Di sebuah malam gelap, saat hewan-hewan ternak telah kembali ke kandang dan para penduduk desa telah masuk ke peraduan, lampu terang tampak masih menyala di sebuah kios buah milik Sukirlan. Di dalamnya, sang empunya kios tampak sedang duduk sambil menyeruput secangkir kopi panas yang pahit luar biasa. Di hadapannya, turut duduk sang kakak yang bernama Sukirno.
“Neng endi meneh masmu siji kae, Lan? Ke mana lagi Kakak kamu yang satu lagi, Lan? Ditunggu sedari tadi kok nggak sampai-sampai juga?” Sukirno menanyakan satu pertanyaan retoris kepada si bungsu.
“Heheh. Sabar wae, Mas. Mari kita tunggu sebentar lagi. Kalau misalnya tidak datang juga, tinggal kita datangin saja rumahnya toh,” jawab Sukirlan sambil menghembuskan asap rokoknya ke atas.
“Mendatangi rumahnya sih perkoro sepele, Lan. Masalahnya, dia sekarang lagi di rumah yang mana? Hahaa...”
“Weleh. Benar juga kamu, Mas. Mas Man sekarang ada di rumah yang mana yo?”
Sudah bukan rahasia lagi kalau Ketua RT bernama Sukirman yang merupakan saudara kandung keduanya tersebut telah mempunyai dua orang istri. Bahkan, saat meminang istri keduanya, pria yang sudah berumur tersebut masih sempat-sempatnya mengadakan acara dangdutan dan mengundang warga sekitar. Ya, sekadar berbagi rejeki, katanya waktu itu.
Akibatnya, Sukirman terpaksa harus menyediakan lebih dari satu rumah untuk menampung keduanya. Sayangnya, kedua rumah tersebut bukannya berdekatan, tapi malah berada di desa yang berbeda dan terpisah cukup jauh.
“Memangnya benar kabar tentang kakakmu itu, Lan?”
“Kabar yang mana, Mas?”
“Soal istri-istrinya itu lho...”
“Oh, yang itu. Katanya sih benar.”
“Apa itu tidak akan jadi masalah baru untuk bisnis kita?”
“Harusnya sih tidak ya. Bahkan Mas Man katanya sudah rela kalau keduanya kita jadikan tambahan supply untuk bisnis kita.”
“Wong edyan! Yang bener?”
“Bener. Mas Man sendiri kok yang bilang sama aku.”
“Sudah gila kakakmu itu, Lan. Semuanya cuma gara-gara cah wedhok kuwi. Hanya gara-gara seorang wanita, dia korbankan yang lain-lainnya. Wes jan ra patut ditiru wong siji kae.”
“Aku sudah bilang sama Mas Man, supaya dia tidak perlu terlalu terbawa perasaan seperti itu. Dia itu pimpinan yang semestinya bisa jaga kontol. Semua orang tahu kalau kelemahan laki-laki itu sebenarnya cuma tiga. Harta, tahta, dan wanita. Iya tho, Mas?”
Sukirno manggut-manggut. “Bener. Pinter kamu, Lan. Gak salah kamu belajar banyak dari aku. Hahaa...”
“Bisa wae Mas No ini. Kalau yang bagus ya ditiru, kalau yang salah ya nggak perlu tho?”
“Lalu, setelah kamu kasih tahu begitu, Man bilang apa?”
“Dia sih bilang kalau kita tidak perlu khawatir, karena dia sendiri tahu batas-batasnya. Ya, kita lihat saja apakah benar seperti itu atau tidak.”
“Nah, kalau dia sendiri sudah jadi budak cinta seperti itu, apa mau dia mengikuti rencana kita?”
“Ya, kita pastikan saja nanti,” jawab Sukirlan.
Sesaat kemudian, ia memicingkan mata sembari meletakkan puntung rokok ke adalam asbak.
“Panjang umur. Habis diomongin, orangnya datang.”
Dengan tergopoh-gopoh, seorang pria bertubuh gempal memasuki kios buah Lan dan menempati satu tempat duduk yang tersisa. Mereka tidak khawatir apabila nanti ada pelanggan yang akan datang, karena kios itu tidak hanya menjual ‘buah-buahan’ biasa, sehingga tidak terlalu perlu banyak kursi untuk pengunjung. Kios tersebut lebih membutuhkan kamar kosong dengan sebuah ranjang di dalamnya.
“Opo iki opo iki? Apanya yang panjang umur? Pasti lagi ngomongin aku tho... Ayo ngaku!”
“Lah kowe kuwi lho! Suwe nemen! Dari mana sih? Sudah jam berapa baru datang ke sini!? Aku juga punya urusan ini!” Bentak Sukirno sang kakak tertua.
“Sepurane, Mas. Ada urusan dulu tadi di rumah.”
“Rumah yang mana?”
“Rumah Growol to yoh.”
“Oh, kirain rumah di Cluster Kembang Arum Asri.”
Sukirman sempat berpikir sejenak memikirkan kata-kata kakaknya tersebut, karena ia merasa tidak punya rumah di cluster tersebut. Baru setelah beberapa detik berselang, ia tahu ke mana arah pembicaraan itu.
“Owalah... Mas ini ngagetin saja. Aku jadi bingung, sejak kapan saya punya rumah di cluster, hahaa. Kalau soal yang di sana, itu masih nunggu waktu, Mas.” Pak Man menyeringai, “tinggal selangkah lagi.”
Pak No mendengus, “Lha iyo kalau memang nurutin napsumu, apa perlu kamu mengorbankan istri-istrimu di Growol dan Bawukan? Hanya demi satu perempuan seperti itu?”
“Memangnya kenapa, Mas No?”
“Aku cuma khawatir.”
“Khawatir kenapa?”
“Khawatir kamu kebablasan. Ingat lho, cukup sekali saja rencana kita diobrak-abrik oleh Sobri si bangsat itu dan harus ditinjau kembali. Sobri membuat perhatian berlebih ke desa ini lebih dari seharusnya. Jangan sampai kamu juga ikut-ikutan bikin susah.”
“Hahaa. Mas No tenang saja. Saya tahu batas-batasnya kok.”
“Kalau tahu batas, kenapa harus sampai pedhot karo bojo-bojomu? Pasti karena dipaksa sama cewek barumu itu. Iya tho?”
“Welah, masa ya aku bakal…” Pak Man cengengesan, “Iya sih, Mas.”
“Wedhus! Nah, terbukti memang. Tebakanku nggap pernah salah!”
“Tapi sebenarnya aku sudah bosan juga sama mereka. Karena itu, aku bilang sama Lan kalau mereka nantinya akan aku ‘sedekahkan’ untuk bisnis kita,” jawab Sukirman yang berusaha menenangkan kakak sulungnya itu, “siapa tahu ada yang pengen nidurin istrinya pak RT Sukirman, heheheh.”
Sukirno mengangguk sambil mendesah, “Iya, aku juga sudah dengar tadi dari Sukirlan. Wes dipertimbangkan masak-masak soal keputusan edan-mu ini? Dampaknya kemana-mana ini nanti, Man.”
“Sampun, Mas. Sudah saya pertimbangkan masak-masak. Percaya sama aku, Mas. Aku tahu apa yang terbaik untuk aku sendiri, untuk keluarga kita, dan untuk tempat ini. Lereng Gunung Mandiri akan selamanya menjadi tempat untuk keluarga Sukir turun temurun.”
“Ya... ya... Anggap saja aku percaya kalau kamu tidak akan melewati batas.”
Sukirman menyeringai.
“Tapi ada satu masalah lagi.”
Sukirman melongo, “Haiyah! Apa lagi, Mas?”
“Kamu tahu kan prinsip kita? Bagaimana strategi kita agar bisnis di tempat ini bisa aman sentosa tanpa gangguan pihak berwajib?”
“Untuk urusan yang mana, Mas? Lendir opo obat? Urusan tempik opo godhong?”
“Keduanya. Asu. Masa yang begini kamu tanya toh, Man?”
“Hahaa, ya aku kan hanya memastikan,” jawab Sukirman. “Bukannya kita sepakat untuk membuat bisnis ini serahasia mungkin, agar tidak terendus pihak luar yang berpotensi menghancurkan semuanya? Itu kan maksud Mas?”
“Bagaimana cara kita memastikannya menjadi rahasia?”
“Gampang saja. Itu bisa dilakukan dengan membuat semua orang tutup mulut. Caranya? Dengan memegang Kartu As kelemahan mereka. Dengan begitu semuanya akan tunduk. Sepertinya itu sudah jelas. Lalu apa lagi yang harus dipermasalahkan?”
“Masalahnya, ada satu orang yang masih perlu kita kunci mulutnya.”
“Siapa itu?”
“Walah. Ojo sok-sok nglali. Kamu jangan pura-pura lupa. Kamu kan Ketua RT, masa tidak tahu siapa yang aku maksud.”
“Welah tenan ikih. Sopo sih!? Aku benar-benar lupa, Mas.” jawab Sukirman sambil garuk-garuk kepala.
Dalam hati, ia mengutuk pesan-pesan bernada menjurus dari Amy yang sering ia terima akhir-akhir ini. Meski awalnya Sukirman sendiri yang meminta, tapi praktis pesan seperti itu membuat pikirannya jadi sering lupa akan hal-hal lain.
“Wedhokan tok isi gundulmu, Man.” Sukirno geleng-geleng kepala, “Si Lan baru cerita sama aku. Katanya ada petugas pemantau Gunung Mandiri yang baru. Apa benar?”
“Owalah, iya bener, Mas. Padahal sejak awal dia datang, aku sudah berniat membahas masalah ini sama kalian,” tanggap Sukirman. “Itu bagaimana ya cara kita mengatasi dia? Lambat laun dia pasti akan curiga dengan petakan-petakan mesum di Pagar Jurang dan akan tahu tentang bisnis kita. Yah, bukan tugas dia sebenarnya untuk menghakimi apapun, tapi dia bisa melaporkannya ke pihak yang berwajib.”
“Entekke sisan?” Ujar Sukirlan memberi usul. “Pateni wae.”
“Huuussshhh... Ngawur! Jangan sembarangan kamu, Lan! Maen matheni wong ra ngerti aturan! Dia itu pegawai pemerintah! Kalau tiba-tiba saja mati, yang ada orang luar pasti akan tambah curiga,” sergah Sukirno.
“Trus enake piye, Mas?” Tanya Sukirman.
“Ya seperti biasa. Kita main halus. Pertama kita kasih supply barang untuk menjebak, selanjutnya kita bisa mendapatkan mengantongi kartu as dia.”
“Barang yang mana?” Sukirman mengerutkan kening.
Saat itulah Sukirno memajukan posisi duduknya agar bisa mendekatkan wajahnya ke arah Sukirman, “Lha ini. Untuk itulah kami perlu bantuan kamu, Man.”
“Perasaanku dadi ora enak iki. Bantuan apa?”
“Ya wedhokanmu kae...” Sukirno menepuk lutut sang adik, “Jadikan dia pancingan.”
“Haaah!? Maksudnya? Iki mau ngempanke wedhokanku buat si pemantau gunung itu? Asem!! Memangnya tidak ada barang supply yang lain?”
“Aku sudah pikir-pikir, sepertinya dia tidak akan terjebak apabila kita menggunakan supply-supply biasa. Umpan yang kita berikan setidaknya harus perempuan yang cantik, anggun, dan terhormat, seseorang yang tinggal di Cluster Kembang Arum Asri, agar dia tidak merasa curiga. Kamu lihat sendiri istri dia juga menggiurkan, mana mau dia dengan barang biasa-biasa saja.”
“Yo tetep aja! Di cluster kan banyak perempuan lain. Kenapa mesti yang punyaku? Ada Nisa, ada Shinta!”
“Setelah kasus kemarin, kita tidak bisa lagi menggunakan Nisa. Terlalu berbahaya. Rencana kita sudah pas untuk dia kedepannya, sedangkan Shinta, dia juga sedang ada urusan pribadi dengan keluargaku. Akan terlalu berbahaya apabila aku kembali melibatkan dia dalam urusan ini.”
Pak Man tampak berpikir sejenak. Ia sebenarnya merasa enggan, tetapi tidak punya alasan untuk menolak.
“Piye, Man? Kamu bisa kan suruh dia untuk melakukan itu? Kalau kita pakai perempuan lain, akan sulit juga untuk mengarahkannya.”
“Wedhus! Ini tidak bisa ditolak ya? Aku akan coba. Tapi kalau bisa, aku minta satu syarat.”
“Syarat apa?”
“Cewekku hanya boleh kasih Paket 1 saja, tidak perlu sampai Paket 2 atau Paket 3. Apalagi Paket 4. Setuju?”
Sukirno dan Sukirlan saling menatap, dan akhirnya sama-sama mengangguk.
“Baiklah. Paket 1 sepertinya masih aman. Asalkan perempuan itu bisa merekamnya sebaik mungkin, sehingga kita bisa gunakan itu sebagai senjata untuk membungkam si pemantau gunung itu.”
“Beres. Itu bisa aku atur.”
Ketiga kakak beradik tersebut pun terdiam, karena larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga tiba-tiba Sukirlan mengatakan sesuatu dengan nada lumayan tinggi.
“Owalah, Mas Man. Sepurane yo.”
“Laaah? Ngopo kok ujug-ujug njaluk ngapuro? Kenapa tiba-tiba minta maaf?” tanya sang kakak dengan bingung.
“Aku lupa ini. Ternyata sedari tadi belum menawarkan minum. Mau minum apa Mas?”
“Woalaaaaah. Tak pikir opo. Ya wes, adanya apa?”
“Kopi?”
“Ojo lah... Lagi nggak mau yang pahit-pahit aku.”
“Lha opo? Susu... bagaimana? Doyan to? Hahaaha,” tanya Sukirlan sambil mengedipkan mata pada Sukirman, “susu fresh iki, Mas. Dijamin suegeeer.”
Sukirman nyengir, “Memangnya ada produk susu yang baru? Bosan aku sama yang lama. Sudah ngerasain semua.”
“Wooo ada lah. Merk susu baru, segar langsung dari pabriknya. Masih kuliah. Heheheh.”
“Weeee mantep kih. Masih perawan ora? Hahaa...”
“Haiyah. Kowe iki lho, Man. Masa nggak paham sama adik sendiri. Yang namanya sudah masuk kios buah ini yo pasti udah dicicipi dulu sama dia dan anak buahnya,” ledek Sukirno, “Bener opo bener, Lan?”
Sukirlan hanya memberikan cengiran penuh arti.
“Hahaahahaha, ya iya juga sih, Mas. Namanya komoditi ya harus dicicipi, enak opo ora. Kalau barangnya pahit kan ndak bagus ditawarin ke konsumen. Hahahaha.” Sukirlan memberikan candaan.
“Hahahaha. Wedhus! Ya wes, boleh deh, coba bawa ke sini. Biar aku cicipi sedikit,” jawab Sukirman.
“Kok menarik ini ya. Aku juga haus ini. Wes, aku juga minta es susu satu dong, Lan. Boleh kan?” Ujar Sukirno ikut menimbrung.
“Apa yang nggak boleh buat Mas Man dan Mas No? Hahaa... wes, tak cepakno sek.” Sukirlan berdiri dari kursinya duduk dan hendak melangkah, ia kemudian seperti teringat sesuatu, “Tapi Mas Man...”
“Opo meneh? Apa lagi?”
“Kalau nanti Mbak Endang sama Mbak Ajeng sudah kamu ceraikan. Boleh kan kalau aku cobain juga? Hahaaha...”
“Horotoyoh! Laaaaan… Laaaaaann... Bekasan Masmu juga mau diembat juga? Kuwi janjane piye toh? itu bagaimana ceritanya?�� Ledek Sukirno sambil terkekeh. Ia terus menerus geleng kepala.
“Hahaaha huwasuuuu...!” Sukirman juga ikut geleng kepala, “Nek kowe gelem… kalau kamu mau pakai ya silakan saja, Lan. Semua supply yang ada di sini kan bebas buat kita pakai bersama. Hahaa...”
“Nah, mantap kalau begitu,” ujar Sukirlan, yang langsung meminta anak buahnya untuk memanggil dua orang dari belakang kios. Sementara Sukirman dan Sukirlan menanti dengan tidak sabar, seberapa cantik susu yang akan disajikan untuk mereka.
.::..::..::..::..::.
KEESOKAN PAGINYA
Di salah satu rumah yang terletak di Cluster Kembang Arum Asri, seorang perempuan tampak tengah sibuk dengan adonan bolu yang baru saja ia racik. Sambil sesekali melihat anaknya yang masih terduduk di atas sofa di ruang tamu, ia terlihat memeriksa tingkat kepanasan dari oven listrik yang nantinya akan digunakan untuk memanggang bolu. Setelah semuanya terasa cocok, barulah ia memasukkan adonan ke dalam oven.
Sambil menunggu hidangan yang ia buat matang, perempuan itu duduk di meja makan. Tak butuh waktu lama saat ia kemudian tenggelam dalam lamunan, mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi selama beberapa hari belakangan, dan rencana besarnya untuk mengungkap tragedi kematian keluarganya.
“Masih misterius. Kalau utang keluargaku ke Pak Sukirman sudah lunas, berarti tidak ada motif yang bisa menghubungkan RT mencurigakan itu ke kejadian naas itu? Berarti teori keluarga Sukir terlibat masih abu-abu. Jadi siapa? Siapa yang melakukannya? Atau… jangan-jangan Pak RT berbohong? Tapi apa gunanya dia berbohong soal itu sama aku? Dia kan tidak tahu kalau Pak Budi dan Bu Sulastri adalah orang tuaku… atau jangan-jangan dia sudah tahu? Duh, semakin rumit.”
Perempuan itu – yang tentunya adalah Maya - merasa penyelidikan rahasia yang ia lakukan menemui jalan buntu. Tapi ia tidak ingin menyerah begitu saja dan tidak akan menyerah dengan mudah. Masih ada banyak cara untuk menggali informasi tambahan dari para penghuni di daerah sekitar rumahnya.
Maya mulai merasa kalau kawasan di sekitar lereng Gunung Mandiri ini menyimpan hal-hal buruk yang tidak banyak diketahui orang. Banyak sekali rahasia di sini. Sejauh ini memang belum ada buktinya, tetapi Maya merasa kalau instingnya jarang sekali salah tebak.
“Sepertinya butuh waktu yang lama sampai aku bisa mengungkap semuanya. Tapi tidak apa-apa, karena aku juga tidak sedang buru-buru. Siapapun yang terbukti melakukan tindakan keji kepada keluargaku... Aku tidak akan bisa memaafkannya! Kalau perlu, akan kupastikan nasibnya tidak berbeda dengan keluargaku!”
Ia pun coba mengingat-ingat kembali nama-nama yang mungkin bisa membantu dirinya untuk mendapat informasi baru.
Pertama, ketua RT bernama Sukirman itu tentunya masih bisa dijadikan narasumber utama, meski perempuan itu harus amat sangat berhati-hati apabila berada di dekatnya. Dia berbau marabahaya dan entah apa yang tersembunyi di balik sikap ramah dan senyumannya yang aneh. Karena di balik semua itu, Maya melihat mata yang menatap penuh nafsu pada dirinya.
Kedua, pasangan Pak Hamzah dan istrinya. Meski keduanya punya perangai aneh, tapi mereka juga merupakan rujukan yang baik karena selalu memberikan informasi penting.
Ketiga, ada nama Bi Jum sang tukang sayur.
Keempat, Sukirlan sang penjual buah.
Lalu… kelima, Pak Santo yang sudah lama tinggal di tempat ini.
“Hmm, ngomong-ngomong soal Pak Santo. Waktu itu kan dia sempat membantuku mengusir Pak Ronggo yang nekat datang ke sini. Sepertinya aku juga harus mengucapkan terima kasih kepadanya. Ahh... Sekalian saja aku kasih kue bolu ini sebagian, toh aku membuatnya cukup banyak kali ini.”
Perempuan itu pun memeriksa waktu yang tersisa hingga kue bolu yang tengah dipanggang nantinya matang sempurna, tidak terlalu mentah dan tidak terlalu gosong. Karena waktunya masih lama, ia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian, berusaha tampil secantik mungkin untuk bertemu pujaan hatinya, yang karena tuntutan pekerjaan tidak bisa pulang ke rumah selama beberapa hari.
.::..::..::..::..::.
Dengan langkah cepat, Maya beranjak keluar dari rumahnya dan menyusuri trotoar di Cluster Kembang Arum Asri yang tidak terlalu lebar. Kedua tangannya tampak menenteng rantang dengan isi berbeda. Rantang di tangan kanannya berisi kue bolu pandan dan menu makan siang untuk sang suami, sedangkan rantang lainnya hanya berisi kue bolu yang hendak ia berikan kepada pemilik rumah yang sedang ia tuju saat ini.
Selain karena kedua rantang yang ia bawa, langkah Maya terlihat berat karena beban dari sang anak, yang tengah ia gendong di bagian depan. Sebentar lagi, ketika berat tubuh Athar semakin bertambah, perempuan cantik itu pasti akan merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menggendong buah hatinya bepergian ke sana kemari. Namun apa daya, Maya belum menemukan seorang babysitter atau sosok yang bisa menunggu Athar apabila dia harus pergi ke luar rumah.
Untungnya, rumah yang ia tuju tidak berjarak terlalu jauh, sehingga bisa dijangkau dengan berjalan hanya beberapa menit. Karena tidak ada pintu di pagar yang membatasi bagian depan rumah tersebut, Maya pun bisa langsung masuk ke depan pintu utama, sebelum kemudian mengetuk pintu.
“Permisi... Pak Santo...”
Karena merasa tidak ada jawaban dari dalam, Maya pun kembali memanggil sang pemilik rumah. Kali ini, dia menggunakan nada suara yang sedikit lebih tinggi, agar lebih terdengar.
“Pak Santo... Pak Santo...?”
Tak lama kemudian, sang pemilik rumah membuka pintu. Maya hampir tidak mengenali pria tua tersebut, karena wajahnya yang tampak kelelahan. Kantong hitam di bawah matanya seperti mengatakan kalau pria tersebut baru saja begadang semalaman.
Ketika melihat keberadaan Maya di depan pintu rumahnya, barulah raut wajah Pak Santo berubah. Ia tampak lebih ceria, dengan senyum cerah tersungging di bibirnya.
“Eh, ada Dek Maya. Saya kira siapa...”
“Selamat siang, Pak Santo. Saya mengganggu yaaa?”
“Oh, jelas tidaklah. Mana mungkin kedatangan Dek Maya mengganggu saya. Semua aktivitas justru akan saya tinggalkan apabila Dek Maya datang.”
“Lho, masa gitu sih, Pak?”
“Leres, Dek Maya. Tenan lho. Hahaa... Ngomong-ngomong, ada angin apa tiba-tiba datang ke sini?”
“Ini lho, Pak. Saya mau mengantarkan kue bolu pandan, semoga Pak Santo suka. Maaf kalau jumlahnya tidak begitu banyak,” ujar Maya sambil menyerahkan rantang yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
“Wah, terima kasih banyak lho ini...! Duh kok banyak amat sih? Di rumah ini kan hanya saya sendiri,” ucap Pak Santo. Ia langsung membuka tutup rantang tersebut dan menghirup aroma kue bolu yang dibawa Maya. “Hmm, baunya enak sekali. Dek Maya buat sendiri ya?”
“Iya, Pak. Saya buat sendiri. Nanti sekalian di-review ya, kasih rating antara 1 sampai 10, rasanya enak atau tidak, hihihi...”
“Kalau Dek Maya yang bikin, saya rasa ratingnya bisa sampai 11. Hahaa...”
“Pak Santo bisa saja. Tapi saya serius neh, nanti kasih tahu ya kalau ada yang kurang-kurang.”
“Siap. Tapi kalau saya boleh komentar, kurangnya Dek Maya itu sebenarnya cuma satu.”
“Apa itu, Pak?”
Wajah Maya tiba-tiba berubah serius. Ia merasa khawatir sudah memberikan kesan yang buruk di lingkungan tersebut, meski baru saja pindah ke sana.
“Kurangnya Dek Maya itu cuma satu, kurang sering mampir ke rumah saya. Hahaa...”
“Ihh, Pak Santo mah bercanda aja. Saya udah serius lho tadi. Lagipula, bukannya bahaya kalau saya sering-sering datang ke sini? Nanti bisa jadi gosip ibu-ibu di tukang sayur. Hihihi...”
“Kalau cuma gosip mah tidak usah didengarkan, Dek Maya. Bikin makan hati.”
“Betul sih. Oh iya, saya juga mau berterima kasih sama Bapak.”
“Terima kasih untuk apa? Perasaan saya nggak pernah nolong apa-apa? Ya, paling cuma bantu turun-turunin barang waktu Dek Maya baru sampai itu kan.”
“Hmm, anu... Bantuan yang kemarin, sewaktu ada pria yang tiba-tiba datang ke rumah saya.”
Tiba-tiba raut wajah Pak Santo berubah, dari yang tadinya penuh tawa menjadi sedikit tidak tenang. Ia tampak memikirkan sesuatu, meski tidak mau menyampaikannya kepada perempuan cantik yang tengah berdiri di hadapannya.
“Ahh, tidak usah dipikirkan itu, Dek Maya. Bukankah kita sebagai tetangga harus saling membantu. Lagipula dia tidak akan bisa mengganggu Dek Maya lagi...”
“Tidak bisa apa Pak? Tidak bisa mengganggu saya lagi?”
“Eh, maksud saya... Anu... Maksud saya, semoga dia tidak datang ke sini lagi untuk mengganggu Dek Maya. Karena apabila itu terjadi, saya akan jadi yang pertama menghajar dia bolak-balik, hihihi,” ujar Pak Santo sambil memperagakan gerakan bela diri yang asal-asalan.
“Hahaa, Bapak bisa saja. Memangnya Pak Santo sanggup untuk menghadapi dia?”
“Eladalah... Dek Maya kan sudah lihat bagaimana kemarin saya tendang pantatnya sampai lari tunggang langgang kan?”
“Memangnya itu bisa terjadi lagi? Bukannya cuma kebetulan? Hehihihi...”
“Wah, Dek Maya meragukan kehebatan seorang Santo. Lihat neh, saya coba peragakan...” Pak Santo pun melakukan gerakan silat memukul dan menendang dengan penuh semangat, tapi tiba-tiba dia tampak meringis kesakitan sambil mengurut-urut pundaknya. “Aduh duh duh... kok jadi kram begini sih.”
Maya hanya tertawa melihat tingkah tetangganya yang konyol tersebut sambil geleng-geleng kepala.
“Makanya, Pak. Kalau mau apa-apa tuh pemanasan dulu, jangan asal pukal pukul saja...”
“Iya juga, Dek Maya.”
“Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Lho, Dek Maya mau pergi ke mana? Kok cepat sekali pulangnya?”
“Ini lho, Pak. Saya harus mengantarkan satu rantang lagi yang berisi makanan untuk suami saya di pos pemantauan gunung berapi.”
“Memangnya Dek Maya tahu jalan ke sana?”
“Ya, nanti kan bisa pesan ojek online.”
“Eiittss! Jangan. Jangan pakai ojek online.”
“Memangnya kenapa, Pak?”
“Saya khawatir pengemudinya nanti tidak tahu jalan, lalu kamu malah dibawa ke tempat lain, lalu diculik. Bagaimana hayo? Jalan ke sana berliku dan berkelok sangat rumit lho. Makanya biasanya kan nembus hutan kalau hiking. Tidak semudah pergi ke warung, Dek Maya. Saya khawatir Dek Maya malah diculik dan…”
“Ya nggak mungkin lah, Pak. Semua ojek online kan ada GPS untuk menunjukkan posisi dia ada di mana. Nggak mungkin bisa culik orang.”
“Wes, pokoknya jangan. Lebih baik saya antarkan saja ya ke sana. Tunggu sebentar, saya keluarkan motor dulu.”
Maya baru hendak melarang Pak Santo, namun pemilik rumah tersebut sudah terlanjur masuk ke dalam rumah untuk mengambil sepeda motornya. Tidak ada cara lain bagi Maya untuk menolak tawaran tersebut, tanpa harus merasa tidak sopan.
.::..::..::..::..::.
Sepanjang jalan menuju pos pemantauan gunung berapi, di mana suami Maya yang bernama Ervan sehari-hari bertugas, Pak Santo merasa perjalanan itu adalah momen paling bahagia sepanjang hidupnya. Betapa tidak, tanpa angin tanpa hujan, ia tiba-tiba mendapat kesempatan untuk mengantar perempuan cantik yang merupakan penghuni baru di Cluster Kembang Arum Asri. Mungkin, Maya adalah perempuan paling menawan yang pernah naik ke atas motor butut Pak Santo, yang biasanya hanya digunakan oleh sang pemilik untuk membeli kebutuhan hidup di pasar.
Rantang yang tadi dibawa oleh Maya telah disangkutkan pada kaitan di bagian depan sepeda motor tersebut, sedangkan sang ibu muda beranak satu itu duduk di jok belakang. Posisi seperti itu sebenarnya tidak ideal di mata Pak Santo, karena di antara mereka ada bayi bernama Athar yang seperti menjadi penghalang antara punggungnya dan buah dada Maya yang montok.
“Yaahh, jadi nggak ada kesempatan buat dapat setempel dua tempel di jalan dong,” pikir Pak Santo di awal perjalanan.
Namun karena kondisi jalan yang buruk dan suspensi motor yang sudah tidak terlalu sempurna, berkali-kali Maya hampir hilang keseimbangan dari posisi duduknya semula. Karena itu, ia terpaksa berpegangan erat pada tubuh sang pengemudi agar tidak terjatuh.
“Maaf ya, Pak Santo. Saya jadi harus pegangan sama Bapak agar tidak jatuh,” ujar Maya yang merasa tidak enak hati.
“Nggak apa-apa kok, Dek Maya. Pegangan saja yang lebih erat. Kasihan Nak Athar nanti kalau Mamanya sampai jatuh dari motor,” jawab Pak Santo.
Meski awalnya ragu, namun Maya tetap menurut karena memikirkan keselamatan sang anak. Tangannya yang lembut kini telah berlabuh di perut Pak Santo. Awalnya hanya tangan kanannya saja, tetapi karena guncangan yang semakin parah, tangan kirinya pun ikut memeluk tubuh Pak Santo.
Dalam hati, pria tua yang sedang mengemudikan motor itu merasa ingin berteriak sekuat tenaga, saking girangnya. Itulah mengapa Pak Santo terus saja tersenyum sepanjang perjalanan, meski tidak sampai diketahui oleh Maya yang duduk di belakang.
Kebahagiaan rahasia Pak Santo itu seperti berbanding terbalik dengan perasaan Maya, yang merasa kesal karena begitu tidak nyamannya sepeda motor tersebut. Ia menyesal telah menerima tawaran pria tua itu, yang membuat dia terjebak pada perjalanan yang menyebalkan ini.
“Kalau tahu begini, jelas lebih baik naik ojek online saja, atau taksi online sekalian. Nggak lagi-lagi deh mau dianterin sama Pak Santo naik sepeda motor ini,” batin Maya.
Untungnya, situasi tersebut tidak berlangsung lama. Belum sampai satu jam perjalanan, mereka berdua telah sampai di tempat parkir kendaraan yang berada dekat Pos Pendakian Gunung Mandiri, yang setiap hari dijaga petugas tidak resmi bernama Pak Karjo.
Dari tempat ini, Maya hanya bisa berjalan kaki untuk sampai di lokasi suaminya bekerja. Mobil sang suami pun terlihat terparkir di tempat tersebut.
“Pak Santo mau langsung pulang?” Tanya Maya begitu turun dari motor dan mengambil rantang yang tadi ia sangkutkan di bagian depan motor.
“Lho, ngapain saya pulang? Saya tunggu Dek Maya di sini saja.”
Maya pun terdiam. Ia jelas tidak mau lagi menempuh perjalanan kembali pulang dengan motor butut yang tidak terawat milik Pak Santo.
“Hmm, nggak usah deh, Pak. Saya nggak mau merepotkan Bapak. Lebih baik, Bapak pulang saja, biar nanti saya pulang sendiri naik ojek online.”
“Wah, Dek Maya belum tahu ya? Di sini itu susah lho cari ojek online.”
“Masa sih, Pak?”
“Ya monggo saja kalau Dek Maya mau coba sendiri. Beberapa orang coba pesan dari sini, walaupun dapat pengemudi, ujung-ujungnya di-cancel juga.”
“Begitu ya?” Kini Maya justru mulai bingung dengan rencananya sendiri. Ia tidak menyadari kalau lokasi tempatnya berada sekarang cukup jauh dari peradaban, yang membuat jarang sekali pengemudi ojek online yang lewat tempat ini.
“Makanya, lebih baik saya tunggu Dek Maya saja di sini, biar kita bisa pulang sama-sama. Lagipula, saya kan sudah terlanjur sampai di sini, kenapa pulangnya harus misah-misah, hihihi.”
“Tapi... memangnya Bapak nggak ada kesibukan lain? Saya nggak enak kalau nanti harus ganggu waktu Bapak.”
“Ealah... Dek Maya ini ngeledek atau piye tho? Saya ini kan bukan orang kerja kantoran, jadi kerjaannya tiap hari ya cuma main burung di rumah, sama main catur di pos ronda. Wes, iku thok. Hahaa...”
“Maaf, Pak Santo. Saya bukan mau meledek, cuma memastikan.”
“Memangnya Dek Maya akan lama di atas? Jangan-jangan mau nganu dulu ya sama suaminya? Ayo ngaku, hahaa...” Goda Pak Santo sambil membuat lingkaran dengan jempol dan telunjuk kanannya, lalu memasukkan telunjuk kirinya ke dalam lingkaran tersebut.
“Ihh, Pak Santo apaan sih? Nggak lucu ah bercandanya,” ujar Maya, meski sambil tetap tersenyum. “Saya cuma mau antar makanan saja kok, setelah itu ya langsung pulang.”
“Nah, pas kalau begitu. Nanti saya tunggu saja di Pos Pendakian yang ada di situ,” ujar Pak Santo sambil menunjuk ke sebuah bangunan kecil beratapkan genting yang berada tepat di pintu awal jalur pendakian.
Masa sempat berpikir sejenak, menimbang untung rugi keputusan yang akan ia ambil. “Baiklah, Pak. Nanti kita pulang bareng aja. Tunggu sebentar ya.”
“Oke, Dek Maya.”
Saat Ibu muda tersebut tengah berjalan menuju awal jalur pendakian guna menuju Pos Pengawasan yang ada di atas gunung, Pak Santo jadi bisa melihat pantatnya yang sekal dari arah belakang. Kedua bongkahan indah milik Maya tersebut bergoyang dengan begitu sensual, setiap kali ia melangkah. Pemandangan tersebut membuat birahi sang pria tua naik, hingga kejantanannya otomatis berdiri tegak di balik celananya.
“Ughhh... Pasti nikmat banget rasanya kalau bisa ngentotin Dek Maya dari belakang. Yakin deh, pasti masih sempit banget itu memeknya. Hahaa...”
Meski begitu, Pak Santo sadar kalau Maya bukanlah sosok perempuan biasa yang mudah untuk ditaklukkan. Dari beberapa interaksinya dengan ibu muda tersebut, Pak Santo mulai memahami kalau Maya punya kepribadian yang cukup keras, dan bisa melawan apabila merasa dipaksa untuk melakukan sesuatu. Karena itu, Pak Santo belum bisa menemukan celah untuk setidaknya bisa mencuri hati perempuan tersebut.
“Halah... Wes lah, angel men mikirin soal itu terus. Lebih baik sekarang aku ke Pos, siapa tahu Pak Karjo lagi mau diajak main catur.”
Begitu sampai di Pos Pendakian dan membuka pintunya, Pak Santo kaget karena melihat Pak Karjo ternyata tidak sendirian di dalam. Ia tengah asyik merokok bersama seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Pak Santo.
“Eladalah... Ngapain kamu siang-siang datang ke sini, Santo?”
“Lah, Pak Man sendiri ngapain datang ke sini? Tumben banget.”
“Kowe iki lho... Kalau ada orang nanya itu dijawab. Bukannya malah ditanya balik!”
“Hahaa, sepurane Pak RT. Namanya juga respek.”
“Reflek kali maksudnya?”
“Nah iya itu... Kesbek. Hahaa.”
“Haiisshh. Wis mumet aku dengerin ocehan kamu. Jadi ngapain sebenarnya kamu datang ke Pos Pendakian sini?”
“Memangnya nggak boleh, Pak? Niat saya olahraga, hahaa...”
“Santo... Santo... Kayak kita baru kenal kemarin sore saja. Mustahil seorang Santo Dirgantoro mau keluar keringat, apalagi sampai jauh-jauh ke Gunung Mandiri sini. Kalau si Hamzah, nah baru saya percaya. Memang masih punya mimpi jadi atlet Olimpiade sepertinya si tua bangka itu.”
“Bisa saja Pak RT ini,” tanggap Pak Santo. “Ini lho, saya sedang mengantar Dek Maya. Katanya dia mau bawain makanan buat suaminya yang sedang bertugas di Pos Pemantauan gunung di atas.”
“Eh eh eh... Coba kamu ulangi? Maksudnya, Dek Maya sekarang sedang naik ke atas, buat ketemu Pak Ervan?”
“Halah dibaleni. Kenapa diulang? Wes jan ra pokus. Makanya Pak RT kalau orang ngomong itu kupingnya dipasang, jangan ditinggal di rumah. Kalau ngobrol sama biduan aja, baru bisa fokus.”
“Asu! Beneran nanya ini! Jawab dulu, Santo. Jadi sekarang Dek Maya sedang jalan ke atas?”
“Iya, Pak RT. Lah wong saya yang antar ke sini tadi, terus dia langsung naik ke atas buat ketemu suaminya.”
“Hahaa...” Mendengar jawaban Pak Santo, sang ketua RT langsung tertawa terbahak-bahak, sehingga membuat bingung dua pria tua lain di dalam pos. “Hahahahahhaa!”
“Lho, Pak RT kok tiba-tiba ketawa begitu? Memangnya ada yang lucu? Kenapa Pak? Pak RT! Pak RT! Kok ngguyu dewe kih lho! Piye iki Pak Karjo? sepertinya Pak RT iki wes dadhi wong gendheng!”
“Yo mboh, San. Kowe koyo ra ngerti Pak RT wae.” jawab Pak Karjo yang sama bingungnya dengan Pak Santo.
“Hahaa, kalian ini nggak ngerti sih. Dengan kedatangan Dek Maya ke sini, maka artinya akan ada sesuatu yang menarik terjadi di atas sana. Sungguh tidak diduga tidak dinyana, yang namanya kebetulan itu memang bisa terjadi kapan saja.”
“Hah? Sesuatu yang menarik apa sih, Pak? Jangan pakai rahasia-rahasiaan deh!” Pak Santo mulai kesal dengan sikap misterius pimpinan lingkungan tersebut.
“Wes, ra usah kangkean cangkem. Pokoknya kamu tunggu saja. Sebentar lagi, Dek Maya pasti akan turun dari atas dengan raut wajah yang berbeda dibanding waktu dia naik tadi. Percaya sama saya,” ujar Pak Man sambil tersenyum penuh arti.
.::..::..::..::..::.
Sambil bersenandung, Maya terus melanjutkan langkah mendaki lereng Gunung Mandiri, menuju Pos Pemantauan gunung berapi tempat suaminya bekerja. Kemiringan jalan yang semakin curam membuat gerak kakinya menjadi lebih berat, ditambah rantang yang ia bawa dan sang anak yang berada di dalam gendongannya. Itulah mengapa ia terus bernyanyi-nyanyi sendiri, guna melepas rasa lelah.
“Sometimes I feel like everybody is a sexy baby
And I'm a monster on the hill
Too big to hang out, slowly lurching toward your favorite city
Pierced through the heart, but never killed”
Terdengar lirik dari sebuah lagu Taylor Swift, yang meluncur dari sela-sela bibir Maya yang indah. Sejak bertahun-tahun lalu, ia memang sering mengasosiasikan dirinya dengan penyanyi asal Amerika Serikat tersebut karena merasa punya beberapa kesamaan, setidaknya dalam hal menyimpan dendam.
“Hufthh... akhirnya,” ujar Maya ketika dirinya hanya tinggal beberapa langkah dari pintu Pos Pemantauan yang masih dalam kondisi tertutup.
Namun perempuan tersebut langsung terkejut, ketika melihat sebuah sandal yang dari modelnya jelas sekali kalau itu bukanlah milik seorang laki-laki. Sandal tersebut tergeletak begitu saja di depan pintu pos, tepat di sebelah sepatu yang Maya tahu persis, merupakan milik suaminya.
“Lho, sandal ini milik siapa ya? Apakah ada tamu dinas yang sedang datang? Atau mungkin ada yang sedang hiking tapi capek, terus minta izin beristirahat di sini? Mirip sewaktu aku dan Mas Ervan menolong Pak Hamzah?” Gumam Maya melakukan deduksi, tapi jantungnya berdetak lebih kencang dari seharusnya, ia menatap ke arah ruangan sang suami, “Tapi kenapa pintunya harus ditutup?”
Karena merasa penasaran, Maya tidak langsung menuju pintu pos, dan memilih untuk sedikit memutar menuju salah satu jendela yang menghadap langsung ke arah ruangan utama di dalam pos. Saat makin mendekat, Maya mulai mendengar suara-suara aneh dari dalam bangunan kecil tersebut. Dalam hati, ia jadi merasa was-was akan keselamatan suaminya.
“Apa nanti aku harus meminta tolong pada Pak Santo yang ada di bawah?” pikir Maya.
Setelah sampai di jendela yang ia tuju, Maya menempatkan kepalanya di sudut agar matanya bisa mengintip ke dalam. Ia melakukannya dengan hati-hati, agar tidak menarik perhatian siapa pun yang ada di dalam pos. Tentu bukan sesuatu yang mudah, dengan seorang anak bayi di dalam gendongannya.
“Astaghfirullah...!”
Ibu muda tersebut begitu terkejut ketika melihat situasi di dalam pos, di mana suaminya sedang berbaring di atas sofa tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Pakaian sang suami telah tergeletak begitu saja di lantai pos.
Lebih parahnya, seorang perempuan berjilbab yang juga sudah tidak mengenakan busana lain di tubuhnya, tengah menindih tubuh suaminya dari atas.
“Itu kan...!?”
Maya langsung tercekat, karena ia jelas tahu siapa perempuan yang sedang menggerakkan tubuhnya naik turun tepat di atas selangkangan suaminya tersebut. Sosok itu sungguh tidak asing baginya.
Jantung Maya langsung berdebar begitu cepat. Nafasnya semakin memburu, seiring dengan emosi di dadanya yang perlahan naik. Giginya bergemeretak, seiring dengan usaha perempuan tersebut untuk menahan amarah yang begitu membara. Ia sempat berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi, namun sayangnya apa yang tengah ia lihat memang benar-benar terjadi.
Kegeraman Maya semakin memuncak, ketika mendengar erangan dan racauan kedua insan berbeda jenis kelamin tersebut dari dalam pos.
“Ahhh, Mas Ervaaaannn... Terusiiinn Maaassss... Aku sukaaaaa...”
“Ngghhh... Iya Mbak Amyyyy...”
“Remas-remas toket aku Maaaassss...”
“Bentuknya indah sekali ya Mbak... Mirip melon yang baru mataaanngg... Ngggghhh...”
“Kontol kamu besar bangeett Maaassss... Dalem banget masuknyaaa...”
“Memek kamu juga sempit banget, Mbaaakkk... Nggghhh...”
“*************************************************************** memek aku yang sempit ini dengan sperma kamu Maaassss...”
“M-memangnya boleh Mbaaakkk? Suami Mbak nggak akan marah nanti? Nggghhh...”
“Dia nggak perlu tahu Maaasss... Biar ini jadi rahasia kita berdua saja... Aaaahhh...”
“Jangan bilang istriku juga ya Mbaaaakkk... Bisa kiamat nantiii...”
“Iya Maaasss Ervaaaannn... Mbak Maya nggak perlu tahu kalau kontol suaminya lagi ngentotin memek akuuuu... Aaaaahhh...”
Entah bagian mana yang paling membuat Maya kesal, antara kenaifan suaminya atau sikap ganjen perempuan yang merupakan tetangga barunya di Cluster Kembang Arum Asri. Ia seperti melihat sisi lain dari Ervan, yang selama ini belum pernah ia lihat.
“Padahal, ketika bermain cinta denganku saja Mas Ervan tidak pernah semenjijikkan ini ocehannya,” batin Maya.
Maya menggemeretakkan gigi dan meremas jemarinya erat-erat dalam kepalan tangan. Tidak menyangka kalau kepindahannya ke tempat yang seharusnya menjadi rumah baru bagi keluarga kecilnya tersebut justru membuat kehidupannya makin berantakan seperti ini. Apalagi ditambah fakta bahwa hingga saat ini ia belum mampu mengungkap misteri kematian keluarganya.
Berat sekali rasanya untuk tidak melabrak ke dalam saat ini. Maya masih mencerna apa yang sebaiknya harus ia lakukan. Ia tidak tahan. Ia harus ke dalam! Ia harus menghajar wanita sundal itu dan…
“Enak mana memek aku dibanding istri kamu Maaassss... Ahhhh...”
“Lebih enak memek kamu Mbak Ammyyy... Nggghhh...”
“Padahal aku sudah punya anak satu ya... Aaahhh...”
“Iya neh, tapi rasanya masih legit banget kayak perawan... Nggghhh... Mau aku bikini adek untuk Kevin, Mbaaakkk ??”
“Mauuuuuuuuuu... Ahhh, hamilin aku Mas Ervaaann... Aku sukaaaaaa...”
Tidak! Tidak! Tidaaaak! Kurang ajar kamu, Mas! Bisa-bisanya! Cukup sudah...
Maya tidak bisa menyaksikan adegan mesum tersebut lebih lama lagi. Ia merasa tidak sanggup melihat kemesraan suaminya dengan perempuan lain, apalagi kalau sampai membanding-bandingkan perempuan tersebut dengan dirinya.
“Aku tidak menyangka kalau kamu sehina itu, Mas Ervan,” batin Maya dalam hati.
Perempuan tersebut bimbang, apakah ia harus melabrak pasangan mesum tersebut saat ini juga. Namun, keberadaan sang anak yang masih tertidur pulas di dalam gendongannya, membuat hal itu akan jadi sangat sulit. Ia tidak mau mempertontonkan kemarahan di hadapan sang anak, yang bisa membuatnya trauma.
“Nggghhh, boleh nungging nggak Mbaak Ammyy... Aku mau masukin kontol aku dari belakang, ngghhh...”
“Boleh Maaassss, ayo cepet masukiiiinnn... Entotin aku dengan liar Maaaassss, anggap aku anjing betinamu yang setiaaaa... Aaaahhh...”
“Cih, persetan dengan yang namanya kesetiaan. Kamu itu perusak kesetiaan yang sudah kita bangun dengan susah payah, Mas Ervan,” gumam Maya.
Slleeeppp.
“Aaahhh... Gilaaaa, nikmat sekali memekmu ini Mbaaaakkk...”
“Kontol Mas dalem banget masuknyaaaa... Aku sukaaaa... Aaahhh...”
Perlahan, Maya mundur dari posisinya semula di dekat jendela. Perempuan tersebut merasa tidak mampu untuk bertahan. Ia pun memutuskan untuk enyah dari tempat tersebut, karena tidak ingin sang anak terbangun, dan melihat ayahnya sedang dalam kondisi seperti itu dengan perempuan lain.
“Bajingan... Berani-beraninya kamu melakukan ini di belakangku, Mas. Dasar lelaki bejat!” batin Maya menggerutu, sambil beranjak meninggalkan Pos Pemantauan gunung berapi itu. “Aku kira kamu sedang sibuk bekerja di sini untuk menafkahi anak dan istri, ternyata kamu malah asyik-asyikan ngentot perempuan sundal tersebut.”
Semakin menjauh dari Pos Pemantauan, Maya semakin mempercepat langkahnya. Setiap detik yang berlalu seperti menambah api amarah di dalam dadanya, membuat ia semakin jijik dengan tempat tersebut dan ingin pergi sejauh dan secepat mungkin. Karena begitu terburu-buru, entah sudah berapa kali Maya hampir terjatuh, meski akhirnya bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, ia pun sudah sampai di area parkir di dekat Pos Pendakian. Kehadiran perempuan cantik itu pun menarik perhatian Pak Santo yang sedang asyik mengobrol dengan Pak Man dan Pak Karjo.
“Lho lho lho... Dek Maya kok sudah turun lagi dari Pos Pemantauan? Rantang makanannya juga masih dibawa,” ujar Pak Santo. “Eh, dia kok sepertinya malah menangis?”
“Haha... Apa aku bilang? Wis tak kandani ra percoyo kowe...” ujar Pak Man sambil tergelak.
Pak Santo tidak mengindahkan kata-kata sang ketua RT, karena merasa khawatir dengan kondisi Maya. Ia pun langsung berlari keluar pos untuk menyambut kedatangan bidadari berparas cantik tersebut.
.::..::..::..::..::.
“Ini kembaliannya, Pak,” ujar seorang ibu penjual mie ayam kepada Pak Santo, sambil memberikan sejumlah uang receh.
“Suwun yo Bu,” jawab Pak Santo dengan sopan.
Pria tua tersebut terlihat tenang, seperti tidak ada hal mengejutkan yang terjadi hari ini. Lebih tepatnya, ia sedang berpura-pura tenang, karena dalam hati ia sudah ingin sekali menyambangi seorang perempuan di Cluster Kembang Arum Asri.
“Sami-sami. Semoga diperbanyak rezekinya, dipanjangkan umurnya, dan diberi kebahagiaan dunia akhirat,” lanjut sang ibu sambil membenahi jilbab yang ia kenakan.
“Amin, Bu.”
Seumur hidup, Pak Santo tidak pernah sekalipun berdoa. Namun kali ini, ia benar-benar mengamini doa sang ibu penjual mie ayam, meski Tuhan yang mereka sembah berbeda server. Namun, yang namanya doa tetaplah doa, bukan?
“Kalau rencanaku berhasil, aku pasti akan merasakan kebahagiaan dunia yang sesungguhnya, hahaa. Kalau masalah akhirat, itu soal lain,” batin Pak Santo.
Pria tua itu kembali memacu motor bututnya ke Cluster Kembang Arum Asri, yang hanya berjarak sekitar 10 menit dari warung mie ayam. Ketika telah sampai di rumah penghuni baru di perumahan tersebut, Pak Santo mengurungkan niatnya untuk turun dan langsung masuk ke dalam.
“Sepertinya akan lebih seru kalau aku mengambil sesuatu dulu dari rumah. Hahaa, memang paten sekali ideku ini...”
Ia kemudian memutar stang motor ke arah kiri, menuju rumahnya sendiri yang saat ini tengah kosong tak berpenghuni. Begitu sampai, ia langsung turun dari motor dan menuju ke arah dapur, lalu membuka pintu kulkas. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah botol yang ia sudah hapal betul apa isinya.
“Nah, aku bawa saja botol minuman ini, siapa tahu nanti bisa menjadi bala bantuan, hihiii...”
Di perjalanan kembali ke rumah yang sebelumnya ingin ia kunjungi, Pak Santo coba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi hari ini. Khususnya saat perjalanan pulang dari Pos Pendakian Gunung Mandiri hingga kembali ke cluster tempatnya tinggal. Semua berlangsung sangat cepat, hingga Pak Santo merasa kesulitan apabila ia diminta menceritakan semuanya kembali secara detail.
Yang pasti, pria tua tersebut langsung menghampiri Maya saat melihat ibu muda berparas cantik itu tahu-tahu sudah kembali turun dari Pos Pemantauan, tempat suaminya bekerja. Padahal, baru beberapa menit perempuan tersebut naik ke atas sana. Dan anehnya lagi, rantang makanan yang ia bawa untuk bekal sang suami masih ia genggam erat.
“Dek Maya, kok sudah turun? Mas Ervan lagi nggak ada di pos?” Tanya Pak Santo begitu berada di hadapan Maya. Sayangnya, perempuan itu hanya bisa menangis sesenggukan, tanpa kekuatan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Pak Santo mencoba beberapa kali untuk mengorek keterangan dari Maya, tetapi selalu gagal. Ia khawatir telah terjadi hal buruk pada wanita pujaan hatinya tersebut.
“Asuuuuuu... sebenarnya apa yang sudah dilakukan Pak RT terhadap Mas Ervan? Kok sampai Dek Maya nangis nggak berhenti-berhenti begini,” batin Pak Santo, “tapi ini malah membuka kesempatan bagiku.”
Dalam hati, Pak Santo sudah ingin membelai wajah ibu muda alim tersebut demi menenangkan suasana hatinya, tetapi langsung ia urungkan. Ia khawatir kalau hal itu justru akan menambah parah suasana.
“Ya sudah, nggak apa-apa kalau Dek Maya belum mau jawab. Sekarang Dek Maya mau ke mana?”
“N-nggak tahu, Pak... Hikkss...”
“Mau saya antar pulang kembali ke rumah?”
Cukup lama Maya terdiam setelah mendengar pertanyaan tersebut. Ia tampak masih bimbang akan apa yang harus ia lakukan, sebelum kemudian mengangguk lemah.
“Baik. Kalau begitu, kita kembali ke motor ya, Dek Maya.”
Sepanjang perjalanan, Pak Santo masih berusaha mengulik apa yang sebenarnya baru saja terjadi, hingga tahu-tahu Maya kembali turun dengan kondisi kacau seperti ini. Namun perempuan itu tetap diam seribu bahasa.
Satu-satunya kata yang sempat terlontar dari mulutnya adalah kata “bajingan!” yang diiringi dengan lemparan rantang yang tadi ia bawa ke pinggir jalan, hingga langsung hancur berantakan.
Karena itu, Pak Santo memutuskan untuk tidak lanjut bertanya. Bukankah cara terbaik untuk meredam amarah adalah dengan membiarkannya reda seiring berjalannya waktu. Nanti pada saatnya, Maya pasti akan menceritakan semuanya secara rinci, sehingga Pak Santo akan tahu bagaimana seharusnya ia bereaksi.
Saat motor butut tersebut sampai di depan rumahnya, Maya masih terlihat lesu, dengan air mata yang terus mengalir di pipi. Pak Santo pun khawatir kalau ibu muda tersebut mungkin akan terus menangis dan menghabiskan waktu dengan kondisi seperti itu, entah sampai kapan.
“Dek Maya, saya mau beli mie ayam untuk makan siang. Apa Dek Maya mau saya belikan juga?” Tanya Pak Santo berinisiatif.
Maya sempat berpikir sejenak, seperti menimbang-nimbang pilihan yang harus ia ambil. Perempuan itu baru menyadari kalau perutnya sudah berbunyi sejak tadi, tanda bahwa ia belum makan apa-apa.
“Boleh deh, Pak,” jawab Maya.
“Baik, kalau begitu tunggu sebentar ya. Saya belikan dulu di depan cluster, nggak lama kok,” ujar Pak Santo sambil tersenyum.
Dan sekarang, Pak Santo telah kembali berada di depan rumah Maya, sembari membawa bungkusan berisi mie ayam dan sebotol minuman yang tadi ia ambil dari rumah. Pria tua itu memutuskan untuk berjalan kaki, alih-alih mengendarai sepeda motor, karena jarak rumah mereka yang berdekatan. Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke kiri dan kanan, demi memastikan tidak ada seorang pun yang akan mengganggu rencananya.
Begitu masuk, Pak Santo bisa melihat Maya tengah terduduk di atas sofa ruang tamu sambil menatap layar televisi di hadapannya yang masih dalam kondisi mati. Perempuan itu termenung, seperti tengah memikirkan permasalahan maha penting yang bersemayam di kepalanya. Ia belum berganti pakaian, dan masih mengenakan blus hitam yang menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha, dengan celana kain longgar menutupi kakinya yang jenjang.
“Lagi bengong seperti itu saja kamu sudah kelihatan begitu cantik, Dek Maya. Apalagi kalau sedang mengerang waktu aku tindih tubuhmu di atas ranjang. Hehihihi.” Batin Pak Santo.
Karena begitu fokus dalam lamunan, Maya sampai tidak menyadari kehadiran Pak Santo yang sudah berdiri tepat di ambang pintu rumahnya. Ia baru menoleh saat Pak Santo mengetuk daun pintu.
“Permisi, Dek Maya,” ujar Pak Santo menarik perhatian perempuan tersebut.
“Eh, Pak Santo. Sudah sampai rupanya.”
Tanpa meminta izin, Pak Santo langsung menyelonong masuk dan ikut duduk di atas sofa. Karena posisi duduknya yang hanya berjarak beberapa senti dengan Maya, ia jadi bisa menghirup aroma tubuh sang ibu muda yang begitu segar.
“Athar di mana, Dek?” Tanya Pak Santo yang tidak melihat batang hidung bocah mungil tersebut.
“Sudah saya baringkan di kamar, Pak.”
“Dia masih tidur?”
“Iya, alhamdulillah masih,” jawab Maya sambil kembali termenung. “Untung saja ia tidak sampai bangun, sehingga tidak perlu mendengar atau menyaksikan semua kekacauan ini.”
Mendengar itu, Pak Santo semakin gemas untuk menanyakan apa yang sebenarnya baru saja terjadi. Namun, nalurinya mengatakan bahwa ini bukanlah saat yang tepat. Ia harus mengulur waktu sampai sang perempuan cantik dihadapannya sudah merasa cukup tenang, dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kesadaran dan kemauannya sendiri. Dengan begitu artinya Dek Maya sudah percaya seratus persen kepadanya.
“Ini saya sudah belikan mie ayam,” ujar Pak Santo sambil meletakkan bungkusan yang ia bawa di atas meja ruang tamu. “Lebih baik kita makan dulu, sebelum dingin.”
“Sebentar saya ambilkan mangkok dan sendok ya, Pak.”
“Jangan lupa ambilkan gelas juga.”
“Eh?”
“Dek Maya ingat nggak jamu yang pernah saya kasih waktu itu?”
“Eh, yang mana ya, Pak?”
“Itu lho, waktu Dek Maya pindahan, malamnya kan saya bawa jamu ke sini. Nah, ini saya bawa lagi dari rumah. Hehihihi...”
“T-tapi...” Maya sebenarnya bingung, apa enaknya minum jamu setelah makan mie ayam. Namun, suasana hatinya yang buruk membuat ia malas berdebat.
“Sudah, cepat ambilkan saja Dek. Nanti keburu nggak enak neh makanannya.”
“I-iya, Pak.”
.::..::..::..::..::.
Tidak sampai 15 menit, dua mangkok mie ayam yang ada di hadapan Maya dan Pak Santo sudah tandas. Keduanya tampak begitu lapar, hingga terus mengunyah tanpa henti.
Maya, yang sepanjang perjalanan pulang ke rumah tadi terus menangisi nasib malangnya setelah menyaksikan tingkah bejat sang suami, merasa energinya sudah terkuras habis dan harus segera diisi. Bila tidak, tak lama lagi mungkin ia akan pingsan dan tak sadarkan diri. Hal itu jelas tidak boleh terjadi, karena apa kabar anak semata wayangnya nanti?
Sedangkan Pak Santo, merasa bahwa ia harus mengisi energi agar bisa melaksanakan niat busuknya terhadap perempuan muda nan seksi yang tengah bersamanya. Ia merasa lega karena Maya sama sekali tidak merasa canggung akan keberadaan dirinya. Api kemarahan yang jelas terlihat dari mata dan raut wajahnya saat turun dari atas gunung, kini sudah berangsur lenyap.
Dalam diam, Pak Santo menatap paras Maya yang begitu menawan. Pipinya yang tembam tampak begitu menggemaskan, meski bekas lelehan air mata yang sudah mengering masih jelas terlihat. Di balik simbol kesedihan tersebut, ia masih bisa melihat keanggunan wajah Maya yang terbingkai oleh jilbab hitam syar’i.
“Nah, sekarang silakan coba jamu racikan saya ini, Dek Maya. Dijamin sama segarnya dengan yang saya bawa waktu itu. Hehihihi...”
Pak Santo langsung menuangkan cairan dari botol yang ia bawa ke dalam gelas, lalu menyodorkannya kepada Maya.
“T-terima kasih, Pak.”
Meski enggan, Maya tetap menerima jamu tersebut dan meminumnya. Ia sebenarnya tidak terlalu suka jamu, dalam bentuk apapun. Namun, kondisi saat ini sepertinya menuntut dirinya untuk bersikap sopan di hadapan pria tua yang sudah menemaninya sepanjang hari ini, di tengah pengkhianatan yang dilakukan suaminya.
“Rasanya masih enak seperti yang sebelumnya aku minum. Padahal yang waktu itu masih hangat, sedangkan yang ini sudah dingin seperti baru dikeluarkan dari kulkas,” gumam Maya dalam hati.
“Wah, sepertinya Dek Maya suka ya. Sini saya tambahkan lagi,” ujar Pak Santi sambil kembari menuangkan jamu ke dalam gelas Maya yang sudah kosong.
“Eh, sudah Pak. Cukup cukup...”
“Tidak usah malu-malu, Dek Maya. Di rumah saya masih banyak kok, nanti bisa saya bawakan ke sini kalau yang ini habis. Hehihihi...”
Setelah meminum gelas kedua, Maya merasakan kehangatan yang unik tiba-tiba menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Kehangatan tersebut seperti memantik syaraf-syaraf yang sebelumnya tersembunyi, membuat tubuh Maya seperti diserbu semangat untuk bergerak dan mengeluarkan keringat.
“Bagaimana, Dek Maya? Enak kan jamunya?”
“Enak, Pak. Bikin tubuh jadi segar.”
“Bagus deh. Saya senang kalau Dek Maya suka,” ujar Pak Santo sambil tersenyum penuh arti.
Setelah puas dengan makan siang dan jamu dari Pak Santo, Maya pun mendongakkan kepalanya ke atas, menatap nanar ke arah langit-langit rumahnya. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu, dan tidak menyadari bahwa Pak Santo sudah menatap dirinya dengan penuh nafsu.
Masalahnya, dengan pose seperti itu, payudara Maya yang sedari tadi tertutupi oleh sang buah hati di gendongan, kini jadi bisa terlihat jelas oleh Pak Santo. Hal itu jelas membuat pikiran sang pria tua jadi melayang ke mana-mana.
“Dek, Maya,” ujar Pak Santo pada akhirnya, menghapus keheningan yang sedari tadi menghiasi ruang tamu tersebut.
“Iya, Pak Santo.”
“Hmm, mohon maaf kalau saya lancang. Tapi, apa saya boleh tahu yang baru saja terjadi? Kenapa Dek Maya tiba-tiba turun sambil menangis?” Tanya Pak Santo dengan hati-hati, sambil mengamati setiap perubahan di raut wajah sang wanita. “Apabila Dek Maya tidak mau menceritakannya juga tidak apa-apa sih.”
Maya menghirup napas dalam-dalam, lalu melepaskannya. Setelah itu, barulah ia membuka suara.
“Sebenarnya... saya malu untuk menceritakannya, Pak. Karena ini adalah aib luar biasa bagi keluarga saya,” ujar Maya yang tidak bisa menahan air matanya untuk kembali menetes. “Tapi… Mas Ervan… dia… aduuuuh! Saya tidak bisa cerita, Pak. Tidak mungkin.”
“Yang namanya manusia, kita semua pasti punya aib, Dek Maya. Tidak ada yang memalukan. Ayo cerita saja, siapa tahu saya bisa membantu.”
“Saya tahu, Pak Santo. Tapi... yang ini berbeda. Saya tidak mau aib ini tersebar ke mana-mana.”
“Apabila Dek Maya percaya kepada saya dan mau menceritakannya, saya berani sumpah tidak akan menceritakannya ke orang lain.”
Maya menatap wajah Pak Santo dengan ragu.
“Janji, Pak?”
“Iya. Saya janji, Dek Maya.”
Maya sebenarnya masih tidak percaya dengan kata-kata sang pria tua. Namun, ia juga merasa berat untuk menyimpan semua ini sendirian. Ia ingin mengeluarkan semua uneg-uneg yang ia rasakan, demi mengurangi beban besar yang mengganjal di dalam pikirannya.
“Jadi begini, Pak...” Maya berusaha memilih kata-kata dengan begitu hati-hati. “Di Pos Pemantauan tadi... Aku melihat Mas Ervan tengah bermain gila dengan perempuan lain.”
“HAH?? YANG BENAR DEK MAYA??”
Pak Santo memang sempat berusaha menebak-nebak apa hal yang bisa membuat Maya tenggelam dalam kesedihan luar biasa seperti tadi. Namun, pikiran gilanya hanya mentok pada sang suami mungkin mengalami kecelakaan dan meninggal dunia di Pos, sehingga perempuan tersebut sedih. Tidak tersirat sedikit pun bahwa pria muda yang baru saja menjadi penghuni cluster tersebut, tega menyelingkuhi istrinya yang luar biasa cantik ini.
“Eladalah, sudah punya istri spek bidadari surga begini saja, kok masih bisa-bisanya si Ervan itu lirik-lirik perempuan lain. Ckckck, dunia memang wis jadi edan,” pikir Pak Santo dalam hati.
“Apa... Dek Maya yakin?” Tanya sang pria tua berusaha memastikan.
“Yakin, Pak. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.”
“Sampai... begitu?”
Pak Santo bingung bagaimana cara menyebutkan kata tabu yang ada di kepalanya, tanpa membuat Maya jijik. Karena itu, ia pun membuat kode dengan jempol yang dijepit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Untungnya, perempuan tersebut langsung mengerti apa yang ia maksud.
“Iya, Pak. Sampai masuk itunya... Saya lihat Mas Ervan sedang telanjang di atas sofa, dan di atasnya ada perempuan yang juga sama-sama telanjang, sedang naik turun memompa kemaluan suami saya dengan kemaluannya.”
Meski tidak bermaksud seperti itu, cerita Maya yang vulgar dan begitu deskriptif membuat Pak Santo jadi merasa sedikit terangsang. Ia bahkan sampai harus mengubah arah duduknya, agar benda kenyal di selangkangannya yang tiba-tiba membesar tidak mengganjal posisinya.
“Duh, kok malah jadi ngaceng begini sih. Ini sebenarnya karena ceritanya Dek Maya, atau karena efek minum jamu penambah stamina itu?” Batin Pak Santo.
“Dek Maya tahu siapa perempuan yang sedang bersama Mas Ervan itu?”
“Tahu, Pak. Dia penghuni cluster ini juga.”
“Hah, siapa?” Rasa kaget seperti tak henti-hentinya mendera Pak Santo.
“Kalau nggak salah namanya Amy. Aku sempat bertemu dengan dia beberapa hari setelah pindahan.”
“Hah? Bu A-Amy? Kok bisa!? Gilaaaa... benar-benar gilaaa...” Gumam Pak Santo dalam hati. “Saya kira Amy itu perempuan alim, apalagi suaminya juga terlihat sayang banget sama dia. Eh, ternyata pelakor juga...”
Tangis Maya kembali pecah. Karena merasa malu, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menutupi wajah dengan tangannya. Berkali-kali tubuhnya bergetar, sesenggukan menahan kesedihan yang meluap-luap.
Melihat kondisi itu, Pak Santo bukannya ikut sedih, tapi justru merasa tambah terangsang. Kapan lagi ia bisa memiliki kesempatan melihat tubuh indah Maya dari dekat, dengan kaitan bra yang jelas tercetak di punggungnya.
“Beruntung sekali aku berada di sini, di tempat dan waktu yang tepat. Kesempatan seperti ini jelas tidak akan datang dua kali. Maaf ya Hamzah, kali ini sepertinya giliran aku untuk mengalahkan kamu. Hahaa,” batin Pak Santo.
Pria tua itu akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh pundak Maya. Ia menepuk-nepuk bahu sang ibu muda dengan lembut, berusaha menenangkan.
“Dek Maya yang sabar ya...” ujar Pak Santo dengan nada kebapakan, yang memang cocok dengan usianya yang sudah begitu lanjut.
“Apa sebenarnya salahku, Pak? Selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik. Tetapi kenapa Mas Ervan malah mengkhianatiku seperti ini? Hikss...” Tangis Maya kembali tumpah.
“Ini bukan salah kamu, Dek Maya. Memang suami kamu saja yang tidak tahu diri...”
Perlahan, Pak Santo berusaha mendekat dan merangkul pundak Maya. Beruntung, perempuan muda itu masih terlalu fokus pada kesedihannya, sehingga tidak sadar bahwa tubuhnya telah menjadi sasaran empuk bagi serigala berkulit keriput tersebut.
Maya baru merasakan ada yang aneh saat tubuhnya mulai dielus-elus oleh Pak Santo, mulai dari punggung, perut, hingga sisi payudaranya yang montok. Apalagi setelah itu, ia bisa merasakan tengkuknya dikecup oleh sang pria tua, yang langsung membuatnya sedikit merinding.
“Hmm... Pak Santo... hentikan, Pak.”
“Suami kamu memang bodoh sekali, Dek Maya. Sudah punya istri secantik kamu, kok ya bisa-bisanya masih melirik perempuan lain,” ujar Pak Santo yang berusaha mengalihkan perhatian Maya agar kembali pada kemarahannya terhadap sang suami.
“Memang apa menangnya sih perempuan sundal itu, Pak? Mengapa baru sebentar ketemu dengan dia di cluster ini, sudah berani-beraninya Mas Ervan mengkhianati aku, huhuu... Tapi dia memang cantik banget, seksi banget, aku kalah segalanya. Apa itu yang membuat Mas Ervan berpaling?”
“Menurut saya, jelas menang Dek Maya ke mana-mana. Baik dari sisi wajah maupun bodi, lebih bagus Dek Maya dibanding dia. Memang Mas Ervan saja yang matanya mungkin sudah buta.”
Kata-kata sanjungan dari Pak Santo seperti meyakinkan Maya bahwa ia adalah sosok perempuan berharga, dan justru sang suami lah yang seharusnya bersedih karena telah kehilangan kepercayaan dari istri seperti dirinya.
“Hmmmpphh...”
Maya tidak sadar kalau di tengah pikirannya yang kalut, Pak Santo akan memanfaatkan situasi untuk mengecup bibirnya yang ranum. Pria tua tersebut bahkan langsung melumatnya dengan penuh nafsu.
Perempuan itu baru hendak memberontak, saat ia teringat akan pembicaraannya dengan sang suami belum lama ini.
“Aku nggak akan maafkan kalau kamu nanti benar-benar selingkuh. Aku akan balas perlakuan kamu.”
“Caranya?”
“Aku akan balas selingkuh dengan lelaki lain, lalu pergi tinggalin kamu demi bisa bersama dengan dia. Berani janji?”
“Deal!”
“Deal juga!”
Maya bisa merasakan lumatan bibir Pak Santo semakin kuat di bibirnya. Ada bau tembakau yang pekat dari hembusan nafasnya yang begitu dekat, tetapi anehnya hal itu justru membangkitkan gairah di dalam tubuh Maya. Apalagi ketika Pak Santo mengiringi cumbuannya dengan remasan pelan di payudara Maya yang masih tertutup blus berwarna hitam.
“Apakah kehadiran Pak Santo merupakan langkah yang diberikan Tuhan untuk menuntaskan janjiku atas pengkhianatan Mas Ervan? Tubuhku saja jadi makin hangat begini saat disentuh olehnya. Tapi masa iya aku harus melakukannya dengan pria tua ini?”
Saat Maya masih bimbang akan keputusan yang harus ia ambil, Pak Santo sudah terlebih dahulu memasukkan tangannya ke balik blus yang dikenakan sang wanita. Ia berusaha menyelinap ke dalam celah di balik bra yang dipakai Maya, demi bisa menyentuh puting sang ibu muda.
“Aaaahhhhh...” terdengar lenguhan panjang saat Pak Santo berhasil menyentuhkan jari telunjuknya ke bagian tubuh yang sensitif tersebut.
“Eladalah... Sudah tegang rupanya puting’e Dek Maya iki,” gumam Pak Santo dalam hati. “Aku sebenarnya iri dengan Mas Ervan yang bisa mencicipi tubuh Amy, pasti legit banget rasa memek ibu beranak satu itu. Tapi biarlah, sekarang giliran aku yang ganti menikmati tubuh istrinya yang nggak kalah ranum ini, hahaa...”
“Mengapa tubuhku jadi panas begini, Pak Santo? Minuman tadi isinya beneran jamu kan? Nggghhh...”
Maya benar-benar merasa heran dengan tubuhnya sendiri yang jadi lebih bergairah dan mudah berkeringat, meski hanya dielus-elus dan dimainkan putingnya oleh Pak Santo. Bersama suaminya saja ia tidak pernah merasa seperti ini.
“Yang namanya jamu ya pasti bikin hangat tho, Dek Maya? Bagaimana sih? Hahaa...”
“Iya sihhh... Tapi jamu yang biasa saya minum efeknya nggak seperti ini Paaakk...”
“Ya, jamu saya kan spesial. Sama seperti orangnya. Hahaa...”
Seperti tak puas hanya menyentuh payudara Maya, Pak Santo memindahkan tangannya untuk menyelusup masuk ke dalam celana yang dikenakan perempuan muda itu. Tanpa perlawanan berarti, jemarinya kini sudah berhasil mendarat di lipatan empuk yang berada di selangkangan Maya, meski masih tertutup oleh celana dalam.
“Nggghhh... jangan di situ, Paaakk. Jangaaaaaaaan...”
Maya berusaha menahan tangan Pak Santo agar tidak lama-lama menyentuh kemaluannya, tetapi birahinya yang sudah meninggi seperti melenyapkan segenap kekuatan yang dimiliki perempuan itu.
“Bukannya Dek Maya juga menikmatinya? Hahaa... Biar bukan suami Dek Maya saja yang bisa asyik-asyikan ngentot sama perempuan lain. Iya kan?”
Dalam hati, Maya seperti tengah bergulat dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, ia memang masih terbakar amarah setelah melihat secara langsung perselingkuhan yang dilakukan sang suami. Hal itu membuatnya ingin melampiaskan kemarahannya dengan cara membuka selangkangannya untuk pria lain. Ditambah lagi, birahinya tiba-tiba seperti menggebu untuk segera dipuaskan sekarang juga setelah meminum jamu dari Pak Santo.
Namun, ia tidak mau Pak Santo menjadi sosok pria yang beruntung tersebut. Ia tidak mau tubuhnya dinikmati oleh sang pria yang usianya saja hampir sama dengan ayahnya sendiri. Apalagi bila melihat giginya yang kuning dan bau rokok, serta bolong di sana-sini. Tapi, bagaimana caranya ia menolak?
“Huwaaaaa... huwaaaaa... huwaaaa...”
Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari dalam kamar tidur. Hal itu seperti memberi kekuatan lebih kepada Maya untuk melepaskan pelukan dan rabaan tangan Pak Santo di tubuhnya. Dengan cepat, ia langsung bangkit dari sofa dan lari menuju kamar tersebut.
Klik...
Pintu kamar tersebut langsung dikunci dari dalam.
.::..::..::..::..::.
“Dasar begooo... Harusnya tadi tahan dulu, lebih sabar sedikit, biar nggak kayak begini jadinya,” ujar Pak Santo mengutuk dirinya sendiri.
Ia masih duduk di atas sofa ruang tamu, tempatnya tadi berhasil menggerayangi tubuh sang pemilik rumah yang luar biasa seksi itu. Piring dan gelas bekas makan siang masih berserakan di atas meja, meski langit di luar rumah sudah mulai berwarna kemerahan. Berkali-kali ia melirik ke arah pintu kamar tempat Maya dan anaknya berada, yang tetap bergeming seperti sebelumnya.
“Apa aku dobrak saja ya pintu itu?” Ujar Pak Santo menimbang-nimbang pilihan yang bisa ia ambil. “Duhh... tapi nanti yang ada malah aku dianggap tukang perkosa dan gagal ngentotin Dek Maya. Apa jadinya kalau Pak RT dan saudara-saudaranya tahu dan ngasih aku hukuman? Hii, ngeri!”
Namun mendadak...
Klik.
Terdengar bunyi kunci yang kembali diputar dari dalam kamar. Tak lama kemudian, pintu yang sebelumnya tertutup rapat, kini telah sedikit terbuka.
Jantung Pak Santo tiba-tiba berdebar. Ia sampai mengucek-ngucek mata, berusaha memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Ia masih tidak percaya kalau hari ini benar-benar hari keberuntungannya.
“Apakah Dek Maya benar-benar sudah berubah pikiran?” Batin sang pria tua.
Demi membuktikannya, ia beranjak mendekati kamar tidur tersebut. Namun sebelum itu, ia tidak lupa untuk menutup pintu rumah, agar tidak ada yang mengganggu mereka berdua.
“Jaga-jaga saja, daripada nanti tiba-tiba ada yang merasa curiga kenapa pintu rumah ini terus kebuka sampai malam hari.”
Ketika telah berdiri tepat di depan pintu kamar, Pak Santo berusaha mengintip ke dalam. Sayangnya, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena lampu kamar telah diredupkan hingga hanya menyala remang-remang. Tirai jendela pun sudah ditutup rapat, sehingga menghalangi sinar matahari yang hendak masuk. Hal itu jelas membuat sang pria semakin penasaran.
“Dek Maya... Aku akan menghampirimu sebentar lagi... Hihiii...”
Begitu berada di dalam kamar, Pak Santo berusaha memicingkan mata tuanya. Ukuran dan bentuk kamar tidur tersebut sama persis dengan yang ada di rumahnya, hanya letak beberapa barang saja yang berbeda. Karena itu, ia tahu persis di mana ranjang Maya seharusnya berada.
Di atas tempat tidur, terlihat tubuh seorang perempuan yang kini hanya mengenakan daster lengan pendek bermotif kembang-kembang, yang ujungnya hanya bisa menutupi sampai sebatas lutut. Kali ini, ia sudah tidak lagi mengenakan jilbab, sehingga rambut hitamnya yang indah bisa tergerai bebas. Posisi perempuan tersebut tengah berbaring membelakangi pintu kamar, sehingga Pak Santo tidak bisa melihat wajahnya.
“Gilaaaaa... Dek Maya sudah nggak pakai jilbab neeeehhh... Apa jangan-jangan dia sudah siap buat aku entotin? Hahaaa.”
Dengan perlahan, Pak Santo menaiki ranjang dan ikut berbaring di belakang Maya. Ia kemudian mengusap rambut perempuan tersebut dari belakang, lalu memainkan jemari di atas punggung dan menyusurinya hingga ke pinggang.
“Halus banget kulit kamu Dek Maya, benar-benar spek bidadari surga ini...”
Sang perempuan tampak tidak memberikan penolakan sama sekali. Karena itu, Pak Santo pun memberanikan diri untuk kembali memeluk tubuh perempuan muda itu. Ia sedikit terkejut karena Maya ternyata masih dalam kondisi terjaga, dan tengah menyusui seorang anak yang berbaring di hadapannya.
“Dek Maya masih bangun?” bisik Pak Santo di telinga perempuan itu.
Maya tidak menjawab, dan terus menatap sang buah hati dalam diam, sambil terus membiarkan salah satu puting payudaranya berada di dalam kuluman sang bayi. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun kalau ia merasa risih dengan kehadiran Pak Santo.
“Gleeekkk...”
Pak Santo sampai harus menelan ludahnya sendiri, karena melihat pemandangan indah di hadapannya. Daster Maya ternyata mempunyai kancing di bagian depan yang bisa langsung dibuka ketika ingin menyusui anaknya. Dari posisinya sekarang, pria tua itu bisa melihat bahwa perempuan cantik di pelukannya itu sudah tidak mengenakan bra atau daleman lagi di balik dasternya.
“Duhh... Dek Maya bikin saya jadi haus...”
Tanpa babibu, Pak Santo langsung mengusap payudara Maya yang tidak sedang disedot oleh anaknya, lalu memainkan putingnya. Ia bisa melihat raut wajah perempuan tersebut yang sedikit meringis, setiap kali putingnya diusap dan dicubit oleh Pak Santo.
“Toket kamu halus sekali, Dek Maya. Ukurannya juga pas dengan tangan saya. Hehihihi...”
Maya masih terdiam, dan terus membiarkan Pak Santo bermain-main dengan bagian tubuhnya yang sensitif tersebut. Sang pria tua pun jadi semakin tidak sabar.
“Athar, Pakde Santo ikut netek sama Bunda ya... Boleh kan? Hihii...”
Pak Santo kemudian memposisikan badannya di atas tubuh Maya. Dengan begitu, ia jadi bisa dengan mudah memasukkan puting payudara sang perempuan yang masih terbebas ke dalam mulutnya. Bayi mungil yang menjadi saksi adegan tersebut tampak bingung, mengapa ada pria asing yang tiba-tiba ikut menghisap tetek ibunya. Namun tak lama kemudian, karena rasa kantuk yang mendera, bocah tersebut pun terlelap dan melepas kulumannya pada puting Maya.
Karena itu, Pak Santo jadi bisa menggeser posisi Maya hingga terlentang sempurna di atas ranjang. Dengan begitu, ia jadi lebih mudah menyedot-nyedot isi payudara perempuan tersebut. Setiap kali ia menjepit puting Maya dengan bibirnya, terasa ada cairan yang mengucur keluar dan membasahi rongga mulutnya. Semakin kuat pria tua itu menghisap, semakin banyak pula cairan yang keluar.
Ketika dikecap dengan lidah, Pak Santo bisa menemukan rasa manis yang begitu unik, yang tidak pernah ia temukan sebelumnya.
“Susumu manis banget, Dek Maya. Pantas Dek Athar suka... Sepertinya, saya juga bakal ketagihan neh. Hihii...”
Maya hanya terdiam sambil menatap ke langit-langit kamar. Ia tidak bisa menyangkal kalau birahinya mulai meninggi saat diperlakukan seperti itu oleh Pak Santo.
Perempuan tersebut teringat apa yang terjadi beberapa saat sebelumnya, setelah ia berhasil menenangkan sang anak yang tiba-tiba terbangun. Begitu Athar berhenti menangis, Maya yang merasa kegerahan memutuskan untuk melepas seluruh pakaiannya. Sebelum mengenakan daster, ia berdiri sejenak di depan cermin meja rias, demi menatap tubuhnya sendiri.
“Aku masih cantik, tubuhku juga masih terlihat indah. Tapi mengapa Mas Ervan malah selingkuh dengan perempuan jalang itu?” gumam Maya sambil menyentuh payudaranya sendiri, yang membuatnya sedikit terangsang.
Ia melirik ke arah foto pernikahan yang berada di atas meja kecil di samping tempat tidur. Entah mengapa, momen indah yang selama ini selalu membuatnya bahagia, kini justru membuatnya jijik dan marah. Dan emosi tersebut sepertinya tidak bisa hilang begitu saja, apabila tidak segera dilampiaskan.
“Apa yang akan terjadi, terjadilah,” gumam Maya, sambil memutar kembali kunci kamar, kali ini untuk membukanya.
Dengan sang buah hati yang tertidur pulas di sampingnya, Maya hanya bisa terpana saat Pak Santo menanggalkan kaos yang ia kenakan. Karena itu, perempuan tersebut jadi bisa melihat tubuh bagian atas sang pria tua yang masih cukup kekar untuk lelaki seusianya. Sebuah tato bermotif naga tampak menghiasi daerah sekitar puting dada Pak Santo, dan memanjang hingga ke lengannya.
“Kamu suka ya, Dek Maya? Hihii...” Tanya Pak Santo saat Maya tanpa sadar mulai mengusapkan tangan ke dadanya, demi mengusap tato yang menempel di kulitnya.
Karena sudah tidak tahan, Pak Santo langsung menarik ujung daster Maya ke atas dan melemparnya ke lantai, hingga tubuh indah ibu muda berparas cantik itu terpampang jelas. Ternyata, selain sudah tidak mengenakan bra, Maya juga sudah tidak mengenakan secarik kain pun untuk menutupi vaginanya.
“Wah, Dek Maya sudah nggak pakai beha sama celana dalam ya. Sudah pengin banget saya entotin? Hahaa...”
Dengan sumringah, Pak Santo kembali mengulum payudara Maya, baik yang sebelah kiri maupun kanan secara bergantian. Ia seperti tidak kunjung puas menelan air susu sang ibu muda tersebut. Ia seperti ingin mereguk seluruh isinya.
“Nggghhh...”
Tangannya yang bebas mulai bergerak membelai bibir vagina Maya yang terasa sedikit lembab, tanda bahwa perempuan tersebut mulai terjebak ke dalam lubang birahi yang dalam. Ketika jemari Pak Santo menembus masuk ke lipatan vagina tersebut, terasa ada kehangatan dan denyutan yang telah lama tidak ia rasakan. Desahan sang wanita pun seperti menambah gairah di dalam tubuhnya.
“Nggghhh...”
“Sempit banget memek kamu, Dek Maya. Padahal sudah punya anak satu. Hihii... Bagaimana waktu pas masih perawan ya?”
Pak Santo kemudian melepas celana panjang yang ia kenakan, serta celana dalam di baliknya. Dengan bangga, ia menunjukkan kemaluannya yang sudah berdiri tegak di hadapan Maya yang masih berbaring di atas ranjang.
“Ahhh... Punya Bapak... Ternyata...”
“Kenapa Dek Maya? Baru kali ini lihat kontol yang belum disunat? Hahaa...”
Hati Maya makin berdebar saat melihat bentuk ujung penis Pak Santo yang jauh berbeda dengan milik suaminya. Apakah akan terasa lebih tajam? Apakah akan menimbulkan sensasi yang berbeda saat menggaruk dinding rahimnya? Ukurannya yang besar membuat Maya jadi membayangkan, apakah batang jumbo itu bisa masuk semua ke dalam vaginanya. Warnanya yang gelap dan uratnya yang menonjol-nonjol keluar, pun membuat gairah perempuan tersebut jadi makin meledak-ledak.
“Coba sini Dek Maya elus, biar terbiasa sama kontol saya. Hahaa...”
Meski awalnya menolak, Maya akhirnya menyerah saat tangannya ditarik untuk disentuhkan ke batang kemaluan dengan kulup yang masih tertutup itu. Karena itu, ia bisa merasakan bagaimana denyut penis tersebut, yang seperti meminta untuk segera dipuaskan.
Di sisi lain, Pak Santo langsung merem melek matanya saat jemari halus Maya mengusap-usap batang kemaluannya yang memang sudah lama tidak terjamah perempuan. Baru beberapa menit dikocok seperti itu, sang pria tua sudah tidak mampu menahan birahinya sendiri.
“Nggghhh... enak banget Dek Maya... sudah... sudah... nanti saya nggak tahan... Aaaahhh...”
Pak Santo kemudian memposisikan selangkangannya tepat di depan pangkal paha milik Maya. Penisnya kini sudah mengetuk-ngetuk pintu gerbang vagina perempuan tersebut. Sambil menatap mata Maya dalam-dalam, ia gesek-gesekkan ujung penisnya di gerbang celah sempit itu.
“Tubuhmu indah sekali, Dek Maya. Saya sudah nggak sabar ingin segera mencicipi memekmu yang menggiurkan ini. Hihii...”
Perempuan tersebut tampak malu-malu menunjukkan parasnya yang mulai terangsang, dan berkali-kali memilih untuk memejamkan mata. Meski begitu, dalam beberapa kesempatan, desahan tipis mulai terdengar dari bibir ibu muda tersebut.
Sejenak, perhatian Pak Santo melirik ke arah foto pernikahan Maya dan Ervan yang berada di atas meja kecil di sisi ranjang. Ia pun bisa menyaksikan betapa bahagianya pasangan muda tersebut selama ini. Namun kini, kebahagiaan tersebut seperti telah beralih menjadi miliknya. Pak Santo kini tinggal selangkah lagi untuk menembus kemaluan indah milik Maya, di atas ranjang yang biasa ditempati perempuan tersebut bersama suaminya.
Maya menyadari hal itu, lalu langsung meraih foto tersebut dan menelungkupkannya di atas meja. Aksi itu pun membuat Pak Santo tertawa.
“Kamu benar-benar marah sama suami kamu ya? Hahaa...”
“Menurut Bapak?”
“Hahaa... Sekali lagi mohon maaf ya, Mas Ervan. Malam ini, biar aku temani istrimu yang cantik ini untuk terbang ke surga birahi yang tertinggi.”
Pak Santo langsung melesakkan penisnya ke dalam vagina Maya yang memang sudah begitu lembab oleh cairan cinta yang sedari tadi sudah merembes keluar. Dengan gerakan perlahan, ia menggenjot penisnya yang berukuran besar ke dalam kemaluan Maya yang masih terasa begitu sempit. Pemandangan indah sepasang payudara yang bergoyang ke kiri dan kanan di hadapannya membuat birahi pria tua itu makin membuncah.
“Gilaaaaaa... Memek kamu ini benar-benar enak Dek Maya, jauh lebih nikmat dari yang selama ini saya bayangkan... hahaaa...”
Maya hanya diam mendengar kata-kata nakal dari sang pria tua yang tengah menyetubuhinya di atas ranjang tempat ia melakukan hal yang sama dengan suaminya. Meski tidak mau mengakui, dalam hati Maya sebenarnya menikmati persenggamaan tersebut. Rongga vaginanya yang selama ini hanya menikmati penis milik suaminya, kini terasa begitu penuh oleh penis Pak Santo yang begitu besar, meski ujungnya tidak disunat.
“Nggghhh... nikmat sekali memek kamu Dek Mayaaaaa...”
Karena sudah tidak tahan, Maya kemudian mengalungkan tangannya di leher Pak Santo, seperti ingin menahan sang pria tua agar terus memberikan kenikmatan kepadanya. Erangan demi erangan pun mulai meluncur dari mulutnya.
“Ahhh... Ahhhh...”
“Nahh, gitu dong Dek Maya. Keluarin saja desahan kamu, lepasin semua birahi kamu. Suara indah kamu bikin saya makin nafsu... Ngggghh...”
“Ahhh... Ahhhh...”
“Sejak pertama kamu datang ke cluster ini, saya sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya memek perempuan berjilbab seperti kamu... Ngggghh...”
“Ahhh... Ahhhh...”
“Nggghhh... Saya nggak tahan, Dek Maya... Mau keluaaaaaarrrr...”
Pak Santo baru saja ingin menarik tubuhnya, agar penisnya bisa mengeluarkan sperma di luar vagina Maya. Namun, perempuan tersebut justru menahannya.
“Nggak usah, Pak...”
“Nghhh... Ini beneran udah mau keluar lho, Dek Mayaaa...”
“Ke-Keluarin di dalam saja, Pak”
“Heh? Kamu yakin? Bagaimana kalau nanti kamu…”
Maya menunduk sejenak, tapi kemudian ia mengangkat wajahnya untuk menatap Pak Santo lekat-lekat. “Saya yakin, Pak. Kalaupun terjadi sesuatu, biarlah hal itu menjadi pembalasan dendam yang sempurna untuk suamiku.”
Pak Santo tersenyum. Ia tidak menyangka kalau mimpinya selama ini akan benar-benar menjadi kenyataan. Ia ingin menghamili si cantik ini.
“Nggghhh... Terima ini Dek Mayaaaaa...”
“Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh...”
Lampu kamar yang temaram di sore hari serta sang buah hati yang masih tertidur di sebelahnya, seperti menjadi saksi bersatunya dua insan yang baru saja melakukan persetubuhan terlarang.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *