“Aahh…”
Sekujur tubuh Ardian merinding. Bukan karena ada makhluk halus yang lewat, atau bukan karena sedang berada di tempat berpenunggu. Memang sih, makhluk yang ada di depannya itu berkulit halus, tapi Intan bukan makhluk halus – dan cantiknya out of this world. Tubuh Ardian merinding saat merasakan lidah basah Intan yang lembut menelusuri setiap sisi batang kejantanannya.
“In-intan…!?”
“Nikmatin aja yah, mas. Aku akan memberikan yang Mas inginkan selama ini.”
Ardian mengerutkan kening sejenak. Beribu pemikiran memenuhi benaknya. Ia memandang wajah cantik dihadapannya dengan keraguan dan pertanyaan yang silih berganti mengisi.
Menginginkannya?
Apakah benar ini yang dia inginkan selama ini saat membantu dan memberikan apapun yang diinginkan oleh Intan – lebih dari yang seharusnya ia berikan? Benarkan ia menginginkan Intan lebih dari ia menginginkan Shinta?
Seharusnya tidak. Semestinya tidak
.
Dia hanya mengagumi, hanya menghormati, tidak lebih dari itu. Tidak lebih dari… tapi Intan memang cantik sekali. Terlalu cantik untuk ditolak. Jika Ardian bisa merebutnya dari Hendro dan menjadikan istri kedua, maka… semua impiannya akan lengkap. Dia akan mendapatkan dua istri yang sama-sama cantik dan menggairahkan.
Dia akan mendapatkan segalanya yang dia inginkan.
Apakah dia menginginkan Intan?
Apakah dia ingin tidur dengan Intan?
Lebih dari apapun.
Intan terlampau jelita untuk dilewatkan. Tidak akan ada pria yang tidak menginginkannya. Tidak akan ada pria yang mampu menghadapi godaan keindahan tubuhnya
.
Tubuh indah Intan, yang harum, yang seksi, yang ranum, yang harum, yang menggiurkan, yang masih tetap mulus meski sudah punya momongan… Ardian ingin memilikinya. Ardian menginginkannya. Ardian menginginkan Intan, sebagaimana ia dulu pernah mendambakan Shinta. Dulu dia merasa perasaan itu tabu, tapi kini dia menghapus segala rasa tabu itu. Bukankah ini hal yang wajar muncul dalam diri seorang laki-laki normal saat berdua bersama Intan?
Siapa yang tidak menginginkannya? Hanya laki-laki bodoh saja.
Nafsu birahi pun mengambil-alih perasaan Ardian yang sebelumnya ragu. Ardian yang awalnya hendak menggeleng akhirnya perlahan-lahan menganggukkan kepalanya. Siapa yang tidak menginginkan tubuh Intan? Tubuh seindah itu, wajah secantik itu? Akankah ia sia-siakan?
Semua sudah di depan mata. Tinggal dinikmati saja.
Ternyata memang inilah yang diharapkannya selama ini. Mau mencoba melawan perasaannya sendiri seperti bagaimanapun, tidak akan ada artinya. Tidak ada lagi yang bisa ditutupinya. Sikapnya. Perhatiannya. Bantuannya. Semua ternyata ada sesuatu yang tidak ia pahami di belakangnya. Semua ada pamrihnya. Tidak ada yang gratis. Harus ada imbalannya. Inilah yang dia inginkan selama ini.
Begitupun juga dengan Intan, pada akhirnya dia pun menyadari semua itu. Bahwa benar apa yang dikatakan oleh bapak mertuanya. Tidak ada yang gratis untuk seorang laki-laki dewasa ketika berbuat baik kepada seorang wanita yang bukan siapa-siapanya. Saudara bukan. Kerabat bukan. Jadi tidaklah mungkin jika ada pria yang berbuat baik dengan nya secara cuma-cuma. Termasuk pria yang ada di depannya ini.
Pikiran Intan lalu melompat ke beberapa hari terakhir saat pria di depannya ini yang selalu intens memberikan perhatian lebih kepadanya. Ardian selalu memberikan support disaat diri sedang berada di bawah. Benak ibu muda itu mengelana pada suatu masa.
“Masa ya kamu mau seperti ini terus?”
“Hutangmu ke koperasi bakal semakin membengkak.”
“Bapak ibunya Hendro bagaimana? Bukannya mereka punya kebun dan tambak?”
“Jadinya semua beban kamu yang menanggung ya. Adiknya Hendro bagaimana? Tidak pernah pulang ke rumah?”
Intan lalu tersenyum sendiri. Ia mengelus pipi Ardian, memandang matanya, tenggelam dalam tatapan lembut pria berwajah tampan itu. Apa yang mereka selama ini sembunyikan dan berusaha tutupi, sepertinya sudah tidak terbantahkan lagi. Orang lain sudah melihat apa yang mereka berdua tidak lihat. Jadi kenapa harus disembunyikan lagi?
Betapa polosnya aku selama ini mas, di saat jelas-jelas istrimu bersikap tidak senang denganku, kamu masih selalu berusaha untuk membelaku, di saat aku terpuruk dan jatuh ke dalam kesulitan, kamu selalu hadir membantuku. Kok ya aku tidak sadar diri.
Intan teringat beberapa hari yang lalu, saat ia berjumpa dengan Ardian di kantor. Saat mereka makan siang bersama di kantin. Ketika itu, Intan menanyakan perihal Shinta kepada sang suami.
“Mbak Shinta… dia benci banget sama aku ya, Mas? Maafkan aku. Selama ini aku bikin repot Mas, aku jadi takut kalau hubungan kamu sama Mbak Shinta jadi terganggu gara-gara aku. Tadi pagi, dia kelihatan banget sengitnya. Aku jadi tidak enak.”
“Ah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Tidak apa-apa. Shinta itu pada dasarnya baik. Dia mungkin masih belum paham saja kondisi sebenarnya. Kalau dia sudah mengerti, pasti kalian akan bisa lebih akrab. Soal Shinta biar aku saja yang mengatur. Nanti aku ajak dia menengok Mas Hendro supaya paham.”
“Terserah Mas saja kalau itu. Mudah-mudahan hati Mbak Shinta bisa sedikit melunak. Aku tidak ingin dibenci banyak orang hanya karena salah paham. Sejauh ini, yang membenciku sudah terlalu banyak.”
Intan tersenyum jika ingat percakapan itu. Betapa Ardian membuat Intan percaya bahwa ia bisa melakukan semuanya yang ia inginkan, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan banyak hal.
Percaya aja aku sama kata-kata manismu itu mas. Kalau dipikir-pikir, kalau aku yang ada di posisi Mbak Shinta, sepertinya aku juga pasti akan mencak-mencak. Lalu kamu dengan entengnya menganggap hubungan kita ini hal yang bisa kamu atasi dengan mudah.
Hahaha. Tidak sesimpel itu, Mas.
Tidak ada yang seperti itu
.
Tapi mungkin juga semua ini salahku mas. Mungkin bisa diibaratkan kucing yang tidak akan menolak jika diberi ikan asin. Aku yang lalai sebagai perempuan yang seharusnya bisa menjaga diri. Seharusnya aku yang menjaga jarak denganmu mas. Tidak seharusnya kita sedekat ini. Aku sudah bersuami dan kamu sudah beristri. Dengan alasan pembenaran apapun, hubungan ini tidak bisa dibenarkan.
Bodohnya lagi, aku juga hampir terlena oleh perlakuan manismu itu. Setiap kali di saat aku sedang dalam kondisi darurat, alam bawah sadarku langsung mengarah kepadamu. Kamulah satu-satunya yang bisa aku percaya. Hahaha. Kalau dipikir-pikir nekat sekali aku nelpon kamu subuh-subuh buat minta anterin ke rumah sakit.
Siapa aku sih, Mas? hahaha.
Untung Mbak Shinta masih punya hati nurani mas. Ironisnya, istri secantik dan sebaik Mbak Shinta justru kamu sia-siakan.
Tapi tidak apa-apa, pagi ini aku akan memberikan apa yang selama ini kamu dambakan. Benar ini kan yang kamu inginkan kan, Mas? Kamu ingin penis imutmu ini aku kulum-kulum? Aku jilat-jilat? Ini kan yang kamu mau, Mas? Kamu pengen kan menjejalkan penismu ke dalam mulutku?
Slurrppss…!!
“Aahh…”
Batang ini, pasti sudah lama menunggu momen seperti ini kan, Mas? Hihihi.
Tentu saja, kalau tidak saking penginnya, mana mungkin tanpa pikir panjang kamu menuruti permintaanku pagi ini? Kemarin-kemarin mungkin aku yang polos dengan sikap manismu itu. Aku terjebak dalam alur yang dimainkan oleh kaum lelaki, aku terpaksa mengikuti jalan cerita. Tapi tidak hari ini. Mulai sekarang, semuanya berbeda.
Mulai pagi ini, aku akan menunjukkan sisi lainku.
Maafkan aku yah, Mas. Barangkali inilah kejahatan terbesar dalam hidupku. Tapi aku harus begini. Kamu juga tahu kan? No good deed go unpunished, tidak ada perbuatan baik yang bebas dari hukuman. Hidup ini memang keras. Jika tidak menindas, maka kamulah yang akan ditindas. Good guys finish last. Aku tidak ingin menjadi yang terakhir dan dijebak oleh para lelaki. Aku ingin bertahan dengan kerasnya dunia di lereng Gunung Mandiri ini, dan sayangnya, Mas…
Kamu adalah pion pertama yang harus aku korbankan.
“Enak, Mas?”
“He’em…”
“Enak mana sama sedotan Mbak Shinta? hihihi.”
“Eh, ehmm…” Ardian benar-benar tak berkutik diberikan pertanyaan seperti itu. Apa yang harus dia jawab?
“Jujur aja, Mas. Ga apa-apa kok, lagipula tidak ada siapa-siapa kan di sini? Cuma kita berdua saja, cuma ada kamu sama aku saja, dan akulah yang mengajukan pertanyaan buat kamu. Aku janji kasih reward kalau kamu mau jawab, Mas. Jadi…masih enakan sedotan aku atau sedotan Mbak Shinta?”
“E-enakan se-sedotan kamu, ahh… ahhh…” Ardian terengah.
“Oh ya? Makasih, Mas.”
Jilatan lidah Intan bergerak menyusuri batang kejantanan suami Shinta itu. Bagi Intan yang sudah pernah merasakan, ia sebenarnya agak kecewa karena penis Ardian bahkan tak sebesar milik Pak No. Untung saja Ardian ganteng dan baik hati – juga sangat lembut dan perhatian kepadanya. Itu yang membuat Intan membalasnya dengan penuh kelembutan.
Ibu muda itu menjilat dan menelusuri batang menegang menantang milik Ardian sembari melirik ke atas, Ia menggoda Ardian dan mengedipkan satu matanya, “Mmmhh… enak banget punya kamu, Mas. Kamu enak tidak?”
“I-ya… sampe bikin linu, tapi enak.”
“Mau lebih dikencengin lagi?”
“Ma-Mau…”
“Tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi Mas harus janji dulu ya…”
“J-Janji apa?” Ardian mengerutkan kening.
“Janji jangan cepet-cepet keluar, soalnya masih pagi, dan aku… mmh… aku juga pengen kasih mas yang lain.”
“Aa-apa itu?”
“Jepitan vaginaku, Mas. Nanti mas bisa bandingin, masih lebih peret mana antara punyaku atau sama punya Mbak Shinta, hihihi.”
Ardian terbelalak, siapa yang tak mau dengan tawaran itu? Wajah pria itu pun memerah, “Pa-pasti lebih jepit punya kamu…”
“Huh dasar! Cowok mah kalau ada maunya pasti langsung nge-gombal. Yang di rumah langsung deh dilupain. Kasihan banget Mbak Shinta. Nyebelin tau gak sih, Mas?!”
“Hehehe…” Ardian meredup.
“Tapi kita coba deh, tapi aku sih yakin…”
“Yakin apa?”
“Yakin aku bisa membuat Mas Ardian klepek-klepek dan lupa sama yang di rumah.”
“Hah!?”
“Duh, jahat banget sih aku,” meski ucapannya seperti menyesal, tapi mimik wajahnya justru binal dan nakal. Ardian terkejut melihatnya. Intan yang sekarang seperti bukan Intan yang dulu, Intan yang sekarang, seperti Intan
“Ga jahat kok, aku pasti tetap akan inget sama yang di rumah.”
“Tuh kan. Mas tuh ya bener-bener nakalnya, masih aja belain yang di sini, hihihi.”
“Emang kamu ga mau aku belain lagi?”
“Ih, ya masih mau dong, Mas itu pahlawan aku, Mas itu superhero aku, tanpa Mas entah aku ini bisa apa.”
Kedua insan itu saling terus mengeluarkan kalimat-kalimat godaan yang semakin menambah rasa, semakin memancing cinta, memancing birahi.
“Uhh…keras banget sih ini…” Intan meraba batang kejantanan pria di hadapannya. Ia mengecup ujung gundul penis Ardian, “keras… dan besar..”
Ardian mulai terengah, napasnya satu dua. “Kamu suka?”
“Suka, Mas. Hehehe.”
“Apakah kamu selama ini…” tiba-tiba saja Ardian menghentikan pertanyaannya.
“Selama ini…?” Intan memiringkan kepalanya dengan manis, membuat Ardian makin terpesona. “Selama ini apa? Kenapa pertanyaannya tidak dilanjutkan?”
“Kamu selama ini… jarang disentuh sama Mas Hendra?”
Intan tersenyum, “Menurut Mas?”
Ardian menunduk. Malu dengan pertanyaannya sendiri. Di hadapan Intan, ia benar-benar bagaikan seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, bisa dikendalikan dengan mudah. Intan menahan tawa.
“Hehehe, ya begitulah, Mas. Jangankan untuk berbuat begituan, bangun aja Mas Hendra kan ga bisa. Tapi ya mau gimana lagi, sudah nasib keluargaku mengalami cobaan yang seperti ini.”
Ardian jadi tidak nyaman, “Tenang saja. Aku tetap akan ada di sisi kamu. Kalau butuh apa-apa bilang saja ke aku, termasuk kalau kamu membutuhkan… maksudku… nganu… aku kan… juga bisa…”
“Dih, dasar! Kalau ini Mas yang nakal, bener-bener nakal nih.”
Ardian mencoba peruntungannya. “Tapi kamu mau kan aku nakalin kali ini?”
Intan tersenyum dan meletakkan kedua tangan Ardian di buah dadanya sendiri. Ardian meneguk ludah.
“Untuk Mas… yang selalu ada sewaktu aku terpuruk dan membutuhkan seseorang…” Intan memeluk Ardian, mencium lehernya, dan berbisik, “Nakalin aku, Mas… aku rela kamu nakalin seperti apapun. Aku rela kamu nakalin bagaimanapun…”
“In… Intan…”
Ardian memejamkan mata. Mereka berdua saling berpagut, berciuman. Awalnya lembut, lama-lama menjadi buas, apa yang dimulai oleh rasa iba, menjadi rasa sayang, dan akhirnya birahi yang tak terkendali. Ardian sudah lupa kalau dia adalah pria yang sudah memiliki istri. Meski dalam hatinya ia terus menerus mengucapkan nama sang istri seperti mantra.
Shinta… Shinta… Shinta…
.::..::..::..::..::.
Intan keluar dari bathroom kamar hotelnya dengan dua handuk yang melilit tubuhnya. Satu di tubuh indahnya, satu lagi di kepalanya, membalut rambut panjangnya yang basah setelah keramas.
Tubuh ibu muda itu berjalan dengan anggun menuju lemari pakaian. Dia lalu mengambil sepasang pakaian dalam dari sebuah koper kecil yang ada di dalam lemari pakaian itu. Sebuah celana dalam mungil berwarna hitam dengan renda di pinggirannya menjadi pilihannya. Celana dalam itu dipadukan dengan sebuah bra dengan warna yang sama, juga dengan renda-renda di sekitar mangkuk busanya yang lucu.
Sambil mengenakan pakaian dalam tersebut, Intan memperhatikan pria yang masih tertidur lelap di ranjang empuk kamar hotel. Pria yang baru saja mendapatkan kepuasan lahir batin dari tubuh indahnya itu masih mendengkur dengan keras. Intan menatap wajah pria yang sebelumnya sudah dianggap seperti saudara sendiri itu dengan lekat.
Ternyata obat tidur itu benar-benar manjur. Capek dikit langsung tepar. Heran aku, dapat dari mana aki-aki itu dapat obat seperti ini? Edan.
Intan menatap laki-laki itu dengan helaan napas panjang. Ada penyesalan di dalam hatinya, tapi ia tahu ia harus melakukan ini. Hanya dengan begini Intan bisa menyusun masa depannya. Hanya dengan seperti ini. Pertahanan yang terbaik adalah dengan menyerang.
Aku minta maaf, Mas. Sekali lagi, aku minta maaf. Dengan terpaksa kamu harus aku jadikan sebagai batu loncatan untukku. Hanya melalui kamulah aku bisa mendapatkan semuanya dan memenuhi ambisiku. Bukan maksudku untuk tidak tahu balas budi, tapi aku membutuhkan apa yang kamu miliki. Jika saja kamu berhasil, cerita ini akan berbeda… sayang sekali kamu tidak lolos dari ujian yang aku berikan.
Seandainya kamu berhasil lolos melalui ujian yang kuberikan, Mas... sebenarnya aku sudah berencana untuk meninggalkan tempat ini bersama anak-anak, pergi jauh dari tempat terkutuk ini ke tempat yang bahkan aku sendiri tidak tahu.
…tapi kamu gagal melalui ujianku.
Sikap baikmu selama ini ternyata tidak tulus, Mas. Kamu menyimpan rahasia di dalam hatimu, meski tidak kamu rasakan dan tidak kamu sadari, kamu ternyata menaruh hati padaku – padahal kamu sudah punya istri cantik dan seksi yang menunggumu di rumah. Bodoh sekali langkahmu, Mas.
Kamu sama saja layaknya seperti pria-pria tua mesum itu.
Collateral damage, kamu berada di tempat yang salah, di waktu yang salah, dan bersama orang yang salah. Kamu seharusnya di rumah bersama istrimu, bukan meniduriku.
Intan mengelus rambut Ardian dan mengecup keningnya.
Sayangnya, hanya sampai di sini saja aku membutuhkanmu, Mas. Terima kasih untuk semuanya. Sekali lagi mohon maaf. Setelah ini, aku akan berjalan sendiri untuk menjalani takdirku sendiri, aku akan bangkit menjadi burung phoenix yang membakar semua .
Dia lalu mengingat-ingat kembali pada kejadian kemarin pagi di saat bapak mertuanya itu memberikan sesuatu kepadanya sebelum dia pergi berangkat bekerja. Bodohnya, dia baru ingat kalau bapak mertuanya itu kan salah satu dari trio Sukir yang sangat disegani di kampungnya. Keluarga yang sangat disegani karena perjalanan hidup mereka yang keras, tidak jauh dari kehidupan preman, dan mungkin juga dunia hitam yang tidak tercium atau diketahui oleh banyak orang. Pantas saja dia bisa mendapatkan obat yang sedemikian manjur.
Aki-aki sialan itu juga pasti pernah menggunakannya padaku tanpa aku ketahui. Dasar sialan.
Intan baru saja selesai mengenakan legging saat ia kemudian melirik ke arah cermin yang ada di lemari baju. Secara reflek dia melenggak-lenggokan tubuhnya. Tubuh yang ramping namun cukup proporsional itu terlihat indah dan menggiurkan. Bahkan cukup mengherankan untuk si pemilik tubuh sendiri.
Tanpa bermaksud untuk narsis, Intan mencoba memahami tubuhnya sendiri. Siapa sangka tubuh yang selama ini dianggap sebagai bencana karena telah membuat bapak mertuanya gelap mata itu kini menjadi senjata utama? Tubuh indah yang hanya terbalut dengan legging ketat dan bra itu kini menjadi aset utamanya yang paling berharga demi ambisi besarnya untuk mendapatkan semua yang diinginkannya.
Apakah wajahku?
Rasa-rasanya aku tidak cantik, meski banyak yang bilang aku termasuk salah satu bidadari di kampung ini tapi aku tidak pernah merasa cantik meski sudah banyak puji-pujian datang. Sepertinya biasa-biasa saja, bahkan kadang terlihat masih seperti bocah perawan.
Lalu tubuhku…
Kenapa semua orang menginginkan tubuhku yang biasa-biasa saja ini? Aku tidak montok, bahkan cenderung kurus. Dadaku juga tidak terlalu besar, walaupun masih sangat kencang dan membusung meski sudah dua kali turun mesin
.
Intan membatin sambil meraba buah dadanya sendiri dari luar bra. Jemari lentik itu lalu turun ke bawah ke pinggang dan meraba perutnya yang ramping pun rata.
Memang sih kuakui, pinggang ini, masih sangat ramping seperti gadis, tidak ada lemak yang nampak. Perutku juga masih rata karena mungkin aku masih sering berolahraga meski hanya terkadang saja jalan pagi, itu pun untuk pergi ke warung. Pantatku juga masih sangat membulat. Siapa yang menyangka kalau ini semua cukup untuk membuat pria-pria itu bertekuk lutut?
Usapan dan belaian pada tubuhnya sendiri itu lalu berakhir pada sepasang bongkahan pantatnya yang membulat.
Ahhh!! Hmmmhh.
Intan mendesah pelan sebelum akhirnya dia menghentikan gerakan tangannya merangsang tubuhnya sendiri. Intan lalu mengambil sebuah dress panjang dengan motif yang sudah dia siapkan dari semalam untuk kepulangannya hari ini. Dress itu lalu menjadi penutup sebagian besar tubuhnya. Intan lalu mengambil ikat rambut dan mengikat rambut panjangnya agar tidak terasa gerah di leher. Terakhir, dia mengambil sebuah kerudung segi empat berwarna senada yang akan menjadi penutup aurat terakhirnya.
Setelah memoles wajah cantiknya dengan riasan sederhana, Intan lalu duduk di tepi ranjang sambil membuka ponsel pintarnya. Wanita cantik beranak dua itu lalu membuka aplikasi pesan singkat dan mencari history pesan dari seseorang.
Orang tersebut adalah Ardian.
Dengan perlahan Intan lalu mengetikan huruf demi huruf yang kemudian terangkai menjadi kata. Kata demi kata yang kemudian terangkai menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat yang kemudian menjadi paragraf.
Dia mengetikkan pesan yang sudah dirancangnya sejak lama.
Semoga Mas bisa menerima kenyataan ini. Jika bisa, maka Mas bisa ikut denganku. Tapi jika tidak, maka Mas akan menjadi lawanku.
Kalimat terakhir yang diketik oleh Intan. Setelah menekan tombol kirim, Ibu muda itu lalu bangkit dan berjalan dengan santai keluar dari kamarnya. Tak lupa tas jinjing yang sudah berisikan surat berharga dari Ardian dia bawa keluar juga. Saat membuka pintu kamar, ternyata di depan kamarnya sudah menunggu seorang pria tua yang bersandar pada dinding. Pria itu berdiri sambil menyilangkan tangannya. Intan yang melihat pria itu langsung menghampiri. Sambil melangkah Intan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
Sepi.
Tanpa ragu ibu muda itu lalu berjinjit dan memberikan dua kecupan manja pada piki kiri dan kanan sang pria tua.
“Tumben, belum apa-apa sudah kasih morning kiss?”
Dua insan berbeda usia itu lalu berjalan beriringan menyusuri lorong kamar menuju lobby hotel. Aura dingin layaknya seseorang yang baru saja melakukan kejahatan terpancar keluar dari wajah dan tingkah laku kedua orang tersebut. Ekspresi penuh kepuasan setelah berhasil mengalahkan lawan terlihat menghiasi paras keduanya.
“Lagi senang aja. Berkat arahan bapak, satu batu loncatan sudah berhasil aku lewati. Satu laki-laki sudah aku taklukkan.”
“Semuanya dia bawa?”
“Semuanya.”
“Heheh. Bodoh sekali. Saat asmara mengambil alih hati dan pikiran, laki-laki tidak ubahnya keledai bodoh. Kamu ambil semuanya?”
“Semuanya.”
“Hahahaha,” pria tua itu geleng kepala, “Kalau aku jadi kamu, mungkin aku tidak akan setega itu. Kamu ini benar-benar…”
“Bukan salahku. Salah dia yang tidak lulus dari ujian yang sudah kupasang, Sejak awal, sejatinya Mas Ardian tidak ubahnya seperti Bapak dan Mertuaku. Sama-sama mesum dan cuma kepikiran soal ngeseks.”
“Hmm. Apakah suatu saat nanti kamu juga akan memperlakukanku seperti itu?”
Intan tersenyum sinis. Siapa tahu?
“Tentu saja tidak, Bapak jauh lebih berpengalaman dari saya tentang hal seperti ini. Berbeda dengan Mas Ardian. Kalau dia kan… polosnya ga ketulungan. Masa dimintain ini itu nurutnya kebangetan? Bukan salah aku juga dong kalau ambil semua kesempatan ini. Salah sendiri jadi orang kok gampang banget percaya banget sama orang. Hukum rimba berlaku. Sudah berani menginginkan istri orang, harus menanggung akibatnya.”
“Aku juga sama saja dong. Aku juga menginginkanmu, sayang. Tapi ya sudah. Kita lihat saja nanti.”
Kedua orang itu menautkan jemari dan saling bergandengan.
“Seberapa banyak dosis yang kamu berikan pada Ardian?”
“Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat dia tertidur sampai beberapa jam ke depan. Tidak baik juga kalau kelamaan apalagi sampai sore, nanti orang hotel bisa curiga. Mudah-mudahan saja dia sudah bangun sebelum masa check out.”
“Bagus. Ya sudah aku ke resepsionis dulu, aku mau check out dari kamarku sendiri. Kamu tunggu di sana saja.”
“Siap, Pak.”
Intan lalu duduk di sofa lobby hotel, tidak jauh dari meja resepsionis. Pandangan Intan lalu menjelajah ke halaman depan hotel. Matanya lalu berhenti pada sebuah mobil low MPV yang sudah sangat familiar di matanya.
Intan menyeringai.
Ya, itu mobil milik Ardian. Mobil yang surat-suratnya sudah dia ambil itu terparkir di salah satu sudut parkiran mobil. Semalam Ia berhasil membuat Ardian menandatangani beberapa surat pengalihan harta kepadanya – tanpa sadar. Tapi bukti hitam di atas putih sudah ia pegang.
Maaf Mas. Aku harus melakukan ini.
Air matanya hampir menetes. Hati nuraninya hampir saja menang melawan egonya demi mencapai ambisinya. Akan tetapi jemari lentiknya segera mengusap air mata yang hendak mengalir itu.
Tidak-tidak. Aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah. Aku harus membiasakan diri untuk menguatkan naluriku menghadapi musuh. Aku harus kejam. Ini hanya langkah awalku demi mencapai apa yang kumau – kesejahteraanku sendiri.
“Kenapa?”
Intan tersentak kaget karena tenggelam dalam lamunan, ia kembali mengusap matanya yang basah dan menggeleng sembari tersenyum.
“Ti-tidak apa-apa.”
“Kamu kepikiran Ardian? Belum terlambat bagimu untuk menghentikan semuanya. Dia bisa dibilang tak bersalah. Bukankah yang seharusnya kamu lawan itu adalah Bapak Mertuamu? Bukan Ardian.”
Tawa aneh keluar dari bibir mungil Intan, “Hahaha, tidak! Tidak mau! Siapa yang kepikiran pria lemah seperti Mas Ardian?”
Pria tua itu tersenyum tanpa melirik ke samping. Sungguhkah?
Intan memahami lirikan pria tua itu. Ia berjalan dengan anggun tanpa peduli.
“Tidak tidak. Tadi aku hanya berfikir, kadang sepertinya masih lebih baik orang seperti Bapak Mertuaku yang blak-blakan menunjukkan sifat buruknya, tidak ada yang ditutupi dan tidak berusaha menjadi munafik. Sedangkan Mas Ardian? Semua kebaikan yang diberikannya selama ini itu ternyata semu. Dia sebenarnya tergoda meski tidak ditunjukkan secara gamblang. Aku masih bisa melihat jati diri dan apa adanya dari mertuaku. Aku langsung tahu dia adalah ancaman. Tapi kalau Mas Ardian? Aku bahkan tidak tahu seperti apa dia sebenarnya.”
“Kalau aku?”
“Pak Wing juga jujur sedari awal kalau hendak memanfaatkan aku. Kita adalah partner. Apapun yang kita lakukan, itu win-win solution untuk kita berdua.”
Pria tua itu mengangguk-angguk, “Baiklah. Kamu mau jalan sekarang?”
Pak Wing tidak mau berdebat panjang lebar dengan Intan.
Sebenarnya dia heran, ibu muda yang sebelumnya polos itu kenapa tiba-tiba bisa berubah dengan cepat seperti ini. Tidak ada lagi sosok Intan yang lemah dan menunjukan sosok keibuan? Yang kadang pasrah dengan dunia. Yang ada sekarang adalah Intan yang seperti penyihir jahat yang ingin menguasai dunia.
Intan mengangguk tanpa ekspresi. Dingin dan tanpa peduli.
Mereka berdua kemudian berjalan dari lobby hotel menuju lokasi mobil Pak Wing terparkir.
“Mau cari sarapan?”
“Sarapan lagi? Enggak ah, masih kenyang aku, Bapak sudah lapar lagi? Kenapa ga makan dulu aja? Kalau lapar ayuk aku temani dulu makan, mumpung belum keluar dari hotel.”
“Bukan begitu, aku hanya kepikiran kamu yang baru saja melayani Ardian, siapa tahu capek dan ingin makan lagi.”
“Capek? Jangan bikin ketawa. Bapak masih jauh lebih lama.”
“Serius? Kamu sedang berusaha menyenangkan hatiku saja kan?”
“Ngapain? Nyenengin bapak itu contohnya dengan cosplay jadi Gita pakai lingerie, bukan memuji lama atau tidaknya menyetubuhi aku.”
“Mulai lagi deh ngeledeknya.”
“Hihihi, maaf Papah, uang jajan aku jangan dipotong yah.”
Pak Wing mendengus, “Iyaaa. Brengsek kamu.”
Intan tertawa. Mereka berdua tiba di mobil dan langsung masuk ke dalam.
“Ngomong-ngomong, kalau balik nama rumah itu biasanya berapa lama ya?”
“Normalnya bisa sampai tiga bulan, tapi tenang aja, kalau kamu bersedia ngeluarin komisi lebih, aku ada kenalan yang bisa bantu jadi dua minggu. Kalaupun kamu tidak ada uang saat ini, aku bisa bantu.”
“Kalau balik nama BPKB?”
“Lebih cepat, paling lama seminggu.”
“Hmm…ya ya ya.”
Mobil pun berjalan meninggalkan area hotel yang berlokasi di kaki gunung mandiri tersebut. Saat sudah berjalan beberapa saat, Intan lalu membuka tas jinjingnya. Tangannya masuk ke dalam dan mengeluarkan sesuatu.
“A-Apa?”
Pak Wing tampak kaget dengan apa yang dikeluarkan oleh Intan. Beberapa potong perhiasan berada di genggaman tangan Intan. Memang hanya beberapa, tidak terlalu banyak. Tapi jika orang lain tahu bagaimana Intan bisa mendapatkan perhiasan itu, pasti tidak akan habis pikir. Begitu juga dengan Pak Wing yang geleng-geleng kepala melihat hal tersebut.
“Kamu ini benar-benar…”
“Bapak jangan lihat aku dengan ekspresi seperti itu, aku tidak pernah meminta, tapi Mas Ardian yang menawarkan.”
“Kerasukan apa sih kamu? Kenapa setega ini?” Pak Wing masih terus geleng kepala, “Iya dia menawarkan diri, tapi kamu memberi kode butuh bantuan, kan?”
“Namanya juga usaha, yang penting tidak ada paksaan, anggap saja semua ini adalah bayaran untuk tubuhku yang dinikmatinya pagi ini, hihihi. Anggap saja menyetubuhi aku itu harganya mahal.”
“Ckckck. Semahal itu?”
“Kemahalan ya?”
“Aku yang jadi takut kalau ekspektasimu menjadi ladies escort juga akan mendapatkan bayaran yang senilai itu. Kamu pemain baru, pelayananmu juga masih harus dilatih terus. Jangan berharap kamu akan langsung dapat reward ala sultan.”
“Hahaha, tenang saja pak, tidak akan sampai kesana. Tapi Bapak benar ya mau jadi backing aku? Minimal bantu dari belakang melawan mertuaku dan keluarga besarnya yang preman kampung itu.”
“Aku pasti akan mendukungmu untuk mendapatkan ambisimu, asalkan kamu juga mendukungku bekerja seperti apa yang kupinta. Tapi kalau untuk melawan mafia kampung seperti keluarga Sukir, kita lihat dulu situasinya. Dunia bawah tanah itu pilihannya ada tiga, menang, kalah, atau jalan bersama. Seharusnya kamu yang jadi mediator antara aku dan mertuamu. Bukankah semalam kamu sudah merencanakan semuanya? Kenapa tiba-tiba ingin melawan kembali?”
“Entahlah, masih bimbang juga antara menjalankan rencana semalam untuk kebaikan bersama atau melawan mereka semua. Tapi betul juga. Kita lihat saja nanti bagaimana baiknya. Biarkan semuanya mengalir aja. Melawan atau tidak juga sama kotornya.”
“Kalau saranku sih jalankan dulu saja rencana semalam. Bangun kekuatan dulu. Ukur juga kekuatan lawan. Baru pikirkan kembali langkah apa yang selanjutnya harus diambil. Atur perlahan kekuatan, perkirakan gerakan lawan. Jangan melawan gajah jika hanya punya pasukan semut, jangan buang makanan jika hanya ingin menyeberang sungai dengan sebatang kayu karena di kejauhan siapa tahu ada jembatan.”
Intan merenung sejenak, tapi kemudian tersenyum manis, “Hehehe, siap Papah…”
“Oh? Papah?”
“Sebelum minggu depan, kayaknya aku mau deh jadi Gita lagi, hihihi.”
“Seru ya?”
“Hehehe, gara-gara Bapak juga sih.”
“Mau lagi?”
“Mau, tapi maunya kaya semalam.”
“Semalam?”
“Iya, dua lawan satu, satunya lagi aku maunya kayak pekerja-pekerja kasar gitu. Mereka kuat dan memuaskan. Selama ini aku hanya main dengan laki-laki loyo yang bahkan tidak membuatku orgasme.”
“Pekerja kasar? Sepertinya ada yang mulai ketagihan nih.”
“Hanya berusaha untuk semakin membiasakan diri aja untuk ke depannya, ini tidak akan bisa terhindari kan? Apalagi yang akan kulayani juga pasti laki-laki tua loyo mesum. Jadi mending aku mencoba mencari pelampiasan dan menikmati apa yang datang.”
“Kenapa pekerja kasar? Kenapa tidak seseorang yang dikenal?”
“Tidak mau. Aku mau yang random dan tidak mengenaliku, yang seumuran Bapak juga boleh. Mereka hanya mau memek dan hanya itu yang mau aku berikan, tidak lebih.”
“Halah, ya udah. Gampang kalau memang maumu begitu.”
“Tapi hari ini aku mau libur dulu kerjanya, boleh ya Pak? Capek tau dari kemarin ga berhenti-berhenti dipakai sama kalian-kalian. Sebel banget.”
“Hahaha, apa sih yang enggak buat kamu, aku antar pulang sekarang?”
“Jangan pulang pak.”
“Terus mau kemana?”
“Kalau ga ngerepotin, tolong antar saya ke rumah sakit, aku mau jenguk ibu.”
“Baiklah.”
.::..::..::..::..::.
Intan tidak menyukai rumah sakit, tidak pernah.
Dia punya trauma masa lalu dengan rumah sakit. Trauma kematian keluarga, trauma karena kecelakaan mas Hendro, trauma melahirkan tanpa ditemani siapa-siapa, dan beragam pengalaman buruk lain yang membuatnya muak berjalan di koridor rumah sakit. Kalau tidak karena terpaksa dia tidak ingin menyusuri tempat ini.
Itu sebabnya setelah tiba di rumah sakit, Intan langsung buru-buru menuju kamar ibu mertuanya dirawat karena tidak ingin berlama-lama. Ternyata saat itu kebetulan ada Heni sang adik ipar dan Rudi suaminya yang sedang menunggu ibu mertua yang tengah terlelap.
��Eh, Mbak Intan.”
“Hai, Hen.” Intan cipika-cipiki dengan sang adik ipar, dia berbisik-bisik karena tidak ingin mengganggu istirahat sang ibu mertua, “Kondisi ibu gimana?”
“Udah baikan, Mbak. Kalau stabil terus sih besok seharusnya sudah boleh pulang,” balas sang adik ipar yang langsung menyalami Intan.
“Ibu sudah lama sare-nya?”
“Barusan, abis minum obat tadi, Mbak.”
“Oooh. Kalau kamu? Udah lama kamu Rud?” tanya Intan lagi pada Rudi, suami Heni.
“Dari pagi tadi, mbak Intan,” balas suami Heni tersebut.
Tanpa sepengetahuan istrinya, Rudi curi-curi pandang ke arah Intan. Intan bukannya tidak sadar akan hal tersebut, tapi dia cuek saja dengan sikap dari suami adik iparnya itu. Dari pertama dulu memang Intan sudah sadar dengan gelagat dan gerak-gerik pria ini yang kadang membuatnya jengah.
Huh!! Masih sama saja seperti dulu. Ada istri masih saja matanya jelalatan. Ga beda jauh sama bapak mertuanya. Keluarga kok begini semua.
Namun karena selama ini paling jauh Rudi hanya berani curi-curi pandang ke arah tubuhnya, tidak berani berbuat kurang ajar yang keterlaluan, Intan mendiamkannya saja.
“Alhamdulillah kalau memang besok ibu sudah boleh pulang, aku jadi lebih tenang sekarang, anak kalian apa kabar? Sama siapa sekarang?”
“Kabar baik, Mbak. Sekarang mereka sedang bersama Mbah-nya, nanti siang atau sorean mas Rudi pulang kok. Jadi anak-anak ada yang jaga.”
Intan mengangguk paham, “Maaf ya aku belum bisa gantiin buat jaga ibu, yah kamu tahu sendiri aku perlu cari pinjaman kesana kemari buat biaya rumah sakitnya. Aku juga harus cari lemburan untuk mencukupi kebutuhan di rumah.”
“Ah ga apa-apa kok mbak, ini kami yang makasih banget kemarin Mbak udah ngurus semuanya, justru kami yang ga bisa bantu apa-apa untuk biaya rumah sakit. Kami yang seharusnya minta maaf.”
“Ga usah dipikirin, Hen. Sudah sepantasnya kita saling bantu.”
“Ngomong-ngomong tadi ke sini sama siapa, Mbak? Bapak?”
Intan menggeleng, “Ada tadi diantar sama teman kerja.”
“Oohh.”
Obrolan pun berlanjut dengan topik yang lebih ringan seputar kehidupan sehari-hari. Hingga saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Intan pun mulai merasa lapar. Ia melihat baik Heni dan Rudi hanya memegang tumbler plastik. Tidak ada makanan ataupun buah di meja.
“Kalian belum makan kan?” tanyanya.
Heni tersenyum malu-malu, “Belum sih mbak, kenapa?”
“Aku beliin makan ya? Sekalian, aku juga lapar. Aku beli bungkus aja nanti makan bareng di sini. Mau kan?”
Rudi dan Heni saling berpandangan, tentu saja mereka tidak akan menolak tawaran dari sang Kakak Ipar yang jelita itu.
Rudi pun maju, “Boleh, Mbak. Sini aku saja yang beliin. Mbak istirahat di sini saja.”
“Udah ga usah, aku aja yang beli. Kalian mau makan apa?”
“Eh ga enak lah mbak, biar mas Rudi saja yang beli.” Heni mencoba meringankan pekerjaan Intan.
“Wes toh, tidak apa-apa. Kalian mau makan apa?” Intan tersenyum sangat manis. Wajah Rudi yang sedang menatapnya tanpa jeda langsung memerah karena malu, entah kenapa hari ini Intan terlihat begitu… sempurna.
“Atau ya udah biar mas Rudi ga nganggur biar ditemenin ke depan.”
“Ayok aja,” balas Rudi. Kapan lagi ya kan bisa berduaan dengan Mbak Intan pikirnya.
“Terserah aja, ya udah kamu mau makan apa Hen?”
“Hehehe, samain aja lah sama Mbak Intan.”
“Ya udah, yuk Rud,” ajak Intan. Rudi pun langsung bergegas bangkit. Kedua orang itu lalu berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit dari kamar bu Indri dirawat hingga ke depan.
“Hmmm… Makan apa ya enaknya?” tanya Intan.
“Hmm…kalau mau yang kenyang di seberang ada Nasi Padang. Kalau mau yang seger-seger di sampingnya ada soto. Kalau mau yang ringan-ringan di samping kayaknya ada siomay batagor gitu.”
“Nasi Padang mau? Kalau soto sepertinya repot nanti kalau dibungkus.”
“Boleh aja aku mah.”
“Ya udah Nasi Padang saja ya? Rendang atau ayam?”
“Siap mbak. Sama saja. Ayam oke, rendang pun boleh.”
Rudi dan Intan pun menyeberang jalan. Jalanan siang itu sepi, maklum jalanan bukan jalan perkotaan. Namun tanpa mereka sadari saat sudah hampir sampai di seberang, tiba-tiba datang motor yang melaju dengan sangat cepat ke arah mereka berdua.
Klakson motor berbunyi dengan kencangnya!
Shwwwwwnnnnng!
Intan yang kaget tidak sempat menghindar, hanya teriakan yang keluar dari mulutnya. Rudi yang lebih sigap masih sempat menghindar dan menarik lengan Intan untuk menghindar ke trotoar jalan. Namun akibat dari itu tanpa disengaja tubuh Intan sekarang jatuh ke pelukan Rudi. Tubuh indah ibu muda itu mendarat dengan sempurna di pelukan sang adik ipar.
Untuk sesaat waktu terasa berhenti. Rudi merasa beruntung karena dapat dengan jelas merasakan pantat bulat Intan menempel erat pada selangkangannya. Begitu juga dengan tangannya yang tanpa sengaja menangkup buah dada sang ibu muda.
“Eh! Ma-maaf mbak, ga sengaja,” ucap Rudi takut. Dia langsung buru-buru melepas pelukannya. Karena canggung, Rudi pun mengalihkan perhatiannya, “Woiii! Bawa motor hati-hati dong! Sembarangaaaan ajaaa! Jancoooooeeek!” Teriak Rudi sembari mencoba mengejar si pengendara motor, namun percuma juga karena motor tersebut sudah jauh. Adik ipar Intan itu hanya berhasil berjalan beberapa langkah.
Intan melingkarkan tangannya untuk menahan lengan Rudi yang kekar. “Sudah-sudah, ga usah nambah masalah, yang penting kita ga kenapa-napa.”
Rudi yang terengah-engah menatap Intan.
Intan pun tersenyum, “Makasih ya stadi udah reflek narik Mbak ke pinggir. Kalau nggak cepat, tambah panjang urusan kita di rumah sakit. Bisa-bisa nambah pasien.”
Rudi mendengus, “Habisnya itu orang ngawur banget bawa motornya.”
“Sudah biarin aja, mungkin lagi terburu-buru. Siapa tahu istrinya hendak melahirkan. Sekali lagi makasih ya.”
Luar biasa memang Intan, selalu berpikiran positif meskipun hampir dicelakakan oleh orang lain, “Iya Mbak sama-sama.”
Wajah Rudi menjadi sangat merah saat Intan menggandengnya menjauh dari lokasinya hampir tertabrak.
“A-Aku juga mau minta maaf, Mbak. Ta-tadi ga sengaja… emhh anu… maksudku… tadi tanganku tidak sengaja…”
Intan tersenyum lagi, “Apaan sih! Kan tidak sengaja! Sudah ga usah dipikirin. Yang penting kita sama-sama selamat. Ya udah yuk keburu laper, takutnya Heni sudah nungguin, hehehe.”
“Iya, Mbak.”
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju warung nasi padang yang berada di seberang rumah sakit. Intan yang sejak tadi berusaha untuk bersikap tenang sebenarnya dalam hati juga kaget dan takut. Yah namanya perempuan pasti takut dengan hal tak terduga yang bisa terjadi kapan saja di jalan. Akibatnya tanpa dia sadari saat berjalan tersebut menggandeng lengan Rudi. Naluri kewanitaannya yang lemah dan merasa butuh perlindungan membuatnya mencari pegangan terdekat agar merasa aman.
Di sisi lain Rudi yang sebenarnya kaget dengan perubahan sikap Intan mencoba untuk bersikap tenang. Ada perasaan tegang dan deg-degan saat berada di dekat kakak iparnya. Belum lagi dengan lengannya yang digenggam erat oleh sang kakak ipar.
Ini bukan seperti kakak dan adik. Ini seperti seorang wanita dan kekasihnya.
Itu membuat Rudi merasa senang dan bahagia dalam hati.
Setelah selesai membeli makan, mereka berdua langsung balik menuju kamar tempat Bu Indri dirawat. Sewaktu sampai di rumah sakit kembali, Intan langsung menceritakan kejadian yang hampir mencelakakan mereka berdua kepada Heni. Rudi yang mendengarnya tentu saja langsung ketar ketir. Tapi untungnya Intan masih cukup pintar menjaga perasaan sang adik ipar. Ada beberapa bagian yang tentu saja dia potong.
“Astaga! Seram banget! Betul yang diceritakan Mbak Intan, Mas?” tanya Heni.
“Ya begitu lah, mau dikejar sudah jauh. Jengkel banget aku.”
“Tapi kalian ga kenapa-napa kan?”
Rudi menggeleng.
“Syukurlah, yang penting kalian ga kenapa-napa biarin aja itu orang.”
“Iya, biarin aja lah, yang penting ga kenapa-napa, males juga kalau urusannya jadi panjang, ya udah yuk makan dulu.”
Mereka bertiga pun makan bersama. Sambil bercerita kembali tentunya. Ternyata Heni dan Rudi tidak seburuk penilaiannya selama ini. Intan merasa kedua adik iparnya ini sebenarnya orang baik. Hanya saja mungkin karena alasan ekonomi membuat kedua orang ini terkesan cuek dan tidak bisa membantu apa-apa di tengah kesulitannya selama ini. Kondisi mereka sebenarnya sama saja, dan Pak Sukirno tidak ada andil apa-apa untuk mengangkat derajat Hendro dan adiknya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat. Bu Indri pun juga sudah bangun dan sudah ngobrol panjang lebar dengan Intan. Ibu setengah baya itu bercerita panjang lebar tentang rasa kangennya pada kedua cucunya.
Intan melirik keluar, “Kayaknya sudah tidak terlalu panas udara di luar. Sudah waktunya aku pulang.”
“Mbak pulang sama siapa?” tanya Heni kemudian.
“Sendiri, naik ojek paling, kenapa?”
“Apa ga mahal mbak? Dari sini ke rumah?”
“Ya mau gimana lagi? Tidak apa-apa aku masih ada dana kok. Masih cukup untuk pulang ke rumah.”
“Hmm… gimana kalau bareng Mas Rudi saja?”
“Lho? Memangnya kamu sudah mau jalan juga, Rud?”
“Belum sih.”
“Tuh, belum mau jalan dia.”
“Ga peka banget sih mas, anterin mbak Intan lah, pulang sekarang atau sore sama saja.”
“Iya In, kamu pulang bareng Rudi saja, hitung-hitung menghemat,” lanjut Bu Indri.
“Hehehe, ya aku ayok aja, ya udah aku jalan sekarang aja deh. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal dulu untuk nemenin Ibu?”
“Halah, besok juga ketemu lagi. Sudah pulang sana sekalian anter mbak Intan. Salam buat anak-anak. Bilang saja Bunda besok pulang.”
“Beneran ga apa-apa?” tanya Intan pada Heni dan Rudi.
“Memangnya kenapa, Mbak?” tanya Heni.
“Agak muter kan jalurnya? Takutnya Rudi kejauhan.”
“Muter dikit ga apa-apa, paling nambah bensin, daripada nambah ongkos ojek, udah sama Mas Rudi aja, Mbak.”
“Ya udah kalau begitu, yuk Rud.”
Mereka berdua pun pamitan.
Saat mereka berjalan menuju parkiran motor, sebenarnya masih ada rasa canggung di antara mereka berdua. Tidak banyak kata yang terucap. Namun keduanya mencoba untuk bersikap seperti biasa. Rudi terlebih lagi, sesekali dia melirik ke arah dada Intan yang tadi sempat ia remas. Entah kenapa ia ingin melakukannya lagi. Tapi tentu saja itu tidak mungkin terjadi.
Empuk dan kenyal sekali payudaramu, Mbak Intan.
Namun saat hendak naik motor, Intan lupa sesuatu. Dress yang dikenakannya sebenarnya tidak ketat, namun tidak cukup lebar untuk bisa membuatnya bisa duduk ke depan. Alhasil mau tidak mau dia harus duduk menyamping. Intan agak mengutuk keputusannya mengenakan pakaian yang tidak praktis itu.
Aduh. Semoga tidak pegal kalau harus duduk menyamping sampai rumah.
“Pelan-pelan aja yo Rud, aku ga bisa duduk ngadep depan soalnya, harus nyamping.”
“Woke siap, aman mbak.”
Motor pun melaju, menyusuri aspal jalanan kecamatan. Rudi mematuhi perintah Intan. Motor yang dikemudikannya berjalan dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu kencang, tapi tidak pelan.
Motor itu terus melaju. Kiri kanan jalan yang tadinya berjejer rumah warga dan juga warung-warung sembako dan jajanan lainnya mulai berkurang satu persatu. Perlahan terus berkurang hingga tidak ada sama sekali. Perjalanan sudah mulai memasuki arah lereng gunung Mandiri, yang artinya mulai mendekat ke Kampung Growol. Kiri dan kanan jalan sudah berganti menjadi pepohonan dan ladang perkebunan.
Semua berjalan dengan lancar hingga suatu ketika tiba-tiba datang dari arah berlawanan, arah atas, sebuah mobil yang hendak menyalip kendaraan di depannya. Karena jalan sedikit menikung mobil tersebut tidak dapat melihat adanya motor yang dikendarai Rudi dari arah berlawanan.
Posisi kendaraan tersebut serba tanggung. Namun sang supir sepertinya mengambil keputusan untuk melibas tikungan tersebut tanpa peduli dengan kendaraan yang dikemudikan Rudi dan Intan.
Rudi sempat oleng dan keluar dari aspal, namun untungnya suami dari Heni tersebut masih bisa mengendalikan motornya.
AAAAAAHHHH!!!
Intan yang kaget bukan kepalang berteriak sekencang-kencangnya sambil dengan secara reflek memeluk erat tubuh Rudi dari belakang. Tentu saja dia reflek seperti itu, karena kalau tidak dia sendiri yang akan jatuh ke jalan.
TIIINNN!!!
Suara klakson motor Rudi yang dinyalakan dengan panjang. Kembali Rudi tersulut emosinya. Bagaimana tidak, jika saja dia tidak sigap, mungkin dirinya dan Intan sudah ditabrak oleh mobil itu. Atau jika misal dia jatuh dan tergelincir, bisa saja dia akan terjun ke jurang yang ada di pinggir jalan.
“Bajingaaaaaaaaan!!!”
Kali ini Rudi tidak bisa menahan umpatan keluar dari mulutnya. “Wedus! Asu! Mentang-mentang bawa mobil ugal-ugalan! Mbak? Mbak Intan? Mbak Intan ga kenapa-napa kan?”
Meskipun mencak-mencak namun Rudi masih mencoba menanyakan keadan istri dari kakak iparnya itu. Namun ada sesuatu yang aneh. Setelah sekian detik dia baru sadar kalau Intan masih dalam kondisi memeluknya dengan erat sambil menyandarkan kepala pada punggung Rudi. Matanya tertutup tidak berani melihat keluar.
“Mbak? Mbak? Mbak ga apa-apa kan? Tenang Mbak tenang.”
Setelah beberapa kali badannya digoyang-goyangkan oleh Rudi, dan mendengar suara laki-laki tersebut, akhirnya pikiran Intan mulai kembali tersadar.
“Eh, kita ga kenapa-napa kan? Ga jadi ketabrak kan?”
“Ga mbak, aman, alhamdulillah kita berhasil menghindar, emang kampret itu supir.”
“Sudah-sudah, jangan marah-marah mulu, yang penting kita selamat ga kenapa-napa,” balas Intan yang setelah pikirannya mulai kembali baru sadar dengan posisinya yang memeluk Rudi. Belum lagi dengan posisi buah dada kenyalnya yang menekan kuat-kuat ke punggung Rudi. Ibu muda itu pun akhirnya melepas pelukannya pelan-pelan dan membuat sedikit jarak dengan Rudi, meskipun masih tetap duduk di jok belakang.
“Iya syukur alhamdulillah masih diberi keselamatan, mbak Intan masih shock ga? Mau lanjut jalan atau istirahat dulu? Itu di sana ada warung siapa tau mau minum dulu.”
“Jujur masih agak shock sih, istirahat dulu aja kali ya,” balas Intan lalu turun dari motor.
“Lah kok malah turun?” tanya Rudi bingung.
“Aku jalan aja.”
Jarak dari tempat Rudi dan Intan berhenti dengan warung yang dimaksud oleh Rudi memang tidak terlalu jauh, mungkin hanya dua puluh atau tiga puluh meter. Intan merasa lebih tenang dengan berjalan kaki untuk menuju warung tersebut dibanding dengan terus duduk di boncengan motor Rudi.
Jantung Intan masih berdetak cukup kencang. Namun yang tidak disadari baik oleh dirinya ataupun Rudi adalah sebab dari jantungnya yang berdetak dengan kencang. Memang betul Intan hampir saja kehilangan nyawanya akibat mobil yang ugal-ugalan tadi, dan kalau bukan karena Rudi yang cekatan menghindar, entah akan seperti apa nasib mereka berdua siang menjelang sore hari ini. Tanpa disadarinya sendiri Intan merasa nyaman ketika ada seorang pria yang mampu menjadi pahlawan untuknya. Jiwa kewanitaannya meronta-ronta untuk terus diayomi.
Sudah dua kali Rudi menyelamatkannya dari marabahaya hari ini. Kebetulan atau…?
“Monggo pinarak, Mas Mbak,” sapa ramah oleh pemilik warung. “Mari mari silakan duduk.”
“Nggih, Bu,” balas Intan dengan ramah juga.
“Ngersakne nopo Mbak? Daharan? Mau makan apa?”
“Saya minum saja, Bu. Saya ambil Aqua-nya satu. Rud, kamu mau apa? Kopi?” tanya Intan sambil mengambil sebotol air mineral.
“Kelamaan ga?”
“Santai aja kok ga ada yang nungguin.”
“Ya udah, kopi hitam boleh deh,” balas Rudi sambil masuk ke warung tersebut.
“Kopi hitam setunggal nggih, Bu.”
“Oh… nggih, Mbak. Sekedap nggih. Ditunggu sekedap.”
Intan lebih memilih duduk di bangku yang ada di luar sementara Rudi entah mencari apa di dalam warung. Tidak berselang lama, Rudi pun keluar dengan membawa sepiring gorengan. Warung tersebut ternyata selain menjajakan makanan berat juga menyediakan beberapa makanan ringan termasuk aneka jenis gorengan.
“Gorengan, Mbak,” tawar Rudi.
“Makasih, tapi masih kenyang aku,” balas Intan. “Tadi nasi Padangnya banyak.”
Rudi lalu mengambil sepotong tempe, cabai rawit hijau, dan melahapnya. Tanpa disadari Rudi, ibu muda cantik di sampingnya itu memperhatikan dirinya.
Ya, Intan memperhatikan Rudi. Mulai dari perawakan wajahnya yang terlihat sangar, penuh dengan bopeng bekas jerawat. Kulitnya yang cukup gelap karena memang tidak jarang suami sari adik iparnya itu bekerja serabutan. Tangannya yang kekar dengan urat-urat yang terlihat jelas karena sering melakukan pekerjaan berat ataupun kasar – bisa disebut saja, seorang kuli dan tukang bangunan.
Sesaat Intan merasakan perasaan yang aneh. Seperti rasa kagum tapi kagum yang tidak biasa. Setelah dua hari dua malam yang panjang yang dia lalui dengan para pria tua hidung belang itu, Intan merasakan sensasi yang aneh saat berada di dekat pria seperti Rudi.
Rudi memang sedikit lebih muda darinya. Namun perlakuan yang dia dapatkan dari Pak No dan juga security tempat hiburan semalam yang notabene adalah pekerja kasar membuatnya memiliki sudut pandang yang lain terhadap pria-pria seperti mereka.
Memang betul mereka orang yang kasar. Orang yang urakan. Akan tetapi… ternyata mereka juga bisa bersikap lembut, bisa menunjukkan perhatian lebih dibandingkan suami dan kekasih, bisa menjadi pelindung bagi wanita lemah sepertinya, dan yang pasti, bisa memberikan kepuasan lebih setelah sekian lama tidak pernah dia dapatkan dari sang suami.
Kenapa aku jadi mikirin bocah ini sih? Huh! Gara-gara Pak No dan Pak Wing sepertinya pria muda yang rupawan bukan lagi menjadi prioritas untuk urusan kepuasan. Kenikmatan jauh lebih penting dibandingkan penampilan. Tapi, bisa aku manfaatkan ga ya Rudi ini?
Setelah beberapa saat diperhatikan, Rudi pun sadar dengan perubahan sikap istri kakak iparnya tersebut.
“Kenapa Mba? Kok ngeliatin gitu?”
“Ga apa-apa, lagi kepikiran aja, hari ini kamu sudah dua kali nyelametin hidupku.”
“Bukan nyelametin hidup Mbak saja, tapi nyelametin hidup kita berdua, kalau aku ga sigap tadi bukan Mbak saja yang celaka, aku juga, jadi itu naluri bertahan saja sebenernya.”
“Makasih ya.”
“Sama-sama mbak, ga usah dipikirin lah.”
“Ngomong-ngomong kamu kerja apa sekarang? Ini lagi ga kerja atau gimana?”
“Yah masih seperti biasalah mbak, serabutan, kadang ikut orang kerja bangunan, kadang kerja yang lain, apa aja, ini lagi kosong aja jadi bisa rutin ke rumah sakit, kenapa mbak?”
“Ga apa-apa, kalau aku perhatikan kamu sebenarnya orang yang baik, nanti deh kalau di tempatku ada lowongan aku kasih rekomendasi, kamu kerja apa aja mau kan?”
“Contohnya?”
“Ya mungkin sopir, cleaning service, atau security gitu? Kamu bisa nyetir kan? Mau ga? Biar pendapatan mu tetap juga.”
“Ya mau lah mbak, tapi maaf nih - memangnya sebelumnya Mbak ngira aku bukan orang baik-baik ya? Hehehe, wajar sih tampang preman seperti ini pasti dikira bukan orang baik-baik.”
“Eh bukan begitu,” balas Intan cepat merasa tidak enak sambil menepuk bahu Rudi. “Maksudku…”
“Apa?”
“Hehehe, ya mungkin seperti itu juga sih tadinya, hehehe.”
“Benerkan?” Rudi tertawa, “Tapi ga apa-apa mbak, aku sih ga peduli penilaian Mbak seperti apa, yang penting aku gak berbuat jahat ke mbak ataupun Heni dan keluarga, cuma ya memang saat ini aku belum bisa membahagiakan mereka semua. Boro-boro nyenengin, buat hidup sehari-hari aja pas-pasan.”
“Minimal tetap jadi orang baik, dan bertanggung jawab sama anak istri, seberapapun kamu bisa nyenengin mereka kalau ikhlas pasti mereka juga akan senang.”
“Siap Mbak Intan yang… eh, Mbak-ku…”
“Hmm? Yang apa? Kok ga jadi?”
“…yang cantik, hehehe.”
“Tuh kan, baru dipuji bentar jadi orang baik udah mulai.”
“Mulai apa? Kan aku cuma bilang Mbak cantik, memang salah? Emang Mbak ga cantik? Memang ada orang yang kalau melihat Mbak ga nganggep mbak cantik?”
“Eh ya ga salah sih, tapi…tapi maksudku tuh awas ya kalau genit sama perempuan lain, kalau nakal di belakang Heni, tak laporin kamu.”
“Hahaha, siap mbak.”
Tanpa disadari, diantara mereka berdua saling senyum. Rudi merasa senang karena ternyata istri kakak iparnya yang biasa terlihat jutek dan judes itu bisa diajak bercanda juga. Ternyata istri kakak iparnya itu supel juga dalam berkomunikasi dengannya. Di sisi lain Intan juga merasa ada satu pria lagi yang mungkin kedepannya bisa dimanfaatkan. Seperti dugaannya, suami dari adik iparnya itu tidaklah polos-polos amat, apalagi alim, sangat jauh. Kalaupun nanti harus mengorbankan tubuhnya untuk dinikmati - kenapa tidak? Demi mewujudkan semua ambisinya Intan sudah membulatkan tekad dan niat. Tak ada jalan mundur, toh saat ini dia sudah terlanjur kotor.
Tidak sampai berselang lama, sampai kopi Rudi habis dan pria itu menghabiskan dua batang rokok, mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Guna memperlancar rencananya agar bisa semakin merekatkan ikatan dirinya dengan Rudi, saat dibonceng Intan sengaja untuk berpegangan di pinggang sang adik ipar. Meskipun juga tidak sampai berpelukan seperti saat hampir tertabrak tadi. Pelan-pelan saja pikirnya. Jaga image itu juga penting. Membuat Rudi penasaran terhadap dirinya itu juga perlu.
“Maaf ya Rud aku pegangan, masih takut setelah kejadian tadi aku.”
“Siap mbak, aman.”
Tentu saja aman bagi Rudi. Tidak ada masalah bagi dirinya. Bahkan kalau mau pegangan lebih erat lagi monggo saja. Tapi tentu Rudi tidak mengucapkan itu. Dia juga berusaha menjaga kesan yang baik di mata Intan.
Pelan-pelan saja pikirnya. Masih banyak waktu.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *