Search

BAGIAN 31 B SESAAT KAU HADIR

BAGIAN 31 B SESAAT KAU HADIR

Motor Rudi berhenti tak jauh dari gerbang rumah Intan.

“Kamu yakin tidak mau masuk, Rud?” tanya Intan lembut, “aku buatin teh dulu biar hangat perutnya.”

Wajah ibu muda yang jelita itu terlihat temaram di bawah lampu redup jalanan tepat di depan rumah Pak Sukirno. Suasana kampung yang sudah sepi sore itu membuat kondisi antara syahdu dan mencekam, dengan hanya adanya Intan dan Rudi saat itu, dunia terasa menjadi milik mereka berdua - atau setidaknya itu yang dipikirkan oleh Rudi.

Rudi meneguk ludah.

Gawat memang kakak iparnya ini. Bagaimana bisa ada makhluk semolek ini di tengah kawasan yang seterpencil ini? Nggak cocok banget. Intan seharusnya berada di bawah, di kota, bekerja di perusahaan terkenal, dan hidup mewah. Ia seharusnya bersanding dengan eksekutif muda yang punya kuasa, bukan tinggal di antah berantah seperti ini.

Wajahnya yang jelita dengan tubuh yang indah bagaikan oase di lereng Gunung Mandiri. Lihat kaki jenjang itu, aduuuh. Rudi kesemutan hanya membayangkan bisa mengelus paha mulus milik sang Kakak Ipar.

Rudi memejamkan mata sejenak dan membukanya kembali. Entah kenapa dia merasa dia akan menyesali ini. “Ti-tidak, Mbak. Aku turun saja. Takut kemaleman sampai rumah lagi. Aku pamit ya, Mbak.”

“Oh gitu? Ya sudah. Makasih banyak ya, Rud.” Senyum indah menghias wajah ayu Intan.

Kembali Rudi meneguk ludah. Ia mengangguk dan berbalik.

Sempat ia kesal karena harus pulang.

Dalam hati kecilnya, dia ingin bisa bersama Intan.

Intan menyaksikan sang adik ipar meninggalkan rumah dengan perlahan. Tak perlu jadi ahli untuk melihat Rudi terus saja memperhatikannya dari spion motornya. Bahkan ketika jarak mereka sudah mulai jauh.

Cukup, Intan. Cukup.

Intan membuka pintu rumah. Ia menyapa dengan mengucapkan salam. Ibu muda itu terhenyak karena saat membuka pintu, ada dua orang pria tua yang sedang duduk di ruang tamu. Dua pria itu terlihat sedang berbicara serius dengan Bapak Mertuanya. Ketiga laki-laki tua yang sedang duduk di ruang tamu menatap Intan dengan wajah serius.

Tamu? Siapa mereka?

Intan mulai curiga dengan kehadiran tamu-tamu yang ada di ruang tamu itu. Siapapun yang diundang oleh Pak No, jelas bukan orang baik-baik. Ibu muda itu mengerutkan kening. Tapi ia tetap berusaha sopan, “Eh, ada tamu rupanya,” Intan mencoba untuk menyapa.

Dengan langkah anggun Ibu Muda itu mendekat ke arah Pak No dan membungkukkan badan untuk mencium tangannya. Normal-normal saja dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Kalau di hari-hari biasa mana mau dia menyapa dengan sopan seperti itu pada Bapak Mertuanya.

“Iya nih, Nduk. Ini lho ada si Hasbi dan Mas Wier.”

Tanpa disuruh Intan berinisiatif menyalami dua pria tua tamu bapak mertuanya itu, sama seperti sebelumnya, ia juga mengecup tangan mereka berdua dengan hormat.

Pak Hasbi dan Mbah Wier saling bertatapan, lama tak berjump karena Intan jarang keluar rumah, bisa-bisanya menantu Pak No itu justru terlihat semakin mempesona? Ini beneran nih? Atau mereka saja yang mabuk kecubung?

Saat bersalaman, tak henti-hentinya Pak Hasbi dan Mbah Wier menatap Intan dengan tatapan takjub dan terpesona. Tentu saja sebenarnya mereka berdua sudah beberapa kali melihat dan bertemu dengan Intan, namun belum pernah sedekat ini apalagi bersalaman secara langsung. Ternyata menantu pak No itu sungguh semakin molek dan punya daya tarik seksual yang tinggi.

Edyaan!! Ternyata memang benar-benar cantik dan menggairahkan. Cantiknya sih sama, tapi body-nya jauh lebih menggoda dari Shinta yang ramping. Batin Pak Hasbi dalam hati, ia mulai membandingkan kemolekan sang ibu muda dengan ibu muda lainnya yang menjadi idaman hatinya.

Tapi ia tidak sendiri, Mbah Wier pun memikirkan hal yang sama. Mereka berdua saling bertatapan dengan pandangan mesum dan cabul. Saling memandang dengan tatapan yang menggambarkan kalau masing-masing paham tentang apa yang melintas di kepala mereka.

“Podo-podo ayune cuk!” ucap Pak Hasbi kelepasan tak mampu menahan mulutnya.

“Hah? Sama-sama cantik? Maksud Bapak apa ya?” tanya Intan yang terkejut.

“Eh, ah enggak kok Mbak, ternyata Mbak Intan memang benar cantiknya tak kalah dengan ibu-ibu penghuni cluster, sesuai yang sering dibanggakan oleh Pak No. Hehehe,” Pak Hasbi mengutuk dirinya sendiri yang suka asal.

“Oalah… Bapak cerita apa saja, Pak? Jangan samakan saya dengan ibu-ibu penghuni cluster lah, Pak. Saya tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan mereka, mereka cantik-cantik dan selalu perawatan, lha saya? Kalau tidak kerja ya mengurus anak-anak. Mana sempat saya perawatan. Pasti beda dibandingkan ibu-ibu di cluster kan? Ada-ada saja Bapak ini.” Intan tersenyum manis.

“Ya masa ga percaya toh Mbak, saya ini serius loh,” Pak Hasbi mencoba memberikan argumennya.

Pak No menepuk lutut pria tua itu, “Sudah-sudah. Lha kamu tadi pulang sama siapa, Nduk? Habis dari rumah sakit, tah?”

“Saya pulang dianterin sama Rudi, Pak.”

“Loh lha endi wonge? Mana orangnya? Kok ga mampir?”

“Iya buru-buru katanya, kayaknya ada kerjaan.”

“Oh gituuuuu, dasar mantu semprul, ke rumah mertuanya masa ga mampir.”

“Ya kan ada kerjaan, Pak. Ya udah saya masuk dulu ya, Pak, sudah kangen sama anak-anak. Monggo Pak Hasbi, Mbah Wier. Saya masuk duluan…”

“Hayah. Anakmu masih di rumah Yu Karti. Paling nanti selepas maghrib baru diantar.”

Intan kembali merasa aneh, kok menitipkan anak-anaknya tidak bilang-bilang? Biasanya dia akan diberikan info terlebih dahulu kalau anak-anaknya dititipkan. Apakah karena kehadiran kedua temannya ini?

“Aku mau minta tolong, Nduk. Buatin kopi susu, kasihan bapak-bapak ini pada pengen ngopi ga ada yang buatin, katanya pantang mau pulang kalau belum ngopi. Tapi jangan kopi hitam, kebetulan mereka berdua doyannya kopi susu.”

Pak Hasbi mengedipkan mata pada Intan, “Iya nih, sore-sore begini minum kopi susu pasti nikmat, apalagi kalau yang punya susu secantik mbak Intan, pasti semakin mantab, heheh. Pas kopinya, pas susunya. hehehe…”

Parah cabulnya. Intan menghela napas panjang dan memalingkan wajah kesal.

“Cangkeme do rusuh! Iki mantuku lho! Jangan kurang ajar!”

“Hehehe. Sepurane, Pak.”

“Nanti saya buatkan, Pak. Tapi saya mau ketemu suami dan anak-anak dulu.” Setelah berkata seperti itu, Intan lantas melengos meninggalkan ketiga pria cabul yang terperangah menatapnya.

Intan sebenarnya sudah capek dan malas dengan permintaan bapak mertuanya. Apalagi dengan pak Hasbi yang terus menggodanya disertai tatapan mesum yang seolah terus menelanjanginya. Dia jengah, kesal, dan jijik.

Namun lagi-lagi ada perasaan aneh yang menyelimuti dirinya. Perasaan yang… sulit untuk dimengerti dan dijabarkan, perasaan yang entah kenapa akhir-akhir membuatnya tak bisa tenang dan terus menerus merasa bersalah di satu sisi, namun mendapatkan kebebasan di sisi yang lain.

Jantungnya berdebar-debar dan excited mendengarkan semua kelakar lucah dari pak Hasbi, wajahnya memerah dan ia merasa terbang ke langit. Intan menundukkan wajah agar bisa menyembunyikan rasa yang muncul dalam dirinya agar tak terekspos keluar dan membuat para pria tua itu kegirangan.

Kenapa… kenapa aku jadi seperti ini? Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku sendiri. Apakah karena aku sekarang…? Ah… masa bodoh.

Intan pun masuk ke dalam.

Tujuan pertamanya tentu saja kamarnya sendiri. Meskipun hanya satu malam, namun rasanya satu tahun dia tidak masuk ke dalam kamarnya ini. Rasa kangen dan rindu membuncah di dada. Apa lagi tentu saja rasa kangennya dengan orang yang berada di kamarnya tersebut.

“Assalamualaikum…” sapa Intan dengan lembut.

Wajah pria di tempat tidur langsung sumringah saat wajah cantik Intan muncul dari balik pintu.

“Waalaikumsalam, ah… istriku sudah pulang ternyata,” balas Hendro sambil tersenyum.

Intan duduk di tepi ranjang tempat Hendro berbaring. “Sudah mandi, Mas?”

“Belum. Sejak Ibu dirawat dan kamu sering lembur, sudah tidak ada lagi yang memandikan aku sore-sore. Tidak mungkin kan aku menyuruh anak-anak, apalagi kamu tahu sendiri Bapak seperti itu…”

Intan menunduk. Pikirannya kembali kacau balau.

Merasa bersalah di satu sisi, namun mendapatkan kebebasan di sisi yang lain.

Intan menunjukkan perubahan wajah yang lebih nyaman bagi Hendro, dia tidak ingin suaminya menjadi lebih sakit dari seharusnya. “Maaf ya Mas kalau akhir-akhir ini aku sering lembur. Kemarin aku juga ada rapat mendadak sampai malam, jadi tidak bisa pulang, tapi sebagai gantinya hari ini aku bisa pulang cepat. Karena pulang lebih cepat, aku sekalian jenguk ibu. Insyaallah besok ibu sudah boleh pulang.”

“Iya gak apa-apa, sayang. Aku mengerti kok. Aku yang minta maaf dengan kondisiku sekarang ini. Apa yang terjadi padaku membuatmu harus…”

“Sshh!! Udah ah, Mas. Apa yang terjadi sekarang pada Mas tidak perlu diratapi lagi. Apapun yang terjadi akan kita jalani bersama. Ini semua terjadi bukan karena kehendak kita tapi karena memang sudah takdir kita.”

Intan sebenarnya mulai merasa tidak enak dengan apa yang sudah dia jalani selama dua hari ini. Memang suaminya tidak tahu apa-apa dan dia melakukan ini juga demi keberlangsungan hidup keluarga mereka. Namun sebagai seorang wanita yang memiliki naluri untuk menjaga harga diri serta norma, ada sedikit penyesalan atas keputusan yang sudah dia lakukan. Dia telah menghancurkan semua kode terdalam pernikahan mereka. Dia telah membuka kakinya untuk mempersilahkan laki-laki lain menungganginya.

Pikirkan hal lain, Intan.

“Anak-anak ga rewel kan, Mas?”

“Enggak kok, mereka seneng-seneng aja dititipin ke Yu Karti. Beberapa kali mereka kemari untuk ngobrol denganku. Seru sekali kalau mereka cerita soal ini itu, semangatku juga jadi bangkit kalau lihat mereka. Pengen rasanya mengajak mereka jalan-jalan.”

Intan tersenyum sembari mengelus lengan sang suami, “Kapan-kapan ya, Mas. Pasti kita bisa jalan-jalan bareng lagi.”

“Yu Karti juga sangat baik memasak makanan untukku.” Hendro mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi Intan, ibu muda itu menangkup tangan sang suami dan memejamkan mata, menikmati elusannya. Hendro terbatuk sesaat dan melepaskan tangannya dari pipi Intan untuk mengambil tissue di meja di samping tempat tidur. Ia lantas melanjutkan lagi, setengah berbisik, “Ngomong-ngomong itu di depan lagi ada tamu ya? Aku kayaknya dengar suara bapak lagi ngobrol, tapi entah sama siapa.”

Intan mengangguk, “Oh, iya itu ada Pak Hasbi dan Mbah Wier dari kampung sebelah.”

Hendro mengerutkan kening. “Ngapain mereka datang ke sini? Kok tumben?”

“Aku juga ga tahu, Mas. Pas aku sampai di depan tadi mereka sudah di teras. Entah ngobrolin apa.” Sengaja Intan tidak menyebutkan godaan-godaan cabul dari Pak Hasbi kepada suaminya. Dia tidak ingin Hendro semakin bertambah pikiran.

“Tamu-tamunya dibuatin minum sama Bapak?”

“Enggak lah, Mas. Bapak gitu lho. Mana mau dia dibikin repot. Hihihi, ini tadi kebetulan bapak juga minta tolong aku buatin kopi kalau udah abis ketemu Mas.”

“Oh, ya sudah, tolong ya, sayang. Tidak enak ada tamu ga dibuatin minum.”

“Iya, Mas. Setelah ini aku buatkan minum kok.” ucap Intan dengan pelan. Wajahnya terlihat berubah menjadi sendu. Hendro tentu saja melihat perubahan itu.

“Kenapa?”

“Ah! Ti-tidak apa-apa…”

“Beneran? Kalau ada apa-apa bilang saja, meskipun suamimu ini tidak bisa bantu apa-apa, tapi setidaknya aku pasti masih bisa mendengarkan.”

Intan tidak menjawab. Awalnya ia tersenyum sangat manis, namun sesaat kemudian dia mulai menangis tersedu-sedu dan memeluk suaminya yang masih dalam kondisi terbaring. Dibenamkannya kepalannya pada dada suaminya. Ditariknya kedua tangan suaminya untuk memeluk punggungnya.

“Maaf, Mas. Maaf… A-aku cuma capek saja dengan semuanya ini. Dengan pekerjaan yang menuntut banyak dan… dan…” Intan menatap sang suami dengan berkaca-kaca, “Maaf aku tidak bisa merawat anak-anak, tidak bisa merawatmu dengan baik. Aku tidak bisa mengurus keluarga, aku tidak bisa melakukan ini semua, Mas. Aku bukan istri yang baik, aku…”

“Shhh,” Hendro mengelus kerudung sang istri, ia tersenyum bijak. “Bukan istri yang baik bagaimana? Tidak bisa mengurus keluarga bagaimana? Kamu sudah berusaha dengan keras, keringatmu sudah keluar dengan deras. Kamu sudah mengusahakan yang terbaik. Akulah yang bersalah. Akulah yang tidak bisa memenuhi tanggungjawab kepadamu dan anak-anak. Semua ini salahku yang membuatmu harus terus bekerja, aku yang salah dek…”

“Bukan seperti itu, Mas. A-aku…”

Aku sudah tidur dengan laki-laki lain, tubuhku sudah dinodai pria lain. Aku sudah disetubuhi orang lain… dan orang lain itu adalah…

“Sudah, sayang. Doakan saja akan datang sebuah mukjizat atau keajaiban yang bisa membuat aku bisa kembali seperti dulu, supaya kamu tidak perlu bekerja lagi, supaya kamu cukup tinggal di rumah saja merawat anak-anak dan bapak ibu.”

Intan tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia tetap menunduk dalam lara.

Vaginaku sudah merasakan penis pria lain, Mas. Kalaupun semuanya kembali normal, tidak ada yang normal untukku. Aku masih saja seorang wanita jahanam yang mengkhianati suaminya sendiri.

“Ya sudah. Sekarang kamu buatkan minum untuk tamu-tamunya Bapak. Tidak enak kalau kelamaan, keburu pulang mereka nanti. Oh iya, jangan lupa hapus air matanya sebelum keluar, aku tidak mau orang lihat istrinya Hendro yang terkenal paling cantik selereng Gunung Mandiri berkurang kecantikannya, hehehe.”

“Ih, apaan sih mas, orang lagi curhat masih bisa-bisanya ngegombal, remes juga nih!”

Eh!?

Intan yang tiba-tiba iseng meremas selangkangan suaminya terkejut. Dia kaget karena selama ini ada indikasi kalau ada syaraf yang terganggu yang membuat kejantanan suaminya tidak bisa mengeras lagi sejak kejadian kecelakaan yang merenggut kemampuan kaki Hendro.

Tapi baru saja setelah dipegang beberapa saat, batang yang awalnya lembek itu pelan pelan mulai mengeras.

“Mas?” Intan menatap suaminya tak percaya. “I-ini kok bisa…?”

“Iya.” Hendro tersenyum, “Sepertinya perlahan-lahan ada yang kembali.”

“Kok Mas gak pernah bilang?”

“Ya buat apa? Mas juga pasti ga bisa ngapa-ngapain. Cuma teronggok seperti terong begini jadinya.”

“Tapi ini kan perkembangan, Mas! Siapa bilang ga bisa ngapa-ngapain? Aduuuh! Kenapa tidak bilang sih? Jadi selama ini Mas selama menahan semuanya gitu?”

Hendro mengangguk. “Aku tidak ingin merepotkanmu. Selama ini kan kamu sudah kelelahan.”

“Ya ampuuuun, Mas! Seharusnya Mas tuh bilang ke aku kalau Mas sudah bisa… sudah bisa… sudah bisa mmmmhh…” wajah Intan memerah dengan sedikit senyum genit.

“Sudah bisa apa?”

“Ih! Su-sudah bisa begitu lagi!”

“Begitu apa?”

“Ih Mas ah! Sudah bisa berdiri itunya!”

“Oalaaaah.”

“Hihihi. Ya udah pokoknya nanti malam Mas ga boleh tidur cepe-cepet, awas kalau tidur duluan.”

“Memangnya kenapa? Mau ngapain?”

“Ada deh, yang pasti…aku kangen banget sama punya Mas yang sudah bisa berdiri lagi ini, hihihi. Aku nanti malam pokoknya mau datang ke sini. Mas siap-siap aja ya.”

Cup!

Intan mengecup bibir Hendro lalu meninggalkan suaminya itu dengan senyum yang tidak biasa. Senyum yang… sangat menggoda. Ia mengedipkan mata dengan genit. Sesuatu yang rasanya sudah tidak pernah lagi dilakukan oleh sang istri sejak lama. Hendro tersenyum. Ada rasa hangat di dadanya.

Intan keluar dari kamar Hendro dan beranjak ke dapur untuk segera membuatkan minum untuk para tamu di depan. Dia masih mengenakan pakain yang sama dengan yang dia kenakan tadi. Kalau tidak ada tamu mungkin dia sudah ganti baju dengan daster longgar yang nyaman, karena dia sudah cukup gerah dengan pakaian khusus bepergian yang dia kenakan sekarang.

Tapi tentu saja itu tidak mungkin dia lakukan sekarang. Dia tidak mungkin mengenakan daster dan tidak memakai kerudung di hadapan ketiga laki-laki tua di depan. Tidak butuh waktu lama bagi Intan untuk Intan menyiapkan semuanya. Tak lupa juga ada dua toples makanan kecil yang menjadi pelengkap nampan yang ada di tangannya.

Ibu muda itu berjalan ke depan dengan santai, namun semua gerakannya terlihat anggun.

“Monggo, silahkan diminum. Bapak-bapak semua,” ucap Intan sambil menyajikan kopi ke atas meja teras rumahnya, “kebetulan ada cemilan juga. Silakan dinikmati.”

“Duh, beneran jadi ngerepotin Mbak Intan ini, tapi makasih loh Mbak,” balas Pak Hasbi sambil cengar-cengir.

“Sama-sama Pak Hasbi, seadanya ya. Ijin masuk dulu ya, Bapak-bapak.”

“Loh, kok buru-buru toh nduk? Sini duduk dulu, ada yang mau bapak omongin,” ucap Pak No sambil cengengesan.

Tentu saja Intan bingung. Ia mengerutkan kening.

Ada yang mau dibicarakan? Apalagi? Apa gerangan yang ingin dibicarakan? Apalagi pembicaraannya di depan kedua pria tua ini. Intan merasa aneh namun juga tidak bisa menolak permintaan bapak mertuanya.

Intan dengan ragu lalu duduk di kursi rotan panjang di sebelah Pak No setelah pria tua itu menepuk kursinya beberapa kali.

“A-ada apa ya pak?”

“Gini nduk, rencana kamu terhadap Pak Wing dan Ardian sudah kamu jalankan kan? Lancar?”

“Re-rencana apa, Pak?” Intan pura-pura bingung. Dia melirik tak nyaman ke arah Pak Hasbi dan Mbah Wier. “Aku tidak paham apa maksud Bapak.”

Kemarin dia memang memberikan kabar kalau tidak akan pulang untuk urusan tertentu. Tapi maksudnya apa bapak mertuanya itu membahas hal rahasia di depan Pak Hasbi dan Mbah Wier? Mau cari perkara?

“Ora sah wedi. Wes do ngerti kabeh. Kamu ga usah takut, aku wes menceritakan semuanya ke Hasbi dan Mas Wier.”

“HAH!? Ehm… itu…”

“Jadi bagaimana? Lancar kan? Sampai ga pulang semalaman, pasti lancar.”

“Itu…”

“Jawab saja, nduk.”

“Ehm…” Intan tidak punya pilihan lain. “Ya…sejauh ini masih sesuai rencana.”

“Bagus. Jadi gini, bapak-bapak ini ternyata nakal juga. Mereka berdua ini ternyata ada main dengan Shinta, istri Ardian, pria yang selalu mendekatimu itu.”

“HAAAAAH!!??”

Tentu saja Intan kaget. Dia tidak menyangka sama sekali kalau ternyata wanita baik-baik seperti Shinta juga main gila di belakang Ardian. Parahnya dengan pria tua macam Pak Hasbi dan Mbah Wier.

“Ya, tapi cerita tentang itu nanti saja, tidak ada hubungannya dengan cerita saat ini. Intinya mereka awalnya ke sini mau minta supaya kamu menjauh dari Ardian sesuai keinginan dari Shinta.”

“Saya sudah mulai menjaga jarak dengan Mas Ardian kok, Pak Hasbi dan Mbah Wier. Seandainya itu yang njenengan-njenengan atau Mbak Shinta khawatirkan, maka tidak perlu panjang kali lebar. Saya sudah akan menjauh.”

“Hehehe, itu pasti nduk, tapi inti dari pembicaraan kali ini bukan itu.”

“Te-terus?”

“Ya setelah ngobrol-ngobrol tadi, kalau dipikir-pikir daripada menambah musuh, mending menambah teman. Jadi kami sepakat untuk bekerja sama. Toh tujuan kita sama.”

“Maksudnya?” Intan mulai tidak nyaman. Pak No sepertinya terlalu gegabah mengajak Mbah Wier dan Pak Hasbi ke dalam lingkaran setan ini. Bisa-bisa Intan terjebak seandainya

“Sekarang ceritakan apa yang sudah kamu lakukan dua hari ini.”

“Sekarang pak?”

“Iya, sekarang.”

“Ta-tapi…”

“Sekarang.”

“Saya rasa tidak mungkin menceritakan apa yang…”

“Bagian mana dari kata ‘sekarang’ yang tidak kamu pahami, Nduk? Kenapa aku harus mengulanginya berkali-kali? Apa kamu mulai membangkang? Sekarang artinya se-ka-rang.” Pak No menatap Intan dengan pandangan mengancam. Seperti malam-malam sebelumnya, dia tidak main-main.

Intan tidak punya pilihan lain.

Dia harus menceritakan semuanya dan dia pun menceritakan semuanya. Tapi ada beberapa hal yang dia sembunyikan. Dia hanya fokus cerita tentang Pak Wing dan Ardian. Dia jengah karena harus menceritakan ini semua di hadapan dua laki-laki tua yang tidak dia kenali.

“Luar biasa, sudah dengar kan Bi? Mas Wier? Hehehe.”

“Pancen kenthir kok kowe ki No, mantu sendiri dijadikan pion.”

“Bukan pion Mas, tapi rekan kerja. Kita berdua sama-sama mendapatkan keuntungan dari semua ini.”

“Ya wes, selanjutnya gimana?”

“Ya sesuai pembicaraan tadi, kamu sudah yakin kan kalau Intan tidak ada niat untuk merebut Ardian dari Shinta. Kamu aman.”

“Percaya.”

“Jadi selanjutnya, perkiraanku cepat atau lambat Ardian pasti akan mendatangi Intan, sebagai imbal balik dari semuanya, kalian berdua harus membantu melindungi Intan dari Ardian. Kalau perlu kita intimidasi bocah tengik itu. Aku juga tidak suka sama bocah itu karena sudah berani mendekati mantu kesayanganku ini, hehehe,” ucap Pak No sambil merangkul Intan tanpa malu.

Bahkan tidak hanya merangkul, pria tua itu berani memeluk Intan dengan erat. Kedua orang di hadapan Pak No meneguk ludah. Mertua mana yang dengan berani memeluk anak menantunya di depan orang lain dengan semesra ini? Tidak hanya memeluk, tapi tangan kirinya sesekali menggerayangi bagian sensitif dari tubuh Intan.

Pinggang. Pinggul. Paha sekal Intan. Semuanya dielusnya.

“Pak! Jangan! Ja-Ahh…”

Pak Hasbi dan Mbah Wier blingsatan melihat kemesuman yang dilakukan oleh Pak No terhadap anak menantunya. Jika sebelumnya mereka berdua sudah merasa menjadi pria paling bajingan dengan menunggangi istri orang, namun kali ini mereka merasa apa yang sedang mereka lihat ini bajingan nya berada satu tingkat di atas mereka. Menantu sendiri diembat!

“Duh, Pak No ini loh, sore-sore kok ya bikin saya jadi pengin, hehehe,” ucap Pak Hasbi sambil meneguk ludah.

Sukirno menyeringai lebar sembari meneruskan niatnya menggerayangi tubuh Intan, “Hehehe, ya sudah sana kamu datangi saja lagi si Shinta, bukannya tadi sudah dengar sendiri kalau Ardian masih terkena efek obat tidur oleh Intan? Shinta pasti free kayak jalan tol. Tinggal dibuka selangkangannya.”

“Ya beda lah Pak No, kalau Shinta masih bisa lain kali, kalau ini udah jelas di depan mata. Mana cantik banget pula…”

“Jadi kamu maunya apa? Ini menantuku lho! Jangan macam-macam kamu.”

“Ya… siapa tahu kita-kita ini bisa dapat icip-icip dikit gitu, bukan begitu Mas Wier?”

“Ya… piye yo… sebenarnya ga maksa, tapi kalau dikasih ya ga nolak, hehehe.”

“Hahaha.” Sukirno tertawa terbahak-bahak.

Mendengar gelak tawa dari ketiga pria tua itu, Intan yang menyadari apa yang diminta oleh Pak Hasbi mulai bergidik ngeri. Meskipun dalam dua hari ini dia sudah merasakan bagaimana rasanya disetubuhi beberapa laki-laki selain suaminya - bahkan sampai dua lawan satu, namun tetap saja jika harus melayani pria-pria tua seperti mereka membuat bayangannya dipenuhi dengan berbagai pikiran.

Apalagi dia belum kenal betul baik dengan Pak Hasbi maupun Mbah Wier. Apakah mereka berdua bisa bersikap lembut? Atau justru akan kasar? Intan jengah menghadapi ini semua, apalagi saat ini dia benar-benar sedang capek, sehingga yang ada di dalam pikirannya adalah ingin cepat-cepat istirahat bukannya malah menghadapi trio cucakrawa begini.

Secara reflek menggelengkan kepala dan mencoba melepaskan tangan Pak No, namun dengan cepat sang mertua justru semakin berani bertindak dengan meremas bulat pantatnya yang kenyal.

“Hngh! Ba-Bapak!” Intan menghardik sang mertua. “Apa-apaan sih!?”

“Nduk, kamu dengar sendiri kan tadi apa permintaan kedua rekan kita ini? Yak tidak apa-apa lah dikasih icip sedikit. Semua ini kan demi tercapainya tujuan kita. Kamu mau kan memberikan sedikit pelayanan kepada dua bapak ini? Hitung-hitung sebagai tanda jadi kerjasama kita berempat.”

“Pelayanan? Tanda jadi?” balas Intan bingung sambil kembali menggelengkan kepala. “Apa-apaan ini!? Apa maksudnya? Aku tidak paham apa yang kalian bicarakan!”

“Ngene lho, nduk. Begini yang kumaksud… Bapak-Bapak ini kan mau membantu melancarkan rencanamu, ya masak tidak ada imbalan apa gitu? Mungkin kamu bisa menggunakan sedikit kesensualan bibirmu itu untuk menyenangkan mereka berdua?”

“A-astaga! Bapak?!” Intan terkejut dan langsung mencoba menghindar dari sang mertua, tapi Pak No menahannya.

“Hehehe, Hasbi, Mas Wier… untuk saat ini paling aku hanya bisa memberikan mulut atas milik menantuku ini sebagai DP untuk memperlancar. Kalau mau lebih ya harus tuntas dulu semua rencana kita bersama, bagaimana?”

Edan! Bapak mertuanya menjualnya kepada orang-orang tua busuk ini!?

“Bapak?” seru Intan kembali. Dia benar-benar jengkel pada Pak No yang sudah mengumpankannya kepada dua lelaki tua cabul yang sejak awal melihatnya dengan pandangan penuh nafsu. Intan menghentakkan tangannya namun Pak No lebih kuat darinya.

“Sudah to nduk, cuma pakai mulut kok. Apa bedanya kamu melayaniku dengan melayani dua bapak ini? Gimana Bi? Mas Wier?”

“Yo wes lah, dari pada ga dapat sama sekali,” balas Pak Hasbi sambil nyengir lebar dan mengedipkan mata pada Intan yang bergidik ketakutan, “Ayo cah ayu… kemarilah.”

Pak Hasbi bangkit dan memelorotkan celananya.

“Wuasu!! Nggonamu gedhe juga Bi,” komentar Pak No takjub.

Meskipun mertua Intan itu juga memiliki kejantanan di atas rata-rata yang dapat membuat para wanita terkapar, namun tak bisa dipungkiri ukuran monster milik Pak Hasbi masih satu tingkat lebih besar dan panjang.

Keterkejutan terhadap ukuran milik Pak Hasbi bukan hanya keluar dari wajah Pak No, namun juga keluar dari wajah sang menantu yang cantik jelita. Tak bisa dipungkiri juga kalau Intan juga mulai takjub dengan ukuran milik Pak Hasbi.

Itu beneran segitu? Masih lentur aja segitu, gimana kalau udah tegang? Beneran Mbak Shinta ada main dengan Pak Hasbi? Mbak Shinta kan tubuhnya ramping, kecil, pinggulnya pun juga tidak montok-montok amat, masih bulatan juga pinggulku, beneran itu barang segede itu bisa masuk?

Di sela-sela ketakjuban Intan, Mbah Wier pun ikut memelorotkan celananya.

“Heheheheh. Yang ini ndak segedhe yang itu, tapi kalau mau disayang-sayang boleh juga, Mbak Intan yang ayu… heheheheh.”

Intan hampir menjerit melihat kemaluan sang tukang sayur yang hitam, berurat, mirip batang ubi yang bersisik dan tidak nyaman dilihat.

Ini yang harus masuk ke mulutnya? Yang benar saja!

“Mereka berdua sudah siap, saatnya bekerja. Aku tahu kamu ragu-ragu tapi inilah jalan untuk membuat kedua orang ini setia. Kita sudah setengah jalan dan membutuhkan bantuan mereka. Kamu tidak mau berhenti hanya sampai di sini kan? Jika kamu menuruti kemauanku dan keinginan mereka hari ini, maka aku punya sesuatu untukmu di akhir nanti.”

“Ta-tapi pak!? Masak ma-mau disini?” Intan gugup bukan kepalang.

Dengan mereka!? Di sini? Yang bener aja! Sudah gila rupanya orang-orang tua sialan ini!

“Mau dimana lagi? Di dalam? Kamu mau Hendro bisa melihat atau mendengar? Kamu mau anakku itu serangan jantung? Kamu lebih pintar dariku dan tidak bisa memikirkan hal sesepele itu?”

Intan menghela napas, Pak No ada benarnya. Dia pun menyerah. Tidak ada bedanya antara dia melawan atau menurut karena pada akhirnya dia akan membutuhkan bantuan kedua orang ini. Intan memejamkan mata, menetapkan hati, dan mulai bergerak. Lebih cepat lebih baik.

Sialan.

“Lepas kerudungmu,” ucap Pak Sukirno.

Intan memejamkan mata. Permintaan itu seharusya tidak dia turuti, itu sudah menyalahi apapun yang dia anggap suci. Dia seharusnya bertahan sebagai wanita yang tahu diri dan taat pada kepercayaan. Tapi… itu mungkin hanya berlaku pada Intan yang dulu. Siapalah Intan yang sekarang? Dia kini tak lebih dari seorang pelacur, wanita panggilan, wanita kotor dan menjijikkan yang bahkan tak pantas menyandang jabatan sebagai istri atau ibu. Dia pantas dihina dan direndahkan.

Intan melepas kerudungnya, lalu melepas ikatan rambutnya.

Ketiga laki-laki yang sedang mengelilinginya berdecak kagum menatap sang bidadari yang telah jatuh ke dunia nista itu. Benar-benar cantik dan menawan si Intan ini. Sungguh sayang kalau dilewatkan. Tidak salah kalau dibilang kecantikannya mengalahkan para penghuni cluster.

“Mulai sepong kami.” Perintah Pak Hasbi.

Istri Hendro itu pun berlutut di depan Pak Hasbi dan Mbah Wier. Meski sudah memantapkan niat, namun tetap saja nalurinya sebagai seorang istri dan ibu memaksanya untuk ragu dan malu. Dia tidak ingin melawan namun juga tidak ingin terlihat gampangan mau melayani dua pria tua ini. Meskipun sesuai dengan kesepakatan tadi, untuk kesempatan kali ini dia hanya perlu memberikan service menggunakan mulutnya.

Intan lalu mengamati dua kemaluan pria yang berada di depannya. Keduanya masih lemas namun ukurannya sudah cukup besar. Milik Pak Hasbi masih menjadi yang terbesar namun milik Mbah Wier juga di atas rata-rata. Pikiran menggelitik justru melintas di kepalanya. Apa mungkin semua pria penduduk asli lereng gunung mandiri memiliki ukuran kelamin di atas rata-rata? Ada apa dengan tempat sialan ini?

Duh, mikir apa sih aku ini. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana membuat dua batang ini muncrat secepat mungkin.

Intan pun mulai membelai kedua batang kejantanan yang masih lembek tersebut. Dibelainya daging yang masih mirip seperti sosis itu dengan kedua tangannya, masing-masing kanan dan kiri. Diusapnya kedua kejantanan milik pria yang mungkin seharusnya pantas menjadi ayah dan kakeknya sendiri.

Yang satu ukurannya seperti monster, yang kedua bentuknya seperti monster. Tidak ada yang menyenangkan.

Perlahan kedua batang itu mulai mengeras. Hal tersebut juga karena Intan mulai bergantian mengecup masing-masing kepala jamur milik Pak Hasbi dan Mbah Wier. Intan kembali merasakan perasaan yang aneh. Sebuah ambisi yang ingin menaklukan apapun rintangan yang ada di depannya. Angan-angan awalnya yang tidak ingin terlihat gampangan menguap begitu saja. Dia mulai masuk ke alam bawah sadarnya.

“Uhh, edan si Intan ini lembut banget tangannya, ga kalah sama Mbak Shinta, bibirnya juga tidak kalah menggiurkan, mimpi apa aku semalam bisa dapat rejeki seperti ini? hahaha.”

“Kamu mimpi enak, Mbak Intan mimpi horor harus melayani kita, hahaha.”

Di sela-sela ocehan kedua pria tua itu, Intan mulai fokus dengan tugasnya memberikan servis oral. Kepalanya bergerak ke depan, mulutnya terbuka. Satu batang masuk ke dalam mulutnya.

“Hnngkh!”

Be-besar sekali! Ini terlalu besar! Mbak Shinta sudah merasakan benda semacam ini di dalam memeknya? Gila!

Intan melirik ke kanan dan meraih kemaluan si tukang sayur, lalu menggerakkannya maju mundur.

“Gantian dong Intan sayang. Saya juga pengen diemut.”

Intan menatap jengah ke arah Mbah Wier. Tapi dia melakukannya. Dengan cekatan kepala dan tangan Intan bergerak dan bergeser untuk memuaskan kedua laki-laki bangsat itu. Pertama ke Pak Hasbi, lalu ke Mbah Wier. Lalu ke Pak Hasbi lagi, ke Mbah Wier, Pak Hasbi, dan seterusnya.

Bibir mungil Intan terbuka lebar untuk bisa memasukkan penis-penis massive dari kedua lelaki tua itu.

Di saat dia mengulum penis Pak Hasbi, tangan kirinya mengocok penis Mbah Wier. Begitu juga sebaliknya, di saat mulutnya mengulum penis Mbah Wier, tangan kanannya mengocok penis Pak Hasbi. Begitu seterusnya sampai kedua penis itu tegang sempurna dan sang pemilik semakin meracau keenakan.

Semakin lama, bukannya jijik, ternyata Intan justru semakin rileks seakan-akan dia mulai terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Semakin lama Intan justru semakin menikmati suasana yang ada.

Melihat perubahan pada diri Intan yang sudah mulai menjalankan tugasnya dengan cekatan, Pak No yang sebelumnya hanya diam saja menjadi tertarik untuk ikut bergabung. Menantunya sudah mulai pintar melayani laki-laki rupanya.

Pria tua yang tak lain adalah mertuanya sendiri itu bangkit dan mulai menggerayangi bagian belakang tubuh Intan. Mulai dari pinggang, pinggul, dan berakhir pada pantat Intan yang membulat.

“Kamu seksi sekali, Nduk. Sayang anakku tidak bisa memuaskanmu. Biarlah aku yang menggantikannya untuk sementara sampai dia sembuh. Aku akan memberikanmu apa yang tidak pernah kamu dapat selama ini. Aku yang akan menjadi suami pengganti untukmu, sayang.”

Intan yang menyadari mertuanya bergerak mendekatinya melenguh kencang. Ia tidak ingin Pak No berbuat aneh-aneh dan mencoba menghindar dengan menggerakkan pinggulnya menjauh dari sang mertua.

Namun sia-sia saja, meskipun ia meronta, Pak No dengan mudah mengunci pinggul sang menantu. Sekuat apapun tenaga Intan sebagai perempuan yang lemah tentu saja tidak sebanding dengan tenaga Pak No yang buas.

Tidak lama setelah itu, Pak No memaksa tubuh Intan agar bangkit, sehingga posisi Intan saat ini berdiri menungging dengan mulut disodok-sodok penis Pak Hasbi dan tangannya bergerak mengocok batang kejantanan Mbah Wier.

Tidak menunggu lama, sang mertua lalu menggerayangi kaki jenjang Intan dari bawah ke atas dan membuat ujung bawah dress yang dikenakan Intan tersingkap.

Setelah sampai pada pangkal paha, tangan sang mertua lalu menarik karet pinggang legging yang dikenakan Intan sekaligus dengan celana dalam yang ibu muda itu kenakan. Sontak Intan ingin memberontak karena di awal tadi tidak ada kesepakatan seperti ini, tapi Pak No sudah terlanjur bernafsu.

Pak Hasbi dan Mbah Wier yang melihat hal tersebut ikut membantu dengan menahan tangan dan tubuh bagian atas sang ibu muda.

Lepas dari penis Pak Hasbi, Intan menggunakan waktunya untuk protes.

“Ahh… Pak? Kok jadi begini sih?! Ini tidak sesuai dengan…”

Hanya seringai jahat yang keluar dari masing-masing ketiga pria tua itu. Mereka tidak menjawab namun sama-sama tahu apa yang mereka inginkan. Intan sudah terperangkap dan tak bisa banyak protes.

Rasanya sudah tidak ada lagi rasa iba di hati mereka bertiga. Mereka tidak lagi melihat Intan sebagai menantu, anak, atau bahkan seorang ibu. Kepada wanita yang pantas menjadi anak mereka sendiri itu, mereka menganggapnya sebagai mangsa dan budak seks. Bukan lagi sebagai wanita yang selayaknya mereka lindungi dan ayomi.

Pak Hasbi yang masih ketagihan dengan kuluman bibir Intan memaksa kembali kepala sang ibu muda itu untuk menunduk dan mengulum batang besarnya. Sedangkan dari arah belakang, Pak No tergoda untuk menjilati bibir kemaluan Intan yang merekah menggiurkan. Sedangkan Mbah Wier hanya kebagian dengan kocokan tangan Intan, namun meskipun begitu kocokan itu terasa sangat nikmat karena makin lama kocokan itu semakin brutal dengan rangsangan yang diterima si ibu muda. Rangsangan yang dia terima di titik paling sensitifnya itu membuatnya semakin blingsatan dan hilang akal.

“Ahh… Paakkhhh…ahh…”

“Ahh…mantap Mas Wier, ga kalah pokoknya sama Mbak Shinta.”

“Gantian Bi,” protes Mbah Wier yang kemudian langsung menarik kepala Intan dan mengarahkannya ke selangkangannya.

“Iya Bi, pancen jempolan ini menantunya Pak No, ora rugi sore-sore main ke sini. Mahir banget ngemut dan ngocok. Menantu rasa lonte. Hahahahha.”

Pak Sukirno keenakan, Pak Hasbi keenakan, Mbah Wier keenakan.

Siapa sangka, Intan pun juga menikmai.

Meski bibir kemaluan sang ibu muda mulai banjir dengan lendirnya sendiri, Pak No tidak henti-hentinya dengan terus menjilati bibir kemaluan itu. Teriakan dan desahan tertahan dari masing-masing mereka menjadi symphoni irama yang merdu di sore hari di teras rumah sang mertu abejat. Untungnya di saat mereka berempat sudah dikalahkan oleh syahwat masing-masing, tidak ada orang yang lewat di depan rumah Pak No.

Kocokan demi kocokan. Jilatan demi jilatan. Kuluman demi kuluman. Semua berlangsung dengan buas dan penuh gairah tabu.

Semuanya mengalir bak film porno yang menampilkan adegan pesta seks dari lebih dari satu pasangan. Pemandangan yang sangat tidak biasa terjadi di sebuah desa pinggiran.

Apakah pantas apa dialami oleh Intan ini sebagai adegan percintaan? Jelas bukan. Ini pesta seks dan dia adalah aktris utamanya. Dia adalah hidangan pamungkasnya.

Sayangnya, kenikmatan itu harus terhenti saat tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti di depan rumah. Seseorang itu datang justru di saat Pak Hasbi dan Mbah Wier hampir saja meraih puncak kenikmatan.

Mbremm!!Mbremm!!Mbremm!!

Orang tersebut datang dengan penuh amarah. Wajahnya merah padam berusaha menahan emosi yang tak bisa ditahan. Bahkan ketika mobil yang dikendarainya sudah berhenti pun orang tersebut masih menggeber beberapa kali mobil miliknya itu. Mobil yang berhenti itu meraung marah persis menandakan amukan sang pemilik.

Pak Hasbi kaget, Mbah Wier Kaget, Intan pun juga kaget.

Yang wajahnya masih terkesan datar-datar saja hanyalah Pak No. Di saat Pak Hasbi, Mbah Wier, dan Intan terkejut, bapak mertua Intan itu justru menarik tubuh Intan ke belakang sehingga membuat tubuh si ibu muda terlepas dari cengkraman Pak Hasbi dan Mbah Wier. Ia memeluk sang menantu dengan penuh nafsu.

Di saat pikiran Intan kosong karena panik tak tahu harus berbuat apa, Pak No memaksa dan justru memposisikan Intan untuk mengangkang dan duduk di selangkangannya yang tanpa disadari Intan sudah terbuka. Ia melotot karena tahu apa yang diinginkan oleh Pak Sukirno saat ini.

“A-ah… Ba-Bapak!?”

Pak No mengarahkan bibir kemaluan Intan untuk duduk di kejantanannya yang sudah berdiri tegak dengan posisi Intan menghadap ke depan dan memunggungi Pak No. Dengan paksa, sang mertua sadis itu pun merenggangkan kaki jenjang Intan untuk melebarkan bibir surgawinya sehingga batang penisnya bisa melesak lebih dalam dan lebih menyesakinya dengan kenikmatan. Karena bibir kemaluan sang ibu muda sudah becek karena lendirnya sendiri, dengan hanya beberapa kali usaha dan dorongan, batang pusaka milik Pak No itu masuk dengan sempurna ke dalam liang senggama sang menantu.

“Ahhhaaaaaaaaaaaagkkkhhh!…” Intan melolong panjang. Ia meremas ujung pakaiannya sendiri dengan mata terbelalak karena serangan pak No itu begitu mendadak.

Pak Hasbi dan Mbah Wier sebenarnya kaget melihat kenekatan Pak No tersebut, akan tetapi mereka sadar betapapun kagetnya mereka, mereka harus segera mengenakan kembali celana yang tadi sempat melorot dan menghadapi orang yang baru saja datang.

Siapa dia?

Saat Pak Hasbi membalikkan badan, dia baru sadar siapa gerangan yang baru saja datang. Dia hafal betul mobil siapa itu.

Itu adalah mobil Ardian, mobil dari suaminya Shinta. Pak Hasbi menyeringai buas.

Hahaha, sudah sadar rupanya bocah tengik itu kalau dia tengah dijadikan mainan. Biar mampus! Istri sendiri dicuekin, istri orang disayang-sayang! Dasar kampret! Mampus kamu sekarang!

Mbah Wier berpikiran hampir mirip. Dia kecewa karena Ardian datang di saat dia sudah hampir mencapai puncak orgasme.

Sialan! Mengganggu saja! Lagi enak-enak dapat giliran disepong malah datang! Jan njaluk disampluk raine! Berani-beraninya mengganggu orang lagi diemut! Minta dihajar rupanya! Mampuuuuus koweeee!

“Kalian berdua! Tahan bocah itu jangan sampai naik ke teras dan masuk ke ruang tamu! Intimidasi dia,” perintah Pak No dengan dingin, tentu saja dengan Intan yang masih menunggangi kejantanannya. Ibu muda itu merem melek keenakan saat kemaluannya dipenuhi dengan sesak oleh kejantanan sang mertua. Rambut indahnya sudah tergerai dan terburai terlempar kesana kemari.

Sebenarnya Intan ingin berontak.

Apa yang terjadi malam ini tentu saja menjadi pengalaman yang baru dan aneh baginya. Senekat-nekatnya dia untuk meraih ambisi - dan meskipun sebenarnya tubuhnya masih tertutup oleh dress panjangnya - tetap saja dirinya tidak akan nyaman bercinta dengan mertuanya sendiri dalam situasi dan kondisi seperti ini. Tubuh Intan naik turun di pangkuan Pak No dengan kemaluannya terus diserang berulang.

“Paaaaak! Aaaahhh!! Ahhh!! Ahhh!! Su-sudaaaah! Le-lepaskan akuuuhh… aaahh!! I-itu ada Mas Ar-Ardiaaaaanhhh!! Aaahhhh!!”

“Hehehe, justru ini serunya! Kebetulan sekali dia datang! Aku akan membuat mental bocah itu hancur sehancur-hancurnya. Kamu hanya perlu menurut dan mengikuti semua perintahku,” ucap Pak No dengan bengis sambil meringis sadis, ia menggerayangi payudara ranum Intan dengan penuh nafsu. Ia memeluk sang menantu dengan semakin erat.

“Ahh tapi pak… a-aku malu kalau harus seperti ini, ahh…bagaimana nanti kalau…ahh…”

“Piye toh? Kendor banget mentalmu, Nduk? Katanya mau menaklukkan laki-laki tak tahu diri itu!? Percaya saja sama bapakmu ini, cah ayu! Aku tahu apa yang aku lakukan!” Balas Pak No lagi sambil semakin intens memberikan sentuhan dan rangsangan-rangsangan lembut pada setiap jengkal tubuh Intan.

Pintu mobil terbuka. Ardian turun dengan sorot mata tajam. Wajahnya penuh dengan amarah. Bagaimana tidak, hanya dengan tempo waktu yang cepat, dia baru sadar kalau pagi tadi dia baru saja ditipu habis-habisan oleh Intan.

Intan! Intan yang selama ini ia percaya dan bantu! Intan yang lemah lembut dan tak berdaya itu! Bisa-bisanya dia memanfaatkan kepercayaan Ardian dan mengkhianatinya! Intan yang cantik dan menawan itu! Kenapa dia setega itu pada Ardian? Dia kehilangan semuanya karena terjatuh pada pesona sang kembang desa.

Semuanya hilang lenyap!

Surat tanah miliknya di cluster Kembang Arum Asri. Perhiasan mas kawinnya untuk Shinta, bahkan surat-surat mobil yang dikendarainya saat ini. Semuanya sudah berpindah tangan ke tangan Intan! Dia tertipu bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya. Dia terpesona dan terhipnotis. Memang benar semua surat-surat itu belum menjadi hak milik Intan. Tapi dengan kenyataan yang dia terima hari ini, hanya perkara waktu semua surat-surat itu akan dibalik nama.

“Intaaaaaaan!” Ardian berjalan dengan geram sembari memanggil nama sang bidadari.

Intan mulai panik, tapi Pak No memegang ibu muda itu erat-erat sambil terus menyodok-nyodok liang surgawi sang menantu.

“Hkkgh! Hhhghhh! Hhhghk! Sempit banget memekmu, cah ayu. Heheh.”

“Pak! A-aku takut mas Ardian akan… akan…”

“Ingat kata-kataku tadi, Nduk. Kita membutuhkan hartanya, jadi sekarang saatnya kita hancurkan mentalnya, kamu juga harus membantu,” bisik Pak No.

Intan sejatinya adalah wanita yang lemah lembut, dihadapkan pada momen seperti ini rasa bimbangnya muncul kembali. Antara tega dan tidak tega. Namun semua itu langsung dia usir jauh-jauh. Semua ambisinya harus tercapai. Apapun yang terjadi pada orang di sekitarnya.

“Intaaaaaan! Maksud kamu apa dengan semua ini?” teriak Ardian yang hendak merangsek masuk ke teras.

Namun Pak Hasbi dan Mbah Wier sudah terlebih dulu mencegatnya. Mereka sama-sama sigap dengan menahan dan mengunci pergerakan pria muda tersebut. Meskipun sudah tua, keduanya punya tenaga ekstra.

Ardian yang terhenti menatap ke dalam ruang tamu. Ia melihat Intan dari kejauhan. Ia masih tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada wanita jelita itu.

“A-apa Mas? Maksud Mas Ardian apa ya? Aku tidak mengerti,” balas Intan sambil mencoba tenang. Dia lalu menyandarkan tubuh mungilnya pada dada sang mertua. Dia juga memegangi tangan bapak mertuanya yang memeluk perutnya agar terlihat lebih mesra di hadapan Ardian.

Ardian kian panas. “Jangan pura-pura! Kamu memanfaatkan aku! Kamu memanfaatkan kebaikanku! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu jadi seperti ini? Bukankah selama ini aku selalu mendukung dan memberikan support untukmu!? Kembalikan semua surat-surat rumah, mobil, dan perhiasan yang kamu ambil tadi pagi! Jangan bilang kamu tidak tahu apa-apa!”

“Mas ini ngomong apa sih? Surat-surat apa? Perhiasan apa? Mas mabuk yah? Aku benar-benar tidak paham apa yang kamu maksud, Mas!” balas Intan yang kali ini mulai semakin rileks dengan situasi yang ada. “Mmgghhhh! Mmmhh! Mmhhh! Paaak… Paaaakhhh!”

Ibu muda itu lalu menarik tangan bapak mertuanya untuk menjamah payudaranya sendiri. Tidak hanya sampai di situ, Intan juga mulai menggoyangkan pinggulnya ke depan dan ke belakang untuk membuat dirinya terlihat semakin erotis karena Ardian sepertinya belum paham apa yang tengah terjadi.

Bagi Intan sendiri, rasa nikmat itu mulai hadir. Dia tidak bisa memungkiri getaran-getaran sensasi birahi yang kuat mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Dia ingin mendaki puncak kenikmatan itu sekarang!

“Sudahlah, Intan! Kamu tidak perlu bersandiwara! Apa-apaan sih semua ini? Kamu sedang kesambet apa sih? Aku kurang apa selama ini sama kamu? Kurang apa?” ucap Ardia lagi dengan bergetar. Tubuhnya mulai tersambar shock. Air matanya tanpa sadar mengalir, di saat seorang pria mulai mengalirkan air matanya, di saat itu pula ada kepedihan yang teramat besar yang menghancurkan dirinya.

“Mas! Aahh… ahhh… ngomong apa!? Ahh… ahh… ja-jangan ngelantur! Memangnya, selama ini kita ada apa ya? Aku sudah bersuami, Mas pun juga sudah beristri! Ahh…! Udah ah, Mas! Mending Mas pulang saja dan jangan berbuat onar di sini! Nanti tetangga-tetangga akan datang dan Mas akan menerima… ahh… a-akuh… akuh… masih sibuk sama bapak-bapak ini! Hati-ati loh, Mas! Jangan mengganggu kesenangan mereka! Ahh… ahhh! Ahhh! Ahhhh!”

Ardian menatap Pak Hasbi, Mbah Wier, dan Pak Sukirno di dalam ruang tamu. Mereka semua menatapnya dengan tajam. “Intan…” ucapnya lirih.

“Aku sarankan pulang saja, Mas. Mbah Shinta juga membutuhkanmu…” Pak Hasbi menyeringai, “Atau kamu juga ingin dia aku perlakukan seperti hari-hari sebelumnya? Dengan senang hati aku akan memuaskan istrimu yang molek itu! Hahahahah! Kamu pikir aku tidak tahu aku selama ini melihatmu mengintip aku sedang ngentotin Shinta!? Hahahahahah!”

Ardian menggemeretakkan gigi menatap Pak Hasbi, tapi dia tidak peduli dan kembali fokus pada Intan. Dia ingin sekali memukul gigi Pak Hasbi sampai rontok, tapi dia harus mendapatkan surat-suratnya kembali. Menyerang kedua lelaki tua ini bisa menempatkan posisinya ke arah yang tidak diinginkan.

Tubuh Ardian bergetar hebat, dia tak tahan lagi – dia mulai melihat tubuh Intan yang naik turun di pangkuan mertuanya. Intan sedang disetubuhi Pak No? Apakah dia akhirnya merasakan bagaimana menjadi cuckold itu?

“Intan… Intan… a-aku peduli pada kamu! Aku… aku sayang sama kamu! Sadar Intan! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu justru melakukan ini semua!? Bukannya kamu sendiri yang tadi pagi cerita kalau kamu yang dilecehkan oleh mertuamu itu selama ini? Kenapa sekarang kamu malah se-seperti ini? Kenapa kamu malah melayaninya dan… dan…”

“Tadi pagi? Tadi pagi kapan ya? Memang tadi pagi kita ketemu, Mas? Aku… ahh… ahhh… su-sudah lupa tuh… aahh… ahh…” balas Intan yang mulai acuh dengan Ardian. Ibu muda itu mulai fokus pada dirinya sendiri dengan semakin kuat menggoyang pinggulnya. Intan berusaha keras agar segera bisa mendapatkan nikmatnya surga dunia yang sebentar lagi akan datang.

“Ahh ahh ahh… Ahh ahh ahh…”

Ardian jatuh terduduk. Ia bersimpuh. “Kenapa…!? Kenapa kamu memilih dia? Kenapa kamu tidak memilih aku? Intan… Intaaaaan! Tahukah kamu aku sayang sama kamuuu!? Aku terlalu bodoh untuk tidak mengakuinya! Aku sayang sama kamuuu! Aku baru sadar!”

Desahan Intan terdengar semakin merdu di sela-sela tangisan Ardian yang semakin menderu.

Pak Hasbi menyeringai dan mendekat ke arah suami Shinta yang masih nelangsa.

“Jadi laki-laki kok cengeng banget kamu, Mas. Tegar begitu lho! Cuma urusan wedhokan aja kok nangis! Wes lah! Aku mau ngentotin Intan dulu, habis itu aku juga mau ngentotin istrimu! Kamu pilih mau balik sendiri atau kupaksa memilih pulang ke rumah sakit?” bisik Pak Hasbi pada Ardian.

Ardian semakin terpukul dengan kenyataan yang dia hadapi. Entah ini karma atau apa dia tidak tahu. Pak Hasbi yang selama ini dia manfaatkan untuk memuaskan fantasinya untuk menggerayang Shinta, ternyata sekarang sudah bergabung dengan orang yang ternyata diam-diam ingin menghancurkannya.

Ardian memang bodoh. Ardian memang lemah, lemah akan nafsu syahwat dan birahinya sendiri. Dia tidak mensyukuri atas nikmat apa yang sudah dia terima dengan memilik istri secantik dan sebaik Shinta. Dia justru memiliki fantasi gila yang di luar nalar. Dan dia masih mencoba mencari kesenangan dengan mendekati Intan yang tak disangka-sangka mulai ia cintai di alam bawah sadar. Ardian tidak pandai bersyukur.

Ardian menunduk. Rontaan pria itu mulai melemah. Kuncian tangan dari Pak Hasbi dan Mbah Wier pun ikut melonggar.

“Hahaha…!!!”

Tiba-tiba Ardian tertawa. Tertawa dengan sangat keras.

“Ahh ahh ahh… Oh iya mas… ahhh…” seru Intan kembali dengan diselingi desahan yang menggoda. Ardian pun berhenti. Dia tidak menoleh tapi semua sadar kalau pria itu menunggu lanjutan dari apa yang akan dikatakan oleh Intan.

“Titip salam buat Mbak Shinta yah Mas! Ahhh, ahhh! Ahhh! Jangan salahkan aku kalau mengambil keputusan seperti ini! Ahhh, istrimu yang cantik itu salah kalau cemburu kepadaku! Ahhh…!”

Ardian geram sekali.

“Sebenarnya dengan adanya atau tidak adanya perhatian manismu selama ini padaku, sungguh aku tidak ada niat sedikitpun merebutmu dari dia…! Ahhh… ahhh! A-aku masih mempunyai suami yang meskipun dengan keterbatasannya masih aku cintai sepenuh hati! Aku mencintai suamiku! Aku mencintai Mas Hendro!! Aku memang kotor! Aku memang lacur! Tapi aku hanya mencintai suamiku! Aku sama sekali tidak ingin menjadi kekasihmu! Aaaaaaaaahhhhh! Ahhhhhh! Teruuuuus, Paaaaak!! Enaaaakghh! Enaaak! Teruuus! Enak bangeeeeet!”

Runtuh sudah dunia Ardian!

wajah binal Intan membuat Ardian benar-benar shock, tubuhnya bergetar hebat melihat Intan dengan pandangan yang sangat berbeda. Intan yang lemah lembut dan manis itu berubah menjadi seorang wanita yang tahu bagaimana memanfaatkan laki-laki lemah sepertinya.

Kenapa ini semua terjadi?

“Mas…! Yang seharusnya dibenci Mbak Shinta itu kamu, Mas…! Ahhh… ahhh! sudah punya istri secantik dan sebaik dia, tapi kamu malah membagi perhatianmu kepada wanita lain! Ahhh… ahhh! Bukan salahku kalau selama ini menerima semua perhatianmu, kan? Aku juga berhak bahagia! Semua ini salahmu, Mas! Kamu pikir aku suci dan lemah! Ahhh, bodohnya kamuuuu, Maaas! Kamu yang harus tanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Mbak Shinta…! Kalau kamu terlambat, Mbak Shinta akan jadi mainan Pak Hasbi! Ahhh… ahhh… ahh! Punya Pak Hasbi besaaar sekali! Ahhh! Ahh! Se-semoga… semoga Mbak Shinta tidak terpengaruh ukuran kemaluan Pak Hasbi dan masih mau menerimamu apa adanya, Mas!”

“Ku-kurang ajar! Sialan! Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu padaku, Intan! Selama ini… selama ini… ahhhh! Sialan!” Ardian semakin terpuruk. Dia memukul-mukul tanah. “SIALAAAAAANNN! SIALAAAAAAAAAAAAAAAN!”

Intan makin tak terkendali, air matanya mengalir deras. Sesungguhnya dia tidak ingin melakukan ini pada Ardian. Dia tidak ingin membuat pria yang selama ini baik kepadanya itu terpuruk dan hancur, tapi… tapi…

Maaf… maafkan aku, Mas… maafkan akuuuu…

“AHHHHHH… AHHHHH! AHHHH! AHH! AHH! AAAAAAAAAAAAAHHHHH!!”

Seiring dengan selesainya kalimat terakhir itu, tubuh Intan lalu mengejang. Orgasmenya datang. Orgasme terdahsyat yang pernah dia dapatkan selama ini. Orgasme yang didapatkannya karena disetubuhi oleh orang yang sangat ia benci, ayah mertuanya sendiri.

Bagi Ardian, ini adalah pukulan terdahsyat yang pernah dia dapatkan selama hidupnya. Belum pernah dia ditusuk dari belakang dengan cara seperti ini. Sudah ditusuk, lalu dikoyak. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Dia pun tidak tahu, masih sanggupkah dia bertahan atau tidak setelah ini.

Apa yang telah dia lakukan!? Apa yang telah dia lakukan!? Celaka. Semuanya hancur!! Celakaaa!!

Pak Hasbi terkekeh melihat Ardian. Mana mungkin Shinta mau menerima orang selemah ini. Wanita itu pantas mendapatkan yang lebih baik… dan lebih besar. Satu hal yang Pak Hasbi tahu dari pengalamannya setelah bertahun-tahun menjadi seorang pejantan. Ketika kita berharap mendapatkan dua dan berakhir tidak mendapatkan apa-apa, itu bukan nasib malang. itu takdir bagi seseorang yang tidak paham jatuhnya karma.

Ada satu pesan penting yang sudah dilanggar oleh Ardian. Jangan serakah.

Ardian jatuh bersimpuh. Kehidupannya akan sangat berubah. Sangat berubah. Sialnya, itu semua… adalah karena kesalahannya sendiri.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy