Search

BAGIAN 5-B CURI-CURI PANDANG

BAGIAN 5-B  CURI-CURI PANDANG

Ancaman Pak RT Sukirman memang mengerikan dan Amy tidak bisa mengelak lebih jauh lagi. Dia telah melakukan kecerobohan yang fatal yang bisa membuat kehidupannya kacau. Ini tidak bisa dihindari dan harus dihadapi, apapun konsekuensinya.

Hancurnya kehidupannya, atau hancurnya rumah tangganya bersama Mas Ge? Pilihan ada di tangan Amy, dan dia sudah mengambil keputusan. Keputusan yang sangat berat dan tak mudah. Dengan berat hati Amy harus melakukannya.

Ia duduk dengan kaku dan takut-takut menghadapi apa yang akan terjadi. Sesekali Amy memejamkan mata, meski di saat-saat lain ia membukanya – Amy tak ingin terkejut dan berusaha tegar menghadapi ancaman.

Ia bisa merasakan kapan Pak Man mulai mendekat, tubuh sang pria tua itu terasa begitu dekat dan semakin dekat. Pak RT mulai mendekati Amy, dengus napasnya tidak hanya terdengar tapi juga terasa.

Hidup Amy bagaikan dalam penjara yang tak bisa ia tembus. Ia melakukan kesalahan yang tak bisa ia perbaiki. Atau sebenarnya… masih bisa?

Pak RT terkekeh menjijikkan, ia tahu wanita berparas indah bak bidadari itu tengah kebingungan. Kalau ia terlalu lambat, Amy akan mengambil keputusan yang tidak ia inginkan. Ia harus cepat dan menekan dengan pressure yang lebih tinggi. Ia mendekat ke arah Amy, lalu merangkulnya. Tanpa peduli tubuh bidadari itu bergetar ketakutan, Pak RT pun mengecup pipi mulus sang bidadari.

Cpph.

Pipi Amy akhirnya tersentuh bibir pak Sukirman. Pipi mulus halus lembut dan terawat yang hanya pernah dikecup oleh orang-orang yang dekat dan disayangi oleh Amy itu kini dicium dengan nyamannya oleh Pak RT yang beringas, bernafsu, dan cabul.

Amy mimbik-mimbik hendak menangis, tubuhnya bergetar dengan hebatnya. Siapa yang menyangka hari ini dia harus menerima dilecehkan seperti ini oleh seorang laki-laki tua buruk rupa dan mesum? Dia tidak mau! Dia tidak ingin ini terjadi! Dia tidak menyukainya! Bukan ini yang ingin dia lakukan!

Tapi bisa apa Amy menolaknya? Apa yang harus dilakukannya?

Pak RT sendiri bersikap hati-hati, dia tidak lantas gegabah buru-buru menyerang sang bidadari. Meski sudah melakukan kecupan cepat di pipi untuk menekan mental Amy, dia tidak ingin ibu muda itu lantas lepas dari jeratannya. Sukirman adalah hakim, juri, dan eksekutor. Dia adalah dewa sekaligus raja di tempat ini. Dia adalah sang predator, sang penjebak, core of the core, dan ibu Amira Nursyifah yang cantiknya kelas khayangan ini adalah mangsanya yang paling ia inginkan seumur hidup. Wanita semenawan Amy harus bisa ia tundukkan.

Tapi dengan satu syarat, Amy harus bersedia ditaklukkan.

Oh ya, Sukirman ingin menaklukkan Amy, tapi dengan caranya sendiri, dalam temponya sendiri, dalam universe-nya, dalam metaverse-nya. Tidak perlu terburu-buru untuk melakukan apapun. Kesabaran adalah koentji. Wanita seindah Amy butuh tarik ulur supaya tidak gegabah dan tak lepas.

Mari test ombak dulu, mari kita coba cara pertama dari Plan A, apa yang akan dilakukan sang target jika Pak Sukirman sudah melakukan hal yang ia benci? Apakah marah atau malah mau? Apakah dia akan mengutuk Pak RT selamanya?

Pak RT lantas berbisik ke telinga sang ibu muda, “Sekarang lepaskan behamu…”

Tentu saja Amy terkejut.

A-apa!?

Tidak. Jelas tidak! Dia tidak mau! enak saja! Memangnya dia wanita apaan? Tidak semudah itu! Amy meloncat dari sisi Pak Sukirman.

Dia mulai berpikir jernih, tidak semudah itu dia akan menyerah pada keadaan, tidak semudah itu dia akan menurut pada apapun yang dipaksa oleh si bandot kurang ajar. Amy pun mencoba lepas dari dekapan sang pria tua. Dia harus melawan! Orang-orang seperti Sukirman ini harus dilawan!

Tangan Pak Sukirman berusaha meraih tangan Amy, tapi karena dia memang tidak ingin memaksa sang ibu muda, dengan mudahnya Amy lepas dari cengkramannya.

Amy meraih surat perjanjian yang masih berada di atas meja dan langsung merobek-robeknya tepat di hadapan Pak Man. Dengan galak ia menatap ke arah sang RT yang cabul itu, “Ma-maaf, Pak! Tapi saya sudah menikah! Saya punya keluarga, saya punya anak, saya punya suami! Bapak juga tahu itu! Bapak juga kenal suami saya! Saya tidak akan mau mengkhianati suami saya dengan bersama laki-laki lain! Mo-mohon setidaknya Bapak juga menghormati atau setidaknya bersimpati pada keadaan saya. Saya punya uang – ta-tabungan saya tidak banyak, tapi mudah-mudahan itu lebih dari cukup untuk melupakan masalah yang terjadi saat ini… setidaknya kalau masalah biaya, akan saya coba carikan.”

Sukirman menghela napas dan manggut-manggut, oh begitu.

Rupanya dia menolak menyerah begitu saja pada semua permintaannya bahkan menyobek surat perjanjian itu. Bagus. Justru sangat bagus, dengan begini kan ada tantangannya. Mana demen Sukirman dengan cewek-cewek yang dengan sekali paksa bisa mudah buka paha. Gak ada seru-serunya lah. Yang begini ini justru yang membuatnya jadi bersemangat.

Tahu kondisi sang korban, Sukirman hanya menyeringai. “Siapa bilang aku butuh duit? Ehehehehe, bodo amat dengan segala tabungan njenengan, Mbak Cantik. Lupakah njenengan dengan perjanjian kita tadi? Yakin akan melawan saya? Serius ini? Hooh tenan? Njenengan bener-bener kepengen fotonya dikirim ke banyak orang? Yakin seyakin-yakinnya ini? Berani melawan saya?”

Amy berusaha menahan tangis dan menekan kekhawatirannya, wajahnya memerah dipenuh amarah, bagaimana jika ancaman itu benar-benar dilaksanakan si tua bangka brengsek ini?

“Apakah itu yang Bapak inginkan? Apakah Bapak benar-benar ingin mempermalukan saya? Bisa-bisanya orang terhormat seperti Bapak melakukan hal yang sedemikian hina dan nistanya. Saya tidak pernah berbuat salah ke Bapak, saya selalu menghormati Bapak sebagai pimpinan dan sesepuh di tempat ini… tapi seperti inikah ternyata keasliannya! Ada sifat busuk di balik wajah sok baik yang Bapak tunjukkan ke semua orang! Menjijikkan! Kalau memang Bapak mau melakukan itu, silakan saja! Saya tidak takut! Saya akan membalas dengan melaporkan Bapak ke pihak berwajib! Saya sudah tidak peduli lagi!”

“Kekekekeke. Wahahahha,” Sukirman tertawa terbahak-bahak.

Amy jadi semakin kebingungan. Kenapa lagi orang ini? Kenapa tertawa, kenapa tidak takut? Apakah dia telah merencanakan sesuatu yang busuk? Amy sudah merobek perjanjian mereka yang itu berarti perjanjian hitam di atas putih telah batal. Amy tahu nasibnya sedang di ujung tanduk saat ini. Apa yang akan dilakukan Sukirman? Akankah dia melaksanakan ancamannya?

“Heheheheh. Coba pikir ulang. Mbak Cantik pikir melaporkan ke polisi akan membuat Mbak Cantik aman? Yakin?”

“Aku yakin sekali! Ancaman busukmu tidak membuatku gentar! Pergi dari sini!”

“Tut tut. Lha kok malah balik ngancem!? Gimana toh? Bukankah Mbak Cantik yang pertama kali mengirimkan gambar ke saya? Alibi saya kuat lho ini, ada bukti percakapan yang sudah saya screenshot. Bukankah ini yang namanya menghancurkan diri sendiri? Dari bukti chat saja sudah jelas kalau Mbak Cantik yang terang-terangan menggoda saya. Semuanya lengkap dan tak direkayasa. Hooh tenan.” Pak RT berkilah dengan kenyataan yang ada benarnya.

“Ku-kurang ajar! Itu tidak sengaja!!”

“Sengaja atau tidak sengaja tidak akan dipedulikan oleh polisi, jadi semua kerugian akan ditanggung Mbak Cantik sendiri. Sudah paham kan kenapanya?”

Amy terdiam. Dia benci menjadi pihak yang teledor.

Sukirman melanjutkan, “Jadi kalau tetap mau ke pihak yang berwajib ya silakan saja, monggo saja… mau bayar pengacara mahal-mahal? Silakan saja. Tapi jangan anggap saya akan diam, saya jelas akan melawan. Perkara siapa yang memiliki teman pengacara dan polisi yang lebih kuat, kita berdua bisa bandingkan nanti ya. Hehehehe. Mbak Cantik pikir saya takut?”

Tubuh Amy bergetar hebat, ancaman Pak Man membuat sang ibu muda tambah panik.

Ya, ini semua karena kecerobohannya. Jika dia tidak gegabah saat mengirim foto itu, tidak akan ada masalah yang terjadi. Sekarang semuanya terlambat, dia berada dalam kondisi yang amat sangat pelik. Bagai makan buah simalakama, mau melakukan apapun tetap saja salah.

Amy menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya.

Ya Tuhan, harus bagaimana dia sekarang? Harus melakukan apa untuk selamat dari situasi ini? Tidak ada jalan keluar yang bisa melegakan. Tidak ada cahaya terang di ujung kegelapan yang menerpanya secara tiba-tiba.

Air mata mengalir di pipi Amy, dia benar-benar bingung dan kalut. Dia tahu dia akan mengecewakan Mas Ge dan keluarganya jika rahasia di tangan Pak RT tersebar ke umum. Belum lagi keluarganya sendiri, papa dan mamanya, adiknya, dan teman-temannya. Bagaimana kalau mereka semua tahu?

“…dan satu lagi.”

Suara tenang tapi mengancam dari Sukirman membuat batin Amy mencekam. Apalagi yang mau dia sampaikan? Apakah masih kurang dia mengancam Amy dengan segala macam jebakan pemikirannya? Pak RT satu ini memang licik, cabul, dan kurang ajar.

“Sa-saya tidak tahu lagi apa yang bisa saya…”

“Ssh. Diam dulu. Tenang dulu. Suara njenengan bergetar, Mbak Cantik. Kenapa? Bingung? Takut? Tegang? Salah sendiri jadi orang kok plinplan, sudah tandatangan malah dirobek,” Pak RT tersenyum menjijikkan, seringainya membuat Amy ketakutan setengah mati, “Karena tadi sudah menolak permintaan saya untuk membuka pakaian dalam dan juga telah merobek surat perjanjian yang terang-terangan kita sepakati bersama, maka saya anggap Mbak Cantik sudah menolak tawaran baik dari saya untuk menyimpan rahasia kita berdua ini hanya untuk berdua saja. Saya tadi wes baik hati dan tidak sombong, lho. Asli. Beneran. Hooh tenan. Saya wes berbaik-baik sama njenengan, sudah simpati. Lha malah njenengan jan ora sopan.”

“Saya tidak bermaksud seperti itu!” Suara Amy lebih kencang dan keras sekarang. Dia jelas sedang frustasi menghadapi sang ketua RT. “Saya tidak ingin melakukan apa yang Bapak minta! Saya tidak sudi! Saya masih punya harga diri!”

“Lha karep-nya Mbak Cantik itu gimana sih? Maunya apa!? Saya nggak suka lho dipermainkan begini! Saya nggak suka lho, dibentak-bentak kayak debt collector kalah awu. Mau ke polisi? Ha mbok ayo! Boleh!! Kita ke polisi! Asem ik! Dikirain saya ini kelas teri apa? Dikira saya takut? Dikira saya pasrah? Wegah! Tidak mau! Njenengan ngajak dolanan hukum? Wokeh! Saya layani, Mbak! Dikira saya RT bohongan?” Sukirman pura-pura menggerutu dan marah pada Amy.

Ibu muda itu makin ketakutan melihat sikap Pak RT yang biasanya ramah berubah menjadi penuh amarah, “Tu-tunggu Pak. Apa tidak ada yang bisa kita bicarakan? Ini kan masalah kehidupan saya. Foto saya yang jadi penyebabnya. Ini masalah saya, masalah keluarga saya. Bapak tidak akan terganggu jika ada yang tahu mengenai foto itu, tapi kalau saya? Kehidupan saya bisa hancur pak. Tolong saya… sekali ini saya mohon…”

“Ha rumangsamu aku peduli po piye? Bodo amat! Saya tidak peduli! Saya pamit! Fotonya akan saya sebar! Terserah! Biar mampus sekalian! Dasar perempuan nggak bener! Main-main sama Pak RT! Enak saja! Dikira amatiran?” Sukirman pura-pura berdiri dan melangkah pergi. Dari sudut matanya ia memperhatikan hati Amy yang kian hancur saat melihat pergerakan sang lawan bicara.

Amy kebingungan, mulutnya terbata-bata tanpa bisa banyak bicara, matanya melirik ke semua arah mencari solusi yang tidak ada ujungnya. Tangannya dibentangkan ke arah manapun, dia stress. Jari jemari sang ibu muda meremas-remas kerudungnya sendiri. Bagaimana? Bisakah ia memutuskan dengan cepat?

Rumah, tanah, pekerjaan, impian, keluarga. Semua yang telah dibangun oleh dirinya dengan Mas Ge, semua akan hancur begitu foto itu menyebar ke semua orang. Bisakah Mas Ge memaafkannya jika foto itu jatuh ke banyak orang?

Ge pernah cemburu buta dan mengamuk hanya gara-gara mendengar kabar kalau Amy pulang dari kampus diantar oleh seorang teman yang bernama Andri. Dia meminta untuk langsung putus saat itu juga. Ge bahkan tidak mau mendengar penjelasan apapun termasuk saat Amy mengajak Andri yang sebenarnya nama seorang cewek.

Ketika Ge merasa bahwa hubungan mereka sudah ternodai, dia akan pergi. Dia posesif terhadap Amy-nya yang cantik dan sempurna. Amy tahu pasti itu. Kalau sampai Mas Ge tahu foto telanjang Amy disebar, dia akan dihajar habis-habisan, setelah itu meninggalkan Amy seorang diri untuk mengurus si kecil Kevin.

Hari ini cukup parah, tidak saja Amy sudah membagikan foto tidak senonohnya, dia juga dikecup oleh Pak Sukirman. Jika Ge sampai tahu…

Aduh gimana ini?

Waktu yang sedemikian singkat tidak memungkinkan bagi Amy untuk berpikir jernih, apalagi saat kalut, takut, dan panik melanda. Jebakan mental Pak Sukirman dengan cerdasnya dibentangkan, bagai jaring laba-laba yang tidak memungkinkan korban yang sudah terjerat untuk bisa lari. Yang sudah terikat kian kencang tanpa ada kemungkinan lari.

“Ba-baiklah.”

Amy menyerah. Ia memejamkan mata menahan diri untuk bisa berucap dengan tegar. Kata-katanya getar, “Baiklah saya bersedia melakukan apa yang…”

Sukirman menyeringai tanpa berhenti berjalan. Dia sengaja melakukannya untuk melihat apa reaksi dari sang ibu muda nan cantik jelita itu. Benar saja, ternyata Amy hancur saat diulur. Dia suka yang seperti ini. Hehehe, salah sendiri plin plan. Akhirnya jadi mainan.

“PAK!” Amy setengah berteriak, tapi sang RT cabul tetap berjalan tanpa niat berhenti. Dia dengan santainya melangkah menuju pintu. Seolah-olah tak menghiraukan apapun yang diucapkan oleh sang ibu muda.

Jantung Amy berdetak makin kencang, setiap langkah Pak Sukirman seolah menjadi paku di hati Amy, setiap hentakan kaki menjadi cengkraman menyakitkan yang makin jauh menyebar ke seluruh tubuh, makin menghancurkan, makin meremukkan.

“PAAAK!” Amy berlari menuju Sukirman dan meraih ujung bajunya, “Paaak! Saya mohon dengarkan saya. Saya… saya mohon untuk tidak menyebarkan foto itu, Pak… saya… keluarga saya… saya tidak akan bisa hidup kalau Mas Ge tahu dan…”

“Apa sih, Mbak? Dari tadi kok begini terus? Awalnya mau, terus menolak, lalu mau, terus tidak. Yang mana yang bener? Saya jadi bingung. Mbak pikir saya tidak mempertaruhkan reputasi saya? Jangan punya pikiran kacau, Mbak! Jangan ngelantur! Begini-begini saya punya reputasi yang harus dijaga! Saya orang terhormat di tempat ini!”

“Saya tidak… saya tidak tahu harus bagaimana…” Amy menangis, “Saya bingung… saya mohon jangan paksa saya untuk… untuk melakukan hal-hal bejat yang… saya punya keluarga, Pak… saya sudah menikah… kenapa Bapak mau menghancurkan keluarga saya? Saya mohon, Pak… saya mohon… kasihani saya, Pak…”

Pak Sukirman menyeringai, “Kenapa saya harus mengasihani njenengan? Njenengan yang ngirim foto mesum ke saya! Begitu saya tanggapi, malah hendak melaporkan saya ke polisi! Siapa yang memaksa siapa? Kurang ajar!”

“Saya tidak sengaja, Pak… saya tidak sengaja… saya mohon…” Amy tidak ingin menyerah begitu saja. Dia harus berusaha sampai Sukirman mau mendengarkan ucapannya.

”Saya membayangkan seandainya saya menyebarkan foto Mbak Cantik ke seluruh penghuni RT kita. Bagaimana jadinya hubungan njenengan dengan para tetangga ke depannya? Ibu-ibu akan menganggap Mbak Cantik sebagai lonte dan Bapak-bapak akan berebut pengen ngewe. Begitu yang Mbak mau? Atau pilih saya sebarkan ke seluruh kontak saya di hape? Begitu saja? lebih banyak orang yang akan tahu. Termasuk Pak Lurah, Pak Camat, dan…”

Amy memejamkan mata. Brengsek! Brengsek! Airmatanya turun tanpa bisa dihentikan. Amy menggeleng, dia harus tetap melawan, “Tu-tunggu dulu, Pak. Kenapa ini tidak bisa dibicarakan? Kenapa Bapak terus memaksa saya? Sudah saya bilang saya punya keluarga yang harus saya jaga martabatnya, apakah sama sekali Bapak tidak memiliki rasa belas kasihan untuk saya? Saya tidak mau melakukan hal yang…”

“Memangnya saya peduli? Haish embuhlah! Kunjungan saya kemari sudah terlalu lama dan tidak ada hasilnya. Saya akan hitung sampai lima, Mbak Cantik. Kalau tidak juga ada perbedaan dan ketersediaan dari Mbak untuk menyelesaikan masalah ini… Mbak sudah tahu apa resikonya!”

“Apa yang… apa yang Bapak inginkan… dari saya…? Saya hanya punya uang dan…”

“Satu.”

“Pak… saya mohon… saya mohon dengan sangat untuk mempertimbangkan…”

“Dua.”

“Pak… saya hanya keluarga… saya hanya punya Kevin dan Mas Ge. Bapa tega menghancurkan keluarga kecil saya hanya gara-gara ketidaksengajaan yang tidak ada artinya? Pak… saya mohon untuk…”

“Tiga.”

“Pak… Pak… saya harus bagaimana? Saya harus…” Amy makin panik. Perempuan jelita yang biasanya tenang dan kalem itu berubah ketika sadar kebahagian hidupnya sedang dalam ancaman.

“Empat.”

Amy buru-buru merogoh ke dalam bajunya melalui sisi bawah, ia bergerak dengan cepat. Kebetulan sekali ia memakai pakaian yang longgar sehingga bisa dengan cepat dan lincah melakukan hal yang sangat ia benci.

Amy melemparkan sesuatu.

“Lima.”

Beha hitam Amy sudah teronggok di kaki Sukirman. Sang bandot tua itu pun menyeringai sementara Amy menangis tersedu-sedu dengan tangan menangkup wajahnya. Rasa takut dan khawatir menjadi satu. Kenapa… kenapa semua ini terjadi kepadanya? Kenapa hari ini dia harus melakukan ini di depan Pak RT yang cabul dan bejat ini?

Pak RT mengangkat beha itu dan mengendus-endus bagian dalam yang lembut, tercium wangi tubuh Amy. Sedikit basah. Mungkin karena keringat. Bukannya bikin jijik, tapi malah membuat Pak RT kian terangsang hebat. Ia mengelus-elus batang kemaluannya yang masih berada di sebalik celana.

“Nah, apa susahnya sih melakukan ini, sayang? Kenapa kita harus melalui prosedur birokrasi yang merepotkan dan melelahkan?” Sukirman menyeringai, “Sudah aku minta dari tadi malah ditolak melulu. Toh ujung-ujungnya njenengan berikan juga, kan? Heheheh.”

“Apa yang Bapak inginkan dari saya? Apakah ada yang bisa saya lakukan?”

“Seperti yang sejak awal saya sampaikan, Mbak Cantik… saya ini penggemar fotografi. Saya akan mengatur sesuatu dan saya harap Mbak Cantik ikut serta dalam acara Fogmi – Fotografi Gunung Mandiri malam ini. Jangan khawatir, saya tidak akan melecehkan Mbak Cantik jika itu yang njenengan khawatirkan.”

Amy mengerutkan kening. Tidak akan melecehkan?

“Yakin tidak ada tindakan ke arah sana?” tanya Amy penuh curiga.

“Yakin sekali. Hooh tenan. Gini lho, saya akan berikan petunjuk. Silakan njenengan panggil Mbah Tri kemari untuk menjaga putra njenengan si Kevin untuk sementara waktu malam ini. Hanya untuk beberapa jam saja. Selama ini njenengan juga mempercayakan Kevin pada beliau kan?”

Amy mengangguk, memang benar. Dia sering memanggil Mbah Tri untuk menjaga rumah sekaligus Kevin. Perempuan tua itu meskipun sudah berumur sangat kuat dan sangat menyayangi buah hati Amy dan Ge, ia pernah bekerja di rumah Amy namun harus berhenti demi merawat cucunya sendiri yang sering ditinggal kerja orangtuanya ketika pagi. Dua hari sekali dia akan datang untuk membantu Amy setrika pakaian dan bersih-bersih rumah. Kevin sangat betah dengan Mbah Tri.

“Kalau si simbah sudah datang, tidak perlu banyak bercerita pada Mbah Tri kemana njenengan akan pergi malam ini. Datanglah ke warung sayur Bi Jum, lalu lewat sampingnya. Di sana kan ada gang kecil? Ikuti saja gang itu, nanti akan ada garasi mobil. Masuk ke garasi mobil itu. Saya dan Pak Barsono sudah akan menunggu njenengan. Heheh.”

Tubuh Amy gemetar. Apa yang akan terjadi malam ini? Dia sangat ketakutan, tapi akhirnya ibu muda itu mengangguk. “Aku bersedia, asal tidak ada pelecehan.”

“Tidak ada.”

“Ba-baiklah.”

Pak RT menyeringai, ia menghunjukkan tangan ke depan, mengelus pipi Amy, dan menghapus air mata yang turun dengan jempolnya, “Cup… cup… kenapa menangis terus? Aku akan merawatmu dengan baik, Dek Amy. Boleh aku panggil dengan sebutan Dek saja? Sepertinya lebih sesuai dengan widodari seperti njenengan.”

Tubuh Amy masih terus gemetar, dia tidak menjawab. ia memejamkan mata, dan mengangguk. Demi apa dia mau dipanggil dengan sebutan mesra oleh orang tua bejat ini.

“Sekarang gantian lah. Panggil namaku…”

“Pa-Pak RT.”

“Nama, bukan jabatan.”

“Pak… Pak Sukirman.”

“Jangan panggil Pak. Mas saja. Aku memang sudah tua, tapi kalau dipanggil Pak jadi terkesan ketuaan. Panggil Mas aja ya? Aku yakin kalau njenengan yang manggil, akan menimbulkan efek awet muda dan paten didengarkan.”

Amy meneguk ludah. Lidahnya kelu. Bagaimana mungkin ia memanggil orang tua bejat ini dengan sebutan Mas? Pertama itu tidak nyaman didengar terkait usia mereka yang cukup jauh, kedua itu tidak nyaman diucapkan baik ketika sendiri apalagi ketika bersama orang lain, ketiga itu terasa memalukan.

Tapi Amy tahu ia terpaksa melakukannya.

“Mas… Mas Sukirman.”

“Naaaah gitu. Tapi kok rasa-rasanya kurang enak ya? Njenengan terdengar kurang pasrah, Dek Amy. Panggil saja… Mas Man. Hanya njenengan yang boleh memanggil saya Mas Man. Gimana? Seneng kan?”

“Ma-Mas Man…”

“Nah gitu. Setelah ini apa yang harus njenengan lakukan, Dek?”

“Saya harus memanggil Mbah Tri untuk menitipkan rumah dan Kevin, lalu pergi ke garasi di belakang warungnya Bi Jum.”

“Seratus. Wes pinter jan, hooh tenan njenengan ini, Dek. Paket lengkap. Pinter, ayu, tur seksi,” Pak Sukirman menyeringai. Ia melangkah menuju pintu dan meninggalkan Amy yang sedang tertunduk sendirian, suara pria tua itu tiba-tiba berubah menjadi lebih tegas dan galak, intonasinya keras, “Gunakan pakaian yang lebih ketat. Jangan pernah pakai beha lagi mulai sekarang, terutama selama terikat pekerjaan bersamaku atau selama aku minta. Gunakan celana yang memperlihatkan kemolekan kakimu, pakai jeans boleh atau celana apapun asal yang ketat. Celana dalam boleh digunakan. Gunakan make-up supaya wajah cantikmu tambah menawan. Tidak perlu menor, pakai make-up seperti biasanya saja.”

Napas Amy kembang kempis mendengar arus perintah dari sang RT, dia berasa seperti seorang budak yang sedang menerima rangkaian perintah dari tuannya.

“Apakah ada pertanyaan?”

Amy menggeleng.

“Selambat-lambatnya dua jam. Kami tunggu di garasi,” Pak RT lenyap di balik pintu.

Amy pun terjatuh ke dalam nelangsa dan seandainya diijinkan dia akan menangis sejadi-jadinya. Dia terjebak dan tak tahu harus bagaimana. Semua gara-gara kecerobohannya. Dia harus mengikuti semua perintah dari sang pria tua bejat yang tak tahu diri itu.

Tapi…

Wajah Amy berubah, dagunya mengeras. Pandangannya menjadi tajam. Apa yang sebelumnya kesedihan berubah menjadi keinginan untuk membalikkan keadaan.

Ia menatap ke arah pintu. Mas Man… Mas Man… dasar bandot tua kurang otak, kamu pikir kamu di atas angin? Enak saja.

Ini bukan akhir dunia bukan? Amy tidak akan menangis seperti orang cengeng. Dia masih bisa melawan. Dia bukan cewek lemah yang bisa ditundukkan semudah itu. Si Bandot tua sialan itu mau menaklukkannya? Tunggu saja! Amy mulai mencari-cari cara untuk mengamankan dan mempertahankan diri seandainya dibutuhkan.

Dia masih punya beberapa semprotan bubuk merica dan juga sudah merancang beberapa rencana lain. Kalau dia berhasil memanfaatkan semua itu, dia akan bisa membalikkan keadaan. Amy jadi teringat kalau Mas Ge pernah memberikan beberapa senjata padanya seandainya dibutuhkan.

Tidak ada momen yang jauh lebih gawat daripada sekarang.

Amy menghapus tangisannya dengan punggung tangan. Ia menatap ke arah pintu dengan dengusan kencang. Pak RT bangsat itu harus diberi pelajaran!

Buru-buru Amy menyusun rencana, semua yang saat itu berlangsung di kepalanya, langsung ia persiapkan. Termasuk apapun yang diminta oleh sang durjana tua, seperti mendatangkan Mbah Tri dan mengenakan pakaian seperti yang dikehendaki oleh sang bajingan. Semua benar-benar diperhitungkan oleh Amy karena tak ingin membuat Pak Sukirman curiga.

Mas Man sayang… cuh. Dasar bandot tua cabul menjijikkan. Kamu mau mendapatkanku? Aku berikan diriku, dengan banyak kelebihan yang tak terbayangkan untukmu. Kelebihan yang kamu minta dan tidak kamu minta, bandot tua! Kamu minta perang? Kuberikan perang.

Amy mempersiapkan diri dan semua perlengkapannya dalam dua jam sebelum berangkat. Mbah Tri jelas kebingungan melihat Amy yang biasanya tidak pernah keluar malam kini hendak pergi meninggalkan Kevin dalam pengawasannya.

“Tidak ada apa-apa to, Mbak? Kok saya jadi khawatir lihat Mbak Amy mau jalan malam-malam begini. Ini sudah malam lho, Mbak. Di luar sudah sepi sekali. Paling-paling ada bapak-bapak nongkrong di angkringan atau pos ronda. Mau kemana njenengan, Mbak? Saya takut kalau kenapa-kenapa,” Mbah Tri menyampaikan kekhawatirannya.

Sembari berdiri di luar pintu rumahnya Amy tersenyum dan menggeleng, “Mbotensah khawatir, Mbah. Saya tidak apa-apa, tidak bakal kenapa-kenapa. Tidak perlu khawatir. Ini saya pergi dengan teman kok. Mereka sedang menunggu saya.”

“Begitu nggih…”

“Saya nitip Kevin dan rumah ya, Mbah. Belum tahu jam berapa saya pulang.” Amy mengerutkan tubuh di balik jaket tebalnya. Malam ini sangat dingin.

“Nggih, Mbak. Ngatos-atos. Hati-hati di jalan.”

Amy mengangguk dan melambaikan tangan. Ia pun melangkah perlahan menuju gerbang keluar dari cluster Kembang Arum Asri. Dengan sengaja ia menghindar dari tatapan beberapa orang pemuda dan bapak-bapak yang memperhatikannya.

“Lho kok malam-malam, Bu Amy? Mau kemana?”

“Sendirian aja, Mbak Amy? Mau dianter? Kemanapun Mbak Amy pergi, saya siap. Apalagi kalau perginya ke pelaminan apalagi. Hahahah.”

“Ayu-ayu kok sendirian aja. Yuk saya bonceng, Mbak. Boleh peluk dari belakang kok. Nempelin dada juga boleh. Hahahaha.”

Tapi Amy hanya diam tanpa menatap para pria yang menegur dan menyapanya, dia tahu tujuan mereka apa. Dasar laki-laki semuanya sama saja.

Amy pun mengencangkan jaket tebalnya supaya tidak terlihat oleh siapapun bahwa ia sama sekali tidak mengenakan beha di sebaliknya – walaupun memang malam ini sangat dingin sehingga ia butuh berlindung di balik jaket. Kecantikan dan keindahan tubuh Amy memang sudah populer di kalangan warga, sehingga tidak sedikit yang menggodanya malam ini. Amy jengah melayani mereka, dia memutuskan untuk melangkah dengan langkah kaki yang cepat.

“Bu Amy mau kemana? Kok sendirian aja?” salah seorang tetangga berjalan mensejajari sang ibu muda. Langkah kakinya disamakan dengan langkah kaki Amy.

Pria tua itu namanya Pak Kasno.

Pak Kasno dan keluarganya tinggal tak jauh dari rumah Amy dan Ge. Entah berapa usianya tapi yang jelas anaknya yang bungsu seumuran dengan Amy. Pak Kasno hobi ribut dengan istrinya sampai pernah harus diselesaikan oleh campur tangan pak Sukirman. Berdasarkan kabar gosip yang beredar di warung sayur Bi Jum, orang tua ini hobinya ‘jajan’ dan gaple di kota, kerjaannya hanya menghabiskan uang yang susah payah dikumpulkan sang istri. Sudah bukan rahasia lagi kalau usaha Pak Kasno bangkrut dan dia lebih sering di rumah ketimbang kerja.

“Saya agak khawatir malam-malam begini kok Bu Amy jalan sendiri, apa tidak sebaiknya ditemani? Setahu saya Pak Ge juga sedang keluar kota kan? Saya siap menemani, Bu Amy.”

Di belakang mereka, terdengar siulan dan teriakan-teriakan bapak-bapak di pos ronda yang sedang berkumpul untuk main domino. Mereka mendukung Pak Kasno yang tengah berusaha memepet Amy. Ibu muda itu semakin tegang. Bagaimana caranya melepaskan diri dari Pak Kasno?

“Ti-tidak perlu, Pak. Terima kasih. Saya sudah ada janji.” Amy mempercepat jalannya, tapi demikian juga Pak Kasno yang tak kenal menyerah.

“Ya sudah, saya kawal sampai bertemu dengan orangnya. Bagaimana? Sudah lama saya ingin ngobrol berdua dengan Bu Amy. Tentang ini lho… acara hajatan di kampung kita besok. Sesuai perintah dari Pak RT, saya menjabat sebagai salah satu panitia.”

Sudah jelas itu alasan yang dibuat-buat.

“Maaf, Pak. Apakah bisa lain kali saja?”

“Mumpung ketemu, Bu. Kapan lagi sih kita bisa ketemu?”

“Waktunya tidak tepat, Pak Kasno.”

“Oh begitu,” Pak Kasno makin nekat, “Eh, omomg-omong kalau dari dekat begini, Bu Amy kok terlihat tambah cantik ya? Maksud saya, biasanya memang Ibu sudah cantik, modis, dan mempesona. Tapi malam ini Ibu jadi terlihat keluar auranya. Lebih menawan begitu. Saya sampai terbengong-bengong melihat pesona kecantikan Bu Amy.”

Edan. Langsung nembak aja ini aki-aki.

Amy hanya tersenyum tanpa menanggapi, dia berusaha berjalan lebih cepat tapi Pak Kasno selalu bisa menyusulnya.

Hawa dingin menyusup masuk ke jaket, membuat puting payudaranya menegak. Tanpa mengenakan beha, sungguh Amy merasa tidak ada nyaman-nyamannya. Dia merasa seluruh mata menatap ke arahnya. Ingin menangis rasanya sang ibu muda itu.

“Atau, bagaimana kalau besok kita ngobrol saja berdua di kafe terdekat? Saya traktir deh. Karena pembicaraan mengenai hajatan kampung kita ini cukup penting dan butuh detail, setidaknya supaya jelas rundown acara yang akan berlangsung dan bisa saya jelaskan dengan lebih terperinci.”

Edan. Tambah ngawur.

Jantung Amy berdegup sangat kencang. Hanya ada satu cara untuk melepaskan Pak Kasno yang mulai mengganggunya ini, “Maaf, Pak. Saya sudah ditunggu oleh Pak RT. Apakah bisa ngobrolnya kapan-kapan saja? Lagipula pembicaraan itu seharusnya dengan suami saya, bukan dengan saya.”

“Pa-Pak RT?” Pak Kasno tertegun.

Mau ngapain Pak RT malam-malam memanggil Bu Amy? Apapun urusannya, Pak Kasno tidak berani menyeberang wilayah Pak RT lebih jauh lagi. Ia berhenti menyamai langkah kaki Amy.

“Ka-kalau begitu saya tidak ingin mengganggu, Bu. Sampaikan salam saya untuk Pak RT, err… atau mungkin nama saya tidak perlu disebutkan juga tidak apa-apa. Untuk keperluan hajatan, akan saya bicarakan dengan tim saya dulu nanti.”

Amy mendengus, siapa juga yang peduli. Pak Kasno diteriakin oleh kawan-kawannya saat dia akhirnya mundur kembali ke pos ronda.

Setelah kepergian Pak Kasno, Amy mempercepat langkahnya. Dia mencoba menghindari kumpulan pemuda atau bapak-bapak yang berkumpul.

Ia melewati beberapa rumah, menyusuri pinggir yang gelap di jalan utama cluster, sampai di gerbang depan, lalu menyeberang ke warung sayur Bi Jum. Seperti yang dibilang Pak RT, di samping warung ada jalan kecil. Amy menyusuri jalan setapak kecil itu untuk akhirnya sampai di sebuah garasi. Ini pertama kalinya Amy datang di tempat ini.

Sebuah garasi yang hanya satu-satunya di tengah kebun kosong, tidak ada orang lain di sana. Hanya garasi itu saja.

Amy bergidik ketakutan saat mendekat ke arah garasi, bukan ke yang tak nampak, tapi lebih ke yang nampak.

Di sana benar-benar sudah ada Pak Sukirman dan Pak Barsono menunggu. Keduanya tersenyum dan saling cekikikan saat melihat kedatangan Amy. Sungguh ibu muda itu merasa terhina sejadi-jadinya, diketawakan oleh kedua orang busuk ini.

“Bagus sekali… bagus sekali…” Pak Man mengedipkan mata pada Pak Barsono, “Bagaimana Masbro? Paten kan yang satu ini?”

Pak Barsono tergelak dan memukul pundak Pak Man dengan bercanda, “Buset yang ini sih jaminan mutu. Spek bidadari ini sih. Dapat yang beginian satu, auto tidak pernah pakai celana di rumah, Pak Bos. Ahahhahaha.”

Amy benci becandaan kedua laki-laki itu.

Pak Man mendekat ke arah Amy dan berbisik perlahan, “Buka jaketmu. Buktikan kamu benar-benar tidak menggunakan beha.”

“Hmph.”

Amy membuka jaket dan memalingkan wajahnya. Dia benar-benar benci kepada sang ketua RT yang cabulnya tidak kira-kira itu. Sang ibu muda memejamkan mata saat tangan Pak Man lantas benar-benar memeriksa buah dadanya. Tangan Pak Man menangkup payudara Amy dan meremas-remasnya.

“Heheheh. Beneran sih. Kamu benar-benar tidak pakai beha.” Tangan kurang ajar sang ketua RT nan mesum itu pun tidak membuang kesempatan yang didapat, dengan penuh tenaga, Pak RT meremas dan memilin buah dada Amy sampai-sampai sang bidadari itu mengernyit kesakitan.

“Hesssst,” Amy mendesis sembari memejamkan mata, ia masih memalingkan wajah dan tidak ingin melihat ke arah Pak Sukirman sekalipun.

Pak Barsono mendekat, “Tidak pakai ya, Pak?”

“Hooh tenan. Benar-benar tidak pakai sesuai instruksi saya. Hehehehe,” Pak Man melirik ke arah Amy yang jijik melihat mereka berdua dan tersenyum girang, “Miringkan kepalamu ke kiri, Dek Amy. Buka lehermu yang mulus dan putih itu.”

Amy menurut. Dia tidak ingin memulai malam ini dengan menambah perkara dengan sang ketua RT. Ia membuka kain kerudung yang menutup leher dan sedikit membukanya, memang tidak penuh memperlihatkan lehernya yang mulus.

Amy memejamkan mata saat Pak Barsono lantas menempelkan bibirnya di leher Amy. Wanita jelita itu hanya bisa melenguh, “Mmmmmhhhh…! Nggghh!!”

Pak Barsono mencium dan menggigit leher sang ibu muda, meninggalkan cupang memerah di sana. Laki-laki tua itu mengedipkan mata pada Pak Man yang masih saja meremas-remas buah dada Amy. Keduanya benar-benar melecehkan sang bidadari malam itu.

Tangan Pak Man ditarik.

Amy terengah-engah. Ia menutup jaketnya kembali dan memandang penuh kebencian pada Pak Man. Tatapan matanya tajam seakan ingin mengiris sang laki-laki tua itu hingga potongan-potongan kecil.

“Sudah cukup. Cukup segitu dulu. Ayo kita berangkat,” ucap Pak Man pada Pak Barsono. Ia hanya nyengir lebar saat menatap balik mata Amy.

Mereka bertiga akhirnya pergi dengan kendaraan yang disetir oleh Pak Barsono. Pak Man dan Amy duduk di belakang. Di sepanjang perjalanan tidak ada yang bercakap-cakap, tapi tangan Amy erat digenggam oleh sang laki-laki tua. Mobil Pak Barsono naik ke lereng Gunung Mandiri, melewati pos pertama dan terus menanjak ke atas.

“Heheheh, kita sudah hampir sampai, Pak.” ujar Pak Barsono senang, “Kita sudah hampir sampai, Mbak Amy.”

Bodo amat, pikir Amy dalam hati. Memang dasar setan alas kalian semua. Mau dibawa kemana dia sekarang? Bukankah ini track untuk pendakian?

“Mbak Amy, kalau saya boleh bertanya – seberapa sering ngeseks dengan suaminya dalam seminggu? Hihihih,” sungguh pertanyaan yang tidak sopan yang diutarakan oleh Pak Barsono, sebuah pertanyaan cabul.

“Bukan urusan Bapak,” jawab Amy ketus.

Hpph! Amy melotot! Tiba-tiba saja tangan Pak Man menangkup buah dadanya dan meremasnya dengan sangat kencang.

“Bukan begitu cara menjawabnya, Dek Amy.”

“I-iya, Mas…” Amy mengernyit kesakitan, “Ini… sakit. Aaaah!!”

“Ajukan pertanyaan lain, Pak Barsono. Saya juga penasaran dengan bidadari kita ini,” kata Pak Man mencoba memancing emosi sang ibu muda. Tangannya masih terus meremas buah dada Amy dengan sekuat tenaga.

“Ngggggghhhh!” Amy kesakitan.

Pak Barsono terkekeh, “Hehehhe. Siap, Bos! Mbak Amy, saya nanya dong. Kira-kira Mbak Amy suka dientotin tidak? Suka tidak hayooo!?”

“Tidak!” Amy menjawab dengan galak, “Aaaaaaaaaaaahhh!”

Remasan di payudaranya kian kencang.

“Suka! Suka! Auuuughhhhh!”

“Oh suka ya?” Pak Barsono kembali terkekeh, “suka sama tua-tua seperti kami atau memilih yang masih muda?”

“Yang masih mu… aaaaaaaaaaaaahhhh!” satu garis air mata leleh di pipi Amy, “Saya suka yang tua. Saya suka yang tua-tua seperti bapak-bapak sekalian.”

Mobil itu berhenti tepat setelah Amy mengucapkan kalimat yang bakal ia sesali seumur hidup itu. Mereka berhenti di depan pos penjagaan di lereng Gunung Mandiri, cukup jauh dari Bawukan, Growol, dan cluster Kembang Arum Asri.

Pak Barsono dan Pak Man turun terlebih dahulu, disusul oleh Amy. Seorang laki-laki tua berpakaian lusuh yang menggunakan jaket tebal bulukan dan topi abu-abu dari SMA entah mana keluar dari pos itu. Wajahnya berkerut dengan kumis dan rambut yang mulai memutih.

“Mbak Amy! Mbak Amy sudah kenal bukan? Bapak hebat satu ini namanya Pak Karjo.” Pak Man merangkul dan menepuk pundak sang penjaga pos. “Kehidupan seorang penjaga pos di Gunung Mandiri sangat sepi dan sunyi. Hari-hari diisi dengan hawa dingin dan hiburannya hanyalah suara penghuni hutan. Pak Karjo sudah bekerja selama puluhan tahun menjadi penjaga pos meskipun jabatan itu non-formal dan tidak diakui pemerintah. Pemasukan hanya mengandalkan dari pelancong yang mau hiking atau naik gunung. Sebagai porter beliau adalah seorang pria yang sangat handal. Rasa-rasanya sangat pantas beliau masuk sebagai bintang foto bagi kelab fotografi Fogmi,” Pak Sukirman menyeringai sembari menatap sang ibu muda yang ketakutan saat melihat sosok Pak Karjo yang jauh dari kata muda, bersih, ganteng, dan putih, “Malam ini kami akan mengambil foto Pak Karjo berbarengan dengan model foto utama kami, ibu Amira Nursyifah.”

“Ma-maksudnya apa ini ya, Pak?” Pak Karjo kebingungan. Pria tua itu tidak paham kenapa ketiga orang di hadapannya tiba-tiba saja datang malam-malam.

Amy mengumpat dalam hati. Si bandot tua ini memang benar-benar… kenapa dia membawa-bawa Pak Karjo dalam urusan ini? Amy tidak kenal dekat dengan Pak Karjo, tapi tahu siapa dia. Beberapa kali pria tua itu membantu Mang Juki saat membenahi rumah demi rumah di cluster Kembang Arum Asri. Sepengetahuan Amy, Pak Karjo ini memang sebenarnya homeless dan memanfaatkan salah satu pos pendakian untuk menarik biaya pendakian dan memperoleh pendapatan – suatu aktivitas yang sebenarnya ilegal namun dibiarkan oleh warga dan pemerintah setempat karena Pak Karjo baik dan sering membantu.

“B-Bu Amira… se-selamat datang di pos s-saya.” Pak Karjo tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang mulai habis dan ompong, meskipun kata deretan agak kurang pas karena sepengamatan Amy hanya ada satu gigi besar di depan dan berwarna kuning. Kegagapan Pak Karjo sendiri bukanlah ketidaksengajaan, melainkan karena dia memang punya masalah stuttering alias memang sudah dari sono-nya gagap begitu.

“Terima kasih Pak, maaf mengganggu malam-malam,” Amy mencoba tersenyum.

“Ya wes, kita siapkan saja, Bar. Di sini saja. Nanti background-nya pos-nya Pak Karjo biar lebih kelihatan natural. Jangan lupa lampu-lampu disiapkan juga,” Pak Man memerintah Barsono.

“Siap, Bos.”

Pak Man dan Pak Barsono mulai mempersiapkan perangkat sementara Pak Karjo berdiri dengan bingung tidak tahu harus ngapain, dan Amy sang ibu muda diam-diam bergerak menuju ke tas jinijingnya yang tadi diletakkan di kursi depan mobil oleh Pak Man. Ia harus mengambil peralatannya dan semua persenjataannya di sana.

Amy pun mengendap-endap.

“Apa yang njenengan cari, Dek Amy?” tanya Pak Man dari kejauhan.

Jantung Amy hampir copot saat mendengarnya.

Ia bisa mendeteksi kemana langkah Amy tanpa perlu melihat langsung ke arah sang ibu muda nan jelita itu.

“Saya mau cari lipstick di tas,” Amy menatap Sukirman dengan takut-takut.

Pak Man terkekeh, “baiklah. Ambil saja. Tasmu ada di kursi depan di bawah jok.”

Amy menghela napas lega. Ia pun melangkah menuju mobil. Dia akan segera mendapatkan senjatanya untuk melawan…

“Tunggu dulu, Dek Amy!”

Sial! Apa lagi sekarang?

Amy berhenti dan menghela napas panjang. Apalagi yang diinginkan si bandot tua itu? Amy menengok ke arah Pak Man yang menyeringai lebar, wajah Pak Barsono yang berada di sebelah sang bandot pun tidak jauh berbeda. Amy baru sempat memperhatikannya sekarang. Pak Barsono adalah seorang pria gemuk yang bisa disebut overweight dengan kecenderungan obesitas. Ia memakai kacamata kecil bulat, dengan sepasang mata yang tengah menatap sang ibu muda dengan pandangan cabul.

“Y-ya, Pak?”

“Kok bagus ya? Baik pose dan posisinya. Udah, berhenti di situ dan jangan kemana-mana. Pemandangannya background-nya bagus sekali. Lebih baik di situ saja posisinya, Pak Bar. Coba arahkan cahaya ke arah Dek Amy.”

“Siap, Bos.”

“Pak Karjo?”

“Ng-nggih?”

“Berdiri di belakang Dek Amy, peluk dia dari belakang, letakkan dagu sampeyan di bahu kanan Dek Amy. Buat semesra mungkin seakan-akan kalian adalah sepasang kekasih.” Pak Man menyeringai terhadap Amy yang langsung melotot terkejut. Amy tak bisa protes sama sekali.

Tidak hanya Amy yang kaget mendengarnya.

“Hah!? Ke-kekasih? Eh? Sa-saestu be-begitu fotonya? Be-beneran ha-harus begitu? Mb-mbak Amy ini kan kagungan garwo, pu-punya suami?” Pak Karjo menatap Pak Man, Pak Barsono, dan Amy secara bergantian. Pak Man menyeringai sambil mengangguk. Pak Barsono cengengesan sembari menyiapkan peralatan, sementara Amy menunduk malu tak berani menatap wajah Pak Karjo.

“Lha iya beneran. Wes to, ikutin saja apa yang saya bilang. Nanti aku bayar.”

“Sa-saestu? Be-beneran? DIbayar” tanya Pak Karjo sekali lagi dengan takut-takut.

“Hooh, tenan.” Pak Man mengangguk sembari menyeringai dan mengedipkan mata pada Amy yang harus memendam emosinya. “Lepas jaketmu.”

Amy mengumpat, tapi dia memanfaatkan waktu untuk beringsut sedikit demi sedikit ke arah mobil meski tadi sudah diminta diam oleh Pak Man, sembari melepaskan jaket yang sedari tadi ia kenakan. Udara dingin merasuk ke tubuh Amy, apalagi kaos putih ketat yang ia kenakan hanyalah satu-satunya pelindung.

Pak Karjo berlari menuju ke belakang Amy. Pucuk dicinta ulam pun tiba! Siapa yang akan menolak memeluk wanita sejelita dan seindah Amy? Dulu Pak Karjo hanya bisa mengagumi ibu muda yang paling cantik sekampung itu dari kejauhan, kini dia bisa memeluknya! Sungguh surga di dunia! Mimpi apa dia semalam? Mungkin tidak semalam, karena semalam dia melek jaga hutan, mungkin mimpi tadi siang. Mimpi apa tadi siang?

“I-ini pura-pura sa-saja kan meluknya? Tangannya ti-tidak nem-nempel?” tanya Pak Karjo lagi untuk memastikan, dia tidak ingin salah langkah.

“Ya peluk biasa dong. Meluk itu gimana? Hehehehe.” Pak Man memancing Pak Karjo, “Masa harus diajarin meluk sih?”

Pak Karjo menatap Pak Man dengan tatapan terheran-heran tak percaya. Pria tua itu pun menelan ludah. Tubuh indah bu Amy berada tepat di depan matanya. Tubuh indah bu Amy! Istri seorang dosen! Istri paling jelita sekampung! Wanita paling molek di Kembang Arum! Istri yang paling diinginkan oleh semua pemuda dan bapak-bapak di kawasan ini.

“Ma-maaf ya, Mbak.”

Amy memejamkan mata. Dia muak pada seringai Pak Man dan Pak Barsono yang menatapnya cabul dari jarak sekitar tiga meter, sekaligus takut pada kedekatan tubuhnya dengan Pak Karjo. Orang ini apa pernah mandi? Baunya seperti kambing, amis dan prengus banget. Sial, dia jadi tidak bisa mendekat ke arah mobil dan mengambil semprotannya.

“Iya. Tidak apa-apa, Pak.”

Tangan Pak Karjo menangkup tubuh Amy. Satu lengan dari atas bahu, satu lengan dari sisi pinggang. Ia meletakkan dagunya di pundak Amy, menjadikan wajah mereka saling berdekatan. Malam yang dingin membuat napas mereka membentuk uap berembun.

“Pak Karjo…” Pak Man mulai menyeringai, “Tangannya menangkup ke dada.”

“Tu-tunggu dulu! Bukan begitu perjan… Ahhhhh!”

Protes Amy tak ada artinya.

Tangan Pak Karjo meremas dada Amy. Pria tua itu terkejut bukan kepalang, “Mb-Mbak A-Amy tidak pa-pa-pakai…?”

“Tidak,” Pak Man tersenyum jahat, “Pak Karjo. Tangannya masuk dari bawah baju Dek Amy. Pastikan jari jemari Bapak memilin pentil Mbak Amy.”

“A-apa!?” Pak Karjo kaget.

“Dek Amy…”

Suara parau Pak Man mulai membuat Amy ketakutan. Ia menatap ke arah ketua RT-nya itu dengan pandangan penuh kebencian. Apalagi maunya sekarang?

“Dek Amy, cium bibir Pak Karjo dengan penuh nafsu.”

Amy melotot.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy