dengan sosok perempuan yang ada di depannya itu. Tengkuk Intan yang putih mulus dan terbuka itu terlihat sangat menggiurkan. Menggodanya untuk dapat mencium dan menjilati area tubuh wanita tersebut. Turun kebawah, Ardian dapat melihat bayangan tali bra Intan yang terlihat dari baju tidur Intan yang menerawang. Turun ke bawah lagi suami dari Shinta itu jg dapat melihat goyangan pinggul Intan saat berjalan. Terakhir, paha mulus Intan juga tampak menggoda karena baju tidur yang Intan kenakan juga hanya sebatas setengah paha.
“Duduk mas.”
“I-iya,” Ardian masih belum bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Mas udah sarapan? Udah ngopi? Aku buatin kopi yah,” tawar Intan mesra.
“Udah kok, tapi kalau kopi boleh deh, hehehe.”
“Tadi mas ijinnya gimana sama Mba Shinta?”
“Ga ijin gimana-gimana, ya bilang aja ada meeting pagi.”
“Nakal ih, bohong sama istri,” balas Intan sambil menuangkan kopi sachet ke dalam cangkir. Dia lalu menuangkan air panas dari termos listrik yang sudah dipanaskan sebelumnya.
“Kan memang mau ada perlu sama kamu, hehehe.”
“Mas bawa yang aku minta?”
“Bawa kok, nih ada di tas,” balas Ardian hendak membuka isi tasnya. Intan pun tersenyum melihat kepolosan Ardian.
“Nanti aja mas, nih diminum dulu kopinya,” balas Intan sambil menyodorkan secangkir kopi ke arah Ardian duduk. Ardian hanya menurut saja. Namun saat hendak menyambut secangkir kopi tersebut Intan menggodanya dengan menarik kembali kopi tersebut. Ardian bingung. Intan tersenyum.
“Eh, becanda ya…” protes Ardian.
“Hihihi, lagian buru-buru amat mau ngasih suratnya, buru-buru mau ngantor ya?”
“Hehehe, ya ga juga sih, kirain kamu mau langsung lihat?”
“Nanti aja mas, aku percaya kok Mas pasti bawa, soalnya kan mas pasti selalu bisa aku andelin, hehehe.”
“Nah, jadi itu kopi jadi nggak nih?” tanya Ardian pura-pura merajuk.
“Hihihi, jadi dong, tapi aku yang megangin aja yah mas.”
“Kamu yang megangin?”
Ardian bingung. Dan semakin bingung lagi saat Intan malah semakin mendekat ke arah dirinya duduk.
“Eh?”
Ardian semakin bingung, karena tiba-tiba Intan malah duduk di paha kirinya sambil memegang gelas kopi buatannya tadi.
“Mas kan udah capek-capek nganterin surat itu ke sini, izinin aku buat membalas kebaikan hati Mas.”
“Ba-bales gimana maksudnya?”
Meskipun Ardian masih bingung, tapi dia laki-laki dewasa yang normal. Pikirannya auto traveling kemana-mana. Tapi karena tidak mau malu karena salah tangkap, dia masih mencoba untuk tenang dan menerima semua perlakuan Intan.
“Ini mas, diminum kopinya, udah ga terlalu panas kok,” ucap Intan sambil menyodorkan cangkir kopi tersebut ke mulut Ardian. Ardian pun layaknya jadi seorang raja yang dilayani permaisurinya. Ardian lalu menyesap kopi hangat tersebut. Namun karena gugup ada beberapa tetes kopi yang menetes ke kemejanya.
“Ops, maaf mas, hihihi.”
“Hehehe, kamu sih, udah bener tadi aku minum sendiri.”
“Hehehe, kan aku pengen total membalas kebaikan mas,” balas Intan. “Ehm…biar ga kotor dan lecek, ehm…gimana kalau…kemejanya aku buka ajah?” pinta Intan sambil berbisik di telinga kiri Ardian.
“Bu-buka gimana?”
“Begini loh, mas…”
Intan dengan satu tangan lalu melucuti kancing kemeja Ardian. Walaupun hanya dengan satu tangan, namun jemari lentik itu dapat dengan lihai melepas satu persatu kancing kemeja sang pria beranak satu.
“Badan mas bagus juga, sering olahraga yah? Hihihi,” puji Intan. Sebenarnya tubuh Ardian tidak bagus-bagus amat. Kalimat tadi hanyalah usaha Intan untuk membuat Ardian semakin merasa bangga dengan dirinya sendiri. Intan ingin membuat Ardian merasa menjadi pahlawannya.
“Biasa aja kok, masa kaya gini bagus? Masih ada yang lebih kekar, hahaha.”
“Bagus tau mas, aku suka yang seperti mas ini, ga kurus, ga gendut, tapi yang pasti pas buat dipeluk,” balas Intan yang tanpa minta ijin langsung memeluk tubuh Ardian.
Lagi-lagi Ardian masih tampak kaget dengan perlakuan Intan. Akan tetapi kenyalnya buah dada Intan yang menempel pada tubuhnya membuatnya tidak melakukan penolakan sedikitpun. Belum lagi belahan buah dada kenyal yang hanya tertutup baju tidur itu mengintip keluar dan menjadi santapan mata liarnya.
“Hiks…”
Intan yang dari tadi lebih banyak tersenyum tiba-tiba menangis. Ibu muda itu menangis sesenggukan. Air matanya dengan cepat menetes ke tubuh Ardian.
“Loh, kamu kenapa? Kok tiba-tiba menangis?”
“Ga kenapa-kenapa mas.”
“Cerita dong, jangan dipendam sendiri, biasanya juga cerita kan.”
Mendapat peluang untuk bisa lebih intim lagi, Ardian lalu membelai bahu dan lengan Intan.
“Ayo ceritain aja semuanya, aku pasti dengerin dan bantu kalau ada yang perlu dibantu.”
Intan pun mulai bercerita. Detail demi detail dia ceritakan dari awal sampai akhir. Mulai dari bapak mertuanya hingga pak Wing. Mulai dari kesulitan keuangannya hingga kontrak dengan pak Wing. Awalnya Ardian yang mendengarkan itu mulai tersulut emosi, namun ketika masuk pada hal-hal erotis, bapak beranak satu itu mulai merasakan hal aneh. Gairahnya yang gantian tersulut.
“Ja-jadi kamu semalam?”
“I-iya mas, Pak Wing maksa aku mas, hiks, itu dia anggap sebagai bunga hutang ku kepadanya, dan sekarang satu-satunya harapan ku cuma mas.”
“Sudah-sudah, kamu tenang aja, kalau surat itu bisa menolong mu, aku pasti bantu.”
“Makasih mas, nanti aku pasti akan cari pinjaman lain untuk menebus surat itu mas.”
“Udah gampang itu, pikirin nanti aja, yang penting kamu sekarang tenang, aku selalu disampingmu kok.”
“Sekali lagi makasih mas, ehm…mas?”
“Ya?”
“Karena mas udah sampai di sini, apa aku boleh…?”
���Boleh apa?”
“Boleh tolong taruh cangkir ini di meja mas?”
Ardian menuruti permintaan Intan. Namun ada hal lain yang membuat Ardian kaget. Belum selesai dia menaruh kopi tersebut, tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang bergerak di ikat pinggangnya. Sepasang tangan dengan jari-jari lentik berusaha melepas ikat pinggang yang dikenakannya.
“Ka-kamu?”
“Mas nurut aja yah, cuma ini yang bisa aku lakukan buat balas budi ke mas.”
“Ta-tapi ga harus begini juga sih,” balas Ardian masih mencoba menjaga image-nya. Walaupun dalam hati dia bersorak gembira. Hal yang paling dia impi-impikan selama ini terwujud dengan gampangnya.
“Sstthh. Mas nurut aja yah…” bisik Intan dengan lembut. Hal itu membuat Ardian tidak bisa berkutik lagi.
Saat itu, Intan benar-benar mempesona.
.::..::..::..::..::.
Sore hari di salah satu rumah kampung growol, terlihat seorang pria tua sedang bersantai di depan rumahnya. Sebatang rokok tingwe terselip diantara dua jarinya. Di sampingnya segelas kopi hitam menemaninya sore ini. Pria tua itu tampak asik dengan kesendiriannya sampai dia menyadari ada dua pria tua lain yang berjalan ke arah rumahnya.
“Lagi santai nih, hidup tanpa beban sepertinya,” sapa salah seorang dari dua pria tua yang datang.
“Hahaha, mau mikir apa lagi to Mas Wier, sudah tua gini ya hidup tenang saja, biarin yang muda-muda yang bekerja.”
“Denger-denger bojomu lagi dirawat?”
“Iyo e mas, masih di rumah sakit, belum pulang kalau mau jenguk.”
“Ga kok, bukan masalah itu kami berdua datang kesini.”
“Weh, kayae ada yang serius nih, duduk sini Mas Wier, tak buatin kopi dulu.”
“Udah ga usah, ga lama kok, tapi kalau mau bagi rokoke ra nolak, kepasan ga bawa aku.”
“Monggo mas monggo.”
Pak No lalu mempersilahkan dua pria itu untuk masuk ke teras rumahnya.
“Ada masalah apa to mas Wier sampai bela-belain ke kampung saya ini? Penting nih pasti.”
“Hahaha, penting ga penting, iki lho si Hasbi njaluk dikancani.”
“Hla kok jadi aku to mas? jelas-jelas sampeyan tadi yang maksa ikut.”
“Wes ga usah rebutan, langsung saja pada pokok perkara.”
“Hmm… ngene loh No, langsung wae yo, ini aku ga tau kamu tau masalahnya atau tidak, tapi ini kaitanya antara anak mantumu, Ardian, karo Shinta.”
“Ardian? Shinta? Kaya pernah dengar dua nama itu.”
Pak No pura-pura bingung. Padahal dengan cepat dia sudah paham pokok permasalahan dari ketiga anak muda itu. Meskipun dia sendiri juga masih belum tahu dan paham arah pembicaraan yang mau dibawakan oleh Mbah Wier dan Pak Hasbi.
Mbah Wier lalu menceritakan semuanya. Mulai dari Shinta yang cemburu sama Intan, hingga Ardian yang selalu berusaha mendekati Intan.
“Ooo… yo yo paham aku, nek ra salah sih aku memang pernah mergoki Intan pulang bareng dianter sama Ardian. Lah terus masalahe apa ya kok sampeyan berdua yang datang kesini?”
“Nah, masalahe kui, si Hasbi iki sok-sok arep dadi pahlawan, dia itu sedang mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan.”
“Ojo muter-muter lah, aku ra paham mas.”
“Intine ngene, Hasbi tu lagi mencoba mengambil hati Shinta, caranya dengan berjanji ngejauhin Ardian dengan Intan.”
“Teros?”
“Ya… sak tenane aku dan Hasbi tu istilahnya masih ngajeni sampeyan, keluarga Sukir, bisa saja Hasbi langsung kasih pelajaran ke Intan, tapi ya itu, aku takut Hasbi ngalamin nasib yang sama kaya Sobri, hehehe.”
“Walaah…ngunu…terus Mas Wier ki mau nya gimana?”
“Ya ga gimana-gimana sih, cuma mau minta pendapat saja ini Intan dan Ardian enaknya mau digimanain? Intinya Hasbi mau kelihatan jadi Arjuno dimatanya Shinta.”
“Untungnya buat ku apa mas?”
“Njenengan minta apa? Hehehe.”
“Hmm…”
Pak No lalu menghisap kuat-kuat rokok tingwe yang ada di tangannya. Raut wajahnya menunjukkan sedang berpikir keras. Lalu munculah sebuah ide cemerlang dari dalam kepalanya.
Pria tua itu menyeringai.
“Baiklah, jujur aku menghargai kedatangan kalian berdua, jadi gini…”
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *