Entah sudah berapa lama Amy menutup mata, hingga ia merasa hampir tidak sanggup untuk membukanya kembali. Namun beragam suara aneh, seperti keramaian orang yang asyik mengobrol, seakan menggodanya untuk mengangkat kelopak matanya yang masih terkunci rapat.
Setelah berhasil membuka penutup bola matanya yang indah, Amy mendapati dirinya tengah berdiri tegak, menatap cermin besar yang bahkan berukuran lebih tinggi dari dirinya.
Di mana aku?
Ia ternyata tengah berada di sebuah kamar, dengan jendela yang tirainya tidak mampu menahan sinar mentari untuk menerobos masuk ke dalam. Suara riuh yang sempat terekam oleh indera pendengaran Amy sepertinya berasal dari luar kamar, karena tidak ada orang lain yang tengah bersamanya di dalam ruangan tersebut.
Saat tengah meneliti setiap sisi ruangan, Amy mendapati sebuah kayu yang berbentuk seperti dupa, tengah terbakar di salah satu sudut. Asapnya mengepul memenuhi ruangan, membuat aroma menyengat yang langsung tercium oleh sang ibu muda.
Perasaan bingung perempuan muda tersebut semakin bertambah saat mendapati busana yang tengah ia kenakan, yaitu sebuah gaun kebaya panjang berwarna hijau sage yang ketat membungkus tubuhnya yang indah, lengkap dengan kain batik berwarna coklat tua sebagai bawahan.
Kepalanya memang tertutupi oleh jilbab dengan warna senada dengan kebaya yang ia pakai. Namun di atas jilbab tersebut, melekat sebuah hiasan bunga yang menjulang ke atas, serta rangkaian bunga lain yang tergerai ke bawah. Bibir dan pipinya yang jarang bersentuhan make up, saat ini justru tampak begitu sensual dengan lipstik dan blush on dengan warna cukup mencolok.
I-Ini kan baju...!?
Amy jelas tahu busana apa yang tengah ia kenakan saat ini, karena ia sendiri yang merancang pakaian tersebut. Ia melakukannya demi bisa tampil sempurna saat menjalani prosesi sakral dengan Ghema Mahardika alias Ge, yang kini telah menjadi ayah dari anak semata wayangnya. Perempuan tersebut bahkan sampai harus berkeliling ke beberapa toko dan pasar demi menemukan kain dengan warna dan motif yang benar-benar sesuai keinginannya.
Seingatnya, pakaian tersebut tidak sempat ia bawa saat pindah ke Cluster Kembang Arum Asri. Karena merasa tidak akan mengenakan pakaian tersebut dalam waktu dekat, Amy pun menitipkannya di rumah orang tua Ge.
Kenapa… kenapa aku sekarang justru mengenakan pakaian ini?
Belum sempat Amy menemukan jawaban dari pertanyaan besar tersebut, pintu kamar tempatnya berada dibuka dari luar. Sesosok pria kemudian masuk ke dalam ruangan, lalu kembali menutup pintu. Tanpa perlu membalikkan badan, perempuan tersebut sudah bisa melihat wajah pria itu dari pantulan cermin di hadapannya.
Pria tersebut jelas bukan Ge, yang berwajah tampan dengan tubuh yang cukup atletis. Usia pria itu bahkan jauh di atas Amy dan Ge. Anehnya, pria tersebut justru mengenakan kain batik dengan motif dan warna yang sama persis dengan yang dikenakan Amy saat ini.
Namun, pria itu tidak mengenakan sehelai busana pun sebagai atasan. Dadanya dibiarkan terbuka begitu saja, dengan sebuah untaian bunga yang tergantung di lehernya. Karena itu, puting dada pria tersebut bisa jelas terlihat oleh Amy.
“Kamu benar-benar cantik sekali, Dek,” ujar pria tersebut saat telah berdiri tepat di belakang Amy, hingga keduanya kini sama-sama menatap ke arah cermin. “Dari seluruh bidadari yang tinggal di Cluster ini, tidak salah kalau kamu lah yang Mas pilih sebagai permaisuri.”
Hhah? Pe-permaisuri? A-apa-apaan!? Bagaimana bisa aku menjadi pendamping pria lain!? Aku kan masih istri sah Mas Ge!
Amy sudah ingin segera pergi dari hadapan pria tersebut, dan langsung meninggalkan ruangan yang penuh dengan nuansa mistis itu. Namun kakinya seperti terpaku di tempat ia berdiri sekarang, tidak bisa bergerak sama sekali.
Karena itu, Amy pun tidak bisa mengelak saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Jantung perempuan tersebut berdebar dengan kencang saat jemari sang pria mulai bermain-main di lengannya. Degupan itu bahkan makin terasa saat tangan berukuran besar milik pria tersebut bersandar di payudara Amy yang membusung di balik gaun pengantin yang tengah ia kenakan.
“He-hentikan, Mas Man. Di luar masih banyak orang,” kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari mulut Amy, tanpa bisa ia kontrol, padahal ia sendiri tidak tahu siapa yang ada di luar, di mana mereka, atau bahkan apa yang sedang terjadi.
“Terus kenapa? Mereka semua kan di luar, dan tidak akan ikut masuk ke dalam sini. Ini ruangan khusus untuk kita berdua.”
“Kamu kan tahu Aku tidak bisa tahan kalau tubuhku dirangsang seperti ini sama kamu, Mas. Kamu sudah tahu titik lemahku.”
“Lalu?”
“Nanti suaraku berisik, terus mereka dengar.”
“Hahaa... Kamu nggak perlu mikirin hal itu, Dek Amy. Lagipula kalau mereka dengar juga nggak apa-apa, tho? Mereka pasti tahu bagaimana rasanya jadi pengantin baru. Apalagi kalau perempuannya punya paras secantik kamu, Sayang. Mana ada yang bisa tahan? Mereka pasti sudah paham. Hahaa...”
“Kalau kedua istri Mas dengar, bagaimana? Memangnya mereka tidak akan cemburu?”
“Hahaa, apalagi mereka. Sudah, nggak perlu kamu pikirin. Yang penting, malam ini kita nikmati saja kebersamaan kita. Malam pertama kita. Oke?”
Dalam hati, Amy jelas ingin menggelengkan kepalanya. Namun entah kenapa, saat ini ia sama sekali tidak bisa mengendalikan tubuhnya, yang justru mengangguk-angguk seperti budak yang senantiasa menurut pada tuannya. Tanpa peduli bahwa sang tuan mempunyai wajah yang jauh dari kata tampan seperti Pak Man.
Namun keraguan yang awalnya dirasakan oleh Amy, lambat laun digantikan oleh perasaan terangsang karena permainan tangan Pak Man di sekitar payudaranya benar-benar membuatnya bergairah. Apalagi sentuhan dan remasan tersebut turut dibarengi dengan kecupan bibir yang bertubi-tubi di bagian lehernya yang memang cukup sensitif.
“Nggghhh... Maaaassssss...”
Tanpa bisa dicegah, sebuah desahan akhirnya keluar dari mulut Amy. Saat melirik ke arah cermin, perempuan itu bisa melihat bagaimana Pak Man tampak tersenyum saat mendengar suara sensual tersebut, yang membuat pria tua itu seperti makin bersemangat untuk menelusuri setiap senti tubuh Amy.
“Tubuh kamu benar-benar menggairahkan, Dek Amy. Nggak sabar saya mau belah lipatan duren kamu yang legit di bawah situ. Hahaa...”
Amy tiba-tiba merasakan sebuah benda berujung tumpul yang berdiameter cukup besar, mulai mendorong-dorong bokongnya dari belakang. Entah sejak kapan sang pria menurunkan kain batik yang menutupi bagian bawah tubuhnya, hingga kini alat vital miliknya jadi bisa bergerak bebas.
“Memangnya sejak kapan Mas Man menginginkan aku untuk menjadi milik Mas?”
“Jelas sejak kamu datang ke Cluster ini, Dek Amy.”
“Tapi waktu itu kan aku masih jadi istrinya Mas Ge.”
“Hahaa... Mana peduli aku kamu ini milik siapa. Misalnya kamu istri petinggi negara sekalipun, akan aku kejar kemanapun kamu pergi dan akan kudapatkan tubuh indahmu, Dek. Kamu tahu betapa berkuasanya aku dan keluargaku di daerah ini kan?”
“Ihh, Mas Man jahat!”
“Jahat jahat begini juga kontolnya bisa bikin kamu tergila-gila kan? Hahaa, nggak perlu munafik lagi, Dek Amy. Kita kan sudah jadi pasangan yang resmi. Setelah ini, aku akan bisa menggenjot tubuhmu yang bahenol ini semauku, kan?”
“Bukannya kalau punya istri lebih dari satu itu harus adil ya, Mas?”
“Kamu takut nggak kuat ya kalau aku sodok-sodok tempikmu ini setiap hari? Hahaa...”
Rasa percaya diri sang Ketua RT yang sudah kelewat batas itu membuat Amy merasa sangat jijik, hingga ia ingin muntah dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Namun entah mengapa, ia tidak bisa melakukannya, dan hanya bisa menikmati setiap rabaan dan sentuhan dari bandot tua tersebut dari balik kebaya indah yang tengah ia kenakan.
Amy bahkan diam saja saat kain batik yang ia pakai sebagai bawahan mulai dilepas oleh Pak Man, dan tubuh bagian atasnya didorong hingga sedikit membungkuk ke depan. Agar tidak terjatuh, Amy meletakkan kedua tangannya di ujung meja rias yang berada di hadapannya, sebagai tumpuan.
Karena itu, ia bisa melihat sebuah cincin berlian yang kini melingkar di jari manisnya. Batu permata yang menghiasi cincin tersebut tampak begitu indah, jelas jauh lebih mahal dan gemerlap dari yang sebelumnya pernah ia terima dan kenakan.
Apakah ini artinya Pak Man memang menganggap diriku sebagai perempuan yang benar-benar berharga?
“Aaahhh... buka sedikit paha kamu, Dek Amy. Biar bisa kumasukin kontolku ke dalam. Nah iya begitu... Nggghhhh...”
Atau Pak Man hanya menganggap aku sebagai pelacur yang bisa ia reguk kenikmatan tubuhnya setiap hari?
“Memek perempuan kota seperti kamu memang rasanya beda yaa... Walau sudah pernah dijebol sama suami kamu sampai beranak satu, tetap sempit dan lembut. Benar-benar luar biasa!”
Perlahan tapi pasti, Amy bisa merasakan bagaimana alat kelamin yang selama ini ia jaga baik kebersihan dan aromanya, kini justru menjadi bulan-bulanan dari pimpinan lingkungan berusia tua yang sudah sejak lama mengincar dirinya itu. Kini, Amy bahkan seperti merelakan tubuhnya untuk dipermainkan seperti ini. Busana sakral yang mereka berdua kenakan seperti menandai awal dari sebuah perjalanan birahi panjang yang entah kapan akan berujung.
“Ngghhh... Kamu suka dientot dari belakang begini, Dek Amy?”
“Su-Suka, Maaasss... Aaaahhh...”
“Ternyata benar, kamu memang berisik sekali kalau lagi kenthu. Hahaa...”
“Ha-habis Mas Man sihhh... Nggak bisa pelan-pelan... Aaaahhh...”
“Bagaimana bisa pelan kalau berhadapan sama tubuh seksi kamu, Dek Amy. Apalagi kalau lagi pakai baju pengantin seperti ini, euuughhh... Dari akad tadi saja kontol saya sudah super ngaceng!”
“Nggghhh... Aaaaahhhhh... Maaaassss...”
“Ayo kita bikin adek buat anak kamu, Dek Amy. Siapa namanya? Efin ya?”
“Kevin, Maass... Namanya Kevin...”
“Ahhh, namanya kayak orang kota banget. Nanti anak kita dikasih nama Sukirun saja yaaa... Meneruskan silsilah keluarga... Hahaa...”
Pak Man tampak makin bersemangat menyetubuhi Amy dari belakang. Sedangkan sang perempuan, kini justru memejamkan mata demi menahan rasa nikmat yang tengah melanda dirinya. Aroma khas dari dupa yang terbakar di pojok ruangan seperti membuat sensasi yang unik di tengah persetubuhan kedua insan yang perbedaan usianya sangat jauh itu.
Namun tak lama kemudian, Amy merasakan tubuhnya seperti digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Awalnya goyangan tersebut seperti tidak bertenaga, tetapi lama kelamaan makin kuat. Goyangan tersebut bahkan kini disertai dengan suara panggilan, yang sumbernya sudah sangat ia kenal.
“Sayang... Amy sayang... Ayo bangun...”
“Nggghhh...”
Amy masih ingin melanjutkan desahannya, ia seperti tidak ingin kehilangan sensasi tersebut.
“Ayo bangun sayang, sudah siang neh...”
“Nggghhh...”
“Ayo bangun sayang, Epin udah lapar tuh kayaknya...”
“Nggghhh...”
“Sayang, ayo bangun...”
Amy akhirnya menyerah, dan memutuskan untuk membuka mata. Ia tahu bahwa apa yang di hadapannya kini adalah suasana yang jauh berbeda. Di kamar tempatnya berada saat ini, tidak ada pria tua yang sedang menggerayangi tubuhnya, atau menyetubuhinya dari belakang. Hanya ada Ge yang sedari tadi berusaha membangunkannya, dan Kevin, sang anak yang sudah cemberut karena lapar dan tak lama lagi sepertinya akan menangis.
“Lihat tuh, Sayang. Bener kan, Epin lagi lapar?” Ujar Ge sambil menunjuk ke arah buah hati mereka.
“Mama lama banget sih bangunnya. Epin lapeerrr!”
“Iya, iya... Tunggu sebentar. Mama buatkan sarapan dulu,” ujar Amy dengan sedikit acuh.
Dengan tubuh yang masih sedikit lemas dan langkah yang begitu gontai, perempuan muda tersebut beranjak keluar dari kamar menuju ke arah dapur. Ia meninggalkan kedua anggota keluarganya yang masih berada di atas ranjang dengan perasaan yang tak menentu. Ia tahu bahwa dirinya tengah berada di sebuah persimpangan, tanpa tahu ke mana seharusnya ia bergerak.
Namun satu hal yang ia tahu, bahwa ia harus mampir sejenak ke kamar mandi, karena ada sesuatu yang perlu ia bereskan sebelum membuat sarapan untuk keluarga kecilnya.
.::..::..::..::..::.
Ketika hari sudah menjelang siang, Amy kembali duduk di teras rumahnya, sambil menemani Kevin yang asyik bermain dengan mobil-mobilan kesukaannya.
Setiap kali sang suami sudah pergi bekerja, memang inilah aktivitas yang biasa dilakukan oleh Amy, selain pergi ke tukang sayur langganannya untuk menggosip ria dengan Nisa dan Shinta. Namun sejak kejadian kemarin yang sampai menggemparkan seluruh Cluster hingga desa-desa di sekitarnya, jelas tidak mungkin kedua sahabatnya itu keluar dari rumah, terutama Nisa.
Mengapa ya hal itu sampai terjadi? Apa benar Mbak Nisa memang sudah bersetubuh dengan Mang Juki? Tapi kemarin kan Mas Ge sudah bilang kalau itu hanya hoax yang dibuat dengan teknologi kecerdasan buatan.
Dalam lamunannya, Amy jadi membayangkan apa alasan yang mungkin, apabila Nisa memang benar-benar sudah menyerahkan tubuhnya kepada pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang bangunan itu. Kalau tampang, jelas tidak mungkin. Kalau uang apalagi, sebagai pemilik toko kue Nisa Cakes, sang perempuan jelas tidak pernah kekurangan dari sisi harta.
“Satu-satunya penyebab yang mungkin ya, memang karena Mang Juki punya tenaga yang bisa membuat Mbak Nisa jadi tergila-gila. Jangan-jangan kemaluannya Mang Juki memang gede banget ukurannya.”
Amy jadi teringat mimpinya semalam, di mana dia membayangkan dirinya menjadi pengantin wanita dari seorang pria tua, yang juga mempunyai ukuran penis yang cukup besar. Ya, Amy memang pernah melihatnya secara langsung saat sang pria datang ke rumahnya. Tidak hanya melihat, ia juga bahkan telah mengecup-ngecup ujungnya dengan penuh kesadaran.
Kira-kira lebih besar mana ya? Punya Mas Man atau punya Mang Juki?
Amy terkesiap sendiri saat menyadari apa yang baru saja ia pikirkan.
Duhh, lha kok aku malah jadi mikirin yang nggak-nggak begitu sih? Bodohnya! Kenapa cerobohmu ga ilang-ilang sih, Amy!? Kamu sedang mengawasi Kevin! Jangan lengah!
Saat tengah asyik dengan pikirannya yang seperti berkelana tak tentu arah, Amy tiba-tiba melihat Mbah Tri lewat di depan rumahnya. Secara reflek, ia pun memanggil perempuan tua yang biasa menjaga anaknya tersebut saat ia dan Ge tengah sibuk dengan aktivitas lain.
“Assalamualaykum, Mbah Tri,” panggil Amy. Demi menjaga kesopanan, ia pun langsung berdiri dan berjalan ke arah pagar guna menghampiri tetangga yang usianya lebih tua dari dirinya tersebut.
“Waalaykumsalam, Mbak Amy,” jawab Mbah Tri yang langsung menghentikan langkahnya.
“Badhe tindak pundi, Mbah? Mau ke mana? Tumben pakaiannya rapi banget.”
“Iki lho, Mbak Amy. Saya mau ikut pengajian di Kampung Growol.”
“Oh, pengajian ibu-ibu gitu? Atau ada bapak-bapaknya juga?”
“Cuma ibu-ibu saja, Mbak.”
“Dalam rangka apa? Ada yang hajatan?”
“Nggak dalam rangka apa-apa. Memang pengajian rutin saja, Mbak. Sudah biasa tiap bulan seperti ini.”
Meski sudah cukup lama tinggal di Cluster Kembang Arum Asri, Amy merasa bahwa dirinya bisa dikatakan masih cukup terasing di lingkungan ini. Ia tidak tahu acara apa saja yang berlangsung di daerah tersebut, dan seringkali terjebak di rumah tanpa aktivitas apa pun. Padahal, sewaktu ia dan keluarganya tinggal di kota, Amy merupakan sosok yang cukup aktif menghadiri kegiatan sosial, maupun hangout bersama teman-temannya sesama ibu rumah tangga. Inilah bedanya tinggal di perumahan di kota dan perumahan di desa.
Sebagai sosok perempuan tua, Mbah Tri jelas tahu apa yang tengah dipikirkan Amy. Saat tengah menjaga Kevin, ia bahkan sudah sering mendengar keluhan Amy yang merasa bosan terus menerus ditinggal di rumah oleh sang suami. Ibu muda tersebut sering menanyakan apakah ada acara di sekitar Cluster yang bisa ia hadiri untuk sekadar mengisi waktu.
“Apa mungkin… Mbak Amy mau ikut pengajian sama saya?”
“Memangnya boleh, Mbah?”
“Ya boleh lah. Masa orang ikut pengajian nggak boleh? Kalau mau selingkuh sama suami orang, itu baru nggak boleh.”
“Hahaa, Mbah Tri ini bisa saja. Soalnya setahu saya, kalau di kota ada beberapa pengajian yang eksklusif gitu lho, Mbah. Yang ikut tertentu saja. Jadi kalau bukan anggota, ya nggak boleh ikut.”
“Walaaaah, repot banget. Kalau di kampung sini mah mboten enten yang seperti itu, Mbak. Apalagi kalau yang namanya pengajian. Semakin banyak yang ikut, ya makin bagus. Makin banyak berkahnya kata Pak Kyai.”
“Iya juga sih.”
“Jadi pripun? Mbak Amy mau ikut atau nggak?”
“Hmm, tapi Mas Ge sudah berangkat kerja. Kalau saya ke sana bawa Kevin, memangnya nggak apa-apa?”
“Boleh kok, Mbak. Nanti di sana juga banyak ibu-ibu lain yang bawa anak. Asal nggak berisik, saya rasa nggak masalah. Jangan kkhawatir, nanti saya bantu juga menjaga Kevin. Kami kan sudah akrab sama saya.”
“Aman kalau Kevin mah. Mbah Tri tahu sendiri kalau dia rewel tinggal dikasih mainan juga langsung diam.”
“Hahaa, iya. Kalau masih rewel nanti biar Mbah cubit tangannya,” ujar sang perempuan tua sambil melirik ke arah Kevin yang tampak tidak peduli dengan obrolan Mama dan perempuan yang biasa mengasuhnya itu.
“Kalau begitu, saya mau ikut deh, Mbah. Tapi saya siap-siap dulu sebentar. Mbah Tri bisa minta tolong jaga Kevin dulu?”
“Bisa, Mbak.”
“Tungguin ya, Mbah. Jangan ditinggal.”
“Iya, Mbak.”
.::..::..::..::..::.
Acara pengajian yang disebut Mbah Tri ternyata berlangsung di halaman rumah salah satu warga di Kampung Growol, yang memang berukuran cukup luas. Saat Amy sampai di sana, sudah ada banyak peserta pengajian yang datang dan duduk bersila di atas tikar yang terbentang. Ia dan Mbah Tri pun mengambil tempat di salah satu sudut yang masih kosong.
Sebelum acara dimulai, Amy sempat memperhatikan wajah para ibu-ibu yang berkumpul di sana. Semuanya tampak tampil dengan busana muslim yang sederhana, tidak jauh berbeda dengan apa yang dikenakan oleh Amy. Namun ada dua orang perempuan yang tampak mencolok di tengah-tengah mereka. Posisi keduanya juga berada tepat di tengah lingkaran peserta pengajian.
“Mbah Tri, saya mau tanya.”
“Nggih, mau tanya apa Mbak Amy?”
“Ibu-ibu yang berdua di tengah itu, yang pakai gamis putih. Namanya siapa?”
“Memangnya kenapa, Mbak?”
“Nggak kenapa-kenapa sih, cuma kok kayaknya penampilan mereka lebih cetar begitu, dibanding ibu-ibu yang lain. Bling-bling.”
“Hahaa... Dandanannya juga lebih menor ya, Mbak?”
“Banget, hehee. Memangnya mereka siapa sih, Mbah? Saya lihat ibu-ibu yang lain juga pada sungkan sama mereka. Kayak dianggap lebih gitu. Pejabat?”
“Yang lebih tua itu namanya Bu Endang, sedangkan yang lebih muda itu Bu Ajeng. Mereka itu istri-istrinya Pak Man.”
“Hah? Pak Man? Pak Man yang...”
“Iya, Pak Man yang Ketua RT itu, Mbak.”
Jantung Amy jadi dagdigdug tidak karuan. Ia tidak menyangka akan bertemu secara langsung dengan kedua istri dari pria tua yang selama ini mengisi mimpinya di malam hari, yang kemaluan besarnya bahkan pernah ia kecup secara langsung. Ia baru melihat mereka sekarang karena memang keduanya jarang ke Cluster, bahkan hampir tidak pernah. Entah kenapa. Bahkan Pak Man pun selalu kemana-mana sendiri, jadi Amy sama sekali belum pernah bertemu dengan kedua istri Pak Man itu.
“Kok tiba-tiba bengong, Mbak?” Tanya Mbah Tri yang langsung membuyarkan pikiran Amy.
“Eh, nggak kenapa-kenapa kok, Mbah. Ngomong-ngomong, memangnya mereka berdua juga sering ikut pengajian ini?”
“Mereka sih selalu datang, Mbak. Tidak pernah ketinggalan, hee. Malah biasanya, pengajian seperti ini ya diadakannya di rumah mereka. Biasa, mau pamer kekayaan juga. Namanya juga istri-istri Pak Man. Pastilah mereka serba kelimpahan.”
Dalam hati, Amy menyesali keputusannya untuk datang ke acara pengajian ini. Memang tidak ada yang secara langsung melarangnya untuk hadir, tetapi perasaannya seperti tidak menentu apabila harus berada di tempat yang sama dengan kedua istri Pak Man. Apa alasannya, tidak jelas memang.
Untungnya, setelah itu acara pengajian segera dimulai, dan Amy pun langsung mengikuti dengan khidmat. Ia jadi tidak perlu memusingkan kedua istri Pak Man yang posisi duduknya juga cukup jauh dari dirinya.
Di sisi lain, Kevin juga tampak tenang, tidak gelisah sama sekali karena sang ibu membiarkan dirinya bermain mobil-mobilan sendiri di tengah acara pengajian. Mbah Tri pun membiarkan saja sang bocah bermain-main, selama tidak berisik dan mengganggu peserta lain.
Namun begitu acara pengajian selesai, dan beberapa piring yang berisi makanan ringan telah disajikan, Kevin tampak mulai gelisah. Hal itu pun menarik perhatian Amy dan Mbah Tri.
“Epin kenapa? Kok sepertinya sedang ingin sesuatu? Mau pipis?”
Sang anak menggelengkan kepala.
“Mau makan cemilan? Coba Epin tunjuk mau yang mana?”
Kevin kembali menggeleng.
“Terus Epin mau apa?”
“Epin haus.”
“Oh, bilang dong dari tadi. Ini ada air putih buat Epin,” ujar Amy sambil mengambilkan segelas air kemasan untuk sang buah hati.
“Epin nggak mau itu.”
“Terus Epin maunya minum apa?”
“Epin maunya minum yang itu,” ujar sang anak sambil menunjuk ke seberang ruangan.
“Hmm, Epin tunjuk apa sih?” Amy tampak berusaha mencari apa yang sebenarnya diinginkan Kevin, tapi tidak juga yakin akan apa yang sebenarnya ditunjuk oleh sang anak.
“Oh, dia sepertinya pengin es buah yang di ujung situ, Mbak,” ujar Mbah Tri.
“Owalah. Bener ya? Epin mau es buah?”
Kali ini sang anak mengangguk.
“Bilang dong, Epin mau es buah, begitu. Jangan diam saja. Sebentar Mama ambilkan dulu.”
Baru saja Amy beranjak menuju lokasi meja tempat es buah yang ditunjuk Kevin, ia sudah mulai ragu. Pasalnya, untuk bisa sampai di tempat itu, ia harus melewati Bu Endang dan Bu Ajeng, kedua istri Pak Man yang sebenarnya ingin ia hindari. Namun apa boleh buat, daripada Kevin nanti malah menangis.
Ia pun berusaha berjalan dengan sangat hati-hati, dan mengucapkan permisi saat melewati kedua perempuan yang lebih tua dari dirinya tersebut. Untungnya, keduanya tampak tengah sibuk mengobrol dan tidak peduli dengan kehadiran Amy.
Hingga akhirnya, Amy sukses mengambil es buah yang diinginkan anaknya, lalu menghembuskan nafas lega. Namun ketika akan kembali ke tempat duduknya semula, Amy tiba-tiba tersandung kakinya sendiri, hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia pun tidak bisa menjaga posisi gelas es buah yang ada di tangannya hingga sebagian isinya tumpah ke bawah.
Celakanya, cairan yang tumpah itu mengenai Bu Endang dan Bu Ajeng. Keduanya pun melotot sang ibu muda jelita.
“Heh!! Kalau jalan lihat-lihat dong! Pakai mata, jangan pakai dengkul!”
“Kurang ajar sekali kamu! Berani kamu sama kami berdua?! Hah?”
Teriakan marah kedua perempuan tersebut langsung menggelegar dan terdengar di seantero tempat pengajian tersebut. Kepercayaan diri Amy langsung menciut, dan wajahnya langsung tertunduk. Ia pun sadar bagaimana perhatian seluruh peserta pengajian kini tertuju ke arahnya. Entah mau ditaruh di mana mukanya setelah ini.
“Ce-celaka... Celaka... Kenapa lo bego banget sih, Amy!? Ceroboh lagi! Megang gelas kayak begitu aja nggak bisa,” gumam sang perempuan muda mengutuk dirinya sendiri dalam hati. “Ma-Maaf ya Ibu-Ibu, saya tidak sengaja,” jawab Amy.
Ia pun berusaha mengusap pakaian yang dikenakan kedua perempuan tersebut, tapi noda yang sudah terlanjur muncul malah jadi melebar ke mana-mana.
“Sudah-sudah, malah bikin tambah kacau! Orang baru di sini ya kamu?”
“Kurang ajar memang perempuan sundal satu ini. Kita laporkan ke suami kita aja, Bu Endang. Biar dia tahu rasa!”
“Sekali lagi maaf, Bu. Saya tidak sengaja.”
“Lebih baik kamu minggat saja dari lingkungan ini.”
“Sekali lagi saya lihat wajah kamu, bisa habis kamu!”
Amy tidak bisa menjawab lagi kata-kata kasar yang bertubi-tubi dilontarkan kedua perempuan tersebut. Tanpa sadar, setetes air mata mulai mengalir di pipinya. Entah kapan terakhir kali ia dibentak-bentak sampai menangis seperti itu.
Untungnya, entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya untuk menjauh dari kedua perempuan itu, dan pergi meninggalkan lokasi pengajian.
.::..::..::..::..::.
x3Aafo3a_t.jpg
“Mereka berdua memang selalu seperti itu ya, Mbah Tri?”
“Begitu gimana, Mbak Amy?”
“Ya, itu. Teriak-teriak begitu kalau lagi marah. Kan saya jadi malu dilihatin semua ibu-ibu yang tadi ikut pengajian.”
“Begitulah, Mbak. Perempuan kalau merasa punya suami pejabat memang suka begitu, sombongnya langsung menjulang tinggi menembus langit.”
“Padahal kan saya nggak sengaja numpahin es buah tadi, dan cuma sedikit yang kena baju mereka. Nodanya juga tidak terlalu kelihatan. Mak-maksud saya…”
“Sudah biarin aja, Mbak. Mereka memang begitu, suka merendahkan warga di sini. Padahal ya suaminya sebenarnya cuma level RT saja, tapi sudah begitu kelakuannya. Untung mereka bukan istri presiden, menteri, atau anggota DPR. Bisa habis kita diinjak-injak oleh mereka.”
“Hahaa... Mbah Tri bisa saja. Ngomong-ngomong, terima kasih ya tadi sudah menyelamatkan saya dari mereka berdua.”
“Sama-sama, Mbak. Kan sudah tugas kita sebagai tetangga untuk saling membantu.”
Saat ia sudah hampir menangis karena dimarah-marahi oleh Bu Endang dan Bu Ajeng di tempat pengajian tadi, tubuh Amy memang langsung ditarik oleh Mbah Tri agar segera meninggalkan tempat tersebut.
Kini, mereka tengah berada di perjalanan pulang menuju rumah masing-masing, tanpa memikirkan obrolan yang mungkin terjadi di tempat pengajian tadi setelah mereka pergi. Sedangkan Kevin, anak semata wayang Amy, tampak begitu tenang karena ia tetap berhasil mendapatkan segelas es buah yang ia inginkan.
Namun tiba-tiba, sesosok pria yang mengendarai sepeda motor berhenti di hadapan mereka, membuat ketiganya tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk sejenak.
“Weleh weleh, ibu-ibu baru pulang dari mana neh? Kok ayu-ayu tenan...” Tanya sang pria sambil mengeluarkan cengirannya yang khas.
“Kok ibu-ibu doang yang disapa, Pakdhe RT?” Balas si kecil Kevin.
“Eh iya, ada Kevin juga. Pakdhe RT sampai lupa. Jadi, baru pulang dari mana neh ibu-ibu dan anak balita, siang-siang begini?”
“Hahaa...” Mbah Tri pun tertawa mendengar pembicaraan Pak RT dan bocah bertubuh mungil tersebut. “Biasa, Pak RT. Baru pulang dari acara pengajian di Kampung Growol.”
Namun berbeda dengan perempuan tua itu, Amy yang berdiri tepat di sebelahnya justru tertegun saat disapa oleh pria tersebut. Ia merasa canggung karena belum mempersiapkan diri untuk bertemu dengan sosok yang semalam telah dengan lancang masuk ke dalam mimpinya. Tak hanya hadir, di dalam mimpi tersebut sang pria bahkan memberikan kenikmatan yang sudah lama diinginkan oleh Amy, hingga membuat perempuan itu tidak bisa melupakannya.
“Wah, bagus itu. Biar lingkungan kampung kita ini semakin mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa. Betul, tho?”
“Leres, Pak.”
“Saya lihat-lihat, setelah pulang dari pengajian ini, wajah Mbah Tri ini... Apa ya?... Seperti lebih muda 20 tahun lho.”
“Ah, Pak RT ini bisa saja? Masa iya?”
“Tenan lho iki. Beneran. Saya kan tahu Mbah Tri seperti apa 20 tahun yang lalu.”
“Kalau Epin bagaimana Pakdhe RT? Berubah nggak setelah ikut pengajian?” Kali ini giliran si bocah kecil yang ikut menimbrung di obrolan tersebut.
“Memangnya kamu tadi ikut ngaji?”
“Nggak sih. Cuma main mobil-mobilan,” jawab anak tersebut sambil tertawa.
“Ya artinya nggak ada perubahan, masih lucu saja seperti kemarin-kemarin. Hee...”
Mendengar jawaban itu, Kevin hanya tersenyum simpul. Dengan otaknya yang masih muda, ia tidak bisa mencerna apakah perkataan itu merupakan pujian atau bukan.
“Mamanya Kevin tadi ikut ngaji juga lho, Pak RT. Coba, ada perubahan nggak?” Ujar Mbah Tri sambil menunjuk ke arah perempuan muda di sebelahnya yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa.
“E-eh, apa maksudnya, Mbah?” Tanya Amy yang kini mulai tersadar dari lamunannya.
“Itu lho, Mbak. Pak RT lagi cerita katanya kita berdua kelihatan beda setelah ikut pengajian. Tapi beliau belum bilang kalau Mbak Amy apanya yang berbeda.”
“Sebentar lho, Mbah Tri. Saya kan lagi mikir ini...”
“Jangan kelamaan, Pak RT. Jadi apa jawabannya?”
“Kalau Dek Amy... Saya lihat-lihat... Jadi lebih... Jauh...”
“Kok lebih jauh?”
“Jauh lebih anggun dari biasanya. Hahaa...”
“Iso wae Pak RT iki, bisa banget cari celah buat godain Mbak Amy,” ledek Mbah Tri.
Mendengar jawaban itu, Amy tidak juga kunjung mengeluarkan suara. Ia hanya tersenyum, sambil mendengarkan dengan seksama obrolan antara Pak Man dan Mbah Tri. Dalam diam, ia memperhatikan sosok sang ketua RT yang jelas jauh dari kata menarik. Meski begitu, pria tersebut tetap mempunyai tubuh yang tegap dan otot yang masih kencang di balik kemeja dan celana panjang yang ia kenakan.
Dan yang paling menarik perhatian Amy, adalah tonjolan di bagian selangkangannya yang semakin lama seperti kian membesar. Apalagi, ibu muda tersebut sempat melihat secara langsung bagaimana bentuk benda panjang yang ada di baliknya, yang jelas begitu menggugah selera.
“Ngomong-ngomong, apa Dek Amy ada acara lagi setelah ini?” Tanya Pak RT.
“Eh... Memangnya kenapa, Pak?” Kali ini barulah istri sah dari Ge itu mengeluarkan suaranya yang merdu, membuat dada Pak Man sedikit bergetar.
“Hmm, anu...”
“Anu kenapa, Pak?”
“Saya mau keliling lingkungan sekitar sini. Biasalah, patroli rutin setiap bulan. Tapi sepertinya kok ya sepi banget kalau cuma sendirian.”
“Terus?”
“Dek Amy mau nggak nemenin saya keliling-keliling?”
“Halaaaah! Cuma modus itu, Mbak Amy. Jangan dipercaya. Paling juga pengin deket-deket sama Mbak Amy saja kan Pak RT ini. Ayo ngaku,” potong Mbah Tri sambil cengengesan.
“Huusshh... Diam dulu kenapa Mbah!”
“Hahaha...” Mendengar interaksi yang penuh canda itu, Amy jadi tidak bisa menahan tawanya. “Tapi naik apa kelilingnya, Pak RT. Masa naik motor itu?”
Amy sempat memperhatikan motor dua tak yang dikendarai Pak RT, yang kondisinya cukup memprihatinkan. Semburan asap knalpotnya saja sudah tidak karuan, membuat perempuan muda itu ragu sejauh apa kendaraan tersebut bisa bertahan.
“Iya dong, Dek Amy. Memangnya mau naik apa lagi?”
“Ya siapa tahu saja, Pak RT mau ajak keliling sambil jalan kaki.”
“Wah, nggak tega saya bikin Dek Amy capek-capek jalan kaki. Apalagi kalau nanti sampai keringetan.”
Amy coba mengingat-ingat apakah ia punya rencana untuk melakukan sesuatu hari ini, tetapi rasanya tidak ada. Sang suami bahkan mengatakan bahwa hari ini ia mungkin akan pulang sedikit terlambat. Namun masa iya, dirinya justru menghabiskan waktu dengan keliling daerah sekitar Kampung Growol dan Bawukan hanya berdua saja dengan Pak RT.
“Bukankah ini yang aku inginkan, sampai masuk ke dalam mimpiku tadi malam? Kesempatan untuk bisa berdua saja dengan Pak Man tanpa khawatir dicurigai oleh suamiku dan tetangga-tetangga yang lain?”
“Bagaimana, Dek Amy? Mau kan?”
“Memangnya boleh kalau saya ikut? Nanti malah istri-istri Bapak yang marah dan melabrak saya ke rumah. Ihh, amit-amit.”
“Hahaa... aneh-aneh saja kamu, Dek. Nggak mungkin lah sampai seperti itu. Sudah, nggak perlu kamu pikirin.”
Kata-kata itu? Kan yang semalam... dikatakan juga oleh Pak Man di dalam mimpiku?
“Dek Amy? Kok malah bengong sih. Jadi mau ikut nggak?” Tanya Pak Man yang sedari tadi memang tidak mematikan mesin motornya sama sekali. Ia tampaknya sudah cukup tergesa untuk segera pergi dari tempat itu. Atau mungkin ia hanya coba menggertak agar Amy segera mengambil keputusan.
“Eh, i-iya... Saya mau ikut, Pak,” jawab Amy. Ia kemudian menoleh ke Mbah Tri di sebelahnya yang tampak sedikit terkejut dengan keputusannya. “Mbah, saya titip Kevin dulu boleh?”
“Boleh, Mbak Amy. Tapi... saya harap Mbak hati-hati sama Pak RT,” jawab Mbah Tri dengan nada sedikit berbisik.
“Hati-hati bagaimana, Mbah?”
“Ya hati-hati. Kalau diminta jadi istri ketiga, jangan mau. Hahaa...”
“Mbah Tri bisa saja. Mana mungkin Pak RT mau minta saya jadi istrinya. Kan tadi dia bilang cuma mau ajak keliling saja. Kebetulan saya kan memang jarang sekali jalan-jalan di sekitar sini.”
“Siapa tahu saja, Mbak.”
“Ya sudah kalau begitu, saya pergi dulu,” ujar Amy, sebelum kemudian menunduk untuk bicara dengan anaknya. “Epin hari ini main sama Mbah Tri dulu ya. Nggak apa-apa kan?”
“Iya, Mama. Tapi nanti Epin boleh jajan ke warung kan kalau lapar?”
“Iya, boleh kok. Uangnya seperti biasa ya. Mbah Tri bisa ambil di dalam laci yang ada di ruang tamu.”
“Nggih, Mbak.”
Setelah itu, barulah Amy berjalan mendekat ke arah sepeda motor yang dikendarai Pak RT, lalu naik ke dudukan penumpang yang ada di belakang. Meski awalnya sempat kesulitan karena bentuk motor yang sedikit tinggi, tetapi perempuan muda itu akhirnya berhasil menempati posisi yang nyaman di belakang sang pria tua.
“Pak RT, jangan lupa dibilangin itu istri-istrinya. Jangan judes-judes kalau jadi orang,” ujar Mbah Tri tiba-tiba, ketika Pak RT hendak memacu sepeda motornya.
“Eh, maksudnya bagaimana Mbah Tri?”
“Jadi tadi...”
“Sudah-sudah, nggak perlu dibahas Mbah Tri,” ujar Amy memotong kata-kata tetangganya tersebut. “Kita jalan saja, Pak RT.”
“Beneran neh? Nggak ada apa-apa?”
“Iya, nanti saja di jalan saya ceritakan.”
“Ya sudah kalau begitu. Saya pamit ya Mbah Tri. Assalamualaykum...”
“Waalaykumsalam...”
.::..::..::..::..::.
Sepanjang perjalanan, Amy memberanikan diri untuk melabuhkan tangannya ke pinggang Pak Man. Tidak sampai menempel terlalu kuat seperti pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara. Cukup seperlunya saja, agar tubuhnya tidak terjatuh dari motor yang entah kenapa sangat jauh dari kata stabil. Ia juga berusaha membuat jarak di antara posisi duduknya dengan sang pengendara di depannya.
Namun, guncangan yang beberapa kali terjadi karena kondisi jalan yang tidak terlalu baik membuat dada Amy yang membusung beberapa kali harus bersentuhan dengan punggung Pak RT yang hari ini mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang.
“Ma-maaf ya, Mas Man...”
“Eh... Maaf kenapa?”
“Tubuh aku jadi nempel-nempel begini sama Mas...”
“Oh, nggak apa-apa kok. Yang penting kamu aman duduknya, nggak sampai jatuh. Kalau mau pegangan lebih erat juga boleh,” jawab Pak RT dengan santai. Sayangnya, Amy tidak bisa melihat senyum penuh arti yang tersungging di bibir pria tua tersebut.
Amy tidak tahu ke mana mereka tengah menuju saat ini. Ia sempat mencoba untuk melihat ke sekeliling, tapi tidak ada satu pun titik yang ia kenal. Bila perkiraannya benar, maka mereka berdua sebenarnya sedang bergerak menjauhi lingkungan Cluster Kembang Arum Asri. Padahal, tadi Pak RT cuma bilang kalau ia akan keliling lingkungan sekitar perumahan tersebut saja.
“Kita mau ke mana sih sebenarnya, Mas?”
“Kan tadi aku sudah bilang, kita mau keliling lingkungan sekitar desa.”
“Tapi ini kan sudah terlalu jauh dari Cluster Kembang Arum Asri, Desa Growol, dan Desa Bawukan.”
“Aku mau menunjukkan sebuah tempat dulu sama kamu. Pokoknya ikut saja ya.”
“Mas Man nggak sedang culik aku kan?”
“Memangnya kamu merasa sedang diculik?”
“Mmm... Nggak sih.”
“Nah makanya. Sebentar lagi juga kita akan sampai. Aku yakin kamu nggak akan kecewa, Dek Amy.”
Amy memutuskan untuk mengikuti saja permintaan Pak Man yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai paksaan, karena memang tidak ada lagi pilihan yang bisa ia ambil. Perempuan itu bisa saja meminta turun dari motor apabila merasa keselamatannya terancam. Tapi dia kan tidak tahu daerah tempatnya berada sekarang, apalagi jalan untuk kembali menuju rumah. Sepanjang perjalanan, ia juga tidak melihat ada rumah penduduk atau warga sekitar yang bisa ia minta pertolongan.
Jalan yang mereka lalui terasa sedikit menanjak. Hanya ada beberapa kali turunan, lalu kembali diikuti dengan tanjakan yang lebih terjal. Udara yang makin segar, meski matahari masih bersinar terik, seperti menjadi penanda bahwa mereka mulai memasuki kawasan pegunungan.
“Jangan-jangan, ini yang namanya Cadas Sempal - kawasan atas lereng Gunung Mandiri. Mas Ge waktu itu kan pernah bilang kalau daerah ini punya pemandangan yang luar biasa indah. Tapi sayangnya dia cuma bisa ngomong doang, nggak pernah ajak aku ke sana,” gumam Amy dalam hati.
Jalanan yang mereka lalui tiba-tiba berubah dari lapisan aspal menjadi lapisan beton yang tipis, lalu berubah lagi menjadi lapisan tanah yang penuh dengan kerikil di kiri dan kanan. Karena itu, Amy pun merasakan guncangan yang membuatnya sampai terpental-pental dari tempat duduknya. Cara berkendara Pak Man yang seperti orang tidak pernah lulus ujian SIM membuat perasaan Amy semakin tidak nyaman.
Untungnya, tak lama kemudian, jalan tersebut seperti sampai di ujung penghabisan. Mereka berdua kini dikelilingi oleh pohon-pohon besar, tanpa celah untuk melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah jalan yang mereka lalui tadi. Pak Man pun mematikan mesin motornya di tempat itu.
“Nah, kita sudah sampai.”
“Mas Man serius bawa aku ke tempat ini?”
“Memangnya kenapa, Dek Amy? Nggak suka?”
“Ini kan hutan? Mas Man mau jadiin aku makanan beruang? Atau temen main orang utan? Memangnya aku ini Tarzan?”
“Hahaa... Kamu ini lucu banget sih, Dek Amy. Mana mungkin aku jauh-jauh bawa kamu ke sini, kalau cuma buat lihat pohon sama hewan di hutan!”
“Terus? Mau kasih lihat apa?”
“Sudah, kamu turun dulu. Nanti ikuti aku saja.”
Amy pun menurut, dan langsung bergerak turun dari sepeda motor yang membawanya ke tempat itu. Tak jauh berbeda dengan saat ia akan naik, perempuan muda itu pun merasa kesulitan saat turun. Dan ketika berhasil menginjak tanah sekalipun, ia justru merasa pegal yang begitu mengganggu di daerah bokongnya.
Biasanya kalau sama Mas Ge, aku selalu dibawa naik mobil. Sekarang, kok ya mau-maunya dibawa naik motor butut begitu. Mana jauh banget pula dibawanya!
Tanpa babibu, Pak Man langsung berjalan membelah pepohonan dan semak-semak yang berada di hadapannya. Amy berusaha keras untuk mengikuti pria tua tersebut, karena hampir tidak terlihat ada jalan yang bisa ia ikuti. Keduanya seperti tengah menembus hutan yang belum pernah terjamah.
Sayup-sayup, Amy mulai mendengar bunyi gemericik air yang menyejukkan telinga. Semakin dalam ia mengikuti langkah Pak Man untuk masuk ke dalam hutan dan melintasi pepohonan, suara berdebur itu semakin jelas terdengar.
Akhirnya, mereka berdua sampai di sebuah tempat terbuka yang dipenuhi rerumputan. Di tengahnya ada danau kecil yang sepertinya tidak terlalu dalam, dengan air yang mengalir menuju sungai ke arah kiri. Namun dari semua hal di tempat itu, ada satu hal yang begitu menarik perhatian Amy, yang suaranya telah bisa ia dengar bahkan sebelum ia sampai di tempat ini.
Tempat apa ini!? Kenapa ada tempat seperti ini di sini!? Ini bukan Cadas Sempal!
“Bagaimana, kamu suka kan, Dek Amy?”
“Su-Suka banget, Mas...”
Dengan tatapan mata yang tidak bisa lepas dari objek tersebut, Amy berjalan mendekat demi bisa melihatnya lebih jelas. Ia baru berhenti saat sampai tepat di pinggir danau, karena khawatir sandal yang ia pakai akan basah karena air.
Di hadapannya, tersaji pemandangan sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter, yang merupakan perpaduan harmonis antara kesempurnaan alam yang begitu mempesona dan deburan suara yang begitu memikat telinga. Dari air yang mengalir deras dari ketinggian, terbentuk tirai bening yang gemerlap karena pantulan sinar matahari. Bila diperhatikan lebih jelas, terlihat pelangi kecil yang menggelayut di udara. Suara gemuruh air yang bersahutan dan kabut uap air yang menyiprat ke segala arah seperti menambah kesan mistis, sekaligus romantis di tempat yang teduh itu.
“Aku tidak tahu kalau ada tempat seindah ini yang berada di dekat Cluster Kembang Arum Asri. Benar-benar luar biasa,” pikir Amy dalam hati, “pemandangannya luar biasa indah dan masih asli belum tersentuh pemerintah dan dinas setempat. Airnya jernih dan bening sekali. Gila sih ini! Apakah Pak Man diam-diam menyembunyikannya?”
Amy kemudian duduk di atas rerumputan yang ada di tepi danau, tanpa merasa khawatir kalau rok berwarna coklat yang ia kenakan akan kotor akibat menyentuh tanah yang lembab. Ia hanya ingin menikmati kesempurnaan karya Tuhan yang tersaji di hadapannya dengan tenang, tanpa gangguan sedikit pun.
“Jadi... kamu suka air terjun juga?” Tanya Pak Man yang ternyata sudah ikut duduk di sebelah Amy.
Dalam hati, pria tua tersebut jelas sudah tidak sabar untuk segera mendekap tubuh seksi sang ibu muda, yang kini tengah berdua saja dengannya di tempat yang sangat terisolir itu. Namun, sebagai pria yang berpengalaman, ia ingin mengawali kebersamaan mereka dengan kesan yang romantis. Karena apabila hal itu telah tercapai, kenikmatan surgawi jelas sudah pasti akan ia dapat, tanpa terlalu banyak perlawanan.
“Suka banget. Dari mana Mas Man tahu kalau ada air terjun di sini?”
“Hahaa... Aku kan lahir dan besar di tempat ini, Dek Amy. Setiap jengkal daerah sini ya pasti aku tahu.”
“Mas sering datang ke sini?”
“Cukup sering, biasanya kalau aku hendak semedi dan meminta petunjuk dari Sang Hyang Widhi. Aku pasti akan datang ke tempat ini.”
“Sendiri aja?”
“Ya sendiri... mau sama siapa lagi? Lagipula, hampir tidak ada penduduk desa yang tahu jalur ke tempat ini. Kamu lihat kan tadi, kalau tidak ada jalan setapak menuju ke sini?”
“Iya sih.”
“Kamu adalah orang pertama yang aku bawa ke tempat ini, Dek Amy...”
Dalam hati, Amy merasa tersanjung akan cara Pak Man memperlakukan dirinya. Benar-benar romantis dan penuh perhatian, jauh berbeda dengan suaminya yang kini seperti sudah kehilangan percikan cinta dan justru bersikap acuh saat mereka tengah berdua.
“Ngomong-ngomong, aku kagum sama kamu, Mas.”
“Kagum kenapa? Karena ototku yang besar? Atau karena... anuku yang besar? Hahaa...”
“Ihh, aku lagi serius... Bisa nggak sebentar aja Mas nggak berpikiran mesum!”
“Hahaa. Maaf... maaf... Memangnya kamu kenapa kagum sama aku?”
“Aku kagum karena Mas bisa menyelesaikan permasalahan di rumah Mbak Nisa kemarin.”
“Oh, soal itu. Ya semuanya kan berkat kamu dan suami kamu juga. Kalian kan yang menjelaskan soal artis facial itil ijo atau apalah itu...”
“Artificial Intelligence?”
“Iya, mboh lah apa maksudnya itu. Tapi yang penting semua warga percaya, aku ya ngikut dan nambah-nambahin saja. Padahal aslinya ya sok tahu aja.”
“Tapi kalau nggak ada Mas Man, sepertinya para warga juga nggak mau segera pergi dan akan terus-terusan ngebully Mbak Nisa. Apalah aku dan Mas Ge di mata mereka. Kami seperti halnya Mbak Nisa, hanyalah pendatang di sini.”
“Yang lalu biarlah berlalu. Begitu kata Neng Bunga Citra Lestari yang baru jadi rondo, eh sudah menikah lagi. Jadi, tidak usah terlalu dipikirkan, Dek Amy. Hahaa...”
Dalam hati, Amy mengamini kata-kata tersebut. Namun tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. “Tapi… menurut Mas, apa benar Mbak Nisa dan Mang Juki melakukan perbuatan itu?”
“Perbuatan apa?”
“Ya... anuu...”
“Ngenthu?”
“Iya, itu...” wajah Amy memerah karena istilah yang keluar dari bibir Pak Man selalu vulgar meskipun to the point.
“Bilang dong yang jelas, biar Mas nggak salah paham. Tapi memangnya itu penting?”
“Apa buat Mas itu hal yang nggak penting?”
“Jujur ya, Dek Amy. Mas sebenarnya nggak peduli apa yang sebenarnya terjadi. Mau mereka berdua benar-benar begituan kek, Mas sih bodo amat. Toh mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Buat Mas, yang penting itu lingkungan aman tentram, tanpa ada kerusuhan. Benar tho? Mas punya tanggung jawab menjaga tempat ini.”
“Iya sih, Mas.”
“Kalau soal hubungan Mbak Nisa dengan suaminya nanti bagaimana, Mang Juki sama istrinya bagaimana, ya itu silakan urus sendiri di rumah masing-masing. Nggak perlu pakai ramai-ramai segala seperti kemarin. Silakan dibicarakan di belakang layar. Malu-maluin saja kalau sampai diumbar di publik. Isin dewe, Dek.”
“Tapi...”
“Tapi apa lagi?”
“Misalnya neh... Cuma misalnya saja... Misalnya Mbak Nisa benar-benar selingkuh dengan Mang Juki. Menurut Mas, apa yang bikin Mbak Nisa tertarik buat ngelakuin itu?”
“Memangnya kamu juga tertarik sama Mang Juki?”
“Ihh, amit-amit jabang bayi.”
“Kalau sama Mas, tertarik nggak? Hahaa...”
“Ihh, Mas apaan sih. Orang nanya serius bukannya dijawab, malah dibalas nanya lagi. Nyebelin banget sih jadi orang.” Ujar Amy sambil melipat tangannya di depan dada. Bibirnya pun terdorong ke depan, tanda dia sedang dalam keadaan benar-benar marah.
“Hahaa... Kamu ini kalau marah lucu. Mirip banget sama anak kamu.”
“Haishh... Kok malah bahas anak aku sih. Fokus dulu, Mas... Fokus!”
“Hahaa... iya deh, iyaaa... tadi apa pertanyaannya? Kenapa Mbak Nisa tertarik sama Mang Juki?”
“Hu uh...”
“Ya mungkin karena cuma Mang Juki yang bisa memberi kenyamanan buat Mbak Nisa.”
“Masa iya Mbak Nisa masih butuh kenyamanan? Memangnya Mas Haris itu kurang apa sih, sudah ganteng, pekerjaannya mapan, dan sepertinya sayang banget sama Mbak Nisa. Belum lagi kalau kita ngomongin Ceny sama Abay, masa iya Mbak Nisa rela menukar kebersamaan dengan dua anaknya yang lucu hanya untuk... siapa tuh? Mang Juki? Tidak masuk akal! Sejauh ini aku masih belum menemukan alasan dan korelasi dari semua kejadian yang menimpa Mbak Nisa. Kok bisa gitu lho.”
“Kamu mau dengar pendapat Mas?”
“Iya, lah. Kan dari tadi memang aku pengin dengar.”
“Perumpamaannya begini... Selama ini, Dek Amy kalau pergi ke mana-mana selalu naik mobil kan?”
“Iya.”
“Tinggal duduk tenang, kalau hujan tidak kehujanan, kalau panas tidak kepanasan karena bisa pakai AC, kalau capek bisa tinggal rebahan di atas kursi. Nyaman tidak?”
“Ya jelas nyaman, Mas. Nyaman banget!”
“Nah, coba bandingkan dengan perjalanan kita tadi. Motor saya kan memang sudah tua, mesinnya sudah kurang bertenaga, shockbreaker-nya sudah tidak bisa menahan guncangan, asap knalpotnya apa lagi, ngebul kayak orang lagi bakar sampah. Misalnya hujan, Dek Amy pasti kehujanan. Kalau panas seperti tadi, jelas Dek Amy kegerahan. Nyaman nggak?”
“Mau jawaban jujur neh, Mas?”
“Iya, jujur saja.”
“Ya kalau jujur... jelas nggak nyaman naik motor tua seperti itu, Mas.”
“Tapi pernah nggak Dek Amy ketemu tempat seindah ini waktu jalan-jalan dengan mobil yang nyaman tadi?” Tanya Pak Man sambil menunjuk ke bentangan alam yang terhampar di hadapan mereka berdua.
Amy pun menggeleng.
“Nah, mungkin itu juga yang dirasakan oleh Mbak Nisa. Saat bersama Mas Haris, dia memang merasa nyaman, tapi semua itu hanya sementara. Tapi begitu dia bertemu Mang Juki, mungkin rasanya seperti menemukan air terjun terindah yang pernah dia lihat seumur hidup. Sebuah kenyamanan baru, atau mungkin kenyamanan sejati, yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Karena itu, dia ingin tenggelam di dalamnya, menghirup kesegarannya, meneguk keindahannya, hingga tak bersisa.”
Kata-kata Pak Man seperti puisi terindah yang pernah didengar oleh Amy, seperti ucapan bijak yang perlu direnungkan dalam-dalam. Perempuan berparas cantik tersebut harus mengakui bahwa penjelasan sang pria tua, yang memang sudah merasakan asam garam kehidupan itu, memang ada benarnya.
Senyaman-nyamannya ia bepergian dengan mobil bersama sang suami, tidak sekalipun ia pernah dibawa ke tempat semenawan ini. Namun baru sekali saja dibonceng dengan motor butut milik Pak Man, ia sudah bisa langsung menemukan keindahan luar biasa ini.
Dari kata-kata tersebut, ia pun berkesimpulan bahwa tidak selamanya sesuatu yang secara tampilan fisik mungkin kurang menarik, tidak bisa memberikan kebahagiaan yang abadi. Bukannya pepatah pernah mengatakan bahwa kita tidak boleh menilai sebuah buku hanya dari bentuk sampulnya? Mungkin hal itu juga yang terjadi antara Mbak Nisa dan Mang Juki.
Kenyamanan... mungkin butuh sesuatu yang lebih dalam untuk mengerti semua itu. Lantas, apakah aku juga bisa mengalami hal yang sama? Akankah aku bisa menemukan kenyamanan... dari pria tua yang sedang duduk di sebelahku? Alih-alih suamiku yang jauh lebih baik ke mana-mana secara fisik bila dibandingkan dengan dia?
Pikiran tersebut seperti menggelayut di kepala Amy, hingga tanpa sadar fokusnya jadi teralih dari air terjun di hadapannya, menjadi ke arah Pak Man yang tengah duduk di sisinya. Matanya kini menatap ke arah pria tua tersebut dengan penuh perenungan. Wajahnya yang mulai keriput dimakan usia, tampak tengah menatap ke arah pemandangan indah yang tersaji di depan mereka berdua.
Tak lama kemudian, Pak Man menyadari tatapan Amy ke arahnya yang begitu dalam, sampai membuat perempuan itu tidak kunjung berkedip. Ia pun balik membalas pandangan sang ibu muda, yang kecantikannya jelas membuat darah semua lelaki jadi berdesir apabila melihatnya.
Tanpa suara, Pak Man mendekatkan posisi duduknya hingga tepat berada di sebelah Amy. Tangannya kemudian meraih dagu Amy yang lancip, menarik wajah perempuan cantik tersebut agar mendekat ke arahnya, hingga ia bisa menghirup aroma tubuh yang begitu segar meski sudah bercampur dengan keringat yang mengucur sepanjang perjalanan. Tanpa sadar, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti, tanpa pembatas apa pun di antara keduanya.
“Mas...”
“Hmm...”
Amy sendiri masih berusaha mencegah sesuatu yang sebenarnya terlarang untuk mereka lakukan, karena keduanya sudah mempunyai pasangan masing-masing. Namun meski tarikan Pak Man sebenarnya tidak terlalu kuat, ia seperti tidak sanggup untuk menghindar.
“Cuppp...”
Bibir mereka akhirnya bertemu, demikian juga dengan gairah yang mereka pendam di dalam dada. Deburan air terjun yang meraung saat menyentuh dasar seperti menjadi simfoni merdu yang menghiasi relung hati Amy dan Pak Man yang tengah berbunga-bunga.
Tidak ada satu pun di antara keduanya yang memejamkan mata. Kelopak mata Amy dan Pak Man masih sama-sama terbuka lebar, saling menatap penuh arti. Mereka seperti ingin mengingat setiap momen ini di sisa umur mereka. Dengusan nafas yang menderu pun seperti menjadi penghangat kebersamaan keduanya.
Apa yang kamu lakukan!?
“He-hentikan, Mas...”
Akhirnya Amy berhasil menarik dirinya hingga sedikit menjauh dari pria tua tersebut, dan bibir mereka pun terpisah.
“Kenapa, Dek Amy?”
“Nanti ada yang mengira tidak-tidak.”
“Siapa?” Tanya Pak Man sambil menoleh ke kiri dan kanan, tanpa menemukan seorangpun di tempat tersebut. “Tidak ada siapa pun di sini.”
“Bagaimana kalau istri-istri Mas nanti tahu...”
“Yungalah. Biarlah itu jadi urusanku. Kamu tidak perlu khawatir. Lagipula mereka tidak akan pernah sampai ke tempat ini.”
Dalam hati, Amy jadi teringat akan kejadian yang baru saja ia alami di acara pengajian. Ia masih ingat betul tatapan marah dari Bu Endang dan Bu Ajeng, yang begitu menusuk ke batinnya. Ia juga masih ingat bagaimana kata-kata kasar mereka berdua kepadanya, yang seolah ingin menjatuhkan harga dirinya di hadapan peserta pengajian yang lain.
“Heh, kalau jalan lihat-lihat dong! Pakai mata, jangan pakai dengkul!”
“Kurang ajar memang perempuan sundal satu ini!”
“Lebih baik kamu minggat saja dari lingkungan ini!”
“Sekali lagi saya lihat wajah kamu, bisa habis kamu!”
Kata-kata kasar tersebut masih terpatri kuat di ingatan Amy, membuat perasaannya kini campur aduk antara malu, marah, dan benci. Dan saat ini, bibirnya justru baru saja dikecup oleh suami sah dari kedua perempuan yang telah memancing emosinya tersebut.
Apa mereka akan tetap mengatakan kata-kata kasar seperti itu, apabila tahu kalau suami mereka yang katanya sangat berkuasa itu justru begitu memujaku, hingga bertekuk lutut di hadapanku? Atau justru mereka akan jadi gila karenanya?
Pak Man kembali mendekatkan wajahnya demi mengecup bibir ranum sang ibu muda yang memang begitu menggoda. Bentuk tubuh Amy yang begitu seksi, meski masih dibalut dengan blus dan rok panjang, membuat pria tua itu kehilangan kesabaran.
Untungnya, kali ini Amy tidak menolak sama sekali. Ia justru membalas kecupan tersebut dengan mengulum bibir sang pria. Perempuan tersebut juga membuka sedikit bibirnya hingga lidah Pak Man bisa menerobos masuk ke dalam rongga mulutnya, lalu menjelajahi isinya. Lidah keduanya mulai saling bertaut, memancing birahi satu sama lain agar segera meninggi.
Di tengah suasana yang makin hangat, tangan Pak Man mulai menjangkau bagian dada Amy yang membusung, mengelus-elus payudaranya yang empuk dan lembut. Diperlakukan seperti itu, Amy pun mengeluarkan desahan pertamanya.
“Nggghhh...”
“Kamu suka?”
Amy tidak menjawab.
“Ternyata benar ya yang pernah kamu bilang. Hahaa...”
“Nggghhh... Memang aku pernah bilang apa, Mas?”
“Waktu itu kamu pernah bilang, kalau kamu paling gak kuat kalau susu kamu diremas-remas begini. Hahaa...”
Amy saja sudah lupa kapan dia pernah mengucapkan kata-kata seperti itu. Namun yang pasti, ia memang benar-benar menyukainya.
Pak Man kembali mengulum bibir Amy dengan penuh nafsu. Ia bahkan menarik kepala Amy agar kecupannya bisa semakin erat, agar tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua. Tangannya yang lain pun tampak tidak tahan hanya bisa menyentuh payudara Amy dari luar, dan mulai menyelinap masuk ke balik blus yang dikenakan perempuan tersebut.
“Nggghhhh, Maasss...”
Dalam sekejap, jemari Pak Man berhasil bertemu dengan bra berwarna hitam yang dikenakan Amy. Ia pun berusaha untuk menembus dan menyentuh secara langsung payudara indah yang masih terlindungi di balik pakaian dalam itu.
Saat jemari sang pria tua akhirnya berhasil menyentuh puting payudaranya yang sudah menegak, Amy pun menyadari bahwa apa yang mereka berdua lakukan sudah benar-benar melewati batas.
“Jangan, Mas,” Amy kembali menarik diri dari dekapan sang pria tua.
“Kenapa lagi, Dek Amy. Bukankah kamu juga menyukainya?”
“Kita harus segera pulang. Bisa kacau kalau nanti Mas Ge menemukan aku tidak ada di rumah bersama Kevin.”
“Kamu tidak usah khawatir dengan itu.”
“Maksudnya?”
“Memangnya suamimu tidak titip pesan apa-apa tadi?”
“D-dia bilang akan pulang sedikit terlambat.”
“Nah, pas kalau begitu kan? Hehee...”
“Dari mana Mas Man tahu kalau dia akan pulang terlambat?”
“Kamu tidak perlu tahu.”
“M-Mas Man... Nggak berbuat yang aneh-aneh kan sama Mas Ge?”
“Nggak lah. Mana berani melakukan hal-hal aneh sama beliau. Saya ini pelindung keamanan lingkungan, pimpinan RT, bukan justru perusak ketentraman. Saya cuma senang... apa ya namanya... berbagi sesuatu dengan warga-warga saya. Hee...”
Amy berusaha memikirkan apa arti sebenarnya dari kata-kata Pak Man tersebut, tapi tidak bisa menemukan jawabannya. Dia sudah tenggelam dalam hal yang lain saat ini.
“Makanya, Dek Amy tidak usah memikirkan yang aneh-aneh. Kita mendekat ke air terjun yuk.”
“Memangnya aman, Mas? Batu-batunya nggak licin? Aku takut nanti terpeleset lalu jatuh ke danau.”
“Hahaa... Kamu tenang saja. Kan ada aku.”
“Hmm...”
“Kalau takut basah, barang-barang berharga kamu tinggalkan di pinggir danau sini saja.”
“Hmm...”
vuRJfOcu_t.jpeg
.::..::..::..::..::.
Beberapa waktu sebelumnya, di tempat yang berjarak puluhan kilometer dari lokasi Amy sekarang, sang suami tengah duduk santai di balik meja kerjanya. Namun ia tidak sedang sibuk dengan pekerjaan, melainkan malah asyik menonton sebuah video di dalam ponselnya. Video tersebut sebenarnya mempunyai suara yang cukup khas, tetapi jelas tidak ada orang lain yang bisa mendengar karena Ge telah menyambungkan ponsel tersebut ke headset bluetooth di telinganya.
“Gila, Nisa. Sungguh indah sekali tubuhmu ini. Kalau dipikir-pikir, sepertinya sosok di video ini memang benar-benar dirimu...” Gumam pria tersebut, “uuuh susu kamu, Nisa… sejak dulu aku kagum sama tubuh kamu…”
Begitu selesai dengan tugas mengajarnya di pagi hari, Ge memang memutuskan untuk tidak beranjak ke mana-mana, dan hanya duduk diam di ruangannya. Entah sudah berapa kali ia menonton video yang telah tersebar luas di grup lingkungan rumahnya, sampai membuat keributan besar di kediaman sosok yang ada di dalam video tersebut.
“Wajahmu begitu cantik, bentuk pinggulmu sangat sensual, dan yang paling penting, payudaramu itu montok sekali sih, Nis...”
Dalam hati, Ge merasa beruntung karena sempat melihat bagaimana bentuk tubuh seksi itu secara langsung, saat Nisa hampir ditelanjangi oleh para warga. Hati kecilnya sebenarnya ingin sekali membiarkan hal itu berlangsung sampai selesai, hingga ia bisa melihat tubuh sang ibu muda yang cantik itu dalam kondisi telanjang bulat. Kemaluannya saja terasa sudah berdiri tegak saat itu. Namun desakan dari sang istri membuatnya terdorong untuk menyudahi itu semua.
Di waktu-waktu senggang seperti ini, Ge memang sering melihat foto-foto perempuan seksi di tab explore Instagram. Tentunya, semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan sang istri. Dan akhir-akhir ini, entah bagaimana awalnya, Ge jadi suka sekali melihat foto-foto sang tetangga yang bernama Khoirunnisa Ramadhanti di aplikasi media sosial itu, yang sebenarnya merupakan istri dari rekan kerjanya sendiri.
“Beruntung sekali si Haris bisa mempersunting istri secantik Nisa. Perempuan itu pasti binal sekali di ranjang, jelas sekali bila dilihat dari video ini...”
Dalam hati, Ge merasa iri dengan Mang Juki yang menurut video yang tengah ia tonton, sudah berhasil mencicipi tubuh Nisa yang sintal. Rasa dengki tersebut anehnya justru membuat bapak beranak satu itu jadi terangsang, hingga kemaluannya kembali berdiri tegak.
Tokk... Tokk... Tokk...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja Ge, membuat pria itu terbangun dari lamunan mesumnya. Dalam hati, ia pun menggerutu.
Duh, siapa sih yang berani ganggu. Nggak tahu apa kalau aku lagi asik-asiknya nonton video Nisa!?
“Silakan masuk...”
Dari balik pintu, terlihat seorang mahasiswi yang memasuki ruangan dengan malu-malu, sambil menggendong tas di pundaknya dan beberapa dokumen di tangannya. Wajahnya tampak begitu cantik, dengan kacamata yang tergantung di hidung mancungnya, dan rambut panjang yang diikat di belakang. Mahasiswi tersebut menggunakan kemeja lengan panjang yang ketat, dengan rok span yang ujungnya bahkan tidak bisa menutupi lututnya.
Glek...
Lho!? Siapa ini kok mirip Mahalini? Anak sini bukan?
Ge sampai harus menelan ludahnya saat melihat mahasiswi tersebut. Ia berusaha mengingat-ingat wajah perempuan itu, yang sepertinya belum pernah muncul sama sekali di kelasnya.
“M-Mau bertemu siapa ya?”
“Ini benar ruangan Pak Ghema, kan?”
“I-Iya,” jawab Ge yang masih belum bisa menutupi rasa terkejutnya akan kedatangan mahasiswi tersebut. “Silakan duduk.”
“Terima kasih, Pak.”
“Ada apa ya kamu mencari saya?”
“Ini, Pak. Mohon maaf sebelumnya kalau saya mengganggu. Nama saya Nina Zarima, mahasiswi dari jurusan Psikologi. Saat ini saya sedang skripsi, dan sepertinya butuh bantuan Pak Ghema.”
“Loh, kok mahasiswi Psikologi malah minta bantuan saya? Kan saya ini dosen Statistik.”
“Jadi begini, Pak. Dalam skripsi saya, ada sebuah perhitungan statistik untuk menghitung input yang berasal dari responden. Ini sangat dibutuhkan untuk menjelaskan apakah hipotesis saya nanti benar-benar sesuai atau tidak dengan rumusan masalah yang sudah saya ketengahkan. Karena itu, saya butuh bantuan Bapak.”
“Oh, memangnya kamu dibimbing sama siapa?”
“Sama Pak Sofyan.”
“Yang killer itu?”
“Bapak tahu saja. Sudah terkenal ya, hahaa...”
“Hahaa, ya begitulah.”
“Jadi, bagaimana Pak? Mau kan bantu saya?”
“Boleh saja. Memangnya kapan kamu mau menjelaskan perhitungan statistik yang kamu butuhkan itu?”
“Kalau hari ini, apa Bapak ada waktu?”
“Saya masih ada kelas lagi siang ini.”
“Kalau setelah itu?”
Ge pun berpikir sejenak. Ia memang tidak mempunyai aktivitas lain setelah mengajar kelas sore. Namun apabila dia harus meluangkan waktu untuk membantu mahasiswi cantik di hadapannya, maka waktu kepulangannya ke rumah pun pasti akan terlambat. Setelah menimbang-nimbang baik dan buruknya, ia pun mengambil keputusan.
“Boleh setelah itu. Sekitar jam 5 sore ya, kamu datang lagi ke sini.”
“Baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya. Kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Silakan, Nina.”
Sang mahasiswi pun langsung bangkit dari tempat duduk yang menghadap ke meja kerja Ge, lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan. Dari belakang, sang dosen bisa melihat betapa montok bokong Nina yang bergoyang ke kiri dan kanan dengan gerakan sensual, tanpa bisa disembunyikan oleh rok spannya yang ketat.
Setelah pintu ruangannya ditutup dari luar, Ge langsung mengambil ponsel dari atas meja. Bukan untuk menonton video Nisa lagi tentu saja, melainkan untuk mengirim pesan kepada sang istri bahwa ia akan pulang sedikit terlambat hari ini.
Di saat yang sama, Nina juga mengambil ponsel dari dalam tas yang tergantung di pundaknya. Ia membalas sebuah pesan yang ia terima sebelum kedatangannya ke ruangan Ge. Pesan tersebut berisi permintaan yang sama sekali tidak bisa ia tolak, dan permintaan itu telah ia laksanakan dengan sempurna.
.::..::..::..::..::.
Amy dan Pak Man berjalan beriringan memutari danau di hadapan mereka, untuk sampai di bawah air terjun. Sebelum air yang menuruni lereng tinggi tersebut mencapai danau, ada bebatuan yang menahan arusnya, sekaligus membuatnya terciprat ke segala arah. Di situlah kedua insan yang berbeda usia dan status sosial itu berada.
Semakin dekat mereka, maka semakin banyak pula cipratan air yang mengenai wajah dan tubuh mereka. Karena itu, Amy pun menghentikan langkahnya.
“Kenapa nggak maju lagi, Dek Amy?”
“Takut kena cipratan air terus jadi basah, Mas. Kan saya nggak bawa baju ganti.”
“Hahaa...” Jawab Pak Man dengan terkekeh-kekeh.
“Mas ngajak ke sini nggak bilang-bilang dulu sih. Kan jadinya saya nggak bawa baju ganti.”
“Namanya juga sipilis, bisa gagal dong kalau saya kasih tahu dulu.”
“HAHHH!? Sipilis? Mas Man punya penyakit sipilis?” Tanya Amy dengan hati was-was. Ia masih ingat bagaimana sang pria memaksa agar kemaluannya untuk dicium, yang mungkin saja mengakibatkan penyakit laknat itu menular!
“Penyakit!? Piye toh!? Bukan! Itu lho, maksudnya yang bikin kejutan tak terduga...”
“Oohh... Maksudnya surprise?”
“Iya... itu... sutris...”
Amy pun geleng-geleng kepala mendengar kata-kata Pak Man. Dalam hati, dia mempertanyakan sebenarnya apa yang menarik dari pria tua itu, yang wajah dan kepintarannya jelas di bawah rata-rata. Mengapa ia sampai mau diajak jalan-jalan oleh pria itu, bahkan setia memanggilnya dengan sebutan Mas.
Karena sibuk memikirkan hal lain, Amy jadi kehilangan konsentrasinya sejenak. Kaki yang seharusnya menjadi pijakan, malah bergeser ke sisi bebatuan yang lebih licin karena lumut hijau yang melapisinya, sehingga membuat perempuan muda tersebut terpeleset dan tubuhnya meluncur ke depan.
“Aaawwww...”
“Dek Amy nggak kenapa-kenapa?”
Dalam hati, Amy mengutuk dirinya sendiri yang seringkali melakukan kecerebohan seperti itu. Ia masih ingat bagaimana sebuah kecerobohan saat mengirim foto sensual ke suaminya, justru membuat ia jatuh ke jebakan Pak Man. Kecerobohan lain membuatnya dimarahi habis-habisan oleh dua orang istri Pak Man. Dan kini, ia justru terjatuh di bawah air terjun yang membuat tubuhnya basah kuyup terkena air yang terus mengucur dari arah atas.
“N-Nggak apa-apa kok, Mas.”
“Yakin?”
Amy mengangguk.
Demi membuktikannya, ia pun bangkit dari posisinya semula tanpa hambatan yang berarti. Namun, tubuhnya jelas sudah basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki, karena terpaan air terjun yang begitu deras.
Karena sudah terlanjur, Amy tak lagi berusaha menghindar. Ia bahkan mulai menikmatinya, seperti anak kecil yang kegirangan bila diizinkan orang tua mereka untuk mandi hujan di luar. Karena itu, ia tidak sadar akan tatapan Pak Man yang memandangi tubuh indahnya sambil tersenyum dari belakang.
Dengan posisi berdiri di dasar air terjun, Amy merentangkan tangannya selebar mungkin, seperti yang dilakukan Rose di anjungan kapal Titanic. Ia berusaha meresapi guyuran air yang terasa begitu segar, mengaliri tubuhnya dari atas ke bawah. Suara pertemuan air terjun dengan bebatuan, dipadu suara hewan-hewan hutan yang bersahut-sahutan, seperti menyuntikkan rasa sejuk ke dalam pikirannya.
Amy pun memejamkan mata, mengosongkan pikiran, menghembuskan nafas dengan perlahan, membuat hatinya larut dalam ketenangan.
Sejenak, keseluruhan perjalanan hidup yang telah ia jalani seperti berkelebat di kepalanya, bagaikan sebuah film yang diputar dengan kecepatan jauh di atas normal. Ia mengingat kembali bagaimana perjuangannya untuk berkembang menjadi remaja dan dewasa, di bawah tekanan orang tua yang begitu protektif dan seperti membatasi arah hidupnya sesuai keinginan mereka. Hal itulah yang kemudian membuat Amy selalu jatuh ke dalam kecerobohan, karena keinginan yang berlebihan untuk menjadi sempurna dalam segala sesuatu.
Setelah menikah dengan Ge, Amy pun mendapat tekanan serupa dari mertuanya. Lebih parahnya lagi, sang suami pun selalu berpihak pada orang tuanya, membuat posisi Amy selalu berada di pihak yang salah.
Bukankah aku berhak bahagia? Bukankah aku berhak mendapatkan ketenangan untuk melakukan semua hal yang aku mau, seperti sekarang ini? Mbak Nisa mungkin sudah mendapatkannya dari Mang Juki. Jadi kini giliranku. Bukankah aku... berhak merasakan... kenyamanan?
Sedetik kemudian, ia bisa merasakan tubuhnya yang sintal dipeluk dari belakang. Ia tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa pelakunya, karena tidak ada siapapun di tempat itu selain dirinya dan Pak Man. Bahkan, perempuan itu sebenarnya sudah hafal betul aroma tubuh sang Ketua RT yang merupakan campuran debu, keringat, hingga asap rokok yang biasa dihisap olehnya, karena begitu seringnya mereka bertemu akhir-akhir ini.
Perlahan tapi pasti, Amy bisa merasakan kenyamanan dari pelukan tersebut. Apalagi ketika pundaknya mulai dikecup-kecup lembut oleh pria yang ada di belakangnya, seperti ingin menyalurkan gairah lewat sentuhan tubuh mereka.
Sang pria kemudian membalikkan tubuh Amy, hingga mereka saling berhadapan. Di bawah guyuran air terjun, Pak Man mulai membelai kepala Amy, yang penutupnya sudah begitu basah sehingga tidak bisa terpasang dengan baik.
“Aku lepas jilbabnya ya, Dek Amy...”
“T-tapi, Mas...”
“Biar Dek Amy nggak masuk angin...”
Entah dari mana sang Ketua RT mendapatkan alasan tidak jelas itu, tetapi Amy tetap membiarkan saja saat jilbabnya ditarik ke atas hingga terlepas dari posisinya semula. Akibatnya, rambut panjangnya yang indah kini tergerai bebas, menambah kecantikan ibu muda tersebut di mata Pak Man hingga berkali-kali lipat.
oIyOfMbX_t.jpeg
“Sepertinya tadi ada yang ketinggalan di rumah atau di jalan ya, Dek Amy?”
“Hmm, apa yang ketinggalan, Mas?”
Amy berusaha mengingat-ingat apakah ia menjatuhkan dompet atau barang penting lain dalam perjalanan ke tempat ini, seperti yang biasa ia alami dari waktu ke waktu. Namun saat meninggalkan barang berharga di pinggir danau tadi, sepertinya tidak ada satu pun yang hilang.
“Sayap kamu...”
“Sa-sayap?”
“Iya, wajah kamu yang cantik dan tubuh kamu yang indah, sepertinya hanya pantas dimiliki oleh seorang bidadari surga. Tapi aku coba cari dari tadi, kok sayap bidadari kamu nggak kelihatan. Hahaa...”
“Haisshh... Dasar gombal...”
“Tenan, lho...”
“Wes ra mempan, Mas...”
Meski seolah tidak tergoda, pujian yang diberikan Pak Man sebenarnya tetap menembus ke dalam hati Amy. Sepanjang pernikahan dengan Ge, rasanya perempuan itu tidak pernah mendapat pujian bertubi-tubi, seperti yang selalu diberikan sang Ketua RT kepadanya setiap kali mereka bertemu. Meski terkadang pujiannya bernada mesum, tetapi sebuah pujian tetap saja pujian, bukan?
Dengan penuh nafsu, Pak Man menarik kepala Amy hingga bibir keduanya kembali bertemu. Sensasi cumbuan mereka kali ini terasa berbeda, karena aliran air yang terus membasahi rambut, tubuh, dan pakaian mereka. Gerakan lidah Pak Man yang seperti memulas bibir dan rongga mulut Amy, memberikan kesan yang unik, jauh berbeda dari semua ciuman yang pernah dirasakan sang ibu muda tersebut sepanjang hidupnya. Meski begitu, Amy masih mencoba untuk mempertahankan kewarasan pikirannya.
“Mas... Ini salah, Mas...”
“Kamu masih merasa kalau ini sebuah kekeliruan?”
“Hu uh.”
“Bukannya dalam hati kamu mengakui bahwa semua yang aku lakukan berhasil memberikan kamu rasa nyaman. Iya kan?”
Amy merasa heran, dari mana Pak Man tahu apa isi hatinya. Namun perempuan tersebut harus mengakui, bahwa apa yang dikatakan pria tua itu memang benar adanya. Meski tahu bahwa apa yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang terlarang baik dari sisi agama maupun norma, tapi ia tidak bisa mungkir bahwa ada dorongan tersendiri dalam hatinya untuk tetap melanjutkannya. Ia ingin terus menikmatinya.
Pak Man kemudian menyandarkan tubuh Amy ke dinding batu yang berada di dekat mereka. Di tempat tersebut, keduanya masih bisa merasakan cipratan air terjun, meski dengan intensitas yang lebih ringan.
Sang pria tua kemudian menempatkan tubuhnya tepat di hadapan Amy, hingga posisi perempuan itu jadi benar-benar terjepit. Bibirnya kembali menjadi bulan-bulanan. Bagian-bagian sensitif di tubuhnya pun kembali menjadi sasaran jamahan tangan Pak Man yang nakal.
“Cuuuuppp...”
“Hmmmpphh...”
Amy merasakan bibirnya dikecup dengan penuh kemesraan.
“Cuuuuppp...”
“Nggggghhhhhhh...”
Semenit kemudian, Pak Man memutuskan untuk mengangkat kaos yang ia kenakan, demi memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang masih cukup tegap di usia senja. Pemandangan tersebut membuat Amy terpana. Suaminya saja yang jauh lebih muda usianya, tidak mempunyai dada dan pundak setegap Pak Man. Meski kulitnya begitu gelap, tetap saja ada sisi maskulin yang unik dari tubuh pria tua tersebut.
“Kamu suka, Dek Amy?”
“...”
“Kalau suka, disentuh aja.”
“...”
Merasa mangsanya itu masih bersikap malu-malu, Pak Man mengambil inisiatif untuk menarik lengan Amy, lalu meletakkan tangan yang halus itu di dadanya. Terlihat situasi yang begitu kontras, saat tangan Amy yang putih dan lembut, bertemu dengan dada Pak Man yang gelap dan kasar. Secara otomatis, jemari Amy mulai bergerak naik turun di bagian tubuh yang masih basah tersebut, membuat sang pria tua merasa kegelian.
Pak Man merespon dengan kembali melumat bibir Amy, menghisap bibir bawahnya, sambil membuka satu persatu kancing blus yang dikenakan sang perempuan dari atas ke bawah. Akibatnya, tak lama kemudian, payudara Amy yang masih tertutup bra berwarna hitam, jadi terpampang jelas.
“Kamu kan sudah elus-elus dada aku. Sekarang gantian aku yang balas elus-elus susu kamu ya, Dek Amy. Hahaa...”
“Nggghh, Maaasss... Tapi...”
“Nggak pakai tapi-tapian. Hahaa... Toket semulus ini sayang banget kalau cuma disimpan di balik pakaian kamu itu, Dek.”
Amy tampak tidak bisa menahan diri saat bagian tubuhnya yang begitu sensitif diperlakukan seperti itu. Ia seperti tidak bisa menyimpan birahinya sendiri yang siap untuk meledak. Jemarinya yang sedari tadi bersandar di dada Pak Man mulai beraksi nakal dengan mencubit-cubit puting dada pria tua itu, sembari membuat gerakan melingkar di sekitarnya.
“Ahhh... Kamu nakal juga ternyata ya. Persis seperti yang aku duga...”
“Tapi semua ini kan gara-gara Mas yang paksa aku!”
“Yakin? Bukan karena kamu memang ingin sekali aku bikin puas lahir batin? Hahaa...”
“...”
Dengan sekali tarikan pada kaitannya yang berada di punggung, Pak Man berhasil melepas bra yang masih menutupi buah dada Amy, hingga payudaranya yang biasa tertutup rapat itu kini jadi terbuka lebar. Sang pria tua yang sudah mempunyai dua orang istri itu tampak begitu bernafsu, seperti anak bayi yang tengah kehausan, dan langsung memasukkan kedua puting buah dada Amy ke dalam mulutnya. Di hadapan tubuh Amy yang indah, pria tua itu seperti berubah menjadi anak kecil yang nakal.
“Sluuurrrppphhh... Enak sekali susumu ini, Dek Amy. Sudah halus, kenyal, empuk, ukurannya pun pas di tangan aku. Hahaa...”
“Nggghhh... Masssss...”
Demi menekan gairah yang mulai meninggi, Amy balas meremas-remas dada dan pundak Pak Man yang sudah basah karena deburan air terjun di atas mereka. Ia kemudian mengalungkan tangannya di leher Pak Man, agar tubuh mereka semakin menempel satu sama lain. Ibu muda itu seperti tidak malu-malu lagi melakukan itu, dan justru makin binal dengan menyodorkan toketnya, baik yang kiri dan kanan, kepada sang pria tua.
Pak Man jelas tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sembari mengulum puting payudara Amy yang bentuknya begitu sempurna, Pak Man jadi teringat kembali dengan kebersamaannya dengan perempuan cantik lain di Cluster Kembang Arum Asri yang terjadi pagi ini.
Dalam mimpi saya semalam, Bapak terlihat menjilati payudara saya dengan rakus, kemudian mengelus-elus paha saya, sampai ke tengah selangkangan saya...
“Hmmmpphh... Rasanya hangat sekali, Pak. Saya suka Paaaaakkk...”
Namun sayang, kemesraan mereka harus terhenti setelah perempuan itu mendapat telepon dari suaminya, dan langsung pergi begitu saja. Ia bahkan tampak tidak peduli dengan Pak Man yang merasa begitu hampa setelah kepergiannya.
“Meski berbeda dengan Maya yang masih mempunyai air susu untuk anaknya, tapi toket Dek Amy ini juga tidak kalah menggiurkannya kok. Apalagi kalau seperti ini, diberikan secara langsung oleh pemiliknya untuk aku nikmati semauku. Hahaaa...”
“Ngghhh, Maaasss...”
Desahan Amy yang binal tetap terdengar jelas di sela-sela deburan air terjun yang terus mengalir tanpa henti. Suara lirih tersebut semakin membangkitkan nafsu Pak Man yang penisnya sudah berdiri tegak sejak beberapa saat yang lalu.
Tak mampu menahan gejolak itu, sang pria tua langsung menanggalkan celana panjangnya yang juga sudah begitu basah. Dan ternyata, ia tidak mengenakan celana dalam lagi di baliknya, sehingga kemaluannya yang hitam langsung terlihat jelas oleh Amy.
“Ahhh, Maassss...”
“Kenapa, Dek Amy? Suka ya dengan kontol saya yang hitam ini? Hahaa...”
Amy terpekik saat kembali melihat secara langsung pentungan raksasa milik Pak Man yang begitu perkasa. Kali ini, ia langsung menggerakkan tangannya untuk menyentuh ujung penis tersebut dan mulai mengusap-usap batangnya yang berurat, tanpa perlu diperintah.
Melihat hal itu, Pak Man hanya tersenyum, dan kembali melumat bibir Amy sebagai ucapan terima kasih. Tangannya yang masih terbebas kemudian ia gunakan untuk meremas-remas payudara sang ibu muda yang bentuknya masih begitu sempurna. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, sehingga terasa pas di tangannya.
Beberapa saat kemudian, tangan Pak Man yang lain berusaha meraih ke bagian belakang tubuh Amy, tepatnya ke resleting yang mengunci rok panjangnya. Dengan sekali tarikan, resleting tersebut pun turun ke bawah, diiringi dengan lolosnya rok panjang yang dikenakan sang perempuan muda itu ke bebatuan yang mereka pijak.
“Masss... Jangaaaaannn...” ujar Amy yang merasa sedikit kaget, sambil berusaha menutupi celana dalam berwarna hitam, yang merupakan benteng terakhir perlawanannya.
Namun bukan Pak Man namanya kalau ia langsung menyerah begitu saja. Dengan tenaganya yang lebih kuat, pria tua itu menarik tangan Amy hingga terbuka ke kiri dan kanan, menyebabkan selangkangannya kembali terbuka lebar. Ia kemudian berlutut di hadapan Amy, lalu berusaha melorotkan celana dalam itu ke bawah, tanpa mendapat perlawanan yang berarti. Karena itu, liang surgawi sang ibu muda jadi terpampang jelas di hadapannya.
“Indah sekali memekmu ini, Dek Amy. Kamu memang benar-benar perempuan idaman...”
“J-jangan Maassss... Aku mohoooonnn...”
“Sudah sejauh ini, masa kamu masih mau menolak juga? Hahaa...”
Amy berusaha menahan kepala Pak Man agar tidak bergerak lebih dekat ke arah kemaluannya. Namun tenaganya jelas bukan tandingan bagi Pak Man yang mempunyai tubuh lebih besar. Tanpa menunggu lama, pria tua itu telah berhasil membenamkan wajahnya di selangkangan Amy, dan menggesek-gesekkan hidungnya di bibir vagina sang wanita.
“Harum sekali memek kamu, Dek Amy. Jauh lebih wangi dari semua perempuan yang pernah aku nikmati. Hahaa...”
“S-stop Maassss... Suudaaahhh... Aaaahhhh...”
Amy menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengerahkan kekuatan terakhirnya untuk mencegah dirinya menjadi mangsa berikutnya dari sang bandot tua.
Pak Man tidak mengindahkan permintaan tersebut, dan justru mengeluarkan lidahnya untuk menjilat-jilat vagina Amy, membersihkan seluruh sisinya yang lembab karena terkena cipratan air terjun dan keringat. Di saat yang sama, jilatan tersebut juga berfungsi untuk membangkitkan syaraf-syaraf nikmat yang berada di sekitar bibir vagina itu. Pak Man bahkan mengulumnya dengan lahap, bagai seorang bocah yang sedang kelaparan.
“Ngggghhh... Maaassss...”
“Enak kan diemut-emut begini memeknya, Dek Amy? Hahahaaa... Lebih baik kamu nikmati saja, tidak usah sok-sok menolak deh.”
Amy pun menyerah. Ia tidak lagi berusaha menahan rangsangan yang diberikan Pak Man, dan memutuskan untuk menikmatinya saja. Karena itu, vaginanya jadi terasa berkedut-kedut saat bertemu dengan lidah Pak Man yang hangat, seperti meminta untuk segera dipuaskan. Lokasi yang segar karena berada di tempat terbuka dan bersebelahan dengan air terjun, menambah sensasi birahi yang ia rasakan.
Ini benar-benar gila... Aku memang pernah memimpikan untuk bisa melakukan hubungan seksual di tempat terbuka seperti ini. Tapi kenapa harus dengan pria tua seperti Pak Man? Ahhh...
Merasa sang perempuan sudah sama bergairahnya, Pak Man kembali bangkit dan menatap mata Amy yang sudah begitu sayu. Ia mengecup bibir perempuan itu sekali lagi, tapi raut wajahnya yang binal tetap saja tidak berubah. Bila diperhatikan, pinggul Amy tampak sedikit bergerak maju mundur, seperti merasa kehilangan rangsangan yang ia inginkan. Pak Man pun menyadari bahwa mangsanya juga sudah haus akan kenikmatan.
“Kamu pengin aku isep-isep lagi memek kamu, Dek Amy?”
Amy hanya terdiam. Tetapi wajahnya yang memerah seperti tak bisa menyembunyikan keinginan terpendam itu.
“Kamu tidak usah khawatir. Kali ini bukan hanya mulut dan lidahku yang akan memuaskan kamu. Tapi juga...”
Pak Man tidak mengakhiri kata-katanya, dan hanya melirik ke bawah, ke arah kemaluannya yang sudah berdiri tegak. Mendengar itu, Amy masih tetap terdiam, dan hanya bisa menahan birahinya sendiri dengan menggigit bibir bawahnya.
“Makanya jawab dulu. Kamu mau nggak aku bikin puas dengan kontol aku? Hahaaa...” Tanya Pak Man setengah mendesak.
Dalam diam, Amy menggerakkan kepalanya naik turun.
“Yang jelas dong. Bilang sama aku, kamu mau nggak aku bikin kelojotan dengan kontol aku yang besar ini?”
“I-iya...”
“Iya apa, Dek Amy?”
“Iya, aku mau dibikin puas...”
“Dibikin puas pakai apa?”
“Pakai koooontoooll kamuuu, Maaaasssss!!”
Pak Man akhirnya tersenyum, dan mulai menggesek-gesekkan ujung penisnya ke bibir vagina yang rongga di baliknya sudah mulai lembab, akibat rangsangan bertubi-tubi yang dilancarkan Pak Man. Gesekan tersebut baru berlangsung beberapa menit, tapi sudah membuat tubuh Amy menjadi hangat dan hampir menggelinjang.
“Aku masukin ya, Dek Amy...”
“Nggghh...”
Perlahan tapi pasti, ujung penis Pak Man mulai membelah vagina Amy untuk pertama kalinya. Ia memasuki bagian tubuh yang selalu dijaga itu tanpa sedikitpun keraguan. Namun ia ingin meresapi sensasi tersebut, dan mengabadikannya di dalam ingatan. Setiap kali ujung penisnya menembus satu milimeter rongga vagina Amy, jepitan yang ia rasakan terasa semakin kuat.
“Ahhh... Memek perempuan kota seperti kamu memang beda sekali rasanya, Dek Amy. Walau sudah pernah melahirkan Kevin, tapi rasanya masih sempit banget. Atau jangan-jangan, memang kontol saya saja yang terlalu besar ya? Hahaaa...”
“Nggghhh... Maaaassss...”
“Coba kalau dari pertama kita ketemu, kamu sudah bilang kalau ingin dipuaskan. Kan kita sudah bisa enak-enak kayak gini sejak dulu. Hahaa...”
“Nggghhhh... Aaaaahhhhh...”
Amy sadar bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menahan gejolak birahi yang dirasakan pria tua di hadapannya. Apalagi di saat yang sama, syahwat di dalam dirinya juga sudah begitu mendidih, dan tidak sabar untuk segera dilepaskan. Karena itu, tangannya pun tidak berusaha untuk memberontak, dan justru berlabuh di pundak Pak Man yang kokoh. Ia seperti sudah menganggap pria tua itu bukan sebagai pimpinan lingkungan yang harus dihormati, melainkan pasangan kekasih yang bisa menuntaskan rasa hausnya akan kenikmatan birahi. Ia bahkan seperti sudah lupa statusnya sebagai seorang istri dan ibu muda.
“Apa yang akan dilakukan Mas Ge apabila tahu aku diperlakukan seperti ini oleh Pak Man. Apalagi, aku pun seperti tidak menolaknya sama sekali...”
Ketika penisnya sudah terbenam begitu dalam di vagina Amy, Pak Man mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur. Setiap kali pangkal penis dan bibir vagina Amy bertemu, terdengar bunyi kecipak yang makin lama makin kencang.
Amy sendiri hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati persetubuhan itu. Dalam gelap, ia bisa merasakan bibirnya kembali disosor oleh sang pria tua, yang langsung melumatnya tanpa ampun. Buah dadanya yang membusung pun tidak luput dari jamahan Pak Man, yang memadukan remasan yang kuat dengan cubitan gemas di putingnya.
“Aaaahhh... Aaahhhh... Ahhhh...”
“Ngggghh... Nggghhh... Ngggghhh...”
“Aaaahhh... Aaahhhh... Ahhhh...”
“Ngggghh... Nggghhh... Ngggghhh...”
Desahan keduanya bersahut-sahutan, seperti berlomba untuk segera mencapai puncak kepuasan.
Pak Man tiba-tiba menarik kedua tangan Amy ke atas, lalu menahannya dengan tangan kanannya. Akibatnya, ketiak sang perempuan cantik itu jadi terbuka lebar. Setelah itu, ia pun kembali menggenjotnya dengan intensitas yang lebih tinggi.
“Dengan pose seperti ini, kamu kelihatan lebih menggairahkan, Dek Amy sayang... Kalau kamu mau jadi istriku, pasti aku nggak akan tahan buat nggak ngentotin kamu. Bisa aku kekep kamu di dalam kamar setiap hari. Hahaaa...”
“Nggghhh, Maaassss...”
“Mau kan kamu jadi istriku, Dek Amy? Hahaaa... Mau kan?”
Di tengah-tengah birahinya yang menggebu, Amy jadi teringat obrolan dengan Nisa dan Shinta beberapa hari sebelumnya di warung Bi Jum. Saat itu, Bi Jum menjelaskan bagaimana Pak Man mempunyai satu istri di Kampung Growol dan satunya lagi di Kampung Bawukan.
“Wah, pas kalau begitu. Pak RT kan sudah punya satu istri di masing-masing kampung. Siapa tahu, dia mau nambah satu istri lagi di Cluster Kembang Arum Asri. Biar komplet... Hahaaa...” Begitulah temannya yang bernama Shinta berkata saat itu.
Dalam hati, Amy jadi memikirkan, apakah Pak Man memang benar-benar ingin memperistri seseorang dari Cluster Kembang Arum Asri sebagai istri, untuk melengkapi penaklukannya terhadap perempuan di seantero wilayah itu? Dan apakah perempuan yang menjadi sasarannya adalah Amy?
“Bila dibandingkan dengan Mbak Nisa, Shinta, dan penghuni baru yang bernama Maya itu, apa sih menariknya diriku yang sering ceroboh ini?” Batin Amy yang sedikit merasa tersanjung akan ketertarikan Pak Man tersebut.
Dengan punggung yang masih bersandar ke dinding bebatuan, dan tangan yang terentang ke atas, Amy hanya bisa menikmati bagaimana penis besar milik Pak Man menusuk-nusuk vaginanya hingga menyentuh relungnya yang terdalam. Seingat Amy, suaminya saja tidak pernah sampai menyentuh sejauh itu. Tubuhnya menjadi semakin bergairah ketika Pak Man bahkan tidak ragu untuk menjilat-jilat ketiaknya yang meski putih dan bersih karena selalu terawat, tetapi tetap menjadi tempat berkumpul keringatnya yang mengucur akibat pergumulan mereka.
“Me-Memangnya Mas Man benar-benar ingin menjadikan aku sebagai istri? Nggghhh...” Tanya Amy di sela-sela desahannya.
“Tentu saja, Dek Amy. Siapa sih lelaki yang bisa menolak apabila diberi kesempatan untuk menjadi suami kamu. Hahaa...”
“Nggghhh... Tapiii...”
“Tapi apa, Dek? Aaaahhh...”
“Tapi aku nggak mau menjadi istri ketiga, Mas... Nggghhh...”
“Maksudnya? Aaaahhh...”
“Kalau mempunyai suami, aku cuma mau menjadi istri satu-satunya. Jadi, kalau Pak Man mau jadikan aku sebagai istri, ya Pak Man ceraikan dulu istri-istri Bapak yang lain... Nggghh...”
“Hahaa... Urusan itu, bisa diatur Dek Amy. Ahhh...”
“Bisa diatur bagaimana, Mas? Memangnya Mas mau menceraikan istri-istri Mas? Nggghhh...”
“Demi menjadikan kamu sebagai istri, apa pun akan aku lakukan, Dek Amy. Kalau cuma ceraikan istri sih itu masalah kecil... Aaahhh...”
Dalam hati, Amy jadi membayangkan apa yang akan dikatakan kedua istri Pak Man apabila mereka akhirnya diceraikan demi sang suami bisa mempersunting dirinya. Apalagi setelah perseteruan yang terjadi di tempat pengajian hari ini.
Di sisi lain, jawaban Amy jelas membuat Pak Man menjadi lebih bergairah. Ia tidak menyangka kalau Amy akan menunjukkan ketertarikan untuk menjadi istrinya yang sah. Ia bahkan tidak peduli dengan syarat yang diberikan ibu muda tersebut.
Ia jadi teringat saat pertama kali Cluster Kembang Arum Asri dibangun, yang memicu penolakan dari sebagian warga Desa Growol dan Desa Bawukan, termasuk kedua saudara kandungnya. Mereka merasa khawatir kalau kehadiran penduduk baru, terutama yang merupakan pindahan dari kota, akan membuat situasi desa yang kental dengan bisnis negatif, jadi terganggu.
Namun Pak Man justru melihatnya dari sisi lain. Kehadiran penghuni baru di cluster tersebut, justru bisa memperluas bisnis lendir dan obat-obatan yang berkembang di desa tersebut. Ditambah lagi potensi masuknya perempuan-perempuan cantik yang tinggal di cluster tersebut, yang bisa menambah persediaan penjaja aktivitas seksual.
“Akhirnya, baik dari sisi supply dan demand pun jadi makin terpenuhi. Lagipula, sifat asli manusia di mana-mana sama saja kok. Apabila keinginan mereka terpenuhi, hal-hal lain akan selalu bisa dikompromikan,” pikir Pak Man saat itu.
Semuanya kini terbukti, otaknya yang cemerlang benar-benar manjur, terutama saat pria tua itu berhasil menyetubuhi tubuh perempuan cantik seperti Amy, yang tubuhnya masih luar biasa seksi tersebut. Perempuan seperti itu tentu tidak akan hadir di daerah sekitar lereng Gunung Mandiri, apabila tanpa kehadiran Cluster Kembang Arum Asri.
Pak Man pun makin semangat menggerakkan batang kemaluannya. Kali ini, ia gerakkan penisnya berputar-putar, seperti ingin mengaduk-ngaduk vagina sang perempuan yang begitu hangat.
“Ngghhh... Tapi...”
“Tapi apalagi, Dek Amy? Ahhh...”
“Bagaimana dengan Mas Ge? Dia pasti nggak akan mau melepaskan aku. Nggghhh...”
“Urusan itu, kamu tenang saja. Hahaa...”
“Nggghhh... Mas Man nggak berniat untuk menyakiti Mas Ge kan?”
“Hahaa... Kan sudah aku bilang. Aku ini pelindung masyarakat, bukan penghancur, apalagi pembunuh. Pokoknya kamu nggak usah khawatir. Lebih baik, kita nikmati saja semuanya. Hahaa...”
Amy masih memikirkan apa maksud dari kata-kata penuh misteri dari Pak Man barusan. Namun semuanya buyar ketika sang pria tua kembali menjepit tubuhnya ke dinding batu, dan melesakkan penisnya dalam-dalam. Tungkai kakinya yang sebelah kiri kemudian diangkat oleh Pak Man, sehingga selangkangannya semakin terbuka lebar, dan memudahkan pria tua itu untuk menggenjot tubuhnya yang indah.
“Ngggghhhh... Nggghhh... Nggghhh...”
“Aaaahhh... Ahhhh... Aahhhhh...”
“Ngggghhhh... Nggghhh... Nggghhh...”
“Aaaahhh... Ahhhh... Aahhhhh...”
“Ngggghhhh... Nggghhh... Nggghhh...”
“Aaaahhh... Ahhhh... Aahhhhh...”
Wajah sayu Amy menandakan kalau perempuan tersebut sudah hampir mencapai puncak kenikmatan. Diperlakukan seperti itu, di tempat yang eksotis dan terbuka, oleh seseorang yang tidak seharusnya merasakan kenikmatan itu, benar-benar membuat gairah Amy jadi begitu menggebu.
Di sisi lain, Pak Man yang tadi pagi sudah merasakan birahinya dipermainkan oleh perempuan cantik lain yang juga tinggal di Cluster Kembang Arum Asri, juga sudah tidak tahan untuk melepaskan lahar panasnya di rahim Amy.
“Aku keluarin di dalam ya, Dek Amy. Hihihi...” Bisik Pak Man di telinga Amy.
Mendengar itu, Amy merasa panik. Segila-gilanya hal yang tengah ia lakukan, perempuan itu masih tidak bisa membayangkan apabila dirinya sampai mengandung anak dari pria tua tersebut. Apalagi dengan status mereka berdua yang masih merupakan pasangan sah orang lain.
“Jangan, Masss... Keluarin di luar saja... Ja-jangaaaaaan...” Jawab Amy sambil berusaha memberontak. Namun ia jelas kesulitan karena tubuhnya telah dikunci oleh Pak Man, dan vaginanya juga telah dipenuhi oleh batang penis sang pria.
“Sudah tanggung, Dek. Aku lihat-lihat, si Kevin juga sudah kepengen punya adek baru. Hihihii...”
“Jangan kurang ajar ya Maasss... Nggghhh...”
Amy merasakan situasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di satu sisi, ia ingin sekali menolak desakan dari Pak Man untuk mengeluarkan sperma di dalam vaginanya, karena perempuan tersebut memang tidak menggunakan KB sama sekali. Namun di sisi lain, ia juga tidak kuasa untuk menolak, karena begitu nikmatnya sodokan dari penis Pak Man yang tengah bersarang di vaginanya.
“Toh sebentar lagi kan kita akan jadi suami istri. Kamu sendiri yang bilang tadi kan? Hihiii...”
“Tapi itu kan nanti, Mas. Sekarang beluuuumm... Aku mohon jangan keluarin di dalam, Mas... Nggghhh...”
“Memek kamu ini lho, jepitnya saja sudah kuat banget. Mana bisa aku tahan, Dek... Hihihi...”
“Nggghhh... Maaassss...”
“Dek Amyyyyy... Istriiikkuuuuu...”
“Maaasss Maaaannn.... Aaaahhh...”
“Aaaaaaaaaaaahhhhhhh...”
“Aaaaaaaaaaaahhhhhhh...”
Pak Man mengeluarkan desahan paripurna, seiring dengan ledakan sperma yang meluncur dari ujung penisnya. Ia pun berusaha menanamkan penisnya dalam-dalam hingga menyentuh ujung rahim perempuan cantik itu.
Di saat yang sama, tubuh Amy pun menggelinjang hebat, seiring dengan orgasme yang ia rasakan di waktu yang bersamaan. Karena besarnya tekanan birahi yang menerpa, perempuan cantik itu pun mengeluarkan teriakan yang kencang, sehingga membahana di seantero air terjun itu. Tubuhnya yang masih bugil tanpa busana langsung melemas, dan hampir jatuh apabila tidak ditahan oleh pelukan sang ketua RT.
Gila... Apa yang telah aku lakukan sebenarnya?
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *