Search

BAGIAN 6B AKU RELA

BAGIAN 6B AKU RELA

.:: SUATU KETIKA
.:: DI SEBUAH RUKO DI KAKI GUNUNG MANDIRI

"Pa-pak Tarun?!"

Aida jelas kaget karena ia terbangun dalam kondisi telanjang dalam pelukan pria tua yang selama ini justru ia percaya.

Jiampuuut! Pak Tarun kaget setengah mati saat melihat Aida sudah terbangun dari pingsannya! Padahal ia belum puas mendesak kemaluannya untuk masuk ke memek dan meremas payudara sang gadis muda! Satpam tua itu sudah kepalang tanggung! Kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan emas seperti ini!? Ia tak peduli! Terlanjur basah sudah! Tangan pak Tarun yang tadinya meremas buah dada Aida, kini membekap mulut Aida.

"Maaf. Tapi hari ini akan kurenggut perawanmu, Sayang."

Aida meronta tanpa daya. Kepalanya menggeleng hebat. Tubuhnya terlalu lemas dibawah pengaruh obat tidur yang tadi dimasukkan ke air minumnya. Airmatanya mengalir deras, kenapa lagi-lagi ia mengalami hal ini di hari yang sama?

Lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya.

Aida berteriak tanpa suara.

"Huehuehue."

Pak Tarun tertawa puas. Sambil memeluknya dari belakang, pinggulnya terus ia dorong agar ujung gundul kemaluannya yang sudah berkeriput itu bisa masuk menembus liang terdalam milik sang dara.

Tapi apa daya, liang Aida terlalu sempit bagi penis raksasa milik sang satpam tua. Mau bagaimana pun satpam tua itu berusaha untuk memasukkan pusaka saktinya. Ujung gundulnya sekalipun belum mampu untuk membuka tempik rapat milik Aida.

Tangan yang membekap Aida pun terlepas.

"Mmmhh paakk. Jangaannn!! Ampunnii akuu!! Tolongg hentikaann!!" Suara keputusasaan terus dilontarkan oleh sang dara agar satpam tua itu berhenti memperkosanya.

"Halah diam kamu. Memekmu aja udah basah gini. Sabar, bentar lagi akan kujebol selaput keperawananmu itu." Ancam pak Tarun yang sudah menggebu-gebu. Tangannya sudah tak lagi membekap mulut Aida, tangannya itu kembali menyerang payudara Aida yang sedari tadi menggodanya dengan teksturnya yang lembut dan kenyal bagai jelly.

"Aaahhhhh. Aaaahhhhh paakkk. Toloonggg. Aaaahhhhh" Aida yang tak kuat lagi mendesah. Remasan tangan yang begitu kuat di payudaranya serta dorongan dari penis pak Tarun yang urung juga menjebol pintu masuk vaginanya pelan-pelan mulai merangsang birahinya.

Selayaknya gadis normal, rangsangan itu benar-benar membangkitkan nafsu birahinya. Namun nalurinya sebagai wanita yang tak ingin dilecehkan, terlebih oleh pria tua yang sebelumnya sudah ia percaya membuatnya terus berontak.

Tubuh polos Aida digoyangkan ke kanan kiri. Tangannya yang terkunci oleh pelukan pria tua yang berbaring dibelakangnya itu juga berusaha ia gerakkan. Aida tak ingin menyerah. Ia ogah menyerahkan tubuh seksinya kepada pria tua yang sedang cengengesan di belakangnya.

"Huehuehue, kenapa gak masuk-masuk sih kontolnyaaaa? Susah emang kalau main sama perawan. Tapi tidak apa-apa, cepat atau lambat yang penting aku bisa menikmati tubuh indahmu!!" Ujar pak Tarun yang kian bernafsu.

Bibir tebalnya lagi-lagi mencaplok punggung mulus Aida. Aida merinding. Apalagi saat jilatan lidah pria tua itu bergerak naik turun membasahi kemulusannya. Tangan pak Tarun tidak berhenti bergerak. Dengan penuh nafsu tangan kirinya meremas payudara kiri Aida dari belakang. Remasannya itu bergerak naik merangsang salah satu gunung kembar indah itu dari bawah. Tangan keriputnya pun ia dorong hingga dada kenyal milik Aida terhimpit oleh tangan satpam tua itu. Lalu jemarinya menjentik berulang puting indah Aida. Aida sampai merem melek dibuatnya. Mulutnya selalu terbuka, mengeluarkan desahan-desahan yang merangsang jiwa.

"Aaaahhh paakkk. Jangaaannnn. Aaaahhhhh. Aaaahhhh bapaakk. Aaaahhhh"

"Huehuehue. Mulai menikmati ya sayang? Gimana? Enakkan remasan saya?"

Aida tak akan mau mengakuinya. Ia tak akan pernah bersedia menjawab pertanyaan cabul yang hanya bertujuan untuk merendahkan harga dirinya itu. Namun meski ia tak menjawabnya. Pak Tarun dapat melihat dengan jelas kalau Aida benar-benar menikmati pelecehannya.

"Siaalaaaaaaanl!! Wedhuuuuuus!! Susah banget sih masukinnya!!!" Meski ia menikmati sentuhan dan elusan yang ia tujukan pada gadis semanis Aida. Tapi, ketika penisnya tak masuk-masuk. Lama kelamaan jadi kesal juga.

Akhirnya ia bangkit lalu menidurkan tubuh Aida dalam posisi terlentang. Pak Tarun menyeringai dengan penuh nafsu. Kedua tangannya membuka paha Aida. Aida pasrah saat mata mesum pria tua itu menatap tajam ke arah kemaluannya.

"Jangan dilihaaaaaat!"

Pipi Aida memerah. Belum pernah ia merasa semalu ini saat kemaluannya ditonton langsung oleh pria tua yang sebelumnya ia percayai itu. Rizal saja belum pernah ia izinkan untuk melihat kemaluannya. Bagaimana bisa pak Tarun menjadi orang pertama yang bahkan tidak hanya melihat serabi lempitnya. Tapi juga keseluruhan tubuhnya yang sudah bertelanjang bulat.

"Siap-siap!!! Akan saya jebol memekmu sebentar lagi. Huehuehue." Tawa pak Tarun bergema di ruangan. Ia nampak jumawa saat memegang penisnya. Satpam tua itu bersiap-siap menjebol rahim Aida.

"Mmpphhh"

Menyadari ada benda tumpul yang terus-menerus menyundul pintu rahimnya. Aida mulai panik. Apalagi saat jemari kotor pak Tarun membantu penisnya dengan membuka pintu rahimnya, melebarkan liang cinta sang dara lebar-lebar.

"Aaahhhh. Aaahhhh. Enaakkknyaaa. Aaahhhh. Sebentar lagi. Hennkgghh!!!"

Pak Tarun terus mendorongnya hingga ujung gundulnya mulai masuk menembus liang cinta Aida yang hangat.

"Paakkk jangaann. Tolonggg jangaann. Aampunni akuu paakk. Aammpunnn!!" Pinta Aida ketakutan. Air matanya mengucur. Ia takut andai dirinya akan kehilangan keperawanannya di malam hari ini.

"Hah? Jangan? Huehuehue. Enaak ajaa!! Orang lagi enak gini kok. Heenkkghh!!!" Pak Tarun kembali mendorongnya. Seperempat penisnya kini sudah masuk menyumpal vagina sempit Aida.

"Aaahhh janngaaannn. Paakkk. Hentikaaannn. Hentikaaannn!!" Jerit Aida sambil mendorong tubuh pak Tarun yang kian menjorok ke arahnya.

"Huehuehue. Mantaappnyaaa. Enaknyaaa jepitan memekmu sayaanggg. Heenkkgghh!!!"

Pak Tarun lagi-lagi mendorongnya. Namun ia kesulitan. Rasanya seperti mentok padahal masih banyak ruang yang ada di dalam rahimnya. Akhirnya ia terpikirkan ide. Ia menarik pinggulnya lalu mendorongnya. Ia menariknya lagi lalu mendorongnya lagi. Penis itu tertarik mundur menggesek dinding rahim Aida. Lalu ia hempaskan sekuat-kuatnya hingga ujung gundulnya masuk menusuk liang kenikmatan Aida dengan penuh kekuatan.

"Aaaahhhh sakiitt paakkk. Aaahhhh sakittt. Aaaahhhhh. Saaaaaaaakit!!" Aida menjerit dan meronta dengan hebat. Perlahan demi perlahan sodokan kontol pak Tarun mulai membuka jalan menuju gerbang perawan Aida.

Pikiran Aida buntu. Ia sangat tidak rela kalau harus merelakan keperawanannya. Lalu ia harus bagaimana agar dirinya bisa lolos dari lubang jarum ini?

Di tengah kepanikannya. Aida membuka mata lebar-lebar untuk melihat sekitar, wajahnya ia tolehkan ke kiri lalu ke kanan. Selagi tangannya berusaha untuk terus menahan tubuh pak Tarun agar tidak semakin dekat, seketika Aida terpikirkan ide saat melihat sebuah foto yang terpasang di dinding dekat kasir milik tantenya itu.

Tante Nisa?

"Huehuehue, sebentar lagi akan kau rasakan keperkasaan satpam handal sepertiku, wahai Aida sayang. Kontolku akan masuk menembus rahim sempitmu dan akan menjadi kontol pertama yang pernah masuk ke memek kamu." Pak Tarun menarik pinggulnya hingga penisnya ikut tertarik mundur menyisakan tepi ujung gundul miliknya. Terlihat penis itu hampir terlepas dari lubang rahim Aida. “Kata orang, yang pertama selalu berkesan sampai akhir masa. Hueheuheu.”

"Heennkkghhhh!!!" Seketika satpam bejat itu langsung menghentakkan pinggulnya tuk menjebol selaput dara milik Aida.

"Jangaann paakkk!! Aku janji akan membuat tante Nisa bersetubuh dengan Bapaakk. Mmppphhh!! Lepaskan akuuu dan akan kubuat Tante Nisa menjadi milik Bapaaaak!!" jerit Aida saat setengah dari penis itu sudah masuk menembus lubang rahimnya.

Beruntung, pak Tarun tak jadi melesatkan keseluruhan penisnya saat mendengar ucapan tak terduga dari dara cantik itu.

"Kamu bilang apa tadi?" Pak Tarun bengong sejenak.

Sambil berkaca-kaca bibir Aida bergetar saat hendak mengulangi ucapannya tadi.

"A-aku janji… akan membuat tante Nisa bersetubuh dengan bapak. Tapi tolong, jangan ambil keperawananku, Pak." Lirih Aida setengah terpaksa. Namun harus bagaimana lagi? Aida jelas tidak ingin keperawanannya diambil oleh bajingan tua ini sehingga terpikirkan ide gila saat teringat kalau pak Tarun sebenarnya sangat tergila-gila pada tante cantiknya.

"Huehuehue. Caranya?" Tanya pak Tarun tertarik. Namun dirinya enggan untuk menarik keluar penisnya dari lubang kenikmatan Aida.

"A-aku akan membujuknya dan aku…. Aaaahhhhhh!!" Aida terkejut saat pak Tarun tiba-tiba mendorong pinggulnya hingga penisnya hampir mengoyak selaput dara Aida.

"Kamu pikir saya bodoh ya? Mana mungkin tantemu yang alim itu mau terbujuk oleh omonganmu? Lebih baik kuperawani saja kamu sekarang." Ujar pak Tarun yang sudah bulat tekad ingin dapat gadis kinyis-kinyis hari ini.

Mata Aida terbelalak saat merasakan dinding rahimnya tergesek oleh penis pak Tarun yang sedang ditariknya mundur. Campuran antara rasa gatal dan rasa nikmat yang dihasilkan nyaris membuatnya terlena. Namun ia segera sadar bahwa selaput daranya sedang dalam bahaya ketika pak Tarun mulai melesatkan penisnya kembali ke dalam rahimnya.

"Rasakaannn. Hennkgghhhh!!!"

"Paaakk jangaaaaaann!! Aakuu akaannn menjebaknyaaa!!!" Teriak Aida sebelum penis itu semakin dalam menusuk liang senggamanya.

"Menjebaknya?" Tanya pak Tarun sambil menyeringai lebar.

"Yaaaaa. Aku akan menjebaknya!! Aku akan menjebak tante Nisa!! Jadi tolong jangan perawani aku pak. Aku janji aku akan menjebaknya agar bapak bisa bersetubuh dengan Tante Nisaaaa! Aku tahu Bapak suka sama Tante Nisaaa." Kata Aida pasrah hingga matanya berkaca-kaca. Bahkan air matanya mulai menetes. Ia betul-betul berharap tawarannya itu bisa mencegah pak Tarun yang hendak memperkosanya. “Tante Nisa sangat cantik dan manis… Bapak suka Tante Nisa kan? Aku akan membantu Bapak meniduri Tante Nisaa…”

Pak Tarun tersenyum lebar. Ia lalu menatap tubuh indah Aida sengan seksama. Mulanya ia menatap wajah ayu itu. Meski sedang berkaca-kaca, wajah Aida masih tetap cantik yang membuat pak Tarun menyeringai mesum.

Betapa beruntungnya ia karena bisa menelanjangi Aida dan mampu memasukkan setengah penisnya ke dalam lubang kenikmatan Aida.

Lalu tatapannya turun menuju dada bulat Aida. Sungguh, di usia yang sangat muda. Payudara Aida sudah begitu menggoda. Kulitnya yang putih, ditambah dengan mulusnya tekstur yang dimiliki. Juga bentuknya yang bulat, kencang serta putingnya yang berwarna pink.

Pak Tarun menenggak ludah karena ia jadi semakin bimbang tuk memutuskan.

Tatapannya kembali turun menuju selangkangan Aida yang sudah terbuka lebar. Kaki Aida yang begitu jenjang sedang mengangkang. Bulu jembutnya yang tipis sudah tercukur rapih. Lalu dibawahnya tersumpal penis raksasa miliknya yang sedang berusaha merobek selaput dara milik gadis ayu ini.

Haruskah ia tetap meneruskan niatnya dengan memerawani keponakan Nisa yang sangat cantik lagi jelita?

Ataukah…

Tak sadar, pandangannya teralihkan pada sebuah foto yang tadi dilihat oleh Aida. Sebuah foto yang sudah dihiasi oleh bingkai yang terpasang didekat tempat kasir. Sebuah foto yang menunjukkan suatu keluarga bahagia. Terlihat Nisa tersenyum manis bersama keluarga kecil yang sedang dibangunnya.

KELUARGA NISA

Seketika pak Tarun terdiam. Ia terpana menatap kecantikan Nisa dikala dirinya sedang bertelanjang bulat didepan keponakan Nisa yang rencananya hendak ia perkosa.

Jelas Aida tidak sebanding dengan Nisa. Saya menginginkanmu, Nisa. Saya ingin meniduri dirimu. Ingin rasanya menggenjot memekmu. Akan saya buat seorang anak yang lucu yang nantinya akan keluar dari rahim kehangatanmu.

Batin pak Tarun penuh nafsu.

"Huehuehue." Seketika pak Tarun tertawa keras. Aida yang sedang pasrah pun kebingungan melihat sikapnya. "Tawaran yang menarik, Aida sayang. Tapi, saat ini aku sudah terangsang berat oleh kemolekanmu. Apa saranmu supaya aku bisa melampiaskan nafsuku sekarang?" Tanya pak Tarun tersenyum sambil mengelusi pipi mulus Aida menggunakan tangan kirinya.

Aida terdiam. Ia kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu.

Dalam posisi terbaring lemas. Ia agak bergidik saat menatap wajah tua itu tengah tersenyum mesum kepadanya. Rasanya ia ingin menendangnya agar bisa menjauh dari wajah jeleknya. Tapi apa daya, ia tak bisa melakukannya karena takut tiba-tiba pak Tarun marah lalu melampiaskannya dengan memerawani dirinya.

"Aku akan melakukan apa saja, tolong pak. Aku manut. Bapak bebas melakukan apa saja asal bapak tidak menyentuh keperawananku." Jawab Aida yang membuat senyum Pria tua itu semakin lebar.

"Oh begitu? Apa saja? Kalau gitu ayo bangun." Ucap pak Tarun sambil menarik lepas penisnya lalu mengajaknya berdiri di dalam toko roti milik tante gadis manis itu.

Aida pun menurut. Perasaannya sedikit lega karena setidaknya vaginanya aman dari penis keriput yang berwarna sangat hitam itu.

Kedua insan yang sama-sama sedang bertelanjang bulat itu sudah berdiri tegak dalam posisi yang saling berhadap-hadapan. Wajah Aida memerah padam. Dirinya sangat malu hingga kedua tangannya menutup daerah kewanitaannya sebisanya. Ia juga menunduk. Namun itu malah membuatnya melihat penis pak Tarun yang masih berdiri tegak.

"Huehuehue. Manis, liat sini!" Ucap pak Tarun sambil menyentuh dagu Aida lalu mengangkatnya hingga dapat melihat wajah cantiknya.

"I-iya pak?" Lirih Aida malu-malu.

"Cantiknya. Huehuehue. Kamu tahu sayang? Dari dulu, aku selalu bermimpi ada gadis cantik yang mencumbuku dengan penuh nafsu. Jadi hari ini, aku ingin kamu menciumku dengan bibir manismu itu" pinta pak Tarun sambil meraba bibir Aida menggunakan jemari yang tadi ada di dagu mulusnya.

Gleegggg!!!

Tanpa sadar Aida langsung menenggak ludah. Mencumbunya? Seumur-umur ia belum pernah mencumbu seorang laki-laki. Bahkan tiap kali mas Rizal memintanya pun, ia selalu menolaknya. Kini ia harus mencumbu bibir seorang kakek mesum? Bagaimana bisa? Aida seketika merasa jijik. Tapi dirinya tidak memiliki pilihan lain.

"Bagaimana sayang? Kamu menolak? Kalau gitu aku perawani saja dirimu sekarang. Kenapa harus menunggu hal yang tak pasti seperti jebakanmu pada Nisa?" Ancam pak Tarun yang hendak membalikkan tubuh Aida.

"Jangaann. Baik akan aku lakukan." Jawab Aida pasrah.

"Huehuehue. Kalau gitu, lakukan!" Perintah pak Tarun dengan tegas.

Rasanya Aida ingin menangis lagi. Ia tak sanggup kalau harus mencumbu pria tua itu. Tercium aroma tanah yang membuat Aida merasa mual. Belum lagi dengan bau rokok samsu yang keluar dari mulut tuanya. Tapi ini perintah. Perlahan, Aida pun mendekatkan wajahnya sambil pelan-pelan memejamkan matanya.

Pak Tarun tersenyum puas. Ekspresi wajah Aida yang tengah memejam benar-benar menaikkan hasrat birahinya.

Wajah Aida kian mendekat. Kedua tangannya pun ia taruh pada dada keriput pak Tarun yang berwarna sawo matang. Tak sadar bibirnya sudah menyentuh bibir tua pak Tarun. Bibir Aida membuka. Lalu melumat bibir bawah pak Tarun dengan terpaksa.

Cuupppp!!!

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka pun saling dorong dengan penuh nafsu. Di kala bibir Aida mengapit bibir bawah pak Tarun. Pak Tarun pun membalas dengan mengapit bibir atas Aida. Bibir pak Tarun basah terkena jilatan lidah Aida yang menggeliat menjilati bibir bawahnya. Tak hanya itu, gadis cantik itu juga menghisap bibir pecah-pecah satpam tua itu sekuat-kuatnya.

Pak Tarun tersenyum di tengah-tengah lumatan bibir Aida. Ia cukup terkejut karena Aida bisa memenuhi ekspetasinya yang haus akan cumbuan seorang wanita. Ia jadi penasaran darimana Aida mempelajari seluruh teknik bercumbunya ini.

"Sllrrp. Sllrrpp mmpphh. Aku baru tau kalau kamu ternyata jago bercumbu. Kamu sudah sering melakukannya ya, sayang? Ssllrrpp." Tanya pak Tarun sambil mengocok-ngocok penisnya yang sudah bergetar gara-gara dicumbu Aida.

"Ssllrrppp mmpphhh. Sllrrpp mmpphhh. Mmpphhh. Tidak pak. Aku baru pertama kali melakukannya." Jawab Aida mengejutkan Satpam mesum itu.

"Ssllrrpp mpphh oh ya? Lalu darimana kamu mempelajari ini semua?" Tanya pak Tarun penasaran.

"Mmpphhh. Ssllrrpp. Dari drakor pak." Jawab Aida yang terus menerus menghisap bibir pak Tarun.

Ia mengganti-ganti targetnya mulai dari bibir bawah lalu ke bibir atas. Ia lalu menghisap bibir bawah lalu berpindah ke bibir atas lagi. Ia terus menerus melakukannya demi memuaskan nafsu bejat sang satpam. Tangannya yang sedari tadi diam di dada pak Tarun kini mulai bergerak dengan mengelusinya lalu memainkan puting hitam pak Tarun.

Ia terus melakukannya semata-mata demi melindungi kehormatan dirinya sebagai gadis perawan.

Cumbuan demi cumbuan yang diterima oleh pak Tarun membuatnya semakin bernafsu. Jilatan demi jilatan yang ia terima di bibir membuat birahinya semakin naik. Kocokan demi kocokan yang ia lakukan sendiri membuat gairahnya memuncak.

Matanya merem melek, tubuhnya merinding, nafasnya terengah-engah ditengah cumbuan yang ia terima.

"Mmpphhh. Mmpphhh. Aku mau keluaar saaaaayaanggg!! Cepaaaat berlutut! Cepaaaat!! Lakukan sekaraaang!"

Aida terkejut saat mendapat perintah itu. Padahal ia hanya mencumbunya, kenapa pak Tarun tiba-tiba ingin mengeluarkan cairan kentalnya? Padahal, ia dari tadi sama sekali tidak menyentuh penis keriput itu.

Aida berlutut. Barulah ia sadar kalau rupanya pak Tarun sedari tadi terus mengocok-ngocok penis tuanya. "Aaahhh Aidaaa. Aaahhhhh. Aaaahhhhh" desah pak Tarun mengocoknya dengan kuat. Penisnya itu digenggam kuat. Penisnya itu ia maju mundurkan dengan kencang. Warnanya sampai memerah. Aida pun bergidik takut melihatnya.

"Aaahhh sayaanggg. Aaahhhh. Aahhhh. Nikmatnyaaa. Nikmat sekaliii memekmu tadi sayaanggg. Aaaahhhhh"

Aida berulang kali merem melek bukan karena keenakan. Tapi karena takut semburan sperma pak Tarun akan mengenai wajahnya. Maklum, posisi penis pak Tarun berada tepat dihadapan wajah Aida. Gadis cantik itu menenggak ludah. Ia pasrah membiarkan satpam bejat itu melakukan apa saja pada dirinya.

"Sayaanggg. Aaahhhh. Aaahhh. Aaaahhhhh" pak Tarun memajukan pinggulnya hingga ujung gundulnya mengenai pipi mulus Aida. Rasanya jadi semakin nikmat. Satpam tua itu sampai merem melek. Ia pun merasa kalau penisnya mulai berkedut pelan.

"Aaaahhhh. Aaahhhh. Aaahhh sayanggg. Sayaaa . . ." Pak Tarun menggeleng-geleng kepala. Sedangkan Aida sudah bersiap dengan memejamkan mata.

PAK TARUN

AIDA

"Keluuaaarrrr!!!!" Jerit pak Tarun sekencang-kencangnya saat semburan demi semburan sperma itu mengenai wajah Aida.

Crroottt. Crroottt. Crrootttt.

"Mmppphhhh" Aida melenguh dengan manja. Wajahnya agak tersentak saat merasakan adanya lelehan sperma hangat yang mengenai wajahnya.

Tidak hanya satu. Tapi dua, tiga bahkan empat semprotan keluar menodai wajah ayu Aida. Wajah cantik itu kini dipenuhi oleh sperma. Dahinya, pipinya, hidungnya bahkan mata juga bibirnya terkena belepotan sperma pak Tarun.

Bahkan lelehan sperma itu ada yang jatuh mengenai dada sentosa Aida. Rasanya Aida seperti mandi sperma saja. Tercium aroma kuat di sana. Aida menahannya. Berakhir sudah penderitaannya saat satpam tua itu melampiaskan nafsu seksualnya.

"Mmpphhhh"

Aida menjerit dalam posisi bibir menutup rapat. Ia sadar kalau ia membuka bibirnya pasti akan ada sperma yang masuk ke dalam mulutnya. Ia juga menutup mata rapat-rapat. Pak Tarun yang melihatnya dari atas merasa puas. Ia lekas mengarahkan penisnya ke mulut Aida yang membuat gadis itu terpaksa melahapnya.

"Huehuehue. Puasss!!”

Aida tak menjawab. Pak Tarun menatap gadis itu keji.

“Dengar ya sayang!" ujar pak Tarun dengan arogan sembari memandang Aida dengan mata yang melotot, "Kalau kamu sampai gagal menjalankan janjimu tadi… aku tidak hanya akan memerawanimu…! Tapi aku juga akan mengajak bapak tirimu untuk bersama-sama menjadikan kamu budak seks kami!"

Ancam pak Tarun yang membuat Aida nyaris tersedak.

"Mmpphh. Mmpphh uhhuukkk? Apa pak?" Tanya Aida saking terkejutnya.

"Apa mesti saya ulang? Kamu tahu kan kalau si pemabuk itu sangat bernafsu kepadamu? Mungkin nanti gak cuma memek perawanmu yang akan jebol. Tapi juga lubang anusmu yang sangat sempit itu. Huehuehue," tawa pak Tarun sambil meremas payudara Aida dengan kuat.

"Aaaahhhhh sakiitt paakkkk." Jerit Aida kesakitan.

"Saya tunggu besok!" Ucap pak Tarun sambil bangkit lalu berjalan menjauhi Aida.

"Apa? Besok? Pak! Yang benar saja! Tidak mungkin kalau besok! Tolong pak, beri aku waktu!" Aida memelas meminta keringanan.

"Hah? Lalu kamu butuh waktu berapa lama untuk menjebak tantemu yang alim itu? Aku sudah tidak sabar ingin menyetubuhinya!" Tanya pak Tarun sambil mengenakan pakaiannya kembali.

"Beri aku satu minggu. Aku perlu perencanaan yang matang pak." Ucap Aida beralasan.

Pak Tarun terdiam sejenak, lalu ia pun menyeringai menyeramkan.

"Hmm bener juga. Setelah kupikir-pikir kamu ada benarnya. Oke aku tunggu satu minggu! Kalau sampai gagal…!? Lihat saja, akan bernasib seperti apa memek dan lubang anusmu nanti. Huehuehue." Tawa pak Tarun puas.

Satpam tua itu lekas meninggalkan toko Nisa secepatnya. Ia dengan bangga berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia merasa puas. Rasanya sangat puas setelah bisa melampiaskan nafsu seksualnya pada wajah ayu Aida. Apalagi saat membayangkan kalau satu minggu lagi dirinya bisa menzinahi Nisa.

"Nisa oh Nisa. Malangnya nasibmu nanti. Semoga saja memek kamu tidak menjadi longgar gara-gara kupakai habis-habisan. Huehue" tawa pak Tarun dengan puas.

Pak Tarun berhenti melangkah. Ia lalu menoleh ke belakang ke arah toko roti tersebut.

"Kutunggu janjimu, Aida sayang!" Lirih pak Tarun berbisik sambil tersenyum.

Sementara itu di dalam toko roti milik Nisa. Aida jatuh terduduk sambil menangisi nasib yang menimpanya. Niat hati kabur dari sergapan bapak tirinya justru malah hampir diperkosa oleh satpam tua yang sudah dipercayainya. Sperma yang tadi memenuhi wajahnya mulai meleleh jatuh menggenangi lantai. Hawa dingin yang berasal dari luar mulai masuk menyengat tubuhnya yang masih dalam keadaan telanjang.

Air mata turun saat Aida menatap foto Nisa dan keluarganya.

"Maafkan aku, tante. Aku sama sekali tidak bermaksud mengorbankan tante. Aku gak akan rela kalau tante sampai diapa-apakah oleh bajingan itu!" Ratap Aida saking kesalnya.

Aida merasa sudah menjadi pendosa hebat. Dalam posisi duduk melipat, kedua tangannya ia tumpu pada lantai ruangan. Wajahnya menunduk hingga air matanya langsung mengalir jatuh mengenai lantai ruangan.

Ia terus menangis. Ia menyesal. Ia kesal. Beribu macam amarah terkumpul menjadi satu memenuhi hatinya. Ia ingin menguapkan semua rasa kesal itu menjadi tangisan dulu. Ia tersedu-sedu. Tantrum seperti anak kecil. Kedua tangannya mengepal lalu menghantam-hantam lantai ruangan.

"Huaaaaaaaaa!! Maafkan aku, Tanteeeee. Maafkaaan akuuuu!!" Aida terus menangisi dirinya. Ia menangis. Terus menangis hingga air matanya mengalir membersihkan wajah ayunya dari noda sperma pria tua itu.

Drrttt. Drrttt. Drrttt.

Seketika tangisannya terjeda saat mendengar nada getar dari hapenya. Tak cuma itu, ia kemudian juga mendengar nada dering yang bunyinya familiar dengan nada deringnya ketika mendapatkan panggilan dari seseorang.

"Hapeku? Mana hapeku? Mana tasku?" Aida teringat kalau tadi ia menaruh hapenya di dalam tasnya.

Dalam kondisi telanjang. Ia pun bangkit untuk mencari hapenya. Ia bergerak mondar-mandir. Ia berjalan ke kanan juga ke kiri. Ia kemudian menemukan tasnya. Ia lekas membuka resleting tasnya dan segera mengeluarkan hapenya.

Tante Nisa.

Begitulah nama kontak yang tertera di atas layar hapenya. Seketika air mata kembali mengucur. Bukan karena ia melihat nama kontak tantenya di layar hapenya. Tapi ketika ia melihat fofo ayahnya yang sudah tiada muncul di layar hapenya.

"Ayaahhh."

Aida semakin sedih. Pasti ayahnya akan menangis andaikan mengetahui nasibnya terkini. Anak sematawayangnya yang dulu sangat ia sayang. Kini hampir menjadi korban pemerkosaan dari satpam tua yang sudah dipercaya. Tak hanya itu, bahkan bapak tirinya juga memiliki niat yang sama.

Kenapa ia harus mengalami nasib buruk seperti ini? Kenapa? Kenapa?

"Huaaaaaaaa!!!" Aida menjerit sekeras-kerasnya. Luapan emosi dari sang bidadari memuncak. Ia terus menangis. Ia mengisi malam itu dengan tangisan yang memenuhi ruangan.

.:: KEESOKAN HARINYA

Siang hari sekitar pukul satu tepat.

"Aida, kamu kenapa?" Suara lembut itu mengagetkan Aida. Tubuhnya sampai loncat lalu wajahnya yang linglung itu buru-buru menoleh ke arah sumber suara tersebut.

"Eh, Tante Nisa, hehehe."

Senyum canggung itu terpaksa Aida keluarkan. Ia tak mau tantenya yang sangat ia sayang itu mengetahui apa yang sedang dirinya pikirkan sekarang.

Melihat keponakan cantiknya tersenyum canggung. Ibu muda yang memiliki paras jelita itu pun mendekat lalu duduk di bangku kosong yang berada di sebelah Aida. Aida lekas menggeser tempat duduknya sejenak. Kedua bidadari cantik itu pun duduk berjejeran di tempat duduk di toko roti mereka yang aslinya disediakan untuk pelanggan.

"Kamu lagi mikirin apa, Da? Tante boleh tau ga?" Tanya Nisa dengan memasang senyum ramahnya.

Aida menoleh sekilas. Ia tersenyum kecil sebelum menundukkan wajah ayunya kembali.

Melihat keponakannya bersikap seperti itu membuat Nisa merasa khawatir. Ia lekas memeluknya lalu mengelus-ngelus lengannya dengan kasih sayang.

"Aida, apa kamu mau istirahat dulu? Kayaknya masalah kamu lagi berat deh. Gapapa kalau Tante ga boleh tau. Tapi seenggaknya, kamu cerita ya ke orang yang paling kamu percaya. Jangan dipendam semua sendiri. Itu ga baik. Nanti kalau kamu pendam semuanya sendiri, terus kamu ga kuat. Yang ada kamu stress dan itu bisa meledak, jatuhnya tidak baik. Tolong ungkapin masalahmu ya nanti." Nisa lekas memberikan nasehat kepada keponakan kesayangannya. Ia tahu kalau Aida bukan gadis yang suka dipaksa kalau ada apa-apa. Ia lebih suka memberikannya perhatian.

Beruntung, langkahnya berhasil. Tiba-tiba Aida menangis.

"Sayaaaaang." Nisa lekas memeluknya dengan erat. Aida pun membalas pelukan Tantenya. Ia menyandarkan tubuhnya ke arah wanita mungil itu. Ia pun melampiaskan semua emosinya dengan menjatuhkan air mata sebanyak-banyaknya.

Tak banyak kata yang terungkap. Tak banyak kata yang terucap. Tak banyak kata yang keluar dari lisan manisnya yang membuat Nisa urung tahu mengenai masalah yang dialami oleh keponakannya itu.

Aida hanya terisak-isak. Nisa pun terus menenangkannya dengan mengelus-ngelus punggung Aida. "Udah gapapa. Kamu kuat kok, Da. Kamu kuat. Udah tuntasin aja dulu. Luapin semua emosimu itu." Ucap Nisa yang membuat tangisan Aida semakin kencang.

Aida menguatkan pelukannya. Rasanya begitu nyaman ketika dapat melampiaskan rasa kesalnya gara-gara kejadian semalam.

Cukup lama Aida menangis hingga perlahan dirinya mulai tenang kembali.

"Tan-tante. A...ku, min...ta maaf," ucap Aida lirih di sela isak tangisnya.

"Hmm? Minta maaf? Kok minta maaf? Kenapa memangnya?" Nisa bertanya-tanya.

"Gapa...pa, a...ku cuma ma...u, minta ma...af ke tante." Seketika nangisnya mulai kejer lagi. Ia menyesal karena sudah menyeret nama sang Tante yang baik dan bagaikan bidadari itu ke dalam masalah pribadinya.

"Udah-udah gapapa. Iya Tante maafin. Udah kamu tenang dulu ya. Jangan dipikirin lagi." Kata Nisa terus menenangkannya. Ia sebenarnya masih belum paham apa masalah Aida, tapi Nisa berusaha untuk terlebih dahulu meredakan kesedihan Aida.

"I-iya tan...te" Aida mencoba tenang. Ia pun mengusap air matanya di tengah pelukan Tante kesayangannya.

Setelah merasa baikan. Ia melepaskan diri dari pelukan tantenya. Aida masih menyeka air matanya menggunakan kedua tangannya. Sedangkan Nisa hanya tersenyum sambil berharap keponakannya itu mau menceritakan apa yang terjadi kepadanya.

"Gimana, udah baikan?" Tanya Nisa sambil tersenyum ramah.

"Iya, Tante. Makasih." Jawab Aida sambil menunduk ke arah depan tanpa berani menatap wajah tantenya.

"Iya. Sama-sama." Jawab Nisa tersenyum.

"Tante...." kata Aida terhenti.

"Iya, ada apa Aida?" Nisa menjawab. Ia senang, mungkinkah keponakannya ini akan bercerita kepadanya?

"Aku boleh cuti ga hari ini? Aku ga bisa fokus kerja dari tadi, Tante," ucap Aida yang membuat Nisa khawatir.

"Oh. Iya boleh. Ya bolehlah sayang. Gapapa kamu istirahat dulu. Kamu tenangin dulu dirimu ya." Ucap Nisa dengan lembut.

"Iya Tante makasih." Jawab Aida yang lekas bangkit sambil menyeka air mata yang tersisa di wajahnya.

Nisa hanya mengangguk. Ia pun meratapi kepergian Aida yang terlihat buru-buru meninggalkan Nisa Cakes.

Setelah Aida menghilang dari pandangannya. Senyum yang ada di wajah Nisa tadi memudar. Terlihat ekspresi wajah khawatir dari sang ibu beranak dua itu. Tak seperti biasanya Aida bersikap seperti ini. Biasanya, kalau ada apa-apa pasti Aida akan bercerita, termasuk masalah percintaan ataupun keuangan. Tapi, kali ini? Aida sama sekali tidak bercerita. Ada apa?

"Semoga kamu baik-baik aja, Aida." Lirih Nisa menatap kosong ke arah pintu keluar toko rotinya.

Di luar, Aida menunduk. Ia terus melangkahkan kakinya maju. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku. Sebuah tas bermerk terkenal menggantung di bahu. Tanpa menghadap ke depan, ia terus berjalan. Pikirannya melayang-layang. Sebuah rasa penyesalan bergabung dengan rasa kekecewaan.

Tanpa sadar air matanya kembali menetes. Ia buru-buru mengambil tisu dari dalam tasnya. Ia menyekanya. Lalu membuangnya ke tempat sampah yang kebetulan baru saja ia lewati di sebelah.

Ia mengangkat tangannya untuk melihat jam yang melingkar di lengannya. Ia lalu menaikkan pandangannya ke arah langit lepas. Sinar mentari begitu terik. Sampai-sampai Aida harus menutupi pandangannya dengan menggunakan telapak tangannya.

"Apakah ini keputusan yang tepat?"

Aida berhenti melangkah setelah berbicara dengan dirinya sendiri. Ia berfikir sejenak. Ia melenguhkan nafasnya. Entah kenapa ia jadi teringat penggalan lagu Linkin Park yang akhir-akhir ini sering ia dengar.

Holding on, why is everything so heavy?

Berat. Memang hidup di dunia ini berat. Bukannya kehidupan di dunia itu hanyalah ujian? Bukannya kehidupan kita yang sebenarnya ada di akhirat? Seketika ia teringat sebuah nasehat yang pernah tante Nisa berikan kepadanya.

Aida, kalau kita diberikan ujian itu, tandanya kita sanggup untuk menghadapinya. Ingat! Kita itu sebenarnya sanggup. Hanya saja terkadang kita ngerasa gak sanggup.

"Jadi aslinya aku sanggup ya, Tante? Ya, aku pasti sanggup menghadapinya! Bukankah di setiap masalah selalu ada jalan keluar? Yang seharusnya aku lakukan sekarang adalah mencari jalan keluar itu. Bukan seharusnya aku menangisi nasib. Aku harus mencari jalan keluar. Ya, aku harus mencari jalan keluar!"

Aida termotivasi.

Ia lekas bergegas. Menuju tepi jalan untuk mencari kendaraan.

Namun, di belokan pertama saat ia berbelok. Ia dikejutkan oleh seseorang yang rupanya sudah menunggunya sedari tadi.

"Sayang, huehuehue."

"Astaghfirullah, Bapaaaak!" Aida terkejut. Ia bahkan langsung jatuh terduduk ke belakang.

Bagaimana tidak? Mimpi buruk yang nyaris menghilangkan keperawanannya tiba-tiba kembali hadir didepannya. Apalagi pria tua itu hadir dengan senyum mesum seolah ingin menelanjanginya.

Aida ketakutan. Ia ingin kabur tapi tubuhnya kaku hingga membuatnya tak bisa bergerak selama beberapa saat.

"Tenang sayang. Tenang. Ayo berdirilah. Saya hanya ingin bertanya beberapa hal." Kata Pak Tarun yang di luar dugaan malah menenangkannya. Tak hanya itu, satpam tua itu juga mengulurkan tangannya untuk membantu dara muda itu agar bisa berdiri dihadapannya.

Aida pun menurutinya. Ia mengulurkan tangannya hingga dara langsing bertubuh cukup tinggi itu kembali berdiri di hadapan sang satpam bejat.

"A-ada apa? Apa ya...ng bapak mau dariku?" Tanya Aida terbata-bata karena takut.

Seketika senyum mesum pak Tarun kembali. Tak hanya itu, mata kotornya dengan seksama mengecek penampilan Aida dari atas ke bawah.

Wajah Aida tampak imut dengan lilitan hijab berwarna pink yang membungkus wajah mungilnya. Meski nampak ekspresi takut kini menghiasi wajah ayunya. Hal itu tak mengurangi keindahan yang membuat pak Tarun tetap bernafsu kepadanya.

Tubuh ramping Aida terbungkus oleh kemeja berwarna pink berukuran cukup longgar yang tidak mengepress bentuk badannya. Meski demikian, tetap saja tonjolan indah di dada Aida membuat mata pak Tarun seolah tak bisa berpaling. Terlihat jemari pak Tarun bergerak seolah ingin meremasnya kembali. Memori semalam benar-benar ingin dikenang oleh kakek cabul itu.

Lalu, saat pak Tarun menurunkan pandangannya lagi, ia mendapati celana jeans ketat berwarna biru membungkus kaki jenjang sang dara. Kaki langsing Aida pun tercetak mengikuti celana slim fit yang ia kenakan. Mata Pak Tarun pun terbelalak. Meski masih mengenakan pakaian lengkap. Outfit Aida yang catchy benar-benar membuat pak Tarun ingin kembali memperkosanya lagi.

AIDA

PAK TARUN

Seketika, tangan satunya bergerak. Lalu dengan sigap mendekap buah dada Aida yang masih terbungkus kemeja longgarnya.

"Tidak apa-apa, sayang, aku hanya ingin bertanya, sudahkah dirimu menjebak Tantemu yang ayu itu? Huehuehue." Ucap pak Tarun sambil meremas payudara Aida dengan kuat. “Aku sudah tidak sabar ingin membuat tubuhnya yang indah melejit-lejit keenakan saat kontolku keluar masuk di memek wanginya… heuhueheu…”

"Aaahhh paaakk sakitt." Jerit Aida.

Rasa keterkejutan bertambah di kala tangannya yang sedari tadi didekap, tiba-tiba saja ditarik! Hal itu membuat tubuh langsingnya terlempar ke arah tubuh tua pak Tarun. Lalu dengan secepat kilat, pak Tarun mendekatkan wajahnya untuk mencumbu bibir manis itu lagi.

Cuupppp.

"Mmpphhhhh" desah keduanya bersamaan.

Pak Tarun menyeringai senang. Bibirnya dengan barbar melumat bibir Aida hingga keseluruhan bibir gadis manis itu masuk ke dalam mulut satpam tua itu. Aida tak bisa berbicara. Mulutnya tertahan. Ia pun mendorong tubuh tua itu menjauh meski usahanya terlihat percuma.

Pak Tarun tertawa senang. Kini, kedua tangannya berpindah tuk mendekap bokong seksinya. Satpam tua itu kegirangan dikala kedua tangannya dengan bebas mampu meremas-remas bokong montok Aida. Ia juga mendorong bokong Aida ke arahnya hingga menekan penisnya yang sedari tadi sudah bangkit berdiri menantang sang gadis seksi.

"Mmpphh bagaimana Aida sayang? Sudahkah kau lakukan apa yang kau janjikan kepadaku? Mmpphh" desah pak Tarun di sela-sela cumbuannya.

"Mmpphh. Mppphhh. Mmmpphhh" desah Aida yang tak bisa berbicara. Kepalanya hanya bisa ia geleng-gelengkan. Kedua tangannya terus berusaha mendorong agar bisa terlepas dari dekapan pria tua itu.

Panas yang menerjang membuat Aida mampu menghirup aroma tubuh pak Tarun yang tidak disertai parfum. Aroma khas bapak-bapak tua membuat Aida merasa jijik. Belum lagi aroma nafasnya yang berbau rokok samsu benar-benar membuat Aida merasa muak.

"Apa? Ada apa? Kok gak dijawab sih? Huehueue" tawa pak Tarun sambil terus mendorong bokong Aida mendekat sehingga pinggulnya bisa ia gesek-gesekkan yang membuat penisnya semakin berdiri tegak.

Keadaan pasar yang cukup sepi, terutama di belokan tadi membuat pak Tarun bisa cukup bebas untuk melanjutkan aksi cabulnya di siang yang cukup terik ini.

Keadaan yang sudah panas menjadi semakin panas di kala mampu menikmati bibir manis Aida yang memiliki rasa stroberi akibat olesan lipgloss. Rasa gerah kian menguasai tubuh mereka. Pak Tarun yang semakin bernafsu semakin tak kenal waktu.

Seketika tangannya ingin menelanjangi Aida.

Tubuh Aida pun didorongnya hingga terhempas ke dinding terdekat. Kedua tangan pak Tarun dengan penuh nafsu membuka satu demi satu kancing kemeja Aida dari atas.

Jelas Aida menolak. Ia pun bertahan dengan mendekap kedua lengan pak Tarun sebisanya.

"Jangaaannn. Jangaann paakk. Toloo . . . . Mmpphh." Mulut Aida kembali didekap dengan tangan kirinya. Sedangkan 3 kancing teratas kemeja Aida yang sudah terbuka membuat tangan kanan Pak Tarun yang nakal menarik keluar salah satu payudara indah itu dari dalam untuk menyusunya.

"Slurrppp. Slurrppp. Segarnyaaa. Paling enak nyusu di siang-siang yang panas gini. Huehuehue." Tawa pak Tarun puas.

"Mmpphhh. Mmpphhh. Hentikaann. Hentikaannn." Jerit Aida ditengah bekapan tangan pak Tarun. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia tak percaya dirinya kembali mengalami pelecehan lagi di jarak waktu yang cukup dekat.

Kedua tangannya berontak dengan menarik lepas tangan pak Tarun di mulutnya dan juga mendorong kepala pak Tarun agar berhenti menyusunya.

Namun pak Tarun tetaplah pak Tarun. Bibirnya dengan rakus menjepit pentil susu Aida yang berwarna pink. Lidahnya dari dalam bergerak menyentil-nyentil puting yang menonjol milik sang dara jelita. Lalu Pak Tarun pun menghisapnya. Ia menghisap sekuat-kuatnya, membuat pemiliknya merinding hebat.

Aksi cabul itu terus dilakukannya hingga tiba-tiba mereka berdua mendengar suara langkah kaki mendekat yang berasal dari belokan yang hendak Aida lewati.

"Siaalaaann!!!" Maki pak Tarun yang buru-buru melepas Aida lalu berpaling seolah tidak terjadi apa-apa.

Sedangkan Aida yang tak ingin aibnya diketahui oleh orang lain buru-buru memasukkan payudaranya. Ia juga buru-buru mengancingkan kancing kemejanya lagi. Setelah itu ia mengeluarkan tisu untuk mengelap air mata yang tadi nyaris tumpah karena pelecehan tadi.

Aida cukup pintar, saat orang yang memiliki suara langkah kaki tadi mendekat. Aida pun buru-buru lewat untuk bisa kabur dari sergapan sang pria tua nan cabul. Pak Tarun yang berpura-pura berbalik tak menyadari kaburnya Aida. Baru saat ia kembali berbalik, ia menyadari kalau Aida sudah tak lagi ada dihadapannya.

"Huehuehue. Sialan emang. Jadi kentang. Awas aja kau nanti sayang. Akan kunikmati lagi tubuh indahmu nanti!! Akan kutagih janjimu tuk menjebak Nisaku nanti. Huehuehue. Mau Aida ataupun Nisa terserah!! Pokoknya harus kujebol salah satu memek milik kalian sesegera mungkin!!" Kata Pak Tarun sambil mengelus-ngelus tonjolan celananya yang masih mengeras.

Pria tua itu sejenak kemudian menurunkan kepala, Pak Tarun mendesah kecewa.

"Sialan!! Kalau kayak gini kan mesti coli." Ujar pak Tarun yang langsung menuju sudut kompleks pasar. Ia lekas mengeluarkan penisnya. Ia lalu membuka hapenya tuk melihat foto telanjang Aida yang berhasil ia abadikan semalam.

"Aahhh Aidaaa. Aaahhh. Aidaaa sayanggg. Aahhhh. Aaaahhh" desah pak Tarun sambil memaju mundurkan tangannya saat mengocok penis raksasanya.

.:: SEMENTARA ITU

Sementara itu Aida mempercepat langkah kakinya. Sambil berjalan ia segera membuka aplikasi ojol berlogo hijau yang mampu mengantarkannya ke suatu tempat. Sesekali ia menoleh ke belakang karena khawatir, pak Tarun akan mengejarnya.

Sesekali ia juga meludah ke tepi jalan untuk menghilangkan aroma busuk dari cumbuan bibir tua itu. Ia kembali mengeluarkan tisunya untuk mengelap tepi bibirnya. Ia lalu menenggak sebotol air yang ia beli diperjalanan sebelum mengoleskan kembali lipgloss-nya ke tepian bibirnya.

Beruntung, keadaan saat ini mulai ramai. Setidaknya perasaan lega mulai menenangkan dirinya. Ia mulai berjalan santai. Ia kembali menoleh ke belakang untuk memastikan kalau pak Tarun benar-benar tidak mengejarnya.

"Syukurlah dia tak mengejarku lagi." Lirih Aida lega.

Ia kemudian mendekap payudara kirinya yang sakit akibat remasan kuat yang pak Tarun berikan padanya tadi.

"Aduhh sakitt. Kurang ajar bajingan itu!" Ujarnya dengan sangat kesal.

Ia pun terus berjalan hingga dirinya mendapat notifikasi dari aplikasi hijau yang ia hubungi tadi.

"Saya sudah di depan pasar ya, Mbak."

"Akhirnya," Aida mempercepat langkahnya. Ia akhirnya tiba dihadapat sopir ojol yang sudah dipesannya.

"Mau ke rumahnya pak Sarmanto ya, Mbak?" Tanya sopir ojek itu saat menyerahkan helmnya ke Aida.

Mata Aida terbelalak. Ia pun hanya mengangguk lalu mengenakan helmnya sebelum naik ke atas motor.

"Hebat juga ya pak Sarmanto bisa membujuk modelan cewek kayak gini." Lirih sopir ojek itu dengan sangat pelan sebelum menarik gasnya untuk mengantar pelanggannya ke tujuan.

.::..::..::..::.

Beberapa menit kemudian…

"Ini mbak, kita sudah sampai." Ucap sopir Ojol itu saat berhenti di depan sebuah tempat yang terlihat sangat luas.

Aida terdiam sejenak sambil bertanya-tanya dalam hati.

Tempat apa ini?

Menyadari pelanggannya kebingungan dengan tempat yang baru mereka datangi ini. Sopir Ojol itu mulai membuka mulutnya tuk menjelaskan tempat ini.

"Mbak kayaknya baru pertama kali kesini ya? Selamat datang di kolam lele milik pak Sarmanto. Mbak tau sendiri kan, klo pak Sarmanto itu kan juragan lele yang terkenal seantero kompleks perumahan ini. Kira-kira ada sekitar 20 kolam lah yang mana tiap kolamnya ada ratusan Lele yang siap mereka panen sekitar 2-4 bulan sekali. Pak Sarmanto juga punya banyak pekerja yang mengurusi tiap kolamnya. Meski tampang mereka menakutkan seperti preman. Tapi sebenarnya mereka baik kok." Ujar sopir ojol itu sambil tersenyum.

"Oh begitu?" Aida hanya mengangguk-ngangguk saat dijelaskan oleh sopir Ojol itu.

Ia baru tau kalau pak Sarmanto mempunyai kolam lele sebanyak ini. Pantas saja dia berani memesan banyak kue kemarin karena dirinya mempunyai banyak pemasukan hasil dari penjualan ikan lelenya.

"Yasudah saya pergi dulu ya mbak, permisi." Kata sopir Ojol itu lekas pergi.

"Iya pak, eh pak ini uangnya." Sayangnya sopir Ojol itu lebih dulu pergi. Aida pun kebingungan kenapa sopir Ojol itu lebih dulu pergi tanpa menerima pembayaran darinya terlebih dahulu.

Dari kejauhan, sopir Ojol itu tersenyum sambil mengangkat salah satu lengan jaketnya.

Terlihat tato kucing hitam besar terhias disana.

"Hmm yaudah kalau kelupaan. Lebih baik aku bersegera menemuinya. Rumahnya pak Sarmanto sih dimana ya?" Tanya Aida setelah memasuki gerbang.

Sejauh mata memandang, ia hanya melihat kolam-kolam lele berukuran luas yang masing-masing dijaga oleh beberapa laki-laki kekar bertampang seram.

Aida jadi tak berani menatapnya. Ia terus menunduk sambil sesekali melihat sekitar tuk mencari tempat tinggal sang bos pemilik kolam lele ini.

Namun, yang baru disadari olehnya adalah. Rupanya, para pekerja itu, satu persatu mulai menatap dirinya di tengah perjalanannya menemui pak Sarmanto. Aida bergidik ngeri. Paras mereka mengerikan yang mana menyerupai preman ketimbang para karyawan yang mengurusi kolam lele.

Aida memberanikan diri tuk menatap salah satu dari mereka. Terlihat salah satu karyawan itu mengenakan kaus hitam bergambar tengkorak. Terdapat bekas luka diwajahnya seperti coretan celurit. Otot tangannya besar. Nampak tato yang sekilas terlihat di punggung bagian bawahnya.

Bahkan para karyawan lainnya ada yang sambil merokok. Ada juga yang sambil main kartu. Beberapa ada yang tertawa keras. Bahkan ia mendengar samar-samar ada yang melecehkannya secara verbal.

"Astaghfirullah tempat apa sih ini? Ini beneran? Kediaman pak Sarmanto disini?" Tanya Aida ragu.

Kebetulan, akhirnya ia melihat sebuah bangunan yang menyerupai rumah. Entah kenapa Aida merasa yakin kalau bangunan itu adalah rumah milik pak Sarmanto.

"Aku harus kesana. Setidaknya, aku bisa menjauh dari tatapan mesum mereka itu." Lirih Aida sambil mempercepat langkah kakinya.

Mata-mata nakal itu terus menatap Aida. Tatapan-tatapan mereka yang jelalatan memberdirikan bulu kuduk Aida. Aida terus saja menarik nafasnya. Ia menguatkan diri. Ia juga meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan yang tepat yang bisa menjauhkannya dari gangguan satpam tua dan bapak tirinya itu.

Tookkk. Tookkk. Tookkk.

"Assalamu, eh. Permisi pak." Ucap Aida sambil mengetuk pintu rumah tersebut.

Aida menoleh ke sekitar. Pekarangan rumah itu cukup luas. Banyak sekali tanaman-tanaman yang tumbuh di halaman rumah besar itu. Aida menaikkan pandangannya ke atas. Rumah dihadapannya itu terdiri dari dua lantai. Bahkan di lantai dua ada kolam renang yang membuat pemilik rumah itu bisa bersantai sambil melihat pemandangan kolam lele dihadapannya.

Aida kemudian melihat ke belakang. Rupanya para pekerja itu masih menatapnya. Aida merasa risih. Ia kembali mengetuk pintu dengan harapan pemilik rumah segera membukakan pintu untuknya.

Tookkk. Tookkk. Tookkk.

"Permisi pak!!"

Beruntung, tak lama kemudian ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Aida mundur selangkah lalu berdiri tegak menanti sang pemilik rumah datang menyambutnya.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Nampak wajah tak asing yang membuat Aida bergidik ngeri.

PAK SARMANTO

"Whoahahaha!! Loh loh loh!! Aidaku sayang. Ada apa dirimu kemari?" Sambut pak Sarmanto dengan senyum lebar di wajahnya.

"Ada yang ingin saya bicarakan." Jawab Aida singkat tanpa berani mengangkat wajahnya.

"Whoahahah baiklah, ayo sini masuk." Ajak pak Sarmanto sambil tersenyum mesum.

Aida dengan menunduk berjalan masuk mengikuti perintah si pemilik rumah itu. Ubin-ubin keramik yang ia ijak berukuran besar dengan warna yang cukup bening. Ia bahkan bisa melihat pantulan wajah ayunya dari ubin yang ia pijak itu.

Seketika ia menyadari satu hal. Tak hanya ada dirinya pak Sarmanto di dalam. Tapi, ia juga melihat adanya beberapa laki-laki lain yang berdiri di sekitar jalan masuk rumahnya itu.

Aida bergegas mengangkat wajahnya lalu melihat ke sekitar. Benar saja, para pria-pria kekar berkulit hitam itu berbaris rapih layaknya bodyguard yang menjaga rumah luas ini.

Aida jadi semakin bertanya-tanya. Ini sebenarnya tempat apa? Benarkah ini hanya rumah yang dimiliki oleh seorang juragan lele?

"Tenang sayang. Mereka semua adalah bawahan saya. Ga ada yang perlu kamu takuti." Ujar pak Sarmanto yang lagi-lagi meremas bokong Aida tanpa permisi.

"Bapaaak!!!" Tegur Aida sambil menampar tangan pak Sarmanto.

"Whoahaha ada apa sayang? Masa saya masih gak boleh menyentuh pantatmu itu sih? Kenapa memangnya? Jijik sama saya? Kenapa kok masih jual mahal? Betul tidak semuanya?"

"Hahahaha," seluruh orang yang ada di rumah itu tertawa. Aida menghitung. Kira-kira ada 20 orang selain dirinya dan pak Sarmanto yang tertawa gara-gara ucapan pria berkulit gelap itu.

"Tolong paaaak! Jangan melecehkanku di hadapan mereka!!!" Bisik Aida di telinga pak Sarmanto yang membuat suami dari sosialita itu tertawa.

"Whoahaha. Sini-sini. Kemari." Ajak pak Sarmanto menuju mejanya.

Pria tua berkulit gelap dengan brewok yang menghiasi wajahnya itu tersenyum setelah duduk di mejanya. Aida pun berjalan mendekat. Ia dengan takut berdiri tegak dihadapan pria seram itu.

"Jadi… apa yang bisa aku bantu??" Tanya Pak Sarmanto.

Mulanya Aida terdiam ragu. Namun, saat teringat perbuatan satpam tua itu semalam. Juga ancaman yang bisa-bisa menyeret sang Tante ke dalam masalah pribadinya. Pelan-pelan Aida mulai memberanikan diri. Ia menaikkan pandangannya lalu menatap wajah pak Sarmanto dengan pandangan mata tajam nyaris tanpa berkedip.

Nafasnya ia tarik lalu dihembuskan, sekali, dua kali, tiga kali. Ia belajar menenangkan diri dengan pengaturan napas. Dengan tegas, ia pun mengucapkan sesuatu di hadapan calon penyelamatnya itu.

"Saya butuh bantuan, Pak. Tolong lindungi saya dan tante saya. Ada seseorang yang berniat tidak baik pada keluarga saya." Pinta Aida memohon.

Pak Sarmanto diam, lalu seketika tertawa sambil melihat sekitar. Para bodyguard yang ada di sekitar ikut tertawa. Aida pun kebingungan hingga dirinya merasa tersinggung. Aida yang kesal pun hendak membuka mulutnya.

"Apa maksud . . . . ." Belum sempat Aida menyelesaikan kalimatnya. Ia terhenti gara-gara tepukan tangan yang dilakukan oleh pak Sarmanto.

Prookkk. Prookkk. Prrookkk.

Aida yang tidak tahan lagi akhirnya mulai bersuara di hadapan juaragan lele tersebut.

"Apa maksud semua ini pak?"

Prookk. Prookk. Prrookk.

Pak Sarmanto masih bertepuk tangan, kali ini sambil tertawa. Aida pun semakin kebingungan. Dahinya mengkerut. Matanya pun agak disipitkan. Ia benar-benar kesal melihat tingkah laku pak Sarmanto yang menurutnya aneh.

"Whoahahaha. Whoahahaha. Lindungi? Lindungi ya? Whoahahaha" tawa pak Sarmanto terbahak-bahak.

Aida hanya diam. Lama-lama dirinya semakin kesal bahkan ia sudah berniat ingin pergi akibat muak sudah diberlakukan seperti ini. Aida mendengus kesal dan hendak meninggalkan Pak Sarmanto.

“Aida, tenanglah. Kemarilah.”

Aida mengerutkan kening. Ia kembali menatap wajah sang pria tua itu.

"Kamu tahu cantik? Tidak ada yang gratis di dunia ini! Kamu minta dilindungi? Tentu saja bisa, tapi bolehkan saya minta sesuatu juga sebagai pembayaran atas jasa yang akan kami berikan?" Tanya pak Sarmanto sambil tersenyum.

"Apa? Apa yang bapak inginkan? Uang? Bapak minta berapa? Bapak butuh bera . . ." Lagi-lagi omongan Aida terhenti gara-gara mendengar suara tawa yang pria itu lakukan.

"Whoahahaha uang? Uang katamu, Sayang? Coba liat ke sekitar. Kamu pikir saya ini termasuk orang yang kekurangan uang ya? Sampai-sampai hanya uang yang bisa dijadikan alat pertukaran." Pak Sarmanto tertawa terbahak-bahak. Aida pun lekas bertanya mengenai apa yang diinginkan oleh pria tua itu.

"Lalu, apa yang bapak inginkan dari saya?" Aida lemas berucap.

Sambil tersenyum mesum. Pak Sarmanto mengangkat salah satu jemarinya lalu menunjuk ke arah tubuh Aida, sebelum kemudian ia membuka mulutnya tuk menjawab pertanyaan gadis manis itu.

"Buka bajumu."

Aida terbelalak. Meski sudah tertebak. Ia tak menyangka kalau harus membuka bajunya di hadapan semua orang yang berada di rumah ini. Dengan terbata-bata, Aida kembali bertanya tuk memastikan keinginan pria tua tersebut.

"Di sini? Saat ini? Di hadapan semua orang ini?" Lirih Aida yang malah dijawab tawa oleh pria hitam brewokan itu. “Yang benar saja, Pak! Jangan main-main!”

"Whoahahahah. Kenapa memangnya? Kamu keberatan?" Tanya Pak Sarmanto yang membuat Aida terdiam sejenak.

Aida berfikir. Ia sudah sejauh ini melangkah. Ia juga sudah dilecehkan berkali-kali oleh para bajingan tua tersebut. Lantas apalagi yang harus ia sembunyikan dari mereka. Lagipula, ini bukan hanya untuk dirinya. Tapi juga tantenya. Toh telanjang di hadapan orang bukan lagi kali pertama untuknya, benar bukan?

“Mau mundur saja?” Pak Sarmanto menyeringai, “Mau mundur atau buka baju?”

"Tidak! Saya tidak akan mundur! Akan saya lakukan yang Bapak minta!" Jawab Aida tegas menyambut tantangan tersebut.

Ia lekas membuka satu demi satu kancing kemejanya. Ia melakukannya dengan cuek sambil menolehkan wajahnya ke samping. Lalu, setelah semua kancing itu terbuka. Ia lekas melepas kemejanya menyisakan tanktop ketat berwarna putih yang membentuk dada indahnya.

Semua mata tertuju padanya. Sinyal kuat yang Aida berikan membuat antena-antena mereka berdiri tegak menanti langkah selanjutnya yang gadis cantik itu berikan.

Aida cuek. Meski ia juga agak menguat-nguatkan hatinya untuk terus melanjutkan. Ia mulai menurunkan resleting celana jeansnya lalu menurunkan celananya perlahan demi perlahan.

Bongkahan pantat semok yang sebagian masih tertutupi celana dalam berwarna putih itu terlihat. Saat celana itu semakin turun. Paha mulus Aida terlihat. Beberapa bodyguard yang melihatnya sampai menenggak ludah. Kaki Aida memang sangat indah. Kakinya itu menyerupai kaki seorang model yang tentunya menjadi kebanggaan Aida.

Pak Sarmanto hanya diam tersenyum menantikan aksi selanjutnya. Ia dengan sabar menahan reaksi hingga gadis cantik itu benar-benar melepas keseluruhan pakaiannya dihadapannya.

Namun seketika pak Sarmanto bereaksi saat Aida hendak melakukan sesuatu. "Tunggu dulu, biarkan hijabmu terpasang seperti itu. Jangan kamu lepas ya."

Aida menurut. Ia mendesah lalu membatin di dalam hati.

Semua pria sama aja.

Ia jadi teringat pak Tarun yang juga tidak melepas hijabnya saat hendak memperkosanya semalam.

Lanjut, Aida melepas tanktop putihnya. Payudara sentosa Aida semakin terlihat. Kini hanya ada bra berwarna putih yang menjadi satu-satunya pelindung baginya dari tatapan mesum para lelaki yang ada di dunia ini.

Senyum pak Sarmanto melebar. Meski Aida belum benar-benar telanjang. Tapi keindahannya sudah berada diluar batas wajar. Ia jadi tak sabar. Bagaimana ya keindahan tubuh Aida ketika sudah telanjang?

Membayangkan hal itu membuat pak Sarmanto senyum-senyum sendiri.

Akhirnya, bra putih yang saat ini ia kenakan mulai ia lepas. Kait yang ada di punggungnya ia lepas. Samar-samar terdengar sorakan dari belakang yang sebenarnya cukup mengganggu Aida. Tapi ia cuek. Ia terus melepasnya hingga dada sentosanya itu benar-benar nampak di hadapan pak Sarmanto.

Prookkk. Prokkk. Prookkk.

Pak Sarmanto tersenyum puas. Ia bahkan sampai tak tahan tuk bertepuk tangan setelah diperlihatkan keindahannya.

"Lanjutkan sayang."

Aida tak menjawab. Ia lekas menungging untuk memudahkan tangannya tuk memelorotkan celana dalam yang dikenakan olehnya. Saat menungging itulah, dada sentosa milik Aida tergantung indah yang membuat beberapa bodyguard yang tak tahan di kanan kirinya mulai mengelus-ngelus penisnya bahkan sampai ada yang mengeluarkan penisnya tuk mengocok-ngocoknya.

Jujur, Aida merasa semakin risih. Tapi mengingat apa yang sudah ia lakukan selama ini membuatnya terus bertahan hingga dirinya selesai melepas celana dalamnya.

Kini, ia sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab berwarna pinknya saja. Aida merasa malu. Ia merasa semua mata menatap keindahan tubuhnya saat itu. Ia bertahan. Ia menantikan perintah apalagi yang diinginkan oleh juragan lele tersebut agar dirinya bisa mendapatkan perlindungan darinya.

"Indah sekali tubuhmu ini, cantik. Whoahahaha." Tawa pak Sarmanto sambil berdiri dari kursinya.

Aida gemetar. Jujur ia semakin ketakutan tatkala pria brewok itu mulai bangkit dari posisi duduknya.

"Dengar semuanya." Ucap pak Sarmanto yang membuat para bodyguardnya secara reflek menatap ke arahnya. "Sudah lama kita tidak melakukannya. Ayo kita lakukan sekarang." Kata pak Sarmanto sambil melepas kaus yang dikenakannya.

"Ya pak." Jawab mereka semua kompak.

Aida terbelalak. Ia pun melihat ke sekitar dan menyadari satu demi satu para bodyguard itu mulai menanggalkan pakaiannya. Aida panik. Ia bertanya-tanya di dalam hati. Apa yang sedang mereka lakukan saat ini? Apa yang akan terjadi? Bagaimana nasibnya kini?

Aida menoleh ke belakang. Ia mendapati seorang bodyguard kekar yang sudah bertelanjang bulat berjalan mendekat. Saat ia menoleh ke depan. Ia menyadari pak Sarmanto juga sudah bertelanjang bulat menampakkan tubuh tambunnya dihadapannya.

Satu demi satu pria-pria kekar itu mulai menanggalkan seluruh pakaiannya lalu menghampiri dirinya. Kini, Aida yang sudah bertelanjang bulat dikelilingi oleh puluhan pria kekar berkulit hitam dan bertampang seram yang sama-sama sudah bertelanjang bulat. Aida bergidik. Aida merinding.

Di tengah rasa takut itu, tiba-tiba pak Sarmanto mulai membuka mulutnya.

"Ayo kita mulai ritual kita."

"Ya pak."

Ritual? Ritual apa? Apa ini? Apa yang akan mereka lakukan saat ini?

Batin Aida di dalam hati.

Di tengah rasa takut yang semakin menguasai hatinya. Pandangan Aida tiba-tiba teralihkan pada lukisan besar yang ada pada dinding yang berada di belakang posisi pak Sarmanto berdiri. Sebuah lukisan besar bergambar kucing berwarna hitam yang tengah menyorot tajam.

Sebenarnya, tempat macam apa ini?

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy