“Curi, curi-curi pandang.
Curi ke depan, curi ke belakang.
Curi ke kanan, dan curi ke kiri.
Curi pandangmu kepada bidadari yang di sana.
Curi, curi-curi pandang.”
- Curi-curi Pandang, Naif
Shinta mendesah sembari menarik napas panjang.
Kenapa juga ia mau melakukan ini ya?
Bukankah ini menyalahi semua yang selama ini ia yakini? Bukankah selama ini dia membenci bahkan jijik pada sang pria tua yang pandangannya cabul itu?
Kadang-kadang ia menyesal karena telah melakukan sesuatu yang ia sendiri tidak paham kenapa melakukannya. Bukan karena ia teledor, tapi karena ibu muda jelita itu seringkali tergiring oleh emosi berlebih yang justru akan menjerat dan membuatnya terjerembab ke dalam situasi yang tidak menyenangkan. Sudah berkali-kali Shinta terjebak dalam situasi tanpa ia paham kenapanya. Semua karena emosi sesaat. Emosi yang kemudian membuatnya menyesal melakukannya.
Seperti kali ini misalnya. Kenapa dia ada di sini, di tempat ini, dan repot-repot membawa semua barang yang saat ini ia bawa. Kenapa?
Tidak ada alasan yang valid. Satu-satunya alasan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Apa hanya gara-gara ia cemburu buta pada sang suami yang meletakkan perhatian berlebih pada wanita lain? Mungkin saja. Itulah satu-satunya alasan yang memperkuat apa yang ia lakukan di sini saat ini. Tapi kecemburuannya bukan tanpa dasar bukan? Ardian benar-benar memperhatikan si Intan lebih dari teman-temannya yang lain, seakan-akan Intan adalah putri rembulan berpakaian pelaut yang setiap saat harus diselamatkan oleh tuxedo bertopeng. Perhatian Ardian jauh lebih besar untuk Intan daripada perhatian pada Shinta yang jelas-jelas istrinya sendiri.
Cewek sialan.
Kalau ingat Intan, hati Shinta selalu membara.
Yah, mungkin gara-gara kecemburuan itu pula ia keceplosan mengucapkan janji untuk melakukan ini. Padahal ia sebenarnya sangat benci dan jijik pada tingkah laku laki-laki tua yang selalu memandang ke arah tubuhnya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari kaki ke kepala, dari kepala ke kaki dengan tatapan mesum dan terasa menjamah tanpa menyentuh.
Hiih… jan nggilani. Membayangkannya saja selalu membuat ibu muda itu bergidik ketakutan. Tapi ya emang dasar bodohnya dia, bilangnya benci dan jijik, tapi sekarang ia berdiri di depan pintu rumah laki-laki tua itu.
Mungkin ini yang namanya menjilat ludah sendiri. Batin Shinta dalam hati.
Sembari menggendong Arga dengan gendongan dada, ibu muda berkerudung berparas jelita itu menenteng kantong plastik berisi bahan makanan dan belanjaan. Ia juga membawa rantang berisi nasi dan sayuran yang sudah terlebih dahulu ia masak sebelumnya. Kalau semuanya ia masak di rumah si pria tua cabul itu, entah kapan selesainya.
Shinta tahu dia bukan seorang istri yang jago memasak seperti Kak Nisa, dia juga tidak secantik Kak Amy, dan tidak seindah Intan. Tapi setidaknya dia ingin dipuji untuk satu keahlian, bisa menghidangkan masakan yang layak makan misalnya. Sudah lama sekali rasanya Ardian tidak memujinya untuk apapun.
Omong-omong soal makanan.
Pernah sekali waktu Intan membawakan makanan untuk rumah dan Ardian memuji-muji keenakan makanan itu setinggi langit. Padahal Shinta tahu sekali, Intan tidak membuat makanan itu sendiri, Intan membelinya di rumah makan chinese food di dekat kantor. Ya jelas saja enak!
Shinta mencibir sendiri kalau ingat kejadian itu. Saat itu ia sudah masak capek-capek tapi makanannya tidak habis, sementara makanan yang dibelikan oleh Intan ludes dihabiskan Ardian. Pengen ngamuk rasanya.
Huh. Lelah Shinta kalau begini terus, emosinya terkuras.
Sekali lagi, mungkin itu salah satu alasan kenapa malam ini ibu muda cantik itu berada di depan pintu rumah Pak Hasbi – orang yang sebenarnya cukup ia benci. Shinta benci pandangan mesum Pak Hasbi saat menatapnya, matanya yang mblolok itu seakan-akan hendak menelan tubuh mungil Shinta bulat-bulat. Tapi entah kenapa juga Shinta seakan-akan ingin menghukum Ardian dengan melakukan ini.
Mungkin itulah yang membawa kaki Shinta ke depan rumah Pak Hasbi. Mungkin untuk membalas perlakuan Ardian kepadanya. Mungkin karena Shinta jengkel terhadap perhatian suaminya pada Intan dan berniat membalasnya meskipun tidak secara langsung. Mungkin, mungkin, dan mungkin.
Tapi, kalau hanya membalas perhatian bisa saja kan ke pria dan orang lain yang lebih muda? Kenapa Pak Hasbi?
Kok jadi malah ia merasa terjebak sendiri ya?
Asem.
Shinta melirik ke kanan dan kiri, suasana di desa Bawukan ini sepi, sunyi, dan gelap. Tetangga-tetangga Pak Hasbi sudah masuk rumah karena memang sudah malam, di kampung begini – jarang orang keluar selepas maghrib, Shinta sendiri sebenarnya tidak berani keluar malam-malam sendirian karena berbeda dibandingkan di cluster, lampu jalanan di sini masih jarang-jarang. Kalaupun ada satu dua, itupun redup.
Di cluster dan kedua kampung yang mengapitnya memang sudah biasa suasana menjadi sepi setelah matahari tenggelam. Sebagian orang sudah jalan menuju ke tempat ibadah dan akan tetap berada di sana sampai sekitar jam delapan malam, sebagian lagi tinggal untuk kegiatan rumah tangga.
Setidaknya, tidak banyak yang menjadi saksi keberadaannya di depan rumah Pak Hasbi. Lumayan tidak malu.
Rumah Pak Hasbi adalah sebuah rumah dengan pagar bambu setinggi bahu orang dewasa yang sudah banyak yang rusak. Sebagian patah sampai bengkok, sebagian lagi malah sudah bolong. Sepertinya tidak ada niat dari sang pemilik rumah untuk merawat kediaman yang sebenarnya cukup bagus dibandingkan rumah-rumah lain di kampung Bawukan. Karena tak terawat jadi terkesan senyap, sepi, dan kotor. Apalagi dengan lampu ber-watt kecil, pohon yang tinggi dan ilalang yang juga cukup rimbun membuat rumah itu bak pos penjaga di tengah-tengah taman Jurassic.
Pak Hasbi sudah jelas tidak sempat, tidak bisa, tidak mau, atau memang malas untuk membersihkan, mungkin dia tidak ada waktu karena selalu pergi pagi pulang petang. Tapi ya memang dasar Pak Hasbi sendiri sepertinya tidak pernah ada niat untuk bebersih rumah. Bertambah lagi alasan bagi Shinta untuk membenci orang tua itu. Shinta tidak pernah menyukai siapapun yang tidak menjaga kebersihan seperti ini.
Prinsip ibu muda itu simpel, what you are is what you do. Siapa kamu tergambar dari apa yang kamu lakukan. Kalau rumahnya seperti tempat penampungan sampah begini, sudah tergambar dengan jelas bagaimana pemiliknya.
Menyesal sekali datang – kenapa Shinta memutuskan kemari yah? Cari masalah saja.
Sembari mendesah penuh penyesalan, Ibu muda itu kembali mengetuk pintu. Arga masih terlelap dalam dekapannya. Setelah sekian kali mengetuk, barulah pintu terbuka.
Pemandangan tak sedap hadir di depan mata Shinta.
Seorang pria tua kerempeng dengan kulit sawo matang yang hanya mengenakan baju singlet dan sarung membuka pintu. Pria tua itu berwajah lemas, rambutnya yang putih berantakan, baik kumisnya yang baplang dan alisnya yang tebal berwarna putih. Ia terkejut melihat pemandangan indah di hadapannya.
Seorang ibu muda berkerudung dan berpakaian putih tersenyum menatapnya. Mimpi apa Pak Hasbi malam ini?
“Bi… bidadari!?”
“Ealah, Pak Hasbi. Ini saya.”
“Ah! Eh…! Ma-maaf. Saya pikir tadi ada bidadari khayangan di depan pintu, ternyata Mbak Shinta.”
“Bisa aja, Bapak. Bidadari dari mananya? Saya ini emak-emak satu anak. Sudah keriput dan berat badannya mulai nambah. Yang ada Pak Hasbi seperti melihat kuntilanak ya? Bukan bidadari?”
“Maaf saya tadi terkagum-kagum sama cantiknya Mbak Shinta. Hahahah… hag… hag…” Pak Hasbi tertawa sampai batuk, ia berpegang erat pada tongkat yang dibawanya kemana-mana, sepertinya untuk alat bantu jalan. Wajah pria tua kurus itu perlahan-lahan berubah menjadi keheranan, usianya yang lebih dari enam puluh tahun terlihat melalui wajahnya yang keriput. Mungkin satu dua tahun lagi usianya akan menembus angka tujuh, “Kok datang kemari ada perlu apa ya, Mbak?”
Tuh kan dongo si aki-aki satu ini. Perasaan belum pikun kok udah pelupa. Shinta menggulirkan mata indahnya ke atas, capek meladeni Pak Hasbi.
“Bapak ini gimana sih? Kan saya sudah janji mau masakin Bapak malam ini. Saya kan tahu Bapak sedang sakit, jadi mau saya masakin sayur, nanti saya masakin yang agak banyak, simpan di kulkas, besok pagi bisa di-angetin buat sarapan,” ujar Shinta sedikit ketus Dia benci basa-basi dengan pak Hasbi. Dia hanya mau menepati janji saja, masak, hidangkan, lalu pulang. Bukan hal yang susah dan njelimet bukan?
Shinta ingin melakukan ini semua secepat mungkin.
Saat itu sang ibu muda bertubuh mungil berparas ayu itu mengenakan kerudung warna putih, blus lengan panjang dengan warna senada, dan kulot panjang warna coklat pastel. Sederhana tapi manis. Indah dipandang, tak boleh disentuh, dan seakan magis mampu menghipnotis.
Pak Hasbi sampai berliur melihat kemolekan sang ibu muda yang sungguh bak bidadari turun dari langit itu. Kecantikan Shinta memang tidak main-main.
“Oooh iya-iya. Lupa saya�� maklum sudah umur…” Pak Hasbi tertawa terkekeh-kekeh. Shinta tidak nyaman mendengar suara tawa yang seperti itu. Pak Hasbi menggeser posisi berdirinya yang menutup jalur masuk ke dalam untuk membukakan pintu lebih lebar, “Mari-mari masuk. Kasihan si Adek kalau terlalu lama di luar, nanti masuk angin. Aduh saya jadi merasa bersalah gara-gara saya Arga jadi ikut keluar malam ini.”
Shinta mengangguk dan tersenyum, “Makasih, Pak.”
“Mas Ardian belum pulang, Mbak?”
“Belum. Dia masih di kantor. Mungkin baru perjalanan.”
“Begitu? Nggih, nggih.”
Shinta geleng kepala dan menutup hidung saat masuk ke dalam, suasana di dalam rumah tidak kalah kacau dibandingkan dengan halaman luar. Sama saja berantakannya. Pengap, gelap, dan baunya tidak sedap.
Ada kursi ruang tamu yang tempat duduknya bolong, di sudut banyak bertebaran botol kosong, sarang laba-laba menyebar di langit-langit dan di kolong, debu di atas meja dan di lantai bagaikan rumah yang sudah lama kosong melompong. Dinding dan tembok berbau kencing tikus, tidak ingin diakui tapi merajalela bau-bauan prengus, ada pula tumpukan cucian yang kotornya semakin mbladus.
Sebenarnya orang ini menyebalkan dan Shinta membencinya, tapi ibu muda itu perlahan-lahan jadi kasihan melihat kondisi rumah sang pria tua yang saat ini sedang berjalan tertatih dengan tongkatnya. Tidak tega juga lama-lama. Wajar saja rumah ini kotor jika melihat kondisi kesehatan Pak Hasbi yang terus menurun seperti ini.
Arga batuk-batuk kecil. Mungkin karena banyaknya debu.
“Aduh maaf. Saya bukakan sebentar jendelanya, si Adek mungkin tidak tahan karena debu di tempat ini tebal. Maaf saya belum sempat membersihkan karena sudah seminggu ini sakit,” ujar Pak Hasbi yang lantas membuka jendela di samping.
Tidak dibersihkan karena seminggu sakit? Seminggu atau sedasawarsa? Kalau lihat dari kondisi rumah Ini sih sudah tidak pernah disentuh sapu dan kemoceng dari jaman Elvis ketemu Asmuni.
Shinta hanya menyimpan kalimat-kalimat itu dalam hati karena tidak ingin menyinggung perasaan Pak Hasbi. Si cantik berkerudung itu celingukan, “Dapurnya di mana, Pak? Mungkin segera saya mulai saja, takutnya kemalaman nanti kami berdua dicari-cari suami saya.”
“Ah, iya… di belakang ruang makan ini. Mari saya tunjukkan.” Pak Hasbi berjalan tertatih dengan tongkatnya, sepertinya penyakitnya memang cukup mengganggu.
“Tidak usah, Pak. Cukup diberitahu saja dimananya. Bapak istirahat saja di sini.”
Shinta meletakkan rantang di meja makan kosong yang hanya berisi tutup saji tanpa isi. Ada roti semir di sana, mungkin dibelikan oleh tetangga lain. Ada perasaan kasihan yang kemudian terbentuk di hati sang ibu muda. Setelah selama ini dia menyalahkan dan sebal dengan Pak Hasbi, dia tidak mengira kehidupan sang pria tua ini benar-benar kesepian.
Shinta menyiapkan dan meletakkan rantang di meja makan, sekaligus mulai membagi makanan di dalam rantang ke dalam piring yang tadinya terletak di samping meja makan.
“Ah, kenapa jadi repot begini? Biar saya yang…”
“Sudah Bapak duduk dulu saja, biar saya yang menyiapkan semuanya,” kali ini Shinta tersenyum manis, ia mencoba lebih sopan pada pria tua yang kesepian itu. Shinta melirik ke bingkai foto di dinding, Pak Hasbi tidak sendiri di sana. Ada seorang wanita dan dua orang pemuda, “Anak Bapak jarang datang? Saya belum pernah bertemu mereka.”
Shinta sedikit demi sedikit menanyakan latar belakang Pak Hasbi. Sungguh Shinta tidak paham dengan keluarga orang tua itu, setidaknya kalau memang Pak Hasbi punya keluarga dekat, mereka bisa membantu Pak Hasbi bersih-bersih rumah, atau setidaknya membantu mengurus sang ayah yang sakit-sakitan begini. Kalaupun jauh masa ya tidak bisa pulang sesekali untuk merawat sang ayah?
Pak Hasbi menghela napas panjang dan duduk di kursi yang ada di samping meja makan. Shinta pun duduk sembari mempersiapkan makanan yang hendak ia masak, sebenarnya ia sudah menyiapkan semua bahan di rumah supaya tidak terlalu lama masak di rumah Pak Hasbi, tapi setidaknya dia ingin mendengar semua cerita dari sang pria tua.
Perlahan-lahan, entah kenapa Shinta yang awalnya sangat membenci berubah menjadi simpati melihat kondisi Pak Hasbi.
Mungkin memang benar semua manusia punya dua sisi, sisi yang tidak nampak dan sisi yang ditampakkan. Kita tidak pernah bisa benar-benar memperkirakan isi hati orang berdasarkan apa yang keilhatan. Siapa tahu Pak Hasbi ini di depan banyak orang terlihat seperti laki-laki tua yang mesum, padahal di belakang, ya memang mesum beneran.
Shinta jadi tertarik untuk menyelami pribadi Pak Hasbi. Entah kenapa rasa penasarannya bangkit. Kepo dia. Sial, kenapa dia dulu memilih jurusan kuliah yang sampai sekarang membuatnya penasaran sama hidup orang lain ya?
“Anak saya sebenarnya ada dua, Mbak. Yang sulung tinggal di Banjarbaru – Kalimantan Selatan, yang nomor dua tinggal di Metro – Lampung. Mereka berdua merantau dan sudah bertahun-tahun tidak pulang mengunjungi saya. Sibuk dengan dunia mereka sendiri jadi mungkin sudah tidak ingat lagi jalan pulang ke dusun Bawukan ini. Maklum saja namanya juga dusun kecil, siapa yang ingat?” Pak Hasbi mulai menjelaskan, “Salah saya juga. Semenjak cerai dengan Ibu mereka, saya juga jarang menemui keduanya.”
“Lho? Pak Hasbi cerai? Saya pikir ibu sudah…”
Pria tua itu mengangguk, “Sudah lama sekali. Cerai karena beda pendapat. Dulu saya masih kerja amburadul, mungkin saja mantan istri saya capek melihat saya bekerja serabutan, jadi memilih pisah untuk mencari suami yang uangnya lebih kenceng. Mantan istri saya juga sudah meninggal sekarang, dulunya almarhum tinggal di ibukota. Sebelum meninggal dia sudah menikah lagi dengan juragan cendol di sana. Hidupnya enak, jadi sama sekali tidak pernah menengok saya.”
“Anak-anak Bapak dulu ikut Ibu mereka saat bercerai?”
“Betul, Mbak. Itulah kenapa saya jarang sekali ketemu mereka. Mau ke tempat mereka saya tidak mampu. Uang saya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Tidak ada yang tersisa.”
“Akhir-akhir ini Pak Hasbi sudah mencoba menghubungi mereka?”
“Sudah, Mbak. Tapi mereka sedang sangat sibuk jadi tidak bisa pulang.”
Shinta mendengarkan penjelasan itu dan mengangguk-angguk, “Ya sudah. Mulai besok saya sempatkan sesekali membantu Pak Hasbi membersihkan rumah. Hitung-hitung olahraga. Menurut saya, rumah ini butuh sentuhan seorang wanita, Pak. Jadi meskipun kecil dan sederhana, tapi tetap bisa dibuat manis dan indah. Kalau rumahnya bersih, yang tinggal pun jadi lebih sehat, bukan? Mas Ardian juga rasanya mau kok membantu Pak Hasbi. Nanti saya yang sampaikan.”
“Eh, benarkah? Duh, saya jadi tidak enak ini…”
Ibu muda itu lantas berdiri sembari menepuk lembut punggung tangan Pak Hasbi, “Tenang saja, Pak. Nah, bahan-bahan makanannya sudah siap. Saya masak bentar. Bukan masak juga sih jatuhnya, cuma celup-celup sambil angetin makanan saja. Saya pinjam dapurnya sebentar ya, Pak.”
“Silakan saja… hehehe. Hag… hag…” batuk itu tidak nyaman didengar, seperti ada riak yang tak kunjung bisa keluar.
Shinta meletakkan Arga yang masih terlelap di sofa yang nyaman tak jauh dari dapur. Ia membatasi sisi-sisinya agar sang bayi tidak terjatuh. Dari posisinya dia bisa mengawasi seandainya bocah kecil itu terbangun. Shinta mengecup dahi sang buah hati, “Adek bobo dulu ya, Mama mau masak. Jadi anak pinter, oke?”
Dapur Pak Hasbi berbeda dengan ruangan lain, lebih bersih dan tertata. Kemungkinan memang dibersihkan karena Shinta mau datang. Ibu muda itu hanya tersenyum saja. Lumayan lah, setidaknya Pak Hasbi menghormati kedatangannya. Padahal tadinya tidak tahu Shinta akan datang, eh dapurnya dibersihin. Tabung gas kecilnya juga sepertinya baru dibeli.
Seperti rumahnya, dapur ini juga kecil. Untuk bisa bermanuver butuh kerja ekstra bagi Shinta yang biasa memasak di dapur modern-nya.
“Maaf kalau nanti tidak enak ya, Pak. Namanya juga pemula,” kata Shinta sedikit berteriak agar terdengar dari ruang makan, padahal ngomong pelan pun juga terdengar. Toh rumahnya tidak besar.
“Ah, sudah pasti enak kalau yang memasak seorang bidadari seperti Mbak Shinta. Rasanya sudah lama sekali saya tidak menikmati masakan rumahan yang dimasak di kompor sendiri,” ujar Pak Hasbi yang masih tetap duduk di kursi di samping meja makan, “Kalau Mbak Shinta… sudah pasti… enak.”
Pak Hasbi menyeringai saat melihat ke arah dapur. Dari posisinya duduk, ia bisa melihat dengan jelas postur belakang tubuh Shinta yang indahnya bak gelas jam pasir itu sedang melenggak-lenggok untuk memasak. Jakun sang pria tua naik turun melihat pantat bulat istri Ardian itu bergerak naik turun dengan indahnya.
“Mbak Shinta… enak.”
Hhehehe. Luar biasa. Mimpi apa semalam sampai-sampai si dewi khayangan itu bisa masak di sini. Sungguh pucuk dicinta ulam pun tiba. Kini saatnya menjejalkan kesedihan demi kesedihan pada sang ibu muda supaya dia bersimpati. Sejarah mengenai keluarganya ia buat dengan sekenanya, cerita itu dia karang sambil lalu saja. Shinta tidak perlu tahu kalau istrinya masih hidup walaupun sedang bekerja menjadi TKI di negeri orang dan kedua anaknya jualan martabak di ibukota.
Berbohong demi keamanan tidak ada salahnya bukan? Pak Hasbi tersenyum sembari menjilat bibir. Tubuh ibu muda itu jelas lezat dipandang di malam yang dingin begini.
Uuuugh, itu pantat kok bulet banget, pasti kenyal dan enak sekali diremas dan ditampar-tampar. Pasti asyik menikmati keindahan pantat itu di saat kontolnya keluar masuk lubang memek sang dewi khayangan. Dia harus bisa menikmati tubuh Shinta bagaimanapun caranya, tanpa kekerasan.
Pak Hasbi punya rencana, dan untuk itu ia butuh cairan.
“Mbak, boleh minta tolong dimasakin air sekalian? Maaf merepotkan. Saya biasanya minum susu telur madu jahe jam segini.”
“Boleh, Pak? Buat apa memangnya?”
“Sekedar untuk menjaga kesehatan. Kebiasaan saya saja.”
“Siap, Pak. Tenang saja.”
Suara Shinta terdengar riang dan ceria. Tak lagi kasar dan ketus seperti sebelumnya. Mungkin suasana yang mendukung membentuk ibu muda jelita itu untuk merasa lebih simpati pada Pak Hasbi yang sebelumnya sangat ia benci – terlebih setelah melihat kondisi sang pria tua. Keadaannya membuat Shinta jadi lebih memahami Pak Hasbi kenapa tingkahnya menjadi seperti itu.
Padahal itu semua rekayasa sang pria tua yang memang manipulatif.
Tak butuh waktu lama bagi air yang dimasak Shinta untuk mendidih. Ia pun mengantarkan teko air panas, gelas, dan sachet STMJ ke meja makan. Setelah menuang air panas ke dalam gelas, Shinta membuka dan menuangkan sachet serbuk STMJ, lalu mulai mengaduknya.
Shinta menengok ke sana kemari, ia mengenyitkan dahi saat melihat susu kaleng di atas meja makan. Masih enak atau sudah kadaluwarsa ini ya? “Susunya cuma ini saja ya, Pak? Pak Hasbi tidak punya cadangan susu sachet lagi? Kalau susunya ditambah kayaknya lebih enak.”
“Susu? Saya tidak punya. Mbak Shinta punya susu? Saya mau kalau ada,” Pak Hasbi tersenyum dalam hati saat percakapan itu terjadi, pandangan matanya mengarah ke dada sang bidadari. Dia mau susu yang berbeda, yang keluar dari buah dada sang bidadari, yang ada di depannya kini.
Shinta memang naif, tapi tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari apa yang tengah mereka perbincangkan. Dasar bocah tua nakal. Pak Hasbi masih saja mengincar buah dadanya, “Wah, saya ada susu tapi di rumah, Pak.”
“Tidak ada susu yang dibawa? Pasti enak susunya Mbak Shinta.”
“Yah, saya jarang bawa-bawa susu, Pak.”
“Masa sih tidak bawa-bawa susu? Untuk si Arga tidak bawa?”
“Arga kan minumnya ASI, Pak. Dia jarang minum susu formula kecuali benar-benar kepepet. Lagipula susu dia kan susu bayi. Masa iya Pak Hasbi minum susu yang sama. Hahaha. Lebih baik susu sapi, Pak. STMJ enaknya sama susu sapi.”
“Oooh, setuju sih, saya juga lebih suka susu yang segar. Tadinya saya mau saja susunya Mbak Shinta yang sering diminum Arga, tapi kalau Mbak Shinta sudah bawa susu sachet, saya tidak keberatan minum susunya Mbak Shinta,” Pak Hasbi masih terus melirik-lirik ke arah dada Shinta yang sesekali terlihat saat ibu muda itu berbalik atau memutar.
Untuk menghindari sang pria tua, Shinta pun berbalik.
Pria tua itu menyeringai, batinnya sedang berbicara sendiri. Shinta oh shinta, kalau susumu sendiri bagaimana? Susu yang mungil, putih, empuk, kenyal, dan indah itu? Bolehkan aku memegangnya? Ingin aku menjamahnya, meremasnya dengan kuat sampai kamu menangis dan memohon ampun. Heheh.
“Itulah, Pak. Kebetulan saya tidak bawa susu,” jawab Shinta yang lantas melangkah kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak. Ia mencoba menghindar karena percakapannya dengan sang pria tua akan mengalihkan fokusnya dari masakan dan membuat pikirannya terbelah-belah.
Shinta yang kini sedang sibuk memasak di dapur bahkan tak sadar kalau Pak Hasbi sudah memelorotkan celananya dan mulai mengocok kemaluannya pelan-pelan.
Ya, pria tua itu mulai onani saat Shinta masak di dapurnya.
Kurang ajar. Kamu menggodaku kan, sayang? Kamu tadi sudah paham apa yang kita bicarakan. Kamu memancingku untuk mengetahui seberapa ingin aku menidurimu. Kamu mau kan aku entotin? Tubuhmu yang mungil dan indah itu diciptakan untuk dientotin ratusan kali perhari, sayang.
Mata pria tua itu bagaikan scanner x-ray yang mampu menembus baju yang dikenakan oleh Shinta dan seakan menampilkan keseluruhan tubuh indahnya. Sekali lagi, buah dada Shinta bukanlah buah dada super massive seperti anggota grup dangdut Trio Harimau. Sama sekali bukan seperti itu, ukuran dadanya mungil tapi tidak sampai rata, pas segenggaman jemari yang menggelantung dengan indahnya tanpa terlihat kendor sedikitpun.
Pak Hasbi suka banget melihat keindahan buah dada sang ibu muda yang meski sudah tidak gadis tapi masih seperti belum tersentuh tangan pria.
Hrrh… hrrhh… hmm… hmmmhh… hmmmhh… Shinta. Susu kamu… indah banget, sangat memabukkan.
Desis lirih Pak Hasbi berbisik perlahan, bisikan yang tak mungkin terdengar oleh sang ibu muda, pandangan matanya mulai blur ditekan oleh nafsu birahi yang kian menderu, napasnya kembang kempis seiring goyangan tangannya yang menaik-turunkan batang kemaluannya sendiri sembari terus melihat dan menikmati goyangan pantat sang ibu muda yang tengah membelakanginya.
Shinta… Shinta… tubuh mungilmu yang indah itu diciptakan khusus untuk memuaskan banyak pria. Jangan kau sia-siakan hanya untuk satu orang yang tak akan bisa memuaskanmu hingga maksimal. Kamu butuh pejantan yang bisa membuatmu merem melek keenakan. Hehehe. Shinta… Shinta… bersiap-siaplah berhadapan dengan sang Jantan.
Pak Hasbi tersenyum saat memperhatikan Shinta fokus pada pekerjaannya di dapur. Ia pun meraih sebuah guci kecil tertutup di atas meja makan, ia memutar tutupnya sedikit, dan mengeluarkan sebuah barang, sebuah botol kecil berisi bubuk. Pria tua itu meraih gelas yang paling bersih di atas meja dan meneteskan bubuk itu sedikit demi sedikit.
Seringai jahat sang pria tua terkembang.
Mmmmh… mmhhhh… mmmmhhh…! Membayangkan lenguhan dan geliat tubuhmu saja sudah membuatku tak tahan, Shinta sayangku, aku berjanji akan memuaskanmu. Heheheh. Suamimu yang bodoh itu tidak mengetahui apa yang dia miliki sampai-sampai disia-siakan untuk si lonte Intan. Hehehe. Mmmmmmhh! Mmmmmmmgggghhhhh!
Pria tua itu lantas mengambil gelas dan menggunakannya untuk menadahi cairan kental yang keluar dari ujung gundul kemaluannya yang hitam dan berurat. Matanya merem melek dan gelasnya tergoyang. Akhirnya semua pejuh yang dikeluarkan masuk ke dalam gelas. Pak Hasbi bahkan sempat mengoles-oleskan ujung kontolnya di pinggiran gelas agar semua cairannya masuk. Setelah benar-benar ia habiskan di dalam gelas, Pak Hasbi mengenakan celana dan sarungnya kembali.
Setelah itu sang pria tua membuka satu sachet STMJ dan menuangkan air hangat sembari mengaduknya. Mendengar suara gelas diaduk, Shinta pun terkejut dan buru-buru menghampiri Pak Hasbi.
“Lho? Kok bikin lagi? Apa yang saya bikinin tadi kurang enak, Pak?”
“Bukan begitu, Mbak. Ini khusus saya buatkan untuk Mbak Shinta. Mumpung airnya hangat tidak panas,” Pak Hasbi tersenyum lembut pada sang bidadari.
“Yaela, apaan sih Pak sampai dibikinin segala. Tidak perlu juga sebegininya. Saya malah kasihan sama Pak Hasbi yang repot ini itu dan bersedia membantu, jadi jangan malah saya yang disuguhin apa-apa ya, Pak?”
“Tapi ini sudah saya buatkan…” Pak Hasbi memasang wajah memelas, ia menunduk sembari memegang gelas dengan tangan kurusnya yang bergetar. Mirip seorang pengemis yang memohon recehan.
Shinta pun iba.
“Ya sudah saya minum.”
Gelas itu berpindah tangan. Pak Hasbi menyeringai saat gelas itu mulai mendekat ke bibir seksi sang bidadari. Ketika pinggiran gelas mencapai bibirnya, kemaluan Pak Hasbi serasa mau meledak. Belum juga beberapa menit yang lalu ia oleskan ujung gundul kemaluannya di gelas itu, sekarang ada wanita jelita yang menempelkan bibir indahnya di tempat yang sama.
Apalagi ketika ia tahu apa yang sudah ia campur di dalam minuman hangat itu. Bubuk perangsang dan cairan pejuhnya.
Shinta mengernyitkan dahi saat menenggak minuman hangat itu. Rasanya sih STMJ, padat aroma jahe. Tapi apa yah yang seperti kenyal-kenyal yang ia rasakan? Masa iya minuman begini pakai cincau?
Shinta yang merasa aneh hendak meletakkan gelas itu.
“Kok tidak dihabisin, Mbak?”
Pertanyaan Pak Hasbi membuat Shinta meneguk ludah, “Emm… saya tidak haus, Pak. Saya lebih baik menyelesaikan masakan dan…”
“Kalau tidak dihabiskan nanti dibuang. Sayang sekali, padahal saya repot membuatnya dengan tenaga saya yang tersisa ini.”
“Ya sudah…” Shinta tahu dia terpaksa menghabiskan minuman aneh itu. Ia pun kembali meminumnya di bawah pengawasan tajam sang pria tua yang menyeringai, sedikit membuat Shinta jengah, “Apa sih, Pak? Kok ngelihatinnya begitu banget?”
“Tidak apa-apa. Mbak Shinta itu lho, saking cantiknya, minum STMJ aja terlihat sangat mempesona.”
“Halah, apaan sih, Pak. Tubuh saya pendek, badannya kurus, tidak ada cantik-cantiknya,” Shinta meletakkan gelas itu di meja, “Ini ya sudah habis. Saya kembali ke dapur lagi. Daripada gosong.”
“Iya, Mbak.”
Siapa bilang kamu tidak ada cantik-cantiknya? Kamu ayu menawan dan mempesona, Shinta. Wajahmu cantik, tubuhmu indah, pantatmu bulat menggiurkan, dan buah dadamu kenyal mempesona. Lagipula, tahukah kamu? Kamu baru saja menenggak habis air maniku ke dalam tenggorokanmu. Tubuh indahmu sudah mulai berkenalan dengan pejuhku. Hahahaha. Tidak sia-sia tadi ngocok cepet-cepet.
Batin Pak Hasbi bergejolak sebagaimana penisnya yang seakan-akan tak betah dikurung di dalam, ingin segera memberontak keluar dan menerobos liang cinta sang ibu muda yang mungil dan jelita yang sedang memasak di dapurnya.
Ternyata beberapa saat kemudian, Shinta sudah menghidangkan masakan di meja makan Pak Hasbi. Dengan wajah puas dan senang, Shinta meletakkan satu demi satu lauk pauk yang ia kerjakan di depan wajah Pak Hasbi yang melongo.
“I-ini sih pesta. Banyak banget, Mbak Shinta!”
“Hihihi, hitung-hitung saya belajar masak juga nih, Pak. Mudah-mudahan berkenan dengan masakan saya yang rasanya hanya biasa-biasa saja begini,” Shinta berkacak pinggang di hadapan Pak Hasbi – harus diakui kalau dia puas dan bangga dengan hasil masakannya malam ini.
“Lu-luar biasa,” Pak Hasbi terbata-bata.
Dengan hati girang, Shinta menyiapkan piring, nasi, sayur, dan lauknya untuk Pak Hasbi. Tak lupa ia juga menambah minuman Pak Hasbi di atas meja.
“Silakan dinikmati ya, Pak. Mudah-mudahan enak.”
“Pa-pasti enak! Yang masak saja seorang bidadari, berdiam saja cantiknya sudah luar biasa, apalagi masakannya! Harum mewangi! Saya suka sekali.”
“Hihihi, syukurlah. Kalau begitu saya… mmhhh…” Shinta memegang kepalanya. Ia memejamkan mata dan memegang bagian atas kepalanya, “Kenapa kok tiba-tiba sakit sekali ya? Mmmhh…”
Suara lenguhan Shinta bagaikan musik nan merdu di telinga sang pria tua. Inilah saat yang ia tunggu-tunggu sejak tadi, sepertinya buah sudah bisa dipanen setelah tadi diberikan pupuk.
“Kenapa, Mbak? Pusing?”
“I-iya, Pak.” Shinta merasa aneh sekali. Kepalanya nyut-nyutan dan terus berputar, tubuhnya terasa hangat dan panas, seakan-akan ingin rasanya membuka seluruh pakaian dan telanjang untuk merasakan hawa dingin yang berhembus dari luar langsung di tubuhnya, ingin rasanya mandi air dingin yang menyejukkan. Panas sekali, gerah sekali, terutama di… selangkangannya.
Pak Hasbi berdiri dan dengan tertatih menggandeng Shinta yang pasrah untuk duduk.
“Duduklah dahulu, Mbak Shinta. Sepertinya kamu sedang kelelahan.”
“Mmmhh… padahal tadi aku segar sekali. Kenapa tiba-tiba bisa seperti ini ya? Apakah darah rendahku kumat? Eemmhhh… ma-mana ponselku? Aku harus menghubungi Mas Ardian… Arga… mana Arga…?”
“Ssst… tenanglah, tenang, duduk dengan tenang. Jangan panik. Mbak kan ada di rumah saya, saya pastikan Mbak Shinta baik-baik saja, duduklah dengan tenang.” Pak Hasbi mendudukkan Shinta di sebuah kursi plastik sementara ia berdiri di belakang sang ibu muda nan jelita dan bertubuh indah itu.
“Mmmhhhh…” Shinta sudah tidak dapat lagi menahan diri, ia melepaskan kerudungnya, dan meletakkannya di samping dengan terengah-engah. Shinta ternyata mengenakan pakaian yang bagian pundaknya terbuka, memperlihatkan bahu putih mulus tanpa cela miliknya. Mulut sang ibu muda itu dibuka agar udara juga bisa keluar melalui akses mulut. Shinta terus saja bertanya-tanya,“Kenapa ini… kenapa ini… hhhhmm… mmmhh…”
Berulang kali Shinta melenguh sembari membasuh keringat dinginnya. Ia tak habis pikir apa yang terjadi pada dirinya yang tiba-tiba menjadi lemas dan berasa aneh. Saat itulah ia merasakan dua tangan di pundak mulusnya.
“Mmmhh…” Shinta justru melenguh saat kedua tangan itu mendarat, menekan, dan memijat, “A-aku tidak…”
Ibu muda itu merasa ada sesuatu yang aneh saat kedua tangan laki-laki tua kurus pemilik rumah ini menyentuh langsung kulitnya. Shinta pun membenahi rambutnya, merapikannya. Napasnya makin satu dua, selangkangannya kian panas dan berharap.
“Bagaimana, enak, Mbak?”
Shinta tersadar, “P-Pak Hasbi! Ja-jangan… terima kasih tapi…”
“Ssst… saya melihat pundak Mbak Shinta sepertinya tegang dan kaku. Pasti ini karena kelelahan bekerja dan menggendong Arga seharian. Coba saya pegang sebentar saja. Sehar-hari saya bekerja menggulung dan melebarkan adonan martabak, untuk memijat Mbak Shinta saya sudah ahli.”
“Ja-jangan, Pak. Tidak perlu saya… saya… ja… aaahhh!”
Shinta menjerit lirih saat jari jemari kencang itu kembali mendarat di pundaknya, menyentuh, dan menekan-nekan dengan ringan. Seluruh tubuh Shinta bagaikan dialiri listrik yang terus mengalir di seluruh tubuh. Berulang kali tubuh Shinta melejit-lejit saat Pak Hasbi menyentuh bagian tertentu.
“Benar dugaan saya, Mbak. Sepertinya ini memang karena kelelahan,” ucap Pak Hasbi sembari memijit pundak putih sang bidadari, ia meringis berusaha menahan air liurnya agar tidak menetes, bagaimana tidak – hal yang paling ia idam-idamkan terpampang dengan begitu saja di depan matanya, “mulus banget pundak kamu, Mbak Shinta.”
“Ehmmm…” desah Shinta keenakan, ibu muda itu memejamkan mata.
Shinta bisa merasakan jari jemari Pak Hasbi menekan perlahan tapi tegas, berusaha melunakkan uratnya yang mengencang. Pijatannya sungguh terasa bagaikan kenikmatan surgawi di muka bumi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dalam hidup. Bukan karena dia tidak pernah dipijat, tapi karena jari-jemari ajaib Pak Hasbi bagaikan pianis yang tengah memainkan simponi indah yang membuat hatinya yang sedang kalut menjadi sendu.
“Tubuh kamu indah, Mbak Shinta. Kulitmu putih mulus, wajahmu cantik, ayu banget,” bisik Pak Hasbi perlahan, “ijinkan saya membantu membenahi yang pegal-pegal begini. Kalau tidak diluruskan, bisa jadi berkepanjangan.”
Wajah Shinta pun memerah, “Mu-mungkin karena setiap hari menggendong Arga. A-anak itu beratnya makin hari makin… ehmmm…”
“Sst… jangan bicara terlalu banyak dahulu. Mbak Shinta rasakan saja dulu pijatan saya di pundak. Kalau sakit baru bilang. Ini kencang sekali, urat-uratnya semua menegang,” bisik Pak Hasbi di dekat telinga sang ibu muda. Shinta menggerai rambutnya yang indah di satu sisi, membuat Pak Hasbi bisa menikmati sisi indah kepala sang ibu muda – betapa cantik sisi wajahnya dan betapa mulus leher indah wanita jelita itu.
Shinta yang gugup lantas mengangguk. Ibu muda itu tidak sadar dia sudah mulai terbuai ke dalam dunia yang sama sekali tidak dia pahami. Dia bahkan membiarkan tangan sang pembuat martabak mini yang kurus itu menjamah tubuh mulusnya dengan bebas. Gabungan antara rasa kesal terhadap suami, rasa geram terhadap Intan, rasa simpati sekaligus jijik pada Pak Hasbi, dan rasa lelah yang bertubi membuat sang ibu muda itu lengah.
Dia membiarkan seorang laki-laki yang bukan suaminya untuk melihat wajahnya tanpa kerudung dan pundak mulus yang selalu ia sembunyikan secara terang-terangan.
Shinta bahkan tidak sadar ketika baju di pundaknya perlahan-lahan mulai melorot karena didorong halus oleh jari-jemari kerempeng keriput dengan kuku menghitam yang tengah memijat. Bahu Shinta kini benar-benar telah terekspos, tak lagi tertutup oleh kain apapun, memperlihatkan bahu nan indah dengan kulit putih halus mulus bak pualam dengan sepasang tulang selangka yang manis dengan lekukan di pertemuannya. Ada kontradiksi di sana, pertemuan warna yang menarik, bagaikan papan catur.
Kini posisi Pak Hasbi bahkan sudah tidak lagi jauh di belakang Shinta. Dia sudah sangat dekat hampir memeluk tubuh sang ibu muda, kepala Pak Hasbi tak jauh dari pundak Shinta dan hampir menempel di telinga wanita bertubuh mungil tersebut.
“Apakah pijatan saya enak, Mbak?”
“Emmmhhh… he’em, enak…”
“Pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya?”
“Mmmh… belum pernah…”
“Enak banget ya?”
“He’em… enak banget… emmmhh… tidak menyangka.”
Tubuh Shinta bergetar setiap kali Pak Hasbi berbisik di telinganya, bagaikan hembusan angin yang menyapa kulitnya. Begitupun tiap sentuhan jemari Pak Hasbi di tubuh mulus sang ibu muda, membuatnya menggelinjang bukan kepalang. Bagaikan terhipnotis, Shinta sama sekali tidak protes maupun melawan, padahal sesujurnya ia masih ada rasa sungkan dengan sang pria tua yang cabul ini.
“Kalau saya telusuri, urat-utranya kencang sampai ke dada. Bagaimana, Bu?” bisik Pak Hasbi mendorong jalur urat di tubuh Shinta mulai dari belikat, bahu, selangka, hingga ke atas dada, tiap dorongan disertai dengan hembusan napas yang cukup kencang. Tangan yang tadinya memijat dengan enak itu berhenti tepat di atas dada Shinta. Pijatan itu berubah menjadi elusan.
“Mmmmmhhh…” jari-jemari Pak Hasbi membuat tubuh Shinta melejit ke belakang.
Untung tubuhnya yang mungil ditahan oleh Pak Hasbi agar tidak terjerembab, tapi itu membuat seakan-akan Shinta menggelinjang di pelukan sang pria tua. Shinta yang merasa enak sekaligus kesakitan sampai tidak tahu harus bagaimana. Tanpa sadar ia merebahkan kepalanya di pundak Pak Hasbi sembari mengatur napas yang terengah-engah, desah suara terdengar dari bibir sang perempuan berwajah molek itu.
“Ha… harus bagaimana, Pak? Tu-tubuh saya entah kenapa jadi seperti ini…”
“Seperti ini bagaimana, Mbak?” Pak Hasbi menyeringai.
“Mmhhh… saya tidak tahu, Pak. Saya tidak tahu… saya harus bagaimana ini…”
“Sst… Mbak Shinta tidak perlu khawatir. Tenang saja. Saya sudah biasa melakukan ini. Selain berjualan martabak, saya juga sering memijat orang. Yang penting kan Mbak Shinta merasa lebih enak dan punggungnya tidak lagi terasa nyeri.”
“Mmmh…” Shinta mengangguk dan melenguh. Jari jemari Pak Hasbi menari di pundaknya yang kencang dan terasa amat pegal.
Mereka sebenarnya tidak bertatapan karena Shinta berada di depan Pak Hasbi dan memunggungi pria tua itu. Tapi kedekatan keduanya kini tak berjarak karena di punggung Shinta kini sudah menempel dada sang pria tua itu tanpa disadarinya. Bahkan pipi Pak Hasbi dengan bebasnya menempel di pipi sang bidadari tanpa ada sedikitpun protes. Shinta ibarat terkena sihir, dia tidak melawan sama sekali, bahkan tidak berusaha melepaskan diri dari situasi yang sebenarnya tidak wajar itu. Dia hanya merasakan rasa nyaman super ekstra yang disebabkan oleh sentuhan jemari magis nan memabukkan.
Apa yang dirasakan sang bidadari mungkin bisa disebut sebagai gabungan dari kenaifan dan rasa nyaman yang dibangun oleh Pak Hasbi, serta kelicikannya dalam membentuk karakter yang simpatik dan tidak menimbulkan kecurigaan pada Shinta yang sebelumnya merasa jijik. Dengan kalimat-kalimat yang diucapkannya Pak Hasbi menenggelamkan Shinta ke dalam suasana yang terbangun, ditambah tentunya dengan sedikit ramuan ajaib.
Pak Hasbi meneguk ludah.
Pundak Shinta yang terbuka menampilkan keindahan bahu sang bidadari mungil. Sesuatu yang membuat jakun sang pria tua naik turun karena nafsunya kian menghentak-hentak. Kedua tangan Pak Hasbi pun beraksi dengan halus, berawal dari memijat pundak, lama kelamaan ia bisa mengelus-elus bagian atas balon kenyal buah dada Shinta. Dari atas, jari-jemari tua Pak Hasbi menekan dan mengelus tulang selangka Shinta, lalu ke tengah, ke lekukan indah di bawah leher, lalu menyebar ke kanan dan kiri. Kedua tangan kurus dan berminyak itu mengelus-elus bagian atas gumpalan kenyal yang membuat tubuh sang bidadari menggelinjang.
“Hhhh… oooohmmm… aaahhh… ahhh… Paaak… sudaaah, Paaaak. Akuuu tidak tahan lagi… aaaahh…”
Shinta mendesah dan mendengus-dengus. Ia sudah tak lagi sadar mana yang kenikmatan karena dipijat dan mana yang menjadikannya hamba nafsu. Otaknya tak berfungsi sempurna sementara tubuhnya menerima kenyamanan yang diberikan oleh sang pria tua. Kenyamanan yang selama ini tidak dilaksanakan sang suami.
Batin Shinta mulai bergejolak.
A-apa yang aku lakukan ini? Tidak… tidak bisa…! Tidak boleh! Aku sudah menikah dengan Ardian. Aku mencintai suamiku. Aku tidak boleh melakukan ini dengan lelaki lain, terlebih kalau orang itu si cabul Hasbi ini…! Jangan…! Aku tidak mau… apa yang aku lakukan ini jelas-jelas salah! Aku tidak boleh kalah oleh tipu daya si tua cabul ini. Aku tidak boleh kalah oleh… oleh… oleh… oleh apa!? Pak Hasbi kan tidak bersalah!? Dia tidak melakukan apa-apa! Kalaupun dia menjadi cabul, itu hanya dalam akal pikiran saja. Semua prasangka itu hanya ada di pikirannya saja.
Tangan-tangan nakal Pak Hasbi mulai menjelajah bagian atas dada Shinta yang kian terbuka. Ibu muda itu sudah benar-benar kehilangan akal karena enaknya pijatan sang pria tua. Shinta tidak menyadari asap dari aromatherapy yang dibakar secara diam-diam oleh Pak Hasbi juga berpengaruh pada psikisnya, membuat ia tenggelam dalam kenikmatan yang tak pantas.
“Akuuu… tidak kuat, Paaak.. aku tidak bisaaaa… tidak maaau… ohhh… enak banget…”
“Tidak kuat kenapa, Mbak?”
“Emmmmhhh…”
Pak Hasbi menyeringai, tangannya menarik tangan Shinta, lalu meletakkan telapak tangan ibu muda itu di selangkangannya, membiarkan jari jemari lembut sang bidadari mungil itu merasakan kencang dan tegangnya batang kejantanannya yang mulai membesar perlahan. Sesuatu yang mengagumkan dan selalu mendapat pujian dari lawan jenis.
Shinta terkejut saat tangannya mulai menyentuh sesuatu.
Haaaaah!? I-ini… ini punya Pak Hasbi!? Kenapa bisa besar sekali? Tidak mungkin! Ini bukan punya manusia! Ini besar sekali! Bahkan punya Ardian pun tidak sebesar ini! Ke-kenapa orang semenjijikkan Pak Hasbi punya sesuatu yang demikian besar dan panjang dan… dan…
Shinta tenggelam dalam khayal. Batinnya bergejolak. “Paaaak… mmmh… jangaaan…”
“Kenapa, Mbak? Apanya yang jangan?” suara parau Pak Hasbi terdengar hingga ke sanubari Shinta. Bisikan lelaki tua itu begitu dekat karena bibir Pak Hasbi menempel di pipi Shinta. Dengan berani Pak Hasbi mulai mengecup dan mencium pipi mulus Shinta berulang-ulang kali. Saat ini sekali lagi Pak Hasbi menempelkan bibirnya di pipi Shinta, lalu menggesernya. Ke atas, ke bawah, ke samping. Ia mengoles-oleskan lidahnya di pipi sang ibu muda.
“Jangaaaaan, mmmmhhh… ke-kenapa be-besar sekali…”
“Apanya yang besar? Mau merasakannya, Mbak? Boleh banget kok. Mau ya? Aku buka sekarang ya?”
“Mmmmhhh… tidak mauuu… tidak bisa…” Shinta menolak dan mencoba meronta, melepaskan diri dari pelukan Pak Hasbi. Meskipun kondisinya seperti orang mabuk, tapi Shinta masih berusaha lepas.
Sayangnya sang lelaki tua itu sudah mengunci posisinya. Shinta tidak bisa kemana-mana. Ibu muda yang tengah dibuat teler itu hanya bisa pasrah dengan nasibnya selanjutnya. Ia kembali dipeluk oleh Pak Hasbi, tapi kali ini dari depan.
“Tubuhmu indah sekali, sayang…”
“Mmmhhh… jangan… jangan… jangan… aku tidak mau… mmmhh…”
Terdengar suara tangisan. Makin lama makin kencang.
Shinta yang sejak tadi tenggelam dan dimabukkan oleh jebakan suasana erotis langsung tersadar saat mendengar suara tangisan itu. Matanya terbuka lebar dan ia pun terbelalak.
Tangisan itu! Itu Arga!! Ia menatap ke depan dan melihat ia tengah memeluk Pak Hasbi yang menyeringai menjijikkan ke arahnya. A-astaga! Apa yang sudah ia lakukan!?
Shinta buru-buru melepaskan diri dari tangan-tangan jahil Pak Hasbi, ia mendorong tubuh si tua itu sampai terjatuh!
Shinta tak peduli lagi dengan apapun. imembenahi pakaiannya yang sudah hampir terbuka sampai ke dada, dan mengambil kerudungnya yang tadi ia lepas. Shinta tak menatap Pak Hasbi sekalipun, ia langsung meloncat dan melejit untuk mencari Arga.
“Mbak… Mbak Shinta?” Pak Hasbi kebingungan, ia mencari-cari tongkatnya untuk berdiri dan mengejar Shinta.
Shinta yang sudah menemukan Arga langsung mengenakan kerudung dengan seadanya, dan berlari ke arah pintu keluar sembari menggendong putranya. Ia meninggalkan rumah Pak Hasbi tanpa pamit panjang lebar. Ia harus pergi dari rumah terkutuk ini.
Sialan! Apa yang terjadi kepadanya? Kenapa ia bisa dilecehkan oleh si bangsat tua itu? Sialan sialan sialan sialaaaaan!
Shinta membuka pintu rumah Pak Hasbi dan keluar dengan terburu-buru. Ia bahkan tak menutup pintu rumah saking kesalnya. Langkah kaki cepat dan napas yang memburu mengiringi kepergian Shinta. Ia tak sempat melihat Pak Hasbi yang saat ini bersandar di pintu sembari melihat kepergian sang ibu muda jelita itu dengan senyum menyeringai nan lebar.
Shinta yang tengah berlari terus saja bersungut-sungut dan memarahi dirinya sendiri dalam hati sembari menggendong Arga.
Apa yang kamu lakukan!? Apa yang kamu pikirkan sewaktu membiarkan Pak Hasbi melakukan itu semua!? Sudah sinting kamu!!? Bodoh bodoh bodoh!! Bodoh sekali kamu Shinta!! Kalau sampai nanti tersebar berita, itu bukan gara-gara Pak Hasbi. Itu gara-gara kebodohanmu sendiri! Bodoh kamu!
Berulang kali Shinta memaki dirinya sendiri saat berjalan pulang dengan cepat, ia merasa kotor dan ingin mandi secepatnya, membersihkan diri dari kotoran, dari sentuhan sang pria tua. Sang putra sudah menggelinjang tak nyaman, mungkin juga merasakan rasa gelisah dari sang bunda.
“Tenang, Nak. Kita pulang sekarang. Maafkan Mama ya. Mama sudah bodoh sekali tadi. Untung ada kamu mengingatkan apa yang Mama lakukan. Kamu penyelamat Mama…” bisik Shinta pada Arga, “Kamu penyelamat Mama, Nak. Anak pintar. Kamu anak yang pintar sedangkan Mama bodoh sekali… Mama…”
Bisikan Shinta terhenti sesaat. Ia mematung di tempat. Saat itu ia berada di dekat warung sayurnya Bi Jum, tempat yang tepat berada di tengah-tengah pertemuan antara Desa Bawukan, Kampung Growol, dan Cluster Kembang Arum.
Shinta mematung karena ia melihat mobil sang suami melintas.
Ia melihat mobil Ardian melintas dari jalan utama, melalui Dusun Bawukan, tapi tidak belok ke rumah, melainkan lurus ke Kampung Growol. Sudah jelas sekali apa yang dilakukannya. Dia pasti sedang mengantarkan Intan pulang ke rumah.
Lama-lama kok beneran jadi kurang ajar yah itu cewek? Darah Shinta mendidih. Apakah sudah waktunya mereka bicara empat mata? Sebelum pelakor sialan itu membuat ulah, Shinta akan menghentikannya!
Shinta harus menelpon suaminya dan…
Shinta merogoh ke kantong, ke sana, ke sini, kemari, dan kemana pun ia bisa mencari. Tidak ketemu. Tidak ada. Perasaan tadi dia bawa dan…
Celaka!
Ponsel Shinta tertinggal di dapur Pak Hasbi.
Di saat yang bersamaan, Pak Hasbi tengah membuka ponsel Shinta yang tidak terkunci, membuka galeri, dan tertawa-tawa senang sembari menikmati ribuan gambar sang ibu muda itu dalam berbagai pose. Ia mengeluarkan kemaluannya dan mulai menikmati gambar-gambar Shinta sembari bermasturbasi.
“Kutunggu kedatanganmu, bidadariku… heheh.”
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *