Search

BAGIAN 29 BUNGA MAWAR

BAGIAN 29 BUNGA MAWAR

Reva baru saja masuk ke dalam rumah setelah memastikan Prima dan Bu Rum tak terlihat lagi dari teras rumah sangat sederhana itu. Ia merasa bersalah pada ibunya Prima. Karena Prima yang begitu kelaparan hingga menghabiskan makanan yang ada di rumah, ketika Pak Yus dan Bu Rum ternyata pulang lebih awal malah tidak mendapatkan jatah makanan sama sekali. Jangankan yang sudah matang, beras dan bahan-bahan lain pun ternyata sudah habis.

Karena belum terlalu sore, Bu Rum minta diantar oleh Prima ke pasar, karena Pak Yus sudah nampak cukup kelelahan. Sebenarnya ini memang belum waktunya Pak Yus dan Bu Rum pulang dari sawah yang mereka garap, tapi teriknya hari ini membuat keduanya sudah tak tahan lagi. Karenanya Prima lah yang diminta untuk mengantar ke pasar.

Reva sebenarnya ingin menawarkan diri, dia saja yang berangkat ke pasar. Tapi ia masih merasa cukup kesakitan di bagian pangkal paha, yang semalaman digempur oleh Sukirlan. Apalagi Bu Rum mengatakan kalau Reva belum familiar dengan pasar, sehingga mungkin akan butuh waktu yang lebih lama. Pun dengan Prima yang melarangnya ikut, sehingga saat ini dia hanya di rumah saja menemani calon ayah mertuanya, yang baru saja menyelesaikan mandinya.

“Nduk, bisa kita bicara dulu sebentar?” tanya Pak Yus yang kini sudah nampak lebih segar setelah mandi.

Reva mengangguk sopan, “Nggih Pak, bisa.”

“Ya udah, sini duduk dulu.”

Pak Yusdi memilih untuk duduk di ruang tamu, dimana ada kursi rotan tua yang masih cukup layak untuk diduduki di sana. Reva tak langsung menyusul Pak Yus, ia ke dapur dulu untuk membawakan segelas besar air putih untuk calon mertuanya itu. Setelahnya ia meletakannya di meja, dan barulah ia duduk setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari Pak Yus.

Reva duduk dengan tenang, dengan sabar menunggu apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Yus. Kini, calon mertuanya itu sedang meminum air putih yang ia siapkan hingga setengah gelas. Pak Yus kemudian menatap Reva dengan senyuman yang menenangkan.

“Kemarin, gimana foto-fotonya? Lancar?”

Deg…!

Reva tersenyum canggung. Padahal itu pertanyaan yang wajar, sangat wajar malah karena memang kemarin ia dan Prima pergi untuk melakukan foto prewedding, tidak pulang semalaman dan ketika pulang tadi pagi, Pak Yusdi dan Bu Rum sudah pergi ke sawah. Praktis ia baru bertemu dengan Pak Yus dan saling bicara pada saat ini, sehingga pertanyaan itu adalah hal yang wajar. Namun apa yang terjadi kepadanya kemarin di Pager Jurang, mulai dari siang hingga malam hari membuat Reva teringat kembali bagaimana tubuhnya dinikmati habis-habisan oleh Sukirlan.

“Ya, kemarin, alhamdulillah lancar, Pak,” jawab Reva sambil tersenyum.

Reva sedikit bersyukur. Ia yang kerap diminta menjadi model pemotretan atau endorsment, membuat ia terbiasa untuk melemparkan senyum meski dalam kondisi suasana hati yang sedang tidak baik sekalipun.

Pak Yusdi pun nampak tersenyum mendengar jawaban Reva. Namun tak lama, wajah pria paruh baya itu nampak berubah serius.

“Nduk, sebelumnya maaf. Bapak ini orang bodoh, Bapak ini bukan orang yang pinter basa-basi, jadi Bapak langsung saja ya.”

Deg…!

Reva kembali berdebar saat menghadapi perubahan sikap dari Pak Yus. Dia bingung kenapa calon mertuanya itu sampai merendahkan dirinya seperti itu, sampai harus mengatakan hal-hal seperti itu. Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Pak Yus?

“Maksud Bapak, apa ya? Saya kok, jadi bingung, Pak?” tanya Reva memberanikan diri. Ia masih berusaha untuk tetap tenang karena belum tahu apa yang ingin dibicarakan oleh calon mertuanya itu.

“Begini Nduk. Kemarin, apa terjadi sesuatu, antara Nak Reva, sama Mas Lan?”

Deg…! Deg…! Deg…!

Debaran di dada Reva bertambah begitu kencang. Sangat kencang. Kenapa tiba-tiba Pak Yus menanyakan tentang dirinya dan Sukirlan? Apakah Pak Yus mengetahui sesuatu tentang yang sebenarnya terjadi di Pager Jurang?

“Ma-maksud Bapak? Sesuatu apa ya, Pak?” tanya Reva dengan nada bergetar.

Mendengar nama Sukirlan membuat Reva kesulitan untuk menyembunyikan kepanikannya. Wajahnya yang tadi nampak tenang tersenyum, kini mulai terlihat pucat. Senyuman di bibirnya telah menghilang. Hanya dengan melihat hal itu, sebenarnya Pak Yusdi sudah mengetahui jawabannya. Namun ia merasa, ia harus tetap berterus terang kepada Reva perihal pertanyaannya itu.

“Semalam, Seto kesini,” jawab Pak Yus, yang kemudian menceritakan mengenai apa yang terjadi tadi malam.

.::..::..::..::..::.

.:: MALAM SEBELUMNYA

Sepanjang jalan Seto terus saja meracau. Ia kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Ia sebenarnya sadar kalau memang salah. Dia berharap terlalu jauh, terlalu tinggi. Belum pernah ada sejarahnya, seorang Sukirlan akan merelakan tubuh indah seorang bidadari seperti Reva, yang baru saja ia taklukan untuk disentuh oleh orang lain, termasuk dirinya. Sukirlan pastinya masih sangat ingin menikmati tubuh Reva sepuas-puasnya.

Selama ini, Sukirlan memang cukup royal kepada anak buahnya. Dia sering membagikan rejeki dengan membiarkan anak buahnya untuk bisa menikmati tubuh para korbannya. Namun bos preman itu baru akan memberikannya ketika ia sudah bosan menikmati para korbannya. Belum pernah sekalipun Sukirlan membiarkan wanita yang baru saja ia nikmati disentuh oleh orang lain.

Mereka, Seto dan yang lainnya, harus menunggu sampai Sukirlan bosan baru akan bisa menikmati tubuh wanita-wanita itu. Belum lagi kalau korbannya adalah wanita secantik Reva, bisa menyentuhnya setelah berbulan-bulan pun masih untung bagi Seto. Karena seingat Seto, Reva adalah gadis paling cantik yang menjadi korban Sukirlan. Ia pikir, hampir tidak mungkin Sukirlan akan menyerahkan gadis itu untuk dinikmati oleh orang lain.

Seto hanya menggeleng sambil tertawa geli jika mengingat bagaimana tadi ia berharap agar Sukirlan memberinya kesempatan untuk menyentuh Reva. Padahal anak buah Sukirlan lainnya yang lebih senior dan lebih dipercaya Sukirlan saja tidak mendapat jatah, apalagi dirinya.

Seto sebenarnya bukanlah warga asli dari daerah ini, baik itu dari Desa Bawukan maupun Growol. Ia adalah seorang pemuda dari kota yang memiliki hobi fotografi. Awal mula ia bisa menjadi anak buah Sukirlan adalah ketika ia bersama dengan teman-teman komunitasnya mendatangi kawasan Pager Jurang untuk hunting foto. Saat itu mereka membawa 2 orang model wanita yang cantik. Belum lama sesi foto itu berjalan, Sukirlan dan kawanannya mendatangi rombongan itu. Sudah bisa ditebak apa yang dilakukan oleh Sukirlan dan anak buahnya. Awalnya mereka hanya memalak saja, namun respon kurang dari teman-teman Seto yang melawan membuat keributan tak bisa dihindarkan.

Seto yang pada dasarnya penakut dan tidak pernah berkelahi hanya menghindar dan sembunyi. Dia melihat bagaimana teman-temannya dihajar habis-habisan oleh anak buah Sukirlan, juga kamera mereka yang dihancurkan begitu saja. Belum lagi, kedua model wanita yang mereka bawa pun diperkosa habis-habisan oleh Sukirlan dan anak buahnya.

Semua orang sempat tidak menyadari kalau Seto sembunyi, sampai akhirnya Sukirlan sendiri yang melihatnya. Melihat Seto yang terlihat lemah dan tidak melawan, Sukirlan sama sekali tidak melakukan kekerasan kepadanya, justru menyuruh Seto untuk bergabung dengan anak buahnya, memperkosa kedua model wanita itu. Pada akhirnya, Seto dipaksa untuk menjadi anak buah Sukirlan, yang tugasnya adalah untuk mengabadikan setiap penaklukan yang dilakukan oleh Sukirlan terhadap korban-korbannya.

Tentu saja dalam hati Seto tidak mau, namun ia tak berdaya melawan keinginan Sukirlan. Masih terbayang dalam ingatannya bagaimana kekejaman kelompok Sukirlan. Ia tak mau menjadi korban juga, sehingga mau tak mau ia menuruti perintah Sukirlan. Apalagi setelah itu Seto sering mendapatkan ‘bonus’ menikmati para wanita itu, membuat Seto semakin betah menjadi anak buah Sukirlan.

Tugas Seto ternyata bisa dibilang cukup penting bagi Sukirlan. Dengan foto-foto dan video yang diambil oleh Seto, wanita-wanita yang menjadi korbannya jadi tidak punya keberanian untuk melaporkan apa yang mereka alami. Ancaman foto dan video yang akan disebar, sebenarnya cukup klasih, tapi nyatanya cara itu masih sangat efektif. Sampai sekarang, belum pernah ada satupun orang yang berani melaporkan kebejatan Sukirlan dan kawanannya.

Tak terasa Seto telah sampai di rumah orang tua Prima. Kebetulan pula, saat ia datang Pak Yusdi dan Bu Ruminten ternyata sedang duduk santai di teras rumahnya. Mengetahui ada sebuah motor yang berhenti di rumah, mereka berdiri untuk menyambutnya. Namun, ketika tahu siapa yang datang, baik Pak Yus maupun Bu Rum nampak begitu gugup, wajah mereka langsung nampak pucat. Mereka tahu siapa itu Seto, salah satu dari anak buah Sukirlan.

“Eh, ada Mas Seto. Selamat malam, Mas. Monggo pinarak, silahkan masuk Mas Seto,” ucap Pak Yus, yang meskipun usianya jauh lebih tua daripada Seto, namun ia tetap berusaha bersikap sopan mengingat siapa tamu mereka saat ini.

“Udah Pak Yus, Bu Rum, nggak usah repot-repot. Lagian saya cuma mampir sebentar saja kok,” jawab Seto.

Meski ia sadar ia memiliki privilege sebagai anak buah dari seorang Sukirlan, tapi pada dasarnya ia adalah pemuda yang tahu unggah ungguh, dia masih tahu tata krama mengingat ia sendiri masih memiliki orang tua yang sepertinya seusia dengan Pak Yus dan Bu Rum.

“Oalaaah… Lha memang ada apa tho Mas, kok sampai malam-malam begini Mas Seto harus datang mampir ke gubuk kami ini?” tanya Bu Rum.

Lagi-lagi Seto merasa sedikit tidak enak dengan sikap rendah hati dari orang tua Prima itu. Jika saat ini dia sedang bersama satu saja anak buah Sukirlan yang lain, mungkin dia akan bersikap tak peduli, tapi karena ia sekarang sedang sendiri, ia masih tahu diri.

“Begini Bu, Pak. Soal Prima dan calon istrinya. Sore ini setelah foto-foto di Pager Jurang, mereka mau lanjut ke kota. Tadi sepertinya hape mereka lowbat, jadi tidak sempat mengabari dan tidak bisa dihubungi,” ucap Seto berusaha menjelaskan dengan baik.

Mendengar ucapan itu keluar dari mulut Seto, bukannya terlihat lega, wajah Pak Yus dan Bu Rum justru semakin memucat. Bahkan Seto yang sedang berhadapan mereka, tak butuh waktu lama untuk melihat wajah tua mereka berdua semakin berkerut. Jelas sekali nampak guratan kesedian yang muncul disana. Seto bahkan bisa melihat kalau kedua mata Bu Rum mulai berkaca-kaca.

“Loh loh, Pak, Bu? Ini kenapa kok malah aneh gini?”

Bukannya menjawab pertanyaan Seto, Bu Rum malah mulai terisak. “Duh Gusti… Nak Revaaa… hiks…”

Seto yang melihat Bu Rum sudah benar-benar menangis sambil memanggil-manggil nama calon menantunya, semakin bingung dibuatnya. Ia pun melihat Pak Yus juga nampak begitu sedih, meskipun terlihat lelaki itu berusaha untuk tetap tegar dan menenangkan istrinya.

“Pak, ini kenapa? Bu Rum kok malah nangis? Saya kan udah bilang kalau…”

Seketika Seto terdiam. Ia benar-benar baru menyadarinya. Dan ia melihat ke arah Pak Yus, yang nampak sedikit mengangguk, seolah mengamini sesuatu yang baru saja disadari oleh Seto.

“Mas Seto mungkin lupa, kalau beberapa bulan lalu, Mas Seto datang ke rumah Pak Yono,” ucap Pak Yus sambil menunjuk sebuah rumah yang tepat berada di samping rumahnya, “Saat itu Mas Seto juga menyampaikan kabar yang sama persis. Dan yang sebenarnya terjadi…”

Pak Yusdi tak mampu melanjutkan ucapannya. Dia masih ingat betul kedatangan Seto malam itu di rumah tetangga sebelah rumahnya. Dia yang saat itu berada di teras rumah untuk menikmati kopi dan rokoknya, bisa mendengar kedatangan Seto dan juga kabar yang ia sampaikan kepada Pak Yono, tetangganya.

Dan dia juga tak bisa melanjutkan kata-katanya karena saat ini kepalanya tengah dipenuhi dengan berbagai praduga mengenai apa yang telah terjadi terhatap Reva, calon menantunya.

Melihat dan mengingat hal itu, Seto hanya bisa mendesah, menghela nafas panjang.

Dia benar-benar lupa tentang hal itu. Kekesalannya pada Sukirman, dan kekecewaannya karena tak diijinkan untuk menyentuh Reva membuatnya melupakan hal itu.

Seto lupa, kalau ini bukan pertama kalinya ia disuruh oleh Sukirman untuk mendatangi rumah para korbannya, lalu menyampaikan kabar kepada orang tua ataupun keluarga dari wanita-wanita malang itu. Isi pesannya sama, bahwa anak mereka sedang diajak ke kota, dengan kondisi hape yang baterainya habis sehingga tidak sempat memberi kabar dan tak bisa dihubungi.

Dan ia baru teringat, kalau beberapa bulan lalu ia memang pernah mendatangi Pak Yono, tetangga dari Pak Yusdi, yang saat itu menantunya yang baru pindah ke kampung ini dijebak dan diperkosa oleh Sukirlan di Pager Jurang. Akhirnya ia paham kenapa Pak Yusdi dan Bu Ruminten langsung menyadari, bahwa nasib calon menantu mereka tak berbeda jauh dari menantu Pak Yono beberapa bulan silam.

Menyadari hal itu, Seto pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia mengangguk kecil, lalu menatap kedua orang tua Prima itu dengan tatapan sedih.

“Maaf, Pak Yus, Bu Rum. Maaf.”

Permintaan maaf itu tulus, karena Seto tahu kalau pasangan suami istri itu adalah orang baik. Seto sempat terkejut dan hampir menolak saat Sukirlan pernah berencana untuk menjebak anak mereka, Dena. Namun hal itu urung dilakukan karena Dena memang masih di bawah umur. Namun ketika Sukirlan memiliki rencana baru setelah kedatangan Reva, Seto tak terlalu bereaksi karena bagaimanapun Reva ‘hanyalah’ calon menantu dari Pak Yus dan Bu Rum, bukan anak kandung mereka.

Namun di saat yang bersamaan, permintaan maaf dari Seto itu seperti membenarkan apa yang sudah menjadi dugaan dari kedua orang tua Prima itu. Pak Yus terlihat hanya bisa pasrah menundukkan kepala menahan kesedihan, sedangkan Bu Rum makin menjadi tangisnya.

“Kalau memang Nak Reva sudah… sudah… sama, Mas Lan. Lalu, nasib anak kami gimana, Mas? Prima gimana kondisinya? Dia, nggak kenapa-kenapa kan?” tanya Pak Yus yang masih penuh kekhawatiran.

Jelas Pak Yusdi begitu khawatir, karena Reva perginya dengan Prima. Beda cerita dengan menantu Pak Yono yang waktu itu tidak pergi dengan suaminya karena sedang bekerja di luar kota. Pak Yus khawatir kalau Prima sampai kenapa-kenapa. Sudah mereka bisa saja kehilangan calon menantu yang kini direbut oleh Sukirlan, mereka tidak akan siap kalau mendapati anak mereka juga ikutan menderita.

“Kalau soal Mas Prima, Pak Yus dan Bu Rum tenang saja. Saya jamin dia tidak akan kenapa-kenapa. Mas Prima hanya akan tertidru sampai besok. Dia tidak melihat, dan tidak akan menyadari apa yang terjadi kepada Reva. Besok, dia akan pulang ke rumah dengan keadaan baik-baik saja. Pak Yus dan Bu Rum bisa pegang omongan saya.”

Mendengar jawaban dari Seto yang penuh keyakinan itu, sedikit banyak membuat kedua orang tua Prima merasa lega. Meski jelas tidak rela dengan apa yang terjadi terhadap Reva, tapi setidaknya Prima selamat, tidak diapa-apakan oleh Sukirlan, dan akan pulang dalam kondisi yang baik-baik saja.

.::..::..::..::..::.

.:: KEMBALI KE MASA SEKARANG

“Ja-jadi… Bapak dan… dan Ibu… su-sudah, tahu…?”

Anggukan kepala dari Pak Yusdi cukup untuk memotong pertanyaan Reva. Anggukan itu juga langsung membuat Reva seperti kehilangan kepercayaan dan harga dirinya. Dia tak menyangka, apa yang terjadi kemarin pada dirinya, sesuatu yang ingin ia sembunyikan rapat-rapat dari keluarga Prima, ternyata kedua calon mertuanya sudah mengetahui hal itu dengan kedatangan Seto semalam.

“Se-selain Bapak, dan Ibu, a-apakah Dena…?”

Kali ini Pak Yusdi menggelengkan kepalanya, yang juga memotong pertanyaan dari Reva.

“Nggak, Nduk. Semalam, Dena sudah tidur waktu Seto datang kesini.”

Jawaban itu sedikit melegakan bagi Reva.

“Dia sepertinya kecapekan setelah pulang sekolah, jadi dia tidur lebih awal. Dia tidak tahu kalau Seto datang. Dan kami memang tidak ingin memberi tahu siapapun mengenai hal ini, termasuk Dena.”

Reva kembali menundukkan kepalanya. Ia berusaha begitu keras menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia malu. Benar-benar malu. Ini adalah aib terbesar dalam hidupnya, yang kini telah diketahui oleh calon mertuanya. Reva tidak tahu, dia tidak berani mengambil kesimpulan, setelah mengetahui apa yang terjadi, seperti apakah pandangan Pak Yusdi dan Bu Ruminten kepada dirinya kini. Apakah kedua orang itu Prima itu, masih akan merestui hubungan mereka dan menerimanya sebagai menantu?

Namun meski demikian, ia masih merasa lega sekaligus menaruh hormat kepada mereka berdua. Meskipun telah mengetahui aibnya, namun mereka bertekad untuk tidak memberi tahu siapapun mengenai hal ini. Reva merasa bahwa keduanya begitu sayang kepada dirinya dan tidak rela dengan apa yang terjadi kepadanya. Namun Reva tidak sepenuhnya benar, karena alasan sebenarnya adalah rasa takut keluarga Pak Yusdi terhadap sosok Sukirlan.

“Maafkan Bapak dan Ibu ya, Nduk,” ucap Pak Yusdi yang langsung membuat Reva mengangkat kepalanya.

Ia menatap bingung kepada calon ayah mertuanya itu. Dia yang telah ternoda. Dia yang gagal menjaga kehormatannya sebagai calon istri Prima, calon menantu dari Pak Yusdi dan Bu Ruminten. Tapi, kenapa justru Pak Yusdi yang meminta maaf?

“Ke-kenapa… kenapa Bapak, minta maaf?”

Pak Yusdi menghela nafas panjang. Dia mengambil gelas di meja dan menghabiskan air yang tersisa di dalamnya. Pak Yusdi seperti sedang memikirkan, bagaimana memilih kata yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Reva. Gadis itu bisa melihat beberapa kali calon mertuanya menarik dan menghembuskan nafas panjang.

“Bapak dan Ibu minta maaf, karena tidak memperingatkan Nak Reva,” jawab Pak Yusdi lirih.

Jawaban ini membuat Reva kembali mengernyitkan dahinya. Namun Reva adalah gadis yang pintar, ia mulai mengerti kira-kira apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Pak Yusdi.

“Semua orang di kampung ini tahu, siapa itu Sukirlan dan keluarganya. Mereka adalah orang-orang yang memegang kawasan ini. Semua orang di kampung ini tunduk sama keluarga mereka. Apa yang mereka katakan, apa yang mereka inginkan, tidak ada satupun orang sini yang berani menentangnya, apalagi sampai menolaknya,” ucap Pak Yusdi panjang lebar.

“Termasuk, jika itu adalah soal urusan wanita,” sambungnya dengan lirih, namun Reva masih cukup bisa mendengarkan. Ia pun hanya diam menyimak penjelasan dari Pak Yusdi.

“Terutama Sukirlan, si bungsu. Dia itu paket lengkap yang lebih menakutkan dari mas-masnya, Nduk. Dia itu preman, pemabuk, suka bikin rusuh, dan suka main perempuan. Jangankan yang masih gadis, istri orang pun kalau dia sudah suka, ya bisa aja direbut sama dia.”

Pak Yusdi menjeda ucapannya. Reva yang pada dasarnya gadis yang pintar dan peka, tahu bahwa calon mertuanya itu merasa haus, selain karena cuaca hari ini cukup terik, juga sepertinya Pak Yus perlu energi lebih untuk bercerita hal yang sebenarnya tidak ingin ia ceritakan, kepada Reva. Gadis itu pun bergerak cepat mengambil teko air, dan segera mengisi gelas Pak Yusdi yang sudah kosong.

“Terima kasih,” ucap Pak Yus sembari meneguk lagi air minumnya.

“Waktu Nak Reva baru datang kemarin, dia datang dan mengacaukan acara makan kita. Sebenarnya disitu Bapak dan Ibu sudah khawatir. Jelas sekali dari tingkahnya waktu kenalan sama Nak Reva, dari tatapannya, kami sudah takut, Nduk. Tapi kami ini wong cilik, orang lemah disini. Kami nggak punya keberanian bahkan untuk sekedar ngingetin Nak Reva saja, kami bener-bener nggak berani,” ucap Pak Yusdi dengan nada yang bergetar.

Reva tahu calon mertuanya ini berkata apa adanya. Sorot mata dan getaran nada dari ucapan Pak Yusdi membuktikan itu semua. Apalagi setelah mengetahui bagaimana reputasi Sukirlan sang preman kampung, ia masih bisa memaklumi ketakutan yang dimiliki oleh orang biasa seperti calon mertuanya itu.

“Juga waktu Nak Reva dan Prima pergi ke Pagur Jurang sore itu, kami juga kembali khawatir, karena itu adalah wilayah kekuasaan Sukirlan. Sepanjang Nak Reva dan Prima disana kami benar-benar kepikiran, sama sekali tidak bisa tenang. Tapi setelah kalian pulang, kami tanyakan ke Prima ternyata tidak terjadi apa-apa, kami merasa lebih tenang waktu itu.”

Reva tersenyum kecut.

Mas Prima bilang nggak terjadi apa-apa di Pager Jurang, karena memang dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak tahu kalau aku dilecehkan oleh Mas Lan. Tapi, aku sendiri memang tidak memberitahunya. Mungkin, kalau waktu itu aku bilang ke Mas Prima, akan lain kejadiannya.

Reva sedikit menyesali apa yang sudah terjadi. Jika saja saat itu ia bercerita kepada Prima, kalau dia baru saja dilecehkan oleh Sukirlan, mungkin Prima akan mengambil tindakan. Mungkin bukan tindakan frontal seperti berkonfrontasi dengan Sukirlan, karena ia tahu itu sama saja dengan bunuh diri. Tapi setidaknya, ia bisa membatasi agar tidak terlalu dekat dengan Sukirlan.

“Makanya, waktu kemarin Prima bilang kalian mau foto-foto di Pager Jurang, kami tidak terlalu khawatir karena yang sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Kami juga tenang-tenang saja waktu kerja di sawah, nggak kepikiran sama sekali apa yang bakal terjadi. Sampai akhirnya semalam, Seto datang kesini dan menyampaikan pesan itu, kami benar-benar terkejut, sedih, marah. Rasanya, kami bener-bener hancur, Nduk,” ucap Pak Yusdi dengan nada pilu.

Reva bisa merasakan kesedihan Pak Yusdi. Iapun tanpa sadar menitikkan air mata, namun buru-buru menghapusnya sebelum sang calon ayah mertuanya menyadari hal itu.

“Sejak awal Prima memperkenalkan Nak Reva, waktu kami ke kota dulu itu, kami sudah benar-benar cocok, sudah benar-benar suka sama Nak Reva. Meskipun pertemuan kita cuma singkat, tapi Bapak dan Ibu benar-benar menyukai sikap Nak Reva yang tidak memandang rendah kami sedikitpun meski kami ini wong cilik, wong ndeso. Nak Reva tetap memperlakukan kami dengan baik dan penuh hormat. Dari situ, kami tahu kalau Nak Reva benar-benar mencintai Prima.”

“Apalagi setelah Nak Reva akhirnya kesini, kami semakin mantap untuk merestui Nak Reva sebagai istri Prima, menantu kami berdua. Nak Reva tetap mau menerima keadaan kami setelah melihat dan bahkan tinggal di gubuk reyot ini. Kami benar-benar bahagia, Nduk. Kami sudah menganggap Nak Reva sebagai anak kami sendiri.”

Ucapan panjang lebar dari mulut Pak Yusdi benar-benar membuat Reva merasa terenyuh. Semua itu memang benar adanya. Meskipun lahir dan besar di keluarga yang bisa dibilang berada, namun Reva sedari kecil dididik untuk tidak pernah sekalipun memandang rendah kepada orang lain, siapapun itu. Sejak dini ia telah ditanamkan prinsip, bahwa pada dasarnya semua manusia itu memiliki derajat yang sama, tidak dibedakan hanya karena memiliki materi yang berbeda-beda.

Karena hal itulah, sejak mengenal Prima hingga kemudian memutuskan untuk membuka dan menyerahkan hatinya pada Prima, ia tak pernah melihat latar belakang Prima yang berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Ia melihat Prima dari pribadinya, bagaimana pria itu adalah seorang yang baik dan bertanggung jawab. Sehingga semua kekurangan Prima, maupun orang tuanya, bisa diterima dengan baik oleh Reva.

“Kami… kami ini… kami benar-benar tidak rela, Nduk. Kami tidak rela kalau Nak Reva, di… di… kami tidak rela dengan apa yang dilakukan sama Sukirlan ke Nak Reva. Kami benar-benar tidak rela,” Reva bisa melihat Pak Yusdi nampak begitu emosi saat mengucapkannya. Tapi tak lama kemudian, dia menunduk.

“Tapi, apalah daya kami yang cuma wong cilik ini. Kami tidak bisa apa-apa di hadapan keluarga itu. Kami, kebanyakan warga kampung sini, banyak berhutang sama keluarganya Sukirlan. Banyak dari kami yang sama sekali tidak punya apa-apa, tapi tetap bisa menyambung hidup karena diberi kesempatan untuk menggarap lahan pertanian milik mereka. Kalau tidak, entah bagaimana kami ini akan bertahan hidup sampai sekarang. Dan ini tidak hanya terjadi di kami saja, Nduk, tidak hanya terjadi ke Bapak dan Ibu saja. Ini terjadi di banyak warga kampung Growol dan Bawukan.”

Sejak tadi Reva hanya bisa mengangguk mendengar cerita dari Pak Yusdi, karena dia tak tahu harus bagaimana menanggapi itu semua. Reva sudah terlanjur merasa malu setelah apa yang terjadi terhadapnya ternyata diketahui oleh kedua calon mertuanya itu. Meskipun ia yakin kalau mereka berdua pastinya tahu ia dipaksa dan dijebak, tapi mau bagaimanapun faktanya sekarang dia sudah ternoda. Reva masih cemas, apakah Pak Yusdi dan Bu Rum masih akan tetap memberinya restu setelah mengetahui semua ini.

“Beberapa bulan lalu, mungkin sudah lebih dari setahun, Sukirlan pernah datang kesini. Dia bilang kepada Bapak, akan menunggu Dena hingga cukup dewasa. Dia hanya bilang seperti itu, tidak ada lanjutannya. Tapi Bapak dan Ibu yang bodoh ini tahu Nduk, apa yang diinginkan oleh Sukirlan,” ucap Pak Yusdi setelah cukup lama mereka saling diam.

“A-apa Pak? De-Dena?”

Reva begitu terkejut mendengar ucapan Pak Yusdi. Ia benar-benar tak menyangka kalau preman itu mengincar adik Prima. Dena saat ini masih sekolah, dan seharusnya masih setahun lagi calon adik iparnya itu akan lulus.

Dena memang cantik, Reva tak memungkiri itu. Meskipun jika dibandingkan dengan dirinya, Dena masih kalah, namun kecantikan alami tanpa sentuhan make up dan manis senyuman khas gadis desa sudah lebih dari cukup bagi seorang predator seperti Sukirlan untuk mengincarnya. Reva membayangkan, jika Dena sedikit merias diri pasti akan menjadi jauh lebih cantik lagi. Apalagi di usianya yang sekarang, tubuh Dena yang masih berkembang itu sudah menunjukkan lekukan-lekukan idaman para pria. Semua itu pastinya semakin menambah daya tariknya sebagai seorang wanita.

“Kami memang diberi kesempatan untuk menggarap lahan milik keluarga Sukir, Nduk. Tapi semua itu tidak gratis. Sudah pasti, ada imbalan yang mereka inginkan. Biasanya, imbalannya adalah bagi hasil yang sangat tidak sepadan, tapi kami hanya bisa menerima tanpa protes. Daripada tidak lagi diperbolehkan bekerja, malah semakin tidak mendapatkan apa-apa,” jawab Pak Yusdi.

“Tapi bagi mereka yang punya anggota keluarga, seperti istri, anak, menantu, atau siapapun, yang penting perempuan cantik, biasanya imbalannya adalah dengan menyerahkan wanita itu untuk dinikmati Sukirlan.”

Lanjutan jawaban ini lagi-lagi membuat Reva terkejut dan tak habis pikir. Dia sama sekali tak menyangka jika hal semacam ini benar-benar ada.

“Dan itu, yang terjadi kepada kami, Nduk. Selama menggarap sawah milik Sukirlan, kami tidak pernah diminta untuk setor sepeserpun ke mereka. Semua yang kami dapatkan dari mengurus sawah itu, uangnya masuk ke kami semua. Tapi, itu karena Sukirlan mengincar anak kami, Dena.”

Lagi-lagi, Reva bisa merasakan kegetiran dalam setiap kata yang keluar dari mulut Pak Yusdi. Ia benar-benar tidak habis pikir, di desa ini terjadi hal-hal yang seperti ini. Semua cerita Pak Yusdi sejak tadi membuar Reva tak bisa mengatakan apa-apa. Dia terlalu terkejut dengan kenyataan yang baru ia ketahui di kampung halaman calon suaminya ini.

“Itulah kenapa, kami berusaha untuk mendorong agar Dena bisa berkuliah di ibukota, atau di kota manapun, yang penting jauh dari sini Nduk. Tidak apa-apa kalau dia tidak kembali lagi ke kampung ini, kami mungkin masih bisa menyambanginya. Asalkan dia bisa aman dari jangkauan Sukirlan, kami ikhlas, Nduk. Tapi ternyata, justru Nak Reva yang…”

Pak Yusdi tak sampai hati meneruskan ucapannya. Ia kemudian kembali menghela nafas panjang.

Sedangkan Reva kembali tertunduk. Mau tak mau ia harus kembali teringat setiap kejadian yang melibatkan dirinya dengan Sukirlan, semenjak ia datang ke kampung ini hingga ke kejadian semalam ketika tubuhnya benar-benar dinikmati tanpa henti oleh dedengkot preman kampung itu.

Sesak rasanya dada Reva mengingat itu semua. Dia datang ke kampung halaman calon suaminya dengan berbagai harapan yang begitu indah. Meski ia tahu sedikit tentang kondisi disini dari cerita Prima, ia tak menyangka kalau yang sebenarnya terjadi disini jauh lebih parah dari apa yang ia kira.

Kini ia sudah ternoda. Ia sudah kotor. Apakah ia masih bisa punya muka untuk meneruskan hubungannya dengan Prima? Apakah Pak Yusdi dan Bu Ruminten masih akan memberikan restu mereka setelah mengetahui kenyataan bahwa dirinya kini sudah tak suci lagi.

“Pak…”

Pak Yusdi yang sudah terdiam mengalihkan tatapannya ke Reva setelah mendengar suara lirih calon istri akan sulungnya itu. Reva masih tertunduk, dan sepertinya ada sedikit gerakan di bahunya. Pak Yus tahu, gadis itu sedang terisak.

“Ada apa, Nduk?”

“Boleh Reva, bertanya sesuatu?” tanya Reva dengan suara yang masih lirih, namun cukup untuk bisa didengarkan oleh Pak Yusdi.

Suara Reva jadi sedikit serak, dan tidak terlalu lancar bicaranya. Reva sedang berusaha keras menahan agar tangisnya tak langsung pecah saat ini.

“Bapak, dan Ibu… sudah tahu, kondisi Reva. Apa… apa, Bapak dan Ibu… masih… masih…”

Lidah Reva kelu. Kata-kata yang sudah ia susun di dalam kepalanya tak bisa ia keluarkan. Ada sesuatu yang menahan kata-kata itu. Reva tak tahu apa, tapi ia benar-benar kesulitan untuk menyampaikan pertanyaannya.

Pak Yusdi pun juga terdiam, sepertinya sedang menunggu Reva untuk menyelesaikan pertanyaannya. Sebenarnya, Pak Yusdi sudah menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Reva, tapi ia memilih untuk menunggu saja daripada ia salah menyimpulkan. Tapi setelah sekian menit, Reva ternyata tak juga melanjutkan pertanyaannya. Pak Yusdi pun menghela nafas panjang kembali.

“Bapak nggak tahu apa yang terjadi kemarin di Pager Jurang, tapi Bapak yakin itu bukan kemauan Nak Reva,” ucap Pak Yusdi mencoba menebak apa yang dipikirkan oleh Reva.

“Bapak yakin, entah Nak Reva dipaksa, atau dijebak, tapi jelas itu semua bukan keinginan Nak Reva. Semuanya sudah terjadi, apapun kondisinya, kami tidak akan pernah menyalahkan Nak Reva. Kami semua tahu, adalah hal yang hampir mustahil melawan keinginan dari Sukirlan.”

“Ja… Jadi, Bapak masih…”

Pak Yusdi mengangguk meskipun Reva tidak melihat ke arahnya.

“Restu kami akan tetap kami berikan, Nduk. Bapak dan Ibu bisa mengerti kondisinya, meskipun kami tidak tahu persisnya seperti apa. Justru sebenarnya, yang menjadi masalah bukanlah restu dari kami, Nak Reva.”

Kali ini ucapan Pak Yusdi mampu membuat Reva mengangkat kepalanya dan menatap Pak Yusdi. Saat ini terlihatlah bagaimana mata Reva sudah memerah berkaca-kaca, sebagian air matanya telah turun membasahi pipinya.

“La-lalu, masalah apa, Pak?”

Pak Yusdi kembali menghabiskan air putih dalam gelas minumnya sebelum menjawab pertanyaan Reva.

“Gini, Nduk. Cewek-cewek yang sudah dien… Eemm, maksud Bapak, mereka yang jadi korbannya Sukirlan, akan sulit lepas dari dia,” ucap Pak Yusdi.

“Maksud Bapak, sulit lepas gimana, Pak?”

“Yaa, sulit buat lepas, Nduk. Gimana ya… intinya, Sukirlan tidak akan melepaskan begitu saja perempuan yang sudah berhasil dia jerat. Ada beberapa yang sebenarnya adalah istri orang, akan lebih patuh kepada Sukirlan daripada kepada suami mereka sendiri. Semua itu bisa jadi karena memang paksaan dari Sukirlan, atau karena, mereka sendiri, eemm…”

Pak Yusdi nampak ragu untuk meneruskan ucapannya. Dia seperti sedang menimbang-nimbang, apakah harus menceritakan semua kepada gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Namun ia bisa melihat dari raut wajah Reva, gadis itu menginginkan penjelasan yang lebih jauh dari calon mertuanya itu.

“Maksudnya, mereka sendiri, kenapa Pak?”

Pak Yusdi lagi-lagi menghela nafas panjang. Sudah terlanjur, sepertinya memang lebih baik diceritakan kepada Reva saja.

“Mereka sendiri, yang memilih untuk lebih patuh kepada Sukirlan, Nduk. Mereka tidak bisa lepas dari jerat Sukirlan, karena, setelah diperkosa oleh lelaki itu, mereka jadi sulit untuk bisa merasakan kepuasan dari suami mereka,” jawab Pak Yusdi yang mulai dengan gamblang bercerita.

Reva membelalakkan mata mendengarnya. Detik selanjutnya ia meneguk ludahnya karena teringat lagi kejantanan lelaki yang telah mengoyak selaput daranya itu. Reva tidak pernah memiliki pengalaman bercinta dengan orang lain sebelumnya. Satu-satunya penis yang pernah ia rasakan adalah milik Sukirlan. Tapi Reva tahu, batang kebanggaan Sukirlan itu memiliki ukuran yang besar dan panjang, di atas rata-rata.

“Mereka-mereka yang sudah terjerat itu, beberapa sudah sampai di titik dimana mereka sendiri yang akan mendatangi Sukirlan, untuk meminta dipuaskan. Kalau Sukirlan memang menyukai perempuan itu, dia akan memakainya sendiri. Tapi kalau Sukirlan tidak suka atau sudah bosan, dia akan menyuruh anak buahnya untuk menikmati tubuh perempuan-perempuan.”

“A-apa? Menyuruh anak buahnya?”

Pak Yusdi mengangguk menjawab pertanyaan dari Reva.

“Ja-jadi, wanita-wanita yang jadi korbannya Mas Lan, bukan cuma, melayani Mas Lan saja, Pak?”

“Yang Bapak pernah dengar, seperti itu, Nduk. Memang tidak semua, tapi kebanyakan yang Sukirlan sudah bosan, perempuan-perempuan itu akan diberikan ke anak buahnya untuk bisa mereka nikmati.”

Glek…

Reva kembali menelan ludahnya. Membayangkannya saja tubuh Reva sampai bergidik ngeri. Melayani Sukirlan seorang saja, sudah seperti itu. Dia sampai nyaris pingsan karena Sukirlan dengan buas menyetubuhinya selama berjam-jam. Hanya sebentar saja istirahat, lelaki itu terus menerus menikmati tubuhnya seperti tak ada puasnya. Bagaimana kalau harus ditambah melayani anak buah Sukirlan? Ada berapa banyak mereka? Seperti apa saja orang-orangnya? Reva benar-benar bergidik membayangkannya.

“Yang masih lajang pun, juga seperti itu Nduk. Ada yang terus dipaksa untuk melayani nafsu binatang Sukirlan dan anak buahnya, tapi ada juga yang akhirnya sukarela menyerahkan tubuh mereka demi bisa merasakan kenikmatan duniawi,” sambung Pak Yusdi, yang tak terlalu diperhatikan oleh Reva yang sedang melamun.

Gadis itu sedang melamun, membayangkan bagaimana nasib dirinya nanti setelah ini.

Satu sisi, ia merasa lega, karena meskipun Pak Yusdi dan Bu Ruminten sudah mengetahui bahwa dirinya sudah tidak suci lagi, dirinya sudah dinodai oleh Sukirlan, mereka masih tetap memberikan restu kepadanya untuk menjadi istri Prima, karena mereka yakin itu semua bukanlah keinginan Reva.

Namun di sisi lain, dia juga merasa khawatir. Dia merasa takut jika dia akan bernasib sama seperti wanita-wanita yang diceritakan oleh Pak Yusdi tadi. Dia takut tak bisa lepas dari jerat Sukirlan. Dia takut bos preman itu juga akan menyuruhnya untuk melayani para anak buahnya. Dia takut tak bisa lepas dari Sukirlan bukan karena sebuah paksaan, namun karena sudah ketagihan dengan nikmat luar biasa yang diberikan oleh kejantanan sang juragan buah.

Membayangkan semua itu, kini terbayang olehnya wajah Prima. Wajah tampan yang tersenyum tulus kepadanya. Wajah penuh wibawa yang begitu gigih memperjuangkan cintanya. Wajah yang terus menjaganya hingga saat ini, yang selalu berusaha memastikan semuanya baik-baik saja.

Reva tak bisa membayangkan bagaimana kemudian wajah Prima ketika mengetahui bahwa dirinya telah dinodai oleh Sukirlan. Bagaimana tanggapan Prima nanti, setelah tahu kalau kalau tubuh yang selama ini dia jaga betul-betul, telah dijamah seluruhnya oleh pria lain seperti Sukirlan. Apakah rasa cinta kepadanya masih akan sama? Apakah Prima masih bisa terus menyayangi dirinya? Atau, justru Prima akan memandang jijik kearahnya? Apakah Prima akan meninggalkannya begitu saja?

Apa aku masih pantas untuk Mas Prima? Aku sudah begitu kotor, sudah begitu menjijikkan. Semua yang ada di tubuhku, sudah dirampas semuanya oleh Mas Lan. Sudah tidak ada lagi yang tersisa, yang aku banggakan, yang bisa aku berikan kepada Mas Prima. Apa aku masih punya muka untuk mengharapkan cinta Mas Prima? Aku masih layak untuk menjadi pendamping Mas Prima?

Reva mulai terisak. Tetes demi tetes air mata yang sudah ia tahan sejak tadi, mulai turun membasahi pipinya.

Mama. Papa. Aku sudah menjadi anak yang gagal menjaga kehormatan keluarga. Apa aku masih punya muka untuk pulang? Apa Mama dan Papa masih menerimaku meskipun aku bersujud di kaki mereka? Apakah mereka masih mau menerima anak sekotor dan semenjijikkan aku?

“Nduk…”

Pak Yusdi mulai khawatir saat tubuh Reva semakin bergetar, seiring dengan air mata yang semakin lama semakin deras mengalir di pipi putihnya itu. Isak tangisnya mulai terdengar begitu pilu, menyimpan rasa sakit yang begitu mendalam.

Pak Yusdi jadi bingung sendiri melihat calon menantunya seperti ini. Jika itu adalah anaknya, Dena, maka ia akan segera memeluk dan menenangkan tangis sang anak. Tapi ini bukan anaknya. Reva adalah calon menantunya. Ia jadi ragu untuk melakukan hal yang sama. Namun sebentar kemudian Reva tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah belakang. Pak Yusdi yang khawatir pun mengikutinya untuk memastikan calon menantunya itu tidak berbuat yang aneh-aneh.

Yus… Yus… kalau tahu bakal seperti ini mendingan tadi nggak usah cerita ke Reva saja. Haduuuh…

Pak Yusdi nampak menyesali keputusannya yang menceritakan tentang bagaimana nasib para wanita yang menjadi korban Sukirlan. Ia berpikir jika Reva memang harus tahu apa yang terjadi kepada mereka, yang kemungkinan bisa juga terjadi kepada Reva. Tapi ia tak menyangka jika menceritakannya sekarang, akan membuat Reva seperti ini.

“Nduk, kamu mau ngapain?” ucap Pak Yusdi yang cepat-cepat mengejar Reva dan menangkap tangannya.

Tangan Reva saat ini sudah memegang pisau dapur, yang tadi ia gunakan untuk mengiris tempe yang ia masa dan ia hidangkan untuk Prima. Dengan cepat Pak Yusdi merebut pisau itu dan membuangnya ke sembarang arah. Saat itu juga pecahlah tangis Reva. Suaranya cukup keras hingga membuat Pak Yusdi terkejut.

“Nduk, sudah Nduk…”

Pak Yusdi semakin panik karena suara tangis Reva kian kencang. Meski sebenarnya Pak Yusdi tahu kalau tetangga sebelah rumahnya masih di sawah, tapi ia khawatir jika ada orang lewat dan mendengarkan tangisan Reva. Akan sangat merepotkan jika sampai ada orang yang tahu Reva menangis keras seperti ini. Tak mungkin juga ia akan berterus terang menceritakan jika Reva menangis setelah kemarin diperkosa oleh Sukirlan. Karena itulah ayah Prima itu segera merengkuh tubuh mungil Reva. Reva sendiri reflek memeluk erat Pak Yusdi dan membenamkan wajahnya di dada bidang calon mertuanya.

Di situ Reva merasa seperti mendapatkan tempat yang tepat untuk menumpahkan segala bebannya. Rasa gelisah dan kepedihannya ia tumpahkan dalam tangisannya yang kian keras. Untungnya dalam pelukan Pak Yusdi itu, suara tangisan Reva yang sebenarnya keras, bisa cukup teredam sehingga tak sampai terdengar ke luar rumah.

“Eling Nduk, eling. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Jangan punya pikiran jelek kayak gitu, apalagi mau mengakhiri hidup kamu seperti itu.”

Pak Yusdi benar-benar merasa menyesal, juga kasihan terhadap Reva. Ia bisa merasakan betapa hancurnya Reva saat ini. Pelukan erat dan tangisan kuat dari sang calon menantu menunjukkan itu semua.

“Hiks… Huaaa… Bapaaaak… Hiks…”

Reva semakin mempererat pelukannya pada Pak Yusdi, yang membuat lelaki itu sedikit sesak nafas. Namun ia biarkan saja, ia berikan waktu kepada Reva untuk mengeluarkan semua tangisannya, agar beban yang ia rasakan bisa sedikit berkurang.

“Reva sudah kotor Paaak… Huaaa… Reva nggak pantes lagi buat Mas Prima…”

Pak Yusdi hanya bisa mengelus kepala dan punggung Reva sambil mendengar racauan calon menantunya. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk menjawab ucapan Reva.

Sebagai orang yang sudah lama tinggal di kampung ini, dia sudah sangat paham bagaimana sifat dan kelakuan Sukirlan. Dia sudah cukup banyak mengetahui sepak terjang Sukirlan yang suka sekali menggoda wanita-wanita cantik di desanya, ataupun orang luar yang datang mengunjungi kampung Bawukan dan kawasan Pager Jurang. Preman itu tak pandang status, mau itu gadis perawan, mau itu istri orang, kalau dia sudah mau, apapun akan dilakukan untuk bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan.

Karena itulah, kedatangan Reva ke rumahnya ini, di satu sisi membuat dirinya dan keluarganya bahagia, namun di sisi lain juga menimbulkan kekhawatiran jika kehadiran calon menantunya itu diketahui Sukirlan. Dan rupanya benar saja, di hari pertama Reva datang, Sukirlan langsung melihatnya. Dan kini, hanya dalam waktu beberapa hari saja, Reva sudah benar-benar didapatkan oleh Sukirlan. Juragan buah itu telah merebut kesucian Reva, yang harusnya dipersembahkan untuk putranya, Prima.

Pak Yusdi tahu dia tidak bisa menyalahkan Reva. Dia tahu Reva dijebak, dipaksa, diperkosa. Dia tahu Reva tidak akan bisa melawan kehendak Sukirlan. Dia bahkan masih memiliki sedikit rasa syukur, karena Prima bisa kembali ke rumah dengan keadaan baik-baik saja. Meskipun Prima tidak tahu apa-apa mengena apa yang terjadi kepada calon istrinya itu, namun Pak Yusdi berpikir bahwa sebenarnya hal itu adalah yang terbaik bagi Prima untuk saat ini.

Cukup lama Reva menangis di pelukan Pak Yusdi hingga kaos yang dipakai oleh calon mertuanya itu basah. Namun begitu terasa kalau tangis Reva belumlah mereda. Pak Yusdi masih terus mengelus bagian kepala dan punggung Reva bergantian. Sesekali ia mulai mengecup kepala Reva yang terbungkus jilbabnya.

Pak Yusdi mulai melakukan itu bukan karena biasanya dia juga begitu kepada Dena. Bahkan dia belum pernah mencium Dena sejak anak itu mulai beranjak remaja. Pak Yusdi tergerak untuk mencium kepala Reva karena ia mulai merasakan sesuatu yang saat ini sedang berusaha keras untuk ia bendung.

Pelukan yang begitu erat dan lama dari Reva mau tak mau membuat kelelakian Pak Yusdi tergoda. Pakaian Reva sebenarnya cukup longgar, namun kainnya yang cukup tipis membuat Pak Yusdi bisa merasakan kenyalnya buah dada sentosa milik sang calon menantu. Belum lagi ketika ia belai punggung Reva, ia juga seperti bisa merasakan bentuk tubuh bagian belakang sang gadis. Ia bisa merasakan tubuh langsing Reva masih begitu kencang, tentu saja berbeda dengan tubuh istrinya yang telah lama penuh lemak.

uGAXWRhz_t.jpg

Isak tangis Reva membuat tubuhnya yang menempel pada tubuh Pak Yusdi bergerak sedikit, yang justru dirasakan oleh Pak Yusdi seperti sedang ia digesek-gesek oleh buah dada Reva. Semua itu saja sudah membuat pikirannya ambyar, belum lagi ditambah aroma tubuh Reva yang begitu menggodanya. Meski hanya di rumah, Reva tetap menyemprotkan parfum ke tubuhnya, meski tidak sebanyak ketika dia akan pergi keluar. Aroma yang terpancar dari tubuhnya itu membuat pikiran Pak Yusdi semakin sulit untuk bisa ia kendalikan.

Pak Yusdi berusaha sebisa mungkin, agar Reva tidak menyadari perubahan yang terjadi kepada dirinya. Sulit, karena saat ini tubuhnya dipeluk dengan begitu erat oleh Reva. Untungnya saja Reva belum menyadari jika salah satu bagian tubuh dari Pak Yusdi yang menempel di perutnya telah berubah, menjadi semakin keras dan terasa sekali di perutnya. Pak Yusdi berusaha memundurkan badan untuk memberi jarak pada tubuh mereka, namun sia-sia karena pelukan erat Reva.

Reva juga belum menyadari kalau nafas lelaki yang dipeluknya itu mulai berubah. Tak lagi tenang seperti tadi, namun perlahan sudah mulai memburu. Ia salah menanggapi kecupan Pak Yusdi yang beberapa kali terasa di kepalanya. Ia anggap itu sebagai usaha Pak Yusdi untuk membuatnya lebih tenang. Ia anggap kecupan itu sebagai ungkapan sayang seorang ayah kepada anaknya. Namun yang sebenarnya terjadi, kecupan demi kecupan dari Pak Yusdi itu karena calon ayah mertua Reva ini sudah mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Eh… ini…

Isak tangis Reva yang mulai reda, membuat kesadarannya yang mulai kembali dapat ia kuasai, sehingga ia mulai bisa merasakan adanya perubahan pada diri Pak Yusdi. Reva jelas bisa merasakan sebuah tonjolan yang keras yang menggesek perutnya. Ia mulai bisa merasakan bagaimana nafas Pak Yusdi yang mulai memburu. Bahkan ia baru menyadari tangan Pak Yusdi yang tadi membelai kepala dan punggungnya, kini sesekali berada di bokongnya, dan sedikit meremasnya.

Reva mematung. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia masih disibukkan dengan kekalutan pikirannya, kini orang yang sedang ia tumpahi keluh kesah itu malah sedang menjamahnya dengan hawa nafsu. Bayang-bayang kejadian kemarin dengan Sukirlan mau tak mau terlintas lagi di dalam kepalanya. Semua itu membuat tubuh Reva bergidik.

Ia ingin berontak, ingin meronta dan menampar lelaki yang sedang menjamah tubuhnya ini. Tapi kemudian ia sadar, ia ingat, bahwa ialah yang pertama kali memeluk Pak Yusdi dengan begitu erat. Ialah yang telah membenamkan kepalanya di dada tua Pak Yusdi yang terasa begitu padat. Ia juga yang telah membuat buah dada ranumnya itu menekan tubuh Pak Yusdi. Ia yang telah mengunci tubuh mereka berdua sehingga Pak Yusdi tidak bisa menghindar dari kehangatan dan keempukan tubuhnya.

Ini bukan salah Bapak. Aku yang memulai semuanya.

“Pak…” lirih Reva, yang seketika menghentikan perbuatan Pak Yusdi kepadanya.

Lelaki tua itu seperti kembali tersadar dengan apa yang telah ia lakukan. Nafsu birahi yang sempat menguasai dirinya lantaran godaan kekenyalan payudara Reva, seperti menguap begitu saja entah kemana. Bahkan kemudian ia yang memaksa Reva untuk mengendurkan pelukannya, meski belum benar-benar dilepas oleh calon menantunya itu.

Astagfirullah… guobloook kamu Yusdi. Kok bisa-bisanya… aaah guoblooookk…!!!

“Nduk… Ba-bapaakk… Bapaak…”

Pak Yusdi terbata-bata karena dia benar-benar tidak tahu apa yang harus diucapkan. Bahkan untuk sekedar meminta maaf saja rasanya kelu sekali lidahnya. Wajahnya begitu pucat karena menyadari dirinya telah melakukan sesuatu yang benar-benar sudah melewati batas. Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu kepada Reva, calon menantunya, calon istri dari anak kandungnya?

Akan tetapi wajah pucat Pak Yusdi seketika berubah menjadi ekspresi bingung, ketika ia lihat Reva bukannya marah. Calon menantu yang masih memeluknya meski tak seerat tadi itu, justru sedang tersenyum menatapnya. Tidak terlihat sama sekali ada raut marah dari gadis cantik ini. Bukankah ia baru saja mendapatkan pelecehan?

Entah kenapa, begitu melihat senyum manis Reva yang sama sekali tak menunjukkan kemarahan kepadanya, selain merasakan kelegaan yang luar biasa, penis Pak Yusdi yang masih terasa menempel di perut Reva, kembali mengeras.

Glek…

Pak Yusdi yang menyadari hal itu, menunggu reaksi dari Reva. Apakah kemudian calon menantunya itu akan berubah sikap lalu menamparnya?

Namun yang terjadi, Reva kembali tersenyum. Ia juga merasakan benda itu kembali keras setelah tadi sempat layu sesaat. Reva bahkan melirik ke bawah sebentar, kemudian menatap wajah Pak Yusdi kembali. Ia bahkan kembali mengeratkan pelukannya di tubuh Pak Yusdi, yang tentu saja membuatnya bisa semakin merasakan tonjolan keras itu di perutnya.

“Nduk…”

“Pak,” lirih Reva. “Terima kasih ya…”

Pak Yusdi, diantara nafsunya yang kembali muncul akibat apa yang dilakukan oleh Reva, bercampur dengan rasa bingung ketika mendengar ucapan terima kasih dari gadis itu.

Terima kasih? Terima kasih buat apa?

“Terima kasih, karena meskipun sudah tahu kalau Reva kayak gini, masih tetap merestui dan menerima Reva,” lanjut gadis itu dengan suara lirih, sambil tak lupa senyuman tak hilang dari bibirnya.

Pak Yusdi hanya bisa meresponnya dengan menganggukkan kepala.

“Sebagai ungkapan terima kasih Reva, dan juga sebagai bakti Reva kepada Bapak, Reva mau kasih hadiah,” lirih gadis itu kembali, yang kini terdengar begitu syahdu di telinga Pak Yusdi, yang entah kenapa membuat badannya agak menggelinjang.

“Ha-hadiah… hadiah apa, Nduk?” tanya Pak Yusdi, masih terbata-bata.

Reva tersenyum. Pak Yusdi merasa, senyuman Reva kali ini berbeda. Bukan senyuman manis seperti tadi, tapi senyuman kali ini terkesan lebih, nakal.

“Bapak terima saja, ya? Yang penting, cukup kita berdua saja, yang tahu…”

Pak Yusdi yang masih bingung dengan ucapan Reva, lagi-lagi hanya bisa memberi jawaban berupa anggukan kepala saja. Saat kemudian perlahan Reva melepas pelukannya dari tubuh Pak Yusdi, nampak sekilas wajah pria tua itu sedikit kecewa. Namun kemudian…

“Ah… Nduk???”

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy